Sejak perkenalannya dengan Sasori sekitar setengah jam lalu, Sakura dan Sasori masih berbincang-bincang hangat di dalam ruangan yang didominasi warna merah itu. Ruangan itu tidak begitu besar –namun sangat rapi. Sakura masih tidak percaya bahwa kamar ini ditempati oleh seorang lelaki. Ya, lelaki… yang selalu dianggapnya sebagai sosok pemalas yang tidak mau mengurus kamarnya sendiri. Tapi sekarang, anggapan Sakura salah besar.

"Kau… baru pindah ke sini?" tanya Sakura sambil sesekali meniupi teh hijau yang masih mengepul dalam cangkir yang baru diberikan Sasori untuknya.

"Ya, baru sekitar…" Sasori terlihat berfikir, "… tiga minggu lalu," ujarnya.

'Srup,' Sakura menghirup the hijau hangatnya, lalu meletakkan cangkir itu di atas meja. "Pantas saja aku tidak pernah melihatmu sebelumnya," ucap Sakura dengan senyumannya.

"Sasori… makan malamnya sudah siap!" ucap seseorang dari luar kamar –suara itu terdengar serak –menandakan sang pemilik suara sudah tak lagi muda.

"Ah! Ya, Nek! Aku akan segera ke sana!" ucap Sasori sedikit meninggikan volume suaranya. "Ayo, nenekku telah menyiapkan makan malamnya!"

"Aa!"

-xXx-


She is Mine

Naruto © Masashi Kishimoto (forever, and never be mine T.T)

Story © Mila Mitsuhiko

Warning : AU, OOC, gaje, abal, dan keanehan lainnya—tapi nekat dipublish.

Chapter # 11

`Saya tidak memaksa siapapun untuk membaca fic ini, bagi yg merasa fic ini tidak layak untuk dibaca, atau tidak sebaik yang anda mau... saya harapkan anda mengerti dan bersikap bijak. Just Go`


Selesai meyantap sajian makan malam di kediaman Sasori, Sakura memutuskan untuk pulang kembali ke rumahnya. Sakura sedikit tidak enak telah menyusahkan keluarga kecil ini. Bagaimanapun, dia masihlah orang asing untuk keluarga ini.

Namun, baik Sasori maupun nenek Chiyo tak mengizinkannya untuk pulang. Meskipun hujan telah berhenti, tapi hari sudah sangat gelap. Jalanan tanah di luar sana sudah sangat sepi. Hanya koakan burung hantu dan kebun-kebun dengan pepohonan lebatlah yang menghiasi malam di luar sana. Sakura harus ingat… ini desa Kirigakure –bukan kota Konoha. Tak ada gedung-gedung bertingkat di sini. Tak ada gemerlap kehidupan malam di sini. Jika jam sepuluh malam di Konoha dia bisa menemukan kerlap-kerlip cahaya lampu di tempat hiburan –maka di sini dia tak akan menemukan apapun selain pepohonan –cahaya bulan –dan koakan suara burung hantu.

Maka dari itu, Sakura hanya bisa menuruti sepasang nenek dan cucu itu. Meskipun dalam hatinya; ia memikirkan ibunya yang tentu saja mencemaskan dirinya.

-xxx-

"Jadi… ayah dan ibumu telah meninggal sejak kau kecil?" tanya Sakura. Saat ini dirinya dan Sasori sedang bersandar di sebuah kursi rotan di ruang tengah rumah Sasori.

"Ya, begitulah. Saat umurku enam tahun."

Sakura dapat melihat raut kesedihan pada wajah lelaki di sampingnya itu. Ia merasa bersalah mengapa tak bisa mengatasi rasa penasarannya tentang di mana ayah dan ibu Sasori berada, kalau saja ia tak bertanya di mana mereka, Sasori tak akan menjawab; mereka sudah meninggal. Dalam hati, Sakura mengutuki dirinya sendiri.

"Maaf…" ucap Sakura.

Sasori menoleh ke arah gadis berambut pink di sampinya. "Bukan apa-apa," ucapnya –diiringi senyuman manis dari bibirnya.

Sakura hanya balas tersenyum. "Kehilangan orang tua itu… sangat menyakitkan…" ujarnya. Sekuat tenaga ia menahan air matanya yang akan terjatuh. Namun gagal. Dia menangis. Lagi.

Sejenak, Sakura merasakan sesuatu yang hangat menyentuh punggungnya. "Kau masih punya ibu, Sakura," gumam Sasori.

Sakura bisa merasakan saat ini lengan Sasori mengusap kepalanya.

"Sasori…"

"Ah!" Sasori menghentikan aktifitasnya. "Maaf, aku… hanya ingin menenangkanmu," ucapnya.

"Hmm," Sakura tersenyum, "bukan apa-apa. Kurasa, aku mau tidur dulu. Aku sudah mengantuk."

Sasori bangkit dari duduknya. "Pakailah kamarku."

"Lalu, kau di mana?" tanya Sakura.

"Aku bisa tidur di mana saja, " jawabnya enteng.

"Tapi… aku sudah banyak menyusahkanmu hari ini!" tolak Sakura. "Aku tidak bisa menerima bantuanmu lebih dari ini, Sasori!"

"Sudahlah, tidak apa." Sasori membenamkan kedua tangannya dalam saku celananya. "Kau tamu di sini. Lagipula, cuma malam ini saja 'kan?"

Sakura tidak bisa lagi berdebat dengan Sasori. "Baiklah," ucapnya.

-xxx-

Cicitan burung di pagi hari menambah semaraknya pagi yang cerah hari ini. Setelah kemarin sore diterjang hujan yang cukup lebat –hari ini, matahari sudah mau menampakkan sinarnya. Setelah membersihkan tubuh dan kamar yang semalaman ditempatinya, Sakura bersiap untuk pulang ke rumahnya. Setelah berpamitan dengan nenek Chiyo, Sakura dan Sasori –yang akan mengantarnya pulang- memulai perjalanan mereka menyusuri sungai kecil dan jalanan setapak yang sedikit becek –akibat hujan lebat kemarin. Sesekali Sakura terjatuh akibat tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.

Di sepanjang perjalanan, Sakura bisa melihat barisan sayur sawi dan berbagai sayur lainnya berjejer di kiri-kanannya. Dan setelah tahu itu peninggalan ayah Sasori, Sakura makin takjub dengan areal tanam itu. 'Jadi Selama ini... Sasori lah yang meneruskannya? Yang melanjutkan pertanian ayahnya?' fikir Sakura.

Setelah cukup lama berjalan, akhirnya Sakura dan Sasori berhenti di depan sebuah rumah sederhana bercat putih. Rumahnya. Sakura mengucapkan terima kasih pada Sasori dan mengajaknya untuk singgah dahulu, tapi Sasori menolaknya.

Ia beralasan bahwa ia harus mengurusi kebunya yang mungkin sedikit berantakan akibat hujan lebat semalam. Mendengar itu, Sakura tak bisa memaksanya.

-xxx-

Sesosok lelaki tengah bersandar di dinding putih nan dingin. Matanya terpejam -seolah ingin membantu otaknya untuk melupakan segala macam kejadian pada hidupnya, yang akhir-akhir ini sedikit membebaninya. Berseteru dengan sang adik, bertengkar dengan seorang gadis, bahkan... sampai membentak seseorang yang pernah diinginkannya. Dia sadar, dia memang dingin dan kasar. Tapi dia tak pernah menjadi sekejam ini dalam hidupnya.

Tak pernah sebelumnya.

Namun suara bisik-bisik membuatnya terpaksa membuka matanya.

"Kau yang tanya!"

"A-aku ti-tidak ma-mau!"

"Lho? Ini 'kan idemu!"

"A-aku ma-malu!"

"Mau apa kalian?" suara beratnya menghentikan diskusi kedua wanita di depannya. Dua wanita itu terdiam -sambil berusaha tersenyum.

"Kami... ingin menanyakan keberadaan Sakura," ucap siswi dengan rambut berwarna kuning. "Kenapa hari ini dia tidak masuk?"

"K-kami mengkhawatirkannya," sambung siswi dengan rambut biru tua.

Lelaki ini hanya menatap dua siswi itu dengan tajam. "Bukan urusanku," ucapnya kemudian meninggalkan dua siswi itu.

"Aku tidak akan membiarkannya pergi!"

"Eh! Ja-jangan kejar di-dia, Temari!"

"Ayo, Hinata! Ikut aku!" Bukannya berhenti, Temari malah menarik lengan sahabatnya yang bernama Hinata, untuk ikut mengejar lelaki bernama Sasuke itu.

Sasuke menghentikan langkahnya tepat di depan kelasnya. Dan saat ia berhenti, dua siswi yang mengikutinya juga berhenti di belakangnya. Kesal. Ia kesal dengan sikap dua siswi itu yang menanyakan di mana Sakura saat ini. Sesuatu yang berusaha untuk dilupakannya.

Sesuatu yang berusaha untuk tak dihiraukannya.

"Mau apa lagi?" Tanyanya kesal.

Setelah mengatur nafasnya, Temari angkat bicara. "Tolong beritahu kami, apa yang terjadi pada Sakura?"

"Cih, aku tidak tahu apapun tentangnya," jawab Sasuke sinis.

"T-tapi, k-kau kan k-kekasihnya..."

Sasuke mengepalkan kedua tangannya. Menahan emosi yang bergejolak di hatinya. "Aku tidak peduli apapun tentangnya. Aku tidakk tahu dia di mana," ujarnya, "dan aku... bukan lagi kekasihnya. Camkan itu!" ucapnya kasar. Setelah itu berjalan memasuki kelasnya.

Temari dan Hinata hanya memantung. Terkejut dengan apa yang barusan diucapkan Sasuke.

Baru kemarin mereka melihat Sasuke dan Sakura -teman mereka- mesra bersama... dan sekarang, semua itu berakhir?

-xxx-

Sakura melangkah masuk ke pekarangan rumahnya. Dia yakin, ibunya telah menunggunya. Mengingat dirinya yang tak pulang semalam. Apalagi sang ibu baru ditinggal ayahnya. Dia merasa bersalah mengapa bisa membiarkan ibunya menangis sendiri di rumah. Harusnya, di saat sulit seperti ini, seorang anak berada di samping sang ibu... menguatkan ibu yang sedang rapuh seperti ini.

Namun, Sakura terkejut saat dirinya telah sepenuhnya memasuki rumahnya.

Sang ibu tengah berbincang dengan seorang lelaki berambut hitam. Dan suara lelaki itu... sangat familiar.

Dia...

"Sakura!" suara sang ibu terdengar di telinganya. "Kau ke mana saja?" tanya Sang ibu sambil bangun lalu memeluk tubuh Sakura. "Ibu mencemaskanmu!"

"Maafkan aku, Bu."

Ibu Sakura melepaskan pelukannya. "Lihat, dia datang... menyusulmu dari Konoha," ucap Kurenai.

Emerald Sakura kini memandang lelaki yang berdiri di sampingnya.

"Sa-"

Ucapannya terputus saat lelaki yang dikenalnya ini memeluknya erat.

"Sakura..." gumamnya di puncak kepala Sakura. "...kini aku sadar, aku tidak bisa hidup tanpa melihat dirimu..."

Sakura membeku.

"...aku sadar, aku tak bisa hidup tanpa mendengar suaramu..."

"...aku tak bisa hidup tanpa dirimu... Sakura..."

Sakura melepaskan dirinya dari pelukan lelaki ini. "Sai? Apa yang kau lakukan?"

TBC


Apdet!

Apdetnya lumayan cepet kan? Hehehe.

Thanks buat :

Lucy121 (udah di apdet)

Valkyria_Sapphire (udah panjang belom?)

Thia2rh (udah diapdet)

Kurousa Hime (makasih udah dikasih tau, kalo ada typo, bilang lagi ya!)

uciha ailya-chan (hahaha, tenang aja, SasuSaku bakalan baik-baik aja :D)

mizu chan (Wuahahhaha, jangan kasianin Sasu, biarin aja dia mahh!)

Made kun (maaf ya... saya gak sempat dan kadang sering males :[ thanks, kalo ada typo bilang lagi ya!)

Sakura 'Cherry' Snowfalls (sudah diapdet!)

Hanayaka Teru (Gak gagap lagi kok ;] makasih, udah diapdet nih!)

4ntk4-ch4n (gak akan kenapa-napa kok ;] udah diapdet!)

Uchiha Sakura97 (udah diapdet!)

Uchihanunu (waahh.. makasih banyak!)

LucCy ZaNiitha (Akang Saso emang cute! tapi dia PUNYA saya!;] hahaha)

agnes BigBang (sudah diapdet!)

amie uzumaki (ini udah agak panjang kan? ;] hehehe)

Hana yuki (Emm... Ita gak main di sini... hehehe... pasangan Saso? ya SAYA! hehehe... liat aja nanti ;] hehe)

Atas reviewnya ;]

...

coment ya! biar gak males ngapdet.

Thanks a lot! :)