Calon Ayah

.

.

Kalau tidak suka dengan cerita saya, tolong tinggalkan laman ini.

Lebih baik kamu menyimpan sendiri ketidak-sukaan kamu dengan cerita dan/atau penulis cerita ini. Apalagi kalau sampai menghasut teman kamu untuk tidak menyukainya juga.

Kasihan temanmu, dia hanya ingin menikmati sebuah karya kecil saja.

.

.

.

.

Ada saaat di mana Min Yoongi merasa sangat lelah dengan kehamilannya. Dia lelaki, dan tidak terbiasa dengan hal-hal yang biasa dialami wanita. Yoongi mensyukuri kehamilan ini sebagai anugerah dalam hidupnya. Tapi yang namanya lelah dan penat itu manusiawi. Kehamilan telah membuat Yoongi yang moody tambah menyebalkan lagi.

Malam itu Jimin pulang dari kantornya pada pukul delapan. Tubuhnya lelah tetapi ia masih menyiapkan senyuman manisnya untuk sang istri, Yoongi. Lampu ruang depan sudah padam ketika Jimin memasuki rumahnya.

"Yoongi? Sayang?"

Tapi tidak ada yang menjawab. Setelah melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah, Jimin berjalan menuju dapur. Karena ruangan itu terang. Tapi sampai di sana pun dia tidak menemukan Yoongi juga. Jadi, di mana Yoongi? Biasanya kalau Jimin pulang dan mengucapkan salam, Yoongi akan langsung menghampirinya.

Kemudian prasangka-prasangka buruk menyerang pikirannya. Apa terjadi sesuatu pada Yoongi tercintanya?

Dengan berlari Jimin meninggalkan dapur dan menuju kamarnya. Pintunya terdorong keras hingga menubruk dinding di sampingnya. Jimin sudah siap jika sesuatu itu benar terjadi pada Yoongi. Demi Tuhan, Yoongi sedang hamil tua saat ini! Tapi kemudian badannya berubah tegang. Di depannya Yoongi terduduk di atas ranjang sambil memeluk perutnya. Dia menangis! Jimin cepat-cepat menghampiri Yoongi.

"Sayang! Sayang! Yoongi, kamu kenapa sayang?!"

Jimin menjadi panik dan hilang kendali. Dia memeriksa tubuh istrinya, takut kalau ada yang terluka. Yoongi mengangkat kepalanya, mata sembab dan hidung memerah. Dia mengadu pada suaminya.

"Jimin~" katanya dengan sedih. Jimin menghela napas kemudian memeluk Yoongi yang sedang sedih. "Kamu kenapa? Bikin aku panik aja."

Yoongi makin menenggelamkan wajahnya di leher Jimin. "Maaf," katanya. Jimin mengusap rambut lebat Yoongi, "Iya sayang, gak apa-apa. Kamu udah makan?" Yoongi mengangguk ketika ditanya. "Tapi sedikit aja, aku lagi gak mood makan."

Heh, tumben.

"Terus kenapa kamu nangis?" Jimin mencoba bertanya hati-hati karna dia tahu, orang hamil perasaannya sangat sensitif. Yoongi melepaskan pelukannya, "Aku capek. Perutnya kebesaran aku bawa kemana-mana jadi capek."

Ya salam.

"Sini, deh." Jimin mengajak istrinya untuk berbaring bersama. Meskipun Yoongi tidak menyukai ide Jimin ini—karena Jimin baru saja pulang kerja dan belum membersihkan dirinya—tapi dia tetap mengikuti kata sang suami. Kata ibu Yoongi; surga istri itu taat pada suaminya.

Ketika Yoongi sudah berbaring, Jimin mengusap lembut perut Yoongi dengan penuh kasih sayang. "Aku gak tau gimana rasanya bawa-bawa perut besar. Kalau kamu merasa capek sama kehamilanmu, coba ingat ibu saja pas menghamili kamu. Beliau juga merasakan sama yang kamu rasakan, Yoon. Dua kali malah." Yoongi terdiam mendengar penuturan Jimin. Dan seketika dia mengingat ibunya yang berada di Daegu. "Apa ibu pernah mengeluh sama perut besarnya?" tanya Jimin lagi.

"Mana aku tau."

Jimin tersenyum, tetap judes walau lagi hamil kamu, Yoongi. "Mungkin pernah, tapi selelah apapun seorang ibu mengandung anaknya, dia akan tetap bertahan. Demi anak yang dia cintai. Karena semua pengorbanan ibu selama mengandung akan terbayar ketika anaknya lahir ke dunia dengan sehat." Jimin bangun setengah berbaring di samping Yoongi. Tangannya mengelus wajah Yoongi, "Jadi, kamu harus bertahan demi anak kita."

Yoongi menatap Jimin dalam diam. Mereta bertatapan. "Aaaah~ aku cinta kamu Jimin!" menyerang Jimin dengan pelukan. "Iya, iya aku juga cinta banget sama kamu Yoongi."

"Anak kedua kita nanti kamu yang mengandung, ya? Gantian gitu."

Ya salam.

To be continued

.

.

See you

©naranari