a/n: Wahh akhirnya bisa update fic yang sudah sangat sangat sangaaat terbengkalai ini! Lebih dari setengah tahun ya? Hmmm, sangat lama. Baiklah! Terimakasih yang sudah setia menunggu kelanjutan fic ini! Author sangat terharu ternyata fic ini dinanti-nanti oleh readers sekalian T^T Lalu.. alasan tidak update? Karena chapter ini terhapus dengan virus tidak tahu diri dan author lupa dengan jalan ceritanya XD jadi lama lagi untuk membuat satu chapter ini hehe. Terimakasih yang sudah baca! Mungkin chapter berikut bisa di nikmati?^^
Balas review di bawah (^-^)
Selamat membaca~^^~
Disclaimer: Kamichama Karin & Kamichama Karin chu © Koge Donbo
Warnings : AU, OC, OOC, miss typo, dll
.
.
.
~*Help me, prince!*~
"H-Himeka?!"
.
.
Tercengang melihat siapa yang berada di hadapannya, Karin menjatuhkan pedangnya sendiri. Matanya yang membulat besar itu pun mulai bergelinang air mata kembali. Tidak dapat dipercaya, dirinya tidak ingin mempercayai bahwa yang berada di hadapannya kini adalah Himeka.
"T-Tidak mungkin! Kau bukan Putri Himeka!" jeritan Karin sedikit histeris. Dan ternyata seseorang yang berada di hadapannya pun tidak mengelak. Ia malah tersenyum dan mendekat ke arah Karin sembari berlagak.
"Hmm, aku tidak akan mengelak lagi. Benar yang kau katakan, aku bukanlah Putri Himeka. Kenapa? Kau bersyukur aku bukan dirinya? Atau kau… tetap membenciku karena telah menyakiti teman bodohmu itu?! Hihihi!" ia terkikik kecil membuat Karin bergidik ngeri.
Semua pikiran tentang Himeka kini berkecimpung dalam pikiran Karin. Dimulai dari bagaimana Himeka dapat dikuasai kekuatan gelap, sampai alasan mengapa Kazune tidak melindungi Himeka. 'Pangeran bodoh itu melakukan apa saja sampai Putri Himeka dikuasi kekuatan gelap?!' emosi dirinya terus menerus meningkat. Ia sampai tidak tahan untuk melihat Himeka yang dikuasai seperti itu.
"Kau! Kembalikan Putri Himeka sekarang!" gertak Karin sembari mengambil pedangnya dan mengacungkannya pada orang tersebut. Ekspresi wajah musuh itu pun tidak berubah sama sekali, malah ia memampangkan senyum sinisnya pada Karin, lalu dari tangannya ia mengeluarkan kekuatan asap hitam yang membara.
"Tenanglah, putri kecil itu sedang tertidur pulas di suatu tempat. Kini waktunya kau bermain denganku, Putri Karin. Jangan khawatirkan adik dari pangeran yang kau benci itu," ujarnya dengan nada meledek. Karin sedikit terhenyak mendengar kalimat terakhir yang dilontarkannya. Pikir Karin, bagaimana ia mengetahui pertengkarannya dengan Kazune?
"Aku tidak pernah berkata bahwa aku membencinya!" sentak Karin marah. Memang benar, Karin tidak pernah mengatakan dirinya benci pada Kazune, Karin tidak pernah membenci orang lain, meskipun dia adalah orang yang telah melukainya.
Musuh itu pun tertawa keras sampai Michi yang berada jauh dari tempat Karin berada saat ini pun mendengarnya. Dari kejauhan Michi yang melihat keadaan Karin dan Miyon menjadi panik dan dengan segera menghampiri mereka.
"Ahahaha! Kau tidak tahu huh?! Pangeran bodoh itu sudah dendam dengan dirimu! Kau sudah seharusnya membenci pangeranmu itu! Dan karena itulah, aku menggunakan tubuh adik tercintanya ini untuk membalaskan dendam kakaknya padamu sekarang juga!"
Musuh itu mengangkat tangannya dan asap hitam yang berada di tangannya itu pun bergerak dengan cepat mengelilingi Karin.
"RASAKAN INI!" asap itu membuat Karin kehilangan jarak pandangnya yang kini hanya satu langkah saja di depannya. Tidak disangka api itu terus mendekati Karin dan menghimpit Karin. "Kh! A-Asap apa ini?!" pandangannya terus mencari celah yang mungkin dapat ia gunakan untuk keluar dari asap itu, namun sayang sekali, namanya saja asap, partikel-partikel kecil dari debu itu terlalu sulit untuk dicari celahnya.
Michi datang untuk menolong Karin dari luar asap itu, namun tidak diberi kesempatan karena saat ia datang, musuh itu dengan asapnya mengangkat tubuh Karin tinggi-tinggi.
"K-Kya!" tiba-tiba saja asap itu seperti mencengkram Karin dengan sangat kuat sampai-sampai dirinya sulit untuk bergerak.
"Ekh! L-Lepaskan aku!" dengan sekuat tenaga Karin berusaha lepas dari cengkraman asap hitam itu. Tapi yang ia dapat hanyalah sesak, semakin ia bergerak asap itu semakin mencengkram tubuhnya.
"P-Putri Karin!" seru Michi sembari mengatur nafasnya setelah berlari. Musuh dengan tubuh Himeka itu pun tertawa kecil lalu membuat kuda terbang dari asapnya dan menaiki kuda itu.
"Kau jangan ikut campur dengan urusanku!" sentak musuh itu sembari memanah Michi dengan asap hitamnya. Panahnya itu tidak mengenai Michi, tetapi panah itu terjatuh di depannya dan dengan cepat asap itu berubah menjadi api hitam yang membara.
"G-Gah!" karena kobaran api hitam itu Michi melangkah mundur terkejut. Bekas dari api hitam itu terlihat sangatlah mengerikan. Rumput yang terbakar oleh api hitam itu dengan sekejap hilang terbakar.
"A-Api macam apa itu?!" dengan panik Michi melihat bekas api hitam tadi.
"Jangan macam-macam denganku! Aku tidak akan membiarkanmu menolong incaranku!" dengan kuda terbangnya ia melayang tinggi sampai sejajar dengan Karin yang tadi diangkatnya. Terlihat wajah pucat Karin karena cengkaraman pada tubuhnya itu. Musuh yang berada pada tubuh Himeka pun dengan wajah polosnya berkata.
"Tadinya aku ingin menawarkanmu pilihan. Tapi sayang sekali, moodku hari ini sudah hancur karena melihat wajahmu! Aku tidak akan membiarkanmu hidup! TIDAK AKAN!" eskpresi wajahnya berubah drastis, terlihat jelas aura kebencian dalam dirinya.
Lantas tangannya yang ia kepalkan kuat-kuat itu ia arahkan sejajar dengan Karin membuat Karin bertanya-tanya apa yang akan ia lakukan. Setelah senyuman tipis terlontar darinya, satu kata terucap..
.
"Bye,"
.
Asap hitam yang mencengkram Karin dengan seketika menghilang dan membuat Karin terjatuh dari jarak yang sangat jauh dari permukaan tanah. Mata emerald Karin terbelalak hebat. Ia bisa merasakan jantungnya berdebar kencang dan napasnya pun seakan berhenti.
"K-Kyaaaa!" jeritannya melengking membuat Michi yang melihat kejadian itu tercengang.
"Putri!" Michi segera berlari untuk menangkap Karin agar tidak langsung berbenturan dengan tanah. Tapi sekilas senyuman evil kembali tersirat pada wajah Himeka yang dikendalikan musuh itu.
"Jangan harap kau bisa menangkapnya," musuh itu dengan sekejap menghampiri Karin yang sedang terjatuh dan tanpa aba-aba apapun dirinya menarik satu tangan Karin ke arah yang berlawanan dengan arah jatuhnya sampai terdengarlah suara ngilu.
Krek!
"A-AGH!" suara itu terdengar begitu menusuk telinga Michi. Karin meringis menahan sakitnya yang ia rasakan kini.
Michi semakin kesal, ia kesal karena ia tidak bisa menolong Karin, sudah lagi Miyon yang kini berada di sampingnya terluka parah. Keringat dingin pun bercucuran dari pelipisnya, yang ia harapkan saat ini adalah bantuan, ia tidak bisa menyelamatkan Karin bila hanya sendiri. Dan satu orang yang terus ia harapkan adalah.. Kazune.
"H-Hentikan!" Michi sudah terlihat sangat kesal karena ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk menolong putrinya itu. Musuh itu melirik Michi dan tertawa puas.
"HAHAHA aku akan membuatmu menderita! Dan secara perlahan aku akan membunuhmu! Lihatlah putrimu yang tidak berdaya ini! HAHAHAHA!" Karin yang berada ditangannya tidak berdaya, dirinya diombang-ambing oleh musuh dengan harapan untuk Michi melihat Karin menderita di tangannya. Karin sendiri sebenarnya masih sadarkan diri, tetapi karena rasa sakitnya itu membuatnya tidak bisa bergerak dan hanya bisa meringis.
Akhirnya setelah memendam kesal sejak pertama melihat Karin tersiksa seperti itu, Michi tidak bisa diam saja. Ia segera berubah menjadi dewa dan mengacungkan tongkatnya dengan geram pada musuh. Cahaya putih keluar dari ujung tongkatnya dan dilepaskan ke arah musuh.
Boom!
"LEPASKAN PUTRI SEKARANG JUGA!"
Ia kemudian melompat dan menyerang musuh berkali-kali, namun hasilnya pun ditangkas kembali oleh musuh itu.
Trang! Clash! Trang! Trang!
"Hhh! Hh!.. T-Tidak akan aku biarkan kau melukainya lebih dari ini!" karena tongkatnya tidak mempan terhadap musuh, ia merubahnya menjadi pedang dan kembali menyerangnya. Namun saat ia menyerangnya dari atas, lirikkan mata musuh sama sekali tidak bergeming dan membuat Michi terkejut.
"Jangan harap kau bisa menyentuhku dengan pedang itu! HAHAHAHA!" dengan sekali kibasan tangan, asap hitam dari tangannya menyapu keras Michi sampai terlontar jauh.
"A-AGh!" benturan dengan tanah terdengar begitu jelas pada telinganya, saat itu pun pandangannya sedikit goyah karena kepalanya yang duluan terbentur pada tanah.
"M-Michi.." Karin yang sedari tadi memejamkan matanya menahan sakit, kini melirik Michi yang sudah terluka cukup serius. Ia terkejut saat ia benar-benar melihat luka-luka yang berada di sekujur tubuhnya. Luka yang didapatnya sebelum ia ke tempat ini ditambah dengan luka baru yang lebih parah dari musuh. Dari kepalanya terlihat bercak-bercak merah, bekas sayatan terlihat pada badannya, lebam-lebam pun tidak diragukan lagi. Itu membuat Karin merasa sangat-sangat bersalah. Seharusnya ialah yang melindungi mereka sebagai Putri Kerajaan, namun mereka menjadi korban karena kelalaiannya. "P-Pergi dari sini… Michi…"
"Kau lihat? Temanmu satu lagi terjatuh. Apa kau kurang puas dengan permainanku ini, hm?" tanya musuh itu dengan nada meledek. Karin semakin merasa kesal dan dengan paksa menarik lengannya yang masih di genggam oleh musuh meskipun itu sangat menyakitkan.
"L-Lepaskan.." gertak Karin sembari meringis. "Kau ingin aku jatuhkan lagi huh? Atau…" sebelum menyelesaikan kalimatnya, musuh itu tersenyum melihat incarannya yang tersiksa karena dirinya. Namun karena itu juga akhirnya timbul perasaan yang semakin membara.
"Hmm~ Aku punya permainan penutup untukmu, Putri," ucapannya berujung dengan senyum sinis. Putri Kerajaan yang sedang berada di tangannya itu pun kembali terhantui rasa was-was. Ia meronta-ronta berusaha lepas dari genggamannya itu namun Karin malah ditarik olehnya dan dihadapkan dengan wajah Himeka yang dikuasai musuh itu.
"Sayang sekali, tapi permainan kesayanganku adalah…
Kill the princess!"
.
.
[Kazune POV]
Pasukan berkuda kini berkeliaran di atas kota, prajurit-prajurit yang sudah bersiap pun tiba-tiba berlarian ke arah gerbang kota ini, aku memperjelas pandanganku pada gerbang dan ternyata bukan hanya pasukan berkuda yang datang, pasukan Blackguard yang lainnya pun sudah sampai di depan gerbang kota.
"Ini masalah besar! Mereka tidak bisa dibiarkan lewat begitu saja!" salah satu pengawal yang bersama denganku berseru. Pikiranku setuju dengannya, lantas dengan segera aku turun dari tempatku berada dan segera menuju gerbang bersama pengawalku yang lain.
Sampai di lokasi, aku bisa melihat kepanikan pada wajah-wajah prajurit kerajaan itu. Memang mereka masih bisa menahan pintu gerbang yang kini dipaksa dibuka oleh pasukan Blackguard, tetapi bila mereka terhanyut dalam rasa panik, mereka akan kalah telak jika dibiarkan seperti itu.
Tanpa pikir panjang aku berlari ke kerumunan prajurit itu dan berusaha untuk mencapai pintu gerbang. Pengawal yang masih berada disini pun membantuku untuk melewati kerumunan prajurit itu hingga akhirnya aku berada di barisan paling depan. Orang-orang yang melihat keberadaanku pun langsung tercengang dan bertanya-tanya dengan kehadiranku.
"P-Pangeran?! Kenapa Anda berada disini?! Lebih baik Anda berlindung!" salah satu prajurit berseru padaku. Sebenarnya setelah mendengar kata-kata itu aku pun sedikit emosi. Ia pikir aku selemah itu?!
"Daripada kau mengkhawatirkanku yang hanya satu orang ini, lebih baik kau khawatirkan ratusan nyawa penduduk yang berada di kota ini!" perintahku dengan lantang pada semua prajurit. Tapi mereka masih terlihat ragu. Batinku mulai terbawa emosi melihat mereka yang seperti sudah menyerah, apa mereka ingin kota ini hancur?!
Sebelum mereka menjawabku, sekali tarikan nafas aku ambil dan..
"KALIAN INGIN KOTA INI HANCUR HAH?! KERAHKAN SEMUA KEKUATAN KALIAN UNTUK KOTA INI!"
Mereka tercengang mendengarku membentak mereka dengan keras. Setelah mendengar kata-kata yang terlontarkan olehku, mereka sepertinya tersadarkan. Awalnya mereka saling berpandangan satu sama lain merenungkan apa yang barus saja kukatakan. Kemudian satu demi satu prajurit itu berkata, "Baik Pangeran!" dan diikuti dengan prajurit yang lainnya dengan penuh semangat.
Sedikit senyum tipis pun terpampang pada wajahku.
Akhirnya satu masalah selesai, aku tidak perlu mengkhawatirkan prajurit ini lagi, mereka pasti akan mengerahkan seluruh kekuatan mereka untuk melindungi kota ini. Setelah itu, aku memerintahkan pengawalku untuk mengikutiku naik ke atas gerbang ini dan melihat keadaan sekitar.
"Kalian ikuti aku!" perintahku lalu melompat ke atas gerbang. Aku butuh mereka untuk mengawasi pergerakkan pasukan Blackguard sementara aku melihat-lihat keadaan sekitar untuk mencari kelemahan pasukan berkuda Blackguard.
Dari atas gerbang ini aku bisa melihat pasukan Blackguard yang membawa pedang dan senjata lainnya sedang berusaha mendobrak gerbang kota. Saat itu pun dari sudut mataku terlihat sekilas asap hitam yang melintas di sampingku, dan benar saja.. seorang pasukan berkuda terbang ke arahku sembari mengayunkan pedangnya!
"RASAKAN INI!" ayunan pedang itu mengarah tepat pada kepalaku. Namun jangan salah, aku tidak akan kalah dengan hanya satu pasukan berkuda.
Bugh! Syat!
"Gah!"
Dengan sekali pukulan pada tangan yang memegang pedangnya, ia langsung terjatuh. Aku memerintahkan pengawalku untuk mengikat orang itu dan membawanya ke tempat yang sepi untuk diinterogasi. Lantas mereka membawa orang itu kembali ke bawah dan mendorongnya pada dinding salah satu bangunan dengan keras.
"Jangan memberontak!" seruan pengawalku terdengar. Pedang ditanganku sudah tergenggam erat. Kesempatan bagus ini tidak bisa disia-siakan. Aku bisa mencari tahu semua tentang Blackguard dari informasi yang dimilikinya.
Dan dengan cepat pedangku pun kuarahkan pada lehernya..
.
"Kau, akan menjadi kunci dari masalah ini."
.
.
.
[Kazusa POV]
Aku berjalan mondar-mandir di kamar. Rika sepertinya sudah pusing melihatku bertingkah seperti ini sedari tadi. Tapi aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak cemas. Di luar kamar ini sedang terjadi kericuhan, tidak bukan hanya kericuhan, namun ini bisa dikatakan perang!
"Putri! Aku mohon tenang dahulu! Mereka pasti bisa mengatasinya!" ujar Rika menceramahiku. Aku hanya mendengus kesal dan menatap Rika dengan kesal juga.
"Bagaimana aku bisa tenang bila tunanganku dan Putri Karin sedang berperang! Aku tidak ingin mereka terluka!" bantahku dengan keras. Rika langsung terdiam. Sesungguhnya Rika adalah mata-mataku yang kuperintahkan khusus untuk memata-matai Jin. Maka dari itu Rika sebelumnya berada di pihak Jin.
Drap drap drap drap!
Langkah kaki menggema terdengar mendekati kamar ini. Aku dan Rika waspada dengan apa yang akan datang. Namun ketukan pintu menandakan bahwa yang berada di luar bukanlah orang-orang jahat.
"Putri Kazusa. Maaf kami menggangu," ujar seorang maid istana. Aku membuka pintuya dan membiarkan mereka berbicara.
"Sebaiknya Putri Kazusa kembali ke Kerajaan Northern sekarang juga karena keadaan kerajaan ini semakin membahayakan!" ujar mereka sembari membungkuk. Aku terkejut saat mendengar bahwa keadaan diluar sana semakin bahaya. Aku semakin tidak ingin pergi saja dari kerajaan ini karena aku khawatir bila Jin terluka.
"Tidak! Aku tidak akan pergi sebelum keadaan diluar sana damai kembali!" ujarku membantah keinginan mereka. Wajah mereka pun penuh dengan cucuran keringat dingin. Aku mengerti mengapa aku harus kembali, tetapi aku tidak akan menyerah mengkhawatirkan Jin sekarang ini.
"Kalian tahu tunanganku sedang berada di luar sana bukan? Aku tidak akan diam dan pergi begitu saja meninggalkan tunanganku di sini. Putri Karin adalah temanku, aku tidak ingin mereka saling menyakiti. Aku harap kalian bisa mengerti," ujarku lembut mencoba membuat mereka mengerti dengan perasaanku saat ini. Mereka pun sepertinya sedikit tersentuh dan akhirnya mereka meminta maaf lagi padaku karena telah memintaku untuk pergi.
"Maafkan kami! Kami sudah bertindak bodoh!" seru mereka kembali membungkuk meminta maaf. Aku mengangguk kecil lalu mereka pun kembali ke pekerjaannya masing-masing, meskipun aku tahu mereka sedang menyiapkan keperluan medis untuk pasukan yang terluka.
Aku kembali duduk di sofa ruangan ini. Cemas dengan keadaan Jin dan Karin di luar sana membuat kepalaku sedikit pening. Mengapa semua ini harus terjadi?! Masalah apa yang terjadi sebenarnya pada kerajaan ini dengan Jin?
"Sebenarnya apa yang diincar Jin pada kerajaan ini?! Mengapa sampai ia berbuat seperti itu?!" tanyaku bingung dan sedikit kesal. Aku tahu Rika pun tidak menjawab pertanyaan bodohku itu. Tapi tidak kusangka, Rika beranjak dari tempatnya duduk dan membuatku mengalihkan pandanganku padanya. Tatapan matanya terlihat merasa bersalah. Entahlah aku pun tidak tahu mengapa.
"Putri. M-Maaf aku tidak sempat melaporkan apa yang Jin incar pada kerajaan ini," ujar Rika sedikit ragu. Aku terheran-heran, apa hanya karena itu ia merasa bersalah?
"Ah jadi kau tahu apa yang diincar Jin? Lalu apa itu? Aku tidak menyalahkanmu karena belum melaporkan hal ini," ujarku dengan sedikit penasaran. Rika pun semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tangannya ia kepalkan dengan keras seperti menahan emosi.
"A-Ada apa Rika?" tanya semakin penasaran. Gerak-geriknya menandakan seperti orang yang menyembunyikan sesuatu, dan itu memang benar. Rika pun akhirnya kembali mengangkat wajahnya, namun yang mengejutkanku adalah air mata yang kini mengalir pada lekuk wajahnya.
"M-Maaf Putri Kazusa. Sebenarnya yang Jin rencanakan selama ini adalah.. membunuh Putri Karin,"
.
.
.
[Kazune POV]
Drap drap drap drap drap!
Aku menunggangi kudaku dengan kecepatan maksimal karena aku harus segera pergi ke istana. Setelah mendengar semua informasi tentang penyerangan istana dari salah anggota Blackguard yang tertangkap, aku semakin khawatir dengan keadaan istana sekarang dan lebih spesifiknya aku khawatir pada Himeka. Ia berkata bahwa anak buah Jin mengendalikan tubuh Himeka dan menyerang Karin dengan tubuh Himeka.
"Sial!" aku tidak bisa memendam rasa kesalku lagi. Ini semua terjadi terlalu tiba-tiba dan aku tidak menyangka Himeka akan terlibat dalam peperangan ini. Aku memikirkan berbagai cara utuk menyelamatkan Himeka saat ini, tetapi yang terlintas di benakku hanyalah wajah Karin. Kenapa? Kenapa aku masih sempat memikirkan putri tidak tahu diri itu?!
'Gahh! Kenapa selalu wajahmu yang muncul dalam benakku! Menghilanglahh! Kau menggangguku!' dahiku berkerut pusing karena semua pikiran itu. Namun tiba-tiba terbuyarkan begitu saja dengan seruan keras dari pengawal di sampingku.
"P-Pangeran! D-Di atas i-itu!" salah satu pengawal pribadiku membuatku terkejut dengan seruannya dan ia menunjuk sesuatu di langit dekat istana. Aku melihat ke arah yang ia tunjukkan dan mendapatkan sosok Himeka yang menunggangi kuda dari asap hitam. Mataku membulat besar melihat sosok Himeka yang dikendalikan oleh anak buah Jin.
"H-Himeka?! Himeka! Himeka!" aku memanggil namanya terus menerus sampai aku keluar dari hutan belantara itu dan masuk ke area lapang berumput hijau yang luas. Baru saja keluar dari hutan, pemandangan yang tidak dapat kupercaya menunggu kami di sini. Dengan reflek aku menarik kudaku sampai berhenti, diikuti dengan pengawalku yang berhenti kami pun diam. Jantungku berdegup kencang. Diriku tidak berhenti terkejut sejak mendapatkan kabar buruk itu. Tapi ini.. Aku tidak ingin percaya dengan apa yang kulihat saat ini.
"A-astaga.."
Semua pengawalku pun berkata hal yang sama secara bersamaan. Tubuh prajurit istana maupun blackguard tersebar di lapang tersebut. Korban korban dari peperangan ini tidaklah sedikit. Aku bisa merasakan tubuhku yang seakan membeku. Tubuhku sangat merinding melihat semua korban itu.
"A-Apa ini semua.. Himeka yang melakukan?" tanyaku pada diriku sendiri. Tidak, ini bukan ulah Himeka, ini ulah anak buah Jin yang menguasai tubuh Himeka!
"Pangeran! Lihatlah di arah jam 2! Bukankah itu pengawal pribadi Putri Karin?!" tanya salah satu pengawalku. Aku segera memusatkan pandanganku pada arah jam 2 dan benar saja. Disana Michi tengah berdiri disamping Miyon yang terbaring. Aku pun masih bisa melihat Himeka yang berada di atas mereka. Tapi aku tidak melihat ada tanda-tanda ketua Blackguard itu, Jin tidak terlihat di tempat ini. Karin pun tidak terlihat, dimana putri bodoh itu beradaaa?! Bukannya orang tadi berkata bahwa musuh sedang menyerang dirinya?!
"Cepat! Kita harus menghampiri mereka!" perintahku pada para pengawal. Dengan segera kami menghampiri Michi di tempatnya.
Kulihat sekitarnya dan di beberapa tempat dekat dengannya terlihat rumput yang terbakar habis sampai hanya tertinggal tanah saja. Asap hitam berkeliaran di selingkup lapang ini. Saat kami hampir sampai, Michi melihat kehadiranku dan ia melihatku dengan raut wajah khawatir, panik, dan.. ah tidak bisa aku bayangkan. Ia terlihat ketakutan, putus asa, semua bercampur aduk membuatku semakin khawatir. Kualihkan pandanganku pada Himeka yang berada di atas langit bersama kuda asap itu, ia membelakangiku jadi aku tidak bisa melihat apa yang sedang ia lakukan.
"Michi! Apa yang terjadi sebenarnya?! Dimana Putri Karin?!" baru saja ia akan menjawab, ia jatuh berlutut sembari memegangi bagian dadanya yang bersimbah darah.
"P-Pangeran.. t-tolong.. Putri K-Karin.." dengan napas yang terengah-engah ia berusaha mengucapkan kata-katanya. Aku masih tidak mengerti maksudnya, aku tidak tahu ada apa dengan Karin, bahkan melihatnya pun tidak. Pengawal pribadiku menghampiri kami dan mengurus Michi dan Miyon dengan obat-obatan yang seadanya.
"Tolong dia, aku akan mengurus Himeka!" perintahku pada pengawal pribadiku itu.
Lalu aku menengadahkan kepalaku untuk melihat Himeka yang sibuk dengan sesuatu di atas sana. Aku bisa merasakan aura kegelapan dari bawah sini, kekuatannya sudah terasa kuat, namun tidak sekuat Jin pada saat aku bertarung dengannya.
"HIMEKA!" kupanggil namanya dengan keras dan akhirnya ia meresponku dengan mengalihkan perhatiannya padaku yang berada di bawahnya. Namun sesaat ia membalikkan tubuhnya, tepat dibawahnya aku berdiri dan aku baru tersadar ada sesuatu yang menetes ke wajahku.
Tes tes.. tes.. tes…
"Ini apa—..?!" tetesan air itu jatuh pada wajahku dan aku mengusapnya. Tapi sesuatu yang menetes itu bukanlah apa yang kubayangkan…
"Huhh?! M-merah?!" aku kembali menengadah dan matahari yang asalnya menyorot kepalaku kini tertutupi oleh sesuatu.
"Ah~ Kau mencari seseorang huh? Sayang sekali, kau terlambat datang."suara lembut nan dingin itu menarik perhatianku. Aku merasakan perasaan yang tidak enak, sangat tidak enak. Dan saat itu juga.. aku melihat seseorang yang dicekik oleh tangannya. Ditangannya… sosok gadis yang sedari tadi aku cari.. tidak berdaya ditangannya yang penuh dengan lumuran darah. Asap hijau keluar dari tubuh yang lemas itu dan terserap oleh tubuh Himeka yang dikendalikan musuh.
"T-Tidak mugkin.. K-KARIN?!" tubuhku, aku bisa merasakan tubuhku bergetar, lidahku terasa pahit. Jantungku pun kembali berdegup kencang. Sangat kencang sampai aku merasakan lemas pada tubuhku ini.
"AHAHAHA Aku berhasil! Tidak kusangka kekuatannya sangatlah besar! Aku bisa merasakan tubuhku yang mulai bangkit kembali! AHAHAHA!" musuh yang berada di tubuh Himeka tertawa evil pada Karin yang masih diserap kekuatannya. Itu membuatku jengkel, marah, dan.. menyesal.
'Tidak. Karin belum mati. Ia belum mati! Dia tidak boleh mati di tangan yang kotor itu!' pikiranku mulai mengalihkan pandanganku pada musuh dengan emosi.
"KAU! AKAN KUBALAS KAU!" dengan segala tenaga yang aku punya, aku berubah menjadi dewa dan mengumpulkan kekuatanku pada panahku. Cahaya putih kebiruan membara di ujang panah yang sudah kuarahkan padanya. Aku tidak bisa menahan rasa marah ini lagi, aku terlalu marah dengannya!
"RASAKAN INI!"
Boom!
Panah itu melayang tepat ke arah kepala Himeka. Matanya sedikit terkejut melihat panah yang melaju sangat kencang sampai tidak terlihat oleh mata biasa.
"G-gah!"
Trang!
.
[Normal POV]
"Huh?" baru saja panah itu akan mengenai Himeka, namun tameng dari asap hitam tiba-tiba muncul dan melindunginya. Kazune pun terkejut dengan apa yang baru terjadi tadi, kekuatannya tidaklah mudah untuk ditangkis, tidak dengan asap itu.
Lalu sesosok pemuda berwajah tidak asing pun muncul dengan wajah kesalnya. Ia menatap musuh yang berada pada tubuh Himeka dengan tajam seakan ia melihat musuh.
"Kau berani mengambil kekuatannya huh?" suara baritone yang sangat dingin membuat musuh yang berada di tubuh Himeka bergetar. Ya, dia sangat terlihat ketakutan dengan kedatangan Jin. Kazune pun bisa merasakan aura kekuatan hitam yang sangat kuat dari arah Jin.
"Kau harus menerima konsekuensinya!" tanpa berkata apa-apa lagi, musuh yang berada dalam tubuh Himeka tiba-tiba menjerit dan rohnya keluar dari tubuh Himeka dan dirinya diserap ke dalam tubuh Jin beserta kekuatan Karin yang sudah terambil.
Karena tubuh Himeka sudah tidak dikendalikan olehnya Himeka pun melepas Karin dan ikut terjatuh dari atas bersama Karin. Kazune kembali panik karena ia harus menangkap keduanya sebelum mereka terjatuh ke tanah dengan keras. Untung saja pengawal pribadinya menyadari hal itu dan membantu dirinya menangkap mereka.
BRUGH!
"Ugh.." ringisan terdengar dari pengawal pribadinya yang menangkap Himeka. Namun Kazune yang menangkap Karin langsung terkejutkan dengan keadaan Karin yang berada ditangannya kini. Matanya menatap horror sosok Karin yang tidak berdaya dipangkuannya, noda merah pada pakaiannya ia hiraukan, yang dipikirannya sekarang hanyalah.. Karin.
"Karin.. Karin, buka matamu bodoh..!" Kazune terus memanggil namanya, ia ingin respon darinya, ia ingin memastikan bahwa Karin masih sadar! Dicobanya mendeteksi denyut nadi di tangan Karin, sangat lemah. Tubuhnya sangatlah lemah, tidak ada tenaga sama sekali, tapi ia masih bisa merasakan kekuatannya yang tersisa.
"Karin..!" sekali lagi panggilan namanya terlontarkan, tapi ia tak merespon Kazune sama sekali. Harapanya mulai tergoyahkan, ia semakin panik dan takut karena semakin lama denyut nadinya semakin lemah dan terkadang tidak terasa. 'Tidak! Kau harus bertahan Karin! Bertahanlah!' pikir Kazune yang hanya bisa terdiam, ia tidak bisa berbuat apa-apa meskipun Karin ditangannya berada pada kondisi kritis. Himeka yang sudah tersadar langsung menghampiri Kazune dan melihat keadaan Karin yang tidak bergeming sama sekali. Air matanya mulai membanjir dan menangis tersedu-sedu.
"T-Tidak.. Aku sudah.. melukai Putri Karin..! A-Aku.. ingat semua yang kulakukan pada Putri Karin..! hiks.. aku—"
Tap!
Degh degh!
Aura kegelapan terasa begitu berat sesaat Jin muncul di hadapan mereka. Entah dengan kekuatan apa tetapi Kazune dan orang-orang di sekitarnya tidak dapat bergerak. Tubuh mereka terasa kaku dan keringat dingin bercucuran. Saat itulah Jin bergerak mendekati Kazune dan tanpa ragu memangku Karin pada tangannya. Batin Kazune sudah berteriak keras kepada Jin dengan makian-makiannya, ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali, ia tidak bisa mencegah Jin mengambil Karin dari tangannya!
Ekspresi wajah kemenangan muncul pada Jin, ia menyeringai kecil lalu membawa Karin ke langit dan berhenti beberapa kaki dari tanah.
WUSH! Asap hitam membara di sekitarnya dan semakin membesar saja. Dengan kekuatannya ia melayangkan Karin dan tangannya sudah siap untuk mengambil kekuatan Karin dari dalam tubuhnya.
"Tidak akan ada yang bisa menggangguku sekarang! TIDAK AKAN! AHAHAHA!"
.
.
[Karin POV]
Aku sedang bermimpi. Aku berada di padang rumput luas dan dikelilingi oleh orang-orang yang kukenal. Semua orang itu membuat lingkaran dan aku berada di tengah mereka. Aku bingung sendiri, mengapa mereka berkumpul di tempat ini?
"U-Um, ada ap—"
"Kau.. satu satunya harapan kami. Hanya engkau yang bisa mengalahkannya. Bukan begitu Putri Karin?" tanya pengawal pribadiku, Miyon. Lalu aku melihat Michi, dan para para petinggi di kerajaan, lalu Kazune, Himeka, Kazusa, dan yang lainnya berkumpul di satu tempat ini. Aku bertanya-tanya sedang apa aku disini dengan mereka semua mengelilingiku?
"Aku tidak mengerti."
"Kau pasti mengerti Putri Karin. Kenapa kau malah seperti itu? Apa kau mengaku kalah pada Jin?" tanya Michi dengan pakaian seorang raja seperti Kazune, berbeda dengan Miyon.
"Aku? Tidak mungkin! Aku tidak mengaku kalah pada Jin!" seruku membantah perkataannya.
"Tapi, kenapa? KENAPA? KENAPA KAU MENYERAHKAN KEKUATANMU PADA JIN!" kalimat itu terucap dari semua orang yang mengelilingiku. Mereka menatapku dengan marah. Aku terpojokkan di tengah mereka. Terus dan terus kalimat itu mereka ucapkan membuat telingaku penuh dan sampai tidak bisa mendengar suaraku sendiri.
"KENAPA KAU MENYERAHKAN KEKUATANMU PADA JIN?! KENAPA?!" aku panik dan melihat wajah-wajah mereka yang marah padaku. Semuanya tidak ada sama sekali yang tidak mengatakan itu padaku. Mereka semua menyalahkanku.
"Tidak! Aku tidak menyerahkan kekuatanku pada JIN!" pekikku membantah. Tapi saat kalimat itu terlontarkan mereka langsung terdiam, hening, dan tidak ada suara maupun pergerakkan sama sekali. Mereka semua terdiam, aku hanya sendiri yang bisa bergerak, mereka seperti mematung.
"Huh?"
Criiing! Cahaya putih bercampur hijau sangat terang menusuk mataku. Aku melihat sumber dari cahaya itu dan ternyata tubuhku yang mengeluarkan cahaya itu. Asap putih bercampur hijau pun keluar dari tubuhku begitu saja dan aku merasakan kekuatanku yang ikut keluar bersama asap itu.
"T-Tidak! K-Kekuatanku!" aku tidak bisa menghentikannya. Aku panik dan semakin panik saja saat aku merasakan seluruh tubuhku melemas dan aku jatuh tergeletak di rumput hijau yang sedari tadi kupijak.
Kini bagian diriku yang tidak bisa bergerak. Tergeletak dan hanya bisa berusaha mengontrol kekuatanku yang keluar. Setelah beberapa lama berbaring di rumput hijau yang tebal serta kekuatanku yang semakin terkuras, aku mulai kehilangan kesadaranku.
Sedangkan orang-orang yang tadi mematung kemudian mulai bergerak lagi dan mereka mengganti ekspresi wajah mereka, mereka terlihat ketakutan dan mereka meneriaki namaku seperti takut kehilangan. Semua orang berlari ke arahku namun tertahan dengan lingkaran yang tidak terlihat di sekitarku, mereka tertahan di luar lingkaran itu dan hanya bisa meneriaki namaku.
"Putri Karin! Putri Karin!" seruan namaku semakin keras dan keras.
"K-Kekuatanku.. kenapa..?" aku mempertahankan kesadaranku agar aku bisa mengendalikan kekuatanku yang keluar begitu saja, tapi.. aku merasa sangat lelah. Mataku mulai berat seakan ingin tertidur. Tubuhku serasa ringan. Namun suara panggilan namaku terus mengiang di telingaku dan sampai aku tutup mataku pun suara mereka masih terdengar. Dan yang paling bisa kudengar adalah suara orang-orang terdekatku. Michi, Miyon, Putri Himeka, dan.. Pangeran Kazune. Mereka menyerukan namaku terus dan terus dan sampai yang terakhir kali kudengar dari mereka…
"Putri Karin! Bertahanlah! Bertahanlah..!"
..
..
Saat itu juga aku kehilangan suara mereka.
.
.
.
.
.
.
.
"—Apa ini artinya aku harus…
mengucapkan 'Selamat tinggal'?—"
.
~To be Continue~
~Review?~
a/n: yayyy bagaimana? Ada misstypo? Saran? Pertanyaankah? Atau apapun silahkan review atau pm bisa^^ terimakasih sudah membaca~!
Balas review untuk:
Ika, KK LOVERS, kirei-chan05, ayu. p, Haruka Hitomi, NienaKawaiii01122001, yui, NN, febniani, .com, Tsubaik C-chan, nuri kujyo, eka wahyu, Guest, Leonyta, Viona – Jms.
Maaf bila tidak dibalas satu per-satu T^T, tapi author berterimakasih banyak pada reviewers yang sudah me-review dan mungkin menunggu fic ini untuk update T^T Sekarang chapternya sudah di update^^ jadi jadi jadi maafkan lama sekali updatenya yaa^^ hehe
