Previuos Chapter: Kyuhyun bertemu dengan ibu dan adik Sungmin lalu mengatakan bahwa dirinya adalah kekasih Sungmin. Padahal, yang mereka tahu selama ini adalah Sungmin menyimpan perasaan pada Yunho.


"Aku pulang," ujar Sungmin begitu memasuki rumahnya.

"Selamat datang."

Sungmin terkejut bukan main karena Kyuhyun lah yang menyambutnya, dengan senyuman girang yang hanya dia yang memilikinya. Sudah tiga hari setelah pertemuan mereka di rumah sakit kala itu, Kyuhyun tidak pernah sekalipun muncul di hadapan Sungmin, bahkan tidak mengubunginya sama sekali.

Tidak hanya Sungmin yang bertanya-tanya mengapa tiga hari ini Kyuhyun seperti menghilang, bahkan Yunho dan beberapa rekan kerja Sungmin di Radio Sapphire pun ikut bertanya. Biasanya Kyuhyun selalu muncul dan membuat kehebohan di Radio Sapphire. Ketidakhadiran Kyuhyun menjadi pertanyaan di antara karyawan Radio Sapphire, tapi juga bagi Sungmin pribadi. Sungmin merasa senang karena Kyuhyun tidak muncul, itu artinya tidak ada yang mengganggu dan menggodanya. Kenyataannya Sungmin tiga hari ini Sungmin merasa ada yang kurang, kehilangan. Sempat terpikirkan untuk menghubungi Kyuhyun, tapi gengsinya mengalahkan. Karena itulah Sungmin begitu kaget melihat Kyuhyun berdiri menyambutnya dengan cengiran khasnya. Dan terkejutnya Sungmin bukan karena heran, tapi karena Sungmin merasa… lega.

"Kenapa diam saja?" tanya Kyuhyun yang heran karena Sungmin hanya diam saja di dekat pintu.

"Kenapa kau ada di sini?" Bukannya menjawab pertanyaan Kyuhyun, Sungmin malah balik bertanya.

"Minnie? Kau sudah pulang?" Suara ibu Sungmin bertanya dari dalam.

"Ne, Umma."

"Ibu dan adikmu sudah menunggu. Jangan diam seperti patung begitu," Kyuhyun mengingatkan. Lalu melangkah masuk terlebih dulu meninggalkan Sungmin yang terpaku di dekat pintu.

Di ruang keluarganya, Sungmin bisa melihat keakraban antara Kyuhyun dan ibunya. Ibu Sungmin sedang memotong puding coklat, sementara Kyuhyun menengadahkan piring kecil siap menerima potongan puding itu.

"Minnie, kau mau puding buatan Umma? Atau mau langsung bersiap-siap?" tanya wanita yang tampak ceria itu. Wajah ibu Sungmin merona saat Kyuhyun memuji puding coklat buatannya.

"Bersiap-siap? Memang ada acara apa, Umma?" jawab Sungmin dengan balik bertanya.

"Eonni. Ini gaunmu," Kibum muncul dengan kursi rodanya. Di pangkuannya ada gaun yang terlipat rapi.

"Gaun?" Sungmin tidak mengerti apa yang diucapkan adiknya.

Kibum melirik jahil pada Kyuhyun. Mereka seperti sedang merencanakan sesuatu yang melibatkan Sungmin.

"Kyu oppa membawakanmu gaun, tapi menurutku terlalu besar untukmu. Karena itu aku sedikit mengecilkan beberapa jahitannya. Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan merusaknya. Gaun ini akan sempurna untukmu," ujar Kibum ceria. Dengan bangga Kibum merentangkan gaun di pangkuannya.

Gaun gradasi berwarna biru tua menuju biru langit yang cantik. Sungmin langsung jatuh hati melihat gaun itu, tapi ia tahu gaun itu bukan miliknya. Lebih tepatnya, ia tidak akan memakai gaun itu karena tidak tahu untuk apa gaun itu dipakainya.

"Minnie, sebaiknya kau bersiap-siap," ibu Sungmin mengingatkan Sungmin dengan suara lembut. "Kyuhyun sudah menunggumu sejak dua jam yang lalu. Lagipula ini hampir jam tujuh. Kalian bisa kelaparan nanti."

"Ada apa sebenarnya?" Sungmin makin tidak mengerti.

Ibu dan adiknya menunjukkan senyum misterius yang membuatnya semakin merasa heran. Sementara Kyuhyun menunjukkan wajah tanpa dosa dan mengangkat bahunya sambil terus menyantap puding coklat buatan ibu Sungmin.


Sungmin hanya menuruti suruhan ibu dan adiknya. Mandi, berdandan, dan memakai gaun yang tadi ditunjukkan Kibum.

"Ini gaun siapa?" tanya Sungmin sambil mematut dirinya di depan cermin. Sementara ibu dan adiknya memandangi Sungmin dengan rasa kagum, diikuti senyum misterius yang tetap tidak dimengertinya.

"Jadi Kyuhyun benar-benar tidak memberitahumu ya?" tanya ibu Sungmin. Sungmin menggeleng sebagai jawaban. "Sore tadi dia datang dan bilang akan memberimu kejutan dengan membawamu makan malam ke tempat yang romantis. Kalau dilihat dari gaunnya sih, dia akan membawamu makan ke tempat yang bagus, Minnie."

Sungmin kembali memperhatikan gaun yang dipakainya. Gaun lengan panjang berwarna biru gradasi. Membungkus lekat tubuhnya, hingga ke beberapa sentimeter di lututnya. Gaun itu simpel, namun bagian belakang gaun itu terbuka memperlihatkan punggung Sungmin yang mulus. Kalau saja Sungmin tidak menggerai rambutnya, pastilah punggungnya akan terekspos.

"Kyuhyun oppa benar-benar romantis ya," puji Kibum dengan mata berbinar-binar. "Selain itu Kyu oppa juga sangat tampan. Kau beruntung sekali eonni," lanjut Kibum.

Ibu Sungmin mengangguk setuju. "Umma juga suka sekali padanya. Kalau kalian menikah umma akan menyetujuinya."

Sungmin hanya memandang mereka dari cermin dan menelan ludahnya. Tenggorokkannya langsung tercekat mendengar kata 'menikah'. Bagaimana mungkin mereka bisa menikah? Hubungan mereka sejauh ini hanya pura-pura saja.

'Mana mungkin dia menyukaiku?' gumam Sungmin dalam hati. 'Astaga Sungmin! Bicara apa aku ini? Aku terdengar seperti yeoja yang berharap.'

"… Min. Minnie!" Ibu Sungmin memanggil Sungmin dengan keras membuyarkan pergulatan dalam batin Sungmin. "Kau tidak dengar umma ya? Palli, Kyuhyun pasti sudah menunggumu."


Tampan.

Itulah kata pertama yang melintas di pikiran Sungmin saat menatap Kyuhyun yang berdiri di ruang tamunya. Entah sejak kapan dan bagaimana caranya Kyuhyun kini sudah berganti pakaian dengan setelan jas hitam dengan dasi berwarna biru seperti gaun yang dipakai Sungmin. Rambutnya yang sedikit panjang diberi gel dan dirapikan. Kyuhyun tampak seperti seorang pangeran.

Cantik.

Kata itulah yang pantas dinobatkan untuk Sungmin saat Kyuhyun pertama kali melihat Sungmin keluar dari kamarnya. Gaun itu sangat pas di tubuh mungil Sungmin. Sungmin yang biasanya hanya memakai kemeja kebersaran dan celana jeans dengan rambut kuncir kudanya, kini berubah seperti seorang putri kerajaan. Make up yang dipakai Sungmin tipis, tapi membuatnya terlihat segar dan bersinar. Rambutnya dibiarkan lurus tergerai.

Dengan gugup Kyuhyun berjalan menghampiri Sungmin. Saat benar-benar berada dalam jarak dua meter, Kyuhyun bisa dengan jelas melihat kecantikan alami yang dimiliki Sungmin. Yang selama ini berhasil disembunyikan dengan sikap tomboynya.

"Bagaimana oppa? Gaunnya pas sekali kan di tubuh eonni?"

Kyuhyun melirik ke sebelah kanan Sungmin, di mana Kibum dengan kursi roda yang didorong ibu mereka. Kyuhyun mengacungkan dua jempolnya. "Sempurna."

"Sebaiknya kalian berangkat. Ini sudah pukul setengah delapan," ibu Sungmin mengingatkan.

Kyuhyun berdeham untuk mengurangi kegugupannya. Lalu dengan gerakan yang kaku, ia maju dua langkah dan mengulurkan tangan kanannya.

Sungmin terdiam ragu menatap telapak tangan Kyuhyun yang mengambang di udara. Melihat Kyuhyun dan Sungmin hanya terdiam dan saling tatap, Kibum berinisiatif. Kibum mengambil tangan kanan Sungmin dan meletakkannya di atas telapak tangan Kyuhyun. Kyuhyun mengambil kesempatan itu untuk menggenggam tangan Sungmin erat dalam tangannya.

"Kalau begitu kami berangkat dulu, Kibum, umma," pamit Kyuhyun sambil menundukkan kepalanya sopan.

"Hati-hati, nde. Jaga Sungmin dan jangan pulang terlalu larut," ibu Sungmin mengingatkan. Kyuhyun mengangguk sebelum akhirnya menuntun Sungmin menuju pintu keluar. Ibu Sungmin turut mengiringi mereka dengan mendorong kursi roda Kibum.

"Kau bisa melepaskan tanganmu," bisik Sungmin saat mereka melangkah melewati halaman rumah Sungmin.

"Tidak bisa," Kyuhyun ikut berbisik. "Kibum dan umma masih memperhatikan kita. Kau tidak melihat betapa mereka menyukaiku dan bahagia melihat kita?"

Sungmin hanya pasrah. Tanpa ia menoleh pun, ia masih bisa merasakan kehadiran dua orang yang berharga dalam hidupnya itu. Kyuhyun benar. Kibum dan ibunya begitu menyukai Kyuhyun. Bahkan melebihi dari yang mereka tunjukkan pada Yunho. Mereka bisa kecewa jika mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Sungmin takut, jika nantinya ia ikut merasakan kekecewaan itu.

'Haruskah aku jujur sebelum semuanya terlalu dalam?'


"Kita mau ke mana?" tanya Sungmin saat mereka sudah berada di dalam mobil Kyuhyun yang sedang melaju.

"Makan malam…" jawab Kyuhyun. "… dengan keluargaku."

"MWO?!" Jerit Sungmin benar-benar terkejut.

Kyuhyun menutup telinganya yang berdengung karena teriakan Sungmin. "Aku perlu bantuanmu untuk membatalkan pertunanganku. Dan inilah saat yang tepat karena aku mengatakan pada mereka bahwa aku sudah memiliki yeojachingu," jelas Kyuhyun.

Sungmin tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Lalu apa yang harus kulakukan?"

Kyuhyun melirik sekilas ke arah Sungmin, ia bisa merasakan ketegangan dan kecemasan dalam diri Sungmin. "Tentu saja bersikap seperti kau adalah yeojachingu-ku."

"Tapi aku belum siap. Seharusnya kau memberitahuku terlebih dahulu. Jika orang tuamu tidak menyukaiku bagaimana?" Sungmin benar-benar tidak menyangka bahwa hari ini Kyuhyun membawanya untuk bertemu orang tuanya.

Kyuhyun menghentikan laju mobilnya dan mematikan mesinnya. Kemudian menghadap Sungmin dan menatapnya. "Aku tidak peduli apa pendapat orang tuaku. Aku hanya ingin pertunangan itu batal," tegas Kyuhyun. "Lagipula kita sudah sampai."

Sungmin memperhatikan suasana di luar mobil, sebuah pelataran parkir restoran. Sungmin bukannya tidak tahu, restoran ini sangat terkenal. Terkenal dengan masakan yang lezat, mewah, dan eksklusif. Mungkin ini alasan mengapa Kyuhyun membawakan gaun untuk Sungmin. Sungmin sadar ia tidak punya pakaian yang layak untuk datang ke restoran ini.

"Ayo," Kyuhyun membukakan pintu mobil untuk Sungmin dan mengulurkan tangannya.

Sungmin menatap wajah Kyuhyun, meneliti ke kedalaman matanya. Dan yang Sungmin temukan di sana bukan memaksa seperti yang biasa dilakukan Kyuhyun, tapi ada sebuah pengharapan. Meski ragu, Sungmin akhirnya meletakkan tangannya di atas tangan Kyuhyun.

Genggaman Kyuhyun terasa hangat dan lembut. Sungmin tidak pernah digenggam selembut ini oleh seorang namja sebelumnya. Sentuhan Kyuhyun membuatnya merasa aman dan nyaman. Keraguan dan kecemasan Sungmin perlahan mulai gugur, berganti dengan perasaan halus yang menyentuh ke dasar hatinya. Dalam hati Sungmin bertanya apa ia mulai jatuh cinta pada Kyuhyun?


"Ini Lee Sungmin," ujar Kyuhyun menyebutkan nama Sungmin pada sepasang suami istri yang sudah menunggu mereka di ruang khusus yang sudah dipesan. "Min, ini umma dan appa-ku," Kyuhyun menoleh pada Sungmin.

Perasaan gugup kembali menyergap Sungmin. Raut wajah Nyonya Cho begitu mengintimidasi, ketidaksukaannya pada Sungmin begitu tergambar jelas, tidak ada sedikit pun senyum untuk Sungmin. Sungmin menganggukkan kepalanya kaku. Sementara Tuan Cho, menatap Sungmin tanpa ekspresi yang terbaca. Begitu tenang, penuh kewibawaan.

Kyuhyun menggerakkan tangannya yang masih menggenggam tangan Sungmin. Memberi isyarat agar Sungmin duduk dan tidak hanya diam berdiri saja.

Nyonya Cho menatap Sungmin tajam, seolah-olah menguliti Sungmin. Sejujurnya Sungmin merasa risih ditatap seperti itu.

"Nah, Sungmin. Sambil menunggu makanan datang, coba ceritakan dirimu," ujar Tuan Cho pada Sungmin. Sungmin sedikit meregangkan ototnya karena Tuan Cho setidaknya bersikap lebih baik padanya.

"Usiaku 21 tahun. Sekarang aku bekerja di Radio Sapphire sebagai penyiar," jawab Sungmin.

"Kau tidak kuliah?" Kali ini Nyonya Cho yang bertanya. Nada sinis terdengar sangat jelas.

"Ani, Nyonya Cho. Aku tinggal hanya dengan ibu dan adikku. Lima tahun yang lalu ayah dan adikku mengalami kecelakaan. Ayahku meninggal karena kecelakaan itu, dan adikku lumpuh. Karena itu aku menggantikan peran ayah untuk mencari nafkah dan pengobatan untuk adikku. Aku tidak berpikir untuk kuliah," jelas Sungmin.

"A… ayahmu meninggal karena kecelakaan?" Nyonya Cho bertanya gugup. Tangannya gemetar saat meraih gelas minumannya.

Sungmin menyadari perubahan raut wajah Nyonya Cho. Sebenarnya tidak hanya Sungmin, Tuan Cho dan Kyuhyun pun menyadarinya.

Sungmin hanya menganggukkan kepalanya.

Nyonya Cho sedikit membanting gelasnya. "Ya! Cho Kyuhyun, kau tidak mungkin menikahi gadis seperti ini kan? Asal-usulnya tidak jelas!"

"Jaga sopan santunmu!" Tuan Cho berteriak tertahan. Terlebih pelayan masuk dan meletakkan berbagai hidangan yang terlihat menggiurkan.

Seharusnya itulah yang dirasakan Sungmin, tapi ucapannya Nyonya Cho terngiang jelas. Benar, tidak seharusnya ia berada di sini. Ia tidak pantas masuk ke dalam keluarga kaya seperti ini.

"Lee Sungmin," bisik Kyuhyun pelan. Tangannya menggenggam kedua tangan Sungmin yang bertumpuk di atas pahanya.

Setelah pelayan-pelayan itu selesai. Nyonya Cho kembali bicara, "Aku tahu, kau hanya ingin memanfaatkan anakku kan? Gadis rendahan!"

Kyuhyun menatap ibunya dengan pandangan tidak percaya sekaligus marah.


"Umma! Kau tidak boleh berkata seperti itu pada yeoja yang kucintai!"


TBC