Everlasting Love

Chapter 10: EURO: Essex United for Romeos

By Rimrim-chan

Author's Prolog:

Here, my intention to share some joyful from my work: the tale of Rukia and Ichigo. Enjoy every moment of their togetherness!

Tilbury di musim semi tidak kalah menggoda dari Kyoto. Faktanya setiap sudut kota memiliki jiwa yang membuat mereka berbeda. Kalau kota saja memiliki kepribadian yang berbeda apalagi seni dan manusia ya 'kan?

Sabtu pagi nan cerah pada kesempatan kali ini manusia seni bernama Kuchiki Rukia mengenakan setelan semi formal dengan Puma sneakers. Selayaknya makhluk seni yang lainnya, dia menenteng kamera Fujifilm X-Series. Namun, di mata Ichigo, Rukia memiliki matahari sendiri yang menerangi jalannya.

"Kamu sekarang merubah fashion-mu, Rukia?" Ichigo hanya ingin tahu, apa mungkin fashion taste bisa mengubah kepribadian Rukia.

"Tidak merubah, aku hanya menjadikan hidupku lebih sederahana dan praktis." Ichigo sekarang paham mengapa kediaman Rukia di Tilbury ini sangat berbeda dengan Kuchiki Mansion, rumah itu nyaris tidak memiliki perabotan. Bahkan Ichigo tidak menemukan ada jam dinding di seluruh ruangan.

"Karena sepanjang tahun kamu travelling jadi kamu memilih praktis?"

Wanita Kuchiki itu menggeleng, dia tersenyum lebar, "Aku tidak hidup untuk mengkonsumsi barang-barang komersial. Aku hidup untuk menikmati kehidupanku."

"Minimal lifestyle?"

"Exactly, Kurosaki!" Rukia menjadi bersemangat membicarakan ini. "Termasuk seluruh aspek kehidupanku, fashion dan yang lainnya."

"Tidak mudah menjadi minimalist person, Rukia."

"Benar tidak ada yang menyebutkan mudah, tapi bukan tidak mungkin dilakukan." Dia sangat optimis.

Jawaban Rukia menjawab pertanyaan awal Ichigo, "Bagaimana dengan barang-barangmu, fashion-mu dan.. segalanya?"

Rukia tersenyum, "Aku menyumbangkannya. Lagipula trend mode terus berubah, aku butuh mengganti isi closet-ku setiap musim. Aku pikir ada wanita kurang beruntung di ujung jalan rumah Nii-sama yang butuh gaun malam rancangan YSL untuk dikenakan saat dia prom, aku pikir Tuan Yves Saint Laurent tidak keberatan rancangannya membuat wanita itu cantik."

Rahang Ichigo terjatuh di jalanan Tilbury. Rukia terbahak-bahak. Ichigo berharap Rukia hanya membual, "Gaun YSL itu.. astaga bukankah kau suka sekali dengan koleksi YSL, Rukia? Dan harganya.. ya ampun!"

"Aku tahu! Hahaha. Pada akhirnya aku akan membeli lagi dan lagi. Yang lama aku tidak menggunakannya lagi. Mengapa tidak membuat ia bermanfaat sekali lagi? Ingat kau bukan membuangnya, kau mengtransformasi barang layak pakai itu menjadi abadi. Kau mengubah bisa mengubah hidup seseorang."

Ichigo masih tidak terima. Dia keliling dunia untuk apa? Untuk menyumbangkan seluruh pakaian mahal di lemarinya? Untuk menjadi seseorang yang sok dermawan?

Rukia menggenggam tangan Ichigo, "Butuh waktu untuk memaknai ini. Dengan uang kita bisa bahagia, dan dengan uang pula kita bisa membuat orang lain bahagia ditambah menjadikan kita dua kali lipat lebih bahagia dengan berbagi dan memberi."

Ichigo serasa ditampar si manusia seni satu ini.

"Kuchiki dan Kurosaki mungkin punya badan amal, tapi kita tidak tahu bagaimana benar-benar memberi apa yang kita miliki. Kau mau tahu seperti apa rasanya dua kali bahagia? Pergilah ke kedai kopi Starbucks di blok ini, kau beli secangkir kopi. Tentu kau bahagia dengan meminumnya, tapi kalau kau memberikan gelas karton berisi kopi itu kepada polisi petugas di perempatan jalan itu, tentu rasanya berbeda. Coba saja."

Memandang kedua mata Rukia saat ini, sama indahnya menyambut fajar diantara pohon pinus di hutan Colorado. Saat pertama kali Ichigo jatuh cinta dengan sepasang mata indah ini, Ichigo tidak pernah lupa bagaimana sensasinya. Sekarang sensasi itu seakan berubah bentuknya, bukan hanya jatuh cinta dengan mata besar itu, tetapi ada kekaguman akan jiwa Rukia yang paling dalam, paling subtil, dan paling murni.

"Dari mana kamu mempelajari ini, Rukia? Perjalananmu bertahun-tahun?"

Dia hanya memberikan senyuman, "Tidak tahu, Ichigo. Semakin banyak aku belajar dari perjalanan itu, semakin aku tahu bahwa aku melupakan hal yang sangat sederahana."

Pagi yang romantis, dengan berbagi makna hidup dari si manusia seni.

"Ceritakan tentang keluargamu, Ichigo."

Kuchiki Rukia mengawasi Ichigo sembari menyeruput kopi Starbucks-nya dalam karton (Ichigo memperaktekkan berbagi dia yang pertama dengan memberikan kopi Starbucks miliknya kepada pemuda yang bekerja di pelabuhan Tilbury).

Kurosaki Ichigo kali ini sedang mendalami photography dari Rukia, dia tampak sok sibuk dengan Fujifilm itu. Entah apa yang dia ambil di balik semak-semak.

"Kabar mereka baik. Karin akan bertunangan dengan Hitsugaya akhir tahun ini."

Rukia terkejut, "Hey, itu berita menggembirakan! Bagaimana dengan Yuzu? Tidakkah dia ingin menikah juga?"

"Dia sengaja mengantre demi Karin, dia sudah bertunangan tahun lalu, tapi memilih menikah setalah Karin bertunangan dahulu."

"Lalu.." Rukia bertanya kembali, "Bagaimana denganmu, bukankah kau akan menikah dengan Nel tahun ini?"

Mungkin angin musim semi membawa serbuk-serbuk bunga bertebaran di udara bebas. Mungkin serangga-serangga sedang bercumbu dengan nektar-nektar bunga di sekitar semak itu merasa diusik. Mungkin saja Kurosaki itu tanpa sepengetahuannya menghirup kentut seseorang yang beracun. Tiba-tiba Ichigo tersedak dan terbatuk-batuk tak berhenti.

Rukia menghampiri Ichigo, memeriksa apakah Ichigo tersengat lebah yang jutek atau apalah di sekitar situ sehingga dia terbatuk terus-menerus. Wajah Ichigo memerah.

"Lebih baik kita pergi ke daerah castle saja, Rukia. Penduduk astral pelabuhan Tilbury sepertinya tidak senang aku di sini."

Rukia yang tampak kebingungan, setuju saja dibawa Ichigo untuk tur mengelilingi England kuno di daerah Tilbury.

Wisata England kuno ternyata membuat Kurosaki Ichigo jenuh setengah mati. England heritage tidak cocok untuknya yang tidak menyukai sesuatu yang historis. Rukia bisa langsung paham bahwa Ichigo sangat tidak bersemangat seperti kambing yang tidak bertemu rumput berhari-hari.

Untuk itu di sanalah mereka, berada di dalam 'The Tube' untuk membawa Ichigo kembali ke jantung kota London.

Mereka berjalan tanpa tujuan di Westminster. Spirit Ichigo kembali, berada di kerumunan wisatawan dan Londoners di Trafalgar Square. Lelaki itu mencoba peruntukannya dengan Fujifilm Rukia, memotret pergerakan kerumunan di sekitar tugu bersejarah itu.

Kemarin Ichigo bertemu Rukia untuk pertama kalinya setelah lima tahun berpisah, di sana Trafalgar Square. Tentunya membuat Ichigo penasaran akan perjalanan hidup Rukia.

"Apa yang ada di kepalamu saat itu Rukia saat kau tiba-tiba memutuskan tidak ingin bertemu denganku setelah pertemuanmu dengan Inoue dan kakakku Kaien?"

Rukia sedang mengamati beberapa jepretan Ichigo di dalam kameranya, "Aku tidak ingat apa yang ada di benakku saat itu, hanya saja aku sangat emosional hari itu. Aku tidak ingin over reacted karena drama ini. Malam itu juga aku segera mengemasi barang-barangku, esok paginya kakakku mengantarku ke bandara dan aku tidak pernah kembali ke Seiretei sampai detik ini."

Ichigo hanya manggut-manggut, "Lalu, setelahnya kau pergi kemana? Hingga kau memutuskan menjadi traveler?"

"Di Manchaster aku tidak berubah menjadi baik. Aku tidak memiliki teman atau keluarga di manapun. Beberapa bulan setelahnya aku pergi ke India. Atas saran dari seorang instruktur di kelas yoga di sebuah studio di sana, dia berpendapat mungkin aku harus mendalami tentang diriku sendiri. Aku belajar meditasi di India, hampir setahun aku di sana, aku terbang ke Afrika Selatan dan bertemu Yuna. Setelahnya aku kembali ke Manchester karena aku berpikir hanya tempat itu aku kembali. Setahun di Manchester membuat aku bergairah untuk kembali ke bisnis. Aku membangun perusahaan kecil dengan homebase di Manchester. Kemudian aku rindu untuk kembali ke jalanan, sisa tahun setelah itu aku bertemu dengan Big G dan Brooklyn kemudian kita menjadi travelpeneur dan aku menjalanankan bisnisku di manapun aku mau. Hingga aku bertemu kembali denganmu, dan—"

Ichigo memotong pembicarannya, "Kau ingin sekolah bisnis di London?"

Ekspresi Rukia datar, "Aku belum setuju akan itu. Sekalipun aku sudah bertempat tinggal di Tilbury."

Mereka menelusuri Paddington street, tempat tinggal ciri khas London dengan jendela sash. Musim apapun selalu indah di sekitar Paddington street.

"Boleh aku bertanya sesuatu yang personal Ichigo?"

"Apapun, Rukia."

"Mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku tentang pernikahanmu?"

Sepertinya pura-pura mati lebih cocok diterapkan sekarang. Ichigo kalah telak, dia tidak bisa berkutik lagi.

"Ku kira kamu tidak ingat pertanyaan itu."

"Aku hanya pura-pura bodoh. Bukankah wanita yang penurut itu menggemaskan?" Ini sih namanya sarkasme.

"Well, bagaimana aku memulainya.."

"Tidak apa kalau kau tidak ingin menceritakannya, Ichigo. Aku hanya ingin tahu—"

"—Kalau kau sebenarnya hanya ingin tahu mengapa aku ingin bertemu denganmu sedangkan aku pergi meninggalkan Nel ke London untukmu?"

Sepersekeian detik mereka berhenti berjalan. Dunia menjadi berhenti berputar. Hanya angin musim semi yang bergerak, yang lainnya bergerak perlahan. Mereka berhadapan satu sama lain, di tengah Peddington Street, dilewati beberapa pejalan kaki, di depan salah satu bangunan dengan jendela sash berwarna kuning. Mereka berdua, saling tatap. Diam.

"Kita di tengah jalan, Ichigo."

"Oh ya benar, bagaimana bila kita menepi?" Mereka memutuskan menepi di teras rumah yang memiliki jendela sash berwarna kuning. Rukia memilih duduk di pundakan rumah itu.

Ichigo ingin memaki angin musim semi yang berhembus. Entahlah, mengapa angin ini serasa di musim gugur saja, bulu kuduk terasa berdiri. Bagaimana dengan Rukia? Wanita Kuchiki itu dalam keadaan stoic. Datar saja ekspresinya.

"Kamu ingin aku memulai dari mana ceritanya, Rukia?"

Dia mengangkat bahunya, "Sepertinya bukan darimana awal cerita, karena aku tidak bertanya akan itu?"

Dengan menggagukkan kepalanya yang canggung, Ichigo mengiyakan.

"Kau tampak tidak nyaman. Kau tidak perlu menjawab kalau kau tidak ingin, karena aku tidak suka bila memaksa seseorang, tidak mu—" Rukia bangkit dari duduk di pundakan rumah dengan jendela sash kuning, Ichigo menahan lengannya.

"Aku tidak mau kamu menjadi salah pengertian tentang kedatanganku."

Ekpresi Rukia yang tadi datar berubah menjadi sarkasme, "Kau kesini hanya untuk mengundangku secara resmi ke pernikahanmu? Huh? Aku akan datang!"

Intonasinya naik sedikit, dia mengalihkan pandangan ke jalanan Pedington yang menjadikan orang-orang yang melewati rumah itu menjadi menoleh. Ichigo tidak berkutik.

Kini wajah Rukia memerah, amarah dan kekecewaan jelas menyelimuti wajah cantiknya.

Sekali lagi Ichigo ingin memaki angin musim semi, dia membuat suasana menjadi mencekam.

"Menurutmu aku ke terbang dari Seiretei ke London untuk mengatakan itu?"

Rukia mengangguk. Ichigo membalas dengan anggukan. Ekpresinya tampak sumringah.

"Kau membuat aku bingung. Kalau kau terus begini aku akan pergi sampai kau siap bicara. Aku tidak ingin menghabiskan waktu untuk kembali ke masa lalu." Rukia bergegas beranjak dari teras rumah berjendela sash kuning. Saat dia berbelok, setengah berlari meninggalkan pria plin plan itu. Ichigo memanggilnya.

Rukia berhenti dari langkahnya. Ini persis di adengan drama percintaan yang berakhir bahagia. Sayangnya itu hanya drama yang dibuat berlebihan.

"Kau pergi saja sampai kau lupa ke mana lagi kau harus berlari. Kau pergi untuk menghindariku. Pernahkah kau bertanya padaku Rukia, seperti apa rasanya menjadi Kurosaki Ichigo? Seseorang yang tidak ingin menjadi CEO Kurosaki, yang tidak menyukai hidup di bawah spotlight? Seseorang yang hanya mencintai satu wanita tapi sayangnya, wanita itu tidak pernah belajar bagaimana seorang Kurosaki Ichigo ingin dicintai?"

Bahu Rukia terlalu dingin untuk memutar tubuhnya.

"Kau keliling dunia meninggalkanku, tidak 'kah kau pernah bertanya bagaimana aku melanjutkan hidupku setelah drama yang sudah di buat Kaien Shiba? Apa kau pernah bertanya apakah aku bahagia bersama dirimu? Pernah 'kah kau bertanya pada dirimu sendiri apakah selama ini kau memperlakukan aku dengan baik? Pernah 'kah Rukia?"

Sekarang bahu Rukia bergetar dari belakang.

"Semua media mencaci makiku, seolah akulah yang menjadikanmu menderita karena aku memiliki hubungan dengan Orihime Inoue. Tidak 'kah kau bertanya pada dirimu sendiri, apa 'kah yang Kurosaki Ichigo tahu bahwa aku tahu sebenarnya kau sering pergi ke apartemen Kaien Shiba alih-alih kalian memiliki hal penting yang dibicarakan? Pernah 'kah kau bertanya pada dirimu sendiri bahwa kau malu ternyata Kaien Shiba adalah kakak tiriku? Kenapa Rukia, kau ingin menghindari kenyataan itu selamanya."

Rukia menjatuhkan tubuhnya di tepi jalan. Ichigo pergi meninggalkan Rukia dan berbalik arah.

Kurosaki Ichigo tahu Kuchiki Rukia menangis, entah apa yang ia tangisi. Ichigo tidak berniat untuk menengok kembali.

Kurosaki Ichigo berjalan tanpa dia perhatikan tujuannya. Ternyata dia berjalan di daerah Notting Hill. Oh, ini adalah jalan yang terkenal pikirnya. Ini jalan kramat di mana pengambilan adengan film Notting Hill yang menjadi film romantic yang quote nya menjadi legenda.

Ternyata tangannya masih mengenggam Fujifilm milik Rukia. Dia mengambil beberapa sudut Notting Hill. Sekalipun Ichigo tahu setiap sudut di sini, Rukia sudah pernah mengambilnya.

Notting Hill sangatlah padat. Orang-orang berlalu lalang. Tidak terlalu penting apa urusan orang-orang ini, dan juga apa urusan Kurosaki Ichigo ke kota ini.

Dia berdiri di perempatan jalan. Setiap sisi ramai.

Bukan kemana dia akan pergi setelah ini, akan tetapi mengapa dia harus pergi ke arah itu.

Mengapa begitu inginnya ia untuk menemui Rukia. Sekarang wanita itu sudah mengerti penderitaan yang dia rasakan bertahun-tahun. Ichigo sudah instrospeksi diri, berharap Rukia juga melakukan hal yang sama. Mereka akan bersama kembali setelah melewati masa sulit ini. Dia tidak ingin tahu urusan Rukia selama lima tahun belakangan, mengapa sekarang dia ada di tengah perempatan jalan yang ramai ini? Berpikir tentang Rukia?

Ichigo menulis pesan singkat. Notting Hill rumah dengan cat berwarna biru.

Beberapa menit berlalu, Rukia tidak menghampirinya di sudut legenda ini. Ichigo sabar menanti setiap detiknya.

Satu jam berlalu, Rukia tidak muncul.

Kurosaki Ichigo bergerak ke Oxford Street. Tidak ada gunanya menunggu orang yang selamanya tersesat di tempatnya sendiri. Seseorang ini saja tidak mengerti dirinya sendiri, percuma dia menggiringnya untuk memahami seorang Kurosaki Ichigo. Seseorang itu tidak pernah bertanya.

Setidaknya kali ini dia tidak akan lembek dengan dirinya sendiri.

Trafalgar Square mempesona di saat malam. Ichigo masih mencoba peruntungannya menjepret tempat itu saat lampu-lampu dinyalakan.

Memutuskan untuk mendapati kopi dan melipir ke sudut tempat itu. Costa Coffee tepat di The Grand Building. Memandangi kerumunan yang bergerak dan menjadi diri yang melankolis.

Sendiri, untuk menunggu.

Faktanya, dia masih menunggu. Yang menurutnya sesuatu yang sia-sia. Mengapa dia masih menunggu, Rukia? Hatinya ingin dia menunggu sebentar lagi.

Salah seorang pelayan wanita menghampirinya dengan malu-malu. Dia menyerahkan sebuah kertas bertuliskan nomor telepon. Ichigo memberikan ekspresi bingung. Kemudian di telinganya pelayan itu berbisik. Wajah Ichigo memerah dan mengucapkan terima kasih. Pelayan wanita itu pergi.

Ichigo membuat panggilan telepon itu dengan kode area +44.

Sayangnya seseorang enggan untuk mengangkatnya.

Sekarang, menuliskan pesan singkat.

Hi.

Sesingkat itu, berharap ini hanya sebuah sambutan manis yang kecil. Oke, dia sudah lembek dengan dirinya. Gagal menjadi Romeo yang kuat mental.

Hello. Begitu balasannya.

Menuliskan jawabanya. Kamu kemana saja?

30 detik yang menegangkan, dia membalas. Melarikan diri dari kenyataan.

Ichigo menyeruput kopinya, senyum-senyum sendiri.

Dia menuliskan kembali pesan lanjutannya. Masih inginkah kau bertemu denganku?

Dengan segera Ichigo mengetik balasannya. Tujuh tahun menunggu, satu atau dua jam sebentar lagi untuk bertemu denganmu di sini tidak akan menyakitkan.

20 menit tidak terasa sama sekali. Dia datang membawa kartu cokelat kodok.

"Kali ini edisi Godric Griffindor."

Kurosaki mengadahkan wajahnya. Rukia datang dengan mengenakan syal berwarna merah dan kuning.

"Sehabis melewati peron 9 ¾ di King's Cross?"

Dia tersenyum. "Muggles membuat kerumunan yang membuat aku tersesat."

Dia menyodorkan kantong, "..aku membelikanmu syal Slytherin."

Ichigo membuat ekpresi keheranan, "Mengapa kamu membeli syal Griffindor, dan aku Slytherin? Lalu cokelat kodok yang berisi kartu Godric Griffindor?"

Dia hanya mengangkat bahu, "Di akhir series Harry Potter, Slytherin bukan tempat untuk orang yang jahat. Hanya karena Voldemort dari tempat itu bukan berarti asrama itu berisi orang licik sepenuhnya."

Pria Kurosaki itu hanya mengangguk-angguk.

Hanya karena kamu bersedia menemuiku, bukan berarti Rukia bisa lunak dengan mudah, Kurosaki.

Dia masih berdiri, kaku.

Ichigo jadi salah tingkah.

Dia memainkan syalnya, seperti syal Griffindor itu lebih mengasikkan daripada berbicara pada Ichigo.

"Bangku itu kosong bukan tanpa alasan, Rukia. Dia sengaja seperti itu agar kau bersedia duduk."

Mereka saling duduk berhadapan. Diam.

Dia masih memandangi syal itu, Ichigo menatap dia.

Rukia bekerja di dunia broadcasting bertahun-tahun, memulai percakapan sepertinya sama mengerikannya seperti demam panggung.

Selama sepuluh menit mereka hanya berdiskusi hal-hal basi. Ichigo yang terlalu khawatir, dan Rukia yang tidak diketahui isi kepalanya.

"..sepertinya kamu sangat nyaman di London daripada Manchester atau TIlbury, Rukia. Kau lebih familiar dengan London dan sekitarnya."

Rukia menyesap esspreso-nya (kamu bersungguh-sungguh secangkir esspreso di malam hari, Rukia? Mengapa tidak kau pesan Albens atau wine yang kamu sukai?) "Sepertinya begitu."

Ichigo memesan cangkir ke-dua. Prediksi mantan CEO ini bahwa meminum bercangkir-cangkir kopi di tempat ini tidak akan membawa mereka ke percakapan inti. Hanya berdiskusi dan sekedar bercerita, sekalipun mereka menikmati malam itu dengan beberapa komentar guyonan sana sini.

"Bagaimana kalau kita pulang saja, Rukia. Kembali ke Tilbury. Kakiku sakit berkeliling dengan kameramu."

Ichigo berbohong, lebih baik dia sudahi perjamuan ini dan pulang.

Entah mengapa ekspresi Rukia terlalu kaku untuk menunjukan kelegaan beristirahat kembali ke TIlbury.

Ichigo tidak memperdulikannya dan segera menggandeng Rukia menuju stasiun London.

Kurosaki Ichigo mengenakan kaos putih Tommy Helfinger yang dibeli Rukia di Bluewater. Dia memandangi kaos itu sebelum mengenakannya. Seketika itu juga dia berniat untuk pulang ke Seiretei besok pagi dan menemui Nel. Apakah ini adil untuk Nel dan Rukia?

Rukia sedang duduk di sofa saat Ichigo keluar kamar untuk meminum segelas air sebelum pergi tidur. Ichigo bertanya mengapa dia tidak segera tidur dan memilih duduk di sana. Dia hanya menjawab seadanya. Kurosaki itu menghampirnya dari belakang dan mendapati dua gelas wine dan sebotol wine yang sudah terbuka. Gelas satunya belum tersentuh, sepertinya Rukia ingin mengajak Ichigo meminum wine sebelum tidur tetapi dia enggan meminta.

Ini waktu yang tepat untuk mengabarkan niat dirinya untuk pulang ke Seiretei.

Alih-alih berkomentar, Rukia bangkit dari duduknya. Punggung itu masih menolak untuk berputar.

"Lima tahun masih belum mampu bagiku untuk tahan dengan desiran hatiku sendiri setiap kali ada kesempatan untuk berbicara denganmu."

Mereka ragu untuk bergerak dari posisi mereka, khawatir sekali mereka bergerak mengubah posisi hati meraka yang sudah dijaga ketat agar tidak meleleh detik berikutnya.

"Ini bukan perasaan bersalah karena akulah yang menyakitimu dengan Kaien. Aku malu pada diriku sendiri. Butuh keberanian bertahun-tahun untuk menyatakan ini padamu. Saat aku tahu kau sudah berbahagia dengan Nel, aku mengubur perasaanku dan penyesalanku dalam-dalam. Hingga yang tersisa adalah keinginan agar kau terus berhagia dengan hidupmu."

Berjam-jam Ichigo di kedai kopi agar Rukia mau berbicara ini, malah sekarang dia berbicara penting saat Ichigo hendak tidur dan melupakan segalanya.

"..Maafkan aku Ichigo atas kesalahanku pada Kaien. Menikah dan berbahagialah dengan Nel."

Hanya itu komentar Rukia. Bukan 'kah ini yang Ichigo inginkan? Penyesalan Rukia dan restu dari Rukia? Semua baik-baik saja, tidak ada masalah dengan mereka berdua?

Kurosaki Ichigo ke London hanya ingin mengatakan kepada Rukia betapa menderitanya dia selama ini. Benar 'kah?

Punggung itu bergetar. Kali ini berbalik.

Air mata menggenangi mata indah itu.

"Apabila kau tidak berkenan untuk memaafkan dan menemuiku lagi, aku memakluminya."

Rukia kembali berbisik, "Selamat malam, Ichigo."

Katakan sesuatu Ichigo, apa yang kau kehendaki. Katakan sesuatu. Apa saja.

Lima tahun kata maaf sudah tidak masalah lagi, seharusnya bukan masalah lagi sekarang untuk memulai kehidupan baru, iya 'kan?

Author's note:

Please do not go away, next chapter is the promising ending!

I am busy with work and my laptop was broken. then this morning I saw some your reviews and absolutely your reviews made my days, I have no ideas that all of you still love this fairy tale of Ichigo and Rukia in Everlasting Love. I looked up my database and surprised that I had written the ending chapters. Hope you love it! I wish you enjoy reading my stories so far and I am beyond happy to share my love writings to you all.

love,

R,.