*I Hope it's Gonna Better*
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
I Hope it's Gonna Better milik Mayu Tachibana
Rated : T
Pairing : NaruHina
Genre : Fantasy & Romance
Warning : OOC,AU,missed typo(s),alur cepat,Vampfic
Summary : Naruto,cowok yatim piatu yang tinggal di Konohagakure dan ditinggal ibunya karena suatu alasan bertemu dengan Hinata seorang Vampir yang nantinya akan menjadi seorang pemimpin bangsanya. Naruto pada akhirnya mengetahui siapa dia sebenarnya dan menyebabkan hubungannya yang terjalin dengan Hinata mengalami gangguan.
.
.
.
Chapter 11: Latihan
Sesosok laki-laki berambut pirang jabrik kini tampak terlelap dalam tidurnya yang sangat nyaman di atas tempat tidur. Mulutnya tampak bergerak-gerak seperti mengunyah sesuatu hingga aliran air liur mengalir cukup deras dari sudut mulutnya, mengalir melewati salah satu sisi dagu dan mengarah dengan pasti ke bantal. Membentuk sebuah pulau tersendiri yang berbau tidak enak.
Suasana di dalam kamarnya begitu tenang didukung dengan cahaya matahari yang hanya bisa mengintip dari celah gorden yang sedikit terbuka dan suasana temaram akibat lampu kamar yang tidak dinyalakan. Suasana yang begitu pas untuk menghabiskan hari libur yang baru beberapa hari lalu terlewat. Ya... semua itu akan terus berlanjut jika tidak ada sebuah suara yang begitu gaduh hingga membangunkannya dari tidur yang lelap.
"NARUTO, WAKTUNYA UNTUK BANGUN!" seru pamannya dengan sangat keras setelah membuka pintu kamarnya lebar-lebar.
Anak laki-laki itu segera terbangun dengan gelagapan dan wajah yang sangat berantakan karena kaget. Dia menoleh ke sekelilingnya selama beberapa saat lalu menemukan pamannya yang sudah berdiri di depan kamar tidurnya, memasang wajah yang sangat menyebalkan hingga membuatnya menjadi kesal sendiri.
"Argh, apa-apaan ero-jii-san?" gerutunya tidak senang. "Ini kan hari libur."
Jiraiya menganggukkan kepalanya paham, dia memasang wajah serius sambil mulai melangkahkan kakinya mendekat kearah Naruto dan mulai menepuk pundaknya berkali-kali, menunjukkan simpati.
"Aku mengerti, Naruto," ucapnya mengawali. "Tapi kita harus segera kembali latihan sekarang atau... kau lebih memilih untuk menerima hukuman dariku?" Jiraiya tersenyum memperingatkan sebagai tambahan.
Naruto merasakan tubuhnya merinding, dia sudah pernah sekali menerima hukuman yang diberikan Jiraiya pada waktu awal dia memulai latihannya. Rasanya mengerikan, jauh lebih mengerikan daripada menerima hukuman Anko-sensei yang sekarang terasa remeh. Naruto mau-tidak mau segera menganggukkan kepalanya dan bangkit dari tempat tidur. Dengan gerakan yang lebih mirip terhuyung-huyung–karena baru bangun–dia segera mengambil handuk dan sikat giginya untuk segera mandi di kamar mandi.
Pamannya memang selalu terlihat menyeramkan jika menyangkut latihan.
.
Sudah beberapa bulan berlalu semenjak kepergian Hinata yang tiba-tiba. Hampir setiap hari Naruto selalu menerima latihan yang keras dari Jiraiya dan bermeditasi setiap awal dan selesai latihan untuk mengumpulkan energi. Pamannya mengajarkan bahwa energi alam yang dikumpulkan setiap meditasi bisa berguna untuk memaksimalkan latihan yang dijalaninya juga mengurangi dampak cedera terlalu parah jika terkena serangan.
Perlahan tapi pasti Naruto mulai menguasai beberapa teknik sihir juga bela diri tingkat menengah, dia sudah dapat mengumpulkan cukup banyak energi dari meditasi yang selalu dia lakukan yang kemudian dia gunakan untuk melakukan beberapa sihir dasar-pertengahan dan sebagian kecil energi lain untuk latihan bela diri yang lebih mudah untuk dia kuasai. Meskipun sering pingsan akibat kelelahan, Naruto mulai merasakan dampak lain yang secara perlahan mulai membuatnya jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Ino dan Sakura kadang datang berkunjung ke rumahnya untuk membantunya berlatih teknik-teknik dasar yang berguna untuk memperkuat setiap serangannya. Ino untuk teknik dasar sihir dan Sakura untuk teknik dasar beladiri. Mereka berdua mengajari Naruto dengan sama kerasnya dengan yang Jiraiya lakukan dan melakukannya secara bergantian. Sudah beberapa minggu ini hal itu terus berlanjut dan membuat Naruto semakin terbiasa menghadapi latihan yang diberikan oleh dua temannya itu.
"Kau sudah siap, Naruto?" tanya Jiraiya tiba-tiba.
Naruto mengangguk. Dia segera bangkit dari tempatnya duduk lalu memposisikan tubuhnya sesiap mungkin. Dihadapannya, Jiraiya juga melakukan hal yang sama dan mulai memposisikan tubuhnya untuk menyerang Naruto.
Sekarang.
Mereka tiba-tiba saja lenyap dari tempat mereka berdiri sebelumnya lalu kembali muncul di tempat yang sama beberapa meter jauhnya. Naruto melancarkan pukulan dan beberapa tendangan untuk menangkis setiap gerakan yang diarahkan pamannya kearahnya, beberapa kali dia gagal mengelak akibat terlalu cepat dan akurat serangan pamannya sehingga menyebabkan dirinya mulai mengalami memar di beberapa bagian tubuhnya.
Jiraiya melakukan setiap serangannya dengan cukup serius, beberapa kali dia sengaja melancarkan serangannya ke bagian vital Naruto sehingga Naruto sempat kewalahan untuk menghadapinya. Memar yang diterimanya bertambah semakin banyak seiring dengan fokusnya yang mulai buyar akibat kelelahan.
Naruto mendecih pelan lalu mulai memaksakan dirinya untuk kembali fokus terhadap latihan yang sedang dia jalani, secara perlahan Naruto kembali fokus lalu kembali melancarkan setiap pukulan dan tendangan kearah pamannya itu. Jiraiya yang masih lebih kuat mendominasi dengan melancarkan serangan beruntun kepada keponakannya sehingga Naruto harus berusaha sekuat mungkin untuk menahan semua serangan itu agar tidak mengenai dirinya.
Naruto bergerak menghindar selama beberapa saat untuk beristirahat lalu kembali bergerak ke tempatnya semula. Dia kembali melancarkan serangan balasan lalu kembali mengindar untuk mengambil jeda selam beberapa detik untuk mengambil napas. Beberapa kali dia melakukan itu, tetapi pamannya tidak berpindah beberapa senti pun dari tempatnya berpijak. Walaupun Jiraiya sudah tampak sedikit kelelahan postur tubuhnya masih tetap tegap dan gerakannya masih lebih cepat dari Naruto.
Setelah beberapa menit melayani setiap serangan Naruto, Jiraiya akhirnya berpindah tempat dengan cepat lalu memberikan serangan yang sangat serius kearah keponakannya. Naruto yang tidak sempat menghindar akhirnya harus terlempar cukup jauh dan menghantam sebatang pohon yang berada dibelakangnya, punggungnya terasa nyeri sehingga dia harus meringis pelan untuk menahan sakit.
Jiraiya muncul dihadapannya lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Naruto berdiri. "Masih bisa?"
Naruto mengangguk kaku, punggungnya masih terasa nyeri.
Pamannya itu memandang dirinya selama beberapa saat lalu mengangguk dan memberi senyum sekilas pada keponakannya itu, menepuk bahunya beberapa kali untuk memberinya semangat. "Baiklah, ayo kita kembali ke tempat awal."
"Yosh!"
Mereka kembali muncul di tempat awal lalu kembali berhadap-hadapan seperti sebelumnya. Naruto mengendalikan napasnya yang terasa memburu lalu menarik napas panjang sebagai penutup sebelum bergerak kembali menghadapi pamannya. Dia sudah memutuskan untuk menunjukkan hasil latihannya selama beberapa minggu belakangan ini kepada Jiranya yang hanya menunjukkan teknik yang harus dia jalani dan memperhatikannya dari jauh.
Sambil tetap melakukan pengelakan terhadap serangan yang diberikan pamannya, dia mulai berkonsentrasi untuk mengumpulkan energi tersembunyi tubuhnya disalah satu tangannya, memusatkan energi itu disana dan secara perlahan menyebabkan telapak tangannya melepuh akibat lava cair yang mulai melingkupi tangannya dengan cakar berwarna hitam yang menyertai. Matanya berkilat semerah darah sebelum akhirnya dia mengarahkan serangannya secepat dan seakurat mungkin ke salah satu bagian tubuh pamannya yang tidak dijaga dan akhirnya berhasil menyerempet bahu Jiraiya dengan cukup dalam sebelum tubuh pamannya itu menghilang secara tiba-tiba dari hadapannya.
Naruto segera melepaskan konsentrasi ditangannya sehingga kungkungan lava itu melebur dan menyisakan tangannya yang tampak merah terbakar. Jiraiya pada akhirnya kembali muncul di tempat awalnya berdiri dengan salah satu tangan yang menempel di bahu yang terkena goresan Naruto.
"Bagus," ucap Jiraiya terengah mengacungkan jempolnya. "Waktunya istirahat."
Naruto mendesah keras karena lega lalu duduk ditempatnya berdiri. Tubuhnya tampak basah kuyup akibat keringat yang tidak berhenti mengalir dari pori-porinya. Dengan perlahan dia memosisikan tangannya yang terluka dibawah tangan yang tidak terluka lalu mulai mengalirkan energi melalui tangan yang sehat tersebut untuk menutup luka bakar yang dialaminya. Secara perlahan luka yang berada ditangannya itu mulai menutup dan hanya menyisakan bekas warna samar yang malam nanti akan menghilang.
Disisi lain Jiraiya juga melakukan hal yang tidak jauh berbeda, dia meringis pelan ketika energi dalam dirinya mengalir keluar untuk menyembuhkan luka goresan tersebut yang mulai bernanah seakan terkena infeksi parah. Sudah lama sekali dia tidak menerima serangan seperti ini, satu detik saja dia tidak lekas menghindar, serangan ini akan berdampak jauh lebih parah. Proses penyembuhannya pun lebih lama akibat energi demon yang jauh lebih kuat dari energi seorang penyihir biasa seperti dirinya.
Jiraiya membuka matanya yang sebelumnya terpejamsecara perlahan untuk memperhatikan keponakannya yang sudah kembali memulai meditasinya. Dengan tubuh yang masih terlihat lembab, Naruto mulai terlihat merilekskan seluruh anggota tubuhnya yang tegang dan mengumpulkan energi alam untuk menyembuhkan beberapa memar dan energinya sendiri yang berkurang.
Dia termenung menatap keponakannya itu yang semakin lama semakin mirip dengan kedua orangtuanya. Jiraiya tersenyum samar lalu mulai memposisikan dirinya untuk melakukan meditasi, luka goresan yang berada di bahunya sudah tidak mengalirkan darah lagi meskipun masih terbuka.
Beberapa menit berlalu hingga akhirnya mereka menyelesaikan meditasi mereka masing-masing. Naruto meregangkan tubuhnya yang terasa kaku lalu mengacak rambutnya yang tidak terasa gatal, matanya terlihat kuyu akibat menahan kantuk yang dialaminya. Ini merupakan efek samping ringan dari penggunaan energi alam yang terlalu banyak seperti yang dipakai oleh Naruto.
"Sekarang kau boleh tidur, nanti sore kita akan melanjutkan latihan."
Naruto mengangguk untuk menanggapi ucapan pamannya, dia sudah terlalu mengantuk untuk bisa protes pada pamannya yang memberikan latihan double pada hari libur seperti ini.
.
"Hei, Ino," panggil Sakura dengan cukup keras, wajahnya tampak memelas saat dirinya memanggil Ino.
Sakura merasa sangat capek, tangannya yang sebelumnya membuka sekarang terkepal erat dimasing-masing pahanya akibat terus memaksakan dirinya untuk menahan energinya tetap mengaliri pentagram yang tergambar dibawah mereka. Sudah hampir tiga jam lebih mereka melakukan ritual khusus ini untuk mencari keberadaan Hinata, tapi tidak ada tanda-tanda Ino yang menyatakan dirinya sudah menemukan tempat tersebut.
Gadis berambut pirang yang duduk satu meter didepannya itu tidak memberikan tanggapan apapun, posisinya masih duduk dengan tegak dengan kedua tangan yang membuka di masing-masing pahanya, kedua matanya tertutup rapat dan mulutnya bergerak-gerak membentuk alunan kata lembut yang terjalin satu sama lain.
"Ino-pig..." Sakura kembali memanggil Ino dengan lebih keras, meminta pehatian.
Ino menghela napas lalu mulai membuka matanya untuk memberikan tatapan lelah kepada sahabat baiknya itu. "Ada apa, Sakura-chan?"
"Aku tidak kuat lagi, Ino-pig. Mantra ini terlalu berat dari sebelumnya."
Ino mendesah pelan lalu kembali menatap Sakura. "Tahan sebentar lagi, aku akan menandai tempat yang sudah kita capai."
Sakura mengangguk paham lalu menarik napas dalam untuk mempertahankan sisa energinya kedalam pentagram. Disisi lain Ino kembali menutup matanya lalu mulai melantunkan alunan kata-kata yang lebih cepat dari sebelumnya, bola matanya tampak bergerak-gerak sama cepat dibalik kelopak mata yang tertutup. Mereka mengerahkan setiap energi dan konsentarasi kedalam pentagram itu untuk segera menyelesaikan ritual.
Beberapa saat kemudian mereka mendesah bersama-sama dan akhirnya kembali membuka mata. Pentagram yang berada dibawah mereka yang sebelumnya menyala dengan warna biru kehijauan pudar sekarang padam akibat ritual yang telah berhasil mereka selesaikan. Dalam diam mereka berdiri lalu segera menghapus sisa-sisa garis yang masih tercetak dilantai kamar Ino.
Mereka memungut beberapa lilin yang sudah padam dilantai beserta kotak abu khusus juga ikat rambut Hinata yang mereka minta dari Naruto beberapa hari yang lalu. Mereka meletakkan semua barang itu didalam laci kosong yang tersedia lalu menyalakan lampu kamar yang sebelumnya sengaja dimatikan.
"Kau menemukan jejak Hinata sampai dimana, Ino?" tanya Sakura penasaran. Selama ritual tadi dia hanya bertugas untuk mengalirkan tenaga utama kedalam pentagram sehingga tidak bisa melihat tempat yang dijelajahi Ino didalam pikirannya.
"Di pertengahan hutan terlarang dekat sebuah tebing yang mengarah ke air terjun, aku dapat merasakan jejak terakhir Hinata disana."
Sakura mengerutkan keningnya heran. "Kau tidak merasakan jejak lain selain disana? bukannya ritual ini bisa mengarahkan secara langsung keberadaan orang yang sedang kita cari?"
Ino menggeleng. "Entahlah, aku juga kurang paham. Yang jelas aku hanya dapat merasakan jejak terakhir Hinata disana dan tidak ada yang lain selain itu."
Sakura mengangguk, dia segera menghempaskan dirinya di kasur Ino untuk berbaring terlentang lalu memejamkan matanya untuk beristirahat sebentar. Pencarian melalui ritual khusus yang sudah mereka lakukan beberapa hari tanpa henti ini membuatnya lelah, Ino pun sepertinya merasakan hal yang sama karena pencarian jejak tadi membutuhkan waktu yang lebih lama dari beberapa hari lalu.
Ino yang sudah selesai membereskan sisa-sisa kotoron dikamarnya pun akhirnya ikut berbaring disamping Sakura lalu menutupi wajahnya dengan bantal. Sihirnya sudah habis sepenuhnya untuk pencarian tadi. Sekarang dia harus memaksakan dirinya untuk segera tidur siang jika ingin energinya segera kembali sehingga bisa kembali beraktivitas seperti biasa.
Selama beberapa menit kamar yang berisi dua sahabat karib yang terkenal sangat cerewet itu terasa begitu sepi dan tenang tidak seperti biasanya. Keduanya masih fokus untuk mengembalikan energi mereka secara perlahan-lahan dengan tidak melakukan apapun.
"Hei, Ino-pig," panggil Sakura lagi tiba-tiba. "Apa semua ini akan berjalan lancar?"
Ino terdiam selama beberapa saat sebelum menggelengkan kepalanya pelan. "Entahlah," akunya jujur. "Semua ini tergantung pada Naruto dan Hinata sendiri, kita hanya bisa membantu mereka untuk mencapai akhir yang terbaik bagi mereka berdua."
Sakura berbalik menghadap Ino yang masih menutupi kepalanya dengan batal lalu menahan dagunya dengan salah satu tangannya. "Menurutmu Naruto bisa melakukannya? Maksudku, paman Jiraiya sudah bilang kan kalau Hinata sekarang sudah resmi jadi calon pemimpin vampir, kekuatannya sekarang setara dengan vampir bangsawan kan?"
"Tentu saja bisa," jawab Ino membuka bantalnya. "Naruto memang bodoh, tapi dia selalu bisa menghadapi apapun untuk menolong temannya dan dia selalu melakukannya dengan sungguh-sungguh. Untuk masalah kekuatan, masih ada paman Jiraiya dan kita yang akan mengajarinya sampai bisa kan? Toh kita tidak terlalu buruk untuk level penyihir menengah."
Sakura tersenyum kecil mendengar penuturan Ino tentang Naruto. Ya, dia juga mengakui kalau Naruto memang sangat setia kawan dan sifat cerianya yang tidak dibuat-buatpun membuat sebagian besar orang langsung menyukainya. Hinata yang termasuk pendiam juga berani berbicara banyak pada Naruto yang duduk disampingnya ataupun Kiba yang duduk didepan mereka bersama Shino.
"Oh ya, kita diminta paman Jiraiya untuk melatih Naruto sore nanti kan, jidat?"
"He-eh," gumam Sakura mengangguk lalu mendesah pelan, dia merasa sangat lelah dan mengantuk. Matanya sudah terasa begitu berat saat dia mengucapkan sebaris kalimat lagi pada Ino. "Aku tidur siang disini ya, pig. Selamat tidur~"
Ino hanya menggumam pelan sebagai jawaban.
.
.
.
TBC
A/N:
Kaku~ kaku~ kaku~ XD
Makasih buat Gray Areader yang ngereview chap sebelumnya. Buat Kirito Cesar, maaf ya jadinya telat banget, kena WB juga karena ini btw /ditendang
Sampai ketemu lagi, minna~
Tambahan: serangan terakhir Naruto terinspirasi dari teknik nen-nya Gon Freecs di HunterxHunter dan Gen Shishio di Kekkaishi untuk perwujudannya^^
