Dont plagiat please! Show your own ideas as well!

A/n:

Berharap mereka baikan?

Saya kabulkan kok, di awal malahan.

Chap 11?

Chap ini seolah 'pengantar' atau opening buat chap 12. Kalian masuk jenjang baru yang lebih intens. Lebih rumit dengan detail seperti sebuah game dan saya bakal usaha jabarin sejelas jelasnya akan strategi dua pihak 'Kim dan Zhang'

Berharap kalian bakal lebih mendalami inti : serangan juga strategi Kim dan Zhang yang lebih pada pertahanan (karena hanya untuk melindungi mutiara kecil mereka).

ACE season 2, itu saya rasa baru di mulai dengan datangnya charter 11 ini, like new face. Dan 10 chapter sebelumnya itu seperti pengantar, pendukung jalan cerita dan permulaan. Katakan 'hello again' buat satu dari ketiga pion yang ada di ACE season 1. 'Park Chanyeol & Oh Sehun'. Dengan datangnya mereka dan charter ini saya harap kalian ga ketinggalan setiap scene semua tokoh.

Ini ga full Junmyeon x Yixing?

Tetapi ini adalah awal dari permintaan kalian untuk lebih intens pada tiga tokoh utama. Chapter 12 kita sudah mulai memainkan semua sisi peran dan kemampuan mereka juga Wu Yifan kesayangan kalian. Jadi, tolong jangan tertinggal scene.

Awalnya ini saya kasi caption, lets back home, yixing:

Tetapi keempa sudut pandang di chap ini mengarah pada Junmyeon. So, ini chap milik Tuan Muda Kim kita.

Next chap?

Seperti penjelasan di atas ini maka di depan kita ketemu di King vs King, see u.

Jaga kesehatan kalian readers kesayangan.

Baca pelan dan bersiap siap untuk nano nano khas dari 'ACE'.

Lets have fun! With 12, 7 k word

.

.

.

.

.

Tuan Kim meletakkan teh herbal kesukaannya dengan tatapan hambar. Panggilan telepon dari Junmyeon menghancurkan sesi teh bersama Hakyeon begitu cepat. Cepat dalam sebuah tebakan juga pertanyaan yang menghajar pemikirannya. Cepat dalam pemikiran akan apa saja yang di lalui anak anaknya di tanah Changsa.

Tetapi, apa daya juga guna orang orang tua sepertinya dalam segala macam kehidupan dan apa yang di inginkan anak muda sekarang.

Selalu berbanding terbalik, dan anak anak akan bilang jika jaman mereka tidak sama lagi dengan yang ada saat ini.

Tuan Kim mendesah lemah, dia tau jika akan sia sia untuk mengatur baik baik Penerus Kim. Dan Junmyeon menjadi nomer satu untuk hal bantahan dan tindakan di luar kendali, puteranya itu selalu bisa membuatnya kehabisan akal jika berurusan dalam hal perbedaan keinginan. Meskipun kekuatan dan ambisi dalam mencapai tujuannya adalah hal yang sangat mengagumkan dalam dirinya.

Karenanya Beliau hanya terdiam memutar mutar cangkir dan alasnya untuk mendengarkan musik musik kematian yang keluar dari sambungan telepon. Tanpa sadar pendangannya fokus dan pendengaran semakin meningkat, Tuan Kim sadar banyak fakta yang coba Junmyeon katakan kepadanya lewat sambungan telepon ini. Bagaimana Pimpinan Kim itu menyiksa mangsa juga pengakuan tidak terduga. Mendengar seolah itu merupakan sebuah laporan atau pertunjukan yang dia tujukan untuk sang ayah. Sebuah alasan yang terselip di balik perbuatannya, dan itu jelas jelas mengarah kuat pada pemilik marga Zhang, Zhang Yixing.

Hakyeon sendiri terbelalak dalam setiap tarikan nafas yang memanas juga menegang. Setiap suara di sana seolah dia telah ada disana dan bergabung bersama dengan Tuan Muda mereka untuk membunuh dan menyiksa. Semua omongan orang orang di bawah dahulu selalu dia hiraukan akan bagaimana hebat juga kejam dan bengisnya Tuan Muda mereka jika berurusan untuk seorang pengkhianat atau yang melukai orang orang terdekatnya.

Dan setelahnya suara suara jeritan keputusasaan yang begitu menyayat, menjerit hati kecilnya yang selama ini hanya mengerti bagaimana menjaga juga mengobati orang orang menjauhkan dari kematian yang begitu berbanding terbalik dengan pekerjaan Tuan Mudanya. Hakyeon mendesa, salah menganggap Tuan Muda dan ucapan seluruh bawahan Kim.

Begitu jauh daripada presepsi dan perkataan yang bisa dia deakripsikan untuk kekejaman Tuan Mudanya.

"Calon menantuku sepertinya sudah mati?"

Pertanyaan Tuan Kim seringan kapas tidak ada emosi di dalam lekuk tiap katanya, lebih lebih membuat Hakyeon menggaruk tengkuknya bingung daripada kaget atau menegang.

Apa berita kematian untuk mereka lebih mirip berita acara ajakan makan malam?

Tanggapannya tidak pernah cocok dengan keadaan. Sekarang Hakyeon mungkin mau sadar jika tingkah Tuan Muda itu tidak jauh jauh dari tingkah Tuan Kim sendiri. Lihat saja anak anaknya lebih kacau daripada pengacau sendiri namun tidak di pungkiri lebih menawan daripada lelaki manapun.

Oh, apa ini sebuah pujian?

Huh?!

Hakyeon sedang meracau sepertinya. Dan apa apaan pernyataan Tuan Kim tentang sebutan calon menantu itu. Jadi benar jika Beliau tengah mencoba mendekatkan Luna dengan Tuan Muda?

Hell, Seharusnya dia tau hal itu sejak jauh jauh hari.

"Mungkin aku harus mencari calon baru untuk junmyeon kecilku. Bukankah itu ide baik hakyeon?"

Menghela nafas Hakyeon meletakkan ponsel dengan saluran yang sudah terputus dari Tuan Muda mereka. Menatap Tuan Kim penuh atensi, "Bahkan Tuan muda zhang sendiri yang menghabisi luna di akhir tuan, bagaimana bisa anda berencana mencari yang baru?"

Sekonyong konyong Hakyeon menanggapi pertanyaan terbilang ngawur dari orang tua itu. Lalu otak kecilnya berfikir untuk mulai menelisik laporan dari beberapa orang bawahan tentang perkembangan di Changsa.

Sedangkan Tuan Kim diam diam mengukir dengan sebuah senyuman di wajah. Memikirkan kejadian bagaimana Junmyeon benar benar tidak melelaskan barang sedetikpun untuk Luna beristirahat dari teriakan rasa sakit.

Dan faktanya. Hanya demi seorang Zhang.

Baiklah, mari kita lihat seberapa lama Zhang bisa bermain di permainannya.

Seringai itu terukhir, Junmyeon sangat menikmati waktunya di Changsa tanpa dia duga duga. Sudah berapa wanita yang dia habisi saat ini. Dan ini semakin membuat Tuan Kim tertarik dengan kedua anak muda itu. Baik Junmyeon maupun Yixing.

Dan sepertinya Tuan Kim juga tidak keberatan jika harus menunggu lebih lama lagi akan keberadaan Junmyeon di Changsa. Karena baginya akhir akhir ini Zhang selalu menarik untuk hal hal yang tidak terduga.

.

.

.

.

.

.

Rainha code

Chapter 11: Junmyeon.

Sebuah keputusan akan menghadirkan sejumlah efek samping.

Kala semua tujuan awal akan dia capai namun dia harus menghadapi badai di depannya, kapalnya tidak bisa lagi menghindar.

Sebuah benturan itu terjadi.

Satu nama dengan satu keinginan akan menebus juga mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Changsa bukan tanah tanpa penghuni dan ini adalah hal yang harus Junmyeon hadapi.

Zhang dan semua hal tidak terduga.

Cukup satu nama dan dia tidak akan membiarkan orang lain yang akan menanggung akibat dari perbuatannya.

Tidak dengan Minseok atau orang lain.

Hanya dia.

.

.

.

.

.

.

.

Yixing mengerjap, hari masih gelap saat dia bangun. Bernafas lemah dengan bola mata mengerjap kecil menatap sedikit demi sedikit seluruh kamar. Kala kesadaran menerpa Yixing meringis kesakitan, wajahnya sakit benar benar pedih di sana sini.

Wanita sialan!

Apa dia tidak pernah merasakan jatuh dan berbenturan dengan benda keras itu sakit.

Dan kala tangannya dia bawa untuk meraih wajah, dia balik tersentak ada perban di sana sini. Merengek dipenuhi rasa sakit disana sini, Yixing melihat hanya ada Dasom yang tertidur di sofa kecil dengan posisi terduduk. Melihat hal itu dia terdiam dan tiba tiba cemberut. Kelihatannya dia tidak bisa bangun lagi untuk beberapa hari.

Dia ingin berteriak, menangis melampiaskan rasa sakit yang menghinggapi wajah juga tubuhnya.

Ingin melampiaskan, atau setidaknya ada seseorang yang bisa membantunya mengurus rasa sakit ini.

Tapi wajah Dasom menunjukkan dokter muda itu telah berjaga semalaman hingga tidak memperdulikan keadaannya sebelum terlelap, tanpa selimut ataupun bantal yang menopang lehernya. Yixing terselip rasa bersalah di sana.

Berdamai dengan keadaannya, Yixing mengingat bagaimana kejadian semalam dengan menatap langit langit kamar setiap klise klise yang dia lalui dalam gelapnya juga mencekam ketegangan di saat itu. Mengulang semua hal yang dia lihat di depan mata. Menatap jemari jemarinya lalu tersenyum miris sendirian. Junmyeon sialan!

Semua perbuatan dan perkataannya yang mampu menghipnotis Yixing dengan perintah dan tekanan.

Bayangan darahnya juga darah wanita itu masih terlihat dan yang paling menempel di ingatannya adalah kala Junmyeon menghabisi dengan bola mata hanya menatap kepadanya. Laki laki sialan itu, Yixing tidak mengerti apa yang ada di pikirannya kenapa tidak pernah berlaku benar atau setidaknya menggunakan hati. Tidak! Junmyeon tidak akan pernah menggunakan hati, mungkin dunia akan terbalik jika orang seperti dia menggunakan hati dalam bertindak.

Masih pagi dan dia sudah mengutuk banyak orang.

Cklek!

Seseorang masuk dan Yixing reflek menutup kedua matanya, pura pura tertidur. Mendengar setiap langkah yang semakin mendekat, dia tidak tau siapa itu tetapi bau parfumnya membuat Yixing gugup tanpa sadar dengan jemari bergetar pelan. Jemari dingin seseorang menempel di dahinya, masih diam tanpa suara dan Yixing memiliki kekesalan yang tiba tiba menyeruak. Dia fikir diam bukan cara yang tepat. Dengan keyakinan yang mulai dia tumpuk pada pundi pundi kekesalan yang mana dia bisa berharap menangkap basah tindakan juga perbuatan macam macam seorang pimpinan Kim.

Yixing dan segala ambisi terpendamnya.

Suhu tubuh normal dan bola mata masih terpejam, Junmyeon berniat menarik tangannya dan pergi meninggalkan Yixing lagi, dia lihat Dasom masih tertidur lelah di sofa. Dokter muda itu akan mengalami sakit punggung juga leher jika tetap tidur seperti itu. Dia akan pergi untuk menyuruh pelayan menyiapkan kebutuhan Yixing kala bola matanya kembali menatap wajah damai Yixing yang membuatnya terkejut. Bola mata menawan si kecil sudah terbuka dengan tatapan tajam tetapi semakin lama semakin cemberut.

Cukup membuat Sang Penguasa menyerngit heran di sajikan pandangan itu di pagi buta.

Junmyeon menarik tangannya, menahan diri untuk tidak tertawa melihat ekspresi itu, "Sudah bangun?"

Yixing tidak menyahut, masih memandang Junmyeon dengan tatapan bersungut sungut.

"Wajahku sakit semua!" Nada bicara Yixing merajuk, mengadu kepada Junmyeon tanpa ada niatan menyahuti kata kata Sang Penguasa di awalnya.

Junmyeon terdiam tidak tau bagaimana menanggapi perkataan Yixing, lebih memilih menatap wajahnya dalam diam. Bila di perhatikan memang lebam ada di sana sini wajar jika dia mengeluh sakit. Junmyeon masih merasa bersalah di dalam dadanya namun ada apa dengan pandangan itu? Junmyeon tidak faham dengan pola pikir si kecil. Hingga mendengus, "Dasom akan mengobatimu lagi nanti."

"Aku mau kau!"

"Aku ingin menghajarmu!" Ucap Yixing bersungguh sungguh dengan rematan di ujung selimut kuat kuat yang tidak lepas dari perhatian Junmyeon.

Membuatnya tersenyum remeh, "Kalau begitu kau harus sembuh dulu."

Junmyeon ingin mencoba.

"Aku ingin mendangmu nanti!"

"Memukul wajahmu!"

"Terutama dengan senyum sialanmu itu!"

"Aku sangat membencinya asal kau tau, kim!"

"Lalu juga menghajar tubuhmu!"

"Dimanapun aku bisa melampiaskan rasa sakit di tubuhku padamu!"

Junmyeon hanya terdiam dan menatap Yixing, membiarkan dia meluapkan emosinya, anak itu bicara seolah tengah memilih sebuah menu makan pagi dengan berbagai toping. Junmyeon sendiri terhibur bagaimana bola mata itu berkilat dalam semua ucapan. Setidaknya dengan mulut mengocehnya itu dia bisa tau jika si kecil baik baik saja.

"Kau bisa menghajarku sepuasnya, aku tidak akan melawan jika untukmu." Balasan Junmyeon terlalu enteng untuk Yixing hingga tubuh kecilnya merasa tersinggung terutama dengan seringai itu.

"Pembual sialan!"

"Ukh! Bantu aku bangun dan biar aku menghajarmu sekarang!"

Ada yang meledak kelihatannya?

Dan Junmyeon terkekeh, "Bangun saja sendiri, bagaimana kau menghajarku kalau bangun saja tidak bisa?"

Pandangan remeh dan Yixing berteriak, "Sialan! Kemari kau!"

"Jangan berisik kau membangunkan orang lain disini." Sela Junmyeon cepat

Secepat angin berhembus secepat itu juga Yixing berubah,

"Eh?" Yixing tersadar dan cepat cepat menatap Dasom yang mulai bangun lalu dia meringis. Oh tidak! Teriakannya tentu sangat keras tadi.

Gelengan kepala Junmyeon berikan melihat sifat Yixing yang bisa langsung berubah hanya dengan provokasi kecil.

Dasar!

"Jie. ." Panggil Yixing dan dokter muda itu mulai tersenyum menyambut pagi hari si kecil. Junmyeon melihat Dasom bangun segera meninggalkan kamar Yixing tanpa mengucapkan apapun.

Cklek

"Junmyeon sialan awas kau!" Balas Yixing dengan suara sekecil mungkin. Dia tidak mau Dasom tau kalau mereka baru saja bertengkar. Walaupun Dasom sudah melihatnya dengan tatapan menyerngit tidak mengerti dengan polah Yixing yang bicara begitu pelan dengan wajah masuk ke dalam selimut.

Mungkin dia kedinginan.

.

.

.

.

.

Tuan."

Panggilan Henry dari belakang tubuh Junmyeon yang baru saja keluar dari kamar Yixing membuat Sang Pimpinan Kim menoleh dan berhenti. Mendengarkan baik baik laporan kepala rumah tangga kepercayaannya.

"Terdapat aktifitas mencurigakan di luar gerbang."

Ucapan Henry sudah menjadi satu dari sekian banyak prediksi Junmyeon. Hingga tatapannya dia bawa pada jendela kaca yang menunjukkan gelapnya pagi, "Apa itu mereka?"

Henry menggeleng menatap Junmyeon sebagai jawaban, "Saya belum bisa pastikan."

"Tetap pantau dan . . . lakukan seperti apa yang aku minta." Putus Junmyeon lalu memberi sebuah tepukan pelan di lengan lelaki itu.

"Baik."

"Tuan." Sebuah panggilan untuk kesekian kalinya Junmyeon tau akan berujung di mana panggilan ragu ragu itu.

"Ya." Namun Junmyeon masih menyimpan banyak kesabaran untuk Henry.

"Jika saat itu benar benar datang apa tuan tidak akan bergerak sedikitpun?" Pertanyaan yang sama.

Junmyeon ada untuk menatap emosi yang terdapat dalam benak Henry, dia tengah mengkhawatirkan keadaannya. Dia tau hal itu, tau bahkan hanya untuk beberapa orang dan Junmyeon faham dengan tanggapan mereka.

Mereka ada untuk khawatir dan menjaganya dalam segala rasa hormat. Namun hal itu justru membuat Junmyeon kekeh dengan keputusannya.

"Aku akan ada. . . .tanpa perlawanan."

Sebuah final. Dan keputusan dari satu pion kuat Pimpinan Kim telah di ambil dengan sebuah senyuman ringan.

Sebuah permainan dengan pintasan area telah di tentukan.

Sebuah perjalanan yang akan mereka lalui akan ada di depan dengan dan tanpa penawaran.

Sebuah keputusan, seperti permainan dan dadu pemain pertama ada untuk di lempar.

.

.

.

.

.

Junmyeon menatap tidak percaya pada kedua adik adiknya, Jongin dan Jongdae sama sama ada di kamarnya kedua anak itu seperti seorang inspeksi kesehatan yang mengangkat semua pernak pernik kamar seolah ada kuman yang menempel di sana dan menatap kepada Junmyeon saat kakinya menyentuh lantai marmer kamar. Junmyeon mencoba acuh melepas sweater hangatnya hingga hanya menggunakan kemeja merah darah polos. Berhenti menghiraukan kasak kusuk di belakang sana.

Memberi kemurahan hati untuk menunggu sepatah kata dari keduanya.

"Hai hyung."

Oh, fuck!

Jongin dan semua keanehan dunia ada di otaknya, sekonyong konyong Jongdae menggeplak kepala anak itu hingga terhuyung hampir menabrak ranjang. Idiot memang dan Jongdae mengutuk adik satu itu dalam hal hal tidak waras yang sangat akward seperti ini.

"Kenapa kau memukulku!"

Teriakan Jongin membuat Jongdae bersungut ingin menjambak rambut coklat sialan itu, "Kenapa kau justru berkata seperti itu sialan!"

Menghardik seolah Jongin mengatakan sebuah kata kata keramat kepada hyungnya. Jongin mengumpat dengan sumpah serapahnya yang malah memancing tendangan Jongdae, "Kenapa kau tidak memulai sendiri jika bisa, idiot!"

"Kau idiot, sialan. Siapa yang memulai ajakanmu itu hah!"

Dan keduanya justru lebih asik bertengkar dan saling memaki, Junmyeon menghela nafas mendengarnya. Dia hanya mendengarkan walau tidak bisa dia pungkiri telinganya cukup lama tidak mendengarkan semua suara merdu dan ajaib adik adiknya. Melangkah mendekati lemari wine dalam kamarnya Junmyeon mengeluarkan satu set gelas kristal dan satu botol wine sambil melirik keduanya yang sibuk mengumpat.

Masih banyak kata umpatan jika kalian bersedia meluangkan banyak waktu untuk mereka berdua.

Sadar di perhatikan dari lemari wine Junmyeon bersandar, Jongin berdehem menghentikan aksi gilanya. Sesaat sebelum menyikut keras dada Jongdae hingga yang lebih tua mengumpat keras dalam ringisan.

Junmyeon hanya menatap lalu membawa minuman juga gelasnya ke balkon, Jongin sigap membuka pintu teras mereka sebelum kaki Junmyeon sampai di sana, Jongdae mengambil langkah di belakang dengan gusakan di rambut hitamnya. Mengikuti yang lebih tua lalu bersandar di pembatas balkon menikmati angin pagi hari yang mulai menampakkan sinar perlahan menyisir helaian rambutnya. Jongin menaiki pembatas dan mendudukkan diri di sana membelakangi angin luar dan menatap pada Junmyeon yang duduk di kursi menselonjorkan kakinya dengan tangan sudah membawa gelas kristalnya pada ujung bibir menawannya.

Jongdae duduk di lantai lalu menyadarkan punggungnya, menikmati dingin dan sunyinya hari. Tidak ada yang bersuara dan tidak ada yang mengawali.

Semua diam untuk waktu dalam keheningan dan pikiran masing masing, Junmyeon tau itu dari wajah adik adiknya. Jongin yang terdiam dengan tangan yang bertautan lalu Jongdae yang diam menatap lurus ke dalam kamarnya.

"Ada apa?"

Tidak betah juga untuk Junmyeon yang mendiamkan keduanya, hingga bersuara menyesap wine. Satu hal yang di perhatikan Jongin dengan wine se pagi ini. Apa Junmyeon sudah ada di meja makan untuk sarapannya sebelum ini?

Dia sadar banyak waktu dia hilang tidak bersama dengan Pemimpin Kim di sana.

"Bagaimana dengan hyung?"

"Baik." Junmyeon meletakkan gelasnya terlampau anggun dengan cairan yang hanya berkurang sedikit tidak ada seperempatnya. Jongin memperhatikan hal itu, hyungnya bukan dalam hal yang baik.

Junmyeon sedang melakukan pelampiasannya saat ini.

Sekalipun begitu semuanya masih terdiam, walaupun juga dengan pertanyaan terkesan konyol dan aneh tapi semua masih diam.

"Baik untuk beberapa zhang yang mulai bergerak?" Jongin bertanya wajahnya menatap angin yang bergerak menerpa rambut lembut dengan bola mata tertutup.

"Mereka artinya sudah kuat dengan hal itu." Pendapat Junmyeon memasukkan aliran wine dalam kerongkongannya.

Bola matanya sekali tajam kentara akan hal serius dalam setiap pemikiran.

"Apa ini sesuai dengan apa yang kau inginkan hyung?" Jongdae bersuara dalam segala pertimbangan dan pemikirannya.

"Ya." Alunannya begitu lembut tanpa sebuah ganjalan yang terasa di atas aliran angin yang menerka. Jongdae tersentak untuk banyak pertanyaan akan hal ini.

Jongdae menatap dan Jongin menunggu Junmyeon bersuara lebih daripada jawaban singkat tidak terasa itu.

Junmyeon terdiam menatap keduanya lalu tertawa pelan. "Kenapa kalian berdua menatapku seperti itu?"

Sayangnya Sang Penguasa lebih banyak tau apa yang di curigai oleh kedua adik adik ajaibnya yang sayangnya sangat pandai mendeteksi keadaan dan juga perubahan auranya.

Kalian tentu masih ingat bagaimana setiap pertempuran kedua adik adiknya selalu bisa membaca aura yang mana menunjukkan apa dan bagaimana tindakan yang akan mereka ambil mendukung semua kehendak Junmyeon.

"Kau mabuk hyung?" Tanya Jongin sekonyong konyong menatap setengah kesal juga setengah tidak percaya.

"Belum cukup?" Tanya Junmyeon ganti, membuat keduanya harus rela lebih memilih menghela nafas.

Mengubur dalam dalam keinginan menggali lebih banyak keadaan juga kesabaran Junmyeon.

"Haaahh, aku bilang apa." Jongdae bersuara tanpa sadar kentara sekali putus asa menanggapi Junmyeon yang hanya tersenyum kalem.

"Kami mengkhawatirkanmu hyung." Tegas Jongin. Dia begitu blak blakan jika menyangkut hal hal sensitif seperti ini.

"Aku tau itu, dan aku baik baik saja." Singkat dan meyakinkan keduanya, namun Jongdae sangatlah tau jika kabut di depannya sangat tebal dan dia sedang berhadapan dengan kemampuan terbaik Sang Pimpinan. Tidak menunggu lama Junmyeon menatap keluar.

"Hanya tinggal melihat apa yang akan ada di depan kita dan mengikuti arusnya."

Fuck, tanpa terasa Jongin mengumpat mendengarkannya.

Jongdae melirik dan Jongin ikut menatap keluar dimana mentari semakin bersinar terang. Pagi hari telah di mulai dan ketiga Kim telah bersiap.

Dengan semua kemungkinan yang akan mereka hadapi di depan sana.

Meskipun Junmyeon seperti memiliki sisi kelam yang tidak ingin di sentuh atau sekedar di pertanyakan oleh orang lain.

Jongdae tau hal itu dengan baik dan diam diam memberikan perhatian sendiri.

.

.

.

.

.

"Hyung sudah melihat keadaan yixing hyung pagi ini?" Tanya Kyungsoo meletakkan satu gelas susu di depan Minseok dan mulai mendorong kursi untuknya duduk.

Mereka memulai sarapan kala jam masih menunjukkan pukul 6 lewat. Hanya beberapa orang dan masih terlalu berselimut kabut kemarahan kedua saudara. Terlebih tidak jauh dari mereka Junmyeon juga Jongin dan Jongdae mulai mendekat untuk ikut bergabung.

"Ya sudah, lebamnya bertambah." Minseok hampir hampir memicing tajam melihat kedatangan Sang Penguasa.

"Mengerikan! Dia wanita yang anarkis, aku baru tau kemarin." Sementara Kyungsoo masih berkomentar tanpa peduli banyak kemarahan mengurat menguasai hati kecil hyung tertua.

Junmyeon hanya tersenyum pelan, mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan dengan Kyungsoo yang bersiap dengan makanan dan Bora yang menunduk sebuah hormat. Minseok ada di sana menatap tajam, masih hangat kemarahan dalam benaknya, mengambil tubuh untuk berdiri dan menyita perhatian semeja makan terutama kepada Jongdae yang baru saja menyapa kursi meja makan.

"Aku akan ada untuk sarapan bersama yixing."

Setelahnya dia pergi dengan tatapan tertuju pada Junmyeon, begitu dingin dan penuh kemarahan.

Junmyeon acuh dan Kyungsoo mendesah. Tidak ada yang berani melempar pendapat atau bahkan sahutan kentara dengan tekanan pada kursi yang berderit.

Ataupun tatapan kepada Junmyeon, semua orang sibuk menghindari tatapan ataupun arah pandang yang akan bertemu dengan kedua saudara Kim.

Junmyeon berlaku tenang

Sedangkan Minseok berlalu seperti akan membunuh setiap orang yang menyentuhnya bahkan seujung rambut.

Karena Zhang Yixing adalah sebuah hal terbaik yang dia jaga.

Bora hanya terdiam menatap sekeliling lalu hanya dia yang memiliki keberanian penuh rasa hormat yang menatap kepada Tuan Mudanya dalam balutan analisis yang kental. Junmyeon acuh akan hal itu. Hanya empat orang untuk empat sisi berbeda sudah cukup.

Dia akan berjalan dalam pilihannya.

Bersama Henry dan dua permata Black and White kepercayaan Sang Appa yaitu Bora juga Dasom.

Melindungi dua sisi terbaik dalam hidupnya.

.

.

.

.

.

Dentingan jam mengusik setiap detakan jantung yang di pacu oleh sebuah pilihan dan desakan. Sang Ketua Zhang ada di sana tanpa peringatan yang pasti kala alunan mulut kedua dari keluarga penerus berbicara akan keselamatan dan kepastian Yixing untuk waktu lebih lama dan semua perkembangan.

Waktu tidak dapat di putar kala pintu berderit ataupun moncong pistol mengancam nyawa dengan kepala sebagai taruhannya.

Satu dari kepercayaan pimpinan Zhang hancur dengan kemarahan yang menguap penuh atensi.

Showluo masih di sana dengan sisa sisa pemikiran dan Victoria yang mengigil penuh ketakutan.

Dalam setiap darah dari ketiganya di pacu oleh rasa marah, panik, kecewa juga keputusasaan.

"Kau selalu mengelak untuk membawa yixing, dan jangan katakan jika dia tidak sedang ada di apartemennya."

Sebuah racun yang dapat menguar memacu seluruh indra dalam gerakan cepat jika salah salah kata akan satu kartu terlarang di buka.

Berhadapan dalam kekelaman ruangan. Begitu kelam hingga sekali gerakan Showluo kehiangan kesempatan menyelamatkan satu satunya wanita di ruangan ini, Honglei ada untuk mencekik leher Victoria yang mengigil tanpa keraguan.

Itu moncong pistol aktif untuk sebuah pilihan dan pimpinan Zhang dalam kemarahan besar di hadapannya.

Sorot kecewa tergambar jelas dalam melodi tekanan yang valid.

"Pa-paman. . .a-aku."

Cklek!

Showluo terdorong penuh ketegaran yang palsu. Bola mata tenggelam di balik kelopak enggan memberikan sorot pilihan terburuk di sana. Sedangkan Victoria semakin tidak punya banyak pilihan mengelak, di depannya bukan sebuah pilihan untuknya tapi tekanan.

"Katakan!"

Tegas dan tidak terelakkan menatap penuh ambisi dan kekuasaan yang tidak bisa di bantah. Honglei ada di sana menguarkan amarah kekecewaan.

Dan Showluo tidak punya bayak pilihan. Kala punggungnya tersungkur dan Victoria di cengkeram dalam sekali hempasan oleh Sang Ayah.

"BABA!"

"A-aakhh!"

Kepanikan menyasar dan tergugu di tempat. Showluo tertodong pistol dari balik tubuh Honglei. Masih akurat dan terarah sekalipun Honglei membelakanginya.

Kesakitan menjadi pemandangan dan nafas semakin menipis, otaknya di paksa memilih hingga bersimpuh adalah jawabannya. Victoria terangkat dengan kedua tangan erat memegangi jemari yang mencekiknya. Penuh tatapan memohon dan permintaan maaf sedangkan dari sisi belakang Showluo bersimpuh karena tidak memiliki pilihan lain.

"Maafkan kami. . .baba."

Bruk!

"Uhhuk. . .uhuk!"

Honglei memicing penuh kemarahan, berbalik menatap Showluo menantang keberaniannya mengungkapkan fakta yang dia punya di depan Sang Baba.

"Kita tidak bisa melupakan fakta jika mereka berdua pernah bersama."

"KEPARAT!"

Brak!

Tubuh Showluo terpelanting menabrak dinding di belakangnya tanpa peringatan. Honglei menendangnya penuh kemarahan. Dia sadar benar siapa yang di maksud dengan ungkapan 'mereka' oleh Showluo.

Kim, dan benar jika itu adalah Kim Junmyeon.

Jadi selama ini wilayah kekuasaannya sudah di injak injak oleh Kim, keparat memang Showluo yang diam diam menyembunyikan fakta ini di baliknya.

"Aku akan mengurusmu setelah ini!" Tunjuk Honglei penuh amarah.

"Seret dia menuju junmyeon sekarang juga!" Bentakan kasar Honglei mengawali pengawal Zhang mulai membawa tubuh Showluo bangun mengikuti kepergian Honglei. Victoria hanya meringis terdiam masi bersandar lemah di balik lemari kayu yang menjadi penopang tubuhnya.

Dia diam melihat Showluo yang di seret hingga menghilang di balik pintu. Dia tidak melakukan perlawanan atau bantahan untuk membantu saudara lelakinya. Showluo menginginkan hal itu, dengan tanda pada jemarinya yang seperti memberi isyarat untuk tetap diam di tempatnya. Sementara dia sebagai umpan.

Mereka berdua tau jika selama ini jauh daripada kedatangan Dasom di mansion Zhang, Kim sudah lebih dahulu menebarkan benih benih sekutu di tanah China dan dengan hadirnya Bora bukan lagi hal sepele yang tengah di lakukan Kim saat ini.

Sebutan 'Black and White dari Kim' bukan sebuah gemen gemen belaka.

Satu dari pion kuat dalam perwujudan yang cantik dan anggun.

Jika bisa di sebut maka ini adalah bagian dari alur benang merah buatan Kim.

Mereka tidak pernah main main dengan ungkapan juga pilihan pada orang orang yang sudah terlanjur menyentuh atau mencicipi dunia buatan Kim.

Melihat kekalahan telak mereka dengan kehadiran Bora dan Dasom lalu kedatangan Kim Junmyeon dan Wu Yifan di Changsa membuat Victoria menggigil sendiri memikirkannya. Seperti sebuah susunan gugus yang rapi dan hampir hampir terencana dengan baik.

Jemarinya gemetar kala merambat pada saku celana bagian belakangnya, mendial nomer seseorang di seberang sana.

Menguatkan hati dengan pilihannya dari salah satu yang ada.

Sementara Showluo berusaha bicara meski tubuhnya harus di tawan oleh anak buahnya sendiri. Namun tidak ada cara lain untuk menyadarkan Babanya dari keputusan sepihak yang nyatanya selama ini tidak membuat Yixing berubah atau semakin membaik dengan traumanya.

Showluo tentu tau bagaimana perkembangan Yixing dengan kehadiaran Jackson yang dia jadikan mata mata secara terang terangan, dan Junmyeon tau benar hal itu tanpa sebuah keberatan di sana.

"Baba! Kenapa tidak pernah bisa melihat dari sisi yixing!"

"Tutup mulutmu! Dan cepat lacak chip dalam tubuh yixing sekarang juga." Honglei membentak salah satu bawahanya untuk mulai melaksanakan tugasnya.

"Baik tuan."

"Baba!" Dan Showluo benar benar hampir putus asa akan hal ini.

.

.

.

.

.

Junmyeon membuka pintu ruangan tengah dengan perlahan. Membawa ketukan sepatu dengan lantai marmer berirama. Sapuan telapak kakinya melangkah membelah lebih dalam pada ruangan yang hampir terpenuhi seluruh barang tanpa ada begitu banyak sisi kosong. Ruangan berbalut nuansa eropa terlebih di dukung dengan beberapa barang barang antik berbau ukiran khas di sana sini. Mulai dari pedang perak yang berbaris rapi di dinding, bola dunia dan rentetan lampu krystal yang menggantung anggun. Beberapa baris buku tertata rapi di bagian selatan membelakangi meja kerja, begitu menawan untuk di amati satu persatu dengan sampul menawan yang dapat di tebak seberapa lama buku itu di buat.

Namun perhatian Junmyeon tersita oleh Henry yang berada di tengah ruangan dengan tangan mengenggam telepon, perlahan berpindah pada jemari Junmyeon yang membalas dengan tatapan setengah tidak mengerti. Junmyeon mengambilnya.

'Junmyeon.'

Suara wanita di seberang sana membuat Junmyeon terfokus dalam sepersekian detik mengabaikan pintu ruangan terbuka dengan dua buah wanita yang berjalan menuju arahnya. Bora dengan setelan jas dan celana panjang begitu elegan dan Dasom dengan setelan blouse warna hijau toska dan celana di bawah lutut. Berdiri menunggu berakhirnya panggilan yang di terima Junmyeon.

Tuan Mudanya begitu serius dengan telefon sambungan yang menempel, beberapa kali mengangguk dan tatapan mata fokus menatap keluar.

Klik

Begitu panggilan di akhiri Junmyeon berbalik menatap ketiganya. Ponsel pipih itu tergeletak di meja belakang tubuh Junmyeon yang di gunakan sebagai sandaran. Melipat kedua tangan di depan dada dengan tatapan tanpa emosi yang khas, Junmyeon mengintimidasi mereka tanpa sadar, "Lakukan seperti apa yang sepantasnya di berikan kepada tamu, dia akan datang."

"Baik." Bora dan Dasom menunduk lalu mulai mengambil langkah mundur. Tapi tidak dengan Henry, "Tuan."

"Aku hanya ingin bersih!"

Junmyeon memotong perkataan sang kepala rumah tangga tanpa permisi, dengan sebuah perintah mutlak yang ada. Dasom mengerti akan hal itu terdiam dengan tatapan prihatin walau bagaimanapun juga hal yang akan mereka hadapi dan setujui saat ini beresiko besar pada Tuan Muda mereka.

"Jangan buat rencanaku hancur paman."

Henry menunduk untuk rasa bersalah yang menguar, tetapi hati nuraninya masih mengelilingi.

"Aku berharap banyak dari hal ini akan berjalan lancar dengan menyangkutkan lebih sedikit orang yaitu, kalian. Bora, aku tidak pernah menaruh kepercayaan kepada lingkungan zhang dan changsa. Aku menginginkanmu untuk memulai semuanya begitu keluar dari sini. Dasom aku harap kau bisa memegang minseok hyung dengan sangat baik. Dia yang akan paling bereaksi untuk hal ini. Dan paman, aku menginginkanmu untuk memulai semuanya dari sini, membawa mereka keluar dan mengambil kesempatan di sisi perbatasan changsa lalu membaur bersama dengan penduduk sekitar, zhang akan segera menyisir semua tempat setelah ini."

Junmyeon berbalik menatap jendela yang tertutup tirai putih samar, membelakangi ketiganya dengan sebuah hembusan ketegangan yang menyelimuti setiap jiwa ketiganya.

"Hingga sampai aku memberi sinyal aku harap semua berjalan seperti yang seharusnya."

"Kami permisi." Akhir dari perintah Junmyeon segera mungkin di balas cepat dengan Bora, dia tau dimana kedua patnernya akan ada dalam keadaan yang mengkhawatirkan Tuan Mudanya. Dan ini hanya akan mempersulit keadaan dari Junmyeon, jika kalian tanya apa Bora tidak memiliki ketakutan itu maka kalian salah.

Dia sama takutnya, walau bagaimanapun juga Zhang adalah Mafia dengan kepemilikan tanah Changsa yang sah dan mereka hanyalah pendatang, bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa dalam hal ini Kim menerjunkan anak buah untuk membuat Zhang bertekuk lutut tetapi pribumi jelas lebih banyak tau iklim dan lingkungan sekitar, dan tidak menutup kemungkinan banyak mafia kecil akan bergabung membentuk aliansi untuk mempertahankan tanah mereka. Ini bukan masalah sepele terlebih mutiara terbaik Zhang ada bersama Junmyeon dalam keadaan issue yang tidak baik.

Pernah aku katakan jika Zhang Yixing menjadi kunci, maka inilah yang tengah Junmyeon hadapi. Dia dengan Kim berada di bahunya yang dia pegang dan dia topang kuat kuat.

Biarkan Tuan Muda kita menemui para tamunya, dan biarkan Bora, Dasom juga Henry menjalankan tugas mereka.

.

.

.

.

.

Minseok menatap penuh selidik namun masih terdiam di tempatnya berdiri tidak berbalik pergi atau berpindah, beberapa anak buah cukup terlihat aktif daripada biasanya. Dia tidak tau hal itu dan cukup membuatnya penasaran untuk tidak bicara. Beberapa rasa ingin tau menghinggapi benaknya dan menyita semua rasa untuk tidak diam tanpa bertanya.

"Kenapa kalian ada di sini?" Minseok bersuara pada seorang anak buah yang lewat di depannya.

Membungkung penuh rasa hormat, seorang bawahan berhenti dan menjawab dengan tatapan tunduk, "Tuan muda, kami datang untuk menghadap tuan muda Kim junmyeon."

Menyerngit untuk menolak kebenaran ucapan sang bawahan yang masih di anggap rancu, Minseok memanggil Kyungsoo.

"Kyungsoo?" Minseok tidak pernah yakin dengan jawaban mereka para tangan kanan Junmyeon dan Kyungsoo yang sudah berada di sampingnya barusan menjadi pihak yang di jadikan obyek pertanyaan menatap keduanya bergantian dan Kyungsoo mengingat beberapa pembicaraan yang dia lakukan dengan Jongin beberapa saat lalu.

Tetapi nihil.

"Aku tidak tau apapun hyungie, Jongin tidak berkata apapun padaku." Kyungsoo ikut bergeleng mengatakan dengan kepala yang berputar mencoba mencari tahu akan situasi sekarang. Tetapi nihil.

"Saya permisi." Seorang bawahan undur diri dengan bungkukan sopan.

Cklek.

"Yixing?"

Obyek yang di panggil tampak mengerjap pelan lalu menatap keduanya dengan senyuman kecil. Langkah pelannya keluar kamar dan berjalan mendekati Minseok juga Kyungsoo. Dengan balutan sweater yang nampak nyaman untuknya.

"Kau baik baik saja?" Pertanyaan khawatir Minseok kembali terdengar, Yixing hadir dengan senyuman manisnya lagi.

"Ya hyung." Meskipun tidak dapat dipungkiri jika masih terasa sakit di berbagai bagian tubuhnya tetapi tidak sekaku kala pagi dia terbangun lagi.

"Tunggu? Kau mau kemana?" Minseok kembali bertanya saat tau bagaimana penampilan Yixing dan tubuh ringkih itu seperti akan pergi melangkah menjauh meninggalkannya.

Gugup menyerang tiba tiba, kala mendengar suara dan pertanyaan Minseok. Dia tau benar akan bagaimana Minseok marah dan menampar Junmyeon telak tanpa di duga dan itu dia lakukan sebagai bentuk protes perlakuan namja Kim itu kepada Yixing, lalu apa kalian fikir Minseok akan menyetujui keinginannya, Yixing gugup dan Minseok tau akan hal itu, "Me-menemui. . . . aku akan. . . . bertemu junmyeon.

"Untuk apa!" Tegas dan tidak setuju, Minseok mengucapkannya membuat Yixing harus menunduk dalam karena gemetar ketakutan, bagaimanapun dia tidak pernah berhadapan dengan Hyungnya ini dalam keadaan marah, dia hanya tau bagaimana Hyung tertuanya selalu tersenyum dan melindungi juga menjaganya.

"Hyung. ." Yixing merengek. Dia sadar sebenarnya jika keinginannya salah dan beresiko.

"Tidak! Aku tidak akan mengizinkanmu!" Bahkan Minseok masih ingat wajah menyebalkan Junmyeon tadi pagi dan ini mutlak dia tidak dapat melihat Yixing kembali berada di sampingnya dalam beberapa hari kedepan. Tidak dengan luka yang masih ada di tubuh nya itu.

"Hyungie." Beda Minseok beda lagi Kyungsoo, dia tidak tau tetapi melihat Yixing saat ini dengan keadaan mereka berdua yang beberapa hari lalu dalam keadaan yang tidak baik, ada benarnya jika mereka berdua berbicara.

"Tidak kyungsoo! Aku tidak akan membiarkan junmyeon kembali menyakiti yixing." Namun Minseok sudah teramat kapok dengan interaksi adik kandungnya kepada Yixing.

"Tapi ada yang harus aku pastikan hyung," jawab Yixing.

"Tidak!" Kekeh Minseok.

"Ku-kumohon. Aku ingin bertemu junmyeon." Mohon Yixing.

"Hyung mungkin akan dapat menjawab pertanyaan dariku tetapi aku tidak akan tau bagaimana dan apa yang junmyeon sembunyikan dariku."

Minseok dan Kyungsoo membenarkan hal itu.

"Aku mohon."

"Baiklah, tapi berjanjilah akan bicara padaku setelah ini."

"Baik, terimakasih hyung!"

Setelahnya hanya helaan nafas yang bisa terdengar di lorong, membiarkan Yixing mengambil langkah pelan menuju ruangan Junmyeon.

.

.

.

.

.

.

"Bukankah akan sulit untuk membohongi mereka?"

Bora menarik sarung tangan hitamnya hingga membalut rapi kedua telapak tangan sembari menatap ke arah Dasom yang masih mengatur dirinya di balik pintu ruang kontrol cctv milik Henry. Dasom terdiam dan Bisa tahu benar jika wanita muda itu tengah menyiapkan semua rencana dalam benaknya dan segala kemungkinan mereka.

"Kita bisa berangkat sekarang." Henry keluar dari balik pintu ruangan dengan sebuah ponsel memberikannya kepada Bora yang sudah bersiap. Dasom masih belum bersuara, dari ketiganya memang dialah yang masih sangat lemah dengan tugas ini. Henry sudah dapat bereaksi dengan menjalankan semua persiapan mereka karena beberapa anak buah yang menyebar di titik titik menuju rumah huniannya mulai menyalakan gps keberadaan 'tamu' yang berada dalam perjalanannya.

"Bagaimana alat ini berfungsi untuk menyalurkannya ke pusat?" Tanya Bora membolak balikkan ponsel hitam di tangannya.

"Semua sudah teratur begitu mereka sampai di depan maka kita harus segera mencapai pintu belakang karena api akan memercik di bagian lantai atas, mencegah mereka baik dan mencapai ruangan kontrol juga ruang bawah tanah." Penjelasan Henry mulai seraya membawa langkahnya menuju lorong penghubung ruangan keluarga.

Beberapa anak buah membungkuk padanya dan mulai mengikuti langkahnya seraya memastikan semua pintu terkunci dan benar benar tidak ada barang yang bisa melacak mereka. Bahkan dapat di lihat dari kelengkapannya mereka memakai sarung tangan untuk menghilangkan sidik jari. Dasom semakin gugup akan hal itu menarik spontan lengan jas abu abu milik Henry dengan sorot panik, "Apa tidak ada yang akan tinggal di sini? Untuk tuan muda?"

Bora dan Henry berhenti. Sang Wanita kedua melipat kedua tangan di depan dada dengan sorot tegas tak terelakkan. Sementara Henry menatap wajah masing masing anak buah kiranya memastikan jumlah mereka dan mencari tahu informasi yang mungkin mereka bawa sampai gelengan pelan dia dapat. Membuat Henry menatap Dasom kembali dengan jawaban tegas, "Tidak."

"Jika kau menyerah sekarang maka katakan dan angkat kakimu dari misi ini, dokter muda yang menjadi kebanggaan tuan kim." Dengan seringai kata kata keramat itu keluar dari mulut merah menawan Bora, mengejek penuh pada Dasom.

Tidak terima itu jelas.

Hingga membuat Dasom menyabet tiga buah jarum suntik dengan dua botol obat yang di siapkan oleh anak buah di ujung lorong, menunggu kedatangan mereka lalu berjalan lebih dahulu meninggalkan Bora dan Henry di belakangnya yang masih terdiam melihat tingkahnya. Henry tersenyum kalem, "Aku tidak pernah meragukan kemampuanmu setelah ini."

Bora hanya tersenyum dan mengikuti langkah Dasom di ikuti Henry dan yang lainnya.

Lampu notifikasi dalam ponsel Bora menyala satu lagi. Membuat wanita itu melirik Henry yang langsung memberi intruksi pada beberapa anak buah di belakangnya untuk segera menjauh melakukan apa yang semestinya mereka lakukan untuk seorang 'tamu' yang akan datang.

"Kita harus bersikap halus atau kasar?" Bora bertanya seraya melangkah mendekat pada Minseok dan Kyungsoo yang ada di ruang tengah.

"Kita harus cepat! Itu yang terpenting. Karena aku melihat tuan yixing barusaja keluar kamar menuju ruangan tuan junmyeon."

"Ini akan sulit." Henry berpendapat seraya menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal saat menatap Tuan Mudanya. Dan di saat yang sama Dasom sudah ada di sana seraya berbicara dengan Kyungsoo yang langsung memberinya tatapan tidak percaya dengan bola mata membulat, berikut juga Minseok yang langsung berdiri dan menatap Henry menunggu penjelasannya.

"Kita harus menuju ruangan bawah tanah sekarang juga tuan."

Bora tertarik, menatap Henry yang langsung menunjukkan inti keinginan mereka. Dia tidak percaya jika Henry lebih memilih jalan untuk mengatakan kejujuran pada Tuan Muda mereka yang akan terbilang jalan yang sulit.

Jongin dan Jongdae berjalan dengan terburu menghampiri mereka. Dasom berdiri tegak dengan sigap, Bora berjalan menuju pada Jongdae dan Jongin yang nampaknya akan segera menuju tempat persediaan senjata mereka, "Kita harus pergi sekarang tuan."

"Berapa orang? Katakan?" Tanya Jongin spontan, Bora melirik Jongin sekilas lalu menatap 4 orang bawahan mereka yang berdiri tidak jauh. "Kita tidak punya banyak orang di sini dan tuan muda tau akan hal itu, zhang kemari dengan semua anak buah yang dia miliki."

Penjelasan Bora membuat panik merambat kepada kepala semua orang, dan Dasom terdiam dalam pemikirannya, "Mari ikut saya."

Dasom berbalik pergi mengawali ikutan langkah semua orang, Minseok dan Kyungsoo berada persis di belakangnya menuju bilik lorong yang di dahului seorang anak buah dengan berlari membukakan pintu kayu berukiran pohon rumit, masih mengikuti Dasom yang berjalan di depan, Bora dan Henry memandu di belakang. Sampai mereka pada pintu berlapis baja dengan roda pengungkit melingkar yang harus di putar dua orang laki laki dewasa.

"Ini akan menuju ruang bawah tanah, semua sudah menuggu di bawah tuan." Dasom berhenti untuk mempersilahkan Kyungsoo dan Minseok turun pertama, meskipun dengan tatapan tidak percaya, karena penjelasan singkat mereka tadi. Menuruni tangga kayu dan benar ruang bawah tanah cukup lebar untuk 20 orang mereka temui dengan beberapa anak buah.

Minseok menatap mereka satu per satu dan Kyungsoo mengamati dalam kepanikan yang masih dia cerna. "Dimana junmyeon?!"

Brak!

Jongdae membenturkan tubuh Henry pada pintu baja sekali gerakan dan Jongin menodongkan pistol pada belakang kepala Bora.

Bora tersenyum penuh tekanan, dia menebak bahwa dua tangan kanan Junmyeon tidaklah dapat mengikuti mereka tanpa siaga, dan satu kata yang menyulut fatal mengubah semua gerakan mereka. Bora dapat merasakan dengan jelas moncong pistol itu sementara Henry masih terdiam dalam ringisan dan kerah leher yang di tarik.

Minseok dan Kyungsoo semakin tercekat dengan keadaan mereka, menatap tidak percaya dan menatap kebelakang pada Dasom yang mereka anggap paling bisa di percaya. Dasom tidak melakukan apapun, tidak dengan raut wajah yang membaik. Minseok gemetar untuk sesuatu yang lain.

"Yixing?"

Dan masih sama Dasom tidak bersuara tetapi Jongin dan Jongdae menatap bersamaan dan mulai menggali ingatan mereka masing masing. Menilik apa ada yang mereka lupakan dari pertemuan mereka dini hari tadi.

"Tuan junmyeon menginginkan ini semua, dan saya harap tuan muda semua dapat ikut untuk meninggalkan rumah hunian sebelum zhang datang." Dasom mengucapkan dengan tenang dan mencoba membuat kesepakatan.

"Aku ingin bertemu junmyeon!" Minseok mengambil langkah pergi dengan terburu. Berbalik dan berjalan menuju tangga kayu, Bora di sana berdiri menjulang memblokir, meskipun moncong pistol Jongin masih tetap di tempatnya.

"Terlambat."

Minseok menatap penuh kemarahan mendengarnya, mendengus untuk menyingkirkan gadis berambut panjang yang berdiri di depannya. "Zhang sudah ada di depan gerbang rumah hunian dan tuan muda sudah bersiap untuk menyambutnya."

Jongdae tercekat dan Jongin terdiam kaku, "A-apa?!"

"HYUNG!" Teriakan reflek Jongin pada Jongdae membuyarkan kekagetan dan itu sudah di antisipasi oleh Henry yang langsung mendorong Jongdae. Di saat yang sama anak buah di balik pintu cepat mengunci dengan sigap.

BRAK! -pintu baja tertutup dalam dorongan keras beberapa anak buah yang tertinggal di luar. Henry menjauh dalam sekejap dan Jongdae kehilangan kesempatannya untuk keluar, "Brengsek!"

"Apa rencana kalian!" Jongin mendengus menatap penuh ambisi pada Henry dan Bora bergantian.

"Kami ada untuk bersama tuan muda, membawa pergi menjauh dari hunian saat ini juga." Dasom bersuara di sana melangkah mendekati Minseok. Dia adalah yang paling berpengaruh akan hal ini dan semua tau akan hal itu. Jongdae tidak bersuara, menatap ketiganya dalam presepsi dan mencoba membaca sudut pandang Junmyeon.

"Apa junmyeon hyung sengaja menemui zhang dalam terbongkarnya persembunyian dia saat ini?" Tanya Jongdae yang membuat Jongin berbalik menatapnya dalam diam.

"Dia mengatakan diam untuk melihat dan mengikuti arusnya." Jongdae ingat baik baik kata kata Junmyeon pagi itu.

"Hanya tinggal melihat apa yang akan ada di depan kita dan mengikuti arusnya."

"FUCK! Apa dia fikir kita tidak ada gunanya!" Jongin berteriak penuh umpatan dan rasa tidak terima.

Jongdae mengabaikan hal itu dan berjalan mendekati tangga untuk mendekati Bora, dia masih tidak bisa melihat baik baik presepsi Junmyeon untuk hal ini. Memutuskan sesuatu hal tanpa mereka dan menyerahkannya kepada ketiga anak buah kepercayaan Tuan Kim. Apa yang ada di benak Junmyeon?

Junmyeon bahkan baru kali ini penyampaikan misi pada anak buah kepercayaan Tuan Kim, meskipun kasusnya mereka bertiga di sini ada karena dia berhasil membuat Appa-nya kerepotan di Seoul.

Mengambil alih kekuasaan.

Tetapi apapun hal itu jika sampai pada anak buah Tuan Kim maka otomatis Tuan Kim akan ikut tau dan bisa turut andil di misi ini? Apa Junmyeon sengaja menunjukkannya? Misinya pada ayahnya?

Ini seperti bukan Junmyeon.

Dan lagi dia berniat menghadapi Zhang dengan formasi lengkapnya seorang diri terlebih membawa umpan yang tidak lain adalah Zhang Yixing sendiri.

Itu lebih daripada membahayakan nyawanya.

"Apa yang dia katakan padamu!" Jongdae tiba tiba tertiup angin tidak sabar mendengarkan jawaban Bora.

"Bahwa ini adalah rencana tuan Junmyeon sendiri dan tidak salah satu dari kami maupun tuan muda semua yang akan ada di sana," Bora menjawab seraya berbalik menatap ke arah Jongdae dan Jongin yang sedikit mulai dapat terkendali.

"Kami ada untuk membawa tuan lari dari sini karena tidak sesuainya jumlah dan resiko kedepan yang buruk untuk keselamatan keluarga. Jadi tuan muda junmyeon sendiri yang akan mengurusnya." Bora menambahkan.

Berharap mereka akan mau bekerjasama, namun tidak dengan Hyung tertua yang menjadi saudara sedarah.

"LALU APA DIA FIKIR DIA TIDAK MENANGGUNG RESIKO YANG BESAR JUGA!" Minseok menampik perintah untuk meninggalkan rumah hunian tanpa keikutsertaan Junmyeon.

Dasom sudah menebak hal ini mencoba menenangkan Minseok, "Tuan, kami harap untuk mengikuti intruksi kami dan pergi."

"TIDAK!" Bentak Minseok.

Lalu kembali bersuara, "Dimana junmyeon?"

"Hyung." Jongdae memanggil Minseok dalam alunan yang membuat orang orang di sana tercekat tanpa sadar.

"Kita harus pergi tidak ada waktu." Itu suara Kyungsoo.

"A-apa?!" Jongin menyahut dalam respon secepat mungkin penuh tanda tanya.

Yang berbicara adalah Kyungsoo, dia bukan seseorang yang bicara tanpa ada landasan yang jelas dan dari keadaan seperti ini Jongin tidak percaya jika Kyungsoo dapat setuju dengan pendapat Dasom, untuk pergi.

"Aku percaya pada junmyeon hyung." Jawab Kyungsoo dan menatap Jongin dalam.

"Tidak dari kita yang mengerti rencananya, maka bagaimana jika kita mencoba tidak menghancurkan rencananya?" Tanya Kyungsoo.

"Tidak! Tidak!" Minseok mengelak untuk sebuah ketidak setujuannya. Menggeleng penuh penekanan akan sekitar.

"Hyung, tidak ada waktu." Bujuk Kyungsoo.

Minseok menolak keras, "DAN AKU HARUS MENINGGALKAN JUNMYEON DISANA!"

"Hyung, kita sadar jika mengikuti rencana awal junmyeon hyung di changsa maka kita siap untuk ketiadaan jumlah yang cukup!" Kyungsoo kembali mengingatkan.

"Kyungsoo benar, kita kalah jumlah. Jika kita keluar maka tidak ada yang bisa di andalkan untuk menyelamatkan junmyeon hyung."

Minseok menggeleng jelas jelas menolak ucapan Jongdae dan Kyungsoo, Bora menjauh dari anak tangga membiarkan Jongdae turun melewati Jongin yang masih terdiam berfikir untuk mendekati Minseok. Menenangkan.

"Kita pergi." Jongdae mencoba meraih bahunya.

Minseok menyentak kasar, "Aku akan membunuhmu!"

Bugh!

Pukulan dia layangkan tepat di bahu kirinya, Jongdae terdiam menerima, "Lakukan jika kau bisa tenang setelahnya!"

Bugh! Bugh! Bugh!

Minseok masih sama, Dasom bersiap dalam jemari smakan jarum suntikan yang akan dia layangkan jika satu dari Tuan Mudanya masih tidak bisa tenang dan sempitnya waktu yang mereka miliki.

"Hyung hentikan!" Kyungsoo yang melerai mencoba menarik Minseok menjauh.

Minseok memberontak, "Kau tidak mengerti. . . . .Dia. . .adikku! Dia adik kecilku!"

"Tapi saat ini kita harus mengikuti permintaannya!" Jongdae kembali bersuara.

"Jongdae kau-" Minseok tercekat dalam kesadarannya yang menipis dan Henry segera turun melangkah mendekati Minseok yang mulai terbuyung.

Jleb -serum bius masuk dengan cepat, "Maaf, tuan!"

Minseok tidak sadarkan diri dan rengkuhan Jongdae dan Henry yang mencoba membantu. Dasom menunduk sebagai permintaan maaf, "Saya terpaksa melakukan karena negosiasi kita memakan waktu lama, tuan jongdae."

"Aku percaya pada kalian, jadi pastikan hyungku akan baik baik saja!" Jongdae membawa Minseok dalam gendongannya seraya menambahkan, "Dan bukan mati di tangan zhang!"

Bora mengangguk menatap Dasom yang berjalan lebih dahulu, lalu menyerahkan ponsel kepada Henry. Mengikuti untuk keluar menyusuri lorong bawah tanah mereka. Dan tanpa mereka tau jika sebagian rumah hunian sudah mulai di bakar.

.

.

.

.

.

.

"Sudah berhasil menemukanku?" Junmyeon berdiri meletakkan buku yang sempat bertengger di tangannya, mendekati Yixing yang ada di dalam ruangannya.

"Kau sudah menduga aku akan kemari?" Tanya Yixing yang tiba tiba waspada akan langkah Junmyeon.

"Apa yang ada di otak kecilmu itu selain sebuah rasa ingin tau dan pemberontakan?" Junmyeon meremehkan, seraya melipat kedua tangannya di depan dada menatap Yixing dengan tatapan mengejek. Mengerjainya.

Yixing memberenggut seketika, "Katakan apapun yang bisa membuatmu puas."

Junmyeon benar benar terkekeh untuk hal itu, Yixing yang merajuk sudah cukup lama tidak dia temui.

"Kemari dan mendekatlah." Perintah Junmyeon.

"Tidak mau!" Tolak Yixing seketika.

"Jadi sudah tidak bisa mempercayaiku ya?" Junmyeon menyeringai dan bagaimana bisa Yixing mempercayai jika Junmyeon bahkan menatapnya penuh seperti ini.

Jengah melihat tatap Junmyeon membuat Yixing menjawab dengan terlampau kesal, "Memang kau fikir semua karyamu ini bisa membuatku percaya padamu hah!"

"Tinggal lihat karyaku yang sebelah mana? Kissmark, bitemark atau yang lebih di bawah sana?" Menaikkan sebelah alisnya Junmyeon justru terlihat senang mempermainkan Yixing dan lihat bagaimana kulit pucat wajahnya bereaksi begitu manis akan semburat merah.

"Mulut sialanmu itu kim!" Umpat Yixing.

Tap tap

Langkah pasti Junmyeon ambil karena sang obyek tidak menurut padanya untuk mendekat barang satu inchi, masih kekeh untuk terdiam di sana. Sedangkan seringai itu masih terus ada untuk menggoda sang submisif.

"A-apa!" Panik Yixing melihat tatapan juga langkah Junmyeon. Was was dengan perlakuan Pimpinan Kim itu dan segala hal yang tidak waras dalam dirinya.

"Ini masih sakit?" Junmyeon mengulurkan tangannya menyentuh pelan bahu yang berdekatan dengan perpotongan leher, ada warna merah lebam di sana.

"E-eh!" Yixing tergagap berusaha menghadang jemari Junmyeon yang akan menyentuh tubuhnya meskipun dia tidak sepenuhnya melakukan dan tetap membiarkan Junmyeon menyentuh lebam di bahu.

"Bagian bahuku tidak terluka sedikitpun." Jawab Yixing dengan sorot waspada.

"Lenganmu?" Junmyeon bertanya lagi. Yixing dengan sweater saat ini justru membuatnya sedikit banyak khawatir dan bertanya apa ada yang di sembunyikan darinya.

"Ti-tidak?" Jawab Yixing gugup.

"Di-dia hanya . . ." Sambung Yixing masih dengan gelengan.

"Lenganmu terkena tembakan lalu sekarang kau bilang tidak?" Junmyeon mengulurkan tangannya menyentuh lengan yang terbebat itu dengan tatapan bertanya apa anak kecil ini melupakan lukanya sendiri atau terlalu gugup kepadanya.

Diakhiri jawaban yang pelan dan kecil Yixing menunduk, "Yaa. . . .".

"Coba pahami gerakan kecil ini." Junmyeon memulai setelah sebelumnya menghela nafas kecil, tangannya meraih tangan Yixing yang tidak terluka dan mulai mengajarinya sebuah gerakan menangkis. Dia ingin si kecil memiliki daya pekaan yang tinggi dalam setiap lawan yang memungkinkan dia hadapi.

"Huh?!"

"Satu gerakan kau sudah bisa menyimpulkan bagaimana arah juga pusat tujuan seseorang."

Hal itu benar karena dengan memperhatikan satu gerakan ke gerakan lainnya dalam serangan Yixing setidaknya dapat tahu bagian tubuh mana yang di jadikan sasaran.

". . . ."

"Lebih cermat." Junmyeon mengomando untuk lebih fokus kala tangan juga bola mata Yixing seperti belum sepenuhnya terpusat.

"Junmyeon?" Yixing memanggil dalam kejanggalan yang dia rasa.

"Hmm? Kau kesakitan?" Jawab Junmyeon spontan.

Yixing hanya menggeleng penuh tanda tanya besar dalam dirinya, kedua tangannya masih bergerak menampik gerakan pelan Junmyeon, namun jika di lalukan dalam kecepatan tertentu akan mengancam titik vital dalam tubuhnya. Tetapi bukan itu yang menjadi pengaruh pertanyaan Yixing tapi tatapan mata dan raut wajah itu.

Junmyeon di depannya menatap dengan gerakan pelannya yang memberikan pelajaran baru namun dengan tatapan kosong yang tanpa ada riak emosi di dalamnya. Kosong seperti ini sebuah hal biasa yang mereka lakukan. Bukan sebuah kekosongan tetapi seperti ada hal lain yang di sembunyikan darinya atau orang lain.

Seperti hal wajar.

Seperti hal yang sudah biasa dia lakukan dengan Yixing.

Yixing tidak mengerti hanya terdiam, masih memahami dalam keterdiaman dan diam diam mengamati Junmyeon dengan semua pergerakannya. Apa yang sebenarnya di rasakan oleh Pimpinan Kim di hadapannya ini.

"Kenapa dengan wajahku?" Tanya Junmyeon.

Tersentak merasa ketahuan, Yixing menggerakkan tangannya menampik cepat dan mundur. Junmyeon sadar hal itu segera mungkin menarik pergelangan tangan kanan dan menahan bahu kanan menjauh ke kiri. Seperti terpelintir dan Yixing berteriak.

"AKH!"

Senyum itu timbul seperti gelembung air yang muncul cepat ke permukaan. Junmyeon menyeringai melihat ketidaksiapan si kecil yang mana hal itu membuat Yixing mengumpat.

"Shit!"

Merasa terlena dan terlalu memperhatikan sorot tanpa emosi dari Sang Penguasa.

Tidak mau kalah Yixing menggerakkan kakinya menendang sebisa menyasar apapun, Junmyeon mundur secara reflek hingga tanpa sadar membentur lampu berdiri di sisi mejanya. Meringis tanpa sadar ketika sikunya berbenturan keras.

Yixing terdiam di tempat mengabaikan namun secara gerakan dia menurunkan keinginan untuk menyerang Junmyeon. Tidak bisa berbohong bahwa dia tengah memperhatikan sesuatu dalam tingkah lakunya.

"Ada apa denganmu?" Tanya Yixing

Junmyeon tersenyum senyum tipis, "Aku hanya menyuruhmu untuk fokus pada gerakan."

"Tetapi kau bahkan tidak fokus pada dirimu sendiri." Balas Yixing.

"Benarkah? Kau tau banyak tentangku?" Pertanyaan Junmyeon cukup mengesalkan tetapi Yixing memilih diam mempermainkan jemarinya seorang diri, Yixing memahaminya bagaimana pertanyaan itu mengalir dan benar banyak dalam diri Junmyeon yang tidak dia ketahui.

"Bisakah. . ." Yixing memulai gugup tanpa menimbang kekuatan dalam dirinya berlebih dahulu.

"Bisa kau katakan padaku tentang thailand?"

Dan Junmyeon terdiam menatap wajah Yixing di depannya, dengan menyandarkan tubuhnya pada meja dibelakangnya dan melipat kedua tangannya.

"Kenapa kau melakukannya?" Tanya Yixing lagi karena Junmyeon masih diam.

"Kau tau jawabannya kenapa masih bertanya." Jawab Junmyeon dengan nada kasar di sana.

"Karena aku hanya ingin mendengarnya darimu." Yixing percaya bahwa setiap keputusan Junmyeon pasti terdapat alasan kuat di sana.

Menyeringai, Junmyeon menatap Yixing. "Begitukah?"

"Maka ini jawabanku."

"Untuk menghancurkan zhang." Jawab Junmyeon lantang. Menatap Yixing yang mulai bergetar dengan sorot mata berkaca kaca.

"A-apa?" Beo Yixing.

"Kau bilang kau ingin jawabannya bukan? Itu jawabanku." Ulang Junmyeon.

"Bohong!" Teriak Yixing. Dia tidak tau apa yang ada didalam hatinya hingga tidak percaya begitu saja dengan jawaban Junmyeon, Yixing seperti merasa bahwa itu bukan dirinya.

"Apa menurutmu aku ini seorang malaikat? Lalu datang menolongmu?" Tanya Junmyeon.

Plak!

Tamparan Yixing berikan kepada Junmyeon dengan bentakan kasar, "Kim!"

"Aku ingin mengancurkanmu jauh di lubuk hatiku, aku ingin melihat seberapa besar kau akan mampu bangkit atau bahkan hanya untuk kuat melihat sekelilingmu karena jalan yang kau pilih!" Balas Junmyeon tanpa ada niatan membalas tamparan keras tadi.

Sret! Secepat kemarahan menguasai diri si kecil, menarik sebilah pisau panjang pipih perak yang menjadi hiasan di salah satu guci di dekatnya, mengayunkan dalam sekali ayunan menyasar Junmyeon dan wajahnya.

"Aku. . .aku akan membunuhmu!" Ucap Yixing.

"Seberapa besar kepercayaan dirimu untuk bisa membunuhku?" Menghindar Junmyeon berusaha melihat kepercayaan diri si kecil.

"Diam!"

Srett

Yixing mengayunkan kembali hingga membentur beberapa hiasan yang mengantung di sisi kirinya, "Kenapa kau tidak membunuhku saja! Bukan keluargaku!"

"Keh, itu hanya akan mempermudah dirimu sendiri." Balas Junmyeon.

Tes tes!

Air mata itu mengalir, bukan jawaban ini yang Yixing inginkan. Dan bukan Junmyeon yang seperti ini yang dia kenal.

"Aku membencimu"

"Kalau begitu benci aku!"

"JUNMYEON!"

"Apa kau akan terus seperti ini, hah?" Bentakan kasar Junmyeon menunjukkan seberapa besar Junmyeon tidak menyukai kesedihan itu.

"Apa pedulimu! Kau-kau hanya bisa menyiksaku! Hiks!" Teriak Yixing.

Junmyeon mengeram marah menampik pisau Yixing dan memojokkan si kecil pada dinding terdekat. Air matanya masih mengalir dan itu membuatnya lebih marah. Mencengkeram kedua tangannya juga dagu Yixing. Mendongak memaksa si kecil menatapnya, "Aku akan membunuh siapapun yang telah membuatmu seperti ini, tidak peduli itu adalah keluargamu sendiri."

"Tidak peduli bagaimana mereka mengatasnamakan perlindungan untukmu! Tetapi justru membuatmu lemah seperti ini!" Sambung Junmyeon

"Jangan. . .hiks." jemari tangan Yixing bebas satu memberi pukulan pada bahu Junmyeon keras, melampiaskan emosinya pada Sang Penguasa.

"Berhenti menekan dirimu sendiri dengan rasa bersalah,"

Dan Yixing tertegun untuk Junmyeon yang mengetahui apa yang dia rasakan. Melemahkan pukulannya dan diri si kecil hingga hanya mampu menunduk tanpa tenaga dengan sisa isakan, Junmyeon menghela nafas menutup bola mata hitamnya untuk sebuah usapan lembut di punggung juga lengannya.

"Tidak dari semua hal di masa lalu adalah keinginanmu, mereka tau bagaimana semua hal itu akan berpusat, begitu juga aku." Dan Junmyeon kembali di hadapkan pada bayangan dimana dia, Yifan juga Chanyeol yang saling berhadapan untuk sebuah pertarungan.

"Jangan biarkan traumamu ada untuk di manfaatkan orang lain, sebagai kelemahanmu."

Yixing mendongak oleh gerakan pelan kedua tangan Junmyeon di dagunya, lembut dan ringan. Membawanya pada wajah menawan Junmyeon yang menatap intens padanya, begitu dalam dan menyentuh seluruh bagian tulangnya. Air mata di wajahnya di usap perlahan hingga hanya menyisakan cegukan kecil. Tetapi Yixing masih belum bisa mengalihkan tatapan matanya kepada Junmyeon hingga usapan bibir itu ada dan wajah keduanya semakin dekat.

"Izinkan aku."

Yixing terdiam tanpa penolakan atau jawaban dan Junmyeon mengambil langkah mendekat, memberikan kecupan lembut dengan tatapan yang masih mengunci Yixing, tidak menutup kedua bola matanya hanya untuk menguncinya hingga si kecil tersanjung dalam kelembutan di setiap kecupannya juga terbakar dalam tatapan Junmyeon dan memejamkan mata.

Brak!

Keduanya menjauh reflek, dalam pendengaran yang di tajamkan Yixing meremat bahu Junmyeon tanpa sadar. Hingga suara kasar itu kembali datang di barengi dengan tembakan.

Dor! Dor!

"Junmyeon. . ."

"Ada yang datang." Kesimpulan Junmyeon membuat Yixing panik lalu menatap Junmyeon yang juga menatap bola matanya, menggenggam tangan kecil Yixing dengan tarikan pelan.

"Kemari, ikut aku." Junmyeon membawa dalam langkah perlahan seiring dengan suara kasar di luar ruangan yang semakin mendekat. Lalu mengambil inisiatif mematikan saklar listrik ruangan dan bersembunyi di balik etalase kaca.

Brak!

"Periksa seluruh ruangan!" Teriak dalam dialek china menguar di dalam ruangan Junmyeon membawa Yixing melangkah dalam gelap menuju jendela di sudut ruangan. Junmyeon tau jika mereka sudah datang dan setidaknya mencoba menyelamatkan Yixing terlebih dahulu. Si kecil sendiri hanya menurut dalam keterkejutan dialek china itu dan mengikuti penuh gemetar di tubuhnya.

"Nyalakan lampunya! Dimana saklar listriknya!"

Oh shit! ,

Dan Junmyeon harus bergegas lebih dekat dengan jendela. Dia tau dan faham dialek itu hingga membuat kakinya terburu buru dan mengenai guci yang ada di sana.

Prang!

Bersamaan dengan guci yang terjatuh dan pecah bersamaan pula dengan para penyusup yang berhasil menyalakan lampu.

"Bunuh dia!" Teriak dimulai dan Junmyeon mengambil senapan di tangan kanan dan pedang putih perak di dinding belakangnya sigap.

Yixing mundur perlahan sambil menatap sekeliling yang bisa dia gunakan membantu Junmyeon.

Dor!

"Akhh!" Satu dari penyusup limbung oleh tembakan.

Namun mereka juga memiliki laras panjang untuk hal itu,

Dor!

"Berlindung!" Teriak Junmyeon ditujukan pada Yixing yang langsung menunduk.

Junmyeon maju dan menampik laras panjang dalam layangan kaki yang kuat. Menghadapi dalam perlawanan tanpa senjata dan mereka para penyusup menyanggupinya. Tendangan juga pukulan Junmyeon layagkan hingga sisi hati dia sasara dan penyusup limbung oleh tendangan.

Satu memyingkir, dua orang maju melawan Junmyeon. Menghadang juga menyasar bersamaan berharap membuat konsentrasi terbelah menjadi dua hal. Yixing tidak tinggal diam melihat satu orang mencoba bangkit dan mengambil kesempatan kecil untuk mengelabui. Si kecil menyasar dalam ayunan pesang juga apapun yang bisa dia lakukan membantu Junmyeon namun penyusup memundurkan diri sendiri membuat Yixing bingung.

Masih dengan hal yang sama akan perlawanan penyusup justru membuatnya menyerah tanpa perlawanan kepada Yixing dan memanggil dengan sebutan yang dapat membuat Yixing membeku, "Tuan muda zhang ini kami."

Tidak- tidak mungkin!

Yixing membeku dalam panik yang menyerang, melihat bagaimana lebih dari lima orang datang dan melawan Junmyeon. Menatap ke arah lain Yixing mencari dan mulai bergerak mundur, seolah tidak percaya tapi bungkukan hormat salah satu dari mereka membuatnya terdiam. Hingga jemari hangat meraih lengannya.

"Yixing!"

"Baba?"

"Kau aman sekarang." Dalam tarikan penuh perlindungan, Junmyeon menatapnya. Pikirannya terbelah dan konsentrasinya tiba tiba memburuk, seorang anak buah Zhang mengambil kesempatan dengan tendangan lutut di bagian perut sebelah kanan, mengincar bagian hati lalu seorang lainnya memberikan pukulan di wajah sebelah kiri, memar dan merobek mulutnya. Belum selesai seseorang dari arah belakang Junmyeon menyikut keras punggungnya hingga tersungkur ke lantai.

Yixing panik bercampur khawatir, melihat Junmyeon yang sudah di jadikan sasaran oleh banyaj anak buah dari Babanya. Zhang Honglei tentu tau akan hal itu menarik Yixing untuk menjauh dan berada di dekatnya, "Dia pantas mendapatkan hal itu!"

"Baba!" Ada nada protes di sana yang Honglei tangkap.

"Apa yang di lakukan kim sialan ini padamu?"

"Katakan yixing?"

Tetapi bahkan suara Yixing tertelan dan tidak mampu keluar, Honglei menatap anak bungsunya dengan dagu yang coba dia angkat dan lengan yang di tarik, "Akh-sakit!"

Yixing mengerang karena lengannya bekas tembakan di cengkeram cukup kuat, Honglei tersentak hingga menelusuri bagian leher, lengan juga wajah si kecil.

"Brengsek! Akan ku habisi kau kim!" Tersapu oleh kemarahan yang memuncak Honglei menyuruh anak buahnya menyiksa Junmyeon dalam pukulan, tendangan juga bogem di wajahnya.

"Apa lagi yang dia lakukan padamu yixing katakan? Biar baba balaskan untukmu."

"Kau tentu sudah di siksa olehnya, cukup katakan kau tidak perlu takut karena sekarang aman." Yixing hanya merasakan campur aduk dan menatap penuh kebingungan.

"Kau akan mati di tanganku, kim!"

Junmyeon terkekeh tiba tiba saat ebeberapa anak buah memegangi kedua lengannya dimana dia sudah berdiri dengan lutut sebagai penopang, "Lakukan jika . . .Kau bisa."

Suara Junmyeon bahkan terputus putus karena tubuhnya yang disasar berbagai sisi.

"Hajar dia!"

Bugh bugh!

Tongkat dan tendangan kembali menyapa tubuh Junmyeon dalam lebam juga rintihan pelan Junmyeon terdiam menerima semua, "Kau merasa bisa melindungi putra kesayanganmu. . .seperti ini?"

Honglei menatap tajam, dalam keadaan yang hampir babak belur anak itu masih bisa bicara untuk membuatnya semakin marah. Kim dan segala tindakannya adalah hal yang paling Honglei benci dan ini salah satunya, "Tutup mulutmu."

"Kau hanya bisa . . .me-ngekangnya dan. . .menyiksa kejiwaannya." Junmyeon kembali meracau.

Terkekeh kembali Junmyeon melirik dari sorot matanya, "Aku. . .sebenar-nya. . .bertanya padamu paman! Kau . . Lebih berniat mengekang putramu atau membuatnya semakin merasakan trauma?"

Tidak ada pilihan terbaik dalam pertanyaan itu dan Junmyeon hanya mendapatkan kemarahan Honglei yang semakin menjadi.

"Apa yang kau tau soal anakku!" Mulut Junmyeon seperti hanya di atur untuk membuatnya marah. Lebih dari itu pimpinan Zhang ini jauh lebih menyukai bagaimana Junmyeon di habisi oleh anak buahnya.

Hingga tanpa menunggu suara Honglei menyuruh anak buahnya untuk menghabisi, seorang anak buahnya maju ke depan Junmyeon dan berniat menendang wajah Pimpinan Kim itu namun tidak disangka jika lelaki yang tengah memegangi tangan kanan Junmyeon di seret terlempar menubruk laki laki di depan Junmyeon tepat, mereka berdua tersungkur.

Lelaki yang memegangi lengan kiri Junmyeon sesegera mungkin menyerang dengan pukulan namun uluh hatinya sudah di tusuk terlebih dahulu dengan telapak tangannya. Junmyeon menyeringai, "Dia milikku, dan akan selama seperti itu!"

Dua anak buah Zhang maju kedepannya, memberi pukulan dalam dua sisi dan Junmyeon melayangkan kaki kanannya untuk menendang pipi salah satunya hingga ambruk, satu yang masih berdiri Junmyeon sasar dengan tendangan keras di dadanya, "Dan jangan harap kau bisa kembali menekannya semaumu!"

Mengusap darah dari bibirnya yang sobek Junmyeon menatap tajam Honglei yang meledak. "Kau fikir kau yang berkuasa di sini! Hah!"

Cklak!

Honglei mengeluarkan pistol dari dalam saku celananya, membuat Yixing terperangah dan Junmyeon tidak mau tau akan dia habiskan tikus tikus ini dan lalu mengincar pimpinannya. Tetapi anak buah Zhang bahkan berjumlah banyak dan Junmyeon jelas kalah jumlah.

Yixing tidak bisa menghindari bahagianya dia dimana Baba nya ada di sini menolongnya dan membawanya pergi tetapi apa yang di katakan Junmyeon seperti sebuah kenyataan yang dia pendam selama ini tentang perlakuan keluarganya pada dia. Yixing begitu memiliki kebencian kepada Junmyeon dan banyak sikap darinya yang melukai hati tetapi dia tidak bisa. Tidak dengan moncong pistol yang mengancam keselamatan nyawanya.

Dan tidak dengan kematian sebagai pilihan. Yixing tidak bisa, jika hanya berniat membalaskan semua luka di tubuh nya maka itu tidak masalah, meskipun Yixing akui jika Junmyeon bertingkah kasar padanya lebih sering daripada sikap lembutnya. Namun sekali lagi dia bertanya, tentang sebuah kematian. . .

"Dengan ini semua akan selesai dan kau akan menjadi pelajaran bagi penyusup lainnya!"

Honglei mengarahkan moncong pistolnya pada Junmyeon yang sudah di hajar oleh tiga anak buahnya dan kehabisan tenaga. Tangannya bersiap menarik pelatuk hingga-

"Tidak baba!" Teriakan Yixing dan tanggan kecilnya yang menarik kasar pistol membuat Honglei kehilangan sasaran.

Dor!

"Akh!" Junmyeon terduduk dengan kaku saat bahu kanannya terkena timah panas. Dia terjatuh, tersungkur tanpa ada tenaga lagi.

"Apa yang kau lakukan yixing!" Teriakan Honglei membuat Yixing mundur perlahan dalam ketakutan yang dalam.

"Ti-tidak dengan kematian!"

"Bahkan kau sudah kesakitan dengan semua siksaannya! Kau fikir aku tidak tau bagaimana kau terlempar dari atas balkon hingga terjatuh di kolam!"

"Ja-jangan baba. . .tidak!" Yixing meracau dengan tatapan menunduk. Wajahnya sudah basah oleh air mata. Dia tidak tau harus mengatakan apa tetapi semua perkataan Honglei memang benar, otaknya kembali merespon bagaimana kejadian pelemparan ke dalam kolam renang, juga benturan di punggung yang sering dia terima, bentakan kasar Junmyeon. Semuanya benar tetapi hati kecilnya tidak mampu untuk melihat Junmyeon mati. Di tangan Babanya.

"Lalu kau masih membela lelaki sialan itu!"

Plak!

"Kenapa kau tidak menurut padaku!"

Plak!

Honglei jelas marah karena anaknya yang di siksa oleh Junmyeon yang justru bersikekeh untuk melarangnya, dan dia tidak bisa untuk tidak menyadarkan Yixing dari tindakannya yang salah.

-srett!

"Baba! Berhenti melukai yixing! Showluo datang dengan tangan yang langsung menarik Yixing menuju dekapannya, adik kecilnya langsung berurai air mata dan sesenggukan kala itu juga, Honglei mulai menatap hal lain untuk berhenti berdebat dengan anak anaknya.

"Seret dan bawa dia! Aku belum selesai dengan penyusup itu!"

"Dan bakar rumah ini."

"Baik!"

.

.

.

.

.

"Pukul berapa mereka akan datang?"

Dentingan kasar Chanyeol tunjukan kala kopi paginya di serbu oleh alunan nada tidak nyaman belahan jiwanya. Bola mata hitam itu bergulir dengan ekspresi wajah bertanya menatap lelaki cantik dengan balutan kemeja putih, rambut caramelnya yang lembut dan bola mata kecilnya yang lucu. Tetapi tidak dengan bibir yang cemberut, Chanyeol membasahi bibirnya tiba tiba, terserang pemikiran kotor untuk melumat kasar.

"Ya! Park chanyeol!" Baekhyun berteriak jengah.

"Haish, ada denganmu?" Tanya Chanyeol tidak mengerti padahan jelas jelas tatapan mesumnya terbaca jelas oleh sang lawan bicara.

"Kapan idiot itu datang? Dan kenapa dia datang!" Baekhyun bertanya lagi dengan ubun ubun yang mulai memanas.

Chanyeol menggeleng tidak mengerti, "Kenapa kau begitu membenci saudara seperjuanganku?"

"Aku lebih ingin menendang wajah sialannya!" Baekhyun memutar bola matanya dramatis dan percayalah bahwa keinginan Baekhyun benar benar murni serta tulus. Perkataan Chanyeol seolah mereka tidak bisa terpisahkan tapi demi apapun mereka berdua haya bersatu kala melihat hal hal yang menarik untuk 'di hancurkan'. Fuck! Persaudaraan macam apa mereka.

Cklek!

"Wah wah, kelihatannya kedatanganku sudah lama di tunggu?"

Sapuan telapak sepatu menyapa lantai, melangkah lebih dalam ada ruangan yang sudah lebih dahulu di huni Chanyeol dan Baekhyun. Wajah Chanyeol tak kalah gembira melihat adik yang sudah cukup lama tidak dia temui di China. Karena walau bagaimanapun setelah kejadian setahun lebih mereka memutuskan untuk memulai berpisah dan memulai semua sesuai wilayah masing masing. Oh Sehun? Tidak ada yang berubah padanya.

Tapi dia tidak sendiri, karena lelaki tiongkok itu sudah lama memutuskan untuk memulai bersama dengan Sehun, sekarang berdiri di balik punggung kokohnya.

Baekhyun semakin cemberut, hanya berdiri untuk menarik Luhan duduk menghindari Sehun begitu kentara, bukan hal baru dan itu tidak di tanggapi lebih oleh Sehun.

Chanyeol berdiri menyambut dalam dekapan hangat dan tepukan pelan di punggung, "Perjalananmu menyenangkan?"

"Aku belum bisa bilang menyenangkan jika belum menemui hal menarik di sini." Jawaban sialan Sehun dan Chanyeol reflek menendang betisnya.

"Shit!"

"Fuck you, brother!"

"Asal kau tau tuan oh! Aku tadinya berharap semoga pesawatmu terus terbang dan tidak mendarat!" Baekhyun bersuara jengah.

"Sayang sekali pesawatku bukan pesawat gantung mainan yang kau pajang di kamar merah jambumu byun!" Balas Sehun lengkap dengan senyum menawan.

Chanyeol mahfum dan Luhan tersenyum kalem. Keduanya hanya akan melakukan hal itu selama bertemu, satu dari sekian alasan kenapa Baekhyun selalu enggan melihat Chanyeol kekasihnya bertemu kembali dengan Sehun.

Mendudukkan tubuhnya di sofa Sehun memulai percakapan seriusnya, "Aku fikir kau sudah tau jika junmyeon hyung di jadikan sandera."

"Zhang dalam posisi terkuatnya setelah thailand dan beberapa pembersihan area kekuasaan mereka di timur changsa." Chanyeol kembali menyesap kopinya, berkomentar dan tidak menyangka kabar angin akan cepat sampai di telinga informan macam Sehun -Yah! Walau bagaimana pun dia adalah informan terbaik yang pernah Chanyeol miliki.

"Tidak tertarik?" Sehun melirik dengan seringai menawan yang membuat Chanyeol sekali lihat faham. Dia laki laki yang masih brengsek seperti satu tahun yang lalu.

"Keh! Jangan bertanya hal konyol." Jawaban Chanyeol kurang memuaskan Sehun, sepetinya.

"Mereka mulai lagi." Jengah Luhan menatap lelah lalu memalingkan wajahnya.

Chanyeol menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, menatap dengan sorot tenang yang masih berbahaya. Pikirannya terpusat dan mulai menilik baik baik keadaan yang saat ini tengah mereka bicarakan. Karena Oh Sehun tidak pernah membahas suatu hal jika itu bukan hal yang benar benar menarik, "Tetapi aku fikir zhang lebih berhadapan dengan tuan kim."

Itu yang terlihat dan menjadi fakta.

Bagaimana kalian fikir jika seorang mafia Changsa dengan berani membawa pewaris utama Kim sebagai sandera karena walau bagaimanapun itu beresiko. Meskipun bisa di bilang Kim yang memulai kali ini.

"Ini bukan lagi bagian junmyeon hyung seperti waktu itu, meskipun keberadaannya di changsa menunjukkan dia bisa lepas dari tuan kim tapi tetap saja tuan kim yang memiliki kuasa lebih akan setiap langkah semua anak buahnya." Chanyeol herpendapat.

"Kurasa kau sedikit salah, karena keberadaannya di changsa menunjukkan junmyeon hyung yang memimpin serangan dan kuasa tertinggi. Dan dijadikannya dia sandera bukan sebuah halangan untuk memberikan perintah pada semua anak buahnya yang masih bertahan di changsa. Ini seperti misi dimana dia yang memimpin." Bantah Sehun.

"Lalu kau fikir tuan kim hanya pajangan?" Marah Chanyeol tiba tiba.

"Dia bahkan tidak bereaksi dengan penyanderaan junmyeon hyung? Artinya kepemimpinan masih menjadi miliknya." Sehun tidak mau kalah.

Sesungguhnya mereka berdua benar benar tidak bisa di andalkan karena berdebat seperti anak kecil dan itu semakin membuat Baekhyun ingin membenturkan kepala Chanyeol ataupun Sehun jika tidak ingat ada Luhan di sini.

"Ini seperti misi, selama kau belum menyerah dan belum ada di keadaan paling bawahmu maka tuan kim akan membiarkannya." Kekeh Sehun.

Luhan bersuara dengan menatap keduanya heran, "Aku tidak menyangka bahwa pembicaraan hanya mengenai kim yang di tangkap oleh zhang bisa membuat kalian sefanatik ini."

Seharusnya Luhan bisa menebak apa dan maksud kedatangan Sehun jika bukan karena hal ini. Tidak berguna sekali bukan?

"Tetapi bukankah paman yunho sudah membahas bersama tuan kim untuk tidak keikutsertaanmu dalam permasalahan mereka lagi, oh sehun?"

"Apa kau lupa jika ayah biologismu sudah berjanji tidak mengusik kim dan semua urusannya lagi?" Chanyeol jengah dan mulai mengambil kesempatan untuk bermain dengan Sehun atau setidaknya mengingatkan bagaimana kejadian satu tahun lalu, Kim benar benar memukul Oh Yunho hingga Sehun harus diam dan tidak berkutik untuk memainkan Kim dalam alur permainan ketiganya bersama Wu.

Tuan Kim terlalu cerdik dimana dan siapa saja yang berpengaruh terhadap jalan yang dia ambil.

Seperti terbentur sebuah batu besar, Sehun tersadar dalam ringisan pura pura, "Ah! Artinya kedatangan dan semua informasiku barusan tidak cukup menarik ya?"

"Keh, berhenti menjilat dan datanglah sebagai penonton jika kau mau." Malas Chanyeol.

"Tapi terlalu menarik melihat mereka saling menunjukkan serangan dan strategi masing masing." Balas Sehun.

Dia belum selesai.

"Zhang menang banyak karena ini tanahnya dan kim hanya pendatang baru yang sebentar lagi di sapu bersih." Chanyeol melihat dari presepsi lingkungan yang tengah mereka lihat. Dan itu fakta yang benar, walau bagaimanapun ini tanah Changsa dan Zhang lahir di sana. Berbeda dengan Kim yang masih harus beradaptasi serta yang lainnya.

"Tetapi wu masih memiliki separuh kekuasaan di china benarkan hyung? Kau yakin tidak menunjukkan dukunganmu pada salah satu pihak?" Tanya Sehun.

Chanyeol begitu ingin membenturkan kepala anak laki laki itu jika tidak sadar hal itu bisa membuatnya menanggung masalah besar, tetapi ingakan Chanyeol bahwa Sehun memiliki mulut luar biasa beracun dengan semua informasi dan fakta yang dia ucapkan seperti sekarang, "Ini akan menyenangkan jika wu yifan ikut serta."

Fuck!

"Bukan begitu hyung? Aku dengar zhang kuat dalam pertahanan terhadap tamu asing tapi masalahnya wu yifan adalah orang yang jelas jelas tau seluk beluk changsa dan keluarga zhang."

Dan Sehun terlanjur mengeluarkan kartu terbaiknya dalam pembicaraan ini. Sekali ucap dia yakin panahnya akan langsung menusuk dua titik sekaligus dari orang yang ada dalam ruangan ini.

Begitu cerdik dan licik, lihat bagaimana genggaman Chanyeol di ujung lengan kursi menguat erat, emosi sedang terbangung hebat dalam setiap aliran darah memicu kerja otaknya lebih keras lagi. Sehun tersenyum dalam kemenangannya.

Satu orang terjebak dengan perlahan. Tinggal menunggu efek pada satu orang lagi.

Tak!

Derit kursi mengalihkan perhatian dari Chanyeol dan genggaman tangannya yang menguat, Sehun beralih pada Baekhyun yang sudah berwajah masam penuh kemarahan terselip di baliknya, dia berdiri tidak peduli dengan tatapan Chanyeol di ujung sana. Lalu bersuara,

"Jika memang wu yifan ada di sini dan berniat mengambil yixing hyung dengan kesempatan kim yang menjadi perhatian utama keluarga zhang, maka aku tidak akan biarkan hal itu."

BRAK!

Ah! Kelihatannya begitu mengena sekali ucapan Sehun.

Setelahnya lelaki Byun itu mengambil langkah lebar menjauh dari ruangan, mengabaikan benturan daun pintu pada dinding dan efek samping berupa ledakan emosi di dalam benak kekasih tiangnya. Jangan terlalu di fikirkan, karena inilah bagian paling menyenangkan dalam benak seorang Oh Sehun.

"Apa aku salah bicara? Kau tidak kecolongan dengan kedatangan wu yifan kan hyung?" Dan pertanyaan Sehun merupakan pukulan telak yang sampai di kepala Chanyeol saat ini. Entah kenapa dia seperti terjatuh tiba tiba ke dasar jurang. Dengan semua informasi yang dibawa Sehun bukan atau bahkan tidak diragukan lagi bagaimana kemampuan lelaki albino itu.

"Kau memang brengsek jika ini tujuanmu oh sehun!" Hanya umpatan yang bisa Chanyeol katakan karena langkah kakinya terburu mengikuti Baekhyun, bagaimanapun juga keberadaan juga tindakan anak lelaki itu saat ini begitu di khawatirkan oleh Chayeol daripada membuat babak belur lelaki yang dia sebut saudara tadi.

Sehun sendiri tersenyum puas mengambil cangkir tehnya untuk dia nikmati, mengingat tujuannya sudah terpenuhi, dengan begini dengan atau tidaknya dia bertindak akan sama saja, keinginannya tetap dapat dia lihat.

Bukankah ini akan semakin seru?

"Kau selalu bisa mendapatkan apa yang kau inginkan." Luhan tiba tiba bersuara setelah membiarkan Sehun menikmati kemenangannya dengan senyuman yang lebih mirip seringai.

"Karena sangat rugi jika tidak melihat langsung permainan semenarik ini." Sehun dan pendapat gilanya adalah sebuah keharusan.

Luhan tidak mengerti kenapa dia bertanya karena entah mengapa hal itu membuatnya lebih menikmati waktunya dengan Sehun dan segala informasi yang dia miliki juga cara liciknya untuk lebih mendominasi Chanyeol, menuruti kemauannya, "Apa yang akan kau harapkan? Sebuah kehancuran?"

"Kim adalah kelompok terkuat dan sangat jarang melihat pimpinan arogan mereka terjebak sebagai sandera?" Sehun menikmatinya, bagaimana Luhan mengajukan pertanyaan seolah ingin mengetahui bagian dirinya yang lebih dalam.

Kenyataan yang Sehun ungkapkan memang benar namun entah mengapa Luhan tidak setuju akan hal itu. Ada satu hal yang belum mereka ketahui dari Kim, seperti ada bisikan halus jika mereka menyembunyikan sesuatu yang tidak banyak orang ketahui pada Kim.

"Ku fikir kau salah."

Oh shit? Apa Sehun melewatkan sesuatu?

Luhan berdiri dari duduknya, melangkah mengambil tempat lebih dekat dengan Sehun, menduduki kursi di dekatnya lengkap dengan seringai yang jauh lebih manis, "Pertarungan strategi mereka tidak akan bisa di hindarkan, king vs king."

"Tetapi, kau melewatkan satu hal dari tubuh Kim, yaitu junmyeon dimana dia adalah kuncinya."

"Mau bertaruh putra tuan oh yang terhormat?"

.

.

.

.

.

.

"Tuan!"

Tuan Kim mendongak meletakkan pisau buah yang baru saja dia genggam. Menatap wajah penuh raut emosi khawatir milik Hakyeon. Warna merah menawan apel yang ada di genggamannya terlepas hapus di piring saji. Menatap penuh perhatian pada tangan kanan kepercayaannya, "Ada apa?"

Hakyeon menelan separuh keberaniannya untuk saat ini, berkedip dalam kesempatan sempit berfikir pemilihan kata yang seperti apakah yang akan dia gabungnya dalam menyusun kalimat akan berita buruk yang tengah dia bawa, sedangkan dihadapannya sosok ayah sekaligus pimpinan Kim sedang menunggu dalam keseriusan dan perhatian fokus yang penuh.

Bohong jika Hakyeon tidak gugup dan takut karena apapun hal itu Tuan Besarnya bisa saja bereaksi diluar dugaan. "Jadi katakan dan biarkan aku menikmati buah segarku sebelum mereka busuk, hakyeon?"

Rupa rupanya Sang Tuan Besar sudah tidak sabar menunggu. Hankyeon bernafas mengumpulkan keberanian.

"Kabar buruk datang dari changsa, tuan."

Tuan Kim menghela nafas, menyingkirkan piring buah dan segala keinginannya untuk melakukan hal lain, ini sudah menyangkut changsa dan lagi Hakyeon bicara soal kabar buruk. Tuan Kim terdiam menunggu kelanjutannya.

"Maaf tuan, tapi lepas 30 menit yang lalu zhang berhasil menghanguskan kediaman tuan henry dan menyandera tuan muda junmyeon."

Tuan Kim terdiam dengan mata memejam, sesuai dengan apa yang membuat hatinya terganjal oleh rasa takut dan tidak nyaman. Bagaimanapun mereka anak anaknya, dan sesungguhnya hal ini jugalah yang membuatnya begitu mengatur juga mengekang Junmyeon-terutama- untuk tetap berada di Seoul terlepas bagaimana semua rencananya di Chansa.

Changsa bukanlah tanah mereka. Semua bisa saja terjadi di sana dan Zhang adalah tuan rumah, seminim apapun keadaan juga pertahanan atau serangan mereka terhadap para bandit kecil tidak tau diri itu dia tetap kuat, Tuan Kim mengakui hal itu karena hampir sebagian dari 30% anak buahnya hilang di sana. Dan Junmyeon adalah anaknya yang paling membangkang jika berurusan dengan apa yang dia inginkan.

Dengan datangnya kabar ini membuat Tuan Kim harus melakukan lebih banyak cara untuk mencangkup Changsa lebih banyak dari yang dia bisa. Ini bukan tanah kecil dengan ukuran hektar yang di perjual belikan. Sebagai seorang ayah tentu segala pikiran terburuk ada di dalam benaknya. Hingga hanya untuk membasahi tenggorokannya saja Tuan Kim enggan.

"Lanjutkan."

Hakyeon tidak bisa untuk tidak patuh, "Zhang mengetahui dengan cepat keberadaan tuan muda dan hunian setelah tuan showluo di paksa mengaku, mereka datang dan berhasil menemukan tuan muda bersama dengan tuan yixing, setelahnya hunian di bakar dan semua gps mereka lenyap."

Hantaman besar seperti mendarat pada kepala Tuan Kim, semua persembunyian terbuka dan Junmyeon di bawa, lalu bagus dengan menghilangkan jejak menggunakan kebakaran dan hell! Karena gps telah hilang.

"Tidak ada yang bisa di temukan?" Tanya Tuan Kim.

"Terakhir yang kami terima adalah sebuah rekaman suara. Kami sudah menyalinnya."

Sodoran sebuah digital voice recorder hitam di meja kerjanya membuat Tuan Kim terdiam tidak berkutik. Semua analisis sketsa kejadian berlarian di dalam benaknya. Siapa yang berperan dalam perekaman serta apa yang ada di dalamnya membuat Tuan Kim tidak bisa asal mengambil keputusan sekalipun saat ini dia tengah di hadapkan pada tindakan dan keputusan cepat.

"Pergi, kembalilah 30 menit lagi."

Hakyeon membungkuk tanpa penolakan dan menuju pintu dengan deritan pelan tanda pintu sudah ia tutup.

Diputarnya digital voice recorder di telapak tangannya menyalakan dan terdapat dua jenis rekaman dalam jumlah yang berbeda, mengambil rekaman pertama mulai menekan tombol 'play'

'Tuan muda' Tuan Kim mengenali dengan baik suara itu, Bora. Dan dia berbicara bersama dengan Junmyeon.

'Aku tidak ingin sebuah bantahan'

'Jika tuan memulai untuk mendukung zhang saya dapat mengerti tetapi thailand ada untuk memperkuat zhang akan menimbulkan efek besar.'

'Keberadaan kim di changsa adalah persembunyian bagaimana anda kembali mendapatkan zhang Yixing tetapi jika kita bergerak terlalu lebar akan berakibat pada kim, semua bisa terbongkar dalam waktu singkat karena kekuatan zhang yang meningkat.'

'Itu yang aku inginkan, aku tau kau lebih banyak mengenal lapangan jauh daripada aku tetapi aku akan mengambil resiko itu.'

'Untuk kekuatan zhang, benar begitu tuan?'

'Ya,'

Apa yang sebenarnya yang Junmyeon pikirkan, apa dia sedang bercanda?

'Saya tidak bisa memaksa lagi kalau begitu.'

'Klik'

Rekaman memutar pada urutan selanjutnya.

'Pergerakan mereka mendekat dan ini berbahaya, sinyal yang saya dapat bahwa pimpinan zhang sudah mengetahui kejanggalan kita dan tuan showluo.'

Rupanya ini adalah awalnya. Dan Junmyeon tau akan hal itu? Lalu kenapa dia tidak coba melarikan diri.

'Aku akan tetap di sini, menyambutnya.'

'Tuan akan menyerah, membiarkan tuan yixing kembali setelah anda pertaruhkan?'

-tidak ada suara dalam beberapa detik hingga gumanan datang. 'Hmm'

'Saya akan mulai mengumpulkan semua yang ada.'

'Bawa mereka pergi dengan hyung dan yang lainnya.'

Bora ganti yang terdiam.

Apa yang di alami anak itu sama sekali tidak terpikirkan oleh Tuan Kim.

'Perintahku.'

'Tuan akan menyerahkan diri?'

'Ya, ini rencanaku. Jadi bawa yang lain pergi melalui pintu bawah tanah. Aku ingin kau menjalankannya dengan paman dan dasom. Hanya kalian.'

'Bawa mereka pergi, paman akan ada untuk fasilitas kalian. Dasom akan ada untuk menenangkan hyung dan lainnya dan kau akan menjauh untuk tetap memantau zhang dan semua yang mendekat padanya.'

'Lihat dan bagaimana mereka mengatur serangan, suruh paman menjauh dari changsa jika bisa karena aku yakin mereka akan mengunci dan memperketat semua pintu keluar masuk changsa jika tau kim ada di sini. Berada di sekitar penduduk sipil bisa menjadi pilihan, matikan gps dan seluruh saluran telepon. Kau tau zhang dan segala pertahanannya.'

'Ini akan beresiko tuan.' -hal itu tidak pernah salah bahkan lebih daripada sebuah resiko kecil.

'Dan aku yang memulai semua hal ini hingga beresiko besar seperti sekarang.'

'Dari awal Kim hanya perlu menghentikan Zhang yang mengacau dan bernegosiasi untuk kembalinya minseok hyung tetapi aku justru membuat Kim semakin masuk kedalam lingkaran berdarah milik wu lalu membuat yixing untuk menjadi milikku, aku tau akan hal itu.'

'Dan sekarang kembali aku membawa semuanya ke changsa, tidak dengan jongdae yang memprioritaskan minseok hyung atau Jongin yang akan kembali membawa kyungsoo dalam persembunyian.'

'Jika kalian tetap di sini maka akan ada salah satu dari kalian yang akan mati dan itu pasti. Aku yang mereka inginkan jadi biarkan aku mencoba melihat apa yang mereka bisa lakukan.'

'Keberatan? Secara tidak langsung aku memberikan misi untuk kalian kepercayan ayahku black and white, dan aku tau kau akan melaporkan ini padanya.'

'Saya tidak memiliki kuasa untuk menentang barang sedikit pun.'

'Tolong jaga mereka, dan katakan bahwa aku akan baik baik saja.'

Namun hal itu jauh lebih terdengar seperti 'Berhenti meragukanku.'

Klik

Helaan nafas berat keluar dari mulut Tuan Kim, meremat digital voice recorder dengan tatap mata lurus kedepan. Memutar tempat duduk menatap sekeliling ruangan kerjanya dengan baik. Memikirkan Junmyeon dan segala langkah yang diambil anak laki lakinya.

"Apa maumu sekarang junmyeon?"

.

.

.

.

.

.

.

Tbc-

.

.

.

ACE Season 2

© Pearl Luce

Cast :

Kim Junmyeon, Zhang Yixing, Kim Jongin, Do Kyungsoo, Kim Jongdae, Kim Minseok, Park Chanyeol, Oh Sehun, Luhan, Byun Baekhyun, Wu Yifan, Honglei, Wangxun, Showluo, Victoria, Jackson, Taekwoon, Donghae, Taemin, Taehyung, Jungkook, Jhope, Taehyun, Mark, Johnny, Renjun, Chenle, Jeno, Taeyong, Ten, Doyoung, Dasom, Bora.

Pair : SuLay and other.

Genre : Romance, Action, Crime, (Little) Hurt/comfort

Rated : M

Sulay Story in Ace Season- 2, Mafia life, Dldr, BxB, Typo(s), mature content

Idea© D'Xp ft Luce.

.

.

.

.

.

.

.

Luce, with love

19 Agustus 2018