Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura
Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan, tidak di ijinkan untuk mengcopy fic ini tanpa ijin dari author.
Catatan : cerita ini hanya fiksi belaka yang di karang-karang author, tidak bermaksud menyinggung apapun, sedikit menggabungkan iblis dan miko, tidak ada unsur buruk apapun dalam membuat cerita ini, hanya sekedar cerita bergender supernatural-humor, berharap ini akan lucu, jika tidak lucu maka author kembali gagal membuat cerita humor.
.
.
! Don't Like Don't Read !
.
~ Gadis Kuil Dan Para Pengikutnya ~
.
Chapter 10
[ Badai Di Malam Hari ]
.
.
Pukul 00:00
Malam hari yang begitu sunyi, angin berhembus cukup kencang menggoyangkan pohon-pohon yang ada di beberapa tempat, langit cukup cerah dan bulan sedang terang tapi bukan bulan purnama, angin kencang perlahan melemah dan suasana menjadi tenang. Kiba mencoba mengendus bau Sai namun hasilnya masih nihil, dia sama sekali tidak bisa menemukan bau Sai dimanapun, menatap tetua Biwako dan menggelengkan kepala.
"Aku yang akan melakukannya." Ucap Sakura, berjalan keluar dari area kuil, dia tengah memakai pakaian mikonya, mengikat rambut panjangnya lebih rendah.
"Sebaiknya kau istirahat, Sakura." Tegur Biwako, dia tidak ingin hal buruk terjadi pada miko sekarang sebelum dia memiliki keturunan sebagai penerus.
"Aku baik-baik saja tetua." Ucap Sakura, dia masih berdiri dan akan bertarung untuk mengembalikan Sai.
Berjalan perlahan hingga tepat di depan pintu masuk kuil, Sakura berkonsentrasi, membaca sebuah mantra, dia sempat menemukan sesuatu dalam beberapa buku catatan kuno, sudah jelas jika miko dan iblis yang di panggil itu terikat, mereka tidak bisa di pisahkan, hanya pemusnahan atau miko yang membatalkan ikatan mereka membuat mereka bisa dipisahkan.
Sasuke senantiasa mengawasi Sakura, dia yang akan menghajar Sai duluan jika terjadi hal buruk pada Sakura. Naruto, Kiba dan Gaara masih menunggu hasil yang di lakukan Sakura, dia terlihat serius dan wajahnya mulai memucat, Sakura memaksakan dirinya.
"Sai!" Teriak Sakura dalam hati. "Wahai Iblis pemanggil, ku perintahkan kau untuk kembali padaku! Sai!"
.
.
Tepat setelah nama Sai di ucapkan untuk kedua kalinya.
Deg!
"Arrghhhhttt...!" Teriak Sai dan memegang dadanya, sesak, sangat sesak seakan ada yang meremas jantungnya.
"Apa yang terjadi!" Ucap Mei, melihat tingkah aneh iblis kucing itu.
"Kita bunuh saja dia, Mei-sama."
"Benar, dia bisa membuat kita dalam bahaya."
"Kau harus membuang iblis seperti dia."
"Dia milik miko dan tidak akan yang bisa membuatnya patuh."
Para iblis jahat mulai mengajukan protes dan rasa tidak suka mereka terhadap Sai, dia baru saja datang di kelompok ini dan sudah menjadi orang kesayangan Mei, iblis yang penuh iri hati tidak akan bersikap baik-baik saja dengan cara memihak Mei meskipun dia ratu mereka.
"Diam kalian semua! Aku tidak butuh pendapat kalian, dengar! Aku adalah ratu bagi kalian, dengarkan ucapanku dan jangan membantah." Teriak kesal Mei. Dia hanya ingin menjalankan rencananya untuk membunuh miko dengan menggunakan iblisnya sendiri, tapi para iblis di bawah kendalinya tidak senang akan kehadiran Sai.
Dalam keadaan menahan rasa sakit, Sai mendengar semua pembicaraan mereka, senyum miring terpampang di wajahnya, dia bisa mendengar namanya di panggil oleh miko, hal mutlak untuk seorang iblis pemanggil, hanya patuh pada majikan mereka.
Menutup matanya perlahan dan menyebutkan 'tuan' saat itu juga rasa sakitnya menjadi hilang, tapi dia masih berpura-pura.
"Ahhkk! Mei-sama, rasanya ada yang ingin membunuhku, siapa iblismu yang bisa menggunakan kekuatan jarak jauh." Bohong Sai, dia akan menghancurkan kelompok ini, akting yang cukup bagus untuk menunda waktu.
Mei menatap satu persatu iblisnya setelah mendengar ucapan Sai, dia tidak senang jika ada yang membangkangnya, dia ratu dan hanya ratu yang boleh memerintah apapun.
"Cepat katakan! Siapa yang melakukannya!" Mei semakin kesal, tidak habis pikir dengan tingkah bodoh iblis yang di milikinya, mereka dalam satu kelompok tapi tidak ada satu pun yang Mei ketahui dari kekuatan mereka, dia sibuk merekrut iblis jahat yang memiliki tujuan sama dengannya.
Buagttt...!
Satu iblis tumbang dengan hanya telunjuk Mei tertuju pada iblis itu, seakan ada angin yang sangat-sangat kuat menghempaskannya.
"Siapa lagi yang mencoba berulah? Aku akan membunuhnya sekarang!" Ucap Mei, berjalan cepat ke arah Sai yang terbaring dan memangkunya. "Kau baik-baik saja?" Tanyanya, khawatir, dia pun jatuh hati dengan iblis tampan ini.
"Ah, hanya sedikit nyeri pada bagian sini." Ucap Sai dan menunjuk dadanya.
"Aku akan mengobatimu." Ucap Mei.
"Terima kasih, kau begitu baik padaku, yaah, wanita cantik memang mudah di andalkan dan juga cukup bodoh untuk di bohongi."
Zraakk...!
Mei bergegas menghindar sebelum cakaran dari tangan Sai yang berwujud iblis kucing melukainya, hanya pada bagian bajunya yang robek.
"Haa..~ Sayang sekali." Ucap Sai, berdiri menatap Mei dengan sebuah senyum manisnya.
"Kau! Berani-beraninya! Bunuh dia!" Perintah Mei.
Seluruh iblis yang ada di dalam bangunan itu menjadi marah dan melawan Sai, dia cukup mudah menghindar tapi menghindar pun tidak akan terus berhasil, Sai melawan mereka, satu persatu di cakar habis olehnya, sayang sekali tak semua iblis yang ada di dalamnya lemah, ada pun yang cukup kuat dan membuat Sai harus mengeluarkan seluruh kekuatannya.
"Cepatlah." Gumam Sai, dia masih mengulur waktu.
Buakk..!
Sebuah serangan yang tak terbaca oleh Sai, dia akhirnya terduduk dan darah segar merembes dari kepalanya.
"Kau terlalu sombong bocah!" Gertak salah satu iblis, dia cukup tua dari Sai dan lebih berpengalaman dalam bertarung.
"Diamlah kau pak tua, kau akan ku bunuh lebih dulu." Ucap Sai, mengambil ancang-ancang dan kembali melawan, tubuhnya perlahan-lahan melemah, dia terlalu lama berada di sarang iblis jahat, bisa saja Sai kehilangan dirinya sendiri.
Bruuuk...!
Kembali sebuah serangan membuat Sai harus terpental dan tubuhnya terhempas ke dinding, bangunan ini masih kokoh selama Mei masih hidup, tidak semua kerusakan yang terjadi akan kembali seperti semula.
"Cih, aku tidak akan main-main denganmu lagi." Ucap Sai, beberapa luka di tangan, wajah dan tubuhnya.
Braakk..! Prangg...!
kaca jendala bangunan ini menjadi hancur.
"Kekkai!"
Iblis jahat yang akan kembali melawan Sai berhenti bergerak, sebuah petir menyambarnya berkali-kali dan lebih kuat, iblis lainnya yang merasa sangat lemah kabur begitu saja dari dalam gedung itu, sebuah mantra penghancur di lafalkan oleh tetua dan membuat iblis kuat itu teriak kesakitan hingga hancur berkeping-keping.
Sai menatap ke depan, mereka semuanya akhirnya tiba, dia sampai tidak tahu harus berbuat apalagi jika akan melawan iblis terkuat milik Mei.
"Kenapa begitu lama? Apa kalian ingin membiarkanku mati lebih dulu." Ucap Sai dan berusaha berdiri.
"Yaah, yang kau katakan itu memang benar, tapi ternyata kau belum juga mati." Ucap Kiba, santai.
"Aku pikir kau sudah pingsan." Ucap Naruto, menatap malas ke arah Sai.
"Aku pikir kau sudah musnah." Ucap Sasuke, ikut-ikutan menatap malas ke arah Sai.
"Saat pulang kau harus melakukan semua pekerjaan rumah." Ucap Gaara, wajahnya datar-datar saja.
"Sialan kalian, Aku sudah begitu lama menunggu kalian tapi hanya ini ucapan yang ku dengar, ah, sudahlah, aku pun tak tahan dengan bau busuk ini, bantu aku membersihkan mereka." Ucap Sai, berjalan dan berdiri sejajar dengan mereka.
Mei semakin marah di buatnya, tempat persembunyiannya menjadi ketahuan, dia harus bisa mengalahkan miko dan para iblisnya sekarang juga, memerintahkan iblis terkuatnya untuk melawan mereka.
"Sakura, hancurkan iblis terkuat mereka, aku akan melawan ratu mereka." Ucap Biwako. Tetua yang akan menyusun rencana, berlari dengan cepat dan sangat gesit, meskipun sudah tua, Biwako adalah tetua yang paling hebat dalam soal bertarung jarak dekat.
Kiba, Sai, Gaara, dan Naruto mulai menyerang iblis-iblis terkuat, mereka akan di bantu Sakura yang terus mengucapkan kekkai dan menyambarkan petirnya di saat para iblisnya menjauh atau membuat iblis jahat itu tumbang.
Sasuke? Dia masih senantiasa dengan posisinya, menjadi penonton setia dan tidak akan ikut bertarung, semuanya hanya buang-buang waktu untuknya, hanya Sakura yang akan di perhatikannya, dia akan bergerak jika saja ada yang mencoba melukai Sakura.
"Senang bertemu denganmu kembali, iblis kelabang." Ucap Biwako.
"Tidak perlu basa-basinya wanita tua, bertahun-tahun lalu kau bahkan tidak bisa menemukanku." Ucap Mei, berusaha tenang, mengingat kembali akan pertarungan terakhirnya bersama Biwako dulu, saat dimana Mei muncul dan menjadi ancaman, dia berhasil kabur dari area Biwako dan menetap di Konoha, membuat tempat persembunyiannya dan mengumpulkan iblis jahat sebanyak-banyaknya.
"Aku hanya menduga jika kau pelaku dari laporan yang ku terima, hanya kau yang akan memakan manusia, tapi hari ini kau harus berhenti dan jangan berusaha untuk kabur lagi." Ucap Biwako, melesat dengan cepat dan memukul Mei, tidak ada waktu menghindar, Mei hanya berusaha untuk menahan serangan Biwako.
Gedung yang selama ini tenang menjadi kacau, adu serang di beberapa lantai, para iblis Sakura tidak ada yang akan gentar melawan semua iblis, mereka cukup banyak.
Zraakk...!
Seorang iblis berhasil di cakar Sasuke, Sakura yang terfokus di hadapannya dan tidak merasakan adanya perlawanan dari arah belakangnya, Sasuke berdiri tempat di belakang Sakura, dia yang akan memastikan apapun.
"Lihatkan, si pengeran itu, dia bahkan tidak akan jauh dari tuan." Sindir Kiba.
"Sasuke sangat curang!" Teriak Naruto.
"Jangan sampai kalian hilang fokus." Tegur Gaara, mereka sibuk protes di tengah pertarungan.
Pertarungan masih berlanjut hingga gedung itu mulai retak dan beberapa bangunannya roboh, kekuatan Mei melemah, dia tidak menyadari dengan siapa yang sekarang di hadapinya, Biwako yang dulu bukan seperti Biwako yang sekarang, gelar tetua pun tak sembarang orang akan menerimanya.
"Kekkai!" Sakura berlari menghampiri Biwako, gadis ini merasa Biwako pun akan pada batasnya. "Tetua tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja, kau harus berhati-hati, dia menguasai cukup banyak serangan." Ucap Biwako.
"Apa cuma seperti itu perlawananmu wanita tua! Ha! Membosankan, dan kau miko, aku akan membunuhmu sekarang juga!" Ucap Mei.
Zraakk...! braakk..!
Mei terpental jauh dan menabrak dinding hingga retak, menatap siapa yang tiba-tiba menyerangnya.
"Katakan sekali lagi dan kau yang akan ku bunuh." Pupil mata Sasuke berubah menjadi merah, kedua tangannya yang dalam wujud tangan serigala dengan cakar yang sangat tajam.
"Kalau begitu kau yang akan mati." Ucap Mei.
"Kekkai!"
Brakk..!
Sakura terkejut, kekkainya di hancurkan dengan mudah oleh Mei. Sasuke mengambil kesempatan itu dengan menyerang Mei, iblis jahat itu menghindar dan sayang sekali ada iblis lain yang menyerangnya, Mei kembali di jatuhkan.
"Hey, jangan menjadi jagoan sendiri." Ucap Sai.
Belum sempat Mei akan mundur, dia kembali di serang oleh dua iblis, iblis rubah dan rakun.
"Aku menyerangnya karena di sana sudah habis." Ucap polos Gaara dan menunjuk area yang tertumpuk banyak iblis.
Mei tidak bisa berbuat apa-apa lagi, iblis terkuatnya di kalah miko dan iblis miliknya yang lain sudah tidak bisa bergerak, mereka di habisi oleh para iblis milik miko, terduduk dan menatap ke arah mereka, sungguh tidak adil, saat ini dia hanya sendiri.
"Kalian sangat pengecut! Berani melawanku sendirian! Aku tidak akan ma-"
"Kekkai!"
Tidak ada yang bisa di ucapkan Mei lagi, tubuhnya membeku seketika, Sakura memperkuat kekkainya, dia sempat terkejut saat kekkainya dengan mudah di hancurkan Mei tadi, Biwako mulai memantrai iblis jahat itu, seakan ada tulisan yang mengelilinginya, berteriak pun tak akan bisa, saat itu juga dia akan di musnahkan, kelima iblis itu melihat secara langsung cara tetua memusnahkan iblis. Cahaya terang menyilaukan hingga redup seketika, hancur begitu saja, dia bahkan tidak bisa muncul lagi.
Gedung yang mereka pijaki menjadi goyang dan bangunan itu akan runtuh, semuanya bergegas keluar dari bangunan, Sasuke lebih cepat bergerak untuk mengangkat Sakura, terbang keluar jendela di mana mereka masuk, menatap bangunan itu menjadi runtuh dan hancur.
"Bangunan ini terus bertahan selama iblis itu masih ada, sekarang bangunan itu tidak akan di gunakan lagi." Ucap Biwako.
"Lalu bagaimana dengan manusia yang di pekerjakannya?" Ucap Sai, dia masih ingat dengan manusia-manusia yang menjadi pegawai Mei.
"Mereka akan lupa tentang iblis itu, sebuah ingatan yang tidak perlu mereka ingat, iblis itu hanya memanfaatkan mereka." Jelas Biwako.
.
.
.
.
.
[ suara tv ]
Kami laporkan telah terjadi bangunan runtuh di kawasan G, bangunan itu sudah cukup lama berdiri dan tidak di tempati oleh siapapun, tidak ada korban dalam kejadian ini, pemerintah akan membangun bangunan baru yang lebih layak di gunakan,
Kami beralih ke berita lain, telah di temukan beberapa mayat di bawah jembatan, ini adalah kejadian aneh, saat di identifikasi mereka adalah orang-orang hilang yang di cari selama ini, setelah di otopsi, tidak ada tanda-tanda kekerasan atau adanya percobaan menghilangkan nyawa mereka, hasil data dari forensik mereka di duga terkena serangan jantung secara bersamaan...
"Pada akhirnya mereka tidak bisa di selamatkan." Ucap Sakura, menatap sedih setelah mendengar berita itu.
"Kita hanya bisa mencegah kembali hal itu terjadi." Ucap Biwako, tetua ini menginap sebelum kembali, menyeruput teh hijaunya di pagi hari.
"Terima kasih, tetua sudah membantuku." Ucap Sakura.
Suasana tenang menjadi cukup ribut dengan suara para iblis di halaman depan ruang tengah.
"Kau harus membersihkannya sekarang!" Ucap kesal Kiba.
"Aku tidak mau!" Protes Sai.
"Jangan lupa cucian!" Ucap Naruto.
"Kau harus memotong rumput di belakang kuil." Ucap Gaara.
"Kalian saja yang melakukannya!" Ucap Sai.
Ctaarrr...!
Naruto, Kiba dan Gaara bergegas menghindar, Sai hanya bisa pasrah dengan sambaran petir secara tiba-tiba.
"Maafkan aku tuan, aku akan melakukannya dengan baik." Ucap Sai dan memohon ampun pada Sakura.
Puk.
"Aku harap kau tidak membangkang lagi." Ucap Sakura, mengusap-ngusap perlahan puncuk kepala Sai dan sebuah senyum di wajahnya, sempat marah dengan tindakan Sai yang selalu egois, tapi Sakura merasa senang, Sai akhirnya kembali padanya.
Blush...
Rona memerah menghiasi wajah iblis kucing itu, wajah tuannya yang penuh belas kasih dan seakan bercahaya di hadapannya, meskipun sudah terkena sekali sambaran petir di pagi hari.
"Tuan!" Teriak Sai dan memeluk erat Sakura. "Eh?" Merasakan tubuh Sakura yang tidak empuk, mengangkat wajah dan melihat siapa yang di peluknya.
"Kau sudah puas sekarang?" Ucap Sasuke dan tatapan menggelap di wajahnya. Sai spontan menjauh.
"Hahahahahahahaha...!" Para iblis lainnya kompak menertawai Sai, Sasuke sungguh cepat untuk masalah Sai yang akan menyentuh tuannya.
"Sebaiknya aku berangkat." Ucap Sakura dan bergegas pergi.
"Tuan...~" Rengek Sai.
"Aku sudah berniat akan mematahkan tanganmu." Ucap Sasuke, meremas-meras tangannya.
"Hey, aku hanya bercanda, seharusnya kau senang saat aku kembali, kalian juga mana pelukan kangen kalian, ayolah, jika bukan karena aku yang mengorbankan diri kalian tidak akan mudah menemukan iblis itu, yaa... meskipun dia cantik." Ucap Sai.
Plaak...!
Plakk...!
Buaghh...!
Sai terbaring dengan wajah yang penuh lecet, mereka kesal dengan ucapan Sai, dia sudah membuat Sakura kesakitan, tapi tidak ada yang bisa menyembunyikan perasaan senang saat Sai kembali, aneh, mereka seakan terhubung satu sama lain dan akan merasakan perasaan yang sama, khawatir saat mereka tidak ada dan juga turut senang saat mereka kembali.
.
.
SMA Konoha.
"Sebaiknya kau menceritakannya saja, aku sangat khawatir melihat keadaanmu seperti ini." Ucap Temari pada Ino, dia masih tidak terlihat bersemangat, dia akan selalu ingat saat melihat Sai bersama wanita lain dan lebih tua dari mereka.
"Apa karena pria yang kau bicarakan itu, tenang saja, masih banyak pemuda lainnya!" Ucap Tenten.
Sakura yang baru saja tiba mendengar sedikit pembicaraan teman-temannya itu.
"Kau bisa menceritakannya padaku." Ucap Sakura berusaha meyakinkan Ino.
Pada akhirnya Ino mau menceritakannya di saat jam istirahat dan mereka memilih kelas sebagai tempatnya.
"Apa? Wanita lain? Jadi, meskipun dia memiliki wanita lain dia tetap menerima ajakan wanita manapun?" Ucap Temari.
"Rasanya aku gatal untuk menghajarnya." Ucap Tenten, meremas-remas kedua tangannya.
Sakura memikirkan apa yang di ceritakan Ino, wanita lain yang bersama Sai, kemungkinan dia adalah iblis wanita yang menahan Sai saat itu, tapi pada ucapan 'hanya tuannya yang di sukai', Sakura sedikit bingung, kata 'tuan' di sini, hanya dia yang di panggil tuan oleh mereka-para iblis. Hal itu membuat Sakura pun kesal, Sai terkesan mempermainkan perasaan Ino.
"Datanglah ke kuil sepulang sekolah, aku yakin dia akan datang." Ucap Sakura, menyusun sebuah rencana.
"Tapi, aku tidak ingin menemuinya lagi."
"Jangan berbohong Ino, aku percaya kau masih menyukainya." Ucap Tenten.
"Dengarkan saja ucapan Sakura, aku berharap hal baik akan menghampirimu." Ucap Temari, sekedar memberi semangat kepada sahabatnya itu.
Perasaan Ino lebih lega setelah menceritakan masalahnya kepada mereka, tidak buruk juga, mereka tidak menyalahkan Ino, hanya saja sikap pria yang bernama Sai itu perlu mendapat teguran.
.
.
Suasana kuil yang sepi, para iblis memilih bersantai setelah melakukan pekerjaan rutin mereka, kuil menjadi tentram, tetua Biwako mengajak Gaara untuk kembali ke kuil utama, dia merasa Gaara jauh lebih berubah saat berada di kuil Konoha.
Ino berdiri dekat kuil dan menatap sekeliling, cukup sepi, orang-orang mulai jarang berdatangan setelah para pria yang di kenal sebagai penjaga kuil itu tidak membantu mereka lagi, lebih tepatnya, Sakura membatasi tugas membantu mereka, hanya hal yang darurat, masuk akal dan penting saja yang boleh mereka bantu.
Bughht..!
"Kau harus menerima kesalahanmu, sikapmu cukup buruk sebagai seorang pria!" Tegas Sakura, menatap Sai yang terduduk di tanah, Sakura mendorongnya cukup keras setelah menjewer telinganya.
Di balik bangunan kuil, Naruto, Kiba, dan Sasuke tengah mengintip, mereka bingung dengan sikap Sakura saat pulang sekolah, tiba-tiba teriak mencari Sai dan memukul-mukul pria berwajah manis itu.
"Aku tidak melakukan kesalahan apapun." Sai membela diri.
"Sa-Sai?" Ucap Ino, dia tidak percaya jika Sakura bisa membawa pria yang di maksudkannya, Ino hanya menyebutkan ciri-cirinya. "Bagaimana kau bisa tahu dia orangnya?" Ucap Ino dan menatap Sakura, bingung.
"Hehehe, kebetulan tadi aku melewatinya, aku pikir dia seperti yang kau katakan, jadi aku seret saja dia ke sini." Bohong Sakura, melihat reaksi raut Ino yang menjadi tenang, dia bisa bernapas lega, Ino tidak bertanya macam-macam lagi. "Lagi pula kau harus membalas apa yang dia lakukan padamu." Lanjut Ino, menatap horror ke arah Sai.
Saat ini, Iblis kucing itu berharap dia di hukum apa saja, asal jangan terkena sambaran petir, menatap takut pada Sakura, berdiri perlahan, menghampiri Ino, tidak ada yang bisa di lakukannya selain mendengar apa perintah tuannya, dia harus mendapat hukuman dari seorang manusia, sedikit mendapat keuntungan, manusia di hadapannya ini bisa apa? Dia tidak akan mudah merasa sakit jika bukan tuannya yang menghajarnya.
Ino menatapnya sejenak dan memalingkan wajahnya, dia pria yang di sukainya, tapi membuat Ino sedih, tidak menutup kemungkinan Ino masih sangat menyukainya.
"Aku minta maaf nona, aku tidak bermaksud menyakitimu." Ucap Sai, melirik ke belakang, berharap ucapannya sudah benar, namun yang di dapatnya hanya gerakan tangan Sakura yang seakan-akan ingin menyambarnya dengan petir, seketika merinding, kembali fokus pada gadis di hadapannya. "Kau bisa menghukumku jika kau mau, aku tidak akan melawan." Lanjut Sai, hanya manusia biasa, bisa apa dia? Batinnya.
Ino akhirnya memberanikan diri untuk menatap pria di hadapannya, dia begitu tinggi, Ino harus mengangkat wajahnya ke atas, matanya berkaca-kaca, dia tidak ingin menangis atau di anggap lemah. Sai bisa membaca pikiran gadis itu, dia terlihat bimbang dan perasaannya tetap sama seperti saat mereka bersama, Sai tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya iblis yang di panggil dan tidak akan terikat dengan manusia biasa.
"Ka-kau boleh menutup matamu." Ucap Ino, terlihat gugup.
"Baik." Ucap Sai, dia santai saja menerima apapun yang di lakukan Ino, pikiran gadis itu pun masih kacau, Sai tidak bisa membaca hukuman apa yang akan di berikan padanya.
Detik-detik berlalu, Sakura masih mengawasi dan ketiga iblis lainnya masih mengintip, mereka penasaran.
Mengambil napas sejenak, Ino mulai berjalan lebih dekat ke arah pria di hadapannya ini, dia akan memberikan hukuman yang setimpal kepada pria yang menyakiti perasaannya.
Cup!
Sakura terkejut, ketiga iblis lainnya bengong, pemandangan yang membuat wajah Sakura sampai memerah, bukan sebuah hukuman seperti yang di pikirkan Sakura atau lainnya, Ino mencium Sai begitu saja, hanya ciuman singkat, setelahnya dia menjauh dan membuat Sai pun ikut bengong.
"Aku tidak bisa menghukummu, aku sungguh-sungguh menyukaimu! Sudah! Aku mau pulang!" Ucap Ino dan malah kabur begitu saja, wajahnya sangat merah, dia pun tidak habis pikir dengan apa yang di lakukannya, pikirannya ingin menampar pria itu, tapi tubuhnya bergerak sendiri dan mencium bibir pria yang sudah menyakitinya.
"Ino, apa yang kau lakukan!" Teriak Sakura, namun gadis itu tidak berbalik dan malah menambah kecepatan larinya.
Sai masih terdiam dan mencerna kejadian tadi, gadis itu menciumnya, menyentuh bibirnya sendiri, ada sensasi aneh dan dia bisa merasakan lembut dari bibir gadis itu, ini yang namanya ciuman, pikirnya.
"Eh? Rasanya jadi aneh." Ucap Sai, dia kebingungan sendiri, ada perasaan aneh menyelimuti dirinya, bayangan kejadian tadi terus terulang dalam pikirannya.
"Sai, kau tidak apa-apa?" Ucap Sakura, menghampiri iblisnya yang hanya seperti orang bodoh.
"Aku tidak mengerti." Ucap Sai, menatap Sakura, matanya tertuju pada bibir tuannya, memajukan wajahnya.
Wuussh...!
"Jangan coba-coba melakukannya pada tuan!" Protes Naruto dan Kiba, mereka segera berlari dan menghadang Sai yang ingin mencium tuannya.
"A-a-apa? Aku akan menyambarmu dengan petir jika berani melakukannya!" Ucap Sakura, segera menghindar dan berjalan kembali ke rumah, wajahnya sempat memerah, memikirkan Sai yang hampir menciumnya.
"Apa-apaan dia, ini membuatku jadi malu saja." Batin Sakura.
Sasuke menatapnya pergi, dia tidak jadi bergerak untuk menghajar Sai, Kiba dan Naruto cukup gesit dan segera menjauhkan Sai, mereka masih ngomel-ngomel protes dengan hal yang tidak senonoh yang akan di lakukannya tadi pada tuannya, semua ocehan kedua iblis itu tidak di dengarnya, kembali perasaan aneh saat mengingat ciuman tadi.
"Cih, apa yang terjadi padaku!" Batin Sai. Merubah dirinya menjadi kucing dan berlarian keluar kuil, pikirannya menjadi kacau.
"Sai, kami belum selesai!" Teriak Kiba.
"Hey, kucing mesum!" Teriak Naruto.
Mereka lelah sendiri meladeni Sai.
"Biarkan dia pergi." Ucap Sasuke, tidak ada gunanya untuk meladeni Sai yang sedang bertingkah aneh.
.
.
Malam hari pun tiba, Sai baru saja kembali setelah keluar sejak tadi, ruang makan menjadi tenang, semuanya sibuk menyantap makanannya masing-masing, kejadian yang belum bisa di lupakan Sai dan membuatnya melamun, Kiba menyadari perubahan sikap Sai, dia sangat tenang dan tidak mencoba mencari topik yang berakhir dengan pertengkaran di antara mereka.
"Oh iya, dua hari lagi kalian harus lebih ekstra bekerja." Ucap Sakura, memecah keheningan di ruang makan.
"Ada apa?" Ucap Naruto.
"Hari itu adalah hari pertemuan para miko dari beberapa kota, pertemuan ini sudah sering di adakan setiap 2 tahun sekali, para tetua akan berkumpul bahkan kepala pemimpin dari seluruh tetua pun akan ikut, biasanya penurunan tahta dari pemimpin yang sekarang ke generasi berikutnya." Jelas Sakura.
Para iblis itu menyimak baik-baik ucapan tuannya.
"Jadi ada banyak miko dan para iblis pendampingnya?" Ucap Kiba.
"Yaa, kurang lebih seperti itu, tapi tidak semua miko memiliki iblis pendamping, hanya miko terlemahlah yang memiliki iblis pendamping" Ucap Sakura, merasa dia pun terkena ucapannya sendiri.
"Sakura, miko yang sangat kuat." Ucap Naruto.
"Tentu saja, tuan kami pun hebat." Tambah Kiba.
"Iya-iya, aku pun tidak merasa seperti itu, aku cukup lemah dalam bertarung, tapi berkat kalian, aku jadi merasa sangat terbantu." Ucap Sakura, dia bersyukur memiliki para iblis.
"Aku sudah selesai." Ucap Sai, dia tidak ikut dalam pembicaraan kali ini, beranjak dari ruang makan.
"Jangan keluar di saat malam hari." Ucap Sakura, dia akan terus memantau Sai, tidak ingin terjadi hal buruk lagi pada iblisnya.
"Aku tidak akan keluar, aku akan tidur sekarang juga." Ucap Sai, tenang, berjalan keluar menuju lantai dua.
Kembali suasana hening melanda ruang makan.
"Dia menjadi aneh seperti itu setelah di cium manusia." Ucapan Naruto membuat yang lain menjadi malu mendengarnya, kecuali Sasuke yang tetap cool.
"Dia memang aneh, aku rasa itu adalah hukuman yang pantas, sekarang dia merasa bersalah menjadi iblis yang mesum." Ucap Kiba dan terkekeh.
Sasuke makan dengan tenang, dia sama sekali tidak terusik, melirik ke arah Sakura, tiba-tiba tuannya terkejut dan memalingkan wajah darinya, Sasuke menyadari jika Sakura menatapnya tadi cukup lama.
"Apa yang kau pikirkan, Sakura!" Batin Sakura, dia hanya tidak sengaja menatap Sasuke beberapa detik, mengingat kembali akan mimpinya dulu, Sasuke seakan pernah hadir dalam ingatannya saat masih menjadi anak-anak, entah mengapa ingatan itu kembali lagi.
.
.
.
.
.
.
"Sai, kau harus membersihkan kuil!" Ucap Naruto, menatap kesal pada Sai yang hanya berwujud kucing dan bermalas-malasan di teras.
"Cerewet, akan ku lakukan." Ucap Sai, kembali pada wujud manusianya, berjalan malas, tapi tetap melakukan pekerjaannya dengan baik.
Akhir-akhir ini Sai menjadi bukan seperti dirinya, sering melamun, kadang tiba-tiba menghilang, tapi dia menjadi patuh untuk mengerjakan apapun.
Apa yang di lakukan Sai selama ini hanya mengawasi gadis yang membuatnya kepikiran. Sempat mendatangi sekolah dan berhati-hati untuk tidak ketahuan oleh tuannya, menatap gadis berambut gold-pale itu, jantungnya berdetak tidak seperti biasanya, masih belum menyadari akan apapun.
Menghela napas beberapa kali, sapu di tangannya terus bergerak tapi dedaunan yang tergeletak di tanah tidak juga bersih sejak tadi.
"Apa kau sedang dalam masalah? Jangan membuat hal-hal aneh lagi, apa kau tahu jika dampaknya akan terjadi pada tuan kita." Tegur Kiba.
"Aku sedang tidak dalam masalah, dan jangan ikut campur urusanku." Ucap Sai, tidak senang jika mendapat ucapan seperti itu dari iblis anjing yang di bencinya.
"Aku hanya mengatakannya padamu agar kau tidak bertindak gegabah lagi."
"Cih, pergilah melakukan sesuatu." Ucap Sai.
"Kau bahkan tidak becus untuk membersihkan halaman."
Melempar sapu itu ke tanah. "Kau bisa melanjutkannya." Ucap Sai dan pergi begitu saja.
"Hey, kau tidak boleh kabur lagi." Ucap Kiba.
"Aku ada urusan penting." Ucap Sai dan berlalu.
"Urusan penting? Sejak kapan dia memiliki hal semacam itu, hal penting yang kita lakukan hanya membantu miko, menyebalkan, kenapa aku yang harus membersihkan halaman." Gerutu Kiba.
"Sudahlah, aku pikir dia akan selalu seperti itu." Ucap Naruto, tidak ingin ambil pusing
.
.
Hanya sekedar berjalan-jalan untuk menjernihkan kepalanya, beberapa gadis yang pernah bertemu Sai, berjalan beramai-ramai dan menghampiri pria itu.
"Sai, apa kau sedang senggan?" Ucap salah satu dari mereka.
"Ah, maaf, lain kali yaa." Ucap Sai dan tersenyum manis seperti biasanya.
Para gadis sedikit kecewa, Sai tumben menolak ajak mereka, biasanya dia akan sangat senang dan mau di ajak begitu saja. Akhirnya mereka pamit dan berjalan pulang. Sai melambaikan tangan, masih dengan wajah manisnya, setelah mereka berbalik, senyum itu memudar, dia seperti orang bodoh yang memikirkan satu gadis manusia.
"Jangan kabur dari tugas." Ucap seseorang dan mencubit pinggang Sai, spontan pria itu berbalik dan menatap kaget, awalnya ingin marah, tapi Sai menjadi tenang, gadis yang mencubitnya adalah Sakura, tuannya baru saja pulang dari sekolah.
"Aku hanya bosan." Ucap Sai.
"Kau akan ku beri hadiah petir jika tidak patuh." Ancam Sakura.
"Baik tuan, aku siap melaksanakan tugas." Ucap Sai yang tiba-tiba patuh.
Sakura tertawa pelan, Sai bisa menjadi patuh hanya dengan ancaman, membelai perlahan puncuk kepala Sai.
"Akhir-akhir ini mereka bilang kau bersikap aneh." Ucap Sakura, menatap iblis kucing itu.
"Aku baik-baik saja." Ucap Sai, wajahnya sedikit merona dan mengalihkan tatapannya.
"Kau kucing yang pandai berbohong." Ucap Sakura.
"Aku tidak berbohong." Ucap Sai, berjalan menjauh.
"Jangan kabur lagi."
"Aku tidak kabur, aku mau pulang."
Kembali Sakura akan tertawa, Sai benar-benar berubah dari biasanya, dia akan selalu menggoda atau mengganggu gadis manapun, kali ini dia menjadi tenang dan tetap menjaga jarak dengan beberapa gadis.
Langkahnya terhenti, mencium aroma yang familiar, terasa sangat dekat, Sai menjadi panik dan bingung harus berbuat apa, pada akhirnya mengubah wujudnya menjadi kucing agar tidak ketahuan.
"Eh? Bukannya ini kucing yang tinggal di rumah Sakura." Ucap Ino, tidak sengaja mendapati kucing itu berkeliaran, masih sangat ingat corak pada bulu kucing itu, Sai merasa tidak ketahuan dan mereka hampir bertemu. "Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau tersesat? Kemarilah, aku akan mengantarmu." Tambah Ino, mengangkat kucing itu dan menggendongnya, wajah Sai sungguh merona, tapi dalam wujud kucing tak terlihat, berjalan menuju kuil. "Akhir-akhir ini aku tidak pernah bertemu lagi dengan pria yang bernama Sai, apa dia marah padaku? aku...uhm... aku hanya tidak sengaja menciumnya." Ucap Ino, merasa kucing itu bisa menjadi pendengar dan dia tidak akan malu menceritakannya. "Aku sungguh-sungguh menyukai Sai, tapi dia sepertinya tidak menyukaiku sama sekali."
Meoong...~
Ino tersentak, kucing itu mengeong setelah mendengar ucapannya.
"Hahahah, mana mungkin kau mengerti."
"Dasar bodoh, aku ini bukan manusia, kita tidak akan bisa bersama." Batin Sai, dia sengaja mengeong untuk merespon ucapan Ino. Memalingkan wajahnya dan menatap ke atas, wajah gadis itu terlihat sedih, dia menyukai Sai, namun iblis ini tidak bisa berbuat banyak, mereka berada di dunia yang berbeda.
Tiba di tangga kuil, Ino tidak masuk, dia hanya menaruh kucing itu di tangga, Sai turun dari gendongan Ino, menatap gadis itu sebelum pergi, Ino berusaha tersenyum dan melambaikan tangan padanya, berbalik dan meninggalkan gadis itu, menghela napas, memikirkan inilah jalan terbaik untuk mereka berdua.
.
.
.
.
.
.
Pagi hari yang begitu sibuk, para iblis di kuil Konoha tidak tahu jika mereka akan benar-benar bekerja keras, membersihkan kuil, menata meja, mengatur ruangan dan membantu Sakura untuk menyiapkan hidangan, bahkan nenek Chiyo datang dan menyuruh mereka untuk bekerja lebih cepat, semua sudah harus selesai tepat jam 1 siang.
Libur sekolah untuk Sakura, sengaja di adakan saat hari minggu, semua iblis terlihat lelah, mereka tidak pernah merasa lelah seperti ini, pintu gerbang kuil di buka lebar-lebar, semua meja dan bantal duduk sudah tertata rapi, kuil bersih mengkilap, beberapa orang mulai terlihat berdatangan, para iblis milik Sakura menatap mereka, beberapa miko dari yang tua hingga ada yang paling muda, tidak semua di dampingi para iblis, ada 5 miko yang membawa iblisnya, para tetua dan akhirnya mereka bisa melihat ketua dari para tetua, orang yang lebih tua dari mereka, kata Sakura ketua itu memiliki umur yang lebih panjang dan dia masih sehat bugar.
Tatapan Naruto mengarah pada gadis kecil berumur 13 tahun, rambut Indigonya dan kulit putihnya, dia tidak membawa iblis pendamping, tapi seorang pria yang terlihat mirip dengannya namun lebih dewasa darinya, Naruto tidak tahu dengan apa yang di rasakannya saat menatap gadis kecil itu, sesuatu hal, mungkin hanya perasaannya saja dan mengabaikannya.
"Tolong jaga sikap kalian." Ucap Sakura pada para iblisnya, mereka mengangguk pasti, tidak ada yang berani berulah, apalagi nenek Chiyo turut membantu Sakura untuk mengawasi.
Sasuke terkejut, menatap seorang miko dan iblis pendampingnya, tidak berpikir panjang berlari dengan cepat dan menghampiri iblis yang baru saja akan masuk.
"Kakak." Ucap Sasuke, menatap tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Mau apa Sasuke? Tumben dia tidak bisa jaga sikap." Ucap Naruto.
"Aku mendengar ucapannya, dia memanggil iblis itu 'kakak'." Ucap Sai.
"Apa? Benarkah? Jadi itu kakak Sasuke?" Ucap Sakura, dia pun pernah mendengar ucapan Sasuke tentang kakaknya.
"Maaf, mungkin kau salah orang." Ucap iblis yang terlihat mirip dengan Itachi.
Tersentak kaget dengan ucapan iblis itu.
"Tidak mungkin aku salah orang, dari baumu dan wajahmu, kau sangat mirip kakakku." Tegas Sasuke.
"Ada apa? Kami harus segera masuk." Ucap seorang miko, pemilik iblis serigala itu.
Sakura bergegas dan berusaha untuk membuat Sasuke tenang.
"Maaf, silahkan masuk." Ucap Sakura, menahan Sasuke untuk diam di tempat dan membiarkan orang yang di pikirnya mirip kakaknya itu pergi.
"Sasuke, kita harus kembali ke dalam." Ajak Sakura.
"Aku tidak mengerti, kenapa dia seakan lupa." Ucap Sasuke, raut wajahnya menjadi sedih, Sakura sangat jarang melihat mimik wajah seperti itu.
"Mungkin dia hanya mirip saja, ayolah." Ucap Sakura, mengajak kembali Sasuke, meskipun langkahnya berat dan sempat kembali menatap perginya pria itu, akhirnya Sasuke beranjak pergi.
.
.
Di salah satu ruangan yang ada di bangunan rumah dan begitu luas, seluruh miko dan iblis pendampingnya yang akan duduk di belakang mereka, para tetua dan ketua tetua akan duduk di tengah-tengah dan berhadapan dengan mereka semua.
Sasuke masih terus menatap ke arah iblis yang mirip Itachi, dia terlihat tenang bahkan tidak terusik dengan tatapan Sasuke padanya.
"Terima kasih untuk kalian semua yang datang ke kuil Konoha, aku tidak akan basa basi dengan apa yang akan kami lakukan di sini, posisi ketua akan ku berikan pada Banzai sebagai tetua ke-1, keputusan ini sudah kami rapatkan bersama." Ucap ketua para tetua, beliau terlihat begitu tua, dia masih saja bisa memegang jabatan ketua, namun ketua hanya memiliki jabatan selama 4 tahun dan akan di ganti, ketua para tetua bukan hanya sebuah jabatan semata, mereka bertanggung jawab memperbaruhi kekuatan kekkai yang membatasi dunia manusia dan dunia para iblis, akhir-akhir ini kekuatan ketua melemah dan menjadikan portal dunia iblis terbuka begitu saja, kecuali yang membuka portal itu adalah miko sendiri, itu tidak termasuk, mengawasi setiap para miko dan jabatan mereka berpengaruh terhadap setiap aturan yang mereka buat dan di keluarkan.
Semuanya mengangguk dan menerima ucapan ketua, jika sudah di rapatkan bersama, artinya semua tetua setuju untuk menjadikan Banzai ketua baru.
Gaara ikut bergabung bersama para iblis Sakura, mereka duduk sejajar di belakang Sakura, menatap setiap iblis yang juga mendampingi para miko.
Acara formal sudah berakhir, semuanya menjadi bebas untuk menikmati hidangan yang di sediakan di kuil, tidak seperti acara pesta makan, mereka akan tetap duduk tenang dan makanan tertata di meja yang cukup panjang, duduk saling berhadapan, para iblis akan tetap pada posisi mereka, duduk di belakang miko. Beberapa minuman sake di hidangkan sebagai acara kenaikan jabatan Banzai sebagai ketua.
"Akhirnya aku percaya jika benar ada miko yang memanggil sampai 4 iblis, cukup boros yaa.." Ucap seorang pria, dia tetua ke-10, masih lebih muda dari para tetua yang ke-1 hingga ke-6, jika di kumpulkan mereka semua ada 20 orang, masing-masing dari mereka tidak semua berada di kuil utama kecuali tetua ke-1 dan ke-6.
Sakura terdiam, dia pun bingung harus berucap apa, saat itu, dia masih cukup cereboh untuk menjadi seorang miko.
"Kau sungguh cerewet tetua ke-10, makanlah dengan tenang." Ucap seorang miko, Kurotsuchi dari kuil Iwa, gadis ini cukup tegas dan tidak takut pada para tetua, dia hanya menghormati tetua yang berada di kuil utama.
"Aku hanya mengatakannya saja." Ucap tetua ke-10 dan tertawa hambar, dia merasa tidak senang saat miko Kurotsuchi menantang ucapannya.
"Lagi pula tidak semua miko bisa bertarung, aku pun butuh seorang iblis pendamping." Ucap Miru, miko dari kuil Kiri, menoleh ke belakang dan tersenyum pada iblis miliknya, Haku, seorang pria yang terlihat seperti wanita dewasa, dia adalah iblis ular, mengangguk pelan saat tuannya berbalik.
"Kalian ini cukup lancang juga yaa saat berbicara padaku." Ucap tetua ke-10, sedikit kesal.
"Tuan kami ini sangat kuat, dia bahkan bisa memanggil 4 iblis sekaligus." Ceplos Kiba.
"Kiba, tenanglah." Tegur Sakura, dia sudah memperingati para iblisnya, namun Kiba sama sekali tidak mengindahkan ucapannya.
"Kau, berani-beraninya berbicara seperti itu padaku!" Geram tetua ke-10.
"Maafkan dia, apa tetua bisa memaafkannya? Aku memang cukup cereboh dan tidak begitu kuat, jadi aku memiliki banyak iblis." Ucap Sakura, berusaha untuk menenangkan suasana yang mulai tegang ini, tetua ke-10 di kenal sebagai orang yang suka mencari-cari kelemahan seseorang dan mengucapkan kata-kata yang tidak mengenakan.
"Sudahlah, mereka hanya para iblis yang mempunyai instin untuk melindungi tuannya, mari kita keluar untuk mengisap cerutu." Ucap Tanzuna, dia yang akan mengendalikan situasi ini, tetua ke-10 terlihat kesal namun menerima ajakan tetua ke-5 itu, beranjak pergi, Tanzuna memberi aba-aba untuk melanjutkan makan dan mengabaikan tetua ke-10 yang mulai mencari masalah ini.
Miko Kurotsuchi menahan tawa begitu juga Miru, mereka merasa lega dengan tetua yang cerewet itu sudah pergi, Sakura pun akhirnya bisa tenang, menoleh ke belakang dan memberi peringatan pada Kiba untuk tidak berbicara jika tidak di ijinkan, para tetua cukup sensitif saat iblis berbicara seenaknya di depan mereka, Kiba meminta maaf pada Sakura, gadis ini kemudian mengalihkan tatapannya pada Sasuke yang masih senantiasa menatap iblis yang di hampirinya tadi.
"Bagaimana keadaan kuil Kiri?" Ucap Kurotsuchi para Miru.
"Semua terkendali, bagaimana dengan kalian?" Ucap Miru, menatap Sakura dan Kurotsuchi.
"Akhir-akhir banyak iblis yang kuat, mereka entah datang dari mana." Ucap Kurotsuchi.
"Di Konoha masih terkendali." Ucap Sakura, dia masih bisa menangani iblis yang muncul.
"Apa kalian tidak mengajak kami berbicara?" Ucap Samui, Miko dari kuil Kumo.
"Aku pun ingin mendengar cerita kalian." Ucap Konan, miko dari kuil Ame.
"A-apa aku juga bisa ikut bergabung?" Ucap Hinata, miko dari kuil Taki, dia terlihat masih sangat muda, jabatan miko sudah turun padanya sejak masih bayi, namun baru resmi ketika umurnya genap 10 tahun, miko sebelumnya sudah meninggal saat itu.
"Imutnya...~" Batin para miko yang lebih tua dari Hinata, miko yang masih sangat muda dan terlihat lucu.
Beberapa miko kadang tidak terlalu suka membaur, mereka memilih makan dengan tenang.
Kembali Naruto menatap miko termuda itu, wajah putihnya dan kadang rona memerah menghiasi wajahnya, dia tidak di dampingi iblis, namun hanya di dampingi seorang pengawal miko.
Berbicara santai, ada yang baru ketemu dan ada yang sudah pernah bertemu, mengingat sudah beberapa tahun terlewatkan, mereka akan bertemu dengan miko baru atau sebagai pewaris berikutnya.
Setelah acara makan, para tetua akan berkumpul di sebuah ruangan lainnya rumah utama kuil Konoha, sedangkan para iblis akan bersama di ruangan khusus yang terpasang kekkai, mereka tidak bisa seenaknya atau pun ada yang memicuh masalah, biasanya para iblis tidak senang jika ada sejenisnya berada di dunia manusia, sedangkan para miko pun akan bebas, mereka bisa beristirahat atau sekedar kembali berbicara.
Saat ini di ruangan untuk para iblis, Sasuke tidak lepas menatap iblis yang mirip kakaknya.
"Ada apa? Sepanjang hari kau terus menatapku." Ucap Itachi, akhirnya iblis itu mulai tidak senang dengan apa yang di lakukan iblis milik miko dari Konoha itu.
"Aku masih tidak percaya jika kau tidak mengenaliku, kau bahkan adalah iblis serigala." Ucap Sasuke.
Semua iblis bisa mendengar percakapan mereka, Sai sedikit risih, ada iblis ular tidak jauh darinya, menjadikan Kiba sebagai tamengnya dan duduk tepat di belakang Kiba.
"Apa yang kau lakukan?" Ucap Kiba, dia pun risih dengan sikap Sai.
"Diamlah, aku tidak suka dengan iblis ular." Bisik Sai.
"Aku tidak akan mengganggumu." Ucap Haku, dia tidak punya niat untuk membuat kekacauan di kuil Konoha, lagi pula mereka sedang dalam kekkai para tetua.
Naruto terlihat sangat senang dengan melihat dua iblis legenda seperti dirinya. Utakata iblis musang dan juga iblis yang tak bisa diam, Killer Bee, iblis banteng.
"Yo-yo-yo Naruto~ Gaara...~ hey~ kawan lama~ akhirnya kita berjumpa lagi~" Ucap Killer Bee dengan ciri khasnya, nge-rap, meskipun caranya cukup kacau, dia menggunakan nada nge-rap setiap berbicara pada siapapun.
"Kau tidak berubah yaa Bee, bisakah kau bicara dengan biasa saja." Ucap Naruto, dia pun tidak senang mendengar nada aneh yang di ucapkan Bee.
"Lama tak jumpa juga kalian." Ucap Utakata, iblis milik miko Hotaru dari kuil Kusa, dia jauh lebih tenang dari iblis mana pun.
"Aku pun tak menyangka jika kalian akan menjadi pendamping miko." Ucap Gaara.
"Kau bisa berbohong, tapi tetap saja kau salah satu dari klan ku." Ucap Sasuke, keadaan kembali tenang dan mereka terfokus pada Sasuke.
"Aku sudah katakan padamu, aku tidak mengenalmu, kau tahu, iblis serigala ada banyak, kau bisa saja salah orang." Ucap Itachi, masih dalam suasana tenang.
"Ada apa denganmu! Kau bahkan melupakanku!" Ucap Sasuke, kesal, dia tidak terima dengan ucapan Itachi, mana ada iblis yang amat sangat mirip dengan kakaknya, berdiri di hadapan Itachi dan terlihat marah.
"Duduklah dengan tenang." Ucap Itachi, menatap iblis yang keras kepala itu.
"Selama ini aku ingin mencarimu, tapi aku sama sekali tidak memiliki kekuatan sepertimu untuk membuka portal." Ucap Sasuke.
"Kau salah orang." Lagi-lagi Itachi harus menegaskan tentang siapa dirinya, dia tidak mengenal Sasuke sama sekali.
"Sasuke, tenanglah, kau tahu, kita sedang di dalam kekkai." Ucap Naruto.
"Tenangkan pikiranmu, iblis serigala." Ucap Haku.
"Cih, tahu apa kalian, aku akan membuatmu ingat denganku." Ucap Sasuke, mengambil ancang-ancang dan siap memukul Itachi, Sasuke yang biasanya paling tenang tidak terlihat seperti bukan dirinya, dia hanya ingin memastikan sesuatu.
Bught..!
Hanya selangkah dan membuat Sasuke harus terbaring, Naruto sudah memberinya peringatan, seperti saat mereka di kekkai Sakura, mereka akan otomatis mendapat petir atau tubuh mereka akan terasa berat.
"Sasuke!" Ucap panik Kiba dan Naruto, menghampiri Sasuke yang hanya berwajah kesal.
"Dengarkan ucapan teman-temanmu." Ucap Itachi, tatapan kelam dan tajam itu terlihat dari wajahnya.
Sasuke masih tidak mengerti, apa benar dia bukan Itachi, kakaknya, atau dia hanya mirip dengannya, tidak ada yang bisa di perbuatnya, kekkai ini lebih kuat dari milik Sakura, para tetua yang membuatnya.
"Sasuke, kau harus tenang." Ucap Kiba, mencoba menasehati iblis serigala itu.
Suasana kembali menjadi tenang dan terkendali, Sasuke duduk menjauh dari semuanya, dia tidak akan berbicara apapun, perbuatannya sungguh konyol, biasanya dia akan lebih hati-hati, sekarang dia terlihat seperti Naruto yang sama-sama bodoh dan cereboh.
"Apa seseorang yang bersama miko Hyuuga itu iblis juga?" Ucap Naruto, dia penasaran, tidak mencium bau iblis dari pendamping miko Hyuuga.
"Dia adalah manusia, julukannya sebagai pengawal miko, tapi bukan pendamping seperti iblis, katanya dia adalah keluarga dari klan yang sama, hanya saja status mereka sepanjang sejarah menjadi pelayan untuk keluarga utama Hyuuga, seperti miko yang bernama Hinata itu." Jelas Haku, dia cukup mengetahuinya dari tuannya.
"Ada sebuah pembicaraan yang kadang tidak di beri tahu, tapi aku tidak sengaja mendengarnya." Ucap Utakata.
"Haa..~ kalian membahas klan Hyuuga, yoy~ yoy, mereka terkenal yooy,,yoo..~" Ucap Bee.
"Tolong seseorang tutup mulut Bee." Ucap Naruto, lama-lama dia pun kesal dengan nada bicara Bee.
"Ah, kau benar, tentang hal yang unik dari klan Hyuuga, katanya keturunan mereka akan selalu berenkarnasi, makanya miko dari mereka akan meninggal dan lahirlah miko baru, mereka akan lebih cepat mewariskan posisi miko bahkan di saat masih menjadi bayi." Jelas Haku.
"Kenapa kalian begitu sibuk membahas miko Hinata." Ucap Sai, dia tidak ingin mendengar para iblis bergosip, saat ini dia hanya ingin keluar dan tidak ingin satu ruangan dengan iblis ular.
"Kami hanya berbagi informasi, kenapa kau begitu tidak suka padaku." Ucap Haku, menatap tidak senang pada Sai.
"Kau tahu sendiri, klan kita tidak ada yang akur, kau lebih pengganggu dari pada iblis anjing." Ucap Sai.
"Lalu apa yang kau lakuan dengan bersembunyi di belakang punggungku." Tegur Kiba dan menatap malas ke arah Sai.
"Aku tidak melakukannya, ini hanya tidak sengaja." Ucap Sai, malu.
"Dasar iblis yang tidak jujur." Sindir Haku.
"Diamlah." Ucap Sai, kesal.
"Tumben, biasanya kau sangat ramah pada seorang wanita." Ucap Naruto pada Sai.
"Apa maksudmu?" Ucap Sai dan menatap malas ke arah Naruto.
"Kau selalu menggoda para wanita, kenapa dengan Haku, dia iblis ular yang ramah." Naruto masih belum menyadari sesuatu.
"Dasar bodoh! Bagaimana aku mau tertarik untuk menggoda seorang pria! Dia itu pria! Bodoh!" Ucap Sai, semakin kesal.
"Eh? Pria?" Ucap Naruto, sepertinya hanya dia yang baru menyadarinya.
"Aku memang seorang pria." Ucap Haku dan sebuah senyum di wajahnya, dia memakai yukata dan tak terlihat seperti seorang pria, bahkan rambut panjangnya pun terlihat indah.
"Aku sungguh iblis yang paling bodoh." Ucap Naruto, seakan ada aura gelap sekelilingnya.
"Lalu, kenapa kalian bisa sampai sebanyak ini di kuil Konoha? bukankah peraturan sudah di tetapkan jika seorang miko hanya memiliki iblis tak lebih dari 2." Ucap Utakata.
"Ini karena Sasuke membuat tuan kami marah, lalu, aku cukup cereboh dan pada akhirnya iblis terakhir di panggil menjadi dua yang muncul." Jelas Naruto.
"Dua di antara kalian bisa di musnahkan." Ucap Haku.
"Sepertinya untuk tuan kami mendapatkan hal khusus, para tetua membiarkan tuan kami memegang 4 iblis." Ucap Naruto.
"Aku sungguh salut pada tuanmu..~ yo~ yo~ yo" Ucap Bee.
"Apa kalian tidak tahu, jika miko membagi energi pada iblis yang di panggilnya?" Akhirnya Itachi angkat suara, merasa pembicaraan mereka cukup menarik.
"Kami tahu." Ucap Kiba.
"Lalu, apa yang kalian pikirkan jika seorang miko harus membagi energinya ke pada empat iblis?" Tatapan kelam dari Itachi, dia ingin mendengar tanggapan dari keempat iblis itu, tapi sepertinya iblis yang sama dengannya tidak ingin berbicara, dia terdiam di sudut, Sasuke masih tidak bisa percaya.
"Memangnya apa yang akan terjadi?" Ucap Sai.
"Umur tuan kalian akan lebih cepat berkurang." Ucap Itachi.
Ke empat iblis itu terkejut, Sasuke pun bisa mendengarnya, iblis lainnya sudah tahu dan mereka tetap tenang, menatap ke arah ketiga iblis yang terkejut itu, mereka baru mengetahuinya.
"Itulah menjadi alasan, seorang miko hanya bisa memiliki maksimal 2 iblis, memang benar, dia menjadi kuat karena kalian, tapi perlahan-lahan tubuhnya melemah dan dia pun bisa mati dengan cep-"
"-Cukup! Kami tidak ingin mendengarnya." Ucap Naruto, ucapan Itachi membuat mereka sedikit marah, Kiba dan Sai pun tidak senang mendengarnya.
"Itu hanya sebuah pembicaraan dampak dari seorang miko memiliki banyak iblis." Utakata membenarkan ucapan Itachi.
"Aku tidak punya ucapan yang baik untuk ku katakan, tapi jika kalian ingin tuan kalian baik-baik saja, lakukan yang terbaik untuk tuan kalian." Ucap Haku.
"Yeaah..~ kembali saja pada dunia iblis, yo..~. yo...~" Ucap Bee.
"Tidak ada yang perlu kalian khawatirkan, tuan kalian adalah miko yang terkuat." Ucap Gaara, menghilangkan rasa khawatir pada keempat iblis itu, Gaara sempat di beritahukan oleh tetua yang memanggilnya, Banzai, miko dari Konoha, Haruno Sakura, merupakan miko yang sedikit istimewa dari miko lainnya, tapi Gaara tidak memahaminya, dia hanya bisa berucap jika Sakura itu kuat.
.
.
TBC
.
.
Haiii...~ Haiii...~ ada yang rindu author? *nggak ada* wkwkwkwkwk...
udah hampir mau habis tahun dan author ternyata masih punya fic yang belum kelar-kelar... sorry, author kan udah sibuk yaa, jdi nggk bisa rajin update lagi, kek dulu-dulu updatenya seminggu atau dua minggu sekali. begini, author baru nyadar jika beberapa kartu hp tidak semua bisa membuka situs fanfiction net. aneh yaa.. saat itu author pikir situs fic udah di blokir dari indonesia, tapi kalau pake wifi bisa-bisa aja, cuma author anak kuota-kuota sih, jadi saat ini cuma kartu M3 *sebut merek deh, tapi nggak promo* yang bisa author gunakan,, jika udah terlanjur beli kartu lain yaa udah nunggu berbulan-bulan lagi, efek dapat kuota dengan harga murah dan banyak, ini kenapa jadi author yang curhat.
kalau dari reader sendiri, buka situs fic pakai apa? just ask, sapa tahu ada yang punya solusi..,
mohon maaf untuk fic yang tomato, author masih belum kelarin, masih on going, nggak ada hiatus kok, harap sabar yaa, mungkin fic yang akan rajin update.
okey, sudah gitu aja... ehehe... tolong dong, Tandai typo author, biar mudah pas editnya, hehehe
makasih untuk yang masih review... *senang* terima kasih-terima kasih...
minggu depan semoga bisa update lagi.
see next chapter...~
