DREAM CASTLE

Pairing : Gilbert Beilschmidt/Ludwig Weillschmidt

Rating : T

Genre : Drama/Angst

Summary : "...istana impian ini adalah milikmu, Ludwig. Maka jagalah baik-baik..."

Disclaimer : All characters belong to Himaruya Hidekazu-sensei

Warning : Apa pun yang terjadi di sini adalah rekayasa walau sedikit mengena ke sejarah masing-masing negara. Timeline yang ada di sini saya sesuaikan dengan yang ada di Hetalia, di mana mereka sepertinya berumur panjang (terutama Jerman). Kalau ada yang kurang berkenan, saya sarankan untuk tidak membaca dengan segala hormat. First Ger/Pru, trial and error... :/

~Chapter 11~

Pray for me because I have lost my faith in holy wars

End of 1960

Ludwig's POV

Negara-negara Eropa sedang terpuruk…

Pasca perang, banyak negara yang mengalami kerugian besar. Pihak Sekutu dan Uni Soviet mencoba memperjuangkan kehidupan mereka setelah perang. Namun pada perjalanannya, kedua pihak ini pun saling berselisih.

Sekutu yang dimotori oleh Amerika mempunyai paham Liberalis-Kapitalis. Terus terang, paham ini lebih diminati oleh penduduk Jerman pada umumnya karena tidak terlalu mengikat mereka pada peraturan yang baku. Sedangkan Uni Soviet dengan paham Sosialis-Komunis malah terkesan lebih mengikat. Kedua negara ini kemudian berunding dan sepakat membagi Jerman menjadi dua wilayah kekuasaan. Tahun 1949, Uni Soviet memprokalmirkan East Germany, atau Republik Demokrat Jerman. Kemudian diikuti oleh Sekutu yang memproklamirkan Jerman Barat, atau Republik Federal Jerman.

Kedua wilayah hanya dipisahkan kawat berduri yang dialiri listrik. Penjagaan pun dilakukan hanya dari pihak Uni Soviet, tidak dari pihak Sekutu. Sebenarnya pembagian ini terkesan sepihak. Uni Soviet sepertinya ingin menguasai seluruh wilayah Jerman, hanya saja dia harus berhadapan dengan Amerika dan sekutunya.

"Negaramu sepertinya cukup mampu menghidupi rakyat Jerman Barat, Jones. Kau tidak perlu mengambil pasokan industri atau kebutuan pangan dari perekonomian di wilayah Timur."

"Kau benar-benar serakah, Ivan."

"Oh, tidak juga. Karena kami sangat menghargai kaum buruh dan pekerja kasar, tidak seperti kalian di Barat sana."

"Kau tidak akan bisa menghentikanku, Ivan."

"Fufufu…kau mau mengancamku, Da?"

Setelah aku bebas dari penjara, aku sering diikutkan dalam pertemuan antara pihak Sekutu dan Uni Soviet. Aku sebenarnya tidak begitu berminat terlibat dalam pembicaraan mereka. Aku tadinya sangat berharap bisa bertemu kakakku kalau aku ikut dalam pertemuan ini. Gilbert sekarang sudah berpihak kepada Soviet, dia bekerja untuk orang yang bernama Ivan Bargniski ini.

"Aku tidak peduli kau memblokade perekonomian negara ini, Ivan. Aku tidak sendirian, aku akan menghidupi Jerman Barat dengan kekuatan yang aku punya. Kami terdiri dari negara-negara makmur, maka itu aku yakin bisa menyaingimu."

"Terserah padamu saja, Jones. Kau akan lihat nantinya kalau Jerman Timur bisa lebih makmur daripada Jerman Barat. Aku yakin orang-orangmu akan segera berpindah ke tempatku. Tentu saja aku akan membukakan pintu lebar-lebar jika mereka datang."

"Dan kau akan menutup pintumu jika ada orangmu yang hendak masuk ke Jerman Barat. Kau bukannya melindungi mereka, melainkan menakutkan mereka, Ivan."

"Aku berhak melakukan apa pun untuk orang-orangku, Jones. Kau tidak perlu memberiku nasehat macam itu karena aku akan mengalahkanmu suatu hari nanti."

Selama pertemuan berlangsung, aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari kakakku. Gilbert tidak lagi banyak bicara seperti dulu. Dia kini banyak diam dan menutup diri. Ketika kedua mata kami bertemu, aku hanya bisa menunduk tidak berani menatap wajahnya. Meski kami berada dalam satu ruangan begini, aku merasa ada dinding tak terlihat membatasi kami.

Aku tidak suka berada dalam situasi ini…

Entah kenapa, sejak awal pertemuan, aku merasa badanku meriang. Udara di luar sebenarnya tidak terlalu dingin. Aku jadi seperti tidak enak badan.

"Herr Arthur."

"Hm?"

"Aku ingin bertemu dengan kakakku."

"…"

"Izinkan kami bicara."

Aku kebetulan duduk dekat dengan Arthur Kirkland dari Inggris. Dia menatapku dingin setelah aku meminta tolong padanya. Dia lalu beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri kakakku yang sedang berdiri di belakang kursi Ivan. Dia membisikkan sesuatu. Aku harap kakakku mau berbicara denganku.

Kedua mata merah Gilbert menatapku, dia mengangguk sekali dan langsung menemuiku. Tidak ada senyum terkilas di wajahnya. Tatapan matanya itu terasa dingin olehku.

"Kenapa, West?"

Dia tidak pernah memanggilku dengan namaku lagi. Dia memanggilku "West" karena aku tinggal di Jerman Barat. Aku bisa mendengar adanya tekanan setiap kali dia memanggilku seperti itu. Meski demikian, aku tidak pernah bisa memanggil dia "East", sebagai lawan kata dari nama panggilanku yang baru.

"Ba-badanku meriang…"

"Kau sakit?"

"Entahlah."

"Mana tanganmu?"

Aku mengulurkan tangan dan dia meraihnya. Dia terkejut mengetahui tanganku begitu dingin dalam genggamannya. Dia lalu memegang keningku.

"Bodoh, sudah tahu udara dingin begini. Keluar rumah masih tidak pakai mantel!"

"A-aku pakai…"

"Tapi kalau hanya mantel satu ini tidak cukup melindungimu dari udara dingin, West. Kita pulang, kau demam tinggi."

Gilbert membuka jaketnya dan dipakaikan kepadaku. Dia kemudian pergi menghadap Ivan. Sepertinya dia meminta izin kepada laki-laki bermata ungu itu untuk mengantarku pulang. Ivan melarangnya, dengan berbagai alasan tentunya. Tetapi kemudian sepertinya dia mendapat pembelaan dari Alfred F. Jones, orang Amerika yang sejak tadi berseteru terus dengan Ivan.

"Dia hanya ingin mengantar adiknya pulang. Aku berani jamin dia pasti kembali lagi ke tempatmu, Ivan."

"Bagaimana mungkin aku percaya, Da?"

"Setidaknya kau berikan dia kesempatan satu kali bertemu dengan adiknya, Ivan. Kau benar-benar tidak punya hati."

"Oh, jangan bicara soal hati padaku, Da. Aku tidak suka mendengarnya. Kami orang Soviet sudah terlalu lelah mengerti perasaan orang. Beilschmidt, aku izinkan kau pergi. Tetapi jika kau tidak pulang sampai tengah malam nanti, kau akan tahu akibatnya."

The Mansion – Night

Gilbert tidak banyak bicara saat kami tiba di rumah. Dia menyuruhku ke kamar lebih dulu, sementara dia menyiapkan air hangat untuk dibawa ke kamarku. Melihat dia diam, yang ada aku jadi ikut terbawa suasana. Aku dan dia tidak bisa lagi berbicara seringan dulu. Kami jadi kaku…

"Tiduran, West."

Dia meletakkan handuk basah yang hangat di keningku. Dia menyentuh pipiku dengan telapak tangannya. Oh, sungguh aku tidak ingin dia melepaskan telapak tangannya dari pipiku. Begitu hangat dan menenangkanku.

"Demammu tinggi sekali, West. Seharusnya kau tidak memaksakan diri untuk ikut pertemuan itu."

"Ta-tapi…"

"Aku tidak pernah menyuruhmu bepergian kalau sedang sakit. Apalagi kau tidak tahan dengan udara dingin."

"…"

"Aku buatkan sesuatu untuk makan. Kau jangan tinggalkan tempat tidur, mengerti?"

"Tidak! Jangan tinggalkan aku! Di sini saja, aku mohon…!"

"Apa? Hey, aku hanya akan pergi ke dapur dan membuatmu makan malam. Madam Bertha sudah tidak ada, lalu bagaimana kau akan masak kalau sedang sakit begini? Sudah, tidur saja. Nanti aku kembali ke sini."

I've been so lost since you've gone

Aku merasa suhu badanku menjadi turun lebih rendah lagi ketika melihatnya pergi meninggalkan kamar. Terus terang, aku masih belum terbiasa dengan tidak adanya dia di kehidupanku.

Aku masih ingin dia berada di dekatku…

Setelah aku bebas, aku kembali ke rumah dan menemukan keadaannya sudah berantakan. Terlebih lagi, mayat Madam Bertha dibiarkan membusuk di ruang tamu. Aku dan beberapa penduduk sekitar memakamkannya di pemakaman setempat. Kemudian kuminta mereka membantuku membereskan rumahku. Aku lega tidak banyak yang dirusak dari rumah ini. Bahkan istana kecil itu tetap pada tempatnya, terselubung kebun mawar yang lebat. Istana itu tetap utuh, meski belum ada bendera yang melengkapi puncak menaranya. Aku sangat menantikan saat-saat di mana kakakku mengibarkan bendera di atasnya. Tapi, apakah dia masih ingat akan janjinya itu?

Masihkah dia ingat?

Atau…

"Makan dulu, West."

Stay with me now I'm facing my last solemn hour

Beberapa jam berlalu…

Aku mencoba tidur malam itu. Entah kenapa, rasanya tidak nyaman. Aku mencoba menenggelamkan diri dalam balutan selimut tebal. Aku masih merasa dingin, sampai aku harus mendekap bantalku sendiri untuk menambah hangat tubuhku. Aku membalikkan badanku ke kiri dan ke kanan. Sudah beberapa kali aku membaca doa, tetapi aku masih tidak bisa tidur juga. Jantungku berdegup kencang, aku diliputi rasa cemas berlebihan.

"Gilbert…"

Aku turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar. Aku pergi ke kamar kakakku. Kudapati dia sedang tidur lelap. Aku ingin membangunkannya dan mengatakan bahwa aku tidak bisa tidur. Tetapi apakah dia akan marah padaku? Selimut dan bantal yang kubawa tidak bisa lagi mencegah udara dingin masuk ke tubuhku.

"Kak?"

Laki-laki berambut perak itu membalikkan badannya, kedua mata merahnya terbuka dan terkejut melihatku sudah berdiri di dekat pintu kamarnya. Dia bangun dan duduk di tempat tidurnya.

"Kenapa, West?"

"A-aku…tidak bisa tidur, Kak."

"Hah? Demammu naik lagi?"

"Aku tidak tahu, rasanya tidak nyaman saja."

"…"

"Bo-bolehkah aku tidur denganmu, Kak? Aku kedinginan."

Aku tidak tahu dia akan menjawab apa. Besar keinginanku untuk bisa lebih dekat dengannya. Aku tidak peduli dia akan menilaiku apa. Aku punya perasaan tidak enak, maka itu aku ingin berada di dekatnya selalu.

"Mau berapa lama kau berdiri di situ, West?"

"…"

"Sini…"

Give me strength to face the truth, the doubt within my soul

August, 1961

Aku jatuh sakit sampai beberapa hari. Aku tidak tahu bagaimana Gilbert bisa membujuk orang Uni Soviet itu sehingga dia bisa tinggal denganku untuk sementara waktu. Seandainya tidak ada pembatas, tidak ada penghalang atau apa pun, kami tidak perlu kaku seperti ini.

Semakin dia berada di dekatku, semakin berat rasanya ingin melepas dia pergi. Begitu aku sembuh, dia akan langsung pulang ke Jerman Timur. Aku tidak akan bisa melihatnya lagi. Aku harus berani menghadapi kenyataan bahwa kami sudah tidak hidup bersama lagi. Demi membebaskanku, dia rela mengorbankan dirinya. Dia rela dirinya diambil oleh Uni Soviet, sekelompok orang yang harus akan kekuasaan dan kemenangan. Memperjuangkan segala haknya di atas penderitaan orang banyak. Meski itu bertentangan, aku harus bisa menerimanya.

Aku jadi tahu bagaimana perasaannya saat aku memutuskan untuk bergabung dengan Nazi dan dia menolak…

"Kak?"

Pagi itu, aku bangun dan langsung pergi ke kamar kakakku. Biasanya dia sudah bangun lebih dulu dan membuatkan sarapan. Tetapi kali ini aku tidak mendapati dia di mana pun. Demam tinggi ini semakin melemahkanku. Aku menutup tubuhku dengan selimut tebal, kucari dia di semua bagian rumah.

"Di mana…?"

Ketika aku sampai di dapur, aku terkejut melihat di atas meja makan sudah tersedia menu sarapan. Di atas piring makan, aku melihat selembar kertas bertuliskan tulisan tangan kakakku. Aku sampai harus menahan nafas saat membaca isi surat singkat ini.

West,

Aku harap kau segera bangun dan menghabiskan sarapannya. Nanti keburu dingin. Ini menu sarapanmu yang terakhir.

Cepatlah sembuh, bodoh…

Gilbert Beilschmidt

Ring…ring…

Surat kecil dalam genggaman tanganku itu kubawa saat aku mengangkat telepon. Seseorang dari badan pertahanan Jerman Barat menelponku. Jantungku hampir berhenti setelah mendengar kabar tidak menyenangkan ini.

"…mereka membangun tembok di pertengahan kota…!"

Begitu aku mendengarnya, aku langsung keluar dari rumah tanpa memikirkan pakaian apa yang sedang kukenakan sekarang. Yang ada di pikiranku sekarang adalah mencari kakakku. Aku pergi ke tengah kota, aku mendapat pemandangan mengerikan di sana.

Kawat berduri itu sekarang tidak lagi hanya sekedar bentangan kawat dan tiang pancang. Beberapa tentara Jerman Timur tengah meletakkan satu persatu bata hingga setinggi beberapa meter. Tampak petinggi Jerman Timur, yang kutahu adalah orang-orang Uni Soviet, sedang mengawasi pembangunan tembok itu. Tidak ada satu pun orang dari Jerman Barat yang berani mendekat. Aku pun menjadi satu-satunya orang yang berani menghampiri salah satu pekerja pembangunan tembok itu.

"Apa yang kalian lakukan?"

"Hm? Kau tidak bisa lihat? Kami sedang membuat tembok-"

"Aku tahu itu tembok. Tetapi untuk apa?"

"Kami hanya terima perintah. Dan bisakah kau menyingkir? Kau mengganggu pekerjaan kami."

Aku berjalan tertatih-tatih menyusuri tembok yang masih dibangun ini. Aku melihat beberapa petinggi Jerman Timur yang terdiri dari orang-orang Uni Soviet tengah mengawasi pemnbangunan tembok ini. Aku tidak mengerti mengapa tiba-tiba mereka membangun pembatas macam ini di tengah kota. Apakah pihak Sekutu sedang mendesak Uni Soviet sehingga orang-orang timur itu sedang ingin membentengi diri?

Pandanganku kemudian tertuju pada sosok seseorang yang kucari sejak tadi pagi. Gilbert berada di antara petingginya, Ivan Barginski merangkul pundaknya dan begitu bersemangat mengenalkan kakakku itu kepada semua petingginya.

"Gilbert!"

Nampaknya suaraku mampu mencapai telinganya. Dari balik lengan Ivan, dia menoleh dan melihatku berseru dari balik bentangan kawat. Dia tampak terkejut, dia berusaha melepaskan diri dari Ivan.

"Gilbert! Kenapa…?"

Dia berbicara pada Ivan, tetapi kemudian laki-laki berhidung besar itu melarangnya menemuiku. Dia memaksa, dan Ivan pun tetap mengikutinya saat dia hendak menemuiku. Kami sudah berhadapan sekarang. Kedua tangannya terjulur dan memegang pipiku.

"Bodoh, seharusnya kau beristirahat-"

"Kenapa kau meninggalkan aku? Kenapa kau tidak mengatakan apa pun saat sedang berada di rumah? Kenapa kau tidak memberikan penjelasan apa pun padaku?"

"…"

"Jangan diam, Kak. Pulanglah, aku mohon…"

"Kau melanggar janjimu, West."

"Apa?"

"Bukankah kau sudah berjanji padaku untuk tidak menangis lagi?"

"Peduli setan dengan janji itu! Kau yang membuatku begini, Kak!"

"Demammu tambah tinggi, West. Kalau kau berada di udara dingin begini, kau akan tambah parah. Kau bahkan tidak mengenakan mantelmu, kenapa kau tidak mau mendengarkan nasehatku?"

"Aku tidak peduli rasa sakit ini, aku ingin kau pulang!"

Dia menggeleng lagi. Tangannya kemudian tidak lagi memegang kedua pipiku. Aku melihat Ivan tersenyum lebar di balik punggung kakakku. Satu tangannya memegang pundak Gilbert, dan mengajaknya pergi.

"Oh…"

Tembok itu kemudian berdiri dengan kokohnya, membelah kota besar Berlin dari selatan ke utara. Tidak ada lagi pemandangan ke arah timur dari barat. Pemerintah Jerman Timur memblokade semua akses ke Jerman Barat, termasuk arus manusianya.

Aku melihat kota cantik ini terbelah, membayangkan diriku sendiri yang terbelah…

Why not me before you?

Why did fate deceive me?

Why did you leave me in silence?

~to be continue~

Chapter 12 coming up next!