Ini chapter 11 nya Chel update biar rada tenang pas ujian (padahal gak ada hubungannya) kan cerita di chapter 10 ngegantung bgt tuh. Wahaha Pas tengah malem lagi ngetiknya XD (sapa lagi yang nanya)

Warning: Weh, bukannya apa-apa nih, tapi sekarang bakal extra lebay, bakal OOC (padahal dari awal emang udah OOC), aneh deh pokoknya...! (authornya kali yang aneh)

Disclaimer udah di chapter 1...

Yuk ah~ mulai XD

.


Chapter 11. Coz I Love Him


Ficus...

Mendengar nama itu, awalnya Giotto mengira kalau Ficus adalah laki-laki, dia sudah membayangkan sosok lelaki tua renta dengan janggut putih panjang dan membawa tongkat seperti lansia pada umumnya.

Namun Ficus yang berdiri di hadapannya ini adalah seorang perempuan muda, mungkin usianya berkisar antara 26-28 tahun. Dia cantik dan juga tinggi, sangat tinggi, sampai-sampai melebihi tinggi Giotto. Rambut peraknya yang pendek dipenuhi bunga-bunga putih kecil, seolah-olah mereka memang tumbuh di sana. Tangannya putih bersinar, dengan kuku-kuku panjang yang sedikit tajam. Matanya seperti berlian...memancarkan warna-warna indah bila tersorot cahaya. Pesona yang dimiliki Ficus tidak seperti kebanyakan wanita-wanita yang pernah Giotto temui. Dari sana ia dapat menyimpulkan kalau Ficus pasti bukan manusia. Mungkin sejenis hantu, peri, atau apalah...seperti di cerita-cerita fantasy.

"Kau—bilang apa tadi?"

"Aku tahu ini mendadak Giotto, tapi tolong mengerti." Jawab Ficus sambil memejamkan mata. "Tolong jauhi sang pewaris."

"Tunggu, bagaimana kau bisa tahu namaku?"

Alih-alih menjawab, Ficus berjalan ke arah pohon beringin dan menyentuh kulit batang pohon besar itu pelan-pelan. "Aku adalah jiwa dari pohon ini." Katanya. "Pohon yang kau tanam beratus-ratus tahun yang lalu."

Giotto terperangah. Mengapa banyak sekali hal yang bisa membuatnya terkejut hari ini?

Baiklah, di era zaman Giotto, dia memang menanam sebuah pohon beberapa tahun yang lalu, bersama Alaude. Giotto mengunjungi pohon itu hampir setiap hari, hanya sekedar untuk bercerita dan berkeluh kesah ketika ia sedang kesepian.

"Selama empat ratus tahun, pohon ini masih ada?" tanya Giotto tak percaya. Ficus tersenyum lembut lalu kembali mendekati laki-laki pirang itu.

"Angin membawa kabar kalau Giotto datang ke zaman di mana seharusnya kau telah tiada." Ungkapnya. "Aku sangat senang karena bisa melihatmu lagi sekarang."

"Ya, aku juga senang melihatmu masih hidup. Tapi maaf, aku datang kemari bukan untuk bernostalgia." Giotto memandangi Ficus dengan serius.

"Aku tahu." Katanya. Senyum Ficus menghilang perlahan."Dia ada di sini."

Dengan satu jentikan jari, sebuah bunga yang besar tiba-tiba muncul dari bawah tanah. Itu adalah bunga kantung semar—yang sangat besar dan transparan. Di dalam bunga itu terdapat laki-laki berambut cokelat yang memukul-mukul dinding bunga sambil berteriak-teriak minta dibebaskan seperti seekor serangga yang terjebak.

"Tsunayoshi!" Panggil Giotto sambil berlari menghampiri bunga yang tinggi itu. Tsuna menoleh saat mendengar seseorang memanggil namanya.

"Giotto!"

"Kau baik-baik saja?"

Tsuna mengangguk sebagai jawaban, "Tapi aku tak bisa keluar dari sini!"

"Ficus, lepaskan dia!" kata Giotto setengah berteriak.

"Aku tidak bisa melakukannya."

"Kenapa?"

"Karena bersama sang pewaris akan membayahakan nyawamu." Tsuna dan Giotto diam terkejut.

"Apa maksudmu?" tanya Giotto sambil memicingkan mata biru langitnya. Ficus sempat menatap Tsuna sebelum ia menjawab pertanyaan Giotto.

"Tsunayoshi adalah orang yang mewarisi darah keturunan Vongola, dia mewarisi segala-galanya darimu dan begitu juga dirinya. Sebagai boss mafia, keberadaan sang pewaris yang mewarisi darah Vongola akan selalu menjadi target musuh. Aku bisa melihat masa depan sepintas, aku bisa melihat Giotto terus-terusan bersama sang pewaris, namun aku juga bisa melihatmu bersimbah darah ketika menatap langit bersamanya. Giotto adalah langit malam yang dingin sementara Tsunayoshi adalah langit siang yang cerah. Kalian berdua tidak boleh bersama-sama dalam satu tempat. Kalau tidak, maka sesuatu yang buruk akan menimpamu."

Giotto luar biasa shock mendengar cerita Ficus yang panjang, dia melirik Tsuna yang juga merasakan perasaan yang sama. Namun ketimbang shock, Tsuna terlihat lebih depresi. Giotto mengetahui perasaan itu, ia tahu Tsuna merasa bersalah karena keberadaannya mengundang bahaya bagi orang-orang terdekatnya.

"Aku tak peduli." Ujar Giotto. "Bebaskan Tsunayoshi."

"Aku akan membebaskannya kalau kau sudah aman dan pulang ke zamanmu."

"Kubilang aku tak peduli kalau aku harus terluka atau mati sekalipun. Bebaskan Tsunayoshi sekarang!"

"Ketahuilah, aku melakukan hal ini bukan hanya demi Giotto, tapi juga demi sang pewaris. Kalau kau mati di zaman ini, maka Sawada Tsunayoshi tidak akan pernah terlahir ke dunia."

Apa katanya?

"Kau pasti mengerti Giotto, ini seperti permainan waktu."

Giotto termenung, dia tidak menyangka kalau hanya gara-gara insiden di laboratorium yang membawanya ke masa depan bisa sampai timbul masalah serumit ini. Ini adalah suatu keputusan yang sulit, dia memang sama sekali tidak peduli dengan dirinya, kalau memang harus terluka atau mati, itu sudah resiko. Lagipula semua makhluk hidup akan mati suatu hari nanti, hanya tinggal menunggu soal waktu. Kematian itu bukan sesuatu yang harus ditakutkan. Tapi kalau kematiannya juga berpengaruh terhadap kehidupan Tsuna...

Ah tidak, jangan memikirkan hal itu.

"Aku tidak akan mati di zaman ini." Kata Giotto tegas seolah-olah sedang bersumpah. Tsuna memandanginya dengan khawatir. "Aku akan tetap membawa Tsunayoshi pulang."

Ficus sebenarnya sedikit terkejut dengan keputusan Giotto, namun ia pandai menyamarkan ekspresinya. "Kalau begitu, berikan aku alasan kenapa kau bersikeras ingin membebaskan sang pewaris."

Alasan katanya?

Giotto memiliki segudang alasan logis mengapa dia harus membawa pulang Tsuna:

Pertama; karena semua guardian-nya pasti sudah khawatir setengah mati sekarang, terutama Gokudera. Apa jadinya nanti kalau dia kembali tanpa Tsuna bersamanya?

Kedua; karena Tsuna memiliki hak untuk bebas, dia tidak melakukan sesuatu yang melanggar hukum atau berbuat brutal, lalu kenapa orang baik harus dikurung?

Ketiga; Giotto sudah mencarinya semalaman, dan setelah pencariannya berakhir, dia tidak ingin usahanya itu sia-sia.

Sebenarnya masih banyak lagi alasan-alasan lainnya yang bisa saja dikemukakan Giotto. Tapi kalau untuk menghadapi Ficus, tampaknya alasan logis tidak akan mempan.

Giotto menengokkan kepala ke arah Tsuna yang masih saja memandanginya dengan tampang khawatir. Hmmf, sepertinya benar apa yang dikatakan Hibari, Tsuna tidak pernah memikirkan dirinya sendiri.

Benar-benar naif...Haruskah kusampaikan?

Ah, tidak...jangan sekarang.

Belum waktunya.

"Tsunayoshi, tutup telingamu sebentar." Kata Giotto sambil tersenyum. Awalnya Tsuna kebingungan tapi ternyata menurut juga.

Giotto kembali melirik Ficus sambil menarik nafas panjang, kemudian dengan yakin ia berkata...

"Alasanku adalah—karena aku mencintai Tsunayoshi."

Kali ini Ficus tak dapat menyembunyikan ekspresi terkejut di wajahnya. Dia menatap mata biru Giotto dalam-dalam, tapi ia tidak menemukan kebohongan apapun di sana.

"Kau pernah mengatakan hal itu padaku." Sahut Ficus. "Waktu itu kau datang padaku, lalu bercerita bahwa kau menyukai Alaude."

"Aku memang menyukai Alaude, tapi..." Giotto kembali menatap Tsuna yang masih menutup telinganya. Dia sama sekali tidak boleh mendengar hal ini, nanti semuanya bakal jadi kacau, terutama hubungannya dengan Hibari. "Tapi aku mencintai Tsunayoshi, karena itu aku harus membawanya pulang bersamaku."

"Ficus! Ficus! Sang pewaris adalah teman berharga, sang pewaris adalah teman berharga." Oceh Leucas, seolah-olah dia mendukung jawaban Giotto.

Ficus terdiam sebentar kemudian tersenyum pasrah. "Apa boleh buat." Gadis itu menjentikkan jarinya lagi dan bunga yang menahan Tsuna pun menurun perlahan, lalu melepaskan laki-laki itu sebelum masuk kembali ke dalam tanah.

"Tsunayoshi!" Giotto buru-buru menghampiri Tsuna dan memeluknya dengan erat sampai-sampai Tsuna bisa mendengar degup jantung Giotto dengan jelas. "Kau tidak apa-apa?" tanya Giotto seraya melepaskan pelukannya. Meski gelap, Giotto dapat melihat wajah Tsuna memerah.

"Ya." Jawab Tsuna pelan, tanpa diduga dia kembali memeluk Giotto. Giotto tersenyum lalu membalas pelukannya.

"Syukurlah."

Ficus memperhatikan kedua orang yang masih berpelukan itu dari jauh. Rasanya sudah lama sekali ia tidak melihat Giotto tersenyum, sudah berapa ratus tahun ya?

Entahlah.

Sepertinya hanya Tsuna yang sanggup membuat Giotto tersenyum seperti itu selain Alaude.

Giotto dan Tsuna berhenti berpelukan saat Ficus berjalan menghampiri mereka, kemudian wanita itu tiba-tiba berlutut di depan Tsuna yang otomatis membuat Tsuna tersentak. Bukan hanya Ficus, tapi Leucas, dan juga peri-peri kecil yang berterbangan pun hinggap di rerumputan untuk ikut berlutut.

"A-anu..." gumam Tsuna grogi. "Kau tidak harus ber—"

"Maafkan aku." Potong Ficus lirih. "Aku telah membuat kesalahan besar karena keegoisanku. Sekarang kau boleh memperlakukanku sesuai kehendakmu."

Kata-kata Ficus mengingatkan Tsuna pada Gokudera, dia pikir hanya Gokudera yang akan berkata seperti itu padanya, tapi ternyata ada juga orang lain. Tunggu, memangnya Ficus 'orang'?

"Tidak apa-apa. Aku tahu kau melakukan hal itu demi Giotto."

Ficus bangkit kemudian memetik salah satu bunga yang berada di rambutnya. "Simpanlah bunga ini, suatu saat nanti bila kau membutuhkan bantuan kami, terbangkan bunga ini ke udara dan kami akan datang."

Bunga yang diberikan Ficus sepertinya bukan bunga sungguhan, kelopak bunganya keras dan serbuk sarinya mengeluarkan cahaya.

"Terima kasih."

Ficus tersenyum. Perempuan itu memberi isyarat lewat gerakan tangannya, sesaat kemudian peri-peri kecil yang masih hinggap di rerumputan itu berterbangan mengitari Tsuna dan Giotto.

"Ikuti para peri, mereka akan menunjukkan jalan menuju teman-teman kalian." Kata Ficus. Tsuna mengangguk, setelah itu Ficus berjalan ke arah pohon beringin dan menempelkan telapak tangan ke batangnya, samar-samar sosok Ficus yang tinggi mulai menghilang ditelan cahaya silau yang tiba-tiba terpancar dari pohon itu.

"Ficus!" seru Giotto. Ficus menoleh. "Terima kasih!"

Wanita itu hanya bisa tersenyum lebar sebelum benar-benar menghilang. Sesaat kemudian hutan itu kembali gelap. Ah, sebenarnya tidak terlalu gelap, langitnya mulai terang dan awan-awan pun mulai kelihatan. Apa mungkin sudah subuh sekarang?

Setelah Ficus menghilang, Leucas pun ikut menghilang, sekarang hanya tinggal mereka berdua di sana, bersama makhluk-makhluk kecil yang terus berterbangan ke sana kemari.

"Nah, ayo kita pulang." Kata Giotto. "Nyamuk-nyamuk ini akan menunjukkan jalannya kan?"

"Mereka itu peri, Giotto." Ralat Tsuna seraya memasukkan bunga pemberian Ficus ke dalam saku tertawa lepas.

Hhh, akhirnya dia bisa tertawa juga setelah berjam-jam panik dan khawatir. Dia lelah sekali mencari-cari Tsuna semalaman. Satu-satunya yang paling ia rindukan saat ini adalah...

Ranjang yang nyaman.

"Hei Giotto." Gumam Tsuna.

"Hm?" Giotto memandangi wajah Tsuna yang tertunduk. Dengan satu gerakan cepat Tsuna meraih bahu Giotto dan menjinjitkan kakinya, bibir mereka pun bertemu. Ciuman singkat itu hanya berlangsung selama 2 detik, tapi butuh waktu 10 detik sampai Giotto tersadar.

Yang barusan itu...apa karena terlalu capek aku jadi menghayal?

"Dengan begini aku sudah tidak punya hutang." Ujar Tsuna sambil menyembunyikan wajahnya yang memerah.

"Hutang?"

"Tadi saat kita bermain jujur atau berani, awalnya kau memintaku menciummu kan?"

Oh, benar juga...

"Maaf aku tidak bisa mengambil air tanpa wadah, jadi daripada repot-repot lebih baik aku memm—" kata-kata Tsuna terpotong oleh Giotto yang tiba-tiba memeluk dan menciumnya. Tsuna sedikit terkejut tapi tidak menolak, pelan-pelan ia memejamkan matanya sambil membalas pelukan Giotto. Berbeda dengan ciuman Hibari yang panas dan liar, ciuman Giotto lebih lembut dan berirama. Laki-laki itu menelusuri seluruh bagian dalam mulut Tsuna dengan pelan, menikmati tiap senti yang bisa diraihnya.

Nyaman sekali—

Giotto sangat pintar mengatur ritme. Apa karena dia sering melakukannya?

Sebentar kemudian Giotto berhenti dan melepas ciumannya, ternyata sesak juga berciuman lama-lama. Dengan nafas agak terengah, Tsuna segera menyeka sedikit saliva yang mengalir di sudut bibirnya sementara Giotto tertawa kecil.

"Kalau mau bayar hutang, setidaknya harus seperti tadi."

Wajah Tsuna jadi bertambah merah. "Aku tidak sepandai Giotto karena aku belum pernah mencium orang sebelumnya!"

"Belum pernah? Ah yang benar?"

"Untuk apa aku berbohong?"

Giotto terhenyak sesaat.

"Ja-jangan-jangan...sewaktu kita berciuman di taman waktu itu..."

"Itu ciuman pertamaku." Dengus Tsuna sambil membalikkan badan. Giotto lagi-lagi tertawa.

"Apanya yang lucu?" tanya Tsuna kesal

"Ahahaha, tidak, pantas saja terasa manis."

Tsuna yang merasa malu buru-buru berjalan mengikuti peri-peri yang berterbangan, meninggalkan sang Vongola Primo yang masih tertawa geli sendirian.

"Hei, tunggu dong!" seru Giotto sambil menyusul Tsuna yang mulai menjauh.

Tsuna tidak menyahut, dia hanya berjalan dengan perasaan berdebar-debar. Ini adalah perasaan yang sama ketika ia sedang bersama dengan Hibari, namun sedikit berbeda. Kalau dengan Giotto, dia merasa lebih tenang.

Hei! Untuk apa sih dia memikirkan Giotto segala? Di hatinya kan sudah ada Hibari, tidak perlu memikirkan orang lain lagi!

". . ."

Kalau sudah ada Hibari, lalu kenapa dia menciumnya tadi?

Ah sudahlah...anggap saja sebagai rasa terima kasih karena telah menolongku.

-----o0o-----

Tsuna terheran-heran saat ia datang bersama Giotto bukannya disambut dengan senang atau—yah, setidaknya merasa sedikit khawatir karena ia telah menghilang selama berjam-jam. Tapi ini malah ditatapi dengan tajam dan pandangan curiga yang membuatnya merinding seram. Bahkan Gokudera yang biasanya langsung datang menyerbu juga sekarang tidak bergerak dari tempatnya.

Kenapa mereka? Apa mereka marah karena aku menghilang terlalu lama?

"A-anu—kenapa kalian melihat kita seper—"

"Eits, jangan mendekat!" potong Mukuro yang mengarahkan trident-nya pada Tsuna.

"Apa-apaan kau?" tanya Giotto setengah membentak.

"Maaf Tsuna, Giotto, tapi kami harus mengecek apakah kalian asli atau palsu." Sahut Yamamoto.

Asli atau palsu? Apa maksudnya? Apa yang terjadi selama aku menghilang?

Giotto menghela nafas. Benar juga sih, tadi saja dia menemukan alien hijau yang menyamar sebagai Tsuna di dekat rawa, mungkin salah satu dari alien itu juga mendatangi mereka dan menyamar sebagai seseorang. Wajarlah kalau misalnya sekarang mereka curiga.

"Ok, apa yang harus kami lakukan untuk membuktikan pada kalian semua kalau kami yang asli?" tanya Giotto.

"Kalian harus menjawab pertanyaanku dengan benar." Mukuro menurunkan trident-nya dan lurus menatap Tsuna yang masih kebingungan. "Pertama-tama Tsunayoshi-kun dulu."

"Eh?"

"Apa yang kukatakan saat melihatmu kebasahan gara-gara hujan setelah pulang dari toko kerajinan tangan untuk membeli hadiah ulang tahun Gokudera beberapa bulan yang lalu?" tanya Mukuro nyeroscos.

Hah?

"B-bisa kau ulang?"

Hening sesaat. Mukuro menengok ke arah Reborn. "Bagaimana Arcobaleno?"

"Baiklah, dari respon kalian tadi, sepertinya kalian berdua asli." Kata Reborn. Gokudera langsung menyerbu Tsuna seketika bak anjing kecil yang menyambut tuannya pulang.

"Juudaime, aku sudah sangat khawatir! Kau tidak kenapa-kenapa kan? Dari mana saja?"

"Ah, aku tidak apa-apa. Maaf, tadi aku—"

"Tersesat." Sambung Giotto buru-buru. "Tsunayoshi mengejar-ngejar jaketnya yang jatuh ke sungai lalu lupa jalan pulang dan tersesat."

"Benarkah?"

Tsuna melirik Giotto yang memberinya isyarat lewat sebuah anggukan.

"I-iya."

"Syukurlah, aku kira seseorang menculikmu." Mereka semua bernafas lega, kecuali Reborn yang mengamati Tsuna dan Giotto bergantian. Masih terllau cepat seratus tahun untuk meremehkan instingnya sebagai Hitman no.1.

"Hei, omong-omong, mana Hibari?" tanya Yamamoto.

Giotto berkedip beberapa kali sebelum akhirnya sadar dan berteriak, "Astaga! Aku melupakan anak itu!"

-----o0o-----

Sementara itu di dekat rawa-rawa...

"Sial! Kalau aku sudah keluar dari sini, kubunuh mereka semua!" umpat Hibari sambil menggertakan giginya. Tubuh Hibari diikat sulur-sulur kuat dan digantung di sebuah pohon cedar yang tinggi, di bawahnya berkerumun makhluk-makhluk betina yang serupa dengan Azalea, berteriak-teriak girang melihat lelaki tampan di atasnya.

"Fuuuu~Azalea senang sekali akhirnya ada laki-laki yang cocok untuk dijadikan Raja hutan kami." Gumam perempuan berbaju serba pink yang sempat dilawannya tadi. Rupanya Hibari dijadikan selebriti hutan (?).

"Cih! kami korosu!" geramnya. makhluk-makhluk itu bukannya takut tapi malah semakin berteriak-teriak senang mendengar suara Hibari.

Aku tidak akan pernah pergi lagi ke gunung untuk yang ke dua kalinya! TIDAK AKAN!

.


Yosh~ Setelah ini Chel bakal update 2 minggu lagi. (Lama bener) ahahah...gomen..habisnya Chel pengacara sih (pengangguran banyak acara) =3=

Nggak denk, bentar lagi jadi anak kuliahan (amiiiiiin...)

Oh ya, cuma sekedar mau memberi pengumuman...sekalian hint, sehabis chapter ini Tsuna bakal dilema siapa sebenernya yang ia sukai? Giotto? Atau Hibari? Cz beberapa reader minta pairing G27, tapi ada juga yang minta 1827, kan jadi bingung. Tolong vote siapa yang lebih cocok buat Tsuna di profil Chel yah ^^

yuk ah~ sankyuu~

Arrivederci~ XD