"Unghh.. Ibu.."
Suara memohon terdengar dari mulut si mungil yang masih meringkuk diatas ranjangnya dengan selimut yang sudah menutupi seluruh badannya tapi badannya masih menggigil kedinginan.
"Bu.. Ibu.. hiks.. ini dingin bu.. tolong aku.." kembali rintihan si mungil terdengar.
Berulang kali ia mencoba untuk mengacuhkan rintihan itu tapi semakin lama melihat sosok yang ada dihadapannya menggigil dengan hebat dan bahkan wajahnya sudah memucat putih, ia memutuskan untuk memberikan kehangatan dengan duduk disebelahnya dalam wujud Phoenix- nya.
Dan benar saja, tak lama sejak ia duduk di samping gadis itu, tangannya sudah kembali diraih dan dijadikan bantal seperti malam-malam sebelumnya, bedanya kini tangannya itu membawakan kehangatan yang cukup untuk menaikkan suhu badan si mungil yang sudah hampir mati kedinginan. Gertakan gigi masih terdengar karena belum sepenuhnya badan Baekhyun merasakan kehangatan, Chanyeol sudah menaikkan selimut pada gadis itu bahkan memakaikan mantel yang ia gunakkan sebelumnya kepada Baekhyun tapi semuanya itu belum cukup.
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk memeluk badan mungil itu dalam dekapannya yang masih memancarkan hawa panas. Bila sebelumnya Baekhyun berteriak karena kepanasan, kali ini ia bahkan mengusakkan wajahnya untuk semakin tenggelam dalam kepanasan badan sang Phoenix.
.11.
Pemandangan yang ia lihat kali ini bukanlah barisan bukit yang terbentuk rapi disisi selatan atau pun hemparan lautan luas pada sisi utara penglihatannya, kali ini ia berdiri diatas kap mobil mewah dengan kakinya yang telanjang dan tangannya yang terbentang lebar menikmati gerakan angin malam serta melihat berbagai gugusan bintang yang sangat indah diatas kepalanya. Bunyi ledakan suara kembang api yang warna-warni menjadi suara yang paling keras didengar oleh kedua telinganya.
Matanya benar-benar menampakkan binar bahagia saat melihat rentetan ledakan kembang api yang terbentuk diatas sana, ditambah berbagai macam bentuk yang tercipta membuat sosok anak kecil nan polos pada dirinya ditampakkan pada pria yang duduk dengan kedua tangan tersembunyi didalam kantung celananya dan kini tersenyum melihat bagaimana gadis mungil diatas mobilnya itu benar-benar bahagia.
"Ini sungguh indah!" Teriakan kesekian kalinya dilontarkan sebagai pujian atas pemandangan malam yang ada di kota dunia luar yang untuk pertama kalinya ia datangi.
"Kau menyukainya?" pria dihadapannya bertanya.
"Um, sangat menyukainya!" Gadis itu menganggukkan kepala dan masih memamerkan senyumnya
"Selamat menikmati Tuan Puteri." Pria itu membalas lagi dan kembali melihat pemandangan langit yang sama.
Malam itu mereka habiskan waktu berdua duduk pada atas kap mobil dengan kedua kepala yang tidak henti-hentinya menatap keatas langit guna melihat bagaimana kembang api yang masih besahut-sahutan saling meledak diatas sana dan juga gugusan bintang yang terbentuk di langit yang sangat cerah hingga memperlihatkan barisan bintang itu terlihat sangat jelas. Sang gadis mungil masih berdecak kagum akan pemandangan itu, sedangkan sang pria kini menggunakan teropong bintangnya untuk melihat satu per satu pemandangan bintang diatas sana dengan lebih jelas.
"Sudah menemukan bintangnya?" Gadis mungil itu bertanya sambil memperhatikan pria disampingnya yang masih serius dengan posisi yang sama sedari tadi.
"Hmm... mungkin sedikit lagi." Jawaban yang diberikan masih sama dan pada posisi yang sama seperti sebelumnya.
"O—oohh! Bintang jatuh!" Suara teriakan si mungil dan gerakan tangan yang menepuk bahu pria itu berhasil membuat sang pria mendongak dan melihat arah bintang jatuh itu, ia kembali menggunakkan teropongnya untuk bisa melihat langsung gerakan jatuh pada bintang itu dan akhirnya tersenyum.
"Indah bukan?" kini sang pria berkomentar dan melirik kesampingnya, namun pemandangan yang didapat adalah sang gadis yang dengan matanya yang terpejam dan juga senyuman pada wajahnya terbentuk sedangkan bibirnya bergerak seakan-akan ingin mengatakan sesuatu tapi tidak ingin didengar oleh siapapun, tangannya saling mengait satu sama lain dan mendekap didepan dadanya.
Sang Pria menarik senyumnya sedikit melihat tingkah laku yang dilakukan gadis itu dan masih memperhatikan dengan saksama hingga wajahnya mendekat dan sagat dekat.
"Apa yang kau minta?" Pria itu langsung menyerang dengan pertanyaan begitu mata sang gadis terbuka dan membuat gadis itu mengerjapkan matanya berkali-kali melihat wajah sang pria yang tepat berada dihadapannya.
"A-aku.. aku meminta sesuatu.." Gadis itu menjawab dengan suara gagap dan bahkan terdengar seperti lirihan.
"Dan apa permintaanmu Tuan Puteri?" sang Pria semakin mendekatkan wajahnya sedangkan sang gadis semakin memundurkan wajahnya untuk menjauh.
"Itu.."
"Hm.."
"Itu.. itu.."
"Itu apa?"
"Itu rahasia—aaaa!" Tubuh sang mungil yang hampir jatuh dari atas kap mobil itu namun berhasil diselamatkan oleh sang pria dan ia menariknya hingga masuk dalam dekapannya dan malah semakin membuat sang gadis salah tingkah dan sedikit meronta.
Pria itu melepaskan dekapannya dan membantu sang gadis merapikan mahkota bunga-bunga yang ada pada kepalanya.
"Um terima kasih." Sang Gadis masih menunduk dan berusaha sedikit berdiri agak jauh dari pria disampingnya, namun rencananya gagal karena tangan sang pria masih menahan badannya dan malah menariknya kembali untuk mendekat kearahnya.
"Ada bagian yang belum rapi Princess." Suara low bass itu berbisik kepadanya dan ia berdiri dihadapan pria itu sambil menunggu tangan sang pria yang masih merapikan mahkota bunga yang ada dikepalanya.
"Apa sudah rapi?"
"Belum. Sedikit lagi."
Gadis itu menurut dan masih berdiri diam pada tempatnya, kepalanya bergerak kekanan dan kekiri sebagai pengalihan agar bisa meredam detak jantungnya yang tidak beraturan, berdiri di hadapan pria-nya dan juga merasakan aroma badan pria itu yang selalu menjadi aroma yang ia sukai. Matanya masih berkedap kedip berkali-kali, dan juga ia tidak bosannya menanyakkan apakah mahkotanya sudah rapi atau belum.
"Dongakkan kepalamu." Suara prianya memerintah dan tanpa penolakan, sang gadis mengikuti. Mendongakkan kepalanya melihat keatas dan saat itulah matanya menangkap butiran putih nan halus turun dari atas langit yang cerah dan mulai tearah mendekat pada wajahnya yang masih mendongak keatas.
"I-ini?"
"Your first snow." Pria itu tersenyum, tangannya berusaha menangkap butiran putih itu dan menunjukkan pada sang gadis yang kembali terlihat bahagia karena bisa melihat secara langsung butiran salju pertama yang turun dari langit.
"Wuuaaaaahhh!" seperti biasa, suara takjub yang keluar dari mulut sang gadis selalu menjadi ciri khasnya.
"Ini benar-benar malam yang indah!"
Pria itu tersenyum dan membiarkan gadisnya menikmati waktu bahagianya kembali, gadis itu masih berdiri disampingnya dengan kedua tangan yang bergerak menangkap satu per satu butiran salju yang turun dan ia kumpulkan.
Bahkan ia tidak memperdulikan angin malam yang semakin membuat badannya merasa dingin. Ia hanya terlalu menikmati malam yang indah ini bersama pria disebelahnya.
"Ini benar-benar indah! Kembang api, bintang jatuh dan juga salju." Gadis itu memekik senang dan bermain-main dengan salju di tangannya yang setelah ia kumpulkan pada akhirnya ia membuangnya ke udara dan berjatuhan dikepalanya.
"Kau suka?"
"Hm! sangat suka! Terima kasih!" Gadis itu tersenyum bahagia dan memberikan penghormatan pria dihadapannya.
"Terima kasih kembali Tuan Puteri." Sang pria kembali melangkah lebih dekat kearahnya sedangkan tangannya bergerak diatas kepala gadis itu guna mengambil kumpulan salju yang sudah berkumpul dan membasahi rambut sang gadis.
"Bisa aku minta hadiahku?" sang pria menarik badan sang gadis dan berbisik tepat dihadapan wajah sang gadis yang kini tengah susah menelan ludahnya dengan matanya yang bergerak tak menentu dan berkedip dengan cepat.
"Chan—
Belum selesai ia memanggil nama sang pria dihadapannya, bibirnya sudah lebih dulu dibungkam oleh bibir tebal sang pria yang kini tengah menikmati melumat bibir tipisnya dan membawanya dalam pagutan panas dan basah hingga dirinya sendiri terasa pasrah dan menikmati lumatan itu dengan matanya yang terpejam.
- Loves of Tales -
Baekhyun berjalan pelan menyusuri setiap lorong dan juga anak tangga demi sampai menuju ruang makan yang berada di dalam Istana Eowyn. Kepalanya masih jelas mengingat bagaimana mimpinya yang terasa sangat tidak asing, menyenangkan dan juga membuat kerja jantungnya berdetak tidak karuan sejak ia terbangun beberapa menit lalu hingga saat ini.
"Hai Baekhyun! Tidurmu nyenyak?"
Baekhyun belum menjawab pertanyaan Luhan, dia berdiri mematung karena melihat ruang makan yang sudah dipenuhi oleh seluruh Putera dan Puteri Mahkota kecuali dirinya, Kris dan juga Chanyeol.
"Mau sampai kapan kau berdiri disitu?"
Baekhyun menoleh dan hampir meloncat kaget melihat sosok yang ada dalam mimpinya dan seharusnya masuk dalam list sebagai orang yang harus ia hindari untuk hari ini.
Chanyeol.
Matanya mengerjap berkali-kali sedangkan entah kenapa badannya terasa memanas melihat bagaimana Chanyeol yang mengenakkan kaos hitam biasa dan juga celana jeans yang bahkan sedikit sobek di bagian lutut dan pahanya malah terlihat sexy untuknya.
"Kau masih sakit?" Chanyeol mendekat, tangannya menyikap poni yang menutupi keningnya dan satu hal yang kembali mengejutkan. Chanyeol memeriksakan suhu badan Baekhyun dengan menempelkan kening mereka berdua
"Sudah tidak demam." Chanyeol tersenyum dan merapikan rambutnya kembali, setelahnya ia meninggalkan Baekhyun yang masih belum sadar dari lamunannya mengingat apa yang Chanyeol lakukan barusan dan bayangan bagaimana Chanyeol mencium lembut bibirnya dibawah salju—
"Baekhyun! Ayo duduk!" Luhan kembali menjadi pihak yang menyadarkan lamunannya.
Butuh waktu lama hingga Baekhyun benar-benar duduk bersama dan menyantap makan siang bersama para Putera dan Puteri Mahkota. Ia duduk disebelah Luhan yang berhadapan dengan Chanyeol dan juga Sehun. Sementara Kris yang baru saja datang akhirnya bisa duduk disampingnya dan berhadapan dengan Yoora. Jongin, Jongdae, Kyungsoo dan Tao memiliki topik pembicaraan tersendiri yang diyakini itu seputar permainan mereka beberapa hari lalu dan dalam kenyataannya mereka kalah dari tim Chanyeol dan Baekhyun.
Makan siang masih berlanjut dengan segala keriuhan dan juga obrolan yang tidak bermutu, beruntung makan siang kali ini tidak ada kedua Raja yang biasanya akan selalu berteriak dan menghentikkan segala kejadian yang tidak pantas di meja makan. Sehun masih mengerjai Luhan, namun kali ini dengan cara yang cukup manusiawi karena pria itu mengganggunya dengan memberikan segala makanan untuk Luhan dapat makan. Sementara Tao dan juga Kyungsoo kini memiliki candaan tersendiri dengan Jongin.
"Dia tidak akan berani." Suara Kyungsoo terdengar.
"Iya, Jongin tidak akan berani. Membawa aku dan Kyungsoo pergi saja hanya sampai jarak berapa kilo kemarin. Dia tidak berguna." Kini suara Tao
"YA! Aku sudah susah payah mengingat tempat didalam hutan itu.. mana ku tahu kalau jaraknya tidak lumayan jauh." Ini Jongin memberikan pendapat.
"Jongin memang payah." Kali ini Kris ikut bersuara dengan tangannya yang memberikan satu piring yang sudah ia siapkan untuk Baekhyun santap. Tanpa ada penolakan dan masih memakan buah strawberry yang ada ditangannya, ia menerima piring itu dan kembali menunduk dengan bibirnya yang menekuk kedalam karena melihat makanan yang Kris siapkan tidaklah menggugah selera makannya.
Mashed Potato, Potongan ayam rebus, wortel rebus dan juga brokoli rebus.
Seingat Baekhyun, itu sudah menjadi menunya dalam dua hari ini dan ia tidak berminat untuk makan yang sama lagi kali ini, namun sebelumnya kakaknya akan memberikan tatapan marah dan juga segala teriakan kepadanya lebih baik ia menerima dan harus memaksakan diri untuk makan.
Baru saja ia akan mengambil potongan wortel rebus pada piringnya, Chanyeol tanpa bicara satu kata pun mengambil piring makannya dan menggantinya dengan piring makan milikinya.
"Chanyeol-ah." Kris yang melihat langsung berbicara kearahnya.
"Hm." Chanyeol menjawab dan masih mengaduk-adukkan makanan yang seharusnya milik Baekhyun dan menyuapkan pada mulutnya sendiri.
"Kenapa?" Chanyeol menatap Kris dan menyuapkan satu sendok makan lagi masuk dalam mulutnya.
"Kenapa kau mengambil piring Baekhyun."
"Aku menginginkannya, lagipula tidak ada yang tersisa lagi di meja ini.. jadi sebelum Baekhyun makan aku menukarnya lebih dulu." Chanyeol menjelaskan dan melihat pada meja makan itu yang memang tidak ada lagi porsi Mashed Potato, ayam rebus, wortel dan brokoli tersisa. "Lagipula, Baekhyun seharusnya tidak keberatan karena ini sebagai bayaran saat ia membuatku marah kemarin." Chanyeol menunjuk gadis dihadapannya dengan garpu, wajahnya memperlihatkan wajah marah-yang sebenarnya tidak marah-dan malah terlihat lucu bagi Baekhyun.
Kris menahan diri untuk tidak menjawab kalimat Chanyeol dan menghela nafas berkali-kali sambil berusaha memakan santapan makan siangnya. Yoora menenangkan dengan memberikan minuman jus untuk menyegarkan pria di hadapannya dan tersenyum pada Baekhyun yang memperhatikan tingkah Kris dan dirinya.
Baekhyun melirik sedikit kearah Chanyeol yang masih melanjutkan acara makannya dan saat ia melihat kembali kearah piringnya dimana semua makanan yang ia inginkan tersedia dengan baik. Potongan kentang goreng, daging sapi panggang, potongan Bacon, chicken wings dan juga salad sayur tanpa mayo dan disuguhi dengan Olive oil. Hanya ada satu kekurangan pada piring tersebut, potongan timun yang berada pada sudut piringnya, tapi Baekhyun tidak mempermasalahkan itu dan memilih untuk menyantap makan siangnya diiringi gerakan kakinya yang bergerak dibalik meja.
- Loves of Tales -
Yunho dan Zhoumi baru saja kembali setelah selesai berkunjung dari acara pertemuan rutin dengan para pemimpin dunia yang selalu diadakan guna mengevaluasi system keamanan dan juga melacak adakah tanda-tanda kehadiran para kawanan Hades yang bisa kapan saja muncul. Kini mereka berjalan masuk menuju ruangan kerja mereka yang sejak berada di Eowyn dan meminta salah satu staff istana untuk memanggilkan nama keempat orang yang harus mereka temui.
"Bukankah lebih baik kau meminta Yoora untuk melihat sedikit bagaimana keputusanmu bila meminta mereka menghadiri acara di dunia luar?"
"Aku sudah menanyakkannya."
"Kapan?" Zhoumi mengernyitkan alisnya.
"Saat kita bertemu dengannya di pintu masuk, kau tahu anakku bisa membaca pikiranku bukan? Dan dia langsung memberikan jawabannya tadi lewat pikiranku juga." Yunho menunjuk kearah pelipisnya dan tersenyum bodoh pada Zhoumi.
"A-aah, Aku melupakan hal itu." Zhoumi mengangguk paham.
Tak lama terdengar ketukan pintu yang berasal dari luar, Yunho lebih dulu meminta masuk dan terlihat kedua puteranya dengan menggunakkan kaos santai masuk dan langsung duduk pada sofa yang berada di ruangan itu.
"Kenapa Ayah baru pulang dan langsung memanggil kami? Apa ada ancaman?" suara ciri khas putera pertamanya-Chanyeol terdengar dan langsung menyerang Ayahnya dengan pertanyaan.
"Relaks, son. Semua masih aman terkendali."
"Lalu kenapa Ayah memanggil kami, hanya aku dan Chanyeol? Ayah tidak mau memanggil Jongin?"
Yunho mendesisis kearah Sehun. "Anak ini! bisakah kau duduk dan diam."
"Waee?! Apa salah dari pertanyaanku—
"Papa?!"
Belum selesai Sehun bersikap layaknya anak bungsu yang manja, Luhan yang membuka pintu dan langsung memanggil papa-nya membuat Sehun yang tengah berdiri langsung duduk diam dan tenang disebelah Chanyeol.
"Oh, kau sudah datang, duduklah." Zhoumi menepuk lengan Luhan dan memintanya duduk.
Luhan memilih duduk disebelah Chanyeol dan tidak melihat kearah Sehun yang tengah mencari perhatian darinya.
"Bisakah kau duduk dengan tenang?" Chanyeol berbisik pada Sehun.
"Tukar posisi duduk denganku, maka aku akan duduk dengan tenang." Sehun membalas.
"Berani kau meminta tukar posisi aku akan mematahkan lehermu." Bisikan Luhan membuat Sehun menundukkan kepala dan mengerucutkan mulutnya.
Tak lama pintu kembali diketuk dari luar dan Yunho yang membuka pintu menyambut seseorang lainnya yang ia minta panggilkan sebelumnya.
"Uri Baekhyunnie!" Yunho memekik senang dan menyambut Baekhyun yang merasa aneh atas panggilan yang dilontaran Raja Glorfindel itu.
"P-pe-permisi Yang Mulia.." Baekhyun menundukkan kepala dan melangkah masuk dengan malu-malu.
"Ayah.. jangan melihat Baekhyun seperti itu! Dia takut melihatmu!" Chanyeol berdiri dan menunjuk kearah Yunho yang tersenyum lebar melihat Baekhyun.
Zhoumi dan Luhan menahan suara ketawanya melihat tingkah Yunho, sementara Baekhyun yang kini digandeng Yunho terpaksa mengikuti gandengan tangan itu dan duduk bersama dengan Yunho dan Zhoumi pada sofa yang berhadapan dengan Luhan. Chanyeol dan juga Sehun.
Yunho dan Zhoumi menjelaskan alasan mengapa mereka berempat dipanggil dalam satu ruangan, Zhoumi mengucapkan selamat lebih dulu atas kemenangan mereka atas permainan beberapa waktu lalu dan juga mengapresiasikan bagaimana kemampuan yang dimiliki mereka berempat dalam menggunakkan kekuatan dan juga melawan serangan yang ada, khususnya saat kedua Raja itu saling menyerang kedua Putera Mahkota dan mengakibatkan luka pada bagian tubuh masing-masing.
"Semoga itu menjadi semangat untuk kalian mengembangkan kekuatan masing-masing, khususnya kau Chanyeol." Zhoumi menekankan nama Chanyeol dan menatapnya dengan serius.
"Ancaman untuk Kerajaan memang belum nampak dan berakibat serius hanya saja kita perlu bersiap dan mengasah kemampuan kekuatan yang kita miliki, benar kan Baekhyun." Zhoumi merangkul Baekhyun dan memberikan usapan pada bahu Baekhyun sementara gadis itu hanya bisa menganggukkan kepala dan mendengarkan dengan baik hal-hal apa saja yang dibicarakan.
"Raja Tiranis benar, kalian sudah cukup kuat dan bisa membaca sitausi dengan baik dan semoga dilatihan berikutnya semakin banyak pembelajaran yang bisa didapat." Yunho ikut menambahkan. "Dan, sebagai hadiah karena kalian sudah mengerahkan tenaga untuk melawan kami dan juga memenangkan permainan kemarin." Yunho menatap satu per satu keempat orang itu. "Kami memutuskan memperbolehkan kalian berkunjung ke dunia luar, tepatnya di negara asia belahan bumi barat." Yunho mengeluarkan sebuah undangan yang ditujukan untuk Kerajaan Glorfindel.
"Apa ini?" Chanyeol lebih dulu mengambil undangan itu dan membukanya dengan cepat serta menunggu penjelasan dari Ayahnya.
"Undangan untuk kau dan Sehun hadiri, kalian harus mewakilkan Ayah untuk datang pada acara itu, hanya makan malam biasa dan juga bertemu dengan pimpinan negara disana. Sedangkan kedua tuan puteri kita bisa memanfaatkan waktu untuk berjalan-jalan dan menikmati festival disana." Yunho menatap Luhan dan Baekhyun satu per satu, Luhan nampak tersenyum senang sedangkan Baekhyun mengedipkan matanya melihat nama acara festival yang ada pada undangan itu.
"Festival? First- / Snow." Chanyeol dan Baekhyun sama-sama bersuara.
"Yap, First Snow. Disana mereka mengadakan acara itu guna memperingati turunya salju pertama dan semoga memang benar apa yang diramalkan oleh Yixing benar. Yixing mengatakan bahwa first snow akan terjadi pada malam itu." Yunho menjelaskan sambil memperhatikan Chanyeol dan Baekhyun bergantian.
"Kalian akan berangkat sore ini, jadi siapkan segala kebutuhan selama dua hari kedepan." Zhoumi bersuara.
"Ehm, Yang Mulia.." Baekhyun mengeluarkan suaranya takut-takut.
"Kenapa Baekhyun?" Yunho yang berada disebelahnya menatapnya.
"A-aku harus meminta ijin pada Kris karena—
"AH! Chanyeol akan meminta ijin pada Kris." Yunho menjawab dengan santai sambil menunjuk kearah anaknya, Chanyeol.
"A-aku?" Chanyeol menunjuk dirinya.
"Iya. Kenapa?"
"Kenapa harus aku? Ayah yang meminta kami pergi jadi seharusnya—
"Aku memang yang meminta kalian pergi, tapi tanggung jawab Baekhyun saat berada disana adalah tanggung jawabmu."
"Hah? Kenapa harus aku yang bertanggung jawab terhadap Baekhyun, Sehun bisa menjadi pihak yang bertanggung jawab." Chanyeol menunjuk Sehun yang terdiam dan memperhatikan ia dan Ayahnya saling adu pendapat.
"Sehun menjaga Luhan." Dan itu adalah kalimat yang Zhoumi lontarkan.
"HAH?" Kini Sehun dan Luhan yang sama-sama berteriak.
"Papaaaa?" Luhan beranjak berdiri dengan suaranya yang keras.
"Tidak ada penolakan dan tidak ada bantahan, tidak ada suara keras atau mengumpat didalam ruangan ini. Keputusan sudah final, kalian berempat pergi ke dunia luar dan Baekhyun menjadi tanggung jawab Chanyeol, sedangkan Sehun harus bertanggung jawab atas puteri ku ini." Zhoumi menjelaskan dengan menatap tajam kearah Luhan dan juga Sehun.
.
.
Selesai pembicaraan mengenai keberangkatan mereka berempat kedunia luar, Luhan segera melangkah cepat meninggalkan Baekhyun yang masih berjalan bersama Chanyeol, dan juga Sehun yang hendak menahan dirinya untuk bisa sekedar berbincang sebentar.
"Ck! Kenapa dia selalu terlihat penuh emosi bila berurusan denganku." Sehun bergumam sendiri sementara Chanyeol dibelakangnya hanya menggelengkan kepala.
"Kau akan kembali ke kamarmu?" Baekhyun mendonggakkan kepala kearah Chanyeol yang baru saja bertanya padanya.
Baekhyun berpikir sebentar sedangkan Chanyeol memperhatikan raut wajah gadis mungil itu.
"Ehm.. mungkin aku akan mencari Kris terlebih dahulu." Baekhyun berucap dan baru saja akan meminta ijin pamit undur diri.
"Baiklah, aku akan menemanimu."
"Eh?" Baekhyun tercengang mendengar jawaban yang dikatakan Chanyeol.
"Aku harus meminta ijin pada kakamu bukan. Kau masih ingat apa yang kedua Raja bicarakan didalam?" Chanyeol menjetiikan tangannya dihadapan Baekhyun yang tidak berkedip menatapnya.
"E-oh! Ah.. hahah.. iya aku ingat." Baekhyun menggaruk tekuk lehernya yang tidak gatal dan pandangannya linglung untuk menentukkan arah jalan yang akan ia lalui untuk mencari kakaknya. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk mencari kakaknya itu disekitar taman Istana yang dimana biasanya Kris akan menghabiskan waktu bersama Yoora dan juga Jongin atau Jongdae setelah mereka selesai latihan.
Chanyeol tidak banyak bersuara dan berjalan dibelakang Baekhyun sambil memperhatikan gerak gerik gadis mungil itu yang terlihat sedikit gugup bersamanya.
"Aku tidak bermaksud menolakmu." Chanyeol bersuara dari belakang dan Baekhyun menghentikkan langkahnya karena mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh pria dibelakangnya itu.
"Mengenai kalimatku sebelumnya, aku bukannya menolak untuk tidak mau menjadi seseorang yang bertanggung jawab atas dirimu, hanya saja aku tidak mau kau akan membenciku bila aku berteriak atau sedikit marah padamu."
"Seperti saat di air terjun?" Baekhyun menjawab dengan memandang Chanyeol.
"Hm, seperti di air terjun. Mungkin aku akan bersikap terlalu khawatir padamu dan tidak bisa menunjukkannya dengan cara yang lebih halus jadi ya.. aku takut kau akan merasa tidak nyaman.." Chanyeol memandang gadis itu yang kini tersenyum hangat padanya.
"Maaf membuatmu khawatir." Baekhyun menundukkan kepalanya dan bersuara lembut pada Chanyeol. "Aku janji tidak akan membuat masalah saat berada di dunia luar, dan tidak akan membantah segala perintah yang kau katakan."
Chanyeol tersenyum kecil dan mengusak rambut gadis itu.
"Sudahlah! Cepat cari kakakmu." Kini Chanyeol melangkah lebih dulu meninggalkan Baekhyun, dan gadis itu melangkah cepat guna mengejar Chanyeol yang entah kenapa kini malah melangkah lebih cepat dibandingkan dirinya.
.
.
Kris menatap Yoora yang masih tersenyum-senyum padanya sambil mengarahkan pion catur yang kini bergerak menyerang salah satu pion kuda miliknya.
"Giliranmu." Yoora berbisik pelan dan masih tersenyum merekah.
"Gosh! Aku membenci ini. Sudah katakan saja langkah-langkah yang akan ku ambil dan siapa yang akan menang." Kris melempar asal salah satu pionnya dan kemudian merusak barisan pion pada papan catur itu.
"Kau terlalu lemah untuk melanjutkan." Yoora mendengus kesal dan merapikan satu per satu pion kecil itu.
"Ya ya ya.. aku terlalu lemah melawan seorang Puteri yang bisa meramalkan masa depan dan tahu siapa yang akan kalah walaupun untuk bermain catur sekali pun." Kris membalas dan merebahkan badannya pada bangku taman itu.
"Kau bukanlah Ksatria yang baik." Yoora kembali mengejek.
"Terserah."
"Noona! Noona!"
Yoora jelas tahu bahwa itu bukanlah suara Kris yang berteriak padanya , dan jelas sekali bahwa itu adalah suara miliknya adiknya yang memiliki suara sedikit rendah.
"Jongin?" Kris yang menebak lebih dulu.
"Nooonnaaaa!" Jongin datang dihadapan mereka dengan nafasnya yang masih terengah-engah dan juga keringat menghiasi keningnya dan seluruh wajahnya.
"Oh. Hai Kris!" Jongin menyapa Kris yang berada duduk bersama Yoora.
"Hai." Kris membalas dengan enggan.
"Kenapa kau berteriak dan berlari seperti melihat hantu?" Yoora bertanya pada adiknya.
"Hoo.. tak bisakah kau menebaknya?" nada Jongin terdengar meremahkan kekuatan kakaknya.
"Sebelum kau berteriak-teriak dan berlarian seperti itu aku juga sudah tahu, yang menjadi pertanyaanku sekarang. Apa gunanya kau berlarian seperti ini?" Yoora menjawab kesal dan akhirnya memukul kepala adiknya itu dengan tidak begitu keras.
Kris ikut tertawa senang sedangkan Jongin berpura-pura meringis kesakitan karena perlakuan Yoora.
"Tidak usah berpura-pura!" Yoora lebih dulu berteriak padanya sedangkan adiknya itu tertawa lebar.
"Jadi kau sudah tahu ya.."
"Hm."
"Apa Kris juga sudah tahu?"
Kini giliran Kris yang menampilkan wajah bingung dan cengiran bodohnya melihat kearah Yoora yang sekarang tersenyum meledek kearahnya sedangkan Jongin akhirnya menatap kearahnya dan kemudian menutup mulutnya guna menahan tawanya.
"Apa? Apa yang harus aku ketahui?" Kris menahan tangan Yoora dan menariknya mendekat, Jongin tentu saja masih tertawa lebar dan bahkan meloncat-loncat kegirangan.
"Huaaaa daebak! Ini akan sangat seru!" Jongin mengusapkan tangannya dan kini berlari sambil masih tertawa.
"Apa yang adikmu maksudkan? Ada kejadian apa yang belum aku ketahui?" Kris menahan Yoora dan menunggu jawaban dari wanita itu.
"Aku akan katakan tapi lepaskan tanganku dulu, cengkramanmu sungguh sakit." Yoora memasang wajah memelas dan merintih kesakitan dan tentu saja Kris tidak akan tega melihat Yoora merasakan sakit karenanya. Ia melepaskan cengkraman tangannya dan memilih berdiri hadap-hadapan dengan Yoora dan menunggu jawabannya.
"Baiklah, jadi.." Yoora menjelaskan pelan-pelan.
"Nooonnaaa!" Jongin kembali berteriak dan berlari dari arah yang sama saat ia pergi tadi.
Kris mengernyitkan alisnya melihat Jongin kembali dari arah penglihatannya sementara Yoora malah ikut tertawa.
"Kau hanya harus menjawab iya dan mengijinkan—pergi!" Yoora berteriak kearahnya sebelum melangkah lari menyusul Jongin.
"—Mereka pergi—!" ini suara Jongin.
Kris yang mendengar semua kalimat itu dalam sekali waktu kembali menjadi sosok paling bodoh disitu karena kini ia ditinggalkan sendirian dan berusaha merangkai kata-kata dari kalimat yang hanya terdengar sepotong-potong, dan belum juga ia mendapatkan jawaban dari apa yang ia dengar, kini dihadapannya sudah berada Chanyeol dan juga Baekhyun-adiknya yang memilih bersembunyi dibalik punggung Chanyeol.
"Kenapa kau bersembunyi dibalik Chanyeol?" wajanya yang bodoh sudah berubah mengeras saat melihat Chanyeol yang juga malah mendukung Baekhyun untuk bersembunyi dibalik punggungnya.
"Bisakah kita bicara?" Chanyeol akhirnya membuka suara dengan salah satu tangannya yang menutupi Baekhyun.
Kris menatap kesal pada mereka berdua dan melupakan apa yang seharusnya diingat tentang perkataan Yoora dan dan Jongin barusan.
"Ada apa? Apa bocah itu membuat kesalahan lagi?"
"Aku tidak melakukan apapun!" Baekhyun lebih dulu menyahut masih dari balik punggung Chanyeol.
"Lalu kenapa kau bersembunyi seakan-akan kau membuat kesalahan!" Kris baru saja melangkah untuk mendekat kearah Chanyeol dan Baekhyun namun langkahnya terhenti karena melihat Chanyeol yang ikut memundurkan langkahnya menjauhi Kris.
"Bisakah kau mendengarkan aku dulu?" Chanyeol bicara lagi. "Dan kau Baek, diam dan tetap dalam posisimu."
"Ne." Baekhyun menjawab dengan suara yang lebih lembut.
Kris berdecak kesal melihat tingkah adiknya yang bahkan sebelumnya berteriak keras kepadanya dan kini malah menjawab lembut saat Chanyeol memintanya.
"Aku diminta Raja Glorfindel untuk meminta ijin padamu membawa Baekhyun ke dunia luar dalam rangka menghadiri undangan pemerintah dunia luar dan juga ini sebagai hadiah atas kemenangan tim kami saat permainan kemarin." Chanyeol menjelaskan dengan cepat.
Sedangkan Kris yang pikirannya terbagi mencoba mengingat apa yang dikatakan Yoora dan Jongin ditambah kini Chanyeol menjelaskan bahwa ada undangan yang harus dihadiri Raja Glorfindel di dunia luar dan Baekhyun ikut serta karena ia menang atas permainan kemarin.
Adiknya akan pergi bersama Raja Glorfindel ke dunia luar
Yoora mengatakan bahwa ia hanya harus mengijinkan mereka pergi
Mereka yang dimaksud adalah Raja Glorfindel dan juga Baekhyun.
Chanyeol masih menunggu jawaban dari Kris, dan Baekhyun juga sesekali melirik kearah kakaknya yang masih berpikir keras dalam lamunannya.
"Bagaimana? Aku tahu kau akan khawatir meninggalkan Baekhyun disana, maka dari itu aku meminta ijin padamu karena aku—
"Aku mengijinkannya." Kris menjawab yakin tanpa mendengar lanjutan kalimat Chanyeol. "Aku mengijinkannya, lagipula ini perintah Raja dan juga aku percaya adikku bisa menjaga diri disana. Ia pernah hidup sendirian disana dan pasti dia sudah tahu apa yang harus dilakukan." Kris kembali menjelaskan dengan mantap dan kemudian melirik kearah Baekhyun yang tersenyum dari balik punggung Chanyeol.
"Kau tidak mau memelukku karena mengijinkanmu pergi?" Kris menggoda Baekhyun dan seketika adik kecilnya itu berlari kearahnya dan memeluk badan Kris.
Chanyeol yang melihat itu hanya bisa tersenyum kearah mereka berdua dan menjadi penonton yang baik saat Kris mencubit sedikit ujung hidung Baekhyun atau pipinya yang menggembung seperti bakpau.
.
Jadwal keberangkatan yang sudah ditetapkan semakin dekat, Yunho menyiapkan helicopter yang dimiliki oleh Glorfindel yang akan menghantarkan kedua pasang Putera dan Puteri Mahkota itu. Sehun, Luhan dan Chanyeol sudah lebih dulu berada dalam helicopter dan Chanyeol jelas terlihat berada pada kursi kemudi diikuti Sehun pada kemudi yang lainnya.
Para Putera dan Puteri Mahkota lainnya hanya bisa melihat dari balkon Istana di lantai 2 dengan tatapan iri karena melihat tim yang memenangkan permainan itu bisa merasakan bagaimana terbebas dari suasana Kerajaan dan juga latihan-latihan untuk dua hari kedepan.
"Aku harus memenangkan permainan lainnya nanti." Tao kembali bergumam pada Kyungsoo disebelahnya.
"Kita harus bergabung dalam tim Chanyeol dan Baekhyun bila ingin menang." Kyungsoo menjawab dan masih merebahkan kepalanya memandangi baling-baling helicopter yang mulai bergerak.
Sementara Jongdae dan Jongin menemani Yoora yang sedang menunggu Kris dan Baekhyun yang masih berada didalam kamarnya. Yunho dan juga Zhoumi juga berada disana guna sekedar sebagai formalitas menyampaikan salam perpisahan dan mendoakan perjalanan mereka selama dua hari kedepan.
Tak lama Baekhyun tengah berlari dengan sebuah tas ranselnya disusul Kris yang masih berjalan perlahan-lahan sambil tertawa melihat tingkah adiknya. Baekhyun memberikan salam pada Yunho dan Zhoumi sedangkan kedua Raja itu meminta Baekhyun segera naik kedalam helicopter yang sudah siap lepas landas. Baekhyun sempat berbalik sebentar dan melambaikan tangannya pada Kris yang sudah berdiri disebelah Yoora dan setelah itu dirinya masuk kedalam dengan helicopter yang semakin naik terbang tinggi dan pergi menjauh dari pandangan pintu masuk Istana Eowyn.
"Jadi kau mengijinkannya pergi?" Yoora masih menatap kepergian helicopter itu dan berbisik pada Kris yang melipat tangannya didepan dada.
"Apa aku boleh menolak saat Raja yang meminta ijin?"Kris menjawab dengan diakhiri dengan suara tawa kecilnya.
Yoora mengernyitkan alisnya karena tidak mengerti apa yang dimaksud dengan kalimat yang dikatakan oleh Calon Raja Lynkestis itu. Belum selesai ia mencoba mencerna kalimat Kris sambil mengingat kejadian sebelumnya saat ia meninggalkan Kris di taman dimana Chanyeol dan Baekhyun tiba, Yunho-sang ayah lebih dulu menghampiri mereka dan berbicara padanya.
"Aku harap kau percaya bahwa Chanyeol akan menjaga Baekhyun disana." Yunho menepuk bahu Kris yang menatapnya dengan aneh.
"Tentu saja aku percaya— Chanyeol? Tunggu, Yang Mulia tidak berangkat bersama Baekhyun?" Kris menunjuk kearah dimana sebelumnya helicopter itu pergi.
"Loh, Chanyeol tidak mengatakan padamu? Mereka yang akan pergi menghadiri undangan. Chanyeol, Baekhyun, Sehun dan Luhan, ini sebagai hadiah dari kami karena mereka memenangkan permainan kemarin." Penjelasan Yunho seakan-akan menjadi petir siang hari dan tepat terjadi dihadapan Kris dan bahkan mungkin menyerang isi otaknya saat ini, dimana yang bisa ia ingat keempat nama yang disebutkan itu pergi tanpa ada pengawasan siapapun terlebih lagi adik kecilnya ia ijinkan dengan mudah untuk pergi bersama kedua sahabatnya yang kadang bisa sangat mesum diwaktu tertentu.
Yoora yang mulai paham kondisi yang ada akhirnya mendekat kearah Kris dan mengalihkan pembicaraan dengan ayahnya dan tak lama kedua Raja itu memilih masuk kembali kedalam ruangan Istana sementara Kris masih mematung terdiam dengan lamunannya yang berisikan bayangan tentang hal-hal aneh yang bisa saja terjadi untuk kedua wanita yang ia sayangi.
Baekhyun dan Luhan.
Sedangkah Yoora tak henti-hentinya mengatai betapa bodohnya calon Raja Lynkestis saat ini.
- Loves of Tales -
Perjalanan dari Eowyn menuju dunia luar biasanya ditempuh dalam waktu enam belas jam dan perjalanan mereka kini sudah berganti dengan duduk manis dalam pesawat jet yang tentu saja sudah disiapkan oleh Raja Glorfindel sebelumnya, dan masih harus menunggu sepuluh jam kemudian untuk bisa mendarat di kota negara yang akan mereka tuju.
Luhan menutup matanya dan duduk sendiri di bangku depan, sementara Sehun dan Chanyeol duduk berdampingan pada tempat duduk yang sejajar dengan kursi yang tengah Baekhyun duduki. Chanyeol yang duduk tepat di pinggir dekat lorong jalanan sesekali memperhatikan Baekhyun yang masih menatapi pemandangan awan-awan yang sedikit terlihat dari kaca jendela pesawat , terkadang Chanyeol juga dapat melihat bagaimana gadisnya itu tersenyum hanya karena melihat sinar matahari yang menembus gumpalan awan-awan.
"Kau menyukainya?" Chanyeol akhirnya memilih mengajak Baekhyun berbicara sambil terus memperhatikan, tidak memperdulikan Sehun yang mungkin saja masih tertidur.
"Menyukai apa ?" Baekhyun malah berbalik bertanya.
Chanyeol tersenyum dan akhirnya memutuskan untuk pindah dan duduk berhadapan dengan Baekhyun dan membuka lebar penutup kaca jendelanya.
"Awan, apa kau menyukainya?" Chanyeol menunjuk gumpalan awan yang bisa terlihat dengan matanya.
"Hm.. aku menyukai pemandangan langitnya. Bukan hanya awan saja, tapi semuanya, warna langit, matahari, kadang garis cakrawala juga aku menyukainya." Baekhyun menjelaskan dengan senyuman hangatnya dan masih melihat pemandangan dari jendelanya.
Chanyeol mengeluarkan kamera yang berada di dalam kantung celananya dan memberikannya pada Baekhyun.
"Ini.. untuk apa?" Baekhyun menatap Chanyeol yang menyodorkan kamera tepat dihadapannya.
"Ambil foto pemandangan yang kau sukai. Aku bisa mencetakkannya untukmu dan kau bisa menyimpanya pada buku harianmu itu." Chanyeol menjelaskan maksudnya dan menunjukkan buku harian yang ada pada Baekhyun dan terdapat gambar-gambar segala pemandangan yang pernah ia lihat.
Baekhyun menutup buku itu dengan cepat dan kemudian mengambil kamera yang diberikan oleh Chanyeol dan mulai mengambil gambar pemandangan yang ia lihat, ia sengaja melakukannya untuk mengabaikan Chanyeol dimana sosok itu kini akhirnya kembali pada tempat duduknya.
Perjalanan hampir sepuluh jam yang hanya diisi dengan duduk diam, makan, tidur didalam pesawat membuat kedua pasang Putera dan Puteri Mahkota itu keluar dari pesawat sambil merenggangkan pinggang dan juga kedua tangan mereka. Sambutan dari pemerintah dunia sudah menyambut saat mereka baru saja menginjakkan kaki di tanah bandara, beberapa orang ada yang menghampiri mereka dan memberikan hormat serta memberikan karangan bunga pada Baekhyun dan Luhan.
Chanyeol dan Sehun sebagai pihak Putera Mahkota memberikan salam, dan mengobrol kedua orang pemimpin disana sedangkan Baekhyun dan Luhan mengikuti mereka berdua di belakangnya. Kedua wanita itu benar-benar merasa kikuk dan tidak mengerti harus melakukan apa karena tidak paham prosedur yang seharusnya, sampai pada saat Chanyeol memperkenalkan Baekhyun dan mengalungkan tangan gadis itu pada lengannya dan membawanya berjalan bersama. Begitu juga yang dilakukan Sehun, meskipun terlihat jelas bahwa Luhan menolaknya tapi untuk saat itu Luhan benar-benar bisa bekerja sama dan berakting dengan baik dihadapan para pemimpin dan penduduk dunia luar yang berada di bandara.
Masing-masing dari mereka dihantarkan oleh limousine yang dimana terisi oleh pimpinan yang akan mendampingi mereka menuju hotel tempat menginap. Baekhyun yang berada disebelah Chanyeol hanya bisa tersenyum dan memperhatikan bagaimana wibawanya seorang Chanyeol-Calon Raja Glorfindel yang bisa begitu ramah dan bijak dalam berbicara pada pimpinan dunia luar. Meskipun terkadang ia juga memikirkan nasib Luhan yang harus duduk berlama-lama dengan Sehun dan menyaksikan bagaimana Putera Mahkota itu bersikap.
Chanyeol mengucapkan terima kasih dengan menunduk hormat sesaat mereka tiba di hotel dan mohon pamit untuk bisa masuk dan beristirahat pada kamar hotel yang sudah disediakan. Setelah menyaksikan mobil-mobil itu meninggalkan lobby hotel, Luhan segera melangkah menjauh dari Sehun dan berpindah berada disamping Baekhyun yang masih mengalungkan lengannya pada Chanyeol.
"Kalian boleh masuk kedalam kamar sekarang." Chanyeol memerintahkan dan memberikan kunci hotel pada Luhan.
"Apa kegiatan kami hari ini?" Luhan menerima dan bertanya pada Chanyeol.
"Hm, aku tidak bisa memaksa kalian untuk berdiam diri dan duduk manis di kamar hotel bukan?" Chanyeol menatap Luhan dan tersenyum kecil begitu juga Luhan yang ikut tersenyum dan kemudian memukul lengan pria itu dengan bunga yang ia terima.
"Aku akan bersiap dengan Sehun untuk kunjungan malam ini, jadi kalian bisa bebas keliling kota kecil ini." Chanyeol menjelaskan sambil memperhatikan Sehun yang menganggukkan kepala dan merapikan setelan jas nya.
"Dan kau Baekhyun!" Chanyeol memanggil nama Baekhyun dengan suara tegasnya. "Jangan pergi kemana pun tanpa Luhan." Chanyeol memberikan tatapan serius kearah gadis itu sedangkan sosok yang ditatap hanya menganggukkan kepala mengerti apa yang dimaksud walaupun dalam hatinya mengegrutu kesal.
Mereka berjalan terpisah menuju kamar masing-masing yang berada dalam satu lantai yang sama. Chanyeol dan Sehun berada dalam kamar yang sama disebelah timur sedangkan Luhan dan Baekhyun mendapatkan kamar di sebelah barat dari arah pintu lift.
Satu hal yang menjadi kebiasan dari Baekhyun setiap tiba pada tempat baru yang belum pernah ia kunjungi, kakinya menyusuri setiap ruangan dalam kamar hotel itu dan kemudian badannya bergulingan pada ranjang yang cukup tinggi dan terasa sangat empuk. Selimut halus yang menutupi bagian atas ranjang begitu halus dan wangi harum yang menyegarkan pernciuman. Tidak hanya itu, dirinya bahkan begitu takjub hanya karena melihat isi kamar mandi yang begitu megah.
"Ini lebih mewah dibandingkan hotel yang Ibu pesankan." Baekhyun bertepuk tangan dengan badannya yang bergerak ke kanan ke kiri sambil menghadap ke cermin dan sesekali merapikan dandanan rambutnya yang sedikit berantakkan.
Langkahnya kembali berlari menuju area balkon jendela, tangannya membuka jendela itu dan menyingkap setiap tirai yang menutupi sehingga hembusan angin masuk kedalam ruangan, dirinya berdiri di pinggir balkon dan tidak henti-hentinya mengatakan kata 'wow' hanya karena melihat pemandangan sekitarnya. Bangunan-bangunan gedung tertata rapi pada setiap bagian dan juga jalanan yang terlihat lenggang karena tidak banyak pengendara mobil-motor-maupun sepeda yang berlalu lalang, semua penduduk sekitar memilih berjalan kaki demi menikmati seisi kota kecil itu yang terlihat sangat apik.
Bunyi shutter kamera terdengar dari jarak jauh dan saat Baekhyun berpaling untuk melihat sumber suara itu, alisnya menatap curiga dengan bibirnya yang mengerucut.
"Chan-chanyeol? Sejak kapan dirimu ada disitu?" Baekhyun tergagap saat bicara menatap Chanyeol sementara yang ditunjuk memilih mengalihkan pandangannya pada tempat lain dan mengambil gampar pada pemandangan kota lainnya.
Merasa diacuhkan oleh Chanyeol, Baekhyun akhirnya memilih ikut menggunakan kamera yang sebelumnya dipinjamkan oleh Chanyeol. Ia memotret sebagian pemandangan yang dilihat dan pada akhirnya ia menggunakkan kamera itu untuk memotret dirinya dengan latar belakang pemandangan yang ada di belakangnya. Entah terhitung berapa banyak hasil yang ia dapat dari kegiatannya itu, dan bila bukan karena panggilan Luhan yang memintanya bersiap untuk berjalan-jalan bersama mungkin saja Baekhyun masih berada disana dan melanjutkan kegiatannya.
.
.
Kedua Puteri Mahkota itu berencana menyambangi tempat festival yang tertera pada brosur undangan saat Yunho, Raja Glorfindel menyerahkannya pada Chanyeol. Luhan sudah menginformasikan kepada Chanyeol bahwa mereka akan menunggu di depan pintu masuk festival saat acara sudah selesai.
Dan disinilah, kedua Puteri Mahkota itu menikmati waktu mereka.
Baekhyun yang selalu ingin mencoba berbagai hal entah itu makanan ataupun sekedar alat mainan yang tersedia di festival itu, ia juag tak segan-segan meminta foto pada beberapa penduduk yang datang dan mengenakkan kostum seperti Santa Claus, Luhan yang menemaninya awalnya merasa malu namun melihat bahwa hal yang dilakukan oleh Baekhyun cukup menyenangkan sampai akhirnya ia memutuskan untuk melakukan hal yang sama.
Bila sebelumnya Baekhyun hanya berfoto dan meminjam topi merah yang menjadi ciri khas seorang Santa Claus, lain hal nya dengan Luhan yang kini memakai topi dan juga jaket merah di badannya, belum lagi permen lollipop yang berwarna-warni kini berada dalam genggaman tangan dan sebagian sudah ia nikmati dalam mulutnya.
"Ini ternyata enak." Luhan memberikan sedikit pada Baekhyun, namun gadis itu menggelengkan kepala sebagai penolakan.
"Rasanya terlalu manis."
"Kau pasti lebih memilih Strawberry." Luhan menyeringai dan Baekhyun langsung tersenyum membalasnya karena tak jauh dari tempat mereka berdiri, terdapat penjual buah Strawberry dan berbagai cemilan lainnya yang bisa disajikan bersama. Luhan menggerakkan kepalanya menunjuk kearah penjual itu dan Baekhyun langsung berlari cepat kesana meninggalkan Luhan.
"Dasar anak kecil."
Sementara kedua Puteri Mahkota menghabiskan waktu bersama dan bersenang-senang di lain tempat, pertemuan yang dihadiri Chanyeol dan Sehun baru saja selesai, namun mereka berdua masih berada didalam ruangan disekelilingi oleh para pemimpin dunia yang turut hadir. Nama Kerajaan Glorfindel yang melekat pada keduanya membuat para pemimpin dunia menaruh rasa hormat mengingat Ksatria Glorfindel adalah ksatria yang cukup dikenal ahli dalam berperang dan juga berribawa saat memimpin. Dan semua itu sungguh terlihat saat Chanyeol berbicara dengan mereka semua dan memberikan strategi-strategi untuk meningkatkan keamanan dan kewaspadaan kedua dunia bila Hades menyerang kapan saja.
"Yang Mulia Raja pasti akan bangga bila suatu saat Putera Mahkota Chanyeol diangkat menjadi Raja untuk menggantikkannya." Pemimpin Dunia Timur menyampaikan pujian atas sikap Chanyeol.
"Terima kasih atas pujianmu Tuan, aku akan menyampaikan pada Yang Mulia salam dan kesan Anda." Chanyeol menunduk dan memberikan hormat.
Sehun yang selalu setia berada disebelah kakaknya ikut menundukkan badan dan memberi hormat setelah satu per satu para pemimpin dan tamu undangan meninggalkan ruangan pertemuan.
"Apakah ini benar-benar sudah selesai?" Sehun menyandarkan kepalanya pada Chanyeol setelah melihat tidak ada lagi siapapun di ruangan itu.
Chanyeol ikut menghela nafas dan melipat kemejanya hingga sebatas siku tanggannya, segelas air bening dingin yang berada di mejanya ia ambil dan langsung ditegak hingga habis meskipun setelahnya ia mengernyitkan alisnya karena merasakan hal aneh pada air itu.
"Kenapa? Apa air itu beracun?" Sehun yang melihat Chanyeol bersikap aneh segera mengambil gelas itu dan mencium aroma yang sangat tajam.
Chanyeol menggelengkan kepala dan kembali meminum air pada gelas yang lain, dan kini berwarna kemerahan.
"Ini Wine?" keterlambatan kerja otak Sehun membuat Chanyeol memutar matanya dan menghabiskan air kedua dan ternyata memiliki rasa yang sama seperti gelas pertama yang ia minum.
Wine.
"Ya! Daebak. Kau meminum dua gelas Wine?" Sehun memegang gelas kedua dan melakukan hal yang sama.
"Lalu kenapa kalau aku meminum dua gelas Wine hah?" Chanyeol memukul pelan kepala Sehun dan mengambil mantel Kerajaan yang berada pada kursi dan segera memakaikan pada badannya sebelum ia berjalan melangkah.
"Ya tunggu aku!" Sehun menyusul dengan lari kecilnya dan masih kesulitan karena memakai mantel sambil berlari, sedangkan Chanyeol tidak memperdulikan adiknya dibelakang sana.
- Loves of Tales -
Setelah melakukan perjalanan mengelilingi seisi tempat dimana Festival First Snow diadakan, Baekhyun dan Luhan memilih tempat duduk tak jauh dari Pintu Masuk Festival, dimana ini adalah meeting point yang dijanjikan dimana Chanyeol dan Sehun akan menjemput mereka berdua setelah pertemuan yang diadakan itu selesai.
Dan ternyata selama kurang lebih 1 jam mereka menunggu, belum ada tanda-tanda dari Chanyeol maupun Sehun yang datang dan menjemput mereka berdua.
Baekhyun masih dengan tingkah dan sikapnya yang tidak bisa diam sudah berjalan mondar mandir dan kembali duduk hampir sepuluh kali menurut hitungan Luhan, sedangkan gadis itu memilih duduk sambil menggerutu dan tidak sungkan untuk mengumpat menyebut nama kedua Putera Mahkota Glorfindel.
"Baiklah! Aku akan pergi pulang sekarang!" Luhan beranjak dari tempat duduknya dengan kedua tangannya yang dikepal keras menandakkan kemarahannya.
"Baekhyun! Ayo kita pulang!" Luhan menarik tangan Baekhyun sementara sang pemilik tangan itu menahan dirinya.
"Lu-luhan.. Chanyeol berjanji akan menjemput kita.." Baekhyun mencoba menahan tangan Luhan supaya tidak menariknya pergi.
"Ini sudah lebih dari satu jam Baek! Mereka seharusnya sudah tiba sedari tadi." Luhan menjelaskan dan menunjukkan jarum jam di jam tangan yang ia gunakkan. "Aku yakin mereka melupakan kita dan duduk tenang di hotel saat ini!" Luhan menjelaskan lagi dengan masih penuh emosi.
"I-iya tapi kan.." Baekhyun menggigit bibir bawahnya. "Chanyeol berjanji akan menjemput kita.. dan bukankan kita harus menunggunya?" Baekhyun memasang wajah memelasnya dan berharap Luhan akan kembali duduk dan mau menunggu sebentar lagi bersamanya.
"Tidak! Aku tidak mau." Luhan menghempaskan tangan Baekhyun yang sedari tadi ia pegang. "Begini saja, aku akan kembali ke hotel dan bila memang mereka berdua ada disana aku akan menarik mereka dan menjemputmu disini. Bagaimana?" Luhan melihat kearah Baekhyun yang duduk manis dihadapannya.
"A-ku menunggu disini?"
"Hm, tapi janji padaku! Jangan pergi kemanapun sampai aku datang! Ada atau tidak adanya mereka di hotel aku akan meminta mobil jemputan membawaku kembali ke tempat ini dan menjemputmu." Luhan menunjukkan jari telunjuk kearah Baekhyun menandakkan bahwa apa yang dia ucapkan adalah perintah mutlak.
"Uhm. Aku akan menunggu disini." Baekhyun menganggukkan kepala dan tersenyum lebar kearah Luhan.
"Ingat jangan kemana-mana. Aku tidak mau harus berhadapan dengan Kris—ah maksudku kakakmu itu hanya karena aku meninggalkan adiknya di tempat asing." Luhan masih menekankan perintahnya sedangkan gadis kecil dihadapannya menganggukkan kepala berkali-kali dan bahkan sudah melambaikan tangannya kearah Luhan.
Luhan benar-benar meninggalkan Baekhyun sendirian disana dengan cepat, sedangkan gadis itu kini duduk termenung dengan bibirnya yang mengerucut sambil memperhatikan beberapa orang yang berlalu lalang dihadapannya, berharap ia menemukan wajah yang dikenal dan bisa membawanya pulang ke hotel untuk beristirahat.
Sesaat ia sempat mengingat kembali isi mimpinya yang terjadi semalam, dan memperhatikan sekitarnya. Bahkan tangannya berkali-kali melepaskan topi merah yang ia kenakan sedari tadi dan memasangnya kembali.
"Ini berbeda.. mimpiku tidak menjadi nyata." Baekhyun bergumam pelan dan merapikan tatanan rambutnya lagi.
Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri, senyumnya belum menghilang dari wajahnya saat melihat hal yang lucu baginya, para anak kecil yang berlarian dengan mahkota bunga diatas kepalanya atau beberapa gadis yang menari-nari dengan menggunakkan rok tulle seperti penari Ballet. Bahkan pipinya ikut merona saat melihat beberapa pasangan yang saling berciuman dibawah sebuah potongan daun yang sudah dihiasi oleh lampu-lampu berwarna-warni diatas kepala mereka, ia menutup matanya dan menggelengkan kepala sambil meminta ampun kepada Ayah-Ibu-bahkan kakaknya karena melihat hal yang tidak boleh ia lihat.
Sementara dari jarak beberapa meter dihadapannya, Putera Mahkota Glorfindel tampak gemas melihat tingkahnya dan bahkan tertawa sendiri dalam posisinya yang masih berdiri dengan kedua tangannya yang tersembunyi didalam mantelnya.
Chanyeol berjalan pelan kearah Baekhyun yang masih menutup matanya dengan tangan, tapi kini pandangannya sudah berpindah kearah pedagang yang menjual permen kapas berwarna-warni. Chanyeol mengeluarkan bando tanduk rusa yang sebelumnya ia beli dan segera memasangkan pada kepala Baekhyun yang ditutupi topi merah.
"E-eh?"
"Menunggu lama?" Chanyeol tersenyum kearah Baekhyun yang masih kaget melihat kehadiran dirinya.
"Chanyeol.." Baekhyun mengerjapkan matanya dengan cepat dan memegang apa yang baru saja dipasangkan oleh Chanyeol di kepalanya.
"Aku mau membelikanmu mahkota bunga sebelumnya, tapi melihat—
"Oh! Jangan mahkota bunga!" Baekhyun beranjak berdiri dan menahan tangan Chanyeol yang sebenarnya tidak berniat pergi kemanapun.
"-melihat kau memakai topi merah itu.." Chanyeol menahan kalimatnya dan menatap wajah Baekhyun dengan bingung.
"Aku memutuskan membeli bando rusa itu."
"A-aaahh! Iya ! Jangan mahkota bunga! Bando ini lebih lucu." Baekhyun memasang kembali bando itu setelah melepaskan topi merah yang sebelumnya ia pakai.
Walaupun Chanyeol masih bingung dengan tingkah Baekhyun, ia memilih mengiyakan karena bagaimana pun juga dia adalah pihak yang bersalah karena membiarkan Luhan dan Baekhyun menunggu lama untuk dijemput. Untung saja mata Sehun sangat jeli melihat Luhan yang tengah berjalan kearah hotel mereka menginap dan berhasil menyusulnya, walaupun gadis itu masih marah dan jengkel kepada mereka berdua tapi mendengar Sehun akan mengantarkannya kembali ke hotel dan mengajaknya makan malam, Luhan mengiyakan dengan perjanjian salah satu dari mereka harus menjemput Baekhyun, dan itu berarti Chanyeol-lah yang harus menjemputnya.
"Maafkan aku." Chanyeol menunduk dan mencoba memperhatikan Baekhyu yang masih sibuk dengan bando rusanya.
"Uhm, kau membuat kami menunggu lama." Baekhyun menatapnya dengan bibir atasnya yang menekuk keatas.
"Aku mengambil mobil pribadiku dulu." Chanyeol menunjuk kearah mobil yang ia bawa untuk menjemput Baekhyun dan Luhan.
Dan saat itulah Baekhyun kembali berteriak histeris saat melihat mobil yang Chanyeol tunjuk persis-oh bukan-mobil itu memanglah mobil yang ada dalam mimpinya kemarin. Mobil yang akan ia naiki bersama Chanyeol melihat kembang api, bintang jatuh dan juga salju pertama yang akan turun malam ini.
Malam dimana dalam mimpinya Chanyeol mencium bibirnya.
Dan itu adalah ciuman pertamanya..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Baekhyun?"
"Baek? Kau baik-baik saja?"
Chanyeol mengibaskan tangannya berkali-kali dihadapan wajah Baekhyun yang masih melamun menatap mobil Mercedes Benz E-Class Cabriolet berwarna silver-miliknya.
"B-baek-hyun.." Chanyeol menundukkan wajahnya dengan wajah bingung.
Sedangkan gadis yang ditatap itu masih melamun menerawang jauh mengingat jelas mimpinya, bagaimana bibir Chanyeol menciumnya, bagaimana tangannya yang menarik mantel yang dikenakan Chanyeol sebagai balasan ia menginginkan ciuman itu lebih lama, membayangkan dan mengingat akan mimpinya membuat pipinya merona berwarna merah merona, dan bahkan dirinya meloncat kebelakang saat mendapati wajah Chanyeol semakin mendekat kearahnya.
"H-hey.. kau baik-baik saja?" Chanyeol memegang kedua lengan Baekhyun untuk menahan badannya yang terhuyung kebelakang.
"A—aahh! Iya aku baik-baik." Baekhyun menepuki mukanya dan melepaskan genggaman tangan Chanyeol pada lengannya.
"Kau yakin?" Chanyeol masih memastikan , tangannya yang sudah tidak menggenggam lengan Baekhyun kini meraup wajah kecil itu yang dalam penglihatannya masih berwarna merah.
"Kau demam lagi?"
Baekhyun menggelengkan kepala. "Ani.. mungkin karena terlalu dingin udaranya." Baekhyun berbohong, kedua telapak tangannya digosok dengan pelan secara bersamaan dan kembali menepuk-nepuk kedua pipinya.
Chanyeol masih memperhatikan tingkah laku gadis itu dan kemudian melepas mantel tebal yang ada pada tubuhnya untuk dilingkarkan pada badan Baekhyun yang kini terlihat semakin tenggelam karena perbedaan tinggi badan mereka dan ukuran mantel yang terlalu besar. Chanyeol tersenyum lebar melihat bagaimana mantelnya membungkus badan mungil Baekhyun, bahkan ia memperbaiki topi Santa Claus yang sebelumnya dipakai dan membenarkan posisi bando rusa yang ia belikan untuk Baekhyun.
"Nah.. kau terlihat seperti boneka sekarang." Chanyeol yang gemas mencubit pipi Baekhyun dan masih tertawa lebar, sedangkan gadis mungil itu menatap Chanyeol dengan kesal meskipun jantungnya bertedak tak karuan hanya karena melihat senyum milik Chanyeol.
"Puas mengejekku?" Baekhyun merajuk.
"Aku tidak mengejek. Sebentar, biar kau bisa lihat bagaimana penampilanmu sekarang." Chanyeol menahan badan Baekhyun yang akan beranjak meninggalkannya, tangannya kembali mengeluarkan kamera yang ia bawa pada kantung celana dan dengan cepat mengambil foto Baekhyun yang kini malah tersenyum manis kearahnya.
Chanyeol baru saja akan menekan tombol shutter pada kameranya sesaat setelah fokus kamera berhasil menangkap jernih wajah Baekhyun, dan itu membuat banyak pertanyaan bagi Chanyeol.
Kenapa Baekhyun terlihat sangat manis?
Kenapa bisa jantungnya berdetak kencang hanya karena senyuman polos yang Baekhyun berikan.
Chanyeol memejamkan matanya sebentar untuk mengembalikan fokus dan niatan awalnya untuk mengabadikan penampilan Baekhyun saat ini, setelah mengambil beberapa gambar ia menunjukkan pada Baekhyun yang sudah menghampirinya.
"Uuuuhh.. wajahku ternyata cantik ya." Baekhyun memuji diri sendiri saat melihat hasil jepretan Chanyeol pada kamera itu, sedangkan sosok yang mengambil foto dirinya malah masih memperhatikan gerak gerik senyuman yang Baekhyun lakukan.
"Wuaahh... hasil fotomu memang bagus! Wajahku semakin cantik-ah tidak! Aku memang sudah cantik, ya kan?"
Chanyeol tertawa sinis. Tangannya merebut kamera yang ada di tangan Baekhyun dengan paksa dan berjalan ke sembarang arah tanpa mengajak Baekhyun.
.
.
"Ada apa denganmu sebenarnya? Tidak mau berada didalam festival, tidak mau menyaksikan kembang api, tidak mau menunggu saat salju turun dan tidak mau pulang dengan mobil." Chanyeol mengurutkan persyaratan yang baru saja diucapkan oleh Baekhyun perihal rencananya menghabiskan malam ini bersama Chanyeol.
"Turuti saja! Aku akan mengadukan ke Kris kalau kau tidak menurutinya." Baekhyun menyahut lagi dengan kesal sementara mulutnya masih menghabiskan gumpalan kapas yang barusan ia beli.
"Makan dulu yang benar baru memarahiku!" Chanyeol mengusap sisa gula kapas yang ada pada pipi Baekhyun.
Baekhyun tentu saja kembali gugup dengan perlakuan yang Chanyeol lakukan, bahkan kali ini terasa sangat sulit menelan sebuah kapas gula pada tenggorokannya.
"Cepat habiskan, aku tahu apa yang harus kita lakukan sekarang."
Chanyeol menggandeng salah satu tangan Baekhyun, kakinya melangkah menyusuri kembali lokasi acara festival dan mengarah menuju beberapa blok kedepan yang belum nampak ramai. Dalam satu blok itu terdapat berbagai hiasan lampu-lampu dan juga dedaunan Mistletoe yang menghiasi sepanjang lurus kedepan, beberapa meja panjang terletak di pinggiran blok, dan juga terdapat gelas-gelas plastic berwarna merah dalam jumlah yang terbilang banyak.
Chanyeol membawa Baekhyun untuk masuk dalam barisan para penduduk yang sudah berada disana entah sejak kapan, beberapa orang yang berkumpul berdiri di sembarang tempat dan memegang gelas merah yang disediakan sebelumnya, bahkan tak jarang ada beberapa orang yang menggunakkan baju berwarna hitam menawarkan minuman yang sama atau dalam jenis lainnya. Chanyeol mengambil salah jenis minuman dan langsung menikmatinya sendiri, sedangkan Baekhyun masih memperhatikan sekitarnya dan mulai penasaran dengan apa yang diminum.
"Apa itu enak?"
"Anak kecil belum boleh meminum ini." Chanyeol menaikkan alisnya dan melanjutkan menghabiskan minuman yang ia ambil sebelumnya.
Baekhyun kembali mengumpat kesal melepaskan pegangan tangan Chanyeol pada tangannya dalam artian bahwa ia sedang kesal dengan lelaki itu karena masih menganggapnya sebagai anak kecil. Baru saja Baekhyun membalikkan badan untuk melihat pemandangan yang lain, ia melihat minuman strawberry yang dibawa oleh orang yang menggenakkan baju hitam itu. Matanya dengan cepat menengok sebentar ke arah Chanyeol yang sedang tidak memperhatikannya dan itu ia anggap sebagai kesempatan untuk mencicipi minuman Strawberry itu.
Baekhyun menghampiri kearah wanita berpakaian hitam itu dan mengambil segelas besar minuman berwarna merah dengan buah strawberry dihadapannnya. Senyumnya ia berikan pada wanita itu sebagai tanda terima kasih karena mengijinkannya mendapatkan minuman itu.
Chanyeol kembali tertawa melihat tingkah Baekhyun yang sudah bersemangat meminum isi gelas yang ada di tangannya.
"Lihatlah, tidak akan ada yang percaya kalau kau bukan anak kecil Baek."
"Kenapa? Kau saja yang menganggap aku anak kecil terus—oh minuman ini enak sekali! Aaahh strawberrynya manis!" Baekhyun memuji rasa minuman yang baginya sangat menyegarkan dahaganya, dan untuk Chanyeol yang melihat tingkah gadis didepannya ia hanya bisa menggelengkan kepala dan kembali mengatai Baekhyun dengan sebutan 'bocah'. Meskipun ia terus mengatai dan mempertanyakkan tingkah Baekhyun yang masih seperti anak kecil hanya karena sebuah minuman manis dengan buah Strawberry didalamnya, ditambah lagi kini gadis itu tengah bergerak menggoyangkan badannya karena suara musik yang mulai diputar- Chanyeol tetap mengeluarkan kameranya dan menangkap setiap pergerakan dan hal apapun yang dilakukan gadis itu.
Baekhyun tertawa, Baekhyun melamun, Baekhyun berteriak, Baekhyun melompat, Baekhyun minum, dan segalah hal yang dilakukan Baekhyun dalam kurun waktu beberapa menit itu ada dalam kamera Chanyeol.
Baekhyun menarik tangan Chanyeol seketika disaat beberapa orang mulai membentuk barisan dan berjalan sambil bernyanyi bersama memutari sebuah pohon buatan yang menjulang keatas. Melihat tingkah gadis didepannya yang mulai terlihat sedikit gila dan akan mengambil gelas minuman strawberry yang sudah diminum hampir delapan gelas banyaknya, Chanyeol merebutnya lebih dulu dan meminum sedikit karena rasa penasarannya kenapa Baekhyun meminumnya berkali-kali.
"Oh Shit—
Chanyeol membuang minuman itu dan meminta minuman lain yang disediakan oleh beberapa pelayan itu.
"Yaa.. Chanyeol.. kenapa dibuang?" Baekhyun memukul-mukul badan Chanyeol dengan pelan.
Chanyeol memberikan minuman yang lain namun memiliki warna yang sama merah seperti minuman sebelumnya, hanya saja kali ini sudah dipastikan oleh Chanyeol bahwa minuman itu hanyalah soda biasa.
"Kau hanya boleh minum ini gadis nakal." Chanyeol mencubit pipi Baekhyun yang kini sudah berubah warna semakin merah.
"Hm.. ini manis juga." Baekhyun memamerkan senyumnya dan kembali mengikuti antrian para orang-orang sekitar yang berjalan sambil menari-nari. Chanyeol menghela nafas panjang dan mengusak wajahnya sebelum ia memutuskan mengikuti Baekhyun dan merangkul gadis itu dalam dekapannya sebelum terdapat masalah yang tidak diinginkan.
Acara pesta jalanan yang diadakan di sepanjang jalan blok itu masih berlangsung hingga hari semakin malam dan cuaca cukup dingin, beberapa pasangan yang ada mulai berpelukan dan mengikuti ritme lagu yang semakin sendu seakan-akan mengisyaratkan untuk semua yang hadir untuk merasakan momen indah saaat ini menanti turunnya salju pertama di kota mereka.
Lain halnya dengan Chanyeol dan Baekhyun.
Seharusnya mereka bisa mengikuti pasangan lain yang sudah saling bergelung berbagi pelukan dan kehangatan, hanya saja penolakan dari gadis keras kepala bernama Baekhyun sedari tadi membuat mereka harus dalam posisi seperti ini, Baekhyun memeluk Chanyeol dari belakang, dan kepalanya benar-benar bersandar seakan-akan punggung Chanyeol adalah bantal ternyaman yang pernah ia dapat.
"Chanyeol hangat.." gumaman entah keberapa kalinya dilontarkan dari Baekhyun dan kedua tangan kecil itu semakin memperat pelukannya.
"Ya-ya.. kau sudah mengatakan itu berkali-kali Baek."
"Hm.." Baekhyun tersenyum.
"Sudah mau pulang?" Chanyeol mengelus tangan Baekhyun dan memeluknya dalam dekapan tangannya.
"Beluummm.."
"Ini sudah malam Baek."
Baekhyun menggeleng.
"Aku suka memelukmu.."
Chanyeol tertawa kecil.
"Aku suka saat aku tidur kau memelukku.."
Chanyeol terdiam kaku mendengar kalimat itu.
"Tidurku terasa hangat dan bahkan mimpi-mimpiku terasa indah."
Baekhyun masih melanjutkan dan tidak memperdulikan bahwa punggung yang ia peluk itu semakin menegang mendengar apa yang dicelotehkannya.
"Aku suka melihatmu tertawa.. aku suka saat kau khawatir padaku.." Baekhyun kembali tertawa sendiri dan Chanyeol belum menyahut satu kata pun menunggu gadis yang memeluknya dari belakang itu menyelesaikan apa yang ingin dikatakan.
"Aku suka semuanya.. tapi itu hanya dalam mimpi." Kini suaranya terdengar kesal. "Aku hanya bisa merasakan semuanya dalam mimpi.. bahkan ciuman pertamaku pun hanya dalam mimpi!" kakinya terhentak kesal berkali-kali sedangkan Chanyeol kini menahan ketawanya dengan menutup mulutnya dengan punggung tangannya sendiri.
"Kris akan membunuhku bila tahu aku memimpikanmu setiap malam.. hehe" dan Baekhyun kembali tertawa sendiri, kepala bergerak ke kanan dan ke kiri dengan imutnya sedangkan tanganya semakin memperat pelukannya.
"Chanyeoolll..."
...
"Channn..."
"Hm." Chanyeol akhirnya menyahut.
"Aku juga suka suaramu."
"Hanya itu?"
"E-eh?" Baekhyun menjauhkan diri meskipun tangannya masih memeluk pinggang Chanyeol.
"Hanya itu saja yang kau sukai dariku?" perlahan-lahan badannya berbalik untuk bisa melihat Baekhyun lebih jelas.
"Apa hanya itu saja yang kau sukai dariku?" Chanyeol kembali bertanya dan kini tangannya menarik Baekhyun untuk berada dekat kembali pada dirinya, tatapan mata Baekhyun yang berkedip seperti mata puppy yang memohon menambah keimutan wajahnya dan bahkan Chanyeol tersenyum dan mengelus pipi nya dengan kedua tangannya. Baekhyun tidak memberikan jawaban atas pertanyaan dari Chanyeol, hanya saja tangannya semakin meremas jas hitam yang membalut tubuh pria itu dengan tatapannya yang masih memandang wajah Chanyeol, hal yang sama juga dilakukan oleh Chanyeol ia tidak memberikan pertanyaan yang lainnya dan juga tidak mengatakan apa pun.
Keduanya hanya saling memandang dalam diam.
Dan entah keberanian dari mana yang dimiliki seorang Calon Raja Glorfindel itu hingga bisa menundukkan wajahnya dan menarik wajah Baekhyun untuk semakin dekat kearahnya. Matanya terpejam saat jarak kedua wajah itu semakin tipis hingga ujung hidung masing-masing saling bergesekkan dan pada hitungan detik kemudian bibir keduanya saling bersentuhan. Baekhyun semakin memperkuat remasan pada jas hitam Chanyeol dan entah kenapa matanya ikut terpejam saat merasakan bibir pria dihadapannya bergerak untuk melumat bibirnya, lumatan yang begitu lembut dan semakin menekan bibirnya sedangkan tangan Chanyeol semakin menarik badannya untuk kembali masuk dalam pelukannya.
Mereka berdua terhanyut dalam ciuman yang semakin panas, kedua bibir yang saling melumat lembut dan pelan namun memberikan kenyamanan hingga tidak ingin menyudahinya dalam waktu dekat, bahkan bunyi ledakan kembang api yang mulai terdengar disekitar mereka tidak bisa menghentikan kegiatan ciuman itu, teriakan para orang-orang disekitar yang menyambut turunnya salju pertama pada malam itu pun dianggap hal tidak penting bagi keduanya karena kini kedua tangan Baekhyun mulai dikalungkan pada leher Chanyeol dan sang pria pun semakin memperdalam ciumannya dan memeluk gadis itu dengan semakin erat.
Kembang Api
Salju
Kris.. jangan salahkan Chanyeol karena mencuri ciuman pertamaku.. anggaplah ini hanya mimpi yang sama seperti sebelumnya.
Tapi aku menyukainya.
.
.
Jangan salahkan aku karena mencium adikmu.. aku melakukan apa yang ingin aku lakukan,
Dan aku menyukainya.
