Naruto vs Zabuza.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: adventure, action, family and hurt/comfrot

Rate: M

NARUTO: Jalan Hidupku


Momochi Zabuza atau juga yang memiliki julukkan Iblis dari Kirigakure. Ia merupakan salah satu dari tujuh ninja pemegang pedang legendaris dari Kirigakure. Kubikiribocho nama pedang yang ia bawa saat ini. Ia juga merupakan missing nin dari Kirigakure. Kemampuan? Jangan di tanya lagi. Pengalamannya selama ini di dunia ninja tak bisa di anggap remeh. Ninja kelas Jounin dan juga seorang pembunuh bayaran. Sudah banyak yang menyewa jasanya, dengan kemampuan membunuh tanpa suara yang ia miliki banyak nyawa yang telah jatuh di tangannya. Dan sekarang ada seorang bocah yang dengan beraninya mencari dirinya.

Pandangan tajam masih ia layangkan pada sosok remaja laki-laki di depannya. "Siapa kau?" Suara yang sedikit terendam oleh masker itu terdengar dingin.

Naruto memandang datar Zabuza. "Aku.." Naruto menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya. "Orang yang akan merebut pedang itu." Jari telunjuk Naruto beralih menunjuk pedang besar yang di tenteng di bahu Zabuza.

Hening untuk sesaat. "Hahaha..." Hingga tawa Zabuza menggema di hutan itu. "Apa kau berpikir kau bisa meng-"

Ctang!

.

.

.

..

Pedang masih tergenggam di tangan Naruko setelah berhasil menangkis serangan mendadak tadi. Sedikit melirik ke belakang dapat Naruko lihat Tazuna yang masih memasang wajah shock. "Apa kau tidak apa-apa Tazuna-san?"

Hanya anggukan saja yang menjawab pertanyaan Naruko.

Hayate tersenyum melihat kesigapan Naruko. Muridnya ini benar-benar membuatnya bangga. Di saat temannya di landa kepanikan dia -Naruko- bergerak cepat mengantisipasi.

Swus

Senjata mirip cakar itu kembali di tarik oleh rantai lagi. Semua orang yang ada di situ menyiagakan diri.

Dari balik pepohonan muncul lah empat orang ninja. Tiga di antaranya adalah laki-laki dan yang memakai topeng terlihat seperti seorang perempuan. Senjata tadi ternyata milik dari salah satu di antara mereka.

Kakashi menatap tajam keempat orang tersebut. "Semua lindungi Tazuna-san!"

Tanpa perintah dua kali tim tujuh dan Naruko langsung berdiri di depan Tazuna.

"Sharingan no Kakashi dan Gekko Hayate. Aku tak menyangka akan bertemu ninja-ninja Konoha di sini." Satu di antara mereka yang membawa dua pedang kembar yang berada di punggungnya mulai bicara.

Sasuke sedikit terkejut atas pernyataan yang di utarakan oleh pria tadi. Ia lalu menatap tajam sosok Kakashi yang berdiri di depannya. Ia menginginkan sebuah penjelasan di sini, namun melihat keadaan saat ini. Ia rasa nanti saja penjelasannya.

Kakashi masih menatap tajam keempat ninja tersebut. "Aku juga tak menyangka bisa bertemu dengan mantan ninja dari pemegang tujuh pedang legendaris Kiba dari Kirigakure, Kurosuki Raiga." Kakashi lalu menatap dua sosok yang berdiri di sebelah kanan pria yang bernama Raiga tadi. "Di tambah dua saudara iblis dari Kirigakure. Gozu, Meizu dan seorang Hunter nin."

"Jadi, apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya Kakashi

Raiga menarik dua pedang kembar di punggungnya. "Kami menjalankan misi." Ia mengangkat salah satu pedangnya keatas. "Dan misi kami adalah menghabisi pembuat jembatan itu!" Dengan itu Raiga langsung mengarahkan pedangnya ke kelompok Kakashi.

Mata Kakashi sedikit melebar. "Semua menghindar!"

Duarr!

.

.

.

..

Pedang bertemu pedang. Mata Zabuza sedikit menyipit menatap lawan di depannya. Dengan sedikit dorongan, lawan Zabuza lalu meloncat ke belakang. "Menyerang saat lawan sedang berbicara dan belum siap. Sungguh cerdik." Pedang besar milik Zabuza terkulai di tangan sebelah kanannya. "Tapi sepertinya kau mencari lawan yang salah."

Zabuza kemudian melesat kearah Naruto. Ia lalu menebaskan pedangnya secara horizontal.

Ctang!

Krakk

Naruto menahan tebasan Zabuza dengan memposisikan pedangnya di samping tubuhnya. Namun karena kuatnya tebasan Zabuza, pedang Naruto sedikit retak. Tak mau ambil resiko Naruto lalu memberikan sebuah tendangan kearah perut Zabuza.

Bugh!

Belum sempat kakinya bersarang ke perut Zabuza, Naruto terlebih dulu terpental kebelakang karena sebuah tendangan yang cukup kuat dari Zabuza mengenai dirinya dulu. Bersalto kebelakang, Naruto lalu mencoba menyeimbangkan tubuhnya.

Tap

Dengan sempurna Naruto dapat menyeimbangkan tubuhnya. Naruto memandang pedang yang sudah retak di tangannya. Pendar berwarna kebiruan sedikit demi sedikit mulai menutupi pedang Naruto. Kembali Naruto melesat menyerang Zabuza.

Ctang! Ctang!

Tebasan demi tebasan mereka tunjukkan pada lawannya. Naruto menundukkan kepalanya saat pedang Zabuza mencoba memenggalnya. Masih dalam posisi menunduk Naruto mengayunkan pedangnya ke arah perut Zabuza.

Tak mau terkena tebasan pedang Naruto, Zabuza memutar pedangnya searah jarum jam dengan cepat.

Ctang! Jleb...

Serangan Naruto dapat di blok dengan mudah oleh Zabuza. Pedang Naruto terlepas dari tangannya dan menancap di atas pohon di belakangnya karena blok keras Zabuza tadi. Meloncat kebelakang Naruto lalu mengambil sebuah gulungan cukup kecil dari saku jubahnya.

Sett

Tali yang mengikat gulungan Naruto tarik dengan cepat, hingga membuat gulungan itu menjutai ke bawah. Mengigit jempolnya hingga berdarah, Naruto kemudian mengusapkan darah yang ada di tangannya kearah tulisan kanji yang ada di tengah gulungan tersebut.

Bofts!

Asap mengepul di sekililing mereka.

Swush.. Swush...

Beberapa udara yang berbentuk tebasan, mengarah cepat kearah Zabuza. Tak mau mencoba serangan tersebut, Zabuza mengindari tebasan tersebut. Lagi dan lagi serangan berbasis sama selalu menyerangnya, namun masih bisa di hindari oleh Zabuza.

Selang beberapa menit asap yang mengelilingi mereka menghilang. Zabuza memfokuskan pandangannya kearah Naruto berdiri yang sedang memegang dua pedang di tangannya. Terlihat juga ada cukup banyak pedang tertancap di tanah dekat Naruto berdiri.

Kaze No Dageki.

Gumaman kecil keluar dari mulut Naruto, ia lalu mengayunkan keudara kosong di depannya. Agin berbentuk tebasan tercipta setiap Naruto mengayunkan pedangnya.

'Serangan yang sama seperti tadi.' Batin Zabuza di sela menghindari setiap tebasan yang Naruto lancarkan. Setelah semua serangan berlalu, Zabuza menatap tajam sosok Naruto lagi.

Brukk... Brukk...

Mendengar suara yang seperti benda roboh dari belakangnya, Zabuza lalu menoleh kebelakang. Matanya sedikit melebar melihat karya dari Jutsu Naruto tadi. Pohon-pohon yang tadinya berdiri kokoh di belakangnya kini sudah terpotong-potong secara halus oleh Jutsu Naruto. 'Jutsu yang cukup mengerikan. Aku harus berhati-hati ketika menghadapinya.'

"Kau lengah." Ucap Naruto yang saat ini sudah berdiri di sebelah Zabuza dengan posisi siap menebaskan kedua pedangnya kearah kepala Zabuza.

Tubuh Zabuza sedikit menegang mendengar suara dingin dari sebelahnya. Karena terlalu terkejut Zabuza tidak sempat menghindari serangan Naruto, hingga...

Jrash!

.

.

.

..

Asap mengepul di tempat bekas tim Kakashi berdiri tadi. Kawah berdiameter kecil tercipta karena sambaran petir tadi. Setelah asap menghilang terlihatlah tim Kakashi masih utuh tanpa luka.

"Kali ini mungkin kalian beruntung." Raiga berucap dengan santai. "Tapi aku tak yakin jika keberuntungan berpihak pada kalian terus."

"Sekarang apa yang harus kita lakukan senior?" Hayate bertanya pada Kakashi.

Kakashi berpikir sejenak. "Kita akan melawan mereka." Kakashi lalu menoleh kebelakang menatap tim tujuh dan Naruko. "Sasuke dan Menma kalian berdua akan ikut bertarung dengan kami."

Sasuke sedikit menyeringai mendengar perintah Kakashi. Inilah yang ia inginkan, sebuah pertarungan.

"Dan untuk Naruko-chan dan Sakura. Kalian berdua lindungi Tazuna-san." Perintah Kakashi sambil melihat dua Kunoichi tersebut.

Naruko berdecak kesal dengan perintah Kakashi. "Biarkan aku ikut bertarung Kakashi-nii."

"Tidak bisa. Kau harus bersama dengan Sakura melindungi Tazuna-san." Tolak tegas Kakashi.

"Tap-"

"Naruko! Ini bukan waktunya untuk berdebat. Kau harus mengikuti perintah yang telah kubuat, karena aku pemimpin di sini." Kakashi sedikit menaikan intonasi suaranya. Menghadapi sikap keras kepala Naruko sama saja menghadapi Kushina, karena mereka sama-sama keras kepala dan itu sangat merepotkan untuk Kakashi.

"Ck" Naruko berdecak kesal lagi. Namun walau begitu ia tetap menjalankan perintah Kakashi.

"Apa kalian sudah selesai?" Raiga berucap dengan nada malas.

Kakashi menoleh kearah Raiga, ia lalu menatap Menma, Sasuke dan Hayate. "Kurasa sudah." Kakashi berujar santai, namun juga bersiaga.

Menma dan Sasuke mengeluarkan kunai dari kantong ninja mereka. Sedangkan Hayate menarik pedang yang ada di punggungnya.

Sett

Mereka berempat melesat kearah Kelompok Raiga. Di sela larinya Kakashi mengeluarkan kunainya.

Raiga kembali mengangkat pedangnya ke udara.

"Ikazuki no Kiba!"

Jduar!

Kelompok Kakashi berhasil menghindari petir yang di ciptakan Raiga. Menma mengambil tiga buah shiruken dan menyusupkan di sela jarinya.

Syut.. Syut.. Syut...

Tiga shiruken itu melesat cepat kearah kelompok Raiga. Tak sampai di situ saja Menma lalu merangkai handseal.

"Shiruken Kagebunshin no Jutsu."

Shiruken yang tadinya hanya berjumlah tiga sekarang menjadi puluhan.

"Hissatsu Hyoso!"

Jleb.. Jleb.. Jleb...

Semua shiruken yang di lemparkan Menma tadi hanya mengenai dinding es yang di ciptakan oleh hunter nin dari kelompok Raiga.

Kakashi sedikit kaget melihat diding es yang menghalangi serangan Menma. 'Pengguna Hyoton? Sepertinya ini akan cukup sulit.' Kakashi lalu melihat Menma dan Sasuke. 'Tak ada pilihan.' Batin Kakashi. "Menma, Sasuke kalian hadapi Gozu dan Meizu. Aku dan Hayate akan menghadapi Raiga dan pengguna Hyoton." Ucap Kakashi memberi perintah pada Menma dan Sasuke.

Menma dan Sasuke hanya mengangguk menanggapi perintah Kakashi.

Setelah dinding es menghilang tim Kakashi langsung menyerang tim Raiga.

Ctang!

Kini posisi mereka saling berhadapan dengan lawan masing. Kunai yang di pegang Menma dapat di tahan oleh Gozu dengan sarung yang mirip cakar di tangan kanannya.

Sett

Menma melompat kebelakang begitupun Gozu. Mereka lalu saling bertatap tajam.

"Apa kau yang akan menjadi lawanku bocah?" Gozu berujar dengan suara yang sedikit meremehkan. "Sebaiknya kau pulang saja. Ini bukan pertarungan untuk anak kecil."

Menma hanya menatap tajam sosok di depannya. "Huh, apa kau takut dengan ku, hingga menyuruhku pulang?"

"Hahaha... Buat apa aku takut padamu bocah. Aku hanya mengasihanimu saja." Nada meremehkan kentara sekali di setiap kata yang di ucapkan Gozu.

"Seharusnya akulah yang harus mengasihanimu, karena kau akan menangis ketika aku kalahkan nanti." Menma memasang mimik wajah yang prihatin. Seringaian tercipta di wajah Menma saat melihat Gozu mengeram marah. Sepertinya ia telah berhasil membuat Gozu marah. Ia jadi ingat dengan perkataan Tou-sannya yaitu 'Musuh yang emosinya terganggu akan mudah untuk di kalahkan.' Karena itulah ia menghina Gozu tadi.

"Ternyata mulutmu perlu di sumpal dengan tanganku ini bocah!" ucap Gozu agak keras sambil mengangkat tangan kanannya di atas dadanya.

Menma memutar bola matanya malas. "Ya ya ya.., itu jika kau bisa."

"Bangsat!" Gozu mengumpat marah. Ia lalu menerjang Menma.

Menma memasang posisi kuda-kuda bersiap menyambut serangan Gozu.

Trankk

Kunai dan sarung tangan cakar Gozu saling beradu.

Menma menatap tajam lawannya. Mimik wajahnya berubah datar. "Saatnya pertarungan yang sesungguhnya."

..

Potongan pedang berserakan di sekitar Naruto dan Zabuza berdiri. Kembali Naruto menarik dua pedang lagi yang tertancap di tanah. Entah pedang keberapa yang telah ia ambil ini.

Ctang!

Zabuza menangkis tebasan dua pedang yang Naruto lancarkan. Dengan cepat Zabuza memberikan sebuah tendangan pada Naruto.

Bugh!

"Ugh!" Naruto sedikit melenguh ketika perutnya terkena tendangan Zabuza. Tubuhnya sedikit terseret karena kuatnya tendangan Zabuza. Naruto menatap tajam sosok Zabuza yang masih berdiri gagah di depannya. Napas Naruto sedikit memburu sepertinya ia kesulitan menghadapi Zabuza. Ternyata Kenjutsunya belum cukup untuk mengalahkan Zabuza.

"Aku cukup terkesan dengan kemampuan Kenjutsumu itu." Zabuza melihat Naruto yang sedang mengatur napasnya. Sebenarnya Zabuza juga sedikit kualahan menghadapi Naruto. "Aku juga cukup terkesan kau tadi berhasil mengalahkan Mizu Bunshinku dan membuatku sedikit kualahan."

Naruto tak menghiraukan pujian yang Zabuza tunjukan pada dirinya. Dengan sekali tarikan napas, Naruto mencoba meredam detak jantungnya yang bertalu-talu. Melirik kesekitarnya Naruto melihat potongan-potongan pedang yang ia gunakan untuk menyerang Zabuza tadi. 'Hanya tinggal dua pedang.' batin Naruto sambil melihat dua pedang di genggaman tangannya.

"Gunakan kekuatanku."

Suara cukup berat berdengung di dalam kepala Naruto. "Belum saatnya Yami, aku masih bisa menghadapinya." Naruto berbicara pada sosok Yami yang ada di dalam tubuhnya.

"Ck, terserah kau saja." Yami berdecak kesal, karena Naruto menolak tawarannya.

"Dan sekarang aku akan mengakhirinya di sini." ucap Zabuza sambil membentuk handseal.

Naruto menatap tajam sosok Zabuza yang sudah menyelesaikan handseal. Naruto lalu memasang posisi siaga dengan serangan yang akan di lancarkan Zabuza nanti.

"Kirigakure no Jutsu."

Setelah ucapan Zabuza tadi, tiba-tiba kabut tebal menyelimuti tempat tersebut. Naruto semakin menyiagakan dirinya saat kabut mulai menghalangi pandangannya. Menajamkan instingnya Naruto mencoba mencari sosok Zabuza.
Sett..

Naruto menunduk ketika merasakan bahaya yang mengancamnya dari belakang tubuhnya. Dan benar saja, sebuah pedang besar hampir memotong kepalanya.

"Khu khu khu... Instingmu cukup cepat juga bocah." Suara seram Zabuza bergema dalam kabut tersebut.

Naruto menyilangkan kedua pedangnya di depan tubuhnya ketika instingnya berteriak bahaya.

Ctang!

Krakk..

Suara pedang beradu terdengar nyaring. Tubuh Naruto sedikit terseret kebelakan menahan kuatnya tebasan yang di lancarkan Zabuza. Dapat Naruto rasakan salah satu pedangnya ada yang retak. Melihat kesekelilingnya, Naruto mencoba mencari keberadaan Zabuza. Namun sejauh mata memandang hanya kabut saja yang terlihat.

"Menarik, sungguh menarik. Coba kita lihat berapa lama kau bisa bertahan di sini." Lagi, suara Zabuza bergema dalam kabut.

Ctang!

Jrash.. Jrash..

Ctang.. Ctang..

Naruto sedikit berjongkok, tenagnya banyak terkuras di sini. Tubuhnya juga banyak terdapat goresan di sana sini, namun semua tak bertahan lama karena luka tersebut kembali tertutup lagi seperti tak pernah terlihat tergores. Baju yang Naruto gunakan juga banyak terdapat robekan.

"Sepertinya kau sudah menyerah bocah." Kembali, suara Zabuza bergema. "Aku akan mengakhirinya di sini!"

Naruto menutup matanya sejenak, kondisi ini tidak menguntungkannya. Membuka matanya, Naruto lalu menarik napasnya dalam dan mengeluarkannya dengan cepat. Naruto merangkai handseal dengan cepat, ia lalu menepukkan kedua tangannya yang sudah tidak memegang pedang.

"Fuuton: Daitoppa!"

Bwosh!

Hembusan angin besar tercipta dengan Naruto sebagai pusatnya. Kabut yang tadinya menyelimutinya mulai menghilang terbawa hembusan angin.

Zabuza terpental ketika terkena hembusan angin yang di ciptakan Naruto.

Jleb..

Zabuza menancapkan pedangnya ketanah untuk pegangan supaya tak ikut terbawa angin. Angin sudah berhenti berhembus. Masih pada posisinya, Zabuza memandang Naruto yang masih dalam posisi berlutut dengan satu lututnya.

Naruto berdiri dari posisinya, terlihat dirinya baik-baik saja tanpa ada luka. Dia -Naruto- tersenyum atau mungkin menyeringai lebar melihat raut terkejut Zabuza. "Terkejut?"

Zabuza menatap tak percaya pemuda di depannya. Bagaimana mungkin pemuda itu tidak terluka sama sekali, padahal ia yakin serangannya ada yang mengenai pemuda tersebut. Apa semua serangannya meleset? Tidak, serangannya tidak meleset. Di lihat dari sobekan di baju pemuda tersebut, ia yakin serangannya tidak meleset. Tapi..

"Bagaimana mungkin kau tidak terluka? Padahal aku yakin serangan ku mengenaimu." Akhirnya Zabuza bertanya untuk mengobati rasa penasarannya.

"Aku bukan orang bodoh. Aku tak akan membocorkan kekuatanku pada musuh." Naruto berucap dengan nada datar namun ada kesan mengejek dari nada bicaranya. Ia lalu mengambil pedang yang tergeletak di bawahnya. Ini pedang terakhir yang tersisa dari semua pedangnya.

Zabuza sedikit kesal dengan ucapan Naruto. Ia lalu mencabut pedangnya dari tanah. Zabuza bedecak kesal ketika mengingat rencananya. Ia lalu menatap Naruto datar, sepertinya ia harus segera menyelesaikan pertarungan ini. "Aku tak perduli dengan kemampuanmu itu. Tapi pertarungan ini harus segera di akhiri." Zabuza melesat kearah Naruto.

Naruto memosikan pedangnya di depan tubuhnya. Mengalirkan Chakra angin di pedangnya, Naruto juga ikut menerjang menyerang Zabuza.

Ctang!

.

.

.

..

Pungung Menma dan Sasuke saling berdempetan. Napas mereka berdua sedikit memburu, terlihat juga tubuh mereka terdapat beberapa goresan. Ternyata menghadapi kerja sama Gozu dan Meizu cukup merepotkan.
Mata Sharingan dua tomoe Sasuke berputar pelan mengobservasi daerah sekitarnya. Tenaganya sedikit terkuras dalam pertarungan tadi. Melirik kebelakang sejenak kearah Menma, Sasuke lalu menatap musuh di depannya. "Bagaimana menurutmu?"

"Kita lakukan seperti saat kita melawan Kakashi Sensei." Menma menjawab pertanyaan Sasuke tanpa menoleh kearah Sasuke.

Sasuke terdiam sejenak, ia lalu mencoba mengingat saat ujian Genin yang di berikan Kakashi. "Baiklah."

"Kage Bunshin no Jutsu."

Bofts~

Lima klon mirip Menma muncul di sertai kepulan asap di sebelah Menma. "Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan bukan?" Sebuah pertanyaan yang mirip pernyataan itu Menma tunjukan pada para Bunshinnya.

"Siap bos!" Dengan serempak para Bunshin Menma menjawab pertanyaan Menma.

Mereka -para Bunshin- berlari menyerang Gozu dan Meizu. Dari para Bunshin itu mengeluarkan masing-masing Kunai. Setelah jarak mereka mulai terpotong, para Bunshin Menma melempar kunai di tangan masing-masing mereka.

Trank.. Trank.. Trank...

Kunai yang di lempar para Bunshin Menma dapat di tangkis dengan mudah oleh dua saudara iblis dari Kirigakure tersebut.

Swus

Salah satu Bunshin Menma mencoba menendang wajah Meizu, namun dengan mudah di hindari oleh Meizu. Bunshin kedua muncul dari belakang Bunshin pertama dan memberikan sebuah pukulan yang telak mengenai perut Meizu. Tak sampai di situ saja Bunshin ketiga Menma muncul di belakang Meizu dan langsung memberikan tendangan ke punggung Meizu, hingga membuat Meizu terdorong kedepan dan di sambut oleh Bunshin pertama Menma dengan sebuah pukulan yang langsung bersarang di wajah Meizu.

Bugh!

Tubuh Meizu terpelanting kesamping. "Bangsat!" Umpat Meizu marah. "Kalian akan membalas semua ini!"

Sementara itu dengan dua Bunshin Menma lainya sedang mengahadapi Gozu. Pertarungan mereka hanya berlangsung sebentar saja, karena Gozu dapat dengan mudah mengalahkan kedua Bunshin Menma.

Bofts.. Bofts...

Kedua Bunshin Menma menjadi kepulan asap ketika terkena serangan Gozu. Gozu menoleh kesamping saat mendengar umpatan kemarahan Meizu. Ia lalu menghampiri Meizu yang sedang memegang wajahnya.

"Sepertinya kau sedikit kerepotan di sini." Ucap Gozu yang saat ini sudah berdiri di samping Meizu.

Meizu menoleh kearah Gozu. "Jangan menghinaku." Ucap Meizu kesal. Ia tau saudaranya ini pasti mau mengejeknya.

"Tapi itu memang benar dan sebaiknya kita segera mengakhiri pertarungan ini. Aku sudah merasa bosan dengan semua ini."

"Kau benar." ucap Meizu.

Mereka berdua lalu menyerang tiga Bunshin Menma yang tersisa. Para Bunshin Menma juga tak mau kalah, mereka juga ikut menyerang dua saudara tersebut.

Bofts..

Salah satu Bunshin Menma menghilang saat terkena tusukan Gozu. Bunshin ketiga muncul dari kepulan asap bekas Bunshin pertama tadi. Bunshin kedua lalu menebaskan kunai yang kearah Gozu. Namun dengan mudah di tangkis dengan mudah oleh oleh Gozu.

Bofts.. Bofts..

Bunshin Menma yang melawan Meizu menghilang saat Meizu berhasil mengalahkannya. Begitu juga Bunshin yang melawan Gozu sudah kalah.

Menma dan Sasuke yang melihat hal tersebut langsung menyerang Gozu dan Meizu. Pertarungan terjadi cukup alot karena dua pihak masing-masing tidak ada yang mengalah.

Kling.. Kling..

Sebuah rantai yang cukup panjang dan saling terhubung di pegang oleh Gozu dan Meizu. Menma dan Sasuke yang melihat hal tersebut, langsung memasang posisi siaga.

"Kalian akan tau kenapa kami di juluki Iblis Bersaudara dari Kirigakure." Ucap Meizu yang lalu menyerang Menma dan Sasuke, begitupun dengan Gozu.

Adu taijutsu tak terelakkan lagi. Menma memiringkan kepalanya saat cakar Gozu mencoba merobek wajahnya. Ia lalu menghunuskan Kunainya kearah Gozu, namun masih bisa di hindari Gozu.

Bugh!

Wajah Menma dengan telak terkena sikutan Gozu. Tak sampai di situ saja, Gozu juga menendang pinggang Menma. Tubuh Menma terpental kesamping, ia lalu berdiri dari posisi jatuhnya. Menma kembali melesat menyerang Gozu. Adu pukul dan saling menjatuhkan terjadi cukup singkat.

Menma meloncat kebelakang mencoba menjaga jarak. Ia lalu menoleh kebelakang saat merasakan ada sesuatu yang menempel di punggungnya. "Sasuke."

"Hn, kita terpojok." ucap Sasuke.

"Kau benar, sem-"

Ucapan Menma tak terselesaikan ketika tiba-tiba sebuah rantai mengikat mereka berdua.

"Inilah akhir dari kalian berdua." Ucap Meizu datar.

Mereka -Gozu dan Meizu- berjalan menuju kearah Menma dan Sasuke. Sedangkan Menma dan Sasuke meronta mencoba melepaskan diri dari jeratan rantai yang mengikatnya.

"Percuma saja." Ucap Gozu dengan suara yang sedikit menakutkan. "Tadi aku sudah menyuruhmu pulang bukan?" Gozu menatap Menma yang masih berusaha meloloskan diri. "Dan sekarang tidak ada kesempatan lagi bagimu." Gozu langsung menusuk perut Menma.

Jleb!

"Arggghhh!"

.

.

.

..

"Suiton: Suiryuudan no Jutsu."

Sebuah Naga air dari sungai sepanjang sepuluh meter tercipta dari belakang Zabuza. Naga air tersebut menerjang sosok Naruto yang sedang berdiri sambil bertumpu pada pedangnya.

"Ck!" Naruto berdecak kesal. Dengan cepat ia merangkai handseal. Ia lalu menghentakan tangannya ke tanah.

"Doton: Doryuuheki!"

Dinding tanah setinggi delapan meter tercipta di depan tubuh Naruto.

Blarr!

Terjadi ledakan kecil ketika dua jutsu beda elemen itu saling bertabrakan. Naruto lalu membuat handseal lagi.

"Fuuton: Shinkujin!"

Puluhan pedang yang terbentuk dari angin tercipta di belakang tubuh Naruto.

Syut.. Syut... Syut...

Pedang-pedang tersebut melayang cepat kearah Zabuza. Zabuza yang melihat hal tersebut juga tak tinggal diam, ia dengan lincah menghindari pedang angin Naruto.

'Kena kau.' Batin Naruto. Ia lalu merangkai handseal lagi.

"Suiton: Suiryuudan no Jutsu!"

Zabuza yang saat ini berada di dekat sungai sedikit tersentak saat sebuah naga air yang besarnya sama seperti naga airnya tadi, tiba-tiba muncul dari sungai di sebelahnya. Ia lalu memosisikan pedangnya di depan tubuhnya untuk menghalau naga air tersebut, karena sudah tak sempat menghindar lagi.

Groarr!

Blar!

Tubuh Zabuza terdorong dan terbawa Naga air tersebut hingga menabrak pohon cukup besar di belakangnya.

"Ugh!"

Naruto menatap Zabuza yang terlihat menunduk. Naruto lalu mengambil pedang di sebelahnya saat mendengar tawa Zabuza.

"Hahahaa.. Serangan yang cukup mengejutkan." Zabuza mengangkat wajahnya. "Namun itu tidak cukup untuk mengalahkanku."

Keringat dingin mengalir dari pelipis Naruto saat merasakan aura yang cukup mengerikan dari tubuh Zabuza. Tanpa Naruto sadari ia melangkah mundur satu langkah. Naruto lalu menggelengkan kepalanya. Mengambil pedang yang ia tancapkan sebelumnya, Naruto mengacungkan pedangnya kearah Zabuza. "Sepertinya kita akan masuk ronde kedua."

Zabuza menyeringai dari balik perbannya, ternyata bertarung dengan pemuda di depannya sungguh menarik. Namun sayang ia harus segera menyusul rombongannya. "Bukan, tapi ini akan menjadi ronde terakhirmu."

Ctang!

Naruto dengan cepat menahan tebasan pedang Zabuza, untung saja ia sudah melapisi pedangnya dengan Chakra kalau tidak, mungkin pedangnya sudah patah.

"Kita naikan level permainan ini." Posisi mereka masih saling berhadapan dengan pedang saling beradu. Zabuza menguarkan aura kental yang mengintimidasi.

Namun Naruto tak terasa terancam dengan aura yang di keluarkan Zabuza. "Aku terima."

Zabuza kembali menyeringai dari balik perban yang menutupi mulutnya saat melihat Naruto tak terpengaruh dengan auranya. Ia lalu melompat mundur mengambil jarak dari Naruto, begitupun juga Naruto.

"Yami." Ucap Naruto dalam pikirannya.

Sosok Yami menyeringai di alam bawah sadar Naruto. Akhirnya Naruto membutuhkannya. "Aku mengerti."

Deg!

Untuk sesaat jantung Zabuza berhenti berdetak saat merasakan perubahan aura Naruto. 'A-aura macam apa ini.' Batin Zabuza.

Aura berwarna hitam menari-nari pelan di sekitar Naruto. Naruto lalu menatap Zabuza, senyum lebar yang hampir membelah wajah Naruto terlihat menyeramkan. "Hehehe.." Tawa aneh keluar dari mulut Naruto. "Hahaha! Ayo kita selesaikan pertarungan ini!"


TBC


Yo~

Chap11 up, semoga cukup memuaskan.

Ahahahaa... Pasti pertarungannya terlihat aneh ya? Ini termasuk pengalaman pertama saya menulis adegan fight, jadi harap maklum ya.

Di sini saya buat Naruto terlihat sedikit dark, ini karena pengaruh Yami dan sifat Naruto akan berubah ketika menerima kekuatan dari Yami.

Dan untuk review kalian saya sudah membalasnya lewat inbox, jadi tetap review cerita ini dan beri saya saran dan masukkan. Dan terima kasih sudah mau membaca dan memberi review, fav dan follow cerita ini.

Dan jangan lupa untuk mengikuti cerita ini terus.

.

.

.

.

Sampai jumpa lagi...