"Jelaskan lebih detail. Aku tidak mengerti maksudmu" pintaku pada Mavis yang berpikir sejenak, kemudian mengangguk pelan sambil berdeham. Gray berdecih kesal, ketika ia memutuskan untuk memberitau semua itu
"Intinya adalah, Mystogan merupakan kebalikan dari sifat Jellal. Mudah dimengerti, bukan?" ucapnya lanjut memimpin jalan di depan. Meninggalkanku yang berusaha mencerna penjelasan singkat tersebut. Lagi pula, kapan kita sampai di tempat tujuan?
Ya, perkataan Mavis memang benar adanya. Kalau Jellal memiliki perangi buruk macam iblis, maka Mystogan begitu baik seperti malaikat yang menjelma menjadi manusia. Perumpaanku barusan agak berlebihan, tetapi itu serius, kok! Namun belum menjawab satu pertanyaan, 'kenapa dia menangis?'. Penyesalan selalu datang belakangan, siapapun tau peribahasa tersebut, tetapi menurutku, Jellal bukanlah orang yang mudah menyalahkan diri sendiri atas kesalahannya.
"Lalu kenapa Jellal menangis, huh? Padahal dia terlihat yakin ingin membunuh Rogue" atau mungkin sifatnya plin-plan? Oh ayolah, kredibilitas sesosok pemimpin patut dipertanyakan, kalau dia mempunyai salah satu kepribadian itu. Terlalu banyak kata 'tapi' di setiap hipotesisku, sulit menerka walaupun asal
"Berhentilah bertanya. Kau benar-benar berisik!" bentak Gray menoleh ke belakang. Menatap tajam iris karamelku bercampur maksud intimidasi. Kenapa dia yang marah? Mavis santai sewaktu aku memberondonginya dengan banyak pertanyaan
"Sudahlah Gray. Sekarang Lucy-chan anggota resmi, terima kenyataan dan relakan dia, mengerti?" hah ….? Apa artinya kata 'relakan'? Jangan berkata si surai raven menyukaiku! Masih banyak lelaki yang lebih baik dibanding kakek pemarah ini
"Itu berhubungan dengan kutukan anak kembar. Mereka saling berbagi emosi dalam diri masing-masing. Misalnya, jika Mystogan senang Jellal merasakan. Jika Jellal marah Mystogan pun balas mengecapnya. Pasti dia sedih karena kehilangan Rogue, sehingga sampai ke hatinya dan ikut menangis"
Terkesan menyebalkan, batinku berhenti berjalan, ketika tiba di lokasi yang Mavis sebut sepanjang perjalanan. Sinar remang bulan, menerangi kolam kecil di tengah padang rumput. Memantulkan bayangan kami bertiga yang kini berjongkok. Gray melepas batu tersebut, membuatnya tenggelam ke tanah paling dasar. Mereka berdua nampak puas. Bangkit berdiri terlebih dahulu, meregangkan badan yang diserang pegal linu.
"Yosh. Misi selesai! Ayo kita pulang" ajak Mavis melangkah riang, diekori Gray dan aku yang saling membuang muka. Entah kenapa raut wajahnya menyiratkan kebencian mendalam, sedangkan anggota lain berlaku biasa saja. Mungkinkah dia sensitif terhadap wanita?
"Eto …. Bagaimana caraku balik?" bodoh, bodoh, bodoh, aku baru menanyakannya sekarang! Mavis tertawa aneh. Menjentikkan jari lalu mengucapkan 'sampai jumpa'. Y-ya, mungkin dia lupa akibat terlalu senang
BRUKKK!
Aawwww …. Lagi-lagi gagal mendarat. Aku langsung berganti pakaian. Menjatuhkan diri ke atas kasur memejamkan mata lelah. Menjalankan misi pertama pun sesulit ini, entah bagaimana selanjutnya. Banyak yang terjadi untuk ku renungkan sebelum terlelap total. Rahasia terbesar Jellal mungkin sudah terbongkar. Keberadaan Mystogan dalam makna sesungguhnya. Tinggal wanita itu yang belum jelas, apakah dia hantu,
atau mungkin …. Aku mengenalnya?
Keesokan harinya ….
Jam menunjukkan pukul enam lewat sepuluh menit, sedangkan aku baru bangun tidur hendak menjalankan ritual pagi. Mandi di bawah guyuran shower. Sikat gigi, yang terakhir sarapan di meja makan, melahap sepiring nasi goreng hangat buatan ibu. Cukup membosankan, masing-masing sibuk dengan pekerjaannya, dan seperti biasa tidak ada yang bertanya, kemana aku pergi kemarin malam. Meskipun tidak kena marah, hari ini mereka aneh.
"Kenapa melamun, Sayang? Apa kamu sakit?" tanya ibu khawatir. Menyentuh keningku menggunakan punggung tangan. Aku menyingkirkannya pelan. Menggelengkan kepala sambil menarik kursi ke belakang. Sekarang giliranku piket pagi, bisa gawat kalau terlambat
"Benar tidak apa-apa?"
"Iya ibu. Aku hanya kurang tidur semalaman" ucapku setenang mungkin. Pamit berangkat ke sekolah meski beliau keberatan. Ayah sendiri acuh tak acuh. Asyik membaca rubrik olahraga kesukaannya di pojok halaman, walau tatapan itu sesekali terlihat intens
Orang tuaku mirip agen mata-mata FBI! Ternyata benar, kenapa pula dugaan buruk yang menjadi kenyataan? Aku enggan berpikiran macam-macam tentang mereka, itu namanya kualat dan diharamkan oleh agama manapun! Pasti kepikiran mengenai wanita yang ku ceritakan, tetapi untuk sekarang bukan lagi masalah penting, dia berhenti meneror sesaat …. Mungkin tidak lama. Seharusnya aku membuat kebohongan yang lebih baik, ayah maupun ibu akan cemas berkepanjangan jika begini terus.
"Selamat pagi. Levy-chan. Wendy-chan" ya, kebetulan kami bertiga piket Senin ini. Aku menyambar sapu yang menganggur di samping laci. Membersihkan debu di lantai hingga ujung kelas. Melelahkan memang mengerjakannya seorang diri. Kemana dua murid lain pergi, huh?
"Semangat sekali. Pulang sekolah nanti Lu-chan mau karaoke bersama kami? Sudah lama, lho" ajak Levy-chan sembari menglap kaca jendela. Memakai kain yang sudah basah oleh air keran
"Maaf, tetapi aku ingin pulang lebih cepat. Ibu khawatir karena mimpi yang pernah ku ceritakan. Kalian ingat, kan, chat di grup bbm?"
"Ah! Soal wanita yang sama persis denganmu. Menurutku bukan kebetulan, pasti ada suatu pertanda" mulai deh disangkut pautkan ke cerita horror. Wendy-chan yang biasanya takut hantu, mendadak ketagihan usai diyakinkan 'semua itu fiksi belaka'. Siapa sangka, dia amat mempercayai makhluk gaib tersebut
"Pertanda baik atau buruk?" bisa dibilang aku lumayan tertarik. Ramalan Wendy-chan cukup akurat, meskipun tidak menggunakan kartu tarot atau bola kristal. Hahaha …. Kau pikir pekerjaannya begitu, sebatas hobby demi menghabiskan waktu
"Baik. Mungkin artinya Lucy-chan memiliki seseorang yang berharga, namun dia menghilang dari ingatanmu karena suatu alasan" jelas Wendy-chan singkat, padat, jelas. Menyakini setiap perkataannya penuh penekanan, dari awal sampai akhir
Kalau dipikirkan benar juga. Ibu pernah bercerita, ketika masih kecil aku mengalami kecelakaan, yang kata dokter membuat ingatanku hilang separuhnya. Ya, itu terdengar mengerikan sekaligus mengejutkan. Padahal selama ini kehidupanku dapat dibilang cukup sempurna. Bel masuk berbunyi nyaring. Pelajaran dimulai dengan neraka matematika yang dipenuhi puluhan rumus, ditambah ulangan mendadak melengkapi derita seisi kelas,
lima butir soal essay yang amat menguras pikiran.
Tok … tok … tok ….
"Permisi. Ada yang bernama Lucy Heartfilia di sini? Temuilah kepala sekolah sekarang" seorang murid kelas lain menyuruhku ke ruangan horror itu? Laxus-sensei menatap tajam sesaat. Mempersilahkan keluar setelah lembar ulangan selesai dibagikan
Apakah ini keberuntungan atau kesialan? Firasatku berkata buruk mengenai panggilan tersebut. Berhubungan dengan pembobolan benda pusaka? Pembunuhan Rogue anggota Saber Tooth? Entahlah, siapa yang tau sebelum wawancaranya dimulai. Aku mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Duduk di sofa memandang mata pak kepsek. Suasana mendadak tegang. Lidahku mati kaku, di hadapan beliau yang memekik lewat mimik wajah.
"Kamu tau saya ingin membicarakan apa?" pertanyaan yang mengesalkan untuk memulai sesi pembicaraan. Aku mengangguk, di antara ragu dan percaya diri mengiyakan pernyataan itu. Seringai beliau tersungging tipis. Memangku dagu berjenggotnya dengan kedua tangan nan keriput
"Masalah batu bulan. Jadi, apa anda mencurigai saya sebagai pelaku ulung?" tebakku bernada intimidasi. Menyipitkan sepasang iris karamel menandakan : bahwa aku sangat serius menanggapi topik berujung maut ini
"Ya, begitulah. Berikanlah kesaksianmu, siapa saja yang berada di sana?"
GULP!
Si-sial, kepercayaanku sedang dicobai! Jika menjawab sejujurnya, maka Jellal tidak akan tinggal diam. Kalau aku berbohong, apa beliau percaya penuh tanpa menaruh kecurigaan sedikitpun? Ambillah resikonya. Tanggung konsekuensi! Salahmu karena memutuskan bergabung. Kau harus berani bertanggung jawab, diriku yang penakut!
"Sayangnya rahasia. Maafkan kelancangan saya, Pak. Itu lebih baik dibanding mendustai orang tua" opsi pilihanku habis. Sekarang tergantung pada alur permainannya. Aku harap-harap cemas menanti jawaban yang keluar. Apa lagi dipaksa menunggu selama lima menit diselimuti hening
"Yang dapat saya simpulkan hanya satu, kau dalang dibalik pembunuhan dan pencurian batu bulan" tunggu, mana bisa seenak jidat diputuskan begitu?! Aku memukul meja keras. Melampiaskan rasa kesal mendapati jawaban yang tidak adil
"Tapi kenapa saya yang anda tuduh?!"
"Karena satpam berkata, melihatmu masuk ke ruang bawah tanah. Ya, salah sendiri kenapa tidak mau mengaku. Saya terpaksa mengeluarkan Lucy Heartfilia dari SMP Tanaka. Satu pertanyaan terakhir, kau mengetahui proyek itu?"
"Murid-murid akan dijadikan tumbal, untuk melahirkannya kembali sebagai manusia terkuat"
Perkataan Mystogan melesat singkat dalam benakku. Dugaannya tepat sasaran, kepala sekolah terbukti memiliki niat jahat tersebut. Beliau mengisyaratkan, supaya aku keluar meninggalkan ruangan, balik ke kelas mengikuti kegiatan belajar mengajar, dan tak ketinggalan surat keterangan drop out. Meskipun tau ini resiko terburuknya, tetap saja penyesalan datang menghampiri. Ayah, ibu, 'dia', bagaimana jika mereka mendengar berita itu?
Kumohon lakukan sesuatu, Jellal ….
Jam istirahat ….
"Lu-chan. Air mukamu bertambah pucat, mau ku antar ke UKS?" tawar Levy-chan khawatir. Memperhatikanku kehilangan nafsu makan, tidak sekalipun menyentuh kotak bekal terlebih mengapit sumpit bambu
"Hari ini terakhir kalinya kita bersama. Hanya itu yang ingin ku sampaikan. Terima kasih banyak, aku menghargai persahabatan kita. Meskipun berpisah, tetapi saling kontak dan berkumpul, oke?"
"Su-suram sekali. Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Ucapan Lucy-chan membuat kami bertambah cemas" kenapa harus diceritakan? Lagi pulang apa berguna? Aku semakin meringis jika dipaksa. Mungkin ini demi kebaikan, sehingga keadaan terus mendesakku angkat bicara
"Kepala sekolah menuduhku atas dugaan pelaku pencurian dan pembunuhan, tapi percayalah … Bukan aku yang melakukannya … Bukan aku …. BUKAN!"
Air mataku pecah saat itu juga, bak anak sungai membasahi kedua belah pipi. Kenapa aku yang mesti menderita, sedangkan dosa ditanggung Jellal? Terkadang Tuhan pilih kasih, memang Dia pikir anak kelas dua SMP mampu, menghadapi cobaan seberat memikul karung beras? Beginilah kehidupan, bisa menjadi sangat baik atau kebalikannya. Kami tidak banyak bicara hingga bel pulang berdering. Mereka tau betul, kalimat penghiburan sekadar omongan bermakna kosong.
Bahkan senakal apapun seorang murid, mereka mana berharap dikeluarkan dari sekolah?
Pulangnya aku tak langsung balik ke rumah, melainkan pergi ke daerah terlarang tempat markas berdiri. Alasanku mampir ke sana tidak ada, anggaplah ingin bersosialisasi atau sebatas membesuk. Jellal bersembunyi di balik papan, membuka pintu menyambut ke datanganku yang mendadak. Ternyata benar, mereka bertiga pun sudah berkumpul di ruang tamu, seakan tau perihal kunjunganku usai dikeluarkan dari sekolah.
Ya, jika aku tetap berstatus siswi SMP, untuk apa melakukan ini?
"Silahkan jika ingin komplain. Kami menerimanya dengan lapang dada" ucap Gray ketus. Menyilangkan kedua tangannya di depan dada tanpa memandang lawan bicara. Aku terdiam mendengarnya, pasti mereka tau melalui penglihatan masa depan
"Kata siapa aku berniat komplain. Semua salahku karena memutuskan bergabung. Ini konsekuensinya, benar begitu?"
"Jika ada pikiran yang menganggumu tolong katakan. Kita teman satu guild, berbagi suka dan duka bukan masalah, lebih-lebih merasa malu"
"Terima kasih. Aku menghargai ketulusanmu, Mystogan. Tapi urusanku hanya dengan Jellal. Ayo bicara empat mata di halaman belakang"
Dia menurut, merasa bahwa surat drop out-ku merupakan kesalahannya. Kami duduk di pinggir bangunan. Membisu bermenit-menit lamanya hingga kesunyian mencengkam kuat. Jellal tidak bergeming sedikitpun, begitu juga aku yang mengajaknya tak berdasarkan apapun. Cepat katakan sesuatu, sebelum kelemahanku nampak dengan amat menyedihkan.
Tes … tes … tes ….
"Air matamu jatuh, dan aku penyebabnya. Maaf" ucap Jellal menyeka buliran jernih di pelupuk mataku, kemudian dengan polosnya mencicipi 'butir jagung' tersebut. Dasar …. Kelakukanmu mirip bocah berumur lima tahun, bahkan pembunuh sekalipun mempunyai sisi yang manis
"Jangan dicoba lagi. Rasanya asin, bukan?"
"Mungkin aku harus melakukannya, supaya kesedihanmu dapat ku rasakan. Kau percaya manusia tanpa emosi? Ayah membesarku memakai metode itu, supaya sang anak pantas menyandang gelar pembunuh terbaik. Mystogan selalu menyesalinya, dia adik yang baik"
"Mavis sudah bercerita padaku. Kalian ibarat cermin katanya, lalu terhubung dengan sebuah kutukan. Cerita itu rumit dijelaskan memakai akal sehat manusia, tetapi terkesan indah jika dipandang dari sudut lain. Andai semua orang memilikinya, mereka mana tega menyakiti sesama makhluk hidup"
"Menurutku terkadang menyebalkan. Namun kalau Mystogan dilenyapkan, aku tidak akan pernah bisa merasakannya lagi. Tangis berarti kesedihan. Senyum tidak melulu menyangkut kebahagiaan. Ibu yang mengatakan hal tersebut. Jangan menyembunyikan perasaanmu, Lucy"
"Hiks … Hiks …. Kamu pandai menasehati orang, ya, rupanya"
"Semua berkat Mystogan dan kamu. Aku menyukai perubahan ini"
ZRASSHHHH!
Selembar kertas melesat cepat memotong beberapa helai rambutku. Menempel di kulit Jellal yang kemudian memancarkan sinar biru. Dia pun menghilang bagai ditelan bumi, baru ku sadari pula, jika benda persegi panjang itu bukan sembarangan.
Kertas teleportasi …. Siapa yang melemparnya?
Bersambung ….
Next chapter :
Terdampar di Suatu Tempat
Balasan review :
BlackHage-chan : Yuu itu cuman buta sebelah mata, lah ini dua2nya wkwkw. Oke siapapun dia kita lihat di chapter mendatang. Gak lama lagi kok sabar aja. Kalo soal ingatan Lucy mungkin masih lama terbongkarnya, tergantung gimana alurnya aja deh. Oke thx ya udah review.
schifferdragneel : Hmmm kalo Natsu ... ah gak mau kasih spoiler, tapi yang pasti dia akan muncul sebentar lagi, percayalah! Oke thx ya udah review. Jellal emang keren kok, kata siapa enggak hehehe.
Fic of Delusion : Belum tentu juga sih berkhianat, mungkin aja dia yang dikhianati (?) Ya emang agak mirip2, tapi tetap beda kok, dan aku terinspirasi dari anime Black Bullet juga karakter game, bukan dari anime itu. Ok thx udah review.
