Please Be With Me

Nyufu.. Chapter 11 kembali update. Maaf jika masa publish lama. Miwa sangat mengharap pada chapter ini akan lebih menghibur.

Maka, tidak perlu banyak omong sayanya, Enjoy everyone.

DON'T LIKE DON'T READ

Mind to RnR?

Chapter 11

True Feelings

'Antara mengejar atau ditinggalkan, apa yang akan kau lakukan?'

Cahaya rembulan bersinar terang menyinari taman yang gelap tanpa cahaya itu. Yang begitu kecil, yang begitu indah, nyaman, tenang. Banyak sekali tanaman disekitarnya, dengan daun yang rontok tertiup oleh angin-angin yang bertiup. Bangku taman itu amat sangat kosong, tak ada seorangpun disana...

.

.

.

Sunyi..

.

.

.

Malam yang begitu dingin itu sangat mencengkram suasana tenang disana. Banyak tanaman yang sedikit layu karena jarang dirawat. Dedaunan berserakan, tak ada yang datang. Sedikit demi sedikit bulan itu mulai tertutupi awan hitam malam hari. Taburan bintang menghilang sedikit demi sedikit. Tiba-tiba mendung, bertambah gelap, dan datanglah seorang laki-laki yang sedang berjalan sendirian di tengah gelapnya malam.

Pemuda itu terus menelusuri taman tanpa tujuan. 'Mengejar atau ditinggalkan. Mengejar atau ditinggalkan.. mengejar..' hanya ada kata itu yang ada di pikiran lelaki itu.

Sudah kira-kira 1 jam ia berputar-putar di taman tanpa mengetahui apa yang hendak dilakukan. Setelah dikerumuni kesunyian, ponselnya berbunyi. Ia merogoh saku celananya kemudian meraih ponsel dan mengangkatnya. "Hm?" jawabnya setelah ponselnya ditaruh di telinga.

["Begitukah caramu menyambut seseorang yang menghubungimu?] tanya seseorang dari seberang dengan suara datar. Ia tahu suara siapa ini. Senpai tak berguna. Pikir lelaki itu.

Lelaki itu menjauhkan sementara ponselnya dari telinganya kemudian menempelkannya lagi di telinga. "Untuk apa kau menghubungiku dan dari mana kau dapat nomer ponselku?" tanya lelaki itu ketus.

Terdengar pemuda di seberang tertawa kecil. ["Dari Ino. Memangnya tidak boleh?"]

Ia mendengus kesal dan tidak menjawab [" Ok ok! Aku tidak akan mengganggumu. Lagi pula, Sasuke, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Singkat saja!"]

Sasuke mengkerutkan kening tidak menjawab ["Ini tentang Sakura!"] Sasuke sempat membeku di tempat sementara. Ia mengatur emosinya berusaha untuk tidak terdengar gelisah.

"Ada apa dengannya?" Tanya Sasuke sambil berjalan menuju pinggir danau.

["Sakura.."]

.

.

.

"Hatcin!"

"Doushita, Sakura? Kamu flu!" tanya Ino bingung melihat temannya itu tiba-tiba bersih.

Sakura dan Ino sedang berada di cafe dekat rumah Sakura. Sudah berlalu 2 hari sejak terakhir mereka berada di villa Ino. Siang itu keduanya mengambil kesempatan untuk duduk-duduk dan membicarakan sesuatu. Namun, yang terjadi, keduanya malah sibuk dengan kesibukan sendiri. Sakura membuka majalah, dengan bolpoint di tangan, ia hanya memperhatikan halaman yang sama. Sudah 1 jam lamanya mereka di sana. Namun kerjaannya hanya duduk diam tanpa bicara apa-apa.

Sakura menggeleng. "Tidak! Aku merasa.. seperti ada yang mengikutiku. Ada yang merambat di punggungku. Ino! Apa ada orang yang dendam padaku sampai ingin membunuhku?" tanya Sakura histeris sambil memegang kedua pundak Ino.

Ino hopeless menghadapi temannya yang satu ini. "Tidak ada yang mengincarmu! Sudahlah cepat habiskan makananmu. Setelah ini kita akan melihat pakaian yang cocok denganmu!" kata Ino tegas.

Sakura tersedak. "Pakaian? Jangan katakan kamu akan membelikanku pakaian itu. Kamu tau aku tidak suka yang begituan! Kenapa membawaku ke tempat seperti itu?" Sakura bener-bener anti jika pergi ke tempat berbau feminin seperti itu.

Ino memukul dahi Sakura pelan dengan telunjuknya. "Aku harus mencarikanmu gaun! Kau tau?" jawab Ino malas.

"Untuk apa?" Sakura berdiri dari bangku menatap tajam lawan bicara yang duduk di depannya.

Ino menyenderkan punggunya pada kursi. "Pokoknya nurut aja! Jangan banyak bantah!" kata Ino tegas. Ino tersenyum kecil sambil memperhatikan wajah Sakura yang sedang cemberut. Tiba-tiba ia ingat sesuatu yang mungkin ampuh untuk membujuk temannya yang satu ini.

Ia meraih tas tangannya kemudian merogohnya dan mengeluarkan dompet. Dari selipan dompet itu, ia mengeluarkan selembar foto. Ino menyerahkan foto itu pada Sakura. Sakura mencondongkan tubuhnya berusaha melihat foto itu. Foto itu berukura kira-kir cm. Sudah agak lama, namun masih terlihat rapi.

Sakura tersentak kaget. Itu foto dirinya sewaktu kecil. Kira-kira saat umurnya 5 tahun. Di foto itu, waktu itu sedang ada sebuah pesta. Klo tidak salah ulang tahunnya Ino yang ke 6. Sakura diundang datang. Ia sangat bersemangat menghadiri acara itu. Maka, ia meminta ibunya membelikan gaun yang sangat bagus untuk datang ke acara ulang tahun Ino.

Ia tidak pernah tau bahwa Ino menyimpan foto solo dirinya. "Da.. dari mana kau dapat foto itu?" foto itu di foto saat Sakura sedang berbicara pada temannya. Meski Sakura tidak fokus pada kamera, sudut pandangnya pas sekali. Tidak menunjukkan bahwa ia difoto diam-diam.

Ino tertawa geli. "Bibi yang memberikannya padaku. Saat bibi tau aku akan membawamu ke sebuah pesta, ia memberikan foto itu padaku. Katanya 'tolong dandani Sakura secantik dia di foto itu!' kata ibumu. Bibi benar-benar bersemangat saat tahu kamu akan memakai gaun setelah sekian lama." lanjut Ino sambil mengaduk kopinya dan tertawa geli.

Sakura hanya cemberut mendengar penjelasan Ino. "Aku tidak mau mengenakan gaun. Kain melambai-lambai seperti itu menghalangiku untuk bergerak! Tidak leluasa untuk melakukan aktivitas!" ia membalik halaman majalah yang ia baca. Ino hanya tertawa dan kembali menyesap kopinya. Ia membiarkan foto itu berada di atas meja sehingga Sakura bisa melihatnya.

Kembali dengan majalahnya, sekali-sekali Sakura melirik ke arah foto yang ditunjukkan Ino tadi. Ia mengakui, dirinya yang sekarang sangat berbeda dengan dirinya yang dulu. Dulu dia begitu feminin, sangat menyukai gaun-gaun dan berharap akan mengenakan gaun putih bersih di depan altar bersama orang yang dicintainya. Ia merasa bahwa pakaian seperti itu sangat indah. Maka setiap ada pesta pasti ia akan mengenakan gaun.

Tapi tidak sekarang. Sekarang ia ogah-ogahan mengenakan pakaian seperti itu. Bahkan untuk sekedar pergi ke tokonya saja ia sudah malas. Ia lebih senang mengenakan celana jins dan kaus. Apa saja yang penting tidak menghalanginya bergerak leluasa.

"Sakura, kamu ini perempuan. Apa lagi wajahmu itu imut dan tubuhmu pas sekali atau bisa dibilang bagus. Kamu akan sangat cocok mengenakan pakaian seperti pada foto itu!" komentar Ino lagi sambil memperhatikan Sakura dari ujung kepala sampai sekitar tubuhnya.

"Memangnya tidak boleh hanya mengenakan celana dan kemeja?" Sakura memohon. Kalau ia boleh mengenakan celana dan kemeja saja ia akan ikut. Bahkan jika ia boleh menolak untuk datang ke pesta itu pun ia tidak segan-segan untuk memintanya.

Ino menggeleng tegas. "Tidak! Kamu harus mengenakan gaun! Tidak baik jika kamu mengenakan celana jins dan kaus, Sakura!" protes Ino kesal menggadapi temannya itu.

Sakura menghela napas panjang. Merasa bosan dan terbebani. "Bagaimana kalau aku tidak ikut?" Ino menahan diri untuk tidak mencekik sahabatnya itu. Memang jika harus membawa seorang Sakura ke sebuah pesta akan membutuhkan banyak tenaga. Kalau perlu apa, lebih baik jika diseret aja pikir Ino dalam hati.

"Kalau kamu menolak, aku akan menerormu setiap hari sampai hidupmu tidak tenang. Sudahlah ayo kita pergi!" Ino membereskan tumpukan kertas di atas meja kemudian memasukkannya ke dalam tas. Ia berjalan menuju kasir kemudian membayar minumannya dan Sakura. Sakura mengikuti di belakang dengan napas berat.

.

.

.

"Kamu benar akan pergi ke pesta itu?" tanya Kiba pada Sasuke di halaman sekolah. Siang itu, keempatnya -Sasuke, Kiba, Shikamaru, Neji- menyempatkan diri untuk bermain basket di lapangan sekolah.

Sasuke memantulkan bola basket ke tanah. "Kurasa begitu. Tapi tidak yakin juga. Kalaupun datang mungkin akan terlambat. Yang pasti aku ada di lokasi sebelum acara di mulai. Mungkin sekedar menyendiri memikirkan sesuatu."

"Apa kita juga perlu datang?" tanya Neji yang sedari tadi hanya membaca buku kecilnya. Shikamaru tidak menanggapinya. Ia hanya berdiri bersender di pohon dengan tangan dilipat di depan dada.

Kiba mengangguk. "Sepertinya kita memang harus datang. Ngomong-ngomong gadis itu akan datang?" tanyanya sambil menatap Sasuke.

"Gadis itu? Maksudmu Sakura?" Kiba mengangguk. "Tidak tau!" jawabnya cepat.

Kiba agak bingung dengan perubahan sikap Sasuke selama 2 hari terakhir. Ia lebih banyak mengangguk dan kadang-kadang kalau ditanya hanya menjawab seadanya. Seperti tidak niat menjawab.

"Sudahlah tidak perlu repot. Yang penting lebih baik kita datang atau pak tua akan memarahi kita!" saran Neji bijak.

Keduanya menggeleng tidak percaya. "Kau ini patuh sekali. Dasar anak rajin. Ya sudahlah! Ayo kita kembali bermain. Shikamaru! Kau ikut?" orang yang dimaksudkan mengangkat kepalanya kemudian mengangguk. Ia berjalan mendekati mereka kemudian keempatnya kembali bermain.

Beberapa saat kemudian, ponsel Sasuke berdering. Ia berhenti bermain, melempar bola kepada Kiba dan mengangkat telponnya. "Hm?" balasnya.

["Sasuke! Bisa jawab lebih baik? Kamu menjawab seperti mayat.."] Sasuke diam tak berniat menjawab. Menjawab pertanyaan seperti itu hanya akan membuang-buang tenaga. ["Sudahlah! Lupakan saja. Ada yang ingin aku bicarakan padamu. Bisa bertemu?"] tanya suara dari seberang.

Sasuke berjalan menjauh dari lapangan. "Aku sibuk!" ia membalasnya dengan nada datar. Tanpa perlu bertanya ia sudah tau siapa yang meneleponnya. Dari nada bicara dan cara bicaranya yang seperti kereta tak ada rem benar-benar persis si pasangan Haruno Sakura, si cerewet.

["Sudah jangan banyak bantah! Aku butuh kamu untuk membantuku melakukan sesuatu! Kutemui kamu di toko dekat sekolah! Kadang-kadang aku suka berfikir kalau sifatmu itu mirip sekali dengan Sakura!"] Setelah itu sambungan ditutup sebelum ia membalas.

Sasuke meremas ponselnya kesal kemudian berjalan kembali ke lapangan dan mengambil tas. "Hei! Mau kemana kau?" tanya Kiba.

"Aku harus pergi. Lain kali saja kita bermain lagi. Ada urusan!" balas Sasuke tanpa berbalik kemudian kembali berjalan.

Kiba dan Neiji juga Shikamaru saling berpandangan beberapa saat. Kemudian mereka kembali bermain.

~oOOo~

Sasuke menelusuri jalan setapak di pusat kota Tokyo dengan hati kesal dan kadang kala ia menggerutu sendiri. Sudah direpotkan dengan pesta tak jelas sekarang ia harus datang menghampiri nenek pirang yang meminta sesuatu tak jelas. Sepertinya tema hari ini adalah 'Hari tak jelas'. Jalanan begitu ramai dengan orang-orang yang sedang berbincang dan kendaraan yang berlalu lalang.

Ia menengokkan kepalanya ke sana kemari mencari sosok yang dicari. Sesaat kemudian ia mendengar seseorang memanggil namanya. "Ke.. Sasuke!" panggil orang itu.

Ia berbalik. Seorang gadis dengan rambut pirang sedang melambai-lambaikan tangan padanya. Di sebelahnya berdiri seorang laki-laki dengan rambut merah dan tubuh sedikit lebih tinggi dari gadis yang berdiri di sebelahnya.

"Αda apa?" tanya Sasuke saat berdiri di depan mereka.

Ino, gadis yang berambut pirang menjawab, "Aku butuh bantuanmu untuk memilihkan gaun yang cocok untuk di kenakan Sakura!" jawab Ino semangat.

Sasuke mengkerutkan kening tak mengerti sedangkan laki-laki yang berdiri di samping Ino hanya menanggapinya dengan mengangguk pelan. "Pakaian? Maksudmu untuk pesta sore nanti?" Sasuke bertanya balik.

Sang gadis rambut pirang mengangguk penuh semangat. "Sakura sama sekali tidak mau diajak untuk memilih pakaian yang cocok untuknya. Sebenarnya aku ingin memilih sendiri tapi kurasa aku butuh kalian. Siapa tahu selera kalian bagus!" Ino menatap kedua laki-laki itu dengan mata berbinar.

"Jadi, kamu memanggilku ke sini cuma untuk melakukan hal itu?" tanya Sasuke jengkel. Ino mengangguk. Gaara menghembus napas panjang. Sasuke berjalan pergi. "Aku tidak peduli! Itu terserah kalian. Jangan bawa-bawa aku!" Sasuke berjalan pergi sambil melambaikan tangannya ke belakang.

Ino mengejar Sasuke kemudian menepuk pundaknya sedikit keras. "Kau harus ikut! Karena jika aku berhasil membujuk Sakura untuk datang, bukankah kamu akan mendapat keuntungan juga?" Sasuke diam di tempat. Beberapa menit ia hanya diam. Tidak berkata apa-apa.

"Tidak!" balas Sasuke tegas, pelan, dan jelas. Ino cemberut dan menggembungkan pipinya.

Tiba-tiba muncul sebuah ide cemerlang di benak Ino. Ia berteriak. "Sasuke! Selama ini kamu hanya melihat Sakura yang memakai celana dan kemeja atau hanya sekedar rok sekolah. Jika kamu memilih gaun yang cocok untuk Sakura bukankah kamu akan melihat sisi lain Sakura?" Sasuke terpancing. Ia kembali diam, berfikir.

Beberapa saat kemudian, Sasuke membalas tanpa berbalik. "Kurasa tidak ada pilihan lagi!" akhirnya Sasuke mengalah dan ikut pergi dengan Ino dan Gaara. "Jangan salah paham! Aku ikut hanya karena kasihan padamu! Jangan berfikir yang aneh-aneh!" Ino tersenyum puas mendengar perkataan Sasuke. Ternyata membujuknya tidak sesulit yang diduga. Pikir Ino.

Akhirnya, mereka mulai mencari pakaian yang cocok untuk dipakai pergi ke pesta. Mereka pergi dari toko ke toko. Banyak baju yang dicoba Ino. Begitu pula dengan Sasuke dan Gaara. Setelah sekian lama mencari, akhirnya mereka menemukan pakaian yang bagus dan dikira cocok untuk image Sakura. Tidak terlalu panjang, tidak melambai. Ino mengucapkan terima kasih pada Sasuke dan Gaara kemudian minta ijin mohon diri.

Ino pulang sendiri sedangkan kedua laki-laki itu naik motor pulang.

"Jadi, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Gaara pada Sasuke saat keduanya hendak menyalakan motornya. Sasuke tidak menjawab. "Kamu akan mulai melakukannya?" tanya Gaara selaki lagi.

"Aku akan mencoba untuk mengutarakannya." jawab Sasuke pelan. Ia menyenderkan tubuhnya pada motornya "Aku akan mencoba. Saat di pesta nanti. Sekarang atau tidak selama-lamanya!" lanjutnya agak ragu.

Gaara tersenyum kecil kemudian menepuk pundak Sasuke. "Jangan kecewakan aku!" katanya sebelum menyalakan mesin motor yang pergi dari sana meninggalkan Sasuke sendirian.

Beberapa saat kemudian Sasuke menyalakan motornya. Ia tersenyum kecil mengingat perkataan Gaara kemudian membawa motornya pergi dari tempat itu.

.

.

.

Pagi itu hari Sabtu pagi, Sakura bangun pukul 8. Ia masih terkantuk-kantuk. Matanya sekali-sekali tertutup kemudian terbuka lagi. Ia merenggangkan otot-ototnya. Setelah itu mencoba berdiri. Tubuhnya limbung. Ia kembali terjatuh ke kasur. Sakura berdiri perlahan. Setelah sudah yakin tubuhnya bisa menopang diri, ia berdiri tegak dari kasur kemudian berjalan menuju kamar mandi.

Sakura membasuh wajahnya dengan air dingin. Menggosok giginya, kemudian mencuci mukanya. Sore nanti, pukul 5 sore ia harus pergi ke sebuah pesta di halaman sekolah. Ia malas sekali memikirkan bahwa ia harus pergi ke tempat yang paling ia benci.

Apa lagi ia harus mengenakan pakaian yang paling menyebalkan. Gaun. Tapi meski begitu, ia masih suka memperhatikan foto solo dirinya waktu ulang tahun Ino beberapa tahun yang lalu ataupun beberapa fotonya di album yang masih ibunya simpan. Dulu ia suka sekali dengan gaun. Tapi sekarang ia lebih memilih pakaian yang simpel. Sakura sudah lupa alasan mengapa ia membenci pakaian itu, tapi intinya, ia masih bermimpi untuk mengenakan gaun putih yang akan dia pakai bersamaan dengan orang yang dicintainya. Kalau ada kesempatan.

Setelah selesai mencuci muka, ia kembali ke kamarnya kemudian merebahkan tubuhnya di kasur. Ia lelah sekali. Kemarin ia sampai adu mulut dengan Ino di depan toko gaun. Ino berkata kalau Sakura harus ikut dan mengenakan pakaian yang bagus sedangkan Sakura selalu menolak mentah-mentah semua ide Ino. Pokoknya Sakura melakukan apa saja yang bisa membuatnya tidak mendatangi pesta itu.

Sakura masih tiduran di kasur. Kepalanya tertutup oleh bantal. Suasana hatinya saat itu sangat buruk. Beberapa saat kemudian didengarnya ponselnya berdering. Awalnya ia memilih untuk mengabaikannya, membiarkan benda itu terus berdering kemudian mati. Tapi tidak sesuai harapan ia. Setelah mati, ponsel itu kembali berbunyi.

Akhirnya dengan perasaan jengkel ia meraih ponsel di atas meja kemudian membuka flap. Di layar tertulis nama Uchiha Sasuke. Untuk apa dia menelepon? Pikir Sakura.

Sekarang ia tidak ingin berbicara pada siapapun. Maka, pada akhirnya ia melempar ponselnya sampai ke pinggir kasur. Benda itu sudah berhenti berbunyi. Sesaat serasa damai kemudian kembali menjengkelkan. Benda sialan itu berbunyi lagi. Kata Sakura dalam hati jengkel.

"Halo!" akhirnya Sakura menjawabnya setengah berteriak. Belum sempat orang di seberang membalas, Sakura kembali berteriak. "Ngapain telepon-telepon?" Sakura benar-benar naik pitam.

Orang di seberang menghela napas panjang ["Begitukah caramu membalas sapaan orang?"]

"Orang seperti kamu tidak perlu dibaik-baikin!" balas Sakura cepat, tegas, dan keras.

["Baiklah. Lebih baik keintinya aja. Aku ingin mengajakmu ke pesta nanti sore di sekolah.. kuharap kamu mau-"]

Sakura menyela kalimat Sasuke. "Tidak! Aku tidak akan datang ke pesta itu!"

["Kenapa? Padahal Gaara dan Ino akan datang. Semua teman-teman akan-"]

Belum sempat Sasuke menyelesaikan kalimatnya Sakura kembali menyela. "Eh? Gaara nii-san datang juga? Benarkah?" tanya Sakura semangat.

["Eh? Iya. Memangnya kenapa? Lagi pula kamu tidak akan datang kan?"] Tanya Sasuke lagi dari seberang.

Hati Sakura berbunga-bunga. "Aku akan datang. Aku pasti akan datang ke pesta itu!" kata Sakura kemudian memutuskan sambungan.

Dari seberang, Sasuke hanya menghela napas berat kemudian berjalan menuju lemari pakaiannya dan membukanya. "Karena Gaara, ya?" katanya pada diri sendiri.

.

.

.

Sekarang Sakura sibuk memberesi pakaian yang akan dipakainya saat pesta nanti. Ia bingung sendiri memilih pakaian mana yang akan dipakainya. Ia hanya melihat celana dan kaos oblong. Bahkan yang paling istimewa cuma kemeja krem kesukaannya. Akhirnya, karena sulit menentukan ia memutuskan untuk mengenakan sebuah kemeja dan celana kain sepanjang selutut. Awalnya ia ingin mencoba untuk mengenakan rok. Tapi, di lemarinya hanya ada celana dan kaos. Maka ia memilih untuk mengenakan kemeja.

Semua pakaian yang akan ia kenakan, ia taruh di bangku samping lemari. Ia memutuskan untuk istirahat sebentar. Tidurnya tadi malam benar-benar tidak nyaman. Maka saat ini ia benar-benar lelah. Ia tidak, tahu berapa lama ia tidur tapi, ia mendengar bel rumahnya berbunyi. "Souta! Buka pintunya!" teriak Sakura dengan suara serak.

Tapi bel rumah terus berbunyi. Ah ia baru ingat. Hari ini ibunya sedang pergi dengan ibunya Ino dan Hinata sedangkan Souta ada tugas kerja kelompok di rumah temannya. 'Heh! Hari ini benar-benar menyusahkan!' Sakura beranjak dari kasurnya kemudian berjalan menuruni tangga dan menuju pintu rumah.

CLEK

"Oh! Hai, Ino!" sapa Sakura begitu membuka pintu.

Wajah Ino begitu cantik namun karena tampangnya sangar, hal itu mengurangi kecantikannya. "Doushita, Ino?" tanya Sakura begitu keduanya sudah berada di kamar Sakura.

"Tadi aku bertengkar dengan ibuku. Ibuku menyuruhku untuk berdandan biasa saja. Tapi kamu juga tau kan Sakura, ini pesta yang dihadiri seluruh murid sekolah. Bagaimana jika teman-teman yang lain tampil cantik namun aku tidak? Maka itu, aku mengambil keputusan untuk mendandani diri di rumah Hinata!" jelas Ino dengan tampang cemberut.

Sakura sampai tertawa mendengarnya. Hanya masalah sepele seperti itu saja Ino sampai marah-marah begini. "Ya ampun Ino! Hanya masalah make up saja kau sudah seperti kehilangan harta berhargamu." balas Sakura sambil tertawa geli.

Ino menatap jengkel Sakura. "Tentu saja kamu tidak akan mengerti. Kamu tidak pernah memperhatikan penampilanmu! Sudahlah jangan dibahas lagi. Bete aku. Ada hal penting lainnya yang ingin aku sampaikan padamu!" Sakura menaikkan alisnya dan melirik ke arah sebuah plastik putih yang dibawa Ino tadi.

Menyadari arah tatapan Sakura, Ino melanjutkan kalimatnya. "Ya! Itu yang ingin aku tunjukkan padamu! Cepat! Buka, tanggalkan pakaian yang kamu pakai dan pakai baju yang kubawa! Sekarang! Sebentar lagi kita harus berangkat!" kata Ino keras sambil mendorong Sakura menuju kamar mandi.

Sakura tidak bicara apa-apa lagi karena sudah dipaksa Ino memasuki kamar mandi. Ia memperhatikan sekali lagi plastik yang ada di tangannya itu. Perlahan, ia membuka plastiknya kemudian melihat isinya. Sakura mengkerutkan kening. Itu sebuah gaun. Berwarna putih bersih. Dibagian bawah gaun itu ada corak bunga berwarna soft pink persis seperti warna rambutnya.

Sakura membuka dengan kasar pintu kamar mandi. "Ino! Apa maksudnya ini? Sudah kubilang aku tidak mau pagai gaun!" protes Sakura keras.

Ino hanya menatap Sakura dalam diam. Ia tersenyum penuh kemenangan. "Jadi, kamu tidak mau memakainya?" tanya Ino sambil mengemasi barang-barangnya.

Sakura tersentak kaget. Ia mulai bingung 'Pakai.. tidak.. pakai..' ia mulai menimbang dalam hati.

Ino beranjak dari kasur Sakura dan berjalan ke arah pintu kamar. "Ya sudah. Kalau kamu tidak mau mengenakan dan tidak datang ke pesta. Ja ne.. Sakura!" kata Ino sambil melambaikan tangan kemudian pergi.

"Tunggu!" Ino berhenti berjalan. "A.. aku akan memakainya! Jadi.. tunggu di sini!" Sakura kembali ke kamar mandi kemudian menutup pintu.

Ino tersenyum senang dan duduk di kasur Sakura. 'Tidak terlalu susah ternyata.' kata Ino dalam hati sambil menghela napas lega.

Beberapa saat kemudian, Sakura keluar dari kamar mandi dengan gaun putih terpasang di tubuhnya. Ia memakainya agak acak-acakan. Bagian bahu yang seharusnya berada di bawah bahu malah ia kenakan di atas bahu sehingga terlihat kerutan di pakaiannya. Kemudian dibagian belakang, pitanya terurai lepas. "Kamu ini bisa pakai gaun dengan benar tidak sih?" tanya Ino sambil berjalan ke arah Sakura kemudian menurunkan bajunya.

"Seharusnya bagian ini diturunkan sampai sini!" kata Ino sambil membenarkan gaun Sakura. "Kamu bisa tidak mengikat pita?" tanya Ino sambil mengikat pita di belakang gaun Sakura.

Wajah Sakura bersemu merah dan bicaranya gagap. "Ten.. tentu saja bisa! Siapa yang tidak bisa mengikat pita?" Ino hanya tertawa mendengar Sakura.

Kini, Ino sedang menata rambut Sakura. Karena rambut Sakura pendek, maka Ino hanya akan memakaikan Sakura bandana berwarna putih dengan bunga di bagian kanan. Kemudian memberi a layer of pink blush dan pink eyeshadow juga sebuah lip gloss.

"Hah! Sudah selesai. Kupikir untuk kamu tidak perlu banyak make up. Cukup yang tipis-tipis saja." kata Ino kagum dengan hasil karyanya.

Sakura berjalan ke arah cermin. Ia tercengang melihat dirinya di pantulan cermin. Rambutnya sudah disisir dan ditata dengan rapi. Meski hanya memakai bandana, Sakura sudah seperti orang lain. "Ini.. aku?" tanya Sakura tak percaya.

"Yap!" Ino mengangguk. "Kamu lihatkan? Betapa cantiknya kamu memakai pakaian itu. Dan hanya dengan sedikit sentuhan saja kamu sudah berubah. Sebenarnya kamu ini cantik, cuma pemiliknya saja yang keras kepala!" dengus Ino kesal mengingat sikap anti Sakura selama ini kepada barang-barang yang dibilang Ino feminim.

Sakura tertawa mendengar Ino berkata hal itu. "Ya sudah! Ayo cepat sekarang kita segera menuju pesta!" Ino menarik tangan Sakura keluar kamar "Oh ya! Sebelum itu, ini! Pakai ini!" kata Ino sambil memberikan sepasang sarung tangan panjang putih dan sebuah topeng.

"Topeng?" tanya Sakura tak mengerti.

Ino tersenyum. "Pesta hari ini adalah pesta topeng. Pastikan kamu memakai topeng itu saat sampai di lokasi. Jangan sampai orang-orang tau siapa dirimu!" kata Ino memperingatkan.

Sakura mengenakan sarung tangan tersebut kemudian topengnya. "Yap! Ide bagus. Aku tidak ingin anak-anak lain melihatku menggunakan pakaian ini." Sakura mengambil tas selempang kecilnya di bangku samping lemari kemudian pergi ke luar bersama Ino.

Di depan rumah Sakura sudah ada sebuah mobil menunggu. "Selamat sore, Nona Yamanaka, nona Haruno, kita berangkat sekarang?" tanya supir Ino.

"Ya! Kita harus cepat. Antar kami ke sekolah, Hyong!" kata Ino sambil berjalan masuk ke mobil. Begitu pula dengan Sakura.

.

.

.

"Waah! Banyak sekali yang datang!" Sakura dan Ino sudah sampai di lokasi. Pesta sore itu dilangsungkan di halaman sekolah. Seluruh murid, mulai dari kelas 1 sampai 3 wajib datang.

"Wooo! Kedua putri telah datang rupanya." sahut seseorang dari arah belakang.

Sakura berbalik, begitu juga dengan Ino. "Gaara-nii!" balas Sakura semangat. Meski wajah Gaara tertutup topeng, ia masih bisa mengenali siapa lelaki itu. "Nii-san tampan sekali!" puji Sakura. Gaara menggunakan jas krem dengan bunga mawar merah di saku jas kanannya.

Gaara tersenyum. "Arigatou, Sakura! Ino! Kamu juga cantik." balas Gaara sambil mengangkat sebelah tangan menyapa Ino. Wajah Ino bersemu merah mendengar pujian Gaara.

"Aa.. arigatou, Gaara! Kalau tak keberatan aku ingin mencari Sai! Ja ne!" Ino membungkukkan tubuhnya kemudian berlari pergi.

Sakura hanya tertawa kecil melihat reaksi temannya itu. Sesaat kemudian, perhatiannya terjatuh pada laki-laki tampan di sampingnya itu. "Jadi, aku tidak tau kalau nii-san suka pergi ke acara seperti ini?"

"Tidak kenapa-kenapa. Hanya karena sedang tidak ada kerjaan!" balas Gaara. Gaara melirik ke arah kanan. Sakura mengikuti arah tatapannya. Setelah dilihat-lihat ternyata Gaara menatap seorang laki-laki yang sedang duduk sendirian di bukit yang agak miring di samping kios pancake. Sakura langsung mengenalinya. Dia Uchiha Sasuke. Tumben dia sendiri. Pikir Sakura. Laki-laki itu sama sekali tidak mengenakan topeng. Ia mengenakan jas berwarna biru tebal.

"Sebaiknya kamu sampiri dia! Kurasa dia butuh teman bicara!" kata Gaara sambil menepuk pundak Sakura.

"Dan kenapa aku harus menghampirinya? Dan sejak kapan kalian terlihat dekat?" tanya Sakura penuh curiga.

Gaara tertawa kecil kemudian menepuk puncak kepala Sakura. "Kapanpun itu lebih penting kamu samperin dia tuh! Kasihan sendirian!" setelah mengatakan itu Gaara berjalan pergi meninggalkan Sakura.

Sakura mengepalkan tangannya dan mengeraskan kepalannya. Ia kesal. Karena hampir seharian penuh ia dicuekin sama Gaara. Apa lagi belakangan ini sikap Sasuke padanya juga aneh. Namun ia buang jauh-jauh perasaan jengkel itu. Ia kuatkan hati antara nyamperin Sasuke atau menghiraukannya.

Baru saja ia hendak berbalik, saat mengingat kembali kata-kata Gaara. 'Kasihan tuh sendirian!' kini ia tidak tahan lagi. Ia merasa kasihan. Akhirnya ia melangkahkan kaki mendekati Sasuke yang sedang tidur-tiduran di atas rumput.

"Hei! Sedang apa kamu di situ?" tanya Sakura sambil menghampiri Sasuke. Ia melepas topengnya kemudian melihat Sasuke dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sasuke tidak bergerak. Tetap diam. Wajahnya tertutup majalah sehingga ia tidak dapat melihat wajah Sasuke.

"Ooi!" panggil Sakura sekali lagi. Kali ini agak keras. Tampaknya berhasil karena Sasuke sudah dalam posisi duduk sekarang.

Ia membenarkan rambutnya yang acak-acakan. "Ada apa?" tanyanya.

Sakura merasa gugup jika berada di sekitar Sasuke. Tapi di sisi lain ia juga kesal padanya. Apa lagi ditambah ia merasa dihindari hari itu. Tidak hanya Gaara saja, tapi Sasuke juga Ino mengabaikannya seharian penuh hari ini. Yaa meskipun Ino masih peduli padanya pergi ke rumahnya untuk memberikan gaun.

"Ti... tidak ada apa-apa kok!" balas Sakura gugup. Ia mendengar Sasuke menghela napas panjang. Ia merasa adanya kecanggungan antara dia dan Sasuke. Padahal dulu ia bisa saja bertengkar dalam keadaan apapun. Tidak akan ada yang protes. Tapi sekarang kok rasanya ia agak terganggu?

"Jadi, kamu ngapain sendirian di sini?" tanya Sakura. Sasuke tidak menjawab. Sakura menggembungkan pipinya kesal. Ia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya kemudian mencari nama Ino di kontak.

Terdengar suara operator berbicara. Ponsel Ino tidak aktif. Apa yang sedang ia lakukan? Pikir Sakura jengkel. Kok ia merasa menjadi orang yang paling sial hari ini?

"Sakura-" terdengar Sasuke memanggilnya. Sakura berbalik. Ia melihat Sasuke masih tiduran namun posisinya menatap langit. Sakura masih diam. Menunggu kelanjutan kalimat Sasuke. "Tidak apa-apa deh!" Sasuke kembali tidur membelakangi Sakura.

Sakura kesal diabaikan. Sudah ia mempertaruhkan waktunya untuk menyapa dan menemani laki-laki satu itu, meski terpaksa, tapi dia malah enak-enakan tiduran di atas rumput dan meninggalkan Sakura sendiri di kesunyian. Ia berjalan mendekati Sasuke dan memanggilnya. "Sasuke!" panggilnya setengah berteriak "Sasuke!" panggilnya lagi.

Sasuke berbalik. "Nanika?" tanyanya biasa-biasa saja. Sakura menghembus napas kesal. Ia kembali duduk di samping Sasuke. Agak menjaga jarak. Sekitar 1 meter dari Sasuke.

"Kuperhatikan belakangan ini kamu menjauhiku. Ada apa sih sebenarnya?" tanya Sakura hati-hati. "Bukannya aku apa, aku hanya ingin mencari topik di malam yang sunyi dan menyebalkan ini." Ia tidak mau terdengar seperti tidak menyukai kerenggangan hubungannya dengan Sasuke. Ia hanya ingin mengetahui alasannya. Ya! Hanya alasan.

Sasuke diam sesaat 'Dia itu apa sekarang jadi pendiam? Dia yang seperti ini sama sekali tidak menyenangkan! Kukira ia akan tetap seper-. Tunggu dulu! Kenapa aku khawatir? Apa yang sebenarnya aku inginkan?' pekik Sakura dalam hati.

"Sakura-" panggilan Sasuke membuyarkan pikiran Sakura. Ia memfokuskan pandangannya kepada Sasuke. Sasuke beranjak duduk dari posisi tidurnya kemudian menatap Sakura. Ia menarik napasnya berusaha menenangkan diri.

"Sakura, aishite imasu!"

TBC

Nyufufufu! Please Be With Me chapter 11 akhirnya update juga. Gmn? Seru? Semoga seru dan menghibur para reader.

Reader : Kata-kata lo itu mulu! Bosen tau!

Auhtor : loh? Itu terserah gue dong! Apa urusan lo?

Reader : udah lah! Ya, sok lah! Terserah lo aja!

Auhtor : haiiiish! Aneh kali kau!

Ya sudah. Yang penting enjoy kan? Klo begitu ya sudah. Saya mohon diri dulu. Selamat bertemu di chapter selanjutnya.