CHAPTER 11

Disclaimer : Semua karakter milik Tuhan YME

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Kim Junsu, Park Yoochun, Im Yoona, and others

Genre : Romance, angst (mungkin sedikit)

Rate : T

Warning : YAOI, OOT, OOC, typos, cerita ga jelas & pasaran. FF ini terbuka bagi siapa aja. tp tolong bwt readers yg mgkn berkenan memberi komentar, tolong beri kritik yg membangun spy author baru ini bs cepat sadar & mengkoreksi ksalahannya :). saya br bbrp bln merambah dunia K Pop (?) jd saya msh kelas teri dlm berbahasa Korea, mian kl ada bbrp kata yg ga pada tempatnya, hehe... jd mohon TIDAK MENERIMA BASH ~bow~.

Annyeong, chingudeul ^^... di hr prtama th 2013 saya mau ngucapin met taon baru. smoga kita smua & keluarga slalu diberi kesehatan, kesuksesan, & kebahagiaan. tetep smangat & slalu berusaha lakukan yg trbaik apapun yg sdg kita krjakan. AKTF for uri DBSK, hope they will back as 5 soon ^^. btw kontrak HoMin hbs taon ini kan, ya? CMIIW, hehe...

Mian krn edisi kmrn isinya cm yunpa & yoona. hehe... saya yg nulis jg ga rela sbnrnya tp skenario yg ada di kepala saya ky gt ~plak~. tp tenang aja ne krn yoona cm pelampiasan doang kok, wkwk... lanjut aja, ya :D.

###

Pagi itu Yunho berangkat ke sekolah. Walaupun Junsu dan Yoona sudah berusaha melarangnya, dia tetap bersikeras. Dia tidak mau hanya menghabiskan waktu tidur di apartemen dan meninggalkan pelajaran. Beberapa murid yang berpapasan dengannya terkejut melihat wajah dan tubuhnya yang memar.

"Yunho-ah, kau kenapa? Apa yang terjadi padamu?"

Yunho tersentak mendengar suara itu. Dia melihat Jaejoong berlari ke arahnya dengan khawatir. Dia memaksakan diri tersenyum. "Gwenchana, Jaejoong-ah."

"Bagaimana bisa kau bilang tidak apa-apa? Kau terluka seperti ini. Siapa yang berani-beraninya melakukan ini padamu?" tanya Jaejoong sambil mengangkat tangan mengusap wajah Yunho.

Yunho terkesiap, refleks dia menyingkirkan tangan Jaejoong dengan halus. "Minggu lalu aku bertemu beberapa preman. Tapi mereka sudah ditangkap sekarang. Aku juga sudah berobat."

"Apa yang sudah kaulakukan sampai mereka memukulimu, huh? Ayo duduk di sebelahku." Jaejoong menarik tangan Yunho lalu berjalan ke kursinya.

Yunho menurut saja mengikuti namja cantik itu. Junsu memperhatikan mereka dari kursinya. Dia masih merasa heran dengan sikap Yunho walaupun Yunho sudah mengatakan tidak ada masalah diantara mereka. Sementara itu Yoochun menatap mereka dengan sorot mata penuh emosi.

"Ayo kita keluar, Yunho-ah." ajak Jaejoong pada jam istirahat.

Yunho memandang Jaejoong dengan ragu-ragu. Dia ingat janjinya pada Yoona untuk datang ke ruang kesehatan dan makan siang bersama. "Umm.. Mianhae, Jae-ah. Aku… Aku ada keperluan." jawab Yunho.

"Kau mau ke mana?"

Yunho terdiam beberapa saat. "Umm... Aku... mau bertemu... dengan Yoona."

Jaejoong mengerutkan alisnya. "Wae?"

Yunho mengusap belakang kepalanya dengan gugup. "Umm... aku..."

"Kalau masalah lukamu, kau jangan khawatir. Aku akan merawatmu mulai hari ini." ujar Jaejoong sambil tersenyum manis.

"Mwo?" Yunho membelalakkan matanya.

"Ayo, Yunho-ah. Aku sudah lapar."

"Tapi aku sudah janji..."

"Sms saja dia dan bilang kalau kau tidak jadi ke sana. Beres, kan?" Jaejoong dengan cepat menarik Yunho keluar.

Yunho tidak kuasa membantah Jaejoong dan mengikuti langkah namja itu. Junsu memperhatikan mereka, semakin curiga dan bertanya-tanya apa sebenarnya yang sudah terjadi.

"Yunho-ah, ayo kuantar pulang." ujar Jaejoong saat bel usai sekolah berbunyi.

"Umm... Aku bisa pulang sendiri..."

"Sudahlah, tidak usah sungkan." Jaejoong tersenyum dan menggandeng tangan Yunho.

Di dekat pintu gerbang Yunho melihat Yoona. Semakin dekat langkah mereka ke arah Yoona dia semakin merasa gelisah. Yoona segera menyadari keberadaannya. Sorot mata yeojya itu ketika menatapnya penuh dengan kekecewaan. Dia menunduk dan berjalan cepat berpura-pura tidak melihat yeojya itu.

"Yunho-ah!" panggil Yoona ketika melihat Yunho dan Jaejoong hanya melewatinya. Yunho berhenti dan seketika menjadi gelisah.

"Kenapa tadi..."

"Yoona-ah... Mi-mianhae, aku pulang dulu. Sampai bertemu besok ne?" ujar Yunho cepat-cepat sebelum Yoona menyelesaikan kata-katanya lalu berjalan meninggalkan Yoona.

Jaejoong terkejut mendengar cara Yunho menyebut Yoona. Dia segera berlari menyusul Yunho.

"Yoona-ah... Sejak kapan kau memanggilnya seperti itu?" tanya Jaejoong penuh selidik setibanya mereka di apartemen Yunho. Yunho diam saja tidak merespon pertanyaan itu.

"Apa sebenarnya hubungan kalian?"

Yunho terdiam sebentar. Dia berpikir dia tidak bisa menyembunyikan status hubungan mereka. Dia berharap dengan cara itu Jaejoong akan melepaskannya.

"Kami... Umm... Kami resmi pacaran sekarang." jawab Yunho pelan.

Jaejoong membelalakkan matanya tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Dia memang berpikir Yunho dan Yoona saling mencintai tapi tidak mengira mereka akan melangkah sejauh ini. Dia tertawa. "Haha... Apa aku tidak salah dengar? Dia lebih pantas menjadi noona mu, Yunho-ah."

"Aku... Aku mencintainya, Jae-ah."

"Benarkah?" tanya Jaejoong sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Yunho.

"N-ne."

Jaejoong tertawa lagi. "Haha.. Sudah kuduga diantara kalian pasti ada apa-apa. Ternyata benar seleramu adalah yeojya yang lebih tua darimu. Wae? Karena kau memerlukan seseorang yang matang dan berpengalaman supaya bisa memuaskanmu, huh?"

Seketika emosi Yunho tersulut. "Jangan bicara tentang Yoona dengan mulut kotormu! Yoona yeojya baik-baik, tidak sepertimu! Kelakuanmu rendah! Kau tidak lebih dari seorang pelacur!" bentaknya.

Jaejoong menatap Yunho dengan berapi-api. Dia sudah sering mendengar teman-teman menyebutnya dengan kata-kata yang menusuk itu. Dia sama sekali tidak peduli dengan apapun yang dikatakan mereka. Tapi mendengar kata itu keluar dari mulut Yunho entah kenapa membuat hatinya sakit. Dan baru pertama kali ini Yunho membentaknya sekasar itu, hanya demi membela Yoona? Apa yeojya sialan itu begitu berartinya bagi Yunho?

"Lalu bagaimana denganmu?! Apa kau lupa dengan kejadian minggu lalu? Apa kaupikir kelakuanmu tidak rendah?!" Dia balas berteriak.

Yunho tersentak dan menatap Jaejoong dengan wajah memucat. Ingatan tentang kejadian itu muncul lagi di kepalanya.

"Itu karena kau yang memulai duluan, Jae." sahutnya berusaha membela diri.

"Oh, jadi sekarang kau menyalahkan aku? Salahkan saja dirimu yang begitu mudahnya terpancing hanya karena sentuhan kecil. Kalau kau memang tidak mau, kau bisa saja mendorongku waktu itu. Tapi apa yang kaulakukan? Kau yang memanfaatkan kesempatan meraba-raba tubuhku!"

Mulut Yunho terkunci, tidak tahu apa lagi yang bisa dia katakan. Karena dia menyadari apa yang dikatakan Jaejoong itu memang benar.

"Putuskan hubunganmu dengannya." sahut Jaejoong dengan nada dingin.

"Mwo?" Yunho membelalakkan matanya.

"Apa perlu kuulangi? Aku minta kau putuskan hubunganmu dengannya."

"Andwae! Bagaimana bisa kau menyuruhku seperti itu? Kami saling mencintai. Kenapa aku harus memutuskannya?"

"Karena aku yang menyuruhmu jadi kau harus menuruti perkataanku."

"Memang siapa kau bisa menyuruhku seenaknya? Kau tidak berhak mengaturku!" teriak Yunho sengit.

"Aku tidak berhak mengaturmu? Yunho-ah, kuharap kau bisa berpikir panjang. Kira-kira apa yang akan terjadi seandainya Junsu tahu perbuatan rendah apa yang sudah kaulakukan terhadapku, hum?" ujar Jaejoong sambil tersenyum menyeringai.

"Apa... Apa maksudmu?"

Jaejoong mendekatkan wajahnya ke wajah Yunho. "Yunho-ah, kau orang yang pandai, tentu kau paham benar maksudku."

Yunho menatap namja cantik itu dengan gelisah. Nada suara yang penuh ancaman itu kembali menimbulkan perasaan takutnya. Keringat dingin menetes di dahinya.

"Ayo sekarang buka bajumu. Akan kuobati lukamu." lanjut Jaejoong sambil tersenyum manis.

"Tidak usah. Biar aku…"

"Apa aku harus mengatakannya sekali lagi, Yunho-ah?"

Yunho ragu-ragu sejenak sebelum melepaskan bajunya memperlihatkan kulitnya yang penuh luka. Dia merasakan perubahan ekspresi Jaejoong yang sedang mengamati lukanya. Sepertinya dia melihat sorot yang terkejut sekaligus khawatir dari mata Jaejoong. Apa penglihatannya tidak salah? Mendadak wajahnya memanas melihat cara Jaejoong menatap tubuhnya. Dia yang tidak berdaya hanya bisa pasrah ketika namja cantik itu mengoleskan obat dengan hati-hati ke punggungnya.

###

Yunho mengambil ponselnya yang berdering dan seketika membelalakkan mata ketika membaca nama di layar. Dia menenangkan diri sejenak sebelum mengangkatnya.

"Yo-yoboseyo."

"Yunho-ah." Terdengar suara halus dari seberang sana.

"Yoona-ah." panggil Yunho dengan gelisah.

"Umm... Kenapa tadi kau tidak datang?" tanya Yoona langsung dan mengejutkan Yunho.

Yunho sudah memperkirakan pertanyaan ini tapi tetap saja dia gugup. "Umm... Mianhae... Tadi... Tadi kami ada tugas mendadak yang harus segera dikumpulkan." jawabnya berbohong.

Terdengar suara tawa Yoona yang dipaksakan. "Kau tahu? Aku sudah membuatkan masakan istimewa untukmu. Aku sudah membayangkan kau akan mencoba dan berpendapat mengenai masakanku."

Yunho terpaku mendengar ucapannya. Dia mengutuki dirinya sendiri yang sudah mengecewakan seseorang yang sangat penting dalam hidupnya itu. "Mianhae." ujarnya lirih.

"Dan tadi waktu kita berpapasan sepulang sekolah, kenapa kau menghindariku?"

"Mwo? Ani. Tadi aku terburu-buru, umm... ada temanku yang mau datang jadi aku harus segera membereskan apartemenku."

"Oh…"

Beberapa saat kesunyian meliputi mereka. Tiba-tiba Yunho teringat ucapan Jaejoong tadi siang. Dia memikirkan apa yang harus dia katakan. "Umm... Yoona-ah..."

"Wae?"

Yunho terdiam sejenak. "Umm... mianhae. Hari-hari ini tugasku padat. Jadi mungkin aku belum bisa menemuimu. Jeongmal mianhae." Dalam hatinya dia memaki dirinya yang membohongi Yoona lagi.

"Ooh..." Terdengar nada kecewa dari suara itu. Nada yang membuat hati Yunho terasa sakit.

"Kalau aku sudah tidak sibuk, aku akan menghubungimu ne?"

"... Arasseo." ujar Yoona lemah. "Kutunggu kabar darimu, Yunho-ah." lanjutnya lalu menutup telepon.

Yunho menekan dadanya yang sesak. Sudah berapa kali dia menyakiti Yoona hari ini?

Yunho POV

Kubaringkan kepalaku yang terasa pening di tempat tidur. Dadaku masih sakit setiap mengingat kejadian hari ini. Sorot mata Yoona, nada suaranya yang penuh sakit hati membuatku ingin menghantam diriku sendiri sampai hancur. Tidak pernah terbersit di pikiranku untuk melukai Yoona seperti ini. Kalau bukan karena perbuatan terkutukku, hubunganku dengan Yoona pasti baik-baik saja sekarang. Jaejoong yang kejam. Bagaimana bisa dia menyuruhku melakukan itu? Aku baru saja menyadari perasaan Yoona dan juga perasaanku sendiri. Ini adalah awal dari kebersamaan kami.

Bagaimana mungkin aku bisa mengakhiri hubungan kami yang baru beberapa hari? Bagaimana aku tega mengatakan itu padanya? Baru beberapa hari yang lalu dia dibuat sakit hati oleh Siwon. Aku yakin sampai sekarang pun dia masih berusaha melupakannya. Tapi kini aku, pacarnya sendiri yang membuat lukanya semakin dalam. Aku benar-benar tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Kurasa aku tidak pantas mendapatkan yeojya sebaik dia. Aku benar-benar bingung. Saat ini yang terpikir olehku hanyalah mencoba menghindarinya.

###

"Yunho-ah, kau sedang ada masalah?" tanya Junsu yang malam itu berada di apartemen Yunho.

"Ani. Kenapa kau bertanya begitu?"

Junsu menghela nafas panjang. "Yunho-ah, tadi aku bertemu Yoona. Dia bilang kalau beberapa hari ini kau sibuk dengan pekerjaan sekolah jadi tidak bisa menemuinya."

Yunho mengalihkan pandangannya dari Junsu dan melanjutkan pekerjaan menulisnya. Dia menyibukkan dirinya berharap Junsu tidak bertanya-tanya lebih jauh padanya.

"Kenapa kau menghindari Yoona, Yunho?"

Yunho terkejut mendengarnya. "Ani. Aku sudah bilang padanya kalau..."

"Kita ada beberapa kelas bersama dan aku tahu pasti songsaengnim sedang tidak memberi kita banyak tugas. Kenapa kau membohonginya?"

"Aku..." Yunho begitu gelisah dan kebingungan mencari-cari alasan yang masuk akal.

"Yunho-ah, jujurlah padaku sekarang. Apa kau ada masalah dengan Jaejoong?"

Yunho tersentak dan memandang Junsu. Kelihatannya Junsu mulai curiga pada mereka. "Ani. Kami tidak ada masalah apa-apa. Bukankah kau sudah pernah menanyakan ini?"

"Kulihat dia selalu menempel padamu akhir-akhir ini, dan juga wajahmu yang tertekan setiap kau bersamanya. Kalau kau keberatan pergi dengannya, kau bisa menolak kan. Tapi kenapa sepertinya kau selalu saja menuruti kemauannya?"

Wajah Yunho memucat. Dia berusaha mengalihkan pandangannya lagi dari Junsu.

"Apa yang sudah dia lakukan padamu? Kau seperti orang yang terintimidasi, Yunho-ah."

"Ani. Bisa-bisanya kau..."

"Yunho-ah, aku sudah lama mengenalmu. Tolong jangan sembunyikan apapun lagi dariku ne?"

"Dia tidak melakukan apa-apa padaku. Kami baik-baik saja. Percayalah padaku ne?"

"Lihat mataku, Yunho-ah." Mendengar nada suara Junsu yang penuh keseriusan membuat Yunho ragu-ragu sejenak sebelum menoleh ke arahnya.

"Benarkah tidak ada masalah apa-apa?" tanya Junsu sambil menatap mata Yunho dalam.

Yunho menatap Junsu lalu memaksakan diri tersenyum. "Ani. Kau tenang saja ne?"

Junsu menghela nafasnya yang berat. Dia yakin Yunho berbohong tapi dia tidak tahu lagi bagaimana membujuk Yunho supaya mau bercerita. Dia hanya berharap suatu saat nanti Yunho mau jujur padanya.

###

Yunho berjalan dengan lemah di kegelapan malam. Dia teringat setiap perkataan Junsu. Sebenarnya dia tidak mau membohongi Junsu tapi dia juga tidak mau mengakui bahwa akhirnya dia jatuh ke perangkap Jaejoong. Dia tidak bisa menerima kenyataan kalau semua yang dikatakan Junsu tentang Jaejoong itu memang benar. Tapi seberapa kerasnya dia berusaha menutupi, apapun yang dia katakan sepertinya tidak membuat Junsu percaya padanya. Mereka sudah cukup lama bersahabat. Junsu sudah cukup memahami jalan pikiran dan perasaannya. Dia bimbang dan terus berdebat dengan dirinya sendiri. Apakah dia sebaiknya berterus terang pada Junsu dan mengakui kekalahannya?

Dia menoleh ke sebuah pub yang sedang dilewatinya. Dia ragu-ragu sejenak sebelum memutuskan masuk ke pub itu. Dia tidak percaya dia akan mendatangi tempat semacam itu lagi tapi saat itu dia benar-benar perlu menjernihkan pikirannya yang kacau. Satu gelas saja dirasa cukup baginya.

Dia duduk di bar dan memesan segelas bir. Begitu minumannya tiba, dia langsung menenggaknya tanpa pikir panjang. Dia mengernyit merasakan pahitnya minuman itu di kerongkongannya. Dia membenamkan wajahnya di meja panjang itu. Dengan segera dia merasakan efek bir itu tapi dia tidak peduli. Dia perlu sesuatu untuk menenangkan pikiran dan baginya ini adalah cara yang tepat.

Beberapa saat kemudian dia mendongakkan kepalanya dan memperhatikan sekeliling. Dia melihat beberapa pasangan duduk sambil bercanda di sofa-sofa di pinggir pub. Tiba-tiba dia melihat sosok yang familiar baginya. Tanpa disadarinya dia mulai mendekati sosok yang sedang bermesraan dengan seorang namja itu. Semakin lama dia merasakan dadanya sesak dan jantungnya berdetak semakin kencang.

Tanpa pikir panjang Yunho menarik tangan namja cantik itu. "Apa yang kaulakukan di sini?" tanya Yunho sambil menatapnya tajam.

Jaejoong terkejut, dia tidak mengira akan bertemu Yunho di tempat itu. Namja di sebelahnya seketika itu juga berdiri dan memandang berapi-api ke arah Yunho yang sudah lancang mengganggu acara mereka. Yunho balas menatap namja itu dengan sorot mata penuh emosi. Mereka saling melayangkan tatapan mata yang tajam menusuk.

"Kau pikir siapa kau ini?!" Dia menarik krah Yunho dan melayangkan tinjunya. Tapi sebelum tinju itu mengenai wajah Yunho, Jaejoong menarik tangannya dengan lembut.

"Jae-ah..." Namja itu menatap Jaejoong tidak percaya.

"Jangan, Donghae-ah. Dia teman sekolahku."

"Tapi dia sudah berani mengganggu kita. Aku harus memberinya pelajaran."

"Sudahlah. Aku ada urusan sebentar dengannya. Nanti aku akan menghubungimu ne?"

"Tapi..."

"Sampai nanti, Donghae-ah." ujar Jaejoong lalu menarik Yunho pergi.

Sesampainya mereka di tempat yang sepi, Jaejoong melepaskan tangan Yunho. "Kenapa kau bisa ada di sini?"

Yunho menatap Jaejoong tajam. "Itu yang ingin kutanyakan padamu. Kenapa kau di sini, dan apa yang kaulakukan bersama orang itu? Jae-ah, bukankah kau sudah berjanji padaku? Kau bilang kau tidak akan menggoda orang lain lagi, kan."

"Yah, bukankah aku selalu memegang janjiku? Aku tidak pernah lagi menggoda teman kita."

"Tapi apa yang kaulakukan barusan?"

"Yunho-ah, aku berjanji padamu untuk tidak menggoda teman sekolah kita. Kau tidak bilang kalau aku tidak boleh bersama orang dari sekolah lain. Jadi kurasa tidak ada masalah aku dekat dengannya, kan?" ujar Jaejoong sambil tersenyum-senyum.

"Maksudku adalah kau tidak boleh sembarangan menggoda orang lain, bukan hanya teman kita saja! Apa kau memang tidak mengerti ucapanku?!" teriak Yunho sambil mengepalkan kedua tangan berusaha mengontrol emosinya.

"Apa salahnya dengan itu? Bukan aku yang mendekati mereka. Mereka yang mendekatiku. Aku tidak pernah memaksa mereka. Aku hanya tidak mau mengecewakan mereka." sahut Jaejoong.

"Kenapa kaulakukan itu? Apa kau tidak sadar bahwa mereka hanya mengincar tubuhmu? Bukan karena perasaan cinta. Apa kau tidak tahu kalau itu perbuatan yang seharusnya kaulakukan dengan orang yang kaucintai? Aku tanya kau sekarang, apa kau mencintai mereka?"

Jaejoong tertawa mendengar kata-kata Yunho. "Cinta? Sudah jelas aku mencintai mereka. Aku mencintai cara mereka menyentuhku, cara mereka menciumku. Mereka bisa membuatku bergairah. Itu perasaan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Bukankah kau juga sudah pernah merasakannya?"

Wajah Yunho seketika memerah. "Semua yang kaukatakan itu sama sekali bukan cinta. Cinta itu tumbuh dari hati, bukan dari cara mereka menyentuhmu. Dan cinta itu hanya ditujukan untuk satu orang."

"Haha... Kau jangan sok tahu, Jung Yunho. Seolah-olah kau berpengalaman saja. Lagipula apapun yang kulakukan tidak ada hubungannya denganmu, kan. Kenapa kau begitu datang langsung mengganggu kami?"

"Aku..."

"Kau cemburu, Yunho-ah?" tanya Jaejoong sambil tersenyum.

Mata Yunho terbelalak menatap Jaejoong. Jaejoong menyeringai sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Yunho.

"Aku mengerti sekarang. Kau mengikutiku ke pub ini karena mau mengawasiku. Dan waktu kau melihatku dekat dengan orang lain, kau marah dan mencoba memisahkan kami. Kau tidak mau melihatku bermesraan dengan orang lain. Karena kau ingin aku melakukan itu hanya denganmu. Benar, kan?"

Yunho terkejut dan menggeleng. "Ani. Aku hanya berniat baik. Aku hanya mau mengingatkanmu..."

"Aku tahu kau cemburu, Yunho-ah. Akui saja itu."

Yunho sangat gelisah, merasa terpojok dengan kata-kata itu. "Kau benar-benar sakit, Jae. Aku hanya mau memberimu peringatan. Sebaiknya kau segera pulang, jangan berlama-lama di tempat seperti ini. A-aku mau pulang dulu." Dia berjalan keluar pub. Saat itu dia tidak bisa berpikir apa-apa selain menghindari Jaejoong. Tapi baru beberapa langkah tiba-tiba dia ditarik masuk ke suatu ruangan.

###

Kajja. smoga edisi ini ga mengecewakan, qiqi... ga ada yg benci sm jaema, kan ^^? kl ada yg kecewa, saya nangis aja dah ~abaikan~ LOL. saya tggu review chingudeul skalian. gomawo :D.