Disclaimer : Detective Conan © Aoyama Gosho
Hai, minna~
Akhirnya saya bisa update fic ini lagi, setelah dua bulan lebih lamanya.. Gomen na sai.. karena ada suatu hal penting, jika hal ini sudah selesai, diusahakan segera update cepet.. :)
Arigatou u/ yg masih setia dgn fic ini.. Hontouni Arigatou.. #bungkukinbadan
Langsung saja silahkan dibaca.. Gomen jika chapter ini sangat panjang.. :')
Chapter 11.
~September 2009~
Terdengar lagu mars SMA Teitan diiringi alunan piano yang dinyanyikan regu koor terasa bersemangat pagi ini. Ditambah suasana SMA Teitan yang terlihat berbeda dengan daun-daun pepohonan yang mulai menguning campur jingga menandakan awal musim gugur. Hari ini adalah opening ceremony atau upacara bendera setelah liburan musim panas usai, juga hari pertama masuk sekolah lagi. Awal bulan September saat ini juga menjadi hari Koromogae no hi yaitu hari pergantian seragam musim panas ke musim dingin yang berlengan panjang, karena dimulainya musim gugur yang pastinya hawa udara menjadi lebih dingin. Kebanyakan siswa terlihat bersemangat dan antusias mengikuti ceremony dan untuk memulai aktivitas belajar kembali. Lain dengan Shiho, bukannya ia tidak bersemangat tapi ia sibuk tenggelam dengan pikirannya sendiri.
#Flashback On
Shiho tiba di sekolah lebih awal hari ini. Waktu masih menunjukkan pukul 07.30 pagi. Ia melangkah ringan menuju ke tempat yang lama tidak ia kunjungi. Dimana lagi kalau bukan rumah kaca. Sengaja ia berangkat pagi dari rumah karena untuk melihat wisterianya. Tiba dirumah kaca didapatinya Sanjuro Ojii-san sedang menyirami tanaman-tanaman yang ada di dalam rumah kaca sesuai dugaannya. Suasana dalam rumah kaca kontras dengan diluar, karena tanaman-tanaman di dalam kebanyakan masih terlihat hijau segar.
"Ohayou, Ojii-san." Sapa Shiho setelah masuk ke rumah kaca. Yang disapa pun menoleh ke arah suara.
"Ah, Ohayou, Miyano-san." Jawab Sanjuro Ojii-san yang sedang menyiram tanaman obat-obatan menghentikan kegiatannya sejenak.
"Rupanya Ojii-san benar-benar menepati janji." Ucap Shiho seraya mendekat menuju wisterianya berada.
"Janji? Maksud Miyano-san tentang tanaman wisteria?" Tanya Sanjuro Ojii-san.
"Hn." Angguk Shiho. "Sou, Ojii-san. Hontouni Arigatou."
"Ah.. Tidak masalah, Miyano-san." Ujarnya sambil tersenyum. "Karena saya merasa tidak terbebani sedikitpun."
"Sebagai tanda terima kasih, saya hanya bisa memberi ini." Ujar Shiho sambil memberikan sekantung tas kertas berwarna coklat muda kepada Sanjuro-Ojii-san.
"Eh, apa ini?" ujar Sanjuro Ojii-san sambil segan menerima kantung tas tersebut. "Miyano-san tidak perlu repot-repot."
'"Iie. Ini tidak repot, Ojii-san. Itu adalah beberapa bungkus teh hijau khas dari kebun teh 'Ryokucha' Pegunungan Fuji di Shizuoka. Kemarin liburan saya kesana dan teh itu asli diolah secara tradisional oleh penduduk setempat." Jawab Shiho. "Saya harap Ojii-san senang hati menerimanya walaupun itu tidak seberapa nilainya, sebagai ucapan terima kasih karena Ojii-san sudah repot-repot merawat wisteria ini untuk saya."
"Ah, sebenarnya saya tidak pantas menerima ini, Miyano-san. Karena saya sama sekali tidak terbebani akan hal itu."
"Jangan berkata begitu, Ojii-san. Saya sangat mengerti jika Ojii-san tidak mau menerima imbalan dari saya. Tapi untuk ini anggap saja oleh-oleh dari saya."
"Demo.." ucapan Sanjuro Ojii-san terhenti sejenak seperti tengah memikirkan suatu hal. "Ah.. Baiklah jika Miyano-san menghendaki seperti itu. Hontouni Arigatou.." lanjutnya.
"Hai'. Dou itashimashite." balas Shiho tersenyum.
"Ne, Miyano-san. Kenapa nona pagi-pagi sekali datang ke sekolah?" Tanya Sanjuro Ojii-san yang telah meneruskan kegiatannya menyiram tanaman. Shiho yang ikut membantu menyiram tanaman karena kebetulan ada beberapa selang air yang tersedia di dalam rumah kaca, menoleh pada Sanjuro Ojii-san.
"Um, tidak ada alasan khusus sebenarnya. Saya hanya ingin melihat wisteria, karena sudah 5 minggu tidak masuk sekolah." Jawabnya sambil terus melakukan kegiatan menyiramnya.
"Sokka.." ujar Sanjuro Ojii-san. "Tapi, sungguh cuma itu alasannya?"
"Hai'. Doushita no Ojii-san?"
"Eh, Iie. Nandemo nai no, jangan nona pikirkan ucapan saya tadi."
"…" Shiho hanya diam, masih bingung dengan arah pembicaraan Sanjuro Ojii-san tadi. Sanjuro Ojii-san pun sama, memilih untuk diam. Shiho pun memilih untuk membuka mulut duluan untuk lebih mencairkan suasana.
"Ne, Ojii-san. Sebelumnya Ojii-san pernah bilang punya cucu perempuan?"
"Hai',"
"Siapa namanya?" Tanya Shiho.
"Nama cucu perempuan saya Michiko. Ia berumur 10 tahun sekarang." Jawab Sanjuro Ojii-san. "Oh ya, saya pernah mengatakan kalau ia sangat menyukai tanaman seperti nona."
"Hai'.."
"Ya, ia memang sangat telaten merawat tanaman, khususnya bunga. Ia paling suka bunga sakura yang tumbuh di belakang rumah kami."
"Benarkah? Um, bunga sakura memang indah." Jawab Shiho antusias.
"Hai', ia sendiri juga menanam bunga hydrangea."
"Hydrangea?"
"Benar Saat saya tanya mengapa ia menanam bunga yang hanya mekar di musim hujan itu, katanya ia hanya menuruti kata hatinya." Sanjuro Ojii-san berhenti sejenak dan menghela napas. "Padahal ia tidak tahu bahwa itu bunga kesukaan ibunya yang telah tiada." Ucap Sanjuro Ojii-san mulai terlihat sedih setelah bercerita.
"Ah, Maaf Ojii-san."
"Iie, saya tak apa, Miyano-san. Hanya saja, saya masih berpikir kenapa kata hatinya begitu kuat menghubungkan ikatan batin dengan ibunya."
"Eh, …kata hati?"
Sanjuro Ojii-san menjawab dengan anggukan kemudian pandangannya menerawang. "Kata hati memang tidak pernah salah, karena ia berhubungan dengan nurani."
"Nurani? Apa maksud Ojii-san?"
"Eh?–"
" –Ojii-san, apa maksud Ojii-san dengan nurani?"
"Kenapa Miyano-san bertanya seperti itu?" Sanjuro Ojii-san yang agak bingung dengan pertanyaan Shiho akhirnya menjawab. "Ehm, nurani itu menyangkut kebenaran apa yang terdapat dalam hati seseorang. Ia adalah inti dari hati kita. Hati nurani selalu mengetahui kebenaran yang mengarahkan kita kepada tujuan yang sebenar-benarnya."
"Kenapa bisa begitu?"
"Karena hati nurani merupakan diri sejati kita yang berasal dari Tuhan. Oleh karena itu hati nurani tidak dapat dipengaruhi oleh siapapun."
"… A, Sou." Jawab Shiho yang terlihat berpikir. "Ne, apakah Ojii-san tahu bagaimana cara bertanya pada hati?"
"Maksud Miyano-san?"
"Bagaimana caranya bertanya kepada hati?"
"Eh," Sanjuro Ojii-san berpikir sejenak. "Umm.. bertanya kepada hati ya, sebenarnya hanya Miyano-san sendiri yang bisa mengerti, tidak ada pelajaran secara teknis bagaimana mendengarkan hati nurani, karena menurut saya bertanya kepada hati itu tergantung dari masing-masing individu. Bisa saja orang dapat dengan mudah mengerti akan perasaan yang dibimbing oleh nuraninya, bisa juga kebenaran dari nurani itu masih tertutupi oleh perasaan lain, misalnya hawa nafsu, ketidaksukaan, kebencian, bahkan amarah dan lain sebagainya yang mendominasi berasal dari otak dan pikiran kita." Jelas Sanjuro Ojii-san panjang.
"…" Shiho mengangguk dalam diamnya mencoba mencerna penjelasan dari Sanjuro Ojii-san. "Jika begitu apakah harus menghilangkan perasaan lain yang menutupi nurani agar bisa bertanya kepada hati nurani?" tanyanya.
"Hai'.. menurut saya begitu."
"Ah, Wakatta.. Arigatou Ojii-san.. Hontouni Arigatou." ujar Shiho tersenyum tulus. "Ojii-san telah memberi saya pencerahan."
"Dou ita shimashite, Miyano-san. Hanya itu yang bisa saya bantu." Ujar Sanjuro Ojii-san yang telah berwajah lebih cerah dari sebelumnya.
"Itu sudah cukup Ojii-san." Ucap Shiho seraya melihat arah jarum jam di pergelangan tangannya. "Eh, sudah 30 menit lebih saya disini, sebentar lagi upacara dimulai, saya harus segera ke aula. Ojii-san, sekali lagi Hontouni Arigatou.." ujar Shiho bergegas mencuci tangannya di wastafel dekat pintu masuk.
"Hai'.. saya senang bisa membantu.." ujar Sanjuro Ojii-san. "Tapi, bolehkah saya tahu? Miyano-san bertanya kepada hati apa menyangkut tentang perasaan cinta?"
"Eh? A-ano.." ucap Shiho terbata. "Bukan apa-apa, Ojii-san." jawab Shiho akhirnya. Sanjuro Ojii-san pun hanya tersenyum menanggapinya.
"Memang masalah anak muda tidak jauh-jauh dari itu. Hehe." Ujarnya sambil tertawa menampilkan deretan giginya yang masih lengkap. Shiho hanya tersenyum malu menanggapinya, segera ia pamit keluar dari rumah kaca.
#Flashback Off
Sekarang ia telah mengetahui bagaimana bertanya kepada hatinya, tinggal mempraktekkannya saja. Tapi ia tidak yakin akan secepatnya mendapatkan hasil, meski begitu ia tetap harus mencobanya.
"Shiho, kau melamun?" ucap Ran membuyarkan konsentrasi Shiho pada lamunannya. "Kau sedang memikirkan apa?"
"Eh, Ran.. Iie.. hanya suatu hal."
"Apa hal yang penting? Apa menyangkut pesta pernikahan Hakase?" Tanya Ran penasaran.
"Eh? Umm.. Ya, menyangkut pernikahan Hakase." Ujar Shiho mengiyakan.
"Wah, sudah sampai mana persiapannya?"
"Sudah lumayan, mungkin sekitar 75%."
"Aku turut senang, Shiho. Aku tahu kau bahagia dengan hal itu." Ujar Ran tersenyum.
"Hn." Angguk Shiho balas tersenyum tipis.
"Oh ya, opening ceremony sudah selesai. Ayo kembali ke kelas, Shiho." Ajak Ran.
"Eh? Baiklah, Ran."
.
.
~-Fuji-~
Minggu ini sudah mendekati akhir bulan September, yang juga hari pertama latihan untuk pertujukan dari kelas 2-D. Dari diskusi panjang para murid kelas 2-D bersama Takagi-sensei sebelumnya diputuskan untuk menampilkan budaya lokal bersama budaya dari luar negeri. Yaitu pertunjukan drama yang menceritakan kisah di jaman kekaisaran Jepang dicampur dengan cerita kerajaan Eropa bergenre romansa dan action. Pemeran yang dipilih juga berdasarkan voting. Ran sebagai pemeran utama wanita, Shinichi sebagai pemeran utama pria, Heiji, Sonoko dan Shiho sebagai protagonis, Akako dan Sera sebagai antagonis, dan lain sebagainya. Karena ini pertunjukan drama, Takagi-sensei pun tidak bisa ikut membantu karena ia tidak punya pengalaman dalam memimpin sebuah drama. Alhasil, ia pun meminta tolong kepada Jodie-sensei untuk membantunya, tidak lain karena Jodie-sensei sangat menggemari drama, apalagi opera. Mulai dari naskah sampai kostum panggung Jodie-senseilah yang menentukan.
"Wah, Ran.. kau pasti senang? Dipilih jadi peran utama pertunjukan ini." Ucap Sonoko yang berjalan mendekat pada Ran yang sedang duduk membaca setumpuk naskah. Ran pun menoleh padanya.
"Tentu saja, aku sangat antusias." Jawab Ran riang.
"Ne, apalagi kau bisa sering bersamanya karena hal ini, iya kan?" ujar Sonoko mulai menggoda Ran.
"Ah, kau ini Sonoko. Berhentilah menggodaku." Seru Ran kembali membaca naskahnya, Sonoko hanya tertawa kecil. "Apa kau sudah mempelajari naskah? Kau kan juga berperan dalam drama ini." Tanya Ran.
"Baru kubaca sekilas nanti saja kulanjutkan, peranku ini kan tidak terlalu penting. Kau yang punya peran sentral, jadi berusahalah Ran.." ujar Sonoko tersenyum.
"Jangan begitu Sonoko, sekecil apapun peranmu, pertunjukan ini akan kurang lengkap tanpa peranmu."
"Wakatta, Ran. setelah ini aku akan membacanya. Baiklah aku kesana dulu, Ganbatte, Ran!"
"Hn." Sonoko meninggalkan Ran yang kembali serius membaca naskahnya.
"Minna, We will start practicing drama today.. Please you all serious in this drama." ujar Jodie-sensei pada para siswa kelas 2-D yang telah berkumpul di Gedung Olahraga. Mereka memang meminjam Gedung Olahraga karena selain ruang lainnya sudah dipakai oleh kelas yang lain, juga tempat ini cukup luas untuk digunakan berlatih.
"Okay, kita mulai latihan sekarang, mulai dari pemeran utama terlebih dulu." Perintah Jodi-sensei. Para pemeran segera menempatkan diri dan mulai berlatih.
"Oh my~ your acting is very good, Ran. Tidak salah kau terpilih memerankan tokoh Putri Kaguya ini." Puji Jodi-sensei. "Tapi kau, Cool guy, aku belum puas dengan aktingmu. Kau belum bisa menghayati peranmu."
"Gomen, sensei." Jawab Shinichi sambil meringis.
"Aku ingin kau memperdalam pengahayatan untuk tokoh yang kau perankan dulu, baru kau bisa berakting dengan bagus." Ucap Jodie-sensei.
"Hai'.." hanya itu yang bisa diucapkan Shinichi. Ia pasrah saja, karena ia tidak begitu tertarik memerankan drama romansa action seperti ini, apalagi jadi tokoh utama.
"Ini untukmu, kau pasti haus, Shinichi." Ucap Ran pada Shinichi sambil menyodorkan sebotol air mineral, kemudian ikut duduk disamping Shinichi di tribun Gedung Olahraga.
"Untukku?" jawab Shinichi. "Hn. Arigatou, Ran." Segera diminumnya air mineral yang diberikan Ran, ia memang sudah haus sejak tadi hanya saja malas untuk mengambilnya di bagian konsumsi.
"Hn." Balas Ran tersenyum tipis. "Ne, Shinichi. Menurutku kau tadi sudah berusaha, jadi semangatlah jangan lesu begitu." Shinichi yang sedang melihat Heiji sedang latihan untuk adegannya menoleh pada Ran.
"Hai', Aku akan berusaha, Ran." Jawab Shinichi yang setengah hati mengucapkannya.
"Baguslah.." ujar Ran yang ikut melihat ke arah Heiji dan Sonoko latihan.
"Ne, bukankah ini adegan para pendamping putri Kaguya ditolong oleh Heiji sebagai pengawal Pangeran Kerajaan seberang?" ucap Shinichi sambil membuka halaman naskah dimana adegan yang dibicarakan tersebut.
"Um, Aku sudah membaca semua naskahnya. Sou, ini adegan itu. Nan de, Shinichi?" Tanya Ran.
"Bukankah yang berperan itu Sonoko dan Miyano? Tapi kenapa itu Sonoko dan orang lain?"
"Oh, kalau soal itu, Shiho memang tidak jadi berperan dalam drama ini. Dia kemarin sudah ijin pada Jodie-sensei dan Takagi-sensei."
"Doushite?" Tanya Shinichi dengan rasa penasaran yang tidak terlihat.
"Dia harus konsentrasi untuk Olimpiade sains yang akan ia ikuti sebentar lagi. Jadi ia memilih untuk membantu di bagian perlengkapan saja, sehingga tidak menggangu belajarnya."
"…Sokka." gumam Shinichi.
"Kenapa kau menanyakannya Shinichi?"
"Eh? A-ano.. kupikir setelah kita dipilih sebagai pemain dalam drama ini melalui voting, kita boleh berganti tokoh yang kita perankan."
"Oh.." ujar Ran singkat yang tidak terlalu peduli dengan jawaban Shinichi.
.
.
"Sumimasen, ada apa memanggil saya kesini Jodie-sensei?" Tanya Shinichi yang sudah berada di ruang guru.
"Duduklah," ujar Jodie-sensei menunjuk kursi didepan mejanya. Shinichi segera menurutinya.
"Ne, Cool Guy.. apa drama itu tidak penting bagimu?" Tanya Jodie-sensei tanpa basa-basi.
"Ne? Maksud sense–"
" –Kita sudah latihan 5 kali. Tapi kau belum menujukkan kemajuan yang signifikan."
"Ah, Gomen na sai. Saya sudah berusaha, sensei. Tapi saya rasa sepertinya saya tidak cocok memerankan drama ini."
"…" Jodie-sensei diam berpikir sejenak. "Sebenarnya, apa kau ingin diganti?" lanjutnya.
"Doushita no?" Tanya seseorang bersuara tegas dan berat yang sudah berdiri di dekat sekat meja Jodie-sensei setinggi 1,5 meter digunakan untuk memisahkan meja para guru, sehingga hanya sepertiga atas tubuhnya yang kelihatan.
"Ne, Shuu.. kenapa kau tiba-tiba disitu?" Tanya Jodie-sensei kepada seorang guru yang ternyata Akai-sensei yang berjalan mendekat ke meja dimana dua orang tadi duduk.
"Aku hanya ingin memberikan berkas-berkas dari Kepala Sekolah." Jawab Akai-sensei sambil menaruh berkas yang dibawanya di meja Jodie-sensei.
"Oh, Arigatou. Berkas apa ini?" Tanya Jodie-sensei.
"Untuk keperluan acara festival seni yang bertepatan dengan ulang tahun SMA Teitan." Ujar Akai-sensei masih dengan nada datar.
"Kenapa diserahkan padaku?"
"Karena kau ditunjuk Kepala Sekolah Matsuda menggantikanku mengurus acara itu. Aku sudah bilang kalau aku tidak bisa."
"Nani? Memangnya kau ada urusan apa?"
"Karena anak ini. Demo, sebenarnya bukan hanya dia, tapi seluruh anggota tim sepakbola." Ujar Akai-sensei mendekat pada Shinichi dan menepuk bahunya. "Akan ada pertandingan penting di bulan Oktober nanti."
"Sou?" Tanya Jodie-sensei yang menoleh pada Shinichi.
"Soudayo, sensei.." jawab Shinichi yang sedari tadi hanya mendengarkan kedua senseinya bicara.
"Dan juga seleksi pemain Tokyo Spirits U-19. Ini kesempatan yang bagus untuk tim kami. Dan aku juga berharap pada Kudo." Jelas Akai-sensei.
"Sokka.." angguk Jodie-sensei. "Ne, Cool Guy. Kau memang sugoi sesuai panggilanku padamu." Lanjutnya sambil tersenyum. Akai-sensei tiba-tiba berdehem.
"Apa kau juga ingin kupanggil Cool Man, Shuu?—" Tanya Jodie-sensei melirik pada Akai-sensei.
" —Iie," jawab Akai-sensei singkat berekspresi seperti tidak peduli. "Tenggorokanku hanya gatal."
"Soushite.. tentang drama tadi sensei, saya sepertinya tidak bisa meneruskannya, saya juga tidak tahu harus bicara apa dengan teman-teman sekelas, karena mereka sudah memilih saya." Ujar Shinichi.
"Okay. Kalau itu kau tidak perlu khawatir, sensei bisa mengurusnya." Ucap Jodie-sensei mantap.
.
~-Fuji-~
"Minna, hari ini sudah ketujuh kalinya kita latihan. Dan minggu ini sudah akhir bulan September, waktu kita untuk latihan semakin menipis. Ditambah lagi, sensei diserahi tugas untuk mengurus Festival Seni oleh Kepala Sekolah. Sensei sudah memutuskan untuk serius di drama ini, kalian juga sensei harap serius dalam drama ini. Untuk itu, sensei tidak segan untuk mengganti siapa saja yang tidak berbakat atau tidak berniat dalam drama ini." Jelas Jodie-sensei yang suaranya menggema di gedung olahraga. "Understand, guys?"
"Hai' sensei.." jawab murid serempak.
"Makanya, sensei akan mengganti pemeran utama drama ini." Mendengar itu para murid sedikit terkejut, tapi mungkin juga ada yang senang, karena bisa saja dirinya yang ditunjuk menjadi pemeran utama.
"Nani?" seru sebagian murid bersamaan.
"Chotto, memang kenapa sensei? Tanya Ran.
"Ran, maksud sensei pemeran utama pria, jadi bukan kau.." jawab Jodie-sensei.
"Jadi maksud sensei itu Shinichi?" Tanya Ran lagi.
"Yes, right. Ada beberapa alasan mengapa sensei melakukan ini. Mengingat ia dipilih karena voting kelas jadi untuk penggantinya sensei juga lewat voting."
"Chotto, sensei."
"Nande, Sonoko?" Tanya Jodie-sensei.
"Menurut saya, pemeran utama dalam drama ini yaitu Ran dan Shinichi itu sudah sangat cocok. Mereka seperti sudah memiliki chemistry tersendiri."
"Hai'. Tapi sudah sensei bilang jika ada beberapa alas an mengapa sensei memutuskan ini, diantaranya yaitu sudah beberapa minggu Kudo Shinichi tidak menunjukkan perkembangan acting yang signifikan ditambah lagi sebentar lagi di bulan Oktober ia akan ikut pertandingan dan seleksi pemain Tokyo Spirits."
"Benar begitu, Shinichi?" Tanya Ran pada Shinichi yang berdiri disampingnya.
"Benar, Ran." Angguk Shinichi. "Gomen.." tambahnya. Ran hanya terdiam tidak tahu harus berkata apa, awalnya ia sangat antusias bisa bermain drama bersama Shinichi, tapi sekarang kenyataanya..
"Demo, sensei.." seru Sonoko.
"Sonoko.." ujar Ran pada Sonoko yang masih belum terima sepertinya.
"Ran?" Sonoko menoleh pada Ran. Ran tidak menjawab Sonoko malah menoleh kembali pada Shinichi.
"Iie, daijobu.. Shinichi. Mungkin ini yang terbaik, Berusahalah untuk pertandingan itu." Ujar Ran dengan senyum manis yang sedikit dipaksakan.
"Hn. Tentu, Ran." Jawab Shinichi.
"Okay, minna.. bagaimana kalau kita voting sekarang untuk mencari penggantinya?" ucap Jodie-sensei.
"Hai' sensei."
.
.
~Oktober 2009~
Memasuki bulan Oktober, udara terasa lebih sejuk. Sangat cocok dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas luar ruang saat siang hari, seperti olahraga, panen sayur atau buah-buahan khususnya musim panen buah anggur, bulan ini juga sering disebut bulan pernikahan karena cuaca yang bersahabat. Salah satunya..
"Kirei ne. Kau sangat cantik, Bibi." Ucap Shiho tersenyum yang berdiri di belakang Fusae –menatap pada pantulan Fusae di kaca yang terlihat mengenakan gaun warna peach terang yang simple namun anggun–. Rambut pirang yang disanggul sederhana semakin melengkapi penampilannya, tak heran jika Shiho memujinya. Mereka sedang berada dalam sebuah kamar yang telah dihias sedemikian rupa dengan warna peach lembut mendominasi. Itulah kamar pengantin Fusae dan Hakase.
"Arigatou, Shiho." Jawab Bibi Fusae tersenyum malu. "Demo, kenapa kau masih memanggilku bibi? Aku sudah resmi jadi ibumu sejak upacara di gereja kemarin." Tambahnya masih sambil tersenyum.
"Aa.. Aku lupa, Gomen na sai.. Okaa-san."
"Daijobu." Jawab Fusae melihat Shiho dari pantulan kaca. "Ah, lihat dirimu, kau juga sangat cantik, Shiho." Dilihatnya Shiho yang mengenakan gaun pendek selutut lengan loose pendek, berbahan chiffon berwarna biru muda dengan sedikit renda di sekitar pinggang, cukup simple memang tapi tidak disangkal kalau itu menjadikan Shiho semakin terlihat cantik.
"Benarkah? Arigatou Okaa-san."
"Sou, tentu saja. Pasti nanti banyak orang yang terpesona padamu."
"Apa maksud Okaa-san?" Shiho curiga dengan arah pembicaraan Fusae yang kini telah menjadi Okaa-sannya.
"Hehe, diantara tamu undangan nanti mungkin saja ada pemuda tampan yang menarik hatimu. Mungkin saja kau bisa bertemu jodohmu, Shiho." Ujar Fusae menggoda Shiho. Shiho hanya menanggapinya dengan memutar bola matanya.
"Sudahlah, Okaa-san. Berhenti menggodaku. Hayaku, Lebih baik kita segera bergegas. Apa kau mau terlambat dihari penting seperti ini?"
"Tenanglah Shiho. Ini hari Okaa-san. Memang siapa yang akan memulainya tanpa kehadiran Okaa-san."
"Benar juga."
"Baiklah, Ayo Shiho." Mereka segera keluar ruang pengantin yang berada di salah satu hotel terbesar di Prefektur Shizuoka dan segera menuju ke tepi danau Hamana. Ya, Fusae dan Hakase memang telah sepakat untuk mengadakan resepsi pernikahan di Danau Hamana dengan menyewa small yacht –tidak terlalu besar tentunya karena ini merupakan pesta private- yang telah tersedia di Danau Hanama untuk mengelilingi danau. Danau Hamana memang sangat indah, danau yang membatasi kota Kosei dan Hamanatsu ini telah banyak dibangun tempat wisata disekelilingnya yang telah terkenal di kalangan para turis.
Kurang lebih dua jam pesta resepsi berlangsung dibagian decked out kapal, acara inti telah selesai kini tinggal sesi acara bebas dimana para tamu dapat berkeliling kapal menikmati hamparan pemandangan air biru Danau Hanama yang luas. Demikian juga Shiho, ia ingin menyegarkan kembali dirinya dengan melihat suasana Danau Hanama sambil berdiri bersandar di pagar bagian curve –sisi melengkung pinggir geladak kapal- yang tidak ramai oleh tamu lainnya, setelah lama ia menemani Fusae dan Hakase. Angin segar danau menghembus rambut pendeknya, seakan memainkan rambut pirangnya itu. Ditolehkan kepalanya untuk melihat para tamu yang sibuk dengan urusan mereka sendiri, ada yang bersantai menikmati suasana danau seperti dirinya, ada juga yang sibuk memakan hidangan yang telah disediakan.
"Kreett.." suara pintu terbuka di pinggir deck dekat Shiho berdiri. Reflek Shiho menoleh ke kanan pada sumber suara yang memang tidak jauh, hanya 5 meter darinya. Muncul seorang pemuda memakai tuxedo putih dengan kemeja warna hitam mixed rompi abu-abu yang melengkapi wajah tampannya.
"Kapan ini berakhir? Aku sudah tidak tahan lagi.." gumam pemuda itu berwajah frustasi yang tidak menyadari keberadaan Shiho.
"Masaka.." ucap Shiho yang membuat pemuda itu menoleh padanya.
"Eh? Kirei.." gumam pemuda itu pelan yang menatap Shiho, jujur ia terpesona dengan sosok cantik Shiho dihadapannya sehingga lupa dengan rasa frustasi sebelumnya.
"Kuroba-san.. deshou?" Shiho memutar badannya ke samping dan membuka suara saat merasa ia mengenal pemuda itu. "Apa yang tadi kau katakan?"
"Are? ..Miyano-san?" Tanya Kaito balik. Shiho mengangguk menjawabnya, ia tidak menyangka akan bertemu dengan Kaito disini. "Ah, Iie, pemandangan danau ini sangat cantik, bukan?" lanjutnya sambil berjalan ke arah Shiho. Shiho pun memutar tubuhnya kembali mengedarkan pandangan ke arah danau.
"Hn." Jawab Shiho. "Benar ini sangat indah. Oh ya, aku tidak menyangka kita bisa bertemu lagi."
"Hai'," Jawab Kaito yang berdiri menjauh dari pagar.
"Eh? Kenapa kau disitu?" Tanya Shiho yang berbalik menghadap Kaito.
"I-Iia.. lebih nyaman disini." Ujar Kaito tersenyum garing. Shiho hanya mengerutkan dahinya bingung.
"Hora, kau disini sebagai tamu, apa kau mengenal Hakase atau Fusae?"
"Iie. Aku diajak Okaa-san untuk menemaninya datang ke pernikahan teman kenalannya, Fusae-Oba-san. Demo, kau masih ingat padaku ya."
"Sou, ingatanku kan tajam." Ujar Shiho bernada sedikit pamer. "Kau juga masih ingat aku."
"Sou, ingatanku kan tajam." Balas Kaito meniru nada suara Shiho.
"Ne, kenapa kau men-copy kata-kataku?"
"Iie,"
"Bohong."
"Jyodan ne. Aku hanya bercanda." ujar Kaito tersenyum. Shiho hanya tersenyum mendengarnya.
"Oh ya, setelah terakhir kali kita bertemu di SMA Teitan, kenapa sejak itu aku tidak pernah melihatmu lagi?"
"Um, waktu itu hari terakhir sebelum aku pindah SMA."
"Pindah?"
"Hn. Okaa-san harus pindah karena pekerjaan."
"Aa, sou." Hanya itu yang keluar dari mulut Shiho, sebenarnya ia ingin menanyakan pindah kemana, tapi mengingat dirinya bukanlah orang yang ingin tahu urusan orang lain –apalagi yang belum terlalu akrab-.
"Nee, kau tahu kapan ini berakhir?" Tanya Kaito tiba-tiba yang membuyarkan keasyikan Shiho menikmati pemandangan.
"Um? Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Karena aku sudah tidak tahan disini."
"Memang kenapa?"
"A-ano.. Ah, Itu tidak penting. Apa kau tahu kapan kapal ini menepi?"
"Sebentar lagi." Jawab Shiho menunjuk dengan tolehan kepalanya. "Lihat, haluan sudah berubah mengarah ke dermaga. Sebentar lagi kapal ini akan menepi." Kaito pun menghela napas lega.
"Doushita no?"
"Eh? Um.. aku hanya ingin segera keluar dari kapal ini." Shiho lagi-lagi mengerutkan keningnya tanda bingung. "Ini hal yang sangat privasi, jadi tidak bisa kuceritakan." Tambah Kaito. Ya, itu memang hal privasi karena tidak mungkin dia menceritakan kalau ia tidak tahan di kapal sebab tidak nyaman berada ditengah-tengah danau karena phobia ikan, itu akan menjatuhkan gengsinya. Kalau bukan karena Okaa-san nya yang memaksa ditemani pasti ia sudah menolak mentah-mentah untuk ikut naik kapal ini. Sedari tadi ia sudah mencari tempat yang menurutnya paling aman, ia pun tak berselera makan hidangan yang ada karena banyak dari hidangan yang merupakan binatang air, termasuk ikan.
"Hn." Shiho hanya mengangguk. Seterusnya mereka hanya diam dan tenggelam dengan kegiatan masing-masing –memandangi hamparan Danau Hanama-.
Kapal perlahan-lahan menepi ke dermaga, agak butuh waktu karena agak sulit mengatur haluan. Shiho reflek melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Hora, kapal sudah menepi. Jadi kau tidak perlu khawatir lagi."
"Hn." Angguk Kaito.
"Ne, aku harus segera kembali ke decked out. Aku duluan, Kuroba-san. Sayonara." Ucap Shiho sambil berlalu.
"Eh? Baiklah. Sayonara.." ujar Kaito tersenyum.
.
~-Fuji-~
"Konnichiwa." sapa Shiho saat memasuki salah satu ruang di bagian belakang gedung pertunjukkan, yaitu ruang perlengkapan dimana beberapa murid kelas lain sibuk dengan kegiatan masing-masing, ada yang menata kostum, membuat property pertunjukkan, dan lain sebagainya.
"Ah, Konnichiwa, Miyano-san." Jawab Eisuke Hondo yang kebetulan berada di dekat pintu masuk, sepertinya dia akan keluar ruang.
"Gomen, baru sekarang bisa ikut membantu."
"Tak masalah, Miyano-san." Ujar Eisuke yang sedang membawa property panggung.
"Ne, apa yang bisa kubantu?" Shiho memang membantu dibagian perlengkapan karena ia tidak ikut berperan dalam drama.
"Um, Apa kau bisa mengecat properti, Miyano-san? Jika ya, kau bisa membantu mengecat properti dan latar pemandangan."
"Hai'.. aku bisa, dimana tempatnya?"
"Disana." Ujar Eisuke sambil menunjuk tempat disamping ruang kostum. "Miyano-san, bisa minta tolong bawakan sterofoam ini kesana?"
"Hn."
"Arigatou. Aku ada urusan sebentar." Ujar Eisuke berlalu keluar ruang. Segera Shiho menuju tempat yang dimaksud, disana sudah ada beberapa properti yang terbuat dari sterofoam dengan bermacam bentuk. Dilihatnya disana ternyata hanya ada satu orang.
"Sumimas–" kata-kata Shiho terpotong. "Eh, Kudo?"
"Miyano..." yang diajak bicara sedang sibuk memotong sterofoam pun menoleh. "Hn."
"Hondo-san menyuruhku membawa ini."
"Arigatou."
"Ne, kau tahu yang mana yang harus kukerjakan?"
"Um, kau bisa mengerjakan itu." Tunjuk Shinichi pada sebuah sterofoam berbentuk rumput-rumputan dan bunga. Shiho pun segera menaruh tasnya dan mulai mengecat properti drama tersebut.
"Ne, bagaimana Olimpiade sains mu?" Shinichi membuka suara setelah beberapa menit lalu suasana hening.
"Sudah selesai. Dakara, aku baru bisa membantu disini sekarang."
"Sokka. Bagaimana hasilnya?" Tanya Shinichi lagi menatap Shiho yang sibuk mengoleskan cairan cat ke sterofoam.
"Lumayan. Tapi tidak seperti yang kuharapkan. Tim kami hanya menyabet medali perak."
"Bukankah kau ikut Olimpiade nasional? Menurutku itu hebat. Omedetou, Miyano." Puji Shinichi tulus masih menatap Shiho.
"Hn. Arigatou." Entah kenapa Shiho sangat senang dipuji Shinichi seperti itu.
"Ah!" seru Shinichi. "Aduh.." ujarnya pelan. Shiho pun menoleh, matanya membulat melihat jari telunjuk Shinichi berdarah.
"Matte.." seru Shiho saat melihat Shinichi akan menutup luka dengan menghisap darah yang keluar. "Jangan kau hisap, memangnya kau vampire?"
"Oi-oi.." pertanyaan Shiho sontak membuat Shinichi sweatdrop.
"Ini, agar darahnya berhenti mengalir." Ujar Shiho menyodorkan sapu tangan berwarna merah marun. Shinichi pun hanya menurutinya, sedangkan Shiho sibuk mencari sesuatu dalam tasnya. Setelah dapat ia langsung mencari plester luka.
"Lepaskan dulu. Kelihatannya darah sudah berhenti mengalir." Ujar Shiho mengambil sapu tangan yang terkena noda darah tersebut. Dan segera dipasangnya plester tadi pada jari Shinichi. Sedangkan Shinichi hanya diam serius mengamati perlakuan Shiho padanya, entah kenapa jantungnya berdebar lebih keras saat ini karena berada sedekat ini dengan Shiho, sama juga dengan Shiho yang berhasil menutupinya. "Sudah selesai." Ucapan Shiho membuyarkan kegiatan pengamatannya.
"E-eh? Arigatou, Miyano." Ucap Shinichi kembali memandang Shiho yang merapikan kembali kotak obatnya.
"Hn."
"Tapi, kau ini membawa kotak obat di dalam tasmu?"
"Hai'.. aku juga membawa obat sakit kepala, obat sakit perut, obat masuk masuk angin juga.." ujar Shiho polos membuat Shinichi hampir tertawa mendengarnya.
"Kau ini ternyata unik."
"Sou? Demo, sepertinya kau tidak cocok mengerjakan hal seperti itu, lihat saja, jari tanganmu terluka karena cutter."
"Iie, aku cocok disini. Properti itu aku yang membuatnya," Tunjuk Shinichi pada sebuah properti pohon. "Tadi itu hanya pikiranku sedikit teralihkan saat aku memotong sterofoam dengan cutter." Sebenarnya pikiran Shinichi teralihkan karena terus memandang Shiho tadi, tapi tidak mungkin ia mengatakannya pada Shiho.
"Wakatta, demo.. bukankah kau harus latihan? Kau kan pemeran utama tapi kenapa kau disini?" Tanya Shiho pada Shinichi yang telah meneruskan kegiatannya sebelumnya.
"Aku tidak latihan."
"Doushite?"
"Karena aku tidak lagi jadi pemeran utama."
"Eh? Nande?"
"Yaa, karena lebih cocok disini." Ucap Shinichi meringis.
"Uso. kau bohong." Ujar Shiho memutar bola matanya.
"Aku tidak bohong, Miyano. Dan juga, aku memang diganti oleh Jodie-sensei. Sepertinya aku tidak cocok berakting sebagai pemeran utama dalam drama itu."
"Aa, sou." Ujar Shiho seraya menghela napas dan meletakkan kuas cat yang dipakainya. "Akhirnya selesai. Bagaimana menurutmu, Kudo?" Tanya Shiho menunjukkan hasil karyanya pada Shinichi.
"Hn. Bagus."
"Ne. Sepertinya aku hanya bisa membantu sampai disini, karena hari sudah sore. Apa kau masih disini?" Ujar Shiho merapikan cat dan kuas ke wadahnya kembali.
"Eh? Hai'.. demo, sebentar lagi aku selesai dan akan pulang."
"Sokka. O ya, tolong bilang pada Hondo-san, rumput dan bunga sudah kuwarnai dengan cat."
"Hn, Matteyo.. Miyano." Seru Shinichi yang melihat Shiho yang tengah memakai tasnya.
"Nande?"
"Sapu tangan tadi, biar aku yang mencucinya."
"Um, tidak perlu, Kudo. Biar aku saja, toh nodanya cuma sedikit."
"Demo.. aku merasa–"
" –Tak masalah, Kudo." Potong Shiho.
"Sou? Arigatou Miyano." ujar Shinichi tulus.
"Sou. Aku duluan, Kudo. Mata ne."
"Hn. Itterasshai, Miyano." Ujar Shinichi pada Shiho yang telah memulai langkahnya.
To be continued.. :)
Author's Note :
Arigatou minna, yang sudah menyempatkan membaca fic ini, juga khususnya hashi99 yang telah setia menunggu sampe PM jg :)
U/ yg review, fav, follow, dsb itu sangat menambah semangat u/ melanjutkan fic ini. Hehe. Hontouni Arigatou.. :)
mini dictionary:
Dou itashimashite : sama-sama/dengan senang hati.
Doushita no? : Ada apa? / Doushite? : Kenapa/Mengapa?
Nandemo nai no : Bukan apa-apa
Sou kana?/ Sou da no?: Benarkah?/Begitukah?
Kirei/Kirei ne : Cantik/Cantiknya.
Jyodan : Bercanda.
Itterasshai : Hati-hati.
Hayaku : Cepatlah,
Demo : Tapi,
Ichirukilover30, HaiMi, coffelover98, ShinchiKudou, hashi99, betiace, ultimatestar : Arigatou review dan semangatnya~ Gomen na sai lama update.. :') juga gak bisa balas satu persatu, Sekali lagi Hontouni arigatou..
