No Org.

zelochest

Genre : Humor, Romance

Rate : M

Disclaimer : Copyright by Alice Clayton. Ini ff remake kedua saya dengan pertama kali bawa pemain utama YoonMin, haha. Remember fanfiction hanyalah sebuah karya penuh perjuangan fikiran dan fisik, sedangkan untuk idenya milik Alice Clayton Author-nim. Sayangnya pemainnya bukanlah milik saya seutuhnya.

Warning : Alternate Universe MinYoon Dominant!Jimin x Submissive!Yoongi YAOI MATURE ADULT CONTENT AND LANGUAGE! REMAKE

Chapter 11 12.

Ini akan sangat panjang, semoga kalian tabah.

Aku terbangun beberapa jam kemudian, terkejut oleh kehangatan tubuh sampingku, yang pasti lebih besar dari kucing yang biasanya meringkuk di sampingku. Aku berguling telentang dengan hati-hati dan menjauh dari Jimin sehingga aku bisa menatapnya. Aku bisa menatap dia baik-baik saja karena lampu menyala, bersama dengan semua lampuku yang lain, yang terus menyala sepanjang malam, berusaha menahan pengaruh buruk dari film mengerikan itu. Aku mengusap mataku dan memeriksa teman tidurku. Dia berbaring telentang, lengan tertekuk seolah aku masih di dalam pelukannya, dan aku membayangkan betapa nyaman rasanya berpelukan dengan Jimin.

Tapi aku tidak boleh meringkuk dengan Jimin. Otak lebih tahu. Saraf juga setuju. Itu pasti seperti lereng yang sangat, sangat licin. Dan meskipun gambaran tentang menaiki tubuh Jimin yang licin segera datang ke pikiranku jauh dari kata polos, aku menyingkirkannya.

Aku berpaling dan melihat selimut tebal yang sangat nyaman terbelit di antara kakinya—dan kakiku, sebenarnya. Selimut itu adalah milik ibunya. Hatiku hancur setiap kali mengingat suaranya yang manis dengan malu-malu membagi kepingan memori kecil itu denganku. Dia tidak tahu aku bicara dengan Seokjin tentang masa lalunya, yang aku tahu orangtuanya sudah meninggal. Gagasan bahwa ia masih menggunakan selimut tebal dari ibunya tak terelakkan manisnya, dan sekali lagi hatiku hancur.

Aku cukup dekat dengan orangtuaku. Mereka masih tinggal di rumah yang sama di mana aku dibesarkan, di sebuah kota kecil di California selatan. Mereka adalah orangtua yang hebat, dan aku menjenguk mereka sesering mungkin, yang berarti liburan dan terkadang akhir pekan. Ciri khas orang-orang berusia dua puluhan, aku menikmati kebebasanku. Tapi orangtuaku berada di sana ketika aku membutuhkan mereka, selalu ada. Gagasan bahwa suatu hari nanti aku harus menjalani hidup ini tanpa petunjuk dan bimbingan mereka membuatku meringis, belum lagi jika kehilangan kedua orangtua saat baru berumur delapan belas tahun.

Aku senang Jimin tampaknya memiliki teman-teman yang baik dan seorang pengacara yang kuat seperti Namjoon yang mengawasinya. Tapi sedekat apapun teman dan kekasih, ada sesuatu tentang memiliki seseorang yang benar-benar memberimu akar tempat bertahan—akar yang terkadang kau perlukan ketika dunia bertarung menentangmu.

Jimin sedikit menggeliat dalam tidurnya, dan aku memperhatikannya lagi. Dia menggumamkan sesuatu yang tidak bisa kupahami, tapi terdengar sedikit mirip "Meatball." Aku tersenyum dan membiarkan jemariku menyelinap ke rambutnya, merasakan rambut selembut sutranya yang berantakan di bantalku.

Ya Tuhan, dia memberiku meatball yang enak. Saat aku membelai rambutnya, pikiranku melayang ke tempat di mana meatball mengalir tanpa henti dan kue pai untuk berhari-hari. Aku tertawa sendiri saat kantuk datang kembali, dan aku berbaring kembali ke pelukan. Saat aku merasakan kenyamanan yang hanya dapat diberikan oleh lengan hangat seorang pria, alarm kecil berdering di kepalaku, memperingatkan aku agar jangan terlalu dekat. Aku harus berhati-hati.

Jelas kami berdua tertarik satu sama lain, dan jika kami berada dalam ruang dan waktu yang lain, seks pasti telah berdering di seluruh negeri dan terjadi sepanjang waktu. Tapi ia punya harem, dan aku sedang mengalami hiatusku, belum lagi aku tidak mendapat O-ku. Jadi kami akan tetap sebagai teman saja. Teman yang makan meatball bersama. Teman yang meringkuk bersama. Teman yang segera akan menuju ke Jeju.

Aku membayangkan Jimin berendam dalam bak mandi air panas dengan Pantai Jeju membentang dalam segala kemegahan di belakangnya. Pemandangan yang mana terlihat lebih megah dan

tetap harus dilihat. Aku kembali tidur, hanya sedikit terbangun ketika Jimin merapat ke tubuhku lebih dekat. Dan meskipun nyaris berbisik, aku mendengarnya. Dia mendesah menyebut namaku.

Aku tersenyum saat aku jatuh tertidur lagi.

*ZELOCHEST*

Keesokan paginya aku merasakan sodokan terus-menerus di bahu kiriku. Aku mengibaskannya pergi, tapi itu terus berlanjut. "Holly, hentikan, brengsek," aku mengerang, menyembunyikan kepala di bawah selimut. Aku tahu ia tidak akan berhenti sampai aku memberinya makan. Makhluk yang satu itu dikuasai oleh perutnya. Lalu aku mendengar suara tawa manusia—pelan dan pastinya bukan Holly.

Mataku terbuka lebar, dan gambaran kejadian semalam datang menyerbu: horor, kue pai, pelukan. Aku menjulurkan kaki kananku ke belakang, menggesernya di sepanjang tempat tidur sampai aku merasa kakiku berhenti menyentuh sesuatu yang hangat dan berbulu. Meskipun aku sekarang lebih yakin dari sebelumnya bahwa itu bukan Holly, aku menyodok dengan jari kakiku, merayap keatas sampai aku mendengar tawa berikutnya.

"Penggedor Dinding?" Bisikku, tidak ingin membalikkan badan. Persis seperti yang diperkirakan, aku telentang secara diagonal di tempat tidur, kepala di satu sisi, kakiku praktis di ujung yang lain.

"Satu-satunya," suara yang merdu berbisik di telingaku. Jari kaki dan Yoongi Bagian Bawah-ku menggeliat. "Sial." Aku berguling telentang untuk memeriksa keadaan. Dia meringkuk di salah satu sudut di mana tubuhku mengizinkannya. Kebiasaan berbagi tempat tidurku tidak mengalami peningkatan sama sekali.

"Kau memang bisa memenuhi tempat tidur," katanya, tersenyum padaku dari bawah selimut tebal yang kusisakan untuknya. "Kalau kita akan tidur bersama lagi maka harus ada suatu aturan dasar."

"Ini tidak akan terjadi lagi. Ini akibat yang ditimbulkan karena menonton film mengerikan yang kita tonton berdua. Tidak ada tidur bersama lagi," kataku tegas, bertanya-tanya betapa mengerikan bau napasku pagi ini. Aku menangkup tangan di depan wajahku, menghembuskan napas, dan mengendusnya dengan cepat.

"Bunga mawar?" Tanyanya.

"Pasti." Aku menyeringai.

Aku menatapnya, berantakan dengan indahnya dan di tempat tidurku. Dia memberikan senyuman itu, dan aku mendesah. Sesaat aku membiarkan diriku menikmati fantasi di mana kemudian dengan cepat tubuhku ditindih dan disetubuhi habis-habisan, tapi aku dengan bijak mengambil kendali atas kenakalan nalarku.

"Bagaimana kalau kau merasa takut malam ini?" Tanyanya saat aku duduk dan menggeliat.

"Tidak akan," Balasku dari balik bahuku.

"Bagaimana kalau aku yang takut?"

"Bersikaplah dewasa, cowok tampan. Mari kita membuat kopi, dan kemudian aku harus pergi bekerja." Aku menghantam dia dengan bantalku.

Dia meluncur keluar dari bawah selimut tebal, melipatnya, dan membawanya ke dapur di mana ia meletakkannya dengan lembut di atas meja. Aku tersenyum, memikirkan dia menyebut namaku tadi malam. Apa yang aku harus berikan untuk tahu yang berkecamuk di dalam benaknya.

Kami pindah ke dapur dengan efisien, menggiling biji kopi, menakar kopi, menuangkan air. Aku menaruh gula dan krim di meja sementara ia mengupas dan mengiris pisang. Aku menuangkan granola, ia menuangkan susu dan pisang ke mangkuk kami. Dalam beberapa menit kami duduk berdampingan pada bangku bar, memakan sarapan seolah-olah kami telah melakukannya selama bertahun-tahun. Kenyamanan kami menggelitikku. Dan mengkhawatirku.

"Apakah kau mengerjakan sesuatu untuk koran itu?" Tanyaku terkejut pada tingkat ketertarikan yang kudengar dalam suaraku.

Apakah ia akan ada di kota ini untuk sementara waktu? Kenapa aku peduli? Astaga.

"Aku menghabiskan beberapa hari menggarap pemotretan tempat berlibur singkat di Bay Area—tempat liburan yang dekat di akhir pekan," jawabnya dengan mulut penuh dengan pisang.

"Kapan kau akan melakukannya?" Tanyaku, memeriksa kismis dalam mangkukku dan berusaha untuk tidak terlihat terlalu tertarik atas jawabannya.

"Minggu depan. Aku berangkat Selasa," jawabnya dan perutku mual seketika. Minggu depan kami seharusnya pergi ke Jeju. Kenapa pula perutku begitu peduli kalau dia tidak akan ikut?

"Oh, begitu," aku menambahkan, sekali lagi terpesona oleh kismisku.

"Tapi aku akan kembali sebelum acara di Jeju. Aku berencana menyetir langsung dari sana saat aku menyelesaikan pemotretanku," katanya, menatapku dari balik tepi cangkir kopinya.

"Oh, well, itu bagus," jawabku pelan, perutku sekarang melompat-lompat.

"Kapan kau menuju kesana?" Tanyanya, sekarang terlihat mengamati mangkuknya sendiri.

"Menumpang dengan Jungkook dan Mingyu di hari Kamis, tapi aku harus tetap di kota untuk bekerja sampai setidaknya Jumat siang. Aku akan menyewa mobil dan menyetir ke sana sore itu."

"Jangan menyewa mobil. Aku akan mampir menjemputmu," ia menawarkan, dan aku mengangguk tanpa kata.

Sudah diputuskan, kami menyelesaikan sarapan dan menyaksikan Holly mengejar sepotong bulu di sekitar meja berulang kali. Kami tidak banyak bicara, tapi setiap kali kami bertemu pandang, kami berdua tersenyum lebar.

*ZELOCHEST*

Pesan Teks Singkat Antara Taehyung dan Jihoon:

Apa kau tahu Yoongi bekerja dengan Zhoumi?

Zhoumi siapa?

Zhoumi, mantan pacarnya tentu saja. Siapa lagi?

TIDAK! Apa-apaan ini?

Ingat Yoongi pernah menyebutkan kalau dia punya klien baru? Yoongi lupa tidak menyebutkan siapa dia.

Aku akan mengomelinya saat aku bertemu dengannya nanti. Dia lebih baik tidak membatalkan acara di Jeju. Apakah Mingyu bilang padamu kalau ia akan membawa gitarnya?

Yup, dia bilang padaku ingin menyanyi dengan kacau bersama.

Dia bilang begitu? Haha. Aku berpikir itu pasti akan menyenangkan.

Pesan Teks Singkat Antara Mingyu dan Taehyung:

Hei, mungil, apakah kita masih akan main bowling dengan Jihoon dan Jungkook malam ini?

Yup, dan kau lebih baik mengeluarkan permainan terbaikmu. Jihoon dan aku lumayan hebat.

Jihoon tahu bagaimana bermain bowling? Wow.

Kenapa dengan wow itu?

Aku hanya tidak mengira dia bisa bermain bowling. Sampai nanti malam.

Pesan Teks Singkat Antara Jungkook dan Jimin:

Kau masih berencana pergi bersama kami akhir pekan ini?

Ya, tapi aku tiba sedikit terlambat, punya jadwal pemotretan.

Kapan kau datang?

Sekitar Jumat malam, mampir ke kota dalam perjalanan kesana.

Kenapa kau akan kembali ke kota? Kau melakukan pemotretan di sekitar Busan, kan?

Aku hanya perlu untuk mengambil sesuatu untuk akhir pekan itu.

Bro, siapkan saja barang-barangmu dan bawa dirimu langsung ke Jeju.

Pasti, tapi aku menjemput Yoongi.

Aku mengerti.

Kau tidak mengerti apapun.

Aku mengerti semuanya.

Kau yakin tentang itu, Bocah Besar? Bagaimana dengan Jihoon?

Jihoon? Kenapa semua orang bertanya padaku tentang Jihoon?

Sampai jumpa di Jeju.

Pesan Teks Singkat Antara Taehyung dan Yoongi:

Kau punya sesuatu yang harus dijelaskan, Moyeon-ah...

Oh tidak, aku benci kalau kau mulai bertingkah Yoo Si-jin padaku.Apa sebenarnya yang sudah kulakukan?

Jelaskan padaku kenapa kau tidak memberitahuku tentang klien barumu.

Yoongi, jangan mengabaikan pesanku! YOONGI!

Oh, tenanglah. Ini sebabnya kenapa aku TIDAK memberitahumu.

Yoongi Min, ini adalah berita yang jelas aku harus tahu!

Dengar, aku bisa mengatasinya oke? Dia klienku, tidak lebih. Diaakan menghabiskan uang yang banyak pada proyek ini.

Aku terus terang tidak peduli berapa banyak yang dia habiskan. Aku tidak ingin kau bekerja dengan dia.

Kau yang dengarkan baik-baik! Aku akan menerima klien baru manapun yang aku suka! Aku bisa mengatasinya.

Kita akan lihat...Apakah aku mendengar desas-desus bahwa kau mengemudi ke Jeju dengan Penggedor Dinding?

Wow, ganti topik pembicaraan. Ya, memang.

Baik. Pilih rute perjalanan yang panjang.

Apa artinya itu?

Taehyung? kau di sana?

Sialan kau, Taehyung...HELLO?

Pesan Teks Singkat Antara Yoongi dan Jimin:

Penggedor Dinding...datanglah Penggedor Dinding

Penggedor Dinding tidak ada di sini, yang ada hanya si Pengusir Setan.

Sama sekali tidak lucu

Ada apa?

Jam berapa kau akan menjemputku Jim

Aku harus kembali ke kota siang hari. Kalau kau bisa menyelesaikan pekerjaanmu lebih awal kita bisa menghindari jam sibuk.

Sudah bilang pada Seokjin aku bekerja setengah hari. Dimana kau sekarang?

Di Busan, di tebing yang menghadap samudera.

Astaga, kau ternyata punya sisi romantis yang tersembunyi...

Aku seorang fotografer. Kami pergi ke mana tempat pengambilangambar terbaik berada.

Astaga bung, kita tidak sedang membahas tempat pengambilan gambar.

Selain itu, kupikir kaulah orang yang romantis.

Aku bilang padamu, aku romantis.

Well dalam prakteknya, meskipun kau akan menghargai pemandangan itu—deburan ombak, matahari terbenam, itu bagus.

Apakah kau sendirian?

Ya.

Pasti kau berharap kalau kau tidak sendirian.

Kau tak tahu.

Pfft...kau berperasaan lembut.

Tidak ada yang lembut tentangku, Yoongi.

Dan kita kembali...

Yoongi?

Ya.

Sampai jumpa besok.

Ya.

Pesan Teks Singkat Antara Yoongi dan Jihoon:

Dapatkah kau memberiku alamat menuju rumah itu lagi jadi aku bisa hubungkan ke GPS milik Jim?

Tidak.

Tidak?

Tidak sampai kau katakan padaku KENAPA KAU MENYEMBUNYIKAN ZHOUMI.

Ya Tuhan, seperti memiliki 2 ibu tambahan...

Ini bukan tentang duduk tegak atau makan lebih banyak sayuran, tapi kita perlu melakukan percakapan tentang sikapmu.

Luar biasa.

Serius, Yoongi, kami hanya khawatir.

Serius, Jihoon, aku tahu. Tolong alamatnya?

Biarkan aku memikirkannya.

Aku tak akan bertanya padamu lagi...

Ya kau akan bertanya. Kau ingin melihat Jimin dalam bak mandi air panas. Jangan bohong.

Aku membencimu...

Pesan Teks Singkat Antara Jimin dan Yoongi:

Sudah selesai pekerjaanmu?

Yup, di rumah sedang menunggumu.

Nah, itu baru pemandangan yang bagus...

Siapkan dirimu, aku baru mengeluarkan roti dari oven.

Jangan menggodaku...?

Jeruk Kranberi. Mmmm...

Tidak ada yang pernah melakukan pemanasan seks sambil sarapan roti seperti yang kau lakukan.

Ha! Kapan kau datang?

Tidak Bisa. Menyetir. Lurus.

Bisakah kita melakukan satu percakapan di mana kau tidak seperti anak umur dua belas tahun?

Maaf, aku akan sampai di sana dalam waktu 30 menit.

Sempurna, itu akan memberiku waktu untuk membekukan rotiku.

Maaf?

Oh, aku tidak memberitahumu? Aku juga membuat cinnamon rolls.

Sampai di sana dalam waktu 25 menit.

*ZELOCHEST*

"Aku tidak mau mendengarkan lagu ini."

"Enak saja. Ini mobilku. Sopir yang memilih musiknya."

"Sebenarnya, kau salah tentang ini. Penumpang selalu memilih musiknya. Ini adalah apa yang kau peroleh ketika kau menyerahkan hak mengemudimu."

"Yoongi, kau bahkan tidak punya mobil, jadi bagaimana mungkin kau punya hak mengemudi?"

"Tepat sekali, jadi kita mendengarkan lagu mana yang kupilih," Tegurku, duduk kembali setelah mengganti saluran radio untuk keseratus kalinya. Aku menyalakan iPod dan menggulirnya sampai aku menemukan sesuatu yang kurasa akan menyenangkan untuk kami berdua.

"Lagu yang bagus," akuinya, dan kami bersenandung bersama.

Sejauh ini perjalanannya menyenangkan. Ketika aku pertama kali bertemu dengannya—maksudku mendengarnya—aku tidak akan pernah memperkirakan, tapi Jimin dengan cepat berubah menjadi salah satu teman favoritku. Aku telah keliru menilai tentang dirinya.

Aku meliriknya: bersenandung bersama lagunya, mengetuk ibu jarinya pada roda kemudi. Saat ia sedang memusatkan perhatian pada jalan, Aku memanfaatkan kesempatan untuk membuat katalog beberapa roman mempesonanya lagi.

Rahang? Kuat.

Rambut? Gelap dan berantakan.

Janggut? Berumur sekitar dua hari dan bagus.

Bibir? enak dijilat, tapi terlihat kesepian. Mungkin aku bisa memeriksanya, melakukan sedikit pemeriksaan dengan lidahku sendiri...

Aku menduduki tanganku untuk mencegah diriku untuk meluncurkan diri di atas konsol. Dia terus bersenandung dan mengetuk.

"Apa yang terjadi di sana, Pinky Boxer? Kau tampak sedikit memerah. Butuhkan lebih banyak udara?" Dia menyalakan AC mobilnya.

"Tidak, aku baik-baik saja," jawabku, suaraku terdengar konyol.

Dia menatapku dengan aneh, namun kembali bersenandung dan mengetuk.

"Kurasa sudah saatnya kita membuka roti jeruk kranberi. Berikan padaku," katanya sesaat kemudian ketika aku sedang tenggelam dalam fantasi tentang bagaimana sebenarnya aku bisa memanuver tubuhku ke pangkuannya sambil tetap mempertahankan kecepatan di jalan raya dengan baik.

"Aku sedang mengambilnya!" Teriakku, menjangkau ke kursi belakang dan mengejutkan kami berdua. Kakiku berada di udara dan pantatku terpampang saat aku mendekap wajahku yang terjungkir dengan tanganku di belakang kursi. Aku bisa merasakan betapa merahnya pipiku ini, dan aku secara mental memberikan tamparan kecil pada diri sendiri untuk menyadarkanku kembali ke dunia ini.

"Ini salah satu pantat yang indah, kawanku." Dia menghela napas, menyandarkan kepalanya di atas pantatku seolah-olah itu adalah bantal.

"Hei. Ass Man. Perhatikan jalan dan bukannya pantatku, atau tidak ada roti untukmu." Aku membentur kepalanya dengan pantatku dan membuatku menggapai udara saat ia berbelok.

"Yoongi, kau perlu mengendalikan diri di sana, atau aku akan menepi."

"Oh, diamlah. Ini roti sialanmu," Bentakku, merangkak kembali ke kursiku dengan cara yang sama sekali tidak ada bagusnya dan melemparkan roti ke arahnya.

"Apa-apaan sih? Jangan melemparnya. Bagaimana kalau kau melukainya?" Teriaknya, membelai dengan lembut roti berbungkus foil itu.

"Aku khawatir tentangmu, Jimin. Sungguh." Aku tertawa, mengawasinya kesulitan membuka ujung bungkusnya. "Kau ingin aku mengambilkan sepotong untukmu—oke, atau kau bisa melakukannya dengan cara seperti itu." Aku mengerutkan kening saat ia mengambil gigitan besar dari ujung bungkusan roti.

"Inimunyaku, kam?" Tanyanya, menyemburkan remah-remah dari mulutnya.

"Bagaimana kau bisa berfungsi dalam masyarakat normal?" Tanyaku sambil menggelengkan kepala saat dia mengambil gigitan besar sekali lagi. Dia hanya tersenyum dan melanjutkan, makan seluruh roti dalam waktu kurang dari lima menit.

"Kau akan begitu mual malam ini. Roti itu seharusnya dimakan sepotong demi sepotong, tidak ditelan secara utuh," kataku. Satu-satunya jawaban darinya hanyalah bersendawa dengan keras dan menepuk perutnya.

Aku tidak bisa menahan tawa. "Kau orang sinting, Jimin." Aku tertawa.

"Tapi kau masih penasaran, bukan?" Dia menyeringai, mengalihkan matanya kearahku.

Celanaku benar-benar hancur. "Anehnya, ya," aku mengakui, merasakan wajahku memerah lagi.

"Aku tahu." Dia menyeringai, dan kami terus melaju.

*ZELOCHEST*

"Oke, belokannya akan muncul di sekitar tikungan ini—aku ingat rumah itu!" Teriakku, melompat-lompat di kursiku. Sudah cukup lama sejak aku berada di sini, dan aku sudah lupa betapa indahnya.

Aku menyukai Jeju saat musim panas—semua olahraga air dan segala sesuatunya—tapi di musim gugur? Musim gugur itu indah.

"Terima kasih Tuhan. Aku harus buang air kecil," Jimin mengerang, seperti yang telah ia lakukan selama kurang lebih dua puluh mil terakhir.

"Salahmu sendiri kau minum sebanyak itu," Aku memperingatkan, masih melompat-lompat.

"Wow, inikah tempatnya?" Tanyanya saat kami berbelok masuk ke dalam pelataran. Lentera menerangi jalan menuju rumah luas dua lantai terbuat dari kayu cedar dengan perapian batu raksasa di sisi kiri. Mobil-mobil sudah berada di jalan masuk, dan aku bisa mendengar musik mengalun keluar dari dek belakang.

"Kedengarannya teman-teman kita sudah memulai pesta mereka," duga Jimin. Pekikan dan tawa berbaur bersama musik yang berasal dari sisi belakang rumah.

"Oh, aku tidak meragukannya. Dugaanku adalah mereka sudah minum sejak makan malam dan sekarang setengah telanjang di dalam bak mandi air panas." Aku berjalan memutar ke belakang mobil untuk mengambil tasku.

"Sekarang kita harus mengejar ketertinggalan, bukan?" Dia mengedipkan mata, menarik sebotol Galliano dari tasnya. "Kupikir kita bisa membuat koktail Penggedor Dinding."

"Sekarang itu menarik. Karena aku memikirkan hal yang sama," Balasku, menarik sebuah botol yang sama dari dalam ranselku.

"Aku tahu kau sangat ingin agar aku ada dalam tubuhmu, Yoongi." Dia tertawa dan menyambar tasku saat kami menuju ke pintu.

"Please, kau akan membuat sebuah minuman dan memberinya nama Pinky Boxer hanya untuk memasukanmu ke dalam mulutku— jangan coba-coba berbohong," Ejekku, menyenggolnya dengan bahuku.

Dia berhenti di pertengahan jalan dan menatapku dengan sengit.

"Apakah itu undangan? Karena aku bartender yang sangat hebat," katanya, matanya menyala-nyala di kegelapan.

"Aku tidak meragukannya," Aku menarik napas, ruang antara kami sekarang berderak oleh ketegangan yang sangat sulit untuk diabaikan. Aku menarik napas dalam-dalam, dan menyadari bahwa dia juga melakukan hal yang sama.

"Ayo, mari kita minum-minum dan mulai akhir pekan ini." Dia tertawa, menyenggolku dengan bahunya dan memecahkan ketegangan.

"Ayo minum-minum," gumamku, berjalan di belakangnya.

Mendapati pintu depan terbuka, Jimin menyimpan tas kami, dan kami berjalan di dalam rumah menuju dek belakang. Terlihat pantai yang terbentang di hadapan kami, hanya diterangi obor menghiasi dermaga dan jalur yang mengarah ke pinggir pantai.

Seluruh sisi belakang rumah diapit dengan teras bata dan dek, dan di sanalah kami menemukan teman-teman kami.

"Yoongi!" Pekik Taehyung dari bak mandi air panas, di mana ia dan Mingyu saling memercik air satu sama lain. Ah, kita sudah sampai ke taraf suara Pekikan Mabuk.

"Taehyung!" Aku balas memekik, mencari-cari Jihoon. Dia dan Jungkook duduk di bangku batu dekat api unggun, memanggang marshmallow.

Mereka berdua melambai dengan riang, dan Jungkook memberi isyarat menjijikkan dengan tongkatnya.

"Membuat mereka menyadari kekeliruan mereka sendiri mungkin lebih mudah daripada yang kita duga, sesama comblang," bisikku pada Jimin, yang sudah mencampur koktail pada bar di teras belakang.

"Kau pikir akan semudah itu?" Balasnya berbisik, memberikan anggukan universal antara sesama pria yang mengatakan, "Ada apa, Bro?"

"Pasti. Mereka sudah hampir sampai pada tahap itu tanpa bantuan kita. Yang harus kita lakukan adalah menunjukkan kepada mereka apa yang benar di depan mereka."

Dia menyerahkan koktailnya padaku. "Jadi, bagaimana dengan aku?" Tanyanya sambil mengedipkan mata.

"Apakah ini cocktail Penggedor Dinding?"

"Benar."

Aku minum seteguk, mencicipi rasanya di sekitar mulut dan di atas lidahku.

"Kau sehebat yang kukenal," bisikku, mengambil tegukan besar yang berbahaya.

"Untuk sesuatu yang sangat jelas," tambahnya, mendenting gelasnya dengan gelasku dan meneguk dengan banyak.

"Untuk sesuatu yang sangat jelas," Aku membeo, mata kami terkunci di antara pinggiran gelas.

Voodoo Penggedor Terkutuk.

*ZELOCHEST*

"KAKI SIAPA ITU?"

"Itu kakiku, Mingyu. Berhentilah menggosoknya."

"Bung! Berhentilah mencoba bermain-main footsie –meraba kaki– denganku, Jungkook!"

"Kaulah yang masih memegang kakiku."

Mingyu dan Jungkook mencoba terlihat cuek saat mereka terlepas dari sesi footsie di bawah gelembung air. Aku tertawa saat pandanganku bersirobok dengan mata Jimin yang berada di seberangku di jacuzzi dan ia menyeringai padaku.

"Mau lagi?" bisiknya, mengangguk pada gelasku yang kosong.

"Aku rasa sudah cukup untuk malam ini, bukan?" bisikku padanya, saat teman-teman kami terkekeh di sekitar kami.

"Aku pikir kau tipe yang selalu menginginkan lebih," katanya. Seringai khasnya muncul.

Aku menatap dirinya, gambaran tentang Jimin berada di dalam jacuzzi yang telah ada di dalam kepalaku beberapa minggu terakhir benar-benar tidak sebanding dengan kenyataannya. Lengan kuat direntangkan di belakang jacuzzi, rambut basah dan tergerai kebelakang. Jika aku kira telah melihatnya dalam keadaan basah dan setengah telanjang di lantai dapurku sangatlah menarik, itu tidaklah ada apa-apanya apabila dibandingkan melihatnya dengan dilatari oleh obor dan tampak seperti memancarkan dengungan yang kuat. Sekarang ia adalah pria yang paling luar biasa tampan yang pernah aku lihat, dan jika aku tidak salah, ia sedang mencoba membuatku mabuk. Sang otak mulai terasa sedikit pusing. Sang hati mulai menyanyikan lagu.

"Apakah kau mencoba membuatku mabuk?" tanyaku, terkikik saat aku menyingkirkan gelas kosongku, mencegah diriku sendiri untuk menambah alkohol.

"Tidak. Seorang Pinky Boxer yang ceroboh tidak akan membawaku kemana-mana." Ia menyeringai saat aku memercikkan air ke arahnya. Semua teman-teman kami terdiam dan memandangi kami dengan ketertarikan yang terang-terangan.

Setelah Jimin dan aku tiba, kami memperoleh minuman, dan kemudian aku menunjukkan padanya sekeliling rumah. Aku meninggalkan tasku di pintu depan, tidak mengetahui bagaimana pengaturan kamar untuk tidur yang dibuat. Kami kembali ke teras belakang dan menemukan bahwa Jihoon dan Jungkook telah bergabung dengan Mingyu dan Drunky Taehyung di jacuzzi. Sebuah perjalanan singkat ke rumah kolam membuatku tidak membawa apa-apa, kecuali baju renang berwarna hijau tua dan sebuah senyuman saat aku menghampiri teman lainnya. Jimin telah masuk ke dalam air, dan aku melihatnya memperhatikanku. Saat aku meluncur ke dalam air yang hangat, aku menyesap koktailku dan meresapi pemandangan tetanggaku, basah dan dengan memakai celana pendek, di hadapanku. Jihoon benar-benar harus menyenggolku untuk menghentikan tatapanku pada tetanggaku itu.

Sekarang kami berada tepat di tengah-tengah sup seksual, yang bergolak pada dua pasang kekasih yang tidak serasi dan dengan dengan lebih banyak feromon daripada apa yang harus kami lakukan terhadapnya.

Jadi apakah aku menginginkan koktail yang lainnya? Tidak masalah. Aku tidak akan sanggup meminumnya.

Aku harus menggelengkan kepalaku sedikit untuk menghapusnya ketika aku melihat sekeliling pada yang lainnya. Taehyung telah berubah terlalu panas dan bertengger di tepian, menendang-nendang Mingyu dengan mengayunkan kakinya bolak-balik. Mingyu memanjakan Taehyung seperti kakak memanjakan adiknya.

Jihoon dan Jungkook meringkuk di sisi lainnya, Jihoon menggaruk punggung Jungkook saat ia dan Mingyu membahas tentang starting lineup (pemain utama yang diturunkan sejak awal pertandingan) dari sebuah klub atau garis pertahanan atau sesuatu tentang sepakbola dan, terus terang, membosankan.

"Jadi, apa yang akan kita lakukan akhir pekan ini?" tanyaku, memfokuskan perhatianku pada kelompok besar dan bukan pada mata Jimin yang menatapku. Mata sialan! Mata itu bisa menjadi penyebab kematianku.

"Kami sedang berpikir untuk pergi hiking besok. Siapa yang mau ikut?" tanya Jungkook.

Jihoon menggelengkan kepalanya. "Aku tidak ikut. Tidak mungkin aku pergi hiking."

"Kenapa tidak?" tanya Mingyu.

Jimin dan aku bertukar pandang dengan cepat terhadap ketertarikan Mingyu yang muncul tiba-tiba.

"Aku tidak bisa. Terakhir kali aku hiking aku sedikit tergelincir dan pergelangan tanganku terkilir. Aku tidak mempunyai kesempatan bermain selama semusim" ujarnya, melambaikan tangannya dan mengingatkan kami ia mengandalkan tangannya untuk bertahan hidup. Sebagai pemain cello, ia bisa didepak keluar karena alasan kecil itu. Sekali ia berkelit untuk bermain ia bisa kehilangan kesempatan selama musim dingin.

"Bagaimana denganmu?"Jungkook menarik kaki Taehyung.

"Um, tidak, Taehyung tidak suka hiking," jawab Jihoon, membetulkan kaos putihnya yang mengetat mencetak tubuhnya . Kekasih yang sesungguhnya tidak memperhatikannya, tapi aku melihat Mingyu yang berada di seberang jacuzzi membelalakkan matanya hingga berukuran hampir sebesar pie pada tubuh Jihoon yang hampir terekspos sepenuhnya.

"Kau akan melewatkan acara hikingnya juga?" Jimin menganggukan kepalanya padaku.

"Tentu saja tidak. Aku akan hiking dengan para cowok!" aku tertawa saat Jihoon dan Taehyung memutar mata. Mereka tidak pernah mengerti mengapa aku sangat menyukai "mountain man activities -aktivitas gunung para pria-," begitulah sebutan mereka terhadap kegiatan semacam itu.

"Bagus," bisik Jimin, dan selama sedetik aku mengkalkulasi jarak antara mulutku dengan mulutnya.

Kemudian kami semua terdiam, kami berenam tenggelam dalam pikiran kami masing-masing. Aku ingat rencana untuk mengeluarkan mereka berempat, dan aku melompat masuk ke dalamnya.

"Jadi, Jungkook, apakah kau tahu Taehyung ini setiap tahunnya memberikan donasi untuk membantu lembaga amalmu? tanyaku, membuat mereka berdua terkejut.

"Kau melakukannya?"

"Yep, setiap tahun," jawab Taehyung. "Aku tahu apa manfaat memiliki akses komputer, terutama anak-anak yang tidak bisa mempunyai kesempatan memilikinya." Taehyung tampak malu-malu pada Jungkook, dan mereka mulai mengobrol tentang bagaimana proses yang digunakan untuk menentukan sekolah mana yang akan menerima beasiswa setiap tahunnya.

Jimin dan aku saling bertukar seringaian. Melihat ke samping pada Jihoon, Jimin meluncurkan serangan gelombang kedua. "Hey, Mingyu, berapa banyak kursi yang telah kau beli untuk simfoni tahun ini?"tanyanya.

Mingyu tersipu malu.

"Kau sudah membeli tiketnya?" tanya Jihoon.

"Tiket semusim," Jimin menambahkan, dan Mingyu mengangguk.

Lalu Jihoon dan Mingyu mulai berdiskusi, dan Jimin menaikkan kakinya ke atas permukaan air.

"Ayolah, jangan membuatku menunggu."

"Apa?"

"Berikan aku sedikit tos kaki. Aku tidak bisa menjangkau tanganmu," ia bersikeras, menggerakan kakinya maju mundur. Aku tertawa dan merendahkan sedikit dudukku, meregangkan kakiku keluar dari air dan menepuk kakinya dengan ringan.

"Ugh, pruney." -kisut/mengkerut karena terlalu banyak berada di dalam air- Jimin terbahak.

"Aku akan memberimu pruney," aku memperingatkannya, mencelupkan kakiku dan mencipratkan air padanya.

*ZELOCHEST*

"Aku tidak bisa lebih nyaman lagi. Serius, aku benar-benar tidak bisa merasa lebih nyaman lagi sekarang ini jika aku seandainya benar-benar berada di dalam sebuah marshmallow," gumamku dengan artikulasi yang tidak jelas karena lidahku terlapisi oleh campuran krim dan kopi. Aku meringkuk di atas bantal-bantal yang berjumlah kurang lebih lima puluh di sebelah perapian -sebuah perapian dengan luas hampir sepuluh kaki dan sebuah cerobong dengan tinggi hampir tiga lantai. Terbuat seperti dari batu yang digali, dan itu besar. Itu adalah titik fokus dari seluruh rumah, dengan kamar-kamar menyebar keluar dari pusatnya. Dan itu memancarkan panas yang besar.

Kami kedinginan hingga ke tulang ketika pada akhirnya kami masuk kembali ke dalam. Satu per satu, kami semua menjadi terlalu hangat di jacuzzi, jadi kami menarik diri kami sendiri keluar untuk mendinginkan tubuh sedikit. Pada saat kami menyadari betapa dinginnya malam, kami menggigil dan gigi pun gemeletukan, dan tidak menginginkan apapun selain meringkuk di samping perapian.

Saat kami telah memilih kamar, aku segera menyadari, dan mereka menyelinap ke dalam kamar tidur utama untuk berganti kedalam piyama kami dan kembali bergabung dengan para pria, yang sekarang semuanya telah mengenakan T-shirt dan celana piyama.

Kami membuat sepoci kopi, dan aku mengiris beberapa roti cranberry-jeruk tambahan buatanku yang dengan bijak aku sembunyikan dari Jimin. Secangkir kopi, dan kami semua bersantai dekat perapian seperti sebuah iklan.

Jimin telah duduk bersandar bak seorang raja di dekat perapian dan menepuk tumpukan bantal didekatnya. Aku menenggelamkan diri disana dan beberapa bulu-bulu beterbangan berputar-putar disekitar kepala kami. Kami tahu masing-masing orang mempunyai cara yang berbeda untuk menyalakan api-kayu bakar, koran, kayu bakar dan koran- ketika akhirnya kepala Jihoon melongokkan kepalanya keatas sana dan memberitahukan bahwa cerobong asapnya masih tertutup.

Membawa kembali beberapa kayu bakar, pada saat itu para pria memberikan semuanya pada Jungkook, tidak ada alasan lain selain bahwa ia adalah satu-satunya yang memegang korek api. Tapi dalam beberapa menit, mereka berhasil membuat api berkobar, dan sekarang kami semua duduk mengelilingi perapian, mengantuk, dan terpuaskan.

Aku menarik napas dalam-dalam. Tidak ada aroma yang menandingi api yang sebenarnya-bukan perapian dari gas, bukan dari beberapa lilin, tapi sebuah kemurnian dari perapian dengan bunyi berderak dan gemeretak dan sedikit bunyi berciut berdesing yang lucu saat uap keluar dari patahan di kayu.

"Jadi, Yoongi, sudahkah kamu meminta Jimin untuk mengajarimu selancar angin?" tanya Taehyung tiba-tiba dari tempatnya duduk di lengan sofa. Kami hening sejenak, mengantuk dan hampir bermimpi, yang telah sedikit kumulai sediki saat Taehyung berbicara.

"Aah? Maksudku, apa?" tanyaku, keluar dari alam bantalku dan kembali ke masa kini.

"Well, para pria disini adalah peselancar angin. Kau ingin belajar selancar angin, dan aku yakin Jimin disini akan menunjukkannya padamu, iya kan, Jimin?" Taehyung tertawa, menyesap tetes kopinya yang terakhir dan meluncurkan dirinya dari lengan sofa ke pangkuan Mingyu dengan nyaman.

Mereka saling tersenyum sesaat sebelum mereka menyadari apa yang mereka lakukan dan Mingyu dengan bercanda memindahkan Taehyung dari pangkuannya sendiri keatas pangkuan Jungkook. Ia tidak menyadari pertanyaan awal Taehyung, tapi sekarang ia tampak sangat sadar dengan semua rencana licik Taehyung.

"Kau ingin belajar selancar angin?" tanya Jimin, menoleh ke tumpukan bantalku.

"Sebenarnya, iya. Aku selalu ingin mencobanya."

"Itu sulit-aku tidak akan berbohong. Tapi itu benar-benar setimpal." Jimin tersenyum, dan Mingyu mengangguk dari seberang ruangan.

"Tentu, Jimin akan menunjukkannya padamu. Dengan senang hati,"

Jungkook menimpali, mendapatkan kedipan mata dari Taehyung dan putaran mata dariku.

"Kita bisa merencanakan sesuatu saat kita kembali ke kota," saranku.

"Jangan bicara lagi malam ini. Lelaki ini telah memutuskannya, " kata Jihoon.

"Aku mengantuk. Dimana kita semua akan tidur?" Ia menyandarkan kepalanya ke belakang kursi dimana ia telah meringkuk disana.

"Well, ada berapa kamar yang kita miliki?" tanya Jimin saat aku terduduk dan menguap.

"Ada empat kamar, jadi silahkan pilih," jawab Jihoon, lalu dengan bijak ia menghabiskan sisa air di dalam botol.

"Apa kita tidur berpasangan ?" tanyaku, tertawa saat aku melihat wajah terkejut Jimin

"Kita bisa, tentu saja," jawab Taehyung, terlihat sedikit gugup saat melihat Mingyu.

Aku menahan tawa saat aku melihat Jihoon dan Jungkook bertukar pandangan ketakutan yang sama. Jimin pun melihat hal yang sama juga.

"Yeah, tentu! Jangan biarkan Yoongi dan aku berdiri di tengah jalan diantara pasangan kekasih! Taehyung, kau dan Mingyu pilihlah sebuah kamar, Jihoon dan Jungkook bisa memilih satu kamar, dan Yoongi dan aku akan mengambil kamar yang tersisa. Sempurna. Benar, Yoongi?"

"Kedengarannya sempurna bagiku. Aku hanya akan membilas cangkir-cangkir ini. Sekarang, kalian semua pergilah tidur. Pergilah dengan cepat!" teriakku. Jimin dan aku bergegas membersihkan cangkir sambil menyelinap dan mengintip mereka berempat melalui bahu kami. Mereka berempat tampak seperti mereka baru saja memulai mars kematian.

"Oh, man, aku harap ini berhasil... demi kepentinganku." Aku berdiri di belakang Jimin saat kami melihat mereka berempat menjadi dua pasang saat mereka berpisah di depan pintu kamar tidur.

"Mengapa demi kepentinganmu?" bisiknya, menolehkan wajahnya menjadi sedikit lebih dekat dengan wajahku.

"Karena sekarang, di balik pintu itu? Jihoon dan Taehyung sedang mencoba mencari cara yang terbaik untuk menyakitiku. Menyakitiku secara fisik," desahku, mundur ke belakang untuk membilas cangkir kopi dan menaruhnya di mesin cuci piring.

Jimin menambahkan sabunnya dan menyalakannya. Saat kami berjalan memutar, kami mematikan lampu, kami berbicara tentang rencana hiking yang akan kami lakukan besok.

"Kau tidak akan memperlambat aku, bukan?" goda Jimin.

Aku mendorongnya ke dinding. "Coba saja, kau akan memakan jejak debuku besok, bucko -pembual," aku memperingatkannya, menyambar tasku dan berjalan menuju ke kamar tidur.

"Kita lihat saja nanti, Pinky Boy. Omong-omong, punya sesuatu yang dipersembahkan untukku di dalam sana?" Jimin menyambar tasku saat ia mengikutiku menyusuri lorong.

"Tetaplah di luar sana. Tidak ada tempat di dalam kamarku, ataupun dimana saja untuk hal itu." Aku berhenti di kamar yang telah aku pilih.

Ia berjalan melewatiku menuju ke pintu kamar sebelah. "Lihatlah, sekali lagi kita berbagi dinding kamar tidur." Ia menyeringai.

Lord.

"Well, aku tahu kau sendirian disana, jadi lebih baik aku tidak akan mendengar benturan apapun," aku memperingatkannya, bersandar di kusen pintu.

"Tidak, tidak ada benturan. Selamat malam, Yoongi," ia berkata dengan lembut, bersandar di kusen pintunya sendiri.

"Malam, Jimin," jawabku, sedikit mengibaskan jari tanganku padanya saat aku menutup pintuku. Aku menaruh tasku di tempat tidurku dan tersenyum.

*ZELOCHEST*

"Ayolah, guys, tidak terlalu jauh lagi," aku berteriak ke belakang saat berlari pada jalur terakhir hiking. Sekarang kami telah hiking selama sekitar dua jam terakhir, dan sementara setiap orang tetap bersama-sama sejenak, dalam tiga puluh menit terakhir atau lebih, Mingyu telah semakin lambat, dan Jungkook mengikutinya. Jimin dan aku terus berpacu bersama-sama, dan hampir mencapai puncak.

Aku telah berhasil menghindari hanya berdua dengan Jihoon ataupun Taehyung, meskipun mata bengkak dan wajah lelah ada di wajah mereka berempat adalah bukti tidak ada seorangpun yang bisa tidur nyenyak semalam-kecuali Jimin dan aku.

Setelah sarapan, aku menghindari regu tembak dengan cara berganti pakaian dengan cepat dan menunggu para pria di luar sebelum hiking. Aku tahu begitu aku kembali ke rumah aku akan menghadapinya, meskipun aku akui aku penasaran mengetahui bagaimana rencana mereka untuk mengamuk tanpa mengakui bahwa tidur bersama laki-laki yang telah mereka kenal berminggu-minggu bukan merupakan apa yang mereka ingin lakukan.

Tapi seperti perkataan Jimin, "Ini untuk hal-hal yang akan kau hadapi." Malam ini seharusnya menjadi malam yang menarik.

Aku mendorong badanku naik dan melewati punggung bukit kecil yang terakhir dan berhasil mencapai puncak. Jimin hanya beberapa yard di belakangku, dan aku bisa mendengar jejak kakinya. Aku menarik napas dalam, udara bersih mengisi paru-paruku. Ini terasa dingin, tapi aku merasa hangat karena pengerahan tenagaku. Sudah lama sejak aku pergi ke luar kota, dan tubuhku merindukan hiking seperti ini. Kakiku terasa terbakar, hidungku terasa berlari, aku berkeringat seperti seekor babi, dan aku tidak bisa ingat kapan aku merasa lebih baik. Aku tertawa terbahak-bahak saat aku melihat ke laut di bawah, memata-matai beberapa ekor elang yang meluncur menuruni lereng. Biru dari laut, hijau dari hutan, putih polos dan krem dari batuan : itu indah.

Dan kemudian ada warna favoritku yang baru. Jimin muncul di sampingku, bernapas sedalam yang aku lakukan. Ia merentangkan tangannya lebar-lebar dan melihat lembah di bawah. Ia melepaskan lapisan baju luarnya saat kami mendaki dan sekarang ia mengenakan T-shirt putih dengan kemeja flanel diikat di pinggangnya. Celana berwarna khaki, sepatu hiking, dan tersenyum lebar melengkapi mimpi basah yang aku sekarang lihat, bukannya melihat keindahan alam yang mengelilingi kami. Dan mata biru itu-aku bisa melihat mata itu membingkai setiap pemandangan saat ia melihat sekeliling.

"Indah," aku menarik napas, dan ia menoleh padaku. Aku tertangkap basah sedang menatapnya. "Maksudku, ini indah bukan?" aku tergagap, menunjuk liar dengan lenganku.

Ia tampaknya tahu persis apa yang telah aku lakukan, dan aku merasa pipiku berubah merona. Untungnya, aku masih sedikit kekurangan napas karena telah mendaki, dan aku berharap aku sudah cukup merah.

"Iya, ini benar-benar indah. Sangat indah." Ia tersenyum, dan kami saling berpandangan. Ia mengambil beberapa langkah mendekatiku, dan aku merasakan pergeseran dan perubahan udara.

Aku menggigit bibirku. Ia mengusap rambutnya dengan tangannya. Kami tersenyum. Tidak ada kata-kata, tapi bahkan binatang hutan bisa mengatakan bahwa ada sesuatu yang akan terjadi dan mereka bijaksana karena tetap tinggal di lubang tersembunyi mereka.

"Hai," katanya dengan pelan.

"Hai," jawabku.

"Hai," katanya lagi, mengambil satu langkah terakhir kearahku dan melangkah memasuki lingkaran kecilku. Satu langkah lagi dan ia seketika akan berada di atasku.

Dan bagaimana.

"Hai," kataku sekali lagi, memiringkan kepalaku ke samping dan membiarkannya tahu dia bisa mengambil langkah terakhir itu.

Jimin mencodongkan tubuhnya ke arahku, nyaris, tapi hampir seolah-olah ia akan...

"Park!" suara teriakan dari bawah, dan kami berdua meloncat mundur. "Park!" suara itu terdengar lagi, dan aku mengenali suara Jungkook dari bawah sana yang seperti teriakan jungle-man – manusia hutan.

"Jungkook," kami berdua berkata bersamaan dan tersenyum.

Sekarang mantra vodoo sudah tidak pekat lagi, aku sudah bisa melihat segalanya dengan jelas, dan aku mengulang kata 'mainan Jimin' berulang-ulang di kepalaku.

"Di atas sini!" teriak Jimin, dan Mingyu muncul di dekat tikungan.

"Hey! Jungkook sudah tidak mampu lagi, sudah kepayahan, sudah menyerah. Kalian sudah siap untuk turun?" tanyanya, melompat dari batu ke jalan dan ke batu lagi dengan mudah seperti kambing gunung. Bahkan ia tidak nampak seperti kehabisan napas.

Hmmmm...

"Yep, kami baru saja mau mencari kalian," kataku, menendangkan kakiku ke belakang untuk peregangan yang cepat.

"Apa ia benar-benar berusaha mendaki lebih dekat ke puncak?" tanya Jimin, berjalan menuruni jalan setapak.

"Ia berbaring melintang di jalan setapak seolah-olah ia adalah pemilik tempat itu, menolak untuk mendaki lebih tinggi lagi."Mingyu tertawa, berlari terlebih dahulu dan memanggil Jungkook untuk memberitahukannya kami dalam perjalanan.

"Kau yakin kau tidak ingin tinggal di sini lebih lama lagi? Maksudku, kita sudah berusaha keras untuk mencapai puncak di sini," tanya Jimin, meraih bahuku untuk menghentikanku berlari menuruni gunung setelah Jungkook.

Aku merasakan kehangatan tangannya di bahuku dan memaksa hormonku berlari ke seluruh tubuhku. "Aku yakin. Kita harus segera kembali. Sepertinya badai akan datang." Aku mengangguk ke arah cakrawala dimana segumpal awan hitam mulai muncul. Matanya mengikuti arah mataku memandang, dan ia mengerutkan keningnya.

"Mungkin kau benar. Kita tidak ingin terjebak disini sendirian," gumamnya.

"Disamping itu, jika kita tidak cepat-cepat, kita tidak akan bisa menggoda Jungkookyang dikalahkan oleh seorang yang lebih kecil saat hiking di gunung." Aku menyeringai, dan ia tertawa terbahak-bahak.

"Hell, kita tidak akan melewatkan itu. Mari kita pergi." Dan kami menuruni jalur yang telah kami lewati.

*ZELOCHEST*

"Jadi bagaimana acara gangbangmu -pesta seks, Yoongi?" tanya Jihoon saat ia menemukan kami semua minum di dapur setelah hiking kami. Tiga pria itu masing-masing memiliki versi yang berbeda dalam menenggak minumannya, tapi aku dengan tenang melanjutkan menyesap minumanku seperti seorang yang sopan.

"Menakjubkan, terima khususnya. Kami harus menggendongnya menuruni gunung setelah aku selesai dengannya," jawabku dengan manis.

Para lelaki memulihkan wajah konyolnya, tapi Jungkook hampir tidak bisa berhenti memandangi tank top ketat Taehyung. Kekasihnya yang sebenarnya? Bermain mencari-cari Jihoon, kepala Mingyu berputar dengan sangat cepat aku bisa bersumpah bahwa ia adalah seekor burung hantu. Aku menggelengkan kepalaku dan mengeluarkannya dari penderitaan.

"Dimana Jihoon? tanyaku.

"Mandi, yang mana kalian berempat jelas butuhkan. Di luar sana sangat dingin. Bagaimana kalian bisa begitu sangat berkeringat?" tanya Taehyung, dengan mengerutkan hidungnya.

"Kami berusaha keras mencapai puncak gunung itu. Hiking itu lebih berat dari yang kau pikirkan," kata Jungkook terengah-engah, dan kami bertiga dengan bijak tetap diam tentang serangan jantung yang hampir ia alami lima puluh kaki dari puncak.

Aku mengambil sebuah apel dan menuju ke kamarku bersama Taehyung yang mengekor di belakangku, seperti yang telah diduga.

Aku tersenyum sedikit dan memutuskan untuk bersikap santai dengannya-hanya bertanya padanya tentang hal itu, memberikannya sebuah jalan keluar.

"Kau tampak mengerikan mengenakan celana pendek itu, Yoongi," ujarnya saat ia mengikutiku ke kamarku.

Tidak. Tidak akan terjadi. Tidak mudah untuk diungkapkan. "Terima kasih, sayang. Haruskah aku mengemas sedikit makanan kucing untukmu saat aku mengemas tas travel Holly?" aku mendengus.

Taehyung ambruk di kasurku, meringkukkan tubuhnya di salah satu bantal yang sangat besar. "Dimana Holly berada sekarang? Siapa yang merawatnya minggu ini?"

"Ia tinggal bersama dengan Himchan dan Youngjae. Sekarang ia pasti duduk-duduk di kasur sutra dan disuapi tuna gulung. Ia menjalani kehidupannya."

"Ia punya kehidupan, itu pasti," katanya, wajahnya berkabut sebentar saat ia mendapatkan kenyamanan.

Aku melepaskan bajuku yang basah oleh keringat dan membungkus tubuhku dengan jubah mandi yang tergantung di belakang pintu. Ia memuji celana dalam pilihanku dan tertawa saat ia melihat motif leopard, tapi kemudian ia kembali ke ekspresi murungnya.

"Ada apa?" tanyaku, berbaring di kasur di sampingnya dan menelingkupi diriku sendiri dengan bantal juga.

"Tidak ada apa-apa, kenapa?" tanyanya.

"Kau terlihat sangat sedih."

"Eh, aku hanya tidak bisa tidur dengan nyenyak, sepertinya."

"Oh benarkah? membuatmu terjaga di malam hari, hmm? Ia tidak punya cukup energi di gunung hari ini..." aku menyenggolnya dengan sikuku.

"Tidak, tidak, tidak seperti itu. Aku hanya... Entahlah. Aku hanya tidak bisa tenang kemarin malam. Biasanya aku bisa tidur nyenyak di sini, tapi kemarin malam iyu terlalu tenang, aku hanya..." Ia memukul bantalnya sedikit dengan kepalan tangannya, memaksanya menjadi suatu bentuk yang baru.

"Oh begitu. Tapi, aku bisa tidur dengan nyenyak!" Aku tertawa, dan sepertinya Taehyung ingin membentuk kepalaku menjadi bentuk baru dengan kepalan tangannya.

"Kau ingin mabuk malam ini?" tanyanya ketika kami akhirnya menjadi lebih tenang.

"Tentu saja. Kau?"

"Yes, Sir."

Ada ketukan di pintu, dan Jihoon menjulurkan kepalanya yang tertutup dengan handuk. "Apakah ini adalah sesi pribadi, atau bisakah seorang yang normal ikut bergabung juga di kasur ini?" tanya Jihoon.

Kami melambaikan tangan agar ia masuk, dan ia melompat dari lantai ke kasur dan mendarat di atas kami berdua.

"Apa yang kita lakukan di sini? Foreplay atau baru akan menuju kearah sana?" tanyanya.

"Kumohon katakan foreplay," suara seorang pria terdengar dari pintu yang sekarang terbuka. Kami berguling untuk melihat pria-pria yang ada di pintu, versi berbeda dari oh-astaga-para-bottom-ada-diatas ranjang-bersama-sama tampak di wajah mereka.

"Oh, sadarlah. Seperti kami akan pernah memberitahukan seorang pria apakah kami butuh foreplay atau tidak saja." Jihoon terkikik, menendangkan kakinya ke udara dan melambaikan tangannya pada mereka dari atas bahuku. Mereka menmmindahkan berat badan mereka dari satu kaki ke kakinya yang lain dan berdehem. Sangat mudah ditebak.

"Kami berencana mabuk-mabukan malam ini. Kalian para cowok mau ikut?" teriak Taehyung.

Meskipun sekarang ini tidak terpengaruh alkohol, tingkat volume Taehyung Si Mabuk telah melakukan pertunjukan ulangan.

"Okey dan okey," jawab Jungkook, memberikan kami salute kecil yang aneh yang membuat kami tertawa terbahak-bahak.

"Sekarang pergilah, dan berikanlah kami waktu," Jihoon menjulurkan lengannya melewati bahunya, mengangkat sedikit jubah mandiku dan memberikan bokongku pukulan yang cepat. Segera mungkin aku berusaha menutupi tubuhku, tapi itu terlambat.

"Bung. Motif leopard,"Jungkook berbisik pada Jimin dengan bisikan yang sebenarnya lebih keras dari sekedar berbicara.

"Aku tahu, aku tahu," balas Jimin, lalu ia mengusap-usap tangannya pada wajahnya seolah secara fisik ia berusaha menghapus gambaran yang ada di otaknya.

Jimin menyukai motif binatang. Harus dicatat.

"Ayolah, guys. Mereka telah meminta waktu, jadi mari kita tinggalkan mereka."Mingyu menarik mereka ke lorong dan menutup pintu di belakang mereka dengan kedipan mata yang membuat seluruh leher Jihoon berubah merah. Taehyung memeriksa kuku-kuku jarinya.

Sungguh aku akan bersenang-senang dengan dua orang ini nanti malam.

"Di mana kau bejar memasak seperti ini? Tuhan, ini lezat!" seru Mingyu, mengambil tambahan kimchinya yang ketiga dari panci besar yang berada di tengah meja.

"Terima kasih, Mingyu." Aku tertawa saat ia mengambil beberapa sendok nasi lagi.

Jimin menganggukan kepalanya ke gelas wine-ku, dan aku balas mengangguk padanya.

Aku berpikir tentang membuat kimchi siap saji saat aku melihat semua sayuran segar yang dijual di pasar lokal, dan saat aku melihat berkaleng kaleng bir dan botol soju, rencanaku menjadi makin matang. Kami memulainya dengan bir sementara menyiapkan masakan di dapur. Sekali lagi, Jimin adalah asistenku, dan kami bekerja sama di dapur. Empat orang yang lain duduk di bangku bar di seberang kami sementara kami memasak, seseorang memutar rekaman lagu dari Bangtan Boys – I like it, dan kami tenggelam dalam kesibukan.

Soju mengalir sebebas percakapan kami, dan aku tahu ini berpotensi menjadi group yang solid. Minat yang sama, selera humor yang sama, tapi semuanya cukup berbeda untuk menjaganya tetap hidup. Berbicara tentang hidup, saat alkohol terserap, dinding kesadaran mulai runtuh, Taehyung dan Jihoon nyaris tidak bisa menyembunyikan rasa ketertarikan mereka yang salah tempat. Bukan seperti yang dipikirkan oleh para lelaki. Kenyataannya, merekalah yang menganjurkannya. Saat ini Jungkook sedang memeriksa kaki Taehyung karena Taehyung bersikeras itu adalah gigitan laba-laba. Faktanya Jungkook telah memeriksanya beberapa menit dan bisa dikatakan bahwa pemeriksaan itu termasuk memijat betis yang tidak luput dari perhatianku, maupun Jimin.

Dia menyeringai dan mengisyaratkan padaku agar mendekat. Aku meluncur ke bangku dan menundukan kepalaku padanya. Ia meletakkan mulutnya di telingaku, dan aku menghirup aromanya. Alkohol, panas, dan seks sebenarnya berlari langsung ke lubang hidungku dan menyerang otakku, mengubah segalanya menjadi sedikit kabur.

"Berapa lama sebelum mereka berciuman?" bisiknya, mulutnya begitu dekat aku bersumpah aku merasa mulutnya menyapu telingaku.

"Apa?" tanyaku, mulai terkikik seperti yang aku lakukan ketika aku sedikit terlalu banyak minum dan sedikit terlalu banyak hal seksi yang tergantung di hadapanku.

"Berapa lama? Kau tahu, sebelum mereka mencium orang yang salah?" tanyanya saat aku menoleh untuk melihat ke dalam matanya.

Mata itu, oh, mata itu sekarang memanggilku.

"Maksudmu orang yang tepat?" bisikku.

"Yeah, orang yang tepat," jawabnya, bergeser sedikit lebih dekat di bangku.

"Aku tidak tahu, tapi jika ciuman itu tidak segera datang, aku akan meledak," aku mengakui, menyadari sepenuhnya aku tidak lagi membicarakan tentang teman-teman kami. Dan menyadari sepenuhnya bahwa ia tahu benar aku tidak lagi membicarakan tentang teman-teman kami.

"Hmm, aku tidak ingin kau sampai meledak." ia sekarang hanya seinchi dari wajahku.

Harem. Harem. Harem. Aku mengulangi mantra ini berulang-ulang.

"Aku ingin pergi ke jacuzzi." Rengekan menarikku menjauh dari voodoo dan kembali ke dapur.

Dimana disana orang-orang berada.

"Aku ingin pergi ke jacuzzi," aku mendengarnya lagi dan menoleh ke arah Taehyung. Bayangkan betapa terkejutnya aku ketika aku melihat bahwa Jihoon sebenarnyalah yang merengek, dan ia sekarang bergantung pada Mingyu seperti tas ransel.

"Okey, jadi pergilah ke jacuzzi. Tidak ada satu orangpun yang akan menghentikanmu," desakku, meluncur menjauh dari Jimin dan kembali di depan piringku di mana aku mulai memisahkan kacang polong dari lobsterku. Aku sudah kenyang, tapi aku tidak akan pernah meninggalkan lobster di piring. Aku punya standar, bagaimanapun juga.

"Kau jug harus ikut," rengek Jihoon lagi saat aku mulai memahaminya. Jihoon sudah mabuk. Jihoon bisa menjadi tukang penggelayut dan sangat manja saat ia mabuk. Oh boy.

"Pergilah. Aku akan sedikit membersihkan dapur dan kemudian bertemu kalian disana," kata Jimin, mengambil piringku dan mulai berdiri.

"Hey, hey, hey! Penggigit lobster, hello," protesku saat aku meraih garpuku.

"Ini. Aku tidak akan pernah menjadi penghalang antara seorang pria dan lobster miliknya." Ia tersenyum, menawarkan garpuku kembali. Aku menerima gigitan lobster dengan sebuah senyuman dan berdiri. Aku sedikit lebih mabuk daripada yang aku pikirkan, dan fakta ini muncul saat gravitasi mulai menggodaku.

"Whoa, kau baik-baik saja?" tanyanya, menyeimbangkanku saat Jihoon mulai berjalan ke kamar tidur.

"Yeah, aku baik, aku baik-baik saja," jawabku, melangkahkan kakiku dan memenangkan pertempuran.

"Mungkin kau sebaiknya pelan-pelan saja?" tanyanya, mengambil gelas soju-ku.

"Oh, santailah, ini adalah sebuah pesta," teriakku, mulai tertawa.

Tiba-tiba semuanya menjadi lucu.

"Oke, pesta dimulai." Ia tersenyum saat aku menuju ke kamar tidur untuk berganti pakaian. Yang terbukti lebih sulit dari yang aku pikirkan..

*ZELOCHEST*

"Okay, berikutnya Yoongi. Truth or dare," teriak Taehyung, sekali lagi membuktikan bahwa Drunky Taehyung hanya memiliki satu level volume.

"Kebenaran," aku balas berteriak, memercikkan air ke wajah Jihoon dengan tidak sengaja saat aku mengulurkan tangan ke belakang untuk mengambil gelas soju-ku. Kami membawa botol terakhir, perlahan mulai melewati batas wajar dan tetap menikmati. Dan itu terus menerus bekerja dengan jalannya sendiri di dalam tubuh kami, permainan kami menjadi makin dan semakin berbahaya. Langit sedikit berderak dengan cahaya petir di kejauhan, dan gemuruh kecil dari guntur hanya terdengar di awal saja yang kemudian hanya terdengar suara cekikikan dan percikan air.

Begitu kami keluar dan berendam di jacuzzi, itu hanya beberapa menit sebelum Jungkookmenyarankan sebuah permainan Truth or Dare, dan hanya beberapa detik setelah itu sebelum Jihoon menyetujuinya.

Awalnya aku mentertawakannya, aku berkata tidak mungkin aku ikut bermain sebuah permainan anak kecil. Tapi saat secara tersirat Jimin berkata bahwa aku adalah pengecut, alkohol semakin mempengaruhi isi kepala yang buruk dan meneriakkan sesuatu sebagai efeknya, "aku akan bermain Truth Or Dare, kau berengsek, sampai kau tidak bisa mengatakan kebenaran dari tantanganmu!"

Pernyataan ini sangat masuk akal di kepalaku dan tampaknya logis juga bagi Taehyung dan Jihoon, karena mereka langsung mulai menawarkanku high-five dan yel-yel. Aku sangat yakin aku melihat Jimin menggelengkan kepalanya, tapi ia tersenyum, jadi aku membiarkannya saja. Dan menuangkan segelas soju lagi.

"Dimana satu tempat yang ingin kau kunjungi dan kau belum pernah kesana," tanya Taehyung, bersenandung mengikuti lagu-lagu yang diputar.

Jihoon telah menemukan semua lagu-lagu lama milik kakeknya, dan Jimin hampir memiliki kecocokan saat ia melihat koleksi lagu itu.

"Membosankan, buatlah dia memilih tantangan!" Jimin berkata, dan aku menjulurkan lidahku ke arahnya.

"Ini tidak membosankan, dan dia telah memilih kebenaran jadi ia akan mengatakan kebenaran. Yoongi, dimana satu tempat di bumi ini yang ingin kau kunjungi?" Taehyung bertanya lagi.

Aku menyandarkan kepalaku di pinggiran jacuzzi. Aku menatap bintang-bintang dan gambaran datang dengan cepat di pikiranku: angin yang bertiup dengan lembut, kehangatan matahari menerpa wajahku, lautan terpapang luas di depanku yang dihiasi dengan bebatuan terjal. Aku tersenyum hanya dengan memikirkannya saja.

"Spanyol," desahku pelan, senyum menghiasi wajahku saat aku membayangkan diriku di pantai Spanyol.

"Spanyol?" tanya Jimin.

Aku memalingkan wajahku ke arahnya. Ia tersenyum padaku.

"Spanyol. Kesanalah aku ingin pergi. Tapi itu terlalu mahal, itu akan harus ditunda beeberapa saat," aku tersenyum lagi, pikiranku masih membayangkan gambaran itu.

"Hey, tunggu, Jimin, bukankah kau akan pergi ke Spanyol bulan depan?" tanya Jungkook, dan mataku melebar.

"Um, yeah. Ya , aku akan kesana," jawab Jimin.

"Bagus! Yoongi, kau bisa pergi bersamanya," Taehyung memutuskan, bertepuk tangan dan beralih ke Jungkook.

"Jungkook, kau selanjutnya."

"Tidak, tidak, tunggu sebentar. Pertama-tama, aku tidak bisa hanya pergi begitu saja dengan Jimin ke Spanyol. Dan kedua, ini adalah giliranku," protesku, saat Jimin duduk tegak.

"Sebenarnya, kau bisa pergi begitu saja dengan Jimin ke Spanyol," katanya, menoleh padaku sepenuhnya. Di sisi lain jacuzzi menjadi sangat tenang.

"Um, tidak. Aku tidak bisa. Kau bekerja. Aku tidak bisa melakukan perjalanan seperti itu, dan selain itu, aku tidak tahu bisakah aku mengambil cuti bulan depan." aku merasa hatiku berdebar saat aku memproses apa yang baru saja ia katakan.

"Sebenarnya, aku pernah mendengar Seokjin memberitahumu bahwa bulan depan akan menjadi waktu yang tepat untuk mengambil liburanmu sebelum musim liburan," cetus Taehyung.

Taehyung tenggelam kembali ke dalam bayang-bayang saat aku memelototinya.

"Anggaplah itu benar, tapi aku juga tidak mampu untuk itu, jadi diskusi selesai. Sekarang, aku yakin ini adalah giliranku. Mari kita lihat, siapa yang seharusnya aku pilih?" aku melihat setiap orang disekelilingku.

"Tidak akan semahal itu. Aku sudah menyewa sebuah rumah, dan itu sudah pasti telah dibayar. Tiket pesawat dan belanja-itu semua saja yang seharusnya kau bayar," Jimin menambahkan, tidak membiarkan masalah ini berlalu.

"Hey, itu kesepakatan yang bagus, Yoongi," Taehyung menyembur, energi Taehyung membuat riak kecil di sekitar jacuzzi.

"Okay, Taehyung, kebenaran atau tantangan?" tanyaku, menggertak gigiku dan memaksakan permainan ini.

"Hey, kita sedang mendiskusikan sesuatu di sini. Jangan mengubah topik pembicaraan," kata Taehyung keberatan.

"Well, aku sudah selesai dengan diskusinya. Kebenaran atau tantangan, kau si berengsek kecil," kataku lagi, memberitahunya bahwa aku serius.

"Baiklah. Tantangan," jawab Taehyung mencibir.

"Bagus. Aku menantangmu untuk mencium Mingyu," aku membalasnya, tidak ragu sedikitpun.

"Apa?" teriaknya, saat seisi jacuzzi ikut terperangah.

"Hey, kita kan hanya bermain saja, bukan? Dan Taehyung, sebenarnya, ini tidak terlau mengejutkan bahwa aku menantangmu untuk mencium laki-laki yang telah kau pacari selama berminggu-minggu terakhir ini, ya kan?"

"Well, tidak, aku hanya, aku tidak suka menunjukkannya di tempat umum," jawabnya tergagap, hampir lebih parah. Ini pengakuan dari seseorang yang hampir ditangkap karena ketelanjangannya di publik ketika ia ditemukan di bawah bangku di pertandingan football.

"Oh, ayolah, apa permasalahannya?" Jimin ikut-ikutan, dan aku menatapnya dengan penuh rasa terima kasih.

"Tidak ada, hanya saja-" ia berkata lagi, danJungkookmenyelanya.

"Oh, kemarilah, Tiny," seru Mingyu dan menarik Taehyung. Mereka saling memandang beberapa detik, dan kemudian menyampirkan sehelai rambut Taehyung dari wajahnya. Mingyu tersenyum dan Taehyung mencodongkan badannya. Aku mendengar Jihoon menarik napas bersamaan dengan Jungkook yang juga menarik napas, dan kami semua melihat Taehyung mencium Mingyu.

Dan itu aneh.

Mereka memisahkan diri, dan Taehyung berenang kembali ke tempatnya.

Untuk sesaat semuanya menjadi hening. Jimin dan aku saling memandang, tidak yakin apa yang akan dilakukan selanjutnya. Kami telah kehabisan akal. Dan aku kesal saat aku kehabisan akal. Aku mulai meradang. Kenyataan bahwa aku telah mabuk sama sekali tidak ada hubungannya dengan reaksi berlebihanku.

"Oke, kurasa sekarang adalah giliranku. Hmmm... Jungkook, kebenaran atau tantangan?" Jungkook memulai, dan aku berdiri, memercikkan air ke setiap orang di sekelilingku.

"Tidak, tidak, tidak! Itu tidak seharusnya terjadi!" teriakku, menghentakkan kakiku, kehilangan keseimbanganku dan membuatku tenggelam. Tangan kuat Jimin membawaku kembali ke permukaan air, dan aku melanjutkan omelanku-akibat alkohol.

Kilat menyambar, sekarang lebih dekat, membelah langit.

"Kau tidak seharusnya membiarkan Taehyung mencium Mingyu!" kataku tergagap, menyemburkan air dari mulutku dan menunjuk pada Jungkook dan kemudian menunjuk pada Taehyung. Aku berbalik pada Jihoon.

"Dan kau seharusnya marah pada Taehyung!"

"Mengapa aku harus marah pada Taehyung? Karena mencium pacarnya?" gumam Jihoon, tiba-tiba mengalihkan perhatiannya pada kuku-kukunya.

"Argh!" aku berteriak dan berbalik kembali pada Taehyung.

"Taehyung, apa kau lebih tertarik pada Jungkook?" tantangku, berkacak pinggang saat aku mengamuk.

"Mingyu adalah seorang pria yang selalu aku idam-idamkan. Dia benar benar pria tipeku."balasnya seperti robot, menegang saat Jungkook melihatnya dengan sorot mata yang terluka.

"Blah, blah, blah, sudahkah kau bercinta dengan Mingyu?" jeritku, menunjuk-nunjuk serampangan seperti yang aku cenderung lakukan saat aku minum.

"Oke, Yoongi, kau sudah mengutarakan maksudmu," Jimin menenangkan, mencoba membuatku duduk kembali.

"Maksud apa? Apa yang kalian berdua bicarakan?" tanya Jihoon, mencodongkan tubuhnya ke depan.

"Oh, tolonglah, kalian berempat itu konyol! Aku tidak peduli akan apa yang kalian semua pikir yang kalian inginkan diatas kertas.

Kenyataannya, semua yang kalian lakukan adalah salah!" tukasku, memukul permukaan air untuk menegaskannya. Mengapa mereka tidak memahaminya? Aku tidak tahu kapan aku mulai menjadi kesal, tapi selama enam puluh detik terakhir atau lebih, aku bisa menjadi sangat amat murka.

"Apa kau bercanda?" teriak Taehyung, berdiri dengan melompat dengan kakinya di dalam jacuzzi, yang membuat airnya tetap di tingkat yang sama.

"Taehyung, ayolah! Semua orang yang memiliki mata bisa melihat bagaimana perasaanmu dan JUNGKOOK antara satu sama lain! Mengapa kau membuang-buang waktu dengan orang yang lainnya?" aku menekannya.

Jimin menarikku kembali ke pangkuannya dan berusaha menenangkanku.

"Oke, ini sudah melenceng terlalu jauh," jawab Mingyu, beranjak keluar dari jacuzzi.

"Tidak, tidak! Mingyu, lihatlah Jihoon. Tak bisakah kau melihat Jihoon benar-benar tertarik padamu? Sial, mengapa kalian semua begitu tolol? Sungguh? Apa hanya aku dan Jimin saja yang bisa melihat dengan jelas disini?" teriakku sekali lagi, membawa Jimin ke dalam percakapan yang ia inginkan ataupun tidak.

Mingyu menatap pada Jungkook, dan kemudian pada Jimin.

"Bung! seru Mingyu.

"Bung," jawab Jimin, menunjuk ke arah Jihoon, yang berdiri seolah-olah ia ingin mengatakan sesuatu. Mingyu meletakkan tangannya di bahu Jihoon, dan Jihoon berhenti dan duduk kembali. Mingyu menganggukkan kepalanya pada Jungkook.

"Bung?" tanya Mingyu, dan Jungkook mengangguk kembali padanya. Mingyu menarik napas dalam-dalam dan menatap Jihoon.

"Jihoon, kebenaran atau tantangan?" tanya Mingyu.

"Kita tidak sedang tak bermain lagi-" aku mencoba berteriak, tapi dengan cepat Jimin membekapkan tangannya di mulutku untuk membungkamku.

"Semua beres di sini," Jimin mengutarakannya saat ia menjepitku di pangkuannya lebih rapat dengan menggunakan tangannya yang lain di pinggangku. Guntur menggelegar, menyelimuti adegan ini dengan udara yang tidak menyenangkan.

"Jihoon?" tanya Mingyu lagi. Jihoon terdiam, dan tidak menatap kearah Taehyung dan Jungkook.

"Tantangan," bisiknya dan menutup matanya.

Alkohol membuat segalanya menjadi lebih dramatis.

"Aku menantangmu untuk menciumku," kata Mingyu, dan semua yang bisa kau dengar sesekali adalah suara burung yang di seberang laut. Suara gila yang di jacuzzi akhirnya tenang. Kami semua menonton saat Jihoon berbalik pada Mingyu dan meletakkan satu tangannya di belakang kepala Mingyu, menarik Mingyu ke arahnya. Jihoon menciumnya, perlahan namun pasti, dan itu seperti berlangsung selama berhari-hari. Aku tersenyum di dalam bungkaman tangan Jimin, dan Jimin menepuk perutku, yang membuatku pening.

Saat mereka memisahkan diri, Jihoon tertawa di mulut Mingyu,Jungkook menjawabnya dengan kekehan khas prianya yang konyol.

"Well, ini memang sudah saatnya," kata Jimin, melepaskan mulutku.

"Taehyung, aku-" Jihoon memulai, menoleh kearah Taehyung dan menemukan kekosongan di jacuzzi.

Taehyung dan Jungkook telah menghilang. Aku hanya bisa melihat pinggiran handuk Jungkook menuju ke rumah kolam-dengan seorang pendamping licin dan basah di lengannya.

"Well, kalau begitu, kita akhiri saja malam ini." Desah Jihoon, meraih Mingyu dengan tangannya.

"Selamat malam." Aku terkikik saat Jihoon berjalan ke dalam rumah dengan Mingyu di belakangnya. Mereka saling berpelukan erat, menggambarkan apa yang akan mereka lakukan. Aku melihat ke rumah kolam, dan memperhatikan bahwa lampu belum menyala.

Mereka mungkin tidak akan datang kemari dalam waktu dekat ini.

"Well, itu tadi adalah sebuah perjodohan yang lumayan bagus, meskipun apabila kecerobohanmu ditinggalkan keadaannya akan lebih menggairahkan lagi." Jimin terkekeh, meletakkan kepalanya di punggungku. Aku masih bertengger di pangkuannya. Tangannya telah melepaskan mulutku, dan itu mengarah ke selatan, sementara tangannya yang lainnya tetap erat di pinggangku.

"Iya, aku selalu meninggalkan cukup banyak gairah," aku mengamatinya dengan kecut, tidak ingin meninggalkan tempat indah ini, tapi mengetahui aku harus melakukannya- dan segera. Jimin cukup tenang di belakangku dan aku mulai bangkit dari pangkuannya.

"Kau memiliki segalanya untuk diinginkan, Yoongi," katanya dengan lembut, dan aku membeku. Itu cukup tenang untuk beberapa saat, kami berdua tidak bergerak, tapi tetap saling bergerak mendekati.

Tanpa melihat kebelakang, aku mengeluarkan tawa kecil. "Kau tahu, aku benar-benar tidak pernah mendapatkan ungkapan seperti itu.

Apakah itu artinya aku menggairahkan atau-"

Jari-jari Jimin mulai membentuk lingkaran kecil di kulitku. "Kau tahu dengan pasti apa artinya," dia berbisik telingaku. Udara berhembus di sekitar kami, ketegangannya seperti cuaca yang sebenarnya. Lebih banyak lingakaran kecil. Pada akhirnya, lingkaran kecillah yang akhirnya menghancurkanku.

Aku kehilangan semua kendali. Aku berbalik dengan cepat, menangkapnya saat ia lengah ketika aku membungkuskan kakiku di sekeliling pinggangnya dan membuang semua peringatan, dan mantra haremku, bersama angin. Aku membenamkan tanganku di rambutnya, menikmati nuansa seperti sutra yang basah di ujungujung jariku saat aku menariknya ke arahku.

"Mengapa kau menciumku di pesta malam itu?" tanyaku, mulutku hanya beberapa inchi dari mulutnya. Setelah ia menyadari aku yang mengemudikan bus ini, ia menjawabnya dengan menekan pinggulnya terhadapku, membawa kami semakin dekat bersamasama lebih daripada sebelumnya.

"Mengapa kau menciumku? Tanya Jimin, menggerakkan tangannya naik dan turun pada punggungku, berhenti di tempat di mana tangannya direntangkan tepat di pinggangku-dengan jempol di depan, dan jari yang lain di belakang- dan menekanku –mencengkramku- lebih dekat padanya.

"Karena aku harus," jawabku jujur, mengingat-ingat bagaimana aku bereaksi secara naluriah, menciumnya ketika aku menginginkan segalanya tapi. "Mengapa kau menciumku?" aku bertanya lagi.

"Karena aku harus," kata Jimin, seringainya kembali. Beruntung aku tidak lama melihat seringainya. Karena akhirnya aku menemukan rahasia untuk menghentikan seringaiannya.

Bagaimana kau menghentikan Wallbanger menyeringai?

Kau menciumnya.

*ZELOCHEST*

AJAJAAJAJAJAJJAJAJA PANAS HAHAHAHAHAHAHAHAH

Hai :") Iya gapapa, marahin aja aku gapapa ikhlas...

Aku sedang dalam masa masa buruk sehingga mau apa apa aja gak ada semangat

Lalu notifikasi email muncul,

Kalian masih menunggu fanfic ini. Aku terharu. Jadi ini lah, dua chapter sebagai gantinya 8')

Jangan lupa review dan lain lainnya, ini penentu nyawa fanfict ini demi apa pun...

Kalau masih ada yang tertarik saya lanjutkan, kalau engga ya saya berhenti...

By the way /halah/ saya udah punya wattpad /yaterus

Ya kali aja saya mau post apa gitu disana kan ya /y

Silahkan kunjungi, usernya sama kok, zelochest juga.

Lagi, kalo review menggila, saya updat cepet mudah mudahan...

– zelochest