PLEASE LOVE ME
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance & Hurt/Comfort
Pairing : Uchiha Sasuke & Hyuuga Hinata
Rated : T
Author : okta0809
Don't Like Don't Read
Satu hari, dua hari, bahkan sudah lewat dari satu minggu setelah Sasuke menemui Ino, Sasuke merasa ada yang berbeda tepatnya pada calon istrinya. Bayangkan saja yang dari hampir setiap hari bertemu sekarang sekalipun ia tidak pernah lagi melihat batang hidung Hyuuga Hinata. Bukan karena ia yang sibuk dengan pekerjaannya, malah Hinata yang sekarang sangat susah untuk ia temui.
Sasuke hampir setiap hari dalam seminggu ini menjalankan rutinitasnya menjemput Hinata tetapi Sasuke selalu pulang dengan bangku penumpang mobilnya yang kosong, pesan dan teleponnya juga tidak pernah dijawab oleh Hinata, Sasuke jugan mengunjungi rumah Hinata tetapi aneh ketika ia datang selalu saja Hinata tak berada dirumah menurut penghuni yang lain.
Sasuke justru bingung pada Hinata yang bersikap aneh seperti ini. Ada rasa rindu dalam dirinya yang semakin hari semakin membludak tak terkontrol padalah baru seminggu lebih ia tidak melihat gadis itu.
Saat ini Sasuke sedang berada di kamar tidurnya, ia berdiri di balkon kamarnya sambil memegang handphone. Kalau dihitung sudah berapa kali Sasuke menghubungi Hinata mungkin sudah ratusan bahkan mungkin ribuan kali. Tetapi sama saja nomor Hinata tidak aktif.
Sasuke mengeram frustasi, menghembuskan nafasnya kasar. Baru kali ini Hinata mengabaikannya sampai sejauh ini dan tentu tak tau apa penyebabnya.
"Shit."
Umpatan demi umpatan Sasuke layangkan untuk mengeluarkan rasa frustasinya, perasaannya kesal dan emosi, diabaikan seperti ini tentu Sasuke tidak bisa terima.
"Brengsek." Rahangnya mengeras, rasanya syaraf-syaraf di otaknya berdenyut nyeri.
Sebenarnya dari hari-hari yang lalu Sasuke ingin menanyakan perihal Hinata pada Sai, tetapi rasa gengsi yang sangat besar dalam dirinya memaksanya untuk tidak menghubungi Sai.
Sasuke berdecih singkat sembari menghela nafas panjang, ia menuju kasur dan membanting permukaan punggungnya ke atas kasur. Ia pandangi langit-langit kamar. Memikirkan kira-kira kesalahan apa yang pernah ia lakukan pada Hinata.
.
.
.
Pukul 6.00 pagi hari siapa sangka seorang Uchiha Sasuke yang terkenal dingin, sekarang sedang berada dalam mobil hitamnya, rapi dengan setelan jasnya. Yang mengejutkan adalah mobil hitam itu sedang terparkir indah di luar pekarangan rumah keluarga Hyuuga. Berada disini dengan waktu sepagi ini tentunya Sasuke mempunyai alasan kuat dan alasan itu sudah membuatnya gila.
"Ck, apa yang kulakukan."
Sasuke yang tampan ini juga tidak habis pikir pada dirinya, bahkan saat bersama Ino pun ia tidak pernah melakukan hal diluar kebiasaannya. Sekarang Sasuke rela keluar sepagi ini menunggu seseorang yang sudah seminggu lebih tidak ia temui, tepatnya tidak ingin ditemui.
Sambil menatap tajam jalan tepatnya pada gerbang Hyuuga, Sasuke sudah merasa seperti penguntit, tetapi dia juga tidak ingin beranjang dari tempat ini sebelum mendapat apa yang dia mau.
"Kau membuatku gila Hyuuga."
Sasuke berdecak sinis, mengusap wajahnya kasar. Sudah satu jam dia duduk menajamkan penglihatannya, berharap ada surai indigo yang menyapa iris onyxnya. Sasuke berdecak kesal, jika Hinata belum keluar juga, Sasuke tidak segan-segan masuk dan memaksa masuk kedalam kamar gadis itu.
Dengan tidak sabaran Sasuke melonggarkan dasinya, siap membuka pintu mobil dan menuju rumah mewah itu, tetapi sesaat Sasuke membuka pintu pandangannya menajam mendapati apa yang membuatnya kesal setengah mati. Terlihat Hinata keluar dari gerbang sendirian, seperinya ia akan berangkat. Tidak ada mobil mewah Hinata lebih senang menggunakan bus saat berangkat dan itu sebelum Sasuke ada.
Dengan gerakan cepat Sasuke keluar dari mobil, menghampiri gadis yang tidak menyadari derap langkah tegas pria dewasa dibelakangnya.
"Hinata."
-deg-
Hinata berhenti tidak tepatnya mematung. Suara itu, suara dingin yang tentu saja ia rindukan. Mungkin ia berkhayal, tetapi terdengar sangat nyata di telinganya.
Pemilik suara itu yang sengaja ia hindari.
Ia hindari dengan susah payah.
Hinata menggigit bibir bawahnya, mengeratkan pegangan pada tali tasnya.
Hinata tidak bisa menoleh, sama sekali tidak ingin menoleh.
"Hyuuga Hinata."
Panggil Sasuke semakin dingin dan tegas saat Hinata tidak berbalik meresponnya. Dengan kesal karena diabaikan, Sasuke memperpendek jarak keduanya dengan langkah cepat semakin maju kedepan menuju gadis yang sudah membuatnya frustasi ini.
Menggenggam erat jemari lentik milik Hinata dan menariknya menuju mobil sedikit kasar. Hinata yang tidak siap hampir saja terjatuh karena tarikan Sasuke, ia memandang wajah itu, sangat dingin matanya mengkilat tajam memandang kedepan.
Mati kau Hinata.
Hinata sedikit meringis karena rasa sakit pada jemarinya yang digenggam erat oleh Sasuke. Sasuke langsung memasukkan Hinata dalam mobilnya, Hinata yang sadar berniat keluar kembali tetapi di halangi oleh tangan kokoh Sasuke.
"Jangan coba-coba keluar." Tatapannya menusuk memerintah, membuat nyali Hinata menciut.
-braak-
Sasuke menutup pintu dengan keras membuat Hinata tersentak kaget menundukkan diri. Lalu Sasuke ikut bergabung dibangku kemudi. Mengunci pintu untuk berjaga-jaga.
Mata Sasuke terlihat memerah menahan amarahnya, emosinya sudah berada di ubun-ubun karena Hinata yang terus saja mengabaikannya.
"Ingin menjelaskan sesuatu ?"
Tanpa menolehkan wajahnya, tanpa menyalakan mesin mobilnya Sasuke sudah kesal sekarang. Sedangkan Hinata yang sedari tadi menunduk tiba-tiba mengangkat wajahnya. Berbeda, tatapannya berbeda dari yang tadi. Kini tatapannya datar, tidak ada senyum manis di wajahnya.
"Menjelaskan apa Sasuke-kun ?" Masih mempertahankan dirinya yang malah terlihat sok berani. Sasuke yang pada dasarnya sudah kesal langsung menoleh menghadap Hinata yang melihat jalanan dengan tatapan datarnya berusaha menyembunyikan rasa takut dan gugupnya.
"Jangan main-main Hinata, kemana saja kau seminggu ini ?" Sasuke sudah mengenggam erat kemudinya buku-buku jarinya sudah terlihat menguning.
Menyadari bahwa Sasuke sedang melemparkan pandangan sinis nan membunuh padanya, Hinata menoleh takut-takut.
"Aku tidak kemana-mana Sasuke-kun." Jelasnya berusaha membuat dirinya tenang, tentu ia tau dari sikap dan raut wajah Sasuke ia tau jika Sasuke marah padanya.
"Lalu kenapa aku tidak bisa menemuimu sekalipun, kau menghindar ?" tatapan Sasuke semakin sinis seakan-akan ingin menerkam Hinata saat ini juga.
"Tidak." Hinata menggeleng berusaha menahan dirinya agar tidak menangis.
"Lalu apa Hinata ? kenapa kau tidak bisa ditemui sama sekali, aku menjemputmu dan kau tak ada, aku mengunjungi rumahmu dan kau tak ada dan itu aneh. Apa lagi hah ?" suara Sasuke meninggi ia menyadari perubahan sikap Hinata dan membuatnya frustasi adalah ia tidak tau kenapa Hinata bersikap dingin padanya.
"Aku sibuk Sasuke-kun. Akhir-akhir ini banyak sekali tugas yang harus aku kerjakan."
"Kau tidak pandai berbohong Hinata." Sasuke tau Hinata sama sekali tidak pandai berbohong, dan itu bisa terlihat oleh Sasuke.
"Tapi aku tidak bohong,." Hinata memang tidak bohong dengan tugasnya tetapi tentu saja tidak sesibuk yang ia utarakan sampai ia tidak bisa menemui Sasuke, ia hanya tidak ingin.
"Baik, lalu telepon dan pesanku, aku tidak bisa menghubungimu sama sekali."
"Itu... itu karena handphoneku rusak." Meremas erat jemarinya, sungguh ia sangat tidak pandai berbohong, padahal Hinata hanya mematikannya selama berhari-hari demi menghindari Sasuke.
Sasuke memejamkan matanya, mendesah pelan mengatur nafas dan emosinya. Tatapannya melembut pada Hinata yang tadinya terlihat takut saat Sasuke membentaknya.
Rasanya Hinata berbohong padanya, Sasuke merasakannya. Rona merah dan senyum manis Hinata tidak terlihat pagi ini dan itu menganggu untuk Sasuke. Sungguh ia merasa frustasi jika Hinata mengabaikannya.
"Sasuke-kun aku ak-
-greep-
Hinata merasakan tubuh kekar yang merengkuhnya erat, tangan kekar itu membelai surai lembutnya, mencium bau mint segar dari tubuh Sasuke. jantungnya bertalu-talu memberontak.
"Aku hanya merindukanmu."
Sasuke mengatakannya,sangat benar dia memang sangat merindukan gadis yag sedang ia rengkuh ini. Sasuke masih bertahan pada posisinya menikmati bebauan yang berasal dari rambut dan tubuh sang Hyuuga. Tanpa sadar Sasuke meletakkan wajahnya di tengkuk Hinata menyesap wangi yang membuatnya nyaman melepas rasa rindunya.
Hinata tersadar saat Sasuke mengatakan kata penuh makna itu, meneguk segala rasa takut terhadap pesona pria Uchiha ini. Merasakan hidung mancung Sasuke di tengkuknya Hinata benar-benar tersentak.
Tidak, ini tidak boleh.
Seharusnya dia menolak Uchiha Sasuke
Menolak perlakuan dan perhatian yang bisa menjerumuskannya.
Menjerumuskannya dalam pesona Uchiha.
Seharusnya ia tetap menghindar sekarang.
Agar dirinya tidak jatuh lagi, agar dirinya tidak menangis berhari-hari lagi.
Agar dirinya tidak berharap apapun lagi pada Sasuke.
Tapi kenapa sulit sekali melakukannya ? menghindar dari pesonanya.
Dengan tenaganya Hinata langsung mendorong Sasuke, menjauhkan pria itu padanya. Hinata mempertegas wajahnya, Sasuke tidak boleh membuat lukanya yang sama sekali belum sembuh lebih menganga bahkan bisa lebih sakit nantinya.
"Gomen, pagi ini aku ada kelas Sasuke-kun."
Memperbaiki posisinya, mengalihkan pandangan ke jendela menutupi kegugupannya dan juga jantung yang masih saja berdetak tidak bisa berkompromi. Sasuke yang menerima penolakan Hinata terlihat bingung sekaligus kecewa, tetapi ia mengabaikannya lalu menyalakan mobilnya menuju kampus Hinata.
.
.
Sesampainya dikampus Hinata langsung turun tanpa mengucapkan kata-kata dari Sasuke, sesaat Hinata ingin berjalan tangannya kembali di tarik oleh Sasuke yang lebih sigap keluar dari mobil. Ia tau Hinata ada apa-apa, ia bahkan tau Hinata berusaha menjaga jarak dengannya.
"Aku akan menjemputmu, jadi pastikan kau tidak pulang lebih dulu." Tegas Sasuke seraya membelai rambut panjang Hinata.
"Tidak perlu Sasuke-kun, aku ada urusan nanti."
"Tidak ada penolakan Hinata." Tatapan tajam Sasuke membuat Hinata mengalihkan pandangannya. Jujur saja ia merasa takut dengan tatapan membunuh itu.
"Tapi-
"Diam. Aku benci dibantah. Pastikan kau tetap disini sampai aku datang." Ucapnya dingin dan tegas ia merasa muak di abaian dan ditolak.
Lalu Sasuke pergi tanpa mendengar jawaban Hinata. Hinata medesah berat atas apa yang dialami hari ini, padahal dia sudah berhasil menghindar seminggu ini.
Setelah kejadian itu, Hinata menolak menemui Sasuke ia mengunci diri di kamar menangis sejadi-jadinya meratapi nasib. Dan Hinata memutuskan untuk berusaha menutup hatinya pada pemuda itu. Ia tidak ingin lagi tersakiti, cinta yang ia pendam selama berbulan-bulan ini, dia kira dia akan mendapat balasan, tetapi apa yang ia saksikan satu minggu lalu, sudah jelas jika ia memang harus berhenti. Hinata tidak ingin jika Sasuke terbebani olehnya.
Cinta yang menyebalkan.
Sungguh Hinata tidak ingin mempunyai cerita cinta yang seperti ini, yang berakhir dia yang menjadi pihak tersakiti.
Ini kali pertamanya mencintai sedalam ini.
Kali pertama sudah tersakiti seperti ini.
Mungkin akan lebih baik jika Sasuke tidak menikahinya, jika ia dipastikan Sasuke tidak bahagia dengannya. Itu yang ada dipikiran Hinata.
.
.
Akhir-akhir ini pekerjaan Sasuke sedikit terganggu, Sasuke kehilangan fokusnya, Sasuke lebih sering memegang handphone dan berdiam dengan pikirannya dan penyebab akan semua hal itu hanya satu.
Hyuuga Hinata
Sasuke kini menyadari jika ia mempunyai perasaan spesial pada Hinata, seperti saat dia pertama kali menyadari perasaannya pada Ino, tetapi ini lebih menggebu-gebu. Rasa rindu yang lebih besar dari apa yang pernah ia rasakan pada Ino, rasa kesal jika Hinata bersama Sai yang membuat hatinya seketika menjadi panas, perasaan khawatir jika Hinata tidak memberinya kabar.
Dan kali ini satu minggu lebih Hinata tidak memberinya kabar cukup membuat Sasuke frustasi dan menyepelekan pekerjaannya, padahal saat Ino mengkhianatinya ia masih bisa menyibukkan diri untuk melupakan sakit hatinya.
Dan itu sudah cukup membuatnya yakin jika Hyuuga Hinata sudah berhasil membuatnya berpaling dari Yamanaka Ino. Ia berpikir jika Ino dan Hinata sangat berbeda, Sasuke mencintai Ino karena Ino selalu menempel padanya saat itu. Tetapi saat ini ia mencintai Hinata entah karena apa ia tidak bisa mendeskripsikannya.
Cintanya datang begitu saja seiring mereka bersama, menyentuh dan memberontak pada hatinya untuk menerima, membablas abis cinta terdahulunya. Sikap lembut nan anggun, wajah cantiknya, pribadinya, semua semua yang dimiliki. Sasuke menggilai Hyuuga Hinata sekarang.
Tetapi dengan sikap Hinata yang tidak jelas seperti ini, Sasuke merasakan ketakutan sampai-sampai ia tidak bisa mengontrol emosinya.
Ketakutan.
Ketakutan akan kehilangan.
Lagi.
Kali ini Sasuke sangat takut jika Hinata melepaskannya, sungguh. Sasuke takut jika Hinata pergi seperti Ino meninggalkannya dulu. Sasuke sama sekali tidak akan tinggal diam begitu saja, Hinata yang ia tau sangat mencintainya yah Hinata mencintainya tidak akan Sasuke biarkan berpaling begitu saja setelah ia merebut hatinya seperti ini.
Membuatnya frustasi jika Hinata mengabaikannya.
Membuatnya kesal setengah mati jika Hinata tidak mengabari dan menghindarinya.
Seperti yang dia lakukan saat ini.
Sasuke memang tidak tau alasannya, tetapi dia akan segera tau.
"Kau sama sekali tidak bisa pergi Hinata." Ucap Sasuke tegas yang kini duduk di kursinya memegang bulpoinnya erat.
"Kau sudah terlanjur terikat denganku."
Kali ini Sasuke tidak akan membiarkan seseorang mempermainkan hatinya lagi. Hyuuga Hinata sekalipun.
.
.
.
Hinata duduk menunggu seseorang di bangku yang ada di depan fakultasnya, memikirkan ancaman Sasuke Hinata memutuskan menunggu Sasuke. Sebenarnya masih banyak mahasiswa yang berkeliaran, karena hari ini Hinata mempunyai jam kosong ia bisa pulang lebih cepat.
Hinata sebenarnya enggan jika bertemu Sasuke walau memang dia sangat merindukan Sasuke, tetapi bertemu, memandang, dan berdekatan dengan Sasuke berbahaya untuk kesehatan jantung dan hatinya. Dia tidak bisa sakit lebih lama lagi.
Memikirkan perlakuan lembut Sasuke padanya membuat Hinata tersipu dan bahagia, tetapi jika memikirkan sisi lain ia tau jika semuanya hanya bullshit, ia tau jika Sasuke belum bisa menerimanya. Mungkin tidak akan bisa. Hinata tidak ingin tertipu lagi.
Saat sibuk melamun Hinata tidak menyedari jika sahabatnya sedang berlari menuju kearahnya.
"BAAM..."
"Kyaa.."
Hinata seketika berteriak saat suara teriakan Sakura memekik di telinganya, sontak ia terkaget karena melamun dan juga tidak siap.
"Sakura-chan kau mengagetkanku." Hinata cemberut melihat sahabatnya hanya tersenyum jahil.
"hahahaha ekspresimu lucu sekali." Sakura mendudukkan diri disamping Hinata.
"Tidak lucu tau." Hinata mengalihkan pandangannya pura-pra ngambek.
"Hahah gomen-gomen. Kau sedang apa ?"
"Sakura-chan lihat sendiri aku lagi duduk." Jawabnya masih ketus.
"Kau jangan ngambek seperti itu Hinata-chan aku hanya bercanda tahu." Berusaha membujuk Hinata yang masih tidak mau melihatnya. "Hinata-chan jangan marah." Bujuknya lagi. Hinata yang tidak bisa menahan senyumnya langsung berbalik dan tersenyum sembari tertawa kecil.
"Akhirnya kau tersenyum juga, kau tau Hinata-chan akhir-akhir ini kau jarang sekali tersenyum."
"Benarkah ?" Tanyanya pura-pura tidak tau padahal ia tau betul jika akhir-akhir ini selalu terlihat badmood.
"Hm, apa ada masalah ?" angguk Sakura lalu memandang Hinata serius.
"Tidak ada apa-apa, aku baik-baik saja." elaknya.
"Jangan bohong, kau bahkan tau jika aku bisa mengetahui jika kau berbohong."
"Aku serius aku tidak apa-apa Sakura-chan." Tersenyum menyakinkan sahabatnya.
"Ceritalah Hinata-chan, aku sahabatmu kan ? apa karena Uchiha-san aku lihat akhir-akhir ini juga kau tidak terlihat bersama dia." Seketika Hinata murung mengalihkan pandangnya menatap orang-orang.
"Tidak apa."
"Aku sudah curiga jika kalian tidak baik-baik saja. apa yang Uchiha itu lakukan Hinata-chan ? katakan padaku, aku akan memberinya pelajaran."
"Tidak Sakura-chan, aku akan cerita jika aku sudah siap. Arigatou sudah mengkhawatirkanku." Sakura memandang senduh Hinata ia tau jika Hinata menyimpan sesuatu yang berat.
"Baiklah aku tidak akan memaksamu. Tetapi jika ada masalah jangan sungkan aku sahabatmu, aku akan membantu sebisaku."
"Arigatou Sakura-chan." Hinata mengangguk memandang Sakura yang sudah mengenggam tangannya erat, Hinata memang orang yang tertutup pada Sakura sekalipun, tetapi jika ia siap bercerita ia tidak akan berhenti bercerita.
"Kalau begitu aku duluan, aku masih ada kelas. Jaa nee."
"Jaa nee."
Masih menatap kepergian Sakura, lagi-lagi Hinata tidak menyadari langkah yang mendekatinya. Pemilik langkah tersebut tiba-tiba meletakkan wajahnya tepat di telinga Hinata sembari tersenyum jahil.
"Hinata-chan." Bisiknya di telinga Hinata yang kembali melamun. Hinata yang merasa geli dan kaget ada yang berbisik padanya seketika menoleh menjauhkan diri.
"Sai-kun, kau mengagetkanku lagi. Sakura-chan sudah cukup hari ini."
"Sedang apa ?" terkikik geli, mengambil posisi di samping Hinata.
"Menunggu Sasuke-kun." Singkatnya.
"Sasuke ? kukira kalian sudah tidak berhubungan ?" Seru Sai menggoda Hinata.
"..." Hinata hanya menunduk mengabaikan pertanyaan Sai.
"Kenapa diam ? apa itu benar ?"
"Tidak, kami baik-baik saja." Mengangkat wajahnya lalu tersenyum getir.
"Ssshh... kau memang terlalu payah berbohong Hinata-chan. Bagaimananya yang tidak apa-apa, kalian sudah jarang bersama kan belakangan ini, hm apa ini kesempatanku ya ?" menyeringai menggoda, Hinata hanya menggeleng akan tingkah Sai.
"Sai-kun ada-ada saja. Belakangan ini kami sama-sama sibuk jadi jarang bertemu." Hinata membuatnya senatural mungkin walau dia tidak yakin, tentu saja Hinata berbohong.
"Padahal aku serius tentang kesempatan." Tidak mengalikan pandangannya dari iris lembut Hyuuga itu.
"Sai-kun."
"Apa tidak ada kesempatan ?" Hinata hanya menunduk menyembunyikan wajahnya, ia tidak bisa menjawab apa-apa. Menurutnya Sai sangat baik dan perhatian padanya, entah ia sangat menyukai bungsu Uchiha itu , Hinata tidak tau apakah bisa berpaling atau tidak, mungkin saja sulit.
Sai menghela nafas panjang melihat Hinata yang terdiam, itu sudah jadi jawaban Hinata untuknya. Benar-benar tidak ada kesempatan, padahal dia sudah mengira hubungan Hinata dan Sasuke mulai merenggang. Tetapi fakta lainnya adalah walau Hinata lepas dari Sasuke belum tentu Hinata akan bersamanya. Yah itu fakta untuk Sai.
"Sudah, jangan dipikirkan."
"Gomennasai."
Lama mereka terdiam dengan pikiran masing-masing, dengan diam mereka masing-masing. Merasa atmosfer di antara mereka mulai terasa canggung karena mereka sama-sama terdiam tidak seperti biasanya.
"hhaahh... lama sekali." Desah Sai membuyarkan mereka, Hinata menoleh pada Sai yang terlihat bosan.
"Sai-kun menunggu seseorang ?"
"Ya."
"Siapa ?" Suasana mulai mencair diantara mereka.
"Hyuuga Hinata." Ucapnya singkat tanpa melihat Hinata.
"Aku ?" tanyanya semakin bingung.
"Hn, aku menunggumu bosan menunggu Sasuke disini, dan ternyata aku yang duluan bosan. Ayo aku saja yang mengantarmu." Ajaknya sambil menarik kecil tangan Hinata.
"Tidak, aku sudah janji pada Sasuke-kun, bagaimana kalau dia datang dan aku tidak ada." Tolaknya sambil melepaskan tarikan Sai.
"Tapi dimana dia ? dia membuatmu menunggu disini."
"Tidak apa, ini juga karena aku terlalu cepat, sebentar lagi mungkin akan datang. Gomen ne."
"Terserah sajalah." Rasa kesal di hati Sai mulai timbul, tentu saja dia cemburu. Hinata menolaknya mentah-mentah.
"Kalau begitu aku menunggu di luar saja, siapa tau Sasuke-kun sudah datang. Aku duluan Sai-kun. Jaa nee." Berdiri lalu tersenyum melambaikan tangan pada Sai yang masih berenggut yang menambah kesal karena Hinata meninggalkannya.
"Hinata-chan dia tidak akan datang, ayolah pulang bersamaku saja." Sai menyerah dia tidak bisa marah pada gadis itu. Hinata terus berjalan bukannya tidak mendengar Sai, dia terkikik geli mendengar nada suara Sai yang terdengar lucu di telinganya.
Sai sedikit berlari menghampiri Hinata berharap Hinata berubah pikiran dan pulang bersamanya. Sesampainya Hinata di gerbang Universitas Konoha dia melirik kanan kiri melihat apakah mobil Sasuke sudah terparkir.
"Nah kau lihat Sasuke belum datang, dari pada kau kekeringan menunggu, kuantar pulang saja." Timpal Sai masih berusaha mengajak Hinata pergi.
"Sai-kun aku tidak apa-apa, apa Sai-kun tidak punya hal yang ingin dikerjakan ?" Tanya Hinata masih berdiri menunggu Sasuke di tempatnya biasa. Diikuti Sai yang sudah terlihat kesal dengan Hinata.
"Kau mengusirku ?" Tatapnya sinis.
"Tidak Sai-kun, maksudku bukan begitu. Siapa tau Sai-kun punya hal yang ingin dilakukan."
"Aku tidak disini jika punya urusan." Renggutnya masih menatap sinis Hinata.
"Gomen Sai-kun." Ucap Hinata berusaha memandang Sai yang tidak memandangnya.
"Sudahlah."
"Sai-kun marah ?" mengenggam tangan Sai dan mengeluarkan jurus puppy eyesnya yang tentu tidak bisa ditolak Sai.
"Ck, kau ini. Aku tidak marah, sudah akan kutemani disini." Mengacak singkat rambut Hinata, mengambil kesempatan ikut mengenggam tangan Hinata yang sebetulnya sudah akan dilepaskan Hinata, tetapi karena Sai menahannya tidak jadi.
"Kau benar tak bosan menunggu ?" Hinata menggeleng tersenyum pada Sai yang masih saja memengang jemarinya menimbulkan sedikit rasa khawatir.
"Kalau bosan bilang saja."
Karena sibuk dengan percakapan mereka, tiba-tiba tanpa mereka sadari tangan Sai yang memegang tangan Hinata tertarik cukup keras dan tersentak. Sai meringis nyeri karena tarikan yang cukup kuat.
"Jangan menyentuhnya Sai." Tatapan tajam dari mata onyx yang sudah sangat dikenalnya, Sai melirik sejenak pelaku yang menarik tangannya, sepupunya sudah berdiri mencengkeram tangan Hinata.
"Sai-kun tidak apa-apa ?" Tanya Hinata khawatir melihat Sai memegang tangannya yang tadi disentak cukup kuat. Sai mengangguk tersenyum lalu menatap Sasuke yang sudah tambah emosi karena kekhawatiran Hinata pada Sai.
"Cih, ada apa denganmu Sasuke." walau Sai tau jika Sasuke cemburu, tetapi dia tidak akan mengakuinya, tidak akan mengakuinya jika dia mulai tau jika Sasuke mulai menyimpan rasa pada Hinata.
"Jangan menyentuhnya, ini yang terakhir." Peringat Sasuke lagi dia selalu saja emosi jika melihat Sai menyentuh Hinata walau hanya berpengangan ada rasa seperti 'jangan sentuh milikku' begitulah.
"Kau berlebihan Sasuke. Dan kau tau cengkramanmu menyakitinya." Sai juga ikut tersulut emosi melihat Hinata yang sedikit merigis karena cengkraman Sasuke.
"Cih, diam kau. Ayo pulang Hinata." Tanpa menunggu jawaban Sai, Sasuke pergi membawa Hinata ke mobilnya.
"Brengsek kau Sasuke." Sai tentu saja menahan amarahnya jika saja mereka masih disini dia mungkin sudah tidak bertahan dari emosinya.
.
"Aku sudah memperingatimu Hinata." Lagi dan lagi dingin, datar, dan aura kekesalan memenuhi Sasuke.
"Sasuke-kun berlebihan." Ucap Hinata memberanikan diri, dia merasa tidak enak pada Sai.
"Tidak, kau yang tidak mendengarku. Aku sudah katakan jangan sampai Sai memegangmu lagi."
"Sai-kun hanya menemaniku menunggu Sasuke-kun, tidak lebih."
"Jadi apa tujuannya mengenggam tanganmu ?" masih fokus pada kemudinya walau rasa kesal dalam dirinya masih terasa.
Hinata terdiam, dia juga tidak tau mau menjawab apa. Ini yang dia khawatirkan, Sasuke akan melihatnya. Yang membuat Hinata tidak habis pikir adalah mengapa Sasuke sangat protektif padanya jika berdekatan pada Sai, padahal Sasuke tau jika ia dan Sai yang berteman. Dan Sasuke sama sekali tidak mencintainya pikir Hinata. Hinata dulu memang sempat menganggapnya bila Sasuke cemburu, tetapi dengan cepat dia tepis semua itu.
Terlalu berharap jika memikirkannya lagi.
"Kenapa diam ?"
"Sudahlah Sasuke-kun, gomen." Sebenarnya Hinata tidak ingin mengucapkan ini, tetapi kembali lagi pada tujuan awalnya menjauhi Sasuke, yah dia harus tetap pada tujuannya.
Sasuke yang lagi-lagi mendapati sikap aneh Hinata, hanya terdiam dengan pikiran yang sudah berkecamuk, segala dugaan dan segala ingatan dia keluarkan untuk mengingat apakah dia pernah menyakiti Hinata sengaja atau tidak.
.
.
.
Dikamar putri kedua Hyuuga, Hyuuga Hinata berbaring menyelimuti dirinya sampai sebatas lehernya, matanya terpejam tetapi tak tertidur. Jika dilihat dengan seksama ada aliran bening di sudut matanya mengaliri pelipis dan membasahi sedikit rambutnya. entah sudah berapa lama Hinata berbaring menutup mata dan menangis dalam diam.
Semakin lama isak tangis dari bibir tipisnya terdengar samar diikuti dengan pejaman matanya yang semakin menguat dan cengkraman tangannya pada selimut biru mudanya. Seperti ada rasa sakit yang ia tahan, rasa bergetar dalam dirinya yang ia tahan.
Terlihat menyedihkan memang.
Sang Hyuuga harus mengalami hal yang seperti ini dalam percintaannya. Padahal jika dia ingin dia bisa mendapat cinta yang seperti bayangannya.
Tetapi mereka yang mempunyai cinta pada seseorang, tidak bisa begitu saja menerima cinta lain yang tidak diinginkannya.
Suara isak tangis mulai terdengar jelas, Hinata sudah mengganti posisinya menjadi menyamping memeluk tubuhnya. Matanya sudah terbuka menampilkan iris levender yang sudah basah.
"Hiks.. hikss.. Sasuke-kun."
"Hiks.. jahat."
Untuk kali ini Hinata ingin sekali memukul Sasuke, berani-beraninya dia mempermainkan hatinya seperti ini. Sasuke memberinya harapan lalu menyakitinya, memberinya harapan lagi lalu kembali menyakitinya. Dan sekarang dia datang memberi perhatian lebih lagi padanya, yang membuatnya takut untuk menerima.
Hinata sudah memutuskan untuk menyerah, tetapi jika dia selalu berada didekat Sasuke bagaimana bisa dia menolak pesona Sasuke yang jelas-jelas sangat menjerat baginya.
Saat ini masih terasa indah karena perhatian dari Sasuke, tetapi saat kau tau akhirnya akan tidak baik bagimu sanggupkah menghentikannya saat masih terasa indah.
Tangis Hinata sudah mulai reda, hampir setiap hari ia seperti ini semenjak kejadian itu. Jika dia memikirkan hubungannya dengan Sasuke, air matanya selalu mengalir tanpa dia sadari dan berkelanjutan dengan dia yang menangis dalam diam.
-tok.. tok..-
-tok.. tok..-
"Nee-chan.. Nee-chan." Suara Hanabi terdengar keras memanggil Hinata sembari mengetuk pintu. Tidak ada respon dari kakaknya dia malah mengetuk pintunya makin brutal dan meneriakinya lebih keras.
"Onee-chaaaa..."
"Ada apa ?" suara Hinata terdengar serak karena habis menangis, sebal juga melihat adiknya mengetuk pintunya dengan keras.
"Apa Nee-chan menangis lagi ?" Tanyanya khawatir, Hanabi memang tau jika Hinata akhir-akhir ini sering menangis sendirian, tetapi Hinata menolak bercerita dan menyuruh Hanabi diam tidak memberitahu Otou-sannya. Hanabi yang awalnya tidak tau perlahan mulai mengerti penyebab tangisan-tangisan kakaknya dia hanya diam takut jika terlalu mencampuri urusan.
"Tidak, Nee-chan tidak menangis." Jawab Hinata dengan cepat merapikan penampilannya yang terlihat suram.
"Pembohong, aku akan masuk."
-cklek-
Pintu itu terbuka, Hanabi melihat kakaknya yang duduk dengan selimut menutupi kaki. Mata sedikit sembab dan hidung yang memerah, benar dugaannya Hinata habis menangis. Berjalan menghampiri Hinata lalu duduk ditepi ranjang.
"Nee-chan ada apa ?"'
"Tidak apa." Jawab Hinata menghirup nafasnya dalam-dalam sepertinya dia lelah menangis.
"Jangan bohong, aku tau belakangan ini Nee-chan sering menangis. Dan Nee-chan selalu menolak bercerita. Ayolah akukan adikmu." Mohon Hanabi agar kakaknya mau berbagi padanya. Bukannya Hinata tidak ingin, dia hanya tidak mau jika Hanabi kepikiran dan masuk dalam masalahnya.
"Tidak apa-apa Hanabi-chan, Nee-chan hanya merindukan Okaa-san."
"Aku juga sering merindukan Okaa-san, tetapi tidak sampai menangis setiap malam. Apa karena Sasuke-nii ?"
"Hah ? tidak bukan itu." Hinata cepat-cepat menggeleng gelagapan.
"Astaga aku lupa, Sasuke-nii yah Sasuke-nii ada dibawah." Menepuk dahinya bisa-bisanya ia lupa tujuannya.
"Hah ?" Hinata terkejut Sasuke ada dirumahnya lagi, yang benar saja dengan kedaannya yang seperti ini.
"Iya."
"Bisa tolong katakan-
"Lupakan itu Nee-chan aku sudah terlanjur bilang kau ada. Jadi bersihkan dulu muka Nee-chan, Nee-chan terlihat jelek habis menangis." Hanabi lalu pergi dari kamar Hinata.
"Bagaimana ini ?" Hinata buru-buru menuju kamar mandi membasuh wajahnya, merapikan rambutnya. Tetapi nihil matanya masih saja terlihat sembab. Jantungnya berdetak lagi dan lagi.
Dengan terpaksa Hinata turun dengan penampilan yang memang sudah cukup segar dibanding tadi, tetapi masih saja terlihat jika dia habis menangis, sepertinya dia menangis terlalu lama tadi.
Menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan sebelum memperlihatkan dirinya. Jantungnya kali ini tidak bisa kompromi sama sekali.
"Sasuke-kun." Panggilnya pada lelaki yang duduk di sofa ruang tamu membaca sebuah majalah, dengan pakaian kasual.
"Hn." Meletakkan majalah menoleh pada Hinata yang sudah duduk di sofa depan Sasuke.
"Ada apa ?" pandangannya melembut entah mengapa seperti merindukan orang ini.
"Ada dengan matamu ?" Akhirnya pertanyaan yang Hinata tidak ingin dengar keluar juga.
"Mataku ? mataku tidak apa-apa." Pura-pura tidak tau seraya menyentuh kedua matanya, tentu saja ia merasakan matanya yang bengka.
"Ck, matamu bengkak Hinata, Kau menangis ?" Tanya Sasuke ragu.
"Tidak apa-apa, aku hanya merindukan Okaa-san. Jangan khawatir Sasuke-kun. Jadi ada apa ?" berusaha mengalihkan pembicaraan. 'ck, aku benci kau berbohong Hinata' gumam Sasuke.
"Hn, kau sudah makan ?"
"Iya."
"Kalau begitu temani aku." Itu bukan permohonan tapi perintah.
"Hm ?"
"Kau mendengarnya Hinata." Malas untuk mengulang kata-katanya.
"Maksudku menemani Sasuke-kun makan malam ?" Jantungnya benar-benar nakal kali ini.
"Hn."
"Tidak makan disini saja ? akan kubuatkan sesuatu ?" bukannya tidak mau Hinata hanya menawarkan masakannya.
"Aku ingin diluar, kau menolak ?" Tatapan Sasuke seakan-akan mengucapkan 'kau tidak boleh menolak'.
"Tidak. Baiklah aku ganti baju dulu."
"Hn."
Hinatapun bergegas mengganti bajunya, didalam kamar tidak henti-hentinya dia menghela nafas, dia merutuki diri habis-habisan yang sangat sulit menolak, memang rasa senang menyeliputinya tetapi tidak ia pungkiri pikiran jika semuanya hanya sementara juga selalu menganggunya.
.
.
Hinata dan Sasuke sudah berada di restoran yang Sasuke pilih, mereka terdiam menikmati makanan masing-masing. Hinata hanya memesan dessert karena sudah kenyang. Ini memang bukan kali pertamanya mereka makan diluar bersama, tetapi bagi Hinata momen seperti ini berapa kalipun mereka melakukannya terasa masih mendebarkan untuknya.
"Apa Oba-san dan Oji-san ke Ame lagi ?" Hinata membuka percakapan sambil sesekali menyantap dessertnya.
"Tidak, mereka ada."
"Lalu Sasuke-kun kenapa makan diluar ?" Tanya Hinata tumben sekali, biasanya Sasuke hanya keluar makan jika siang hari dan jika ibunya tidak ada. Sasuke memang lebih suka makanan ibunya dibanding makanan yang dibuat maid.
"Tidak apa, Aku hanya ingin." Jawabnya masih datar .
"Hm." Mengangguk mengerti menyesap minumannya.
"Kenapa kau sibuk ?"
"Tidak kok." Mengingat dirinya yang seminggu ini selalu menghindari Sasuke, dengan alasan sibuk dengan tugas.
"Hn. Akhir-akhir ini kau bilang kau sibuk, seberapa sibuknya dariku ? sampai tidak bisa ditemui sama sekali." Sindir Sasuke.
"Gomennasai." Hinata hanya bisa mengatakan itu, hanya itu.
Sasuke menatap Hinata yang menunduk karena sindirannya, entah mengapa dia merasakan Hinata menyembunyikan sesuatu. Dan itu sangat menganggu Sasuke.
.
Setelah selesai mengisi perut mereka, Sasuke tidak langsung mengantar Hinata pulang, dia ingin lebih lama bersama Hinata. Sasuke memparkir mobilnya. Mengajak Hinata keluar menuju sebuah pinggiran kota yang sedikit sepi, hanya ada pejalan kaki yang berlalu lalang dan menikmati pemandangan laut yang disajikan.
Mereka bersandar di besi penghalang menikmati laut dan angin yang menerpa mereka. Jarang sekali Sasuke mengajak Hinata ke tempat seperti ini mungkin ini yang pertama.
"Kenapa kita kesini Sasuke-kun ?" Tanya Hinata seraya menikmati angin malam yang menerpa wajahnya.
"Entahlah." Ikut memandang laut.
Hinata menolah pada Sasuke, memandangnya sejenak lalu melihat kedepan kembali, ada senyum dibibirnya. Setidaknya malam ini mungkin hanya malam ini dia bisa sedekat ini dengan Sasuke, setelahnya mungkin akan ada hal yang lebih menyakitkan jika ia tidak menghentikannya nanti.
Hinata menggosok kedua tangannya mulai merasa dingin dengan angin malam, belum lagi dia lupa mengenakan jaket, dia hanya mengenakan dress selutut lengan pendek.
"Kau kedingan ?" melihat Hinata yang menggosok tangannya, Sasuke melepas jaketnya meletakkan di bahu Hinata guna memberi kehangatan.
"Nanti Sasuke-kun kedinginan juga." Berniat melepaskan jaketnya tetapi ditahan Sasuke, bukannya melepas Hinata, Sasuke malah menariknya dan memeluk tubuh Hinata dari belakang.
"S-sasuke-kun." Hinata kaget tubuhnya seperti tersengat listrik merasakan pelukan hangat dari Sasuke.
"Begini lebih baik." Menempatkan dagunya di bahu Hinata menghirup bau yang menguar dari tubuh gadis ini.
"Tapi banyak orang." Cicit Hinata yang sudah memerah tanpa dilihat Sasuke.
"Diamlah."
Hinata terdiam, logikanya berkali-kali menolak.
Tetapi tidak dengan hatinya, jujur ia sangat merindukan pelukan hangat pria ini.
Dia bisa terjatuh lagi jika seperti ini.
Tetapi tidak bisakah untuk malam ini saja.
Setelah ini dia berjanji akan membuat pertahanannya lebih kuat lagi walau ia ragu.
"Sasuke-kun mungkin ini sudah terlalu malam." Ucap Hinata yang dirasa sudah cukup lama mereka disini dan masih dengan posisi ini.
"Sebentar lagi." Sasuke mengeratkan pelukannya, rasa rindu dalam diri Sasuke menolak untuk beranjak.
"Tapi aku belum mengabari Otou-san."
"..."
"Sasuke-kun."
Bukannya menjawab Sasuke malah memutar tubuh Hinata menghadap kearahnya. Memandang manik levender yang juga ikut memandangnya. Hinata sempat tersentak tetapi tatapan Sasuke seakan menghipnotisnya.
Sasuke memandangnya lekat dan dalam, onyx bertemu levender mereka menatap satu sama lain.
Tanpa Hinata sadari Sasuke memajukan wajahnya sedikit demi sedikit. Hingga semakin dekat dan dekat.
Tubuh Sasuke mendekat, merendahkan wajahnya.
Menyatukan keningnya dengan kening Hinata, lalu hidungnya dengan hidung Hinata.
Nafas mereka saling beradu.
Dan...
Baru saja bibir mereka akan bertemu, tiba- tiba Hinata mendorong Sasuke, menjauhkan pria itu dari jangkauannya.
"J-jangan."
Sasuke menaikkan alisnya sebal pada Hinata yang menolaknya, pandangannya bertambah intens menusuk levender Hinata.
"B-banyak orang Sasuke-kun."
Sebenarnya bukan itu alasan utamanya, Hinata hanya tidak ingin kalau nanti dia yang akan lepas kendali melupakan tujuannya.
Melupakan segala kesakitannya, melupakan segala fakta jika dia akan jatuh lagi dan lebih dalam lagi.
Pandangan Sasuke melembut pada Hinata, ada senyum tipis yang dilihat Hinata di bibir Sasuke, walau dia tidak yakin. Selagi Hinata sibuk dengan kekhawatirannya tiba-tiba Sasuke memangutnya lembut penuh perasaan.
Hinata terkejut memejamkan matanya erat-erat. Tidak dia tidak siap, benar-benar Sasuke.
Ini tidak boleh.
Hinata berusaha mendorong-dorong dada bidang Sasuke tetapi Sasuke mengacuhkannya masih saja memangut bibir manis Hinata melupakan fakta jika mereka ada ditempat umum walau tidak terlalu ramai.
Tetapi seiring ciuman lembut nan manis yang diberikan Sasuke, Hinata jadi kehilangan akalnya. Segala kasih sayang dan perhatian Sasuke membuatnya hanyut begitu saja.
Tanpa sadar pukulan Hinata melemah, malah meletakkan tangannya di rahang kokoh Sasuke mengikuti permainan manis Sasuke. Sekilas senyum tipis terpatri di wajah Sasuke menerima respon Hinata, tidak ada yang bisa menolak pesonanya.
'Kali ini saja, kami-sama kumohon perlambat waktu ini." suara hati Hinata meronta seiring pangutan romantis mereka.
'kali ini saja'
Nafas mereka mulai memburu, membutuhkan oksigen lebih. Hinata yang notabene belum terlalu berpengalaman sudah meronta meminta dilepaskan karena pasokan udaranya. Tanpa izin Sasuke, dengan sekuat tenaga Hinata mendorong Sasuke yang masih saja bertahan.
"S-sahasuke-kun." Sasuke yang malah menyeringai licik melihat pipi Hinata memanas membuat wajahnya seperti kepiting rebus.
"Hn, gomen." Mendekap tubuh sintal Hinata yang masih mencari-cari pasokan udara. "kita kembali."
.
.
.
Kedua insan berbeda jenis berjalan menyusuri trotoar yang mengarah pada sebuah taman yang cukup ramai, malam ini akan ada pertujukan kembang api ditaman yang mereka tuju. Sambil berjalan dalam diam mereka sampai di salah satu bangku taman yang memang disediakan untuk para pengunjung. Disekitar mereka juga ada orang-orang yang ikut serta menikmati pertunjukan, mulai dari sekumpulan remaja, para pasangan, dan juga ada keluarga yang ikut menikmati malam ini.
-flashback satu jam sebelumnya-
"Hinata-chan aku ada didepan rumahmu sekarang."
"Apa ?" tanya sang penjawab.
"Keluarlah, aku akan kedinginan jika disini terus." Rengek suara pria yang menggigil yang dibuat-buat.
"Tunggu aku akan keluar."
.
"Apa yang Sai-kun lakukan disini ?" Sedikit berlari menghampiri seseorang yang katanya menunggu didepan rumahnya.
"Aku berkunjung." Senyumnya mengembang berjalan menghampiri tuan rumah.
"Kenapa tidak memberitahuku dulu ?"
"Kejutan."
"Kalau begitu, ayo masuk." Ajak Hinata yang mulai berjalan, merasakan Sai tidak mengikutinya dia kembali berbalik melihat pria dengan kemeja gelap yang dia kenakan.
"Ada apa Sai-kun ?" Sai menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, dengan gaya ingin mengungkapkan sesuatu.
"Sebenarnya aku ingin mengajakmu kesuatu tempat."
"Kemana ?"
"Aku dengar di taman akan ada pertunjukan kembang api, jadi.." Masih terlihat ragu-ragu, tumben sekali Sai canggung biasanya memaksa Hinata bagaimanapun caranya, takut ditolak lagi mungkin.
"Ya ?" Hinata terdengar tidak peka.
"Jadi.. kau ingin pergi ?"
"Kesana ?" Memang tidak peka sepertinya.
"Tentu saja Hinata-chan, tenang saja aku hanya bosan diapartemenku, jadi aku kesini mengajakmu kesuatu tempat." Sai berubah dari yang ragu menjadi terus terang, menurutnya itu bukan gayanya. Terlihat ragu dan malu-malu yang benar saja.
"Hm.." Hinata berpikir sejenak menimbang-nimbang ajakan Sai.
"Ayolah, aku tidak akan meninggalkan tempat ini kalau kau menolak." Hinata sontak memandang Sai yang sudah tersenyum menyadari kemenangannya.
'dasar Uchiha, suka sekali memaksa' gerutu Hinata dalam hati.
"Hm, baiklah. Menolakpun tidak ada gunanya kan ?"
"Kau tahu itu." Masih tersenyum atas kemenangannya.
"Aku ganti baju dulu, Sai-kun masuk saja dulu."
Memasuki rumahnya yang diikuti Sai, mempersilahkan pria itu duduk di sofa ruang tamunya. Kau sepertinya melupakan sesuatu Hinata, peringatan seseorang mungkin.
-flashback end-
"Kau ingin minum ?" Memecah keheningan diantara mereka, Hinata yang masih saja terkagum-kagum dengan kembang api hanya mengangguk tanpa menoleh.
"Kau ingin apa ?" Tanya Sai lagi tersenyum melihat Hinata yang sedang asyik sendiri.
"Apa saja."
"Tunggu disini." Berdiri dari duduknya berniat pergi.
"Eh- Sai-kun biar aku saja." Panggilan dan pegangan tangan lembut Hinata menghentikan Sai. "Biar aku saja yang beli." Terdengar memohon.
"Biar aku saja, kau duduk dan nikmati kembang apinya." Hinata menggeleng bersikeras ikut berdiri.
"Tidak, Sai-kun tunggu aku saja. Aku juga ingin melihatnya dari sana sebentar." Tunjuknya di tempat penjualan cemilan dan minuman yang cukup ramai dengan pembeli.
"Aku temani." Mulai menarik tangan Hinata, tetapi Hinata memengang dan melepaskan tangan Sai lembut. Lalu mendorong tubuh Sai ke bangku mengisyaratkannya untuk duduk.
"Disini saja Sai-kun, aku juga tidak pernah membelikan minuman untuk Sai-kun." Puppy eyes andalannya sudah keluar membuat Sai menyerah.
"Baiklah, aku ingin green tea."
Hinata mengangguk tersenyum lalu beranjak pergi menuju tempat penjualan.
Saat Hinata pergi, tiba-tiba terdengar suara deringan handphone tetapi bukan milik Sai. Sai mencari asal suaranya yang berasal dari slingbag kecil milik Hinata yang diletakkannya di kursi samping Sai.
Sai mengambil handphone tersebut, baru saja ingin menekan answer jemari Sai berhenti. Menyimpan kembali mengabaikannya. Tetapi deringan itu juga tak kunjung berhenti menganggu pendengaran Sai, dengan kesal Sai mengambilnya lalu menjawabnya.
"Kenapa ?" Jawab Sai terdengar sebal.
"Sai ? kau ?" sang penelpon terdengar terkejut.
"Kenapa Sasuke ?" ulangnya bertambah sebal dia yakin jika Sasuke saat ini sedang kesal dan dia lagi malas dengan itu.
"Kau bersama Hinata ?"
"Memangnya kenapa ?" Sai benar-benar sebal dia lagi malas berbasa-basi dengan Sasuke.
"Dimana Hinata ?" Sasuke di seberang sana sepertinya sangat menahan sesuatu.
"Pergi."
"Berikan pada Hinata." Tegas Sasuke
"Kubilang di pergi, dia pergi sebentar membeli minuman." Ucapnya santai, terlalu jujur mungkin. Geraman terdengar dari seberang sana sepertinya benar-benar murka.
"Dimana kalian ?"
"Ditaman eh- maksudku kita tidak dimana-mana. Kau mengaggu saja" Ralatnya cepat, merutuk diri karena kebodohannya, tentu saja Sasuke akan kesini jika dia memberitahunya, dan itu akan menganggu semuanya, pikir Sai. Lalu segera mematikan sambungannya.
-tut-
"Arkh.. tolol kau Sai." Mengacak rambut hitamnya, meletakkan kembali handphone Hinata.
"Semoga saja dia tidak datang dan menganggu."
Selang setelah menerima telepon Sasuke, Hinata datang dengan membawa dua kantong cup minuman dan sekotak kentang goreng yang dibelinya.
"Maaf aku lama, tadi aku melihat kembang apinya disana." Meletakkan bawaannya lalu duduk di tempatnya.
"Tidak apa. Kau suka ?" Tanya Sai sembari meminum minumannya begitupun Hinata.
"Ya aku sangat suka, aku tidak ingat kapan terakhir aku ke festival kembang api." Tersenyum lembut kembali menatap kembang api yang masih saja menampilakan pesonanya,
"Sudah kuduga, kau tidak akan menyesal ikut denganku."
"Kukira begitu."
Suasana kembali hening, mereka menikmati pemandangan yang disuguhkan sambil menikmati makanan dan minuman mereka.
"Wah indah sekali, Sai-kun aku ingin kesana, sepertinya disana lebih jelas melihatnya." tanpa menunggu jawaban, Hinata langsung menarik tangan Sai menuju kedepan untuk melihat lebih dekat. Dimata Sai saat ini Hinata seperti anak kecil yang sangat menyukai kembang api, lucu sekali.
"Sai-kun lihat ? untung saja kita kesini." Masih terkagum-kagum tidak berhenti mengoceh, Sai terdiam dan tersenyum melihat senyum manis Hinata.
Sai masih saja memandangi wajah kegirangan Hinata, tetapi sorot mata Hinata tidak sepenuhnya bahagia seperti ada yang menganggunya. Walau Hinata tersenyum lebar malam ini tidak bisa dipungkiri jika dia menyimpan sesuatu yang pedih. Sai seperti merasakannya.
"Hinata-chan." Panggil Sai yang tidak lagi tersenyum raut wajahnya kini serius.
"Ya ?"
"Kau ada masalah ?" Sepertinya kau berniat merusak suasana hati Hinata malam ini Sai.
"Masalah ?" Hinata mengernyit bingung. Kembang api intinya sudah mulai reda sekarang hanya kembang api kecil yang menyaksikan mereka.
"Hn, kau terlihat seperti menyimpan sesuatu ?"
"Maksud Sai-kun ? aku tidak menyimpan apa-apa ?"
"Kau seperti menahan sesuatu, apa tentang Sasuke ?" Benar-benar tidak tau suasana kau Sai.
Hinata menelan ludahnya. Dia sama sekali tidak ingin mendengar pertanyaan yang seperti itu dari siapapun saat ini.
Sekelebat ingatannya akan Ino dan Sasuke terputar kembali.
Ingatannya tentang dirinya yang menangis hampir setiap malam karena Sasuke.
"Tidak ada kok." Ucapnya rendah menahan getaran dibibirnya.
"Aku merasakannya Hinata-chan." Pandangan Sai sudah menajam menusuk dalam Hinata.
Hinata dengan segera mengangkat kepalanya pandangannya tertuju pada lelaki yang baru saja mengatakan merasakan, merasakan rasa sakitnya. Benarkah.
Air mata yang sudah berkumpul di pelupuk matanya mengalir bertetes-tetes tanpa ia sadari, masih terdiam menatap onyx Sai.
"Hinata ?" Sai mulai khawatir akan Hinata yang sudah mengalirkan air mata didepannya lagi, rasa bersalah mengerayanginya.
"Ti-Tidak... tidak... terjadi hiks apapun." Elak Hinata berusaha mengenyahkan bayangan Sasuke dari pikirannya.
"Hinata-chan maafkan aku." Sai sudah berusaha menghapus air mata Hinata yang semakin menjadi.
"Bukan, b-bukan.. uhkk.. salah Sai-kun, ini-ini salahku.. hikss.. aku terlalu cengeng." Ikut menghapus air matanya. Hinata memejamkan matanya rapat-rapat, menahan getarannya.
"Sudah, jangan menangis."
Sai memeluk tubuh Hinata yang terlihat letih. Membiarkan Hinata menyembunyikan wajahnya dan menangis di dadanya, tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Sai hanya perlu menenangkan Hinata. Mengeratkan pelukannya dan terus mengelus kepala Hinata dengan lembut.
"Aku mencintaimu." Kata yang sakral itu keluar begitu saja dari mulut Sai berharap Hinata mendengarnya dan merasakan debaran jantungnya yang juga mengebu-gebu akibat Hinata. Tetapi Hinata masih saja menangis, entah mendengarnya atau tidak. Mengabaikan jika mereka tengah dikeramaian toh orang-rang pasti menganggap mereka sepasang kekasih yang sedang berpelukan.
-SRET
Tiba-tiba sebuah tangan kekar mencengkram dan menarik siku Hinata cukup kencang, terasa seperti orang yang akan membantingnya. Hinata merintih membuka matanya yang ia pejamkan karena tangis. Kini tepat di depannya terlihat Sasuke yang berdiri dengan menatapnya tajam.
-BUGH
Sai yang terkejut langsung melihat siapa yang menganggu mereka, kegiatannya terhenti seketika sudah ada bogeman mentah yang mengenai pipinya dengan keras, membuatnya tersungkur di rerumputan. Suara teriakan orang sekitar tidak mengalihkan fokus dan amarah Sasuke.
"JANGAN MENYENTUHNYA BRENGSEK !"
Bentakan amarah Sasuke membuat suasana disana menjadi semakin suram, tidak ada yang bergerak melerai, mereka hanya memandang takut pada kedua pemuda itu. Sai bangkit menyeka darah yang keluar dari ujung bibirnya.
-BUGH
Hinata yang syok menutup mulut dengan kedua tangan menahan pekikannya yang sempat akan keluar ketika Sasuke kembali menghantam Sai. Sai berhasil menahan tubuhnya agar tidak terjatuh lagi.
"JANGAN MAIN-MAIN DENGANKU."
Sai mendecih mengeluarkan darah dari bibirnya, lalu dengan cepat Sai menerjang Sasuke dengan tinjunya yang sudah siap.
-DUAG "KAU YANG BRENGSEK."
Suara pukulan bersamaan dengan teriakan amarah dari Sai, membuat Sasuke mundur beberapa langkah menambah teriakan dari orang-orang sekitar, terlebih lagi Hinata yang semakin khawatir akan mereka berdua.
"Aku sudah mengatakan padamu untuk membahagiakan Hinata, tapi apa yang kau lakukan BRENGSEK."
Sasuke terdiam lalu berdiri menghapus darah di sudut bibirnya. Pandangannya semakin berkilat menyeramkan tetap lurus tidak lepas dari Sai.
Suara hantaman kembali terdengar tanpa ada yang melerai, Hinata sudah berjerit mati-matian melerai mereka, tetapi tidak dihiraukan oleh keduanya.
"Hentikan..." Air matanya sudah mengalir semakin deras. "Kumohon hentikan ..."
Mereka tuli masih saja memukul satu sama lain, mengumpat satu sama lain. Tanpa berpikir panjang Hinata memaksakan dirinya yang tadinya membeku lemah untuk berlari menggentikan ketulian mereka.
"KALIAN HENTIKAN !" Teriaknya keras, mungkin itu sudah yang terkeras dari Hinata.
Mendadak mereka berhenti tetapi masih dengan posisinya. Teriakan pedih Hinata memecah mereka.
"Kumohon sudah." Hinata terus menangis memelas memohon pada keduanya untuk berhenti.
Sasuke berdiri dari tubuh Sai mendorong Sai cukup keras. Menarik tangan Hinata kuat.
"Pulang." Perintahnya
"Tidak." Hinata menggeleng memandang Sai yang masih terbaring meringis. "Sai-kun terluka.." tubuh Sasuke bergetar hebat mendengar Hinata, cengkramannya ditangan Hinata semakin kuat menariknya berdiri yang tadi berusaha duduk menggapai Sai tetapi Sasuke semakin memaksanya mengitu langkahnya.
"Sai-kun..." memandang khawatir Sai yang sudah berdiri dengan memar diwajahnya, tanpa memperdulikan fakta jika Sasuke bernasib sama dengan Sai.
Sai yang melihat Hinata ditarik Sasuke berniat mengejar mereka tetapi dia mengurungkan niatnya, sambil memegangi rahangnya yang sakit.
"Sialan."
.
.
BRAK!
Hinata meringis perih merasakan punggungnya menabrak sisi mobil, dengan keras Sasuke memukul kepalan tangannya pada kedua sisi Hinata, menghimpit Hinata mencegah pergerakan.
Mata Sasuke sudah cukup memerah karena amarahnya, sungguh amarahnya lebih membludak sekarang dibanding saat dia memergoki Ino dan Sasori.
"SUDAH KUKATAKAN PADAMU HINATA." Bentakan Sasuke membuat Hinata terkejut menutup matanya ketakutan, air matanya masih saja keluar tak henti.
"Jangan sampai dia menyentuhmu setitikpun." Sasuke mengeram mengerikan menekuk sikunya memperkecil jaraknya dengan Hinata.
Hinata semakin mengeratkan matanya merasakan kening Sasuke menyentuh keningnya yang ditutupi poni yang sudah basah oleh keringat.
Hinata menarik nafasnya dalam-dalam mengumpulkan semua keberaniannya. Dia tidak tahan dengan Sasuke yang seenaknya seperti ini. Dengan kedua tangannya Hinata mendorong kuat dada Sasuke menjauhkan wajah Sasuke dari wajahnya, ia ingin bicara.
"Hentikan Sasuke-kun." Bentak Hinata walau tak sekaras Sasuke, tetapi tertanam amarah dan rasa sedih didalamnya. Ia tidak bisa menahannya, dia terlalu lemah dan mengalah selama ini.
"Apa maksudmu hah ?" Rahang Sasuke semakin mengeras menahan amarahnya.
"Sasuke-kun tidak berhak memukul Sai-kun seperti itu."
"Cih?" Mengeratkan kepala tangannya di body mobilnya kepalanya semakin panas.
"Sai-kun tidak salah apapun Sasuke-kun." Dengan sangat susah payah Hinata menahan gugup dan getaran dibibirnya. Dia harus mengatakannya. Tidak bisa dipungkiri air matanya mengkhianatinya, terus saja mengalir membuatnya semakin merasa lemah.
"Sai-kun itu temanku, dia tidak ada hubungannya dengan ini."
"Diam Hinata." Geram Sasuke mulai merasakan amarahnya kembali seiring pembelaan Hinata untuk Sai.
"Hiks, jangan memukulnya lagi." Hinata sudah tidak bisa menahan isakannya.
"Kubilang diam."
"Jangan lukai Sai-kun lagi." Isaknya menjadi-jadi sebenarnya dia juga khawatir dengan keadaan Sasuke, tetapi dengan keadaan seperti ini, ia berusaha mengabaikannya.
"KUBILANG DIAM !"
"Jangan pernah membelanya, Kau HANYA MENCINTAIKU."
Sasuke memukul body mobilnya lagi, mengabaikan rasa sakit yang mengalir di tangannya. Hinata memejamkan matanya lagi karena bentakan Sasuke. Terkejut akan ungkapan amarah Sai, Sasuke sudah tau jika dia mencintainya, tapi bagaimana bisa ?. Sasuke sungguh sangat menyeramkan malam ini.
"A-ap-"
"Kau memang hanya mencintaiku Hyuuga Hinata." Jelas Sasuke dengan penuh amarah.
"BENAR, ITU BENAR, aku dengan bodohnya mencintaimu, tetapi kau bahkan tidak mencintaiku sama sekali, tidak akan pernah mencintaiku. Kau seenaknya marah jika Sai-kun mendekatiku. Dengan seenaknya juga kau memberikan harapan padaku. dengan seenaknya juga kau menyakitiku berulang kali. Jangan memberiku harapan jika kau masih mencintai orang lain UCHIHA SASUKE, aku muak dengan perasaan ini, aku tidak tahan lagi ini."
"Aku... hukh.. aku hiks... aku akan membatalkan.. hiks hiks perjodohan ini."
Sengatan hebat seakan menyengat tubuh Sasuke, seluruh tubuhnya seperti dihujam habis-habisan. Matanya sudah terbelalak melupakan image dinginnya. Tangannya sudah terkulai melepaskan kurungannya. Menatap tak percaya pada Hinata, pada Hinata yang berbicara panjang lebar dengan penuh amarah dan rasa sakit, Hinata yang terisak pedih mengatakan hal yang membuatnya membeku.
"A-aku akan hiks.. membatalkan perjodohan ini."
TBC
ini udah telat banget sumpah, mohon maaf padahal aku udah berusaha buat gak telat, tapi apa daya kesibukan meraja lela.
untuk chap ini aku panjangin, sebab bingung mau motong dimana, jadi di jadiin satu chap aja. aku juga belum edit gimana2, jadi mungkin banyak typo dan kesalahan lainnya.
happy reading, Arigatou.
R&R
