Happy reading~
.
.
.
Kibum membawa Jaejoong pergi, dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Jaejoong dan bayinya, karena dia sangat tahu apa yang akan terjadi jika Jaejoong sampai sangat tertekan.
"Joongie kau baik-baik saja?"
Tidak ada sahutan dari namja cantik itu selain isakan yang terdengar, Kibum khawatir Jaejoong akan semakin memburuk dengan kejadian yang baru saja dialaminya.
"Kenapa... Kenapa setelah huks setelah aku seperti ini..."
"Joongie jangan memaksakan dirimu, sebentar lagi kita akan sampai ke kamarmu."
"Huks... Aku tidak mencintai Yunho, Hyung. Aku tidak mencintainya lagi huhuhu." tangisan ini terasa menyayat hati Kibum, dia seakan merasakan beban yang dialami oleh Jaejoong.
Lantas Kibum berhenti dan berjongkok dihadapan Jaejoong, mengusap air mata namja cantik itu.
"Masih ada kami yang selalu ada untukmu dan calon bayimu juga, namja itu tidak akan berani menyakitimu lagi, kami akan pastikan itu Joongie."
Jaejoong mengangguk lemah, dia tahu bagaimana orang-orang yang disayanginya selalu melindungi dan selalu ada untuknya, namun Yunho bisa saja mendatanginya dan memaksanya kembali.
Jaejoong sangat takut, lebih tepatnya trauma kepada Yunho.
Kibum kemudian berdiri lagi, "Jja sekarang kita kembali ke kamarmu, Joongie."
Jaejoong hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suaranya lagi.
Mereka akhirnya sampai di kamar rawat Jaejoong, saat masuk Eomma Kim langsung memeluk Jaejoong karena rasa khawatir yang berlebihan.
"Kau kemana saja sayang? Apa yang terjadi eoh, kenapa pergi begitu saja?" pertanyaan Eomma Kim hanya dibalas dengan ekspresi wajah namja cantik itu yang seperti tidak terjadi apa-apa.
"Ahjumma Joongie tadi..."
"Aku habis jalan-jalan Eomma, soalnya tidak ada siapapun di kamarku."
Eomma Kim menatap anaknya, "Sungguh? Lalu kenapa mata dan hidungmu memerah sayang, kau habis menangis?"
Jaejoong langsung menggeleng cepat, Eommanya tidak perlu tahu apa yang terjadi padanya, ia tidak ingin Eommanya bertambah sedih karena dirinya.
Berbeda dengan Kibum yang kini ingin sekali mengatakan apa yang terjadi diluar.
"Lalu kenapa sayang, jangan ada yang ditutupi dari Eomma."
"Aku flu Eomma, mungkin karena terlalu lama diluar, apalagi aku tidak memakai penghangat apapun, aku menjadi sensitif seperti ini hehe." bohongnya dan cukup membuat Eomma Kim percaya.
Tuan Choi yang sedari tadi hanya melihat kemudian menghampiri Jaejoong, "Lain kali tunggu kami, jangan sampai pergi sendirian seperti tadi, Arraseo?"
Jaejoong mengangguk, "Ne~ aigoo kalian begitu perhatiannya padaku."
"Kibummie, dimana Siwon?" tanya Tuan Choi yang menyadari cucunya belum kembali.
"Itu... Dia... Aku menyusul Siwonnie dulu ya." Kibum segera keluar dengan berlari kecil, dalam hatinya ia sedikit kesal kenapa Jaejoong memilih berbohong? Bagaimana jika kejadian ini terulang lagi dan Jaejoong dibawa oleh Yunho?
Kibum berpapasan dengan Siwon yang tidak jauh dari kamar Jaejoong.
"Ada apa Bummie? Apa Joongie kambuh?" Siwon terlihat panik dan hendak pergi namun ditarik kembali oleh kekasihnya.
"Anniya Wonnie... Joongie baik-baik saja, hanya saja dia berbohong pada Beoji dan Ahjumma, jika tadi tidak ada sesuatu yang terjadi."
Siwon merubah raut wajahnya heran, apa yang dipikirkan oleh Jaejoong? Kejadian tadi harus diceritakan pada orangtuanya.
"Aku awalnya kesal, tapi aku berpikir jika Joongie punya alasan kenapa memilih berbohong."
Kibum menatap Siwon, "Kau berpura-pura panik saja nanti saat masuk ne?"
"Baiklah."
"Lalu bagaimana dengan namja itu Wonnie?"
"Aku sudah memperingatinya agar tidak menemui Joongie lagi, namun dia tetap akan datang untuk mendapatkan maaf meskipun aku mengusirnya bahkan jika aku memukulnya sampai mati hah!" Siwon mengepalkan tangannya kesal.
"Mungkin dia akan bersungguh-sungguh kali ini Wonnie, tapi meskipun begitu aku tidak ingin Joongie kembali padanya."
Siwon memeluk Kibum kemudian, "Itu tidak akan terjadi, aku tidak akan membiarkannya."
"Kalau begitu kita masuk Wonnie dan keluarkan kemampuan aktingmu." Kibum terkekeh pelan.
"Baiklah siapa takut ayo kita masuk sayang."
.
.
.
Yunho saat ini tengah berada di rumahnya, dia pulang dengan keadaan sangat lusuh dengan wajah penuh luka akibat perkelahiannya dengan Siwon. Bahkan dia tidak mengobati lukanya.
"Yunho ah! Apa yang terjadi denganmu?"
Namja bermata musang itu tidak mengindahkan panggilan Eommanya dan memilih memasuki kamarnya seperti orang yang tengah tergesa-gesa.
Ia mengeluarkan kopernya dari lemari dan mengeluarkan baju-bajunya.
"Yunho jawab eomma ada apa ini?"
"Aku belum bisa membawa Jaejoong ke rumah ini Eomma, maafkan aku." jawabnya dengan tangan yang masih sibuk memasukkan bajunya kedalam koper dengan asal.
"Tapi kenapa kau membereskan baju-bajumu nak? Kami tidak marah jika kau belum berhasil."
Yunho menggeleng dan mencari lagi barang-barang yang akan ia bawa.
"Lalu kau mau kemana?"
"Eomma melihat semua barang-barangku dan Jaejoong? Foto pernikahan kami?"
Eomma Jung menatap anaknya, "Bukannya kau sudah membakarnya dengan Soojin dua minggu yang lalu?"
Yunho baru ingat hal itu dan mengutuk kebodohannya, awalnya dia akan menggunakan semua itu untuk meyakinkan Jaejoong bahwa dirinya bersungguh-sungguh.
Eomma Jung lantas menarik tangan Yunho agar anaknya duduk, ia akan mencoba memberi solusi pada anaknya serta menenangkannya.
"Apa kau sungguh-sungguh sudah bertemu dengan Jaejoongie?" tanya Eomma Jung penuh ketenangan, dibalas dengan anggukan Yunho.
"Sudah Eomma, dia sungguh sedang mengandung darah dagingku. Calon cucu Eomma dia juga sekarang terlihat sangat cantik. Tapi saat aku mendekatinya dia ketakutan dan menangis."
Eomma Jung mendengarkan cerita Yunho sampai bagaimana anaknya mendapatkan luka separah itu.
"Sekarang yang harus kau lakukan adalah perjuangkan cintamu, tapi bukan dengan cara kau pergi dengan keadaan seperti ini. Kau tidak akan mendapatkan apa-apa nak." Eomma Jung kemudian berdiri dan mengambil kotak obat didalam laci.
Wanita paruh baya itu kemudian mengobati luka anaknya dengan sangat hati-hati.
"Kembalikan lagi rasa sayang Jaejoongie padamu secara perlahan, Eomma yakin dia tidak bersungguh-sungguh menghilangkan rasa cintanya padamu nak. Tapi kau jangan sampai memaksanya."
Yunho sesekali meringis saat diobati, "Eomma yakin Jaejoongie masih mencintaiku?"
"Mengingat seberapa besarnya usaha dia kepadamu dulu, Eomma yakin itu. Tapi Eomma juga menyesal menjadi salah satu orang yang menyakitinya."
"Andai waktu bisa diputar."
"Tapi kita bisa memperbaikinya Eomma."
Eomma Jung tersenyum, "Kau juga tahu itu kan? Sekarang kau bersihkan badanmu dan istirahat. Besok kau bisa mulai lagi mendatangi Jaejoong, Arra?"
Yunho mengangguk dan memeluk Eommanya, dia akan mengikuti saran Eommanya untuk mendapatkan maaf dari Jaejoong.
"Gomawo Eomma."
.
.
.
Hari ini Yunho sudah berada di Rumah Sakit dan akan menemui Jaejoong, dia bahkan sudah membeli bunga dan barang yang Jaejoong suka.
Meskipun dulu Yunho tidak benar-benar mencintai namja cantik itu, tapi dia tahu apa yang Jaejoong sukai.
"Semoga hari ini aku bisa berhasil mendapatkan maafnya." Yunho tersenyum seraya mencium bunga itu membayangkan Jaejoong yang akan memaafkannya.
Yunho tidak perlu repot-repot mencari dimana kamar Jaejoong, karena semalam dia diam-diam mengikuti Siwon yang menyusul Kibum.
Ia melihat Jaejoong tengah berdua dengan Eommanya saat ini, namja itu telihat sangat rapi dan seperti akan pergi.
Kali ini Yunho tidak ingin sampai dikelabui mereka lagi, jadi sebisa mungkin keberadaannya tidak diketahui oleh keluarga Jaejoong.
Lama ia bersembunyi sampai melihat Eomma Kim keluar dari kamar Jaejoong, kesempatan ini ia gunakan untuk menemui Jaejoong, walaupun nanti akan bertemu sebentar tidak apa-apa, yang penting dia bisa bertemu dengan mantan istrinya dan mencoba untuk meminta maaf.
Jaejoong kini tengah merapikan rambutnya dan bercermin bahkan tidak menyadari jika yang memasuki kamarnya itu adalah Yunho.
"Eomma tidak perlu khawatir, aku tidak akan kemana-mana. Eomma jemput aku jika acaranya akan dimulai."
"Jae ini aku."
Jaejoong langsung membeku di tempatnya dan langsung menurunkan kaca genggamnya. Didepannya tengah berdiri seseorang berusaha mati-matian ia lupakan.
Bagaimana dia bisa ada disini lagi?
"K-kau kenapa ada disini? P-pergi!"
Badan Jaejoong langsung bergetar saat Yunho mulai mendekatinya.
"Kumohon tidak lagi, pergilah!"
Jaejoong melemparkan kaca genggamnya dan tepat mengenai kening Yunho.
Prang!
"Argh! Jae tenanglah, aku beniat baik datang kesini."
Jaejoong menggelengkan kepalanya kuat dan menutup telinganya seakan tidak ingin mendengar apapun dari Yunho.
"Jae tenanglah, aku tidak ingin kau sampai kenapa-kenapa."
"Pergi!" Yunho terkejut melihat darah yang keluar dari hidung namja cantik itu, ia segera mengambil saputangannya dan hedak membersihkan darah di hidung mantan istrinya itu.
"Jangan menyentuhku argh!" kali ini Jaejoong menepis tangan Yunho sampai saputangan itu terjatuh, bahkan bajunya sekarang sudah terkena tetesan darah.
"Uhuk! Kita tidak ada hubungan apapun lagi, pergilah sebelum aku berteriak!"
"Jae, aku sungguh-sungguh."
Jaejoong menutup mulutnya dengan satu tangan, sementara satu tangan lainnya menunjuk ke arah pintu, mengisyaratkan agar Yunho keluar dari kamarnya.
Yunho menaruh barang yang ia bawa untuk Jaejoong, namun namja cantik itu langsung melemparkannya lagi.
"Kubilang pergi dari sini hiks uhuk uhuk! Bawa itu semua!"
Melihat pemandangan ini Yunho ingin sekali memeluk Jaejoong, namun ia tidak ingin Jaejoong semakin memburuk, dengan berat hati Yunho mundur dan keluar dari kamar itu.
"Haaa wae huks!"
Tangisan Jaejoong pecah, tangannya bergetar berusaha membersihkan darah dari hidungnya, meskipun itu tidak akan membantunya, pasti Eomma dan yang lainny akan tahu.
Bajunya juga sudah kotor sekarang, padahal hari ini ia akan menghadiri pernikahan Siwon dan Kibum, ia tidak ingin menggagalkan semuanya karena penyakitnya kambuh, namja cantik itu sangat ingin menghadiri pernikahan mereka.
Jaejoong merasakan tubuhnya bergetar hebat, pandangannya juga mulai mengabur.
"Ti-tidak Tolon..."
.
.
.
Eomma Kim baru saja akan menjemput anaknya, ia ingin memberitahu jika pernikahan hyungnya akan segera dimulai.
Sebenarnya wanita itu takut terjadi sesuatu lagi pada anaknya jika meninggalkannya sendirian, namun Jaejoong selalu meyakinkan dirinya kalau dia tidak akan membuat semuanya khawatir lagi.
Hari ini memang pernikahannya Siwon dan Kibum, semuanya atas permintaan Jaejoong meskipun pernikahan itu mendadak dan dibuat sederhana di sebuah gereja yang tidak jauh dari Rumah Sakit.
Tidak jauh dari posisinya, ia melihat Dokter dan Suster berlari menuju kamar Jaejoong, wanita itu langsung berlari, apalagi yang terjadi pada anaknya?
Sebelum masuk dia bisa melihat Yunho tengah berdiri didepan pintu kamar Jaejoong, namun wanita itu memilih tidak memperdulikan Yunho.
"Omo Joongie! Kenapa bisa begini?"
Jaejoong mengalami kejang dan Dokter berusaha menanganinya.
"Joongie sadarlah ini Eomma hiks!"
"Nyonya sebaiknya tunggu diluar."
"Tapi anakku, dia membutuhkanku hiks biarkan aku disini."
Yunho hanya bisa menyaksikannya diluar, Jaejoong benar-benar menderita dan lagi penderitaannya yang sekarang karena dia memaksanya, padahal semalam Eommanya sudah mengingatkan dirinya untuk tidak memaksanya.
Tapi Yunho sangat ingin sekali mendapatkan maaf Jaejoong, meskipun yang terjadi sekarang jauh dari harapannya.
Tapi bukan Yunho namanya jika menyerah begitu saja.
.
.
.
Saat membuka matanya, Jaejoong merasakan tubuhnya terasa sangat sakit, ia juga merasakan ada sebuah alat yang membantu pernafasannya.
Apakah dia kembali tidak sadarkan diri? Jaejoong memejamkan matanya dan kali ini dia mengingat apa yang membuatnya menjadi tidak sadarkan diri, Yunholah yang tadi membuatnya tidak tidak terkendali, itu yang dia ingat.
"Joongie sudah sadar Eomma." suara Siwon membuat Jaejoong membuka matanya dan melihat disekelilingnya sudah ada orang-orang yang selalu ada untuknya.
"H-hyung." panggil Jaejoong lemah, dia juga merasakan tenggorokkannya sakit.
"Won-ah bagaimana apa Joongie sudah sadar sepenuhnya?"
Siwon memeriksa kondisi Jaejoong dan mengangguk pada Eomma, "Iya Eomma, kondisinya juga sekarang sudah stabil."
"Syukurlah, sayang apa sekarang ada yang sakit?" Eomma Kim menggenggam tangan Jaejoong dan menatap anaknya.
"H-hyung~" Jaejoong tidak merespon ucapan Eommanya dan sekali lagi memanggil Siwon.
Siwon kemudian mendekati Jaejoong, memerhatikan apa yang akan Jaejoong ucapkan.
"Hyung disini, Joongie."
"H-hyung a-aku tidak sadar berapa j-jam? Ap-apa pernikahan kalian... Su-sudah selesai? Kenapa hyung ada di-disini?"
Walaupun dengan suara pelan dan lemah, semua orang yang ada disana mendengar ucapan Jaejoong. Siwon maupun dan lainnya bingung harus mengatakan apa pada Jaejoong, karena hari pernikahan Siwon sudah berlalu satu minggu yang lalu, jadi Jaejoong mengalami koma selama itu.
"Ke-kenapa diam?"
"Joongie, itu sudah berlalu satu minggu yang lalu."
"Sa-satu Mi-minggu?"
Eomma Kim mengeratkan genggamannya di tangan Jaejoong seolah menenangkan anaknya.
"Ne, tapi tidak apa-apa sayang, yang terpenting Joongie sudah sadar sekarang."
Air mata Jaejoong turun begitu saja, bagaimana Eommanya bisa mengatakan tidak apa-apa, padahal melihat hyungnya menikah adalah hal yang paling ia inginkan.
"Joongie kenapa menangis?" kali ini Kibum yang bersuara, mengusap air mata Jaejoong.
"Kau tenang saja, bagaimana kami bisa menikah tanpa kehadiran orang paling penting?"
Jaejoong menatap Kibum bingung, jadi mereka tidak melaksanakan pernikahannya hari itu? itu berarti ia masih ada harapan untuk melihat hyung-hyungnya menikah?
"Kami juga ingin kau yang membawakan cincin kami, jadi kami tidak akan pernah menikah jika tanpa kehadiranmu."
Jaejoong mengangguk antusias, "A-aku berjanji akan hadir nanti."
"Dan berjanji juga pada kami Joongie harus benar-benar sehat baru kami akan menikah." ujar Siwon dan kembali diangguki oleh Jaejoong.
Pintu ruang rawat Jaejoong terbuka dan seorang suster masuk ke dalam.
"Dokter Siwon, ada yang ingin bertemu dengan anda."
"Siapa suster?"
Suster itu sedikit gelisah, "Dia menunggu di depan ruangan anda, Dokter."
Kibum menghampiri Siwon, "Apa mungkin orang itu lagi?"
"Tidak mungkin bummie, kau tidak ingat kemarin aku melakukan apa?"
"Baiklah, tapi aku ikut Wonnie, aku ingin memastikan."
Siwon mengangguk dan Kibum mengikuti langkah kekasihnya, Kibum hanya takut orang yang mencari Siwon adalah orang yang sama.
Sampailah mereka didepan ruangan Siwon, Kibum langsung memeluk lengan Siwon saat tahu siapa orang itu. Yunholah orangnya.
"Kau lagi, kau tidak bosan mencari masalah dengan kami?" tanya Siwon langsung pada intinya.
"Aku tidak pernah ingin mencari masalah dengan kalian, aku ingin bertanya bagaimana keadaan Jaejoong saat ini, apa dia sudah sadar?"
Siwon tersenyum sinis, memang selalu itu yang Yunho tanyakan pada Siwon, sekalipun Siwon berusaha menghindar selalu ada cara bagi Yunho untuk menemui Siwon.
Yunho tidak pernah jera sekalipun Siwon sempat memukulnya beberapa kali, asalkan dia dapat kabar tentang kondisi Jaejoong. Apalagi saat namja bermata musang itu mengakui jika Jaejoong sampai koma karena dia sengaja menemui namja cantik itu, mendengar hal itu Siwon langsung menghakiminya saat itu juga.
Namun bukanya menyerah, Yunho setiap hari selalu datang menanyakan kabar Jaejoong bahkan menemui Dokter muda itu secara langsung.
"Untuk apa aku memberi tahumu?"
"Kumohon untuk kali ini jawab aku, agar aku bisa..."
"Agar kau bisa apa? Bisa menyakitinya lagi begitu? Tidak puas kau sudah membuatnya nyaris kehilangan nyawa?!" Siwon mulai tersulut emosinya, entah kenapa emosinya selalu mudah keluar jika menghadapi Yunho, makanya ia selalu ingin dampingi oleh Kibum.
Kibum mengeratkan pelukannya pada Siwon, "Wonnie."
"Tidak, aku justru ingin membahagiakannya. Menebus semua kesalahanku padanya."
"Cih! Kau ingin membahagiakan adikku?"
"Tentu saja."
"Pergilah sejauh mungkin darinya, itu akan membuatnya bahagia." ucap Siwon dan Dokter itu langsung menarik kekasihnya untuk pergi.
Untuk kesekian kalinya Yunho kembali tidak mendapatkan informasi apapun, tapi walaupun begitu dia masih mempunyai harapan dan dia akan terus berjuang sampai Jaejoong bisa benar-benar memberinya maaf.
.
.
.
Waktu cepat berlalu, kandungan Jaejoong sudah menginjak bulan ke tujuh dan berarti tidak lebih dari dua bulan lagi namja cantik itu akan melahirkan, namun badan namja cantik itu terlihat sangat kurus.
Keadaan ini membuat seluruh keluarganya sangat khawatir terutama Siwon, baru-baru ini dia mendapatkan kabar dari teman-temannya jika Jaejoong tidak akan bisa bertahan selama itu dan jika ingin selamat Jaejoong harus mulai melakukan pengobatannya.
Itu sama halnya Jaejoong harus mengeluarkan bayinya dengan segera, namun resikonya juga sangat besar bayinya akan terlahir prematur.
"Siwon-ah, lakukan yang terbaik buat adikmu." pinta sang Eomma, Siwon hanya bisa memeluk Eomma Kim untuk menguatkan wanita itu, meskipun dirinya juga tengah bersedih.
"Aku akan lakukan yang terbaik, aku akan kerahkan semua kemampuanku Eomma."
Pemandangan ini tidak luput dari penglihatan Yunho, namja itu benar-benar masih memperjuangkan cintanya selama ini, meskipun dia tidak pernah bisa mendekati Jaejoong karena Siwon selalu menjadi penghalang, bahkan Dokter muda itu tidak segan-segan menghajarnya jika Yunho memaksa.
Yunho menggunakan kesempatan ini untuk diam-diam melihat Jaejoong ke kamarnya walaupun hanya mengintip dari luar, namun ia tidak mendapati namja cantik itu disana, hanya ada Kibum dan Tuan Choi yang sedang mengobrol, lalu kemana Jaejoong?
Akhirnya Yunho mencoba mencari disekitaran Rumah Sakit itu, mencari keberadaan Jaejoong, semoga hari ini dia bisa bertemu dengan mantan istrinya walaupun hanya sebentar.
"Su-suie aku sudah tidak sabar ingin menggendong anakku." itu adalah suara Jaejoong, Yunho langsung menoleh dan jaraknya dengan Jaejoong sangat dekat.
"Aku juga Jae, semoga kau sehat ketika waktunya tiba ne."
Jaejoong mengangguk seraya mengusap perutnya, "Tentu Suie, tapi aku tidak yakin..." ia mengigit bibir bawahnya.
"Tidak yakin apa lagi, eum?"
"Bagaimana kalau aku meninggal saat melahirkan anakku? Akupun belum melihat hyungku menikah... Aku... Aku..."
"Kau akan tetap hidup, kita akan bersama-sama lagi, kau akan menjadi istriku lagi dan membesarkan anak kita bersama-sama." suara Yunho membuat keduanya menoleh, melihat itu Junsu langsung menarik mundur kursi roda Jaejoong.
Demi Tuhan ia tidak ingin Jaejoong kenapa-kenapa karena melihat Yunho, Junsu sudah tahu ceritanya dari Eomma Kim.
"Jae sebaiknya kita pergi."
"Suie... Memangnya orang ini siapa?"
.
.
.
TBC~
Maaf semuanya yang membaca ffku ini, aku baru sempat lanjutin sekarang.
Maaf ceritanya semakin ngawur ^_^v
Terimakasih yang selalu setia menunggu ff ini, buat yang baca, review juga, terimakasih banyak ^^
Next lagi?
