Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.
.
.
Rumah tangga
.
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
.
Rumah tangga by author03
Uzumaki Naruto x Hyuuga Hinata.
Drama/hurt/comfort
.
.
.
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 11
.
.
.
.
"Hiks.." Hinata yang lagi-lagi menghapus air matanya yang mengalir.
"Dia meninggalkan surat di kamarnya. Kami membacanya tak lama sebelum kalian datang, dalam surat itu dia meminta agar kami tak memberitahu siapapun soal ini tapi kumohon agar kau memaafkan keegoisan putri kami ini.. Kami sungguh merasa bersalah padamu. Maafkan dia, kami mohon"
Sasuke yang memalingkan wajahnya, menatap Hinata yang kemudian kembali fokus pada jalanan.
"Hinata.." panggil nya lembut yang membuat Hinata menatapnya yang kemudian kembali menundukkan wajahnya.
"Naruto pasti sangat kecewa. Dia tak tahu apapun soal ini." Naruto juga adalah korban. Hinata merasa sangat khawatir pada Naruto. Jika Naruto tahu hal tentang Sakura adalah benar. Dia akan sangat terpuruk. Hinata sangat ingin menemuinya dan menenangk tak mungkin! Naruto pasti akan memarahinya. Naruto sama sekali tak membutuhkannya. Ia tak bisa melakukan apapun soal ini.
Hinata yang kembali menghapus air matanya yang mengalir. Ia menjadi merasa sangat bersalah pada Naruto. Tak seharusnya ia meninggalkan Naruto di keadaan seperti ini tapi apa yang bisa ia lalukan? Ia sudah terlalu takut mendengar amarah Naruto padanya dan bayinya. Ia sudah tak ingin lagi mendengar kata-kata kasar dari Naruto. Sakura tega sekali. Naruto menjadi begini karenanya.
Yang Hinata butuhkan kini hanyalah waktu yang tenang untuknya bisa berpikir dengan benar dan mengambil keputusan yang tepat untuknya kini.
.
.
.
.
.
Plaaaakk! Plakk! Dua buah tamparan ssuper keras yang mendarat mulus di pipi kanan Naruto. Naruto sudah menduga hal ini. Butuh seharian untuknya mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan semua hal pada ibunya. Semua hal. Tentang Sakura, Hinata dan bayinya.
Plakkkk! Satu lagi tamparan yang cukup membuat pipi Naruto mati rasa dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.
Kushina yang masih menatap tak percaya anak tunggal nya ini. Hinata pergi semalam siang dan Naruto baru mengatakannya siang ini! Dan semua yang telah Naruto lakukan pada Hinata. Bagaimana bisa anaknya melakukan hal seperti itu pada Hinata. Kushina sungguh mengira mereka baik-baik saja karena Hinata sendirilah yang mengatakannya tapi ternyata..
Plaakkk! Satu lagi tamparan yang mendarat di pipi kanan Naruto semakin nyeri, memerah bahkan membiru.
"Kau sungguh keterlaluan Naruto! Bagaimana bisa kau memperlakukan Hinata seperti itu dan anakmu sendiri!" marah Kushina pada Naruto yang masih terdiam. Kushina sungguh tak menyangka anaknya menjadi sangat brengsek. Tega-tega nya ia bahkan mengatakan ia tak perduli jika anaknya mati dan dia juga mengatakan menyesal membuat anak itu. Anaknya sungguh brengsek.
Kushina tak bisa berkata apa-apa soal Sakura tapi Naruto tetap saja salah karena berlaku buruk pada Hinata yang tengah mengandung anaknya!
Kushina tahu pernikahan ini memang terpaksa tapi Hinata adalah gadis yang baik. Bagaimana bisa Naruto tega melalukan hal buruk padanya. Dia bahkan membiarkan Hinata pergi tanpa meminta maaf padanya.
"Kau harus mencarinya." Naruto yang hanya terdiam. Ia sungguh bingung. Ia menyalahkan Hinata atas semuanya tapi semua ini berawal dari Sakura. Sakura sungguh tega membohonginya dan memanfaatkan Hinata. Ia sangat tak tahu ingin melakukan apa. Semua hal yang terjadi. Semua hal yang ia katakan pada Hinata. Semua hal yang telah ia lakukan pada Hinata. Bagaimana bisa ia membawa Hinata kembali? Ia bahkan terlalu malu pada dirinya sendiri.
Naruto hanya perlu waktu untuk mencerna semua ini.
"Naruto. Apakah kau mendengarkan aku? Kau harus mencarinya dan membawanya kembali." Kushina kembali mengulangi ucapannya dan Naruto yang masih menundukkan kepalanya.
"Ibu.. Aku tak bisa." setelah semua yang terjadi. Tak mungkin Naruto bisa membawa Hinata kembali.
Plaaakkk! Satu lagi tamparan yang mendarat di pipi kanan Naruto.
.
.
.
.
.
.
4 bukan kemudian..
Matahari yang masih bersembunyi dibalik awan yang gelap. Air-air hujan yang terus membasahi jepang dan seluruh isinya. Jam telah menunjuk pukul 18.20
Terlihat Kushina, Hiashi dan Minato yang masih terduduk berseberangan di sofa yang terdapat di Hyuuga mansion.
Mereka yang masih sibuk tenggelam dipikiran masing-masing tapi saling berkaitan. Mereka sangat bingung. Anak mereka yang hilang entah kemana atau lebih tepatnya pergi. Mereka khawatir pada Hinata yang tengah hamil, siapa yang merawatnya? Bagaimana kabarnya? Apakah dia baik-baik saja? Dan begitu juga dengan Naruto. Apakah dia baik-baik saja? Bagaimana kabarnya?
Mereka sangat bingung.
"Apakah masih tak ada tanda-tanda kemana mereka pergi?" Kushina yang akhirnya membuka pembicaraan. Usia kandungan Hinata sudah hampir mencapai 9 bulan. Siapa yang akan menemaninya jika mereka masih tak bisa menemuinya. Apakah Hinata bisa merawat bayinya yang baru lahir? Apakah dia bisa merawat dirinya?
"Tak ada yang tahu." jawab Hiashi frustasi. Ia sudah menggerakan banyak sekali manusia untuk mencari anaknya dan Naruto tapi tak ada satupun yang bisa menemukan mereka.
"Hiashi. Maafkan aku. Ini semua karena anakku. Kumohon. Aku sungguh minta maaf. Aku sungguh tak mengira hal ini akan terjadi." air mata Kushina yang mulai mengalir. Ia sangat menyesal. Sehari setelah ia memarahi Naruto. Naruto pun hilang entah kemana. Ia sangat khawatir.
"Hal itu telah berlalu Kushina. Tak ada yang bisa kita lakukan." jawab Hiashi pasrah. Ia sangat sangat terkejut mendengar kebenaran rumah tangga Hinata dan Naruto tapi tak ada yang bisa ia lakukan sekarang. Bertengkar tak akan bisa membuat keadaan membaik. Mungkin Naruto beruntung karena pergi sebelum Hiashi tahu hal ini. Jika saja tidak. Naruto sudah lama berakhir di kuburan.
"Dan sekarang apa yang harus kita lakukan hiks.. Hinata sedang hamil dan entah di mana. Dia mungkin akan melahirkan sebentar lagi. Hiks.. Siapa yang akan menemaninya dan membantunya?" kedua telapak tangan Kushina yang menutup wajahnya yang dipenuhi air mata. Ia sangat putus asa.
Minato yang mengelus lembut punggung istrinya. Keadaannya tak jauh beda dari istrinya. Is sungguh frustasi. Tak ada kabar soal anaknya sedikitpun. Ia bahkan tak tahu anaknya itu masih hidup atau mati.
.
.
.
.
.
"Maafkan aku tapi aku masih perlu waktu."
Sasuke yang menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi yang ia duduki. Hinata menolaknya. Hinata menolaknya. Mengapa Hinata menolaknya? Hinata selalu saja memikirkan lelaki yang telah bersikap buruk padanya. Ia terus merasa bersalah. Ia merasa bersalah karena telah meninggalkan Naruto disaat Naruto tahu kesalahan yang telah ia lakukan. Ia terus takut jika Naruto terpuruk.
"Aku mengerti."
"Haah~" Sasuke yang kembali menghela nafasnya. Hinata bahkan menolak untuk bertemu dengannya.
"Dia pasti sangat terluka."
.
.
.
.
.
Beberapa hari kemudian..
Matahari yang bersinar terang, jam yang telah menunjuk pukul 12.32
Seorang gadis bersurai indigo yang tengah terduduk di sebuah bangku di balkon dilantai dua. Satu tangannya yang terus mengelus perutnya yang membesar dan matanya yang terfokus pada langit yang bersinar terang.
"Bagaimana kabarnya?" tanya sang gadis yang ternyata Hinata. Ia khawatir pada suaminya. Bagaimana jika Naruto sungguh terpuruk karena mengetahui kebenaran soal Sakura? Tapi Hinata masih terlalu takut untuk bertemu dengannya. Ia tak ingin lagi mendengar kata-kata kasar dari suaminya itu. Hatinya masih terlalu sakit untuk bertemu dengannya.
Hinata juga merasa sangat bersalah karena pergi tanpa sepengetahuan ayahnya dan pergi begini lama. Maafkan Hinata. Hinata hanya masih terlalu takut untuk memikirkan kehidupan rumah tangganya yang kacau.
Saat ini Hinata ada ditempat yang jauh.. Yang sangat jauh bahkan ayahnya sendiri tak akan bisa menebak dimana ia kini. Ia tinggal disebuah rumah bersama beberapa maid untuk membantunya dan seorang dokter untuk selalu menjaga kondisi dirinya dan bayi yang sudah membesar diperutnya.
"Aaa!" desis Hinata sakit ketika ia merasa sakit diperutnya. Kemarin dokter mengatakan jika ia akan melahirnya beberapa hari lagi. Apakah hari ini waktunya?
"Aaa! auu! Ka-karin! AaKarin.." panggil Hinata sambil berusaha melangkah memasuki rumahnya. Perutnya sakit sekali.
!
"Hinata-san.. Mari saya bantu."
.
.
.
.
.
"Haah~ haah~" helaan nafas lelah Hinata yang terus terdengar sedari tadi. Badannya yang masih terbaring lemah di bed pasien di ruangan bersalin dirumah sakit didekat rumahnya tinggal. Ia bahkan terlalu lelah dan kesakitan untuk memikirkan sesuatu.
"Selamat Hinata-san. Bayi anda laki-laki dan sehat." ucap seorang dokter bernama Karin sambil membaringkan bayi yang baru dilahirkan Hinata ke dekat dada Hinata.
"Terima haah~ ka-kasih... Karin."
Hinata yang melirik lemah ke arah putranya yang telah bersih dari darah dan tengah tertidur. Lihatlah tiga goresan di kedua pipinya. Ia terlihat mirip dengan Naruto.
...
Hinata sendirian, tak ada yang menemaninya disini. Ia sangat merasa kesepian. Ia ingin ayah dari anak ini menemaninya tapi tak mungkin.. Sudah hampir lima bulan ini, ia bahkan tak mendengar kabar Naruto sedikitpun. Jauh didalam lubuk hati Hinata. Ia sungguh berharap Naruto baik-baik saja.( Hinata tak tahu jika Naruto menghilang dari jepang.)
Kepala Hinata yang terasa berputar, pandangannya yang terlihat kabur.
"Hinata-san? Hinata-san?" panggil Karin khawatir sambil menguncang pelan lengan Hinata. Hinata tiba-tiba pingsan.
"Hinata-san!"
.
.
.
.
.
.
Satu tahun kemudian..
"Apa ada kabar baru dari Naruto?" pertanyaan yang pertama kali terlontar dari mulut Hiashi ketika ia bertemu dengan Kushina.
"Masih tak ada. Hanya yang kemarin dia bilang.. Dia tak akan kembali sebelum Hinata yang memintanya.." jawab Kushina pasrah. Satu bulan lalu Naruto mengirimnya pesan dengan mengatakan jika tak Hinata yang memintanya pulang, ia tak akan pulang dan setelah itu nomornya tak bisa dihubungi. Kushina sungguh tak tahu dimana Naruto kini. Mereka bahkan tak bisa melacak nomornya. Naruto sungguh berniat menyendiri, menjauh dari semuanya. Naruto sangat terpuruk setelah ia mengetahui kesalahan yang telah ia lakukan pada Hinata. Ia sangat merasa bersalah. Ia sangat terpuruk tapi Kushina tak bisa melakukan apapun soal ini kerena ia sendiri pun tak tahu dimana Naruto berada maupun Hinata.
"Dan bagaimana denganmu?" tanya Kushina kembali. Sekarang sudah satu tahun. Harusnya cucunya sudah berumur satu tahun. Kushina sungguh ingin melihatnya. Bertemu dengan cucunya dan Hinata. Ia sungguh khawatir pada mereka.
"Masih sama. Dia masih ingin sendiri." jawab Hiashi apa adanya. Beberapa bulan lalu dan dua minggu lalu. Hinata mengirimnya pesan dengan mengatakan. Jangan khawatir padanya. Ia baik-baik saja dan dirinya masih perlu waktu untuk menenangkan pikirkan nya. Hal yang sama dengan Kushina. Ia telah melacak nomor Hinata tapi ia tetap tak menemukan apapun.
...
Kushina yang hanya terdiam. Ia sungguh tak tahu ingin berkata apa. Naruto sungguh telah sangat menyakiti Hinata. Kushina bahkan tak tahu butuh berapa lama lagi agar hati Hinata bisa terobati.
.
.
.
.
.
Tujuh bulan kemudian...
18.01
"Hup.."
"Gugaagaahh!" ucap seorang anak kecil berusia satu tahun tujuh bulan senang ketika seorang lelaki menangkapnya yang tengah kesusahan berjalan.
"Boruto semakin bisa berjalan. Hinata" ucap sang lelaki sambil mengendong anak lelaki bersurai kuning yang terus tertawa bahagia.
"Hm.. Kau benar Sasuke." jawab Hinata yang baru selesai mengelap tangannya dan menghampiri putranya.
"Gugaaga.." Boruto yang terus bertepuk tangan ketika Hinata mengendongnya.
"Tak terasa waktu berjalan dengan cepat." ucap Hinata sambil kembali mengamati wajah putranya. Ia sangat senang dengan kehadiran putranya ini dan Sasuke...
"Hinata.. Apakah kau sudah memikirkan soal untuk menikah denganku?" tanya Sasuke yang membuat Hinata menatapnya. Selama satu tahun ini. Sasuke selalu mengunjunginya dan menemani nya serta putranya. Sasuke selalu datang sebulan beberapa kali untuk mengecek keadaannya. Hinata senang kerena Sasuke sangat mengerti keadaannya. Dan apakah Hinata belum mengatakan jika dirinya dan Naruto masih belum bercerai?
Sebuah senyuman tipis yang menghiasi bibir Hinata.
.
.
.
.
.
.
.
17.43
Matahari yang terus menurun. Hinata yang masih berdiri di atas bukit dengan putranya di gendongannya. Mereka yang masih menikmati matahari yang sudah ingin tenggelam.
"Ibu rasa sudah waktunya kita pulang Boruto." ucap Hinata yang masih menatap lurus kedepan. Rasanya sudah waktunya ia pulang ke jepang.. Rasanya keberanian nya untuk menghadapi Naruto sudah muncul.
.
Hinata yang membalikkan badannya dan melangkah pergi. langkahnya terhenti ketika ia menatap sebuah kaki yang dibalut sepatu mahal.
Hinata yang hanya terdiam ketika ia mengangkat kepalanya dan menatap siapa pemilik sepatu mahal itu yang berjarak satu meter didepannya. Ia tak terkejut maupun sebaliknya. Hinata hanya merasa tak ada yang spesial.
Kedua mata yang masih saling bertatapan tapi tak ada yang berniat untuk memulai percakapan atau lebih tepatnya tak tahu ingin berkata apa. Mulut mereka seolah membeku. Suara mereka seolah hilang.
.
.
Beberapa menit saling memandang, akhirnya Hinata pun melemparkan sebuah senyuman tipis. Seolah mengatakan entahlah. Ia sendiri tak mengerti. Dari sekian banyaknya manusia di negeri ini. Bagaimana bisa ia bertemu dengan suaminya disini?
"Maafkan aku. Harusnya aku tak menilainya hanya dari sudut pandangku." Naruto yang akhirnya membuka percakapan. Ia sangat menyesal. Ia sungguh merasa menyesal atas semua yang telah ia lakukan pada Hinata. Entah keberuntungan atau kesialan, ia yang ingin menikmati matahari terbenam bertemu dengan Hinata. Jadi selama ini Hinata juga bersembunyi di negeri ini. Tak disangka. Ternyata dua tahun ini mereka sangat dekat.
"Tidak. Itu salahku. Harusnya aku tak menilainya hanya dari sudut pandangku." jawab Hinata sambil menundukan kepalanya. Jika saja waktu itu ia tak menutup pikirannya. Hal ini tak akan terjadi. Tak seharusnya ia menilai sesuatu tak yang tak ia lihat.( waktu Sakuda terlanggar, Hinata kan tak melihat ke arah jalan dan bagaimana kejadiannya. Tapi ia menyalahkan dirinya karena mobilnya lah yang melanggar Sakura yang entah kenapa bisa berada dijalan)
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Hinata khawatir. Ia takut jika Naruto terpuruk kerena mengetahui kebenaran soal Sakura.
"Aku pantas mendapatkannya." jawab Naruto yang membuat Hinata tersenyum tipis. Sudah Hinata duga. Jadi bukankah mereka sudah impas? Selama ini Naruto menghukum dirinya dengan menyendiri di kamar dan menyesali perbuatannya. Tapi ini masih belum cukup dengan apa yang telah ia lakukan pada Hinata.
Hinata yang melangkah menghampiri Naruto dan menempelkan satu telapak tangannya ke dada Naruto.
"Sudah kubilang. Pikirkan dengan tenang. Itu bukan salahmu.. Kau juga tak tahu soal itu. Jika aku berada di posisimu. Aku juga akan menjadi sepertimu." ucap Hinata dengan senyum lembutnya. Ia tak bisa menyalahkan Naruto atas apa yang terjadi karena Naruto tak juga tak tahu apa-apa soal ini sama seperti dirinya.
"Itu salahku. Aku juga tak seharusnya berkata kasar pada mu dan anakku sendiri." Ucap Naruto dengan wajahnya yang memerah menahan tangisnya. Ia merasa sangat menyesal. Setelah semua yang ia lakukan pada Hinata, Hinata masih tak menyalahkannya.
"Kau hanya marah. Semua ucapanmu hanya emosi sesaat." jawab Hinata yang yakin. Ia telah memikirkan semuanya. Apa yang harus ia lakukan ketika ia bertemu lagi dengan Naruto. Jalan apa yang ia pilih. Semua ini bukan salah Naruto melainkan salahnya. Salahnya kerena terlalu bodoh.
"Semua itu hanya kesalahan dan itu sudah menjadi masa lalu. Hal itu sudah lewat. Jangan lagi memikirkannya." sambung Hinata ketika ia melihat setetes air mata Naruto yang mengalir keluar. Naruto sungguh merasa bersalah. Ia sungguh telah melakukan kesalahan besar pada Hinata. Tak seharusnya Hinata memaafkannya semudah ini. Ia bahkan sama sekali tak berani meminta Hinata untuk kembali padanya ataupun memaafkannya.
Hinata yang menahan kepalanya agar tak tertunduk. Ia bingung, tak tahu ingin mengatakan apa lagi. Ia sudah memutuskan bahwa semua ini bukanlah salah Naruto atau mungkin juga bukan salahnya. Dinilai dari manapun, Naruto hanyalah kesal karena harus menikah dengan seseorang yang membunuh orang tercintanya. Semua orang juga akan sepertinya jika berada diposisinya kan?
Hinata merasa seolah takdirlah yang menghubungkan mereka. Lihatlah Hinata sering mencoba keluar dari rumah itu tapi ia gagal bahkan hingga kini ia tak bisa berhenti memikirkan Naruto karena kebenaran dibalik kecelakaan Sakura dan ternyata selama ini mereka berada di negeri yang sama. Rasanya bersama Naruto adalah takdirnya. Tapi setelah semua yang terjadi.. Apakah mungkin?
"Maafkan aku.." ucap Naruto menyesal ketika satu tangan Hinata menghapus air matanya yang menetes.
jika seorang lelaki sudah meneteskan air mata. Maka ia sudah sangat tulus, Naruto sungguh menyesal.
"Tak apa.. Kejadian itu sudah lama. Aku sudah tak apa-apa." jawab Hinata apa adanya. Percayalah. Ini bukan salah Naruto. Naruto juga adalah korban dari rencana Sakura. Hinata mengerti betapa menderitanya Naruto kini. Sama seperti dirinya yang merasa terpuruk karena merasa telah membunuh Sakura.
"Maafkan aku.." air mata Naruto yang semakin mengalir ketika ia memeluk putranya di gendongan Hinata.
"Aku sungguh minta maaf." Naruto yang semakin memeluk erat putranya. Menahan sekuat tenaga agar isakannya tak keluar.
Hinata yang hanya bisa mengelus lembut lengan Naruto. Ternyata benar. Selama ini Naruto terus merasa bersalah.
Flashback..
.
Hinata yang hanya tersenyum lembut pada ucapan Sasuke padanya.
"Maafkan aku.. Aku tak bisa.. Aku harus kembali rumahku." jawab Hinata menurunkan suaranya di kata rumahku.
Sasuke yang terdiam sejenak. Ia tahu apa arti rumah yang dikatakan Hinata. Ternyata Hinata menolaknya lagi.
Selama ini rasa bersalah terus mengeluguti Hinata. Ia tak bisa tenang kerana Naruto terus membayangi nya. Bagimana bisa dirinya pergi ke Sasuke dan membiarkan Naruto yang mungkin sedang terpuruk? Keberanian nya untuk menemui Naruto memang belum ada tapi keberanian itu perlahan datang dan memaksa Hinata untuk pulang dan menemui Naruto. Ia harus menemui Naruto dan berbicara padanya tapi itu bukan berarti Hinata akan kembali padanya...
"Aku mengerti." jawab Sasuke berusaha menekan rasa kecewanya.
.
Flashback end..
.
.
"Maafkan aku."
"Naruto.. Sudahlah.. Kau tak perlu minta maaf." ucap Hinata lembut ketika Naruto tak kunjung berhenti mengatakan maafkan aku. Hinata bersumpah. Ini sungguh bukan salah Naruto. Naruto hanya termakan didalam kebohongan yang Sakura lakukan.
Bagaimana bisa Hinata tenang jika Naruto masih bersedih begini? Ia memberi Naruto waktu agar bisa berpikir dengan benar tapi Naruto malah menyalahkan dirinya sendiri.
"Maafkan aku." lagi-lagi kata-kata ini keluar dari mulut Naruto. Keningnya yang menempel di pundak yang masih terlapiri baju Boruto. Air matanya yang terus membasahi lengan mungil Boruto. Naruto sungguh tak bisa memaafkan dirinya sendiri. Hanya maaf yang bisa ia katakan pada Hinata. Ia bahkan terlalu merasa bersalah dan merasa tak pantas untuk meminta Hinata kembali. Ia sungguh tak tahu ingin melakukan apa. Ia sungguh bingung. Ia sangat putus asa. Apa yang bisa ia lakukan kini?
"Maafkan aku."
"Naruto sudahlah.. Jangan merasa bersalah lagi." lagi-lagi Hinata mengulangi ucapannya. Harus berapa ratus kali lagi ia katakan. Jika ini sungguh bukan salah Naruto. Semua ini terjadi hanya karena salah paham.
"Aku bersumpah.. Akan memperbaiki semuanya. Kumohon... Pulanglah denganku.." ucapan yang terlontar tanpa sadar dari mulut Naruto yang membuat Hinata membeku.
.
Hinata yang masih terdiam. Naruto memintanya untuk pulang? Dua tahun sudah cukup untuk Naruto merenungkan masalah ini kan? Naruto bersungguh-sungguh mengatakannya kan?
...
"Maafkan aku harus pergi. Suamiku sepertinya sudah menungguku." Naruto yang langsung terdiam ketika ia mendengar Hinata mengatakan suamiku sudah menungguku.
...
Naruto yang langsung memundurkan dua langkah dirinya. Hinata sudah bersuami? Tapi Hinata kan masih istrinya... Dengan siapa ia menikah? Apakah Hinata sungguh tak bisa kembali lagi padanya? Apakah Hinata hanya memaafkannya tanpa niat untuk kembali padanya? Sungguhkah Hinata tak bisa lagi kembali padanya? Sungguh kah tak ada kesempatan untuknya menebus kesalahannya?Sungguhkah tak ada kesempatan lagi? Naruto tak perduli jika Hinata tak bisa memaafkannya tapi berikan dirinya kesempatan untuk menebus kesalahannya. Ia bahkan tak perduli jika Hinata akan menyiksanya. Tapi tak bisakah berikan dirinya satu kali kesempatan?
"Maafkan aku." ucap Hinata yang kemudian langsung melangkah pergi melewati Naruto. Hinata lega. Hinata senang. Hinata bahagia.
Sungguhkah kah ada kesempatan untuknya? Tak bisa kah Hinata kembali padanya? Tak bisakah berikan Naruto kesempatan untuk menebus kesalahannya?
.
.
.
.
.
.
Hinata yang menghentikan langkahnya di langkah ke sepuluh.
"Hei.. Mengapa kau masih berdiri disana? Kita harus pulang kan?" panggil Hinata dengan senyum bahagianya sambil melambaikan tangannya yang membuat Naruto perlahan membalikkan badannya dan menatap kesana-kesini. Ia tak melihat siapapun selain dirinya, Hinata dan putranya.
Hati Hinata memang belum sembuh total tapi setidaknya. Ia sudah merasa jauh lebih baik.
"Gagaga.." Senyum di bibir Hinata yang semakin mengembang ketika ia melihat Boruto ikut melambaikan tangannya dengan susah payah. Hinata bahagia entah karena apa.. Yang ia tahu ia hanya senang karena akhirnya ia bisa membuat Naruto melupakan Sakura dan menangis karenanya? Mungkin menerimanya? Ia bahkan tak tahu sejak kapan ia mengharapkan lelaki ini.. Tapi yang jelas saat ini ia senang bisa bertemu lagi dengan lelaki ini. Ia merindukan lelaki ini yang entah kerena apa. Ia hanya senang karena masalahnya dua tahun lalu mungkin sudah selesai. Kini ia punya alasan untuk pulang. Ia senang. Apakah Naruto sungguh akan memperbaiki semuanya? Apakah rumah tangganya yang tanpa kabar 2 tahun ini kembali dimulai?
Naruto yang masih membeku dan menatap Hinata tak mengerti apa maksud dari semua ini?
"Iya suamiku...-
.
.
Bukan. Ini bukan sebuah kesempatan. Tapi ini adalah permulaan dalam sebuah hubungan. Hinata memang menghawatirkan Naruto tapi ia tak bilang ia mencintainya. begitu juga dengan sabliknya, Naruto ingin meminta Hinata kembali karena ia ingin menebus kesalahannya bukan kerena ia mencintai Hinata.
Ini adalah permulaan. Permulaan yang mungkin dimulai dari kesalahan, rasa bersalah, niat untuk memperbaiki, saling memaafkan dan akhirnya... Cinta.
Mungkin ini tak akan mudah jika masa lalu yang buruk terus membayangi mereka. Tapi semua ini hanyalah kesalahan. Tak ada salahnya hal ini dimulai kembali.
.
.
-kita harus pulang kerumah kita.."
.
Kepala Naruto yang kembali tertunduk dengan air matanya yang langsung mengalir deras. Kedua tangannya yang terkepal erat. Giginya yang saling berkatup erat, menahan tangisnya agar tak pecah. Ia sungguh tak tahu ingin berkata apa.
Sungguh kah Hinata menerimanya? Jika iya..
.
"Aku bersumpah akan membahagiakanmu, Hinata."
.
.
"Apapun yang terjadi.."
.
.
.
.
The end.
.
.
.
.
Oh tidak... Akhirnya NaruHina lagi..
Yah.. Sejujurnya setelah aku pikir-pikir.. Naruto Kan juga korban disini jadi ya.. Dia ga boleh begitu di salah in dan juga hinata sendiri yang mengatakan lupakan masa lalu.. Jeng.. Jadi ia juga harus melupakan masa lalu buruknya.. Dan juga karena kalian ingin Ending NaruHina.. Yaaa... Hmm.. Ya udh la.. Dari pada nanti author dikutuk macam-macam.. Wkwkwkw.. Canda kok..
Dan rasanya dua tahun naruto menyendiri dikamar yang gelap dan merenungkan kesalahan. Sudah cukup menghukumnya ya.?
Ni sedikit cerita.. Kalau misalnya endingnya non naruhina. Entar si hinata serahin surat cerai ke Naruto dan pergi dengan Sasuke tapi perasaan Hinata tetap tak tenang karena lihat betapa sedihnya Naruto.. Dan naruto yang sungguh menyesal entah bagaimana cara mengungkapkannya.. Ya. Kira kira begitulah..
Sorry skrang baru sempat up.. Soalnya author pening bangat.. Wkwkwk.. Naruhina? eggak? Naruhina? Nggak? Ya akhirnya ya begini de... Entah aneh atau tidak cerita nya.. Jika iya mohon maaf..
Hope you guys enjoy this..
Oh iya. Author nanya dong.. Dari kalian yang baca.. ada ga dari kalian. Yang juga berpikir bahwa Naruto itu hanya korban kebohongan Sakura? Dan orang tercintanya mati karena seseorang yang akan menjadi istrinya menyebabkan dirinya menjadi begini jahat? So.. Naruto ga begitu salah kan? Iya kan? Iya kan? *ngotot*
Oh ya. Mau tambahan ga? Kalau mau entar aauthor buat? Emm.. Tambahan untuk membuktikan bahwa keluarga ini bahagia..
Bye-bye.
