Minna-saaaaaan !
Gomen saya telat lagi !
Saya bener-bener jarang nyentuh laptop sejak ulangan semester kemaren.
Dan…, koneksinya gangguan mulu. Jadi galau deh T.T
Lalu, lalu, bentar lagi UN !
Tiiiidaaaaaaaaaaaaaaaak!
#plak!
Ekfin : lebay !kalau begitu, mari kita langsung ke story.
Nabila : huhuhu.., ok. Disclaimer : Naruto dan serialnya, sepenuhnya milik Masashi Kishimoto-sama!
Ekfin : Warning! : Semi-AU, OOC, OC, GaJe, TYPO(s) berhamburan, puitis (gagal), alur gak rapi (kacau!), humor (ancur!), latar gak jelas, author sebleng, genre yang (sangat) mungkin tak sesuai, dan kelainan sejenisnya.
Nabila : nih fict genrenya bukan humor loh, walau isinya bikin mual semua (_ _"M
.
.
.
"Naruto! Sasuke-kun!" terdengar suara panggilan seorang gadis, yang sepertinya sedang menahan tangis. Dia berlari dengan semua kekuatan yang tersisa. Mencoba mencapai tempat mereka. Tapi langkahnya terhenti karena kelelahan. Dia menatap kedepan, mencoba berdiri tegak. Dia kembali berpikir. Siapa dia sebenarnya?
Dia adalah gadis yang selalu berusaha terlihat tegar walaupun didalam dirinya rapuh.
Gadis yang selalu mencoba semua yang dia bisa, walau kemungkinannya sangat kecil.
Gadis yang selalu mencaci betapa lemahnya dirinya, walau orang lain menganggapnya kuat.
Gadis yang selalu menyalahkan dirinya sendiri, walau itu seluruhnya bukan salahnya.
Gadis yang menangis dalam diam, tak ingin ada orang yang mendengar isakannya, walau selalu ada yang ingin membantunya untuk menghentikan air matanya.
Gadis yang selalu dipaksa untuk hal yang tak pasti, karena mereka melihatnya sebagai wanita yang harus dilindungi, walau mereka tak tahu berapa banyak dia menolong mereka.
Dialah Haruno Sakura. Gadis yang saat ini bukanlah wanita yang saat ini mencoba membanggakan kekuatannya.
Tapi, dia tetap menangis. Dia tetap meratapi kemalangan dirinya.
2 lelaki yang sangat berarti baginya, tak bisa disentuhnya, bayangannya pun tidak. Tidak, bukan karena mereka pergi meninggalkannya. Bukan karena mereka jauh dari levelnya.
Tapi karena lagi-lagi, mereka yang ada .
Apakah hanya sebuah mimpi bodoh, jika dia ingin melindungi mereka? Bahkan berjalan bersama mereka diraihnya dengan sulit. Dan sekarang, dia lagi-lagi dilindungi.
Tidak, ini bukan soal harga diri. Ini semua tentang perasaannya. Rasa bersalah yang tak pernah hilang, walau mereka sudah mencoba menyakinkannya, bahwa semua itu bukan salahnya. Namun, mengingat betapa lemahnya dia dulu, membuatnya tak yakin.
Semua karena dia lemah. Semua salahnya. Salahnya.
Setidaknya hanya itu yang dapat dia percaya. Memandang kedua pria yang berdiri dengan tegap didepannya. Hanya dapat melihat kedua punggung mereka. Punggung yang tak akan pernah dia lupakan. Punggung yang terlihat lelah akan semua beban yang dipikul.
Apakah dia belum cukup kuat? Apakah dia belum cukup berani? Sampai hingga sekarang dia masih belum bisa, bahkan, berada selangkah didepan mereka?
"Sakura." Suara barintone yang terasa hangat itu memanggilnya. Mata emelardnya memandang salah satu lelaki yang ada di hadapannya. Mata onyx gelap yang menatapnya lembut. Membawanya pada memori masa lalu yang bergelombang. Hingga sebuah tepukan pada pundaknya menyadarkannya.
"Sasuke… -kun?" tanyanya.
Sasuke, salah satu dari mereka, menatapnya lembut. Meletakkan kedua tangan kekarnya di kedua pundak kokoh milik Sakura."Jangan memikirkannya lagi. Ini semua bukan hanya tentang kau." ucapnya lemah "Ini tentang kita semua. Peran yang kita ambil, jalan yang kita pilih. Semua ini juga tentang kita bertiga. Tim 7, bukan?"
Sakura membelalakan matanya. Apa Sasuke baru saja menyebut tim 7? Mereka bertiga? Sebagai sebuah tim?
Sakura mengepal tangannya kuat didepan dadanya. Tubuhnya yang tadinya terasa tak sanggup lagi berdiri lebih lama, terasa mendapat kekuatan lain.
"Tentunya dengan Kakashi." Tambah Sasuke lagi membuat Sakura diam. Dia seakan kehilangan semua pikirannya. Hanya ada gambaran wajah bahagia mereka dulu. Dirinya yang terlihat tak mempunyai beban. Kakashi yang selalu membuatnya kesal. Sasuke yang selalu membuatnya khawatir. Dan Naruto yang selalu membuatnya tak percaya dengan semua keajaiban yang dibuatnya.
Tunggu dulu…
"Tapi kita punya masalah lain disini…" ucap Sasuke dingin, menatap kearah lain. Sakura mengikuti arah pandangnya yang menuju beberapa puluh meter di depannya, matanya menggambarkan sebuah ketakutan baru. Ketakutan yang pasti juga dirasakan oleh semua orang.
Uchiha Madara.
Manusia yang terlahir sebagai monster itu menatap seorang remaja pria enteng. Menyeringai kejam seakan menertawakan semua rasa takut yang tertuju padanya. Tubuhnya saat ini bukanlah mayat hidup lagi. Tapi manusia yang benar-benar bangkit kembali.
"Menyerahlah bocah." ucapnya merendahkan "Tak peduli kekuatan apapun yang kau dapatkan, kau tak bisa mengalahkanku."
Sasuke memicingkan matanya dingin. Sakura hanya mencoba menahan semua rasa takutnya. "Naruto…" gumannya.
"Tak ada lagi keajaiban yang dapat kau buat." Seringai Madara semakin menaik "Kalian semua akan kupastikan mati dengan rasa takut itu! Mati dengan sia-sia! Hingga kalian sadar, harapan itu tidak ada gunanya!" dia tertawa kecil. Memandang dengan keji manusia yang masih berdiri dengan berani didepannya.
"Menyerahlah…" ucapnya lagi merendahkan "Uzumaki Naruto…"
Sasuke berdecih tak suka. Melepaskan kedua tangannya dari Sakura. Sharingannya hanya terdapat 3 tomoe. Sepertinya dia sudah terlalu banyak menggunakan cakra.
Sakura memandang Naruto, yang berada hanya sepuluh meter didepannya, dengan khawatir.
"Sasuke, Sakura…" panggil Naruto datar, masih menghadap Madara, membuat mereka yang dipanggil terkejut. Naruto?Berbicara datar? Yang benar saja!
"Dengar, aku saja tak akan mampu untuk mengalahkannya." jelasnya "Sakura, coba rawat Sasuke sebentar. Dan Sasuke, setelah kau cukup pulih, bantu aku. Kita semua akan mengalahkannya." dan Sakura terdiam sesaat.
Terlihat Sasuke yang ingin mengeluh tapi mengurungkan niatnya setelah memproses ucapan Naruto yang penuh keyakinan. Sakura terlihat agak ragu.
"Sakura, lakukan saja." Ucap Sasuke mencoba menyakinkan. Sakura mengangguk pelan. Dia memberi isyarat kepada Sasuke untuk mendekat. Tangannya yang diselubungi cakra medis kini mencoba menutup semua luka di tubuh Sasuke.
Naruto dan Madara masih diam ditempat. Seakan menunggu ada yang menyerang. Madara terlihat sedikit tegang.
"Kau…" geramnya tajam "bagaimana bisa?"Madara seperti berada dipuncak amarahnya. Dia menggeram kesal dan mangaktifkan susanoo nya.
Keringat turun dari pelipis Naruto. Seakan memikirkan sesuatu. Dia harus mengulur waktu. Dengan satu gerakan cepat, dia membentuk segel tangan yang sangat familiar.
Taju Kagebunshin no Jutsu.
Secara tiba-tiba, bunshin Naruto bermunculan. Sangat banyak. Hal ini tentu membuat Sasuke dan Sakura kebingungan. Seberapa banyak sisa cakra yang dimilikinya?
"Kau meremehkanku, bocah."Ucap Madara dingin. Naruto, tanpa memberi isyarat, membiarkan semua bunshinnya untuk menyerang Madara dengan berbagai cara.
Naruto hanya memperhatikan, seakan mencoba menganalisa gerakan Madara. Dia berbalik dan menatap Sasuke dan Sakura, seolah meminta laporan keadaan mereka. Bukannya mendapat jawaban, dia malah mendapat tatapan aneh dari kedua teman setimnya itu.
"Naruto..kau…," bata keduanya tak percaya. "bagaimana bisa?"
Sekarang mereka mengerti, alasan mengapa Madara murka dan seberapa banyak cakra yang dimiliki Naruto.
.
.
.
Naruto terus melompat dari satu cabang ke cabang lain. Dia terlihat sangat sudah lama mengenal dia pernah tinggal dihutan, seperti monyet *di-Rasengan.
Secara tiba-tiba, kepalanya terasa agak sakit. Dia berhenti sebentar dan mengelus kepalanya pelan."Kenapa bisa sakit sekarang?" tanyanya dia merasa ada yang aneh sejak siuman di rumah dia merasa ada yang kurang di otaknya?
Bukannya memang ada yang kurang di otaknya?Kecerdasan mungkin?Entahlah.
"Baik!Lanjut!" semangatnya.
Dengan cepat dia melompat dan lagi.
merasa baru saja melihat monyet lewat *di tusuk kyubi (?).
.
.
.
Sakura melangkah dengan terburu –buru di pedalaman hutan. Kalian ini memang monyet mulu *dibacok.
Matanya menelungsuri setiap sudut dan akhirnya menemukan yang dia rombongan pengungsi yang mengasingkan diri.
Sakura mulai mendekati gerombongan itu."Itu dia!Ninja medis dari Konoha!" seru salah seorang pria mata pun menatap Sakura penuh hanya tersenyum dia memasuki rombongan itu.
"Dimana mereka?" tanya Sakura. Seorang wanita tua pun mendatanginya dan menuntunnya kearah salah satu kereta sampai disana, Sakura memasuki kereta itu dan menatap sendu kearah anak lelaki, gadis kecil dan seorang pria paruh baya yang terbaring lemah disana.
Tangannya mulai menelungsuri tubuh mereka #mohon jangan ngeres M-,-)#, mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Perlahan dia tersenyum kecil.
"Mereka seperti terkena senjata tajam yang terdapat racun." Jelas Sakura entah pada siapa.
Diambilnya sebuah kertas dan pena dari ranselnya. Menulis beberapa hal yang menurutnya sedikit mengeluarkan kepalanya dari menatap beberapa orang yang terlihat khawatir.
"Maaf, adakah yang bisa mencarikanku benda-benda ini?" tanyanya sembari menyodorkan kertasnya seorang remaja putri pun mengangkat tangannya."Apapun untuk adik laki-lakiku" ucapnya mantab.
Sakura tersenyum dan memberikan kertas itu beberapa orang, mereka bubar dan tersisa 3 orang yang ikut dengannya.
" harus menyelesaikan ini dengan cepat dan benar!" semangatnya kembali berkobar. Untung gak ada apinya, kalau ada, ya, kebakar *ganggu aja lu thor!.
Sakura mulai mengambil sebuah gulungan dan membuka beberapa perlatan medis muncul dari gulungan itu.
"Maaf merepotkanmu, Haruno-san."Terdengar suara seorang remaja di agak terkejut dan berbalik cepat dengan posisi waspada. Tapi setelah melihat orang yang berada di belakangnya tadi, membuatnya bernapas lega dan duduk dengan manis.
"Bukan masalah besar," ucapnya lembut "Hiruma-san."
.
.
.
"Chimaru-kun…" panggil Konata pelan pada Chimaru yang asyik berbaring di sebelahnya.
"Ya, Konata." Balas Chimaru sambil menutup matanya pelan "Aku juga tahu. Kita ke gerbang Konoha 2 jam lagi." Jelas Chimaru.
"Eh, tapi…" baru saja Konata ingin protes, Chimaru menatapnya daya, wajah Konata pun memerah #cieee.
"Tidak apa." Ucap Chimaru sembari berdiri. "Shinobi Konoha, mereka itu kuat. Benar, kan?" tanyanya, Konata mengangguk.
"Kita gunakan waktu 2 jam ini untuk melatihmu." Ajak Chimaru. "Tapi, aku hanya bisa melihat loh. Gara-gara segel sialan ini." Jelasnya sambil menunjuk bahu kanannya dengan ibu jarinya.
Konata terlihat sedikit khawatir. "Tapi, tetap saja… Bukannya kita seharusnya bergegas ke perbatasan?" tanyanya.
Chimaru hanya cengir dan mengusap tengkunya. "Kalau aku bisa, sih, sudah dari tadi." Ucapnya. "Dan kamu tak mungkin pergi sendirian kan?" kali ini Konata mengangguk pasrah.
"Berarti, kita serahkan semua ini pada 'dia'?" ucap Konata memperjelas strategi mereka.
"Yup! Dan sisanya itu adalah milik kita dan mereka." Ujar Chimaru enteng."Yah, tapi tetap saja, aku tidak bisa menggunakan jutsuku…" helanya.
Ditatapnya Konata simpul dan berjalan pelan menjauh dari tempat mereka lupa memberi isyarat pada Konata untuk mengikutinya.
"Apa kau yakin, Chimaru-kun? Aku takut akan merasa berbeda jika menggunakan 'itu'." Ucap Konata ragu, tetap mengikuti langkah Chimaru yang kecepatannya tak berkurang sedikit pun.
"Tenang saja. Kekkei Genkei milikmu itu terkuat kedua setelah 'dia'kan?" sanggah Chimaru mencoba menyakinkan.
"Itu karena memang hanya tinggal kami berdua, baka!" gerutu tersentak dan berbalik Konata horror.
"Ta… tadi kau bilang apa, Konata?" tanyanya tak percaya. Konata pun menahan rasa dia keceplosan. Entah karena apa, dia jadi berbicara kasar.
"Kau tau sendiri bagaimana sifatku kalau sedang gugup kan?!" cemberut Konata sebal. "Sekali lagi ku ulangi, aku terkuat kedua karena memang tinggal kami berdua!" celetuhnya sewot.
"Hahaha… Maaf maaf…" tawa Chimaru kecil "Tapi, kau yakin?Hanya kalian berdua?'Dia' tidak termasuk?Dan aku bagaimana?" introgasinya bertubi-tubi.
"Memang sih 'dia' juga, tapi kan itu beda. Kalau ditambah 'dia', tentunya aku jadi terkuat ketiga!" jawab Konata seadanya "Dan kau tentunya tidak termasuk, walau memliki Kekkei Genkei yang sama." Peletnya sebal.
Chimaru merasa baru saja dihujam beribu-ribu panah yang bertuliskan 'PENOLAKAN'. Kata 'Tidak Termasuk' yang di ucapkan Konata pun terus berputar ria di otaknya. Naas."Konata, sifat aslimu ini memang kejam…" ratap Chimaru pundung.
Konata bagai tersadar setelah kerasukan setan pun tersentak "Ma..maaf…" ucapnya menyesal.
Chimaru pun bangkit dan berubah kembali menjadi ceria "Baiklah! Kalau begitu kita lanjutkan!" semangatnya sambil berjalan ria entah kemana.
Konata terdiam sesaat dan mengikutinya setelah mengucapkan kata 'baka no Chimaru!' dengan volume yang sangat kecil. Ok, mungkin Konata memang memiliki 2 kepribadian yang berbeda. Absurd.
.
.
.
Tap…
Naruto menghentikan langkahnya. Sudah 2 jam dia melompat kesana kemari."Ini dimana?" tanyanya tempat ini bukanlah hutan."Mungkin aku terlalu banyak menggunakan Hiraisin no Jutsu?Aku sampai kelewatan…" gumannya.
Diperhatikannya kantong senjata, bukan yang ada dipinggangnya, yang ditentengnya dari tadi terlihat membukanya dan mendapati beberapa kunai Hiraishin.
"Bukan begitu, baka!"ejek Kurama.Naruto tersentak dan menggerutu pelan.
"Apa maksudmu, bola bulu?!" kesalnya pada bijuu terkuat itu.
Kurama pun menyeringai jahil "Tanyakan pada kepalamu yang terbentur itu."Jawabnya gak jelas.
Naruto berpikir keras sesaat –SESAAT- lalu berhenti saat menyadari sesuatu, "Maksudmu, ingatan?" tanyanya disambut anggukan dari Kurama.
"Beri aku petunjuk dong! Tidak mungkin mengingatnya sekarang kan?!" bentaknya dan mendapat Deathglare membunuh dari Kurama.
Kurama berdecih dan duduk bersila (menurut Author, ini ajib pernah lihat rubah duduk bersila sebelumnya. *npa lu ganggu lagi thor?!*lempar meja).
"Saat serangan ke Madara…," jelas Kurama membuat Naruto gugup "kau salah melempar kau lempar malah kumpulan kunai Hiraisin yang Minato berikan akhirnya mereka bertebaran di akan yang sampai pada 2 km utara Konoha."
Gubrak!
"Ko..kok bisa?" tanya Naruto sweatdrop, baru menyadari betapa bodohnya dirinya.
Dia memang menggunakan Hiraishin no Jutsu saat perjalanan tadi sesuai perintah Kurama dan mengumpulkan semua kunai yang di gak nyangka sampai menyebar sebanyak , banyak kunai Hiraishi yang diberikan Minato padanya itu sekitar 25 ?Tidak jika dikumpulkan dalam gulungan.
"Apa seorang Uzumaki Naruto pernah bertindak cerdik?Kalaupun iya, pasti itu karena kecerobohanmu."Ejek Kurama kalem,"Tapi itu bukan salahmu itu kau memang terburu-buru."Hiburnya.
"Terburu-buru?"tanya Naruto tidak mengerti.
Kurama tersenyum kecil, "Yah, melindungi adalah hobi para Uzumaki bodoh."Maklumnya.
Dia kembali mengingat istri Shodaime Hokage, Uzumaki Mito dan istri Yondaime Hokage sekaligus ibu Naruto, Uzumaki Kushina. Mereka memiliki sifat yang sama seperti Naruto. Bedanya, hanya Naruto lah yang menjadi patnernya yang sebenarnya.
Mendengar jawaban Kurama, Naruto hanya nyengir malu."Tapi, dari mana kau tahu kalau ada kunai Hiraishin di utara Konoha?" tanyanya heran. Memangnya Kurama ini rubah pelacak benda hilang? Sampai tahu sedetail itu.
"Kau mencoba menambah kecepatan dengan terus berpindah menggunakan Hiraishin no Jutsu."Jelas Kurama lagi,"Tepat sebelum kau melancarkan serangan terakhir."
"Oh…." 'oh' panjang Naruto membuat Kurama memandangnya datar. Emangnya Naruto mengerti dengan apa yang dia katakan? "Lalu, kita dimana?"
"Alam bawah sadarmu." Jawab Kurama mengangguk dan terdiam sesaat.
Hening…
"Maksudku dimana aku sekarang?!Di dunia nyata!" frustasinya.
"Owh.., kita di-"
"Kau terlambat Naruto."Suara datar yang khas membuat Naruto tersentak.
Dicarinya sumber suara dan menemukan (mungkin) mantan teman merekah."Sasuke!" sahutnya senang.
.
.
.
"Akh!" suara teriakan terdengar dari pendalaman di tempat Sakura saat mengalir deras.
"Tahan sedikit lagi!" gemetar mencoba mengontrol jumlah cakra yang bocah lelaki yang dia rawat mengalami kontraksi hebat. Sakura tidak bisa memastikan, apakah ini akan berlangsung lama.
'Racunnya terlalu kuat.' -satunya pilihan adalah mengambil penawar racun di lab khususnya. Tapi itu sama saja mencoba membunuh bocah ini. Masalahnya racun ini hampir mirip dengan racun milik Sasori, hanya kurang mematikan dibandingkan mungkin 9:12. Dan hanya terdapat di tubuh bocah ini. Tidak seperti yang lain. Kalau dia kembali ke konoha sekarang, itu sudah terlambat.
'Sekarang aku berharap ada Naruto disini!' batinnya dengan jutsu Naruto, dia tidak perlu kerepotan bukan?'Sasuke…'
Sakura menggelengkan kepalanya dia butuh Naruto, kenapa malah wajah Sasuke yang terlintas di otaknya?Bukannya itu tidak nyambung?
Lagi-lagi dia menggelengkan harus begini terus, nyawa bocah ini dalam tidak ada laporan kalau ada bocah yang benar-benar sekarat?
Tapi masih ada satu harapan yang patut diandalkan.
"Ini dia!" sahut seorang pria berambut coklat tua seumuran dengannya, membawa sejenis 3 buah suntik cairan berwarna jingga disana."Maaf karna terlalu lama."Ucapnya.
Sakura tidak menatapnya dan hanya isyarat tangan, dia meminta pria tadi untuk memberikan satu suntik diantara 3 cepat, sebuah suntikan berukuran sedang sudah berpindah tempat ke tangannya.
"Semoga ini berhasil." perlahan, disuntikkannya cairan tadi di lengan atas bocah yang tadinya berkontraksi mulai cairan itu bekerja.
Sakura tak lepas konsentrasi, tetap menggunakan semua tenaganya untuk menutup luka di bagian perut bawah sang bocah, yang mulai terinfeksi.
…
"Minum?" segelas air dingin menempel secara tiba-tiba di pipi Sakura, membuatnya terkejut dan berbalik menatap empunya tangan yang telah menyodorkannya air itu. Sakura tersenyum tipis dan mengangguk.
"Arigatou…" ucapnya. Ah, segelas air pasti akan membantunya untuk lebih menenangkan diri. "Hiruma-san."
"Hiruma Ataka." Ucap pria rubinya menatap Sakura menggambarkan sebuah, ehm.., kerinduan?
Sakura hanya mengangguk dan mengambil air dari dengan perlahan, anggun gitu. Jaim amat, mentang-mentang ada orang lain di sampingnya *digotongkelubangbuaya.
Pria tadi, Ataka, mengambil duduk disebelahnya. "Kau memang sehebat yang mereka bilang, Haruno-san." Pujinya.
Sakura menyudahi meminum air dingin tadi, "Yah, aku tidak akan berhasil tanpamu juga sih."Balasnya polos, "Tapi, sudah memujiku."
Yah, tadi itu memang gadis kecil dan pria paruh baya tadi memang tertolong dengan lumayan , bocah lelaki tadilah yang lukanya saja, Sakura tahu apa yang terjadi padanya.
"Kau sudah dengar ceritanya?" tanya Ataka. Sakura terdiam.
"Aku hanya dengar, mereka bertiga tersesat, dan entah bagaimana hampir memasuki medan perang." Jawabnya "Mereka bertemu dengan entah siapa dan apa, lalu kembali ke rombongan dengan luka parah."
Ataka mengangguk. "Akito Yuka, si pria tua yang membawa mereka berdua kembali. Akito Azuya, gadis berusia 12 tahun mengalami luka pada bagian lengan kanan atas dan yang terparah pada kaki kanannya. Sedangkan Akito Hayato, berusia 13 tahun, mengalami beberapa luka gores di pundak, lengan kiri bawah, langan kanan bawah, dan dada. Serta luka parah di bagain perut kanan bawah." Jelasnya.
"Luka yang disebabkan karena dia melindungi dua orang lainnya." Lanjut Sakura. Ataka tersentak.
"Bagaimana kau bisa menyimpulkan begitu?" tanyanya heran "Aku sama sekali tak mendapat informasi seperti itu."Belanya.
Sakura hanya tertawa kecil, "Kau tau, aku memiliki beberapa pengalaman untuk merawat orang-orang yang mempunyai sifat seperti itu."Ya, benar, contohnya saja Naruto.
Sakura menunduk dan menatap sendu kearah gelas yang masih berisi sepertiga air dingin, 'Naruto… Sasuke…'
Ok, author juga gak ngerti kenapa kalau Sakura mikirin Naruto, Sasuke juga ngikutan nongol disana. Itu masih menjadi sebuah misteri…
"Aku sepertinya pernah mendengar nama Klan Akito." Sahut Sakura.
Ataka menengok kearah beberapa anak kecil yang seperti asyik bermain entah apa. "Tidak, ini hanya sebuah keluarga besar saja." Jelasnya, "Mereka berasal dari Konoha juga, tapi memisahkan diri saat pemerintahan Sindaime Hokage. Entah karena alasan apa."
Sakura mengerjapkan matanya sesaat, dan mulai berpikir dengan pose imutnya, jari telunjuk ditempelkan pada pipinya. Dan akhirnya dia selesai berpikir, "Ah! Benar juga! Aku pernah membacanya di buku alasan umumnya sih, kerena mereka ingin mandiri?" tanyanya lagi.
Dia menatap Ataka dan dibalas dengan tatapan polos mereka bertahan cukup Ataka mati-matian mencoba mengalihkan pandangannya, tapi tak hanya menatapnya polos.
"Kau tahu, Hiruma-san, aku tidak melihatmu saat perang." Sahut Sakura bingung.
Ataka tersentak, "Oh, itu?".Dinaikkannya lengan baju kirinya, dan memperlihatkan luka yang cukup serius hampir diseluruh lengannya. Sakura sedikit terkejut melihat itu."Aku ingin, tapi, aku bahkan kesulitan mengontrol arah serangan dengan tangan aku ini dengan racun sialan yang lumayan jadi sulit, bahkan tidak bisamenggerakkan tubuhku di ibaratkan, waktu itu, saat perang, aku hanya warga sipil biasa."
Sakura hanya menatap luka di tangan kiri Ataka dengan tidak percaya. Biasanya jika orang lain memiliki luka seperti itu, dia bisa saja cacat. Hampir sama seperti hal yang terjadi pada Lee dulu. Saat ujian Chuunin melawan , dari mana dia dapat luka seperti itu?
"Kecelakaan saat misi." Ucap Ataka seakan mengerti apa yang dipikirkan Sakura. "Sekarang aku berusaha untuk terbiasa dengan tangan kanan. Dan aku sudah bisa mengontrol cakra lagi."
"Kau bisa menggerakannya?" tunjuk Sakura pada tangan kirinya itu. "Kau cukup beruntung, Hiruma-san." Kagum Sakura.
Ataka hanya menyengir, terlihat garis merah muda tipis di pipinya.
Tunggu, apa?!
.
.
.
"Wah! Sasuke! Kenapa kau disini juga?Sebuah kebetulan ya?" sapa Naruto santai dibalas tatapan heran dari Sasuke, yang berdiri gagah di salah satu cabang di pohon hutan.
"Perjanjiannya disini." Jawab Sasuke datar. Dia melompat dan berdiri tegak beberapa meter di depan Naruto.
Naruto menatapnya bingung."Bukannya kita berjanji bertemu di lokasimedan perang kemarin?kenapa kau ada disini juga?" tanyanya heran.
Sasuke memicingkan matanya."Kau pikir ini dimana?" tanyanya angkatan bahu dari jadi bingung sendiri.
"Ada yang salah dengan otakmu." Balasnya datar, lagi.
Naruto tersentak dengan perkataan (yang menurutnya) kejam dari sahabat karibnya itu."Apa yang kau-" ditatapnya Sasuke kesal."Aku bukan anak bodoh lagi, muka papan!"
Twitch!
"Sepertinya kau mendapat julukan baru untukku, dobe." Ucap Sasuke datar dengan suara yang ditinggikannya.
"Terserah, teme!" rajuk Naruto kesal. Ok, mungkin dia gak nyadar kalau Sasuke lagi marah besar karena panggilan 'muka papan' darinya tadi. Apa yang bisa kau harapkan dengan hanya menaikkan nada bicaramu pada manusia nan tak peka ini, Sasuke?
"Dengar bocah, ini tempat yang sesuai dengan perjanjian."
Suara Kurama membuat Naruto tersentak. Maksudnya, disini tempatmedan perang kemarin? Bukannya tempat ini seharusnya bukan lagi hutan?Lalu kenapa?
"Jangan tanya kenapa, karena aku akan lelah jika menjelaskannya. Semua penjelasan ada pada otakmu yang sedikit konslet itu. Maksud bocah Uchiha itu dengan 'Ada yang salah dengan otakmu.', adalah ingatanmu."
Naruto mengangguk mengerti.
Mengerti…
"Oh, jadi begitu?Ya sudah!" cengir Naruto hanya diam membisu didalam kebingungannya sendiri.
"Hn." Sahutnya ambigu. "Jadi…, ehm.." gagapnya. Beruntung Naruto tidak terlalu memperhatikan, dia jadi gak nyadar dengan ke-tidak-uchiha-an Sasuke.
"Ya?"
"Bagaimana dengan konoha?" tanya Sasuke dengan nada yang direndahkannya.
Hening …
"Mungkin Kakashi sudah menjadi Hokage…"
Sangat hening…
"Kuharap Sakura tak membenciku…"
Masih hening…
"Kurama! Kurama! Sadarlah! Sadarlah, bola bulu!" teriak Naruto keras membuat Kurama tersentak dari lamunannya.
"Ta, tadi itu mengerikan…" ucap Kurama gagap.
"Sasuke!Apa kau yakin telah sembuh total?!" kejut Naruto horror.
Sasuke hanya mengernyitkan alisnya bingung. "Tentu saja." Balasnya singkat.
Naruto mengerjapkan matanya beberapa -tiba senyumnya merekah. "Sejak kapan Uchiha Sasuke banyak bicara dan khawatir dengan orang lain?" seringainya menahan tawa(?) #emangnya ada thor sebleng?!*lemparlemari.
Dor!
Sasuke hanya bisa menahan malu. 'Sial!Apa semua Uzumaki punya sifat untuk mempermalukan Uchiha?!' batinnya malah nyalahin orang.
"Terserah." Jawabnya datar. Hore! Imagenya sudah kembali! #naburbunga
"Bisa kita mulai?" tanyanya lagi, serius.
Naruto tersenyum tipis."Yosh! Kita bisa mulai sekarang." Jawabnya mantab.
Keadaan menjadi berdua hanya diam. Terlihat Sasuke yang mengaktifkan ketinggalan Naruto yang sudah memasuki mode saninnya. Seakan mengetahui akanterjadinya kekacauan di sana, semua hewan menjauh dari sana.
Naruto mulai siaga. Kantong senjata yang berisi beberapa kunai tadi menghilang dalam kembulan asap kebelakang kaki kanannya secara perlahan mulai memasuki kantong senjata yang berada di pinggang belakang pula mulai menggenggam ganggang katananya.
"Kita lihat, berapa lama kau bisa bertahan tanpa bantuanku." Ucap Kurama hanya diam.
Keheningan bertahan cukup , terdengar hembusan angin kecil disekitar sehelai daun jatuh hijau yang kecil, semakin jatuh kebawah. Hingga daun itu menyentuh tanah,
Klang!
Kunai dan katana saling beradu kekuatan.
.
.
.
Brak!
"Kau tak apa, Haruno-san?" tanya Ataka khawatir saat melihat Sakura menjatuhkan baki yang dibawanya.
Sakura hanya diam. Keringat dingin menetes turun dari pelipisnya. Dia seperti terkejut akan suatu hal. Ataka menjadi semakin bingung dan menepuk pundaknya, yang membuatnya terkejut.
"Hi… Hiruma-san… a..aku harus pulang ke desa sekarang…" pinta Sakura gugup. Ataka tersentak.
"Ta.., tapi Hatake-san memintamu melakukan misi ini selama 2 hari, ingat?" ujarnya.
"Maaf." Ucap Sakura pelan. "Kupercayakan mereka padamu." Sambungnya, dia langsung berlari menjauhi Ataka.
"Tunggu!Haruno-san!" panggil Ataka tak di gubris oleh memijit keningnya."Aku tak bisa meninggalkan rombongan ini, hanya untuk mengejarnya."Frustasinya. "Dan, aku sudah terlalu lelah karena membuat toksin tadi…"
Ataka terdiam dan memutuskan untuk membiarkan Sakura pergi. Persetan dengan upah yang didapatnya nanti dipotong atau apa, dia terlalu banyak menggunakan cakra untuk membantu Sakura tadi.
Sementara itu, Sakura terus melompati cabang demi cabang pepohonan dengan khawatirnya makin besar.
Satu hal yang terpikirkan olehnya, kembali kedesa dan memastikan Naruto ada disana.
'Awas saja jika mereka membohongiku!'
.
.
.
TBC
Akhirnya selesai juga chapter 11 ini!
Ehm, satu bulan lebih ya? Maaf deh XD Terus, maaf soal Typo(s)-nya. Komputernya rada-rada nih...
Ekfin : dasar! Gak konsisten banget sih jadi author! Kalau gak bisa bertanggungjawab, ya, jangan jadi author!
Nabila : gomen… #pundung.
Ekfin : nah, kita lihat dulu profil OC kita!
Nama : Hiruma Ataka
Tingkatan : Chuunin
Umur : 17 tahun
Penampilan :
Berambut pendek rapi (seperti anak sekolahan gitu :p) berwarna coklat tua.
Mata nya bulat #bukan! Tapi persegi!# berwarna merah rubi, tapi lebih ehm…, muda lagi?
Bajunya, ya seperti baju Chuunin pada kepala di ikatkan di lehernya longgar.
Nabila : sekian dulu pengenalannya!
Ekfin : eh, katanya OC-nya cuman 3, kok nambah lagi?
Nabila : Hah?! Emangnya udah ada 3 ya kemaren?
Ekfin : iya! Yang pria bertopeng itu!
Nabila : Owh. Aku kasih bocoran ya? Dia itu bukan OC. Coba ditebak siapa…, kalau bisa sih…
Ekfin : ya udah.
Nabila : owh, ya, minna. Ada yang bisa kasih saran gak?Kakashi nanti couplenya siapa ya? Bingung nih XD
Sekian dulu fict gaje saya! Terimakasih telah membaca dan menunggu ampe jamuran ya? XD
Maaf kalau telat bangeeeeeeeeeeeet…..
Salahkan koneksinya -,-
Sampai jumpa di chap berikutnya!
RnR?
Mohon kritik dan sarannya senpai! :D
