Chapter 11

Disclaimer : original Naruto selalu menjadi milik Masashi kishimoto

Original imajinasi cerita : Brendanata

.

.

DON'T LIKE , Ya Jangan Baca .. hehehe

.

.

Happy Reading Minna ... :D

Sahabatmu harus segera mendapatkan pertolongan , nyawanya sedang dalam bahaya .

Kalimat dari dokter muda ternama di salah satu rumah sakit terbesar di konoha membuat sakura bungkam dan tertunduk lesu .

" Apa maksud anda? "

" Teika butuh transplantasi stem cell , namun sebelumnya harus dilakukan adalah kemoterapi dan radiasi untuk membunuh sel sum-sum tulang lama kemudian digantikan dengan sel induk dari donor " jelas kabuto singkat, dokter dihadapan sakura menopang dagunya berfikir.

.

.

Haaaaaaaahhh ...

Suara kabuto terus terngiang dan seolah menjadi rekaman wajib yang harus sakura dengar , langkah kaki gadis itu membawanya menuju sebuah taman di belakang rumah sakit, sesekali kepalanya menoleh melihat beberapa pasien yang sedang bersendang gurau bersama keluarganya . Seulas senyum manis tercipta di wajah ayu nya , membayangkan dahulu dirinya yang sering sakit-sakitan selalu ditemani oleh keluarga dan sahabatnya.

Nafas sakura terbuang kasar , ia mendudukan sejenak dirinya di ayunan yang sedang tak berpenghuni alias kosong . ia ulurkan Kaki jenjangnya, menendang pasir dan membuat ayunan bergerak mundur dan malambungkan dirinya ke udara .

Transplantasi sum-sum induk bukanlah hal mudah , perlu adanya kecocokan dari pendonor dan penerima . Satu-satunya yang mungkin melakukan itu adalah keluarga dari Teika . Orang tuanya bahkan sibuk sekarang, padahal kondisi sahabatnya sedang butuh pertolongan. Oh God, Mata sakura tertuju kepada kedua orang yang tengah melintas dihadapannya .

" Paman "

Secepat kilat sakura membuka bibirnya , Laki-laki paruh baya yang dipanggil paman menghentikan langkah kakinya. Kepala laki-laki itu berotasi mencari sumber suara . " Di sini " Sakura melambaikan tangan dengan senyum manis , meninggalkan ayunan melangkah kedepan berlari menuju kedua orang yang tengah tersenyum lembut kepadanya.

" Sakura-chan " wanita cantik dengan rambut blonde bergelombang memeluk sakura .

Mereka berdua adalah orang tua sahabatnya yang baru saja datang dari perjalanan bisnis , dan mereka sudah seperti orang tua sakura sendiri . Seyuman yang mengembang beberapa detik yang lalu perlahan luntur , di ikuti dengan isakan kecil yang keluar dari bibir nyonya ichijouji.

"Bibi.." ucap Sakura lirih

Sakura memeluk ibu Teika , membimbingnya untuk duduk di kursi panjang sekitar taman . Mereka bertiga akhirnya memilih untuk mengobrol sebentar sebelum masuk ke dalam ruangan di mana Teika di rawat . Sakura menceritakan semuanya yang telah diberitahukan oleh dokter Kabuto , orang tua Teika paham akan penyakit anaknya namun mereka tidak paham jika stadium yang di idap anak mereka telah mencapai stadium akhir.

" Nah, bagaimana bibi , paman ?" Sakura memandang pasangan suami istri di depannya penuh harap

" Maaf Sakura-chan , kami berdua belum tentu cocok " nyonya ichijouji terlihat sedang meringkuk di dalam dekapan sang suami, matanya memancarkan ke khawatiran yang mendalam , sedangkan sang kepala keluarga menghembuskan nafas frustasi

" Ba—bagaimana bisa ? " Gadis bersurai merah muda tergagap,

Angin berhembus menerbangkan rambut indah milik sakura seiring dengan kegugupan yang tengah ia rasakan.

" Teika sebenarnya bukan anak kandung kami " Ayah Teika berucap lirih , tangan kirinya mengepal erat , dan begitu terlihat menyedihkan

" Apaa? Tidak! Paman bohong kan ? " Sakura bangkit dari posisinya mencoba bertahan menahan massa tubuhnya

" Tidak Sakura-chan " sang nyonya bangkit, mengusap mata sembabnya. Wanita itu menarik tangan sakura, memohon kepada sahabat kecil putranya untuk selalu mendukung Teika .

" Apa yang harus aku lakukan, di mana keluarga Teika sebenarnya?" Emosi sakura meledak , ia memandang kosong ke atas langit "...Kenapa? kenapa haruss menjadi seperti ini ! Tei-kun "

Ayah teika menenangkan sakura, di raihnya bahu sakura untuk kembali duduk , untuk mendengarkan beberapa penjelasan mereka berdua , yah mungkin beberapa cerita kenapa Teika bisa menjadi keluarga Ichijouji .

Sakura menyiapkan hati untuk mendengar semua kebenaran tentang sahabatnya , badannya lemas kakinya terasa lesu dan hatinya begitu ngilu mendapatkan fakta yang begitu menyedihkan . Apa salah teika ya tuhan , mengapa engkau menggariskan hidupnya seperti ini .

Angin bertiup sepoi-sepoi menyibakan beberapa helaian pita merah muda yang melekat di rambut sakura , sejenak ia memejamkan matanya , mengambil nafas untuk sekedar mencari ketenangan..

" Ceritakan sekarang " Nafasnya terbuang cepat

Kedua orang dihadapnnya mengangguk setuju.

" jadi waktu itu, kami bersahabat baik dengan keluarga Akasuna dan itu adalah marga Teika yang sebenarnya , saat aku ingin mengunjungi mereka aku kaget melihat rumah yang sudah porak poranda seperti telah dimasuki pencurri , kedua orangtua teika tewas dan isriku menemukan jasad mereka , namun dalam pelukan nyonya akasuna ada bayi laki-laki yang sedang tersenyum ke arah kami " Ayah Teika mengusap rambutnya frustasi

Kejadian beberapa tahun yang tidak ingin ia ingat, kejadian menyedihkan yang merenggut kedua sahabatnya, hingga dari kejadian itu ia akhirnya merawat seorang bayi yang telah ia idamkan.

" Saat itu juga , aku melihat jika ibu teika masih sadar , ketika melihat kedatngan kami berdua wanita malang itu masih sempat tersenyum tulus kepada kami , ia berpesan agar merawat Teika selayaknya anak kandung kami , setelah ibunya mengatakan itu akhirnya ibu Teika meninggal . Dan aku berjanji akan merawat Teika dengan penuh kasih sayang selayaknya anak kandung kami . "

Suara isakan dari nyonya ichijouji sesekali terdengar , wanita paruh baya itu terlihat sedang menatap sedih kearah suaminya .

" Maafkan aku Anata " ucapnya pelan

" Tidak , ini bukan salahmu kita tidak bisa punya keturunan, kami-sama punya rencana lain sayang " ayah atau lebih tepatnya ayah angkat Teika mengecup pelan pucuk kepala istrinya

Sakura yang melihat pemandangan itu hanya terdiam, batinya menangis bagaimana bisa keluarga ini bertahan begitu kuatnya sering dengan banyaknya cobaan yang membayangi mereka. Di sisi lain sakura berfikir , bagaimana Teika jika mengetahui hal ini.

" Jadi ? " Sakura membuka suara

" Biar aku lanjutkan dahulu , setelah itu kami merawat Teika sejak ia berusia 3 bulan , tentunya untuk bayi seumuran dia sudah bisa membedakan mana ibunya mana bukan ibunya dari ikatan batin yang mereka punya , namun seiring berjalannya waktu Teika benar-benar menganggap kami adalah orang tuanya dan batin kami mulai terhubung satu sama lain . Aku berniat memberi tahukan ini kepada nya namun aku takut Teika menjauh dari hidup kami .."

" Teika tak akan melakukan itu paman,bibi "

Kedua pasutri itu memandang sakura dengan penuh kelembutan, di dalam hati mereka bersyukur Teika mempunyai orang tersayang seperti sakura.

Serapat apapun kau menyimpan rahasia

Jika pada waktunya ia muncul ke permukaan

Dan membongkar semua yang telah rapat disimpan

Sakura benar-benar tidak berangkat selama 1 minggu , ia terus berada di rumah sakit untuk menemani sahabatnya yang sudah mulai menjalani proses kemoterapi , ia bergantian dengan Sasuke untuk mengurus Teika , kali ini adapula kedua orang tua Teika yang selalu berada di samping putra semata wayang mereka .

Hingga saat ini Teika tidak mengetahui soal pembicaraan sakura dan orangtuanya , namun sakura ingin menanyakan hal itu suatu saat nanti , dan itu artinya Teika harus sembuh agar sakura bisa menanyainya suatu saat nanti .

-aku selalu memperhatikanmu , meskipun kau telah menjadi milik orang lain, aku bahagia dengan apa yang telah kau capai , kau berhasil membuktikan kepadaku jika sahabat tidak akan hilang meskipun banyak orang yang mengisi hati mu – Teika I

- Kau ,, kau mengapa tak pernah membagi penderitaanmu padaku , kau sahabatku bukan? Ceritakan padaku bodoh ! aku tak akan pergi darimu meskipun aku telah memiliki kekasihku. Kau tahu kekasihku sangat menyayangiku dan selalu mendukung persahabatan kita , dan kau Baka Teika cepatlah sembuh karena ada yang ingiin aku tanyakan – Sakura H

- Kalian benar-benar sahabat , bukan hanya sekedar sahabat hansaplast yang datang ketika butuh , aku salut dengan kalian berdua , persahabatan yang tetap terjalin meskipun salah satu dari kalian telah memiliki kekasih. Maaf teika aku tak bisa melepaskan sakura untukmu , namun untuk menjadi sahabatmu aku mengijinkannya, dan kau Saku jangan coba-coba pergi dariku karena aku mencintaimu , sangat – Sasuke U

Kemoterapi yang dijalani Teika selalu mengalami penolakan , tubuh laki-laki bersuai gelap itu tidak mampu menahan reaksi dari bahan kimia yang dimasukan ke dalam tubuhnya untuk membunuh calon sel kangker yang dapat tumbuh kapan saja .

Sakura dan Sasuke yang melihat sahabatnya terus menunjukan reaksi negatif hanya bisa pasrah , tak jarang Sakura menangis sendiri karena selalu mendapat kabar buruk dari dokter Kabuto. Hanya sebuah harapan yang ia percaya sekarang berharap kemoterapi yang sedang di jalani Sahabat kecilnya berjalan lancar.

Berkali-kali sakura pulang-pergi Konoha ke Suna hanya untuk mencari informasi mengenai keluarga Teika tanpa sepengetahuan sang pasien . Sakura ingin mencari salah satu keluarga Akasuna yang tersisa di sana , namun apa yang ia dapatkan ? Marga akasuna seolah lenyap dari desa Sunagakure , hilang tanpa informasi .

Kepala sakura berkedut nyeri , membayangkan bagaimana jika Teika tidak berhasil mendapatkan doroh sum-sum induk , apa yang akan terjadi dengan sahabatnya .

" Sasu.." Sakura menyandarkan tubuhnya di dinding kamar Teika dirawat

" Ya, aku mengerti , tenanglah masih ada 3 hari untuk mencari pendonor " Sasuke mengepalkan tagannya erat , dirinya merasa bodoh ,ia seorang Uchiha dan baru kali ini ia tidak bisa mendapatkan informasi mengenai keluarga yang ingin ia ketahui

Pemuda itu meraih ponsel di dalam sakunya , mengetikan sebuah pesan ke pada seseorang kepecayaannya untuk mencari dimana sisa dari keluarga akasuna . Sakura yang melihat gelagat kekasihnya menatap sasuke heran , di peluknya lengan kekar sasuke untuk mencari kenyamanan di sana .

.

.

-Hoek..hoekk-

Lagi-lagi tubuh teika mengalami pemberontakan terhadap obat kemo yang telah diberikan , dokter Kabuto yang melihat pemandangan itu hanya mampu menatap sahabat kecil pasiennya dengan tatapan memelas , gadis yang dulu sering sakit-sakitan sekarang tumbuh menjadi gadis yang kuat, sedangkan dulu Teika yang selalu berada di samping sakura sebaliknya malah ia sekarang yan terbaring lemas di ranjang rumah sakit.

Begitu cepatnya waktu merubah takdir seseorang , kau memang tidak bisa merubah takdir yang telah tuhan gariskan kepadamu , yang bisa kau kau lakukan hanyalan selalu lapang dada dan melakukan yang terbaik agar nanti mampu merubah takdir untuk menjadi lebih baik .

Melihat pasiennya , dokter Kabuto hanya menelan ludahnya kasar , baru kali ini ada penderita anemia aplastik yang terus menerus menunjukan reaksi penolakan .

" Bagaimana kondisimu ? " kabuto memeriksa mata Teika

" Manyerah saja dokter, rasanya aku ingin mati " Teika berucap asal

-Plaaakkkkk -

Sebuah tamparan yang tidak terlalu keras mendarat di pipi Teika yang sekarang mulai mengurus . Di tatapnya lembut sesosok gadis yang menatapnya dengan mata sendu , senyuman kecil tercipta di bibir Teika . Gadis itu terlihat begitu terpukul dengan ucapan sahabatnya , bagaimana bisa Teika menjadi orang yang mudah menyerah seperti ini.

" Jaga ucapanmu Bakaaa " Sakura berucap lirih, kepalanya tertunduk hingga poninya menutupi sebagian wajah cantiknya

" Jangan galak seperti itu , kemarilah .." tangan teika mengisyaratkan Sakura untuk mendekat diri, sedangkan di lain sisi sasuke sedang mengamati gerakan Sakura tanpa melewatkan satu adeganpun "...Aku tak akan merebut sakura , kau tenang saja heh Sasuke " Senyum tanpa dosa mengarah menusuk onyx sasuke .

Adik bungsu dari Uchiha Itachi itu sadar jika sekarang bukan saat nya untuk cemburu, Teika memerlukan Sakura , dan Sakura sangat menghawatirkan sahabatnya.

" Ya, aku paham jikalaupun kau mengambilnya , aku yang akan menghabisi tubuhmu sebelum penyakit sialanmu itu " Sasuke menyeringai , tentunya itu hanyalah candaan sasuke

" Terimakasih Sasuke , aku yakin kau tepat untuk sahabatku " Teika mengacungkan jempolnya , membuat sakura yang melihat adegan itu begitu terharu , dalam kondisi seperti ini sahabatnya masih memikirkan dirinya .

" Lebih baik kita keluar, paman ,bibi dan dokter kabuto , aku rasa Teika dan Sakura butuh waktu berdua" Sasuke menarik jas putih kabuto yang membuat empunya mejadi terseret mengikuti langkah sasuke .

Kedua orang tua teika menyetujui perkataan sasuke , dan akhirnya hanya ada kedua manusia berbeda gender yang tengah berfikir dengan pemikiran masing-masing . Suasana cukup hening ketika Sasuke menutup pintu .

.

.

Sasuke POV

Aku berjalan menuju koridor rumah sakit , berniat mencari pintu keluar untuk membelikan kebutuhan Sakura selama di rumah sakit . Perempuan memang merepotkan , ia mengambil troli berwarna merah dan mendorongnya menyusuri rak-rak berbagai macam barang di sana.

aku meinggalkan orang tua teika dan dokter kabuto untuk membicaran hal mengenai Teika , aku sejujunya tidak sanggup jika mendengar tentang kematian atau penyakit seseorang yang susah untuk sembuh .

Kakiku berhenti ketika aku melihat beberapa perlengkapan mandi di sana, tanganku menyapu seluruh daftar barang yang telah dituliskan Sakura pada selembar kertas kecil . Shampo, sabun, pasta gigi , facial foam dan tunggu .. Hehhhh pembalut?

Oh tuhan , perempatan siku siku mungkin sekarang sudah tercetak di keningku dan akan di pajang kemana muka tampanku ini jika membeli pembalut perempuan . Tak ingin mati kutu aku mengedarkan pandanganku mencari pelayan untuk membelanjakan perlengkapan untuk sakura .

" One-saan , permisi " ucapku pelan

Aku melihat jika perempuan yang sekiranya mungkin 3-4 tahun diatasku menatapku kagum , zzzzz hal ini pasti terjadi saat aku keluar sendirian , aku bukan smbong hanya saja ini adalah fakta. Yah fakta jika seorang uchiha memang mempesona

" Ahh,, iya ada yang bisa saya bantu " Perempuan itu membungkuk hormat

" Tolong aku memerlukan semua barang ini "

Aku menyerahkan semua list kebutuhan sakura kepadanya , yang benar saja hanya menyodorkan catatan sempat-sempatnya perempuan itu sengaja menyentuh tanganku saat mengambil daftar list belanja.

Aku tersentak, ku lirik wajahnya sekilas dan bingo dia memerah , Ck perempuan genit . Segera mungkin aku menarik diri dan meninggalkannya sseraya berucap " Saya menunggu di depan kasir , dan terimakasih "

Aku pergi berkeliling melihat beberapa perhiasan di sana , dan kemudian aku teringat akan kekasihku . Ada niatan untuk memberikan sakura sebuah kalung , namun langkahkakiku terhenti ketika ia menangkap surai merah yang menarik perhatianku

" Sasori-nii " ucapku lantang melambaikan tanganku ke arahnya

" Sasuke ? sedang apa kau kemari ? "

Aku dapat melihat jika calon kakak iparku sedang menatapku bingung. Hn, tenyata dia ssudah tidak membenciku . innerku bersorak dalam hati

" Membelikan Sakura beberapa keperluannya " janwabku ringan sembari menggaruk tengkuk ku yang tidak gatal

" Imouto ku memang menyusahkan , hadehh " Sasori menghembuskan nafasnya kasar

kami berdua berkahir di sebuah cafe bernuansa klasik didalam mall, sedikit berbincang tentang penyakit Teika dan harapan untuk kedepannya. Gelagat Pemuda dihadapanku terlihat begitu bingung karena memijit pelipisnya beberapa kali , aku menjelaskan apa yang sebenarnya menimpa Teika , bukan hakku sebenarnya untuk memberitahukan Saso-nii , hanya saja aku beranggapan ia berhak .

" jadi sekarang Sakura di rumah sakit?"

" Hn, aku menyuruhnya untuk menemani Teika " ku sesap white coffe yang masih mengeluarkan uap panasnya .

" Kau cukup dewasa bocah ! apa kau tak takut Sakura diambil Teika? " Kakak kekashiku ternyata cukup menyebalkan , ingin aku membungkan mulut sembrono nya

" Sakura bukan tipe perempuan yang mengencani dua laki-laki sekaligus nii-san " Seringaianku melebar

" jaga dia , dan jangan kau sakiti dia lagi " Onyx dan hazel bertemu, saling berbicara lewat mata indah mereka .

End Sasuke POV

.

.

Suasana hening, Teika yang berbaring di ranjang hanya memegang pergelangan Sakura yang seolah tidak mau dilepaskan . Sakura duduk disebelah pemuda itu, kepalanya bersandar dilengan kekar milik sahabatnya, rasanya berat , kepalanya seakan mendadak panas jika mengingat penyakit itu selalu gagal untuk di berikan pertolongan .

Ditiupnya kepala sakura hingga membuat pemiliknya mendongak ke atas . Teika mengumpulkan segudang niat untuk bisa membicarakan perasaannya kepada wanita pujaannya sebelum dirinya tidak punya kessempatan . cukup sakura tahu dan itu membuat dirinya lega, cukup egois memang tanpa memikirkan apa yang akan terjadi pada hati sakura ketika ia mengatakan perasaannya, Untuk kali ini saja biarkan Teika sedikit egois.

" Saku ..." Teika menatap emerald di bawahnya

" Hm? Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan ? " Sakura melepasskan genggaman tangan Teika , kedua tangan mungilnya menangkup wajah tampan Teika , memastikan tidak ada sesuatu yang disembunyikan sahabatnya

" janji untuk tidak marah " Teika mengedipkan matanya

Atmosfir diantara keduanya mendadak berubah, ada sedikit keraguan dihati sakura untuk mendengarkan penuturan sahabatnya , namun jika ia tidak mendengarkan seumur hidupnya mungkin ia akan penasaran.

" Janji tuan , katakan ! " Sakura tersenyum lembut

" Maaf..."

Dipalingkannya pandangan dari iris emerald indah yang selama ini memikat pandangannya , langit langit kamar menjadi sasaran penglihatannya untuk sekarang . Jujur ia tak sanggup menatap sakura sambil membicarakan semua kebohongan yang selama ini ia sembunyikan.

" Ada apa? Lihat aku ! "

Sakura berusaha membuat Teika menatap dirinya, namu teika tetap memejamkan matanya dan kembali menatap langit-langit kamar .

Dengarkan semua yang aku katakan, dan tolong jangan marah jika kau menganggap aku membohongimu , aku melakukan ini semata untuk menjaga persahabatan kita , karena aku tahu hatimu bukan untukku- Teika

Cairan infus dengan bebasnya terus masuk ke dalam tubuh Teika, pemuda itu memandangi tetesan cairan garam fisiologis tersebut menghitung setiap tetes yang keluar. Sakura mendesah perlahan, melihat sahabatnya yang tak kunjung mengatakan hal yang ingin ia sampaikan . Ditatapnya wajah Teika yang mulai kehilangan otot dalam dirinya, ia mengigit bibir bawahnya mencoba menahan air mata yang sebentar lagi mungkin akan jatuh.

" baiklah kau sedari tadi hanya menatap langit-langit dan sekarang kau menatap cairan infusmu .." sakura mendengus kesal

Pemuda yang dimaksud sakura hanya tersenyum tipis, mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Huufff mungkin ini saatnya Teika mulai jujur kepada sakura.

" Dengarkan aku, karena aku tak akan mengulangi setiap kalimat yang aku ucapkan.." ucap teika penuh penekanan . Sedangkan audiens satu-satunya hanya mengangguk pasrah

" Kau mungkin sudah paham jika aku bukan anak kandung dari keluarga ichijouji Sakura.."

Jantung sakura sakit, debaran itu semakin menjadi-jadi , ia memang sudah mengetahui hal itu namun ia berharap jika itu bukanlah hal nyata. Ah, tapi sayang karena orang tua Teikapun sudah menjelaskan tentang hal itu kepadanya .

Bibir gadis pemilik rambut cotton candy itu bergetar, ingin berkomentar namun secepat kilat telunjuk Teika menutup bibir mungilnya .

" Aku sudah mengetahui hal itu sejak aku kecil, namun aku selalu menyembunyikannya , aku tidak ingin ayah-dan ibu menjadi merasa bersalah . Dan tentang penyakitku , maaf..."

Hening ...benar benar hening , semua rahasia Teika akan terbongkar di sini , kedua anak manusia tersebut hanya diam , sakura tetap dengan wajah tertunduk lesu .

Lanjutkan , setidaknya itulah kalimat yang terucap dari bibir mungil sakura meskipun suaranya nyaris tidak dapat di dengar .

" Aku menyembunyikan penyakit sialan ini selama 6 bulan darimu , maaf Saku " Tangannya terulur mengusap surai merah muda yang sekarang ia yakini tengah menangis untuk dirinya . Tubuh sakura menegang , tanpa Teika sadari kedua tangan gadis itu mencengkeram erat rok miliknya , rahangnya mengeras mendengar penuturan sahabat terbaiknya.

" Kau..." Sakura berucap lirih

" ..."

Kepalanya mendongak , membuat tangan Teika terlepas dari kepala Sakura. Gadis itu menatap tajam sepasang hazel yang sekarang siap mendapatkan kilatan marah dari emerald sakura

" Selama 6 bulan kau selalu ada di sisiku kenapa kau tak pernah menceritakann kepadaku ? lucu sekali " Sakura berucap sarkastik

" Maaf .."

" Kau yang terbaik..termasuk terbaik dalam hal kebohongan "

" Semua sudah terjadi Sakura, dan sebentar lagi... mungkin aku .."

Plaaakkkkk.. untuk kedua kalinya Teika mendapatkan tamparan dari Sakura , pemuda itu hanya menyeringai kecil , tamparan itu tak terasa sakit karena ia yakin sakura tidak tega benar-benar menamparnya .

Sakura bangkit dari duduknya " Jangan berkata hal yang bodoh ! jaga ucapanmu Ichi-jou-ji ! " ucapan sakura penuh penekanan terutama saat menyebut nama sahabatnya dengan sebutan nama formal ,Air mata yang sedari ia tahan akhirnya lolos membasahi pipi putihnya .

" Haruno , hentikan pura-pura perdulimu kepadaku, aku muak! " ucapnya dingin (Bukan, bukan seperti itu harusnya ,jangan berhenti perduli padaku sakura)

Sakura yang merasa ada yang tidak beres tersentak kaget , nada bicara Teika yang mulai dingin dan seringaian apa itu , ia takut belum pernah ia melihat sahabatnya seperti itu.

" Tei-kun, kauuu.. " Kedua emeraldnya membulat sempurna ketika Teika menatap lurus kearahnya

" Sudah! Cukup sudah aku bertindak sebagai orang bodoh yang selalu ada untukmu... ! " ( Tidak aku tidak menyesal selalu ada untukmu) .

Pemuda bersurai gelap itu menarik paksa jarum infus yang berada di punggung tangannya, membuang selang dan jarum infus secara asal, " Jangan lakukan itu " Sakura memegang tangan Teika menahan agar pemuda itu menghentikan aktivitasnya , namun mata penuh marah berhasil menusuk di manik emerald milik Sakura hingga membuat gadis itu takut. ia bisa melihat bagaimana gadis itu terlihat ketakutan sekarang . Innernya terus berbissik untuk berhenti, namun egonya semakin mendorongnya untuk memojokan sakura.

"..Apakah kau pernah melihat kearahku Sakura? " (cukup hentikan! Sakura tidak pantas mendapatkan perlakuan ini darimu)

Teika bangkit dari ranjang dan berdiri tepat dihadapan sahabatnya, " Tei-kun, hentikan " Sakura meraih kedua tangan sahabatnya lembut , menatap kedua hazel yang sekarang dipenuhi api amarah

" Mengapa kau selalu memperhatikanku? Mengapa kau selalu bersikap baik padaku? Mengapa kau selalu memperlakukanku dengan baik sakura? Jawab aku ! Apakah kau tak pernah hanya sekali mengerti perasaanku? "

Bahu sakura sakit , Teika terlalu mencengkeram erat di sana, rintihannya seolah diabaikan oleh pemuda di hadapannya, Teika seolah menulikan pendengarannya dan tak mau melepaskan sakura .

" Sakkiiitt...Tei-kun lepaskan " Sakura memberontak meskipun ia paham hal itu mustahil untuk melepaskan diri dari pemuda itu

" Jawab aku , haruno sakura ! " ucap teika dengan seringaian yang bagi sakura hal itu adalah alarm pertanda buruk

Kini sakura sekuat tenaga menghempaskan kedua tangan Teika yang mengunci pergerakannya , dengan nafas yang tidak teratur gadis itu mendorong Teika untuk mundur " Karena Kau sahabatku bodoh, kau orang yang selalu menjagaku dan ada untukku, meskipun kau pernah meniggalkanku tapi..tapi kau penting untukku " Sakura memeluk dirinya sendiri "...jangan pernah bertanya tentang hal bodoh seperti itu , sebenarnya apa yang terjadi denganmu ?" dan gadis merah muda itu ambruk karena kakinya tak kuat menahan massa tubuhnya

" Saku.."

" Kau begitu bodoh hingga bertindak sejauh ini " sakura terisak keras

" Saku .."

Ucapan gadis musim semi itu meninggi " kau begitu bodoh hingga kau menganggapku hanya pura-pura perduli ... kau ..kau..." Ucapan Sakura terjeda hingga suara baritone memasuki pendengarannya

" Heehhh.. Haruno Sakura kau begitu cerewet ! "suara baritone itu tak kalah tingginya degan teriakan sakura

Dan

Cuuuppp...

Pmeuda itu mengecup benda kenyal tak bertulang milik gadis dihadapannya , padahal hal itu merupakan sesuatu yang selama ini menjadi pantangan Teika untuk menyentuhnya .

Emerald sakura melebar ,ciuman itu lembut , dan sakura dapat merasakan perasaan Teika mengalir dari ciuman mereka , mata sakura meredup ia tak menyangka jika Teika akan menciumnya dalam kondisi seperti ini .

Tangan Teika meraih tengkuk milik sakura, mengunci agar gadis itu tidak dapat melarikan diri, Sakura yang merasa gerakannya terkunci sesekali menutup bibirnya menggelengkan kepala untuk dapat melepaskan ciuman itu.

"Tei , emmph emph ini salah "Ucap sakura ditengah-tengah ciuman mereka

Teika yang tidak memperdulikan hal itu terus mencium sakura dengan tempo konstan, mencoba memberikan kenyaman kepada gadis yang sedang berusaha menolak ciumannya . Dirinya menatap sakura yang sedikit tersedak karena kekurangan nafas, akhirnya ia melepaskan ciuman mereka beberapa detik untuk sakura menghirup oksigen disekitar mereka .

Melihat sakura sejenak , ia mengamati setiap inchi wajah sahabat kecilnya, " Manis dan sangat panas" beitulah pikirannya mengatakan, kali ini inner teika sama sekali tidak memberontak , dan itu membuat ego teika semakin menjadi-jadi .

" Aku mencintaimu Sakura " Ucap Teika lemah tepat dihadapan wajah gadis yang sudah semerah tomat rebus

" Te..." Tanpa mendengarkan kelanjutan yang terucap dari bibir ranum sahabatnya,Teika kembali menyerang bibir sakura, kali ini ia memaksakan lidahnya untuk masuk kedalam untuk mengobrak-abrik semua isi didalamnya. Bibir Sakura tertutup rapat , dan itu membuat pemuda yang sudah dipenuhi perasaan egois menggigit bibir bawah sakura hingga pemiliknya memekik.

Seketika kesempatan itu digunakan Teika untuk melesakan lidahnya , mengabsen deretan gigi sakura dan mengajak lidah sahabat kecilnya menari bersama. Ciuman itu berlangsung lama dan kali ini tidak ada perlawanan dari sakura, air mata gadis itu terus keluar . Entah apakah sakura menikmati nya atau ia sudah kehilangan kekuatan untuk melawan pemuda di hadapannya .

" Jangan menangis , kau membuatku ingin memakanmu " Ucap teika di sela-sela ciuman panas mereka ,dan kembali melahap bibir sakura. bibir mereka sudah basah dengan saliva yang berantakan di bibir mereka, entah saliva milik siapa .

" emph, hen-tikan ah, Tei-kun.. " Sakura terengah , dan berhasil melepaskan bibirnya dari jeratan sahabatnya . Ah, apa yang sudah ia lakukan, ia membiarkan Teika menciumnya bahkan melakukan Frech kiss di saat ia sudah mempunya kekasih

Di sisi lain, pemuda bermarga ichijouji sadar akan perbuatannya, ia menatap Sakura yang sudah berantakan dalam pelukannya, bibir yang memerah bengkak dan saliva yang menghiasi sekitar bibirnya akibat ulahnya.

Teika menjilat setiap air mata yang keluar dari manik emerald sakura , hatinya sakit melihat perempuan yang ia cintai menangis karena perbuatannya, meskipun perasaannya tersampaikan seharusnya ia harus bisa mengalahkan egonya untuk mencium sakura.

" Jangan menangis, maafkan aku " Teika memeluk sakura erat , menyesali apa yang telah ia perbuat

" Kenapa? Kenapa kau bisa mencintaiku, ?" Sakura meracau , tangisnya semakin pecah saat teika mempererat pelukan mereka

" Maaf, maaf aku mencintaimu , maafkan aku karena aku jatuh cinta kepadamu " Teika menahan airmata yang akan keluar, ia tak mungkin menangis di hadapan gadis yang ia cintai

" Cinta tak pernah salah, jangan minta maaf . Aku yang seharusnya minta maaf "

" Saku.."

" Aku seharusnya menyadari perasaanmu ,kau benar aku tak penah melihat kearahmu , aku tak pernah menganggapmu sebagai lelaki, aku,,,akuu hanya bisa melihatmu sebagai sahabat terbaikku maafkan aku . Tei, maafkan aku " Suara gadis itu semakin lama semakin serah , lirih dan pelan .

Pemuda yang mendengar itu hanya mampu menenangkan, ia lega perasaannya tersampaikan meskipun tidak mendapat balasan yang berarti dari Sakura

" Saku... lihat aku " Teika melepaskan pelukannya dan menunduk melihat sakura.

Sakura mendongak melihat wajah tampan sahabatnya , dan saat itu pula ia menyadari jika teika tak hanya menganggapnya sebagai seorang adik, namun juga sebagai seorang gadis yang special. Pandangan sakura berhenti pada mata Teika, ia melihat tidak kebohongan di mata hazel indah dihadapannya . Ia tersenyum lembut mencoba berhenti dari tangisnya

" Jangan tinggalkan aku, ku mohon " Sakura menatap teika sendu

" Aku tak tahu sampai kapan aku akan bertahan , selama sisa waktu itu tolong jangan menagis dihadapanku " Teika mencubit pipi cubby sakura membuat pemeiliknya tersenyum

" Kau akan sembuh, aku janji "

Pemuda yang dimaksud hanya mengedikkan bahu .

" Entahlah.. jikalaupun tidak aku mohon kau jangan menagisi kepergianku"

" Hentikan omong kosongmu" Sakura membekap mulut teika menggunakan telapak tangannya, teika yang menyeringai jahil mengecup telapak tangan sakura hingga membuat gadis itu cepat menarik tangannya.

Semburat merah kembali tercipta di pipi sakura, setelah ciuman itu sakura berfikir untuk menceritakan kepada sasuke untuk menghindari salah paham . Dan ia tak akan membuat kekasihnya kecewa padanya.

" Bagaimana ciumanku? Lebih baik daripada sasuke?" Teika tersenyum jahil

" jaga bicaramu, kau membuatku terdengar seperti jalang, Baka Teika " Sakura mengkerucutkan bibirnya, ya ia akui jika ciuman sahabatnya itu tidak kalah menarik dari kekasihnya , dan sakura sempat merasakan degupan kencang saat ciuman itu

" Hahaha, bagaimana ingin berselingkuh dibelakang sasuke? " Teika mengedipkan sebelelah matanya

" Hanya dalam mimpimu bodooohh " Sakura bangkit dari lantai , meninggalkan teika yang masih duduk menyandar di kursi .

" Hanya bercanda Saku, sasuke sangat baik untukmu . Mungkin aku harus minta maaf setelah ini karena aku sudah mencium gadisnya. "

" Lakukan "

" yahh..baik tuan puteri "

.

.

To be Continue

Hahaha..akhirnya sampai chapter 12 .

Maaf yaa engga kelar-kelar . tapi sebentar lagi bakal kelar.

Review yap, vote juga boleh :D