Fallen too Far
By ABBI GLINES
Remake to KiHyun Version
***KH***
Meninggalkan Kibum di tempat tidur pagi ini sangat sulit. Ia tidur begitu damai aku tidak ingin membangunkannya. Aku menahan diri untuk tidak menciumi wajahnya sebelum aku pergi. Tidur membuatnya terlihat tidak khawatir. Aku tidak menyadari betapa intens dan waspadanya ia sampai aku memperhatikan ia tertidur dan melihat ia benar-benar damai.
Membuka pintu menuju ruangan staf aku disambut dengan bau donat baru dan Jeremmy yang tersenyum.
"Selamat pagi sayang," ia berkata riang seperti biasanya.
"Itu masih harus dilihat... kau akan membagi donat itu atau tidak?"
Ia memegang kotak itu kepadaku. "Aku membeli dua ekstra hanya untukmu sayang. Aku tahu kau datang bekerja hari ini dan aku tidak ingin menjadi tangan kosong."
Aku duduk didepannya dan meraih donatku. "Jika aku pikir kau akan menikmatinya, aku akan mencium wajahmu," godaku.
Jeremmy menggoyangkan alisnya, "Siapa yang tahu, sayang? Wajah sepertimu bisa menyebabkan seorang pria tersesat."
Sambil tertawa, aku menggigit kenikmatan yang hangat dan halus. Ini tidak sehat tapi donat ini sangat enak.
"Makanlah karena kita mempunyai hari yang sangat panjang. Pesta debutan malam ini dan kita tidak akan berada di ruang makan. Kita semua akan dikirim ke ruangan pesta dan dipaksa untuk berjalan dengan nampan makanan kemudian melayani mereka semua pada makan malam."
Pesta debutan? Apa sih itu? "Apakah itu sebabnya ada begitu banyak truk di luar dengan bunga dan dekorasi?"
Jeremmy mengangguk dan meraih donat lain yang dilapisi coklat. "Ya. Terjadi setiap tahun selama minggu ini. Ibu kaya yang gila mendampingi putri mereka dan mengenalkannya kepada masyarakat. Setelah malam ini, gadis-gadis akan dianggap sebagai wanita dewasa dan diperlakukan sebagai anggota klub dewasa. Mereka bisa berada di komite dan sejenisnya. Ini adalah omong kosong gila. Apalagi sejak Hyunna berumur 21 beberapa minggu lalu. Itu berarti dia bisa dilepaskan kedunia orang dewasa."
Hyunna seorang debutan. Itu menarik. Ibunya tidak ada di sini. Apakah ini berarti dia kembali? Jantungku berdegup kencang... Aku harus segera pergi. Kibum tidak mengatakan kepadaku bahwa sesuatu telah berubah tentang kepindahanku. Ketika aku pergi akankan dia masih melihatku?
"Tarik napas, Kyu. Itu hanya sebuah pesta sialan," kata Jeremmy. Aku mengambil napas dalam-dalam. Aku tak menyadari bahwa aku mulai panik. Inilah sebabnya mengapa aku mau menjaga jarak. Aku tahu hari ini akan datang. Apakah ayahku ada di rumah hari ini?
"Jam berapa mulainya?" Aku berhasil bertanya tanpa ada hambatan di suaraku.
"Jam tujuh tapi mereka akan menutup ruang makan jam lima supaya kita bisa bersiap-siap."
Aku mengangguk dan meletakkan sisa donatku. Aku tidak bisa menghabiskannya. Hari ini menjadi permainan menunggu. Aku merasakan ponsel di kantongku tapi aku tidak bisa membaca sms Kibum. Aku tidak mau ia memberitahu kabar buruk melalui sms. Aku hanya akan menunggu.
"Kyu, aku perlu menemuimu sebentar di ruanganku." Suara Andrew masuk ke pikiranku. Mataku tertuju ke mata Jeremmy yang melebar dengan keprihatinan. Bagus. Apa yang sudah kulakukan?
Aku berdiri dan berbalik menghadap Andrew. Ia tidak terlihat marah. Ia tersenyum ke arahku dan itu memberikan keberanian yang aku butuhkan untuk berjalan ke arahnya. Ia membukakan pintu untukku dan aku melangkah keluar ke koridor.
"Santai, Kyu. Kau tidak dalam masalah. Kita hanya perlu membahas tentang malam ini."
Oh. Whew. Aku menarik napas dalam-dalam dan mengangguk lalu mengikutinya ke pintu di ujung lorong.
"Aku tidak mendapatkan apapun yang glamor. Dad percaya bahwa aku bekerja dari bawah sampai ke puncak. Bahkan jika aku akan mewarisi klub suatu hari nanti." Andrew memutar matanya saat membuka pintu kantornya dan menyuruhku masuk. Ruangannya sebesar kamarku di rumah Kibum. Ada dua jendela besar yang menghadap ke lapangan golf.
Andrew berjalan memutar untuk duduk di pinggir mejanya daripada dibelakangnya. Aku menghargai ia mencoba untuk tidak membuatnya sangat formal. Itu akan membuatku gugup.
"Pesta Debutan nanti malam. Ini adalah kegiatan tahunan di sekitar sini. Kami mengadakan acara untuk gadis kaya yang manja menjadi dewasa. Ini sesuatu yang menjengkelkan yang menjadikan klub ini memperoleh keuntungan lebih dari lima puluh juta dolar dari biaya, sumbangan dan sejenisnya. Jadi kita tidak bisa menghentikan omong kosong ini. Ibuku juga tidak mampu menghentikannya meski ia bisa. Dulu dia juga seorang debutan dan kau akan berpikir seakan dia telah dinobatkan menjadi ratu Inggris saat mendengar ibuku membicarakannya."
Aku tidak merasa lebih baik tentang malam ini. Penjelasan ini membuatku merasa bertambah buruk.
"Hyun sekarang dua puluh satu tahun. Jadi, ia akan menjadi seorang debutan. Aku melihat daftarnya dan Kibum akan menjadi pendampingnya, hal ini tradisional untuk ayah sang gadis atau kakak lelakinya untuk mendampinginya. Pendamping pun harus dari anggota klub. Aku tak tahu apa yang sedang terjadi antara kau dan Kibum tapi aku tahu bahwa Hyun membencimu. Aku tidak membutuhkan drama malam ini. Namun aku membutuhkanmu. Kau salah satu dari yang terbaik. Pertanyaannya adalah, bisakah kau melakukannya tanpa adanya suatu pertengkaran? Karena Hyun akan melakukan yang terbaik untuk menutup mulutmu. Ini semua kembali padamu untuk mengabaikannya. Kau mungkin berkencan dengan seorang anggota klub tapi kau tetap seorang pelayan. Tidak mengubah itu. Anggota selalu benar. Klub harus memihak Hyun jika pertengkaran itu terjadi."
Apa yang dia harapkan? Ini bukan SMA. Kita semua orang dewasa. Aku bisa mengabaikan Hyun dan Kibum semalamam jika perlu.
"Aku bisa melakukannya. Tidak masalah."
Andrew mengangguk cepat. "Bagus, karena bayarannya sangat bagus dan kau butuh pengalamannya."
"Aku bisa melakukannya," Aku menenangkannya.
Andrew berdiri. "Aku percaya kau bisa. Kau bisa membantu Jeremmy dengan sarapan sekarang. Ia mungkin sedang mengutuk kita berdua."
***KH***
Sisa hari ini berjalan dengan cepat dan aku begitu sibuk dengan persiapannya yang membuatku tidak mempunyai waktu untuk memikirkan Hyun atau kembalinya ayahku. Atau Kibum. Sekarang aku berdiri di dapur dengan staf pelayan lain. Aku menggunakan baju pelayan putih dan hitam dengan rambut yang ditarik menjadi sanggul. Aku mulai merasa kecemasan muncul di perutku.
Ini adalah pertama kalinya aku harus menghadapi perbedaan antara Kibum dan aku. Dunianya dibandingkan duniaku. Mereka akan bertumbukan malam ini. Aku sudah mempersiapkan diri untuk setiap komentar yang Hyun akan buat tentangku. Aku bahkan sudah berbicara dengan Jeremmy menjadi penyekat dan menahanku dari keharusan berdekatan dengan Hyun. Aku ingin melihat Kibum atau mungkin berbicara padanya tapi aku punya perasaan itu tidak akan disetujui.
"Waktunya beraksi. Kudapan dan minuman. Kalian tahu tugas kalian. Ayo." Tiffany menjalankan pertunjukan malam ini di belakang panggung. Aku mengambil nampan martini dan menuju antrian di pintu. Semua orang pergi dengan cepat dan kami semua membuat jalan yang berbeda melalui kerumunan. Punyaku setengah lingkaran searah jarum jam. Kecuali aku melihat Hyun, lalu aku berbalik berlawanan dan Jeremmy pergi searah jarum jam. Ini adalah ide yang bagus. Aku hanya berharap itu berhasil.
Pasangan pertama yang aku tuju bahkan tidak memedulikanku saat mereka mengobrol dan mengambil minuman dari nampan. Itu cukup mudah. Aku berhasil melewati beberapa kelompok lagi. Beberapa pria dan wanita yang kukenal dari lapangan golf. Mereka akan selalu mengangguk dan tersenyum ketika mereka mengenaliku tapi hanya itu.
Setengah jalan melalui ruangan, nampanku kosong dan aku mengingat dalam hati di mana terakhir kali aku berhenti. Aku bergegas kembali ke dapur untuk minuman lainnya. Tiffany sedang menungguku. Ia mendorong nampan martini baru kearahku dan mengusirku pergi.
Aku berhasil kembali ke tempat semula, hanya harus berhenti dua kali dan memungkinkan seseorang untuk mendapatkan minuman dari nampan. Mr. Jenkins memanggil namaku dan melambaikan tangan. Aku tersenyum kembali kearahnya. Ia memainkan delapan belas hole setiap jum'at dan sabtu. Itu membuatku takjub bahwa seorang pria Sembilan puluh tahun bisa berkeliling sebaik itu. Ia juga datang untuk minum kopi dan dua telur rebus Senin sampai Jum'at pagi.
Saat aku berbalik dari tersenyum, mataku terkunci dengan mata Kibum. Aku sudah berusaha keras untuk tidak melihat kearahnya meskipun aku tahu ia disini. Itu adalah malam besar Hyun. Kibum tidak akan melewatkannya. Tidak ada alasan ia harus. Dia jahat tapi ia adik Kibum. Itu aku yang dia benci. Bukan Kibum.
Wajahnya terlihat sedih dan senyum kecilnya terlihat dipaksakan. Aku tersenyum kearahnya berusaha keras untuk tidak memikirkan ucapan anehnya. Paling tidak ia melihat ke arahku. Aku tidak tahu apa yang aku harapkan darinya.
Doctor dan Mrs. Wallace berdua menyapa dan memberitahuku mereka merindukan melihatku di lapangan golf. Aku berbohong dan mengatakan aku merindukannya juga. Lalu aku kembali ke dapur untuk nampan lain.
Tiffany mendorong sebuah nampan dengan sampanye ke arahku, "Ayo, ayo, cepat," ia membentak.
Aku berjalan secepat yang aku bisa dengan nampan penuh gelas sampanye. Setelah di ruangan pesta aku mulai ke jalan yang sama melalui anggota yang tenggelam dalam percakapan dan aku hanya sebuah nampan minuman. Aku lebih menyukai ini. Aku tidak merasa gelisah.
Tawa familiar Luhan menarik perhatianku dan aku berbalik untuk mencarinya. Aku tidak melihat ia di dapur sebelumnya. Aku mengira Tiffany tidak menginginkan dia bekerja. Atau ayah Andrew tidak mau.
Luhan tidak berpakaian seperti kami. Ia menggunakan gaun sifon yang menempel dan rambut cokelat panjangnya menumpuk di kepala dengan ikal menggantung ke bawah di sekitar wajahnya. Ia menoleh dan menatap mataku, dan ia menyeringai lebar. Aku melihat ia bergegas kearahku. Stiletto yang ia kenakan bahkan tidak memperlambat langkahnya.
"Bisakah kau percaya kalau aku di sini sebagai tamu?" Luhan bertanya, melihat ke sekeliling kami dengan kagum kemudian kembali melihatku. Aku menggeleng karena aku tidak bisa percaya.
"Saat Stephen datang ke apartemenku berlutut dan memohon padaku semalam, aku memberitahunya kalau ia menginginkan aku sebagai pacarnya ia harus memperlihatkannya di depan umum. Ia setuju dan yah, kau mendapatkan gambarnya. Segala sesuatunya menjadi benar-benar panas di apartemenku. Tapi bagaimanapun juga, disinilah aku," desahnya.
Stephen telah bersikap jantan. Bagus untuknya. Aku menoleh ke belakang untuk melihat Stephen mengawasi kami. Aku tersenyum kearahnya dan mengangguk menyetujui. Ia memberiku seringai kecil sambil mengangkat bahu.
"Aku senang bisa tahu akhirnya ia mendapat akal sehatnya," balasku.
Luhan meremas lenganku. "Terima kasih," ia berbisik.
Ia tidak punya apa-apa untuk berterima kasih padaku tapi aku tersenyum. "Pergilah bersenang-senang. Aku harus mengantar habis ini semua sebelum bibimu datang kesini dan mendapatiku sedang mengobrol."
"Okay. Aku akan, Meskipun aku berharap kau dapat menikmatinya denganku." Matanya melirik melewati bahuku. Aku tahu ia sedang melihat Kibum. Ia disini dan ia mengabaikanku di depan semua orang ini. Ia melakukannya demi Hyun tapi apakah itu membuatnya lebih baik?
Perlahan-lahan aku tersadar. Aku akan menjadi seperti Luhan.
"Aku butuh uang jadi aku bisa mendapatkan tempat tinggalku sendiri," Aku memberitahunya dengan sebuah senyuman terpaksa. "Pergilah berbaur," Aku mendorongnya dan berjalan pergi ke kelompok orang berikutnya.
Matanya mengikutiku mengirimkan sensasi membakar ke leherku. Aku tahu Kibum memperhatikanku. Aku tidak harus berbalik dan melihat Kibum untuk membuktikan. Apakah ia baru saja menyadari situasi kami seperti yang kualami? Aku meragukannya. Ia seorang pria. Aku sudah bersikap gampangan. Aku juga seorang munafik terbesar di dunia. Sekarang aku merasa bersalah memarahi dan mengasihani Luhan.
Sampanye terakhir meninggalkan nampanku dan aku berjalan kembali melalui kerumunan, berhati-hati untuk tidak mendekati Kibum atau Hyun. Aku bahkan tidak melirik kearah mereka. Aku masih punya harga diri. Aku hanya harus berhenti tiga kali pada tamu untuk meletakkan gelas kosong mereka pada nampanku saat aku bergegas kembali ke dapur dengan selamat.
"Bagus kau kembali. Ambil nampan ini. Kita butuh makanan di luar sana sebelum mereka minum terlalu banyak dan kita punya pemabuk mengacau di tangan kita," kata Tiffany, menyodorkan nampan yang aku tidak tahu isinya. Mereka juga bau. Aku mengernyitkan hidungku dan menjauhkan nampan itu dariku. Tiffany terkekeh dengan tawa.
"Itu escargot, siput. Mereka menjijikkan tapi orang-orang ini berpikir mereka makanan yang lezat. Tahan baunya dan pergilah." Aku rasa perutku berputar. Aku bisa melakukannya tanpa penjelasan itu. Escargot akan menjadi deskripsi yang memadai.
Ketika aku sampai di pintu masuk ballroom aku memantapkan diri dan mencoba untuk tidak berpikir tentang siput yang aku berikan untuk dimakan orang-orang atau fakta bahwa Kibum ada di sana berpura-pura ia tidak mengenalku sama sekali. Setelah aku menghabiskan dua malam terakhir di tempat tidurnya.
"Kau baik-baik saja?" Andrew bertanya saat aku berjalan ke dalam ruangan. Ia berada disampingku terlihat khawatir.
"Ya. Kecuali kenyataan bahwa aku memberi orang-orang siput untuk dimakan," jawabku. Andrew terkekeh, mengambil satu dari nampanku dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Kau harus mencoba satu. Ini benar-benar enak. Apalagi direndam di bawang putih dan mentega."
Perutku berputar lagi dan aku menggeleng. Andrew tertawa keras saat ini. "Kau selalu membuat sesuatu menjadi lebih menarik, Kyu," ia berkata, sambil membungkuk kearah telingaku. "Aku minta maaf tentang Kibum. Sekedar catatan, jika kau memilihku kau tidak akan kerja malam ini. Kau akan berada di lenganku."
Aku merasa wajahku merona. Sudah cukup mengetahui bahwa aku adalah rahasia kecilnya tapi bahwa orang lain yang mengetahuinya itu memalukan. Bagaimanapun, aku menginginkan Kibum. Sangat menginginkannya. Well, memang aku mendapat apa yang kuharapkan.
"Aku butuh uang. Aku sebentar lagi mampu mendapat tempat tinggalku sendiri," aku terus terang memberitahu Andrew.
Andrew memberiku anggukan singkat dan senyum simpatik sebelum berbalik untuk menyambut tamu yang lebih tua yang kebetulan lewat. Aku mengambil momen itu untuk pergi. Aku punya siput untuk memberi makan orang-orang.
Jeremmy menangkap mataku dan ia mengedip meyakinkan padaku. Ia sibuk mengurus sisi ruangan Kibum dengan cerdas. Aku bahkan tidak mendekat kearahnya. Luhan tersenyum cerah padaku saat aku datang di kelompoknya. Senyumnya hilang saat ia melihat ke makanan dalam nampanku.
"Apa itu?" ia bertanya ketakutan.
"Kau tidak ingin tahu," aku memberitahunya, membuat Stephen dan seorang pria yang aku tidak begitu kukenal tertawa.
"Mungkin lebih baik kau melewatkannya," Stephen memberitahu Luhan sambil menyelipkan tangannya di pinggangnya dan menariknya lebih dekat ke sisinya dengan mesra.
Luhan berseri-seri kearah Stephen dan segala kemesraan manis itu yang mampu kuterima. Aku bergegas ke kelompok berikutnya. Rambut merah keriting itu terlihat akrab. Aku butuh satu detik untuk mendatanginya. Racun jahat di senyumnya mengingatkanku persis di mana aku pernah melihatnya sebelumnya. Ia sudah mengejar Andrew di rumah Kibum pada malam pesta Hyun. Aku belum menjadi pemuja malam itu berkat Andrew.
"Bukankah ini menyenangkan?" katanya, mengalihkan perhatiannya menjauh dari pasangan yang berbicara padanya dan fokus padaku. "Aku tebak Andrew memutuskan kau lebih cocok berkerja padanya daripada berkencan dengannya." Ia terkikik dan menggelengkan kepalanya sehingga ikal merahnya memantul. "Aku bersumpah, ini membuat malamku menyenangkan." Ia mengulurkan tangan dan membalikkan nampanku.
Siput-siput turun ke depan bajuku diikuti dengan nampan yang terjatuh keras di lantai. Aku terlalu tercengang untuk bergerak atau bicara.
"Oh dan lihat dia sangat kikuk. Andrew harus pilih-pilih tentang karyawannya," gadis itu mendesis penuh kebencian.
"Oh tuhanku! Kyu, kau baik-baik saja?" suara Luhan datang dari belakangku menyadarkanku dari keterkejutan.
Aku berhasil menyingkirkan siput yang masih menempel di pakaianku.
"Minggir," perintah suara berat yang langsung kukenali. Kepalaku terangkat untuk menemukan Kibum mendorong melewati beberapa orang dengan rambut merah yang tampaknya menertawakan kekacauan yang kubuat. Dia marah. Tidak salah lagi. Kibum mencengkeram pinggangku dan mengamati wajahku sesaat. Aku tidak yakin untuk apa. "Kau baik-baik saja?" ia bertanya pelan.
Aku mengangguk, tidak yakin bagaimana harus bereaksi.
Pembuluh darah di lehernya sekali lagi menegang dibalik kulitnya saat menelan ludah. Ia nyaris tidak memutar kepalanya memandang pada si rambut merah. "Jangan mendekati aku dan dia lagi. Mengerti?" ia berkata dengan tenang yang mematikan.
Mata gadis itu melebar. "Buat apa kau marah padaku? Dia yang kikuk. Ia menumpahkan seisi nampan ke dirinya sendiri."
Tangan Kibum mencengkeram erat pinggangku. "Jika kau mengucapkan satu kata lagi aku akan mengancam untuk mencabut semua sumbanganku dari klub ini sampai kau dikawal keluar. Secara permanen."
Gadis itu terkesiap, "Tapi aku teman Hyun, Kibum. Teman terlamanya. Kau tidak akan melakukannya padaku. Apalagi untuk pelayan sewaan." Cibiran kekanak-kanakan dalam suaranya terdengar aneh dari gadis berusia dua puluh satu tahun.
"Coba saja," balasnya.
Dia mentap kembali ke arahku. "Kau ikut denganku."
Aku tidak punya waktu untuk merespon sebelum ia membalikkan kepalanya untuk melihat ke belakang bahuku. "Aku bersamanya Luhan. Ia baik-baik saja. Kembalilah ke Stephen." Kibum menyelipkan tangannya di sekitar pinggangku. "Hati-hati siputnya, mereka licin."
Dua orang pelayan bergegas masuk ke ruangan dengan perlengkapan untuk memberihkan kekacauan. Musik tidak berhenti tapi tempat ini menjadi tenang. Perlahan-lahan, orang-orang mulai berbicara lagi.
Aku tetap mengarahkan mataku ke pintu menunggu sampai aku bisa keluar dari ballroom ini dan melepaskan diri dari pelukan Kibum.
Jika orang-orang di sini tidak tahu kami sudah berhubungan seks, mereka tahu sekarang. Dia baru saja menunjukkan pada semua orang bahwa ia peduli padaku tapi ia tidak benar-benar ingin berjalan dengan aku di lengannya. Dadaku terasa sakit. Aku butuh jarak dari dia. Sudah waktunya aku belajar untuk merangkak kembali ke dunia kecilku di mana aku mempercayai diriku dan hanya aku. Tidak ada orang lain. Setelah kami keluar dari ballroom dan jauh dari mata yang ingin tahu, aku melangkah menjauh dari Kibum dan menjaga jarak diantara kami. Aku menyilangkan lenganku di depan dada dan menatap kakiku. Aku tidak yakin apakah memandangnya merupakan sesuatu yang baik atau bukan. Aku tidak mengambil waktu untuk menikmati betapa indah ia terlihat dalam tuksedo hitam. Aku sudah melakukan yang terbaik untuk tidak melihat ke arahnya. Sekarang ia berdiri disini di depanku berpakaian seperti seharusnya di mana aku dengan pakaian pelayan yang berlumur minyak siput, perbedaan besar diantara dunia kami sangat jelas.
"Kyu Aku minta maaf. Aku tidak mengira sesuatu seperti itu akan terjadi. Aku bahkan tak tahu dia punya masalah denganmu. Aku akan berbicara dengan Hyun tentang hal ini. Aku punya perasaan Hyun ada hubungannya dengan ini—"
"Si rambut merah itu membenciku karena Andrew tertarik padaku. Hyun tidak ada hubungannya dengan ini dan begitu pula dirimu."
Kibum tidak langsung membalas. Aku bertanya-tanya apakah aku harus berbalik dan berjalan kembali ke dapur.
"Apakah Andrew masih merayumu?"
Apakah ia baru saja menanyakan itu padaku? Aku berdiri di sana berlumur siput dan mentega dan ia bertanya padaku apakah beberapa pria menggodaku? Aku bahkan tidak tahu apakah aku masih punya pekerjaan. Itu saja. Sudah cukup. Aku berbalik dan kembali ke dapur. Kibum tidak membiarkanku menjauh. Tangannya terulur dan meraih lenganku.
"Kyu, tunggu. Maafkan aku. Seharusnya aku tidak menanyakan itu. Itu bukan masalah sekarang. Aku mau memastikan kau baik-baik saja dan membantumu membersihkan diri." Suaranya terdengar sedih saat ia mengatakan bagian akhir.
Aku mendesah dan berbalik dan bertemu tatapannya saat ini. "Aku baik-baik saja. Aku harus pergi ke dapur dan melihat apakah aku masih punya pekerjaan. Aku sudah diperingatkan oleh Andrew pagi ini bahwa sesuatu seperti ini mungkin terjadi dan itu akan menjadi kesalahanku. Jadi, saat ini aku punya masalah yang lebih besar daripada kau yang tiba-tiba merasa perlu bersikap posesif padaku. Yang mana ini konyol. Karena kau sedang melakukan yang terbaik untuk mengabaikanku sampai peristiwa ini terjadi. Kau tahu aku atau tidak, Kibum. Pilih salah satu pihak." Luka pada suaraku tidak mudah untuk disembunyikan. Aku menyentak lenganku lepas dari tangannya dan berjalan kembali menuju dapur.
"Kau sedang bekerja. Apa yang kau ingin aku lakukan?" panggilnya dan aku berhenti. "Mengakuimu akan memberikan alasan Hyun untuk menyerangmu. Aku melindungimu."
Fakta bahwa ia mengakuinya memberitahuku begitu banyak. Hyun diprioritaskan. Ia mengabaikanku untuk membuat Hyun senang. Aku menduganya tentu saja. Aku hanya cewek panggilannya. Hyun adiknya. Ia benar lebih memilih Hyun daripada aku. Bagaimana ia bisa melihatku sebagai sesuatu yang lebih saat aku pergi ke tempat tidurnya dengan mudah?
"Kau benar, Kibum. Kau mengabaikanku akan mencegah Hyun menyerangku. Aku hanya seorang gadis yang kau tiduri dua malam terakhir. Segala sesuatunya menganggap aku tidak spesial. Aku satu dari banyak gadis yang lain." Aku tidak menunggunya untuk mengatakan lagi. Aku berlari ke pintu dapur membantingnya sebelum air mata yang menggenangi mataku terjatuh.
***KH***
"Whoa, girl," Jeremmy berkata sambil mengulurkan lengannya untuk menangkapku saat aku menghambur memasuki dapur.
Sebuah cegukan terlontar dan aku menelan kembali isakan yang mengikuti.
"Yang terjadi di sana tadi cukup brutal tapi bisa saja lebih buruk lagi. Setidaknya Kibum datang untuk menyelamatkan." Jeremmy menepuk pelan punggungku dan memelukku.
Aku tidak menginginkan Jeremmy mengetahui betapa murahannya diriku. Aku tak mampu mengatakan padanya bahwa airmata ini disebabkan karena aku adalah rahasia kecil kotor dari seorang pria kaya raya. Bukan karena gadis jalang yang telah menumpahkan makanan ke seluruh tubuhku di ruangan yang dipenuhi banyak orang.
"Kembalilah kesana, Jim. Kita membutuhkan lebih banyak penyaji di ruangan itu. Aku akan berbicara dengan Kyuhyun," Andrew berkata ketika dia berjalan masuk ke dapur.
Jeremmy memelukku dengan erat sekali lagi kemudian cemberut pada Andrew sebelum mengambil nampannya dan berjalan mengarah ke pintu. "Kau bersikap baiklah pada gadisku," Jeremmy berujar saat dia melewati Andrew.
Andrew tidak menjawab. Malahan dia mengamatiku. Aku mengira inilah saatnya. Momen besar "ini adalah kesalahanmu jadi kau bisa pergi sekarang".
"Aku telah mengambil resiko memperingatkanmu mengenai Hyun dan itu bahkan bukan merupakan kesalahan Kibum bahwa seorang gadis jalang pencemburu menyerangmu," Andrew menggeram dan menggelengkan kepalanya dengan jijik. "Aku minta maaf, Kyu. Semua ini kesalahanku. Aku tidak mengira dia mampu melakukan ini. Dia adalah mantan pacar tidak waras yang sepertinya tidak mampu aku goyahkan."
Dia tidak memecatku? Aku bersandar ke meja dapur di belakangku untuk menghirup napas panjang.
"Akibat drama yang telah terjadi, aku tak ingin kau kembali kesana. Kau bisa tinggal di sini dan membantu menyiapkan nampan-nampan saja. Aku akan memastikan kau mendapat jumlah bayaran yang sama dengan yang kau hasilkan jika kau bekerja di luar."
"Terima kasih. Tapi bolehkah aku berganti pakaian?" Tanyaku, aku harus menyingkirkan semua kotoran yang menempel padaku.
Andrew tersenyum, "Ya. Pergi dan ambillah salah satu pakaian *cart girl dari kantor. Malam ini kita telah menggunakan seluruh seragamtambahan penyaji."
Aku menegakkan diri dari posisi bersandarku di meja dapur dan berjalan menuju pintu.
"Tidak usah terburu-buru. Kita akan baik-baik saja di sini jika kau butuh istirahat." Andrew berseru ketika aku keluar dari dapur.
Saat aku berjalan keluar, Kibum dan Hyun berdiri di lorong nampaknya sedang dalam adu argumen yang panas. Hyun mengirimkan tatapan sedingin es kearahku. Aku dapat melihat ekspresi frustrasi di wajah Kibum. Aku hanya menyebabkan kesedihan baginya. Aku tidak mau melihat kejadian ini. Mereka bisa terlibat dalam perselisihan keluarga namun pada akhirnya akan menyelesaikannya. Setelah malam ini, aku seharusnya sudah memiliki cukup uang untuk pindah keluar. Besok aku akan menemukan tempat tinggal karena tidur seatap dengan Kibum sangat tidak memungkinkan. Aku memutar dan membuka pintu yang menuju keluar.
"Kyuhyun, tunggu," Kibum berseru.
"Biarkan dia pergi, Bum," ujar Hyuna.
"Aku tidak bisa," jawabnya.
Pintu menutup di belakangku dan aku berusaha menghalangi apa yang mungkin akan kudengar. Aku tidak perlu berpikir atau bahkan mempertimbangkan bahwa Kibum akan memperjuangkanku.
Pintu mengayun terbuka dan Kibum berlari keluar dari sana. "Kyuhyun, kumohon tunggu. Bicaralah padaku," dia memohon.
Kuhentikan langkahku dan memandang ketika dia berlari kencang untuk berdiri di depanku. Tidak ada lagi yang perlu kukatakan padanya. Aku telah mengatakan semuanya.
"Maafkan aku. Namun kau salah. Aku tidak mengabaikanmu di sana. Tanyalah pada semua orang. Mataku tidak pernah lepas darimu. Jika ada pertanyaan dalam benak siapa pun mengenai bagaimana perasaanku padamu, dengan kenyataan bahwa aku tidak bisa berpaling darimu selama kau berjalan berkeliling dalam ruangan itu, pasti menjadi jawabannya," Kibum berhenti sejenak dan mengusap rambutnya lalu menggumamkan makian. "Kemudian aku melihat ekspresi wajahmu ketika kau melihat Luhan bersama Stephen. Sesuatu di dalam diriku terkoyak. Aku tidak mengetahui apa yang kau pikirkan tapi aku menyadari kesalahan malam ini. Kau seharusnya tidak di sana melayani semua orang. Kau semestinya ada di sisiku. Aku menginginkan kau ada di sisiku. Aku merasa amat gugup menanti siapa saja yang akan berbuat salah padamu sehingga aku lupa untuk bernapas hampir sepanjang waktu."
Kibum meraih dan menjalarkan jemarinya pada tanganku yang terkepal. "Jika kau bisa memaafkanku, aku berjanji hal ini tidak akan pernah terjadi lagi. Aku menyayangi Hyuna. Namun aku sudah cukup berusaha menyenangkannya. Dia adikku dan memiliki beberapa masalah yang harus dia selesaikan. Aku telah memberitahunya bahwa aku akan bercerita segalanya padamu. Ada beberapa hal yang
harus kukatakan padamu." Kibum memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam. "Aku berurusan dengan fakta bahwa kau mungkin akan pergi menjauh dariku begitu kau tahu semua permasalahannya dan tidak akan pernah melihat ke belakang. Hal itu amat sangat menakutkanku. Aku tak tahu apa yang sedang terjadi diantara kita namun sejak pertama kali aku menjatuhkan pandangan padamu aku tahu kau akan mengubah duniaku. Aku sempat ketakutan. Semakin aku memperhatikanmu semakin kau membuatku tertarik. Aku tidak bisa merasa cukup dekat denganmu."
Dia telah siap membuka diri padaku dan membiarkanku masuk. Dia tidak hanya memanfaatkanku. Aku bukan hanya gadis sembarangan lain yang ditidurinya kemudian dia campakkan. Dia telah siap membiarkanku masuk ke dunianya yang penuh rahasia. Dia ingin memilikiku. Hatiku telah menyerah. Aku telah berusaha menahan diri dan berjuang keras agar Kibum tidak mengambil alih. Tetap saja, dia berusaha untuk memilikinya. Melihatnya sedemikian rapuh merupakan kendali terakhir. Aku tidak mampu menahan diri lagi.
Aku telah terjatuh terlalu dalam.
"Oke," jawabku. Tidak ada lagi yang harus dikatakan. Dia memilikiku.
Kibum mengernyit. "Oke?"
Aku mengangguk. "Oke. Jika kau memang sangat ingin memilikiku hingga kau bersedia membuka diri padaku, maka oke." Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku mencintainya. Itu terlalu dini. Dia akan berpikir itu karena aku masih amat muda. Hal itu adalah sesuatu yang aku simpan hingga tiba waktunya nanti. Mungkin memang karena aku masih amat muda. Aku merasa tidak ada yang berubah.
Seringaian kecil terbentuk di bibir Kibum. "Aku baru saja membuka jiwaku padamu dan yang kudapatkan hanya sebuah kata 'oke' ?" tanyanya.
Aku mengendikkan bahu, "Kau telah mengatakan semua yang ingin aku dengar. Sekarang aku telah terperangkap. Kau mendapatkanku. Apa yang akan kau lakukan padaku?"
Kibum melepaskan suara tawa rendah yang seksi dan menarikku untuk mendekat. "Aku berpikir berhubungan seks di lubang keenam belas yang terletak di samping danau pasti menyenangkan."
Kumiringkan kepalaku seakan aku sedang mempertimbangkannya. "Hmmm... masalahannya adalah aku seharusnya berganti pakaian dan kembali bekerja di dapur sepanjang malam."
Kibum menghela napas berat. "Sial."
Aku mendaratkan ciuman pada rahangnya. "Kau memiliki seorang adik yang harus kau temani," aku mengingatkannya.
Lengan Kibum mengetat disekelilingku. "Yang dapat kupikirkan saat ini hanyalah berada di dalam dirimu. Mendekapmu erat padaku dan mendengarmu mengeluarkan desahan kecil yang seksi."
Oh. Ya ampun. Degup jantungku meningkat oleh pemikiran itu.
"Jika saja aku dapat melepaskan dirimu dengan mudah, aku akan membawamu ke kantor itu dan merapatkanmu ke dinding dan menenggelamkan diriku didalammu. Namun aku tidak bisa berhubungan seks cepat denganmu. Kau membuatku sangat kecanduan."
Penjelasannya membuatku sulit bernapas dan memegang erat bahunya. "Salinlah pakaianmu. Aku akan berdiri di luar sini agar aku tidak tergoda. Nanti akan kutemani kembali ke dapur." Kibum berkata saat perlahan melepaskanku.
Aku membutuhkan waktu sejenak untuk mendapatkan kembali kendali atas diriku sebelum aku melepaskan lengannya. Lalu aku berbalik dan terburu-buru memasuki kantor.
***KH***
Aku tidak melihat Kibum lagi setelah dia meninggalkan aku di pintu dapur dengan ciuman kilat. Malam seakan tak berujung dan aku kelelahan. Menyiapkan makanan ternyata lebih sulit daripada kelihatannya. Setelah tempat itu dikosongkan kami kemudian diberi tugas untuk membersihkan.
Tiga jam kemudian waktu menunjukkan hampir pukul 4 pagi. Aku melangkah tersaruk-saruk menembus kegelapan dini hari dan menuju ke arah trukku ada bagian dari diriku mengharapkan Kibum menungguku namun dia harus tidur di dalam mobilnya jadi itu merupakan hal yang konyol.
Kunyalakan mesin trukku dan mengarah ke rumah Kibum. Aku tidak perlu kembali bekerja hari ini jadi aku bisa tidur. Aku pun tidak perlu menemukan apartemen lagi. Ketika aku menepi di jalanan masuk aku menatap keatas melihat bahwa lampu masih menyala di kamar Kibum. Bagian atas rumah terlihat terang dibandingkan dengan kegelapan yang menyelimuti sisa rumah tersebut.
Pintu depan tidak terkunci jadi aku masuk dan dengan perlahan menutup pintu di belakangku. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah Kibum masih terjaga atau dia tertidur dengan lampu menyala? Apakah aku harus ke kamarnya atau kamarku?
Aku berjalan menuju ke tangga dan menemukan Kibum sedang duduk di lantai bersandar pada pintu kamar dan menatap langsung kearahku. Apa yang sedang ia lakukan?
Ketika matanya menemukan mataku dia berdiri dan berjalan kearahku. Aku bertemu dengannya di pertengahan jalan. Dia terlihat putus asa. Aku tidak tahu apa penyebabnya. "Aku membutuhkanmu di atas. Sekarang," dia berkata dengan suara tegang.
Degup jantungku meningkat. Apakah ada seseorang yang terluka? Apakah Kibum baik-baik saja?
Aku tergesa-gesa mengikuti di belakangnya. Dia menutup pintu dan menguncinya. Dia tidak pernah menguncinya. Lalu tiba-tiba tangannya sudah bergerilya di tubuhku bahkan sebelum kami menaiki tangga.
Itu seperti seolah-olah seorang pria liar yang telah mengambil alih. Kibum menjalarkan tangannya menuruni pinggulku dan melewati pantatku kemuadian naik lagi. Aku mendengar sebuah kancing terlepas dan mengerenyit. Itu adalah seragam kerja. Aku mulai bertanya apa yang sedang terjadi namun mulutnya menutupi mulutku dan lidahnya juga meluncur masuk. Tangannya menemukan kaitan celana pendekku dan disentakkan untuk dibuka dia mulai mendorongnya kebawah. Geraman kelaparan kecil yang dibuatnya mengakibatkan tubuhku bereaksi. Aku mulai merasakan basah diantara kedua kaki dan denyutan yang mendamba.
Kibum mendorongku terbaring pada tangga dan menyentak lepas sepatuku serta meloloskan celana pendek beserta celana dalamku kemudian mencengkeram kedua lututku dan dipisahkannya. Aku tidak sempat berpikir sebelum mulutnya ada padaku, lidahnya menjilati lipatanku dan menyelinap kedalam. Akibat seks liar yang kami lakukan malam sebelumnya kewanitaanku masih sangat sensitif pada setiap belaian lidahnya. Aku mulai meneriakkan namanya. Menumpu pada sikuku aku mengamati ketika dia menghujani sepanjang pahaku dengan ciuman kemudian menguburkan wajahnya diantara kakiku lagi membuatku terengah-engah dan memohon.
"Milikku. Ini milikku," katanya berulang-ulang seperti pria yang sedang kerasukan saat dia menatap ke arah kewanitaanku. Dia menjalarkan tangannya ke tengah dengan lembut kemudian mengalihkan pandangannya langsung ke mataku, "Milikku. Vagina manis ini adalah milikku, Kyu."
Aku siap menyetujui segalanya jika dia bersedia membuatku mencapai orgasme. Namun pertama-tama aku menginginkan dia berada di dalamku.
"Katakan bahwa ini milikku," pintanya.
Aku mengangguk dan Kibum menyelipkan satu jari masuk ke dalamku menyebabkan rintihan lain terlepas dari mulutku. "Katakan bahwa ini milikku," ulangnya.
"Itu milikmu, sekarang kumohon Kibum, setubuhi aku."
Matanya melebar lalu dia berdiri dan melepaskan kancing piyama yang dia kenakan. Ereksinya berdiri tegak.
"Malam ini tanpa kondom. Aku akan ejakulasi di luar. Aku hanya perlu merasakanmu seutuhnya," ujarnya saat dia menaikkan lututku dan dia menurunkan tubuhnya sehingga penisnya berada di pintu masukku. Dia tidak menghujamku seperti yang kuperkirakan. Kibum bergerak dengan pelan.
"Apakah ini menyakitkan?" tanyanya saat dia menahan tubuhnya di atasku.
Sejujurnya terasa sedikit nyeri namun aku tidak akan mengakuinya. Aku menginginkannya tanpa kendali. "Ini terasa nikmat," aku meyakinkan dia.
Dia menggigiti bibir bawahnya dan dengan perlahan menarik keluar. "Tangga ini terlalu keras untukmu. Kemarilah." Dia membungkuk dan meraupku ke lengannya dan mulai melangkah menaiki tangga. Sebelumnya aku tidak pernah dibopong oleh seorang pria dan dapat kukatakan bahwa ini adalah pengalaman yang sempurna. Dada telanjang Kibum yang sedang menggendongku luar biasa.
"Maukah kau melakukan sesuatu untukku?" dia bertanya sambil menundukkan kepalanya untuk memberikan ciuman-ciuman kecil pada hidung dan kelopak mataku.
"Ya," jawabku.
Dia berhenti di samping ranjang dan dengan perlahan menurunkanku hingga kakiku menyentuh lantai. "Berbalik, membungkuk dan baringkan dadamu mendatar di tempat tidur. Letakkan tangan diatas kepalamu dan biarkan pantatmu terangkat di udara."
Um... oke. Aku tidak menanyakan alasannya karena aku sudah mengerti maksudnya. Tetap menjejakkan kakiku di lantai, aku membungkuk ke depan dan berbaring di ranjang dengan posisi seperti permintaannya.
Tangannya merayap diatas pantatku dan dia mengeluarkan suara puas di dalam tenggorokannya. "Kau memiliki pantat paling sempurna."
Kedua tangannya berpegangan pada pinggulku dan perlahan dia memasukiku menarikku mundur saat memasukiku. Dengan posisi ini dia terkubur jauh lebih dalam. "Kibum!" Aku berteriak ketika merasakan sekilas rasa nyeri dari kedalaman yang telah dicapainya.
"Sial, aku merasa sangat dalam," raungnya.
Lalu dia menarik keluar perlahan dan pinggulnya mulai bergerak. Aku mencengkeram sprei saat tubuhku mulai mencapai klimaks. Mengetahui apa yang akan terjadi dan kakiku mulai bergetar dari kenikmatan yang mulai terbangun di dalam diriku.
Salah satu tangan Kibum menyelip turun hingga menyentuh klitku yag bengkak dan dia mulai mengusapnya. "Ya Tuhan, kau basah kuyup," katanya sambil terengah.
Kakiku menjadi kaku saat orgasme menyapuku kemudian aku pun berusaha melepaskan diri karena tak mampu menanggung sensasi dari Kibum yang masih terus menerus membelaiku. Terlalu banyak kenikmatan sehingga terasa menyakitkan. Sebelum aku bisa memohon belas kasihan, tangannya mencengkeram pinggulku dan dia menarik keluar penisnya dengan cepat.
"GAAAAH!" Kibum berteriak saat aku ambruk ke ranjang mengetahui walaupun aku tidak melihatnya bahwa dia telah menarik keluar sebelum dia orgasme.
"Sial baby, jika saja kau tahu betapa menakjubkannya pantatmu terlihat sekarang," ujarnya dengan suara terengah-engah.
Kuputar kepalaku ke samping karena tidak sanggup mengangkatnya dan aku memandangnya. "Kenapa?"
Sebuah kekehan rendah menderu dari dalam dadanya. "Katakan saja aku perlu membersihkanmu."
Kesadaranku muncul dan rasa hangat pada pantatku yang sebelumnya tidak kuperhatikan tiba-tiba saja mendapat perhatianku. Sebuah cekikikan terlepas dan kubenamkan wajahku di tanganku.
Aku terbaring disana mendengarkan ketika dia menyalakan air dan kemudian berjalan kembali kearahku. Kehangatan dari handuk kecil saat dia menyekaku untuk membersihkan cairan spermanya terasa menyenangkan dan perlahan aku mulai tertidur. Aku kelelahan. Aku bertanya-tanya akankah aku bangun lagi?
***TBC***
*Cart girl: gadis penjual konsumsi seperti minuman atau makanan ringan di lapangan golf. Mereka menggunakan semacam kendaraan yang mirip mobil mini.
