TITLE : LOVE QUADRILATERAL
DISCLAIMER: NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
PAIRING : GAAINO & SASUHINA
GENRE : ROMANCE/FRIENDSHIP
RATE : T
WARNING : OOC, ABAL, BANYAK TYPO, DAN KEEKSOTISAN LAINNYA.
Masashi Kishimoto-sama~ pinjam chara-nya, ya!
Iya!
THANKZ! ;3 -sakarepe dewe-
Chapter sebelumnya :
Tapi, ia sedang menggunakan tubuh Gaara dan ia masih harus melindungi Hinata. Sasuke tahu, tubuh Gaara tidak sekuat dirinya meski telah ia latih sebisanya dengan waktu yang ada. Apalagi Gaara tidak terbiasa berkelahi. Itu benar-benar menjadi poin minus bagi Sasuke.
"Ada hubungannya jika klien kami adalah Orochimaru," jawab Sasori tak kalah datar. Orochimaru? Kalau tidak salah ia seorang kriminal kelas kakap, batin Sasuke. Ia mulai berdo'a, semoga Hinata baik-baik saja.
Geng Akatsuki mulai mengurung Sasuke dan Hinata hingga merapat ke pojok jalan.
"Baiklah, permainan dimulai."
.
.
.
Chapter 11 :
.
.
05.00 PM
.
Sasuke semakin siaga saat mereka berusaha mendekatinya dan Hinata. Ia menyentuh tangan gadis bersurai indigo yang bergetar, memastikan bahwa Hinata masih berada di belakangnya.
Kakuzu, Tobi, dan Deidara mulai melayangkan pukulan dan tendangan pada Sasuke. Ia menghindar dengan lincah dan berhasil membalas mereka dengan beberapa pukulan. Melihat 3 anggotanya gagal mendekati Sasuke, Sasori memberi isyarat pada anggota yang tersisa untuk menyerang Sasuke.
Seluruh anggota Akatsuki minus Sasori melangkah maju dan semakin mempersempit ruang gerak Sasuke. Iris Jade Sasuke melirik ke kanan, kiri, dan depan dengan cepat, mengawasi setiap pergerakan musuhnya.
Sasori tertawa renyah. "Menyerahlah, Rei-san, agar kau tidak kehilangan tampangmu yang berharga itu. Lagipula, urusan kita akan beres bila kau menyerahkan Hyuuga-san," ucap Sasori, berusaha mempengaruhi jalan pikiran Sasuke.
Tapi apa guna? Sasuke adalah seorang pemuda tangguh yang sudah sering mengalami berbagai perkelahian sengit, ia hanya membalas, "Dalam mimpimu, Sasori."
Sasori mendesah. "Baiklah bila itu maumu. Kami akan menghabisimu di sini," ejeknya. Lalu ia memberi kode pada anggota yang lain untuk menyerang Sasuke. Sasuke menghindari setiap serangan dengan lincah meski ia tak bisa membalas. Tanpa ia sadari, ia dibawa menjauh dari Hinata.
Hinata yang berdiri gemetar di pojok jalan dihampiri oleh Sasori. Sasori memegang tangannya dan menariknya ke mobil. "Le-lepaskan aku!" pekik Hinata panik, ia meronta-ronta.
Perhatian Sasuke teralih oleh teriakan Hinata, ia menoleh dan terkejut. "Hinata!" Tepat setelah Sasuke berseru, sebuah bogem mentah melayang memasuki pertahanannya.
BUGH!
Sasuke terbanting ke tanah, ia segera bangkit dan menyapu darah yang keluar dari ujung bibirnya. Lalu, Sasuke kembali memasang kuda-kuda bertahan. Hinata ingin sekali berteriak memanggilnya, tapi ia tidak tahu, nama siapa yang harus diucapkannya pada orang yang membelanya mati-matian ini. Hinata hanya bisa meronta-ronta dari cengkraman Sasori.
"Ikutlah denganku, Hime," bujuk Sasori. Ia mulai kesal karena Hinata yang terus memberontak.
"Le-lepaskan! Kenapa aku?" tanya Hinata dengan terus meronta.
"Tentu saja karena kau umpan untuk memancing menteri, bodoh!" jawab Sasori kesal. Hinata tersentak, ia digunakan sebagai umpan untuk kakeknya? Gerakannya terhenti. Sasori memanfaatkan kesempatan itu dengan membanting Hinata ke pintu mobil. Sebelum ia berhasil memasukkan Hinata ke dalam mobil, Hinata kembali meronta hebat dan membuat kekesalan Sasori mencapai puncak.
Sasori menampar Hinata dan membuatnya kembali terbanting ke mobil, hanya saja yang kali ini lebih keras dan membuat kepala Hinata berdenging. Cairan merah mulai mengucur dari sela-sela rambut Hinata.
Mendengar bunyi bantingan, Sasuke kembali menoleh dan ia mulai emosi. "Lepaskan Hinata!" seru Sasuke. Seruan Sasuke yang lebih menyerupai teriakan menggetarkan tubuh seluruh anggota Akatsuki di jalan yang sepi itu. Mereka terpaku menatap Sasuke yang wajahnya mulai memerah karena emosi yang semakin meluap-luap.
Sasuke sudah tidak mendengarkan hati kecilnya yang berteriak agar ia berpikir dengan tenang. Sasuke menutup hatinya dan menggelapkan matanya. Pada detik selanjutnya ia meledak. Sasuke menghabisi seluruh anggota Akatsuki tanpa terkecuali, ia melirik pada sang supir, Kabuto. Kabuto ketakutan, dengan sengaja ia menabrak Sasuke hingga terbanting dan kabur.
Sasuke berjalan terhuyung dan jatuh terduduk di samping Hinata, tangannya mengelus pipi Hinata yang dialiri darah. Ia sudah kehabisan tenaga, tubuh dan tangannya berdarah, darah musuh dan dirinya.
Sasuke mengeluarkan ponselnya dan memencet 3 nomor yang diketahuinya sebagai nomor polisi. Ia memberitahukan lokasi dirinya dan merenggangkan genggamannya, membiarkan sang ponsel jatuh entah ke mana.
Lalu Sasuke membaringkan tubuhnya di samping Hinata dan mengelus wajah Hinata pelan. "Maaf," bisik Sasuke sebelum kesadarannya menghilang.
Tes!
Rintik hujan mulai berjatuhan membasahi bumi, mengguyur tubuh Hinata dan Sasuke yang terbaring di pinggir jalan. Air hujan menyapu darah mereka dan membawanya ke drainase terdekat. Tak lama kemudian, terdengar bunyi sirene mobil polisi.
.
.
Di saat yang sama, 05.00 PM
.
Ino berlari-lari kecil menuju ke sebuah café. Ia memasukinya dan segera menghampiri sebuah meja yang ditempati seorang pemuda bersurai raven. Dengan mimik bersalah ia berucap. "Gomenne. Tadi tou-san menelponku untuk menanyakan bagaimana syutingnya. Ia juga bertanya bagaimana keadaanku sampai sangat rinci. Benar-benar menghabiskan waktu," jelas Ino panjang lebar seraya mengempaskan pantatnya ke kursi.
Gaara tersenyum kecil. "Aku mengerti. Tentu saja ji-san khawatir tentang syuting 'pertama'mu 'kan?"
Ino tersenyum terima kasih. Tiba-tiba ia tersentak dan menepuk keningnya. "Astaga!"
Gaara mengangkat alisnya. "Ada apa, Ino?"
Dengan cemas, Ino menatap Gaara. "Ponselku tertinggal di kursi tempat syuting," ringisnya. Ino merutuki kecerobohannya dalam hati.
"Eh, umm… Gaara, aku pergi dulu, ya," ucap Ino. Baru saja ia bangkit dari tempat duduknya, sebuah tangan menahannya.
"Aku ikut," ucap Gaara. Tiba-tiba ia merasakan firasat buruk dan kepalanya sedikit berdenging.
Ino menatap Gaara. "Baiklah," ucapnya. Sebenarnya ia memang sudah berharap agar Gaara menemaninya. Syukurlah Gaara sudah mengatakan untuk menemaninya sebelum Ino mengajaknya.
Mereka keluar dari café dan langsung disambut dengan hembusan angin kencang. Helaian rambut Ino berkibar dan ia limbung. Gaara segera menangkapnya dengan melingkarkan tangannya di pinggang ramping Ino. "Hati-hati," ucap Gaara sambil membantu Ino berdiri.
"A-arigatou."
"Hn."
Angin kembali berhembus, Gaara menggenggam tangan Ino dan mulai berjalan. "Kau tidak kedinginan 'kan?" tanyanya cemas. Ino menggeleng, ia merapatkan mantelnya yang sedikit berkibar tertiup angin.
Mereka berjalan dalam sunyi, diselingi angin yang berhembus. Sesampainya di tempat syuting yang kini sudah mulai dibereskan, Ino melepaskan genggaman tangannya dan berlari menuju kursi yang tadi ia duduki, sementara Gaara hanya mengikutinya perlahan. Ino memekik gembira saat ia menemukan ponselnya.
Di saat bersamaan, angin kembali bertiup. Refleks, Ino menutup matanya agar terhindar dari debu. Saat ia membukanya, beberapa tiang lampu sorot di hadapannya bergetar dan mulai jatuh. Ino membeku, ia tak mampu bergerak sama sekali. Terputar di otak Ino bagaimana Kaa-sannya meninggal menggantikan dirinya.
Iris Aqumarine Ino sama sekali tak berkedip memandang tiang-tiang yang semakin dekat padanya. Ia hanya mampu mendengar teriakan dua orang yang disayanginya, Kaa-san dan… Gaara
"INO!" Setelah teriakan itu menggema di telinganya, Ino merasa dirinya didorong dan ia terjatuh. Ia segera bangkit dan memandang Gaara, Ino melihat darah yang mengalir dari kepala dan tangan Gaara yang tertindih tiang.
Suasana menjadi panik, para staf mulai berkerumun mengelilingi Gaara dan mengangkat tiang dari tubuh Gaara. Staf lain segera menelepon ambulans yang segera datang dalam waktu 3 menit dengan menerobos lalu lintas.
Hingga hujan turun, Ino tetap membeku di tempat, ia dibantu untuk berteduh dan duduk oleh beberapa staf wanita. Ino memandang Gaara yang digotong memasuki ambulans. Sejak tiang-tiang itu mulai berjatuhan, Gaara bagaikan ilusi Kaa-sannya di mata Ino. Napas Ino mulai memburu dan tubuhnya bergetar. Tak lama kemudian, terdengar jeritan para wanita yang mengerumuni Ino. Seorang penanggung jawab datang berlari-lari mendekati mereka. "Ada apa?"
Seorang wanita menyahut dengan raut khawatir. "Ino pingsan!"
.
.
.
Sasuke merasa tubuhnya seperti diputar-putar dalam sebuah dimensi lain, bukan dimensi nyata, tapi seperti, seperti, Sasuke tak tahu bagaimana cara menjelaskannya, dan semuanya gelap, ya, gelap. Tentu saja! Ia belum membuka matanya sama sekali.
Sasuke membuka kelopak matanya perlahan dan langsung menutupnya kembali saat kepalanya terasa sangat sakit. Ah, bukan hanya kepalanya, tapi tangannya juga, ia hampir tidak bisa menggerakkan lengannya sama sekali.
"Sasuke?"
Sasuke terdiam, usahanya untuk bergerak ia hentikan. Suara ini…
"Tou-san?" gumam Sasuke pelan. Ia dapat merasakan tangannya digenggam dan diremas lembut oleh… ayahnya? Benarkah ayahnya menggenggam tangannya? Bahkan meremasnya lembut? Mimpikah ia? Sasuke rasa tidak, karena sakit yang ia rasakan sedemikian nyata. Lagipula… bukankah ia seharusnya berada di tubuh Gaara? Apa ia sudah kembali ke tubuhnya?
Sasuke kembali mencoba membuka kelopak matanya yang terasa berat, samar-samar ia dapat menangkap gambar sesosok pria dengan guratan khawatir di dahinya berlatar pada dinding putih.
Pandangan matanya benar-benar buram dan baru pulih setelah Sasuke mengedip-ngedipkannya beberapa kali.
"Benar, Tou-san di sini, Sasuke," ucap Fugaku lembut. Ah, ternyata memang bukan mimpi. Kenapa ayahnya ada di sini? Bukannya ia harus bekerja dan terus berkutat dengan kursi kantor kesayangannya?
"Ini… rumah sakit di Konoha?" tanya Sasuke lirih. Ia menatap ayahnya sayu, matanya hanya mampu terbuka separuh dari yang seharusnya.
"Bukan, ini rumah sakit di Jeju," jawab Fugaku. Mata Sasuke melebar, ayahnya… datang ke Jeju dan meninggalkan pekerjaan demi dirinya?
Seolah mengerti pikiran Sasuke, Fugaku mengangguk. "Ya. aku datang karena mengkhawatirkanmu, Sasuke."
Fugaku mengambil segelas air putih dari atas meja dan menaruh sedotan di dalamnya. Lalu, ia menyodorkan sedotan ke bibir Sasuke. Sasuke membuka bibirnya dan membiarkan sedotan itu masuk ke dalam mulutnya.
Ia menyesap air putih itu perlahan dan meminumnya sedikit untuk membasahi kerongkongannya yang kering. Sasuke mengeluarkan sedotan dari mulutnya sebagai isyarat ia sudah selesai minum.
Fugaku meletakkan gelas ke meja dan kembali menatap Sasuke.
"Sasuke, Tou-san… Tou-san minta maaf. Maaf karena sudah keras padamu, maaf… karena sudah membunuh Itachi dan Mikoto," ucap Fugaku lirih. Ia benar-benar butuh keberanian besar untuk mengucapkan kata maaf.
"Tou-san… Nii-san dan Kaa-san meninggal bukan karena salah Tou-san—"
"Itu adalah salah Tou-san! Tou-san yang memaksa mereka masuk ke dalam mobil percobaan dan membiarkan mobil itu meledak!" tukas Fugaku penuh emosi.
Sasuke menggeleng pelan. "Itu hanya kesalahan sistem mobil saja."
"Dan ketidak-telitian Tou-san pada sistemnya," sambung Fugaku dengan nada bergetar.
Samar-samar Sasuke dapat menangkap Fugaku berkata lirih. "Apa yang harus Tou-san lakukan untuk membayarnya?"
Otak Sasuke berputar, ia benar-benar tak ingin membahas kenangan buruk yang menimpanya empat tahun lalu. Ia ingin melangkah maju, maju ke depan.
"Umm… Tou-san?" panggil Sasuke ragu-ragu.
"Hai, Sasuke?" sahut Fugaku, ia memandang Sasuke penuh tanya.
"Tou-san tahu… Hyuuga Hinata?" tanya Sasuke.
"Hyuuga Hinata? Ah, bukankah ia putri Hyuuga Hiashi?" Fugaku mengingat-ingat. Sebentar, untuk apa Sasuke membahas putri rekan perusahaannya? Ah, sepertinya Fugaku tahu ke mana arah pembicaraan Sasuke.
"Dia di mana?" tanya Sasuke dengan nada serius. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan Hinata. Sasuke masih ingat, saat Hinata terbaring di jalan dengan kepala bersimbah darah. Ia takut Hinata akan mati. Takut Hinata pergi. Pergi jauh ke tempat yang tidak bisa ia jangkau. Seperti Kaa-san dan Nii-sannya.
"Ia juga masuk rumah sakit ini dan langsung dibawa pulang oleh keluarganya saat sadar. Kenapa Sasuke? kau tertarik padanya?" tanya Fugaku sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Aku janji akan menggantikan posisi Tou-san dan masuk fakultas bisnis," ucap Sasuke yakin.
Fugaku menatap Sasuke, Apakah putri hyuuga itu yang mengubahnya menjadi seperti ini? Fugaku bertanya-tanya dalam hati. Ia berdehem sejenak. "Lalu, bagaimana dengan keinginan untuk masuk fakultas seni musik?"
Sasuke mendesah. "Yah, musik memang hidupku. Tapi aku akan mengesampingkannya menjadi hobi," jawabnya pasrah. Sasuke sudah mempertimbangkan, bila ia menjadi musisi, bisa dipastikan waktu luangnya juga akan berkurang, sementara ia ingin lebih banyak menghabiskan waktunya bersama Hinata.
Fugaku kembali berpikir. Sasuke tak mungkin mengajukan dirinya begitu saja, pasti ada udang di balik batu. Sasuke bukan orang bodoh yang rela mengikuti perintah orang lain begitu saja, Fugaku tahu itu. Pasti Sasuke juga memasang siasat. "Lalu, syarat yang kau ajukan?" tanya Fugaku.
Sasuke menyeringai, senang ayahnya tahu apa maksudnya yang sebenarnya. Setelah mengambil napas sejenak, Sasuke berkata dengan mantap.
"Aku ingin Tou-san melamarkan Hyuuga Hinata untukku."
TO BE CONTINUE
V
Special Thanks For :
Hyou Hyouichiffer : Eh, ada kemajuan? Baguslah :DD Iya, ini udah update! Makasih reviewnya dan review lagi, ya! :)))
Evil Smirk of the Black Swan : Iyaa! Sasuke udah ketahuan! Hohoho #ketawanista Makasih reviewnya dan review lagi, ya! :)))
Hayai : Hoho, nge-request happy ending ya? Author pikirin dulu deh gimana mbikinnya :DD Makasih reviewnya dan review lagi, ya! :)))
zielavenaz96 : Eeeh... author kehabisan ide #buagh /dibanting, dicincang, dilemparin ke sungai ceritanya ngga jadi tamat, author udah mati duluan... Hohoho... abaikan tulisan barusan, iya nih... author mulai bingung tentang GaaIno-nya, enaknya diapain ya biar makin sweet gitu :33 Makasih reviewnya dan review lagi, ya! :)))
Bonbon 0330 : Udah lanjuuut! Makasih reviewnya dan review lagi, ya! :)))
AzuraCantlye : Maafkan author yang baka dan sudah membuat author-san yang dengan sabarnya menunggu update fic nista ini updatenya lama. RL author sama sekali ngga ngasih ampuun! #curcol Makasih reviewnya dan review lagi, ya! :)))
RisufuyaYUI : Hmm... Iya, pas saya liat daftar reviewer chappie 9, kok rasanya ada yang ilang ya? Hohoho... biasanya author-san rajin dan saya ngga pernah bosen ngeliat author-san komen, kasih saran, bener2 membantu! Makasih reviewnya dan review lagi, ya! :)))
endymutiara : Aisshh... Sindy ngambek! gawat! gawat! kebakaran di rumah saya! #apahubungannya? Humm... rencananya sih, GaaIno-nya mau author keluarin di chappie depan dgn ide yang tersisa. Iya, author mulai kehabisan ide tentang GaaInonya... Makasih reviewnya dan review lagi, ya! :)))
bluerose : Iya, SasuHina selamaaat~ /nari hula-hula #abaikan Hohoho... request SasuHina ya? Humm author bikinin deh! Makasih reviewnya dan review lagi, ya! :)))
Yafa mut : Iya! Author bikinkan SasuHina! Dan Iya! Ini udah update! /teriak pake toa yang dicolong dari masjid #dilemparinsandal Makasih reviewnya dan review lagi, ya! :)))
AnaSSejuta : Iyaaa! Ini udah update! /teriak pake toa yang lagi-lagi dicolong dari masjid #dilemparinsepatu Okeh! Author akan bikin SasuHina! /giliran pake mic nyolong dari konser G-Dragon di Osaka #udahtelatkalii Makasih reviewnya dan review lagi, ya! :)))
Guest : Iya! Ini udah update! Makasih reviewnya dan review lagi, ya! :)))
Fuyumi Yayoichi : Hohoho... jampi-jampinya ampuh tuh! Awalnya mau dibikin Sasuke koma dan Hina ditangkep, tapi begitu dipasang jampi-jampi, alurnya berubah! #plak XDDD Makasih reviewnya dan review lagi, ya! :)))
Malfoy1409 : Udah lanjuuut! :DDD btw, aku masih newbie. Makasih reviewnya dan review lagi, ya! :)))
V
V
JANGAN LUPA REVIEW, YA!
DON'T BE A SILENT READER, PLEASE...
V
REVIEW KALIAN ADALAH BAHAN BAKAR AUTHOR BUAT NGE-UPDATE!
V
V
