Chanyeol tidak mengenal siapa perempuan yang tiba-tiba saja dengan seenaknya memeluk Baekhyun. Tapi yang pasti, darah dalam tubuhnya mendidih karena marah. Aura di sekeliling tubuhnya menjadi hitam. Dan tidak peduli jika lawannya adalah seorang perempuan, Chanyeol dengan kuat menarik tubuh si perempuan hingga pelukkannya pada Baekhyu terlepas. Pada saat itu, dirinya menarik Baekhyun agar berdiri di belakang tubuhnya.
"Jangan memeluk Baekhyun sembarangan!"
Tatapan tajam dari perempuan yang telah di dorong kasar olehnya sedikit membuat dirinya merasa terintimidasi. Bagaimana tidak, setajam dan sedatarnya tatapan yang sering Baekhyun berikan untuknya, tidak dapat membuat tatapan datar dari si perempuan dapat di hadapinya. Chanyeol menelan air liurnya lalu menggenggam tangan Baekhyun yang berada di belakang tubuhnya. Ia mengerutkan keningnya, memberikan tatapan tajam sebisanya kearah perempuan tersebut.
"Siapa kau?"
Desisan pelan si perempuan membuat Chanyeol tersentak. Suaranya saat berbicara dengan Baekhyun sangat berbeda seperti saat ini. Benar-benar datar dan sangat tidak bersahabat.
"Kau yang siapa? Datang-datang langsung memeluk Baekhyun seperti itu."
Soojung mendecak kesal dengan dengusan pelannya. Ia melangkah mendekati lelaki yang lebih tinggi darinya dan menatapnya dengan kepala yang mendongak. Tanpa menghilangkan tatapan tajamnya, ia menunjuk lelaki yang tidak di kenalnya itu dengan jari telunjuknya yang tepat berada di depan hidung si lelaki.
"Minggir kau. Menjauh dari Baekhyun-ku."
"Apa yang Baekhyun-mu? Ini Baekhyun-ku," ucap Chanyeol penuh dengan penekanan. Ia dan perempuan di depannya saling melemparkan tatapan tajam hingga menghasilkan kilatan petir tak kasat mata.
Chanyeol menjulurkan tangannya kebelakang untuk kembali memegang tangan Baaekhyun. Namun saat merasakan hawa kosong di belakangnya dirinya menjadi panic kemudian menoleh dengan cepat. Matanya membola karena tidak mendapati Baekhyun di belakangnya. Ia menatap kearah murid lainnya yang sedari tadi memperhatikan perkelahiannya.
"Mana Baekhyun?"
"Dia pergi kesana."
Chanyeol menggeram kesal kemudian berlari mengikuti arah yang di tunjuk oleh salah satu temannya. Setelah mengucapkan terima kasih tentunya. Sedangkan Soojung yang melihat Chanyeol berlari ikut mengerjar lelaki tinggi itu. Dan menyisakan para murid yang saling bertatapan bingung.
Kecuali satu orang yang sejak tadi memperhatikan pertengkaran kecil itu dalam diam. Sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya dan bersandar di jendela kelas, Jongin memperhatikan. Lebih tepatnya memperhatikan perempuan yang datang secara tiba-tiba dan membuat suasana semakin heboh.
"Jadi dia murid baru? Woah, cantik sekali."
"Aku akan menjadikannya kekasihku."
"Enak saja. Aku yang akan menjadi kekasihnya."
Jongin mendengus dengan senyuman miringnya mendengar ucapan teamn-temannya. Kakinya melangkah di tengah lorong dengan santai. Kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celananya.
"Hei, Jongin. Kau mau kemana? Arah ruang makan bukan kesana."
Tanpa menoleh, Jongin mengangkat salah satu tangannya dan berteriak menjawab ucapan temannya. "Aku ada urusan," langkah santainya membawanya pada persimpangan menuju atap. Maniknya dapat melihat Chanyeol dan Soojung yang berebut melewati pintu atap. Ia terkekeh pelan kemudian diam berdiri ditempatnya.
Setelah diam sejenak, ia membalikkan tubuhnya menjauhi pintu atap yang telah tertutup. "Buat apa aku disini…"
.
My Squishy
ChanBaek
Chapter 10
tulisan miring adalah flashback
.
Chanyeol dan Soojung sampai diatas atap secara bersamaan. Kedunya juga melewati pintu secara bersamaan walaupun keduanya harus susah payah memasukinya karena ukuran pintu yang tidak cukup untuk kedua tubuh mereka. Saat keduanya mendapati keberadaan Baekhyun, keduanya langsung berlari menuju Baekhyun. Chanyeol lebih dulu mengambil tempat duduk disamping Baekhyun, sedangkan Soojung menghentikan larinya saat melihat sosok wanita yang duduk bersama dengan Baekhyun.
Sambil mengeraskan rahangnya, Soojung melangkah tegap mendekat kearah si wanita. "Kenapa dia ada disini?"
"Dia guru disini," Chanyeol menjawab pertanyaan 'musuh' barunya itu sambil membuka kotak makannya.
"Aku tau," dengusan kesal dikeluarkan oleh Soojung. "Kenapa dia makan disini?"
"Sudahlah, Soojung. Diam dan duduk sekarang."
"Aku ingin duduk di sebelahmu."
Baekhyun menoleh kearah sampingnya, karena sudah ada Chanyeol yang duduk di sisi lain dirinya, sudah tidak ada lagi ruang untuk Soojung untuk duduk. Walaupun ada, sangat kecil dan mereka harus duduk berdempetan.
"Tapi sudah ada Chanyeol."
"Usir saja dia."
"Hei!" Chanyeop yang tidak terima dengan ucapan perempuan tidak di kenalnya langsung melancarka protesnya. Dengan makanan yang masih berada di dalam mulutnya, ia memberikan tatapan kearah perempuan itu. Yang di balas lebih tajam oleh Soojung yang tengah berdiri dengan kedua tangan di lipat di depan dadanya.
Baekhyun yang tidak mau repot, menggeser tubuhnya hingga menempel pada Chanyeol bermaksud untuk memberikan ruang untuk Soojung. Namun bagi Chanyeol, hal tersebut malah membuat tatapan tajamnya untuk Soojung menjadi hancur. Digantikan oleh mata yang membulat dan semburat merah di pipinya.
Soojung yang menangkap hal tersebut mendecih pelan kemudian mendudukkan tubuhnya dengan kasar di sisi lain Baekhyun.
"Baek, aku tidak bawa bekal~"
"Sebaiknya kau ke ruang makan untuk mengambil jatah makan siangmu," Chanyeol dengan cepat menjawab ucapan Soojung dengan nada yang ketus.
"Aku ingin disini," Soojungpun membalas dengan tak kalah ketus.
Baekhyun yang berada diantara keduanya menghela nafas pelan lalu tanpa berucap satu katapun, ia menggesek kotak makannya kearah Soojung. "Makanlah."
"Tapi kau bagaimana?" Soojung menatap Baekhyun dengan tatapan penuh tanya. Ia menatap bekal yang dibawa oleh Baekhyun lalu tersenyum kecil melihat sosis yang menjadi lauknya.
"Baekhyun akan makan bersamaku," dengan penuh semangat Chanyeop menyendokkan bekal miliknya dengan sendok kemudian ia mengarahkan sendoknya di depan mulut Baekhyun. "Ayo buka mulutmu, Baek."
Baekhyun menatap sodoran makanan dari Chanyeol. Dengan polosnya, ia menerima suapan dari Chanyeol lalu mengunyah makanan tersebut dalam diam. Jika Chanyeol tersenang-senang di tempat duduknya, berbeda dengan Soojung yang menatap kearah Chanyeol dengan kesal.
"Baekhyun juga bisa makan bersamaku," ia menyumpitkan satu potong sosis lalu menyodorkannya kearah Baekhyun. Dan lagi-lagi Baekhyun menerimanya dalam diam. Soojung melemparkan senyuman kemenangan kearah Chanyeol yang menatapnya kesal.
"Memangnya dia itu siapa, Baek? Kenapa dia sok kenal sekali?"
"Aku calon kekasih Baekhyunnie~"
"Tidak. Aku yang calon kekasihnya."
Percikan kilat tak kasat mata kembali tercipta diantara Chanyeol dan Soojung. Keduanya meremas sendok dan sumpit ditangan mereka, bersiap melemparkan benda tersebut jika Baekhyun yang berada di tengah-tengah mereka berdiri. Baekhyun melangkah pelan menuju pintu keluar atap meninggalkan tiga orang yang menatapnya.
"Baekhyun kamu mau kemana?"
"Perpustakaan."
"Aku ikut!" baik Chanyeol maupun Soojung langsung bergegas merapikan kotak makan mereka. Namun tatapan tajam dari Baekhyun membuat pergerakan keduanya terhenti.
"Habiskan makanan kalian terlebih dahulu," setelah mengucapkan kalimat tersebut Baekhyun meninggalkan atap.
Tiffany yang sejak tadi diam memperhatikan ikut berdiri setelah membereskan makanannya. Ia tersenyum kepada dua anak murid di depannya. "Kalau begitu aku pergi dulu. Kalian habiskan makanannya dengan baik."
Sepeninggal Tiffany, Soojung dan Chanyeol menghabiskan bekal mereka dengan cepat tanpa melepaskan tatapan tajam mereka.
.
.
Chanyeol memasuki ruag perpustakaan sambil mengedarkan pandangannya mencari seseorang. Saat mendapati punggung Baekhyun, ia langsung berjalan cepat menuju lelaki mungil itu lalu duduk disampingnya. Menyapa Baekhyun dengan pelan dan memberikan senyuman saat lelaki itu menoleh.
"Kau sendiri?"
Dalam hatinya Chanyeol merasa kesal karena secara tidak langsung Baekhyun menanyakan perempuan yang telah ia ketahui bernama Soojung. Sambil mendengus kesal Chanyeol menjawab pertamyaan Baekhyun. "Dia sudah menyerah karena merasa kalah degan visual ku yang tampan ini."
Baekhyun sedikit mengangkat satu alisnya, merasa bingung dengan ucapan Chanyeol. "Menyerah?"
Si tinggi mengangguk dengan bangga sambil membusungkan dadanya. "Yup. Karena pada akhirnya aku yang akan menamjadi kekasihmu."
"K-kekasih?"
Chanyeol menghentikan senyuman lebarnya saat melihat semburat merah di pipi Baekhyun. Walau dengan cepat lelaki mungil itu menundukkan wajahnya untuk membaca buku, Chanyeol dapat dengan jelas melihat wajah Baekhyun yang memerah. Jantungnya berdetak sangat cepat, membuat dirinya ikut merona. Untuk menstabilkan detakan jantungnya, Chanyeol berdehem pelan kemudian membenarkan letak duduknya. Tangannya merogoh saku blazernya, mengeluarkan sebungkus coklat yang di belinya di kanting sekolah sebelum ia mengunjungi Baekhyun.
"Baekhyun," panggilan Chanyeol membuat Baekhyun menoleh. Mata sipitnya membesar saat sebuah coklat menempel di bibirnya karena Chanyeol menyodorkan potongan coklat tersebut kearahnya. "Makan ini."
Dengan ragu Baekhyun membuka mulutnya lalu menerima coklat pemberian Chanyeol. Mulutnya mengunyah pelan coklat tersebut sambil bertatapan dengan Chanyeol. Walaupun terasa canggung, namun Baekhyun tidak menghindari tatapan Chanyeol. Melainkan membalas tatapan lelaki di tinggi itu.
"Bukannya tidak boleh membawa makanan ke perpustakaan?"
"Aku menyelipkan coklat ini di saku blazerku," Chanyeol memberikan senyuman lebarnya sambil menunjuk kearah saku blazernya.
Baekhyun tidak berminat menjawab ucapan Chanyeol. Jadi dia hanya melirik kearah blazer Chanyeol lalu kembali membaca bukunya. Namun ia kembali menatap Chanyeol saat lelalki itu menarik dagunya. Sipit Baekhyun menatap Chanyeol dengan bingung. Tubuhnya sedikit bergetar akibat detakan cepat di jantungnya. "Kenapa?"cicitnya pelan.
"Ada coklat dibibirmu," mata Chanyeol berfokus pas bibir Baekhyun. Dengan menggunakan ibu jarinya, Chanyeol membersihkan coklat di bibir Baekhyun. Ia menjilat ibu jarinya yang ia gunakan untuk membersihkan bibir Baekhyun sambil menatap lelaki mungil di depannya.
Chanyeol kembali menangkup satu pipi Baekhyun lalu perlaha mendekatkan wajahnya. Ia memiringkan kepalanya dengan bibir yang sedikit dikerucutkan. Matanya menjadi sayu seiiring dengan wajahnya yang semakin mendekat dengan wajah Baekhyun. Sedikit lagi ia akan mempertemukan bibirnya dengan bibir Baekhyun. Namun kenyataannya bibirnya hanya dapat mengecup tangan Baekhyun karena lelaki itu menutup bibirnya dengan tangannya.
Chanyeol menjauhkan wajahnya lalu menatap Baekhyun.
"Aku belum mau menikah."
Dan ucapan Baekhyun membuat Chanyeol mengedipkan matanya cepat karena bingung dengan maksud perkataan si mungil.
.
.
Soojung memang pergi ke toillet terlebih dahulu sebelum dirinya menemui Baekhyun di perpustakaan. Namun saat dirinya keluar dari toilet khusus perempuan, sebuah kumpulan lelaki membuat langkahnya berhenti. Apalagi ketika nama Baekhyun terdengar dari sana. Jadi dirinya mendekat dan mendengar perbincangan empat orang yang ada di balik dinding.
"Kenapa si anak baru tadi mendekati Baekhyun sih? Apa dia tidak tau kalau Baekhyun suka dengan wanita yang tua?"
"Tapi sepertinya dia telah mengenal Baekhyun."
"Memangnya tidak ada gossip terbaru tentang Baekhyun dan bu Tiffany, Jongin?"
"Hm… aku belum bertemu mereka berdua lagi."
Soojung menyipitkan matanya saat satu orang lelaki yang menghembuskan asap rokok dari bibirnya. Ia menggeram kesal kemudian menunjukkan dirinya di hadapan para lelaki itu dengan wajah angkuhnya. Ia berdiri dengan kedua tangan yang ia lipat di depan dadanya lalu menatap keempatnya tajam.
"Kalian merokok untuk terlihat keren. Tapi kalian malah bergosip seperti perempuan."
Usai itu ia mengibaskan tangannya dan pergi dari tempat tersebut. Baru saja dirinya berbelok di tikungan, tubuhnya tertarik kebelakang karena seseorang menarik tangannya. Soojung menatap si penarik tangannya, Kim Jongin.
"Soojung."
"Kau siapa? Aku tidak mengenalmu."
Jongin mengacak rambutnya dengan kesal. Ia kembali menatap Soojung dan meraih tangannya. Walaupun dengan cepat Soojung menepisnya. "Dengarkan aku dulu."
"Apa yang harus ku dengar? Simpan kata-kata busukmu itu."
Kemudian Soojung meninggalkan tempatnya, meninggalkan Jongin yang menunduk dengan bahu yang turun. Maniknya melirik punggung Soojung yang semakin menjauh dengan sendu.
Ya. Semua memang salahnya.
.
.
"Hei, kalian beraninya dengan perempuan?" Jongin kecil menatap tiga orang anak lelaki lainnya dengan tajam. Di belakangnya berdiri Baekhyun yang menganggukkan kepalaya sambil menodongkan pistol mainannya.
"Pergi kalian. Atau Baekki tembak!"
Tiga anak lelaki nakal itu berlari sambil menjerit. Takut dengan Baekhyun yang menoongkan pistol kepada mereka. Berbeda dengan Baekhyun yang tersenyum puas. Ia menoleh learah Jongin lalu mereka tertawa bersama kemudian melakukan high five. Kedua anak lelaki itu menoleh pada seorang anak perempuan yang tengah terduduk diatas lantai.
"Kamu tidak apa-apa?" Jongin berjongkok di hadapan anak perempuan itu kemudian menjulurkan tanganya. Hal tersebut juga diikuti oleh Baekhyun. Walaupun bocah 5 tahun itu hanya berjongkok, tidak menjulurkan tangannya.
Namun tidak sesuai dengan harapan kedua bocah tersebut, anak perempuan itu menepis tangan Jongin lalu berlari meninggalkan mereka. Baekhyun mengerucutkan bibirnya kesal.
"Seharusnya dia mengucapkan terima kasih."
Jongin mengiyakan ucapan Baekhyun dengan anggukan dikepalanya. Keduanya saling bertatapan hingga sebuah suara dari perut mereka terdengar.
"Jongin ayo makan. Baekkie bawa sosis yang banyak!"
.
Esoknya, Jongin dan Baekhyun dibuat bingung karena anak perempuan tidak sopan kemarin menghampiri mereka saat jam istirahat. Ngomong-ngomong mereka memang satu sekolah taman kanak-kanak. Yang membuat mereka bingung, bukannya anak perempuan itu sudah menolak mereka dengan tidak sopan? Jadi kenapa dia berada di sini?
"Aku tidak punya teman. Jadi aku mau bermain bersama kalian."
"Boleh saja. Asal kau harus sopan," Baekhyun menyipitkan mata sipitnya. "Kata ibuku, kita harus sopan."
Si anak perempuan menganggukkan kepalanya kuat. Ia menjulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri. "Aku Soojung."
Baekhyun menunjukkan senyuman manisnya. Ia menarik Jongin agar mendekat lalu memeluk tangan Jongin. "Aku Baekhyun, dan ini Jongin."
Jonhin mengangguk lalu tersenyum kearah Soojung. "Ayo kita main!"
"Soojung, nanti makan siang bersama ya. Baekkie bawa sosis yang banyak!" ucap Baekhyun ketika mereka tengah berjalan beriringan menuju taman yang di penuhi dengan arena bermain.
.
"Jadi ini… Cinderella?"
Baekhyun menatap layar televisi di depannya dengan antusias. Ia, dan Jongin sedang bermain di rumah Soojung. Kemudian Soojung mengajak mereka untuk menonton kartun Cinderella. Jongi yang telah tau apa itu Cinderella sempat menolak, karena menurutnya itu sangat membosankan. Ia lebih suka menonton power ranger. Tapi Baekhyun yang tidak mengetahui apa itu Cinderella menjadikan Soojung menang. Karena Baekhyun merengek ingin menonton kartun tersebut.
Baekhyun yang antusias, tidak sekalipun mengalihkan pandangannya dari alur cerita yang disiarkan. Mata sipitnya berbinar saat mendengar lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Cinderella. Kemudian melihat tikus-tikus yang berbicara membuatnya senang. Baekhyun memang dibatasi menonton televisi oleh ibunya. Karena menurut sang ibu, tontonan di televisi tidak semuanya mencontohkan yang baik. Jadi karena tidak ingin memberikan dampak buruk untuk Baekhyun, ibunya selalu membelikan buku-buku cerita yang penuh dengan ilmu pengetahuan dan moral.
Ketika adegan akhir dimana Cinderella dan pangeran menikah, Baekhyun terlihat bingung saat keduanya saling menempelkan bibir mereka.
"Itu… mereka sedang apa?"
"Berciuman."
Baekhyun menatap Jongin penuh tanya. Matanya berkedip cepat, tidak mengerti dengan perkataan Jongin.
"Mereka menikah, Baek. Kemudian mereka berciuman dimana mereka memberikan tanda cinta. Begitu kata ayahku."
Kepala Baekhyun mengangguk pelan-pelan. "Jadi… jika berciuman itu tandanya menikah?"
.
oOo
.
Okay. Chapter ini bener-bener diketik kilat sangat. Minggu ininaku bener-bener sibuk sampe gabisa ngehandle ff ini. Niatnya hari minggu mau fokus ke ff ini Cuma termyata ada acara keluarga dan baru selesai jam 10 malam tadi. Dan akhirnya aku buat ff ini kilat banget. Dari jam setengah 11 tadi. So kalau kurang ngefeel mohon maklum ya u.u
Terus banyak yang mikir ini chapter terakhir? Hm... kayaknya kalia salah tangkep. Maksudnya ff ini alurnya aku cepetin bukan dicepetin langsung di end satu chapter lagi. Engga. Cerita ini masih puanjang banget cuma buat mempersingkat waktu biar gak sampe aku UTS, alurnya di loh~ sekarang paham tak?
Dan thank you buat yang uudah review di chapter kemarin. Jangan lupa review lagi ya^^
