Basyot awal : chap ini isinya menye-menye, kalo gak kuat baca bisa close tab hehe.. kalo kuat ya gpp di lanjut hehe..

Bacanya sambil dengerin EXO – My Answer biar lebih manteb hehe

.

.

.

Chanyeol mengenal Byun Taekwon bukan dalam waktu singkat. Dia sudah tau sosok Byun Taekwon secara keseluruhan. Hal itu membawanya pada satu kesimpulan. Bajingan. Lalu apa lagi?

Dimasa awal ia tau Byun Taekwon tanpa sekalipun berjabat tangan, Chanyeol bisa tau jika pria itu akan menjadi musuh bebuyutannya. Mereka berdiri pada kubu yang berbeda. Si keparat Byun Taekwon itu sudah pasti memilih kesesatan sedang Chanyeol berada pada jalan sebaliknya.

Berawal dari sebuah cerita jika Byun Taekwon yang sepertinya sudah bajingan sejak muda. Lelaki itu menghamili seorang wanita malang yang bekerja di sebuah bar kumuh. Dia tidak mengakuinya—katakan pria brengsek mana yang mau mengakui benih yang ia tanam maka Chanyeol akan memberi 1% hartanya. Byun Taekwon tentu lari dari tanggung jawab, dia tidak ingin bersusah payah menyerahkan sisa hidupnya pada si wanita malang yang sedang mengandung itu.

Alasannya sungguh diluar kegilaannya sebagai manusia biadab. Dia akan menikahi seorang anak orang kaya yang bisa memberinya kehidupan lebih mewah dan bertanggung jawab atas kandungan wanita malang itu hanya omong kosong.

Pada saat itu Byun Taekwon mungkin berpikir dunia bisa diajak untuk bernegosiasi dan dia menganggap otaknya adalah yang terhebat di seluruh dunia ini. Nyatanya dia lupa jika fungsi otak itu untuk berpikir jernih, bukan dibuat mati hanya karena hasratnya saja. Karena satu hari menjelang pernikahannya dengan si anak orang kaya, seseorang yang lain datang mengacau bersama bukti otentik yang mematahkan rencana Byun Taekwon menjadi kaya dalam sekejap.

Semua berantakan. Keluarganya malu dan dia dituntut untuk bertanggung jawab. Jika saja tidak melibatkan hukum, maka Byun Taekwon bisa saja menelantarkan wanita itu. Tapi nyatanya ada sosok lain yang berdiri meminta pertanggung jawaban mentah-mentah pada si keparat Byun Taekwon itu. Saudara terdekat perempuan malang yang hamil itu adalah satu-satunya yang berani maju dan tak gentar dengan setiap ancaman yang ia dapat.

Silih berganti pada akhirnya Byun Taekwon tak lagi berulah. Dia cukup tenang meski terkadang masih berbuat onar di bar dan pulang dalam keadaan mabuk berat. Disetiap kemabukan yang ia dera, banyak sekali umpatan untuk wanita berperut buncit yang senantiasa membopongnya masuk dan menyelesaikan sisa efek dari alkohol. Byun Taekwon yang sedang melayang itu tidak pernah tau bagaimana rasanya sebuah tangis yang selalu tercipta setiap malam. Dari siapa lagi jika bukan si wanita mengandung.

Tapi pada dasarnya Byun Taekwon itu gila. Dia tidak pernah peduli dengan kandungan istrinya. Bahkan di bulan terakhir masa kandungan istrinya, dia justru pergi berpesta dengan teman-temannya. Bagaimana rupa anaknya, dia tidak berminat. Bagi Byun Taekwon, mereka semua adalah kesialan yang mendarah daging.

.

Byun Taekwon adalah satu dari sekian banyak kemuakan yang membuat Chanyeol ingin menghunusnya dengan pisau beracun. Kelicikannya seakan menantang untuk mengadakan pertumpahan darah dengan banyak episode terlewati. Chanyeol bukannya tidak ingin bergerak cepat untuk memusnahkan bajingan satu itu. Dia memiliki banyak pertimbangan agar tidak ada langkah yang salah dan membuatnya rugi.

Kerugian terbesar bukanlah banyaknya uang yang akan melayang, tapi satu nyawa yang mana mati-matian sedang Chanyeol lindungi. Entahah, ini disebut posesif atau egois, dia tidak peduli dengan hal-hal itu. Karena jika satu saja kelalaian yang menyebabkan wanitanya –Byun Baekhyun— tergores karena tindakan nekad Byun Taekwon, maka jangan harap mendapat ampun dari kemarahan Chanyeol.

Lalu ketika dia berhasil mendarat dengan selamat di Korea setelah mendengar kabar penahanan wanita terkasihnya, darah dalam tubuh Chanyeol kembali mendidih. Sepanjang perjalanan ia menggeram, menahan amarah atau salah-salah ia akan bertindak brutal menerobos jalanan tanpa tau berartinya sebuah nyawa. Beruntung Kai saat itu sigap mengambil alih kemudi atau tuan besarnya ini akan membuat keributan di jalanan.

Chanyeol berhasil menahan emosi, bahkan ketika mobilnya terparkir di kantor polisi ia bisa untuk mengendalikan agar tidak tampak buruk. Tapi ketika ia melihat sebuah tangan akan melayang mengenai pipi halus wanitanya, emosinya kembali terbangun.

Kai segera menengahi, menjabarkan panjang lebar jika penahanan Baekhyun ini suatu bentuk kesalahan. Dalang utamanya adalah Byun Taekwon. Byun Taekwon yang memalsukan surat, memalsukan tanda tangan, dan melakukan penipuan dengan membawa kabur uang transaksi. Penjualan tanah, rumah, dan segalanya yang mengatas namakan Byun Baekhyun adalah kebohongan.

"Nona Baekhyun diduga melakukan penipuan jual-beli dengan menggunakan sertifikat palsu. Pelapor mengatakan jika tanah yang dijual itu tidak seperti yang ada di perjanjian. Dan ketika dikaji ulang tentang sertifikat yang sudah di berikan, sertifikat itu ternyata palsu."

"Logikanya begini, siapa yang melakukan transaksi dan menggebu untuk menjual tanah itu, adalah orang yang berperan besar melakukan tindakan licik ini." Chanyeol memulai perdebatan dengan seorang anggota polisi. Dia sudah cukup tenang meski masih tersisa beberapa mililiter emosi dalam dirinya.

"Kami masih melakukan pengejaran pada tuan Byun Taekwon. Tapi karena sertifikat tanah yang dipalsukan itu atas nama Nona Baekhyun begitu juga surat kuasa yang di tanda tangani Nona Baekhyun, maka kami menduga jika Nona juga turut andil dalam kasus ini."

"Aku tidak pernah melakukannya!" Baekhyun menggebrak meja, berteriak dengan urat-urat kemarahan karena dia memang tidak melakukan.

"Dari mana asal spekulasi menjijikkan seperti itu?!" Chanyeol kembali angkat bicara. Kali ini iris tajamnya mulai ia munculkan dan sebentar lagi bisa saja yang ada di depan matanya akan tercabik-cabik. "Kalian jangan semata melahap bukti tanpa melakukan penyelidikan. Baekhyun tidak akan melakukan hal itu karena memiliki surat yang asli. Jadi untuk apa repot-repot memalsukan jika dia ingin menjual miliknya sendiri?"

Map yang sedari tadi bertandang di atas meja, Chanyeol lempar secara kasar di depan mata para penyidik. Dia sudah muak, berlama-lama dengan para otak udang bisa membuat emosinya naik berkali-kali lipat.

.

.

Pada akhirnya Baekhyun dibebaskan dengan Chanyeol sebagai penjamin atau wali yang sah. Urusan dengan kepolisian memang masih akan berlangsung, tapi setidaknya bukti-bukti yang Chanyeol bawa sangat meringankan status Baekhyun. Para pihak penyidik sedang mengkaji ulang kasus penipuan yang mengkambing hitamkan Baekhyun.

"Kau baik?" itu pertanyaan kesekian yang Chanyeol lontarkan. Mereka sudah berada di rumah Luhan karena Baekhyun masih enggan kembali pada Chanyeol.

Baekhyun meneguk lagi isi air dalam gelas di hadapannya—bukan karena dahaga, tapi peralihan ketika kemuakan hatinya kembali datang.

Chanyeol datang dengan kejutan yang tak terduga. Setelah masalah di kantor polisi karena warisan yang hingga saat ini Baekhyun belum tau bagaimana wujudnya, lelaki itu membuat gempar dengan pernyataan tentang pendaftaran pernikahan mereka. Ini lucu, ketika Baekhyun sudah mengibarkan bendera perpisahan dan enggan melongok kembali pada lelaki itu, Chanyeol justru menjadikan semua semakin dekat.

Bukan karena tidak cinta; Baekhyun masih memiliki hal itu meski sekarang sedang ia tekan habis-habisan agar tidak berkontaminasi dengan rasa bencinya. Bagaimanapun juga Chanyeol adalah yang pertama dan terakhir membuat Baekhyun kelimpungan dengan hatinya. Terlebih, kehidupan dalam kandungannya menjadi bukti jika mereka pernah mengecap gairah bersama-sama.

Tapi ini tidak mudah, rasa kecewa Baekhyun masih ada setelah mendengar obrolan Chanyeol dengan Byun Taekwon sialan itu. Mereka berbicara soal harta, soal warisan, dan parahnya mereka saling berebut eksistensi Baekhyun demi mendapatkan semua itu.

"Baekhyun, apa perlu kita ke rumah sakit? Kau pucat."

Baekhyun menepis tangan Chanyeol yang hendak menyentuh keningnya. "Tidak ada yang perlu kau khawatirkan."

"Tapi kau terlihat tidak baik. Kita ke rumah sakit, ya?"

"Tidak perlu."

"Aku mengkhawatirkanmu..."

"Terima kasih tapi aku tidak membutuhkannya."

"...Juga anak kita. Aku berhak mengkhawatirkannya."

Kenyataan tentang siapa ayah biologis dari anak dalam kandungan Baekhyun membuat wanita itu bungkam. Jika saja Chanyeol tidak membuka kebencian dengan masalah harta warisan itu, mungkin saat ini Baekhyun dengan sangat rela menggantug banyak harapan pada lelaki itu. Tapi dia sudah terlanjur kecewa, banyak hal yang terpaksa ia kubur dengan luka hanya karena sebuah harta.

"Pulanglah. Aku ingin istirahat." Baekhyun memotong kesunyian malam itu dengan beranjak dari sofa dan masuk ke dalam kamar Luhan.

Setelah urusan dengan kepolisian berhasil di selesaikan, Baekhyun tidak ingin kembali ke rumah Chanyeol. Nada tingginya terlalu menggelegar hingga Chanyeol yang melemah hanya bisa menuruti kemauan Baekhyun untuk kembali ke rumah Luhan.

Baekhyun kembali ke rumah Luhan dan berkata pada sahabatnya itu jika ia akan menumpang dalam beberapa waktu. Luhan tentu senang, ia menyambut baik kedatangan Baekhyun dan mengizinkan Baekhyun berada disini selama yang ia mau.

"Biarkan dia dulu." Luhan menengahi ketika Chanyeol menggedor pintu kamar dan meminta Baekhyun untuk kembali berbicara dengannya. "Baekhyun juga butuh waktu. Jangan menjadi egois hanya karena kau berkata sangat mencintainya. Pikirkan Baekhyun, tidak ada manusia di dunia ini yang mau menjadi kambing hitam untuk sebuah harta." Luhan memang mengatakannya dengan lembut, tapi dari itu semua ia memiliki sindiran yang cukup tajam kepada Chanyeol.

"Ini salah paham. Biarkan aku menjelaskan pada Baekhyun."

Chanyeol kembali menggedor pintu kamar Baekhyun dan Luhan segera mencegah itu. Meski tubuhnya jauh lebih kecil dan kemungkinan ia akan terlempar secara kasar ketika Chanyeol muak dengan larangannya, tapi Luhan tetap memberanikan diri menghalangi kemauan Chanyeol yang terlalu keras kepala.

"Sudahlah, ku mohon jangan seperti ini. Jangan mengedepankan kepentinganmu sendiri sedang Baekhyun tidak kau biarkan untuk menenangkan hatinya. Kalian butuh waktu, butuh kembali memikirkan kenapa semuanya menjadi seburuk sekarang."

Chanyeol menarik tangannya, menggeram di kekesalannya yang paling parah dan mencerna baik-baik apa yang Luhan katakan. Semuanya menjadi buruk..

"Pulanglah, biar Baekhyun ku urus. Selesaikan apa yang harus kau selesaikan, Chanyeol. Aku tau, semua ini terlalu rumit."

"Besok aku akan kembali lagi."

"Pintu rumahku selalu terbuka untuk hal kebaikan. Tapi aku tidak bisa melarang jika Baekhyun menutupnya untuk sesuatu yang dia anggap buruk."

"Tapi aku akan tetap datang besok."

"Terserah. Itu hak mu. Tapi aku berharap di kedatanganmu nanti tidak akan ada Baekhyun yang menangis. Aku sangat membenci itu. Dan jika itu terjadi, maaf, aku tidak akan pernah membuka pintu untukmu."

.

.

Chanyeol benar dengan perkataannya, dia bahkan datang ketika matahari pagi baru muncul atau saat malam tiba. Setiap hari Chanyeol akan mengetuk pintu rumah Luhan dan menanti bidadarinya bersambut hangat. Ya, itu adalah penantian yang selalu Chanyeol harapkan seperti sebuah pengemis. Tapi pada kenyataannya Baekhyun akan terlihat angkuh dengan tidak membukakan pintu atau sekedar meluapkan kemarahan jika Chanyeol memaksa. Jika sudah seperti itu, Chanyeol akan menundukkan kepala dan mundur untuk tidak memancing emosi Baekhyun karena ia tau itu akan berakibat buruk untuk kandunganya.

Tapi Chanyeol tidak pernah menemui kata menyerah. Dia tetap datang, meski tidak mengetuk pintu dan hanya duduk diam dalam mobil yang terparkir beberapa meter dari rumah Luhan, Chanyeol tetap menunjukkan dirinya. Hidupnya terasa tidak lega jika tidak memastikan Baekhyun dalam keadaan baik dengan matanya sendiri.

Pernah disuatu malam setelah pulang dari kantor, Chanyeol menyempatkan diri datang ke rumah Luhan untuk menemui Baekhyun. Tapi dilangkah pertama ia turun dari mobil, ia melihat Baekhyun terburu masuk ke rumah dan mengunci pintu rapat-rapat. Chanyeol yang tau hal itu hanya bisa tersenyum pahit karena kedatangannya kembali di tolak.

Chanyeol tidak tau bagaimana lagi cara menahan rindu. Jika ada ruang yang bisa ia beli untuk menumpahkan tumpukan rindu ini, Chanyeol akan membelinya dengan harga berapapun. Tapi sayangnya semua hanya pengandaian kosong hingga pada akhirnya yang bisa Chanyeol lakukan adalah berdiam diri di depan pintu rumah Luhan.

Lelaki itu sungguh malang, kaki tegaknya sangat mudah bersimpu hanya karena sebuah rindu. "Baekhyun, ini aku."

Chanyeol terduduk di depan pintu, menyandarkan sisian kepalanya dan membuat jarinya mengukir sesuatu yang abstrak di daun pintu. "Sebenarnya aku bisa mendobrak pintu ini. Kau tau, kan, aku sekuat apa? Tapi aku tidak akan melakukannya. Aku takut akan menyakitimu."

Dadanya sedikit merasa sesak tapi Chanyeol bisa menguasainya. "Baekhyun, apa kau masih marah? Ah, tentu, kau pasti marah padaku. Aku sudah melakukan banyak kesalahan dan mengorbankanmu. Aku ini jahat. Sangat jahat. Jadi jika kau sudah membenciku sebanyak itu, aku akan terima."

Senyumnya kembali terpatri sedikit pahit ketika hening malam adalah jawaban dari semua yang Chanyeol katakan. "Baekhyun, jika hari ini belum ada kesempatan untukku, ku harap besok aku akan mendapatkannya. Aku akan tetap datang, meski seribu kali kau akan menolaknya, aku akan datang. Maaf jika aku egois tapi aku tidak bisa menahan rindu ini."

Chanyeol membawa tubuhnya bangun dan menekan dalam-dalam kekecewaan yang bersarang. "Aku pulang. Kau istirahatlah, jangan pikirkan apapun. Jaga anak kita, ya? Aku mencintai kalian."

Langkahnya terasa berat meninggalkan daun pintu usang dari rumah kecil yang menyembunyikan tubuh Baekhyun. Kecamuk dalam batinnya masih meneriakkan rindu yang tertolak oleh keheningan.

Ya, Chanyeol memang di tolak sebuah keheningan. Tapi sebenarnya tanpa sepengetahuan lelaki itu ada isak tertahan dari balik pintu yang menyambut rindu. Chanyeol tidak perlu mengetahuinya, biarkan rindu saling membenahi diri hingga perselisihan hati ini cepat terselesaikan tanpa saling menyakiti.

.

.

Dan dari semua hari kedatangan Chanyeol menemui Baekhyun, hari ini wajahnya terlihat berantakan dengan kantung mata yang menyeramkan.

Ketukan pintu rumah Luhan di sambut sang pemilik dengan senyum hangat. Luhan mempersilahkan Chanyeol masuk dan memberinya secangkir teh hangat.

"Baekhyun masih tidur. Aku tidak berani membangunkannya."

"Tidak usah kalau begitu."

"Semalam tubuhnya sedikit demam." Mata Chanyeol terbelalak penuh kekhawatiran. "Tapi aku sudah mengompresnya. Tadi pagi demamnya sudah turun dan dia terlihat lebih baik."

"Terima kasih, Luhan."

"Ya, sama-sama." Luhan berdeham sebentar sebelum akhirnya ia mengutarakan pertanyaan yang selama ini menghantuinya. Tidak bermaksud ikut campur, tapi jika dia tau pokok permasalahan sebenarnya, setidaknya dia bisa membantu. Entah itu hanya sebuah dukungan atau hal-hal lainnya agar dua manusia yang sedang berperang hati ini kembali baik.

Luhan ingat, dulu Baekhyun pernah bercerita jika dia sudah menemukan seseorang yang mampu membuat jantungnya berdetak kencang. Baekhyun bercerita dengan nada menggebu seolah ini hal baik hingga membuatnya teramat sangat bahagia. Meski pertemuan keduanya bukan cerita yang indah begitu juga ujung dari nasib buruk hubungan mereka saat ini, setidaknya dikisah itu mereka pernah merasa saling membutuhkan dan saling ketergantungan. Luhan senang dengan hal itu, terlebih setelah semua kartu kenyataan tentang ayah dan neneknya telah terbuka dan Chanyeol bersambut hangat menjaganya, Baekhyun kembali menemukan senyum yang terlampau jarang ia tunjukkan pada dunia.

"Boleh aku bertanya sesuatu?"

"Ya, silahkan, Luhan."

"Urusan dengan kepolisian bagaimana?"

Chanyeol mengusap sedikit kasar wajah lelahnya dan menghembuskan nafas sedikit besar. "Aku sudah memberikan berkas-berkas tentang penipuan dan pemalsuan yang di lakukan Byun Taekwon."

"Sebenarnya surat apa yang dipalsukan? Aku tidak mengerti hingga paman Byun tega mengkambing hitamkan Baekhyun."

Isi cangkir yang Luhan suguhkan itu disesap Chanyeol sedikit. Jika membahas tentang kelicikan Byun Taekwon rasanya Chanyeol mendapat rasa gerah dan panas berlebih.

"Surat tanah dan beberapa rumah yang diwariskan untuk Baekhyun."

"W-warisan? S-siapa yang mewariskannya?"

"Seseorang yang begitu menyayangi Baekhyun. Intinya Byun Taekwon tau tentang semua warisan untuk Baekhyun dan ingin menjual itu semua tapi tidak bisa karena tidak memiliki surat-surat yang resmi. Untuk itu dia memalsukannya dan mengatas namakan Baekhyun sebagai pemilik. Agar ketika kepalsuan itu terbongkar, Baekhyun-lah yang akan menerima akibatnya."

"Surat-surat itu ada dimana? Apa Baekhyun tau?"

"Tidak, Baekhyun tidak tau." Chanyeol meregangkan sedikit lilitan dasi di lehernya yang membuat perasaannya bertambah gerah. Entah karena Byun Taekwon atau karena tubuhnya memang merasakan hal itu. "Surat-surat itu ada padaku. Dari awal aku yang membawa dan menjaganya untuk Baekhyun."

"B-bagaimana bisa?"

"Ceritanya panjang, Nona Luhan. Yang jelas, surat ini sudah aman dan kupastikan Byun Taekwon akan segera ditangkap."

"Syukurlah. Aku lega mendengarnya." Luhan tersenyum sedikit lega dengan kabar itu, artinya ruang gerak ayah Baekhyun akan penuh dengan mata-mata dan tidak ada lagi kejahatan yang dilakukan. "Ah, ya, apa urusan Baekhyun di kantor polisi sudah benar-benar selesai? Maksudku, itu akan sedikit menimbulkan trauma jika Baekhyun masih harus ke sana."

"Ya, Baekhyun masih harus ke sana untuk beberapa kesaksian. Tapi ku pastikan tidak ada paksaan dan cara kasar seperti sebelumnya. Pegawaiku akan datang menjemput jika kepolisian ingin mendapat kesaksian Baekhyun."

"Terima kasih, Chanyeol."

"Ah," Chanyeol mengeluarkan amplop coklat dari dalam jasnya dan menyerahkan pada Luhan. "Baekhyun tidak ingin kembali ke rumahku, jadi gunakan uang ini untuk merawat Baekhyun. Belilah apapun yang ia butuhkan. Setiap minggu aku akan mengirim sejumlah uang untuk Baekhyun. Ku mohon bantuanmu, Luhan."

"Ya. Aku mengerti."

"Kalau begitu aku pam—AH!" tubuh Chanyeol tiba-tiba limbung ketika akan berdiri. Kepalanya terasa berdenyut nyeri dan keringat dingin tiba-tiba membasahi.

"Astaga! Kau baik?"

"Y-ya. Aku baik." Chanyeol masih berusaha berdiri meski langkahnya terasa berat.

Malam setelah pulang mengantar Baekhyun dan kembali mengurus beberapa urusan di kantor polisi, Chanyeol merasa ada yang aneh pada tubuhnya. Kepalanya mendadak pusing dan ia kehilangan fokus di beberapa kesempatan. Kai menyarankan agar Chanyeol beristirahat, tapi hanya bantahan yang Kai peroleh karena Chanyeol lebih suka berlarut-larut dengan berkasnya.

.

"Kalau begitu aku pam—AH!"

"Astaga! Kau baik?"

"Y-ya. Aku baik."

Ingin rasanya Baekhyun memutar knop pintu dan berlari menghampiri Chanyeol yang terdengar sedang kesakitan. Melalui sela kecil kunci pintu yang ada, Baekhyun melihat Chanyeol sedang memijat pelipisnya dan mengerang kecil. Apa dia sakit?

Astaga, ini terlalu membingungkan. Baekhyun tergagap dengan dirinya sendiri ketika tangan ingin meraih knop pintu tapi ego menahan. Bukan karena rasa gengsi, tapi masih tersisa beberapa kekecewaan yang belum terobati atas kejadian lalu.

Ini berat, sungguh berat.

Kekhawatiran Baekhyun sungguh membuatnya nampak bodoh.

Iya, dia marah. Menyimpan banyak benci hingga rasanya ingin meledak hebat seperti yang pernah terjadi di Hiroshima dan Nagasaki.

Tapi sebenarnya Baekhyun sudah lebih baik dari itu. Semua yang ia dengar dari balik pintu sedikit banyak melunturkan apa yang membuat ia begitu kecewa dengan Chanyeol. Entah itu sebuah pembelaan atau kenyataan, Baekhyun belum menentukan.

.

.

Semua mulai Baekhyun tata dari awal. Kebahagiaan yang masih menggantung tidak jelas bagian akhirnya, tak lagi Baekhyun bela mati-matian. Dia hanya akan peduli dengan apa yang masih terjaga dalam pelukannya—anak dalam kandungan.

Hampir setiap hari Baekhyun membisikkan banyak cinta dengan usapan halus. Dia begitu tidak sabar dengan sosok mungil dan murni yang akan lahir dari rahimnya. Seperti apa nanti matanya, hidungnya, bibirnya. Baekhyun penasaran.

Kehamilan Baekhyun masih belum menunjukkan fisiknya, tapi Baekhyun sudah bisa merasa jika ada kehidupan dalam rahimnya. Dia begitu bahagia, merasa jika akan ada malaikat kecil yang akan ia peluk setiap malam.

Sembari menanti perkembangan seperti apa yang terjadi pada malaikat dalam rahimnya, Baekhyun memulai kembali sisa tugas akhir yang belum ia selesaikan. Luhan banyak membantu akan hal itu, seperti menemani menerjemahkan beberapa artikel atau mencari referensi yang relevan. Target Baekhyun adalah bisa sidang dalam waktu dua minggu ke depan. Untuk itu, di beberapa kesempatan Baekhyun akan menyempatkan banyak waktu berkunjung ke perpustakaan dan menemui dosen pembimbingnya.

"Sudah pulang, Lu?"

Luhan menutup pintu dan duduk di samping Baekhyun. Bagian akhir tugas Baekhyun akan segera dicapai dan Luhan tersenyum lebar akan hal itu. "Oh, ada yang sebentar lagi sidang."

"Doakan semoga tidak ada revisi. Aku sudah melakukan yang terbaik agar cepat sidang mendapat gelar sarjana sepertimu."

"Perjuanganmu tinggal sedikit lagi, Baek. Semangat!"

Baekhyun mengangguk mantab. Meyakinkan diri jika sebentar lagi dia bisa menyelesaikan studi yang sempat terbengkalai karena hubungannya dengan Chanyeol.

Chanyeol. Ah, Chanyeol.

Mengingat nama itu membuat Baekhyun kembali merenungkan apa yang terjadi. Chanyeol beberapa kali datang dan masih terus berusaha menemui Baekhyun untuk sebuah penjelasan. Tapi lagi, Baekhyun menolak karena merasa belum memiliki hati yang cukup lapang atas penjelasan apapun yang akan ia dengar.

Baekhyun tau, semua orang berhak memiliki waktu untuk menjelaskan semua yang dianggap kekeliruan. Pun dengan Chanyeol. Tapi Baekhyun sedang pada pendiriannya yang alot. Tidak ada yang bisa membujuk, sekalipun itu Luhan. Hingga pada akhirnya di beberapa hari kebelakang, Chanyeol tak lagi datang. Tidak ada lagi ketukan di pintu kamar Luhan dari seorang lelaki yang memanggil nama Baekhyun dalam nada penuh harap. Tidak ada lagi lelaki yang selalu berucap rindu di akhir usahanya untuk membuat Baekhyun keluar kamar.

"Seseorang suruhan Chanyeol datang ke kantorku."

Mata Baekhyun sedikit terbelalak mendengar apa yang Luhan katakan. Tapi bagusnya disini Baekhyun tidak menunjukkan ekspresi berlebih kecuali dehaman biasa dan atensinya kembali pada layar notebook dihadapannya.

"Untukmu." Luhan menyerahkan kotak kecil dari dalam tasnya dan mendorongnya di hadapan Baekhyun. "Dia juga menitipkan salam untukmu."

"Salam?"

"Ya. Salam rindu katanya." Luhan beranjak menuju lemari es dan mengambil sebotol air dingin untuk memenuhi kerongkongannya yang kehausan. "Suruhan Chanyeol itu mengatakan jika Chanyeol tampak berantakan, Baek."

"Bukan urusanku."

"Dia juga ada lingkar hitam menyeramkan di matanya."

"Lalu?"

"Lalu," Luhan kembali mendudukkan dirinya di samping Baekhyun dan memulai dengan satu senyumnya yang manis. "kapan kau membuka kesempatan untuknya? Dia sangat menanti hal itu."

"Tidak tau, Lu. Aku masih belum bisa memaafkan."

"Belum bisa memaafkan bukan berarti menutup kesempatan Chanyeol untuk memperbaiki apa yang sudah salah, Baek. Dengar," Luhan meraih sebelah tangan Baekhyun dan meremasnya halus, "Tidak ada manusia di dunia ini yang bersih dari kesalahan. Begitu juga Chanyeol,"

"Dia menggunakanku sebagai alat untuk mendapatkan harta yang dia katakan sebagai warisanku."

"Aku tidak tau kebenaran akan hal itu, Baek. Tapi yang jelas, Chanyeol pasti memiliki alasan mengapa dia bisa berani melibatkan diri sejauh ini. Dan jika memang Chanyeol memiliki maksud mengambil warisan itu darimu, kenapa tidak melakukannya dari dulu? Kenapa dia harus repot-repot menarikmu dalam proteksinya sedang Chanyeol sendiri memiliki kuasa cukup besar untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Termasuk warisan itu."

Mulut Luhan begitu lihai merecoki pikiran Baekhyun. Rangkaian katanya sangat apik hingga Baekhyun yang sedang labil ini mulai memikirkan kebenaran dari apa yang Luhan sampaikan.

Sedikit banyak Baekhyun kembali mengingat penjelasan Chanyeol kala itu dari balik pintu. Hanya saja Baekhyun masih belum tau bagaimana bersikap. Terus membenci atau memaafkan? Entahlah, dia bingung.

"Baekhyun, pikirkan kembali semua ini. Tidak bermaksud memaksamu membuka maaf untuk Chanyeol, itu semua terserah padamu. Biarkan Chanyeol memberi penjelasan sejelas-jelasnya agar kau sendiri tidak terjerumus dalam kesalah pahaman. Itu akan melelahkan posisi kalian berdua, Baek. Percaya padaku, tidak ada yang buruk dari mendengarkan penjelasan. Dan setelah itu kau berhak memutuskan, membenci atau memaafkan."

.

.

Luhan sudah terlelap jauh kealam mimpinya ketika Baekhyun tak kunjung menemui rasa kantuk. Matanya senantiasa terjaga dengan perasaan yang tidak tau harus ia apakan. Semuanya terlalu rumit dan membingungkan hingga terkadang Baekhyun harus mendengus sedikit jengkel karena mendadak tidak memiliki keputusan yang tegas.

Chanyeol, lelaki itu penyebab terbesar mengapa sampai saat ini Baekhyun belum juga terlelap. Dalam keterjagaan matanya Baekhyun memikirkan banyak hal mengapa hubungan dengan Chanyeol bisa serumit ini. Tidak pernah terbayang dalam benak Baekhyun jika mencintai Chanyeol dengan segenap ketulusannya juga bisa memunculkan benci.

Penjelasan Luhan tentang sebuah kesempatan yang Chanyeol inginkan memang benar-benar tepat sasaran. Luhan banyak meletakkan kebenaran dari logikanya sebagai pihak netral; tentang mengapa Chanyeol bisa mengambil keputusan itu dan Baekhyun yang terlanjur terombang-ambing oleh rasa kecewa.

Bagaimanapun dia butuh kejelasan. Terlepas nanti seberapa besar Chanyeol berandil dalam semua kekacauan ini, Baekhyun tetap harus tau mengapa masalah harta bisa merubah keadaan semakin buruk.

Sudahlah, Baekhyun bingung. Sebaiknya Baekhyun tidur.

Tapi ketika ia sudah akan memejamkan mata dan menjemput mimpi indah, mata Baekhyun menangkap kotak merah yang sedari tadi ia biarkan tertutup. Baekhyun tidak tau apa isinya dan untuk apa. Dengan keraguan yang tergambar jelas dari kelentikan jarinya, Baekhyun membuka kotak merah itu dan menemukan sebuah cincin cantik dengan dua mata berlian. Dadanya seketika bergemuruh—terlalu berdebar untuk sebuah cincin seindah ini.

Di sela kotak merah itu Baekhyun menemukan secarik kertas berwarna merah hati dengan tulisan I'm Sorry, I Love You

Baekhyun sempat tertegun dengan keharuan yang membuncah. Di saat dia masih memiliki rasa kecewa pada Chanyeol, lelaki itu justru mengukir sebuah cerita kontras dari kekacauan ini. Bagaimana Baekhyun harus menyelesaikan ini semua? Dia bingung.

.

.

Pada akhirnya Baekhyun bisa menyelesaikan studinya dengan penuh kepuasan. Tugas akhirnya telah ia pertanggung jawabkan pada para penguji sidang demi mencapai sebuah kata lulus. Baekhyun senang ketika bisa menuju puncaknya sebagai seorang mahasiswa. Beribu syukur ia ucapkan ketika para penguji mengatakan Baekhyun lulus dengan nilai memuaskan.

Kebahagiaan itu tidak ia nikmati sendiri. Ada Luhan yang juga sama tegangnya menunggu di depan ruang sidang ketika sahabatnya sedang bertarung bersama tugas akhir. Senyum Luhan berkembang sangat lebar ketika Baekhyun keluar dan memeluknya erat. Dengan air mata haru Baekhyun berkata jika dia berhasil menyelesaikan semua ini.

Sehari sebelum sidang Luhan berkata jika Chanyeol juga akan datang. Tapi kenyataannya setelah beberapa saat Baekhyun keluar dari ruang sidang, ia tidak menjumpai eksistensi lelaki itu. Ekor matanya terlihat menelisik sekitar dan Luhan tau apa yang sedang Baekhyun cari.

"Chanyeol tidak bisa datang karena ada rapat penting. Tapi ia menitipkan ini untukmu."

Satu buket mawar merah segar Baekhyun terima dengan ragu. Bukan mawar ini yang ia inginkan, tapi kedatangan lelaki itu untuk sekedar memberinya semangat atau senyum kecil pertanda dia turut bahagia dengan kelulusan Baekhyun.

Tapi sudahlah, memang siapa dirimu Baekhyun? Kau sudah memutuskan membangun tembok dan bukan salah Chanyeol jika dia tak lagi memprioritaskanmu. Chanyeol itu orang sibuk, banyak yang harus dia lakukan untuk kekayaannya. Dan datang ke sidang Baekhyun bukanlah sebuah bisnis yang bisa menambah pundi-pundi kekayaan Chanyeol.

Dan untuk itu, Baekhyun mencoba tidak mengeluh ketika dipaksa menelan pil pahit kenyataan ini.

.

.

"Cafe depan kampus pukul 4 sore." Begitu kata Luhan sebelum menutup obrolan di telfon.

Luhan mengatakan jika Chanyeol sangat berharap bisa bertemu Baekhyun untuk membicarakan sesuatu yang penting. Tidak tau sepenting apa hingga Chanyeol tidak langsung datang ke rumah tapi justru meminta bertemu di suatu tempat.

Semenjak membangun tembok pendiaman untuk Chanyeol, Baekhyun memutus segala kontak dengan lelaki itu. Bukan apa-apa, Baekhyun hanya ingin tenang sejenak tanpa terusik dengan urusan warisan atau tetek bengek yang ingin Chanyeol jelaskan secara terperinci. Dia sudah muak akan hal itu dan berlaku acuh untuk kedepannya. Selain karena tidak tertarik, Baekhyun juga merasa tidak memiliki urusan. Bentuknya saja dia tidak tau jadi untuk apa berlarut-larut mengurusinya?

"Bagaimana kabarmu?" Chanyeol membuka pembicaraan dengan suara yang tenang.

Sebenarnya dia sudah menyimpan banyak rindu untuk Baekhyun. Ada banyak kisah di malam-malam lalu dimana dia seperti merasa hampa karena Baekhyun tak terlihat dan terasa oleh kulitnya. Rindu ini sungguh tidak tau diri, menguar dengan cara halus dengan intensitas yang berlebih. Efeknya ketika ia bertemu dengan rindunya yang cantik, Chanyeol kini mengulum senyum lebar dan tak tau bagaimana ia bisa kembali merasa jika dunianya telah kembali meski hanya beberapa persen.

"Aku baik." Baekhyun menjawab singkat. Meski tak ada kilat kebencian dan kemuakkan di sana, tapi Baekhyun juga belum berniat menautkan pandangan penuh kasih seperti yang pernah ia berikan dulu. Dia butuh menetralkan semuanya.

"Syukurlah. Aku senang jika begitu."

Kemudian mereka sama-sama larut dalam keheningan; sibuk dengan perasaan masing-masing yang terlampau kuat untuk di cegah.

"Selamat sudah sidang. Maaf aku tidak bisa datang karena ada rapat penting."

"Ya, tidak apa. Kehadiran Luhan saja sudah cukup bagiku,"

"Apa rencanamu setelah ini?"

Baekhyun menggeleng kecil. "Belum tau. Mungkin mencari pekerjaan untuk menghidupi anakku kelak."

Lalu hening lagi. Baekhyun sebenarnya ingin mengacuhkan apa yang ada di depan matanya, tapi dia mendadak goyah oleh perasaannya sendiri. Sudut matanya diam-diam mencuri pandang pada serupa wajah tampan yang nampak tak terurus. Kumis tipis menghiasi, lingkar hitam mata yang membesar, juga bibir pucat yang sedari tadi berucap kata dengan nada pelan. Seburuk itukah keadaanmu tanpa aku?

"Tidak bisakah kita kembali?" Chanyeol berkata langsung pada intinya karena sebenarnya ia terlalu lelah menahan. Sejauh ini dia terlihat kuat ketika tidak ada Baekhyun di sampingnya, tapi sesungguhya itu adalah keterpurukan paling mendalam yang membuat setiap nafas Chanyeol bernada penuh rindu akan Baekhyun. "Maaf jika ini terdengar egois tapi aku seperti mayat hidup saat ini. Aku..aku ingin kau kembali, Baekhyun."

"Untuk?" Baekhyun terdengar dingin dari nada bicaranya. "Untuk mengurus warisan yang kau ributkan bersama ayahku—ah, bukan, maksudku bersama Byun Taekwon."

"Aku merindukanmu. Semua yang ada pada diriku sangat merindukanmu."

"Rindu saja tidak cukup untuk membuatku yakin, Chanyeol."

"Lalu apa? Katakan. Aku akan melakukan semuanya."

"Kita berpisah." Baekhyun meletakkan telunjuk peringatan ketika Chanyeol akan melayangkan protes. "Sementara. Sampai aku bisa menata kembali apa yang sudah kau hancurkan. Aku juga perlu waktu, Chanyeol. Ini semua terlalu sulit."

"Jangan berpisah, aku tak bisa." Baru kali ini Baekhyun melihat mata itu memohon dengan harga diri yang sudah tak berbekas. Chanyeol yang penuh kuasa mendadak luntur hanya karena wanita seperti Baekhyun.

"Hanya sementara sampai aku bisa lebih baik. Setelah itu mari kita bicarakan lagi."

"Tapi—"

"Ku mohon, jangan memaksa apa yang sudah ku putuskan."

"Baiklah." Chanyeol berusaha tersenyum meski ada sesuatu yang terlalu menohok dalam hatinya. Berpisah dengan Baekhyun ternyata rasanya sangat sakit. Chanyeol mendekati kata rapuh jika harus terus bertahan. "Dan tentang warisan itu—"

"Bisakah kita tidak membicarakannya?"

"Tidak. Aku harus membicarakannya agar kau juga tau, Baek. Kau berhak tau dan harus tau."

"Chanyeol—"

"Baik, aku tidak memaksa. Tapi yang jelas kau harus tau tentang ini. Sekarang ataupun nanti, kau harus tau."

Dan Chanyeol yang keras kepala rasanya telah kembali meski tidak ada paksaan di sana. Baekhyun mengambil satu nafas sedikit panjang sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri pertemuan ini. Dia tidak ingin terlarut banyak-banyak oleh rasa rindu yang mulai merecoki untuk ikut ambil suasana dalam pertemuan singkat ini.

"Aku harus pergi. Ada beberapa urusan di kampus."

Mereka hanya sedang tidak baik membenahi masalah. Egoisme masih menjadi dasar mengapa semua menjadi begitu susah untuk diselesaikan dengan kepala dingin.

.

.

Baekhyun baru saja menyelesaikan urusan beberapa berkas kelulusannya di kantor administrasi kampus. Pengurusan yang Baekhyun lakukan tergolong mudah karena Baekhyun tak memiliki beban apapun yang bisa menghambat pengurusan berkas kelulusannya. Senyumnya mengembang kala keluar dari ruang administrasi karena dalam waktu dekat namanya akan bertambah sebuah gelar.

"Iya Lu...minggu depan aku bisa mengambilnya.." yang pertama Baekhyun hubungi adalah Luhan. Belakangan ini Luhan seperti tempat bergantung baru setelah Baekhyun melepas ikatan hati dengan Chanyeol. Sedikit tidak sopan karena Baekhyun datang pada Luhan dalam keadaan tak memiliki tempat bergantung. Tapi beruntunglah dia ketika Luhan tak pernah mempermasalahkan apapun yang Baekhyun alami.

"Aku akan pulang sedikit terlambat. Aku harus—Oh, sial! Kenapa harus mati?"

Setelah percakapan dengan Luhan terputus karena ponsel Baekhyun yang mati, wanita itu melangkah ringan menuju ke luar kampus. Langit sudah mulai gelap dan beberapa lampu kampus mulai padam. Rencananya Baekhyun akan mampir ke supermaket sebentar membeli susu dan beberapa makanan untuk Luhan.

Sedikit banyak Baekhyun merasa tidak enak jika hanya menumpang tanpa memberikan sesuatu pada Luhan. Meski Luhan tidak pernah mempermasalahkan hal itu, tapi Baekhyun tetap harus membalas budi agar dirinya sendiri tidak terlalu merasa sungkan.

Dan ya, seharusnya Baekhyun pergi ke supermarket untuk membeli apa yang ia butuhkan, bukan malah berbalik arah dan berlari masuk ke gedung kampus. Itu semua beralasan, ketika beberapa lelaki tak dikenal tiba-tiba muncul menghadang di depan gerbang, Baekhyun merasa jika ia harus cepat lari.

Tidak tau seberapa cepat kakinya melaju karena Baekhyun hanya memikirkan bagaimana caranya bisa lepas dari para lelaki tak di kenal itu. Baekhyun tak tau urusan apa yang membuat mereka secara brutal mengejar Baekhyun yang mulai sempoyongan di langkah kakinya.

Baekhyun sudah menggapai lantai dua dan berlari tak tau arah di sana. Para lelaki itu terus mengejar bersama umpatan-umpatan karena Baekhyun tak menghentikan langkah setelah mereka mengancam. Apa yang harus dia lakukan? Teriakannya mulai menggema tapi mungkin tak akan bisa di dengar oleh siapapun karena kampus sudah mulai sepi.

Kakinya mulai mengalami kelelahan karena berlari tak tau arah. Tubuhnya juga mulai kehabisan tenaga dengan keringat yang mengucur begitu deras. Apa dia harus menyerah? Tidak tau apa yang mereka inginkan tapi dari cara mereka mengumpat, mereka pasti menginginkan sesuatu secara paksa. Baekhyun tak tau harus seperti apa lagi melarikan diri. Nafasnya sudah mulai pendek-pendek ketika derap langkah para lelaki itu mendekat dan mencengkeram kasar lengan Baekhyun.

"Apa yang kalian inginkan dariku?!" rontaan Baekhyun serupa angin malam yang lemah.

"Ikut kami?! Jangan melawan!"

Disisa tenaga itu Baekhyun meludahkan liur dari bibirnya dan membuat satu diantara mereka melayangkan tangan untuk menampar telak pipi Baekhyun. Peduli setan, itu pertahan terakhir yang bisa Baekhyun berikan sebelum akhirnya ia akan kembali bernasib buruk karena lelaki yang tak dikenalnya ini.

Sekiranya akan ada rasa panas dan anyir yang Baekhyun rasakan jika lelaki itu menamparnya. Tapi kenyataannya dalam beberapa detik setelah ia memejamkan mata erat-erat, tidak ada rasa seperti itu. Perlahan Baekhyun membuka mata dengan keberanian yang sudah mencapai limitnya. Samar ia melihat seseorang sedang tersungkur karena sebuah pukulan telak yang menghantam rahang. Matanya memicing sebentar dan setelah itu ia terbelalak karena Chanyeol adalah satu-satunya yang melayangkan pukulan telak hingga lelaki yang mengejar Baekhyun itu tersungkur.

"Chanyeol awas!" teriakan itu sekiranya terlambat karena Chanyeol telah mendapat balasan pukulan ketika lengah. Baekhyun melihat sudut bibir Chanyeol mengeluarkan darah dan lelaki itu mengerang di antara peluhnya yang mengucur. Beberapa lainnya yang mulai bisa bangun turut memberi kepalan tangan menyakitkan pada Chanyeol yang sempoyongan dengan dirinya sendiri.

"Kau baik, Baek?" sedikit kepayahan Chanyeol menghampiri Baekhyun dan memastikan keadaan Baekhyun.

"K-kau..b-berdarah.."

Bruk!

Bogem mentah itu kembali Chanyeol beri pada lelaki yang akan menghajarnya sebelum akhirnya ia menarik tangan Baekhyun untuk kabur. Jumlah mereka ada 3 dan Chanyeol sudah mulai kewalahan jika harus menangani sendiri. Ia mengajak Baekhyun kembali berlari sebelum para lelaki itu mengejar dengan bekas luka yang telah Chanyeol tinggalkan.

Keduanya menuruni tangga dengan langkah yang dipaksa lebih cepat. Para lelaki itu sudah mulai mengumpat dengan derap langkah yang sama memburunya. Chanyeol tak tau kemana harus berlari ketika ujung tangga telah tercapai. Matanya beralih kesana kemari mencari celah untuk bersembunyi sebelum para lelaki itu kembali datang.

"Masuk sini!" Baekhyun menarik tangan Chanyeol untuk masuk kesebuah ruangan gelap dengan bayangan rak-rak tinggi yang menjulang. Tempat pastinya Chanyeol belum tau tapi dari dugaannya ini seperti sebuah perpusataan. Aroma buku-buku bisa ia cium dengan jelas ketika Baekhyun menariknya berlari kesudut perpustakaan dan masuk pada pintu kecil di balik rak paling ujung.

Nafas keduanya belum bisa dilepas secara utuh ketika suara-suara umpatan itu masuk ke ruangan yang sama. Keduanya saling menggenggam tangan—menegang dengan jemari yang saling bertaut dan melupakan fakta jika mereka sedang berada di hubungan yang belum baik. Tapi situasi ini seperti mengenyahkan segala fakta yang ada karena melepaskan diri dari kejaran brutal para lelaki itu adalah satu-satunya tujuan.

"Mereka sudah pergi." Baekhyun menjadi yang pertama melepas tautan itu beserta nafas yang bisa ia hembuskan dengan kelegaan yang melimpah. Tangannya mengusap peluh yang membasahi wajahnya dan membuat dirinya terduduk membelakangi pintu.

"Kau baik? Apa kau terluka?" pertanyaan itu menyadarkan Baekhyun jika keadaan genting ini tidak ia lewati seorang diri. "Baekhyun, apa mereka menyakitimu?"

Chanyeol memeriksa tiap inci tubuh Baekhyun dan tidak menaruh peduli pada keadaannya yang cukup berantakan. Keringat mengucur, wajah pucat, dan luka di sudut bibir dengan darah yang mulai mengering.

"Aku baik, Chanyeol."

"Syukurlah." Barulah Chanyeol bisa menelan nafas lega ketika Baekhyun buka suara dan mengatakan keadaannya. "Maaf aku datang terlambat."

"K-kau, bagaimana bisa?"

"Hm?"

"Bagaimana bisa kau tau aku..aku sedang dalam bahaya?" itu yang menjadi pertanyaan Baekhyun sejak Chanyeol muncul. Seingatnya, mereka berpisah di cafe dan tidak ada lagi kepentingan yang membuat mereka saling bertemu.

"Aku menunggumu di depan." Chanyeol masih berusaha mengatur nafasnya yang memburu sebelum akhirnya ia memberi senyum kecil di antara luka bibirnya. "Aku tidak tau apa yang terjadi hingga kau berteriak sekencang itu. Dan saat aku datang, kau sudah dikepung oleh mereka. Maaf, ya, aku datang terlambat. Seharusnya aku bisa lebih cepat dan..dan—"

"Sudahlah, tidak masalah. Kita sudah selamat sekarang."

Chanyeol mengangguk kecil. "Mereka pasti orang suruhan ayahmu."

"Ya?"

"Ayahmu belum menyerah tentang harta itu, Baek. Dia melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Bajingan! Dia akan habis di tanganku!" umpatan Chanyeol memang tidak disertai nada tinggi, tapi percayalah disana terselip kemarahan yang tak bisa dihentikan oleh apapun. Jika Chanyeol sudah berkata demikian, maka hal itu benar-benar akan terjadi. "Baekhyun,"

"Y-ya?"

"Aku punya banyak hal untuk diberitahukan padamu. Sangat banyak. Untuk itu aku akan memberikan dua pilihan. Kau mau yang singkat atau yang panjang?"

Baekhyun diam. Dia tidak mengerti maksud dari pembicaraan Chanyeol.

Tapi sebenarnya itu karena Baekhyun yang kelewat peduli pada nafas Chanyeol yang masih pendek-pendek dengan luka lebam di wajahnya dan kepucatan yang tidak biasa.

"Pilih yang mana?" Baekhyun masih pada mode diamnya. "Oke, bagaimana jika yang singkat dulu? Sepertinya aku tidak memiliki banyak waktu untuk menjelaskan padamu."

Chanyeol terbatuk, memegangi dadanya dan berusaha untuk menegakkan tubuhnya meski itu terlihat seperti sangat susah.

Baekhyun mulai khawatir. Keadaan Chanyeol bukan sejenis keadaan yang lemah hanya karena kelelahan setelah keajadian tadi.

"Berkas yang kau tandatangani kala itu, sebenarnya berkas pendaftaran pernikahan kita." Dibalik minim cahaya ruang kecil ini, Baekhyun bisa melihat Chanyeol menyempilkan satu senyum kecil dari wajah pucatnya. "Aku sangat ingin kita menikah. Tapi..tapi keadaan kita masih belum baik." Decihan kesedihan Chanyeol berikan sebelum akhirnya ia kembali limbung dengan tubuhnya yang melemah. "Jadi..jadi jika kau tidak ingin menikahi lelaki brengsek sepertiku, kau bisa membatalkannya. Aku akan terima."

"C-chanyeol.."

"Maaf jika selama ini aku sudah membuatmu menderita. Kau benar, aku orang yang egois. Selalu mengedepankan apa yang ku inginkan tanpa peduli perasaanmu."

Ini tidak baik ketika Chanyeol semakin sulit mengatur napas sedang Baekhyun tidak tau harus berbuat apa. Dia mencengkeram lembut tangan Chanyeol—mencoba memberi penekanan jika dia harus bertahan.

"Setelah ini kau bisa bebas. Kau bisa melakukan apapun yang kau mau dan jangan pedulikan Byun Taekwon. Polisi akan segera menangkapnya. Tapi..tapi..ku mohon, jika anak dalam kandunganmu lahir, katakan padanya jika ayahnya sangat mencintainya. Katakan..katakan jika ayahnya ingin memeluknya."

Chanyeol mencapai batas limit untuk tetap bertahan. Setelah beberapa kali mengerang tertahan untuk sesuatu yang terasa sangat menyakitkan, dia menyerah dan memilih untuk tidak memaksa diri terlalu jauh.

"Baekhyun, boleh aku pinjam pundakmu?"

"U-Untuk?"

Belum sempat Chanyeol menjawab pertanyaan itu, kepalanya terkatuk bersandar di bahu Baekhyun dengan mata terpejam penuh. Jangan ditanya bagaimana keterkejutann Baekhyun, wanita itu menepuk pipi Chanyeol berkali-kali dan berharap kesadaran masih tersisa. Tapi wajah pucat Chanyeol seolah menjelaskan jika keadaannya tidak terlalu baik untuk terus sadar setelah pergolakan dengan para lelaki itu dengan keadaan fisik yang tidak terlalu baik.

Dan tangis Baekhyun pecah.

.

.

TBC lagi

.

.

Basyot : chap kemarin kan bilang ini bakal jadi klimaks, tapi ternyata masih menye-menye macem ini. Wkwk.. maaf ya?

Kalian pasti udah bosen ya sama cerita ini? Chap depan deh janji di klimaks-in biar gak bosen lama2 hehe...

See you in chap 12, i'll update it as soon as possible

Cukup pantengin ig ayoung di parkayoung_ buat info update2an hehe..

Selamat hari raya idul fitri, maaf lahir batin bila Ayoung banyak salah sama kalian. Yang perlu kalian tau kalo Ayoung itu sayang banget sama kalian meski update-nya molor kek kolor Sehun hehe..

saranghae :*