Title: Rendezvous

Pair: AkaKuro, AoKise, MidoTaka, MuraHimu

Disclaimer: Tadatoshi Fujimaki, i gain no profit from this fiction

Warn: OC, OOC, typos, languages, Hybrid Cat!AU, M-preg, BL.

Note: Sorry, this is not the last chapter, next will be the last, and maybe some epilogue...

Rendezvous 10: Across the Universe

.

"Dan untuk urutan terakhir hari ini... Ah, sayang sekali Sagitarius ada di tempat paling bawah! Tidak perlu khawatir! Asal kalian jangan lupa untuk selalu membawa lucky item berupa—"

Shintaro mematikan televisi di hadapan karena harus bergegas ke rumah sakit.

Cancer ada di urutan ke-tiga, dan menurut Oha-Asa, ia mesti membawa benda keberuntungan berupa bidak shogi berpangkat raja.

"Oi, Shin-chan! Kau sudah selesai menonton acara favoritmu? Ayo berangkat!" Kazunari muncul dengan Momiji di gendongan. Bayi laki-laki itu tertawa senang begitu melihat Shintaro. Pa-pa-pa, begitu bunyi mulutnya menggumamkan hal yang sama sejak tadi.

"Ayo..." Shintaro mengusap gemas kepala Momiji.

"Kau sudah membawa benda keberuntunganmu? Hei, kenapa aku tidak melihat apapun..." Kazunari melirik ingin tahu pada Shintaro. Kazunari hanya heran, biasanya akan ada benda aneh bernama lucky item yang harus dibawa-bawa Shintaro seharian penuh—setelah mendapat 'pencerahan' dari acara ramalan bintang paling tersohor di seantero Jepang.

"Sudah aman di sini." Saku kemeja ditunjuk, Shintaro lalu meraih tas kerja dan mantel hangat dari gantungan. Ah, ternyata sebuah bidak shogi.

Kazunari meringis geli. Tumben bendanya tidak berukuran besar. Penasaran, Kazunari bertanya lagi saat pintu rumah dikunci. "Tapi, kenapa harus bidak raja?"

Pertanyaan Kazunari membuat gerakan Shintaro terhenti. Sebuah firasat aneh tiba-tiba saja melintas tanpa diminta.

"Entahlah. Mungkin karena aku cocok dengan image seorang raja?" katanya penuh percaya diri setelah beberapa saat terdiam.

Namun itu tidak lama, karena menurut Kazunari, Shintaro lebih cocok berpangkat bishop alias penasehat raja saja, tidak lebih daripada itu.

.

"Aku pulang!"

Daiki lumayan terkejut sewaktu hidungnya mengendus samar aroma kuah daging dan daun bawang begitu pintu apartemen terbuka. Tidak ada kabar mengenai kedatangan ibunya atau ibu Ryota. Jadi kemungkinan besar hanya satu...

"Selamat datang!" dengan langkah tergesa, Ryota menyembulkan kepala dari ambang pintu dapur. Ia melambaikan tangan yang memegang sendok sayur dengan ceria.

"Hei..." Daiki terkekeh kecil. "... sedang apa kau di sana, bocah nakal?" matanya menangkap kelebat selembar apron berwarna biru tua, melekat manis pada tubuh Ryota. Alis Daiki terangkat sebelah pertanda heran akan pemandangan yang kini tersaji di hadapan.

"Memasak, memangnya apalagi?" bibir mengerucut sebal, Ryota pura-pura acuh dan tidak jadi menyambut kepulangan Daiki. Ia kembali masuk dapur dan melakukan 'apapun itu' kegiatannya semula sebelum Daiki pulang.

"Huh?"

Tumben sekali Ryota mau memegang pisau dan panci hari ini. Semenjak tinggal bersama dalam satu atap, biasanya dia masuk dapur hanya untuk membuat kopi, menggoreng telur, memanggang roti, atau paling sering: mencari camilan.

Maklum saja, mereka berdua adalah pribadi super sibuk dan memang berada di rumah hanya pada saat sarapan atau makan malam saja. Itupun kalau mereka tidak keluar kota. Biasanya di saat libur atau jika ada waktu senggang berdua, Daiki akan membuat sarapan praktis dengan dibantu—direcoki—oleh Ryota.

Well, bukankah ini sebuah kemajuan?

Senyum mengulas di wajah, Daiki bersyukur bahwa Ryota kini sudah mulai cekatan dalam urusan rumah tangga. Jika suatu saat mereka memiliki buah hati, setidaknya anak mereka tidak perlu melulu menyantap masakan cepat saji a.k.a junk food.

Mantel digantung rapi dekat pintu, sembari berselop kain, Daiki menyusul Ryota setelah meletakkan tas kerjanya di atas meja kopi ruang tengah. Harum rempah dan kaldu daging semakin kuat saat pria tegap itu memasuki dapur.

Di sana, Ryota terlihat serius memisahkan lembar demi lembar kubis cina di atas talenan kayu. Helai-helai rambut pirang diikat rendah, dengan jepit rambut yang membuat poni Ryota terkunci aman pada satu sisi kepala, sehingga mereka tidak menghalangi pandangan saat ia memasak.

Kerah kemeja dibebaskan dari simpul dasi, tangan-tangan besar Daiki lalu meraih pinggang tanpa pertahanan milik Ryota. Ia mengecup bahu pasangannya seraya mencuri tatap ke arah wadah besar dari tanah liat bermotif walet biru di atas kompor.

"Menu apa yang akan kita santap malam ini? Aromanya sedap sekali."

Ryota mendengus, namun tersenyum kecil saat merasakan napas Daiki terasa menggelitik leher. "Kata ibu, waktu masih di Okinawa dulu, kau paling suka motsu-nabe(1), jadi aku bertanya pada ibu apa resepnya, sekaligus mencari-cari di internet..."

"Itu bagus." Mata Daiki berbinar, ia memeluk Ryota makin erat—yang langsung diprotes karena tingkah Daiki sungguh mengganggu proses memasak. "Kuharap aku bisa lebih banyak makan masakan buatanmu..."

"Tidak janji. Sekarang, lepaskan aku! Kalau kau mengganggu begini, masakannya akan memakan waktu lebih lama untuk matang—"

Protes milik Ryota dibungkam sebuah ciuman dalam. Belum sempat lidah Daiki mengintrusi, ia keburu diberi hadiah berupa sikutan pada perutnya.

"Aomine Daiki! Apa kubilang soal menggangguku saat memasak tadi?!"

Daiki merengut, ia pilih menjauh ketimbang mendapat satu pukulan di kepala dengan sendok sayur. Lihat saja Ryota sudah siap untuk melancarkan serangan kalau Daiki mulai berulah lagi.

"Damn, Ryota! Kau merusak suasana saja... Padahal tadinya aku beniat untuk mengajakmu bercinta di dapur. Sound's kinky, huh?"

Pipi Ryota memanas mendengar kalimat Daiki, tapi sedetik kemudian ia segera menjerit kesal. "Dan mau dapurku dilalap api? Cepat sana, mandi saja dulu! Daripada menggangguku terus, nanti malah tidak ada jatah nabe untukmu!"

"Geeze, induk ayam mengamuk! Iya-iya aku akan mandi! E-eh, jangan menghunuskan pisaumu padaku begitu, cepat taruh lagi!" Daiki gantian menjerit dan segera berlalu dari dapur.

Ryota mendelik sadis, ia meraih pisau lalu mulai memotong kubis dengan hati-hati. Jujur saja, ia jarang sekali menyentuh pisau. Melakukan ini setelah sekian lama tidak berkutat di dapur membuat Ryota merasa exited sekaligus gugup secara bersamaan. Pelan-pelan saja Ryota, pelan-pelan, jangan tergesa, pelan-pe—

"Ahhh!"

Mendengar jerit kesakitan Ryota, Daiki yang baru saja hendak mengambil handuk, buru-buru berlari kembali menuju dapur. Ia mencari eksistensi Ryota, dan mendapati warna merah pekat menodai ujung jari telunjuk Si Pirang, sementara dahinya mengerut menahan sakit. Dering ponsel terdengar samar memenuhi dapur.

"Ada apa?"

Ryota menatap Daiki dengan senyum menenangkan. "Tidak masalah, hanya tergores pisau." Ia menuju wastafel untuk membasuh jarinya dengan air mengalir. "Aku terlalu fokus, dan mendadak terkejut sewaktu ponselku berbunyi..."

Daiki berjalan menghampiri. "Kau malah terdengar seperti habis dirampok." Ia bernapas lega seraya mengambil kotak P3K dari kabinet kecil di dekat lemari es—untuk jaga-jaga jika terjadi insiden kecil di dapur, seperti sekarang ini contohnya. "Kemarikan jarimu..."

"Tolong ya... aku akan mengangkat telepon dulu." Saku celana dirogoh dengan tangan lain yang tidak terluka, Ryota memandang heran pada nama kontak di layar ponsel.

Baru Daiki merekatkan band-aid pada jari Ryota, ponsel miliknya di saku blazer ikut berdering nyaring. "Yang benar saja, kita menerima telepon di saat yang sama..." tadinya ia hendak bercanda mengenai kebetulan ini, tapi begitu melihat wajah serius Ryota sewaktu akan menerima telepon, ia mengurungkannya.

Daiki melihat nama Shintaro muncul sebagai Sang penelepon. Mau apa Si Mata empat meneleponnya di saat seperti ini?

"A-apa?! Bagaimana bisa-ssu?!"

Daiki mendongak terkejut, waktu ia mendengar lagi jerit tertahan Ryota—kali ini bermakna beda. Wajah Si Pirang pias, jemari meremat ponsel semakin erat. Tatapannya sempat kosong sejenak, seakan ia terguncang setelah mendengar ucapan orang di seberang sana. Daiki meraih tangan Ryota, mencoba membuatnya fokus, sementara ia menerima telepon dari ponselnya sendiri.

"Aku tidak percaya... Paman... Ini mana mungkin terjadi..."

Daiki tidak membuang waktu dan segera menerima panggilan Shintaro. "Halo, Aomine Daiki berbicara..."

/"Aku tidak akan basa-basi, nodayo..."/

Tadinya Daiki akan menyembur Shintaro dengan satu ucapan sarkas mengenai 'siapa juga yang suka basa-basi selain kau, wahai makhluk tsundere!' tapi dibatalkan.

"Katakan ada apa? Kau tahu, di depanku Ryota sepertinya baru saja menerima berita buruk. Dan aku mesti segera menenangkannya. Jadi, lekaslah..."

Terdengar hela napas panjang, namun Daiki masih dapat menangkap nada menyesal dari suara gemetar Shintaro berikutnya.

/"Dengar Aomine, kau juga akan menerima satu berita buruk dariku... Akashi kecelakaan. Ayahnya baru saja memberitahuku kalau ia masuk rumah sakit tempatku bekerja..."/

Detik berikutnya hanya terdengar sumpah serapah milik Daiki, dan rengek tersendat Ryota yang memintanya untuk segera berangkat menuju rumah sakit.

Mereka belum mengetahui pasti bagaimana kondisi Seijuuro sekarang ini. Tapi di dalam hati, semuanya berharap jika Tuhan selalu melindungi sahabat mereka dari apapun bahaya yang mungkin datang menghampiri.

.

"Atsushi?!"

Tatsuya datang tergopoh menuju sumber keributan yang asalnya ternyata dari dapur. Baru ia selesai menidurkan Si Kembar, mendadak bunyi pecahan nyaring kaca memenuhi seisi rumah. Tatsuya tidak melihat Atsushi di ruang keluarga, padahal pasangannya itu sejak satu jam lalu begitu larut menonton siaran gulat pro di depan televisi. Tatsuya hanya mendapati plastik-plastik kemasan potato chip, belasan sisa pembungkus maiubo, dan mangkuk kosong popcorn bermentega di sana.

Tidak mungkin 'kan Atsushi hilang tanpa jejak... Jadi, Tatsuya segera menyusuri koridor menuju satu-satunya ruangan di rumah mereka yang ibarat surga bagi Atsushi.

Dapur.

Mata Tatsuya memutar malas begitu mendapati tubuh besar Atsushi tengah berjongkok di depan kabinet penyimpanan camilan. Pandangannya menangkap serpihan acak kaca dan remah-remah roti kering tersebar di atas pualam hitam.

"Ya Tuhan, Atsushi... apa yang terjadi?" Tatsuya berkacak pinggang melihat kekacauan di lantai. Ia sudah berganti baju, hendak tidur, dan tidak mau lagi berurusan dengan hal-hal semacam ini.

"Eee, Tat-chin..." Atsushi melirik tanpa dosa ke arah Tatsuya. "Stoples ini tiba-tiba tergelincir dari tangan, sewaktu aku akan mengambilnya tadi..." tatapan itu sangat terluka saat mendapati cookies cokelat favorit mesti berakhir tragis tak layak konsumsi.

Tatsuya menghela napas. "Itu sudah tidak bisa dimakan lagi, Atsushi... Salah-salah pecahan kaca nanti malah menyangkut di kerongkonganmu. Ambil saja yang lain, persediaan kue keringmu masih banyak bulan ini..." menghela napas, Tatsuya mencari sapu dan pengki dari sudut dapur, lalu mulai membersihkan lantai. "Tolong ambilkan penyedot debu kecil di dekat sofa ruang tengah, aku tidak mau kaki Chizu atau Minoru-chan terkena sisa-sisa pecahan kaca besok... Atsushi, Jangan makan dulu! Taruh stoples wafer itu dan cepat ambilkan apa yang aku mau..."

Bibir Atsushi mencebik. "Baik mamaaa..." langkahnya berdebam meninggalkan dapur. Ah, siaran gulat yang tadi ia tonton jadi terbengkalai. Ia harus cepat membantu Tatsuya lalu kembali menonton televisi dengan damai.

Sedang serius mencari penyedot debu di sebelah sofa, ponsel pintar milik Atsushi yang tergeletak di atas sofa tiba-tiba saja bergetar halus.

"Aree, ada telepon..." dengan wajah heran, ia menatap nama Daiki tertera di layar terang sebagai penelepon. "Hee, tumben sekali Mine-chin menelepon..." ia berniat mengecek cuaca di luar jendela dulu, sebab tidak ada badai atau hujan lebat, Daiki tiba-tiba saja menghubunginya.

Aneh.

"Yo, Mine-chin, ada ap—"

Belum sempat basa-basi menyapa, ucapan Daiki keburu memotong kalimatnya. Wajah malas Atsushi berkerut serius, begitu pertanyaan mengenai mengapa Daiki mendadak meneleponnya terjawab sudah.

"Oke. Aku segera ke sana."

Tatsuya bergegas menyusul Atsushi ke ruang tengah, karena pria besar itu belum kembali dengan barang yang ia minta. Tapi begitu melihat wajah Atsushi masuk mode siaga, Tatsuya memilih untuk tidak banyak bertanya.

"Tatsuya," pria berambut hitam itu tahu, kalau Atsushi sudah memanggilnya bukan dengan nama panggilan kesayangan lagi, berarti ada sesuatu yang gawat tengah terjadi. "... aku akan ke rumah sakit. Sesuatu terjadi pada Akashi. Kau di rumah saja bersama anak-anak. Kalau semua selesai dengan baik, aku akan cepat kembali." Ponsel dan kunci mobil dikantungi, ia lalu menyambar mantel tebal yang tergantung di dekat pintu depan.

Tatsuya mengangguk paham. "Hati-hati." Ia berbisik saat Atsushi mengecup pelipis seraya mengusap kepalanya dengan lembut.

.

Entah bagaimana, Tetsuya langsung saja menghambur keluar setelah menghubungi perusahaan taksi langganan. Ia hanya mengenakan pakaian santai dibalut jaket tebal dan sebuah topi. Kedua tangan mengepal terlalu kuat di sisi-sisi tubuh, sementara pikiran Tetsuya menyalahkan diri sendiri atas peristiwa yang menimpa Seijuuro barusan.

Kecelakaan. Seijuuro terlibat dalam sebuah kecelakaan.

Kalimat itu terus menggema dalam sel-sel otak Tetsuya. Karena ia sadar bahwa dirinya mungkin adalah sumber dari segala kejadian beruntun ini, yang berakhir dengan tidak beruntung bagi pihak Seijuuro.

Andai saja waktu itu Tetsuya mencoba untuk lebih jujur. Andai ia dapat memutar waktu.

Menyesal sekarangpun sudah terlambat. Jika Tuhan masih memberinya kesempatan satu kali lagi, Tetsuya berharap ia dapat memperbaiki semua.

"Maaf, tapi kita sudah sampai di tempat tujuan."

Mata birunya menatap lelah pada bangunan Tokyo Metropolitan Hiroo Hospital. Firasat aneh terlintas sewaktu ia menatap gedung kokoh yang menantang langit malam tak berbintang di atas sana.

Tetsuya mengucapkan terimakasih setelah membayar tarif taksi. Ia berlari menuju bagian unit gawat darurat yang berada di lantai dasar, tepat di sisi kiri pintu masuk rumah sakit. Ryota mengatakan jika Seijuuro langsung masuk ke sana untuk menutup luka guna mencegah pendarahan. Ryota sendiri tidak tahu pasti bagaimana keadaan Seijuuro, karena begitu ia sampai, Seijuuro masih dalam penanganan tim medis rumah sakit.

Sesaat setelah menapaki lantai dingin yang putih pucat karena tersiram cahaya dari lampu-lampu fluoresent, Tetsuya menangkap sosok-sosok familiar duduk pada bangku ruang tunggu: Ryota, Daiki, dan Shintaro. Sementara itu seorang pria serupa karbon kopi Seijuuro terlihat tengah berbicara serius dengan satu petugas berseragam polisi, tidak jauh dari pintu ruang penanganan pasien gawat darurat.

"Kuroko-cchi!" panggilan Ryota mengembalikan fokus Tetsuya, ia sadar jika seluruh pasang mata kini menatap ke arahnya. Terutama tatap tajam milik Akashi Masaomi yang serasa menembus hingga ke bagian belakang tengkorak Tetsuya. Tatapan penuh selidik, seakan-akan ia curiga kalau-kalau Tetsuya telah mencuri sesuatu yang berharga milik pria tersebut.

Dengan langkah pelan, ia mendekati Ryota. Pemuda pirang itu bersandar pada bahu Daiki, kedua tangan mendekap lengan pasangannya erat-erat.

"Bagaimana keadaan Seijuuro-san?" bisikan lemah keluar, seakan Tetsuya tidak mampu bicara.

Ryota menggeleng. "Dokter yang menangani Akashi-cchi belum keluar sejak aku datang kemari. Tapi kita berdoa ya, semoga Akashi-cchi baik-baik saja-ssu!"

Daiki memberi senyum menguatkan dan menawari kursi kosong di sebelahnya untuk Tetsuya duduk. Shintaro hanya menatap sekilas pada Tetsuya, seolah berkata 'jangan tanya apa-apa padaku, aku juga sama khawatirnya denganmu.'

Tetsuya memilih duduk di sebelah Daiki seraya menatap kesibukan dalam Emergency Room. Samar, ia mendengar pembicaraan serius yang mengindikasi jika Seijuuro terlibat dalam kecelakaan beruntun di sebuah jalan utama Shibuya.

Tapi kegiatan mengupingnya tidak bertahan lama, karena atensi mereka teralih ketika mendengar derit pintu di hadapan yang terbuka.

Seorang dokter melangkah keluar, setelah sebelumnya melepas masker pelindung. Beberapa perawat ikut keluar ruangan dengan wajah tertunduk.

"Keluarga Tuan Akashi?"

Tetsuya dapat melihat raut tegang terulas di wajah Masaomi, seolah mental pria itu siap runtuh kapan saja begitu penuturan dokter sampai ke telinganya.

"Maafkan kami. Semua usaha sudah kami coba, namun..."

Shintaro yang sempat tersentak buru-buru berdiri di sebelah Masaomi, ia menopang tubuh renta itu dengan segera, takut jika Masaomi mengalami serangan shock yang mungkin bisa berakibat fatal.

"Jangan diteruskan." gemetar, Masaomi memotong kalimat Sang Dokter. Mata tuanya terlihat berkaca-kaca, menahan diri agar tidak terlihat lemah di saat paling krusial kedua dalam hidupnya sebagai kepala keluarga. Pertama Shiori, lalu sekarang Seijuuro... Apa Tuhan masih belum puas menghukumnya? Di saat hubungan ayah dan anak di antara mereka mulai terjalin kembali, cobaan besar malah datang menghampiri.

Tubuh Tetsuya membatu, ia menatap kosong pada tembok dingin di depan saat penyebab dan waktu kematian dibacakan. Ia coba menulikan diri dari isak pelan Ryota, atau makian kasar Daiki.

Shintaro segera memapah Masaomi masuk ke dalam ruangan tempat Seijuuro berada, pria tua itu terus menggumam lirih 'biarkan ayah yang mati, asal kau tetap menginjak bumi...'

Tidak mungkin! Tetsuya harus menemui Seijuuro sekarang!

Baru ia hendak berdiri dan melangkahkan kaki, Tetsuya mendadak terhuyung ke depan seolah tanpa energi. Kedua mata terpejam, Tetsuya membiarkan diriya dikonsumsi oleh pekat kegelapan yang perlahan mulai menyelimuti.

.

.

"Kuroko-cchi?!"

Begitu ia membuka mata, ada wajah Ryota di depannya. Tetsuya menggerakkan kepala dan baru sadar, jika ia tertidur dalam posisi terduduk di bangku ruang tunggu. Dengan leher kaku, ia berusaha mengembalikan sisa-sisa kesadaran yang baru separuh terkumpul.

Namun, seolah bebas dari jerat kutukan, mata Tetsuya bergegas menatap nyalang keadaan di sekitar. "Di mana Seijuuro-san?!" ia mencengkram keras lengan Ryota, ingatan tentang kematian segera membuat dirinya dilanda serangan panik mendadak. "Katakan, Kise-kun!" ulu hati Tetsuya seakan ditinju oleh sebuah kekuatan tak kasat mata, hingga membuatnya serasa ingin muntah.

Ryota sempat terkejut mendapat reaksi semacam itu dari Tetsuya, namun ia malah tersenyum menenangkan. "Hei... tenanglah Kuroko-cchi." Ryota merangkul hangat bahu Tetsuya. "Katakan, apa kau baru mengalami mimpi buruk-ssu?"

Napas yang sejak tadi tercekat di tenggorokan, dihela pelan-pelan. Hanya ada Ryota di hadapan. Tidak tampak batang hidung Daiki, Shintaro, Masaomi, dokter, maupun petugas polisi. Jarum-jarum jam besar di dinding tepat menunjuk tengah malam, itu berarti empat jam telah berlalu sejak kedatangan Tetsuya ke rumah sakit.

"Tapi... Seijuuro-san..."

"Aku tadi ingin membangunkanmu, tapi melihat tidurmu yang lelap, aku tidak jadi melakukannya." Ia merasakan cengkraman tangan Tetsuya perlahan-lahan mulai mengendur. "Akashi-cchi baru dipindahkan ke ruang perawatan intensif-ssu, luka-lukanya sudah selesai dijahit. Menurut dokter, Akashi-cchi hanya mengalami gegar otak ringan dan dislokasi di siku, tidak ada yang terlalu membahayakan. Tapi besok dia mesti menjalani scan untuk pemeriksaan lebih lanjut..."

Otak Tetsuya mencerna kalimat Ryota. Lalu yang barusan itu apa...?

Mimpikah?

Tubuhnya bersandar lemas, wajah langsung diusap penuh kelegaan tidak terkira. Air mata Tetsuya rasanya ingin berderai keluar begitu mendengar berita baik yang diberikan oleh Ryota.

Pandangan Ryota melembut. "Aku tidak tahu mimpi apa yang dialami olehmu." Ia menghembuskan napas panjang. "Tapi, Akashi-cchi bukan orang selemah itu-ssu!" kesungguhan terpancar dari cara bicaranya, dan dalam hati, Tetsuya juga mengakui hal yang sama. "Eh, kau ingin makan sesuatu? Dai-chan dan Murasakibara-cchi sedang ke minimarket untuk membeli camilan." Ryota jadi teringat nabe setengah matang di rumah. Besok pagi saja Ryota mengakali nabe itu, toh Daiki tetap akan suka apapun yang sudah berusaha ia masak untuknya.

Tetsuya menggeleng, ia hanya ingin melakukan satu hal. "Bisakah aku menemui Seijuuro-san?"

Ryota berpikir sebentar. "Paman masih ada di dalam, tapi sebentar lagi beliau akan pulang bersama supir. Kau juga, setelah menjenguk Akashi-cchi biarkan Dai-chan mengantarmu pulang ya? Ini sudah larut-ssu..."

Sekali lagi Tetsuya menggeleng. "Sabtu ini, jadwalku dimulai pukul sebelas siang. Jadi, Kise-kun tidak perlu khawatir. Justru Kise-kun yang mesti beristirahat karena harus menjalani kegiatan agensi."

Ryota mendengus. "Kau benar." Ia lalu menuntun Tetsuya menuju kamar tempat Seijuuro berada.

.

Sedan hitam milik Seijuuro terlibat dalam kecelakaan beruntun di ruas jalan Udagawa-cho.

Hal ini berawal dari sebuah minivan yang mengalami pecah ban, dan hilang kendali dari jalur berlawanan. Beruntung, di saat kritis tersebut Seijuuro berhasil membanting kemudi ke arah kanan untuk mengelak. Namun hal itu berakibat sebuah konsekuensi: mobil Seijuuro menyerempet mobil lain hingga keduanya terseret keluar jalur dan berakhir dengan menabrak pembatas jalan. Sementara minivan naas tersebut terus meluncur, dan baru berhenti setelah menubruk tiga kendaraan lain, sebelum akhirnya terguling di sisi jalan.

Sisi kanan bagian depan mobil Seijuuro rusak dan ia sempat hilang kesadaran sebentar akibat benturan. Pikirannya gamang, terbagi antara mimpi dan realita. Runtutan memori tentang orang-orang terdekat seakan membawanya kembali mengulang waktu. Alam bawah sadar Seijuuro merefleksi wajah Shiori, Masaomi, sahabat-sahabat dekatnya, dan juga... Tetsuya.

Betapa ia sangat menyesal telah membuat wajah itu menampakkan luka pada pertemuan terakhir mereka.

Ia tidak mau mati muda dan menyisakan kesedihan bagi mereka yang peduli padanya.

Ia akan bertahan.

Seijuuro baru sepenuhnya tersadar sewaktu para petugas menarik tubuhnya keluar dari mobil dengan latar belakang bising sirine dan rasa sakit yang sangat mendera. Dahi dan pangkal hidung robek akibat bertumbukkan kencang dengan setir, sementara siku kiri Seijuuro mengalami dislokasi.

Adalah suatu keajaiban ia bisa selamat dari musibah mengerikan ini.

.

Masaomi mengenali sosok berambut biru muda di depannya ini. Siapa namanya... Ah, Kuroko Tetsuya kalau ia tidak salah ingat... Bukankah bocah ini adalah target afeksi Seijuuro? Lalu kenapa Seijuuro malah minta menjalani omiai lagi setelah sekian lama berhenti?

Apa sesuatu telah terjadi?

Belakangan, Masaomi memang mendapati tingkah Seijuuro dalam keadaan sedia kala, sama seperti saat sebelum ia bertemu Tetsuya. Bedanya satu, ia kadangkala uring-uringan ala remaja menjalani pubertas kedua.

Wajah pemuda itu terlihat khawatir—pucat pasi serupa mayat hidup, tapi sopan-santun formal tetap berjalan ketika langkah mereka berpapasan di depan kamar rawat Seijuuro.

"Perkenalkan, saya Kuroko Tetsuya. Saya..." ucapannya menggantung di udara. "... teman Seijuuro-san."

Masaomi menatap Tetsuya langsung di mata. Dengus ringan disertai senyum penuh makna seakan-akan menampar Tetsuya akan kenyataan di antara mereka. Ayah Seijuuro mungkin sudah mengetahui semua, dan ia tidak bisa lagi berpura-pura.

"Aku tidak tahu seperti apa hubungan kalian." Suara berat Masaomi menembus dua telinga, terdengar mengintimidasi, namun Tetsuya dapat menangkap nada putus asa membalut kalimatnya kemudian. "Tapi jangan pernah melukai anak itu, kalau kau memang benar-benar peduli padanya."

Ryota—yang diam saja menyaksikan pertemuan pertama antara calon menantu dan mertua— hendak menengahi, takut kalau-kalau Tetsuya down setelah bertemu dan berbicara dengan Masaomi. Bahkan Ryota dan mereka yang merupakan sahabat Seijuuro sejak sekolah dulu, tetap saja masih sungkan jika bertemu dengan pria itu.

Si Pemuda pirang sudah masuk mode induk ayam siaga, dan berniat buka suara untuk membela. Namun belum sempat hal itu terlaksana, suara lantang Tetsuya keburu menyela.

"Saya akan berusaha!" Katanya tegas, kesungguhan terpancar dari mata biru setara luas angkasa. "Saya berjanji, saya akan berusaha melakukannya." Telapak tangan mengepal penuh determinasi, ia ganti menatap Masaomi dengan ketulusan sedalam samudra.

Masaomi diam sejenak, terhipnotis oleh tekad kuat dalam diri pemuda mungil bernama Kuroko Tetsuya.

Hmm, ini bisa jadi merupakan sebuah kombinasi menarik untuk menghasilkan generasi penerus keluarga Akashi berikutnya.

Masaomi berdeham dari delusi sesaat yang menghampiri. "Kalau begitu, wujudkan perkataanmu. Aku tidak menerima kegagalan karena dirimu setengah-setengah dalam menjalankan janji."

Anggukkan mantap diberi, atensi mereka terpecah sewaktu Shintaro dan seorang dokter keluar dari kamar di belakang mereka.

Mata Shintaro memandang tidak mengerti, tapi begitu mendapati senyum samar Masaomi, ia memilih untuk tidak banyak bertanya lagi. Seraya menaikkan frame kacamata, ia berucap. "Maaf, membuatmu menunggu, paman. Mari kuantar ke lobi..."

Sebelum berjalan melewati, Masaomi menepuk halus bahu Tetsuya. "Kalau begitu, sampai jumpa lagi, nak."

.

Wajahnya terlihat damai saat terlelap, meski lebam dan luka parut menghias di beberapa bagian, tapi Tetsuya tetap menganggap sosok Seijuuro sungguh tampan luar biasa.

Kalau sudah begini, mana bisa ia tak jatuh cinta.

Tetsuya berjalan mendekati sisi kanan ranjang, duduk pada kursi dan terdiam untuk beberapa lama. Ia memperhatikan dada Seijuuro yang naik turun dengan teratur. Luka jahitan di wajah masih menyisakan merah segar, sementara siku kirinya diberi penyangga.

Sunyi menjadi pengisi ruang di antara mereka. Detik-detik terbawa pergi bersama aksi bungkam Tetsuya—yang akhirnya menyerah juga, dan memutuskan untuk angkat bicara.

"Aku ingin minta maaf." Bisik Tetsuya pelan, seakan takut suaranya terdengar hingga membangunkan pangeran tidur di hadapan. "Saat itu mentalku goyah. Aku buta akan ketulusan Seijuuro-san. Aku bersalah karena mulutku telah berdusta, tapi hati ini tidak bisa melakukannya..." kedua tangan terkepal di atas lutut, ia menunduk dalam. "...karena," suaranya sedikit bergetar. "... aku juga merasakan hal yang sama..."

Napas Tetsuya tercekat di tenggorokan saat jemari milik orang lain tiba-tiba meraih kepalan tangannya. Ia mendongak dan bertemu tatap kembali dengan merah brilian milik Seijuuro.

"Seijuuro... san?"

Senyum lemah diulas, dengan suara serak Seijuuro berkata: "Kau... siapa?"

Dua kata dan itu mampu membuat mata Tetsuya membelalak lebar. Ia merasakan jantungnya mencelos mendengar kalimat barusan. Pemuda mungil itu sudah siap berlari keluar untuk memanggil dokter atau Ryota, saat pergelangan tangannya malah ditarik cukup kuat, hingga ia mesti berhadapan kembali dengan Seijuuro.

Pandangan horror masih dipasang, Tetsuya menduga jika gegar otak yang dialami Seijuuro mungkin saja membuat pria itu mengalami amnesia sesaat. Tapi kenapa dada Tetsuya begitu sesak ketika dihadapkan dengan realita yang seakan tega menghukumnya sejauh ini?

Mereka masih kuat beradu tatap, hingga akhirnya ujung-ujung bibir Seijuuro terangkat lambat.

"Pfft..., kena kau!"

Kekeh pelan menggema, membuat heran Tetsuya yang sudah siap mengalami mental breakdown kedua setelah berita kecelakaan Seijuuro sampai ke telinga.

"Tetsuya, wajahmu tadi... ah, sayang... aku tidak memegang kamera."

Mendapati kenyataan mempermainkan diri, Tetsuya segera menghentak pegangan tangan Seijuuro dengan wajah datar andalan tanpa pikir dua kali.

"Aku pergi dari sini." Ia sakit hati. Kelemahan Kuroko Tetsuya hanya satu: mudah percaya dengan perkataan orang lain, walau di dalam hati, ia kuat-kuat mengingkari. "Mohon lepaskan."

Seijuuro, di sela-sela tawa kecil, desahan mengaduh, dan kekuatan yang hanya separuh, tidak mau melepaskan pegangannya dari pergelangan tangan Tetsuya. "Hei, jangan pergi. Dengarkan aku..." masih bersuara parau, Seijuuro kembali menarik tubuh Tetsuya mendekat, meski rasa sakit tidak bosan merambati setiap kali ia bergerak tidak hati-hati. "Maafkan aku, Tetsuya."

Wajah merona malu luar biasa, Tetsuya berbisik nyaris tanpa suara. "Apa Seijuuro-san belum puas menghukumku?"

"Mungkin belum." Ia merasakan nadi di genggamannya berdenyut tidak terkendali. "Tapi dengan ini, kita impas. Aku sudah mendengar semuanya tadi." Ia tersenyum kecil. "Aku memaafkanmu, asal kau mau memaafkanku." Matanya menatap lembut pada Tetsuya. "Aku tidak bisa berhenti, meski sudah sekuat apapun berusaha. Bagaimana kalau kukatakan aku terlalu mencintaimu, Kuroko Tetsuya?"

Lututnya lemas setelah mendengar lagi pengakuan milik Seijuuro. Tidak punya banyak pilihan, Tetsuya kemudian membungkuk seraya menggenggam balik telapak tangan Seijuuro. Ia berbisik lirih. "Aku tidak akan menyangkal, tapi jangan pernah lakukan hal seperti ini lagi..."

Mereka terdiam beberapa saat, larut dalam sebuah permulaan baik, setelah semua salah paham dan tragedi.

"Kita perbaiki ini?" tanya Seijuuro yang kini beralih untuk mengusapi pipi hangat Tetsuya dengan penuh afeksi.

"Ya."

"Lebih terbuka, dan tanpa salah paham?"

"Hu-um." Tetsuya mengangguk lagi.

Seringai nakal mengembang. "Kalau begitu, beri aku satu ciuman. Anggap saja sebagai tanda persetujuan..."

"Tapi..."

Mau menolakpun, ia sudah tidak bisa. Maka, seraya merendahkan tubuhnya, Tetsuya buru-buru mendaratkan sebuah kecupan ringan di bibir Seijuuro. Dan tepat ketika Tetsuya akan mengangkat wajah, tangan Seijuuro menahan tengkuknya.

"Hei, lakukan dengan benar, Tetsuya..." bibir bawah milik si mungil digigit gemas, lidah merah muda bergerak untuk mengusap celah di antara bibir Tetsuya, memaksanya membuka. Huh, andai saja Seijuuro punya energi lebih dan tidak terkendala oleh siku kiri, sudah ia tarik Tetsuya dalam pelukan, agar posisi berciuman mereka lebih leluasa dan nyaman.

Tetsuya hampir saja menggigit lidah Seijuuro sewaktu otot kenyal itu melumat miliknya yang tanpa pertahanan. Si rambut biru muda melenguh. Ia hampir lupa cara bernapas, namun Seijuuro mengarahkan ciuman mereka dalam tempo lambat, tidak mencoba agresif, sehingga Tetsuya mampu mengimbangi.

Ini memang bukan ciuman pertama mereka, tapi yang sekarang sungguh luar biasa berbeda. Apa ini yang sering orang-orang sebut dengan french kiss? Rasanya aneh jika ingat bahwa liur mereka bertukar, tapi hal remeh semacam itu tidak membuat Tetsuya menghindar.

Seijuuro baru melepaskan Tetsuya setelah puas mengeksplor bagian dalam mulut lawannya. Bibir atas dan bawah Tetsuya terasa kebas, bengkak dan memerah seperti baru saja disengat lebah. Napas eratik keluar satu-satu lewat hidung, ujung lidah membasahi sendiri bibir yang ibaratnya baru saja diperkosa.

Oleh pria yang kini tengah tersenyum licik—tapi tampan, padahal dia tengah terluka.

Tetsuya, ke mana akal sehatmu? Ini rumah sakit. Apa kau tidak malu jika ketahuan tengah mengadu mulut—dalam artian harfiah—di ruang publik?

Ia tahu, tapi jika ini sudah menyangkut Akashi Seijuuro, akal sehatnya mungkin menguap entah ke mana...

.

Seijuuro keluar dari rumah sakit tepat setelah tiga hari ia dirawat di sana. Hasil scan tidak menunjukkan injuri dalam, tapi ia mesti kembali lagi nanti untuk membuka jahitan setelah lukanya mengering.

Untuk sementara, Seijuuro tinggal di mansion Akashi. Setiap hari ada saja kolega yang datang menjenguk, di samping ahli ortopedi yang membantunya untuk lebih cepat memulihkan dislokasi.

Dan sehari sebelum usia Seijuuro bertambah, ia mendadak minta izin kembali ke apartemen pribadi dengan alasan bahwa ia telah mengundang Tetsuya untuk berkunjung ke sana. Masaomi tidak banyak bertanya mengenai hal ini. Sang Ayah mengerti sekali jalan pikiran pria matang—dan sehat secara seksual—seperti Seijuuro. Jika sudah menemukan pasangan yang tepat, rasanya ingin cepat-cepat saja diklaim agar tidak ada yang berani mendekat.

Tapi nasehat kolot tetap saja mengalir dari mulutnya, tepat sebelum Seijuuro melangkahkan kaki keluar mansion.

"Jangan memaksa jika dia tidak mau." Kedua lengan bersidekap di depan dada, Masaomi melanjutkan bicara. "Setidaknya pakai pengaman, kalau kau sudah tidak tahan..."

.

Supir pribadi keluarga Akashi sudah menanti Tetsuya di gerbang gedung agensi pukul tujuh malam. Ryota sempat heran melihat Tetsuya dijemput Morii-san dan Tetsuya akhirnya mengaku kalau ia telah diundang untuk mengadakan kunjungan ke apartemen pribadi Seijuuro.

"Tunggu sebentar, Kuroko-cchi! Kau mau ke apartemen Akashi-cchi?! Tapi untuk apa? Bukankah pesta ulangtahun Akashi-cchi akan dirayakan di mansion besok?"

Tetsuya angkat bahu. "Entah. Tapi Seijuuro-san bilang ingin berbincang..."

Oke. Ryota mengendus ada bau-bau amis di sini.

Si setan merah itu mau berduaan dengan Tetsuya?! Niat apa yang ada di balik otak jenius dan licik milik Seijuuro sebenarnya?

Apa mereka mau berbuat yang iya-iya? Duh! Kenapa Ryota bertingkah bagaikan seorang ibu protektif yang tidak rela jika anaknya mau berduaan saja di apartemen orang?

Ponsel sudah di tangan, ia berniat menghubungi Seijuuro untuk protes—kalau bisa ikut saja sekalian ke sana dengan dalih kangen ingin bertemu. Tapi Tetsuya malah mencegah seraya tersenyum ala malaikat di hadapannya.

"Tidak apa-apa Kise-kun. Aku bukan lagi bocah polos yang baru masuk masa pubertas. Aku ini pria dewasa yang sehat jasmani dan rohani."

(Bahkan sudah beberapa kali mencoba onani. Ups.)

Tuh, Ryota jadi tidak sanggup berkata-kata lagi 'kan...

"Aku mengerti. Aku tidak akan melakukan hal-hal seperti yang kau pikirkan. Aku masih memegang teguh aturan agensi." Sebelum memasuki mobil, Tetsuya tersenyum lagi. "Tapi kalau Seijuuro-san tetap memaksa, aku bisa saja melukai adik kecilnya..." dan dengan wajah polos tanpa dosa, ia melakukan gestur menendang untuk lebih meyakinkan Ryota.

.

Setelah makan malam dengan menu otentik Jepang hasil delivery, Seijuuro mengajak Tetsuya minum teh dan mencicip berbagai macam pastry manis di ruang tengah. Pintu kaca geser di sebelah kanan menampakkan pemandangan malam penuh pijar lampu, yang menggantikan langit kelam tak berbintang. Menara Tokyo tampak berpendar kemerahan di kejauhan.

"Bagaimana dengan lenganmu, Seijuuro-san?" Tetsuya bertanya, sewaktu mereka menikmati pemandangan dari balik pintu kaca. Jika saja udara di luar tidak mendekati nol, mereka mungkin bisa merasakan semilir angin atau mendengar kesibukan kota di bawahnya.

"Lumayan." Ia menggerakkan sedikit lengannya yang masih diperban, pandangan fokus pada wajah pemuda di hadapan. Ia melihat kegugupan terbias di mata biru Tetsuya. Tanpa bicara, Seijuuro berjalan mendekat lalu menundukkan kepala untuk mengecup dahi Tetsuya. Jemari tangan yang bebas, mengusap rambut lembut beraroma vanila, lalu menyusuri pipi putih mulus tanpa cela. "Aku ingin menciummu..."

Sebelum ada balasan, Seijuuro keburu meraih tengkuk Tetsuya untuk memberi bibir merah muda itu sebuah lumatan mesra.

Kedua tangan mungil sampai di bahu kekar milik Seijuuro, meremat keras ketika lidah-lidah mereka saling membelit bagaikan ular kawin di dalam mulut Si mungil.

Desah dan dengus napas terdengar di udara. Tetsuya tersentak, sewaktu perut bawahnya menekan selangkangan Seijuuro yang hanya dipisahkan oleh kain pembungkus tubuh mereka.

"Huh, bagaimana ini, Tetsuya? Kau membuatku jadi seperti ini..." dengan mata sayu, Seijuuro membimbing perlahan sebelah tangan Tetsuya menuju bagian depan celana yang mencetak jelas organ intim besar di baliknya. Benda itu langsung berdenyut hidup, sewaktu telapak tangan Tetsuya dengan kaku—dan ragu— mulai menyentuh dan menangkupnya.

Haah, jadi seperti ini rasanya jika ia terlibat kegiatan seksual dengan orang lain... Jantung Tetsuya berdetak liar, wajahnya memanas, dan ia tidak bisa menghindari desir-desir halus pada perut di bawah pusarnya... Tapi, ia tidak mau melakukan apapun lebih dari ini... Ia tidak mau dianggap berkhianat terhadap kebijakan agensi yang telah memberinya kesempatan untuk memperbaiki kualitas diri.

"Seijuuro-san, aku..."

Seijuuro mengerti. Ia melihat ragu di wajah Tetsuya. Tapi ia juga tahu kalau mereka kini sudah tidak dapat kembali, nafsu bercinta sudah terlalu tinggi untuk dihindari.

"Hei..." Bisik penuh gairah terdengar. "Aku tidak akan menyetubuhimu, sampai kita benar-benar terikat." Seijuuro membuat tubuh mereka tanpa jarak. "Karena aku ingin anak-anak kita lahir setelah hubungan ini diresmikan." Bibir dan lidahnya bergerak untuk menyapu di sepanjang leher Tetsuya, meninggalkan jejak basah hangat, lalu berhenti pada pembuluh nadi besar di balik kulit putihnya. Taring Seijuuro berpura-pura membuat gigitan di sana, dan tubuh Tetsuya otomatis langsung berjengit lemas karenanya.

.

Entah bagaimana, Tetsuya kini sudah berdiri di hadapan Seijuuro yang duduk di tepi ranjang besar dalam kamar. Ia hanya terbalut sweater rajut besar berwarna ivory, sementara celana panjangnya terserak di atas parket kayu.

"Celana dalam juga. Aku tidak punya celana ganti yang seukuran Tetsuya, jika nanti milikmu kotor setelah ini..."

(Memangnya mereka mau melakukan apa?!)

Wajah merona menjadi balasan kalimat persuasif Seijuuro. Setengah hati, ia menarik ujung-ujung elastis celana dalam putih, dan secara tidak langsung menyajikan aksi striptease amatir di hadapan Seijuuro—yang menatap penuh minat hingga merekamnya kuat dalam memori.

Ujung kepala mungil berwarna merah muda, menyembul malu-malu dari balik sweater, Tetsuya merajuk sewaktu Seijuuro menggumam penuh apresiasi mengenai kemulusan tubuhnya. Walau belum telanjang bulat, ia sudah merasakan dingin pada bagian bawah tubuh, padahal penghangat ruangan jelas-jelas menyala.

"Tolong bantu aku melepaskan ini..." Seijuuro berusaha melucuti boxer brief hitam yang ia pakai, dan segera meminta Tetsuya menariknya lepas, karena ia sedikit kesulitan akibat tangan lain tidak berfungsi dengan baik. Seijuuro tertawa kecil sewaktu melihat mata Tetsuya terpejam, berusaha menghindari kontak langsung dengan penampakan kelamin besar di hadapan. "Sungguh maafkan aku, tapi ini akan baik-baik saja..."

Ayah dan ibu, uuh... maafkan Tetsuya... karena kini ia akan melakukan sebuah dosa—dosa yang mungkin sangat manis bersama iblis dalam wujud pria tampan penuh pesona bernama Akashi Seijuuro.

Well, kini mereka hanya memakai atasan saja, mau apa sebenarnya Seijuuro? Apa ini termasuk dalam fetish miliknya yang tidak diketahui oleh Tetsuya?

"Duduk di sini..." ia memberi gestur agar Tetsuya duduk di pangkuannya.

"Eh?"

Seijuuro terkekeh, namun Tetsuya dapat melihat semburat malu samar mewarnai pipi. "Aku janji, tidak akan ada penetrasi. Percaya padaku, oke?"

Tetsuya mengangguk walau masih tidak yakin. Ia berbalik, dan perlahan duduk dengan bantuan Seijuuro pada pinggulnya, berulang kali bertanya 'apakah ini tidak apa-apa?' hampir tanpa suara. Didengarnya geram pelan di sebelah telinga, ketika selangkangan Seijuuro menyapa dua belah bokong bulat milik Tetsuya.

"Angkat sedikit sweatermu..." napas hangat terembus, Seijuuro mendengar lenguhan pelan saat tangannya mengelus kedua paha bagian dalam, dan memandu Tetsuya untuk sedikit menyisakan celah di antaranya. "Hei, apa Tetsuya pernah dengar istilah frotting(2)? Intercrural sex(3)? Seijuuro berbisik seraya menyelipkan alat kelaminnya memasuki celah yang baru dibuat Tetsuya.

"A—apa itu?" ia hampir menjerit saat merasakan alat kelamin mereka bergesekan pelan. Lengket dan terasa hangat. "Seijuuro-san sepertinya mengerti banyak hal tentang kegiatan semacam ini ya...?" Tetsuya mendengar Seijuuro tertawa kecil. Apa ia menertawakan kepolosan Tetsuya akan pengetahuannya yang sangat minim mengenai dunia seks? Oh, tentu saja, Seijuuro sudah bereksperimen dengan partner-partnernya dulu sebelum bersama Tetsuya. Haa, memikirkan itu malah membuat dada Tetsuya kembali sesak.

Botol lube diraih dari atas ranjang di sebelah mereka. Seijuuro lalu menuangkan cairan bening lengket beraroma stroberi pada dua ujung kepala serupa jamur merah muda. Membiarkannya menetesi tangan Tetsuya, membuat si mungil mendesah pelan akan rasa dingin yang dihasilkan.

Seijuuro mengecup kulit yang terekspos karena sweater longgar Tetsuya bergerak menuruni sebelah bahu. "Kita tidak perlu melakukan penetrasi, tapi mungkin sensasi intercrural atau frotting hampir setara dengan itu..." panggul Seijuuro terangkat, sebelah tangannya yang berguna, memandu kedua tangan Tetsuya untuk menyatukan penis mereka.

Tetsuya memejamkan mata. Rasanya sungguh aneh sekaligus mendebarkan! Batang besar itu mulai membengkak dalam genggaman, menggesek pelan telapak tangan sekaligus organ intim miliknya sendiri yang entah sejak kapan mulai berdiri di luar kendali.

"Seperti ini..." Seijuuro memberi instruksi untuk menggerakkan tangan mereka dalam pola naik-turun seirama. "Pelan-pelan saja, Tetsuya tidak perlu terburu-buru..." ia berkata begitu, tapi napasnya terdengar seperti habis mengikuti lomba maraton tanpa henti.

Satu lenguhan lolos dari sela-sela bibir yang tergigit gugup. "Haa—aannh..." pinggul Tetsuya bergerak mengikuti gerakan tangan mereka. "Seijuuro...uuh..."

"Ya, Tetsuya memang pintar..."

Daun telinganya digigit gemas, kedua tangan Tetsuya mulai terasa sedikit kram. Ia memberanikan diri untuk mengintip ke bawah, pada penis-penis lengket di antara pubis, yang menempel tanpa jarak dalam kurungan tangan mereka. Tetsuya menatap tidak fokus sewaktu sensasi gatal kini merambati dua pelirnya yang memerah, menggantikan sakit akibat kulit yang terus bergesekan Naik terus menuju ujung kepala dengan rekahan lubang kecil dan telah dibasahi cairan keruh pra-ejakulasi Sebelah tangan berhenti bergerak untuk mencengkram kuat lengan Seijuuro.

"Tidak—bisa lagi, aaah...!"

Tetsuya merasa tubuhnya menjadi rileks secara tiba-tiba. Inikah yang disebut dengan orgasme? Apa ia tengah berada di surga?

Sepertinya tidak, karena ia masih bisa mendengar deru napas dan kekeh halus milik Sang iblis dari balik lehernya.

"Apa seenak itu, hingga Tetsuya langsung keluar?"

Rajukan kecil menjadi balasan. Masih gemetaran akan gelombang kejut yang mendera seluruh tubuh, Tetsuya terpaksa menatap nanar pada leleran semen yang menodai perut bawahnya, paha bagian dalam, juga tangan mereka. Ia berbisik lemah. "Apa... Seijuuro-san belum—"

Seijuuro mendadak mengajaknya bangkit dari posisi semula. Tetsuya diperintah untuk berlutut seraya menumpu kedua tangannya pada tepi ranjang.

"Rapatkan kakimu." Seijuuro kembali memosisikan tubuhnya di belakang Tetsuya, sama-sama berlutut dan mulai menyelipkan lagi organ besar yang serasa hidup itu di antara paha Tetsuya. Sperma yang tersisa dijadikan pelicin, dan Seijuuro mulai bergerak penuh akurasi, melakukan aksi dorong-tarik yang secara tidak langsung ikut menggesek alat kelamin Tetsuya.

Desah dan lenguhan menjadi pengisi ruang yang mendadak blur di mata Tetsuya. Ia berusaha mengimbangi rasa menggelitik yang kini menjalari sepasang testis di antara kedua kakinya.

"Kau merasakan itu, Tetsuya?" tangan kanan merambah masuk ke dalam sweater, mencari-cari tonjolan yang sudah menegang karena gairah. "Maafkan aku, oke? Karena ini sudah tak bisa kutahan lagi..." gigitan di tengkuk menjadi penahan geram putus asa. Tetsuya mendesah tertahan, sewaktu ia merasakan semburan hangat mengenai belahan bokongnya. Tubuh Seijuuro mengejang, mengucapkan serapah pelan, dan selang beberapa detik kemudian ia kembali normal. Napasnya eratik, mulut itu terus menggumamkan kalimat nonsense namun penuh sayang untuk Tetsuya. "Fantastis."

Sedikit kesulitan, mereka merangsek naik ke atas ranjang. Masih setengah telanjang dan kesadaran Tetsuya perlahan mulai menghilang. Kantuk menyerangnya tanpa bilang-bilang.

"Tetsuya ingin langsung tidur?"

"Hu-umhh..." sapuan halus kertas tisu segera membersihkan residu di antara kaki mereka. Seijuuro meremas tisu tersebut, lalu melemparnya tepat memasuki keranjang sampah di sudut kamar.

"Tapi ini baru jam sebelas?"

"Tidak apa." Tetsuya mencari kehangatan pada dada bidang Seijuuro. "Ah, ya... dan selamat ulangtahun, Seijuuro-san..."

Seijuuro sempat terkejut, namun tersenyum lembut setelah mendengar ucapan penuh kantuk itu.

"Terima kasih, Tetsuya..."

Mungkin malam ini mereka akan tertidur lebih lelap dari biasanya.

TBC~

1. Motsu nabe: Sejenis hot-pot berisi daging dan sayuran. Asalnya dari daerah selatan Jepang, Fukuoka dekat Okinawa

2. Frottage: berhubungan seks tanpa penetrasi, hanya saling menggosok you know... ^0^

3. Intercrural: Alat kelamin laki-laki dirangsang di antara paha... hahaha ^/^

A/N: Yooosh! Maafkan saya karena banyak adegan menipu dalam chapter ini... Adegan ena-ena'nya Akakuro juga belum panas! (Masih setengah mateng) Wahaha..., silakan tunggu chapter depan yang merupakan chapter final dan epilogue yang mungkin akan 'full' uasem! (ala tukang obat.) Yap! Terimakasih banyak bagi yang sudah mau membaca, mereview fanfic ini. Sampai jumpa di chapter depan, en Ciao!