DISCLAIMER: Ojamajo Doremi © Toei Animation, 1999-2004. Ojamajo Doremi 16, Ojamajo Doremi 16 Naive, Ojamajo Doremi 16 Turning Point & Ojamajo Doremi 17 (light novel) © Kodansha, 2011-2013. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini.
Catatan Author: Akhirnya, saya sempet juga update chapter 11… #sigh
Kalau readers udah baca 'Ojamajo Girlband' chapter 17 – 'The Sweet Peach', pasti udah familiar dengan apa yang akan terjadi di chapter ini. Kurang lebih sih, chapter ini akan menceritakan apa yang terjadi di scene yang ditonton oleh Momoko di 'The Sweet Peach' lebih lengkap lagi dari apa yang saya tulis disana. Penasaran? Langsung dibaca saja ya? ^^
The Stars and the Bad Boys
.
With the Peach Under the Peach Tree
"Akatsuki-kun, sedang apa kau disini?!" seru Momoko saat secara tiba-tiba Akatsuki menemuinya di taman dekat pohon peach tempat ia biasanya menghabiskan waktu dengan bermain gitar disana, "Kau pasti masih berusaha untuk memperdayaku kan?"
"Momo-chan, aku…"
"Kami semua sudah dengar dari Doremi-chan kalau kau sempat membicarakan tentang rencana jahatmu bersama dengan Fujio-kun di festival musim panas beberapa waktu yang lalu, dan sekarang… kau pasti sedang…"
"Aku tidak sedang melakukan apa yang sedang kaupikirkan," bantah Akatsuki, "Kau bisa lihat sendiri kalau sekarang, aku bahkan sudah tidak pernah lagi membicarakan hal itu dengan Fujio-kun. Bertemu dengannya saja sudah membuatku jijik, bagaimana bisa aku masih memikirkan rencana itu?"
"Jangan jadi orang munafik, Akatsuki-kun! Justru dari apa yang kaulakukan selama ini, aku dapat menyimpulkan kalau kau masih ingin menjalankan rencana yang keji itu!"
"Kau salah, Momo-chan. Sekarang, aku benar-benar mencintaimu," ujar Akatsuki yang mulai mendekati Momoko, "Kau boleh tatap mataku selama yang kau mau, supaya kau bisa yakin kalau aku benar-benar mencintaimu, Momo-chan."
"…"
"Momo-chan…"
"Stop!" perintah Momoko kepada Akatsuki, "Menjauhlah dariku, Akatsuki-kun!"
"Tapi…"
"Kau menjadikan aku sebagai objek pelarianmu kan?" teriak Momoko sambil melangkah mundur, menjauhi sang pemuda berambut violet dihadapannya, "Setelah sebelumnya kau gagal mendapatkan Doremi-chan?"
"Awalnya memang begitu," aku Akatsuki, "tapi…"
"Cukup, Akatsuki-kun," potong Momoko sambil menatap Akatsuki dengan tajam, "Aku tidak ingin dengar apapun darimu!"
"Sekarang aku benar-benar mencintaimu, Momo-chan!" Akatsuki terus berusaha meyakinkan Momoko supaya ia tahu perasaannya yang sebenarnya terhadap gadis itu, "Kumohon, beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya padamu."
"…"
"Begini, aku mengakui kalau apa yang kulakukan di hotel itu benar-benar keterlaluan, tapi sekarang aku sudah tidak ingin melakukannya lagi terhadap siapapun diantara kalian berlima. Aku sudah tidak memikirkan rencana itu sama sekali, dan kau juga bisa lihat kalau sekarang aku selalu menjauhi Fujio-kun. Karena apa? Karena sekarang aku benar-benar mencintaimu. Aku bahkan lebih memilih untuk ikut pindah kamar bersama dengan Leon-kun dan Tooru-kun."
"Kau bohong, Akatsuki-kun. Aku yakin kalau kau masih berniat untuk menghancurkan MAHO-Do kan? Hanya sekarang, karena kau gagal melakukannya dengan Doremi-chan, kau memutuskan untuk menjadikanku target cadangan, iya kan?" ujar Momoko, masih belum bisa mempercayai perkataan Akatsuki, "Kau mencoba memperdayaku kan?"
"Itu semua tidak benar!" seru Akatsuki, "Aku benar-benar mencintaimu, dan aku takkan mungkin tega memperdayamu."
"Apa buktinya? Semua orang juga tahu kalau caramu mendekatiku sama persis dengan caramu mendekati Doremi-chan saat itu – berpura-pura mengembalikan barang kami yang tertinggal di tempat favorit kami di taman ini, dan kita semua tahu apa akhir yang kauinginkan dari caramu itu: hotel, tempat tidur… kau berusaha memperdaya kami!"
"Aku tidak akan pernah melakukannya terhadapmu!" Akatsuki berpikir sebentar sebelum melanjutkan penjelasannya, "Baik, saat itu… aku memang berniat melakukannya terhadap Doremi-chan – dan mungkin juga padamu, tapi… saat aku mengenalmu lebih jauh lagi, aku sadar kalau… tidak sepantasnya aku berpikir untuk menghancurkan girlband kalian dengan cara yang tidak bermoral seperti itu, dan… aku juga sadar kalau akhirnya… aku mencintaimu."
"Akatsuki-kun…" gumam Momoko.
"Momo-chan, percayalah. Apa yang kurasakan padamu benar-benar berbeda. Aku benar-benar mencintaimu, dari lubuk hatiku yang paling dalam…"
"Akatsuki-kun…" kali ini, Momoko menggumamkan nama pemuda itu dengan suara yang lebih lembut, bahkan kedua manik zamrudnya mulai menitikan air mata.
"Lihatlah pohon peach itu, Momo-chan," ujar Akatsuki sambil menoleh kearah sebuah pohon peach yang sejak tadi melindungi mereka dari sinar matahari yang panas terik siang itu, "Hari ini, pohon itu akan menjadi saksi, kalau aku telah memilih seseorang yang benar-benar kucintai, yang tercantik dan termanis di dunia ini, yaitu kau, Momo-chan."
Akatsuki menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan perkataannya dalam bahasa Inggris, "You're my sweet peach."
"Ah," Momoko menghapus air matanya, "Really?"
"Yes," jawab Akatsuki mantap, "Dan aku tahu kalau selama ini, kau merasakan perasaan yang sama terhadapku."
"Jadi… kau sudah menyadarinya ya?" Momoko tersenyum tipis, "Yah, jujur saja… sebelum aku menerima pesan peringatan dari Kotake-kun tentang rencana jahat kalian, aku sempat… mengagumimu, dan kalau boleh jujur… aku senang sekali saat kau menghampiriku dan mengembalikan buku catatanku."
Momoko menghela napas, "Aku juga mencintaimu."
Mereka lalu saling berpelukan dengan sangat mesra, "Kita saling mencintai…"
Momoko dan Akatsuki tidak menyadari, kalau sebenarnya ada dua orang yang sedang mengawasi mereka dari kejauhan. Lebih tepatnya, mereka mengamati Momoko dan Akatsuki untuk memastikan bahwa keduanya tidak akan melakukan hal yang diluar batas.
"Baik, kelihatannya Akatsuki benar-benar memikirkan apa yang kaukatakan padanya saat kita memergokinya sedang membicarakan tentang rencana jahatnya bersama dengan Fujio," ujar seorang diantara mereka yang ternyata adalah Kotake, "Bagaimana menurutmu, Doremi?"
Doremi menghela napas sebelum akhirnya menjawab, "Baiklah, sekarang aku tahu kalau Akatsuki-kun benar-benar mencintai Momo-chan."
"Jadi?" tanya Kotake lagi, "Kau tahu kan, kalau ada satu hal yang harus kaulakukan sekarang?"
"Ya, aku ingat. Aku sudah salah menilai Akatsuki-kun lagi," aku Doremi, "Bedanya, kalau sebelumnya aku menganggapnya orang baik saat ia berencana jahat terhadapku, sekarang… aku menganggapnya berbohong saat ia jujur mengakui perasaan cintanya terhadap Momo-chan, dan karena itulah, sekarang aku harus menghampiri mereka."
"Itu bagus," sahut Kotake, "Ayo, sekarang kita datangi mereka."
Sepasang kekasih itupun berjalan mendekati Momoko dan Akatsuki yang masih berpelukan dengan erat, kemudian memanggil nama keduanya dan membuat mereka terkejut dan saling melepaskan pelukannya.
"Hei, kalian tidak perlu kaget begitu," ujar Doremi melihat Momoko dan Akatsuki yang mulai salah tingkah, "Sejak tadi, kami sudah memperhatikan apa yang sedang kalian lakukan disini, dan…"
Doremi menoleh kearah Akatsuki dan melanjutkan kata-katanya, "Sekarang aku yakin kalau kau benar-benar mencintai Momo-chan."
"Ya, apalagi… saat kau sedang berjalan kemari, kami juga memperhatikan kalau kau bertemu dengan Fujio dan… kau berkata padanya bahwa kau serius ingin melupakan rencana jahat kalian," tambah Kotake, "Kami jadi semakin yakin kalau kau telah sepenuhnya berubah sekarang."
"Syukurlah, akhirnya sekarang kalian bisa mempercayaiku," sahut Akatsuki, "Memang sih, saat kalian memergokiku dan Fujio-kun di festival musim panas, kami… memang berniat untuk menjebak Momo-chan, tapi… saat aku memikirkannya lagi, aku langsung teringat dengan apa yang kaukatakan saat itu, Doremi-chan. Aku sadar kalau aku mencintai Momo-chan, dan karena itu juga, aku harus melindunginya, bukan malah menyakitinya."
"Ini membuktikan bahwa kau orang yang pintar, Akatsuki," puji Kotake, "Tidak seperti Fujio yang masih terlalu bodoh untuk memikirkan perkataan Doremi kepada kalian saat itu."
"Kalau begitu, maafkan aku karena aku terlalu bodoh untuk memikirkan kata-kata itu, karena memang kata-kata itu terlalu 'pintar' buatku," sahut Fujio yang tiba-tiba menghampiri mereka dengan wajah sebal, "Tapi menurutku, aku harus tetap mempertahankan 'kebodohan'ku itu, karena dengan begitu, aku bisa melakukan sesuatu yang pintar, brilian dan elegan, setidaknya itu menurutku."
"Fujio-kun, aku mohon padamu untuk tidak lagi berbuat onar terhadap mereka," ujar Akatsuki kepada sang pemuda berambut orange, "Mulai detik ini, kau lupakan saja rencana yang tak berguna itu, karena sekarang semuanya telah berakhir. Bahkan bisa dibilang, FLAT 4 sudah bubar hanya karena rencana yang bodoh itu, seperti yang bisa kaulihat sekarang, dan satu-satunya cara yang bisa kaulakukan untuk mengembalikan persatuan antara kita semua hanyalah dengan melupakan rencana gila itu, seakan-akan rencana itu tak pernah ada dalam kehidupan kita."
"Jadi begitu? Kau membatalkan rencana itu hanya gara-gara mereka, begitu?!" Fujio mengeraskan suaranya, "Baik, kalau memang rencana kita harus dibatalkan, aku akan membatalkan rencana itu, tapi tentu saja, ada harga yang harus kalian bayar padaku."
Akatsuki memperhatikan kalau setelah Fujio menyelesaikan kata-katanya, ia langsung menoleh kearah Momoko, karena itulah Akatsuki langsung memperingatkan Fujio untuk tidak melakukan hal yang macam-macam terhadap sang gadis berambut blonde tersebut.
Fujio menghela napas dan bergumam, "Kelihatanya sekarang, kau jadi terlalu naif ya, Akatsuki-kun. Kau bahkan tidak bisa menebak apa yang sekarang ingin kulakukan."
"Eh?"
Sebelum Akatsuki sempat berbuat apa-apa, dengan cepat Fujio mengeluarkan sebilah pisau dari dalam saku celananya dan menyodorkannya, mencoba menusuk seseorang dengan menggunakan pisau tersebut.
Catatan Author: Dan dengan begini, fic ini akan berakhir tidak lama lagi!
Jadi, siapa yang ingin ditusuk oleh Fujio? Bisakah orang tersebut menghindar/terhindar dari pisau Fujio? Dan bagaimanakah nasib Fujio selanjutnya? Cari tahu jawabannya di chapter depan.
