Chapter 11

Meeting

Kembali ke Sanctuary, langit yang menaungi Sanctuary, tidak lebih cerah dari semalam, langit berwarna abu-abu tua, seperti keberatan menahan air, dan sesekali petir menyambar bersahut-sahutan, seperti genderang perang yang di tabuh, perlahan titik demi titik air jatuh ke bumi, deras dan makin deras, tirai air rapat menutupi pandangan kilat makin menggila, anginpun bertiup kencang.

Athena memandang langit yang mengamuk itu dengan pandangan serius, dia terlihat sama sekali tak gentar dengan suara petir yang sepertinya hendak menghancurkan dirinya dengan sekali serang.

"Anda sedang memikirkan sesuatu yang mulia?" tanya Shion yang sejak tadi memperhatikan Athena.

Athena memalingkan pandangannya kali ini dia memandang abdinya yang begitu terlihat mengkhawatirkannya.

"Sedikit ini dan itu Shion." jawabnya singkat dia tersenyum mencoba membuat Shion sedikit tidak lagi mengkhawatirkannya.

"Jangan tersenyum seperti itu padahal hati anda sedang tidak tersenyum. Mungkin Anda bisa membohongi yang lain tapi tidak diriku"

"Aku memang tak bisa menyembunyikan apa-apa darimu Shion."

Athena tersenyum tulus, membuat Shion sedikit bernafas lega.

"Apa anda mengkhawatirkan Samael?" tanya Shion

Athena menggeleng, ia kembali memandang langit yang menggila

"Aku mengkhawatirkan tentang perang...perkataan Hades...Poseidon...Orion dan Lecca" katanya tanpa melepas pandangannya.

"Hades benar, aku ini terlalu naif atau mungkin saja aku memang pengecut." Ia terdiam sejenak "Aku menyandang gelar sebagai dewi perang, tapi Shion Aku tidak suka berperang." lanjutnya kali ini ia tertunduk lesu memandang lantai batu yang hitam dan dingin.

"Jangan berkata demikian Athena, itu bukan suatu kenaifan atau kepengecutan tapi semata-mata itulah kelembutan hati anda." hibur Shion

Athena mengangkat wajahnya, mata ungu lembutnya memandang Shion dalam. "Mungkin kau benar, meski menyandang dewi perang aku tak menyukai senjata dan darah. Aku tak ingin ada yang terluka, terutama kalian." lalu Athena terdiam masih memandang Shion dengan matanya yang lembut meneduhkan. "Tapi...bukankah dalam perjalanan hidupnya manusia pasti akan terluka Shion...Aku pernah mendengar pepatah lama, pelajaran yang tidak disertai rasa sakit tidak akan ada artinya karena manusia membutuhkan suatu pengorbanan jika ingin mendapatkan sesuatu, dan Lecca...gadis itu melakukan pepatah lama itu dengan sempurna..tapi Aku hanya bisa terdiam waktu itu, apakah itu namanya bukan pengecut." kata Athena wajahnya terlihat sedih waktu mengucapkan kalimat-kalimat itu "Aku sama sekali hanya membiarkan Lecca menjadi tumbal, dan sekarang ini dia..." Athena tidak bisa melanjutkan kalimatnya, ia memejamkan matanya dan menghela nafas panjang.

Shion hanya terdiam dia sama sekali tidak mengetahui kata-kata apa yang dapat membuat wanita yang ada di depannya, dapat terhibur setidaknya kekahawatirannya berkurang.

"Apa kau sudah menyampaikan pesanku?" tanya Athena

"Ya, mereka pasti sudah datang sudah hampir mendekati waktu yang di janjikan, Aku akan memeriksanya sekarang, ia berbalik meninggalkan Athena dan berjalan menuju aula Pope Chamber, terdengar suara orang gumaman bercakap-cakap dari arah aula, Shion menyibakkan tirai merah yang menutupi jalannya, langsung saja ruangan yang penuh dengan dengungan percakapan mendadak jadi sunyi, Shion memandang bekeliling, Shaka sedang asyik ngobrol dengan Shura dan Dohko, Aldebaran, Mu, Aphrodite, Deathmask.

"Baru kalian saja yang datang?" tanya Shion

"Mana Saga, Aiolos, Milo, Camus dan Aiolia?" tanyanya sambil melihat kearah Mu dan Aldebaran yang melewati semua istana dalam perjalanannya menuju ke Pope Chamber.

Mu dan Aldebaran tidak menjawab mereka hanya mengangkat bahu.

Athenapun muncul dari balik tirai, sama seperti Shion, dia memandang sekelilingnya memeriksa siapa saja yang datang

"Sudah lengkap...mari kita mulai" katanya.

Sementara itu di istana Gemini.

"Aiolos!" Saga menangkap lengan Aiolos menatapnya tajam dan terlihat sedikit kesal "Kau sama sekali tidak menjawab pertanyaanku." katanya "Aku yakin kau mengetahui tentang semua ini?! "Saga masih memegang lengan Aiolos sekarang makin erat, Aiolos menarik lengannya melepaskan diri dari pegangan Saga.

Mereka berdua saling berpandangan dalam diam. "Apa yang kau sembunyikan dariku Aiolos?" tanya Saga lagi. "Cepat kau katakan!"

Aiolos masih terdiam menatap Saga, Athena memang melarangnya bicara, pada awalnya Aiolos sama sekali tidak setuju dengan Athena karena Saga harus mengetahuinya, namun belakangan dia mengerti kenapa Athena menyuruhnya bungkam mengenai masalah ini, tapi sepintar-pintarnya kita menutupi bangkai toh pada akhirnya baunya akan tercium juga, cepat atau lambat Saga akan mengetahui kenyataan ini, kenyataan yang di sembunyikan Athena, karena tidak sulit untuk Saga mengetahuinya, orang seperti dia hanya dengan tatapan matanya, ia bisa mengintimidasi seseorang dan memaksanya buka mulut.

"Cepat katakan!" desak Saga, Aiolos menunduk dan menghela nafas.

"Kau ingin jawaban? Aku akan memberikannya, Saga, ikutlah denganku." kata Aiolos, ia berbalik.

"Jawab saja disini dan saat ini!"

Aiolos menghentikan langkahnya dan berbalik lagi, Saga memang keras bahkan pada dirinya sendiri , Aiolos kali ini tidak punya pilihan.

"Saat ini...semua Gold Saint sedang berkumpul di Pope Chamber."jelas Aiolos

Kening Saga berkerut, ia sama sekali tidak mengetahui tentang pertemuan ini, Aiolos menatap Saga lagi melihat reaksinya, benar saja Saga terlihat sedang berpikir, beberapa menit kemudian wajahnya berubah seperti orang yang baru saja memecahkan suatu teka-teki yang sangat sulit, tapi wajahnya tidak terlihat senang

"Apa latihan ini atas perintah Athena, untuk menjauhkan aku dari pertemuan itu?" tanya Saga

"Tepat." balas Aiolos singkat

Saga terlihat marah dan sedih ia tidak mengerti apa yang di sembunyikan Athena sampai-sampai ia harus di perlakukan seperti ini, ia merasa dirinya sudah tidak diperlukan lagi, di buang, disisihkan.

"Kuharap dirimu tidak berpikir yang macam-macam, Athena punya alasan sendiri untuk melakukan ini." ucap Aiolos seakan bisa membaca pikiran Saga.

"Alasan...seperti apa yang harus kudengar? Seben…"

"Kau akan menemukan jawabannya disana." potong Aiolos

Saga masih terlihat sangat marah, ia menatap Aiolos, sepertinya percuma bertanya pada Aiolos yang bersikeras tidak mau berbicara, satu-satunya cara adalah menuju Pope Chamber, ia pun berjalan melewati Aiolos tanpa bicara dan menuju kesana tidak mempedulikan hujan yang membasahinya serta kilat yang menggelegar. Aiolos masih terdiam di tempatnya memandang punggung Saga yang terlihat sedih, ia paham perasaan Saga dan juga mengerti maksud Athena, ia pun mengikuti Saga menuju Pope Chamber.

Kembali ke Pope Chamber,

"Lengkap? Yang mulia mereka belum datang, Aiolos, Saga, Aiolia, Camus, Milo Anda bilang lengkap?!" protes Shion

"Aiolos, bersama dengan Aiolia, kutugaskan untuk mengadakan latihan gabungan bersama Saga dan Kanon." jelas Athena

"Anda melakukan dengan sengaja?"

"Kau pikir Aku akan memberitahu Saga?!"

"Tapi Anda harus memberitahunya cepat atau lambat.."

"Aku tahu tapi tidak sekarang Shion!" tegas Athena

Shion hanya terdiam, dan tidak membantah lagi.

Athena sekali lagi memandang satu persatu saint-nya ia memejamkan mata dan menghela nafas panjang, lalu mengenyakan dirinya ke kursi batu, Shion berdiri di sampingnya.

"Aku...akan menjelaskan sesuatu pada kalian semua." katanya lalu ia terdiam sejenak lalu Athena menceritakan tentang Samael serta ketiga segelnya, peringatan penyerangannya, terhadap Underworld dan Marine Sanctuary.

"Anda mengetahui siapa yang akan menjadi utusan Samael untuk menyerang Sanctuary?" tanya Mu.

"Ya orang itu adalah..." kata-kata Athena terputus, wajahnya terlihat tegang memandang ke arah pintu masuk Pope Chamber.

"Ada apa Athena?" tanya Shion, mengikuti arah pandangan Athena, lalu dari pintu itu muncul Aiolos dan Camus, mereka langsung menghampiri Athena dan berlutut di depannya.

"Aiolos, bukankah kau seharusnya berlatih bersama Saga? Kenapa kau kemari?!" tanya Athena wajahnya masih terlihat cemas ia tahu, kalau Aiolos ada disini pasti Saga ada disini, benar saja Saga muncul beberapa detik kemudian

"Karena aku memintanya." kata Saga, rambutnya basah, air menetes dari jubah emasnya yang berkilauan, wajahnya terlihat sedih, dan menghampiri Athena.

"Saga..." ucap Athena

"Kenapa anda berhenti? Siapa utusan Samael itu yang mulia?" tanya Saga.

Athena memalingkan wajahnya lidahnya jadi kelu dia tidak bisa mengatakannya.

"Apa karena utusan ini kau menjauhkanku dari pertemuan rahasia pagi ini?" tanya Saga lagi, Athena kali ini memandang Saga.

"Apakah Aku masih saintmu yang mulia...?"

Athena baru membuka mulutnya

"Kenapa anda merahasiakan sesuatu dariku, kenapa aku tidak boleh tahu, aku...seperti di buang olehmu, apakah kau tidak memercayaiku lagi Athena?" kata Saga kali ini wajahnya benar-benar sedih dan terlihat kecewa.

"Tidak Saga...itu karena..." lagi-lagi kata-kata Athena terputus, samar terdengar tawa seseorang, tawa yang begitu kejam dan jahat.

"Siapa! Cepat tunjukkan dirimu!" teriak Aiolos yang langsung bangkit dan berdiri menghalangi Athena, ia merasakan cosmo yang tidak enak dari pemilik tawa itu

"Oh, halo semua..." pemilik tawa itu muncul dari balik pilar besar.

"Orion!" kata Shion sinis

"Salam yang mulia Shion, yang mulia Athena." katanya sambil membungkukkkan badannya, sabit besar itu masih bertengger di bahunya, ia melirik kearah Saga dan Aiolos, lalu menahan tawanya.

"Apa yang begitu lucu!?" ujar Shura

"Karena kalian ini begitu bodoh seperti orang buta, atau seperti anak ayam yang kehilangan arah, karena pemimpin kalian tidaklah bijak, menyembunyikan semua ini dari kalian?" Orion tertawa kecil. "Padahal serangan sudah di mulai" ia menggedikkan kepalanya pada Aiolos "Dimulai dari Gold saint Leo, Scorpio dan Saint Hamelin"

Athena dan Shion saling berpandangan, Aiolos terlihat geram.

"Apa kau mengetahui apa yang terjadi pada mereka dan mengetahui siapa yang melakukannya?"

Orion tertawa lagi. "Jangan tertawa! Katakan padaku!" sentak Aiolos

"Maaf...maaf...apakah Athena tidak memberitahumu Aiolos dan kau Saga apa kau juga tak mengetahuinya sama sekali, siapa biang keladi dari semua ini?" Orion tertawa keras."Lucu sekali. Anda memang baik hati yang mulia Athena." ejek Orion

"Kalau begitu cepat katakan sebelum kau kukirim ke Meikai!" ancam Deathmask

"Saint yang tempramental, aku kesini bukan menghabiskan tenagaku untuk meladeni kalian, lagi pula kalau aku melakukan itu dia akan tersinggung." balas Orion

"Lalu kau ini mau apa kemari?" tanya Aldebaran

Orion memiringkan kepalanya dan memejamkan matanya sambil tersenyum

"Hanya melihat-lihat saja hasil kerjanya" katanya

"Kalau kau sudah dapat buktinya pergi sekarang juga!" seru seseorang langkah kakinya terdengar nyaring, memantul di tangga pintu masuk Pope Chamber, Saga melebarkan matanya, semua Gold Saint menajamkan telinganya, rasanya suara itu tidak asing bagi Mereka, pemilik suara itu pun muncul bersamaan dengan menggelegarnya petir.

"Oh, kau sudah datang...Lecca" sapa Orion

"In..ini tidak..tidak, mungkin terjadi.." kata Saga tidak percaya setelah melihat sosok yang muncul.

"Ini tidak mungkin...dia.." kata Aphrodite

"Dia hidup kembali" sambung Camus

Lecca memandang satu persatu Gold Saint, dengan pandangan sinis, dan memandang tajam Saga dan Athena, kebencian jelas terlukis di matanya

"Berantakan sekali kau." kata Orion, melihat baju Lecca banyak cipratan darah

"Sedikit bermain dengan para Bronze dan Silver Saint yang menghalangi aku masuk. Lumayan untuk pemanasan sebelum aku bertemu dengan yang terkuat diantara para Saint." katanya dingin

Saga memandang Athena. "Jadi ini?" tanya Saga pelan

"Bukan maksudku untuk menyembunyikan ini semua darimu Saga bagaimana bisa aku mengatakan padamu kalau utusan itu Lecca, bagaimana aku bisa memerintahkanmu agar kau bertarung dan menghabisi orang yang paling kau cintai." kata Athena.

"Bagaimana aku bisa!" katanya lagi, Shion memeluk Athena, semua tubuhnya gemetar perang ini tak terhindarkan, ia memandang ke arah Lecca, gadis itu memandangnya benci. Athena sangat tidak nyaman dengan tatapan Lecca.