Naruto terdiam memandang ke arah depan ketika dia melihat seorang pemuda berumur kisaran sama dengannya tengah tersenyum padanya dengan menghalangi jalan yang dia lalui. Naruto kini berada di jalanan di sebuah distrik di kota Kuoh.

"Siapa kau?" ucap Naruto kepada pemuda berambut silver gelap yang terlihat seumuran dengannya dimana pemuda itu berdiri di depannya. Pandangan Naruto menatap lekat pemuda tersebut dengan pandangan penuh kalkulasi.

"Uzumaki Naruto-kah?..." ujar pemuda tersebut dengan kedua tangan miliknya yang masih berada di di saku celana. "Perkenalkan, namaku Vali…"

"Lalu?" jawab Naruto datar. "Apa yang kau mau dengan menghalangi jalanku?"

"Hanya ingin melihat orang yang sudah mengalahkan Kokabiel…" jawab Vali yang membuat Naruto langsung memasang posisi siaga.

"Ah… kau memasang posisi bersiaga." Tukas Vali lagi. "Tak buruk juga."

"Kau dari salah satu fraksi Injil?" tanya Naruto datar lagi.

"Kurasa bisa kau bilang begitu mengingat aku berasal dari fraksi fallen angel…" jawab Vali dengan tersenyum maniak kepada Naruto. "Kau lebih menarik daripada si mesum pemilik jiwa naga yang seharusnya menjadi rivalku…"

Ucapan Vali membuat Naruto mengenyitkan dahinya. Vali mengatakan rival kepada Hyoudou Issei dan Issei memiliki sacred gear Boosted Gear yang merupakan Longinus. Dan dari cerita yang pernah Rayna ceritakan padanya, Boosted Gear memiliki musuh bebuyutan yaitu…

"Kau pemilik jiwa naga putih, sacred gear Divine Dividing bukan?" ucap Naruto yang disambut dengan senyuman lebar Vali. Senyuman lebar Vali membuat Naruto menegang karena senyuman yang Vali berikan padanya terlihat jelas mengandung unsur jahat.

"Ping pong!" tukas Vali senang akan jawaban Naruto yang benar. "Kau juga terlihat sangat cerdas hingga membuat darahku sangat mendidih ingin bertarung denganmu…"

Jawaban Vali membuat tubuh Naruto makin menegang dan makin siaga.

"Tapi sayangnya aku menemuimu bukan untuk bertarung sebagai musuh…"

"Huh?!" bingung Naruto.

"Aku kemari hanya memberikan undangan kepadamu dari Gubernur fallen angel, Azazel. Datanglah pada hari minggu ke distrik timur di bagian hiburan malam. Bar no 5 yang berada di barat distrik. Datanglah sendirian kesana. Ada hal yang ingin Azazel katakan padamu…" tukas Vali lagi.

Naruto yang mendengar ucapan Vali terdiam sejenak sebelum kembali angkat bicara. "Hanya itu?..."

"Yah…, hanya itu saja-…" jeda Vali sejenak sebelum kemudian dia menjentikkan jari tangannya sejenak dan membuat ruang sekitar bergetar yang Naruto rasakan bahwa sebuah penghalang terpasang di sekitar mereka.

Dan Vali menghilang…

Bagi mata manusia normal, Vali hanya menghilang. Lenyap dari pandangan meninggalkan debu tipis yang berterbangan. Dan tiba-tiba berada di hadapan Naruto dengan tinju yang terlapis energi hitam yang siap untuk dihantamkan ke arah Naruto.

Namun Naruto melihatnya.

Momen ketika Vali menghilang adalah momen dimana Vali melesat ke arahnya dengan tinju yang telah siap dihantamkan ke arahnya, sepuluh lingkaran kecil cahaya kompresi tinggi telah berada di sekeliling Vali. Naruto kemudian melompat mundur ke belakang menghindari hantaman tinju Vali dan melesatkan sepuluh lingkaran kecil cahaya tersebut ke arah Vali dan lalu meledak.

Ledakan tersebut menciptakan debu tebal yang menghalangi pandangan akibat efeknya yang meledak di sekitar tanah.

Tapi, ketika Naruto akan mendaratkan kakinya ke tanah, tiga buah laser putih melesat dari kumpulan debu dengan sangat cepat mengincar tiga titik vital tubuh Naruto.

Harusnya serangan cepat dari ketiga laser tersebut tak akan dapat dihindari oleh seorang manusia karena kecepatan laset tersebut melebihi kecepatan peluru yang keluar dari senjata api.

Namun, Naruto bukanlah manusia biasa.

Dengan gerak reflek yang sangat terlatih dari akibat latihan yang baru dia jalani, Naruto memutar tubuhnya. Menghindari setiap lesatan laser yang diarahkan padanya dengan sudut putaran tubuh yang melampaui setiap pergerakan manusia biasa

Vali kemudian keluar dari asap ketika Naruto memutar tubuhnya. Keluar dengan keadaan tanpa luka akibat ledakan serangan Naruto dengan lima lingkaran sihir yang berputar cepat disekitarnya yang berisi tulisan aksara yang tak dapat dibaca. Kelima lingkaran sihir tersebut lalu kembali mengeluarkan laser berwarna putih yang kembali mengincar titik vital tubuh Naruto.

Naruto yang tahu serangan laser yang datang padanya dengan cepat pula membuat lima bola cahaya kecil seperti yang pertama dan melesatkan bola cahaya tersebut pada laser yang datang ke arahnya.

Ledakan kembali terjadi ketika dua serangan tersebut bertemu. Menimbulkan asap kembali. Namun Naruto tetap bersiaga hingga Vali muncul dengan cepat dari asap ledakan ke arahnya dengan memutar tubuhnya mengirimkan tendangan memutar kuat yang bertujuan untuk menghantam tubuh Naruto.

Melihat tendangan Vali yang mengarah padanya membuat Naruto memutar pula tubuhnya dengan tumpuan satu kaki yang berada di tanah dan juga mengirimkan tendangan kuat ke arah Vali.

Dua tendangan tersebut beradu. Menciptakan ledakan angin yang menghempaskan debu-debu kecil di sekitar mereka. Menunjukkan betapa kuatnya masing-masing tendangan dua pemuda yang beradu tersebut yang berisi tenaga kinetik murni hingga juga menciptakan retakan di tanah akibat benturan dari dua tendangan yang masing-masing berisi kekuatan untuk menghancurkan batuan besar atau membengkokkan as besi.

Vali dan Naruto kemudian dengan cepat melompat ke belakang masing-masing. Pandangan mereka berdua tajam menganalisa adu kekuatan mereka sejenak.

'Dia… Dia tak hanya bagus dalam menyerang jarak jauh, bahkan dia juga terlatih dalam menyerang jarak dekat…' pikir Naruto dengan menganalisa seksama Vali.

'Kekuatan yang kutaruh dalam serangan tendangan tadi sangat besar. Harusnya tulangnya remuk, tetapi… Hmmm berdasarkan data yang kubaca dia harusnya manusia biasa… Manusia biasa tak mungkin punya tenaga besar yang murni dan mampu menandingi kekuatan murni dariku, tapi dia…' batin Vali dengan cengiran senang yang terpasang di wajahnya.

Bagi Vali, seorang manusia yang sekuat ini adalah sesuatu yang abnormal. Tak mungkin terjadi. Memang benar Vali berpikir pertama kali bahwa Uzumaki Naruto sangat terlatih dan punya skill bertarung yang melebihi Kokabiel. Tapi dia tak menyangka jika Uzumaki Naruto ini juga punya kekuatan murni. Ini semua bahkan membuat semuanya menjadi masuk akal bila remaja berambut putih yqng berumur lebih muda darinya ini bisa mengalahkan skill Kokabiel. Vali pernah melihat skill bertarung Kokabiel dan dia tanpa ragu bilang bahwa skill Kokabiel sangat jauh melampaui dirinya.

Atmosfir udara di sekitar mereka berdua begitu berat. Tekanan dari dua aura yang meneriakkan siapa yang lebih superior membuat udara di sekitar mereka bahkan sulit digunakan untuk bernafas bagi manusia biasa. Pandangan tajam penuh kalkulasi perhitungan tampak di kedua wajah mereka.

"Kau bilang bahwa kau tak berniat bertarung…" ucap Naruto bicara kemudian. "Lalu apa yang barusan kau lakukan?"

"Hanya mengetesmu saja dan kurasa sudah cukup…" ujar Vali dengan merilekskan tubuhnya kembali. "Aku hanya ingin membuktikan bahwa hal-hal yang merupakan laporan tentangmu bukan omong kosong belakang…" tambahnya lagi yang menghilangkan lingkaran sihir yang masih ada di sekitarnya.

Naruto hanya memandang datar ke arah Vali. Dia hanya sedikit bingung dengan tingkah pemuda di hadapannya ini.

"Kurasa aku harus kembali sekarang…" Vali bicara dengan senyuman menakutkan miliknya. "Kita akan bertemu lagi nanti, Uzumaki Naruto… Setidaknya takdir berbaik hati kepadaku dengan mengirimkanmu untuk menjadi lawan yang pantas daripada rivalku yang tak berguna itu…" Vali menambah kata-katanya sebelum kemudian menjentikkan jarinya lagi, menghilangkan penghalang yang dia pasang dan berjalan menjauh dari sana.

Naruto hanya memandang kepergian Vali dengan pandangan tajam dan raut wajah datar. Hari ini benar-benar terasa sangat mengganggu dirinya. Pertemuan dengan Maou tadi pagi dan pertemuan dengan dengan Vali membuat moodnya memburuk. Para fraksi itu akan selalu mengincarnya sekarang dan Naruto tahu ini akan terus berlangsung sampai dia benar-benar pergi dari sini. Dengan perlahan, dia menarik nafas panjang sebelum kemudian melanjutkan kembali. Hari ini hari Kamis dan Naruto masih punya waktu 2 hari lagi untuk berlatih meningkatkan kembali kekuatan cahayanya agar setara dengan Kokabiel sekaligus berjaga-jaga.

Written by Sora&Shiro

All the characters that come out in this story belong to respectable owners who make them. I just borrowed the characters they made to fill my desire to make a fanfiction story. And my fanfiction story is just for fun alone. So for the readers who read this story, if you do not like it, please flame like you guys always did on bad fanfiction

Kekuatan yang keluar disini sebagian terinspirasi dari One piece, Date a Live, dan masih banyak lagi.

Alternate Reality: OOC Naruto, strong to godlike Naruto, Human Naruto,...,

. . .

Summary: Re-write fic the Last Adventure. Uzumaki Naruto harus memulai semua dari awal dengan berbagai pertanyaan di dalam benaknya tentang siapa sebenarnya dirinya. Ingatan samar yang selalu muncul dalam mimpinya adalah kunci jawaban yang selama ini dia cari. Roda takdir telah berputar untuknya dan Naruto akan membuktikan bagaimana derajat manusia lebih tinggi dibanding makhluk supernatural

2 Hari kemudian, apartemen Naruto

"Kau berkata apa?!" Griselda sedikit berteriak, wajah syok terlihat jelas di raut mukanya yang kini memandang ke arah putri angkatnya yang kini berada di hadapannya.

Bahkan Dulio Gesualdo yang datang bersama dengan Griselda untuk menemani perjalanan, memandang lekat ke arah putri angkat dari Griselda Quarta yang berada di depan dirinya.

"Aku ingin berhenti menjadi exorcist, mama…" ujar Jeanne dengan mencoba memandang ke arah Griselda yang menatapnya dengan tatapan tajam. Di samping Jeanne kini juga duduk Raynare yang belakangan sedikit akrab dengannya, mencoba memberikan semangat dalam diam. "Aku bicara aku ingin berhenti secara penuh menjadi exorcist dan memotong segala koneksiku dengan gereja…"

"Kenapa?" tanya Griselda. Wajahnya masih menyiratkan emosi terkejut yang jelas tersirat di sana.

"A...a-aku tak bisa lagi bekerja untuk mereka mama. Tidak selepas aku tahu kebenaran yang disembunyikan gereja tentang Tuhan…"

Griselda membulatkan matanya selepas mendengar perkataan dari anak angkatnya ini. Bahkan Dulio menaikkan alisnya untuk menunjukkan betapa dia tak sangka bahwa anak angkat Griselda ini tahu kebenaran yang sesungguhnya.

"Siapa yang memberitahumu hal ini?" tanya Griselda dengan nada tenang yang tersirat di ucapannya.

"Kokabiel yang mengatakannya mama disaat dia sudah mengalahkan kami semua…" jawab Jeanne dengan nada trenyuh dan senyuman pahit disana. "Aku bahkan sulit mempercayainya, tapi dia menunjukkan buktinya, mama…"

"Jeanne…" tukas Griselda dengan nada trenyuh pula. Kini dia tahu alasan kenapa anak angkatnya ini ingin berhenti. "Jeanne… Kau tak bisa berhenti begitu saja dan membuang segala tu-..."

"Aku membunuh anak kecil yang bersekutu dengan iblis padahal anak tersebut hanya ingin menemukan orang tua kandungnya…" sela Jeanne dengan amarah dan nada penyesalan yang jelas terlihat. "Aku membunuhnya padahal dia masih hanyalah anak kecil yang tak berdosa walau dikatakan dia bersekutu dengan iblis. Dia mengatakan tujuannya kepadaku dengan air mata menangis mendekap foto kedua orang tua kandungnya yanh didapatya dari iblis dan aku membunuhnya tanpa ampun karena diperintahkan gereja…"

Air mata sedikit keluar dari pelupuk mata Jeanne. Amarah, penyesalan, dan rasa takut terdengar jelas di kata-kata yang telah dia ucapkan. Emosi Jeanne kini bercampur aduk dan Raynare yang berada di sampingnya kini tengah berusaha menenangkan dirinya.

Griselda menutup matanya ketika mendengar perkataan Jeanne. Mengingat kembali tentang misi yang diberikan Jeanne untuk membunuh anak yang dikatakan bersekutu dengan iblis tersebut. Anak tersebut adalah salah satu anak angkat pastur berpengaruh di gereja di Vatikan dan anak tersebut terkena jebakan dari iblis untuk mencuri sebuah informasi penting dengan iming-iming akan dipertemukan dengan orang tua aslinya. Karena pentingnya informasi tersebut, pihak gereja sampai memberikan perintah membunuh anak tersebut agar informasi tersebut tak bocor ke luar. Kejam memang, tapi itu memang merupakan perintah atasan yang berada di gereja dan tugas Exorcist hanya melaksanakannya saja.

"Jeanne sayang… Aku tahu bagaimana perasaanmu, tapi kau harus tahu bahwa Gereja melakukannya juga dengan punya alasan tersendiri. Aku tak tahu alasan tersebut, tapi Gereja tak pernah membunuh yang tak bersalah Jeanne…" ujar Griselda mencoba meyakinkan kembali Jeanne dengan kata-katanya.

Jeanne berniat untuk membalas perkataan ibu angkatnya ini, namun tiba-tiba Dulio angkat bicara sebelum Jeanne sempat berucap. "Gereja menyembunyikan sesuatu karena punya alasannya tersendiri. Salah satunya adalah kebenaran tentang Tuhan dan kau tahu bagaimana akibatnya bila itu sampai keluar ataupun bocor. Akan terjadi kepanikan besar. Kami yang merupakan exorcist yang seniorpun juga tak berkata apapun meskipun kami tahu." ucap Dulio dengan nada tegas. Griselda tahu jika Dulio sudah menggunakan nada tegasnya itu artinya dia memang sedang dalam posisi sangat serius.

Ucapan tegas Dulio membuat Jeanne terdiam. Mencoba menghela nafas beberapa kali, Jeanne mencoba kembali menenangkan emosinya.

"Sayang… Aku tahu alasanmu ingin berhenti itu masuk akal, tetapi kau tidak bisa berhenti begitu saja. Kau adalah salah satu pemegang pedang suci, Excalibur Rapidly. Tidak sembarangan orang bisa memegang pedang suci yang merupakan pecahan dari ex-..."

Dalam sekejap kemudian Jeanne mengambil pedang Excalibur yang terkait di pinggangnya dan meletakkannya di atas meja yang memisahkan dirinya dan ibu angkatnya. "Kalau begitu ambil saja kembali pedang ini dan cari pengguna lain…" sela Jeanne "aku sudah memutuskannya, mama dan aku tak akan mengubahnya apapun yang mama katakan padaku…" tambah Jeanne dengan penuh keyakinan yang tersirat di matanya.

Griselda yang mendengar ucapan putrinya ini memandang dengan pandangan sedih. "Kau tahu jika kau berhenti, Gereja akan memburumu dan melabelimu dengan status Heretic bukan sayang?" ucap Griselda "Gereja tak akan diam saja dengan ini dan akan memburumu karena kau tahu rahasia terbesar Gereja dan juga kau pemilik sacred gear Blade Blacksmith yang memproduksi pedang suci sayang…"

"Maka biarkan saja hal tersebut terjadi mama…" ujar Jeanne. "Bukankah Joan D'Arc yang merupakan diriku dahulu juga dilabeli heretic padahal dia mencintai Tuhan melebihi apapun?"

Griselda makin memandang sedih. Apa yang bisa dia lakukan untuk mengekang Jeanne? Jeanne bukanlah lagi seorang anak kecil yang bisa diatur.

"Biarkan dia, Griselda…" tukas Dulio angkat bicara kembali. "Keyakinannya tak akan bisa kau ubah dan sebagai ibunya kau tahu akan hal itu. Anakmu ini terkenal sangat keras kepala bukan?"

"Tapi Dulio…"

"Biarkan dia memilih jalannya Griselda. Dia telah dewasa untuk tahu bahwa jalan yang dia ambil ini begitu berbahaya untuknya…" ujar Dulio yang kini memandang ke arah Raynare. "Dan kau gadis fallen angel tahu bukan tentang hal ini?"

"Ya… Aku tahu hal ini saat masih berada di bawah pasukan Kokabiel sebelum aku kemudian tinggal di sini. Naruto menawarkan kehidupan normal bagiku yang kuterima dengan senang hati dan aku kemudian memutuskan segala hubunganku dengan fraksi fallen angel…" jawab Raynare dengan tersenyum.

"Souka…" ujar Dulio pelan. "Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang, Jeanne?"

"Aku tak bisa menceritakannya baik kepada mama dan Dulio-san…" ucap Jeanne yang membuat Griselda mengenyitkan dahi. "Maksudku, aku telah berhenti mama, dan kita berada di jalan yang berbeda sekarang. Aku tak bisa begitu saja mengatakan rencana kami bertiga mengingat bisa saja kalian ditugaskan untuk membu-..."

"Jeanne…!" Griselda memberikan pandangan tajam yang membuat gadia pirang tersebut meneguk ludahnya. "Meskipun kita nantinya menjadi musuh, aku tak akan pernah membunuh putriku sendiri meski diperintah oleh Gereja…!"

"Uhmmm… Tapi.."

"Tidak ada tapi-tapian gadis kecil! Kau itu putriku! Putri kecilku yang kubesarkan dengan penuh kasih sayang, Aku merasa sakit ketika kau bilang begitu… Astaga Jeanne…" Griselda memijit keningnya yang terasa sedikit pusing dan gadiz pirang yang merupakan putri angkatnya hanya bisa menundukkan wajahnya. "Katakan kepada mama bahwa setidaknya kau punya rencana bukan? Setidaknya untuk meyakinkan mama saja…"

"Kami punya, mama" tukas Jeanne kembalu memandang ke arah Griselda dengan pandangan mata penuh keyakinan. "Kami punya rencana yang sangat baik dan mama tak perlu khawatir"

Griselda memandang Jeanne dengan intens untuk menemukan kebohongan atau tanda gugup yang jutru tak dia dapati sama sekali. Yang dia dapati hanya mata yang menunjukkan betapa yakinnya putrinya akan jalan yang dia ambil dan itu membuat Griselda bertanya-tanya bagaimana putrinya bisa punya keyakinan seperti ini setelah dia tahu kebenaran akan Tuhan. Griselda berpikir pasti Uzumaki Naruto punya andil dalam hal ini dan Griselda jadi tak sabar untuk bicara pada pemuda tersebut.

"Baiklah kalau begitu. Aku tak akan bicara lebih lanjut lagi." ujar Griselda "Sekarang, bisakah kalian berdua panggilkan teman kalian Uzumaki Naruto yang sudah menunggu di luar? Kami berdua ingin berbicara dengannya."

"Tentu mama" jawab Jeanne yang berdiri dan meninggalkan ruangan apartemen untuk memanggil Naruto ke dalam

Aku memandang ke arah dua utusan dari gereja yang datang dari Vatikan. Griselda Quarta yang merupakan mama dari Jeanne dan seorang pria yang mengenalkan dirinya dengan nama Dulio Gesualdo. Griselda sendiri adalah wanita yang tampak berumur di awal 30 tahunan yang kurasa tak menua sedikitpun dari terakhir ingatanku ketika aku masih kecil saat melihatnya pertama kali untuk membawa Jeanne pergi dari panti asuhan. Rambut pirangnya yang panjang sepinggang dan mata cerulean biru terang yang menambah kecantikan wajahnya membuatku berpikir bahwa Griselda memang terlihat seperti ibu kandung dari Jeanne. Sedangkan pria disampingnya tampak berumur baru memasuki usia dua puluhan dengan rambut pirang sebahu dengan kedua sisi rambut yang lebih panjang dan memakai pakaian seorang pendeta berwarna putih sama seperti dengan yang dipakai Griselda.

Di ruangan ini hanya ada kami bertiga karena aku meminta agar Jeanne dan Rayna keluar dahulu agar aku bisa leluasa berbicara sesuatu yang ingin aku rencanakan.

"Jadi… Kalian berdua sudah mendengar keputusan dari Jeanne bukan?" Aku bertanya dan disambut anggukan kepala dari dua exorcist yang aku tahu merupakan exorcist senior dan terkuat di gereja dari Jeanne. "Lalu sekarang kalian ingin bicara apa denganku? Ah bukan… Lebih tepatnya apa yang gereja inginkan dariku?"

"Terlalu frontal sama seperti yang diucapkan Jeanne…" ujar Griselda dengan senyuman di wajahnya.

"Maaf…, Tapi aku bukan orang yang suka berbasa-basi dalam bicara…" tukasku dengan tegas. "Aku telah bertemu dengan pihak iblis, dan dua hari lalu harus bertemu dengan pihak fallen angel yang memintaku menemuinya kembali setelah pertemuanku dengan kalian. Dan jujur saja ini sangat menggangu…" ucapku lagi dengan frontal.

Senyum di wajah Griselda menurun yang mana kulihat dia mengerti apa yang telah aku lalui. "Baiklah… aku juga akan langsung ke intinya saja. Kami, pihak gereja mengundangmu untuk masuk ke pihak kami. Jika kau masuk ke pihak kami maka keuntungan yang kau dapat-.."

"Menolak…" ucapku menyela perkataan Griselda. "Aku menolaknya. Terima kasih atas tawaran kalian tapi aku menolaknya…" Aku menyilangkan tanganku sebagai gerakan penolakan.

Griselda mengedipkan mata miliknya berulang kali kerena tak menyangka aku akan menjawab secepat itu "Kau menolak undangan kami padahal kau belum mendengar apa yang kami tawarkan?"

"Sejujurnya aku tak peduli tentang tawaran apapun." ujarku lagi menjawab ucapan Griselda. "Aku bahkan menolak tawaran kontrak dengan Maou dari pihak iblis yang kutemui yang nilainya sangat menggiurkan." Griselda membulatkan matanya dan mata Dulio memandangku dengan penasaran. "Kulihat dari ekspresi kalian, kalian tahu betul bukan betapa bernilainya tawaran iblis tersebut dan aku masih menolaknya."

"Kenapa?" tanya Griselda kemudian dengan pandangan mata tanpa emosi yang memandangku dari wajah cantiknya. "Kau tahu bukan betapa jahatnya mereka pada ras kita dan bukankah harusnya kau bersanding dengan rasmu?"

"Aku memang bersanding dengan rasku, tetapi aku tak bersanding dengan gereja" Aku menjawab dengan senyuman. "Pihak kalian tak lebih baik juga dari pihak iblis sekarang… Salah satu mantan biarawati kalian yang sekarang menjadi iblis adalah salah satu buktinya." ucapku lagi. Aku melihat tanda tak senang dan decihan Dulio di sana yang kutahu mereka paham siapa yang kumaksud.

"Asia Argento adalah biarawati yang terlalu polos. Pihak gereja membuangnya hanya karena sacred gear yang dia punya menyembuhkan iblis yang sama sekali tak dia ketahui. Aku bersimpati untuknya karena aku tahu betapa dia hanya dijadikan alat semata karena sacred gear yang dia miliki. Aku bahkan mendengar cerita ini dari Rayna dan yah kurasa kalian tahu sendiri bukan bahwa mungkin masih banyak lagi keburukan yang dilakukan pihak gereja yang kalian ketahui dan kalian hanya menentangnya dalam hati saja?"

Ucapanku hanya membuat kedua exorcist di hadapanku ini terdiam. Aku hanya memandang ke arah mereka yang memandangku dengan pandangan yang sulit diartikan hingga Griselda akhirnya angkat bicara.

"Apa kau membenci gereja?" Griselda bertanya padaku kemudian.

"Kebencian adalah kata yang kuat. Aku tak membenci gereja ataupun iblis atau fallen angel. Namun aku tak menyukai metode mereka kepada umat manusia. Manusia tak lebih dari sekadar alat dan hanya seperti buah yang bisa dipetik sesukanya. Dan aku adalah salah satunya." ucapku masih tersenyum kepada mereka. Aku kemudian menjentikkan jariku untuk membuat sebuah penghalang kecil yang berfungsi agar pembicaraanku setelah ini tak terdengar oleh Jeanne dan Rayna yang berada di luar. "Kalian semua menginginkan kekuatanku seolah aku hanyalah buah yang bisa dipetik sesuka hati bukan?. Mencoba menawariku agar aku terkait pada salah satu fraksi untuk menambah kekuatan kalian. Aku tak menyalahkan kalian karena aku tahu kekuatan begitu dihargai di dunia bodoh ini."

Mereka berdua tak mampu berkata apapun selepas aku berkata hal tersebut. Apa yang kukatakan adalah suatu fakta yang tak bisa dibantah dengan argumen saja. Aku telah melihatnya. Semua makhluk supernatural hanya selalu mementingkan ego mereka dan tetap saja memandang manusia yang berada di bawahnya.

"Bahkan kalian juga telah berubah menjadi salah satu dari mereka bukan?"

Pertanyaan yang kulontarkan kepada mereka membuat tubuh mereka berdua menegang. Aku hanya terus tersenyum saja ketika mereka berdua memandangku dengan tatapan tak percaya.

"Bagaimana kau bisa-..."

"Bisa tahu?" ucapku menyela ucapan Dulio. "Aku bisa merasakan aura kalian yang bukanlah lagi aura manusia karena aura kalian telah sepenuhnya tergantikan. Luapan energi suci dalam tubuh kalian berdua begitu besar dan aura manusia kalian telah terhapus yang menandakan kalian berdua bukanlah manusia lagi."

"Tapi bagaimana caramu bisa mengetahui aura kami padahal kami telah menekannya semaksimal mungkin hingga hanya mereka yang berpengalaman dalam aura saja yang bisa merasakannya. Bahkan Jeanne tak mungkin bisa melakukannya." tukas Griselda bertanya dengan pandangan mata tajam. "Apa ini merupakan salah satu kekuatanmu?"

"Bisa dibilang begitu…" tukasku lagi menjawab pertanyaan Griselda. "Lupakan itu, aku jelas menolak permintaan kalian dan itu jelas. Aku telah menegaskannya."

Dulio kemudian bicara "Kau benar-benar sesuatu yang berbeda, Uzumaki-san.."

"Benarkah? Terima kasih atas pujiannya" ucapku. "Tapi ada sesuatu yang ingin aku pinta pada kalian."

"Apa itu?" ucap Griselda dengan rasa penasaran di nada ucapan miliknya.

"Bisakah kalian tak memberitahukan bahwa Jeanne berhenti menjadi exorcist?"

"Dan kenapa kami harus melakukannya, Uzumaki-san?" tanya Griselda lagi.

Aku kemudian memandang ke arah lain mengalihkan pandangan milikku sejenak. "Aku tak berniat untuk membawa Jeanne ataupun Rayna dalam perjalananku selepas ini…"

Aku berucap dengan menjeda sejenak perkataanku kemudian memandang kembali ke arah Griselda dan Dulio. "Jeanne datang ke apartemenku dan bicara bahwa dia ingin ikut denganku mengelilingi dunia. Aku hanya mengiyakan saja keinginan miliknya agar dia senang. Tapi aku tak berniat membawanya ikut serta dalam jalan yang aku lalui. Jalan yang kulalui adalah jalan yang hanya membawa kematian saja. Aku tak ingin baik Rayna atau Jeanne berjalan di jalan yang kulalui ini. Terlalu banyak tragedi nantinya. Aku meminta kalian agar tak memberitahukan Jeanne berhenti agar kalian nanti bisa membawanya kembali menjadi exorcist selepas aku pergi. Aku juga akan meminta pihak fallen angel untuk membawa dan merawat Rayna dengan baik. Setidaknya jika mereka berdua berada di salah satu fraksi, mereka masih bisa aman…"

"Kau begitu perhatian pada putriku dan gadis fallen angel itu bukan?" tanya Griselda dengan lembut padaku yang kusambut dengan senyuman dan anggukan kepala.

"Lily atau Jeanne sekarang adalah sahabat kecilku yang aku sayangi. Rayna juga adalah teman yang berarti untukku. Mereka berdua adalah orang yang berharga bagiku dan aku tak ingin mereka terluka. Aku tahu bahwa begitu aku mengalahkan Kokabiel, ada banyak yang begitu mengincar diriku. Para fraksi di fraksi Injil masih lebih baik dengan datang dan bicara tanpa memaksa sedikitpun. Tapi itu tak berlaku bagi fraksi mitologi lainnya. Mungkin saja jika mereka ikut denganku suatu saat mereka bisa dijadikan alat agar aku bisa masuk ke salah satu fraksi dengan paksaan dan aku tak ingin itu terjadi."

"Kau telah memikirkan semuanya ya?" ujar Dulio.

"Bisa dibilang begitu… Jadi bisakah kalian melakukan permintaanku?"

"Baiklah," ucap Dulio membalas pertanyaanku. "Kami akan melakukannya sesuai keinginanmu jadi kami hanya akan memberitahukan penolakanmu kepada atasan kami. Kami juga akan tinggal disini sampai kau pergi dan akan membawa Jeanne kembali ke Vatikan setelahnya."

"Terima kasih banyak…" ucapku dengan senyuman tulus.

"Tidak, Uzumaki-san" Griselda berkata kepadaku dengan senyuman tulusnya. "Akulah yang harus berterima kasih kepadamu. Dengan rencanamu ini kami tak harus kehilangan salah satu exorcist kami dan aku tak harus takut kehilangan putriku."

Aku hanya mengganggukkan kepalaku saja.

"Jadi kapan kau akan pergi?" tanya Dulio.

"Sekitar seminggu lagi. Aku akan pergi tanpa memberitahu mereka berdua. Aku hanya akan memberitahu kalian nantinya dan jika pihak fallen angel tak ingin menerima Rayna bisakah kalian membawanya juga bersama Jeanne?"

"Kami tak bisa berjanji tapi akan kami usahakan, Uzumaki-san" ucap Griselda.

"Terima kasih, Quarta-san." ucapku yang lalu menoleh pada jam yang terpasang di dinding apartemen milikku. "Kurasa aku harus pergi karena ada sesuatu yang harus kulakukan dahulu. Kalian bebas berada di sini dahulu bersama Jeanne dan Rayna. Rayna nantinya juga akan menyediakan kue dan camilan yang kubuat untuk kalian."

"Ara?" Griselda berucap lagi dengan tertawa kecil "Kau tak perlu repot-repot seperti itu, Uzumaki-san…"

"Kalian tamu, jadi sudah sewajarnya aku melakukan itu…" ucapku yang menghilangkan penghalang yang kubuat dan berjalan keluar. Aku tersenyum lagi sebentar kepada mereka sebelum membuka pintu dan berkata pada Rayna juga Jeanne untuk melayani mereka sebagai tamu sementara aku pergi dahulu karena ada sesuatu yang harus kulakukan dan mereka hanya menurut saja lalu masuk ke dalam meninggalkan diriku sendirian yang kemudian berjalan untuk melakukan sesuatu.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

And cut~

Are? Ada yang tanya pecahan dewi Amaterasu itu siapa? Lah kan udah kusebut di cerita kalau pecahan dari dewi Amaterasu itu Tamamo no Mae.

Maaf aku baru update karena sibuk banget belakangan ini dengan banyak tugas senpai~

Dan buat adegan Naruto vs Vali, itu hanya pengujian semata bukan full action. Chapter depan adalah full actionnya mungkin.

Naruto adalah renkarnasi dari 5 Naruto yang udah hidup lebih dahulu di dunia DxD. Alasan kenapa dari semua itu gak ada yang ninja karena Naruto yang ninja hidup terpisah di dimensi lain. Karena terpisah dimensi itulah menjadi sebab Naruto tak bisa memanggilnya. Lagipula kekuatannya juga beda.

Naruto akan berkreasi dengan kekuatannya yang dia lihat dari mimpinya ketika hidup menjadi ninja. Jadi ini menegaskan bahwa teknik jutsu ninja Naruto akan kubuat Variasi lagi. Itu lebih menyenangkan bukan?

Naruto akan berkeliling dunia sendirian. Dia akan meninggalkan Jeanne dan Raynare ke pada masing-masing fraksi mereka agar mereka bisa terlindungi. Buat yang mengira kalau Jeanne dan Raynare akan menyertai Naruto kalian salah besar senpai~...

Ada yang tanya juga. Issei kok pingsan ya terkena aura Naruto padahal dia punya aura naga? Nah dia pingsan saat pertemuan pertama karena Issei masih baru jadi iblis dan sacred gearnya juga baru bangkit. Dia belum kenal Draig waktu itu okay…

Buat yang terus nawarin mendoan makasih gan… ane juga penggemar mendoan selain kentang hihihihi…

Oke cuma itu saja perkataan dariku. Sampai jumpa di chapter depan senpai~