Disclaimer : I don't own Bleach, Always...
.
.
Gomen, maaf sekali karena:
Sangat lambat waktu untuk saya bisa update
Semua penurunan drastis dalam gaya penulisan, mood, grammar, typo(s), etc
Masa hiatus saya sungguh mengerikan...
Beribu terima kasih karena terus memberi dukungan pada saya. Sekali lagi saya masih ingin terus berkreatifitas, sehingga fiction drama ini bergerak ke arah suspense, seperti yang pernah saya sampaikan sebelumnya bahwa akhirnya fiction ini memasuki fase sesungguhnya dari kehidupan seorang Rukia.
Gomen, kalau pergerakan plot ini membawa ketidaknyamanan pada para readers.
Selamat membaca & jangan lupa untuk memberi review ^_^
.
.
.
Tittle : You
By : Nakki Desinta
Cast : Ichigo X Rukia X Kaien
.
.
.
Chapter 11
.
.
Ichigo sekali lagi terbatuk, membuat Renji meraih bahunya. "Kau tidak apa-apa, Ichigo?" Renji mendudukkan Ichigo, menyandarkan Ichigo dibahunya untuk menopang agar pria berambut orange itu tetap sadar sepenuhnya.
"Rukia..." bisik Ichigo yang berusaha berdiri, tapi kembali jatuh karena pandangannya tiba-tiba saja buram. Untungnya Renji tetap memegangi bahu Ichigo kuat-kuat, sehingga mencegah mahasiswa itu jatuh ke tanah.
"Kita ke obati lukamu," ucap Renji yang langsung mengalungkan tangan Ichigo di bahunya, berjalan menuju ruang kesehatan.
"Kami dari kepolisian Karakura, kami..."
"Mereka baru saja pergi, Pak!" potong Keigo menggebu-gebu, dia memotong ucapan dua orang anggota polisi bertubuh tinggi tegap itu, di bagian kanan seragam mereka tertera tulisan Kepolisian Karakura.
Kaien melihat Keigo mengalihkan perhatian polisi, dan kehadiran Kira ikut membantu memberi keterangan pada polisi, dengan dukungan petugas tata usaha yang memberi tahu ciri-ciri para pelaku penculikan. Perhatiannya kembali pada Renji dan Ichigo yang berjalan lambat meninggalkan lobby. Dia berlari mengejar keduanya, langsung meraih sisi tubuh Ichigo yang bebas, mengalungkan sebelah lagi tangan Ichigo di bahunya sehingga mereka bisa lebih cepat mencapai ruang kesehatan.
Hatinya berdegup hebat bercampur sakit yang menyerang hati tiada henti. Kepalanya terus berdenyut, darahnya berdesir hebat saat mengingat bagaimana wajah Rukia sebelum didorong masuk ke mobil, menghilang dari pandangannya. Rukia dibawa... Malaikat kecil nan polos miliknya dibawa segerombolan penjahat.
"Kaien..." panggil Ichigo yang kembali terbatuk dan memuntahkan darah. Ichigo tidak perlu menunggu sang kakak menjawab, dan dia kembali melanjutkan, "Orang itu bukan orang suruhan ayahnya Rukia. Rukia dibawa penjahat lain bernama Grimmjow, pria biru itu terlihat seperti mafia, dan aku yakin dia pasti masih disuruh orang lain. Dia hanya pengeksekusi suruhan."
"Mereka pasti mafia, mereka bahkan membawa-bawa senapan di tempat umum," sahut Renji, menggantikan Kaien yang mendadak kehilangan pita suaranya. Tapi cowok berambut merah itu meneliti adik kakak yang terlihat begitu terpukul melihat anak perempuan -yang baru ia lihat hari ini- diculik oleh sekomplotan penjahat berdasi.
"Sebenarnya Rukia itu siapa kalian sih? Kata Tatsuki saudara jauh, tapi aku tidak pernah dengar..." gerutu Renji yang membuka pintu ruang kesehatan. Dia mendudukkan Ichigo di ranjang, sementara petugas kesehatan sekolah tampak agak panik melihat luka Ichigo yang terletak di mana-mana.
"Baringkan saja," ucap perempuan bersurai ungu itu. Rambutnya model potongan pendek, namun wajah lembutnya sangat bertolak belakang dengan model potongan rambut yang dipilih pemiliknya.
Ichigo pasrah saja saat Renji mendorong bahunya dengan keras, dan agak memaksa agar ia terbaring nyaman. Cowok bermata hazel itu sudah tidak punya banyak tenaga lagi, apalagi tenaga untuk melawan Renji yang jauh lebih hebat dari Tatsuki yang sudah memegang sabuk hitam taekwondo.
"Kalian belum jawab pertanyaanku!" tuntut Renji yang melihat sepasang adik kakak itu sibuk memperhatikan tangan petugas kesehatan. Perempuan muda bernama Isane itu terlihat begitu telaten membersihkan luka memar Ichigo, lalu melanjutkan dengan mengoleskan salep serta antiseptic.
"Hei, Kepala Nanas!" Ichigo membentak Renji keras-keras, wajah geram dan galaknya sudah kembali. "Kau bisa lihat situasi tidak sih? Kau dan adikmu itu sama saja, tahu nggak? Bawel!" protes Ichigo.
Renji yang hampir menyerapah lagi langsung menutup rapat mulutnya, tidak akan bertanya lagi kalau keadaan Ichigo belum tenang. Terlebih lagi Kaien seperti sudah di ambang batas, karena pria berhati lembut itu sepertinya siap meneteskan air matanya banyak-banyak.
"Kita harus lapor polisi, Kaien. Ini kasus penculikan," kata Ichigo yang kembali melirik kakaknya yang masih termenung di sudut ranjang ruang kesehatan, pandangannya kosong melihat lantai ruang kesehatan yang berwarna putih pola kotak-kotak.
"Bagaimana kalau ayah Rukia datang kepada kita dan menuntut karena kita sudah membiarkan Rukia diculik?" bisik Kaien yang semakin terpuruk.
"Heh, Melambai!" Ichigo sampai melompat dari ranjangnya agar bisa dia menarik kerah baju wasit Kaien, matanya melebar murka, "Aku tidak peduli apa kata orang itu, yang terpenting sekarang mencari tahu dimana Rukia. Dia diculik orang serba biru bernama Grimmjow, dan sekarang kau masih mengkhawatirkan bagaimana ayahnya Rukia? Kau gila?!" sembur Ichigo yang tidak segan-segan memperserat cengkramannya di kerah baju kakaknya. Wajahnya menunjukkan kemarahan yang amat sangat, namun Kaien juga bisa melihat dengan jelas cemas dan ketidaktenangan di sepasang mata berwarna hazel itu. Kaien menyayangi adiknya yang terkadang terlalu kasar, karena itu pula dia bisa mengerti bagaimana suasana hati Ichigo. Sebenarnya Ichigo tidak jauh beda dengannya, Kaien sadar sekali tentang hal itu. Pikiran Kaien berkelana jauh-jauh, ia tidak bisa mengenyahkan pikiran buruk yang membayangkan Rukia tengah disiksa para penjahat itu, bahkan Rukia bisa saja dilecehkan dan...
"Argh! Aku tidak ingin membayangkannya, aku takut..." Kaien berteriak sendiri sambil menggelengkan kepala kuat-kuat, matanya bahkan berair karena otaknya sudah menerawang ke khayalan tingkat tinggi.
"Kenapa dia?" tanya Renji yang balik jadi bingung.
"Paling juga ngebayangin yang aneh-aneh!" celetuk Ichigo tidak peduli, dan melepas kakaknya yang masih menunjukkan wajah ngeri yang sama.
"Memangnya ayahnya Rukia kenapa? Kok kalian jadi ketakutan begini sih?" kejar Renji yang menatap adik kakak itu bergantian. Dia hanya merasa aneh karena adik kakak yang biasanya memiliki hidup paling tenang sedunia (yah sekalipun sering berdebat dan beda pendapat) sekarang terlihat cemas sekali dan mendekati takut yang begitu jelas.
Kaien melirik Ichigo yang tengah diberikan antiseptik, mencoba mencari kode yang mungkin bisa menyatukan mereka berdua dalam menjawab pertanyaan Renji. Si Kepala Nanas selalu ingin tahu segala hal, sama halnya dengan adiknya yang berambut bondol, namun Kaien juga tidak ingin terkesan sedang menutupi, karena bisa-bisa Renji justru mengorek tiada henti. Tapi yang Kaien lirik malah terpejam sambil meringis kesakitan karena lukanya.
"Kok diam?" tanya Renji lagi, dan Kaien menghela napas berat seraya memijat keningnya.
"Ini bukan masalah ayahnya Rukia juga, tapi karena kami sudah berjanji untuk menjaga anak itu. Apalagi Rukia kan anak perempuan. Ayah mana yang tidak akan marah begitu tahu anaknya diculik mafia ketika dititipkan ke kerabatnya?" jawab Kaien yang memasang tampang bersalah ala drama Korea.
Renji manggut-manggut cepat, menerima 100% penjelasan Kaien yang sangat masuk akal baginya, namun di sisi lain Kaien justru tersenyum senang dalam hati, tidak percaya kalau Renji masih memiliki pola pikir sesederhana ini. Bahkan tidak bertanya lebih jauh setelah diberi penjelasan seperti itu.
Pintu ruang kesehatan diketuk tiga kali, dan wajah cemas Hinamori muncul dari celah pintu berwarna abu-abu itu, dia mencari keberadaan Ichigo yang tertutupi badan besar Renji dan Kaien, bahkan masih harus ditambah petugas kesehatan yang lumayan tinggi.
"Ada apa Hinamori?" tanya Kaien yang beranjak mendekati sosok mungil adik Toushiro itu.
Hinamori memberanikan diri melangkah masuk, matanya melirik Ichigo dengan ekor matanya, terlihat seperti akan menangis. Jujur saja dia sedih sekali melihat Ichigo yang disukainya jadi babak belur begini.
"Dia baik-baik saja, seminggu lagi juga sembuh," kata Kaien yang mengerti sekali kemana arah mata Hinamori menatap.
"Emmm... Begini, Pak. Ada... Kepala Kepolisian Karakura, ingin bertanya mengenai kejadian tadi."
Deg!
Jantung Kaien seperti akan berhenti berdetak, dia sudah mengira ini akan jadi urusan yang panjang. Penembakan di sekolah, sekalipun tidak ada korban jiwa, tetap saja mereka semua menyaksikan Rukia diboyong anggota mafia bersenjata api. Kaien kembali memikirkan reaksi ayahnya Rukia, akan seperti apa pria itu akan mengamuk nantinya.
"Keigo coba menjelaskan, tapi mereka bilang harus bertanya langsung pada orang yang melihat kejadian sejak awal. Mereka butuh detailnya, begitu mereka bilang, Pak!" lanjut Hinamori.
Petugas kesehatan tinggi itu menjauh dari Ichigo yang ternyata sudah selesai ditangani, perban putih menutupi sebagian besar pelipis Ichigo, dan sudut rahangnya berwarna ungu.
"Ichigo, Kepala Kepolisian..."
"Aku sudah dengar, Melambai!" potong Ichigo garang, namun Kaien tetap kalem, dia malah tersenyum pada Hinamori.
"Terima kasih atas infonya, Hinamori. Kami akan ke sana secepatnya," lanjut Kaien lembut.
"Sama-sama, Pak!" Hinamori belum berbalik juga, masih memerhatikan Ichigo yang beranjak dari ranjang sambil merapikan bajunya.
Kaien melihat Hinamori yang memandang Ichigo agak aneh, dan dia bisa melihat dengan jelas kecemasan itu bukan cemas biasa, karena itu ia mendekati Hinamori dan membungkuk untuk bisa berbisik di telinga siswi berambut cepol itu. "Hinamori... Ichigo dalam mood jelek. Sebaiknya jangan dekat-dekat, dia bisa makan orang kalau lagi marah, tidak seperti aku yang justru bersih-bersih kalau lagi kesal," bisik Kaien penuh percaya diri.
"Bicara apa kau, Melambai? Masih bisa menjelek-jelekkan orang dan memuji diri sendiri? Kau pikir karena terluka begini, aku tidak bisa menghajarmu?" seloroh Ichigo penuh dendam, matanya memicing seram ke arah Kaien.
"Eh, ternyata dengar..." Kaien tersenyum malu-malu, membuat Renji dan Ichigo hampir mengeluarkan semua isi perut mereka.
"Oh, tidak! Kaien kembali menjadi Alien!" keluh Renji sambil menepuk dahinya. "Sudah sana, Hinamori! Lebih baik kau pergi sebelum ketularan tidak normal dari adik kakak yang nggak jelas ini!" lanjut Renji yang menggelengkan kepala makin parah.
"Tahu! Tidak salah namamu, Kaien. Kependekan dari Kepala Alien!" sahut Ichigo super kejam, dan kata-kata ini membuat Kaien pundung ke pojokan, dia bahkan sampai pasang tampang mengenaskan seperti korban busung lapar saja.
"Kau memang adik yang tega, Ichigo. Kau tahu betapa aku menyayangimu? Aku tidak menyangka kau akan sebegini teganya menghinaku, seharusnya kau ingat aku ini kakakmu, kakakmu tersayang yang selal-"
"STOP!"
Kaien mau tidak mau membungkam mulutnya karena Ichigo tiba-tiba saja membekap mulutnya sampai dia kehilangan waktu untuk menarik napas. Ichigo kelihatan sekali jijik tingkat dewa mendapati sikap lebay Kaien yang dibuat-buat, bahkan wajah sakit hatinya terlihat sangat meyakinkan sekalipun dia hanya bersandiwara. Ichigo menyeret Kaien tanpa menurunkan tangannya sedikitpun, mereka melangkah mengikuti Hinamori membimbing mereka.
Renji menggelengkan kepala tiada henti melihat Kaien menggeliat bahkan terlihat memberontak dari bekapan Ichigo, tapi sepertinya Ichigo tidak ingin meresikokan telinganya untuk mendengar kicauan kakaknya lagi.
"Di sini?" tanya Renji, mengganti Ichigo yang hendak bertanya tapi tertahan karena Kaien mencengkram tangannya agar segera turun.
"Jangan pedulikan mereka. Jawab saja pertanyaanku, Hinamori yang cantik!" seloroh Renji sambil melirik tidak antusias pada dua bersaudara yang masih saja berkutat satu sama lain.
"Ya, Kepala Kepolisian menunggu di ruang kepala sekolah."
"Terima kasih, kau bisa kembali ke kelas. Kau pasti tidak bisa menahan diri lebih lama melihat mereka sebentar lagi akan menggantikan atlet gulat tingkat internasional!" celetuk Renji seraya mendorong bahu mungil Hinamori menjauh dari pintu ruang kepala sekolah.
"Kalian berhenti, atau aku ikat kalian berdua ke tiang bendera?" ancam Renji yang jelas-jelas merenggangkan jemarinya yang berbunyi 'gretek' dalam sekali tekan.
Kaien merinding habis-habisan, bahkan dia sampai berjengit. Dia tidak berani melawan Renji, sekalipun ia lebih senior dalam bidang umur, tapi Renji yang notabene adalah atlet taekwondo sama sekali bukan tandingannya. Sama halnya dengan Ichigo yang tidak bisa banyak komentar, dia pun melepas kakaknya, merapikan bajunya yang berantakan sebelum mengetuk pintu ruang kepala sekolah dan masuk setelah mendengar sebuah suara berat mempersilahkan mereka masuk.
Suasana ruang kepala sekolah masih seperti biasanya. Ruangan yang tidak terlalu besar itu berisi dua buah lemari kaca besar yang memamerkan penghargaan tingkat tinggi yang diperoleh sekolah. Foto-foto kepala sekolah sebelumnya, namun aura yang terasa begitu berbeda. Kaien sendiri yang merupakan guru, dan sudah terbiasa keluar masuk ruangan sakral ini tidak pernah sekalipun merasakan aura seperti ini sebelumnya. Ruangan yang dipasang AC ukuran besar itu memang biasanya dingin, tapi tidak pernah sedingin ini, bahkan udara yang menguar terasa begitu pekat dan mencekik tenggorokan.
Mata kelabu Kaien memindai ke seisi ruangan, dan berhubung dia adalah pria yang punya perasaan paling sensitif dalam ruangan tersebut, dia langsung bisa mendapati sumber semua perbedaan itu. Bahkan saat ia melirik Ichigo, mereka bertukar pandangan yang sama, mereka mengerti dengan baik isi kepala satu sama lain, hingga keduanya langsung menjatuhkan pandangan pada seseorang yang duduk di kursi hadap seberang kepala sekolah.
Sosok itu duduk dengan tegak, bahkan menyerupai sikap siaga layaknya tentara. Rambutnya panjang sebahu, hitam legam dengan beberapa helai jatuh ke depan, sehingga adik kakak paling akur sedunia itu menyimpulkan dalam benak masing-masing bahwa bentuk rambut yang jatuh ke wajah itu mirip sekali dengan Rukia.
"Kau memikirkan apa?" tanya Ichigo seketika.
"Seperti yang kau pikirkan!" jawab Kaien cepat, sementara Renji mengerutkan alis tidak mengerti.
"Bahkan ekspresi kakunya begitu mirip!" celetuk Ichigo.
"Auranya juga," bisik Kaien seraya mengangguk dalam.
"Silahkan duduk Renji, Pak Kaien dan Ichigo. Ini Kuchiki Byakuya, Kepala Kepolisian Karakura!" ucap kepala sekolah SMA Karakura.
"Pak Kokuto, Pak Kepala Kepolisian. Saya pikir Ichigo masih butuh waktu isitrahat. Kepalanya masih terlalu pusing untuk investigasi, iya kan?" Kaien memberi isyarat pada Ichigo lewat kedipan mata yang terlalu terang-terangan. Pak Kepala sekolah yang hanya memiliki satu fungsi mata yang sempurna saja bisa melihat trik kekanakan seperti ini.
Kepala Kepolisian berwajah kaku itu berdehem pelan dan beranjak dari kursi, bahkan saat bangun dia sempat merapikan jasnya namun dengan sedikit gerakan ekstra sehingga senapan di sabuk yang terpasang di pinggangnya ikut mengintip pandangan Kaien dan Ichigo. Adik kakak itu menelan ludah cepat, merasa pilihan cara mereka tidak tepat untuk menghindari investigasi seperti ini. Kaien semakin terpojok, jujur saja dia melakukan semua ini untuk menghindari terbongkarnya kebohongan mereka yang mengaku bahwa Rukia adalah kerabat jauh, padahal mereka sendiri tidak mengetahi asal muasal Rukia secara detail.
"Baiklah. Kalau begitu aku mengundang kalian berdua ke kantorku besok siang. Silahkan!" Pak Kepala Kepolisian tersebut menyodorkan selembar kartu nama kepada Ichigo, matanya memicing meneliti Ichigo, melihat lebam-lebam yang membekas di wajah sempurna Ichigo.
Kaien merebut kartu nama dari tangan Ichigo dan tidak sadar membaca sebaris nama yang tertera di kertas putih itu keras-keras, "Jendral Kuchiki Byakuya, Kepala Kepolisian Karakura."
"Benar sekali!" jawab pria bertubuh tinggi itu sambil mengangguk.
"Tapi... kenapa kasus ini harus Anda sendiri yang turun tangan, Pak?" Renji yang sama sekali tidak diajak bicara malah mengajukan diri terlibat dalam diskusi. Pria berambut merah itu mengendikkan bahu tanpa rasa bersalah saat Kaien dan Ichigo melotot pada sikap tidak sopannya.
"Kasus mafia dan sejenisnya bukanlah kasus sederhana, apalagi ini melibatkan siswi yang sepertinya jauh sekali dari target penculikan umum. Semua akan jelas jika kalian memberikan informasi yang kami butuhkan!" tandas kepala kepolisian itu tegas, dan pria itu melangkah pergi, meninggalkan aura intimidasi yang begitu kental.
"Gila! Orang itu terlihat mengerikan sekali. Sepertinya tidak jauh beda umurnya denganmu, Kaien!" ucap Renji yang mendekat dan ikut melongok kartu nama yang masih dipegang Kaien.
"Jangan salah! Pak Kuchiki itu sudah berumur 4o tahun!" jawab Pak Kokuto dengan nada agak tidak suka.
Baik Renji, maupun Ichigo, terlebih lagi Kaien, hampir jatuh pingsan di lantai. Mereka tidak percaya bahwa pria yang berpangkat Jendral itu sudah berumur 40 tahun, karena terlihat sangat muda, bahkan tebakan Renji mental mentah-mentah.
"Bukan umur orang yang harus kalian cemaskan sekarang. Interograsi besok pasti tidaklah mudah. Iya kan?" sambung Pak Kokuto cepat.
"Benar juga..." gumam Kaien sambil manggut-manggut cepat.
Adik kakak itu saling bertukar pandang, mereka mengerti bahwa mereka harus menyiapkan diri untuk esok hari. Seketika saja Ichigo merasa sakit dari lukanya bertambah parah, nyeri di ulu hatinya bahkan mendominasi semua rasa sakitnya. Benaknya terbang membayangkan wajah ketakutan Rukia yang terakhir ia lihat sebelum dibawa paksa pria berwarna biru itu. Dia tidak ingin membayangkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi pada Rukia, tapi otaknya menolak berhenti berpikir macam-macam.
"Dia akan baik-baik saja, dia anak perempuan yang kuat! Kita tahu itu. Sekarang kita pulang, istirahat dulu, OK? Kau terlihat berantakan sekali," desis Kaien seraya mengelus bahu adiknya penuh sayang.
"Kaien ada benarnya," tambah Renji simpati.
"Ya, lebih baik kau istirahat dulu, Ichigo," sambung Pak Kokuto prihatin.
"Kalau begitu kami permisi, Pak!"
Mereka bertiga melangkah pergi meninggalkan ruang kepala sekolah, berjalan lunglai menuju gerbang sekolah. Kaki mereka sempat tertahan, dan melihat jalan kosong yang berdebu akibat hembusan angin siang yang membawa kotoran jalan bersamanya.
"Rukia..." desis kedua adik kakak itu lirih.
.
.
.
.
Rukia membuka matanya. Tidur panjang yang begitu menyiksanya telah membuatnya terbaring lebih dari dua puluh empat jam dengan terpaksa. Lelah minta ampun menyerang sekujur tubuhnya saat ia mencoba menggerakkan tubuhnya. Dia mendapati tubuhnya kaku, seluruh sendi meneriakkan sakit tak berkesudahan. Mata biru gelapnya melihat sekeliling, mendapati ruangan berwarna serba putih di sekelilingnya, bahkan tempat tidur sampai selimut yang membalut tubuhnya juga berwarna putih. Dia sadar sepenuhnya ini bukanlah rumah sakit, bukan pula kamar yang ia tempati di rumah Kaien dan Ichigo, bukan pula kamar menyeramkan di rumah ayah. Ini tempat asing yang tidak ia kenal.
Dia ingat bahwa ia dibawa seseorang ke mobil dan di dalam mobil ia berontak habis-habisan, dan seseorang berambut biru dengan kacamata hitam membungkamnya dengan menampar pipirnya kuat-kuat. Rukia ingat sekali panas dan sakit yang menyerang kepalanya hingga pandangannya kabur, dan ditengah rasa pusing yang menderanya, sebuah jarum menembus pergelangan tangannya. Pria berambut biru itu menyuntikkan sesuatu ke pembuluh darahnya dan tak ayal lagi Rukia kehilangan seluruh kesadarannya hingga ia baru terbangun di tempat ini.
Rukia beranjak dari tempat tidur, mencari letak kamar mandi karena desakan untuk buang air membuatnya tidak bisa menahan diri lagi. Dia mendapati sebuah pintu dengan bahan PVC, persis seperti kamar mandi di rumah Kaien dan Ichigo, segera ia meraih pegangan dan membukanya, mendapati ruangan lain yang memang merupakan kamar mandi.
Lima menit kemudian Rukia keluar dari kamar mandi, sudah menyadarkan diri sepenuhnya, namun betapa kagetnya ia saat mendapati seseorang berambut biru yang tidak lain adalah orang yang telah menculiknya, duduk di tempat tidur dengan santainya. Rukia tetap tenang dan berjalan dua langkah mendekat, namun tidak mengambil jarak lebih, dia waspada sepenuhnya. Dia tidak ingin orang ini kembali memberinya obat yang ia tidak ketahui. Bahkan hingga detik ini Rukia tidak mengetahui alasan orang ini menculiknya.
"Kau anak yang kuat! Biasanya orang normal akan tertidur dua hari setelah aku berikan obat sekeras itu!" ucap orang itu dengan seringai lebar, membuat Rukia makin takut.
"Ini baju gantimu. Bersiaplah karena bosku akan menemuimu. Kau tidak akan tahu betapa ia suka melihat kau menderita setelah ini. Pesta hari ini pasti akan sangat menyenangkan!"
Orang itu beranjak dari sisi tempat tidur Rukia, melangkah tegap menuju pintu.
"Tunggu Pak!" seru Rukia yang memberanikan diri bicara sekalipun sekujur tubuhnya meneriakkan ketakutan yang amat sangat. Pria berjas hitam itu membalikkan badan, menghadap Rukia dan membuka kacamatanya, membiarkan Rukia melihat mata pria itu memicing tajam namun tetap menyeringai lebar.
"Apakah ini semua berhubungan dengan ayah saya dan ... Paris...?" cicit Rukia , karena ia sendiri merasa takut untuk menerima kenyataan jika dugaannya benar.
"Kau cukup cerdas! Kau tahu ayahmu memiliki banyak musuh, tapi kau bisa dengan cepat menyimpulkan!" seringai di wajah pria itu semakin lebar, lalu ia melanjutkan, "Seharusnya kau sudah bisa menduga apa yang akan terjadi padamu. Iya, kan?"
Sekujur tubuh Rukia gemetar, dadanya berdetak aneh karena kengerian yang menyelubungi seluruh akal sehatnya. Bayangan bahwa dirinya akan menjadi salah satu korban yang ada dalam berita, terpotong-potong dengan sadis dan dibuang dipinggir jalan seperti hewan liar yang terlantar.
"Tapi tidak akan secepat itu prosesnya, Anak Manis! Kami harus memastikan ayahmu tersiksa hingga mengemis agar kami berhenti menyiksamu!" pria itu tertawa keras dan meninggalkan Rukia yang perlahan terjatuh lemas di lantai. Matanya meneteskan air mata dengan cepat, dia terlalu takut, dia tidak bisa berpegang atau berlindung pada siapapun, dia akan benar-benar berakhir seperti ini. Tidak ada lagi yang bisa melindunginya, tidak ada lagi Ichigo, Kaien, Kakak Ulquiorra, dan dia sendiri tidak berani berharap ayahnya akan benar-benar datang menyelamatkan.
.
.
.
.
"Kau siap?" tanya Kaien seraya merapikan pakaiannya, terlihat sangat gugup, berbanding 180 derajat dari Ichigo yang justru ia cemaskan. Ichigo berwajah tenang dan terkesan dingin.
"Silahkan, Pak Kepala sudah menunggu kalian!" ucap seorang pria dengan pakaian rapi kepolisian, menunjukkan jalan kepada mereka.
Ya, mereka sedang berada di kantor kepolisian, tempat Kepala Kepolisian Karakura mengundang mereka. Kedua adik kakak itu sudah diskusi panjang lebar semalam, dan sepakat bahwa mereka akan bicara jujur demi kebaikan semuanya. Mereka tidak akan menutupi, termasuk tentang ayah Rukia yang terkesan aneh itu, mereka akan memberikan keterangan sedetail mungkin demi keselamatan Rukia. Semua ini berhubungan dengan ayah dari anak perempuan itu, karena penculik bernama Grimmjow itu sendiri mengakui bahwa ini adalah urusan mereka dengan orang tua Rukia.
Mereka memasuki ruangan besar yang justru tidak terkesan seperti ruang interograsi tahanan dalam bayangan mereka. Ruang kepala kepolisian Karakura ini justru seperti ruang keluarga di rumah, dengan susunan sofa dan meja yang nyaman, ditambah mini pantry untuk menyeduh kopi dan teh, dua lemari besar yang setengahnya berisi buku-buku tebal, hanya bedanya ada meja kerja dan kursi hadap.
"Selamat siang Pak Kepala, tamu Anda sudah datang!"
Kuchiki Byakuya yang tengah berdiri membelakangi mereka sontak berbalik, tidak tersenyum ataupun menyapa mereka dengan ramah, hanya mengangkat tangan memberi kode agar mereka duduk di sofa yang ia tunjuk. Pria itu menutup buku yang tengah ia baca, dan meletakkannya di rak dengan sangat hati-hati.
"Siapkan alatmu, Syazel!" ucap Kuchiki Byakuya seraya duduk di sofa seberang Kaien dan Ichigo.
Pria yang tadi mengantarkan mereka, yang tidak lain adalah orang bernama Syazel y yang dipanggil Kuchiki Byakuya. Pria berkacamata itu ikut duduk di sofa, namun lebih dekat pada Kaien dan Ichigo. Pria berambut pink menyala itu mengeluarkan sebuah alat kecil yang kesemuanya tahu bahwa itu adalah perekam, dan i-pad dari sakutnya, bersiap untuk mendokumentasikan semua pembicaraan mereka hari ini.
"Kita mulai saja semuanya. Bisa kalian ceritakan secara detail mengenai kejadian kemarin?"
Ichigo menoleh pada Kaien, dan Kaien mengangguk dalam. Ichigo pun menceritakan semuanya, berawal dari mereka yang berkumpul di lapangan untuk bersiap kompetisi, hingga seorang petugas tata usaha sekolah datang dan mengabarkan bahwa ada tamu untuk Rukia, dan berakhir pada tembakan bebas di udara serta Rukia yang dibawa pergi mobil sedan berwarna hitam.
"Anak perempuan yang bernama Rukia itu, benar kerabat kalian?" tanya Kuchiki Byakuya cepat.
"Kami mohon maaf sebelumnya. Sebenarnya Rukia bukan kerabat kami, dia adalah anak perempuan yang kabur dari rumah dan tidak sengaja tidur di teras rumah kami, lalu kami memutuskan untuk merawatnya, membiarkannya tinggal karena dia tidak ingin pulang," jawab Kaien takut-takut.
"Kalian tidak tahu itu bisa dikategorikan dalam tindakan kriminal? Kalian tidak memberi kabar pada keluarga anak perempuan itu?"
"Kami tidak bisa memberitahunya, karena kami tidak tahu, dan Rukia seperti sengaja menutupinya. Bahkan awalnya saja kami mengira dia akan laki-laki yang dipaksa orang tuanya masuk ke sekolah khusus pria. Tapi ternyata dia anak perempuan, aku sendiri tidak mengerti mengapa ayahnya memaksanya masuk ke sekolah khusus pria, padahal selama ini juga anak itu tidak pernah sekolah di sekolah umum. Dia bahkan bilang ayahnya biasa mengurungnya di kamar jika ia melakukan kesalahan, sepertinya Rukia mengalami kekerasan dari ayahnya," tutur Kaien dengan alis berkerut dalam, terkesan tergesa-gesa memberi penjelasan, namun Kepala Kepolisian itu tidak memusingkan hal ini.
"Siapa nama ayah anak perempuan itu? Bukankah dia harus diberi kabar kalau anaknya diculik?"
"Kami tidak tahu siapa namanya. Kami hanya pernah bertemu sekali, saat ia akan membawa Rukia pulang, tapi Rukia menolak pulang, dia kelihatan sangat ketakutan! Dia bahkan jelas-jelas mengancam akan menghukum Rukia ketika mereka sampai rumah nanti. Orang itu membuatku ingin menghajar wajahnya, tapi dia membawa banyak pengawal berdasi. Aku berpikir kalau orang itu adalah kepala mafia!" cerocos Ichigo tidak sabar.
"Mafia?" Kuchiki Byakuya menajamkan telinganya begitu mendengar kata itu meluncur dari mulut Ichigo. "Syazel, coba kau cari data mengenai anak bernama Rukia dari data penduduk Karakura!"
Pria bernama Syazel segera mengutak-atik i-pad di tangannya, berulang kali dia mengetikkan nama Rukia dengan begitu cepat, namun data selalu menunjukkan tulisan 'unidentified', pria itu terus mencoba bahkan Ichigo sampai ikut menjulurkan kepala untuk melihat apakah pria itu sudah mengetikkan nama Rukia dengan ejaan yang benar. Tapi tiap huruf yang tuliskan benar, bahkan diulang seperti apapun hasilnya tetap sama.
Kuchiki Byakuya membiarkan sekretarisnya mencari data yang ia minta, sementara ia beranjak dari sofa dan berjalan mendekati lemari besar yang tertutup rapat di pojok ruangan. "Jika ini memang tentang sindikat mafia, maka kasus mafia kelas atas dari lima tahun lalu seharusnya bisa memberi satu pentunjuk, aku berpikir ini pasti ada hubungan antara dendam pribadi seseorang kepada ayah anak itu!" lanjut Kuchiki Byakuya seraya membuka pintu kedua lemari yang ternyata berisi rak-rak tinggi.
"Pria berambut biru juga bukan hal lazim, aku pernah menangani kasus seperti ini, dan sepertinya..."
"Namanya Grimmjow!" celetuk Ichigo cepat.
"Grimmjow?" ulang Kuchiki Byakuya kaget, bahkan karena terlalu kaget ia tidak sengaja menjatuhkan sebuah pigura yang tersusun rapi di sebelah tumpukan filenya. Pigura itu jatuh berdentam ke lantai, suara kaca yang pecah membuat semua orang beranjak dari duduk mereka yang nyaman.
.
.
.
.
Rukia melangkah hati-hati ketika orang bernama Grimmjow membawanya menuju sebuah ruangan besar yang menyerupai aula. Ruangan itu berwarna putih bersih seperti kamar yang ia tempati, bahkan semua furniture serta perabot yang ada di ruangan itu berwarna putih, sehingga terkesan begitu kontras dengan orang-orang berjas yang berada dalam ruangan.
"Selamat datang, Aizen Rukia!"
Rukia menoleh cepat pada sumber suara, matanya tenang melihat seseorang yang berdiri santai dengan jas berwarna putih di sisi beranda. Orang itu tinggi kurus dengan rambut berwarna silver, Rukia tidak bisa melihat bagaimana wajah orang itu karena cahaya matahari di belakang orang itu begitu menyilaukan.
"Atau aku harus memanggilmu dengan sebutan Kuchiki Rukia?"
Tawa keras menggema dari mulut besar Grimmjow, pria bertubuh tinggi besar itu duduk santai di sofa seberang Rukia. Dia memberi isyarat pada dua orang lain yang berdiri sebagai penjaga pintu untuk segera pergi, hingga tinggal mereka bertiga yang berada dalam ruangan besar serba putih ini.
"Kau sedikit menarik perhatian, Grimm! Aku yakin sekarang kepala polisi itu sudah mengetahui bahwa anaknya masih hidup," gumam pria berambut silver tadi seraya melangkah menjauh dari beranda.
Rukia masih berdiri kaku dengan wajah polosnya, tidak mengerti dengan pembicaraan dua orang ini.
Grimmjow tertawa lebar seraya meraih gelas di coffee table di tengah-tengah sofa. Cairan berwarna keunguan itu menguarkan bau menyengat hingga Rukia sempat berjengit saat melihat Grimmjow meneguknya banyak-banyak.
"Kau seharusnya mengerti sifatku, Pak!" sahut Grimmjow seraya duduk nyaman.
Pria berambut silver tadi mendekati Rukia, membuat Rukia kembali diserang ketakutan, seluruh bulu tengkuknya berdiri saat wajah licik pria berambut silver itu mampu ia lihat penuh-penuh. Bentuk wajah yang lancip dengan seringai yang sepertinya akan terpahat abadi, serta dua baris garis di bawah alis yang menunjukkan bahwa ia masih memiliki sepasang mata yang berfungsi baik.
"Apa kabar?" pria itu mengulurkan tangan. Rukia melihat tangan kurus dan pucat itu, lalu bergantian ke wajah sang pemilik. Rukia bahkan tidak mengenali orang ini. "Aku Ichimaru Gin. Bukankah tidak sopan mengabaikan uluran tangan seseorang?" lanjut pria berwajah serigala itu.
Rukia mau tidak mau menjulurkan tangannya, dia menjabat jemari kurus itu, yang besarnya hampir sama dengan jari-jarinya. Dia merasakan hawa dingin yang amat sangat saat kulit mereka bertemu. "Sa-saya Rukia..." ucap Rukia tergagap. Ketakutan dan kengerian menggumpal di tenggorokannya, membuatnya sulit untuk bicara.
"Wah, wah... Ini kesempatan emas bisa bertemu denganmu langsung. Biasanya Aizen akan mengurungmu dalam sangkar, seperti burung langka yang tidak pernah ia relakan terbang jauh. Bagaimana rasanya menghirup udara luar, Rukia?" bisik ichimaru Gin tanpa melepaskan tangan Rukia sekalipun anak perempuan mungil itu menggeliat tidak nyaman untuk bisa terbebas dari sensasi dingin dari tangan pria kurus itu.
"Aizen bahkan sampai ingin menyamarkanmu sebagai anak laki-laki. Dia benar-benar menyayangimu, Rukia."
Rukia menggeleng cepat, menyangkal kalimat terakhir Ichimaru Gin, dia tidak pernah bisa melihat sisi mana yang disebut menyayangi dari ayahnya. Dia bahkan tidak percaya kalau mengurungnya di rumah adalah salah satu cara menunjukkan kasih sayang.
"Kau tahu? Aku suka sekali warna putih. Mau tahu alasannya?"
Rukia kembali menggelengkan kepalanya.
"Karena warna putih akan menunjukkan semuanya. Aku suka itu, bahkan ketika aku mengoyak kulit putih bersihmu, darahmu akan memercik ke seluruh tempat dan memberikan corak warna yang indah..." tutur Ichimaru Gin seraya membelai wajah Rukia. Kontan kata-kata pria itu membuat Rukia menggigil, dia menunduk begitu dalam untuk menghindari wajah licik pria itu, sekaligus menyembunyikan air mata ketakutannya.
"Kenapa? Kau takut?"
Anak perempuan belasan tahun itu tetap mengangguk dalam.
"Ha, ha, ha! Sudah seharusnya memang!" seru pria itu seraya tepuk tangan dan tawanya disambut tawa Grimmjow.
"Kau manis, mirip sekali dengan ibumu, tapi sayangnya kau harus menjadi korban keegoisan ayahmu."
"Ayah angkat, Pak!" ralat Grimmjow cepat, membuat Rukia mendongak ke arahnya, menatapnya penuh tanya.
"Oh, iya! Benar sekali, ayah angkat! Karena ayah kandungmu, bukanlah Aizen."
Rukia membelalak lebar, makin tidak mengerti dengan pembicaraan kedua orang ini. "Ap-apa maksud Anda? Saya ti-tidak mengerti sama sekali..." gagap Rukia dengan mata membelalak. Ia adalah anak polos yang selalu berusaha untuk berpikiran baik dan positif untuk bisa terus bertahan. Pikiran bahwa dirinya mungkin bukanlah anak dari ayah sudah ratusan kali menerobos benaknya, namun ia selalu menyangkalnya, menolak menerima logikanya sendiri. Namun sekarang orang lain yang justru mengatakan bahwa ia bukanlah anak dari ayah, lalu apakah Kak Ulquiorra juga bukan kakaknya? Lalu apakah ibu bukanlah... tapi itu tidak mungkin, karena anak perempuan berumur lima belas tahun itu selalu merasa begitu mirip ibunya, jadi tidak mungkin...
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Ichimaru Gin seraya membelai rambut Rukia penuh sayang. Sikapnya ini justru membuat Rukia mengambil langkah mundur, menjauhi pria yang membuatnya bergidik ngeri.
"Haruskah aku menceritakan semuanya?"
Ichimaru Gin menggiring Rukia duduk di sofa seberang Grimmjow, membuatnya duduk tepat di sebelahnya karena tangannya merangkul bahu ringkih Rukia,tidak mengizinkan Rukia menjauh dari bisikannya yang menusuk begitu dalam ke akal sehat anak perempuan itu. "Kau tidak tahu apa-apa karena ayah yang kau kenal selalu membuatmu terkurung dalam rumah. Iya kan?" desis pria pucat itu cepat. Rukia tidak ingin mengakuinya, namun memang seperti itulah kenyataannya. Dia selalu dikurung dalam rumah, dan setiap kali melakukan sebuah kesalahan, maka ia akan diikat ke tempat tidur dengan tali hingga tangannya memar, melarangnya makan hingga ayahnya datang dan memintanya berucap maaf ratusan kali. Rukia tidak pernah ingin mengingat saat-saat itu lagi. Dia ingin pergi dan kembali ke rumah hangat Kaien serta Ichigo, merasakan kasih sayang yang sebenarnya dari sebuah keluarga.
"Hmmm, harus dari mana aku memulainya..." gumam Ichimaru dengan suara mendesis seperti ular yang siap melahap mangsanya.
"Kenapa tidak Anda ceritakan sejak Aizen menculik Hisana?" celetuk Grimmjow tanpa menghilangkan seringainya sedikitpun.
Pria berambut silver itu tampak berpikir keras, sekali mengangguk mengiyakan saran Grimmjow, namun detik kemudian ia menjetikkan jarinya tepat di telinga Rukia, membuat anak perempuan itu berjengit kaget. "Kalau aku mulai dari kejadian itu, apakah nanti dia tidak akan bingung bagaimana ceritanya Aizen sampai tega menculik seorang wanita hamil?" gumam Ichimaru sambil menggeleng-geleng penuh sesal.
"Ah, benar juga... Menurutku Anda punya waktu banyak untuk menceritakan semuanya, tapi jangan sampai Anda lupa pada alasan utama Anda, Pak!"
"Oh ya!" Ichimaru mengangkat alisnya tinggi-tinggi, melepas rangkulannya dari bahu Rukia, dan ruang ini digunakan Rukia untuk menjaga jarak dari pria itu hingga ia duduk di sisi paling pinggir dari sofa yang terdiri dari tiga dudukan itu.
Ichimaru meraih ponsel dari saku jasnya, dan mulai menekan beberapa nomorl sebelum meletakkannya di meja, sengaja menyalakan mode loud speaker. Nada tunggu terdengar dari ponsel berwarna putih yang tergeletak di meja, tiga kali nada tunggu memenuhi ruangan, baru kemudian hadir suara berat dan tidak suka dari seberang sambungan.
"Apa maumu, Gin?" suara kaku dan sedingin besi tempa menjawab.
Rukia menarik napas panjang seketika. Hanya mendengar suara ayah saja langsung membuatnya lupa untuk bernapas. Ketakutan yang mengalir dalam pembuluh darahnya bertambah. Reaksi ini pun tidak luput dari perhatian Ichimaru, pria itu tersenyum mengejek melihat ketenangan Rukia yang perlahan runtuh. Dia pernah mendengar bahwa anak Aizen adalah anak-anak yang memiliki pembawaan tenang, namun dia tidak menyangka bahwa anak perempuan bisa setenang ini menghadapi situasi menegangkan ketika nyawanya sendiri di ujung pelatuk senapan. Tidak ada teriakan histeris sama sekali, sehingga ia tidak merasa ada bagian menyenangkan dari usahanya menyiksa anak ini.
"Cih! Sederhana. Aku hanya ingin memberi tahu bahwa aku senang sekali."
"Apa maksudmu?"
"Kenapa kau selalu meminta seseorang bicara langsung pada intinya? Kau tidak suka basa basi sama sekali, Aizen. Kau memang membosankan! Pantas saja anak-anakmu juga sepertimu!" lanjut Ichimaru sambil menyeringai lebar.
"Apa yang kau lakukan pada mereka?" tanya suara berat Aizen yang tidak menunjukkan nada cemas sama sekali.
"Bukan mereka. Aku hanya ingin melihat Hisana kecil dari jarak dekat. Kau tidak suka?"
"Jangan pernah berani menyentuhnya. Kau akan menyesal, Gin."
"Benarkah?" Ichimaru mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi, membuat Grimmjow justru tersenyum lebar menertawakan ancaman kosong seorang Aizen Sousuke. "Aku tidak pernah bisa menyesal lagi sejak kau membunuh anak dan istriku, Keparat!" sahut Ichimaru yang masih berwajah tenang.
"Mata dibalas dengan mata, Gin! Kebetulan saja istrimu meninggal saat sedang mengandung! Anak yang belum lahir tidak masuk dalam hitungan nyawa, bukan?"
"Begitukah? Ouw... kau masih selalu berhati dingin seperti biasanya, Aizen! Bagaimana bisa kau mengabaikan calon bayi dalam kandungan Rangiku? Kalau begitu akan baik-baik saja jika ku bunuh anak Hisana? Toh seharusnya dia mati di hari aku memintamu menembak kepala Hisana. Iya kan?"
Rukia menekap kedua telinganya, kepalanya menggeleng cepat. Dia menolak mendengar semua pembicaraan yang terkesan sangat bersahabat namun begitu kejam dan sadis. Mereka berdua bicara seolah nyawa manusia hanyalah kue yang dijual di toko-toko pinggir jalan. Bukan sesuatu yang berharga dan dijaga dengan sepenuh jiwa raga. Rukia tidak bisa membayangkan lagi bagaimana ingatannya tentang ibunya yang tengah mereka bicarakan, sosok ibunya yang menangis lirih sambil bersimbah darah saat...
"Kau menculik Rukia?" tebak Aizen cepat, nada dalam suaranya masih kaku dan tenang.
"Kau mau aku yang jawab?" Ichimaru menoleh pada Rukia yang tengah membekap mulutnya rapat-rapat, menolak untuk mengeluarkan suara apapun sekalipun matanya membelalak lebar dan sudah berair.
"Jangan tahan suara indahmu, Anak Manis! Biarkan ayah tersayangmu mendengarnya!"
Rukia tidak bisa kabur lagi saat jemari kurus Ichimaru merenggut rambutnya, menjambaknya hingga kepalanya tertarik mendekati ponsel di meja. Dia berteriak kesakitan ketika beberapa helai rambutnya tercabut dari akar.
"Rukia?" panggil Aizen tenang dan datar.
"Bicara!"
Rukia menggeleng cepat, dia menangis dalam tatapan memohon.
"Kau menolakku? Yakin?" Ichimaru memberi isyarat pada Grimmjow, dan pria berambut biru itu langsung meraih pisau cutter dari saku jasnya. Dia menggeser kunci mata pisau hingga mata pisau cutter muncul dari cangkangnya, cahaya ruangan membuat mata pisau mengilat dengan sangat mengerikan.
Rukia menggeleng, kembali meminta belas kasih dari dua orang dewasa itu.
"Kalau begitu bicaralah, biarkan ayahmu tahu kau ada di sini," desak Ichimaru yang membiarkan mata pisau perlahan mendekati pergelangan tangan kecil Rukia yang dicengkram Grimmjow ke tengah meja.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
:-:-:Nakki:-:-:
05-11-2012
