Bagi Sehun, Luhan adalah gadis manja dan kekanakan. Namun kenyataannya Luhan lebih kuat dan mandiri dibandingkan apa yang Sehun bayangkan. Dan pada akhirnya, sesuatu menimpa dan penyesalan tidak dapat terelakkan.

~A Chance~

Chapter 11

The Previous Chapter…

"Luhan…"

"Hiks…"

"Ayo kita menikah."

Warning! Typo(s) detected!

"..."

Luhan membeku dalam sekejab. Mata rusanya yang masih memerah akibat demam, berpendar lurus di mata tajam Sehun. Mencari celah canda disana dan -sayangnya- ia tidak menemukannya di paras tampan itu.

Apa Sehun sedang dalam mode serius?

Atau, Luhan yang salah dengar? Ia sedang sakit dan kemungkinan besar inderanya tidak berfungsi dengan baik untuk mencerna ucapan Sehun. Mungkin Sehun mengajak Luhan untuk 'tidur' bukan 'menikah' seperti yang Luhan dengar. Ya, mungkin seperti itu.

"S-sepertinya aku salah dengar."

"Aku serius, Lu. Aku ingin menikahimu. Dan kau tidak salah dengar."

Dan disaat Luhan tengah bingung dengan isi pikirannya, maka Sehun seolah menyiram bensin dalam bara api. Pria itu memperjelas lagi, menunjukkan bahwa dirinya tidak salah minum obat ataupun mabuk atau Luhan yang salah dengar.

Nyatanya Luhan sama sekali tidak salah dengar. Sehun serius ingin melamarnya. Melamar Luhan. Melamar gadis yang tengah sakit itu untuk menikah dengannya.

Otomatis jantung Luhan berdetak tak terkendali. Pipinya semakin hangat dan merona. Tidak menyangka Sehun akan melamarnya, biarpun ketika ia sendiri tengah berbaring di atas ranjang dan di samping Luhan yang terserang sakit.

Tapi bagaimana cara Sehun melamarnya tidaklah berarti. Yang terpenting adalah bagaimana Sehun membuktikan kesungguhannya untuk mencintai dan melindungi gadis itu tanpa terkecuali.

"Aku tahu hubungan kita masih singkat, bahkan terlalu singkat. Tapi aku hanya ingin berdiri dihadapanmu, melindungimu, dan selalu ada saat kau membutuhkanku."

Luhan kehilangan deretan kosa kata dalam otaknya. Pikirannya terasa buntu. Terus terang Luhan tidak tahu bagaimana menanggapi perkataan Sehun itu. Merasa bahagia? Tentu. Siapa yang tidak bahagia mendapat lamaran dari sosok pria yang menjadi ekspektasi Luhan selama ini? Siapa yang tidak bahagia ketika sebentar lagi menikah dengan pria yang kau cintai?

Tapi...

Air muka Luhan berubah muram tatkala sebuah ingatan menendang keras ekspektasi indahnya. Ingatan tentang kerumitan-kerumitan yang masih ada dihidupnya saat ini.

Ada banyak masalah yang masih harus Luhan selesaikan. Mengetahui secara detail penyebab kedua orangtuanya, sebab Luhan belum mendapat titik terang satupun dari pihak berwajib. Belum lagi masalah tentang perusahaan Ayahnya yang akan jatuh ke tangan orang lain. Belum lagi kemungkinan besar ia harus meninggalkan Yixing sendiri demi mengikuti Sehun tinggal, Luhan belum siap melakukannya. Luhan membutuhkan waktu mempersiapkan diri untuk menjadi seorang istri, dan tidak mungkin dalam waktu dekat.

Satu hal lagi, bagaimana cara Luhan menjelaskan pada Sehun tentang keraguan yang tersisa -secuil- dihatinya. Bagaimanapun ia dan Sehun baru berbaikan dalam kurun waktu dua hari. Bukankah terlalu cepat dan terkesan terburu-buru untuk mengambil satu keputusan besar itu?

"Ya Tuhan, maafkan aku, Lu." Tiba-tiba Sehun beringsut memeluk Luhan lebih erat. Luhan tersentak mendengar permintaan maaf itu. Apa Sehun menyesal telah mengajaknya menikah?

"Tidak seharusnya aku melamarmu dalam kondisi sakit seperti ini. Harusnya aku memikirkan waktu yang paling tepat.", lanjut Sehun, menyadari kesalahan dalam kata-katanya untuk mengajak gadis yang baru resmi menjadi kekasihnya beberapa hari yang lalu itu. Rupanya keterdiaman Luhan membuat Sehun menyadari kesalahannya.

Tak urung kalimat selanjutnya Sehun membuat Luhan lega bukan main. "Maaf, aku belum bisa menjawabnya."

"Sssst... Tidak perlu difikirkan. Lebih baik sekarang kita tidur. Badanmu masih perlu istirahat yang cukup."

Luhan mengangguk dan membiarkan tubuhnya kembali ditarik Sehun lebih dekat hingga Luhan mampu mendengar detakan jantung Sehun yang sama sepertinya. Keras, cepat, namun menenangkan.

"Selamat tidur, Lu. Aku mencintaimu."

Luhan tersenyum tipis. Pernyataan Sehun berhasil membuat Luhan menyambut mimpinya dan tidak lagi memikirkan perkataan Sehun seperti yang pria itu ucapkan.

...

Tap... tap... tap...

Satu langkah Baekhyun ambil, maka satu langkah pula Chanyeol menggerakkan kakinya. Dijarak dua meter, Chanyeol masih mampu mendengar isakan kecil dari bibir Baekhyun yang berjalan didepannya. Sesekali gadis itu akan mengangkat tangannya untuk mengusap air mata atau ingusnya dengan kasar. Membuat Chanyeol menahan diri untuk tidak menghentikan perilaku Baekhyun yang akan menyakiti wajahnya sendiri itu.

Sayangnya Chanyeol memutuskan untuk hanya mengekori Baekhyun di belakang, alih-alih meminta Baekhyun berhenti dan mendengarkan penjelasannya seperti yang selalu ia lakukan. Kali ini Ia berfikir untuk sedikit lebih dewasa dalam menghadapi Baekhyun dan hubungan mereka, setelah Chanyeol menyadari jika ia selalu mengikuti egonya ketika bertengkar dengan Baekhyun di waktu lalu.

Setidaknya Chanyeol harus pintar pintar mengendalikan emosinya agar tidak ikut tersulut emosi seperti Baekhyun. Well, biarpun tidak mudah tetapi Chanyeol bersikeras untuk merubah sikap lamanya yang mudah meledak, demi hubungannya dan Baekhyun yang selalu berdiri di tepi jurang perpisahan.

"Berhenti mengikutiku, Park Chanyeol!", seru Baekhyun tiba-tiba membalikkan tubuhnya dan menatap Chanyeol garang. Diikuti Chanyeol dari belakang membuat Baekhyun risih, terlebih Chanyeol tidak mengejar dan membujuknya seperti yang Chanyeol selalu lakukan ketika mereka bertengkar.

Biasanya Chanyeol akan berusaha meminta maaf, atau lebih parahnya pria itu ikut tersulut emosi dan berujung pada kata 'putus' yang langsung disesali oleh keduanya. Bukan justru bersikap santai dan seolah membiarkan Baekhyun berdiri dengan kepala mendidih siap menyerukan kekesalannya.

Bukan, bukan karena Baekhyun menginginkan bertengkar atau putus dengan Chanyeol. Jujur saja ia sudah lelah putus nyambung dengan Chanyeol dan semuanya karena alasan yang sama. Tapi Baekhyun sangat paham jika Chanyeol adalah sosok yang tidak mudah menahan emosi, sama seperti dirinya. Berlanjut pada sikap keduanya yang mempertahankan ego masing masing dan menyesal beberapa saat kemudian.

"Aku hanya ingin memastikan kau sampai di flatmu dengan aman.", jawab Chanyeol dengan suara yang dibuat sesantai mungkin. Tangannya tersimpan di saku celana dan ia tersenyum. Senyum yang mampu membuat kening Baekhyun berkerut.

Benarkah pria itu adalah Chanyeol yang ia kenal?

"Kenapa berhenti? Kau ingin pulang, kan?", tanya Chanyeol, tertawa dalam hati melihat raut kebingungan di wajah Baekhyun.

Tak lama Baekhyun menghembuskan nafas dan kembali berbalik untuk melangkah. "Aku bisa pulang sendiri. Jangan mengikutiku lagi.", ucapnya dalam suara kecil yang untungnya masih di dengar oleh Chanyeol yang tertinggal di belakang.

"Sudah kubilang aku hanya ingin memastikan kau selamat sampai flatmu."

Sementara Chanyeol tersenyum lebar tanpa suara dan tanpa suara kembali mengekori Baekhyun kemanapun gadis itu melangkah. Bahkan hingga Baekhyun menaiki bis dan menduduki kursi penumpang, Chanyeol ikut naik dan duduk di kursi paling belakang. Tak jarang Baekhyun mencuri pandang ke arah Chanyeol dan pria bertubuh tinggi itu akan tersenyum manis memperlihatkan deretan giginya. Benar-benar menunjukkan 'sisi lain' dari dirinya yang tenang dan menghiraukan wajah sembab Baekhyun sama sekali.

"Pulanglah, Chan.", ucap Baekhyun untuk ketiga kalinya meminta Chanyeol untuk berhenti mengikutinya. Saat ini mereka sudah turun dari bus dan berdiri di depan sebuah gang kecil tempat flat Baekhyun berada. "Kau punya pekerjaan yang lebih penting daripada mengikutiku tanpa bicara dan melakukan sesuatu seperti itu."

Setidaknya membujuk pacarmu ini agar tidak menangis, bodoh!, batin Baekhyun memberontak. Ia terbiasa dengan ledakan emosi Chanyeol dan pelukan pria itu setelahnya, sembari menggumamkan kata maaf yang otomatis meredakan emosi dan tangisan Baekhyun, tapi Chanyeol tidak bergeming untuk melangkah lebih dekat.

"Apa yang kau ingin aku lakukan?", tanya Chanyeol, satu langkah mendekati kekasih mungilnya.

Mata Baekhyun kembali mengembun. Haruskah Chanyeol bertanya padahal Baekhyun yakin Chanyeol tahu jawabannya.

"Apa kau ingin aku berbicara sesuatu?" Chanyeol mengambil dua langkah.

Mata Baekhyun semakin memberat oleh desakan kristal beningnya.

"Jawab aku, Baekhyun." Chanyeol mengambil langkah ketiganya, bersamaan dengan dua aliran sungai yang mengalir di pipi mulus Baekhyun. Tangan Chanyeol bertahan disisi tubuhnya sementara matanya menatap lurus di mata berairBaekhyun yang berada di jarak satu langkah dengannya.

"Memelukku.", jawab Baekhyun dengan suara tercekat. Sedikit terkejut dengan jawaban yang keluar dari pita suaranya sendiri.

"Kau mendapatkannya." Langkah terakhir Chanyeol membawa dirinya berdiri tepat dihadapan Baekhyun. Segera kedua tangannya melingkar di lengan Baekhyun, memenjarakan tubuh mungil Baekhyun yang kontras dengan tinggi tubuhnya yang menjulang. Sementara Baekyun menyerukkan kepalanya di dada Chanyeol sembari meremas kemeja biruyang dipakai lelaki itu. Membasahi bagian depan si kemejadengan air matanya yang tak kunjung berhenti.

Heol. Kenapa ia menjadi cengeng akhir-akhir ini?

"Sshh… berhenti menangis, Bee." Chanyeol sedikit menggerakan tubuh dan mengayunkan Baekhyun ke kanan dan ke kiri sembari menyelipkan sedikit senyum. Sejujurnya Chanyeol tidak mampu melihat Baekhyun-nya menangis sejak awal, tapi ia berpura-pura untuk tidak perduli terhadap itu.

"Byun Baekhyun, aku tidak akan mengulang ucapanku untuk kedua kalinya, jadi dengarkan baik-baik.", ucap Chanyeol dan Baekhyun tidak merespon apapun. Hanya diam. "Pertama, aku tidak bermaksud untuk membuatmu selalu khawatir karena ibuku. Kemarin, saat Ibu pada akhirnya melepas kita berdua, aku sama leganya dengan dirimu. Aku bahagia, Baek. Sangat bahagia. Aku tidak menyangka hari itu akhirnya datang kepada kita."

"Dan kemudian aku menyadari sesuatu. Ibuku adalah sosok yang tidak mudah menyerah akan keinginannya, itulah yang aku ketahui selama sebagian besar hidupku mengenalnya. Ibuku memiliki jutaan ide cerdik yang aku-pun tidak mampu mengetahuinya. Dan ia, tidak akan semudah itu mengatakan kata 'terserah', terlebih untuk urusan putra tunggalnya."

"Tapi ada satu hal yang harus kau ingat. Tidak perduli seberapa gilanya ibuku bertindak buruk kepadamu nanti, tidak perduli bagaimana cara Ibuku untuk memisahkan hubungan kita besok, aku akan tetap melindungimu. Percayalah aku berada didepanmu untuk melindungimu dan berada dibelakangmu untuk mengawasimu. Demi Tuhan, aku tidak akan mengingkari janjiku, Baekhyun."

Remasan dari tangan yang bergetar di kemeja Chanyeol menjadi respon Baekhyun. Gadis itu tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk membalas Chanyeol. Ia speechless. Emosinya terbang entah kemana bersama angin yang barusaja berhembus pelan.

"Kedua. Ibuku memang tidak memiliki kosa kata menyerah dalam hidupnya. Begitupun dengan putra yang mewarisi sifatnya, aku. Aku tidak akan menyerah di kaki Ibuku, demi kau dan demi hubungan kita."

Perlahan remasan tangan Baekhyun terlepas, dan kini kedua ranting tangannya tergerak memutari tubuh Chanyeol. Mempertemukan jemarinya di punggung Chanyeol, sama seperti yang pria itu lakukan pada tubuhnya.

"Dan ketiga, kau harus tahu betapa susahnya aku menahan diri untuk tidak ikut terbawa emosi sepertimu. Kau tahu sendiri 'kan bagaimana watak kerasku? Aku takut akan mengulang hal yang sama jika lagi lagi ikut emosi dan bertengkar denganmu."

Mengulang hal yang sama. Baekhyun sangat paham apa maksud kalimat itu. Apalagi kalau bukan perpisahan? Karena nyatanya Ia dan Chanyeol bukan tipe manusia yang mudah mengalah.

"Aku menahan diri bahkan hingga harus mengabaikan tangisanmu. Mianhae.", lanjut Chanyeol.

"Kau menyebalkan!", ujar Baekhyun dengan tangan kembali terurai dan terkepal memukul dada Chanyeol. "Kau membuatku berfikir bahwa itu tadi bukan dirimu!"

"Benarkah? Apa aktingku sangat bagus? –akh!"

Satu cubitan diperut harus diterima Chanyeol sebagai akibat dari ucapannya. Meringis sebentar kemudian tertawa kecil, dan mau tidak mau Baekhyun ikut tersenyum. Menghilangkan seluruh udara permusuhan yang sempat dihembuskan oleh gadis itu.

Chanyeol kembali membawa Baekhyun kedalam pelukannya. Mengelus lembut punggung gadis itu dan menghantarkan kehangatan diantara hembusan angin musim gugur. Baekhyun yang sudah berhenti menangis hanya menikmati elusan tangan Chanyeol dipunggungnya.

"Haruskah kita disini semalaman?", tanya Baekhyun.

"Tidak masalah. Selama kau tetap dipelukanku."

Dugh!

"Akh! Sakit, Baek!"

Baekhyun meleletkan lidahnya dan berlalu begitu saja, mengabaikan Chanyeol yang kesakitan di belakangnya akibat tendangannya di tulang kering Chanyeol. Ia berjalan hingga mencapai depan flat-nya sambil terus tertawa.

"Aku menunggumu sejak tadi dan kau malah sibuk berpacaran."

Tawa Baekhyun lenyap, tergantikan oleh keterkejutan yang terlihat jelas. "T-taehyung?"

"Seleramu cukup tinggi juga, adik kecil." Taehyung bersiul menemukan sosok pria yang mengikuti Baekhyun di belakang. Dari penampilannya saja Taehyung sudah menduga adiknya menjalin hubungan dengan seseorang berharta melimpah.

Tanpa sadar Baekhyun mengepalkan kedua tangan disisi tubuhnya. Untuk apa lagi lelaki ini datang kepadanya?

"Jika tidak ada sesuatu yang penting sebaiknya kau pergi!", ucap Baekhyun penuh menekanan. Ia terlanjur membenci sosok pria ini dan menyesalkan keadaan kenapa ia harus memiliki kakak seorang pembunuh.

"Oh, santai adik kecil." Taehyung mencoba menyentuh pundak Baekhyun namun Baekhyun lebih dulu menepisnya. "Aku hanya ingin melihat keadaanmu. Dan ternyata kau masih sangat sehat hingga berhasil menemukan pria kaya."

"Aku tidak butuh komentarmu." Baekhyun segera menarik Chanyeol sebelum pria itu membuka mulut untuk bertanya siapa pria yang sempat berbincang dengan kekasihnya.

Brak!

Menutup pintunya dengan keras tanpa perduli dengan kemungkinan ia akan merusakkan pintu.

"Siapa pria tadi?", tanya Chanyeol dengan nada penuh kecurigaan.

Baekhyun memilih untuk duduk di ranjangnya dan memejamkan mata sejenak. "Kakakku.", jawabnya singkat.

"Kau mempunyai kakak? Kenapa kau membiarkannya diluar? Kenapa tidak menyuruhnya masuk? Kenapa-"

"Aku memang memiliki kakak laki-laki dan aku tidak sudi menyuruhnya masuk."

"Tapi-"

"Chan, please. Jangan membicarakannya sekarang dan aku akan menjelaskannya besok. Aku mengantuk."

Baekhyun memunggungi Chanyeol dan Chanyeol hanya menghela nafas. Tidak mengerti kenapa mood Baekhyun berubah buruk secepat kilat padahal beberapa menit lalu masih tertawa terbahak-bahak.

"Arasseo. Tidurlah. Aku akan menjagamu kalau kakak-yang-tidak-ingin-kau-temui itu memaksa masuk."

Chanyeol beringsut berbaring di belakang Baekhyun dan memeluk Baekhyun dari belakang. Menyamankan diri untuk ikut menyambut mimpi di atas ranjang Baekhyun yang sempit.

...

Pukul dua pagi. Waktu yang masih terlalu pagi untuk bangun, namun mata Sehun harus terpaksa terbuka oleh sesuatu yang mengusik tidurnya. Nyawanya masih belum terkumpul kendati ia menyadari sesuatu yang memgusiknya berasal dari Luhan yang dipeluknya.

Apa? Luhan?

"Mama...Ssshh…"

Desisan Luhan berhasil membuat rasa kantuk Sehun hilang dalam sekejab. Lelaki itu lantas menjauhkan tubuhnya untuk memperjelas pendengarannya tidak salah.

"Mama..."

Tangan Sehun terangkat memeriksa kening Luhan dan matanya melotot mengetahui suhu tinggi disana. Belum lagi peluh yang membanjiri sebagian besar wajah Luhan membuat hati Sehun digerogoti kekhawatiran luar biasa.

"Dinginhh..."

"Kita ke Rumah Sakit. Sekarang."

"J-jangan... Ku-kumohon Sehunh..."

Tangan Luhan terangkat, menggapai udara seakan meminta Sehun untuk kembali memeluk dan memberi kehangatan untuknya. Tubuh Luhan terasa dingin bukan main, meski tubuh luarnya tetap panas. Kondisi ini sangatlah menyiksanya dan menyiksa Sehun lebih parah.

Dengan lembut Sehun menyeka peluh di kening Luhan. Gadis itu tetap menggigil dan mengigau kacau. Sehun berfikir keras menemukan cara yang terbaik selain membawa Luhan ke Rumah Sakit di pagi buta seperti ini. Meminta Jongin untuk datang, Sehun juga tidak sampai hati untuk mengganggu jam tidur sahabatnya itu.

Alhasil Sehun hanya turun untuk mengganti air kompresan Luhan dengan air dingin baru. Itupun ia tidak tega meninggalkan Luhan meski sebentar dengan badan menggigilnya. Berniat mengompres kening panas dan berpeluh Luhan dengan air yang dibawanya.

"Tuan Muda?"

Sehun menghentikan langkahnya di tangga dan menoleh ke asal suara. Sosok wanita berumur enam puluh tahunan berdiri seraya membawa nampan yang tidak Sehun ketahui isinya.

"Bibi Jung?" Sehun ingat nama wanita itu, seorang pelayan senior yang sudah bekerja selama setengah hidupnya disini. "Aku hanya ingin mengganti air untuk mengompres Luhan. Apa yang Bibi lakukan malam-malam seperti ini?"

"Apa Nona Luhan belum membaik?", tanya Bibi Jung, lalu melangkah mendekati Sehun yang mengernyit bingung. "Saya hanya tidak bisa tidur. Keadaan Nona Luhan membuat saya tidak bisa tenang. Karena itu saya berniat melihat keadaan Nona Luhan dan membawakan teh ginseng ini untuknya."

"Terima kasih, Bi. Kalau begitu biar aku yang membawanya ke atas. Bibi istirahat saja.", tawar Sehun.

"Baik, Tuan Muda." Sehun meletakkan ember kecil berisi kompresan di sebelah cangkir dan Bibi Jung menyerahkan nampan itu ke tangan Sehun.

Wanita itu lalu membungkuk sopan sebelum berlalu dari hadapan Sehun.

Sehun menaiki tangga dengan langkah pelan. Ia juga meminimalisir gerakannya saat membuka pintu kamar Luhan. Matanya langsung tertuju pada tubuh Luhan yang bergelung dalam selimut tebalnya, seakan merasakan kedinginan luar biasa dalam lindungan selimut itu.

Sehun semakin mendekat dan meletakkan nampan di atas meja nakas. Menduduki ranjang di samping Luhan yang kosong.

"Luhan-ah, bangun sebentar.", ujar Sehun lembut dan mengusap kembali peluh di kening kekasihnya. Luhan bergerak pelan, mata sayu dan wajah pucat pasinya tertangkap oleh pandangan Sehun.

Tidak ada kata terucap, namun Sehun bergerak untuk membantu Luhan bersandar di kepala ranjang dengan bantal sebagai sandarannya. Luhan kembali menggigil hingga gemeletuk giginya terdengar jelas di telinga Sehun.

"Minumlah teh hangat ini." Luhan menurut dan menyesap teh itu pelan dengan tangan Sehun yang memegang cangkirnya.

"Sudah?"

Luhan mengangguk dan kembali berbaring, masih dengan bantuan Sehun pada tubuh lemahnya.

Dengan sabar Sehun meletakkan cangkir itu di atas meja nakas dan memeras kain kompres untuk diletakkan di dahi Luhan. Ia kemudian kembali di tempatnya semula dengan posisi Luhan dalam dekapannya.

Luhan kembali tenang dan tidak menggigil separah tadi, setidaknya dalam waktu dua puluh menit. Tepat ketika Sehun memutuskan untuk kembali terlelap, Luhan kembali bergerak dan menggulung tubuhnya lebih parah. Detik itu juga Sehun tidak merasakan kantuk ataupun keinginan untuk istirahat sama sekali.

"Luhan, Luhan-ah... katakan padaku mana yang sakit?", tanya Sehun dalam keadaan cemas bukan main. Sungguh, kalau saja Luhan tidak memohon dan memelas dengan wajah sayunya untuk tidak membawanya ke Rumah Sakit, mungkin Sehun akan nekat mengendarai mobil ke Rumah Sakit sendiri dan membiarkan Luhan mendapatkan perawatan intensif disana.

"D-dingin Sehun... sangat dingin..."

Sehun mengecek mesin AC di sudut ruangan untuk memastikan bahwa ia sudah mematikannya tadi. Benar, AC sudah mati tapi bagaimana mungkin Luhan masih merasakan kedinginan?

Satu-satunya solusi sempat melintas dipikiran Sehun. Ia memandang Luhan cukup lama, seolah mempertimbangkan apakah keputusannya kali ini benar? Butuh waktu beberapa detik sebelum Sehun tersentak mendengar rintihan Luhan memenuhi indera pendengarannya.

Tidak ada pilihan lain.

Sehun cepat-cepat membuka t-shirtnya hingga menampilkan bagian atas tubuhnya yang kurus tapi berotot. Sementara ia melempar t-shirtnya ke sembarang arah, ia mengerahkan tangan kanannya untuk membuka selimut Luhan dan melepaskan kancing-kancing piyama gadis yang masih merintih kedinginan itu. Si gadis tidak menolak dan pasrah pada tubuhnya yang masih lemas. Ia membiarkan Sehun melakukan apapun selama itu bisa 'menyelamatkannya' dari siksaan suhu tubuhnya.

Sehun berhasil meluruhkan piyama atasan Luhan hingga Luhan berakhir bertelanjang/ Melihat Luhan nyaris bertelanjang, tidak serta merta membuat nafsu kelelakian Sehun meningkat, ia tidak menyisakan otaknya untuk berfikiran kotor sedikitpun.

Satu-satunya tujuan dirinya adalah mengembalikan kondisi Luhan seperti awal mula.

Menghangatkan tubuh Luhan dengan tubuhnya. Itulah yang sempat dipikirkan Sehun, setelah ia pernah mendapat perlakuan yang sama dari sang Ibu ketika ia kecil dulu. Ia melakukan hal sama pada tubuh Luhan, memeluk tubuh mungil gadis itu hingga benar-benar menempel dengan tubuhnya.

"Kumohon cepatlah sembuh...", bisik Sehun lirih. Tidak dipungkiri jika hatinya benar-benar sakit melihat Luhan-nya seperti ini.

...

Kicauan burung dan tiupan angin sejuk menyapa jendela besar sebuah kamar dengan dua penghuni di dalamnya. Sinar mentari bersinar dengan cerahnya, mengintip dan membias cahayanya hingga berhasil mengusik tidur seorang gadis yang bergelung nyaman di pelukan seorang pria yang tidak tidur semalaman demi menjaga gadis itu.

"Sudah bangun?"

Mata rusa Luhan mengerjap begitu mendengar kalimat pertanyaan itu. Ia sedikit mendongak untuk menatap Sehun yang juga tengah menatapnya dengan teduh. Wajahnya sudah kembali merona, berbeda dari wajah pucat yang semalam Sehun lihat.

"Hm.", jawabnya dengan gumaman.

Sehun mengangkat punggung tangannya di kening Luhan untuk memeriksa suhu tubuh Luhan, hal yang ia lakukan puluhan kali selama pagi buta tadi.

"Apa ada yang masih sakit?"

Luhan menggeleng pelan. Matanya masih setia menatap Sehun, entah apa yang ada dipikirannya.

"Kau tidak tidur, ya?", balasnya dengan kalimat pertanyaan.

"Aku tidak bisa tidur. Syukurlah kalau tidak ada yang sakit. Dan juga, demammu sudah turun." Bibir Sehun mengembang penuh kelegaan. Luhan tidak perlu tahu betapa cemasnya Sehun tadi malam hingga kehilangan sebagian waktu tidurnya. Yang pasti, melihat kondisi Luhan yang jauh lebih baik dari semalam membuat Sehun lega bukan main.

"Terima kasih sudah menjagaku, Sehun." Tangan Luhan meraba permukaan wajah Sehun pelan dan berhenti pada kantung mata pria itu. Mengusapnya perlahan seolah berusaha menghilangkan kantung mata yang mengganggu ketampanan seorang Oh Sehun.

Mata Sehun terpejam menikmati sentuhan tangan Luhan diwajahnya. Ia bisa saja tidur kalau tidak ingat sekarang sudah pagi dan ia harus kembali bekerja.

Oh ya, bekerja.

Kontan mata Sehun kembali terbuka dan melirik jam digital di meja nakas. Pukul setengah tujuh, dan ia harus sudah di kantor pukul delapan.

Dengan malas Sehun mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi untuk merenggangkan ototnya yang kaku, terutama lengan kirinya yang tidak berhenti menjadi bantalan kepala Luhan. Sementara Luhan, hanya mengawasi pergerakan Sehun dengan kening berkerut tajam.

Aneh, pikir Luhan dalam hati. Ia merasa aneh pada Sehun tapi ia tidak tahu apa itu. Keningnya masih berkerut meski Sehun sudah bangun dan memperlihatkan tubuh atasnya yang telanjang.

Apa? Telanjang?

Cepat-cepat Luhan mengalihkan pandangannya ke lain arah. Jadi ini yang membuat Sehun terlihat aneh dimatanya? Karena Sehun bertelanjang dada? Kenapa Sehun harus bertelanjang meski hanya menemaninya tidur?

Dan Kenapa Luhan tidak menyadarinya dari awal? Termasuk menyadari jika tubuhnya juga bertelanjang di bagian atas tubuhnya.

"Ada apa, Lu?" Sehun bertanya meski ia tahu jawabannya. Sekarang tinggal menunggu bagaimana respon Luhan setelah mengetahui dirinya juga setengah telanjang di balik selimut.

"T-tidak. Hanya…"

"Luhan, tatap aku." Sehun menjepit dagu Luhan dengan jemarinya, memaksa si gadis untuk menatap mata tajamnya. "Dengarkan penjelasanku baik-baik, oke?"

Luhan mengangguk walaupun ia tidak tahu apa yang perlu dijelaskan Sehun.

"Aku tahu ini akan mengejutkan untukmu, dan aku tidak tahu pasti responmu setelah ini. Tapi, aku minta maaf dan biarkan aku jujur tentang alasanku melakukan ini. Sebab aku tidak bisa berfikir jernih saat melihatmu kedinginan tadi malam. Dan tiba-tiba aku ingat jika ibuku pernah melakukan hal yang sama padaku ketika masih kecil. Jadi, yeah, aku melakukan hal yang sama. Kuharap kau tidak marah kepadaku."

Mata rusa Luhan berkedip berulangkali dan keningnya mengkerut. Sungguh, ia tidak tahu apa yang dibicarakan Sehun. Melakukan apa? Kenapa ia harus marah?

Mengetahui Luhan masih tidak paham dengan 'kode' yang diberikan, Sehun hanya menghela nafas dan mengecup singkat kening Luhan yang berkerut. Ia tidak memiliki banyak waktu lagi untuk menuntaskan rasa penasaran Luhan dan menjelaskan lebih jelas.

"Kau akan segera mengetahuinya. Aku akan mandi dulu."

Sehun menyibak selimut yang membungkus bagian kakinya dan berjalan menuju kamar mandi. Baru saja ia menutup pintu, teriakan terdengar dari luar dan Sehun tidak perlu mengeceknya.

"Maaf, Lu.", gumamnya sambil tersenyum geli.

...

Senyumam enggan pergi dari wajah tampan Sehun yang biasanya terkenal dengan watak dinginnya. Jika biasanya ia datang ke kantor dengan aura dingin dan penuh ketegasan, maka pagi ini para pegawainya dapat bernafas lega karena sang Presdir justru menampilkan sisi bersahabatnya. Membalas setiap sapaan dan senyuman pegawai yang ditujukan untuknya.

Presdir Oh sedang dalam mood yang baik. Mungkin itu adalah satu kalimat yang dipikirkan hampir setiap orang yang melihat Sehun hari ini.

Mereka tidak tahu saja kalau Oh Sehun sedang mengingat kejadian lucu yang dialaminya tadi pagi. Terdengar tidak punya hati memang. Saat Luhan dalam kondisi yang masih sakit dan Sehun –setelah mandi- justru menertawakan kegugupan gadis itu dan ekspresi terkejutnya yang menggemaskan serta bagaimana cantiknya Luhan saat wajahnya memerah sempurna hingga ke telinga.

Sehun menggelengkan kepalanya berulang kali. Tidak, ia harus fokus bekerja hari ini. Ada banyak pekerjaan dan segunung file yang harus ia periksa sebelum dibubuhi tanda tangan sebagai persetujuannya. Belum lagi memeriksa pekerjaan Sekretaris Lee selama Sehun mengambil jatah cutinya kemarin. Intinya tidak ada waktu istirahat bagi Presdir Oh Sehun hingga waktu kerjanya berakhir dan mungkin ditambah dengan waktu lembur.

"Yeah, semangat Oh Sehun!", ucapnya menyemangati diri sendiri. Mulai menyalakan computer dan melepas jas kantornya di sandaran kursi kebesarannya.

Mata tajam Sehun mulai menelusuri satu persatu file yang tertumpuk manis di mejanya. Hingga tidak sengaja matanya tertumbuk pada sebuah map yang ikut tertumpuk di antara file perusahaannya.

Sebuah map yang Sehun dapatkan dari Kepala Pelayan Seo kemarin.

Tidak butuh waktu lama, Sehun mengambil map itu diantara file lain yang perlu ia koreksi dan membuka isinya. Memperlihatkan beberapa lembar kertas dengan symbol Rumah Sakit dan satu lembar lain yang beratasnamakan Kantor Kepolisian Seoul. Kening pria itu berkerut membaca setiap kata pada lembar per lembar kertas disana.

"Daftar panggilan ponsel?", gumam Sehun ketika membaca satu lembar lain. Lembaran yang tertulis daftar panggilan di ponsel milik Tuan Xi. Dengan cepat Sehun menyambar ponselnya dan menelepon seseorang.

"Hallo?"

"…"

"Selidiki pemilik nomor ponsel yang kukirimkan. Dan cari tahu tempat yang dikunjungi Tuan Xi sebelum kecelakaan itu terjadi."

"…"

"Ya. Secepatnya."

Klik!

Sehun memijit pelipisnya yang terasa pening, lalu menelungkupkan kepalanya di meja kerjanya yang terlihat sibuk. Entah kenapa setelah membaca file itu sekilas, pikiran Sehun langsung tertuju pada Luhan. Sehun tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Luhan setelah membaca file ini.

Tidak, Luhan tidak boleh mengetahui akan hal ini. Sehun tidak ingin melihat Luhan kembali murung teringat kepergian orangtuanya yang pergi dengan cara tragis. Sehun harus menyembunyikan hingga nanti di waktu yang tepat.

"Kantor bukan tempat tidur, jika aku boleh mengingatkan."

Suara di depan pintu memaksa Sehun mengangkat kepala dan ia mendecih malas menemukan sosok pria berkulit tan yang ditakdirkan sebagai sahabatnya.

"Perasaanku saja atau kau memang sangat sering datang menemuiku? Ada apa lagi kali ini?", tanya Sehun dan menghampiri Jongin di sofa.

Gantian Jongin yang mendecih. "Kau fikir aku sudi datang kemari? Kalau bukan karena Kyungsoo aku tidak mungkin ada disini dan meninggalkan pekerjaanku di Rumah Sakit.", jawab Jongin malas. Meski ia sedikit berbohong karena nyatanya shift kerjanya dimulai sore nanti yang berarti ia free pagi ini.

"Kyungsoo Noona? Kenapa dia menyuruhmu menemuiku?"

"Dia ingin mengundangmu makan malam di rumah besok malam. Itupun kalau kau tidak sibuk dengan pekerjaanmu atau kekasih barumu."

"Oh, apa kau sudah naik pangkat?"

Bantal sofa terlempar di wajah tampan Sehun dan pria itu tertawa. Wajah masam Jongin menjelaskan bahwa dirinya tidak mungkin naik jabatan di tahun keduanya ia menjadi dokter.

"Serius. Dalam acara apa kalian mengundangku makan malam?"

"Merayakan kehamilan Kyungsoo yang ke sepuluh minggu."

"Kyungsoo Noona hamil?!", tanya Sehun tidak percaya.

"Ya. Dan kami baru tahu kemarin malam. Jadi, ya, kami memutuskan untuk merayakannya."

"Suami macam apa yang tidak tahu istrinya sedang hamil?" Jongin melotot dan berpura pura melempar bantal sofa untuk kedua kalinya.

"Well, aku kesini tidak untuk mendengar ceramahmu. Sebaliknya aku akan menceramahimu jika kau berani untuk tidak menyanggupi undangan istriku."

"Akan kuusahakan."

"Serius, akan kupenggal kepalamu nanti!"

Sehun kembali tertawa. Mood baiknya ternyata masih bertahan hingga sekarang meski sempat sedikit memburuk beberapa menit yang lalu. "Arasseo. Well, selamat atas kehamilan putra pertama kalian."

Sehun menepuk bahu Jongin dengan lumayan keras. Hatinya merasa terharu mengetahui sahabat masa remajanya itu telah tumbuh menjadi calon ayah dalam waktu dekat.

"Terima kasih. Ku harap kau segera menyusul."

Mata Sehun membola dan ia kembali ke tempat duduknya. Berdehem pelan untuk menutupi kegugupan yang sayangnya terlihat jelas di mata Jongin.

"Kenapa? Kau tidak mencoba melamarnya?", tanya Jongin penuh rasa penasaran. Jongin memang tahu hubungan Sehun dan Luhan masih terhitung hari, namun pria berstatus sebagai dokter itu yakin keduanya sudah waktunya melangkah ke pernikahan, terlebih mereka sudah berulang kali mengalami kisah sulit sebelum berakhir bersama seperti sekarang.

"Masih terlalu cepat untukku. Kau tahu sendiri hubungan kami masih sangat singkat.", jawab Sehun, sesuai seperti yang diduga Jongin. Tapi rasanya tidak perlu bercerita pada Jongin tentang semalam dimana ia sudah mengajak Luhan menikah.

"Lalu kenapa kalau masih singkat? Toh kalian terlihat sudah siap. Umurmu, pekerjaanmu, restu orang tuamu, lalu apa lagi? Sudah saatnya kau menjalani hidup yang sama sepertiku saat ini."

Ya, Jongin sepenuhnya benar. Tapi ia melupakan fakta bahwa kemungkinan besar Luhan masih meragukan keseriusan Sehun, walaupun dalam porsi yang kecil. Sehun memerlukan waktu yang lebih panjang untuk membuktikan pada Luhan bahwa ia benar-benar serius untuk tidak mengulangi kesalahannya di masa lampau. Lagipula Luhan belum menamatkan kuliahnya dalam waktu dekat.

"Luhan masih kuliah. Menurutmu apa yang difikirkan seorang mahasiswi yang masih disibukkan dengan kuliah dan harus menambah kesibukan sebagai seorang istri?"

Jongin mengendikkan bahu. Baru saja ia ingin berbicara, sesuatu lebih dulu menyerobotnya.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan pintu seolah menjadi penyelamat Sehun dari pembicaraan tentang 'pernikahan' yang menguras fikirannya.

"Masuk."

Sekretaris Lee muncul dari pintu berkaca buram itu. Kehadirannya dianggap Jongin sebagai sebuah usiran halus untuknya. Bagaimanapun sahabatnya adalah seorang Presiden Direktur perusahaan yang tidak memiliki banyak waktu untuk berbincang lebih lama dengannya.

"Sepertinya aku harus pergi." Jongin berdiri dari tempat duduknya. "Kau boleh tidak datang besok. Tapi jangan salahkan aku jika Kyungsoo akan marah seumur hidup padamu. Oh ya, jangan lupa mengajak Luhan juga. Dia juga perlu berkumpul dengan kita. Aku pergi dulu."

"Arasseo.", respon Sehun dan membalas dengan lambaian tangan pada pria yang mulai beranjak itu.

Sekretaris Lee membungkuk sejenak pada Jongin sebelum dokter itu pergi keluar dari ruangan Sehun.

"Ada apa?", tanya Sehun setelah pintu benar-benar tertutup dan ia menghampiri meja kerjanya. Muncul rasa penasaran pada Sehun saat melihat raut berbeda Sekretaris Lee.

"Saya mendapat informasi mengenai Xiao Group." Raut Sehun menegang saat nama itu disebut.

"Pengalihan jabatan Presiden Direktur akan dilakukan dalam waktu dekat mengingat jabatan tertinggi itu kosong hampir satu bulan lamanya. Kandidat Presiden Direktur yang terkuat sejauh ini adalah Byun (...) yang merupakan Wakil Presiden Direktur, akan tetapi pengangkatan beliau masih menjadi perdebatan dewan direksi."

"Wae?", tanya Sehun. Diotaknya tersirat bayangan ekspresi sedih Luhan mengingat gadis itu sangat menentang nama Byun Seung Ho menjadi pengganti ayahnya. Meski Sehun belum berhasil menebak kenapa gadisnya sangat membenci pria yang menjadi pamannya itu.

"Alasan pertama karena beliau tidak memiliki pengalaman untuk memimpin perusahaan. Dilihat dari Profilnya, Tuan Byun Seung Ho hanya berpengalaman sebagai Pemilik Restoran. Banyak kabar yang beredar, jabatannya saat ini didapatkan karena bantuan orang dalam."

"Yang kedua?"

"Alasan kedua, ada kandidat lain yang tiba-tiba mengundurkan diri. Beliau adalah Tuan Hwang Ki Hyun, yang juga merupakan salah satu pemilik saham terbesar di Xiao Group."

"Tuan Hwang Ki Hyun? Kenapa ia mengundurkan diri?"

"Tidak ada yang mengetahui alasan beliau dengan jelas. Kabarnya ia mendapat ancaman meskipun kabar itu belum dapat dibuktikan kebenarannya."

Ancaman? Sehun tidak habis fikir tentang pihak yang berusaha mengancam Tuan Hwang. Tapi entah kenapa, pikirannya langsung tertuju pada Byun Seung Ho yang dimana memiliki latar belakang buruk, seperti informasi yang ia dapatkan kemarin.

"Aku ingin bertemu dengan Tuan Hwang Ki Hyun. Buatkan jadwal pertemuan pribadi dengan Tuan Hwang secepatnya.", perintah Sehun.

"Baik, Presdir."

"Lalu, apa ada informasi lain?"

"Ada satu lagi, Presdir. Kekosongan jabatan Presiden Direktur berpengaruh pada lancarnya kerja perusahaan. Sampai saat ini, pengaruh yang paling terlihat adalah penurunan harga saham dan keuangan perusahaan yang turun meskipun tidak terlalu drastis. Namun jika keadaan ini berlangsung lebih lama, maka Xiao Group bisa mengalami kerugian dan terancam bangkrut."

"Jadi intinya, pemilihan kandidat Presiden Direktur dan pengangkatannya harus dilakukan dalam waktu singkat?"

"Benar, Presdir."

"Baiklah. Kau boleh pergi. Lanjutkan pekerjaanmu."

"Baik, Presdir."

Sekretaris Lee membungkuk dan keluar dari ruangan Sehun. Meninggalkan si Presdir muda dengan pikiran berkecamuk.

Penuturan Sekretaris Lee membuat Sehun dilanda kebingungan bukan main. Sebagai orang luar, dalam artian bukan bagian dari Xiao Group, Sehun tentu tidak tahu urusan internal di perusahaan itu. Ia tidak berhak mencampuri urusan perushaan lain termasuk perusahaan milik keluarga kekasihmu sekalipun.

Tetapi saat mengingat Luhan, mengingat bagaimana Luhan seolah ingin melindungi perusahaan orangtuanya dengan tangan ringkihnya, membuat Sehun berfikir jika dirinya ikut bertanggung jawab untuk Luhan. Untuk membantu memenuhi keinginan gadis itu dengan bagaimanapun dan apapun caranya. Karena Sehun tahu, Luhan hanya menginginkan perusahaan ayahnya jatuh ke tangan orang yang benar dan kembali bangkit menuai kesuksesan.

Saat sedang sibuk dengan pikirannya, mata Sehun tidak sengaja melirik ke arah ponsel di atas meja, bersandingan dengan tumpukan file yang belum tersentuh sama sekali. Ia menyambar ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang yang dipikirkannya.

'Halo?'

Suara perempuan diseberang membuat Sehun tersenyum. Xi Luhan memang mampu mengubah mood Sehun menjadi lebih baik meski hanya suaranya saja.

'Sehun, ada apa menelepon?'

"Apa tidak boleh?"

'Aniya. Tapi kau sedang bekerja.'

"Tidak apa-apa. Aku bekerja di perusahaanku, jika kau lupa."

Luhan mendecak di seberang telepon. 'Tetap saja tidak boleh seenaknya!'

Tanpa sadar Sehun terkekeh. Pria berkulit albino itu menyandarkan punggung tegapnya di sandaran kursi. Menyamankan tubuhnya sembari mendengar gerutuan Luhannya.

"Arasseo. Aku akan bekerja lagi setelah bertanya kepada kekasihku. Jadi, bagaimana kondisimu?"

'Aku baik. Demamku benar-benar sudah turun. Aku sedang istirahat sekarang.'

"Gadis pintar.", puji Sehun diselimuti kelegaan luar biasa.

'Ibu ada disini.' Bibir Sehun terkatup saat mengetahui siapa yang Luhan maksud. 'Ibu sangat cemas mengetahui kondisiku. Melihat ekspresi cemasnya membuatku mengingat raut cemasnya dirimu kemarin sore. Kalian benar-benar sangat mirip.'

Sehun tidak tahu harus bagaimana menanggapinya. Ia sudah lama tidam berinteraksi ataupun bertemu dengan Ibunya. Satu minggu? Atau dua minggu?

'Sehun? Kau masih disana?', tanya Luhan saat menyadari Sehun tidak menanggapinya.

"Hm. Ya sudah, aku harus kembali bekerja, Lu. Aku akan mengunjungimu nanti sore."

'Baiklah. Selamat bekerja, Presdir Oh.'

"Arasseo. Aku merindukanmu, Lu. Sampai nanti."

Klik!

Sehun menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya. Mungkin jika ia adalah sebuah robot mungkin ia sudah meledak dengan kepala penuh asap. Sayangnya ia hanyalah manusia biasa yang hanya merasakan pusing luar biasa.

Oh, tidak. Sehun tidak boleh terfokus pada rasa pusingnya. Masih ada banyak pekerjaan yang menantinya.

Sehun kembali menegakkan tubuhnya dan menggunggam mpenyemangati dirinya sendiri.

"Semangat, Oh Sehun."

...

Sehun menepati janjinya untuk mengunjungi Luhan setelah ia usai bekerja. Mobilnya baru terparkir di halaman luas kediaman keluarga Xi ketika mentari baru saja menenggelamkan diri, menyisakan semburat jingga yang menyambut kedatangan Oh Sehun.

Pria itu membuka pintu utama dan tidak menemukan tanda-tanda kehidupan di ruang tamu dan ruang keluarga. Jadi ia memutuskan untuk langsung ke lantai atas dimana Luhannya kemungkinan berada.

Cklek!

Pintu itu terbuka perlahan seiring tangan Sehun yang mendorongnya. Ia melongokkan kepalanya ke dalam dan jangkauan matanya tidak menemukan apapun.

"Luhan?", panggilnya pelan sambil membuka pintu kamar Luhan hingga terbuka lebar.

"Oh, kau sudah datang?"

Sebuah suara datang dari ujung ruangan dimana Luhan sedang duduk di depan meja rias dan tengah menyisir rambut panjangnya. Gadis itu lantas menghentikan aktivitasnya dan beralih menghampiri sang kekasih.

Satu kecupan di bibir berlipgloss Luhan dari Sehun. Pria itu membawa Luhan dalam dekapannya, sempat bersyukur karena suhu tubuh Luhan kembali normal, sebelum ia menyadari sesuatu.

"Huh? Ada apa dengan wajahmu?", tanya Luhan bingung ketika Sehun menunjukkan wajah terkejut.

"Kau berniat pergi ke suatu tempat?", tanya Sehun balik. Mata tajamnya menjurus ke tubuh Luhan yang dibalut pakaian semi formal, yaitu gaun sederhana selutut.

"Ya. Aku ingin pergi bersamamu. Ku harap kau tidak terlalu lelah."

"Ingin pergi kemana? Biarpun sudah sembuh tapi kau harus tetap istirahat. Setidaknya tunggu hingga besok.", ucap Sehun menyiratkan kepedulainnya terhadap kesehatan kekasihnya. Bagaimana jika Luhan kembali drop?

"Please, Sehun. Aku sudah janji untuk pergi malam ini." Kedua telapak tangan Luhan tertangkup di depan dada, mencoba bernegosiasi.

"Tidak, Lu!", tolak Sehun tegas.

"Kenapa? Apa kau sangat lelah? Baiklah, aku bisa berangkat sendiri-"

"Oke. Aku mandi dulu." Sehun bergegas melepaskan ikatan dasinya dan membuang jasnya, membuat Luhan sedikit bersorak dalam hati. "Jangan harap kau bisa pergi tanpaku.", ujarnya sebelum berlalu ke kamar mandi.

Luhan tersenyum penuh kemenangan. Ternyata sifat keras kepalanya berfungsi dengan baik. Lagipula Luhan tidak mungkin pergi jika Sehun tidak ikut pergi dengannya.

...

"Jadi, kemana kita akan pergi sebenarnya?", tanya Sehun, saat ia memutar kunci mobil dan mulai menjalankan mobilnya membelah jalanan kota Seoul.

Sementara Luhan hanya tersenyum dan meminta Sehun untuk tetap berjalan lurus sebelum ia memberikan instruksi.

Gadis itu beberapa kali melirik ke arah Sehun. Tidak henti-hentinya ia memuji ketampanan sosok pria yang menjadi kekasihnya. Sehun, dengan kemeja abu-abu dengan ujungnya dimasukkan ke dalam celana kain berwarna hitam. Ia menggulung lengan kemejanya hingga ke siku dan poni rambutnya dibiarkan menutupi dahinya. Casual, tapi tetap sopan dan rapi.

Tanpa tahu saja kemana Luhan akan mengajaknya. Sehun hanya menuruti keinginan Luhan.

"Belok kiri, Hun.", instruksi Luhan dan Sehun berbelok ke kiri.

"Serius, Xi Luhan. Aku ingin tahu kemana kita akan pergi.", ucap Sehun. Benar-benar tidak bisa menahan rasa penasaran lebih lama lagi.

"Janji untuk tidak berbalik arah dan pulang."

"Ya. Janji."

"Ke rumah Ayah dan Ibu."

_TBC_

Masih bulan Syawal, kan? Saya mengucapkan MINAL AIDIN WAL WAIDZIN Mohon Maaf Lahir dan Batin. Terutama kesalahan Rae yang selalu telat update *deep bow*.

Serius, Rae minta maaf banget buat kalian yang ngerasa di PHP *hiks*. Rae emang lagi libur kuliah, tapi beberapa hari sebelum lebaran Rae mengalami kecelakaan tunggal. Itu bikin Rae gak bisa ngapa-ngapain sampe Lebaran dan word yang baru Rae tulis masih 1k *hiks*. Sumpah, Rae gak bohong. Sekarang aja Rae masih dalam tahap pemulihan tapi nyempetin buat lanjutin ff ini meski satu bulan ditelantarin T_ T

Tapi makasih buat yang udah PM dan review minta Rae cepet update. Makasih juga buat 701 reviews, 367 followers dan 354 favorites. Terima kasih banget, guys! ^_^

See you in the next chapter(s)…