Disclaimer: Merlin BBC belongs to Johnny Capps and Julian Murphy

.

.

Chapter sebelumnya:

"Pikirkan saja segi positifnya. Setidaknya kali ini kau bisa tutup usia bersamaku bukan?"

Merlin terkekeh geli. Arthur memang selalu mempunyai cara aneh untuk menenangkannya.

Dentuman terakhir terdengar.

Lalu semuanya menjadi sunyi dan gelap.

.

.

.

CHAPTER 11

.

.

Suara desir angin bermain dengan dedaunan, melantun memenuhi indera pendengaran Merlin. Seiring terkikisnya dinding kesunyian yang entah telah berapa lama melingkupi gendang telinganya.

Embun pagi yang sejuk menyapa kulit pipi Merlin dengan lembut, seakan berusaha membangunkan pemuda itu dari mimpi terburuk.

Pemilik helaian hitam kecoklatan berhasil meraih alam sadarnya kembali, namun belum mampu menemukan kekuatan untuk membuka kelopak mata. Dalam diam ia mengerang, ketika mencoba menggerakkan kepala. Meringis di balik ekspresinya yang masih beku saat ratusan jarum tipis tak terlihat seolah merajam daging. Seluruh syaraf terasa kaku serta otot seakan terpilin ke berbagai arah. Menggunakan sihir melampaui batas kemampuannya sungguh membuat raga Merlin lemah.

Di sela rasa sakit meraja, Merlin sadar akan perubahan keadaan. Ia tak lagi dapat mendengar suara jeritan ataupun pekik panik. Tidak juga suara denting berepetisi ataupun gemuruh. Merlin kini hanya bisa menangkap kicauan melodik burung-burung yang berterbangan di angkasa, serta gemericik air sungai mengalir di kejauhan.

Aura gelap Mordred yang begitu dahsyat pun tak dapat ia rasakan, seolah druid muda itu telah lenyap tertelan bumi.

Namun bukan semua kejanggalan itu yang membuat Merlin cemas. Sebongkah kekhawatiran hinggap di benak, ketika sang penyihir tak lagi merasakan kehangatan jemari Arthur di telapak tangannya.

Jari-jari ramping dan dingin bergerak kecil, berusaha keras menemukan keberadaan sang raja. Tetapi upaya Merlin tidak membuahkan hasil. Jemarinya hanya dapat meremas kehampaan. Ia merasakan denyut nadinya mengencang.

Meski kegelisahan bergelayut, Merlin paham bahwa kekalutan tak akan memperbaiki keadaan. Ia yakin Arthur tidak akan mati semudah itu. Mengenyampingkan rasa cemas, Merlin pun memutuskan untuk mencoba tenang dan menghimpun tenaga.

Ditariknya napas dalam-dalam, namun segera terhenyak tatkala merasakan udara segar berlomba mengisi paru-parunya. Lelaki itu punya alasan kuat untuk merasa heran. Sejak berpuluh-puluh tahun lalu, hidungnya hampir tidak pernah lagi mencicipi udara sebersih itu. Polusi yang semakin hari semakin pekat, telah merenggut kemurnian oksigen penopang hidup manusia.

Dibiarkannya kehangatan mentari pagi menyibak selimut dingin yang merengkuh erat tubuhnya. Ia pasrah tatkala semilir angin dengan gemulai menghapus keringat bercucuran di atas pori-pori.

Usahanya tidak sia-sia. Sedikit demi sedikit kekalutan di hati Merlin beranjak pergi. Energi yang sempat hilang pun berhasil ia kumpulkan.

Kelopak Merlin perlahan terbuka, sinar sang surya dengan ramah menyapa iris sebiru langit. Mata jernih sang penyihir muda berkedip pelan, berharap agar pandangan yang buram segera sirna. Berada cukup lama terperangkap dalam kegelapan pekat membuat Merlin kesulitan untuk bisa melihat dengan jelas.

"Arthur...," bisik Merlin tercekat.

Tak ada sahutan.

"Arthur," panggilnya sekali lagi setelah menelan ludah demi membasahi tenggorokan yang kering.

Hening.

Resah, tubuh ramping itu berguling ke kanan dan membentangkan pengelihatan ke sekeliling. Dari rimbunnya pepohonan besar tinggi menjulang serta tebalnya semak belukar, Merlin sangat yakin kalau ia kini tengah berada dalam sebuah hutan.

Tapi... hutan apa ini? Batin Merlin berucap. Hanya terdapat dua hutan di sekitar kota tempat Merlin tinggal, dan pemuda itu berani bertaruh bahwa ini bukanlah salah satunya.

Masih gemetar, Merlin berupaya mengangkat badan bagian atas untuk duduk.

Kenapa aku masih hidup? Apa yang membawaku ke sini? Apa yang terjadi pada Mordred? Dan... dimana Arthur?

Kepala Merlin berotasi serta menajamkan fokus pandangan, kembali mencari sang raja. Namun tak lama terhenti ketika netra mendapati sosok bersurai pirang berada tak jauh dari tempatnya terbaring.

Bandul kembar biru Merlin membulat lebar menyaksikan laki-laki yang ia kasihi tampak terbujur diam, terlentang menatap langit dengan kelopak mata tertutup. Rona kulit serta bibir raja Camelot itu terlihat begitu pucat seakan kehidupan telah meninggalkan jasad.

Satu pintasan dalam benak Merlin berhasil mengaduk seluruh isi perutnya, hingga rasa mual menguak tanpa bisa ia tahan.

Tidak mungkin!

Segenap tenaga Merlin kerahkan agar dapat berdiri. Tanpa menghiraukan pening di ubun-ubun, pun ngilu di raga, secepat itu pemilik rambut hitam kecoklatan melesat. Rasa takut akan kehilangan Arthur memberinya kekuatan luarbiasa untuk menyeret kedua kaki panjangnya yang masih enggan bergerak.

Sembari berlari, suara hati Merlin tak henti menyebut nama Arthur bak tengah merapal mantera, sebelum akhirnya jatuh berlutut tepat di samping temannya.

"Arthur!"

Baju Arthur langsung menjadi sasaran cengkeraman tangan bergetar milik Merlin. Diguncangkannya tubuh kaku itu beberapa kali.

"Arthur, buka matamu!"

Peristiwa kematian Arthur di hutan tak jauh dari danau Avalon, tiba-tiba memaksa hadir kembali di sudut pikirannya.

Merlin belum menyerah. Tepukan yang cukup keras ia layangkan ke pipi Arthur. Ia tidak peduli jika nanti pemilik pedang Excalibur itu marah, mencaci maki ataupun mendaratkan pukulan kecil di belakang kepalanya. Merlin hanya ingin bisa melihat permata indah di balik jejeran bulu mata pirang tersebut.

Nihil. Arthur tetap saja terdiam tanpa bergeming.

Merlin tidak mampu mencegah panas menyengat di wajah ovalnya. Ia tak kuasa melawan hantaman emosi yang meluap bersama dobrakan butiran bening melalui pelupuk.

Mustahil... ia tidak mungkin meninggal...ia tidak boleh mati!

"Arthur, kumohon bangunlah! Jangan berani-berani kau pergi! Ini bukan takdirmu! ARTHUR!" pekik Merlin seraya menggelamkan muka di atas kokohnya dada Arthur.

Merasa gagal untuk kesekian kali, umpatan serta sumpah serapah pun lepas dari sela bibir kering tanpa dapat ia tahan. Sungguh, Merlin sangat tidak mengerti takdirnya.

Merlin begitu tenggelam dalam kesedihan, hingga sebuah bisikan parau luput dari pendengarannya.

"Aku menunggumu selama 1400 tahun seperti orang bodoh, jadi jangan buat penantianku menjadi sia-sia!" pinta Merlin lirih.

"Mer... lin..."

"Aku hidup untuk melayanimu. Aku hidup demi menjalankan kewajibanku melindungimu!"

"Merlin..."

"Arthur, kau tidak boleh mati... ada hal yang belum sempat aku katakan. Aku... aku... mencin—"

"MERLIN!"

Teriakan lantang menabuh gendang telinga Merlin, mengejutkan serta memutus kalimat pengakuan yang hampir tuntas. Kebingungan, pemuda berambut tebal itu menoleh ke arah suara.

Merlin terbelalak saat ia sadar sapphire milik Arthur tengah menghujaninya dengan tatapan sengit.

"Damn it, Merlin. Kau ini berisik sekali! Tidak bisakah kau membiarkan aku istirahat barang sejenak?!" bentak Arthur geram.

Tak ada jawaban keluar dari mulut Merlin yang menganga lebar. Rasa tidak percaya, takjub bercampur bahagia berputar memenuhi pikiran penyihir muda.

"Oh great. Sekarang kau baru bisa diam setelah mengganggu tidurku dengan suara mencicitmu. Terimakasih Merlin, terimakasih," gerutu Arthur sarkastik.

Sebuah ringisan tampak di wajah raja Camelot kala meremas rambut pirangnya. Tak berbeda dengan Merlin, Arthur pun merasakan nyeri menusuk di setiap syaraf tubuh.

Mengetahui Merlin masih memandangnya tanpa berkedip, Arthur mendengus. "Bisakah kau berhenti menatapku? Ekspresi dungumu itu membuat kepalaku bertambah pusing."

Akan tetapi, jauh di dalam palung hati, Arthur tidak bersungguh-sungguh atas ucapannya barusan. Sejujurnya, Arthur tengah berupaya keras menampis keinginan untuk merengkuh erat tubuh Merlin. Berusaha mengekang hasrat membasahi bibir kering Merlin, yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari bibir pucat miliknya.

Tersentak dari lamunan, Merlin menarik mundur wajahnya.

"K-kau... belum mati?"

"Jangan konyol. Aku hanya bisa mati setelah aku merasa puas membuatmu menderita," sambar Arthur ketus, tersinggung oleh pertanyaan Merlin.

"Kalau begitu aku tak perlu khawatir. Kau akan hidup dalam keabadian, karena nampaknya kau tidak pernah puas menyiksaku." Hangatnya kekehan renyah Merlin menggelitik relung sanubari Arthur.

Kemudian keduanya terdiam dalam senyap.

Merlin... apa yang telah kau lakukan padaku? Sihirmu kah yang menumbuhkan rasa aneh di dada tiap kali berdekatan denganmu?

"Ah, ngomong-ngomong...," Merlin memecah kecanggungan yang mengambang, "Kau pasti haus, kucarikan air untukmu ya. Rasanya aku mendengar aliran sungai di sekitar sini."

Belum sempat Merlin bangkit, tangan Arthur mengait jemarinya. "Tunggu dulu. Sebenarnya ini dimana? Bukankah seharusnya sihir penghianat itu sudah membunuh kita?"

"Aku tidak tahu. Aku sendiri belum bisa menemukan alasan kenapa kau dan aku masih hidup."

"Lalu Mordred?"

Merlin memberikan gelengan kecil. "Entahlah. Hanya ada dua kemungkinan yang dapat aku pikirkan. Pertama, Mordred sudah pergi jauh. Dan yang kedua, dia sudah mati. Karena aku sama sekali tidak bisa mendeteksi auranya."

"Kalau begitu aku ikut denganmu. Kita cari jawabannya bersama-sama."

Sang raja mencoba mengangkat tubuh, namun mengerang kuat. Benturan keras di punggung ketika menabrak pintu besi apartemen Merlin meninggalkan rasa sakit luarbiasa.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Merlin cemas. Dilingkarkan tangan di tengkuk Arthur untuk membantunya berbaring kembali.

"Pertanyaan bodoh. Kalau aku tidak apa-apa, tentunya sekarang aku sudah bisa berdiri bukan, dollop head?" Lingkar mata pemuda bersurai senada logam mulia berotasi kesal.

Membenarkan ucapan Arthur, Merlin tersenyum malu sambil menggaruk rambut indahnya.

"Tunggulah sebentar, akan kuambilkan minum untukmu. Setelah aku kembali, akan kusembuhkan punggungmu."

"Bagaimana jika ada musuh menyerang? Atau... atau binatang buas?"

Merlin terkikik geli dalam hati. "Apa aku tidak salah dengar? Raja Camelot yang tersohor—takut akan binatang buas?"

Pertanyaan Merlin terasa bagai gada raksasa yang melumat ego setinggi langit. Arthur pun berdalih, "Kondisiku sekarang ini tidak memungkinkan aku untuk melawan, Merlin. Aku butuh senjata!"

"Gunakan saja ini sebagai senjata," ujar Merlin sambil menyerahkan sebuah ranting berukuran tiga puluh sentimeter.

Alis pirang menukik tajam dan rahang Arthur mengeras. Bunyi gemeletuk gigi dari balik bibir Arthur sempat Merlin dengar sebelum ia terbirit-birit lari menjauh.

"Hei! Bagaimana aku bisa mempertahankan diri menggunakan benda kecil ini?!"

"Anggap saja itu Excalibur-mu!" seru Merlin yang telah menghilang di rimbun pepohonan.

"MERLIN!"

.

.

Terusik oleh bunyi pepohonan ditinggalkan hewan-hewan penghuninya secara tergesa-gesa, Arthur menyingkap tirai jendela jiwa yang sempat terpejam. Raga lelah ditambah hembusan angin sepoi membuat Arthur tak kuasa membendung kantuk.

"Merlin?"

Namun yang dipanggil tidak membalas.

"Sial. Kemana perginya si bodoh itu?" umpat Arthur.

Berpedoman pada sang penguasa langit siang yang telah sampai di titik tertingginya, Arthur sadar kalau Merlin sudah pergi lebih dari satu jam. Arthur yakin, jarak antara tempat itu dan sungai tidak mungkin lebih dari sepuluh menit berjalan kaki.

Mungkinkah Merlin tertimpa musibah? Bagaimana kalau dia tenggelam di sungai, atau terjatuh di jurang. Atau jangan-jangan... Mordred!

Memikirkan segala kemungkinan itu jantung Arthur berpacu cepat dan sensasi kekhawatiran menekan nadi.

Walaupun cengkeraman nyeri di punggung belum sepenuhnya sirna, tertidur lelap selama satu jam memberi cukup kekuatan bagi Arthur untuk bisa merubah posisi.

Baru saja Arthur mampu tegak di atas kedua kakinya, telinganya menangkap suara retak ranting kering di sisi kiri.

"Merlin? Kau kah itu?"

Kali ini suara dedaunan remuk terdengar di arah kanan, menyusul bunyi langkah-langkah berat berdatangan dari segala penjuru.

Sekitar lima sampai enam pria berperawakan tinggi dan besar muncul membelah rimbunnya semak-semak, memegang senjata-senjata tajam berupa pedang, pisau, tombak dan gada di setiap genggaman tangan. Hidung Arthur serta merta tertusuk bau keringat menyengat, ketika gerombolan itu maju mengelilinginya.

Anehnya, pakaian hitam lusuh dan rombeng yang mereka kenakan terlihat begitu familier bagi Arthur.

Tidak mungkin... Saxons*?!

"Well, well, well. Nampaknya perburuan kita hari ini mendapatkan hasil," ucap salah satu laki-laki berkuncir kuda dan berjenggot lebat sambil melambai-lambaikan pedang panjang berkarat.

"Menurutmu berapa koin emas yang bisa kita dapatkan kalau kita menjualnya di pasar budak?" tanya seorang lagi. Penampilannya tak jauh berbeda dengan pria sebelumnya. Berdaki dan bergigi kuning kecoklatan.

"Bajunya aneh sekali, mungkin dia berasal dari kerajaan terpencil. Tapi dia nampak sangat terawat. Tebakanku, cukup untuk berpesta pora selama sebulan," timpal yang lain.

Tawa puas menggelegar pun membahana.

"Diam!" potong sang raja Camelot. "Sampai kapan kalian hanya akan berceloteh di situ dan bertingkah seperti sapi kotor bergosip? Kurasa kalian sebenarnya tidak punya nyali untuk menangkapku. Ikuti saranku, pulang lalu mandilah. Bau kalian mengganggu penciumanku!" lanjutnya lantang tanpa tersirat ekspresi gentar.

"Sa-sapi? Sapi katamu?! Kurang ajar. Kau mau tahu rasanya mati ya, bocah tengik?!"

Mendengus sinis, Arthur pun membalas, "Maaf, aku sudah pernah mati satu kali, jadi aku paham betul bagaimana rasanya mati. Dan aku tak punya niat mati untuk kedua kalinya, apalagi di tangan manusia-manusia buruk rupa seperti kalian."

Arthur sigap memasang kuda-kuda. Meski belum pulih, saat ini ia harus melawan pria-pria barbar itu seorang diri. Tak bisa mengandalkan Merlin yang entah dimana keberadaannya.

"Sombong sekali pemuda ini! Lupakan pasar budak. Aku akan mencincangmu dan memberikan potongan tubuhmu pada binatang peliharaanku!" lengking si kuncir kuda.

Arthur menebar pandangan tak kalah mengancam. Seringai percaya diri mengembang lebar di wajah ksatria nomer satu itu.

"I'd like to see you try, Saxons."

.

.

Derap langkah kaki Merlin yang beradu dedaunan menimbulkan kebisingan, mengusik ketenangan hutan. Binatang-binatang kecil berlarian kocar-kacir pun tak diacuhkannya. Ia hanya ingin cepat-cepat kembali pada Arthur demi memberitahu sesuatu yang penting.

Ada keceriaan membalut wajah manisnya. Ada kegembiraan tak terbendung mengisi hatinya.

Sesampainya di tempat Arthur, ia menyibak semak lebat dan berseru, "Arthur! Aku sudah tahu dimana kita berada kini! Kita berada di—"

Kalimat Merlin terputus bersamaan langkah yang terhenti. Bola matanya membesar maksimal kala melihat pemandangan di hadapannya.

Tubuh-tubuh besar tak bernyawa bergelimpangan di atas rerumputan hijau. Sebagian dengan luka sayat menghiasi wajah. Sedangkan memar merah kebiruan tersebar di sekujur tubuh mereka.

Di samping jasad laki-laki cepak dengan lubang kecil di daerah leher, sang penyihir menemukan Arthur tengah berdiri setengah membungkuk. Punggungnya yang menghadap Merlin bergerak naik turun sangat cepat.

"Arthur... a-apa yang terjadi? Siapa mereka?" tanya Merlin cemas.

Melewati mayat-mayat, tangan pemuda dua puluh delapan tahun itu refleks menutup mulut dan hidung. Bukan bau darah yang mengusik Merlin, melainkan aroma tubuh menjijikkan. Ia berani bertaruh manusia-manusia ini pasti belum mandi selama setidaknya dua minggu.

"Prajurit Saxon," jawab Arthur di sela napas berderit.

"Apa?! Dan kau mengalahkan mereka—sendirian?"

Ketika Arthur memutar tubuh, tampak kucuran peluh berlomba menuruni helaian keemasan dan wajah lusuh Arthur, bercampur percikan-percikan noda merah.

"Apakah kau lihat manusia lain di sini yang bisa membantuku menghabisi mereka?! Kau ini kemana saja? Aku kira kau sudah mati masuk jurang, atau tercebur di sungai yang dalam. Memikirkannya saja membuat napasku sesak. Tidak tahukah aku sangat mengkhawatirkanmu?!" Kalimat demi kalimat Arthur tusukkan ke telinga Merlin.

"Kau... sangat mengkhawatirkan aku?" beo Merlin, dibarengi alis tebal melengkung ke atas.

Sadar perkataannya tadi bisa membuat Merlin curiga dengan perasaan yang mulai tumbuh di hatinya, Arthur melempar pandangannya ke sembarang arah. "Jangan besar kepala. Kau pasti salah dengar."

"Tapi kau baru saja bilang —"

"Oh, shut up!" potong Arthur geram.

Meski Arthur menyangkal, ada kehangatan tersendiri yang menyelimuti hati Merlin saat mendengar kata-kata Arthur itu.

"Lalu... dengan apa kau melawan mereka?"

Betapa terkejutnya Merlin manakala Arthur mengacungkan ranting pemberiannya. Cairan kental berbau anyir masih menetes dari sisi runcing benda itu.

Mustahil... ba-bagaimana bisa ia membunuh prajurit-prajurit besar hanya dengan memakai sebuah ranting kecil?!

Julukan ksatria paling perkasa dari kerajaan terkuat di Albion memang pantas Arthur sandang.

"Ah, bagaimana keadaan punggungmu? Izinkan aku sembuhkan ya?" Tangan Merlin terjulur, hendak memeriksa tubuh belakang Arthur. Namun segera ditampis oleh sahabatnya itu.

"Punggungku tidak apa-apa. Aku sudah merasa lebih baik," jawab Arthur berbohong seraya melangkah mundur.

Kening Merlin berkerut keheranan. Lebih baik? Padahal beberapa jam sebelumnya dia tampak begitu kesakitan dan sulit bergerak.

Walaupun merasa lega, tetap harus diakui ada sesuatu yang mengganjal perasaannya.

"Jadi... kau akan memberiku minum atau tidak?" Manik Arthur bergerak turun menyusuri tangan kosong Merlin.

Sebuah cengiran di bibir Merlin mengembang sebagai balasannya. Ia terlalu bersemangat menyaksikan apa yang ia lihat dari pinggir lembah, hingga lupa akan batang pohon kering berisi air yang ia ambil untuk Arthur.

Pemilik Excalibur hanya bisa mengusap wajahnya keras-keras.

"Baiklah. Kalau kau memang sudah pulih, ikutlah denganku. Ada yang ingin kuperlihatkan padamu. Kau bisa mencuci muka dan minum sambil menuju ke sana," ucap Merlin berbinar-binar. Pemuda itu segera merotasikan badan dan berlalu.

Terpaksa, Arthur mengikutinya dengan langkah gontai.

.

.

Sekitar setengah jam berjalan menyusuri jalan setapak kecil, Merlin memacu kedua kaki. Antusiasme terpampang jelas di rautnya.

Sementara beberapa meter di belakang, Arthur tidak berhenti menggerutu sambil sesekali mendorong ranting-ranting yang menghalangi.

"Ayolah Arthur, jalanmu pelan sekali. Bukankah kau tadi sudah cukup minum?" tegur Merlin tanpa menghiraukan geraman Arthur.

"Kau tahu, manusia membutuhkan hal lain selain minum untuk bertahan hidup, clotpole," ujar Arthur. Sebelah tangan ia letakkan di atas perut demi meredam orkestra nyaring yang sedari tadi merongrong.

"Aku tahu. Bertahanlah. Setelah melewati bukit kecil ini kita akan sampai."

Sedikit demi sedikit rimbunnya hutan semakin menipis.

"Sebenarnya kita ini mau kemana? Kenapa tidak kau katakan saja padaku?" rutuk Arthur lagi. Lapar membuat sang raja tak dapat berkonsentrasi pada keadaan sekitar.

Tak lama kemudian, tepat di tengah jalan lebar bercabang serta bertanah merah, Merlin berbalik. Merentangkan kedua tangan, ia berseru, "Lihat Arthur, apa kau mengenali tempat ini?"

Dengan malas Arthur melayangkan pandangan ke sekeliling.

"Tidak," jawab Arthur tiga detik kemudian.

Dengusan gemas berhembus dari katup pernapasan Merlin sebelum ia menghampiri sahabatnya. Dilekatkan kedua tangan pada pipi Arthur dan dipaksanya lelaki berambut pirang itu melihat sesuatu di ujung jalan.

"Lihat baik-baik, bodoh."

Dua buah kayu kehitaman berukuran besar berdiri di kedua sisi jalan. Di sisi kiri dan kanannya, batang-batang kayu berwarna senada yang disusun menyerupai pagar.

Namun sebuah benda di pucuk kayu besar itulah yang paling menarik perhatian Arthur. Gambar naga emas dengan sayap membentang ke atas terpatri di bendera merah cerah yang berkibar menantang angin.

Lambang kebanggaan keluarga Pendragon.

Mata Arthur menyipit, meyakinkan diri kalau ia tak salah lihat. Permata kembar bergerak kecil menggali ingatan masa lalunya.

Tatkala sadar dimana mereka berada kini, binar sukacita merebak dari bola matanya yang membulat.

"Tidak mungkin... lokasi ini... jalan ini... mu-mungkinkah?" ucap Arthur terbata. Jantungnya berakselerasi tak karuan.

Merlin menjawab dengan sebuah anggukan mantap.

Tergesa-gesa Arthur berlari menaiki tanjakan terjal di belakang Merlin. Beberapa kali ranting menyayat lengan, berulangkali batu tajam menggores tangan, tapi ia tak memedulikannya. Ia ingin segera sampai di puncak. Ia harus memastikan.

Setibanya di atas, pemandangan memesona yang sungguh tak asing lagi di pikiran langsung menyambutnya.

Arthur tercengang. Pusaran emosi berputar, menghisap semua kekuatan yang ia punya. Kedua tungkai mendadak lemas. Nyaris saja raja itu jatuh terduduk di tanah jika Merlin tidak cepat-cepat menahan tubuhnya.

Camelot...

Di hadapan Arthur, terbentang dinding-dinding landai lembah bebatuan coklat, merangkul luasnya hutan cemara hijau. Cahaya mentari memantul di atas air bersih yang melenggok anggun mengikuti irama aliran di sungai berkelok, menciptakan kerlip serupa permata.

Akan tetapi, bukan semua itu yang menjadi titik fokus Arthur.

Lekat di lingkar matanya, sebuah bangunan pusat pemerintahan kerajaan paling tersohor di Inggris abad ke-7.

Istana raksasa bertembok putih kecoklatan berdiri gagah di antara indahnya keagungan Tuhan, mengalahkan tingginya pohon terbesar yang ada. Bendera segiempat berlambang naga emas berkibar di setiap puncak bangunan tertinggi.

Menjulang ramping di sisi depan adalah dua menara pengawas dengan bel perunggu, siap dibunyikan kapan saja terjadi keadaan darurat.

Atap-atap berwarna abu tua terbuat dari bebatuan pilihan berharga mahal, menutupi menara-menara di bawahnya, tempat keluarga kerajaan serta para petinggi mengadakan rapat atau beristirahat. Tidak ketinggalan jendela-jendela berhias kaca mozaik beraneka warna yang menambah megahnya tampilan istana.

Tak jauh dari situ terdapat daerah yang disebut Lower Town, tempat rakyat jelata melakukan aktivitas sehari-hari. Rumah-rumah sederhana beratap jerami serta berdinding batu biasa terlihat beradu kontras dengan istana utama yang begitu mewah.

"Cubit aku," ujar Arthur tiba-tiba, setelah diam terpaku entah berapa lama.

"Apa?"

"Cubit aku," ulang Arthur tanpa mengalihkan iris biru lautnya dari istana Camelot.

Merlin berkedip tak mengerti.

"Aku hanya ingin memastikan kalau apa yang ada di hadapanku ini benar-benar nyata, Merlin."

"Tidak mau. Berjanjilah dulu kalau kau tidak akan memukulku setelah aku melakukan permintaanmu," tegas Merlin berkacak pinggang.

Menoleh pada Merlin, Arthur bersikeras, "Merlin! Turuti saja apa yang kuperintah—"

PLAK!

Arthur yang sama sekali tak menduga akan menerima pukulan keras di pipi, terhuyung dua langkah ke samping. Lelaki itu mengerjap sesaat sebelum menghujamkan tatapan tak sedap pada Merlin.

"What the hell was that for?!"

"Kau bilang kau ingin memastikan kalau kau tidak sedang bermimpi," jawab Merlin puas.

"Oi, kau ini tuli atau atau dungu? Bukankah aku memintamu untuk mencubitku? Kenapa malah menamparku?!" bentak Arthur seraya maju mendekati Merlin.

"Kulitmu itu keras seperti badak. Mencubit saja tidak akan cukup." Yang didekati beringsut dan bergegas mengambil langkah seribu menuruni lembah, menuju istana Camelot.

"Hei, jangan kabur! Kemari kau penyihir bodoh!"

.

.

Adegan kejar-kejaran berlangsung selama lima belas menit sampai keduanya memasuki hutan cemara.

Merasakan kembali tekanan di punggungnya, Arthur terpaksa memperlambat kecepatan kakinya. Berbeda dengan Merlin yang tetap memacu larinya, bermanuver selincah rusa jantan untuk kemudian menghilang di jalan berkelok.

Tak dapat mengejar Merlin lebih lama lagi, Arthur menghentikan langkah. Digapainya salah satu batang pohon besar untuk sejenak mengatur napas yang kian tersengal.

Sial, sejak kapan Merlin dapat berlari secepat itu? rutuk Arthur dalam hati.

Sambil menyandarkan kepala, Arthur sadar kalau ia tengah ada di hutan tempat ia sering berjalan-jalan bersama Guinevere memadu asmara. Hutan yang kerap ia gunakan untuk mengadu kekuatan fisik bersama para ksatrianya.

Arthur masih tak mengerti apa yang menyebabkan waktu berputar dan membawanya kembali ke Camelot. Pun alasannya.

Guinevere...

Pemilik Excalibur itu mengurut dahi penuh keringat. Di satu sisi, Arthur sangat bahagia mengetahui bahwa sebentar lagi ia dapat bertemu sang istri. Namun di sisi lain, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan dengan perasaannya pada Merlin.

Arthur mencintai Guinevere. Akan tetapi ia juga menyayangi Merlin.

"Arthur!"

Teriakan Merlin di kejauhan memutus pemikiran-pemikiran yang tengah bergelut di benak Arthur. Takut sesuatu telah terjadi pada Merlin, Arthur bergegas memacu langkahnya kembali.

"Arthur, jangan ke sini! Bersembunyilah!"

Suara Merlin bergema di ujung jalan. Tanpa menghiraukan peringatan, Arthur berbelok mengikuti arah kemana Merlin pergi.

Di daerah terbuka tak jauh dari istana, sekali lagi pemuda itu terhenti. Di sana, di depan Arthur, ksatria-ksatria berjubah merah berdiri mengelilingi Merlin. Salah seorang di antaranya tengah mengacungkan pedang besi tajam ke sisi leher sahabatnya.

"Merlin!"

Kehadiran Arthur mengalihkan perhatian empat belas mata dari Merlin yang berlutut di tanah. Sontak ketujuh prajurit itu menghunuskan pedang.

Merlin hanya bisa berdecak, menyesali kecerobohan Arthur.

"Kalian... ksatria Camelot?" ucap Arthur usai melihat emblem kerajaan di pundak chainmail mereka.

"Seharusnya kami yang bertanya padamu. Siapa kau dan apakah kau adalah rekan laki-laki ini?" tanya ksatria bersurai emas sebahu. Dari penampilannya, Arthur bisa tahu pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun yang mendekatinya adalah pemimpin para ksatria di situ.

"Kau tidak mengenalku?" Arthur balas bertanya keheranan.

Alih-alih menjawab, ksatria itu mengangkat pedang ke dada Arthur. "Jawab aku atau aku terpaksa menyakitimu."

Menyangka mereka adalah prajurit-prajurit baru, dengan santai Arthur mendorong pelan sisi pedang memakai kedua jemarinya. "Hei, tenanglah. Aku adalah Arthur Pendragon, raja Camelot. Berlaku sopanlah padaku."

Ekspresi terkejut sempat tampak di setiap wajah ksatria. Namun yang terjadi selanjutnya justru menambah rasa bingung di benak Arthur dan Merlin.

Bukannya berlutut atau membungkuk memberi hormat, para ksatria itu malah tertawa terbahak-bahak seolah tidak memercayai perkataan Arthur.

"Hei, sopan sedikit pada rajamu!" sentak Merlin. Ia berniat berdiri, tetapi dinginnya bilah tajam pedang mencegahnya.

Pemuda berambut sebahu berdehem sebelum berkata, "Tahukah kau kalau pernyataanmu tadi bisa membuatmu dijebloskan ke penjara?"

"Apa maksudmu? Aku ini Arthur Pendragon. Putera satu-satunya Uther Pendragon, mendiang raja Camelot terdahulu. Bawa aku ke istana sekarang, atau kalianlah yang akan kuhukum atas tuduhan penghinaan!" Emosi Arthur mulai memuncak.

Tak berbeda dengan Arthur, ksatria itupun hilang kesabaran.

"Baik. Berhenti bercanda. Camelot sudah tidak mempunyai raja selama lima puluh tahun. Raja Arthur telah wafat lima puluh tahun lalu dalam perang besar di Camlann!"

Keluarnya kalimat terakhir dari mulut pemuda itu menyambar bak petir di siang bolong bagi Arthur, tidak terkecuali Merlin.

"Mustahil. Permainan konyol macam apa ini?!"

Dengan geram ksatria bermata iris hijau pucat melekatkan ujung tajam pedang ke tenggorokan Arthur. "Apa aku kelihatan sedang bermain-main?!"

Manik sapphire Arthur mengamati jendela jiwa di depannya. Ada kesungguhan di dalam situ.

Di sudut mata, Merlin menangkap kepalan tangan Arthur mulai bergetar. Buku-bukunya berubah putih menyembunyikan perasaan berkecamuk.

"Sir Galahad, kita tak punya banyak waktu untuk melayani mereka. Acara peringatan hari ini akan segera dimulai," ucap ksatria berambut gelombang pada pemimpinnya.

"Peringatan? Peringatan apa?" tanya Merlin.

"Kalian benar-benar tidak tahu? Cih, sebenarnya dari mana kalian berasal? Seluruh Albion tahu kalau hari ini tepat satu tahun peringatan wafatnya ratu Guinevere."

Arthur dapat merasakan langit dan alam semesta roboh menimpanya. Jatuh serta hancur berserakan bersama kepingan harapan ke jurang kekecewaan tanpa berujung. Kebahagiaan yang baru saja datang, harus terenggut begitu saja. Lenyap tergerus kuatnya arus dukacita.

Guinevere... sudah tidak ada?! Aku bermimpi, ini pasti semua mimpi buruk!

Kepiluan pun tercermin nyata di air muka Merlin. Pernyihir itu tertunduk dalam-dalam, mencoba tegar untuk Arthur. Tapi getaran kencang di pundak tak dapat menyembunyikan perasaannya.

"Cukup sampai di sini sandiwara kalian. Ayo, bawa mereka ke istana. Biar Yang Mulia Bellnoir yang akan menentukan nasib kedua pria ini," titah ksatria berambut sebahu pada rekan-rekannya.

Dengan kasar prajurit-prajurit itu mengikat serta mendorong keduanya. Tidak ada perlawanan dari Arthur. Tatapannya kosong, hampa. Seluruh semangat sudah luluh lantak.

Hanya Merlin yang masih bisa menggunakan logikanya. Ia yakin ada alasan masuk akal kenapa dirinya dan Arthur terlontar ke jaman ini. Tapi apa?

Seperti kabel yang baru saja tersambung ke aliran listrik, tiba-tiba Merlin teringat sesuatu.

Mantera Mordred!

Sambil dipaksa berjalan, pemilik rambut hitam kecoklatan itu merogoh memorinya.

Mid thes ond min, thaes drycraeft sy fullendian. Aetynan thaes geat syifum andaga on alaetan fyrngemind.

Yang berarti...

Dengan darahnya dan darahku, sihir ini terlengkapi. Bukalah gerbang waktu, dan ijinkan sejarah kuno terulang kembali.

Mordred telah memutar balik waktu dengan sihirnya!

Tapi... kenapa kami terdampar di limapuluh tahun setelah kematian Arthur dan setahun setelah kematian Guinevere? Apa terjadi kesalahan saat Mordred mengucapkan mantera? Jika Mordred ingin agar masa depan tak mengenal Arthur, bukankah lebih baik jika dia memilih waktu sebelum kelahiran Arthur?

Pertanyaan tiada henti Merlin layangkan dalam hati.

"Ayo, naiklah ke atas kuda," ketus ksatria yang lain.

Merlin tak mengindahkan perintah itu. Ia tahu ia tidak akan mendapatkan jawaban atas segala keingintahuannya jika mereka berada dalam penjara. Maka Merlin berniat menggunakan sihir untuk membawa Arthur pergi dari situ.

Ia baru akan menghimpun energi ketika ia dikagetkan oleh kekuatan tak kasat mata yang telah terlebih dulu mendorong seluruh ksatria berjubah merah. Hantaman keras di tanah membuat mereka langsung tak sadarkan diri.

Secara sigap Merlin memutus tali yang mengikat mereka dengan sihir. "Siapa di sana?!" serunya seraya bersiaga.

Alis Merlin menukik tatkala seorang wanita berjubah putih panjang menutupi kaki, muncul dari balik salah satu pohon. Di kepalanya, melingkar sebuah mahkota perak sederhana berhias lambang Triskelion*

Mengangkat tangan sejajar dada, Merlin siap menyalurkan sihir. Berjaga-jaga andai wanita tersebut mempunyai niat tidak baik.

Seuntai senyum tulus mengembang di bibir semerah mawar mekar. Melenggok anggun, wanita berkulit putih halus itu menyapa Merlin.

"Aku tak berniat jahat. Kumohon turunkan tanganmu," pintanya ramah.

Wanita berusia dua puluh enam tahun mengeluarkan sebuah pedang bertahtakan emas dari balik jubahnya.

"Benda mulia ini tertinggal di hutan tempat kedatangan kalian. Kurasa pedang ini harus dikembalikan pada pemiliknya," ucapnya pada Arthur yang masih termangu.

Excalibur!

Merlin sama sekali tak menyangka pedang itu bisa ikut terhisap dalam putaran waktu.

"Ah, biar aku saja yang simpan. T-terimakasih." Ragu-ragu, Merlin menyambut Excalibur dari tangan mungil sang penyihir wanita.

"Siapa kau? Dan... kenapa kau membantu kami?"

Rambut hitam pekat bergelombang jatuh menyusuri bahu kala wanita bermata senada emerald itu menunduk, merendahkan tubuh untuk memberi salam.

"Namaku Elena. Aku ke sini untuk menyambutmu. Selamat datang kembali di Camelot, Emrys."

.

.

To Be Continued...

XxXxXxXxXxX

A/N: Yuhuuuuu, I'm baaaaaack! Anyone miss me? (*Not*) hihihi. Setelah setengah tahun vakum, author datang lagi membawa chapter 11 yang berisi 4k words ^_^

A little bit too... bertele-tele? Lack of descriptions perhaps? Hohoho, mari bantu author ini memperbaiki kesalahan menulis.

FYI, Elena is an OC of mine. Hopefully those who are still willing to read this fanfiction will like her. Don't worry, there WON'T be any romance between her and our handsome Arthur nor our sweet Merlin, huehehehe.

Terimakasih untuk yang sudah berkenan fave, masih berminat follow dan masih setia review ^_^

XxXxXxXxXxX

*Saxons: Suku barbar musuh kerajaan Camelot.

*Triskelion: Druids symbol - Three entwined legs that represents Past, Present, Future.