-You, and The Time-

Cast : Cho Kyuhyun as Kim Kyuhyun

Kim Kibum as Kim Kibum

Lee Donghae as Kim Donghae

Choi Siwon of Super Junior as Choi Siwon

Kim Ji Won [OC]

Choi Seung Hwan [OC]

Kim Jae Rim [OC]

Warning : sorry for typo(s).

.

.

Chapter 11 – Happy Reading!

Siwon kini sudah berada di depan pintu sebuah apartemen. Beberapa menit telah berlalu dan ia hanya mematung di depan pintu itu. Siwon sebenarnya tak menginginkan situasi ini, ia tak perlu susah payah menemui sang Ibu jika saja ini tidak menyangkut tentang Kyuhyun. Tapi mau tidak mau, ia harus berani.

Dengan ragu Siwon menekan bel yang ada di sebelah pintu, tak lama kemudian terdengar suara seseorang dari dalam. Siwon menghela napas, Ibunya benar-benar tinggal di apartemen ini.

"Siapa yang dat-" Pintu itu akhirnya terbuka, diikuti oleh ekspresi terkejut dari seorang wanita yang masih menggunakan celemek, mata wanita itu semakin melebar saja menatap Siwon, namun Siwon hanya menatapnya dengan tenang ditambah ekspresi yang datar. Siwon hanya terdiam melihat Ibunya yang nampak terkejut bukan main melihat kedatangannya.

"Apa aku tidak boleh masuk?" Tanya Siwon dingin.

"Ah, maafkan aku. Tentu saja silakan masuk, Siwon-ah. M-maaf ini masih berantakan." Wanita itu segera masuk dan dengan terburu-buru membereskan setumpuk berkas-berkas yang berserakan di sekitar meja ruang tamu.

"Tidak perlu dibereskan seperti itu, lagipula aku tidak akan mengurusi pekerjaan orang sibuk sepertimu."

"Ah, tidak, ti-tidak apa-apa, Siwon-ah. Aku sedang memasak, apa Eomma perlu me-"

"Jangan sebut kata itu di depanku! Sudah kubilang aku tidak punya Eomma! Dan tidak perlu membuatkan makanan, segera selesaikan pekerjaanmu lalu kita bicara, aku tidak punya waktu banyak." Siwon berteriak.

"M-maafkan aku, Siwon-ah. Baiklah, aku akan segera menyelesaikannya." Wanita itu menghilang secepat kilat di balik dinding pemisah ruang tamu dan dapur.

Siwon hanya mendesah, ia benar-benar merasa jengkel. Siwon tampak mengedarkan pandangannya ke sekitar ruang tamu minimalis itu. Tidak banyak barang disana, hanya hiasan meja kecil tapi terlihat elegan—persis seperti kepribadian sang Ibu yang 'praktis'. Namun akhirnya pandangan Siwon beralih menuju berkas-berkas yang ada di ujung meja. Siwon memang bukan tipe orang yang mudah ingin tau tentang urusan orang lain, namun entah kali Siwon benar-benar merasa penasaran.

"Siwon-ah, kau ingin kopi, teh, atau yang lain?"

Lamunan Siwon menguap.

"Tidak perlu. Terimakasih. Aku harus segera pergi."

"Baiklah, apa yang ingin kau sampaikan?" Wanita itu duduk di depan Siwon.

"Aku sudah menerima hadiahnya. Dari Kyuhyun." Tanpa ragu Siwon mengucapkan nama 'Kyuhyun'.

"Kyuhyun? Pasien mu yang satu itu baik sekali, aku bertemu dengannya di Bus. Pasti Kyuhyun sudah menceritakannya padamu, Siwon-ah. Suruhlah dia datang kesini."

"Tunggu, pasien?" Siwon mengernyit.

"Astaga, Eomma- ah maaf, aku bertemu dengan Kyuhyun di Rumah Sakit, dan ketika itu Kyuhyun berada di ruanganmu, jadi tak salah kan aku menyebutnya pasien mu?"

"Baiklah, dia memang pasienku." Siwon berusaha berbicara dengan tenang. "Sekarang aku ingin bertanya, mengapa kau menyuruh Kyuhyun yang memberikan hadiahnya padaku? Mengapa kau tidak menyuruh orang lain? Aku tau kau bukan orang yang mudah percaya pada orang lain, apalagi orang yang belum pernah kau kenal seperti... Kyuhyun?"

"Kyuhyun sendiri yang berkata ia sudah menjadi temanmu sejak kecil, jadi aku percaya padanya. Meskipun aku tidak sempat tau siapa saja teman masa kecilmu. Aku juga merasa Kyuhyun memang nyaman bersamamu, Siwon-ah. Kyuhyun—dia anak yang baik." Tatapan wanita itu meneduh.

"Aku tidak akan mempermasalahkan hubunganku dengan Kyuhyun, tapi aku meminta tolong padamu, jangan mendekati Kyuhyun. Alasannya adalah kau sama sekali tak tau seperti apa kehidupanku, kau tidak tau teman-temanku, dan yang paling penting adalah, Nyonya sama sekali tidak mengenal siapa itu Kyuhyun. Jadi aku meminta tolong padamu, Nyonya, jangan menganggu kehidupan Kyuhyun." Ucap Siwon dengan begitu tegas.

"Si-Siwon-ah, ada apa denganmu? Aku hanya meminta tolong pada Kyuhyun. Kau bersikap seolah aku akan mencelakai Kyuhyun. Aku mengakui, aku memang tidak mengenal Kyuhyun, dan juga aku tidak suka bergaul dengan orang baru sepertinya, tapi aku tetap melakukannya Siwon-ah, kupikir aku bisa meminta tolong padanya ketika aku ingin memberikan sesuatu padamu. Tidak mungkin jika aku langsung memberikannya padamu, aku tau kau akan membuangnya di depanku, dan jika aku meminta tolong pada Kyuhyun, setidaknya aku tak akan tau apakah kau membuangnya atau tidak." Mata wanita itu memerah.

Siwon menatap mata sang Ibu. Diam-diam hatinya seperti tertusuk-tusuk. Benar, itu benar jika ia akan membuang semua pemberian ibunya, bahkan terkadang ia tak menyentuhnya sedikitpun. Siwon menyesal, hatinya terasa begitu sakit, tapi lagi-lagi rasa egois selalu memenangkan hatinya terlebih dahulu. Siwon terlalu malu untuk mengakui bahwa sebenarnya ia merindukan hangatnya pelukan seseorang yang mulai menangis di depannya itu.

"Maafkan aku, aku harus pergi."

Siwon mengambil jas dan tasnya dengan kasar. Ia juga tak menoleh sedikitpun ke arah Sang Ibu yang tampak menatap kepergiannya dengan sedih, ia benar-benar tak mampu menatap Ibunya.

Tapi siapa yang menyangka jika setelah Siwon menghilang dari pintu, wanita itu menghapus air matanya kemudian tersenyum dengan licik. "Rupanya kau sudah mulai mencurigaiku, Siwon-ah. Baiklah, jika begitu aku tak bisa berlama-lama lagi."

.

.

.

.

(Another Side)

"Maksudmu, hubungan Kibum dan Kyuhyun dulu tak begitu baik, begitu?"

"Iya, Nyonya. Bahkan bisa dibilang itu benar-benar buruk sampai Kibum ingin membunuh adiknya sendiri."

"Apa?! Kau tidak bergurau, kan? Aku tidak ingin mendapat informasi yang salah."

"Aku yakin Nyonya, aku menyuruh anak buahku untuk menyelidikinya. Apa Nyonya ingin aku memanggil anak buahku itu untuk berkata langsung di depan Nyonya?"

"Tidak, tidak perlu. Ya, aku yakin anak buahmu itu bukan orang sembarangan. Ya, lanjutkan saja ceritamu."

"Kibum mulai berbubah ketika Tuan Kim Ji Won dan Nyonya Kim Jae Rim meninggal. Sejak saat itu Kim Donghae yang mengambil alih perusahaan Tuan Kim. Kim Donghae adalah orang yang dewasa, ia bisa menjaga adik-adiknya dengan baik hingga saat ini. Dan Nyonya, sejak kecelakaan itu, Tuan Choi semakin dekat dengan Kyuhyun, Kibum, maupun Donghae."

"Baiklah, aku mulai mengerti, dan juga tentu saja Choi Seung Hwan tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu untuk lebih dekat dengan anak kandungnya. Tapi, aku masih tidak percaya dengan Kibum. Bagaimana menurutmu? Aku tau kau sedang memikirkan sebuah rencana."

"Kupikir kita bisa memulainya dengan mempengaruhi Kibum, Nyonya."

"Bagus, tidak salah aku memilih orang sepertimu. Lalu bagaimana, apakah kau bisa melakukannya sekarang juga?"

"Tentu saja, Nyonya. Apa yang harus kulakukan pada Kibum?"

Wanita yang tak lain adalah Ibu Siwon itu hanya tersenyum mengerikan.

.

.

.

.

Kibum mendesah ketika ia merasa ponselnya bergetar tak henti. Itu nomor asing dan Kibum benar-benar membenci itu.

"Ya, halo?"

Tidak ada jawaban, yang ada hanya suara riuh yang begitu keras.

"Halo? Siap-"

"Kim Kibum?"

"Ya, benar. Anda siapa?"

"Kibum-ssi, kau mengenal Kim Kyuhyun?"

"Adikku. Ada apa dengan adikku?" Kibum menjawab tanpa berbasa-basi.

"Ada kecelakaan kecil Kibum-ssi, tapi sepertinya kondisi adikmu tidak begitu baik. Dia dilarikan ke Rumah Sakit."

"Baiklah, terimakasih."

Kibum seketika panik, ia benar-benar tak bisa menyembunyikannya. Namun Kibum tak begitu saja percaya, ia membuka galeri ponselnya dengan tergesa, ia mencari jadwal kuliah Kyuhyun yang memang sengaja ia minta pada Kyuhyun untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu. Kibum mengamatinya, memang benar jadwal kuliah Kyuhyun sudah selesai 2 jam yang lalu, Kibum juga sempat melihat Kyuhyun di kantin bersama Changmin tadi.

Kibum masih belum mempercayai kata orang asing itu, ia memilih menelepon Kyuhyun terlebih dahulu. Kibum berusaha menenangkan diri.

.

Beberapa menit berlalu sampai Kibum akhirnya sekarang ia sedang berlari memasuki Rumah Sakit. Ia tak bisa menghubungi Kyuhyun maupun Changmin. Dan ia tau ia tidak mungkin menelpon Donghae yang sedang sibuk di kantornya. Tak ada yang lain dipikiran Kibum selain ia harus sesegera mungkin menuju resepsionis dan-

"Kim Kibum!"

Kibum menghentikan langkahnya, ia menoleh ke arah suara yang memanggil namanya. Dahi Kibum berkerut, tanpa ragu ia berjalan mendekati pria yang memanggilnya itu.

"Aku yang menelponmu tadi, Kibum-ssi."

"Dimana Kyuhyun?" Kibum benar-benar tak bisa berbasa-basi saat ini.

"Ada di dalam, ikuti aku, Kibum-ssi."

Entah karena Kibum terlalu panik atau apa, ia merasa dunianya seperti berputar, semakin cepat dan cepat sebelum ia melihat pria itu tersenyum ke arahnya dan gelap merenggut kesadarannya.

.

.

.

.

Sudah hampir 1 jam Kyuhyun meringkuk di atas sofa. Sebenarnya Kyuhyun berniat menunggu Kibum pulang lalu mengajaknya untuk memasak makanan, tapi karena hari ini hujan turun begitu deras, Kyuhyun tak kuasa menahan rasa bosannya hingga akhirnya ia tertidur.

Disisi lain, seseorang dengan tubuh basah kuyup itu membuka pintu dengan perlahan. Wajah pucatnya hanya memandang datar ke arah seseorang yang sedang tertidur di sofa. Kibum—seseorang itu, kemudian mendekat ke arah Kyuhyun. Ditatapnya lama wajah yang terlihat begitu lelap itu.

"Kibum-ah!"

Kibum berjingkat mendengar namanya dipanggil. Ia kemudian menoleh ke arah pintu, Donghae sudah berdiri di sana tanpa ia ketahui sama sekali.

"Kenapa kau memandangi Kyuhyun seperti itu? Dan kenapa dia bisa tertidur di sana?"

"Aku tidak tau." Jawab Kibum sambil membuang muka.

"Kau sakit, Bum? Apa kau kehujanan?"

"Ya, sedikit. Tidak apa-apa. Aku pergi ke kamar dulu." Kibum segera melesat menaiki tangga menuju kamarnya.

Donghae sedikit terheran, tapi ia tak ingin memikirkannya terlalu dalam. Ia tau kebiasaan Kibum yang memang sering bad mood seperti itu. Kini Donghae memilih untuk meletakkan tasnya di sofa, kemudian duduk berlutut di samping Kyuhyun yang belum juga bangun.

Seperti biasa, Donghae hanya berbisik untuk membangunkan Kyuhyun, lalu membiarkan adiknya itu bangun dengan sendirinya. Ini bukan jam tidur Kyuhyun, jadi akan lebih mudah untuk membangunkan adik terkecilnya itu.

Tapi nyatanya Donghae terpaksa keheranan untuk yang kedua kalinya. Tak berbeda jauh dengan Kibum, Kyuhyun juga hanya menjawabnya dengan perkataan singkat, lalu pergi meninggalkannya.

'Ada apa ini? Apa hujan membuat mereka berdua bad mood?' Ucap Donghae dalam hati.

.

.

Donghae mendesah lega, setidaknya suasana di rumah sudah kembali menghangat ketika mereka tengah menikmati makan malam. Walau nyatanya Donghae harus membeli makanan yang enak dan mahal untuk adik-adiknya yang sedang gundah itu. Ya, mereka berdua sedang merajuk rupanya.

"Yak! Ada apa dengan kalian berdua? Bum, Kyu, kalian aneh sekali hari ini." Donghae membuka suara tepat saat ia baru menelan suapan terakhirnya.

Kedua adiknya—yang nyatanya sudah bukan anak kecil lagi—itu hanya menatap Donghae lebar-lebar dengan mulut belepotan mengunyah makanan mereka. Imut sekali seperti anak kecil.

"Aigoo, tatapan kalian membuatku merinding." Donghae mendesah.

"Aku hanya malas dan mengantuk. Aku ingin tidur." Kyuhyun menjawabnya.

"Aku sedang ada masalah dengan kuliahku." Kibum menyusul.

"Iya baiklah, aku mempercayai jawaban kalian."

Kibum dan Kyuhyun hanya diam, seakan tidak peduli dengan Donghae.

"Kibum, besok ikut aku ke kantor." Donghae kembali bersuara.

"Aku? Kenapa?"

"Kau lupa?"

"Kau berkata 2 minggu lagi."

"Iya, memang 2 minggu lagi. Besok aku hanya akan mencari posisi yang pas untukmu. Setidaknya kau bisa lebih mudah mempersiapkannya ketika kau sudah tau apa dan bagaimana posisimu nanti."

"Baiklah." Jawab Kibum pasrah.

"Kyu, kau dirumah saja ya. Ajak Changmin atau temanmu yang lain juga tidak apa-apa. Aku dan Kibum mungkin akan pulang sore hari, kurasa akan banyak yang harus diurus besok."

"Ya, aku saja yang pergi ke rumah Changmin."

"Baiklah, aku tak melarangmu kali ini. Yang penting tetap jaga diri baik-baik. Ketika aku dan Kibum pulang, kau sudah harus ada di rumah. Oke?"

Kyuhyun mengangguk.

.

.

.

.

Flashback

"Kibum-ah, ini sudah pertemuan yang ketiga, ku harap kau bisa bersikap dewasa. Dengan begitu semua akan cepat teratasi." Dokter Jungsoo menatap Kibum dengan tatapan penuh harap. Sedangkan Kibum sendiri hanya memandang ke arah lain dengan pandangan kosong.

Itu untuk yang ke sekian kalinya Dokter Jungsoo mengharap dengan tulus pada Kibum. Bukan Dokter Jungsoo mulai menyerah, tapi ini adalah salah satu cara Dokter murah senyum itu meluluhkan hati Kibum. Meski Kibum belum menunjukkan perubahan sikap di depan Kyuhyun, tapi setidaknya Kibum mulai bersedia mendengarkan perkataan orang lain.

"Selamat pagi Kibum-ah." Sapa Dokter Choi yang sudah berada di dalam Ruang Rawat Kyuhyun.

Kibum hanya tersenyum kecil, mengangguk hormat pada Dokter Choi yang masih setia menatapnya dengan teduh, lalu memandang Kyuhyun yang tampak melamunkan sesuatu.

"Kibum-ah, kau sudah sarapan?" Dokter Choi bertanya.

"Belum." Jujur Kibum.

"Kau mau sarapan bersama Kyuhyun?"

Kibum terperanjat, begitu juga dengan Kyuhyun. Keduanya saling menatap heran. Dokter Choi tampak tersenyum kecil pada Dokter Jungsoo, keduanya memang sengaja telah merencanakan sesuatu untuk Kibum dan Kyuhyun.

"Kyu, ayo ajak Kibum makan bersama denganmu. Kenapa kalian seperti orang asing begitu." Dokter Jungsoo mencoba menghangatkan suasana.

"Tidak, aku bisa sarapan sendiri nanti." Kibum langsung menolak.

"Kau yakin, Bum? Kyuhyun masih harus sarapan, lalu membersihkan diri, meminum obat, dan baru kita memulai pembicaraannya. Tidak apa-apa kalau kau mau menunggu, tapi ini akan lama karena Kyuhyun ingin melakukannya sendiri."

Kibum tampak berpikir, sebelum ia mulai sadar akan sesuatu.

"Mengapa kita tidak memulainya ketika dia sudah selesai mengerjakan semuanya? Aku juga bisa bersiap-siap, sarapan, dan melakukan hal lain." Kibum menjawabnya dengan tenang.

"Lagipula ini sudah terjadwal oleh Rumah Sakit, Bum. Dan Kyuhyun tampaknya bangun terlalu siang hari ini." Dokter Jungsoo tersenyum kecil ke arah Kyuhyun yang tampak menekuk wajahnya.

"Baiklah, aku akan sarapan bersama Kyuhyun. Hei, kau mau tidak aku membantumu?" Kibum bertanya dengan malas.

Kyuhyun tampak terdiam untuk beberapa saat, kemudian Ia mengangguk.

Kibum melangkah mendekati Kyuhyun, kemudian dengan cekatan menyiapkan makanan yang memang sudah berada di meja. Kibum memberikan makanan itu pada Kyuhyun, Kyuhyun mencoba memakannya dengan kesulitan karena jarum infus kebetulan tertusuk di tangan kanannya.

Melihat itu Kibum menghelan napas, kemudian mengambil kembali semangkuk nasi bercampur sup itu dari tangan Kyuhyun, lalu menyuapkannya pada Kyuhyun.

Kyuhyun tampak ragu, namun tanpa disadari keduanya sudah tampak lebih baik, bahkan sesekali mereka tersenyum kecil. Kedua Dokter yang hanya bisa mengamati keduanya pun diam-diam merasa lega melihat interaksi Kyuhyun dan Kibum.

Beberapa menit berlalu sampai akhirnya Kyuhyun telah selesai dengan sarapannya, bahkan Kibum juga sudah membantu Kyuhyun mengganti baju pasiennya dengan baju yang baru. Wajah keduanya tampak lebih santai dan segar.

"Baiklah, pertemuannya selesai." Ucap Dokter Jungsoo sebelum Kibum sempat bersuara.

"Apa? Aku bahkan belum membicarakan apapun dengan Kyuhyun." Kibum protes.

"Kau sudah mengajaknya berbicara tadi, kau menyuapi adikmu, mengganti baju adikmu, dan membantu adikmu meminum obatnya. Bukankah sudah cukup untuk hari ini, Dokter Choi?"

"Tentu saja. Lusa kalian akan bertemu lagi, kuharap kalian benar-benar bisa menyelesaikan masalahnya. Kibum, kau boleh pergi sekarang. Dan Kyuhyun, aku berharap kau benar-benar menjaga emosimu, jika seminggu ini kondisimu baik, kau boleh pulang. Mengerti?"

Kyuhyun hanya mengangguk, sedangkan Kibum yang tampak kesal itu langsung melangkah keluar dari sana.

"Apa kau merasa sakit, Kyu?" Tanya Dokter Jungsoo tiba-tiba. Ia sedikit heran terhadap sikap Kyuhyun yang tak begitu banyak berbicara pagi ini.

"Tidak, aku baik." Jawab Kyuhyun singkat—tanpa ragu.

"Ada perawat yang akan masuk setelah ini. Kami pergi dulu."

Kedua Dokter itu akhirnya melangkah keluar dari kamar rawat itu, meninggalkan Kyuhyun seorang diri yang kini tampak melamun. Ya, Kyuhyun melamunkan Kibum. Ia juga tak menyadari apa yang terjadi pagi ini, itu hanya mengalir begitu saja. Kyuhyun tersenyum tipis, setidaknya ia merasa jauh lebih baik setelah melihat Kibum datang padanya seperti tadi. Namun siapa yang menyangka, disisi lain sebenarnya Kibum telah berubah—sama sekali berbeda.

End of Flashback.

.

.

.

.

Kibum menatap beberapa laporan perusahaan di tangannya dengan pandangan kosong. Kibum memikirkan sesuatu, lebih tepatnya sesuatu yang sudah lama tak ingin diingatnya lagi. Kibum baru menyadarinya beberapa jam yang lalu—seseorang tengah berusaha mengusik luka lamanya. Entah Kibum juga tak tau siapa dan mengapa orang itu mencoba ikut campur dengan masa lalunya.

"Hyung, bolehkah aku masuk?"

Suara halus Kyuhyun ternyata mampu membuat Kibum menjingkat. Adiknya itu sudah berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah tanpa ekspresi.

"Tentu saja, Kyu."

"Apa yang kau kerjakan, Hyung? Sepertinya sibuk sekali." Ucap Kyuhyun sambil berjalan masuk menuju ranjang Kibum.

"Bukan apa-apa. Ini milik Donghae Hyung dan dia memintaku membantunya."

"Ah, ya sudah kalau begitu."

"Ada apa?"

"Tidak ada."

"Kau bohong, pasti kau menginginkan sesuatu."

Kyuhyun diam sebelum akhirnya menjawab.

"Sejak tadi perasaanku tidak begitu baik, Hyung."

Kibum akhirnya menoleh ke arah Kyuhyun yang kini sudah berbaring di ranjangnya.

"Apa sesuatu terjadi?"

"Tidak, tapi disini terasa sakit dan tidak nyaman." Kyuhyun menyentuh dadanya.

"Kyuhyun-ah, kau sudah meminum obatmu, kan?" Wajah Kibum mendadak serius.

"Sudah, dan aku merasa baik-baik saja, Hyung. Ini berbeda."

"Apa kau ingin pergi keluar?" Tanya Kibum—khawatir.

"Sepertinya." Kyuhyun menghela napas.

Kibum melirik jam dinding besar di kamarnya. Pukul 7 malam dan langit memang masih tampak sore, hari itu.

"Ayo kita pergi, membeli sesuatu, lalu kembali lagi dengan cepat. Aku harus mengerjakan itu semua."

"Tidak perlu, aku hanya ingin tidur saja."

Kibum terdiam. Lama-lama hatinya juga ikut merasa sesak melihat Kyuhyun berkali-kali menghela napas berat.

"Ayo cepat, kita keluar diam-diam sebelum Donghae Hyung tau." Kibum menarik-narik tangan Kyuhyun.

.

.

Kyuhyun merapatkan jaket tebalnya—kini ia berjalan bersama Kibum menyusuri taman kota. Memang tak banyak yang dilakukan kakak beradik itu, hanya membeli makanan ringan dan berjalan-jalan.

"Hyung, apa kau benar-benar akan bergabung di perusahaan?" Kyuhyun membuka suara.

"Ya. Sebenarnya aku dan Donghae Hyung sudah merencanakannya sejak lama, hanya memang aku tidak memberitahumu. Alasannya adalah belum saatnya kau tau tentang perusaahaan. Kau harus tetap fokus dengan kuliahmu."

"Tapi kau juga sedang kuliah, Hyung."

"Apa kau sadar, Kyu? Jurusan yang kupilih sama sekali tidak sesuai dengan keadaan saat ini. Aku hanya ingin sekedar mendapat gelar saja, lagipula beberapa bulan lagi aku akan wisuda. Aku akan bekerja di perusahaan dan memulai hidup baru di sana."

"Lalu bagaimana denganku?"

"Bagaimana apanya?"

"Apakah aku akan sendirian di rumah?"

Hening setelahnya. Kibum menoleh ke arah Kyuhyun.

"Tentu saja tidak, Kyu."

"Tidak mungkin."

"Ini permulaanku, jadi aku tidak akan pulang pada tengah malam atau dini hari seperti Donghae Hyung. Aku akan pulang ketika kau juga pulang dari kuliah. Donghae Hyung sudah mengaturnya, tidak perlu memikirkan itu, Kyu."

"Hyung, kau bilang baru permulaan, kan? Artinya semakin lama situasinya akan sama seperti Donghae Hyung. Tetap saja aku akan sendirian."

"Lalu bagaimana lagi? Kau bisa mengajak Changmin menginap. Siwon Hyung mungkin juga akan sering mengunjungi. Kita tidak punya siapa-siapa lagi disini, Kyu."

Kyuhyun terdiam.

"Bagaimana? Apa yang kau takutkan, Kyu? Aku yakin kau sudah bisa menjaga dirimu dengan baik, tidak akan terjadi sesuatu yang buruk, aku yakin, Kyuhyun-ah."

"Bukan, bukan itu maksudku, Hyung."

"Lalu apa?

"Aku takut, aku takut sesuatu terjadi secara tiba-tiba."

"Sesuatu apa? Apa yang kau takutkan? Bicaralah yang jelas, jadi aku bisa memikirkan solusinya. Apa kau merasa kurang baik? Kita bisa menemui Dokter Choi sebelum sakitmu bertambah buruk. Atau ada seseorang yang membuatmu merasa terancam? Siapa itu? Katakan padaku." Kibum setengah berteriak.

Seketika Kyuhyun menatap Kibum, tampak terkejut.

Namun belum sempat Kibum kembali bertanya pada Kyuhyun, sesuatu terjadi. Kibum juga tak begitu jelas melihat seseorang yang baru saja berpapasan dengannya dan Kyuhyun, tapi setelah seseorang itu melintas dengan cepat, adiknya ambruk begitu saja.

"Kyuhyun-ah!"

Teriakan Kibum sontak mengundang perhatian orang yang sedang berada di sekitar tempat itu. Kibum mencoba tetap tenang dan fokus, perlahan ia menegakkan tubuh Kyuhyun yang sudah meringkuk itu, Kibum mencoba memperhatikan wajah Kyuhyun—sudah mulai pucat.

"Kyuhyun-ah, apa yang terjadi?"

"Sepertinya ada seseorang yang sengaja menabraknya tadi." Seseorang wanita menyahut.

"Orang berpakaian hitam, disana, masih terlihat!" Seorang anak laki-laki juga ikut menyahut.

Kibum menoleh ke arah belakang, memang seseorang yang berpakaian hitam itu masih terlihat berjalan tergesa-gesa.

"Kau yakin dia orangnya?"

"Aku yakin, aku melihatnya, Hyung. Sedari tadi aku hanya duduk dan memperhatikan sekitar." Jawab anak laki-laki yang tampaknya memang lebih muda dari Kibum itu.

Kibum mendesah, rasa paniknya belum berkurang. Ia terpaksa membiarkan orang itu pergi, bagaimanapun juga ia harus menolong Kyuhyun terlebih dahulu.

"Kau masih bisa berjalan, Kyu?" Kibum kembali berfokus pada Kyuhyun yang nyatanya tidak semakin membaik. Kyuhyun tak menjawab—sibuk dengan kegiatannya menarik napas.

Kibum memejamkan mata sejenak, entah mengapa ia merasa udara di sekitarnya menjadi semakin panas saja. Kibum akhirnya mendongak dan mendapati banyak orang mengelilinya. Ribut—orang-orang disekitarnya seolah seperti menonton drama secara langsung.

"Tolong, bisakah kalian tidak berkumpul seperti ini? Adikku tidak bisa bernapas." Kibum mengusap peluh di keningnya dengan kasar. Ia saja merasa tidak nyaman, apalagi Kyuhyun. Orang-orang di sekelilingnya perlahan mundur dan menjauh, Kibum menatap mereka lega. Dua orang diantara mereka akhirnya maju mendekati Kibum—mungkin sudah tidak tahan melihat raut wajah Kibum yang panik dan bingung.

"Apa adikmu sedang sakit?" Seorang pria paruh baya mencoba bertanya.

"Tidak... adikku.. Ah, maksudku, adikku memang kurang sehat hari ini." Kibum menjawab dengan kikuk.

"Hyung, sebaiknya kita bawa Hyung ini ke suatu tempat terlebih dahulu." Anak laki-laki tadi juga kembali bersuara.

"Ah, tolong naikkan saja ke punggungku. Aku akan membawanya ke mobil." Sahut Kibum.

Kibum tampak tergopoh-gopoh membawa Kyuhyun menuju mobilnya. Ia melaju secepat kilat dari tempat itu—meninggalkan rasa takut dan penasaran pada siapa yang mencoba mencelakai Kyuhyun malam ini. Sengaja-kah? Tapi mengapa harus Kyuhyun?

Dan Kibum, tampaknya melupakan sesuatu.

.

.

.

.

Flashback – (Beberapa saat setelah terakhir Kibum merasa kegelapan merenggut kesadarannya.)

.

Kibum tersadar ketika ia sudah berada di sebuah ruangan gelap yang sangat sunyi. Kibum benar-benar tak tau dimana ia sekarang, ia hanya terdiam dengan tangan dan kaki terikat.

"Kim Kibum?"

Kibum membulatkan matanya, berusaha mengenali tubuh seseorang laki-laki yang kini berdiri di hadapannya. Cahaya remang sama sekali tak membantunya. Namun ia yakin, orang yang tengah berdiri di depannya ini bukanlah orang yang biasa.

"Apa benar kau Kim Kibum? Jawab aku dan jangan memberontak jika kau ingin segera keluar dari tempat ini. Aku tidak akan melukaimu, hanya jawab pertanyaannku dengan tenang." Ucap orang itu dengan perlahan namun tegas.

"Ya, aku Kim Kibum. Apa alasanmu membawaku ke tempat ini?"

"Baiklah, Kim Kibum. Satu lagi, kau tak perlu bertanya tentang apapun."

Kibum terdiam seketika.

"Rupanya kau benar-benar mengkhawatirkan adikmu—Kim Kyuhyun?"

Kibum tau ini tak masuk akal, orang itu tau nama Kyuhyun juga. Kibum hanya menghela napas, berusaha membuat dirinya setenang mungkin. Kibum yakin ada banyak orang lain di tempat itu yang tak dapat ia lihat karena terlalu gelap, dan Kibum tak ingin orang-orang itu membunuh dirinya.

"Ya, tentu saja. Dia adikku."

"Oh, kakak yang baik. Apa kau benar-benar menyayangi adikmu, Kim Kibum?"

"Sebenarnya siapa kau?"

"Peraturannya, kau tak perlu bertanya tentang apapun. Hanya jawab pertanyaanku, Kim Kibum."

"Ya, aku menyayangi Kyuhyun."

"Kau tak berbohong, Kim Kibum?"

"Tidak."

"Baiklah, sekarang aku punya penawaran." Jeda, "Maukah kau menjadi Kim Kibum yang dulu?"

Kibum terdiam, ia sedikit tak mengerti maksud pertanyaan itu.

"Akan kujelaskan. Maksudku Kim Kibum yang dulu begitu membenci adiknya, Kim Kibum yang mungkin ingin adiknya segera mati, Kim Kibum yang dingin dan kasar pada adiknya yang sebenarnya tak boleh diperlakukan seperti itu. Singkat saja Kim Kibum, aku tau semuanya."

Hawa dingin terasa menyergap Kibum. Ia seperti merasa ditampar oleh tangan tak terlihat, hatinya terasa sungguh perih. Ia teringat—teringat bagaimana sakitnya masa-masa itu.

"Aku sudah berjanji untuk berubah di depan orangtuaku. Aku tidak mau." Ucap Kibum dengan suara bergetar.

"Bukankah janji ada untuk terkadang diingkari, Kim Kibum? Aku yakin kau mau. Kau bisa melampiaskan seluruh kesakitanmu bersamaku, kita bersama-sama mengancurkan adikmu. Ingat, hanya Kim Kyuhyun, bukan Kim Donghae atau yang lain. Setelah semua selesai, aku bisa memastikan namamu bersih, Kim Kibum."

Kibum terdiam—menahan tangis dan sakit. Tanpa panjang lebar pun Kibum sudah mengerti maksud pernyataan itu.

"Baiklah, sepertinya pertanyaanku ini tak bisa dijawab dalam hitungan detik saja. Jadi, pikirkan itu Kim Kibum, ini bukan penawaran biasa. Pikirkan itu dengan baik, aku akan menghubungimu 2 hari lagi. Kau bisa pergi setelah ini."

End of Flashback

.

.

.

.

Kibum berdiri di samping Donghae yang terlihat acak-acakan. Sekarang Ia dan Donghae hanya bisa menunggu Kyuhyun yang sedang ditangani oleh Dokter Choi dan Siwon di dalam kamar Donghae—bukan di Rumah Sakit.

"Donghae, Kibum, mari kita menunggu di ruang tamu saja."

Kibum tersentak, begitu juga Donghae. Keduanya terpaku ketika Siwon melangkah keluar dari kamar itu dengan ekspresi yang tak bisa dibilang baik.

"Kyuhyun?" Tanya Donghae.

"Sedang ditangani, hampir selesai. Tidak apa-apa, Donghae-ya. Appa dan Aku akan menjelaskannya padamu setelah ini."

Kibum segera berjalan menuju ruang tamu, diikuti Donghae dan Siwon dibelakangnya.

.

"Hyung, maafkan aku." Ucap Kibum lirih—tampak masih berdiri dengan kaku di ruang tamu.

"Bum, duduklah terlebih dahulu. Tenangkan dirimu, aku tau kau juga terkejut." Ucap Siwon sambil mengambil sesuatu dari dalam ranselnya.

"Minumlah ini, kau tampak pucat." Siwon menyerahkan sebotol air putih pada Kibum.

"Hyung, aku tidak sadar sama sekali, itu terjadi dengan cepat dan ti-"

"Iya, iya, baiklah aku tau, tapi minumlah ini terlebih dahulu." Siwon menarik tangan Kibum dan memaksa tangan yang terasa dingin dan bergetar itu untuk menerima botol air putih. Kibum hanya menurut, lama-lama ia memang merasa tubuhnya semakin melemas saja. Kibum menengguk air putih itu sampai hampir habis kemudian menyerahkannya kembali pada Siwon.

Kibum akhirnya mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu. Siwon tampak mengamati Kibum hingga anak itu terlihat lebih tenang.

"Lalu bagaimana bisa ini terjadi, Bum?"

Kibum terdiam sejenak—menunduk.

"Kyuhyun berkata padaku jika Ia ingin berjalan-jalan keluar sebentar, ia tampak gelisah Hyung, jadi aku menurutinya. Aku mengajaknya pergi ke taman kota, kami hanya berjalan-jalan seperti biasa dan tiba-tiba seseorang menyerang Kyuhyun. Aku tidak tau apa-apa, dia—orang itu begitu cepat."

"Ini terdengar sederhana kan, Bum? Mungkin saja itu hanyalah orang mabuk yang tak sengaja menyerang. Tapi jika berhubungan dengan Kyuhyun, pasti semuanya akan menjadi hal yang rumit. Bukan begitu?"

Siwon menjeda.

"Benturan itu berdampak pada jantungnya, belum lagi karena Kyuhyun terkejut, tapi untung saja hari ini kondisinya sedang baik—seandainya tidak, pasti kau sudah menunggu di depan ruang gawat darurat sekarang."

Siwon tersenyum perih. Sedangkan Donghae berdecak kesal.

"Dan aku tidak tau mengapa kau begitu ceroboh, Bum. Mengapa kau tak berkata padaku jika kau ingin keluar? Mengapa kau malah pergi diam-diam?" Ucap Donghae bercampur emosi.

"Hyung, maksudku... bukan begitu maksudku, Hyung." Ingin rasanya Kibum membantah dan mencoba memberi pengertian pada Donghae, tapi entah mengapa tiba-tiba ia merasa lidahnya mendadak kelu—tak dapat bersuara sepatah katapun.

"Lalu apa maksudmu?! Kau ingin adikmu celaka, begitu?" Suara Donghae meninggi.

Kibum tersentak, ia menatap Donghae dengan mata yang berkaca-kaca.

"Donghae-ya, tenanglah! Situasi saat ini sedang sulit, tapi mengapa kau malah semakin mempersulitnya?" Siwon menengahi.

"Maafkan aku." Donghae mengacak rambutnya.

"Oh, Dokter Choi." Lirih Kibum tiba-tiba ketika Dokter Choi tengah berjalan dari kamar Donghae menuju ruang tamu.

Sontak Donghae dan Siwon menoleh ke arah Dokter Choi.

"Bagaimana Kyuhyun?" Siwon mendahului bertanya.

"Sudah membaik, Kyuhyun sudah sadar tapi biarkan dia beristirahat dan menenangkan diri terlebih dahulu. Aku akan menunggu disini hingga beberapa saat." Jawab Dokter Choi sambil mendudukkan diri di sofa.

Donghae mendesah lega, begitu juga dengan Siwon. Tapi Kibum, anak itu justru terlihat tegang dengan pandangan kosong.

"Kibum-ah, kau tidak apa-apa?" Tanya Dokter Choi tiba-tiba.

"Ti-tidak apa-apa, Dokter Choi. Ah, bolehkah aku melihat Kyuhyun sekarang. Aku tidak akan ribut dan menganggunya, aku hanya ingin melihatnya saja." Ucap Kibum dengan cepat.

"Ya, silakan, Kibum-ah." Dokter Choi mengangguk dalam-dalam.

Kibum langsung melesat—ia memang mencoba menghindari dari Donghae. Donghae hanya berdecak melihat tingkah Kibum.

"Donghae-ya, tidak ada yang serius dengan Kyuhyun. Syukurlah hari ini dia sedang dalam kondisi yang baik, kupikir dia rajin meminum obatnya setelah keluar dari Rumah Sakit. Namun bukan berarti kita tak bersiap untuk hal buruk, Hae. Aku meninggalkan beberapa alat medis di kamarmu agar lebih mudah jika terjadi sesuatu. 1 jam lagi aku dan Siwon akan kembali ke Rumah Sakit." Jelas Dokter Choi.

"Hubungi aku jika terjadi sesuatu." Siwon menambahkan.

"Aku mengerti, terimakasih Dokter Choi, Siwon-ah."

.

.

.

.

Pagi itu Kibum dengan terpaksa menjaga Kyuhyun di kamarnya. Kibum tiba-tiba demam, namun Kibum mengalah karena ia merasa demamnya tak seberapa dibanding Kyuhyun yang semalaman sampai membuat Donghae tak dapat memejamkan mata barang sedetik pun.

Donghae sudah berangkat pagi sekali setelah sempat membuatkan sarapan untuk kedua adiknya yang sedang sakit—sebenarnya tidak tega meninggalkan Kibum dan Kyuhyun, tapi karena kejadian kemarin, banyak acara yang harus Donghae batalkan dan Ia harus bertanggungjawab atas itu semua.

"Kyuhyun-ah, aku ingin mengambil ponselku di kamar sebentar." Ucap Kibum pada Kyuhyun, yang hanya dijawab bisikan lirih oleh Kyuhyun.

Kyuhyun kembali memejamkan matanya yang terasa berat dan panas. Kyuhyun merasa ingin menangis, ia tak merasakan apapun selain rasa panas dan sakit di sekujur tubuhnya sejak semalam. Kyuhyun tetap memejamkan mata ketika ia merasa Kibum telah kembali duduk di sampingnya, ia memang tidak bisa tidur karena merasa begitu tidak nyaman.

"Kau ingin sesuatu, Kyu?"

"Tidak." Kyuhyun menjawab singkat.

"Jika ingin sesuatu jangan ditahan, bilang saja padaku."

Kyuhyun membuka mata sayunya dengan terpaksa.

"Kau yang membutuhkan sesuatu, Hyung. Kau perlu istirahat, tidurlah di sini, kau juga sakit." Kyuhyun berbicara seadanya.

"Ah, tidak. Aku hanya sedikit pusing. Tidak apa-apa, aku kan yang bertugas menjagamu."

Kyuhyun mengalah—hanya membalas dengan senyum kecil.

"Kyu, aku harus mengangkat telepon dari seseorang. Sebentar ya?"

"Tidak apa-apa, Hyung."

Kibum langsung melesat keluar dari kamar Kyuhyun—mengambil jarak beberapa meter dari pintu kamar Kyuhyun. Kibum seperti takut jika Kyuhyun mendengar pembicaraannya.

.

.

Hampir setengah jam berlalu—ketika Kyuhyun yang sudah hampir tertidur itu dikagetkan dengan suara pintu yang terbuka dengan keras. Kyuhyun merespon lambat, ia baru sadar setelah ia berhasil membuka matanya dengan baik dan melihat Kibum telah berdiri di samping ranjangnya dengan mata berkilat merah.

"Hyung, ada apa?!" Kyuhyun refleks bangun karena terlalu terkejut.

Kibum masih tak menjawab.

"Hyung, apa yang terja- akh!"

Teriakan kecil terdengar ketika Kibum tak ragu memukul wajah Kyuhyun dengan cukup keras.

"Kau memulainya lagi, Kyuhyun-ah."

Kyuhyun tak menyahut, ia hanya memandangi Kibum dengan mata yang berkaca-kaca.

.

.

.

.

TBC

.

.

TEASER CHAPTER 12!

.

"Aku mau."

"Baiklah, berapa banyak yang kau minta?"

"Anak itu mati saja sudah cukup untukku."

.

"Kibum-ah, kau tau Kyuhyun dimana?"

"Bukankah Kyuhyun di Rumah Changmin?"

"Tidak. Dia tidak disana!"

.

"Appa.."

"Siwon-ah? Apa yang terjadi?!"

.

"Wanita macam apa kau, ini?!"

"Diamlah, Choi Seung Hwan.."

.

.

Udah ah, jangan banyak-banyak spoilernya. Siap-siap menggila dengan imajinasi teman-teman yaa.. main tebak-tebak juga nggak apa2. :D

.

TOLONG DIBACA NOTE 'PENDEK' SAYA... :D :D

1. Maafkan saya, update telat bukan kemauan saya. Menulis dan Kuliah adalah hal yang sama2 penting bagi saya. Tapi sekali lagi, dalam hidup memang selalu ada prioritas, dan tentu saja prioritas utama saya adalah Kuliah. Bukan saya egois, tapi memang Ibu saya sudah bekerja keras seorang diri supaya saya bisa Kuliah. Jadi, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya yaa teman-teman. :')

2. SAYA MERASA GAGAL MENJADI AUTHOR YANG BAIK. :'(

3. Saya akan memberikan 2 pilihan. PERTAMA, FF ini akan terus dilanjut dengan jadwal update bisa 1-2 bulan sekali karena kegiatan maba di kampus saya itu bener-bener dah.. :'D KEDUA, FF ini akan HIATUS sampai jangka waktu yg tidak ditentukan. Silakan pilih ya teman-teman.. saya tidak memaksa... :'D

4. Saya mengajak teman2 buat terus streaming lagu barunya Kyuhyun. Entah itu di Melon, Genie, Youtube atau yang lain dengan CARA YANG BENAR yaa. Kalau ada uang tabungan bisa beli albumnya juga (saya masih ngumpulin uang buat beli album dan saya pasti beli kok :D), kalau ada voting ya usahakan voting. Ini album terakhir Kyuhyun sebelum wamil, jadi mari kita mencoba memberikan kesan yang baik untuk Kyuhyun sebelum dia berangkat. :') :')

5. Balasan Review Ch 9 akan saya gabung dg review Ch 10 di chapter depan (jika memang ff ini akan dilanjut).

6. Sekian dan Terimakasih sudah menyisihkan beberapa menit waktu berharga teman2 hanya untuk membaca tulisan ini. :') Salam kasih dari saya. :D :* Jika menemukan typo, tolong sampaikan juga ketika review.. :'D

..ALL MINE 07:06..