Chapter 11
Ketika Hacker Jatuh Cinta : The CyberWar
The Examination Test
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : NaruSaku, SasuHina, SaIno, ShikaTema, NejiTen
Rating : T
Genre : Sci-Fi, Romance, Crime, Mystery
Warning
-Bahasa IT, tidak cocok untuk yang gaptek
-Alur kompleks
-Don't Like, Don't Read
"Sai...! Cepetan...!" Seru Sasuke yang saat itu sedang menunggu saudara kembarnya tersebut di depan rumahnya.
"Bentar" Seru Sai yang tampak sangat terburu-buru melihat kakak kembarnya tersebut sudah ngetem di depan rumahnya.
"Kau baru masuk udah mau ujian semester ya ?" Ledek Sasuke pada Sai yang saat itu sudah duduk di boncengannya.
"Hehe...! Kita bisa bertanding kalau kau mau ?" Kata Sai dengan sebuah seringaian meremehkan terhadap kakak kembarnya tersebut.
"Hehe...! Apa kau sudah liat di BBC ?" Tanya Sasuke yang sepertinya tidak akan lepas dari hal yang namanya komputer meskipun dia akan menikah dengan ujian semester beberapa jam lagi.
"Heh...! Kau masih sempat liat ? Aku belajar hampir semalaman tadi malam" Kata Sai yang sepertinya cukup terkejut dengan kelakuan Sasuke yang cukup berani membuka BBC saat ujian semester. Orang Sai aja bela-belain belajar semalaman sampe dia bangun kesiangan adi pagi. Bener-bener cari stress tuh anak.
"Salah lu sendiri gak buka. Beritanya sih, si Yugito mati" Kata Sasuke sambil terus melajukan motornya dengan cukup konsentrasi untuk tidak mengalami kecelakaan.
"Kau yang perkirakan sendiri kan ? Ngapain terkejut coba ?" Kata Sai sambil geleng-geleng kepala ngeliat Sasuke yang terkejut dengan perkiraannya sendiri. Itu artinya dia itu odong.
"Hehe...! Kau benar juga ya, kita lihat saja reaksi si polisi kelas tempe itu"
-0-
"Ohayou, Hinata" Sapa Shikamaru yang saat itu sudah duduk di bangkunya yang bertempelkan kertas bertuliskan 'Nara Shikamaru' di atas kertas tersebut.
"Ohayou, Shikamaru-kun" Kata Hinata sambil tersenyum manis dan meletakkan tasnya diatas meja paling depan sendiri. Hinata dan Shikamaru gak duduk bersebelahan. Saat ujian, para peserta di urut melalui nomor absen dan kebetulan saja Hinata ada di bagian sepuluh besar nomer absen sehingga dia sukses duduk di depan.
"Sudah belajar ?" Tanya Hinata mencoba untuk berbasa-basi dengan cowok berambut nanas tersebut sambil duduk disebelahnya.
"Heh...! Kayak aku mau aja melakukan hal yang sangat merepotkan kayak gitu" Kata Shikamaru sambil menguap malas dan nyengir innocent kearah Hinata yang sepertinya sedang menyiapkan bukunya untuk belajar bersama dengan Shikamaru atau lebih tepatnya dia menanyakan hal yang tidak mengerti pada Shikamaru.
"Yah...! Begini dech jadinya"
-0-
"Hoiy...! Lu udah belajar ?" Tanya Neji yang baru saja melihat Sasuke datang karena dia terlalu serius belajar dengan hal-hal yang cukup membosankan.
"Heh...! Kau kira aku mau menghabiskan waktuku untuk membaca buku setumpuk kayak gitu ?" Kata Sasuke dengan nada yang cukup sinis untuk ukuran anak ingusan macam dia.
"Heh...! Jadi kau gak belajar ? Apa jadinya dunia ini bila generasi penerusnya remaja macam kau" Kata Neji yang cukup frustasi melihat kemalasan tingkat akut dari Sasuke.
"Aku masih harus menyelidiki sesuatu. Trailer ketiga dari game yang dulu telah dirilis dan sepertinya kita harus segera melindungi korban tentang semua ini" Kata Sasuke yang langsung berubah menjadi serius begitu membicarakan masalah kasus tersebut.
"Kau masih memikirkan semua itu ? Bukankah kau akan menghadapi ujian semester beberapa menit lagi" Kata Neji yang sekarang jadi frustasi beneran melihat tingkah Sasuke yang masih memikirkan hal itu.
"Aku masih belum puas dengan apa yang kucapai selama ini dan aku akan menambah panjang daftar prestasiku untuk menjadi generasi muda yang berbakat" Kata Sasuke mencoba untuk terdengar lebih dewasa.
"Whatever you say. Pokoknya aku dan Hinata tidak akan ikut untuk sementara waktu ini karena kami harus belajar" Kata Neji yang sudah berjanji pada Sasuke untuk tidak ikut dalam acara penguakan kasus itu.
"Terserah kau" Kata Sasuke sambil mencorat-coret buku untuk sekedar iseng di kelas. Sasuke duduk di deret paling kiri barisan kedua dari belakang sedangkan Neji duduk di deret tengah bagian kiri barisan ketiga dari depan.
"Tunggu dulu" Gumam Sasuke sambil terus memikirkan kasus yang memang sangat membingungkan tersebut.
"Nii Yugito, Uchiha Obito, mereka berdua tidak meninggalkan bercak darah sepeser pun. Sabaku Gaara, dia ditemukan bersimbah darah, apa yang sebenarnya terjadi ?" Gumam Sasuke mengingat-ingat kematian Gaara yang bersimbah darah.
"Apakah ini teknik untuk mengelabuiku ? Ataukan darah itu perbuatan yang tidak disengaja ?" Gumam Sasuke memikirkan darah itu dan kemudian dia sukses mengambil kesimpulan.
"Pembunuh menyusup melalui kamarnya dan dengan sangat terkejut Gaara menyerang pembunuh tersebut dengan apapun. Bererti darah tersebut adalah milik pembunuh" Gumam Sasuke sambil menyeringai pelan.
"Tapi, keluarga Sabaku ingin mayatnya segera dimakamkan sehingga bisa dipastikan darah tersebut sudah dibersihkan" Gumam Sasuke sambil bersandar pada kursi untuk menenangkan sarafnya. Matanya tak lepas memandangi awan yang lagi bergumpal dengan cukup tebal sampai terlihat mendung yang sudah siap menurunkan hujan.
"Apakah akan terjadi hal yang buruk lagi ?" Gumam Sasuke sambil mendesah pelan melihat gumpalan awan tebal tersebut.
"Ohayou, minna" Sapa seseorang dengan rambut ungu yang mencuat keatas sambil tersenyum kearah para murid yang sekarang sudah duduk manis di tempatnya masing-masing entah sejak kapan.
"Masukkan semua buku kalian kedalam tas dan kumpulkan tas tersebut. Kertas, sampah dll harap segera di buang atau aku akan membuang kertas ujian kalian" Kata Anko sambil menyeringai pelan atau lebih tepatnya mengancam para murid. Para murid yang keder pun langsung tanpa banyak bicara segera membuang sampah dan mengumpulkan tasnya.
"Maaf, Anko-sensei" Kata seseorang berambut pirang panjang yang baru saja masuk kedalam kelas Sasuke.
"Ada apa ?" Tanya Anko kelihatan sangat tidak suka bila acaranya diganggu.
"Ano...! Kami disuruh oleh Kakashi-sensei untuk ikut serta dalam ujian di kelas ini. Kelas kami sedang ada perbaikan" Kata cewek yang ternyata adalah Ino tersebut. Tak lama kemudian, masuklah seorang guru gak niat yang sudah sangat dikenal dengan kecuekan tingkat akutnya dan juga ketidakniatannya.
"Kelas kami ada perbaikan pintu serta jendela" Kata Kakashi sambil tersenyum innocent.
"Ya sudah, cepat segera duduk" Perintah Anko yang langsung disambut dengan rebutan para siswa kelas X-2 itu untuk berebut tempat duduk.
"Duduk disini ya, senpai ?" Kata seseorang cewek dengan rambut warna coklat karamel sambil tersenyum dengan senyuman manis kearah Sasuke.
"Kelas berapa ?" Tanya Sasuke pada si cewek tersebut.
"Kelas X-2" Jawab si cewek dengan sebuah senyuman manis yang gak lepas dari bibir merahnya.
"Ummm...! Aku punya adik di kelas itu" Kata Sasuke sambil melirik kearah Sai yang lagi berjalan kearah Sasuke.
"Kosong ?" Tanya Sai sambil menunjuk kursi kosong di samping Sasuke.
"Hehe...! Gomenasai, dia adik kembarku" Kata Sasuke sambil nyengir innocent kearah gadis yang sekarang lagi tersenyum kecil tersebut.
"Kalo nomer hape ?" Tanya gadis tersebut dengan nada yang sangat menggoda. Sasuke menatap gadis tersebut dengan heran.
"Entar aja, temuin aku di atap bersama dengan teman-temanmu" Kata Sasuke sambil tersenyum kecil.
"Kau akan memberikan nomer hapemu ? Gimana dengan Hinata ?" Tanya Sai yang saat itu terheran-heran melihat kelakuan Sasuke.
"Entar aja diurus, kita akan ujian kan ?"
-0-
Suasana ujian sangat tenang sekali, saat permulaan. Kakashi dan Anko dengan sangat tenang sekali memeriksa hasil ulangan beberapa kelas.
"Kau bisa, Sasuke ?" Tanya Sai sambil melirik kearah kertas ujian Sasuke yang sepertinya sudah hampir penuh.
"Lumayan bisa lah" Kata Sasuke mengentengkan tapi langsung membuat Sai mengerutkan dahinya melihat jawaban Sasuke.
"Hei...! Bukankah kau dikasih lembar buram, kenapa kau menghitung di meja ?" Tanya Sai begitu melihat meja Sasuke yang tadinya kotor sekarang malah kotornya bener-bener gak karuan.
"Hah...! Benarkah ? Mana ?" Tanya Sasuke sambil mencari lembar buram tersebut di seluruh mejanya dan hasilnya nihil. Sai melirik kearah mejanya dimana tergeletak secarik kertas milik Sasuke yang masih kosong melompong.
"Uchiha Sasuke, sedang apa kau ?" Seru seseorang dengan sangat keras. Sasuke yang terkejut pun hampir saja terlonjak. Semua mata siswa mengarah kearah si Uchiha tampan itu.
"Ano...! Kertas buram saya hilang" Kata Sasuke sambil terus mencari kertas buram nista yang sedang bertengger di tangan Sai.
"Apa yang ada ditanganmu itu Sai ?" Tanya Kakashi sambil menunjuk kearah Sai.
"Kertas buram milik Sasuke. Saya baru saja mau menyerahkannya" Kata Sai dengan wajah innocent.
"Kau mengerjakannya dengan apa Sasuke ?" Tanya Anko.
"Dengan pensil" Jawab Sasuke dengan sangat-sangat nistanya kayak orang bodoh.
Ujian tersebut berjalan dengan sangat keren kecuali untuk adegan Sasuke yang sangat tidak elit tersebut. Sasuke yang sepertinya sudah selesai hanya dalam waktu setengah jam pun sekarang harus dengan sangat kerennya memikirkan kembali masalah kasus tersebut.
"Sudah selesai ?" Tanya Sai yang waktu itu emang sudah kurang tiga soal lagi dari empat puluh soal. Sasuke memandang Sai sambil mengangguk perlahan.
"Kau tahu siapa target selanjutnya ?" Tanya Sasuke pada Sai yang harus menepuk jidat pelan mendengar ucapan Sasuke.
"Kenapa sih kau terus membicarakan kasus aneh itu ? Kita sedang ujian, ujian kau tahu" Kata Sai sambil menepuk-nepuk kepala Sasuke pelan.
"Aku tahu, tapi ini adalah konspirasi besar. Kita tidak tahu cara membunuh, motif dibalik pembunuhan dan kenapa karakter game harus di bunuh gitu ?" Cerocos Sasuke tidak pernah berhenti membicarakan tentang si kasus gak jelas itu.
"Kita bisa bahas itu nanti, sekarang kita lagi ujian" Kata Sai sekaligus menutup pembicaraan mereka. Sasuke masih asyik mencorat-coret tentang beberapa hal yang berhasil dia capai selama ini.
"Mengingat keadaan korban, ada kemungkinan bahwa korban sudah mati karena terputusnya syaraf pada syaraf pusat. Atau lebih ekstrimnya lagi, pembunuh memutus hubungan antara syaraf pusat dengan syaraf lain. Dengan begitu, tidak ada bekas apapun yang bisa dilacak oleh polisi maupun orang lain. Tapi..." Gumam Sasuke gak jelas.
"Untuk kasus Gaara, dia berhasil melukai pembunuh. Itu berarti proses pembunuhan merupakan suatu proses yang cepat. Bila Gaara sudah menyadari dan bahkan sudah melukai pembunuh, pembunuh harus bergerak cepat untuk membunuh Gaara. Selain itu..." Sedikit demi sedikit Sasuke mulai bergerak untuk menguak misteri tentang kematian korban.
"Pemutusan urat syaraf akan menghasilkan kesakitan yang sangat sehingga korban mungkin akan berteriak. Tapi..." Sasuke mulai mencorat-coret kertas buramnya.
"Pembunuhan berencana ini, tidak meninggalkan jejak" Hujan mulai turun. Bunyi tetesan air yang turun menghantam gentang terdengar sangat nyata di telinga Sasuke.
"Hujan"
-0-
Shikamaru yang saat itu sudah hampir tertidur tiba-tiba saja terbangun oleh kehadiran hujan yang menyerang genteng kelasnya.
"Hujan" Gumam Shikamaru sambil memandangi langit. Ingatannya tertuju pada sosok wajah samar yang terlihat diawan seminggu yang lalu sebelum kematian Gaara. Dalam hatinya, ingin sekali dia ikut kembali dalam penyelidikan tersebut.
"Hhhh...! Mungkin gue harus ikut kembali"
-0-
"Hhhh...! Sulit banget sih" Kata Sai yang langsung frustasi begitu melihat empat soal yang gak sangat gak bisa diselesaikan tersebut.
"Mungkin aku perlu bantuan seseorang" Kata Sasuke akhirnya untuk meminta bantuan pihak lain yang akan membantunya. Sai yang kebetulan mendengar ucapan Sasuke pun langsung menoleh kearah Sasuke.
"Siapa memang ?" Tanya Sai sambil memiringkan kepalanya kearah Sasuke.
"Entahlah"
-0-
"Korban ketiga, Nii Yugito dari Kumogakure" Kata seorang polisi yang saat ini lagi berhadapan dengan kepala polisi Konoha aka Kobayashi.
"Siapa ?" Tanya Kobayashi yang tampak terkejut dengan apa yang dikatakan oleh salah satu anak buahnya tersebut.
"Nii Yugito" Kata polisi tersebut mengulangi ucapannya.
"Kau bercanda ? Sekarang cepat cari anak berambut ayam yang kemarin sempat melapor kesini untuk segera melakukan penyelidikan" Kata Kobayashi cepat.
"Ada laporan pembunuhan lagi, pak" Kata seorang polisi yang baru saja masuk dengan sangat tergopoh-gopoh.
"Siapa ?" Kata Kobayashi dengan sangat terkejut begitu melihat si pembunuh sepertinya mau mempercepat tempo pembunuhan.
"Yagura" Kata polisi yang baru masuk tersebut.
"Cepat, panggil si rambut ayam itu"
Apakah yang akan dilakukan oleh Sasuke ? Pada siapa Sasuke meminta bantuan ?
TBC
Kayaknya fic ini harus cepat diselesaikan sebelum fic yang diatasnya menumpuk-numpuk didalem pikiran author sehingga autho jadi kebingungan fic mana yang akan author kerjakan lebih dulu.
Saya udah bikin spoiler buat next chapter nih. Moga aja para reader bisa tertarik membacanya
Begin
"Sasuke, kau dipanggil menuju ruang guru" Kata Anko yang udah lari-larian mengejar Sasuke yang masih berada di depan tangga. Sasuke memutar badannya untuk melihat Anko yang lagi berantakan abis lari-larian.
"Ada apa ?" Tanya Sasuke pada Anko sambil memiringkan kepalanya sedikit.
"Entahlah, kayaknya kepala sekolah marah banget sama kamu" Kata Anko.
'Apa yang aku perbuat ?' Batin Sasuke dengan rasa penasaran yang gak kunjung hilang dari wajahnya.
-0-
"Uchiha Sasuke, apa yang benar-benar kau lakukan sehingga polisi harus kesini untuk memanggilmu. Kau adalah ikon dari SMA Konohagakure, tolong jadilah contoh yang baik buat adik kelasmu. Aku akan mengeluarkanmu meskipun kamu adalah murid terpandai disini jika kamu berurusan dengan tindakan kriminal bla bla bla bla" Kata seorang wanita dengan rambut pirang berkucir dua yang sekarang lagi berjalan sambil menyeret Sasuke yang tampak pasrah dengan hal itu.
-0-
"Aku tidak terkejut si admin itu bisa mengetahui kita" Ucap si pria berambut jingga tersebut sambil melompat turun dari tugu. Si gadis menghampirinya sambil menatapnya dengan tatapan lembut.
"Pain, kita harus mengubah rencana kita" Kata gadis tersebut pada pria yang ternyata adalah Pain.
"Baiklah, tapi kita harus tanya dulu padanya, Konan" Kata Pain sambil berlalu meninggalkan Konan yang lagi berdiri disana menatap awan yang masih berarak dengan lembut.
End.
Happy Read
