yup! another crap is updated! haha
kayanya sejauh ini, chapter ini adalah chapter paling panjang yang pernah author tulis buat ff ini
request kalian mudah mudahan udah terpenuhi kok dengan update-an yang lebih panjang haha.
well, yang di sini emang mereka berdua langsung author jadiin couple soalnya, author sendiri udah gak sabar bikin mereka sebagai boyfriend-girlfriend
daaaan, makasih banget buat semua yg udah review di chapter sebelumnya. review paling banyak yg pernah aku dapet di fic ini. heheh. MAKASIH BANGET!
I love you all~~~ *virtualkisses* *virtualhugs*
haha jadi... ya moga aja sih gak garing. maklum, bikinnya dari jam 8 malem sampe jam 2 pagi. untung sih libur *duh kok jadi curcol
yaudah deh. enjoy this crap, eh maksudnya, enjoy this fic :)
Girls at the Rock Show
"Part 11"
Pairing: Draco Malfoy – Hermione Granger
Disclaimer: J.K. Rowling
Warning: OC, OOC, etc. etc.
Hermione terduduk di tempat tidurnya di Jumat sore yang membosankan. Dia sendirian di rumah. Kedua orang tuanya sedang mengunjungi nenek Hermione yang berada di Skotlandia bersama dengan Logan. Hermione menolak untuk pergi karena dia mengatakan bahwa Draco akan mengajaknya pergi. Hermione sudah terbiasa ditinggal seperti itu. Biasanya, Hermione akan menelepon Pansy, Harry, Ron, dan Ginny untuk menemaninya di rumah dan tidak jarang juga mereka menginap di rumah Hermione.
Tiba-tiba, iPhone Hermione bergetar. Ada SMS dari Draco dan tanpa sadar, Hermione tersenyum mendapat SMS dari Draco tersebut.
Sudah siap? Aku masih terjebak macet. Tapi sebentar lagi aku sampai, kok. DM
Hermione langsung membalasnya dan merebahkan tubuhnya lagi di tempat tidurnya. Dia tidak menyangka bahwa dia akan benar-benar pergi berkencan dengan Draco setelah apa yang dia lakukan dan pikirkan terhadap Draco. Dia tidak menyangka bahwa dia benar-benar membuka hatinya untuk laki-laki yang selama ini dia hindari. Di sisi lain dirinya, dia masih merasa menjaga jarak antara dirinya dengan Draco. Tetapi, di sisi yang lainnya, dia juga ingin mulai membuka dirinya dan membiarkan Draco memasuki kehidupannya.
Akhirnya, Hermione memutuskan untuk menonton televisi sembari menunggu Draco datang menjemputnya. Draco mengatakan bahwa hari ini dia akan membawa Hermione menonton film lalu pergi ke sebuah tempat bermain. Hermione menganggap itu adalah hal yang sangat kekanak-kanakan. Tetapi, dia tidak menolaknya dan menuruti apa kemauan Draco.
Hermione duduk di depan televisinya sambil meminum air putih yang tadi diambil dari dapur. Dia menonton sebuah film dokumenter perjalanan seorang reporter di kedalaman Amerika Selatan. Hermione memang sangat menyukai acara-acara seperti ini. Menurutnya, ini bisa menambah wawasannya dan dia bisa membayangkan jika suatu hari dia pergi bekeliling dunia dan mengunjungi tempat-tempat tersebut, Hermione sudah sedikit paham dengan apa yang harus dilakukan dan apa yang harus tidak dilakukan.
Saat film dokumenter itu sudah hampir selesai, Hermione bisa mendengar suara mesin mobil di luar. Hermione langsung menghabiskan air putihnya dan mematikan televisinya. Ketika Hermione meletakkan gelas bekas air putihnya di wastafel, bel pintu Hermione berbunyi. Dia langsung mencuci tangannya dan membukakan pintu depan untuk siapapun yang datang.
Hermione tersenyum saat melihat Draco yang berdiri di depan pintunya. Draco memakai sebuah baju hangat yang bewarna hitam yang dipadukan dengan warna putih dan abu-abu. Syal berwarna abu-abu melingkar di lehernya. Dia juga memakai sebuah sarung tangan kulit berwarna hitam. Tidak lupa dengan topinya yang berwarna hitam keabu-abuan.
"Hey, uh, aku akan mengambil baju hangat dan mengunci rumahku dulu. Kau tahu, keluargaku sedang berada di Skotlandia. Mereka tidak pulang sampai besok," kata Hermione sambil memberikan isyarat kepada Draco untuk masuk. Laki-laki berambut pirang platinum tersebut mengangguk dan duduk di ruang tamu Hermione dan membiarkan gadis tersebut menghilang untuk sementara.
Setelah 5 menit Hermione mengunci rumahnya dan mengambil baju hangatnya yang serba berwarna merah marun, mereka berdua pergi meninggalkan rumah Hermione yang kosong. Draco sudah siap di dalam mobilnya sedangkan Hermione masih mengunci pintu pagarnya.
"Jadi, kita mau kemana hari ini?" tanya Hermione saat sudah di dalam mobil.
"Uh, kita akan ke-uh-ke bioskop. Ada film yang ingin aku tonton. Uh-setelah itu-uh-kita makan malam. Lalu... lalu kita ke sebuah pekan rayayang tidak jauh dari sini," kata Draco gugup. Hermione tersenyum geli dengan sikap Draco.
"Baiklah. Terserah kau mau kemana. Kau yang mengajakku," kata Hermione sambil tersenyum.
Setelah menembus kemacetan, akhirnya, Draco dan Hermione sampai di sebuah gedung bioskop yang tidak terlalu ramai. Sudah hampir pukul 5 saat mereka sampai di gedung bioskop tersebut. Draco, tanpa pikir dua kali, langsung membeli tiket sebuah film yang memang sudah Draco tunggu-tunggu untuk menonton. Hermione tidak menolaknya karena menurutnya, film tersebut tidak terlalu buruk. Hermione tidak sengaja membaca review nya di internet dua hari yang lalu dan film tersebut juga dibahas di televisi tadi pagi. Jadi, Hermione tidak menolaknya.
Mereka berdua menonton sebuah film animasi natal yang sudah diputar jauh-jauh hari sebelum natal. Tetapi, mereka berdua memang belum sempat menonton karena terlalu sibuk dengan persiapan natal. Hermione tertawa geli saat melihat sikap Draco yang sangat antusias menonton film animasi tersebut. Menurutnya, Draco sangat menggemaskan. Seorang rocker yang lebih memilih untuk menonton film animasi untuk anak-anak usia 10 tahun daripada menonton film drama komedi. Tetapi, Hermione tidak masalah dengan hal tersebut. Dia juga tidak suka dengan film drama yang menurutnya sangat berlebihan dan konfliknya sangat mudah ditebak.
Di dalam, mereka berdua bersikap seperti mereka memang sepasang kekasih. Tentu saja mereka melakukannya dengan tidak sengaja. Draco yang melingkarkan tangannya di bahu Hermione, dan Hermione yang menyandarkan kepalanya di bahu Draco. Dan ketika mereka sadar dengan apa yang mereka lakukan, mereka langsung menjauh dari satu sama lain dengan kedua pipi mereka memerah, semerah kepiting rebus. Mereka berdua juga menggumamkan kata "Maaf," dan akhirnya menonton film tersebut dalam diam.
Tidak lebih dari dua jam, mereka keluar dari gedung bioskop tersebut dengan senyum lebar menghiasi wajah mereka. Draco tidak henti-hentinya membahas adegan-adegan yang menakjubkan dan membuat Hermione tertawa. Dia tidak tahu bahwa sebenarnya Draco adalah orang yang sangat humoris. Hal tersebut membuat Hermione semakin menyukai Draco dan dia tidak menyesali keputusannya untuk menghabiskan akhir pekannya berdua dengan Draco.
"Kau lapar?" tanya Draco saat membukakan pintu mobilnya untuk Hermione. Gadis tersebut sebenarnya ingin menggeleng karena sebenarnya, dia memang tidak lapar.
"Aku sangat lapar. Aku ingin makan makanan Jepang. Kau mau tidak?" tanya Draco polos saat Hermione belum sempat menjawab. Tetapi, Hermione hanya tersenyum mendengar tawaran Draco.
Akhirnya, mereka berdua menuju ke sebuah restoran Jepang favorit Draco yang jaraknya tidak jauh dari gedung bioskop tersebut dan lagi-lagi, Draco membahas film yang baru saja mereka tonton. Saat melihat arlojinya, sudah hampir pukul 8 malam dan mereka baru sampai di restoran tersebut. Yeah, traffic sucks.
"Aku dan keluargaku sering makan di sini. Pemilik restoran ini adalah sahabat dari ayahku. Yeah, semoga saja sih, aku dapat diskon," kata Draco terkekeh. Hermione hanya memutar bola matanya saat mendengar ocehan Draco. Tetapi setelah itu, Draco mengambil iPhone nya dan mulai membalas SMS yang membludak. Hermione jengah melihat orang yang sedang makan malam bersamanya malah asyik berSMS ria.
Peraturan pertama dalam kencan Hermione: jangan pernah SMS-an.
"Aku rasa kau berkencan denganku. Bukan iPhone mu," gerutu Hermione. Mendengar nada bicara Hermione, Draco langsung mengalihkan perhatiannya dan melihat gadis pujannya memasang tampang jengah. Draco menaikkan alisnya.
"Ada yang salah?" tanya Draco polos. Hermione menepukkan telapak tangannya di dahinya.
"Well, kita berkencan untuk mengobrol dan mengetahui satu sama lain, kan? Bukan untuk saling bermain dengan gadget masing-masing. Jadi, jika ingin berkencan denganku, lebih baik kau simpan saja iPhone mu sebelum aku meninggalkanmu di sini seperti orang bodoh. Aku paling tidak suka dengan orang yang aku ajak mengobrol tapi dia malah asyik dengan dunianya sendiri di mobile phone-nya." Hermione sedikit menggeram di kalimat terakhirnya. Hal tersebut cukup untuk membuat Draco menelan ludahnya dan wajahnya merah seketika. Draco menggumamkan kata, "Maaf," sebelum akhirnya menyimpan iPhone nya ke saku celananya.
"Jadi, itu peraturan pertamamu dalam berkencan?" tanya Draco.
"Yap. Peraturan pertama dan memang hanya ada satu peraturan. Jangan menomor duakan kencanmu," kata Hermione tegas. Draco mengangguk dan mulai meminum ochanya. Bagaimanapun juga, dia masih ngeri dengan Hermione yang bisa saja tiba-tiba meledak atau bahkan meninggalkannya seperti yang sudah-sudah.
Tak lama kemudian, makanan mereka datang. Draco mulai mencairkan suasana dengan mengajak Hermione mengobrol. Draco juga mengobrol tentang masa kecilnya kepada Hermione. Masa kecil Draco di Wiltshire dan tradisi keluarganya. Hermione juga menceritakan tentang masa kecilnya di Perancis dan hal tersebut membuat Draco terkesan. Walaupun Draco sudah puluhan, bahkan ratusan kali ke Perancis, tetapi mendengar bahwa Hermione memiliki keturunan Perancis membuat Draco terkesan.
Hermione juga mengatakan bahwa dia cukup fasih dalam berbahasa Perancis. Sehingga, Draco mengajaknya mengobrol dalam bahasa Perancis sebentar. Draco memang pandai berbahasa Perancis karena dia memiliki banyak saudara di sana. Selain bahasa Perancis, Hermione juga menguasai banyak bahasa. Dari bahasa Mandarin, Jepang, Latin, dan Italia. Hal tersebut semakin membuat Draco terkesan dan membuatnya tidak menyesal untuk memilih Hermione sebagai gadis pujaannya.
Dan tanpa berpikir dua kali, Draco mengambil makanannya yang ada di piring dengan sumpitnya, lalu memasukannya ke dalam mulut Hermione. Hal tersebut membuat Hermione kaget dan bengong karena Draco baru saja menyuapinya. Tetapi, Draco malah tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Hermione yang seperti orang bodoh. Hal tersebut membuat Hermione membalas perbuatan Draco dan mereka akhirnya saling tertawa bersama.
"Uh, maaf," kata Draco setelah menelan makanan yang baru saja dimasukkan Hermione ke dalam mulutnya. Hermione tertawa melihat Draco yang seperti anak kecil.
"Aku belum pernah disuapi oleh orang lain selain orang tuaku," kata Hermione sambil tersenyum. Seketika, muka Draco berubah menjadi semerah tomat dan membuatnya ingin menyembunyikan wajahnya selamanya di hadapan Hermione.
"Uh, maaf, aku... aku... aku sudah lancang," kata Draco sambil menggaruk leher bagian belakangnya yang tidak gatal itu.
"Tidak apa-apa. Lagipula, aku menikmatinya, kok," kata Hermione sambil menggenggam tangan Draco. Kedua pipi mereka pun sama-sama memerah dan Hermione langsung melepaskan genggamannya dari tangan Draco.
Akhirnya, setelah setengah jam mereka menghabiskan makanan mereka sambil mengobrol tentang satu sama lain, mereka berdua langsung beranjak untuk pergi tujuan mereka selanjutnya.
"Baiklah, setelah aku membayar makanannya, bagaimana kalau kita pergi ke pekan raya yang tidak jauh dari rumahmu? Sudah 10 tahun aku tidak ke pekan raya seperti itu," kata Draco. Hermione menyetujuinya dengan mudah dan langsung berjalan keluar dari restoran tersebut. Membiarkan Draco untuk membayar di kasir.
Setelah membayar semuanya, Draco menggandeng Hermione menuju mobilnya. Dia sangat tidak sadar bahwa dia menggandeng tangan Hermione. Begitu juga dengan Hermione yang tidak sadar bahwa tangannya digandeng oleh Draco. Saat dia menyadarinya, wajahnya merona merah dan melepaskannya secara lembut. Membuat Draco menundukkan kepalanya dan menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Uh, maaf," gumam Draco.
"Yeah, tidak apa-apa. Memang seharusnya begitu, kan?" Hermione berusaha terkekeh. Tetapi, dia malah terdengar gugup sendiri. Hal tersebut membuat Draco tersenyum cukup lebar. Dan akhirnya, mereka berdua meninggalkan restoran tersebut.
"Aku sudah lama tidak ke pekan raya karena orang tuaku berpikir bahwa pekan raya itu kotor dan jorok. Apalagi wahana-wahana permainannya yang katanya membahayakan. Padahal menurutku, itu sangat menyenangkan. Mereka lebih menyuruhku untuk pergi ke tempat semacam lelang atau acara amal yang sangat membosankan," gerutu Draco saat mereka sedang berada di perjalanan menuju pekan raya.
"Orang tuaku merupakan orang yang sangat perfeksionis. Aku tidak boleh bergaul dengan orang biasa, bersekolah di sekolah biasa, dan mereka terlalu mengaturku dalam bagaimana cara menjalani hidup. Mereka selalu mendikteku bagaimana harus berbicara, berjalan, bersikap, bahkan cara makan sekalipun. Itulah mengapa mereka mengirimku ke sekolah khusus laki-laki di Manchester. Aku takut lama-lama aku bisa jadi homo jika aku terus mendekam di sekolah itu," kata Draco lagi. Hermione tertawa mendengar kalimat terakhir yang meluncur dari bibir Draco. Dan hal tersebut membuat Draco memutar kedua bola matanya.
"Tapi, kau menikmatinya, kan? Menjadi seorang anak tunggal yang dibanjiri banyak harta dan banyak gadis yang mengejarmu karena kau sangat terkenal,"
"Yeah, awalnya aku menikmatinya. Tetapi, saat aku tahu bagaimana kehidupan remaja Inggris yang normal, sepertimu, Harry, dan sahabat-sahabatmu yang lainnya, aku sangat menyesal telah membiarkan orang tuaku untuk mendikte hidupku," cerita Draco lagi. Suara radio yang sedang memutar lagu-lagu rock tahun 80-an terdengar samar-samar karena Draco yang terus berbicara.
"Lalu, sejak kapan kau mulai sadar tentang hal tersebut?" Hermione sudah mulai membiasakan mengobrol dengan Draco dan asyik membahas apa yang sedang Draco berusaha bahas. Menurutnya, hal seperti ini sangat menarik dan hal ini tidak tertulis di biodata Draco di Wikipedia. Yang tertulis di sana hanyalah secara garis besar. Tidak mendetail seperti yang Draco ceritakan.
"Aku mulai menyadarinya sejak aku berusia 15 tahun. Saat aku menonton sebuah film Amerika di kamar asramaku. Aku melihat kehidupan mereka sangat bebas dan menyenangkan. Aku sudah mulai mengatakan kepada orang tuaku untuk pindah ke sekolah biasa. Tetapi, mereka tidak mau mendengarkanku. Sampai akhirnya saat usiaku sudah 17 tahun, aku mulai berani melawan kehendak orang tuaku yang menurutku tidak nyaman. Itulah mengapa aku bisa bersekolah di sekolahmu," kata Draco sambil nyengir. Hermione mau tidak mau tersenyum melihat cengiran Draco yang menurutnya membuat Draco terlihat sangat menggemaskan.
Lalu hening yang sangat panjang. Yang terdengar adalah radio yang sedang memutar lagu hits milik Queen di era 80-an. Draco mengeraskan volume nya dan ikut bernyanyi bersama Freddy Mercury. Hermione juga ikut bernyanyi walaupun hanya menggerakkan bibirnya.
"Queen yang menginspirasiku untuk membuat sebuah band," kata Draco disela-sela nyanyiannya. Hermione menaikkan alisnya.
"Lagu pertama yang aku dengar tentu saja Bohemian Rhapsody. Siapa sih yang tidak tahu lagu tersebut? Saat itu aku berusia 8 tahun dan sejak saat itulah, aku tertarik dengan Queen." Draco mulai mengecilkan volume radionya lagi ketika iklan di radio mulai muncul.
"Aku suka dengan lagu itu. Tapi, selera musikku tidak terlalu spesifik. Yang penting enak didengar dan aku bisa menyanyikannya," kata Hermione sambil tersenyum. Draco terpana melihat senyuman Hermione yang terlihat samar-samar karena gelapnya malam dan hanya sedikit lampu yang menerangi pinggiran kota London tersebut.
"Apa kau tidak tertekan dengan kejeniusanmu, Hermione? Maksudku, kau sangat pintar dan ku dengar, nilaimu selalu nyaris sempurna dan kau juga suka menghabiskan waktumu di perpustakaan untuk membaca buku atau menyelesaikan tugas. Apa kau tidak merasa lelah dengan semua itu? Apa menurutmu kau tidak terlalu menuntut otakmu untuk selalu bekerja lebih?" tanya Draco tiba-tiba. Pertanyaan tersebut berhasil membuat Hermione terkekeh mendengarnya. Draco, mau tidak mau, terpana lagi dengan Hermione. Sungguh Hermione berhasil mengubah Draco yang keras kepala menjadi seorang Draco yang dimabuk cinta.
"Tentu saja tidak. Justru kalau aku tidak membaca atau mengerjakan tugas atau melakukan aktivitas apapun yang bisa menambah wawasanku, aku akan merasa stress dan bosan. Menurutku, belajar adalah suatu hal yang menyenangkan. Terutama jika aku menemukan sebuah permasalahan dalam soal yang tidak bisa kuselesaikan dengan satu buku. Di situlah tantangannya," ucap Hermione sambil tersenyum lebar. Hal tersebut berhasil membuat Draco memutar bola matanya karena Draco memang orang yang susah untuk belajar. Membuka buku pelajarannya saja sangat jarang.
"Dan, aku sangat susah untuk bisa belajar sepertimu," gumam Draco sambil terus memfokuskan matanya di jalan. Dia melihat jam yang ada di dashboard mobilnya menunjukkan hampir pukul setengah sepuluh. Dia tidak yakin kalau pekan rayanya masih buka.
"Yeah, aku paham. Bagaimana jika besok mendekati ujian akhir, kita belajar bersama? Kau bergabung dengan teman-temanku," tawar Hermione. Draco melebarkan matanya dan langsung menolehkan kepalanya, melihat ke arah Hermione.
"Sungguh? Tapi, kita kan beda jurusan," gumam Draco. Berusaha untuk menyembunyikan rasa excited nya yang sebenarnya bisa membuatnya malu sendiri. Hermione terkekeh.
"Tentu saja. Aku tidak masalah jika harus mengerjakan tugas kimia." Hermione tersenyum. Draco, tanpa berpikir dua kali, langsung memeluk Hermione seperti anak kecil dan melepaskan kedua tangannya dari kemudi mobilnya.
"Draco! Kemudinya!" dan di saat yang bersamaan, Draco melihat seorang laki-laki melintas di hadapan mobilnya dan...
BRAK!
Mobil Audi Draco menabrak seorang laki-laki yang kini tergeletak di hadapan mobilnya. Secara refleks, Draco langsug menginjak rem mobilnya. Hermione langsung keluar dari mobil Draco sedangkan laki-laki berambut pirang tersebut terduduk lesu di balik kemudi mobilnya. Wajahnya yang pucat jauh lebih pucat ketika mengetahui bahwa dia baru saja menabrak orang yang tidak berdosa.
Dia melihat wajah khawatir Hermione dari dalam dan melihat Hermione sedang mengoceh apapun yang Draco tidak mau dengar. Perasaan Draco sangat campur aduk untuk saat ini. Antara takut, bersalah, dan ingin menolongnya. Tetapi, rasa takutnya lebih besar dan ditambah lagi, jalanannya begitu sepi. Draco menjadi tambah takut dan rencananya setelah ini batal semua.
Draco melihat Hermione yang berdiri dan memukul-mukul kap mobil Draco sambil mengatakan sesuatu. Tetapi suaranya hanya terdengar samar-samar dan membuat Draco terpaksa keluar. Pastilah Hermione menyuruhnya keluar dari wajahnya yang khawatir dan memerah. Dia sangat takut dengan sisi Hermione yang seperti ini. Lututnya gemetar dan tubuhnya sangat lemas. Dia seperti akan jatuh saat ini juga. Terutama saat melihat korban yang ditabraknya berdarah di tangan dan kepalanya.
"Oh my God! Oh my God! What have I done? What have I done?" Draco mulai menyandarkan tubuhnya ke mobilnya karena dia sudah sangat lemas melihat kondisi korban yang sebenarnya tidak terlalu parah. Tetapi, karena sang korban tidak bergerak, membuat Draco semakin lemas. Dia takut kalau korbannya mati dan keluarganya mengetahuinya. Dan kemudian keluarganya menuntut Draco lalu Draco dipenjara karena membunuh orang tersebut.
Korban tersebut seorang laki-laki yang mungkin berusia 20 tahun. Rambutnya berwarna pirang keemasan dan tingginya jauh lebih tinggi dari Draco. Kulitnya pucat, tetapi tidak sepucat Draco, dan dia tergeletak di hadapannya saat ini. Hal tersebut semakin membuat Draco berpikir negatif tentang apa yang akan terjadi setelah ini. Tetapi, suara Hermione membuyarkan lamunannya.
"Gendong dia dan bawa dia ke rumah sakit, Draco!" Hermione nyaris berteriak karena frustrasi dan melihat Draco yang hanya bersandar lemas di mobilnya. Mengesampingkan pikiran buruknya tentang dia akan dipenjara, Draco langsung menggendong korban tersebut dan memasukkannya ke dalam mobilnya.
"Maaf, Hermione, kencan malam ini jadi berantakan sekali karena aku bersikap bodoh. Maafkan aku, Hermione. Maafkan aku," kata Draco sambil meletakkan kedua tangannya di depan dadanya dan memasang tampang paling memelas di hadapan Hermione. Kini mereka sudah berada di ruang tunggu UGD sebuah rumah sakit yang mereka temukan 5 blok dari tempat kejadian. Gadis berambut cokelat tersebut yang sedang berusaha menghubungi keluarganya itu hanya mengangguk. Dia masih sangat cemas dengan apa yang baru saja dia alami. Dia mondar-mandir dengan iPhone nya menempel di telinganya.
"Hermione, please, maafkan aku. Aku sangat tidak sengaja. Aku hanya sangat senang karena kau mau membantuku. Aku terlalu senang sehingga aku melepas tanganku dari kemudiku. Hermione maafkan aku. Maafkan aku." Draco tak henti-hentinya meminta maaf kepada Hermione dan dia sudah nyaris menangis karena Draco tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Dan lagi-lagi, Hermione hanya mengangguk dan terus berusaha menghubungi anggota keluarga dari korban. Hermione mendapatkan nomornya dari handphone yang ada di saku korban.
"Hermione..."
"Draco! Jika kau meminta maaf sekali lagi kepadaku, aku bersumpah akan menggilasmu dengan mesin yang ada di ruang operasi, sekarang!" kata Hermione nyaris berteriak lagi. Draco langsung menutup mulutnya dan mengangguk seperti seorang anak kecil yang diperingatkan orang tuanya untuk diam. Dan setelah itu, Hermione langsung meninggalkan Draco untuk berbicara dengan keluarga korban di telepon.
Akhirnya, Draco terduduk di ruang tunggu UGD tersebut. Sebenarnya, dia duduk di lantai ruang tunggu tersebut. Terlalu stress untuk duduk di kursi. Dia melihat Hermione yang sedang menjelaskan apa yang baru saja terjadi dari kejauhan. Draco mengetahui bahwa korban bernama Anthony Brooks dan berusia 20 tahun. Wow, dia 3 tahun lebih tua dari Draco dan hal tersebut cukup untuk membuat Draco ketakutan. Dia langsung memeluk lututnya dan menyembunyikan wajahnya di sela-sela pahanya.
"Draco." Hermione memanggil Draco dengan lembut dan menyentuh lutut Draco. Laki-laki berambut pirang tersebut mulai mengangkat kepalanya dan melihat Hermione yang sudah berlutut di hadapannya dan tersenyum.
"Hermione." Draco langsung merubah posisi duduknya dan berdiri. Dia langsung duduk di kursi yang sudah disediakan. Hermione mengikutinya.
"Aku sudah menelepon orang tuanya. Mereka akan segera datang," kata Hermione lembut. Draco mengangguk.
"Terima kasih, Hermione. Kau masih mau membantuku. Uh... aku merasa seperti seorang pecundang karena bersikap seperti ini," kata Draco sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Hermione tersenyum dan mencium pipi Draco. Hal tersebut cukup untuk membuat Draco membeku dan mulutnya menganga lebar. Hermione terkekeh melihatnya.
"Aku mengerti mengapa kau bersikap seperti itu. Kau takut darah, kau tidak terbiasa dengan kecelakaan, dan kau trauma dengan rumah sakit. Yeah, kau sudah menceritakan hal itu semua tadi saat makan malam," kata Hermione sambil tertawa kecil membuat wajah Draco memerah. Tentu saja dia masih tidak percaya bahwa Hermione baru saja mencium pipinya.
Mencium pipinya.
Pipinya.
Draco meletakkan telapak tangannya di bekas ciuman Hermione dan mengusapnya lembut. Dia sama sekali tidak mengharapkan bahwa Hermione akan menciumnya. Tetapi, hal tersebut sudah cukup untuk membuat Draco tenang.
"Maaf kalau kau tidak suka dicium di pipi. Aku hanya tidak tahu bagaimana untuk menenangkanmu. I'm not your nanny," gumam Hermione. Wajahnya memerah dan dia menundukkan kepalanya. Tetapi, tidak ingin terlihat terlalu gugup, Hermione langsung mengambil sebuah majalah yang ada di dekatnya dan membacanya.
"Tidak apa-apa. Aku... aku hanya tidak percaya kau melakukannya. Um... thanks," Draco tersenyum.
"Mione." Hermione, yang sedang asyik membaca majalah tentang kedokteran itu, langsung menutup majalahnya dan menolehkan kepalanya ke arah Draco.
"Um... terima kasih untuk malam ini. Aku... aku... Uh, ini... Ini malam terbaikku selama 17 tahun," gumam Draco. Hermione meletakkan majalahnya ke tempatnya semula dan menghadap ke arah Draco. Dia langsung membetulkan posisi topi hangat Draco yang memang sudah nyaris lepas. Draco semakin tidak menyangka bahwa Hermione akan melakukan hal tersebut.
"Seharusnya aku yang berterima kasih kepadamu. Kau sudah mengajakku menonton film, membayar makan malam, dan mau menolong laki-laki malang ini. Aku belum pernah merasa senyaman ini untuk pergi berdua dengan seorang laki-laki – Kecuali Harry dan Ron, karena mereka sahabatku sejak kecil – kau sangat humoris dan cerita masa lalumu sungguh menarik perhatianku." Hermione tersenyum malu-malu. Dia bisa merasakan bahwa kedua pipinya mulai merona merah karena dia tidak menyadari bahwa dia baru saja mengatakan hal tersebut.
Tak lama kemudian, keluarga Anthony datang ke tempat Draco dan Hermione duduk. Hermione langsung berdiri dan bertemu dengan kemungkinan ibu Anthony.
"Mrs. Brooks?" tanya Hermione. Perempuan yang berusia sekitar 40 tahun itu mengangguk.
"Apa kau yang tadi menelepon rumahku?" tanya perempuan berambut pirang keemasan dan tingginya tidak jauh lebih tinggi dari Hermione itu.
"Iya. Jadi, tadi temanku tidak sengaja menabrak anakmu saat kami sedang melintas di sebuah jalan 5 blok dari sini. Temanku memang sedikit ceroboh jadi..."
"Anthony bukan anakku. Dia keponakanku. Orang tuanya sudah lama meninggal." Perempuan tersebut langsung memotong Hermione yang sedang berusaha menjelaskan kepada perempuan tersebut.
"Ngomong-ngomong, namaku Bella. Ini suamiku, Richard. Dan ini adik sepupu Anthony, Alan." Perempuan bernama Bella tersebut mengenalkan satu persatu keluarganya yang datang ke rumah sakit. Wajah mereka terlihat cemas. Tetapi, Bella terlihat tegar menghadapinya.
"Aku Hermione dan ini..."
"Kau Draco Malfoy!" teriak Alan, seorang anak berusia sekitar 13 tahun yang berdiri di sebelah Bella. Draco langsung mengangkat wajahnya yang sedari tadi ditekuk. Draco langsung tersenyum kaku dan canggung. Tidak tahu harus berkata apa. Jika hal ini meledak di infotainment, matilah Draco.
"Uh, Hey, yeah, aku... aku tersangkanya," kata Draco. Hermione menaikkan alisnya dan menggelengkan kepalanya mendengar apa yang baru saja Draco ucapkan.
Akhirnya, kelima orang tersebut terganggu dengan dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD. Draco-lah yang pertama menghampiri dokter tersebut.
"Jadi, bagaimana keadannya, Dok?" tanya Draco dalam satu nafas. Dia masih sangat takut jika laki-laki tersebut mati dan ketiga orang yang sangat manis ini akan menuntutnya ke pengadilan dan memenjarakannya.
"Anthony baik-baik saja. Dia pingsan karena dia shock dan dia tidak terlalu banyak kehilangan darah. Dia akan siuman sebentar lagi. Kau keluarga Anthony?" tanya si Dokter kepada Draco.
"Bukan. Aku yang menabraknya," gumam Draco.
"Uh, aku akan bertanggung jawab sepenuhnya atas biaya rumah sakit. Kau tidak perlu khawatir," kata Draco kepada Richard. Ayah dari Alan tersebut mengangguk dan merangkul Bella yang masih shock dengan apa yang baru saja terjadi.
"Well, aku akan mengurusnya."
Setelah basa-basi, Hermione dan Draco langsung meninggalkan rumah sakit tersebut. Draco juga menyuruh keluarga kecil tersebut untuk tidak membeberkan berita ini ke media karena Draco sudah cukup lelah untuk dikejar-kejar paparazzi. Ketiga orang tersebut langsung menyetujuinya setelah Draco memberikan tambahan beberapa pound untuk tutup mulut.
Selama perjalanan, Hermione dan Draco saling berdiam diri. Mereka tidak berbicara satu sama lain. Pikiran Hermione sudah terlalu jauh tenggelam dalam heningnya malam di pinggiran kota London tersebut. Sedangkan Draco juga sudah mulai jauh tenggelam dalam pikirannya sendiri yang Hermione tidak ingin tahu.
Hermione memikirkan apa yang baru saja terjadi. Selama menonton film. Mereka secara tidak sengaja saling menggenggam tangan satu sama lain. Selama makan malam, Draco juga dengan isengnya menyuapkan makanannya ke mulut Hermione. Dan saat-saat mereka berada di jalan, saat Draco menceritakan kehidupannya, Hermione sangat menikmati itu semua. Dia tidak peduli jika selama dia berjalan dengan Draco malam ini dibuntuti oleh paparazzi. Dia tidak akan kaget jika besok pagi akan ada berita tentang mereka berdua di media.
Tetapi, Hermione benar-benar menikmati malam ini. Menikmati setiap detik yang dia habiskan dengan Draco. Menikmati setiap ucapan yang keluar dari bibir Draco. Menikmati setiap sentuhan yang dengan tidak sengaja Draco berikan kepadanya. Hermione hanya tersenyum mengingat hal-hal kecil seperti itu.
"Baiklah, kau sudah sampai di istanamu, Nona," kata Draco sambil tersenyum jahil. Hermione yang sedang melamun itu tidak sadar bahwa dia sudah sampai di depan rumahnya yang terlihat sangat sepi.
Tanpa berpikir dua kali, Draco langsung keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Hermione. Dia juga mengulurkan tangannya dan membantu Hermione keluar dari mobilnya. Benar-benar sikap yang membuat Hermione semakin jatuh kedalam lautan asmara seorang Draco Malfoy.
Draco juga menuntun Hermione sampai ke depan pintu Hermione. Dan di depan pintunya, Hermione bisa merasakan kedua tangan Draco menggenggam kedua tangannya. Hermione langsung menatap kedua mata kelabu Draco. Dia juga bisa merasakan bahwa Draco mulai mempersempit jarak mereka berdua. Draco langsung mendekatkan bibirnya dengan telinga Hermione yang membuat jantung Hermione berdegup sangat kencang. Genggaman tangannya di tangan Draco juga semakin erat. Dia bisa merasakan nafas Draco yang hangat menyentuh telinganya.
"Thanks for tonight," bisik Draco. Kedua pipi Hermione langsung memerah seketika saat dia merasakan hembusan nafas Draco di telinganya. Draco langsung menarik dirinya dan berdiri di hadapan Hermione lagi saat ini. Mereka berdua hanya saling menatap mata mereka satu sama lain. Genggaman tangan mereka semakin erat dan Draco juga tak henti-hentinya bolak-balik menatap bibir Hermione dan mata Hermione.
Akhirnya, tanpa Hermione sadari, Draco semakin mempersempit jarak antara mereka berdua. Hermione bisa merasakan bahwa wajah Draco sudah sangat dekat dengan wajahnya. Dan tanpa ragu lagi, bibir Draco menyentuh bibir Hermione.
Draco mulai mencium bibir Hermione dan merasakan setiap momen yang sedang dia rasakan. Mereka berdua menutup mata mereka masing-masing dan Hermione, secara naluriah, mengalungkan kedua tangannya di leher Draco sedangkan Draco meletakkan kedua tangannya di pinggang Hermione. Gadis berambut cokelat tersebut bisa melihat kembang api saling meluncur di kelopak matanya. Mungkin ini yang orang-orang katakan tentang ciuman yang membuatmu merasa di surga. Hermione belum pernah merasakannya sebelumnya. Sehingga dia tidak mau melepaskannya terlalu dini.
Bibir mereka bertaut cukup lama dan baik Hermione maupun Draco, tidak ingin melepasnya terlalu cepat. Mereka ingin merasakan momen itu lebih lama lagi. Mempelajari baik-baik setiap momen yang mereka rasakan dan berusaha untuk terus mengingatnya.
Dan karena kebutuhan oksigen yang mendesak, Hermione yang melepas bibirnya terlebih dahulu. Dia masih tidak percaya dengan apa yang baru dia lakukan. Kedua tangannya masih melingkar di leher Draco, begitu juga dengan kedua tangan Draco yang masih diletakkan di pinggang Hermione. Mereka tersenyum satu sama lain dan saling menempelkan dahi mereka. Hidung mereka saling bersentuhan dan Hermione sangat betah dengan posisi mereka saat ini.
Tanpa ragu lagi, Hermione mencium Draco sekali lagi. Hanya untuk merasakan kemilau yang ada di kelopak matanya saat dia menutup matanya dan mencium Draco. Laki-laki berambut pirang tersebut pun tidak ragu lagi untuk membalas ciuman Hermione. Ciuman kali ini lebih lembut dan lebih penuh rasa cinta dibanding yang sebelumnya. Dan hal tersebut membuat Hermione tersenyum di sela-sela ciumannya.
"Wow," kata Draco setelah dia menarik tubuhnya karena dia mulai sulit bernafas. Hermione tersenyum dan melihat wajah Draco yang memerah, juga bibir Draco yang membengkak.
"That was amazing," gumam Hermione malu-malu. Draco tersenyum mendengarnya. Dia mendekatkan tubuhnya dengan Hermione sekali lagi. Ingin mengatakan yang sudah lama ingin dia katakana.
"Uh, Hermione,"
"Ya?"
"Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu,"
"Katakan saja,"
Hening.
Draco tiba-tiba kehilangan nyalinya. Dia tiba-tiba kehilangan kata-katanya. Dia kehilangan akal sehatnya dan dia tidak tahu harus melakukan apa. Tatapan mata Hermione membuatnya semakin tidak tahu harus berkata apa. Kedua mata hazel yang indah tersebut membuatnya kehilangan semua kata-katanya.
Tetapi, Hermione malah mengecup bibir Draco dan memberikan tatapan yang membuat tubuh Draco merasa jauh lebih tenang. Dan karena sikap yang baru saja Hermione lakukan, Draco semakin percaya diri dengan apa yang akan dia katakan.
"Uh, Hermione, aku... aku... aku sangat senang malam ini terjadi, you know. Uh... aku belum pernah merasakan sesenang ini sebelumnya. Aku ingin mengucapkan terima kasih banyak kau mau mulai membuka dirimu untukku. Aku meminta maaf karena malam ini tidak berjalan sesuai rencana. Bahkan kita sempat di rumah sakit cukup lama. Tetapi, kau mau menerima ajakanku untuk pergi berdua sudah lebih cukup bagiku. Jadi... uh, sebenarnya..."
Hening.
Hermione menunggu lagi. Tak ada satupun dari mereka yang berbicara.
"Aku memang sudah menyukaimu sejak kau tampil di backstage beberapa bulan yang lalu, Hermione. Aku memang sangat menyukaimu sejak saat itu dan aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Tidak memilikimu membunuhku secara perlahan dan aku tidak mau semakin hanyut dalam rasa sengsaraku. Uh, aku tau ini terlalu cepat Hermione karena kita baru saja berkencan sekali. Tapi... Hermione Granger, would you be my girlfriend?" tanya Draco. Dia menggiggit bibir bagian bawahnya dan berusaha menghindar dari tatapan Hermione. Dia tidak mau melihat ekspresi Hermione yang mungkin bisa saja mengusirnya pergi saat ini dan justru mengerjai Draco dengan apa yang telah gadis itu lakukan sepanjang malam. Mungkin saja Hermione hanya mengerjai Draco dengan cara mau pergi berdua dengannya dan diajaknya makan malam dan menciumnya agar hal tersebut membuat Draco senang. Bisa saja Hermione hanya ingin mempermalukan Draco dan kembali menjadi Hermione yang keras kepala dan menyebalkan.
Tetapi, Hermione bersikap sebaliknya. Hermione mengecup bibir Draco lagi dan membuat Draco membuang jauh-jauh seluruh pikiran jeleknya yang membuatnya merasa down. Draco tersenyum setelah bibir mungil Hermione dilepas dari bibirnya.
"Setelah apa yang kita jalani dan kita alami malam ini, mungkin aku mulai bisa merubah pemikiranku tentang dirimu. Mungkin selama ini aku terlalu keras dan arogan sehingga membuatmu sakit hati. Tapi, malam ini, kau berhasil merubah pemikiranku yang negatif itu. Kau berhasil merubah pikiranku yang jelek terhadapmu dan membuatku semakin percaya bahwa aku memang sebenarnya untukmu. Jadi, tentu saja Draco Malfoy, aku bersedia menjadi pacarmu." Hermione tersenyum kepada Draco. Senyumnya yang paling manis yang pernah dia berikan kepada orang lain.
Dan akhirnya, mereka berdua bercumbu lagi di depan pintu Hermione. Di pertengahan bulan Januari yang dingin, di depan pintu rumah Hermione, seorang Draco Malfoy akhirnya berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan selama ini. Berhasil meraih apa yang dia impikan selama ini. Berhasil memperoleh apa yang selama ini dia idam-idamkan. Dan Draco sangat bahagia. Melebihi kebahagiannya selama ini. Melebihi apapun yang pernah dia alami.
"You're mine, Girl from the Rock Show," bisik Draco. Kedua pipi Hermione memerah mendengarnya. Dia lalu tertawa setelah menyadarinya.
Tentu saja Draco akan menjulukinya itu. Mereka bertemu di konser Draco yang notabene adalah sebuah pertunjukan rock karena band Draco beraliran rock. Dan hal tersebut membuat Draco geli sendiri karena dia tidak menyangka dan tidak pernah membayangkan bahwa dia akan berpacaran dengan seorang gadis yang dia temui di konsernya sendiri. Dan Hermione juga tidak pernah menyangka, bahwa dia mau pergi ke sebuah pertunjukan musik rock yang biasanya dia tidak suka dan dia akan mendapatkan future boyfriend nya dari situ.
Dan sekali lagi, mereka berdua hanya menikmati kesunyian dan keheningan malam sembari mencium bibir mereka satu sama lain.
-To Be Continued-
gimanaaaa? jelek? bagus? biasa aja? garing?
langsung aja REVIEW!
dan mungkin di next update itu udah jadi final ceritanya dan mungkin bakal cukup panjang.
mungkin loh ya :p
dan mungkin author bakal on hiatus setelah fic ini selesai soalnya udh mulai fokus buat kelas 12 nya *nangis darah*
well... daripada author-nya curhat terus, langsung aja deh kritik, saran, apadeh terserah, yang penting membangun
gausah malu malu #plak
xoxo, CrazyForKames
