11.

"Tuan Hozuki bisa membuat coklat?!"

"Enma-Daiou yang meminta."

"Oh..." Momotaro melirik ke arah Hakutaku yang terus menerus menelan berliter-liter air dari segala sumber.

"Itu dari nona Mustard." ujar sang Kishin sambil membuka satu kotak coklat lain berpita biru. "Tak kusangka ia akan memakannya."

"Tuan Hakutaku pasti salah paham dengan gambar kelinci di kartu ucapannya. Oh! Yang ini manis!"

"Ini dari nona Okou."

"Punya tuan Hozuki?"

Iblis itu mengeluarkan sebuah kotak hitam dari dalam lengan kimononya, lalu kembali memasukannya lagi. "Untuk yang terakhir." tambahnya diiringi sorot mata amat serius.

"Itu pasti isinya racun! Tolak!" seru Hakutaku sambil meraup sebanyak mungkin coklat di dalam kotak-yang-katanya-dari-nona-Okou. Tombo pedes (sejak kapan di Shangri-La dikenal bahasa Jawa?). Dalam sekejap saja, kotak itu sudah ludes tak tersisa.

Mengetahui sudah saatnya, Hozuki pun mengambil kotak hitam tadi dari dalam lengan kimono. Membukanya, kemudian mematahkannya menjadi dua. Satu potong ia serahkan pada Momotaro. Sedang potongan lain ia gigit sekali, lalu dikunyah sambil berkata, "Tidak beracun." Potongan itu ia masukan kembali ke dalam kotak.

Hakutaku memandang ngeri pada kotak yang Hozuki sondorkan padanya.

"Tapi apa benar nona Mustard yang membuatnya? Agak sedikit sulit untuk membayangkan seekor kelinci bisa"

"Membuatnya? Apa aku pernah berkata seperti itu?"

"Eh? Jangan-jangan..."

"Aku yang membuatnya."

"Hah?!" Bukan Momotaro. "Jangan bilang?!"

"Benar."

Mental Hakutaku dan Momotaro menjerit bersamaan. Modusnya, itu terlalu!

.

.

*Kado-End*