Disclaimer : Bleach by Tite Kubo
Warning : CharaDeath! AU
Fate of a Revenge
Chapter 10 : Aftermath I
Within the infinitely reverberating tones,
can you hear my voice?
"Re…Renji?"
Sontak ku buka mataku lebar-lebar untuk memastikan objek yang menimpaku ini benar adalah Renji. Dan bisa ku lihat dengan jelas, rambut kemerahannya masih terikat dan melekat di kepalanya. Tato-tato norak di wajahnya juga masih sangat terlihat nyentrik. Sedikit rasa lega meliputi tubuhku ini. Aku bisa bertemu dengan Renji yang memisahkan diri dengan kami di awal perjalanan kami. Namun, sesuatu yang aneh terasa. Aura yang dipancarkan oleh Renji sangat mencekam. Aku tidak bisa menjelaskan dengan detil apa yang aku rasakan namun sesuatu yang buruk akan terjadi pada diriku ini, dan itu benar terjadi. Renji tiba-tiba mencekik diriku dengan kencang hingga aku bisa merasakan saluran pernafasanku menjadi sempit. Akh, tolong aku! Itu hal yang ku teriakkan tanpa suara dan Hitsugaya bersama dengan Ishida menarik tubuh Renji dari diriku.
Aku merasakan tulang rawan leherku hampir tertarik keluar saat Renji ditarik menjauh dariku dengan kedua tangannya yang masih melekat di leherku. Merasa masih ingin hidup, aku mengerahkan semua kekuatan yang aku miliki dan menendang Renji hingga tubuhnya terhempas dan menabrak tembok.
"Akh, kuso! Ada apa dengannya?" ujarku kasar.
Namun, sesuatu yang semakin mencengangkan terjadi di depan mataku. Renji kembali bangkit dengan wajah yang sangat tidak biasa, Matanya menatap kami seakan kami adalah mangsa dan seringainya yang lebar itu seperti serigala yang sangat kelaparan. Ada apa dengannya? Dia bukan Renji!
Dengan cepat, Renji menggerakkan tangannya untuk menangkap leher Ishida. Dicengkramnya dengan erat leher Ishida dan aku bisa melihat wajah Ishida yang semakin membiru. Ishida berusaha meronta-ronta, mencoba melawan dengan kekuatannya yang tersisa. Dan kami yang melihat semua itu, tidak bisa berbuat apapun. Tubuh kami seakan terkunci, bahkan tidak bisa menggerakkan kaki seinchi pun.
Aku masih tidak berdaya. Aku hanya bisa memandang saat kuku-kuku Renji sudah menancap ke dalam leher Ishida dan darah segar mulai mengalir, menelusup di sela-sela jari itu dan menetes ke tanah. Tetapi, aku masih bisa melihat Ishida yang tetap berusaha untuk hidup dan bagaimana ekspresi rasa sakit yang dirasakannya saat kuku-kuku itu semakin dalam menusuk lehernya, membuat matanya terbuka sangat lebar seakan ingin meloncat keluar dan mulutnya yang menganga seakan ingin berteriak karena rasa sakit yang tak terbayangkan. Namun, Renji tanpa rasa iba semakin menancapkan kuku-kukunya untuk memastikan jari-jari panjangnya dapat masuk ke dalam tenggorokan Ishida, untuk merasakan setiap urat dagingnya terpotong dengan sempurna. Sedangkan, yang bisa aku dan Hitsugaya lakukan hanyalah memandang dengan rasa takut yang luar biasa, kami bingung harus melakukan apa, mungkin. Yang kini bisa kamu lakukan hanya menonton, menonton dan mendengar semua jeritan perih Ishida yang menjalar ke hati kami dan membuat rasa ngilu yang tidak tertahankan. Hah, begitu menyedihkan sekali kami ini. Setelah sekian lama kami berdiam melihat—hanya melihat Ishida menjerit kesakitan semua jari Renji akhirnya berhasil memasuki leher Ishida yang masih tersengal-sengal untuk bernapas, Renji sedikit menggerak-gerakkan jarinya, menyobek setiap urat daging leher dan mematahkan tulang rawan yang melindungi leher Ishida secara perlahan untuk mencari ruang gerak bagi jarinya. Tiba-tiba, Renji menarik bagian depan leher Ishida dan dengan satu hentakan dan darah segar berhasil terciprat di wajahku, juga Hitsugaya.
Tubuh Isihida menggelepar-gelepar seperti ingin mati. Mulutnya masih terbuka sangat lebar seperti matanya. Darah yang mengalir dari tenggorokannya membanjiri lantai kayu. Dan saat mataku menatap luka menganga yang tercipta di leher Ishida, aku merasa sangat ingin muntah. Serat-serat daging dan pembuluh-pembuluh tersobek-sobek seperti kain usang dan tulang lehernya yang masih ternoda darah menyembul ke permukaan. Laringnya sudah tergores-gores, mungkin karena cengkraman Renji tadi, namun tetap saja, memualkan.
Akhirnya Ishida berhenti menggelepar dan bernapas. Sontak, perhatianku tidak lagi terfokus pada luka menganga yang ada di lehernya melainkan, aku terfokus pada nyawanya. Nyawa seorang Ishida Uryuu yang sudah menjadi kawanku selama bertahun-tahun. Aku membelalak tidak percaya. Tubuhku gemetar, marah. Amarahku sudah tidak lagi bisa dibendung.
Jantungku berdegup kencang, saat tanganku sudah memegang sebuah pistol dan mengarahkannya pada Renji. Keringat dingin mulai menetes, membasahi telapak tanganku. Tembak atau tidak. Bidikanku mengarah tepat pada kepala Renji. Aku benar-benar tidak ingin menembaknya, aku tidak mengerti sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya namun di sisi lain, rasa marahku kian memuncak. Bisa ku lihat Hitsugaya juga sudah mengeluarkan revolver kesayangannya dan bisa ku lihat keraguan yang amat besar terpancar di wajahnya.
"GAAAAAAAHHHH!"
Tiba-tiba Renji berteriak dengan sendirinya dan kemudian tanpa aku sangka, dia melompat ke arah Hitsugaya. Tidak, tidak lagi! Cukup Ishida, CUKUP ISHIDA SAJA!
DOR.
Pelatuk pistol yang sedari tadi tertahan, kini sudah tertarik ke belakang dan darah segar kembali membasahi wajahku. Mata emerald Hitsugaya pun ikut membelalak tidak percaya saat cairan merah itu membasahi wajahnya dan suara benturan pun terdengar. Tubuh Renji yang sudah kaku kini terhempas ke lantai. Darah juga mulai mengalir dari kepalanya, hasil dari dua lubang yang dan dua peluru yang tersemat di kepalanya. Aku tertawa geli. Fuh, rupanya Hitsugaya menekan pelatuknnya juga.
Mataku kembali menatap Hitsugaya yang…tersenyum? Memang, amarahku masih tidak tertahankan namun bukan berarti aku tidak bisa melihat wajah bimbang bocah itu. Wajahnya terlihat sedih namun juga lega. Sedih namun juga senang. Benar-benar terasa sangat kompleks hingga aku tidak bisa membaca ekspresi yang terbentuk di wajahnya. Ia kemudian tertawa kecil, membuatku yang sempat tersenyum tadinya—entah kenapa—sedikit kaget.
"Hah…Hahahahaha…Lama kelamaan aku bisa gila, Kurosaki. Semuanya mati. Mati di tangan orang yang ada di dekatnya juga. Tidakkah ini konyol, Kurosaki?"
Wajahnya kini kian menjadi suram dan terlihat lebih bersalah saat menutup mata Renji yang kini tergeletak kaku. "Mungkin, sebentar lagi kita akan saling membunuh ya, Kurosaki. Hahahaha…"
Tawa kecilnya itu sedikit membuatku takut. Belum lagi senyum yang tersungging di wajahnya, mata kosongnya juga, membuatku sedikit terperanjak kebelakang.
"Aku yang menekan pelatuknya duluan, Kurosaki. Jadi bukan kau yang membunuh orang ini. Kau tidak perlu menambah rasa sakitmu, Kurosaki." Hitsugaya tiba-tiba mengarahkan revolvernya ke kepalanya sambil tersenyum kelu. Aku membelalak tidak percaya. "Aku sudah melihat apa yang harus kau tanggung karena ulah leluhurmu dan leluhurku. Mungkin, aku lah yang pantas mendapatkan ini. Hah…takdir begitu menyakitkan ya, Kurosaki?"
Ia kemudian menarik pelatuknya sambil ternsenyum kelu. "Ja ne, Kurosaki Ichigo…"
"JANGAN TOUSHIRO!"
DOR.
. . . . . . . . . . . . . . . . .
Aku terdiam. Mataku membelalak tidak percaya saat melihat Hitsugaya yang juga membelalak tidak percaya. Mata emeraldnya itu seakan berkata, "Uso, bagaimana mungkin ini terjadi?" Dan Hitsugaya langsung membanting revolver kesayangannya ke lantai yang masih bersimbahkan darah Renji dan Ishida.
"Hah! Pistol baka! Bagaimana mungkin pelurunya bisa habis?"
Aku kini tersenyum lega saat melihat Hitsugaya memaki-maki pistol kesayangannya sendiri karena ia lupa mengisi pelurunya—yah, memang sepenuhnya kesalahan Hitsugaya namun, hal itu yang bisa membuatku sedikit merasa lega. Aku kemudian menutup mata Ishida yang tergolek kaku dan memindahkannya ke dalam lubang di mana Renji sebelumnya muncul, begitu juga dengan Renji, aku memindahkannya ke lubang yang sama dengan Ishida. Aku tidak bisa memposisikan mereka dalam keadaan berbaring, mungkin lebih tepatnya, aku hanya menumpuk mayat mereka dalam satu lubang.
"Maafkan aku teman, aku tidak bisa memberikan pemakaman yang pantas untuk kalian."
Aku kemudian meninggalkan lubang itu dan menuju Hitsugaya yang masih terduduk sambil memarahi revolvernya. Ku tepuk bahunya dan ia memandangku. Mata emeraldnya kini mengunci pandangan mataku. Membuatku sedikit terhenyak.
"Jadi?" tanyanya singkat.
"Apa maksudmu?" jujur, aku tidak mengerti dengan pertanyaannya.
"Inoue atau Rukia? Yang mana yang menjadi prioritasmu?"
Benar.
Aku melupakan tujuan yang sudah ku sumpahkan. Aku sudah bersumpah untuk mencari Kuchiki Rukia agar bisa menyampaikan pesan dari leluhurku. Bagaimana mungkin bisa aku melupakan itu? Aku malah sibuk mencari Inoue dan melupakan tujuanku yang sesungguhnya. Pantas saja, Rukia yang sangat mengincarku menjadi murka. Aku melupakannya, sama seperti leluhurku.
"Aku…akan mencari Rukia." Ujarku tegas.
Aku sudah memantapkan hatiku untuk mencari wanita itu. Aku harus menyampaikan pesan leluhurku sebab kenapa ia membunuh Kuchiki. Dan aku harus segera menemukan wanita itu. Aku sudah tidak bisa menahan semua kebenaran di hatiku ini. Rasanya sangat mencekat napasku tiap kali aku mengingatnya.
"Wakatta. Kalau begitu, aku akan menemanimu mencarinya."
"Eh?"
Hitsugaya tersenyum kecil sambil kembali bangkit dan membuang revolvernya jauh-jauh. "Kenapa Kurosaki? Kau tidak senang?"
"Ti-tidak, bukan begitu, Toushiro. Hanya saja aku…tidak ingin kau terluka."
Hitsugaya kemudian berbalik menghadapkan punggungnya padaku. Tangan mungilnya pun mengepal kuat.
"Sudah terlambat, Kurosaki. Aku sudah terlanjur terluka dan aku hanya ingin membantumu sehingga aku bisa keluar dari tempat mengerikan ini."
Hatiku serasa disayat. Benar, aku sudah membuatnya terluka karena menarik pelatuk pistolnya ke orang yang sangat di kaguminya. Aku benar-benar bukan teman yang baik baginya. Aku benar-benar…kejam.
"Hei, buat apa kau melamun seperti itu?"
Hitsugaya memukul pundakku pelan sambil tersenyum lirih. "Sudah ku bilang kan, aku ingin keluar dari tempat ini. Jadi, kau harus mencari wanita Rukia itu dan mengeluarkanku dengan selamat dari sini."
Aku berusaha menguatkan hatiku yang penuh dengan rasa berdosa—tidak, aku memang sudah berdosa. Aku membiarkan Inoue menghilang entah kemana, aku membiarkan teman terbaikku, Ishida, mati, dan aku sudah membuat Renji harus menanggung kematian atas perbuatan yang mungkin tidak disadarinya. Huh, aku sudah tidak layak lagi disebut sebagai manusia.
"Toushiro," ujarku pelan. Ia kemudian melirik sedikit ke arahku dan berdehem kecil. Kakinya mulai melangkah meninggalkanku dan aku masih ragu untuk mengatakan ini atau tidak hingga aku merasakan hawa dingin yang menyapu pelan punggung leherku.
Aku berbalik. Dan mataku membelalak tidak percaya.
Wanita itu—Rukia, keluar dengan langkah gontai dari lubang di mana aku meletakkan jasad Ishida dan Renji. Bah, ternyata semua ini ulahnya. Dia-lah, Rukia-lah yang telah membuat teman-temanku terbunuh. Dia yang merasuki Renji dan membunuh Ishida. Dia memang biang kerok dari semua ini dan mungkin juga, hilangnya Inoue berhubungan dengannya?
Aku harus mencari tahu dan sebelum ku sampaikan pesan leluhurku, aku akan sampaikan dulu rasa sakit yang sudah di derita teman-temanku karenanya.
"Hei, kau ak-"
Belum selesai aku menyampaikan perkataanku, ia sudah melihatku dengan tatapan dingin. Bibir pucatnya juga ikut tersenyum senang melihat ekspresi wajahku yang tidak karuan. Ia kemudian berbalik dan berjalan gontai menjauhiku.
"Toushiro, dia di sini! Ikuti aku!" teriakku pada Toushiro yang sudah berada lumayan jauh di belakangku.
Langkah cepat kami berbenturan pada lantai kayu sehingga menimbulkan bunyi derap yang sangat kasar. Napas kami berderu kecang berusaha menyamai langkah kaki yang berjalan cepat-lurus mengikuti lorong panjang yang entah akan bermuara di mana. Namun, samar-samar aku melihat bayang Rukia yang berjalan menjauhiku. Itulah sebabnya, aku terus berlari, mengikuti baying itu pergi.
"He-hei, Kurosaki! Apa kau yakin?"
Aku mengangguk keras. "Ya."
Hitsugaya tetap berusaha menyamakan tempo langkah kaki dan napasnya sehingga ia tidak akan pingsan ataupun tertinggal di belakang.
Tak lama setelah kami berlari, kami melihat ujung lorong itu. Sebuah ruangan besar dengan tatami hijau yang sudah usang. Kami berhenti sebentar di depan ruang besar itu, mengatur napas kami agar bisa kembali normal.
Setelah merasa lebih enak, kami mulai melangkah pelan memasuki ruang dengan tatami itu. Dibantu dengan cahaya bulan, mata kami samar menangkap tiga sosok yang berada di tengah ruangan.
Aku terkesiap, begitu juga dengan Hitsugaya. Mata kami membelalak tidak percaya dengan apa yang kami lihat ini.
Hantu gadis miko yang menyiksaku itu…
Hantu gadis kecil berambut merah jambu yang memberiku ingatan mengerikan…
…dan…
"Inoue?"
Chariot330 : Hallo semuanya~ Saya kembali lagi dengan cliffhanger yang sama sekali nggak bikin penasaran. *dihajar reader* Maaf kalau cerita ini jadi ada yang kurang jelas, soalnya saya baru kembali menulis lagi setelah hiatus panjang untuk menghadapi UN dan SNMPTN. Jadi mohon kritik dan sarannya. Cerita ini tinggal 3 chapter lagi (mungkin) jadi saya harap reader semua berkenan untuk memberikan review terbaiknya di chapter-chapter akhir ini. *bows* Oya, saya akan tetap memegang janji saya untuk memberikan ending yang bernuansakan ICHIRUKI. Jadi, saya benar-benar mohon bantuan dan supportnya!
Balesan Review yg gak log :
Thae-yugi-chan : Makasih dah dipuji. / maaf klo alurnya ngebingungin. Mudahan bisa lebih dimengerti di ch ini ya! makash dah review~
Voidy : Oneesan~ sudah saya usahakan bikin ceritanya biar kembali ke plot awal, mudahan bisa bikin nee puas. Makasih dah review nee~
Hiruma Yuki-chan : Endingnya tetep ichiruki koook. Tena~ng. Ini udah dibikin bloody kook. Makasih dah review~
carnation-red : Maaf nee...maaf *bows*
parachipusu : e to...menurut kamus yg saya pegang, ayah itu mempunyai kanji tou...bukan tto...untuk memperhalus lagi, orang jepang biasanya menambahkan o sebelum konsonan noun/verb-nya...tapi teimakasih saran dan reviewnya...saya akan coba dengan referensi lain, siapa tau saya yg salah ^^
