Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : Sasufemnaru

Rated : T

Genre : Hurt/Comfort, Family, Romance, Friendship

Warning : Typo, OOC, Gaje, Genderswitch, Fem!Naru, Fem!Kyuu

.

.

.

.

"Putus!" Sasuke mengucapkan dengan lantang. Tak terasa kalimat itu meloncat keluar dari mulutnya. Sebenarnya ia tak ingin membuat luka hati pada seseorang, termasuk naruto.
Iris kelam sasuke menatap datar wajah naruto yang sulit ditebak. Sepertinya tak terlihat raut kesedihan di wajahnya. Naruto menyunggingkan senyuman yang memaksa. "Tak apa-apa." Kata naruto singkat.

Sasuke bisa menebak kalau itu bukanlah senyuman tulus yang biasa naruto berikan kepadanya. Sasuke meneliti lagi wajah naruto dengan ekspresi datar nya.

"Jangan berbohong! Aku tau kau pasti sedang sedih." Tukas sasuke. Naruto kembali bergeming, menelaah baik-baik perkataan sasuke.

"Aku tak suka melihat kau bersedih." Tambah sasuke dengan suara yang melembut.

"Kalau kau tak suka melihat ku bersedih, kenapa kau lakukan ini?" Tanya naruto hati-hati. Naruto hanya bisa menggigit bibir bawahnya.

"Kau tak perlu ikut campur!" Ucap sasuke dingin tapi menusuk. Sasuke langsung mengambil langkah seribu meninggalkan naruto yang masih terdiam membatu.

Suara langkah kakinya semakin mengecil. Akhirnya naruto sendirian dengan kekosongan hatinya. Ia terlalu banyak menaruh harapan kepada orang yang belum tentu menyukai nya.

Ia memang tidak pantas untuk memiliki pria yang mapan seperti sasuke, pikirnya. Naruto mendongak sedikit kepalanya, menatap burung yang terbang bebas di langit biru.

"Aku ingin semua masalah yang kualami pergi." Gumamnya lirih sambil sedikit memejamkan matanya, menahan air matanya agar tidak turun membasahi pipinya.

"N-Na-Naruto!" Panggil hinata tiba-tiba setengah bersembunyi di balik pintu. Naruto yang mendengar suara sahabatnya itu segera menghapus kasar air matanya yang hendak meluncur turun ke pipinya.

"Ah hinata, ada apa?" Tanya naruto dengan senyum yang dipaksakan. Meskipun naruto memberikan senyuman itu, hinata masih bisa menebak kalau ia sedang bersedih.

"A-Apa yang terjadi?" Hinata balik bertanya sambil memainkan jari-jari nya. Senyuman naruto seketika luntur. Hinata merundukan kepalanya, tak berani menatap naruto langsung. Ia takut kata-katanya tadi membuat hati naruto bertambah sakit.

"Maksudmu?" Kata naruto innocent sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal. Hinata memberi jeda sesaat, "Sa-Sasuke,".

"Apa yang terjadi pa-padanya?" Hinata sedikit melirik kacamata bulat naruto. Seandainya naruto membuka kacamata itu, mungkin ia bisa tau dengan jelas isi hatinya saat ini.

"Bukan apa-apa" dusta naruto sedikit acuh.

"K-Kau Y-Yak-Yakin?" Tanya hinata ragu. Ia masih tidak percaya kalau naruto baik-baik saja. Pasalnya dari awal ia menguping semua pembicaraan mereka berdua. Naruto memang kurang pandai menutupi perasaannya. Naruto menghela napas sesaat, "Baiklah,".

Dahi hinata sedikit berkerut, mulutnya terkatup rapat, hinata kurang mengerti yang diucapkan naruto barusan. Hinata memang sedikit agak lambat jika harus mencerna perkataan orang bulat-bulat, tapi ia tak selambat naruto.

"Aku putus dengannya" nada bicara naruto terdengar frustasi. Hinata tak terlalu terkejut, ia sudah mendengar semuanya.

"M-Maaf, naru-chan!" Cicit hinata merasa bersalah karena mengumbar masalah naruto.

"Ah, itu bukan salahmu, hehehe." Hibur naruto dengan tawa garing.

"Sudahlah, lebih baik kita ke kelas" ajak naruto sambil menggandeng tangan putih hinata. Hinata pun tersenyum kecil dan ikut membuntuti naruto.

"Oh ya, bagaimana hubungan kau dengan kiba." Goda naruto dengan seringai bodohnya. Pipi hinata langsung terasa panas mendengarnya barusan.

Mereka berjalan bersama dengan sedikit canda, hingga mereka tak menyadari sepasang mata mengintai.

"Harus ku singkirkan si hyuuga itu!".

.

.

.

Bel istirahat telah berbunyi, semua murid mendesah lega saat suara itu menggema. Mereka akhirnya bisa bebas berkeliaran setelah otak mereka terasa berasap karena belajar.

Naruto terdiam di kelasnya tanpa melakukan apapun. Ia mencaci maki dirinya sendiri karena lupa membawa bento yang sudah susah payah ia buat.

Cacing di perutnya sepertinya sudah berteriak. Sambil memegangi perutnya ia menatap hinata dibalik kacamata nya. Hinata yang tak sengaja melihat naruto, sampai mereka berdua saling tatap.

"Naruto, kau tidak makan?" Tanya hinata sambil mengambil posisi duduk disebelah naruto. Naruto mengerucut kan bibirnya, "Bekal ku tertinggal." Ucap naruto pasrah. Hinata melirik naruto sekilas dan membuka kotak bekalnya. Hinata menyodorkan bento miliknya kepada. Naruto mengangkat kepalanya sedikit.

"Kalau k-kau mau, kau boleh minta p-punyaku." Tawar hinata dengan senyuman yang melengkung di bibirnya. "Ah tidak usah hinata." Tolak naruto halus. Meskipun perut naruto benar-benar sakit, ia tak ingin merasa merepotkan hinata. Ia tak berani orang selemah lembut hinata terganggu olehnya.

"Naruto!" Panggil gadis bersurai merag jambu yang melambaikan tangan nya dari pintu.

"Ah, sakura!" Sahut naruto setengah memekik dan membalas lambaian. Sakura segera menghampiri naruto di ikuti ino dan tenten.

"Ah iya, aku belum memperkenalkan kalian." Seru naruto dan berdiri. "Ehem,".

"Hinata ini sakura, ino ini hinata. Hinata ini tenten, sakura ini hinata. Hinata ini ino, tenten ini hinata.". Mereka berempat sweatdrop melihat cara naruto memperkenalkan nya pada temannya.

"Hai, hinata-chan" sapa ino sambil menjulurkan tangannya. Hinata membalas uluran tangan itu dengan ragu.

"Wah, kau ternyata cantik ya!" Puji tenten tiba-tiba.

"Dia memang cantik, tak seperti mu." Ledek sakura dan langsung ditertawai mereka berempat. Tenten mendelik kearah sakura.

"Sudahlah tenten, daripada disini kita bertengkar, bagaimana kalau kita ke kantin?" Usul ino sekaligus menengahi pertengkaran kecil sakura dan tenten.

"Tapi aku tak punya uang." Ucap naruto sembari menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.

"Tenang, itu sakura yang bayar." Kata ino. Sakura menyipitkan iris Jade miliknya.

"Baiklah aku yang bayar." Sakura pasrah menyetujui cerocosan ino. Wajah sakura yang ditekuk sebelumnya menjadi cerah seketika.

Tangan putih sakura langsung menarik tangan naruto dan hinata tanpa aba-aba. "Eh, kita mau k-kemana?" Tanya hinata bingung.

"Tentu saja ke kantin, ayo!" Seru ino membuntuti sakura.

'Hah, bento ku...' batin Hinata.

Mereka berlima keluar lewat pintu kelas tanpa menyadari seorang gadis yang menatap mereka sedih. "Aku harap, ia bisa berhati-hati." Kata gadis bersurai Crimson.

Mereka berlima kini sudah duduk di meja yang tak terlalu jauh dari salah satu counter. Naruto membetulkan posisi kacamata nya yang turun. Iris biru yang tersembunyi miliknya memincing melihat daftar harga.

Mahal. Satu kata yang cukup untuk mendeskripsikan jajanan kantin.

"Kenapa kau belum memilih?" Tanya sakura yang menatap lurus naruto.

"Aku kenyang sakura." Naruto berbohong kepada dirinya sendiri. Ia merasa tidak enak hati jika sakura mentraktir nya dengan makanan yang harganya selangit.

"Kenyang? Memang apa yang kau makan? Tiba-tiba sudah kenyang, kau memakan angin?" Naruto merasa terpojok setelah perkataan sakura barusan. Ia menatap hinata yang juga balik menatapnya canggung.

"Sudahlah tak usah takut, aku membawa banyak uang." Hibur sakura yang sepertinya mengerti maksud dari wajah naruto yang terlihat gusar. Naruto menatap mata sakura, lalu beralih ke ino dan tenten. Mereka mengangguk seolah mempertegas perkataan sakura sebelumnya.

"Baiklah." Balas naruto setengah ragu. Tanpa aba-aba sakura langsung menarik tangan naruto dan hinata, disusul ino dan tenten. Mereka berlima berjalan dengan langkah panjang menuju kantin. Mereka juga tak menyadari sepasang mata yang menatap mereka.

"Aku harap kau berhati-hati, Naruto!" Gumam karin dengan penuh penekanan.

Sesampainya di kantin, sakura mengedarkan pandangan nya, mencari kursi yang kosong untuk mereka tempati. Suasana kantin sekolah memang selalu ramai dengan lautan manusia. Sedetik saja mereka lengah, kursi mereka mungkin saja akan berpindah bokong (?).

"Sakura di sana saja!" Usul ino sambil menunjuk sebuah meja kosong dan enam buah kursi di sekelilingnya. Sakura langsung menggiring mereka berempat menuju kursi yang dimaksud ino. Dengan langkah cepat mereka mendekati kursi itu.

Mereka berlima berlari di tengah suara ramai kantin. Mereka menambahkan bumbu-bumbu berisik di kantin. Banyak murid yang menatapnya yang seolah mengatakan "Dasar sekumpulan orang aneh.". Mereka terus menatap lurus calon kursi mereka. Naruto hampir saja menabrak seorang siswi karena berlarian. Dan akhirnya mereka pun berhasil.

Mereka berhasil menempati kursi itu dengan nafas yang tersendat, "Hosh... Akhirnya sampai... ttebayo~" ucap naruto saat mengisi pasokan udara di paru-paru nya.

Peluh membanjiri kepala sang penghuni meja tersebut. "Kalian cepat pesan,"

"Aku yang akan bayar." Ucap sakura yang sepertinya kelelahan. Iris biru naruto menatap sakura di belakang kacamata nya. Sakura masih mengibaskan tangannya, sepertinya ia masih kelelahan. Perlahan ia menatap ino dan tenten yang sepertinya keadaan nya tak jauh berbeda dengan sakura. Tatapan nya berhenti ketika melihat hinata. Hinata mengangguk lemah kearah nya seolah memperjelas perkataan sakura barusan.

Naruto meraih daftar menu dengan ragu. Matanya berbinar gembira saat makanan kesukaannya dipaparkan di daftar tersebut. Mata naruto menatap terus gambar seporsi ramen miso tersebut. Air liur naruto terasa meronta ingin meloncat dari lidahnya.

Tapi lagi-lagi naruto harus mengurungkan niatnya, harga makanan tersebut sama seperti harga untuk dua porsi besar ramen di kedai ichiraku.

Tiba-tiba saja sakura menepuk bahunya pelan dan berkata, "Tenang, harga bukan seberapa. Kau boleh memilih apa saja asalkan jangan ketahuan mereka." Ucapnya setengah berbisik sambil melirik ino dan tenten diakhir kalimatnya. Naruto agak sedikit ragu. Sebenarnya ia mau, tapi ia sedikit bimbang. Perutnya sudah menjerit kelaparan. 'Baiklah.' Teriak naruto dalam hati.

Naruto langsung menyambar kertas dan sebuah pulpen. Ia menulis semua pesanannya. Setelah selesai ia memberikan nya ke sakura.

"Ini sakura-chan." Sakura mengambil kertas tersebut dan langsung memberikan nya kepada pelayan tersebut. Sekarang mereka berlima tinggal menunggu pesanan mereka.

Mereka berbicara dengan diselingi senda gurau. Mereka terkadang tertawa bersama. Naruto tersenyum kecil melihat ketiga teman barunya itu. Mereka bisa menerimanya begitu cepat.

Tanpa sengaja naruto mengedarkan pandangan nya dan mendapati sasuke dan sahabatnya duduk di kursi ujung. Pandangan mereka bertemu. Naruto masih memiliki perasaan kepadanya. Ia mengakui kalau ia terjerat pesona sasuke. Padahal ia masih ingin sasuke menjadi miliknya meski itu hanya sebuah ajang sandiwara.

Mata mereka saling menatap satu sama lain. Naruto meremas roknya, ia menahan agar air matanya tidak merosot keluar.

Suasana dimeja sakura tiba-tiba menjadi hening saat ino menyikut perut sakura. Ino melempar tatapan ke hinata, hinata langsung bisa mengerti tatapan itu.

"Naruto." Panggil hinata dengan suara lembut. Tatapan mata naruto langsung beralih ke hinata yang sedang tersenyum kecil dan menatapnya simpatik. Naruto melemparkan kembali senyuman itu.

"Sudahlah, masih banyak pria yang jauh lebih baik darinya." Hibur sakura sembari menepuk-nepuk punggung naruto. Semua mengangguk setuju.

"Ini pesanannya!" Suara pelayan berambut coklat itu meleburkan suasana sedih ini. Semua langsung terperangah menatap pelayan. Ralat, maksudnya yang dibawa pelayan tersebut.

"Siapa yang memesan ramen sebanyak ini?" Tanya sakura tanpa mengalihkan pandangan pada empat porsi besar ramen miso yang masih menyembulkan asapnya.

"Ehehehe..." Naruto tertawa garing sambil mengucek-ngucek hidungnya. Sakura menghela napas berat.

"Itadakkamisu!" Ucap mereka bersama dan langsung melahap hidangan mereka masing-masing.

Naruto langsung menyerbu ramen nya. Mulutnya melahap hidangan tersebut.

"Naruto, makannya pelan-pelan." Kata sakura. Naruto tak menyahuti, ia sudah terkuasai nafsu. Ia sampai kalau ada beberapa orang yang menatapnya.

Mangkuk demi mangkuk ia habiskan. Setidaknya, ramen tak pernah membuat dirinya sedih. Rasa sedihnya langsung hilang begitu saja layak nya kertas yang tertiup angin setelah menghabiskan empat porsi ramen tersebut.

Naruto pun juga tak menyadari kalau ada kedatangan seseorang. Gaara memperhatikan naruto makan. Tatapannya begitu lekat.

Sasuke menatap gaara dari kejauhan. Sorot matanya begitu tajam. "Apa yang kau lihat?" Tanya neji sambil menepuk bahu sasuke pelan.

"Tidak." Jawabnya sambil mengalihkan pandangan dari naruto. Neji menatap sasuke dan beralih ke tempat yang tadi sasuke tatap. Senyum tipis mengembang di wajahnya.

"Oh, si culun itu. Kau sudah memutuskan nya bukan?" Tanya neji setelah menyeruput minumannya.

"Hn." Gumam sasuke tak jelas.

"Hey ayolah, aku akan memberikan salah satu barang ku." Tawar neji bertopang dagu. Sasuke tak menyahuti, matanya lebih tertarik menatap naruto. Neji ikut menatap naruto.

"Kau menyukai naruto?" Tebak neji yang hampir mengenai titik-nya.

"Apa?" Kata kiba ikut bergabung ke pembicaraan mereka.

"Mendokusai!".

Sasuke memberikan deathglare andalnnya ke neji. Neji menelan ludah nya yang sepertinya tersangkut.

Sasuke kembali menatap naruto dan tiba-tiba ia bangkit dari kursinya, meninggalkan keempat sahabatnya.

Mereka berempat menatap kepergian sasuke.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya sai yang akhirnya membuka suara. Neji mengangkat bahunya acuh.

Sementara itu naruto baru saja selesai menghabiskan makanan nya. Perutnya terasa mau meledak menyantap ramen itu. Matanya kini beralih kedepan. Ia sedikit terkejut saat keempat temannya hilang dan digantikan oleh pria berambut merah yang duduk dihadapan nya.

Ia membetulkan posisi kacamatanya, ia merasa kalau ia mungkin salah lihat.

"Gaara-senpai?" Panggil naruto hati-hati memastikan pria didepan matanya. Gaara tak menyahuti ucapan naruto, hanya sebuah goresan senyuman di wajahnya. Naruto menjadi salah tingkah sendiri di tatap seperti itu.

'Pasti ini efek kebanyakan makan ramen!' Pikir naruto.

Naruto tertawa garing guna melelehkan suasana yang membuat jantung nya memberontak. "Ada apa?" Tanya naruto.

Gaara akhirnya tersadar dari dunia imajinasi nya sendiri. Dia merogoh saku celananya, mencari sesuatu yang terselip didalamnya. Dan selembar kertas pun keluar dari sakunya.

Gaara memberikan selembaran kertas tersebut kepada naruto.

"Apa ini?" Tanya naruto tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas tersebut. "Kau baca saja."

Naruto menelan tiap kata yang terpampang di kertas tersebut.

"Ini kan..." pikir naruto sebelum membaca habis semua isi kertas itu.

"Kertas untuk pengisi acara pensi." Sambung gaara sambil menatap kacamata bulat naruto. Naruto menatap gaara, "Kenapa senpai memberikan ini padaku?".

"Bukankah kau juga ikut serta meramaikan acara tersebut?" Naruto terdiam, ia memiringkan kepalanya.

"Kau mengisi acara itu dengan balet mu kan?" Kata gaara mengingatkan naruto yang masih kebingungan.

"Ah benar juga, hehehe." Respon naruto dengan tawa yang hambar.

"Aku harap kau bisa menjaga kesehatan mu, karena tinggal dua hari lagi kau mempersiapkan nya." Ujar gaara sambil menunjuk selembaran kertas tersebut di akhir kalimatnya.

"Baik." Ucap naruto singkat. Dan akhirnya mereka berdua pergi meninggalkan kantin dan menuju kelasnya masing-masing.

TBC

Maaf ya kalau chap ini pendek dan membosankan. Saya sudah berusaha untuk bikin lebih menarik dan bikin sasuke cemburu. Tapi hasilnya amburadul. maaf juga klo fic saya lama update nya juga. Saya masih minim pengalaman dan masih ada cerita lain yg mesti sya kerjakan.

Tapi tenang aja kok, chap selanjutnya saya bakal bikin naruto gak culun lagi. Itu pun masih kemungkinan kayaknya. Maaf atas ketidaknyamanan nya.

See you next chap ^^~