Prince's Prince

Main Cast(s) :

- Jeon Jungkook

- Kim Taehyung

Genre : Romance, Drama

Rated : T


Prince's Prince

.

.

.

Chrysanthemum

.

.

.


"Jungkook?!"

Suara seorang wanita menggema di kamar pasien Jungkook. Sedangkan Taehyung dan Jungkook menoleh kaget ke arah suara, mereka mematung di tempat dengan posisi yang agak intim itu.

.

"Eomma?!"

.

Jungkook reflek melepaskan pelukannya pada leher Taehyung dan mendorong dada pemuda yang menggendongnya itu.

"Ya! Ya! Ya!" Taehyung berseru heboh saat tubuh Jungkook kehilangan keseimbangannya.

Pemuda 23 tahun itu memeluk punggung dan menekan tengkuk Jungkook dengan kuat, menahan tubuh di dalam gendongannya.

"Hyung! Lepas!" Bentak Jungkook heboh.

"Ya! Bodoh! Bagaimana mau kulepas? Kau mau jatuh dan kakimu makin parah, hah?" Omel Taehyung lalu membawa tubuh Jungkook yang terdiam ke atas kasur pasiennya.

Wanita yang berstatus sebagai Ibu Jungkook terbengong melihat kedua orang di depannya.

Taehyung membaringkan tubuh dan merapihkan piyama Jungkook yang sedikit tersingkap.

Pemuda itu membalikkan tubuhnya dan membungkuk hingga 90°, memberi hormat khas budaya Korea ke arah Ibu Jungkook.

Setelahnya ia kembali berdiri tegak dan memberi senyuman terbaiknya.

"Annyeonghaseyo, Kim Taehyung imnida." Ucapnya formal.

Kedua bola mata wanita itu berbinar senang, terpesona akan kharisma yang dimiliki oleh pemuda di depannya.

"Omooo~ Annyeong, Taehyung-ssi." Ucapnya lalu membungkuk sedikit.

"Ne, ajumma." Taehyung kembali tersenyum.

"Tampannya... Kau yang merawat Jungkook dari kemarin?" Tanya Ibu Jungkook ramah.

Taehyung menjawabnya dengan senyuman dan anggukan yang cukup semangat.

"Aigoo~ Jungkookie."

Mendengar namanya dipanggil, Jungkook yang sedari tadi menatap kedua orang di depannya malas kini menoleh kearah ibunya.

"Hm?"

Ibu Jungkook tersenyum lebar dan menaikkan kedua alisnya.

"Dia pacarmu?." Ucap wanita itu.

"Eomma!" Jungkook berteriak kesal saat sang ibu justru tertawa dan mencubiti pipinya dengan gemas.

"Dia bukan pacarku, oke?" Ucap Jungkook.

"Ah... Kau ini." Ibu Jungkook tertawa setelah melihat wajah anaknya yang merajuk.

"Taehyung-ah~ kau bisa pulang dan istirahat, kasihan kalau kau kerja dan mengurus anak merepotkan ini. Biar eomma yang mengurusnya." Ucap sang ibu.

Jungkook membulatkan matanya saat sang ibu menggunakan kata 'eomma' kepada Taehyung yang statusnya 'bukan anak' kandungnya.

Taehyung yang mendengarnya hanya salah tingkah dan menggaruk tengkuknya dengan canggung.

"Tapi, ajumma... Aku tidak keberatan mengurus Jungkook." Ucap Taehyung polos.

Namun, sepertinya Taehyung salah mengucapkan kata-kata.
Lihatlah tatapan membunuh Jungkook yang sangat berlawanan 360° dengan sang ibu, yang menatap Taehyung penuh binar kebahagiaan.

"Kau memang anak yang baik! Jangan panggil aku ajumma, panggil saja eomma! Aku senang jika benar-benar memiliki anak sepertimu." Ucap Ibu Jungkook dengan gembira.

Jungkook membulatkan matanya, menatap Taehyung dan ibunya dengan kesal.

"Eomma! Kenapa jadi membanggakan dia terus sih?" Omelnya.

Taehyung menelan ludahnya dengan gugup, jadi merasa tak enak dengan suasana di sekitarnya.

"Diamlah cutie, ibumu sedang bicara dengan tamu." Ucap Ibu Jungkook dengan nada menyebalkan.

Jungkook memutar bola matanya dengan kesal, menarik selimutnya hingga kini wajahnya tertutup sempurna.

"Ya, ya, ya. Terserah eomma, aku ingin tidur." Jengkel sang pemuda.

Taehyung justru terkekeh kecil melihat kelakuan Jungkook yang kekanakkan. Ia tersenyum ke arah Ibu Jungkook yang sedang menertawakan anaknya.

Taehyung yang merasa bahwa ibu dan anak itu butuh privasi, kini membereskan alat kantornya.

"Permisi, ajumma-" Suara Taehyung terpotong saat jemari lentik bercat kuku maroon itu terangkat.

"Eomma. Bukan ajumma, okay?" Interupsi Ibu Jungkook.

"Ah iya, maaf eomma. Aku harus keluar, ada hal yang harus kulakukan." Ucap Taehyung sedikit canggung.

"Iya, tidak apa-apa." Balas Ibu Jungkook.

Taehyung keluar, meninggalkan kedua orang yang sebenarnya sudah bertahun-tahun tak berjumpa itu.

.

"Jungkookie..." Panggil sang ibu dengan lembut.

Jungkook yang masih kesal, hanya terdiam dan tidak membuka selimut yang menutupi wajahnya.

"Hey, sayang... Kamu tidak rindu dengan eomma?" Ucap sang ibu.

Jungkook terdiam mendengarnya, 6 tahun tidak bertemu ibunya adalah waktu yang sangat panjang baginya. Ia sangat merindukan sang ibu. Sangat.

Ibu Jungkook tersenyum begitu anak sulungnya menurunkan selimut dengan perlahan.

"Eomma..." Cicit Jungkook.

"Hm?" Sang Ibu terkekeh kecil melihat wajah Jungkook yang terlihat merengut.

"Sudah berapa tahun kita tidak bertemu?" Gumam Jungkook.

Sang ibu terlihat berpikir sebentar, menatap anaknya dengan pandangan sendu yang dimilikinya.

"Enam tahun, sayang. Maafkan eomma." Jawab sang ibu.

Jungkook terdiam, mengangkat sedikit tubuhnya untuk duduk di atas ranjang. Sang ibu reflek membantu, lalu duduk di kursi sebelah ranjang setelahnya.

"Eomma, bisakah kau duduk di sini saja?" Ucap Jungkook sembari menepuk tempat kosong di ranjangnya.

Sang ibu tersenyum, melihat anak nya yang manja setiap bertemu dengannya. Ibu Jungkook mengangguk pelan, mendudukkan tubuhnya di samping sang anak, dan menjadikan lengannya sebagai bantalan kepala Jungkook.

"Jungkook-ah... Maafkan eomma sudah terlalu lama tidak menemuimu..." Gumam sang ibu.

Jungkook hanya memejamkan matanya, bergumam kecil karena mengantuk di dalam rengkuhan hangat sang ibu.

"Eomma... Apa kau tidak rindu dengan Jin?" Tanya Jungkook.

Sang ibu terkekeh kecil, mencubit pipi anaknya dengan pelan.

"Tentu saja! Tadi pagi eomma sempat ke sekolahnya dan bertemu dengannya. Kau tahu? Eomma sangat senang melihat dia tumbuh dewasa dengan baik." Ucap sang ibu.

Jungkook tersenyum, semakin mengantuk saat ibunya menepuk kecil lengannya dengan lembut, seperti menenangkan bayi.

"Eomma... Apa tidak masalah kalau aku tidak bisa ke Swiss dua minggu ini? Lalu bagaimana kantor appa yang di sana?" Jungkook merasa matanya sudah tidak bisa diajak kompromi, ia mengantuk.

"Tidak apa-apa. Tidak akan ada masalah, kok." Ucap sang ibu.

Ibu Jungkook tersenyum saat mendengar dengkuran halus anaknya, ia mengecup kening anaknya dengan sayang.

"Maafkan eomma, Jungkook-ah." Gumam sang ibu pelan.

.

Taehyung mengitari pertokoan kecil di dekat rumah sakit. Senyumnya mengembang begitu melihat toko bunga yang berada di sana.

Ia memasuki toko dengan perasaan bahagia, dan disambut oleh wanita tua yang tersenyum lembut kepadanya.

Ia mengelilingi toko kecil itu dengan pelan, melihat-lihat bunga yang kira-kira cocok dengan keadaan Jungkook kali ini. Atau sekiranya, terlihat indah saat ia memberinya kepada Jungkook nanti.

Ia menatap bunga chrysanthemum yang terlihat manis di sana.

'Eomma... Aku merindukanmu. Aku ingat saat kau sering membeli chrysanthemum untuk di rumah kita dulu.' Batinnya sendu.

"Aku mencintaimu tiada akhir."

Taehyung menoleh kaget ke arah wanita tua yang baru saja berbicara itu. Menatap bingung saat wanita tersebut mendekatinya, dan menyentuh bunga chrysanthemum merah dan baby's breath yang sedari tadi di pandang oleh Taehyung.

"Kau sedang jatuh cinta bukan?" Suara wanita itu menginterupsi Taehyung.

Pemuda itu tersenyum malu ke arah sang wanita. Lalu mengusap tengkuknya dengan gugup.
Wanita itu terkekeh dengan kelakuan Taehyung.

"Chrysanthemum ini sangat cocok dengan Baby's Breath. Bunga chrysanthemum merah ini memiliki arti 'aku mencintaimu' dan baby's breath artinya 'cinta tulus tiada akhir'. Indah bukan?"

Taehyung tersenyum mendengarnya, lalu mengangguk membenarkan wanita itu.

"Ajumma, bisakah kau membuatkanku sebuket bunga-bunga ini?"

Sang wanita tersenyum, lalu mengangguk kecil.

Taehyung menunggu wanita itu merangkai bunga dengan sabar. Sesekali pemuda itu menghubungi Yoongi untuk menanyakan kabar kantor.

20 menit berlalu, akhirnya bunga itu sudah berada di tangan Taehyung. Ia memberi beberapa lembar uang kepada wanita itu dan mengucapkan terima kasih.

"Tunggu, nak. Kau harus mendapatkan ini." Wanita tua itu mengeluarkan kotak kecil bewarna biru tua.

"Kau Kim Taehyung, bukan?" Ucapnya lagi.

Taehyung membulatkan matanya kaget, menatap sang wanita tua yang tersenyum kepadanya.

"Ibumu dulu sering ke sini bersama ayahmu. Membeli chrysanthemum merah kesukaannya." Gumam sang wanita, mengerti akan mimik bingung dari Taehyung.

Pemuda itu berjalan mendekat, menatap wanita tua yang kini memegang kotak kecil.

"Darimana ajumma tahu, aku... Kim Taehyung?" Tanya Taehyung.

"Wajahmu mirip dengan ayahmu. Sangat mirip." Ucap wanita itu.

"Aku ingat, dua puluh lima tahun yang lalu... Ayahmu kemari, membeli chrysanthemum dan baby's breath untuk melamar kekasihnya. Dan mereka menikah ditahun berikutnya. Semenjak itu, ibumu sering kesini dan membeli bunga yang sama. Enam tahun yang lalu, terakhir kalinya orang tuamu kemari... Ia membeli bunga kesukaannya. Lalu kotak ini tertinggal, dan di sini tertulis namamu." Ucapnya.

Taehyung termenung mendengarnya, ia mengeratkan genggamannya pada buket bunga yang ia bawa.

"I-itu tahun di mana ayah dan ibu meninggal karena kecelakaan." Lirihnya.

"Me-mereka... Ada sebuket bunga chrysanthemum di mobil mereka." Suara Taehyung bergetar saat membicarakannya.

"Ya Tuhan... Aku turut berduka, Taehyung-ah... Maafkan ajumma." Ucap sang wanita tua.

Taehyung tersenyum getir, menghela nafas dengan pelan.

"Tidak apa, ajumma. Aku tidak apa-apa." Ucapnya.

Sang wanita tersenyum, memberi kotak kecil itu ke tangan Taehyung. Dan menggengam tangan Taehyung dengan lembut.

"Bawalah ini. Jangan lupa kau buka." Ucap sang wanita.

Taehyung tersenyum, menganggukan kepalanya dan segera pergi dari sana. Ia mengucapkan 'terima kasih' kepada sang wanita sebelumnya.

.

Taehyung membuka pintu kamar pasien Jungkook dengan perlahan, menatap Ibu Jungkook yang sedang menepuk-nepuk kecil punggung anaknya yang tertidur di dalam pelukannya.

Taehyung tersenyum hangat, melihat pemandangan indah yang kini menenangkan hatinya.

"Taehyung?" Wanita berumur empat puluhan itu menengok ke arahnya, terkekeh saat melihat Jungkook yang mengerang kecil saat ia mencoba melepaskan pelukannya.

"Manja. Anak ini sangat manja, Taehyung." Ucapnya halus. Ia kembali menepuk punggung anaknya dengan pelan, takut mengganggu tidur sang anak sulung.

"Dia lucu." Taehyung bergumam kecil sembari berjalan mendekat ke arah ibu dan anak itu.

"Tentu. Jungkook dan Jin adalah anak-anak yang lucu, kan?" Ucap sang ibu bangga.

Taehyung mengangguk dengan antusias untuk menjawabnya.
Ia meletakkan buket bunga yang sedari tadi ia bawa di atas meja yang berada di dalam ruang pasien.

Ibu Jungkook melepaskan pelukan dari anaknya saat melihat Jungkook sudah tertidur pulas.

Ia menatap Taehyung yang kini duduk di sofa dan memegang sebuah kotak kecil.

"Taehyung-ah... Boleh eomma bertanya sesuatu padamu?" Ucap sang wanita.

Taehyung menoleh dan mengangguk sebagai jawabannya.

"Apa tidak masalah kalau aku mempercayai Jungkook padamu?" Ucapnya lembut.

Taehyung membulatkan matanya, lalu membuka mulutnya untuk berbicara. Justru sebuah gerakan gagu yang ia perlihatkan.

Ibu Jungkook tertawa kecil, lalu duduk di samping Taehyung.

"Hmmm... Eo-eomma..."

"Kau jangan terbata seperti itu, eomma tidak akan menggigit." Ucap sang wanita dengan nada menyebalkan.

Taehyung mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal.

"A-anu... Aku belum yakin eomma kalau Jungkook akan menerimaku." Ucap Taehyung pelan.

"Justru itu! Aku ingin kau membuat anak itu bertekuk lutut denganmu! Jangan patah semangat! Aku tau dia hanya jual mahal." Ucap Ibu Jungkook dengan semangat.

Taehyung menatap wanita itu dengan tatapan kagum dan heran. Bingung dengan kata-kata yang dipilih wanita itu untuk menyemangatinya. Ia menggaruk kepalanya dengan gelisah.

"Ta-tapi eomma..."

"Tidak ada tapi-tapian! Eomma tau kamu bisa! Dan sangat setuju kalau kau menjadi pendamping hidup anakku. Ya Tuhan... Eomma mendengar semua cerita kisah cinta kalian dari Jin dan Jimin. Dan itu sangat manis!" Ucap sang wanita sembari tersenyum riang.

"Tapi... Apa orang tuamu akan baik-baik saja mengenai hal ini?" Tanya Ibu Jungkook.

Taehyung tersenyum.

"Aku yakin... Apapun yang kulakukan pasti akan mereka terima dengan baik." Ucap Taehyung.

Ibu Jungkook tersenyum.

"Di mana orang tuamu sekarang Taehyung-ah? Apa mereka tinggal di Seoul?"

Hanya gelengan kecil yang dilakukan oleh Taehyung. Ia tersenyum sembari membuka kotak kecil yang ia pegang.

"Mereka sudah tiada sejak enam tahun yang lalu." Lirihnya.

Ia mengusap sepasang anting emas putih polos yang berada di sana. Menatap tulisan rapih ibunya yang tersemat di kertas kecil sehingga membuat degup jantungnya bertambah cepat.

.

"Chrysanthemum. 'Aku mencintaimu.' Happy 17th Birthday our beloved sunshine, Kim Taehyung!"

.

Air matanya turun, berlawanan dengan bibirnya yang kini tersemat senyuman indah.

"Taehyung... Maafkan eomma. Sungguh, eomma tidak bermaksud." Wanita itu mengusap rambut kecoklatan Taehyung dengan pelan, mencoba menenangkan sang pemuda.

"Tidak apa eomma, aku hanya rindu dengan orang tuaku." Ucapnya.

Taehyung memeluk wanita itu, menumpahkan emosinya dengan isakkan pelan yang tak mampu lagi dibendung.

"Bolehkah aku menganggap eomma sebagai orangtua kandungku?" Lirih pemuda itu.

Sang wanita mengusap punggung Taehyung, tersenyum getir saat merasa bahu pemuda di depannya bergetar.

"Tentu." Balasnya lirih.

.

Taehyung terbangun dari tidurnya di sofa. Yang ia ingat, terakhir kali dirinya sedang berada di dalam pelukan Ibu Jungkook. Pelukan hangat yang sama persis seperti pelukan dari ibunya dulu.

Ia mengusap wajahnya dengan pelan, menoleh ke arah kasur Jungkook. Sang pemuda tersenyum melihat Jungkook yang masih tertidur pulas.

Taehyung mengedarkan pandangannya, mencari Ibu Jungkook yang tidak berada di tempatnya terakhir. Taehyung mengambil buket bunga yang sedari tadi berada di meja depannya.

Ia berjalan mendekati ranjang Jungkook, dan menaruh bunga itu di nakas sebelahnya.

Pemuda kelahiran Daegu itu menghela nafas dengan pelan. Dengan cekatan, ia mengambil laptop kesayangannya dan menggambar sebuah sketsa animasi kebanggaannya.

.

Hampir satu jam Taehyung berkutat dengan laptop dan segala peralatan lainnya, hingga kini ia tak sadar bahwa Jungkook sudah bangun dan memperhatikannya.

"Hyung."

"Hm."

"Hyung."

"Apa?"

"Bodoh. Tatap orangnya kalau sedang bicara." Suara menyebalkan itu membuat Taehyung menolehkan kepalanya, menatap malas ke arah Jungkook.

"Ada apa sayangku?" Ucapnya gombal.

"Menggelikan. Aku tak butuh gombalanmu. Jadi siapa yang memberiku ini? Kau?" Ucap Jungkook dengan menunjukkan sebuket bunga yang entah kapan berada di genggamannya.

"Iya, itu untukmu." Ucap Taehyung lalu kembali berkutat dengan pekerjaannya.

"Chrysanthemum, aku... mencintaimu?" Gumam Jungkook.

Taehyung terkejut, Jungkook dapat mengartikan bunga yang ia beri.

"Baby's breath... cinta tulus tanpa akhir?" Gumam yang lebih muda lagi.

"Yeah, aku juga mencintaimu tanpa akhir cutie." Ucap Taehyung santai.

"Jangan mencari resiko karena memanggilku cutie." Ancaman pedas itu keluar dari mulut Jungkook.

"Memang kau mau apa? Mengejarku saja tidak bisa." Cibir Taehyung lalu terkekeh saat Jungkook dengan lucu menggeram kecil.

"Hey, kau malah terlihat seperti kucing lapar daripada macan yang marah." Ucap Taehyung.

"Terserah kau tuan Kim." Ucap Jungkook.

"Baiklah nyonya Kim." Jawab Taehyung.

"Aku bukan wanita, kau ingat?" Ucap Jungkook.

"Ya, baiklah tuan Kim kedua." Ucap Taehyung dengan malas.

Jungkook merona mendengarnya, ia menutupi wajahnya dengan buket bunga yang ia genggam.

Taehyung sibuk membereskan alat kerjanya. Dengan cepat, lelaki tampan itu kembali duduk dan menarik kursinya mendekat ke arah Jungkook.

"Jadi bagaimana? Kau masih merasa ketakutan?" Tanya Taehyung lalu mengelus pelan kepala Jungkook yang kini bersandar di tumpukan bantal.

Jungkook menggeleng kecil, lalu tersenyum kecil ke arah Taehyung.

"Ah... Ngomong-ngomong, terima kasih banyak bunganya. Aku suka." Ucap Jungkook pelan.

Taehyung terkekeh, mencubit pipi kanan Jungkook dengan gemas.

"Ya... aku tau kau akan menyukainya." Ucap Taehyung.

Jungkook tertawa kecil saat Taehyung dengan gemas memainkan poninya. Lalu mencubit pinggang lelaki yang lebih tua darinya dengan keras, saat Taehyung dengan lancang mencium pipinya.

"Hyung."

"Apa?"

"Aku tidak jadi ke Swiss." Ucap Jungkook.

"Benarkah?! Bagus kalau begitu." Ucap Taehyung dengan senyuman andalannya.

Jungkook mengangguk kecil, lalu memejamkan matanya saat Taehyung kembali mengusap sayang kepalanya.

"Kau tahu? Kau sangat berubah semenjak aku sakit." Gumam Taehyung.

Jungkook mengeratkan genggamannya pada buket bunga yang ia pegang, lalu menunduk untuk menutupi wajahnya yang memanas.

"Diam." Desisnya yang justru membuat Taehyung semakin gemas padanya.

Jungkook menaruh buket bunga itu dengan hati-hati di atas nakas. Taehyung dengan reflek membantunya.

"Jangan banyak bergerak dulu. Nanti kakimu tidak sembuh-sembuh." Ucap Taehyung.

"Iya." Jawab Jungkook kesal.

"Ah iya! Kau tahu? Ibuku sering membeli chrysanthemum di toko tempat aku beli bunga ini." Ucap Taehyung dengan riang.

Jungkook tersenyum kecil melihat sebuah senyuman bahagia Taehyung yang tulus.

Hatinya tersentuh dengan kegigihan Taehyung untuk hidup mandiri sejak remaja. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan lelaki itu saat ditinggal oleh kedua orang tuanya.

"Jungkook? Hey. Kenapa diam?" Tanya pemuda di hadapannya.

"Ah... Aku tidak apa-apa hyung." Ucap Jungkook.

Taehyung tersenyum, ia mengelus pipi kiri Jungkook yang terdapat bekas luka di sana.

"Kau dari dulu ceroboh ya? Bagaimana luka ini bisa ada di pipimu? Hm?" Ucapnya pelan.

Jungkook terdiam dan menutup matanya, merasakan kehangatan telapak tangan Taehyung yang membuatnya nyaman.

Sehingga kehangatan itu hilang karena Taehyung dengan perlahan menarik tangan dari pipinya.

.

"Jeon Jungkook..." Suara berat Taehyung yang begitu merdu memanggil namanya membuat Jungkook menoleh, mengerjapkan matanya saat sebuah kotak bludru berwarna biru berada tepat di depan wajahnya.

.

"Mungkin ini hal yang kau anggap bercanda atau sebuah permainan. Dan mungkin kau tidak tahu aku sangat bahagia saat mendengar kau menyukaiku, walau ternyata itu semua sebuah kebohongan."

Taehyung menghela nafas dengan gugup, tangannya menggenggam kotak itu dengan erat.

"Maaf karena aku tidak akan melepasmu, walau kau memaksa. Dan maaf karena aku tidak bisa membuat kalimat yang patut di dengar olehmu, Kook-ah. Ya Tuhan... Ini sangat gombal, serius."

Taehyung terkekeh setelahnya. Sedangkan Jungkook masih terbengong di tempatnya.

Kotak itu terbuka, memperlihatkan sepasang anting emas putih polos yang begitu cantik di dalamnya.

.

"Selamat ulang tahun sayang, eomma dan appa sangat bangga denganmu.

Sekarang kau sudah tujuh belas tahun!

Jangan lupa makan siang dan sarapan ya, kalau kami sedang sibuk bekerja. Kami tidak ingin kau terlihat kurus...

Eomma dan appa hanya bisa memberimu ini...
Kau punya tindikkan baru di telinga kirimu bukan? Itu terlihat keren!

Dan... satu lagi.

Anting ini sepasang, pakailah untukmu satu dan beri satu lagi pada pacarmu nanti.

Semoga kalian cocok, karena eomma dan appa akan mendukung apapun yang kau sukai, Taehyung!

Ah, maaf. Eomma terlalu gembira karena kau beranjak dewasa.

Cinta anak remaja memang begitu lucu kalau dipikirkan lagi.

Baiklah, eomma dan appa pikir kalau ini terlalu panjang akan sulit kertas ini untuk dilipat dan di masukkan ke dalam kotak.

Salam hangat dan penuh cinta dari kedua orang tuamu yang keren."

.

"So... Jeon Jungkook."

.

"Would you be mine? Cause' I'm sure that I'll be yours forever."

.

TBC


Hi :)

Aku akhirnya bisa nge-post chapter 11 hehehehe

Mumpung ada wifi gretongan :)

ILY semuaaaa :*

Sincerely,

InfinitelyLove