TRAP IN KONOHA

A fiction by Arisa Risarisarisa

Naruto©Masashi Kishimoto

Genre : Adventure, friendship

Rated : Teen

Warning : Typo, OOC, ide pasaran

Please enjoy reading

.

.

.

.

"Tuntun kami pada Naruto," ucap Shikamaru tiba-tiba membuat semuanya kaget

"Apa maksudmu Shikamaru?! Kenapa meminta hal itu padanya?!" teriak Lee yang tidak terima sembari menunjuk Naruto*future

"Apa kita punya pilihan? Hanya dia yang tahu lokasi Naruto!" balas Shikamaru dengan lirikan yang tajam pada Lee yang hanya bisa mendecih tak suka

"Kau serius?" tanya Naruto memastikan

"Aku tak pernah bercanda," ucap Shikamaru dengan wajah serius

Naruto sedikit tersentak setelah mendengar ucapan Shikamaru barusan, seringai tipis muncul diwajahnya tapi ia menutupinya dengan berpura-pura membetulkan letak kacamatanya tapi itu tak menutupi tatapannya yang tertarik pada sikap Shikamaru barusan, sementara yang ditatap hanya menampilkan wajah herannya 'ternyata yang ini juga sama ya' batin pemuda dari masa depan itu

"Heeii…aku menemukan gua!" teriak Chouji yang jaraknya cukup jauh dari teman-temannya sembari menunjuk-nunjuk sebuah mulut gua yang besar, para remaja itu lantas berlari menuju tempat Chouji

Naruto menatap sekilas dua motor yang penggunanya sangat ia kenal sebelum mengikuti teman-temannya memasuki gua itu, penerangan di gua itu sangatlah minim, hanya lilin saja yang terpasang didinding yang membentuk barisan yang menerangi isi gua itu, dengan menyentuh dinding itu mereka dapat mengetahui kalau dinding itu memiliki corak spiral. Sakura berjalan mendekati Naruto dan menepuk pundak pemuda itu pelan hingga langkah pemuda itu terhenti dan menatap Sakura, menunggu gadis itu mengutarakan pemikirannya

"Kau tahu ehm…dua benda itu apa? Aku penasaran dengan dua orang digambar itu, mereka…aku pernah melihat mereka bersama dengan Sasuke." Naruto langsung tahu arah pembicaraan itu, ia menatap langit-langit gua itu lalu menghela nafasnya. "Tidak, mereka orang yang berbeda," jawabnya sambil menutup kedua matanya, ia menghela nafas untuk kedua kalinya sebelum membalikkan tubuhnya menghada Sakura. "Ini akan jadi cerita yang panjang."

"Aku mendengarkan."

Para remaja yang berjalan tidak jauh dari mereka segera memasang telinga mereka untuk mendengarkan cerita Naruto

Naruto menelan paksa liurnya ketika akan memulai cerita yang menurutnya akan memakan waktu lama itu

"Saat itu…kakak sepupuku, Karin, akan mendemonstrasikan dan meresmikan hak paten atas mesin waktu yang ia dan teman-temannya ciptakan, aku ada dilaboratorium tempat ia bekerja untuk mengucapkan selamat secara pribadi padanya saat itu, tapi saat melewati sebuah ruangan, tanpa sengaja aku mendengarkan sebuah rencana, rencana jahat untuk Karin…"

Flashback

Naruto memasuki gedung laboratorium tempat Karin bekerja dengan santai, ia tak memerlukan serangkaian pemeriksaan seperti pengunjung lainnya, tempat itu sudah terlalu sering ia datangi hingga hampir semua orang disana mengenalnya dengan baik, ia tersenyum ramah pada satpam dan petugas resepsionis yang membalasnya dengan sapaan, "Sore Naruto-kun." Sebelum ia berjalan menuju ruangan tujuannya

"Profesor! Mereka akan meresmikan alat itu besok, apa yang harus kita lakukan?" Pemuda pirang itu berhenti berjalan saat mendengar suara seseorang dibalik pintu tempat ia berdiri saat itu, ia tidak ingin menguping tapi instingnya mengatakan kalau ia perlu tahu pembicaraan orang-orang didalam ruangan itu

"Kami telah banyak mengeluarkan uang untukmu dan kau gagal! Alat itu harus jadi milik kami apapun yang terjadi!" Suara bentakan dari seorang pria yang menurutnya cukup tua dari suaranya terdengar jelas tanpa perlu ia dekatkan telinganya pada daun pintu itu, mendengar langkah kaki yang mendekati pintu Naruto bergegas bersembunyi, seorang pria berambut putih karena usia dengan setelan jas hitam mahal keluar dari ruangan itu dengan diikuti oleh dua orang bodyguard-nya. Merasa ketiga pria itu sudah menjauh Naruto keluar dari tempat persembunyiannya, ia rapatkan tubuhnya pada pintu yang tidak tertutup dengan sempurna itu agar bisa mendengarkan pembicaraan orang yang masih berada diruangan itu lebih baik

"Jika kita tidak segera bertindak, kita akan kehilangan segalanya, profesor." Ucapan itu berasal dari pria yang menurutnya berusia sekitar setengah abad yang berdiri menghadap wanita yang berdiri memunggunginya, Naruto tidak bisa melihat wajahnya, tapi dari sikapnya ia tahu pria yang mengenakan jas lab itu sedang panik 'mungkin itu profesor yang dimaksudnya' pikirnya, ia tidak mengenal pria itu karena ini pertama kalinya ia mendengar suara itu setelah sekian lama ia mengunjungi laboratorium itu

"Aku tahu itu, apa situasi disini aman?" Suara wanita itu terdengar tidak asing baginya, tapi ia tidak bisa mengingat siapa pemilik suara itu

"Semua aman, petugas lab dan pekerja lainnya sudah pulang, hanya ada kita dan tiga orang itu."

"Kau…" ucap profesor itu menggantung, ia kemudian membalikkan tubuhnya menghadap pria yang menemaninya diruangan itu. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?"

Naruto membelalakkan kedua matanya, ia hampir saja terpekik kaget jika ia tidak segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia kenal wanita itu, ular betina yang hampir memisahkan kedua orang tuanya, instingnya berteriak kencang padanya untuk segera menyelamatkan kakak sepupunya itu begitu ia melihat seringai wanita itu, ia tidak tahu kenapa ia harus menyelamatkan Karin tapi begitu ia mengingat ucapan pria yang masih berada diruangan itu ia tidak bisa berhenti khawatir pada Karin

"Tentu, saya akan segera memerintahkan anak buah kita untuk melakukannya."

"Kalau begitu laksanakan."

"Hai' Anko-sensei."

Pria itu kemudian keluar dari ruangan sang profesor meninggalkan profesor itu sendirian yang kini meminum anggur nya dengan anggun. Seringai keji tercetak dibibir merah karena lipstik Anko saat melihat sekelebat bayangan yang berlari menjauhi ruangannya

"Rambut pirang itu mengingatkanku pada Minato," ucapnya yang kemudian meminum anggurnya hingga habis tak bersisa. "Ah…aku jadi merindukan mantan kekasihku itu."

Naruto berlari sekencang-kencangnya menuju sebuah ruangan yang diyakininya sebagai ruangan kakak sepupunya yang berada dalam bahaya

'semoga belum terlambat' harap Naruto sambil terus berlari

"Lepaskan aku!" teriak seorang wanita muda dengan rambut merah dalam cengkraman seorang pria bertubuh kekar

Naruto yang mendengar teriakan wanita barusan yang diyakininya sebagai suara kakak sepupunya langsung mempercepat laju larinya menuju asal suara tadi

"Jangan sentuh Karin! Lepaskan alat itu! Alat itu sangat sensitive!" teriak seorang pria yang memiliki rambut berwarna ungu keputihan dengan gigi-gigi yang seluruhnya adalah taring

Saat hampir mendekati ruangan Karin, Naruto segera menghentikan larinya karena banyaknya pria-pria bertubuh kekar dan beberapa orang yang diyakininya sebagai ahli bela diri yang menjaga ruangan itu, tiga orang dari pria-pria bertubuh kekar itu masing-masing mencengkram seseorang, mereka adalah Karin, Suigetsu, dan Juugo

Naruto yang melihat itu segera bersembunyi dibalik dinding terdekat, beruntunglah ia karena pencahayaan di laboratorium itu kini remang-remang, jadi ia bisa yakin kalau tak ada siapapun yang menyadari keberadaannya saat ini

"Sial! Haah…haah…aku terlambat haah…haah…" ucap Naruto pelan dengan nafas yang tersengal-sengal

'apa yang harus kulakukan sekarang?' tanya Naruto pada dirinya sendiri

"Kalian anak buak Anko, dimana dia?!" bentak Juugo pada pria yang tadi berbicara pada Anko diruangannya

Tap…

Tap…

Tap…

Pendengaran tajam yang terlatih milik Naruto mendengar suara langkah kaki yang mendekat, ia pun semakin merapatkan tubuhnya pada sisi gelap dinding dan menajamkan matanya untuk melihat siapa yang datang

"Aku disini," jawab Anko, ia berdiri tepat didekat tempat Naruto bersembunyi

'Anko' batin Naruto

Anko menolehkan kepalanya kesamping pada dinding tempat Naruto bersembunyi, senyum mengerikan terbentuk diwajahnya, matanya yang senada dengan onyx itu seolah beradu dengan langit cerah tanpa awan milik Naruto seolah mengejeknya kalau ia bisa lebih cepat daripada Naruto

"Bawa mereka!" titahnya pada anak buahnya yang langsung melaksanakannya. "Dan…bereskan tikus itu."

Anko kemudian berbalik dan pergi meninggalkan anak buahnya menuju mobilnya yang terparkir dihalaman depan laboratorium tempatnya bekerja, beberapa saat kemudian anak buahnya mengikutinya dengan membawa Karin, Suigetsu, Juugo, dan mesin waktu ciptaan ketiganya

"Aku bilang lepaskan aku!" teriak Karin sambil meronta dalam cengkraman pria yang membawanya, geram karena Karin tak mau menurut, pria itu pun menggendong Karin layaknya karung beras

Setelah Anko dan anak buahnya tidak terlihat lagi Naruto keluar dari tempat persembunyiannya dengan gigi yang bergemeletuk keras, ia benar-benar marah saat ini, marah pada mereka yang begitu kejam dan marah ada dirinya sendiri yang tak mampu melakukan sesuatu untuk menolong Karin dan dua rekannya. Tak ingin terlalu larut dalam kekesalannya ia pun berlari kencang mengejar Anko

Buugh…

Sebuah tinju menghantam keras pipi kanan Naruto hingga pemuda itu terjungkal kesamping kirinya, ia tidak mempersiapkan diri untuk serangan tiba-tiba seperti itu, 'ceroboh' pikirnya kesal. Seorang pria gemuk dengan jaket hitam bertuliskan 'MAMBA' dibelakangnya keluar dari dinding gelap tempat ia bersembunyi. Pria itu memiliki mata yang kecil berbanding terbalik dengan kepalanya yang cukup besar, namun hidung dan mulut pria itu juga cukup besar , kepalanya yang besar hanya ditumbuhi rambut-rambut halus, gelar pria mengerikan memang pantas disandang oleh pria bernama Mamba itu

"Cih…brengsek! Apa maumu?!" bentak Naruto sambil menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya

"Kami diperintahkan untuk menghabisi tikus pengganggu," ucap pria itu sebelum mengupil dengan wajah bodohnya

"Kami?"

Bugh…

Seorang pria lagi muncul dibelakang Naruto dan memukul kepala Naruto dengan pipa besi hingga menyebabkan Naruto jatuh tersungkur, pria itu memakai jaket hitam bertuliskan 'RAMBA' dibelakangnya, fisik Ramba sangat mirip dengan Mamba, dari hal yang kecil hingga yang besar sekalipun

"Akh….!" erang Naruto sambil berusaha berdiri. "Dua lawan satu, itu tidak adil," ucap Naruto yang telah berdiri tegak

"Tiga lawan satu," ucap seorang pria lainnya yang muncul sambil memainkan sebuah nunchaku, pria itu juga memakai jaket hitam bertuliskan 'DAMBA' dibelakangnya, dan Damba juga memiliki fisik yang mirip dengan Mamba dan Ramba, kemiripan pada ketiga pria itu membuat Naruto membulatkan kedua matanya

"Holy shit," umpat Naruto yang kemudian menyiapkan posisi bertarungnya, iris shapire-nya memandang liar ketiga pria yang kini berdiri beriringan. "Kalian kembar?!"

"Haha…ya, aku Mamba, mereka adikku Ramba dan Damba."

"Tapi kami disini tidak untuk berkenalan denganmu pirang, ayo kak…kita hajar tikus besar ini," ucap Ramba yang dibalas anggukan dari kedua saudaranya

Bugh…

Mamba memukul ulu hati Naruto hingga pemuda itu mundur kebelakang. Ramba berlari kencang menuju Naruto dengan tinjunya yang ia pukulkan mengarah pada kepala Naruto

Braak…

Naruto menggeser kepalanya hingga pukulan Ramba sukses membuat retak dinding dibelakangnya

'sedikit lagi…kepalaku bisa hancur jika aku tak menghindar tadi' batin Naruto

Bugh…

Naruto memukul dada Ramba hingga pria besar itu mundur sedikit kebelakang memberikan ruang pada Naruto yang akan melancarkan serangannya

Naruto melompat kekedua bahu Ramba dan duduk disana dengan kedua kakinya yang menggantung dibahu Ramba. Dengan kedua sisi telapak tangannya Naruto memukul sisi kiri dan kanan kepala Ramba hingga pria itu sedikit terhuyung kebelakang, tak sampai disitu saja, Naruto memutar tubuhnya hingga ia kini berada dibelakang Ramba, Naruto menjatuhkan tubuhnya dan membanting Ramba dilantai hingga terdengar suara bedebum yang keras

"Aakhh…!"

Bugh…

Damba memukul kepala Naruto dengan nunchaku-nya

"Urghh…" erang Naruto sambil memegangi kepalanya yang sakit yang ia yakini akan memar nantinya jika tidak berdarah

Damba kemudian mendekati Naruto yang masih kesakitan dan mengalungkan rantai nunchaku-nya dileher Naruto, kemudian ia menyilangkan tangannya hingga kedua besi nunchaku itu mengikuti gerakannya, dengan keras ia menarik kedua besi itu hingga rantainya mencekik Naruto

"Urghh…" erang Naruto sambil berusaha melepaskan rantai yang melilit lehernya

Ramba bangkit dari jatuhnya, menggelengkan kepala perlahan untuk menghilangkan pusing yang menderanya, kemudian ia mendekati Naruto dari belakang pemuda itu dan menjepit kedua lengan Naruto dengan lengannya

"Brengsek kalian!" maki Naruto setelah meludahi wajah Damba

"Beraninya kau…" geram Damba sambil menarik kedua besi nunchaku-nya hingga cekikan pada leher Naruto semakin kuat

'sial! Aku hampir tidak bisa bernafas' batin Naruto sedikit panik

Mamba mendekati Naruto, berkali-kali pria bernama Mamba itu memukuli Naruto seperti orang kesetanan, Naruto yang dikekang oleh kedua saudara Mamba tentu saja tidak bisa melakukan sesuatu untuk melindungi dirinya, namun satu kesempatan langsung dimanfaatkan oleh Naruto ketika Mamba sedang lengah, pemuda itu pun menendang selangkangan Mamba dengan kuat hingga pria itu jatuh tersungkur kebelakang. Dengan berusaha keras dan dengan kekuatan penuh Naruto menghantamkan kepalanya dengan kepala Damba hingga rantai nunchaku yang melilit lehernya terlepas, darah segar terlihat mengalir dari dahi keduanya, tak sampai disitu, Naruto menyikut kuat perut Ramba yang menahan kedua lengannya, ia lalu menarik tangan kanan Ramba dan membantingnya hingga tubuh besar Ramba menabrak tubuh Damba yang keduanya kemudian jatuh bersama

"Haah…haah…haah…"

Dengan rantai yang baru saja lepas dari lehernya Naruto berusaha menarik oksigen sebanyak mungkin untuk mengisi pasokan udara di paru-parunya

Tes…

Cairan merah dengan tekstur kental menetes dari dahi Naruto yang terluka akibat benturan dengan Damba

Mamba yang semula tergeletak akibat tendangan Naruto kini berdiri tegak sedikit jauh dari kedua saudaranya yang sudah tidak sadarkan diri, matanya yang kecil menatap tajam Naruto yang berdiri didepannya, seolah ada bendera tanda dimulainya pertarungan, kedua pria berbeda usia itu berlari menuju lawan masing-masing, tapi ternyata gerakan Naruto lebih gesit, pemuda itu berlari didinding dengan mudahnya dan melompat kepundak Mamba yang terpaku akan aksi Naruto barusan, teriakan Naruto menambah kesan dramatis aksinya sebelum ia memutar kepala Mamba hingga terdengar bunyi 'kraak' dari lehernya yang patah, pria itu lalu jatuh tersungkur setelah Naruto melepaskan kepalanya

"Haah…jangan berpikir haah…kalau kalian lebih hebat dariku huh…" Setelah menormalkan nafasnya Naruto berlari kencang menuju area parkir untuk menyusul Anko dan anak buahnya yang menculik Karin dan teman-temannya, namun setelah sampai disana mobil yang membawa kakak sepupunya itu langsung melesat kencang membelah jalanan

"Shit! Lagi-lagi terlambat!" Naruto melingkarkan tangan tangan kanannya didepan mulutnya, lalu memotret plat mobil yang membawa Karin dan teman-temannya dengan kamera mininya, Naruto lalu mengambil ponselnya dan menekan tombol panggilan cepat yang langsung terhubung pada sahabatnya, Sasuke Uchiha.

Tbc

Dari sini sampai chapter depan akan menjadi flashback soal penyelamatan Karin, sepertinya pertarungannya biasa-biasa aja ya, Risa harap kalian semua gak kecewa dengan chapter ini dan ingin terus membaca kelanjutan TIK

Seperti biasa Risa minta pendapat, kritik, dan saran teman-teman seputar TIK

Review please…