Sekitar dua bulan ya? saya tidak mengupdate Cerita ni... hm. Benar. Benar. Tapi pada akhirnya saya Update kan?

Disclaimer : Kalau gw yang punya ni manga, gw traktir loe pada beli cendol di pinggir jalan.


Shizune hanya termenung sambil melihat kondisi Pemuda berambut kuning, yang pada saat ini terbaring dengan perban yang mewarnai tubuhnya. Ekspresi tidak terkira yang muncul... hanya itulah yang bisa dikatakan mengenai raut wajah Shizune. Dirinya tinggal dikamar bersama Naruto yang masih dalam pemulihan ;ditugaskan oleh Tsunade untuk mengobati pemuda ini.

Pemuda yang bisa mengubah mentornya...dengan kata-kata dan juga

...Tinju.

Kejadian yang mengubah segalanya kemarn masih terulang didalam matanya dan ingatannya. Masih terlintas didalam benaknya, pertarungan sengit yang dilakukan oleh Gurunya dan juga pemuda dengan bibir sedikit liar ini. Kekuatan yang mengerikan dikeluarkan dari masih-masing pihak. Dan juga kerusakan yang disebabkan pertarungan mereka berdua.

Namun, meskipun dari kejadian itu. Shizune bersyukur didalam hati. Bersyukur karena Pemuda yang berada didepannya ini bisa merubah Pandangan Gurunya terhadap Ninja. Shizune tahu apa itu. Shizune tau apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi. Meskipun ada niat untuk mengubah cara pandang Gurunya sejak dulu, namun..ia belum menemukan waktu yang pas. Belum menemukan sesuatu yang berharga yang dapat menghapus kenangan pahit dari mentornya tersebut.

Namun hanya dalam semalam, pemuda ini berhasil. Meskipun dengan cara kekerasan, tapi itu memang hal yang cocok untuk Guru yng sudah dianggapnya Ibunya sendiri.

Pemuda yang datang bagaikan bintang jatuh. Dengan ambisi, dan ideologi yang kuat, dapat mematahkan orang sekaras Tsunade.

Uzumaki Naruto. Pemuda yang menarik.

Menarik karena cara berpikirnya yang terkadang berubah-ubah. Bagaikan misteri yang diminta untuk diungkapkan. Namun setelah mendengar apa yang terjadi selama hidupnya dari Jiraiya-sama, Ia merasa..

.. kasihan

"bagaimana keadaanya Shizune?" tanya suara wanita dari belakang Shizune. Mengenali suara tersebut, Shizune kemudian melirik Guru-nya.

"keadaannya sudah membaik dari sebelumnya, Luka-luka yang ia miliki entah mengapa sembuh lebih cepat dari penyembuhan biasa. Mungkin itu karena chakra merah yang mengitarinya tadi."

Tsunade hanya terdiam mendengar itu. Dirinya tidak pernah berhenti terkejut akibat ulah anak ini. Mungkin...

Tidak, tidak... ini bukanlah saatnya untuk berpikir bodoh seperti itu.

Shizune dan Tsunade hanya diam, tak bersuara. Menikmati keheningan malam tersebut. Pandangan jauh kepikiran masing-masing. Terkadang, Shizune kembali menyeka keringat Naruto yang muncul.

...

..

.

"Besok...Tolong jangan pergi!"

Eskpresi Shizune, bisa dikatakan sebagai ekspresi yang jarang sekali dilihat oleh Tsunade. Ekspresi yang penuh akan kekhawatiran dan keras bagaikan besi. Tsunade hanya terdiam mendengar permohonan dengan tersebut. Dirinya tahu, apa yang ia akan lakukan ini salah. Namun, tekadnya sudah bulat. Dengan berpikir panjang mengenai semua apa yang telah terjadi, ia tahu ini akan susah...

"Shizune, kau pikir...kau berbicara dengan siapa?" seakan tahu apa yang dimaksudkan oleh Shizune, ia pun memberikan tatapan jengkel.

"tapi-!"

diam, tidak bisa berbicara...karena pukulan yang diberikan oleh Wanita berdada besar itu.

Tsunade berjalan beranjak pergi meninggalkan Shizune, namun sebelum memberikan lirikan.

"Dirimu, masih terlalu muda untuk mengetahui cerita hidup.."

Tsunade menutup pintu kamar Hotel tersebut. Meninggalkan Shizune yang terkapar akibat serangan yang membuatnya pingsan. Berjalan melewati kerumunan orang, mengacuhkan setiap senggolan yang terjadi dikerumunan tersebut akibat pikiran yang masih membalut hatinya.

Tsunade kemudian berhenti ditengah jalan. Menghentikkan langkahnya di kerumunan orang lalu lalang. Menatap langit malam dan memegang kalung yang tergantung dilehernya. Dengan erat..

XXXX

Pagi yang cerah..

Terdengar suara hembusan angin. Terlihat jauh dari mata, dua orang mendekat dengan melompati Pohon. Sibuk dengan pembicaraan dan rencana yang akan mereka buat. Yang satu merupakan seorang Pria dengan rambut hitam panjang dan berkulit sangat pucat. Dan yang kedua adalah seorang Pria dengan kacamata. Yang sepertinya anak buah Si rambut Hitam.

"Perjanjian nanti mungkin akan menjadi masalah.."

"jadi menurut Tuan, apa yang harus kita lakukan?"

"sudah kau lihat bukan? Bocah Kyuubi dan Mantan rekan timku yang bodoh mungkin ada disekitar sini. Kita tidak tahu apa mereka sudah membuat Kontak dengan Tsunade atau belum. Masalah demi masalah terus bermunculan. Jika kita tidak tangani dengan hati-hati, mungkin ini akan menjadi kehancuran total. Tsunade, aku bisa melawannya dengan berbagai cara. Namun Jiraiya dan Ketua Anbu itu?-itu sama saja dengan bunuh diri."

Kabuto hanya terdiam dan terus melanjutkan perjalanannya bersama Orochimaru dengan tenang. Menuju tempat yang ditentukan...

"tapi, rumor baru-baru ini mengatakan bahwa ada dua Ninja yang bertarung. Menyebabkan daerah sekitar hancur total, dengan kubangan-kubangan besar." Kabuto berbicara dengan tenang.

"hm benar sekali. Tidak salah lagi...itu adalah Tsunade dan tentunya ..Anbu pembawa masalah itu. Tidak ada Ninja yang mampu membuat kerusakan sehebat itu dengan kekuatan biasa. Hanya Monster sekelas Tsunade yang mampu." Ekspresi Orochimaru kini berubah menjadi sinis.

"jadi, apa kita akan membunuh Tsunade karena mengkhianati perjanjian?"

"ku,ku,ku,ku... tentu saja tidak. Tsunade merupakan karakter orang yang terjebak akan masa lalu pahitnya. Dia kehilangan pacar dan juga adik yang sangat ia cintai. Ia akan melakukan apapun untuk membuat mereka kembali ..hidup. Dan tentu saja, ia akan menepati Perjanjian ini." Jawab Orochimaru dengan nada percaya diri. Seolah tahu akan karakter Tsunade itu sendiri.

"...semoga begitu."

XXXX

"hei, hei"

Terdengar suara samar-samar yang mulai masuk ketelinga Shizune. Suara tersebut makin lama, makin keras. Membuat dirinya dengan perlahan membuka mata. Sosok yang ia kenali kemudian mulai terlihat oleh matanya. Seakan masih terasa berat akan kantuk yang menyerangnya, Shizune kemudian memaksa matanya untuk terbuka..

"kau tidak apa-apa? Mengapa kau tidur dilantai? Padahal ada kasur yang lebar.."

Pernyataan itu membuat Shizune terdiam membeku. Pipinya memerah karena malu akibat apa yang dikatakan oleh Naruto. 'jangan katakan..ia-ia, kyaa! Bodoh,bodoh Shizune!- ini bukan saatnya berpikir seperti itu!'

Serasa mengetahui apa yang dipikirkan Shizune. Wajah Naruto kini berubah menjadi sedikit panik...meskipun apa yang dipikirkannya tidak terlalu...buruk.

"Oi,oi,oi! Tunggu sebentar, maksudnya bukan seperti itu!"

Serasa menyadari maksud Naruto. Shizune kemudian menghela nafas setelah berhasil menghapus pikiran...kotornya. Dirinya kemudian serasa baru menyadari sesuatu dan melihat Naruto yang berdiri dengan tegak. Serasa tidak memiliki rasa sakit atau apapun. Namun, karena mengetahui apa yang membuat hal itu terjadi, dirinya hanya diam. Dan menatap Naruto dari atas dan kebawah serasa mencari sesuatu yang masih belum sembuh. Dan tidak menemukan tanda apa-apa. Dirinya kemudian mengangguk.

"oi,oi,oi! Berhenti melihatku begitu. Aku jadi malu tahu.." Shizune hanya menganga ketika mendengar seruan Naruto. Dan kemudian melihat Naruto yang menutupi dadanya. Urat nadi muncul didahinya ketika mendengar tuduhan Naruto, yang meskipun tidak disebutkan namun tetap saja terdengar seperti itu. Namun disatu sisi, kenyataan memasuki otaknya. Kemarin, Naruto yang ia lihat...sangat berbeda dengan yang sekarang ia lihat. Jika kemarin, Naruto, seperti Tentara siap kata lain, serius, dingin, dan keras kepala. Sekarang...

"hm, kurasa itu pertanyaan yang susah." Serasa membaca pikiran Shizune, Naruto kemudian berbicara dengan senyum "Namun, terkadang kepribadian orang bisa berganti-ganti jika waktu mendesak. Kurasa itu adalah aku.."

Dengan ekspresi seperti orang yang sangat bangga, Naruto kemudian menutup matanya dan memijat dagunya. Itu bukan sesuatu yang harus dibanggakan

Namun mendengar itu membuat semuanya menjadi jelas. Namun mendengar seseorang memiliki kepribadian ganda merupakan hal yang tidak biasa. Memang hal tersebut memang ada, namun jarang didengar. Karena...kepribadian ganda tercipta akibat stress dan kejadian yang memberatkan untuk ditanggung, membuat diri seseorang menciptakan dengan tidak sadar/sadar, kepribadian yang mampu menangani stress dan tekanan tersebut.

"lalu bagaimana dengan Nenek tua itu?"

Pertanyaan itu membuat Shizune terpaku dan melupakan pembicaraan tadi. Dirinya menatap kejendela dan kemudian kepada Naruto

"kita harus cepat Naruto-kun! Sesuatu yang berbahaya akan terjadi jika kita tidak cepat." Penjelasan itu membuat Naruto terdiam dan menatap Shizune dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca.

Dengan anggukan Naruto dan Shizune langsung menuju jendela. Dengan niat mencari seorang wanita pemabuk..

Naruto melebarkan matanya. Dan dengan cepat menangkap tiga kunai yang dilempar kearah Shizune. Dengan insting yang selalu dimilikinya, Naruto kemudian bersiap melempar balik kunai itu ketempatnya berasal, namun ketika melihat siapa yang melemparnya, Naruto membatalkan niatnya. Dan dengan wajah marah, Naruto kemudian berteriak kepada Jiraiya..

"apa maksudnya ini Jiraiya!?"

Namun, melihat kembali kondisi Jiraiya yang sepertinya kesusahan untuk berdiri saja. Mendengar kembali penjelasan yang diucapkan Jiraiya, membuat ekspresi Naruto menjadi mengkerut. Memikirkan segala hal yang terjadi baru-baru ini. Berpikir dengan secara logis. Tidak mungkin Tsunade akan begitu saja melakukan hal ini.. tentu ada sesuatu yang terjadi.

"Shizune..bisakah kau jelaskan ini? Kau sepertinya tahu apa yang terjadi. Dan Pembicaraan dengan Orochimaru mungkin bisa menjadi penjelasannya.."

Dengan menundukkan kepalanya. Shizune kemudian mulai membeberkan semua apa yang terjadi. Membuat Naruto terdiam dan menatap langit, dan menghela nafasnya.

"begitu ya.. aku tidak tahu ini akan serumit ini. Namun, karena ingin menghidupkan kembali orang yang ia sayangi? Aku tidak bisa berkata apa-apa. Jika, hal itu bisa kulakukan, tentu saja aku akan menghidupkan kembali orang yang aku sayangi. Namun...itu adalah tindakan yang bodoh. Sepahit apapun hidup ini, kita tidak boleh ikut campur dengan alam kematian. Membangkitkan orang yang mati, itu sama saja melukai perasaan mereka yang telah pergi dengan damai ke dunia sana. Kematian adalah bagian dari hidup, dan tidak akan bisa dihentikan jika saatnya datang"

"ya...itu bodoh."

"seberapa bodohnya nenek tua itu. Kita harus cepat!"

XXXX

Disebuah kastil didaerah Tanjaku Gai. Terlihat didalam gang lebar, dan panjang..seorang Pria dan wanita. Yang menjaga jarak satu sama lain. Bertemu dengan niat masing-masing. Yang satu dengan niat, agar tangannya bisa disembuhkan dan kembali seperti semula. Dan yang satunya...

"jadi jawabannya?" tanya Orochimaru dengan tidak sabar.

Tsunade hanya terdiam. Membayangkan kembali ingatan yang terpendam. Mengenai masa indah yang dulu pernah ia rasakan. Mengenai kesenangan hati yang selalu ada saat dulu masih sama. Membayangkan kematian adik yang sangat ia cintai. Mengingat kembali, pacarnya yang datang saat ia dalam keadaan sulit..dan juga kematiannya.

Tak terasa, setetes air mata kini jatuh dari matanya.

Dan kemudian semua yang terjadi setelah itu. Apakah ini keputusan yang tepat? Atau tidak. Itulah yang ia pikirkan...

"aku akan menyembuhkan tanganmu. Dengan syarat... kau harus meninggalkan Desa dan tidak ikut campur lagi dengan masalah mereka."

Suatu permintaan yang bodoh. Namun Orochimaru hanya mengangguk. ..

Dengan senyum menyeringai yang sinis. Orochimaru kemudian menggerakkan tangannya yang sangat berat baginya, kepada Tsunade. Tsunade kemudian menyelimuti kedua telapak tangannya dengan energinya.

Namun sebuah Kunai yang mendarat ditengah mereka, membuat Tsunade membatalkan aksinya, dan melihat sang pelaku..

Yang tidak lain adalah Kabuto. Kabuto kemudian mendarat disamping Orochimaru...

Mata Orochimaru melebar, serasa tidak percaya dengan apa yang akan dilakukan oleh Tsunade...

"mengapa? Mengapa kau lakukan ini Tsunade-hime!?- aku sudah mempercayaimu untuk melakukan ini. Aku sudah berniat untuk membangkitkan kedua orang yang engkau sangat sayangi. Dan aku sudah berjanji untuk tidak menyerang Konoha! Namun mengapa kau mengkhianatiku Tsunade!?"

Wajah Orochimaru kini berubah menjadi marah. Siap meletus jika jawaban yang diberikan Tsunade tidak memuaskannya..

"Karena Ular sepertimu seharusnya... Mati!"

Orochimaru dan Kabuto dengan cepat langsung melompat jauh ketika hampir terkena serangan mematikan dari...Naruto. Permukaan tanah dengan radius belasan meter hancur dengan seketika, termasuk dinding gang Istana tersebut. Getaran hebat, bagaikan gempa bumi terasa hingga puluhan meter.

Asap dan debu mengepung tempat asalnya mereka berdua. Dan dua sosok lagi kemudian mengikuti Naruto. Memasang posisi bertarung dengan wajah serius. Dan juga tonton.

Babi imut..yang pada awalnya ingin Naruto panggang.

Meskipun Jiraiya, terlihat tidak berguna dipertarungan tersebut. Akibat obat yang diberikan Tsunade..

"Ah...Naruto-kun. Orang yang sayangnya tidak ingin kutemui...saat ini. Bisakah kau pergi dengan tenang, dan membiarkan orang dewasa melakukan pembicaraannya?"

Lemparan bongkahan batu dari Naruto, menjawab pertanyaan Orochimaru.

"kurasa tidak.."

Dengan mudahnya, Orochimaru dan Kabuto melompat lagi menghindari serangan Naruto.

"mengapa kalian datang? Ini adalah urusanku!"

"benar kata orang; semakin tua umurnya, semakin keras kepalanya."

*BLETAK!*

Sementara itu Orochimaru dan Kabuto kini melesat jauh dari tempat mereka. Dengan tujuan mencari tempat yang lebih lebar dan bebas untuk bertarung. Karena tempat yang tadi terlalu sempit dan banyak orang. Jangan salah paham, ia tidak peduli dengan orang-orang yang berada disekitar pertempuran. Namun, itu hanya karena apa yang akan ia lakukan..

Tentu saja, Naruto dan yang lainnya tidak tinggal diam. Dan langsung mengejar kedua Ninja berbahaya tersebut. Dengan Jiraiya yang berada dibelakang, masih kesusahan untuk berlari.

Naruto memasang posisi bersiap dan melihat dua Ninja berbahaya didepannya. Sementara itu, Jiraiya perlahan namun terlihat, mulai kembali ke kondisi normalnya. Namun, sepertinya itu akan masih menjadi halangan besar. Sedangkan Shizune dan Tsunade masih mempersiapkan entah-apalah. Itu bukan urusan dirinya. Melihat kembali...mata Naruto menyipit untuk melihat lebih jelas kedua tangan Kabuto yang diselimuti chakra.

'sial, informasi mengenai dia belum kami dapat. Dia memang mata-mata yang hebat sampai bisa mengelabuhi elit Konoha selama beberapa tahun. Namun, terlihat dengan jelas dia merupakan Jenis Ninja yang sama dengan Shizune dan Tsunade. Yang fokus hanya dengan teknik pengobatan. Namun, tak jarang spesialis mereka digunakan untuk membunuh. Tsunade dengan kekuatan monster akibat kontrol chakra sempurna, dan Shizune dengan racunnya. Kabuto? Dia elemen yang tidak diketahui...'

Naruto kemudian melihat sekilas kedua tangan Orochimaru yang diperban 'tangannya tidak berfungsi...bagus. Ini akan menjadi tambahan buat kami. Namun Orochimaru bukan menjadi Ninja kelas S jika tidak bisa bertarung hanya dengan tangan. Ular, ya seperti Ular. Gaya bertarungnya mengikuti pergerakan ular. Jika begitu... tubuhnya bisa menjadi senjatanya sendiri.'

"Jiraiya-san, bisakah kau mengikuti pertarungan ini? Dirimu adalah orang yang paling tahu bagaimana gaya Orochimaru bertarung.. " Naruto berharap jawaban yang diberikan memuaskan. Lebih baik bersiap daripada terkena tulah terlebih dahulu. Melihat anggukan percaya Jiraiya, Naruto kemudian melirik Wanita berambut pirang itu.

Tsunade tentu saja akan berguna. Meskipun kecepatan Tsunade tidak terlalu mengaggumkan, namun kekuatannya menutupi itu.

Dirinya menunggu diam dan melihat pertarungan saat Tsunade memutuskan untuk menyerang terlebih dahulu. Diikuti Jiraiya yang langsung menyerang Orochimaru.

Mata Naruto langsung mengeras ketika melihat Tsunade yang memegang tangan kanannya kesakitan akibat serangan Kabuto. Meskipun tidak terlihat terluka, namun...

Dengan Shunshin, Naruto kemudian muncul ditengah Kabuto dan Tsunade, ketika Kabuto hendak kembali menyerang Tsunade yang kehilangan fokus sedikit. Dengan mengeluarkan Tonfanya dari segel yang berada ditangannya, Naruto kemudian mengirim Chakra dan langsung menerjang Kabuto sebelum pria berkacamata itu mengenai Tsunade..

Mengetahui bahaya yang datang dengan cepat. Kabuto langsung melompat jauh menghindar serangan Naruto dan langsung melomat jauh..

"hati-hati dengan kedua tangannya, Nak. " Tsunade berbicara dengan serius sambil menyembuhkan luka yang disebabkan Kabuto " Prinsip jurusnya bagaikan pisau bedah, namun berbeda dengan pisau bedah biasa, dia hanya memotong bagian dalam tanpa melukai kulit luar. Dia sudah memotong salah satu ototku, namun aku masih bisa menyembuhkannya. Dari pembicaraan tadi, aku mengerti struktur jurusnya. Ia merubah chakranya menjadi bentuk pedang kecil yang mengitari telapak tangannya dan bisa memotong otot dalam pada tubuh, jika otot bisa ia potong..maka titik penting yang berada didalam tubuh juga bisa ia potong."

Naruto melihat Kabuto yang sepertinya menelan satu pil "Pil tentara..."

"ya... ia menggunakan Pil itu untuk menambah Chakranya. Seperti yang kau tahu, sebagai Ninja-medis.. terkadang mereka memiliki Kapasitas Chakra yang kecil untuk menyempurnakan jurus mereka. Namun, jika menggunakannya untuk bertarung, maka chakra yang mereka gunakan cepat habis. Dan itulah yang terjadi padanya. Semakin lama ia menahan menggunakan jurus itu, maka semakin cepat ia kehabisan chakra. "

Penjelasan itu membuat Naruto mengangguk. Memikirkan apa yang harus i lakukan.

"hebat-hebat. Memang kau pantas menyandang gelarmu Tsunade-sama." Ujar Kabuto dengan senyum. Serasa tidak takut, rahasia jurusnya terbongkar dari analisis Tsunade.

"waktu bermain sudah habis."

Dengan begitu Naruto langsung melesat dengan kecepatan tinggi. Memotong jarak dengan cepat, menuju Kabuto... Yang menunggu dengan siaga.

Ketika tinggal beberapa meter, Naruto kemudian melompat keudara dan memutar badannya tegak lurus dan mengayunkan Kakinya kebawah dengan sekuat tenaga.

Kabuto yang percaya akan instingnya kemudian menghindari dan melompat kelangit. Dan melihat sekilas kehancuran yang disebabkan oleh tendangan Naruto. Tanah terbelah bagaikan gempa bumi dan terus berlanjut hingga belasan meter.

'kekuatan yang mengerikan. Jika terkena...aku bisa mati' batin Kabuto dengan keringat. 'cih, diriku bukan petarung jarak dekat. Jika lawannya orang seperti Naruto-kun. Jika lawannya Tsunade-sama, maka kecepatan dan kelincahanku yang menang. Namun jika melawan Naruto yang memiliki ketiga aspek itu...mengerikan.'

"kau kehilangan fokus Kabuto.."

Suara itu membuat Kabuto melebarkan matanya. Namun sebelum ia bisa melakukan apa-apa, dirinya sudah melayang jauh menabrak bongkahan batuan besar. Rasa sakit yang amat sangat membuat Kabuto kehilangan fokus beberapa waktu. Dengan menahan rasa sakit, Kabuto kemudian bangkit dan melihat dari kejauhan musuhnya..

Dengan hasil penelitian yang berhasil dilakukannya. Luka-luka fatal yang disebabkan serangan tadi mulai hilang dari tubuhnya dengan cepat. Merasakan regenerasai tubuhnya sudah selesai, Kabuto kemudian mengkedipkan mata..

Dan dirinya bertemu dengan ujung tonfa yang siap menghancurkannya. Dengan menghirup nafas, Kabuto kemudian menghilang. Menggunakan, tanah untuk bersembunyi dan langsung muncul dibelakang Naruto. Bersiap untuk memotong otot yang berada dikedua tangan Naruto..

'satu berhasil, tinggal satu lagi-' namun sebelum pikiran itu berhasil dirinya sudah bertemu dengan Tendangan hebat Naruto..

Pemuda berambut kuning itu mendarat dengan eskpresi masam. Melihat sosok Kabuto yang melayang ke Udara dan mendarat dengan kesusahan. Ia melihat ke anggota tubuhnya yang terluka.

Naruto hanya menahan sakit dan melihat tangan kanannya yang mati rasa. Mencoba menggerakan tangannya, namun negatif hanyalah jawabannya. Dengan wajah masam, Naruto kemudian melihat Kabuto dari jauh yang mulai kembali ke kondisi semula. Dirinya tidak suka akan ini, bertarung dengan satu tangan merupakan hal yang cukup jarang ia lakukan. Apalagi melihat belum ada respon dari regenerasi tubuhnya... itu berarti, otot tangan kanannya baru akan sembuh setelah beberapa menit..

Waktu yang cepat? Tidak. Itu adalah waktu yang cukup lama. Dalam pertarungan..satu detik saja dapat menentukan kemenangan. Dan beberapa menit harus ia tunggu? Itu gawat.

"hm, bagaimana Naruto-kun? Saraf-saraf yang menghubungkan tangan dan otak kendalimu kini terputus... Sayang sekali. Namun, kali ini aku akan mencoba lebih baik lagi dan memotong sesuatu yang membuat dirimu masih...hidup"

Suara bagaiakan ledekan itu dihiraukan Naruto. Dirinya tidak bisa terpancing akan kemarahan sesaat. Ia harus mengosongkan pikirannya, dan memfokuskan pada pertarungan yang berbahaya ini. Meskipun Kabuto bukan Ninja petarung, namun dirinya tahu setidaknya; bahwa Kabuto ini memiliki kekuatan yang setara dengan Jounin kelas atas.

Dirinya kemudian menunggu dan membiarkan Shizune yang melanjutkan pertarungan. Melihat Shizune yang menggunakan senbon dan mengeluarkan asap racun yang berbahaya.

Naruto kemudian menggigit bibir bawahnya dan menaikkan tinggi tangan kirinya. Memproses energi dalam tubuhnya dan membawa keluar kekuatan lain yang ia miliki. Bunyi rantai bergesek kemudian terdengar ditelinga. Rantai chakra hitam kemudian keluar dari belakang Naruto dan permukaan tanah sekelilingnya...

"Shizune, minggir!" mendengar suara tersebut, Shizune juga melakukan apa yang diucapkan Naruto.

Belasan Rantai panjang dengan diameter sebesar kepalan tangan itu kemudian melaju dengan cepat menuju Kabuto. Naruto dengan tatapan tajam kemudian menggerakkan jemarinya membentuk formasi yang diinginkannya..

Rantai-rantai tersebut hanya mengikuti perintah Naruto dan melakukan apa yang ia inginkan. Empat rantai kemudian membentuk jaring yang lebar dan sisanya menjadi kaku lurus dengan sisi tajam pada ujung Rantai..

"rantaimu lamban, Naruto-kun!"

Kabuto, dengan lincah kemudian menghindari setiap serangan rantai tersebut, dan kemudian lompat berputar dan menaiki rantai chakra yang diciptakan Naruto. Dengan keseimbangan sempurna, Kabuto kemudian lari dengan rantai sebagai pijakannya.

'sial! Melepas chakra Rantai ini akan butuh waktu sedikit lama' apapun yang dipikirkan Naruto terpaksa ia hentikkan saat merasakan tendangan Kabuto. Meskipun tidak terasa sakit, namun hal itu cukup untuk membuat Naruto melayang belasan meter.

Kabuto yang melihat Naruto yang sudah tergeser sementara kemudian melirik kearah tuannya...yang sepertinya kesusahan melawan Jiraiya. Ketika melihat kedua Ninja Sannin itu terpisah, Kabuto kemudian muncul disamping Tuannya.

"ini sama sekali tidak membawa hasil.." Desis Orochimaru dengan nada jengkel.

Kabuto hanya diam dan mengangguk. Matanya kemudian melihat semua musuhnya dengan perhitungan. Tuannya pada saat ini dalam kondis yang tidak memungkinkan untuk bertarung dengan tubuh sendir.

"Orochimaru-sama, tolong buka perbannya"

Mendengar permintaan bawahannya, membuat Orochimaru tersenyum sinis. Dengan pergerakan tangan yang susah, akhirnya Orochi bisa membuka perban yang menutup tangan kirinya. Tempat dimana tato pemanggil Ular berada..

Kabuto kemudian dengan cepat menggigit jari jempolnya dan mengusap darah yang mengalir ke tangan Orochimaru.

"Kuchiyose No Jutsu!"

Saat Kabuto menyentuh permukaan tanah, muncul segel pemanggil. Asap tebal memenuhi area disekitar mereka. Asap tersebut kemudian meroket tinggi, dari asap tebal yang memenuhi penglihatan itu terlihat dengan samar-samar dua buah bentuk raksasa yang mulai memenuhi area pertempuran.

Kabuto dan Orochimaru kemudian mulai melompat keatas mahluk yang baru tiba tersebut. Setelah asap itu menghilang, kini hanya tersisa dua buah Ular raksasa yang bisa disebut sebagai Kontrak Hewan.

Kedua Ninja Oto itu kemudian mulai melakukan manuver dengan ular mereka masing-masing. Dengan kecepatan yang hebat untuk seekor ular raksasa, binatang itu kemudian membuka rahangnya yang lebar. Bermaksud untuk menelan musuh yang sudah disebutkan oleh pemanggilnya.

Jiraiya hanya menelan ludah akibat apa yang ia alami sekarang. Tidak ada pilihan lain. Itulah yang berada dipikiran Jiraiya pada saat ini. Dengan cepat, ia kemudian menggigit jarinya.

"Jangan bodoh. Kau sendiri tahu apa yang akan terjadi jika kau mencoba memanggil Katak pada saat ini. Kontrol chakramu pada saat ini berada pada paling bawahnya. Kau hanya akan membuat dirimu menjadi lelucon, Jiraiya-san."

Jiraiya hanya mengeraskan rahangnya. "jadi apa yang harus dilakukan?" dirinya dengan serius kemudian menatap Naruto yang sepertinya sedang bersiap melakukan sesuatu.

"kita tidak bisa gegabah. Menggunakan Jurus pemanggil merupakan keahlianmu. Kau memiliki Kontrak dengan jenis yang khusus untuk bertarung. Sedangkan, Tsunade dari yang aku ketahui; memiliki kontrak dengan Jenis yang khusus untuk menyembuhkan, meskipun bisa untuk dilakukan, namun aku tidak mau mengambil resiko. Kalian berdua memiliki Jabatan yang lebih tinggi dariku. Dan tentunya kalian juga bisa memutuskan apa yang terbaik"

"jadi strategi ya?"

Melihat anggukan yang diberikan Naruto kemudian membuat Jiraiya berhenti dan melompat untuk menghindari kembali serangan ular raksasa itu.

'hm.. meskipun kekuatanku belum kembali pulih, namun ini akan cukup untuk menghentikan Mahluk itu untuk sementara'

Jiraiya kemudian dengan cepat membentuk dua segel tangan dan mempersiapkan chakra yang diperlukan untuk membuat jurusnya tercipta.

"Doton; Yomi Numa!"

Jiraiya langsung meletakkan kedua tangannya ke permukaan tanah. Mengirim chakra yang telah tergabung dengan elemen Tanah miliknya. Dengan cepat, permukaan tanah disekitar Jiraiya kemudian berubah bentuk. Tanah yang seharusnya keras kini berubah menjadi lumpur yang semakin melebar seiring bentuk ular yang terjebak. Tidak lama kemudian, lumpur itu kemudian berubah menjadi Rawa dalam-berbahaya yang terus menghisap Ular yang ditumpangi Orochimaru.

"Meskipun keadaanku begini, namun aku tetap nomor satu!"

Orochimaru yang telah melesat kelangit hanya memberikan tatapan menghina yang seakan tak setuju akan pernyataan Jiraiya.

"kita sudah pernah menyelesaikan ini, Jiraiya. Aku yang selalu terhebat diantara kita bertiga!"

Senyum Orochimaru kemudian berubah menjadi sinis. Dan dengan jurus ularnya, ia kemudian memanjangkan lehernya dan menuju ke Jiraiya. Berencana mematahkan leher Jiraiya dengan rahang lebarnya..yang sudah dimodifikasi.

Jiraiya yang melihat kepala Orochimaru yang semakin mendekat, kemudian membuat segel baru, dan mengibaskan rambutnya. Rambut yang cukup panjang itu kini berubah menjadi keras bagaikan besi berduri dan melindungi Jiraiya layaknya kepompong. Ketika merasakan tidak ada lagi gangguan. Jiraiya melepaskan Jurusnya. Dan melebarkan kepalan tangannya.

'cih, tidak terlalu bagus!'

Bola biru yang masih dalam pembentukkan itu kemudian tercipta.

"Rasengan!"

Sementara itu dengan Naruto.

Dengan Shunshin tingkat keduanya, Naruto kemudian menghindari setiap serangan mematikan yang akan dilakukan oleh Ular yang ditunggangi oleh Kabuto.

Kelenturan ular itu membuat Naruto ragu untuk langsung menaikinya dan menyerang Kabuto. Tidak hanya, memiliki refleks yang bagus, namun ular itu juga memiliki kepekaan yang tajam.

"ada apa Naruto-kun? Kau terlalu takut untuk menghadapiku? Oh, jangan takut... kau akan kubunuh dengan cepat"

Ancaman itu hanya didiamkan Naruto. Dengan berlari kecepatan tinggi, Naruto kemudian menuju Ular tersebut dari depan. Dalam dua detik, Naruto kemudian membuat beberapa segel tangan. Dan menarik nafas yang dalam. Tanpa menyebutkan nama jurusnya, Naruto kemudian menyemburkan semburan api panas yang langsung mengenai permukaan Ular panggilan itu.

Ular raksasa yang disebutkan hanya bisa megeluarkan suara desis kesakitan. Sedangkan, Kabuto, berusaha untuk menenangkan Ular yang mengalami luka bakar hebat itu.

Namun belum selesai aksinya. Naruto sudah berada dilangit. Melompat tinggi dan melesat dengan Tangan yang memegang Tonfa...

Dengan menggunakan kekuatan monsternya, Naruto kemudian menghantam Ular besar itu dari atas. Tekanan besar yang disebabkan kekuatannya membuat permukaan tanah disekitar ular besar itu hancur kedalam. Darah ular yang menciprat kemana-mana. Tidak lama berselang setelah itu, Ular itu kemudian menghilang dengan asap. Tidak salah lagi, kembali ke Dunia para Hewan pemanggil.

Naruto kemudian berjalan dari permukaan tanah yang hancur akibat kekuatannya. Matanya mencari sesaat. Mencari keberadaan musuhnya. Namun tidak membawakan hasil...

Dengan menarik nafas yang dalam, Naruto kemudian menutup matanya. Memfokuskan semua indranya untuk mencari keberadaan Kabuto. Dalam radius 1 km , permukaan tanah dan atasnya kini bisa ia rasakan. Merasakan kembali, Naruto kemudian mencari energi yang spesifik. Mencari chakra yang telah ia ketahui..

Mata Naruto membuka dengan lebar, Tonfanya diputar kearah belakang, dan langsung memberikan seluruh kekuatannya.

Serangan tersebut tepat mengenai sasarannya. Ujung tonfa yang kini tersambung dengan dada Kabuto.

Gelombang kejut tercipta akibat hantaman itu. Terdengar suara sesuatu yang patah dari Dada Kabuto. Darah keluar dari mulutnya...

"kau tahu? Tadinya kukira kau orang yang hebat. Seseorang yang mungkin menyamai Jounin seperti Kakashi dan diriku... Namun setelah aku bertarung dengan orang menyedihkan sepertimu.." Naruto kemudian memutar tonfanya, membuat dada Kabuto juga terluka mengikuti pusaran. Rasa sakit yang amat sangat, membuat dirinya tidak bisa membalas perkataan Naruto.

Anbu itu kemudian menekan sesuatu dipegangan Tonfanya. Dari sekeliling Tonfa tersebut kemudian keluar Duri-duri besi yang tajam. "..kurasa itu hanya kebohongan besar. Kau hanya sampah yang dipungut orang. Mengikuti permintaan Tuanmu bagaikan budak-seks.."

Naruto dengan menggunakan tangan yang satunya, kemudian memukul perut Kabuto dan membuatnya terbang jauh hingga menabrak bongkahan dari gunung kecil. Retakan tercipta disekitar tubuh Kabuto.

Namun Naruto masih belum selesai. Dengan Shunsin, ia kemudian muncul didepan Kabuto. Tatapan dingin tanpa emosi menjadi ekspresinya pada saat ini "Kau tahu? Meskipun kau termasuk Ninja Konoha, namun jumlah kejahatan yang telah kau lakukan terlalu banyak untuk dihitung. Seharusnya ini adalah tugas divisi Anbu lain. Namun kau juga tahu bukan...hukuman bagi mereka yang berkhianat? "

Naruto kemudian membawa telapak tangannya. Chakra kemudian mulai terlihat dan membentuk bulatan. Angin disekitar Naruto pun mulai berubah tempo, bebatuan kecil mulai melayang disekitarnya. Bagaikan pusaran kekuatan yang semakin lama semakin memberikan tekanan. Energi kecil itu mulai menunjukkan bentuknya, warna kehitaman dengan cincin-cincin yang mengitari bola kecil tersebut. Bola energi itu tidak begitu besar, tidak terlalu menakutkan. Hanya sebesar kepalan Onigiri.

Namun pancaran kekuatan yang diberikan tentu saja membuat orang berkeringat dingin.

Tsunade dan Shizune yang berdiri terdiam, hanya menatap kekuatan yang dipancarkan Naruto...

Sedangkan Jiraiya dari kejauhan juga melihat dengan tatapan terkejut. Bukan terkejut karena Naruto bisa menggunakan Rasengan, namun Rasengan apa yang dilihatnya sekarang..

'tidak, tidak! Aku tidak akan kalah! Aku tidak akan mati disini! Masih banyak yang harus kulakukan. Masih banyak hal yang harus kucapai! Orochimaru-sama, selamatkan aku!' Kabuto mencoba menggerakkan tubuhnya, namun tidak membawakan hasil. Regenerasi tubuhnya masih bekerja, namun memakan waktu yang lama. Matanya mencoba mencari keberadaan tuannya, namun...ia tidak menemukannya. Matanya kini berbalik kepada bola hitam itu..

Satu hal yang masih ia sesalkan. Satu pertanyaan yang masih belum terjawab mengenai dirinya..

"Rasenringu.."

Hal terakhir yang dilihatnya sebelum cahaya jurus Naruto mengenainya adalah wajah seorang wanita yang pernah menyelamatkannya dan memberikannya jalan hidup saat dahulu. Setetes air mata jatuh dari pipinya. Kabuto menutup matanya, dan...tersenyum sedih

'Nono...

...Ibu..'

*BLLLLAAAARRRRR!*


Hoam~ cape... jujur aja, ni chapter saya kerjakan dalam waktu 8 jam. Panjangnya sama kayak chapter kemaren. Jadi wajar aja jika ada kesalahan dan semacamnya.

Menulis itu gampang, bahkan jika dikasih waktu satu hari...saya bisa kerjakan hingga 30000 words. Namun, menulis itu perlu apa? yap, Imajinasi. Yang sayangnya punya gw kadang error. Ni chapter saya tulis pas lagi ada bayangannya... Author macam itulah saya.

jadi, sebagai obat buat rasa lelah dan jerih payah saya..

maukah anda me-review? katakan apa yang ingin anda katakan. Apa sih lelahnya mengetik beberapa kata untuk mereview chapter ini? sedangkan saya...menulis hingga sakit mata selama beberapa jam lebih...

Bocoran update; Ninja DxD...bulan Februari, ditanggal muda. Soalnya sudah punya bayangan apa yang mau saya lakukan dengan selanjutnya. Seneng?

Review here!

VVVVVVVV

VVVVVV

VVVV

VVV

VV

V