CHAPTER 10
Sehun mengernyitkan keningnya saat mendengar semua penuturan Luhan di sambungan telepon. Hell, ada apa dengan laki-laki ini? Bukankah Luhan adalah Deer-ssi? Sehun jelas sudah tahu soal itu—tapi untuk apa Luhan perlu menekankan bahwa Ia bukan Luhan namun Deer-ssi? Mungkinkah Luhan sedang sakit?—batin Sehun.
"Luhan, jangan bercanda. Bukankah kau adalah Deer-ssi?" tanya Sehun tenang.
"Yaa! Kau sedang bicara dengan atasanmu! Panggil aku Deer-ssi! Sekarang jelaskan kenapa kau memakai namaku?! Itu tidak sopan, bedebah!"
Tidak ada suara dari Sehun. Lidahnya kelu untuk sekedar menjawab pertanyaan itu. Padahal sederhana saja; Sehun sedang ingin mengerjai Luhan dan sedikit bercanda dengan laki-laki manis itu. Namun kenapa Luhan menjadi sangat agresif seperti ini? Bukankah saat di sekolah dan di bus—Oh well, apakah Luhan tidak peduli soal itu?!
"Hei bedebah, aku bicara padamu!"
"Aku hanya iseng." jawab Sehun santai.
Luhan mendengar itu dan well emosinya makin naik—Ia naik pitam. Hanya iseng? Itu sangat konyol, tidak masuk akal, dan tidak bermoral bagi Luhan. "Dasar tidak punya sopan santun! Kau pikir—"
Tutt tutt
Sehun memutuskan sambungan telepon Luhan. Luhan menggerutu di sebrang sana bahkan menyumpah serapah Sehun—dan Sehun, pihak yang memutus telepon justru merebahkan dirinya di atas ranjangnya sambil menerawang langit-langit kamarnya. Neutron-neutron dalam otaknya sedang bekerja untuk menemukan sebuah jawaban dari hal yang Ia anggap ganjil dari perilaku Luhan malam ini. Tetapi jawaban itu tak kunjung datang—menyebalkan.
"Ada apa denganmu, Luhan?"
.
.
Kembali ke sekolah sangatlah menyebalkan terlebih lagi pelajaran olah raga renang jatuh pada hari ini. Luhan benci berenang. Ia tidak menyukai tubuhnya yang basah di dalam kolam kemudian harus bergerak cepat kesana-kemari. Dan juga, Luhan sudah sering tenggelam karena pelajaran renang. Sebenarnya bukan karena Ia payah dalam berenang, lebih tepatnya karena banyak siswa yang akan menenggelamkannya jika Ia berenang. Juga, Luhan tidak akan berenang kecuali saat penilaian penting—kebetulan hari ini tidak ada penilaian jadi Ia tidak perlu berenang.
Sementara teman-temannya yang lain berenang, biasanya Luhan akan pergi ke perpustakaan dan menyendiri disana. Tetapi hari ini semua murid baik yang tidak berenang maupun yang berenang harus berada di sekitar kolam renang. Terpaksa Luhan pergi menuju kolam renang sekolahnya—tempat yang Ia benci nomor dua setelah kantin.
"Hey Ching Chong, pergilah berenang! Lihat badanmu lembek sekali! Hahaha!"
Luhan sudah terbiasa diejek oleh teman-temannya. Tidak ada yang bisa Ia lakukan selain menundukkan kepala dan menyembunyikan wajahnya—terutama matanya agar tidak berkontak mata dengan orang-orang sialan itu.
Yeah Luhan terpaksa duduk di tepi kolam. Seharusnya Ia berada di bangku lain yang jauh dari tepi kolam. Tapi sialnya, Dae Seonsangnim—guru olah raga Luhan kali ini tidak mengijinkan siswa yang tidak berenang untuk jauh-jauh dari tepi kolam. Luhan tidak menyukai tepi kolam—bagaimana jika ada yang mendorongnya ke kolam nantinya? Memang terlalu berlebihan tetapi, bagaimana jika itu benar terjadi?
"Kau tidak berenang?"
Luhan mendongakkan wajahnya—dugaanya tepat bahwa yang berbicara padanya adalah Oh Se Hun dan—oh! Luhan menahan nafasnya. Tidak-tidak! Bukan karena Luhan takut jika Sehun akan mendorongnya ke dalam kolam renang tetapi—tubuh Sehun yang sangat sexy. Bagaimana Luhan tidak menahan nafasnya? Perut indah dengan abs yang menggoda, dada yang terbentuk sempurna, dan—ya! Semuanya terlihat sexy. Astaga Luhan sudah benar-benar gila—atau terpesona?
"E-eum... tidak." ucap Luhan malu-malu. Pipinya merah merona—sialan, Sehun benar-benar!
Sangat berbeda.
"Sekali-kali kau harus berenang... ah atau kau mau aku dorong ke kolam renang?"
Luhan langsung mendelik. Sial untuk apa Ia terpesona pada tubuh Sehun jika ternyata dirinya akan dimangsa oleh Sehun? Menyebalkan sekali. "Se-sehun..."
"Semuanya masuk ke dalam kolam!"
Dae Seonsangnim berteriak menyerukan perintah berenang bagi murid-muridnya. Sehun tersenyum miring pada Luhan sebelum dirinya melompat masuk ke dalam kolam renang. Fiuh, Luhan menghembuskan nafas lega. Setidaknya kali ini Ia sedang beruntung.
.
.
Mata Luhan terasa berat untuk di buka—sepertinya dirinya sedang mengantuk. Namun dengan perlahan, Ia mulai membuka kelopak matanya. Setelah kesadarannya terkumpul, Luhan mulai melihat sekitarnya. Rupanya benar dirinya tertidur di bangku yang jauh dari tepi kolam. Luhan masih ingat bahwa Ia berpindah tempat duduk saat teman-temannya mulai berenang bebas, dan setelah itu Ia pasti tertidur. Dengan sisa tenaga yang ada, Luhan bangkit dari duduknya dan sedikit menggosok matanya.
Tidak jauh dari tempat Luhan berdiri, Mark dan Yoongi menatap Luhan dengan tajamnya. Kedua siswa kelas satu ini masih sangat dendam dengan Luhan. Ouh lihat wajah babak belur mereka! Itu ulah Sehun yang memukuli mereka karena tanpa sopan santun dan tata krama sudah mem-bully Luhan yang notabene adalah senior mereka sendiri. Bagi mereka, Luhan adalah makhluk lemah—tidak peduli bahwa Luhan sudah senior mereka. Luhan tetap harus masuk daftar incaran siswa naas.
"Hey Mark, kau yakin akan mendorong Ching Chong ke dalam kolam, huh?"
"Tentu saja, ini balasan atas semua memar yang kita alami, Yoongi-ah."
Yoongi mengangguk-angguk saja. Toh Ia juga masih dendam dengan Luhan—sunbae lemah yang naas. "Ku dengar Ia tidak pernah berenang, bukankah ini bagus?"
Keduanya lalu ber-high five ria dan tersenyum ala satan sebelum akhirnya berjalan cepat menghampiri Luhan yang tengah berjalan lamban untuk keluar dari gelanggang olah raga. Dan tanpa basa-basi, Mark segera menarik tangan Luhan—diikuti Yoongi yang juga ikut menarik Luhan di lain sisi.
"Ya-yaa... le-lepaskan aku!" Luhan meronta dan meminta agar tangannya dilepaskan dari cengkraman dua junior kurang ajar ini.
Namun seolah telinga keduanya tuli, mereka tetap menyeret Luhan agar bisa memasukkan Luhan ke dalam kolam. Tenaga Luhan kalah oleh dua juniornya yang lebih kuat tenaganya ini. Luhan berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri—salah satunya dengan mulai berjongkok agar keduanya kesusahan untuk menariknya. Sialnya itu tidak berarti apa-apa. Luhan tetap terseret bahkan sudah hampir diujung tepi kolam. Tidak lama lagi Ia pasti akan masuk ke dalam kolam yang dingin itu.
"Ja-jangan!" Luhan berteriak keras namun,
Byurrr
Tubuhnya sudah terlanjur terdorong masuk ke dalam kolam. Sialnya lagi, Mark dan Yoongi mendorong Luhan masuk ke bagian terdalam kolam sehingga kaki Luhan tidak dapat menyentuh dasar kolam. Kedua junior brengsek itu tertawa keras melihat Luhan yang terlonta-lonta dan kesulitan berenang. Keduanya sangat keji bak satan.
"Itu pembalasan untukmu, ching chong!"
Lagi-lagi keduanya ber-high five ria dan tertawa penuh kemenangan yang menjengkelkan. Bagaimana dengan Luhan? Ia berada cukup jauh dari tangga kolam apalagi tepi kolam. Luhan lupa bagaimana cara berenang—baiklah Ia memang payah dalam berenang—dan sekarang Ia kebingungan untuk menyelamatkan diri. Gelanggang ini sudah sepi, tidak akan ada gunanya jika Ia berteriak meminta tolong. Lagipula mlutnya sudah penuh dengan air.
Kaki Luhan mulai melemah, Ia tidak sanggup lagi untuk menggerakan kakinya sementara nafasnya perlahan mulai sesak—terlalu banyak air yang masuk ke dalam mulutnya. Dan begitulah Luhan perlahan tenggelam di kolam air sekolahnya sendiri.
.
.
Sehun terus mengetuk-ngetuk penanya bosan. Objek penghilang kebosanannya sedaritadi tak terlihat. Ia malas untuk memperhatikan seonsangnim yang terus mengoceh di depan kelasnya. Sehun merasa ingin kabur dari pelajaran memuakkan ini. Terlebih lagi, batinnya terus bertanya-tanya dimana Luhan. Luhan tidak terlihat sejak Ia memasuki kelasnya. Dan Luhan lebih mencuri perhatiannya ketimbang pelajaran menyebalkan ini. Entah refleks dari apa—Sehun bangkit dari kursinya—perhatian seisi kelas langsung teralihkan menuju Sehun. Sehun tetap santai dan tenang saat mengintrupsi pelajaran seonsangnimnya.
"Saem, aku perlu pergi ke toilet," ujar Sehun santai—tanpa tata krama dan terkesan merendahkan.
Kang Seonsangnim—selaku seonsangnim yang mengajar di kelas Sehun langsung mendesah sebal. Seonsangnim itu kemudian mengibas-ngibaskan tangannya—sepertinya risih dengan sikap Sehun. Sehun kemudian beranjak keluar dari kelasnya dengan tenang—padahal Kang Seonsangnim adalah seonsangnim yang paling membenci murid yang keluar dari kelasnya saat Ia sedang menerangkan pula. Sehun tidak ambil pusing. Luhan lebih menarik dari pelajaran membosankan itu.
.
.
Sehun menelusuri tiap koridor dengan santai. Sesekali Ia menengok kesana-kemari untuk mencari dimanakah Luhan berada. Langkah pemuda tampan itu kemudian terhenti pada gelanggang olah raga tempat Ia tadi berenang. Sehun mendorong pintu itu dengan sebuah perasaan aneh. Sebenarnya Ia ragu Luhan masih ada disini, namun firasatnya mengatakan bahwa Luhan masih ada disini. Padahal lebih memungkinkan Luhan berada di perpustakaan daripada di gelanggang olah raga.
Dengan langkah tenang, perlahan Sehun mulai mendekati kolam renang. Aish, firasatnya makin tidak enak saja saat Ia melihat kolam renang yang sepertinya kosong itu,
sepertinya.
Sehun benar-benar tidak yakin bahwa kolam ini kosong. Ia melihat sebuah bayangan yang mengambang di dalam kolam.
Itu bukan sebuah benda
Sehun pikir itu adalah seseorang.
"Astaga, ada yang tenggelam!"
Tanpa pikir panjang, Sehun segera melompat ke dalam kolam untuk menolong orang yang tenggelam itu. Kemampuan berenang Sehun sangat bagus sehingga Sehun dapat menghampiri orang yang sedang tenggelam itu dengan cepat.
Dan Sehun sangat kaget saat tahu siapa yang tengah tenggelam ini—dia adalah Luhan!
"Astaga Luhan!" Sehun memekik kaget saat mengangkat wajah Luhan yang sudah pucat dan juga terpejam.
Segera Sehun membawa Luhan ke tepi kolam dan membaringkannya—Ia sangat khawatir. "Luhan... Oh Tuhan! Bagaimana bisa?!"
Mengabaikan seragamnya yang basah, Sehun mencoba untuk menyadarkan Luhan. Dimulai dari memompa dada Luhan untuk mengeluarkan air dari tubuhnya dan tidak lupa nafas buatan untuk Luhan. Usaha pertolongan pertama Sehun awalnya tidak berhasil—namun Sehun tetap mencoba. Sehun harus bisa menolong Luhan.
"Luhan... kumohon bangunlah!"
Sehun si raja satan serta berandalan busuk itu untuk pertama kalinya terlihat sangat panik. Tidak henti-hentinya Ia menyalurkan nafas buatan untuk Luhan dan juga memompa dada Luhan agar air yang ada dalam tubuh Luhan keluar. Ia sangat khawatir, bagaimana jika Ia terlambat menyelamatkan Luhan? Luhan bisa saja mati karena tenggelam! Berbagai pikiran berkecamuk dalam benaknya.
Luhan, kumohon...
"Haaaah!"
Luhan memekik kencang setelah kesekian kalinya dadanya dipompa oleh Sehun. Kemudian pemuda manis itu terbatuk-batuk sambil mengeluarkan air yang ada di tenggorokannya. Sehun bersungut lega—Ia terus bergumam terima kasih. Perlahan tangannya mengelus pundak Luhan yang sedang terbatuk-batuk. Ia sangat lega, Luhan sudah bangun.
"Sehun...? Kau—"
"—apa kau tidak apa-apa? Luhan apakah kau kedinginan?"
Luhan menatap sayu pemuda tampan dengan rambut basah yang ada di hadapannya, demi tujuh lautan Sehun terlihat sangat sexy. Tapi Luhan juga bertanya-tanya mengapa Sehun basah kuyup—ah, jangan-jangan Sehun yang menyelamatkannya saat tenggelam tadi? Lamban. Tentu saja Sehun-lah yang sudah menolongnya. Dan pada akhirnya Luhan semakin tidak mengerti dengan semua sifat Sehun akhir-akhir ini.
"Luhan... apa kau kedinginan hm?"
Luhan tidak menjawab pertanyaaan Sehun—Luhan lebih memilih untuk mendudukkan dirinya dan tidak menghadap Sehun (jantungnya bisa copot jika Luhan terus melihat Sehun yang sexy). Tidak mendapat jawaban dari Luhan, Sehun akhirnya memeluk tubuh Luhan erat. Sehun pikir Luhan kedinginan—tubuh Luhan terus menggigil kedinginan. Bagi Luhan, pelukan raja satan ini terasa sangat hangat dan nyaman. Bahkan bisa saja Luhan memilih tidur untuk merasakan lebih lama nyamannya berada di pelukan Sehun. Matanya terpejam—perasaan hangat ini yang Ia butuhkan dari dinginnya air kolam, perasaan nyaman ini yang juga Luhan butuhkan untuk melupakan peristiwa buruk yang baru saja menimpanya. Luhan menyukai ini, sangat menyukai ini.
Sehun tersenyum kecil melihat wajah Luhan yang terpejam. Kerap kali Luhan terlihat terbebani dan depresi saat di sekolah, namun kali ini, Sehun melihat Luhan yang lain. Luhan yang damai. Luhan yang sangat manis. Dan Luhan yang tenang. Sebenarnya Sehun enggan untuk membangkitkan Luhan agar berdiri, namun Luhan harus segera mandi dan berganti baju. Sehun dan Luhan harus segera berganti baju agar keduanya tidak masuk angin.
"Luhan, berdirilah... kau harus mandi agar tidak sakit,"
Luhan mendengar penuturan Sehun, tapi tubuhnya terasa lemas untuk digerakkan. Bahkan hanya untuk menggerakkan jarinya Luhan sudah tidak sanggup. Namun kenyataannya, Sehun adalah pemuda yang baik hati—sehingga Sehun akhirnya menggendong Luhan menuju ruang bilas. Mereka terlihat romantis—pada dasarnya. Tangan Luhan yang mengalung di leher Sehun dan Sehun yang dengan sekuat tenaganya menggendong tubuh Luhan. Keduanya persis seperti pengantin, terlebih Luhan yang sangat nyaman dalam gendongan tubuh Sehun. Semuanya terasa menyenangkan.
.
.
Tubuh Luhan terbalut handuk tebal terlihat sangat nyaman dan hangat—benar bahwa Luhan merasakan tubuhnya sudah mulai menghangat dan lebih baik meskipun tidak senyaman dekapan Sehun. Luhan duduk di sebuah bangku yang berada di ruang ganti siswa. Ia menunggu Sehun yang katanya akan membelikannya sesuatu.
Berbicara soal Sehun, berandalan tengik itu akhir-akhir ini bersikap baik padanya. Bahkan tadi Luhan dapat melihat raut wajah panik Sehun saat dirinya baru saja keluar dari dalam kolam. Alis Luhan bertautan membentuk kerutan di dahinya. Benar, Sehun bertingkah sangat aneh dan diluar dugaannya. Mungkin Luhan tidak akan terkejut jika Sehun adalah orang yang menenggelamkannya. Kenyataannya justru tidak. Sehun-lah yang menolongnya dan rela hingga seragamnya basah kuyup. Sehun-lah yang memberi dekapan hangat dan juga nyaman untuk Luhan. Dan Sehun-lah yang sudah menggendong tubuh Luhan untuk sampai di ruang bilas dan juga ruang ganti.
Bukankah Sehun adalah berandalan yang selama ini mem-bullynya?
Sehun adalah orang yang selalu menindasnya dengan semua kata-kata kejinya dan tak lupa perbuatannya yang tidak manusiawi. Tapi... sekarang semua perilaku Sehun padanya berubah seratus-delapan-puluh-derajat! Apakah Sehun mempunyai rencana lain untuk mem-bullynya? Luhan menjadi ketakutan. Ia menggigit bibir bawahnya sambil menundukkan kepalanya. Luhan takut jika nanti Sehun akan kembali berbuat jahat padanya.
"Luhan? Ada apa? Apa kau baik-baik saja?"
Luhan menaikkan dagunya untuk menatap Sehun. Apakah Luhan tidak salah jika, Sehun pemuda yang ternyata sexy, mempesona nan tampan dengan sebuah gelas minuman di tangannya ini adalah penolong sekaligus penindasnya?
Tetapi Luhan tidak berani bertanya, marah, atau sekedar curiga dengan semua perilaku Sehun saat ini. Ia tidak akan pernah berani kepada Sehun. Luhan akan selalu takut dan selalu segan pada Sehun. Yeah, itulah Luhan.
"Aku baik-baik saja," ujar Luhan bohong. Sehun tersenyum kecil kemudian memberikan gelas berisi minuman hangat itu pada Luhan.
"Untuk menenangkanmu, coklat panas."
Tangan Luhan terulur untuk mengambil coklat panas itu. Luhan berucap terima kasih dengan suara yang halus namun Sehun masih dapat mendengarnya. Setelah Luhan menerima coklat panasnya, Sehun mengambil tempat di samping Luhan.
"Luhan, ini kacamatamu."
Luhan bergumam terima kasih dengan halus sembari menerima kacamatanya. Tapi Sehun berharap agar Luhan tidak memakai kacamatanya—wajah Luhan lebih manis ketika tidak memakai kacamata. Berhubung Luhan tidak memakai kacamatanya, Sehun lebih memilih untuk diam dan memandang intens Luhan.
"Eum... terima kasih... Sehun..."
Atas semua pertolonganmu dan juga perilakumu yang aneh dan membuatku curiga.
Seulas senyum kecil tergambar di wajah tampan Sehun. Ia terkekeh kecil sembari mengalihkan pandangan matanya dari wajah Luhan. Suasana menjadi hening dan canggung diantara keduanya. Luhan yang menyesapi coklat panas pemberian Sehun sambil memikirkan semuanya yang sudah terjadi padanya dalam seharian ini—perilaku Sehun adalah yang paling mendominasi pikirannya. Sedangkan Sehun hanya mengosongkan pikirannya sambil menikmati waktunya bersama Luhan. Yeah, Sehun terlihat sakit namun tidak seutuhnya benar.
"Eung, Sehun-ah... coklat panasku sudah habis... sekarang bisakah kita kembali ke kelas?" ujar Luhan hati-hati. Sehun menangguk menyetujui permintaan Luhan.
"Hm, baiklah."
Dengan hati-hati Sehun membantu Luhan berdiri. Well, Sehun sangat tahu bahwa tubuh Luhan pasti masih sangat lemah. Tubuh ringkih Luhan akhirnya dapat berdiri dengan tegak. Sesaat kemudian Sehun menyadari bahwa Luhan sangatlah kurus. Sehun yakin Luhan sangat kurus bahkan hanya dengan memegang lengannya—oh bahkan Sehun sudah pernah merasakan tubuh Luhan—Err, kenapa Ia baru menyadarinya?
Keduanya kemudian berjalan beriringan untuk menuju kelas. Langkah keduanya yang lambat membuat perjalanan terasa penuh kecanggungan. Sebenarnya Sehun dapat berjalan cepat, namun Luhan disampingnya berjalan dengan pelan. Well bagi Sehun itu bukan masalah besar—Ia pasti akan memecahkan atmosfer canggung ini.
"Ngomong-ngomong siapa yang mendorongmu ke kolam?" Benar bukan? Sehun akan memecahkan suasana canggung ini dengan obrolan ringan.
Luhan yang berjalan sambil menundukkan kepalanya kini mengadah untuk menatap Sehun. Ah, soal siapa berandalan yang tadi sudah mendorongnya ke dalam kolam—jujur saja Luhan sudah nyaris lupa soal itu berkat semua kehangatan yang Sehun berikan padanya.
"Eum... mereka adalah—"
Bagaikan semuanya berjalan dengan lambat, Luhan melihat Mark dan Yoongi berjalan berlawanan dari arah jalannya. Mereka terlihat lepas bahkan tertawa tanpa beban seolah tak mengingat apa yang sudah mereka lakukan terhadap Luhan. Luhan menjadi geram sendiri melihat dua bocah tengik sialan itu. Sorot matanya berubah menjadi tajam—tatapannya sedikit mematikan. Dan kemudian langkah Luhan terhenti. Kepalanya tertunduk menghadap lantai—well Sehun ikut berhenti dan menjadi kebingungan.
"Luhan?" panggil Sehun. Bohong jika Sehun tidak merasakan aura Luhan yang berubah seratus-delapan-puluh-derajat.
Luhan tidak menjawab panggilan Sehun. Ia justru membalikkan badannya dan dengan langkah cepat, Ia mengikuti arah jalan Mark dan Yoongi. Sehun melihat semuanya—semua tingkah aneh Luhan. Dan Sehun memutuskan untuk mengikuti Luhan—dugaannya, Luhan sedang dalam mode yang berbeda.
.
.
Mark dan Yoongi rupanya pergi ke kantin—yeah, dengan Luhan yang menguntit di belakangnya. Luhan terus mengikuti Mark dan Yoongi hingga keduanya duduk di bangku kantin. Mark dan Yoongi masih belum menyadari jika Luhan ada di dekat mereka sampai Luhan menggebrak meja mereka.
BRAK!
"Yaa! Kalian berdua! Junior tidak tahu sopan santun! Jangan seenaknya dengan senior, brengsek!"
Mark dan Yoongi menatap remeh wajah menakutkan Luhan. Bagi mereka berdua Luhan terlihat lucu. Ah, ngomong-ngomong apa yang membuat Luhan menjadi seperti ini? Yoongi tertawa memikirkannya. Luhan benar-benar berani mengambil langkah untuk memberi mereka pelajaran di tengah ramainya kantin.
Benar, kantin sedang ramai. Banyak siswa kelas satu dan kelas dua yang mendominasi kantin. Tapi Luhan dengan matanya yang menyala-nyala itu malah menantang dan memancing keributan di tengah kantin. Tentu saja ini bukan Luhan yang biasanya orang lain tahu atau dengar. Luhan adalah siswa tertindas dan bahan bully berandalan di sekolah ini. Tetapi sekarang? Luhan dengan berani melawan Mark dan Yoongi di tengah kantin. Ah, ini memang bukan Luhan.
"Oh, Ching chong ingin menantang kami huh?" sanggah Mark dengan kekehan arogannya. Sanggahan Mark disambut dengan Luhan yang meludah tepat di depan Mark—tentu saja membuat semua mata yang melihat keributan itu tertegun.
"Kalian junior bedebah! Berani sekali dengan senior kalian! Apa kalian ingin mati?!"
dan BUGH.
Luhan meninju wajah tirus Mark. Siswa perempuan dalam kantin langsung memekik keras. Sedangkan sebagian berandalan yang ada di dalam kantin langsung berdiri dari duduknya untuk melihat tingkah Luhan yang diluar dugaan. Well yeah, Luhan benar-benar membuat semua orang tercengang hari ini.
"Yaa! Apa maksudmu meninju temanku?!" teriak Yoongi geram. Luhan tersenyum miring dengan tatapan tajam.
"Itu belum sepadan dengan apa yang sudah kau lakukan, bocah tengik!"
BUGH lagi.
Kali ini Luhan meninju wajah Yoongi dan membuat Yoongi tersungkur. Ini benar-benar merupakan tontonan menarik dan juga mengejutkan bagi beberapa siswa disana. Tapi Luhan tidak peduli sekalipun Ia menjadi bahan tontonan gratis siswa-siswa yang ada di kantin. Mark dan Yoongi harus diberi pelajaran.
"Brengsek kau!" kini giliran Mark yang geram.
PLAK, ouch.
Mark menampar keras wajah Luhan hingga berdarah. Darah merah pekat itu mengalir di sudut bibir Luhan. Luhan tersenyum kecut—lawannya boleh juga.
"Hanya seperti itu kemampuanmu?" tanya Luhan menantang.
Giliran tangan Yoongi yang hendak melayang untuk meninju wajah Luhan—tapi tangan Yoongi terasa diberhentikan. Tangan Yoongi ditahan oleh seseorang—dan itu adalah Sehun yang sedari tadi melihat semua adegan dramatis ini dari ujung kantin. Sehun rasa cukup melihat semua ini, Ia sudah dapat jawaban tentang perilaku Luhan yang berbeda. Dan saatnya bagi Sehun untuk mengembalikan Luhan.
"Kalian lagi? Apa memar di wajah kalian belum cukup?"
Sehun muncul dengan suara tenang-arogan-namun-mematikannya. Ah ya, jika sudah seperti ini, Sehun sudah mengeluarkan semua aura menakutkannya. Luhan? Ah dia terdiam karena Sehun mencengkram kedua tangannya hanya dengan satu tangan, jadilah Luhan menahan geraman dan amukan yang ada dalam batinnya.
"Se-sehun-sunbae..." Mark ketakutan. Sehun adalah raja satan dan berandalan paling busuk seantreo sekolah, siapa yang berani melawannya?
"Ah, kalian beruntung karena aku sedang tidak ingin menghajar seseorang. Tapi kalian hanya perlu menunggu hingga aku merusak wajah menjijikkan kalian."
Suasana tegang sedang mendominasi—Sehun terkenal tidak main-main dengan ucapannya. Semua siswa menatap Sehun ngeri—banyak siswa yang sudah babak belur karena ulah Sehun, dan sekarang Mark dan Yoongi adalah target selanjutnya. Memang mengerikan, tetapi banyak siswa kelas satu yang menganggap Mark dan Yoongi harus menerima balasan atas ulah kurang ajar mereka.
"Dan kau ching chong, yang sudah membuat semua keributan ini—sepertinya kau yang akan aku bereskan lebih dulu."
Tepat setelah itu, Sehun menyeret tubuh Luhan untuk keluar dari kantin sekolah, diikuti tatapan tercengang oleh siswa lain. Halo, bagaimana kabar Luhan setelah Sehun membereskan Luhan? Suasana menjadi lebih tegang dari sebelumnya. Tetapi sebenarnya, mereka hanya tidak tahu apa dimaksud oleh Sehun dengan kata membereskan bukanlah hal yang menakutkan.
.
.
"Yaa! Lepaskan aku! Brengsek!"
Luhan terus meronta dan meminta agar Sehun berhenti menyeretnya. Namun seolah tuli, Sehun tetap menarik pergelangan tangan Luhan hingga kemerahan menuju sebuah ruangan kosong di sudut lorong sekolah. Sehun akan memberskan Luhan—oh bukan Luhan tetapi Deer-ssi. Berdasarkan semua kesimpulan dan apa yang Ia sudah baca di internet sebagai refrensi, Luhan pasti mengalami Alter Ego dan Deer-ssi lah alter ego Luhan. Tapi Sehun harap, itu tidak salah.
"Deer-ssi, apa maksudmu melakukan itu di depan semua teman Luhan hah?" Sehun mencoba memancing Luhan atau yang sedang dalam mode Deer-ssi. Sehun harap Ia sudah benar jika memang Deer-ssi sedang mengambil alih Luhan.
"Kau bodoh?! Luhan sudah disakiti oleh Mark dan Yoongi! Aku harus membalaskan semua sakit hati Luhan!"
Deg.
Aku harus membalaskan semua sakit hati Luhan!
Aku harus membalaskan semua sakit hati Luhan!
Kalimat itu terus teriang di kepala Sehun. Jadi inikah Deer-ssi yang sesungguhnya?
"Tapi bukan seperti itu, Deer-ssi!"
Luhan menatap tajam wajah Sehun. Dan Sehun tidak menyia-nyiakan untuk melihat lebih jauh ke dalam mata Luhan. Benar dugaan Sehun, bahwa ini bukanlah Luhan. "Luhan sudah lama merasakan sakit hati! Eoh, bukankah kau juga yang suka membuat Luhan sakit hati, Jae Woon? Oh, maksudku Sehun?"
"Deer-ssi! Kau tidak mengerti! Cukup! Kembalikan Luhan!" ujar Sehun geram.
"Kau juga brengsek! Lebih-beribu kali lipat lebih brengsek dari Mark dan Yoongi! Kau juga harus merasakan ini—"
Sehun dengan cepat menahan tangan Luhan yang akan meninjunya. Sehun kini justru menarik tangan Luhan agar tubuhnya bersandar di dinding sehingga Sehun dapat mengunci semua pergerakan Luhan. Oh, ditambah tatapan matanya yang tajam itu, Sehun yakin pergerakan Luhan sudah benar-benar terkunci.
"Kau adalah orang yang telah membuat Luhan menangis! Kau membuat Luhan menjadi lemah! Kau—"
"Deer-ssi! Cukup—"
"—Kau tidak tahu, huh? Luhan bukan orang yang pantas untuk kau tindas! Luhan—"
Sehun tidak bisa menahannya lagi.
Sehun menempelkan bibirnya pada bibir plum milik Luhan—dengan ini Ia bisa mengembalikan sisi Luhan. Sehun sudah cukup muak dengan semua makian Deer-ssi. Deer-ssi tidak akan pernah mengerti karena Ia tidak akan memberitahukan semuanya pada Deer-ssi. Sehun hanya akan memberitahukan semuanya pada Luhan. Hanya pada Luhan.
Dalam kungkungan Sehun, Luhan alias Deer-ssi mencoba memberontak ciuman lembut Sehun—tidak, Sehun tidak melumat atau mencium bibir Luhan secara kasar. Sehun hanya ingin menenangkan Deer-ssi agar Luhan kembali. Karena menurut insting Sehun, begitulah caranya agar Luhan kembali. Cukup lama kedua belah bibir itu menempel hingga tubuh Luhan sudah tidak memberontak. Deer-ssi alias Luhan sudah tenang. Perlahan Sehun melepaskan pagutannya dan menatap Luhan lekat-lekat. Terdengar halus suara isakan Luhan yang sedang menundukkan kepalanya. Perlahan Sehun memeluk tubuh Luhan dan menyandarkan kepala Luhan di dadanya.
"Luhan..."
"—Sehun... hiks..."
Sehun bernafas lega. Luhan sudah kembali. Luhan memanggil namanya dengan halus sangat berbeda dengan Deer-ssi yang memanggil namanya dengan kasar dan tidak lupa memakinya. Sehun mengeratkan pelukannya yang kemudian disambut hangat oleh Luhan dengan membalas pelukan Sehun. Luhan merasa hangat dan tenang, oleh karena itulah ia kembali.
"A-a-ada apa Sehun? A-aku seperti habis meninju seseorang—hiks..."
Jari-jari Sehun menyisiri surai keemasan Luhan yang menggemaskan. Sehun masih terus menenangkan isakan Luhan. Ia bahkan menggumam; jangan menangis, Lu—tepat di telinga Luhan. Semua ini tentu membuat perasaan Luhan perlahan menjadi tenang. Isakan kecil mirip anak isakan bocah itu berangsur menghilang. Kini berganti Luhan yang menenggelamkan wajahnya dalam dada Sehun—dan Luhan melupakan fakta bahwa Sehun adalah berandalan yang suka mem-bullynya. Luhan tidak ingat itu. Semua perasaan hangat dan nyaman ini membuatnya lupa.
"Sehun... hiks... jawab pertanyaanku..."
"Tidak Luhan, kau tidak meninju seseorang atau menyakiti seseorang..."
Karena Deer-ssi yang melakukannya bukan kau, Luhan.
"Benarkah, Sehun?"
"Hmm, benar." Setelah itu tidak ada lagi suara. Luhan memejamkan matanya menikmati semua rasa hangat yang menjalar pada tubuhnya.
Tidak akan ada yang mengerti bagaimana aku juga tersakiti. Jangan salah paham... akupun mengerti bagaimana rasa sakit Luhan. Tapi aku bukanlah yang seperti Deer-ssi pikirkan. Luhan adalah hal yang berharga... Deer-ssi tidak akan mengerti kecuali Luhan yang akan kubuat mengerti bahwa aku bukanlah berandalan brengsek.
Te
Be
Ce
Halooo~ update update~!
Oke sebelumnya author klarifikasikan dulu ya sebelum ada yg protes~ kenapa sehun berubah secepat itu sama luhan? hayo pasti bingung ya wkwk, oke ini adalah bagian dari cerita jadi author ga bisa kasi tahu kenapa yang pasti jawaban dari kebingungan kalian ada di chapter-chapter selanjutnya X3 karena inti dari cerita sebentar lagi akan terkuak '-')9
Sesuai permintaan dan hasil pertimbangan/? author panjangin chapter ini wkwk gimana? Kurang panjang? itu udah hampir 4k words dan maap author ga bisa bikin lebih panjang hehe
Daan untuk fast update... author masih usahakan kok, karena author berencana menamatkan ff ini secepatnya karena yah mengingat author sebentar lagi kelas 12 apalagi unas februari huaaah semua utang ff author akan cepat selesaikan! Dan untuk bagian nc... author ga akan post di bulan ramadhan dan untungnya bagian nc masih jauh muahaha.
Oke terima kasih yang sudah review! kalau boleh review lagi~hehe dan yang masih silent reader boleh lah tobat di bulan penuh berkah ini X3 tapi author tetap menghargai semua readers yang sudah menyempatkan diri untuk membaca, terima kasih! Dan oh ya, yang mau temenan sama author, akun SNS author ada di bio kok~ mari berteman /?
akhir kata, author minta maaf jika ada kesalahan dan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan, andd...
stay crush on beobblecruz! bye~~ /peluk mommy lu and daddy hun/
