"Ophis, bukakan portal menuju Dimensional Gap."
Ophis memejamkan mata, berkonsentrasi menyalurkan energinya pada satu titik pusat. Dan saat dia membuka matanya, muncul sebuah portal berwarna hitam yang berada di depannya. Tanpa berkata apapun, Loli berambut hitam itu kemudian masuk ke dalam portal, di ikuti oleh Naruto di belakangnya.
Hanya dengan dua langkah, Naruto serta Ophis memasuki alam yang berbeda. Benda-benda padat seperti reruntuhan melayang dimana-mana, membuat rasa tertarik pemuda pirang yang baru saja memasuki sebuah dunia baru ingin mendominasi dalam dirinya, namun dia teringat kalau sekarang bukan waktunya untuk main-main.
Naruto memusatkan perhatiannya kembali pada Ophis yang berjalan pelan di depannya tanpa sedikitpun mengeluarkan suara, "Jadi, dimana Great Red berada?" satu alis Naruto terangkat ketika sosok yang di tanya malah diam dan tak menggubris pertanyaannya sama sekali.
Mereka berdua terus berjalan dalam diam, tak ada percakapan atau obrolan saat ini, hanya berjalan dalam diam dan tak berperasaan. Akhirnya Naruto memutuskan untuk melihat reruntuhan yang melayang dari pada berjalan sambil diam. Beberapa menit berlalu, dua sosok berbedar postur yang sedang berada di dalam Dimensional Gap masih setia berjalan dalam diam, kali ini rasa bosan sudah menguasai Naruto.
"Ophis sampai kapan –"
"Kita harus menjauhi portal yang ku buat tadi, jika tidak maka masalah akan terjadi." Potong Ophis. Tiga langkah kemudian Loli tersebut tiba-tiba berhenti berjalan, dia berbalik menatap pemuda pirang yang sedari tadi mengikutinya. "Baiklah Naruto-kun, lakukan apa yang ingin kau lakukan padaku, tolong jangan kasar-kasar." Ophis menutup matanya sambil merentangkan kedua tangannya, seolah ingin menyerahkan diri.
Sedangkan Naruto, dia mengangkat sebelah alisnya, "Heh?"
"Tolong jangan kasar-kasar padaku." Ophis mengulang kembali kalimatnya.
Naruto tetap tidak mengerti apa maksud dari ucapan Ophis, "Apa yang kau lakukan?"
Ophis membuka matanya tiba-tiba, "Heh?" mata hitamnya menatap sosok pemuda pirang di depannya dengan datar, Loli bersurai hitam itu menyatukan kedua alisnya saat Naruto mengacak-acak rambut hitamnya.
"Terima kasih," Naruto berjalan beberapa puluh langkah meninggalkan Ophis, setelah berhenti berjalan dia memejamkan mata. Di bawah alam sadarnya Naruto kini berhadap-hadapan dengan Licht, "Kau tahu apa yang ingin ku perbuat, 'kan?" Licht menjawab dengan menunjukkan semua gigi taringnya, Naruto menyeringai gak jelas.
Kurama yang melihat perbuatan yang aslinya sama-sama gak jelas pada dua makhluk berbeda spesies di samping kirinya, hanya bisa menghela nafas pasrah dan tak berdaya. Kemudian rubah yang memiliki ekor dengan jumlah sembilan tersebut bergeleng-geleng ria, 'Ternyata, hubungan antara host dan makhluk gak jelas yang menemaniku di sini, lebih rumit dari apa yang ku kira.' Kurama menghela nafas setelah membatin hal tersebut.
Naruto yang masih menunjukkan sengiran mirinya dan menatap naga di depannya, kemudian pemuda itu menjulurkan sebuah kapalan dari tangan kanan. Licht pun tahu apa maksud Naruto, dia kemudian membalas kepalan tangan tersebut.
Di dalam Dimensional Gap, tubuh Naruto kini terselubungi oleh energi berwarna emas yang menerangi daerah sekitar dia berdiri. Seragam sekolah Kuoh yang di pakainya melebur dan hancur berkeping-keping, menyisakan celana berwarna biru kehitaman yang di pakainya. Di punggungnya kemudian keluar sepasang sayap besar berbulu emas yang kini terlihat layu, dan Naruto membuka matanya kembali.
"Aku merasakan suatu energi yang kuat," Naruto membuat sebuah sengiran lebar.
"Tentu saja, sekarang kau sudah bisa memasuki mode nagamu." Ophis berjalan ke samping kanan Naruto, "Sekarang, panggil Great Red."
Hening.
Naruto diam tak melakukan apa-apa.
Ophis mulai kesal, "Lho? Kenapa malah diam? Ayo cepat panggil Great Red." Loli bersurai hitam itu melirik ke arah Naruto, dan dapat jelas di lihat oleh iris hitamnya tingkah laku Naruto yang sangat jelas terlihat kebingungan.
Naruto sedikit mendongak, tangan kanannya ia buat untuk menggaruk surai pirang miliknya dengan asal. Beberapa detik berlalu dan dia menoleh ke arah Ophis, "Hehe, aku tidak tahu caranya." Cengiran lebarpun tak luput menghiasi wajahnya, membuat Ophis mendesah dan mendepak jidatnya keras-keras.
"Ya ampun, jika kau tidak bisa melakukannya, bilang dari tadi." Ophis mengerang frustasi, membuat Naruto hanya bisa cengengesan. Ophis kemudian berjalan beberapa langkah ke depan, "Diam dan perhatikan caraku memanggil Great Red," Ophis menghirup nafas dalam-dalam, energi berwarna kehitaman mulai menguar di sekeliling tubuhnya. Dan kemudian... "GREAT RED BRENGSEK! CEPAT KAU KELUAR DAN TEMUI AKU, BANGSAT!" Yap! Teriakan kasar dengan volume suara yang membahana, membuat Naruto langsung terjungkal kebelakang.
Tak berselang beberapa lama, Great Red pun datang dari kejauhan. Dan tak sadar kalau naga merah itu telah melewati kedua orang yang memanggilnya, "WOY! BRENGSEK! AKU DI SINI." Ophis kembali berteriak, kali ini di sertai dengan tubuh yang mencak-mencak gak jelas. Great Red pun berhenti, dan menoleh ke sosok kecil yang hampir tak terlihat wujudnya.
"Ohh, Ouroboros, ada apa kau memanggilku?" Great Red mendekati sosok Ophis.
"Sebenarnya bukan aku yang memiliki keperluan denganmu, tapi Dia!" Ophis menoleh ke arah Naruto yang baru saja bangkit dari rasa terpuruknya.
Naruto yang sudah berdiri, menatap sosok naga merah yang terbang di depannya dengan serius. "Wahai Great Red, tolong latih aku menguasai kekuatan nagaku." Naruto membungkuk sembilan puluh derajat.
"Angkat kepalamu, Kau adalah pemuda yang saat ini memiliki jiwa naga terkuat, seharusnya aku yang menunduk."
"Tidak usah tidak usah," Naruto yang kembali berdiri tegak memberikan cengiran lebar pada naga merah di depannya, kemudian pemuda itu memasang wajah seriusnya kembali. "Apakah, kau bisa menyanggupi permintaanku?"
"Tentu saja, aku akan menyanggupi semua permintaanmu, My master." Tubuh Great Red tiba-tiba menguar menjadi sebuah energi berwarna kemerahan, energi tersebut kemudian berkumpul tepat di depan Naruto. Energi yang berkumpul tersebut perlahan-lahan membentuk sebuah sosok, sesosok gadis berambut merah yang telanjang tak memakai apapun. Sontak, Naruto terkejut bukan main.
"Etto, Dare?" meskipun gejolak batin kini tengah menjajah isi hati Naruto, namun pemuda itu mencoba untuk menunjukkan sisi normalnya.
Gadis bersurai merah yang telanjang tersebut tersenyum penuh kepolosan, "Aku, Great Red."
"NANI?!" Ophis dan Naruto berteriak sangat keras, membuat gadis bersurai merah yang mengaku sebagai Great Red memejamkan matanya sambil menutupi kedua telinganya dengan kedua tangan mungilnya.
"Kenapa kalian berteriak?" gadis bersurai merah itu melepaskan kedua tangannya yang baru saja ia pakai sebagai penutup telinga darurat.
"KENAPA KAMI BERTERIAK? ITU KARENA KAMI TERKEJUT, NAGA BODOH!" Ophis yang sudah kalap, kembali berteriak sambil mengacungkan jari telunjuk tangan kanannya tepat ke wajah gadis yang telanjang itu. Mata hitam milik Ophis kemudian turun dari wajah gadis itu melihat lekuk tubuh berkulit putih dan sedikit berisi dari pada miliknya, rasa cemburu muncul tiba-tiba. "CEPAT PAKAI SESUATU UNTUK MENUTUPI TUBUHMU ITU, NAGA MESUM." Ophis kembali berteriak, kali ini di sertai dengan wajah memerah.
Gadis bersurai merah tersebut menunduk, menulusuri tubuh polosnya yang terbaluti apapun. Kemudian dia menatap Ophis, "Kenapa harus di tutupi?" pertanyaan yang di lontarkannya terlalu polos, membuat Ophis yang kini sudah kalap dan sudah cemburu, tak bisa menahan hasrat emosinya lagi. Loli bersurai hitam itu berjalan menuju gadis yang telanjang yang sedang menatapnya polos, urat kekesalan tiba-tiba muncul di keningnya membentuk sebuah perempatan.
"Cepat pakai sesuatu, atau kau akan ku bakar disini." Nada membunuh jelas terdengar dari ucapan Ophis, membuat gadis bersurai merah yang telanjang tersebut menganggukkan kepalanya pelan, takut. Gadis bersurai merah itu kemudian menjentikkan jarinya, dan satu setel baju pun lengkap sudah menutupi tubuhnya yang wow.
Sementara itu, Naruto sudah menjauh beberapa langkah dari dua barang berukuran Loli sambil menutup matanya. Mencoba melawan gejolak batinnya sendiri, supaya tidak khilaf dan tiba-tiba menerjang Loli bersurai merah itu.
"Naruto-kun, ayo kita kembali."
Sebuah tarikan kecil yang dirasakannya di celana sekolahnya, membuat Naruto refleks membuka matanya dan menoleh. "Kemana gadis yang telanjang tadi?" pertanyaan tersebut di lontarkan untuk satu-satunya Loli bersurai hitam yang berada di sana, Ophis menjawab dengan sebuah tudingan. Naruto refleks mengikuti arah tudingan Ophis, dan dia kembali terkejut saat sosok gadis yang di carinya sudah berada tepat di samping kanannya.
Sang gadis yang merasakan kalau dirinya di perhatikan, kemudian menoleh, menatap Naruto dan memberinya sebuah senyuman polos layaknya anak kecil. Naruto sendiri, langsung mendepak jidatnya keras-keras.
'Dunia ini memang gila, Naga pun bisa jadi Loli.' Seperti itulah batin Naruto berpasrah diri.
~0~
Akhirnya pertemuan dengan Great Red pun selesai. Naruto, Ophis, serta gadis bersurai merah yang mengaku kalau dirinya adalah Great Red, keluar dari portal yang menghubungkan bumi dengan Dimensional Gap. Kedua Loli tersebut kemudian mengikuti langkah Naruto menuju ke dalam apartement Kuroka, pintu masuk di bukakan oleh Naruto dengan gentle, kedua Loli itu pun masuk dan Naruto mengikuti dari belakang setelah dia menutup pintu itu kembali.
Kedatangan dua loli ke ruang tengah apartement itu di sambut dengan tatapan datar dari beberapa pasang mata, para penghuni ruang tengah itu kini mengfokuskan pandangan mereka ke arah Loli baru bersurai merah yang tersenyum sambil melambaikan tangan kanannya karena dirinya di perhatikan. Dan saat Naruto baru sampai ke ruangan itu, para penghuni yang sebelumnya memfokuskan pandangan mereka ke arah Loli baru yang datang langsung berubah serempak menatap Naruto yang kini memasang wajah datar.
"Apa? Kenapa kalian semua memandangku?"
Tak terima dengan pertanyaan yang Naruto lontarkan, dua buah Loli yang sudah berada di sana menunggu kedatangannya dari tadi berdiri garang. Mereka berdua langsung menunjuk Loli baru bersurai merah yang datang bersama Naruto.
"Siapa gadis baru itu?!" Adik angkat Naruto serta Loli penyihir dari kelompok Vali, bertanya dengan kalimat yang sama, dengan suara lantang yang juga sama. Sementara Kuroka, Argenta, Arthur, dan Vali, hanya bisa bergeleng-geleng ria.
"Gadis baru ini? Dia... emm... aku tak bisa menjelaskannya, tee-hee~" Naruto berpose sok imut, namun lawakannya kini sama sekali tak di gubris oleh adiknya.
"Dia adalah perwujudan Loli dari Great Red." Yang kali ini menjawab adalah Ophis, dengan wajah datar dan nada suara yang terdengar sangat monoton.
"NANI?!"
Naruto yang melihat orang-orang yang berteriak di depannya, kali ini tak bisa menanggapi dengan apapun. Satu-satunya hal yang saat ini bisa ia lakukan ialah, memasang wajah bonekanya, dingin dan tak berperasaan. Setelah beberapa saat menunggu respon normal yang tak kunjung kembali, Naruto memutuskan untuk menoleh ke sosok Loli baru bersurai merah itu.
"Apakah kau tak berpikir untuk mengubah namamu? Memanggilmu Great Red-san dengan wujudmu yang seperti ini, bagiku sedikit terasa aneh, kau tahu?"
Gadis bersurai merah tersebut tiba-tiba memasuki mode berpikir, memegang dagu lancipnya dan memasang wajah cemberut yang terkesan polos, mau tak mau membuat Author kesemsem (:v lolz). Setelah mendapatkan pencerahan, Loli tersebut menatap Naruto kembali. "Bagaimana kalau aku rubah namaku menjadi Akari, Aka (赤) yang berarti Merah, dan Ri dari kata Tori (酉) yang berarti burung. Bagaimana?"
"Hm, jadi Akari, 'ya? Baiklah, itu nama yang bagus, Akari-chan." Dan satu hal sepele yang di putuskan oleh Naruto, sebuah nama.
Scane break
Sore harinya at 5.00 p.m.
Naruto dan rombongannya, beserta Akari, kini berjalan pelan menuju ke rumah pemuda pirang itu. Di perjalanan pulangnya, Yuri terus menerus menatap Naruto dengan tatapan membunuh, dan Naruto jadi tak berkutik karenanya.
"Onii-chan pasti ingin menambah satu koleksi Loli lagi, 'kan?!"
Yang di tanya malah memasang wajah pasrah seakan dirinya tak lagi memiliki sebuah pembelaan, "Bukannya begitu Yuri, Kakak juga tak tahu kalau Great Red lebih memilih sosok Loli dari pada yang lain," Naruto membuat sebuah cengiran, 'Yes! Satu Loli bertambah di rumahku.' Hati Naruto bersorak gembira.
Yuri, selaku adik angkat Naruto, lebih memilih menajamkan tatapannya daripada mempercayai ucapan kakaknya. "Aku tidak percaya! Kenapa kau tadi tidak memilih Sekiryuutei, dan lebih memilih Great Red sebagai pembimbingmu?! Bukannya, mereka berdua sama-sama naga merah?"
Sebuah peluang akhirnya Naruto dapatkan, "Kau tahu sendiri, 'kan? Bagaimana perilaku Sekiryuutei itu? Dan apa yang nanti akan terjadi jika, Sekiryuutei melihat dirimu serta Ophis?" setelah mendengar jawaban Naruto, Yuri tak lagi membalas. Gadis bersurai hitam adik angkat Naruto itu memasuki mode berimajinasi, dimana jika Sekiryuutei menjadi pembimbing Naruto dan kemudian bertemu dengannya.
Rasa eneg tiba-tiba saja membuatnya ingin muntah, Naruto yang melihat itu langsung menyunggingkan sebuah senyuman kemenangan.
Di depan Naruto dan Yuri, Akari yang berjalan berdampingan dengan Ophis dan Argenta, menatap sosok Naruto. "Ternyata, pemuda yang memiliki jiwa naga terkuat terlihat seperti tak memiliki beban, benar begitu 'kan, Ouroboros?!" Akari menoleh ke arah Ophis, namun Ophis malah memejamkan matanya.
"Jangan panggil aku Ouroboros, panggil aku Ophis di dunia ini, Baka-ryuu." Urat kening Ophis mencuat, menandakan kalau dia sedang kesal.
"Baiklah, Ophis-chan~" Ophis langsung berteriak gaje ke arah Akari, namun gadis bersurai merah itu tak sedikitpun menggubris. Akari kemudian menoleh ke arah Argenta yang berada di sisi kirinya, "Dan kau sendiri, siapa? Aku tak pernah mengenali aura naga yang berada di dalam dirimu."
"Panggil saja aku Argenta, dan tentang naga yang berada di dalam diriku, kau tidak perlu tahu." Argenta menjawab dengan nada dingin.
"Nee-chan, hidoi (jahat)."
Setelah beberapa menit berjalan dalam perbincangan yang tidak ada matinya, akhirnya kelima makhluk itupun sampai di rumah Naruto. Naruto sebagai satu-satunya lelaki, membuka pintu masuk rumahnya.
"Tadaima." Naruto berucap sangat santai, dan dia tidak tahu tentang bencana apa yang sedang menunggu di rumahnya.
Beberapa detik kemudian, suara teriakan membahana dari mulut Naruto terdengar sampai ke langit.
Second Life: The Way of Dragon
Disclaimer: Naruto & Highschool DxD is not Mine
Second Life is Mine
Kreator : Azriel Longinius
Pairing : Naruto x Akeno x Harem (Harem itu tetanggaku)?
Genre : Adventure, Action, Romance, Comedy (meskipun garing), Fantasy, dan sedikit Drama (mungkin).
Warning : OOC, OC, NEW DIMENSION, TYPO, SKS (sistem kebut seminggu), Character NARUTO from Fanfic 'Son Of the Oracle'.
Summary : Terjerat oleh sebuah takdir yang sudah di tertulis sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Naruto harus merelakan semua perasaan dari masa lalunya demi menciptakan sebuah perdamaian di dunia barunya.
Azriel present...
.
"Yosh." = bicara biasa
'Yosh.' = pikiran/batin
"Yosh." = monster/bijuu
"Yosh." = Jutsu
[Yosh.] = roh Sacred Gear
[Yosh] = suara Sacred Gear
.
Chapter 11: Remeber part V; Medusa, the Queen of Snakes
.
"Kenapa kau menghajarku, Akeno-chan? Apa salahku padamu?"
Melihat wajah kekasihnya yang memelas namun di buat-buat, membuat Akeno semakin kesal. "Apa kau tidak sadar Anata, seharian ini kau sudah mengabaikanku, mencampakkanku, bahkan meninggalkanku. Kau bahkan lebih memilih mereka bertig –bukan! Mereka berempat, walau aku tak tahu kenapa makhluk berukuran Loli bertambah satu buah lagi di rumah ini." Akeno melihat Akari yang tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya seolah menyapa, tatapannya kemudian ia kembalikan ke arah Naruto, berniat memarahinya kembali.
"Kau tahu Naruto-kun, Aku –" saat Akeno melanjutkan sesi marahnya, tiba-tiba saja bel pintu rumahnya berbunyi dan otomatis membuat Akeno harus menghentikan aktifitasnya. "Jangan beranjak dari tempatmu!" setelah memberi ancaman pada kekasihnya, Akeno beranjak dari ruang tamu menuju pintu depan. Bel pintu masuk yang sekian kali terus berbunyi, membuatnya sedikit gopoh. Dan saat pintu tersebut di bukanya, dua sosok yang di kenalnya berdiri di pintu depan. "Shini-chan? Michael-sama?"
Shini tiba-tiba meloncat dan memeluk pinggang Akeno, "Akeno-neechan, dimana Naruto?" raut sedih yang terpampang jelas di wajah Shini, menyadarkan Akeno kalau situasi yang menimpa Shini saat ini bukanlah suatu hal yang remeh. Akeno langsung berteriak ke dalam rumah, memanggil kekasihnya.
Dengan langkah lesu, Naruto datang menghampiri Akeno. "Ada apa Akeno-cha –Michael-sama! Apa yang anda lakukan di sini?!" Naruto tentu saja terkejut melihat sosok Michael yang tiba-tiba datang ke rumahnya, bukannya saat ini kubu Surga sedang berada dalam keadaan darurat? Tapi kenapa para petinggi tidak berada disana? Dan malah berada di sini? Apa yang terjadi? "Dimana Azriel, Michael-sama?"
"Itulah yang ingin ku sampaikan, Naruto-kun. Kami datang kemari karena perintah dari Azriel-niisama, dia sekarang berada di Surga untuk melawan para teroris sendirian."
Jawaban yang Michael lontarkan membuat Naruto melebarkan mata terkejut, rasa ketidakpercayaan tentu saja langsung mendominasi dalam diri Naruto. "Apa kau gila, Michael?! Tega-teganya kau meninggalkan malaikat itu berdiri sendirian di medan perang, jika kau memang di suruhnya untuk pergi, kau bisa membantah perintahnya." Naruto yang habis kesabaran sudah tak bisa lagi mempertahankan rasa segannya pada Michael, pemuda itu mengalihkan arah tatapannya dan menggertakkan gigi kuat-kuat sampai-sampai suara dari dua rahang yang di adu terdengar di sana.
"Kami sudah membantah perintahnya, tapi dia membentak dan melemparkan sebuah argumen yang benar adanya tentang kami. Perlu kau ketahui, dari sepuluh malaikat yang menjadi pemimpin kubu Surga, hanya Azriel-niisama yang memiliki kekuatan yang paling besar. Jujur saja, kami takut!" Yang berargumen kali ini bukanlah Michael, namun pemuda bersurai pirang pendek yang sedikit berintik, Rafael.
Gabriel melangkah ke depan, "Azriel-niisama menyuruh kami untuk menemuimu, kami pikir kau memiliki solusi memecahkan masalah ini. Atau yang lebih mustahil, kami pikir kau bisa menyelamatkan Azriel-niisama." Gabriel tiba-tiba menitikkan air mata, isakan-isakan tertahankan dapat jelas terdengar di sana.
Naruto yang mencoba untuk sedikit tidak peduli, mulai merasa jengah dengan suara isakan yang Gabriel buat. Tentu saja, dirinya yang pernah menjadi mantan manusia yang pernah tersakiti, tak tega bila melihat orang lain menangis. Naruto kemudian mengalihkan arah pandangnya kembali ke arah Michael dan kelompoknya.
"Berikan aku waktu dua belas jam, aku akan mencoba untuk pergi ke Surga dan membantu si Malaikat yang sok kuat itu."
.
.
.
"Duduklah! Kali ini, biar aku yang membunuh makhluk itu."
Azriel menatap bosan sosok Naruto yang berdiri di depannya dan bertingkah sok pahlawan, "Hey! Kau pikir jika aku memiliki luka seperti ini, aku tidak bisa bertarung begitu? Dan jangan bertingkah menjadi hero, padahal kau sendiri tidak tahu bagaimana kekuatan makhluk itu." Tatapan bosan Azriel berubah menjadi tatapan sweatdrop ketika pemuda yang di ajaknya bicara membalasnya dengan sebuah cengiran lebar, Azriel langsung mendepak jidatnya keras-keras.
Setelah menghilangkan pedangnya tadi, kini satu-satunya malaikat yang memiliki surai putih di kubu Surga itu memunculkan kembali pedangnya di tangan kanan. Dia akan kembali menunjukkan aksinya, meskipun kini dia hanya memiliki sebelah tangan.
"Makhluk itu bernama Medusa, sang Ratu ular atau Dewi ular. Dulu makhluk ini pernah hampir menguasai daratan barat, dia membunuh ribuan orang, membekukan, menjadikan manusia menjadi patung batu dengan tatapannya. Organ dalam juga akan menjadi batu, maka dari itu organ dalammu akan membatu dan tak berfungsi lagi."
Naruto menatap Azriel yang kini sudah berada di samping kirinya, "Lalu, bagaimana cara orang dulu mengalahkan makhluk ini?"
"Setahuku, dulu ada salah seorang pejuang yang memiiki sebuah tameng emas peninggalan Zeus, dia memakai tameng tersebut untuk memantulkan cahaya yang di pancarkan mata Medusa kepada Medusa sendiri."
"Uohh! Jadi seperti sebuah cermin, 'ya?! Kalau cermin aku memilikinya sebuah, ini." Naruto mengeluarkan sebuah cermin bulat kecil dari saku celananya, dan hal itu membuat Azriel naik darah.
"CERMIN TIDAK BERGUNA BODOH!" Azriel mendesah, "Ya ampun, bisa-bisanya kau membandingkan sebuah Cermin dengan sebuah Artefak, otakmu lagi sakit ya?"
"Mungkin ini efek dari pukulan Akeno-chan kemarin sore," Naruto mengingat-ingat.
"Yang terpenting, jangan sampai terkena sinar dari mata Medusa. Saat dia menatapmu, segera kau menghindar secepat yang kau bisa! Kemungkinan kecepatan cahaya yang di lontarkannya, memiliki interval waktu sepersekian detik sebelum mengenai target."
Naruto membuat sebuah tatapan semangat, "Baiklah, kita serang dia!"
*Sponsor ON*
-IRITOLOGY NOMOR 36-
=hallo, lewat Sudirman gak loe?=
#Astaga! Gue gak lewat Bray#
=Pak, lewat Sudirman pak?=
#Saya tinggal se jauh Kaka#
=Bapak, Sudirman?=
#Sukirman saya#
=Sukirman?=
#Supriman#
=Supriman?=
#Sujiman!#
#Sukijan!#
=Pak?=
#Mbeeekk#
=Lewat Sudirman?=
#Yak!#
=Tebeng ya?=
#Yak!
-Coeg ini Sponsor kartu Perdana paling GG :v lolz-
*Sponsor OFF*
Azriel dan Naruto mulai melesat ke arah Medusa berada. Naruto yang berlari kemudian mengeluarkan dua pedang yang berisikan Faldier dan Ifriet di dalamnya, sedikit menyalurkan energi yang di milikinya, kedua pedang yang Naruto bawa di kedua tangannya langsung mengobarkan bara api berbeda warna dari masing-masing pedang.
Medusa tak tinggal diam, makhluk mitologi itu kemudian memuntahkan ratusan ular dari mulutnya. Ular-ular tersebut kemudian berevolusi menjadi sebuah pasukan asal zaman Yunani, Sparta. Naruto langsung terkejut ketika muncul sosok-sosok pasukan bersenjata di depannya, pemuda itu kemudian menoleh ke arah Azriel.
"Kemungkinan, pasukan yang muncul secara tiba-tiba ini adalah, jiwa dari pasukan yang pernah di bunuh oleh Medusa. Roh-roh mereka masih tidak bisa menerima kematian mereka, dan hal tersebut di manfaatkan oleh Medusa untuk menjadikan mereka sebagai pasukannya." Azriel balas menatap Naruto, "Aku yang akan mengurus mereka, kau yang mengurus Medusa." Sedikit menambah kecepatannya, Azriel berlari mendahului Naruto.
Tebasan pertama yang di tujukan untuk salah satu pasukan yang berdiri di garis depan, dengan tanggap di tangkis dengan sebuah tameng. Azriel mendesis tak suka karena serangan pertamanya berujung pada kegagalan, dia kobarkan lagi energi di dalam tubuhnya, merubahnya menjadi kekuatan.
"BRENGSEK!" sedikit penekanan dari pedangnya yang terisolir oleh segelintir energi, dan tameng pasukan yang menahan laju tebasannya pecah berkeping-keping. Tak membuang kesempatan saat Sparta yang menahan serangannya terhuyung-huyung kebelakang, Azriel hanya perlu sepersekian detik untuk memisahkan kepala Sparta itu. Hal tersebut membuat Sparta lainnya maju secara bersamaan, membuat Azriel tersenyum gila ala psycho.
"Dia memang malaikat gila, tak heran kalau Malaikat lainnya gentar kepadanya." Naruto yang masih dalam perjalanan menuju ke tempat Medusa, sedikit kagum saat melihat Azriel yang meliuk kesana kemari, tebas sana tebas sini, demi menyelesaikan pertempuran kali ini. Mungkin rasa kagum saja tidak cukup untuk menggambarkan perasaan Naruto saat melihat Azriel, karena malaikat tangan kiri Tuhan tersebut kini melepaskan tangan kirinya yang tadi ia gunakan sebagai penyetor energi pemulihan dan kemudian dia gunakan sebagai penangkis senjata musuhnya, tentunya dengan pedang cahaya yang ia buat.
"Aku juga tidak akan kalah, akan aku tunjukan hasil dari latihanku. [Dimension]"
To be Continued
.
A/N: Hay! Para Reader tercinta sekalian, bertemu lagi sama aku Author paling kece dan paling spectakuler :v lolz, dalam acara... lolololololz :v
Yosh! chapter ini membahas tentang bagaimana Naruto dapat Loli baru #YEEE... lolz :v sebagaimana di cerita, Loli tersebut adalah perwujudan dari naga mimpi, Great Red. Gambarannya secara gampang, kalian lihat saja di Album foto FB dengan judul 'Other Character (Second Life story)' dan cari di sana Title bernama 'Akari'. Dan rasakan sensasinya :v lolz.
Yak! Author tamfan dan kece ini Cuma mau bahas hal itu aja :v gak lebih dan gak kurang, hahaha :v lolz. Ohh, oke! Author ingin membuka peluang bertanya bagi para Reader sekalian, karena mungkin Chapter depan Author tamfan ini bisa membalas satu pertanyaan yang terlontar dari jari-jari kalian. Pertanyaan boleh kalian lontarkan dari Review atau PM secara langsung, dan yang PM kalo bisa pada jam-jam malam saja, karena Author yang paling tamvan dan berani ini kebanyakan membuka akun pada malam hari.
Baiklah, Matta Ashita...
.
Azriel Log out.
