"nami, ayo pulang kau minum terlalu banyak"

"ah law, aku masih ingin disini, aku masih ingin minum"

Tanpa basa basi law langsung menggendong nami dengan ala bridal style kemudian membawanya menuju mobilnya.

Setelah beberapa menit perjalanan sampailah mereka di rumah nami. Law menggendong nami dan membawa kekasihnya ini ke kamarnya untuk istirahat. Saat law menurunkan nami di tempat tidur tiba tiba nami terbangun, dan dia terlihat lebih menyeramkan dari tiba nami menarik tubuh law sampai law menindih tubuh nami.

"kau mau kemana law ?"

"kau ini sedang mabuk nami, cepat istirahat"

"apa kau tidak mau bersenang senang denganku law ?" kata nami manja

Saat law hendak menjawab tiba tiba cupp sebuah ciuman liar mendarat di bibir law. law yang mendapat perlakuan seperti itu dari kekasihnya tidak bisa apa apa dan hanya bisa pasrah oleh perlakuan kekasihnya itu. Kini giliran law yang sudah mulai terbuai permainan nami, kini ia memberanikan diri untuk memegang pinggang nami dan memeluknya erat. Dan hari semakin malam, permainan mereka semakin liar lalu apa yang terjadi selanjutnya hanya merekalah yang tau.

2 minggu setelah kejadian itu, nami selalu mual dan muntah di pagi hari, law khwatir dengan keadaan tunangannya itu. Hingga akhirnya nami tau kalau dirinya hamil. Ia mengadung buah cintanya dengan law

Tok tok tok

"ya masuk saja pintunya tidak di kunci kok"

"kau nami, apa yang kau lakukan disini ? Harusnya kau kan istirahat di rumah. Kau kan sedang sakit. aku tidak mau kalau ada sesuatu yang terjadi padamu"

"emm, law ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu"

"memangnya ada apa ? Sampai sampai kau datang ke rumah sakit ?"

"emm, begini law aku, aku hamil law" kata nami lirih

"apa ? Kau hamil ? Kok bisa ?"

"apa kau lupa law kejadian 2 minggu yang lalu, kau dan aku"

"gugurkan anak itu nami" potong law

"tapi law, ini kan anak kita ? Buah cinta kita kenapa kau tega berkata seperti itu"

"aku tidak peduli dan tidak mau tau nami, pokoknya cepat gugurkan anak itu"

"dan nanti kau akan aku berikan uang untuk menggugurkan anak itu"

"tidak law, aku tidak mau, ini kan anak kita, aku mau melahirkan anak ini dan akan merawatnya sampai dia besar nanti"

"terserah apa katamu nami, kalau kau masih ingin mempertahankan anak itu maka hubungan kita sudah cukup sampai disini" kata law sambil melepas cincin ditanganya dan melemparkan cincin itu ke arah nami dan segera bergegas meninggalkan nami

"law, tunggu law" kata nami sambil menangis

"law kenapa kau tega berbuat seperti ini padaku law, ini kan anakmu, anak kita" kata nami lirih

Setelah kejadian itu nami segera mengundurkan diri dari rumah sakit dimana dia dan law bekerja. Nami ingin memulai hidup barunya tanpa law. Memulai semuanya dari awal bersama anaknya dan tanpa seorang suami atau sesosok ayah untuk anaknya kelak saat dia lahir ke dunia.

6 tahun berlalu, kini anak nami sudah tumbuh dewasa dan pandai seperti dirinya. Terlihat nami bersungguh sungguh dalam merawat anaknya itu walau dia merawat sendirian tanpa adanya seorang suami tetapi dia sangat paham dan mengerti dalam mendidik anak laki laki satu satunya itu.

"oi nami"

"eh kau zoro kun"

"kebetulan sekali ya kita bertemu disini, sudah lama sekali ya kita tidak bertemu"

"iya zoro kun, ya kira kira 6 tahun sudah kita tidak bertemu"

"cukup lama ya, emm bagaimana kabarmu nami ?"

"aku ? Kabarku baik kok zoro kun, lalu bagaimana denganmu ?"

"mama, aku pengen beli es krim"

"eh siapa anak ini nami ?"

"ceritaya panjang zoro kun, nanti akan aku ceritakan padamu"

"eh, baiklah"

"iya sayang , kalau begitu cepat ke kakak yang itu dan mintalah es krim padanya nanti biar mama yang akan membayarnya"

"ok ma" kata anak itu sambil pergi meninggalkan nami dan zoro

"oi nami"

"ya"

"katanya kau mau cerita padaku soal anak itu"

"tentu saja zoro kun, aku akan meneritskannya padamu"

"emm lalu apa benar anak itu anakmu ?" tanya zoro penasaran

"emm, memang benar zoro kun dia itu adalah anak ku"

"jadi kau sudah menikah nami ? Lalu siapa laki laki beruntung yang bisa mendapatkanmu ? Pasti law ?"

Nami hanya terdiam mendengar kata kata zoro itu

"oi nami, kenapa kau malah diam"

"emm, anu zoro kun, ceritanya panjang dan kejadian itu berawal dari 6 tahun yang lalu, aku dan law... Aku, aku melakukannya dengan law, tapi kau tau zoro kun , dia malah menyuruhku untuk menggugurkan anak itu dan dia pergi meninggalkanku" kata nami sambil menangis

"apa ? Benar benar kurang ajar laki laki itu benar benar brengsek"

"sudah zoro kun jangan membahas dia lagi, aku benar benar ingin melupakannya. aku sudah tidak tau lagi aku harus berbuat apa, bahkan jika aku tidak mengingat anakku itu mungkin aku sudah mati dan mengakhiri hidupku . Berkat anak itu aku menjadi wanita yang kuat dan tegar seperti ini, dialah malaikat kecilku" kata nami sambil terus menangis

"mama, aku sudah kembali"

"loh mama, kenapa mama menangis ? Pasti paman ini ya yang membuat mama menangis ? Jangan pikir mentang mentang paman sudah besar aku takut pada paman. Asal paman tau aku tidak akan membiarkan satu orangpun menyakiti mama apalagi membuat mama menangis dan aku akan menghajar orang orang yang menyakiti hati mama"

"zoan sudah jangan berkata seperti itu, bukan paman ini yang membuat mama menangis, tadi mama hanya terkena debu sehingga mama meneteskan air mata" kata nami menenangkan anaknya

" mama bohong, zoan benci paman" kata zoan sambil berlari meninggalkan nami dan zoro

"zoan, tunggu, kau mau kemana nak "

Zoan tidak menjawab dan terus berlari menjauhi mereka berdua

"emm, maaf ya zoro kun atas perkataan anakku. Sekali lagi maafkan aku"

"sudah jangan minta maaf nami, ini semua salahku karena sudah membuatmu menangis, maafkan aku nami"

"sudah zoro kun tidak apa apa, kalau begitu aku pergi duluan ya zoro kun aku akan menyusul zoan. Aku takut terjadi apa apa pada zoan"

"tunggu nami, kalau begitu aku akan ikut denganmu untuk mencari zoan"

"yosh, kalau begitu ayo kita bergegas zoro kun"

"yosh"

Nami dan zoro segera masuk ke mobil zoro untuk mencari zoan. Setelah mereka berputar mengitari kota akhirnya mereka menemukan zoan yang sedang duduk menangis di sebuah taman.

"zoro kun, itu dia zoan. Aku yakin dia itu zoan anakku"

"yosh, kalau begitu ayo kita turun nami"

"zoan, zoan kemana saja kamu nak. Mama sangat menghawatirkanmu"

"mama, zoan takut. Zoan tersesat dan zoan lupa jalan pulang" kata zoan sambil menangis

"iya sayang, mama disini jangan takut. Sini sama mama"

"untung zoan tidak apa apa ya nami"

"iya zoro kun, untung saja zoan tidak apa apa"

"kalau begitu ayo biar aku antarkan kalian pulang"

"tidak usah zoro kun, aku tidak mau merepotkanmu"

"sudah tidak apa apa nami, aku tidak merasa di repotkan kok"

"ayo masuk mobil"

'eh, baiklah zoro kun. Arigatou"

"yosh"

Bersambung