Title: Friends, Family, and Love
Disclaimer: Persona Series bukan punyaku. Kalo punyaku ini sudah kujadiin FES-nya. -dilempar ke jurang-
A/N: Maap karna lama ngapdet. -dilempar sampah- silakan anda keroyok saia kalo mau.... -dikeroyok-

--entrance--

Mereka semua sudah bersiap-siap untuk keluar ketika Souji mendesah di belakang.

"Sejujurnya, aku mau keluar dari sini...." gerutunya.

"Tapi, bukannya kau—" kata-kata Minato tidak terselesaikan karena sudah dipotong duluan oleh Souji, yang sepertinya benar-benar dalam kondisi bad mood.

"Aku tau, tapi mau bagaimanapun juga aku mau keluar dari sini," kata Souji yang mulai mewek kayak anak TK. Rin yang berdiri di samping Yukiko (ce elah!) sudah sweatdrop duluan.

"Kayaknya aku yang bakalan disuruh tanggung jawab," pikirnya. Benar saja, Souji menoleh ke arahnya.

"Kau! Tanggung jawab!" tudingnya ke arah Rin. Rin langsung illfeel melihat Souji yang OOC itu. Ia kemudian mengeluarkan sebuah kristal kecil berwarna kemerahan.

"Apa itu?" tanya Junpei oon.

"Semua orang juga tau kalo ini namanya pearl, p-e-a-r-l," sahut Rin dongkol. Junpei sudah bersiap-siap untuk menghajarnya kalau tidak keburu ditahan oleh Minato. Rin melempar kristal itu ke arah Souji. "Nih. Telen." Souji melongo mendengar kata terakhir dari Rin. (emang mati apa?)

"H—ha? Telen? Yang bener aja!" protesnya. "Lagian kenapa aku harus nelen ini?"

"Mau keluar, nggak? Kalo mau telen aja itu," jawab Rin enteng. "Benda itu punya kekuatan untuk menghilangkan magic yang dipasang Kuga padamu."

"Dari mana kau mendapatkannya?" tanya Kanji yang sweatdrop abis-abisan di situ.

"Itu? Kucolong dari Kuga," balasnya ringan seakan tanpa dosa. Semuanya langsung mengikuti jejak Kanji yaitu sweatdrop secara besar-besaran. (emangnya apaan?)

"Jadi.... ini musti kutelen?" tanya Souji yang kayaknya ngeri, disambut oleh anggukan ringan dari Rin. Setelah selesai masalah telan-menelan itu, dengan ringannya Rin berkata,

"Sekarang, percaya deh kalau kau bisa keluar."

Dan perkataannya itu kembali membuat S.E.E.S. dan I.S. sweatdrop secara massal.

"....yakin?" Souji melirik ke arah Rin yang bersiul-siul ala orang gila.

"3 triliun persen," sahutnya tanpa menoleh. Sekarang semua makhluk di situ— baik manusia, Shadow, maupun Persona— sweatdrop berjamaah. (emangnya sholat?) "Tapi ingat, tempatmu keluar nanti adalah di mana tubuhmu berada." Souji manggut-manggut. Akhirnya mereka semua keluar dari situ.

-------------------------------------

--hospital--

Souji membuka matanya perlahan, dan mendapati dirinya berada di ranjang rumah sakit. Ia bangkit, kemudian memegangi kepalanya yang agak sakit.

"Oh iya, tiga minggu yang lalu aku 'kan kecelakaan kereta," batinnya. (kok bisa lupa?) Ia memperhatikan keadaan di sekitarnya, kemudian pandangannya terpaku pada alat penunjuk detak jantung (disebutnya apaan, sih? Yang tau tolong kasih tau author yang katro ini) yang hanya menunjukkan garis tanpa detak padahal jelas-jelas tuh alat tersambung dengannya, dan dia tidak mati... atau setidaknya itulah yang ada di pikiran Souji. Kemudian alat itu mulai menunjukkan detak jantung yang normal.

Seorang perawat masuk dan ketika melihat Souji yang 'bangkit', langsung ngacir tanpa bilang apa-apa lagi. Tak lama kemudian ia bisa mendengar percakapan dari luar ruangan.

"Apa?! Serius?!" kata sebuah suara yang amat teramat sangat akrab di telinga Souji.

"3 rius pak!" sahut suara lain yang sepertinya milik perawat yang ngacir tadi. Kemudian seseorang masuk ke dalam ruangan itu, yang lain dan tak bukan adalah Dojima.

"Souji!!" bapak berumur 40an itu (betul gak yaaaa...) langsung berlari menyongsong angin secara lebay ke arah Souji, kemudian menatap matanya dalam-dalam. "Kamu hidup?!"

"Eee.... iya," sahut Souji agak bingung.

"Syukurlah!!" teriaknya penuh rasa syukur. (halah) Sepertinya Souji sempat 'mati' ketika mereka berada di TV World tadi. "Kau mencemaskan kami!!"

"Haha, maaf," katanya sambil tertawa kecil (abis mati malah ketawa, sinting ni anak -digebukin fans Souji-). Kemudian seorang dokter masuk dan memeriksa keadaan Souji.

"Hm, ini betul-betul mengejutkan. Kalau melihat keadaannya sekarang, sepertinya ia sudah bisa pulang sore ini," kata sang dokter takjub. Dojima melongo mendengar pernyataan dokter itu. Tadi siang dinyatakan mati, sekarang dibolehin pulang. Benar-benar bikin orang hampir jantungan.

Setelah dokter dan perawat itu keluar, terdengar suara langkah kaki yang amat ramai dari luar, yang ternyata disebabkan oleh rombongan S.E.E.S. dan I.S + Karin dan Rin. Dojima betul-betul teler hari ini. Pertama vonis mati, terus idup lagi dan dibolehin pulang, terus serombongan besar unta -ditimpuk- maksud author serombongan besar orang datang menyerbu kamar Souji. Supaya gak jantungan beneran, secara diam-diam ia menyelinap keluar ruangan yang amat ramai itu. Untung kamarnya besar jadi muat deh. -diinjekin karna penjelasan yang kepanjangan-

"Widiiih, beneran muncul di sini!" kata Junpei takjub, kayaknya tadi gak percaya ama perkataan Rin.

"Kan udah dibilangin tadi," celetuk Rin dari belakang karena merasa tersinggung. Junpei melotot ke arahnya dan Rin balas melotot. Kalau dianimasikan mungkin ada petir yang menghubungkan mata mereka.

"Sebagai hadiah karena sudah menolong partnerku ini, kuberikan album berisi lagu-lagu (alm) Mbah Surip!" kata Yosuke sambil menyerahkan sebiji kaset pada Rin. -digendong (alm) Mbah Surip-

"Nggak deh makasih," sahut Rin sambil mundur 8 langkah. Yang lain tertawa walaupun dengan suara pelan.

"Baiklah, kami duluan ya," kata Minato. S.E.E.S. segera memahami maksud Minato untuk segera keluar dari situ. Setelah berpamitan, mereka semua keluar. Meninggalkan I.S. + Karin + Rin di sana. Mereka pun bercakap-cakap sebentar, sebelum Dojima memasuki kamar itu.

"Hm? Sudah ada yang pulang, ya?" tanya Dojima begitu menyadari bahwa sudah setengah dari mereka menghilang. Kemudian pandangan tertuju pada Rin yang asing di matanya. "....." yang ditatap cuma bisa sweatdrop di tempat.

"Kenapa?" tanyanya.

"Kamu siapa?" tanya Dojima nggak pake basa-basi lagi, langsung to the point.

"Dia itu pacarnya Yuki-chan," jawab Teddie seenak jidat sambil menunjuk Yukiko. Yang ditunjuk nge-blush di situ. "Pertemuan pertamanya..... blablablablabla...."

--MOHON TUNGGU SEBENTAR--

"Daah, senpai!" Rise melambaikan tangannya dengan centil seperti biasa pada senpainya itu, sambil menyeret Teddie keluar. Yang diseret ngamuk-ngamuk gak jelas. Kemudian yang lain juga pamitan satu demi satu, hingga tinggallah Souji, Karin, Naoto, dan Dojima saja di ruangan itu.

"Kamu nggak pulang, Naoto?" tanya Dojima yang kupingnya panas habis mendengar penjelasan gak penting dari Teddie tadi. Naoto menggeleng.

"Aku tetap disini sampai Senpai pulang," sahutnya. Souji tersenyum ke arahnya, membuatnya blushing sendiri. Dan begitulah, akhirnya si Souji pulang hari itu juga. -dihajar rame-rame karna males nulis-

-------------------------------------

--way to Yasogami High School--

Souji melangkahkan kakinya bersama dengan Karin di sebelahnya, menuju ke Yasogami. Untuk apa? Untuk sekolah tentunya. -dilemparin sandal jepit dari mesjid sebelah-

"Lo, Souji?!" sebuah suara bernada kaget memanggil Souji dari belakang. Kou, pemilik suara itu berlari ke arahnya. "Kapan kau keluar dari rumah sakit?"

"Kemarin," sahut Souji pendek. "Kenapa memangnya?"

"Soalnya baru 2 hari yang lalu aku menjengukmu bareng Daisuke," sahutnya linglung. "Makanya aku bingung."

"Haha, soalnya ada keajaiban. Duluan ya," katanya sambil melambaikan tangannya, menarik Karin dari sana dan meninggalkan Kou yang terbengong-bengong di sana.

"Kenapa onii-chan Cuma jawab kayak gitu?" tanya Karin yang bingung.

"Soalnya aku males ngurusin pertanyaan-pertanyaan kayak gituan," sahutnya enteng. "Setidaknya untuk hari ini." Karin cuma bisa sweatdrop.

Setelah itu, semua berjalan dengan biasa saja. Walaupun satu sekolah itu semua pada melongo melihat Souji yang tiba-tiba muncul lagi dan bahkan dengan rajinnya mengantar Karin ke kelasnya, yang sebenernya cuma gadis itu malu karena merasa dianggap anak kecil. Dan Souji lagi-lagi masuk kelas yang sama dengan 3 sahabatnya itu (plus Rin).

-------------------------------------

--unknown--

Kuga, Suzuka, dan Ryoji berkumpul di sana, merapatkan sesuatu.

"Berani-beraninya Rin itu berkhianat," desis Kuga. Sepertinya ia masih memendam dendam atas luka yang dibuatnya.

"Cepat atau lambat, hal itu memang akan terjadi.... kau tau sendiri bagaimana sifat Rin," sahut Suzuka yang tetap tenang.

"Yang bisa kita lakukan saat ini hanya menunggu 'orang itu' datang," kata Ryoji. "Pasti mereka tidak akan bisa apa-apa."

"Kau benar," sahut Suzuka. "Dan kurasa, dia sudah datang."

Sesosok pria berpostur tubuh tinggi masuk ke ruangan itu. Ia berjalan dengan santai ke arah mereka.

"Selamat datang...." sambut Suzuka.

Yak, chapter 11 berakhir di sini! xD gapapa kan? Ayo, kuis masih terbuka! Siapakah orang itu? Silakan liat pilihan jawabannya di chapter 10 dan kirim ke saia lewat review! xDD
Dan juga, seperti biasa, review, please??