Disclaimer: Just like usual~

CHAPTER 11

"Kurama! Wait for me!"

Kurama berbalik saat mendengar suara memanggilnya. Seorang pemuda sebayanya berlari mengejarnya.

"Kau selalu saja bergegas pulang beberapa hari ini. Aku tahu kau sedih karena kepergian Naruto, tapi kau tak bisa terus seperti ini. Teman-teman yang lain khawatir padamu, Kurama."

"Aku bergegas pulang karena ada yang harus kukerjakan, Jean. Jangan khawatir." Kurama tersenyum kecil. Ia menepuk bahu Jean sebelum melangkah pergi.

"Baiklah kalau begitu, tapi kau harus ikut bersama kami besok!" Jean melambaikan tangannya.

Kurama terus berjalan, tapi ia membalas lambaian Jean.

##

Begitu ia sampai di rumah, hal pertama yang dilakukan Kurama adalah mengambil ponsel yang disembunyikannya di dalam lemarinya dan mengirim pesan.

'Na-chan, bagaimana kabarmu hari ini?'

Kurama kemudian mengganti bajunya sambil menunggu balasan dari Naruto. Ia menggunakan ponsel yang berbeda untuk menghubungi Naruto karena itu adalah keputusan tou-san mereka. Orang-orang akan curiga jika Kyuuna yang tiba-tiba muncul langsung bisa akrab dengan Kurama.

'Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu dan tou-san?'

Kurama mengetik balasan dengan cepat.

'Kami juga baik-baik saja. Apa kau nyaman disana?'

Tak lama kemudian balasan dari Naruto datang.

'Tentu. Nagato-niisan sangat baik dan rumah sakit ini tenang. Tapi tetap saja, aku tak suka berada di rumah sakit.'

Kurama tertawa kecil. Khas Naruto. Selalu melakukan hal yang berbahaya, tapi tak suka rumah sakit, walaupun hampir seluruh penyebab ia harus menginap di rumah sakit adalah kecerobohannya sendiri.

'Bersabarlah dan patuhi semua perintah Nagato-niisan. Dia tahu apa yang terbaik untukmu.'

##

"Bagaimana keadaan Naruto hari ini?"

"Masih seperti biasa, tou-san. Dan seperti biasanya lagi, dia mengeluh ingin segera keluar dari rumah sakit." Kurama menjawab sambil menunjukkan pesan Naruto di ponselnya.

Sama seperti Kurama, Minato tertawa saat membacanya. "Paling tidak dia sekarang sudah jauh dari organisasi dan dia bisa beristirahat dengan tenang. Aku sudah menyerahkan surat pengunduran diri Naruto kepada organisasi dan sekarang dia adalah warga sipil biasa."

"Syukurlah." Kurama menghela napas lega. "Naruto terlalu ceroboh untuk dibiarkan tetap menjadi agen tanpa seseorang untuk menjaganya. Berat bagiku untuk mengakuinya, tapi Uchiha Sasuke berhasil melakukannya dengan baik."

"Sejujurnya, aku juga ingin kau berhenti, Kurama." Minato menatap putranya dengan khawatir.

Ekspresi Kurama berubah menjadi serius. "Tidak, tou-san. Aku sudah bilang aku tak akan berhenti hingga aku menemukan pembunuh kaa-san."

Minato duduk disamping Kurama dan menepuk pelan kepala Kurama. "Itu adalah kecelakaan, Kurama. Kaa-san kurang hati-hati saat menjinakkan bom itu sehingga bom itu meledak."

"Aku tak peduli." Suara Kurama terdengar dingin. "Satu-satunya yang kutahu adalah pelakunya belum tertangkap dan aku akan menemukan pelakunya, bagaimanapun caranya."

"Kurama.." desah Minato.

"Aku ingin merayakan ulang tahun kami dengan bahagia seperti anak-anak normal lainnya, tapi bagaimanapun kami mencoba dan seperti apapun aku mencoba tersenyum, pada akhirnya kami tak bisa melupakan kalau kaa-san meninggal tepat di hari ulang tahun kami. Kumohon, tou-san, hanya ini cara yang bisa kupikirkan untuk membuat semuanya kembali normal bagi keluarga kita."

Minato akhirnya tak mengatakan apa-apa. Ia mengerti apa yang dimaksud Kurama. Ia juga tak ingin melihat ekspresi sedih yang ditunjukkan kedua anaknya di setiap hari ulang tahun mereka. Dan berpura-pura tersenyum saat kau ingin menangis itu adalah sesuatu yang sangat menyakitkan, ia juga tahu itu.

"Tou-san tahu, tapi tetap saja tou-san boleh berharap bukan?" Minato memaksakan seulas senyum.

"Jangan khawatir tou-san. Aku bisa menjaga diriku."

##

'Ku-chan, hari ini Gaara mengunjungiku. Kau ingat dengannya?'

Kurama langsung duduk saat membaca pesan Naruto. Ia sangat lelah hari ini sepulang sekolah sehingga ia langsung berbaring saat sampai di rumah.

"Gaara?" Ingatan Kurama melayang pada pemuda berambut merah dengan tato 'ai' dan kulit pucat yang mencarinya dan menanyakan tentang Naruto padanya. Ia yakin ia berhasil meyakinkan pemuda itu kalau Naruto sudah meninggal, jadi bagaimana ia bisa menemukan Naruto?

'Maksudmu Gaara yang membuatmu meloncat dari lantai tiga untuk melindunginya itu?'

Bzzt..bzzzt..

'Mou, jangan bilang seperti itu. Dia sudah cukup merasa bersalah saat melihat luka-lukaku.'

Kurama masih mengerutkan keningnya. Jika pemuda itu bisa menemukan Naruto, apakah ada orang lain yang tahu tentang Naruto dan membocorkan kebenarannya pada pemuda itu?

'Aku kelihatannya tak bisa menghalanginya untuk datang mengunjungiku, dan ia juga berjanji akan menjaga rahasiaku, jadi aku akan membiarkannya datang.'

Kurama mengetik balasannya dengan cepat.

'Berhati-hatilah dengannya, Na-chan.'

##

'Ku-chan, hari ini ia datang membawakan buah-buahan untukku. Ia tak banyak bicara, tapi ia mendengarkan ceritaku dengan perhatian. Yah, walaupun ekspresinya jarang berubah, seperti Sasuke teme.'

Kurama mulai khawatir. Apa sebenarnya tujuan pemuda itu?

'Sudah kubilang kalau kau harus berhati-hati dengannya, Na-chan. Kita tak tahu apa tujuannya dan bagaimana ia bisa menemukanmu.'

Bzzt..bzzt..

'Dia sangat baik, Ku-chan. Dia menjawab pertanyaanku dengan kata-kata dan bukan hanya 'Hn' saja, seperti Sasuke teme.'

Kurama mengeluh. Apa Naruto masih belum bisa melupakan mantan partnernya sehingga ia harus selalu menyebutnya dalam pesannya?

'Kenapa kau harus membandingkannya dengan mantan partnermu? Jika kau memang menganggapnya orang baik, kau tak akan membandingkan mereka berdua. Dan lagi, jaga bahasamu, Na-chan. Kau seorang gadis sekarang.'

Bzzt..bzzt..

'Kau benar, Ku-chan. Aku harusnya tak membandingkan mereka.'

##

Minato melihat caller id sebelum mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya.

"Ya, Nagato? Apa sesuatu terjadi pada Naruto?"

"Aku tak yakin apa aku bisa menyebut ini sebagai sesuatu, tapi apa Nii-san ingat pemuda bernama Gaara yang pernah kuceritakan itu? Yang selalu mengunjungi Naruto?"

Father sense Minato berdenging. Ini bukan pertanda baik. "Aku ingat. Memangnya ada apa?"

Nagato terdengar seperti menahan tawa. "Kau tak akan percaya apa yang terjadi hari ini."

##

"Huufh.."

Minato dan Kurama saling tatap dengan heran.

"Apa yang terjadi tou-san? Kenapa kau menghela napas seperti itu?" Kurama bertanya saat ia dan Minato menghela napas bersamaan saat mereka duduk di depan televisi malam itu.

"Bagaimana denganmu? Apa sesuatu juga terjadi padamu?"

Kurama lagi-lagi menghela napas sebelum berkata, "Naruto."

"Kenapa dengan Naruto?"

"Hari ini ia meneleponku dengan ceria dan bercerita tentang temannya. Ia berkata Nagato-niisan melarang ia berteman dengan teman barunya, jadi ia mendeklarasikan kalau ia akan berteman dengannya walaupun Nagato-niisan melarangnya."

"Lalu?"

Kurama menatap Minato dengan tak percaya. "Tou-san tahu bagaimana cara ia mendeklarasikannya? Ia memeluk temannya itu!"

"Lalu?"

"Temannya itu seorang laki-laki tou-san. Kelihatannya Naruto masih belum terlalu sadar dengan keadaannya sekarang sehingga ia bisa memeluk lawan jenisnya dengan tenang." Kurama tiba-tiba menyadari Minato tak terlalu menanggapi ceritanya. "Jangan bilang kalau tou-san sudah tahu tentang hal ini?"

Minato mengangguk. "Nagato meneleponku tadi dan menceritakannya. Dia curiga kalau pemuda itu sudah menyukai Naruto, karena itu ia berkeras akan terus menemui Naruto."

"Apa kita perlu meminta Konan-nee untuk mengajari Naruto lagi?"

"Kelihatannya begitu."

##

'Ku-chan, besok kami akan mengunjungimu. Aku ingin menanyakan beberapa hal pada Konan-nee.'

Kurama menatap ponselnya. "Kami?"

'Gaara akan ikut bersamaku. Ia berkata ia bisa menemaniku besok. Kau belum pernah bertemu dengannya secara langsung, bukan?'

Kurama tak pernah bercerita pada Naruto kalau Gaara pernah menemuinya. Ia tak pernah menduga Gaara akan berhasil menemukan Naruto. Tapi perkembangan ini diluar dugaannya. Ia tak tahu apa tujuan Gaara ini untuk mencari dan bertemu dengan Naruto. Dan jika ia memang hanya ingin balas budi, kenapa ia masih terus menemuinya saat Naruto sudah sembuh?

"Jangan-jangan…."

##

"Ku-chan!"

Naruto melambaikan tangannya saat melihat Kurama mendekat.

"Apa kau lama menunggu, Na-chan?" Kurama duduk di samping Naruto.

Saat ini mereka berada di sebuah kafe kecil yang nyaman tak jauh dari apartemen Kurama dan Minato.

Naruto menggeleng. "Tidak juga. Gaara dan aku baru sampai." Ia tersenyum ceria sambil menatap Gaara. "Perkenalkan, Ku-chan. Dia Sabaku Gaara. Dan Gaara, dia adalah Namikaze Kurama."

Kurama mengangguk kea rah Gaara, begitupun Gaara. Begitu mereka saling tatap, mereka tanpa kata-kata langsung sepakat tak akan menceritakan pertemuan mereka sebelumnya pada Naruto.

"Ku-chan, kau ingin pesan apa? Sepertinya kafe ini sedikit berbeda. Kita harus memesan sendiri langsung ke counter sana. Setelah memesannya, barulah nanti seseorang akan mengantarkan pesanan kita."

"Kyuuna, biar aku saja yang memesan." Gaara menawarkan dirinya.

"Ya, biar dia saja yang memesan, Na-chan."

"Iie.." Naruto menggeleng. "Kalian duduk saja. Kalian bisa mengobrol sementara aku memesan makanannya."

Kurama akhirnya mengangguk. "Aku pesan jus jeruk saja."

"Aku pesan jus mangga."

"Baiklah." Naruto berdiri meninggalkan mereka.

Begitu Naruto menjauh, tanpa buang-buang waktu Kurama segera bertanya.

"Jadi, apa tujuanmu?"

Gaara menatap Kurama dengan ekspresi datarnya. "Tidak ada tujuan khusus."

"Kalau begitu, berhenti menemuinya."

"Kau menderita sister-complex ya?"

Kurama memilih mengabaikan pertanyaan itu. "Apa Naruto sudah menceritakan semuanya padamu?"

"Jika sudah, memangnya kenapa?"

Kurama memajukan tubuhnya. "Berarti kau sudah tahu siapa dia sebelumnya?"

Gaara tak menjawab.

"Aku bisa menebak kenapa kau masih menemuinya hingga sekarang, bahkan saat dia telah sembuh. Tapi aku harus memperingatkanmu, sebagai seorang gadis, dia masih polos dan belum tahu apa-apa. Jadi jangan coba-coba menyentuhnya." Kurama berkata dengan nada penuh peringatan.

Gaara masih menatap Kurama dengan ekspresi datarnya. "Baik. Aku akan pertimbangkan peringatanmu."

"Pertimbangkan?" Kurama sekarang mulai kehilangan kesabarannya. "Aku tidak meminta kau untuk mempertimbangkannya. Aku memerintahkan kau untuk mematuhinya."

"Memerintahku? Memangnya kau pikir kau siapa?" Gaara terlihat mulai kesal.

"Tentu saja aku adalah saudaranya!"

"Ku-chan, Gaara, ada apa?"

Kurama dan Gaara langsung terdiam saat melihat Naruto yang sudah berdiri disamping meja menatap mereka berdua dengan heran.

Kurama langsung memasang senyum polosnya dan Gaara kembali ke ekspresi datarnya.

"Bukan apa-apa, Na-chan. Kami hanya membicarakan beberapa hal."

"Tentang apa?" Naruto penasaran karena ia bisa mendengar Kurama meninggikan nada suaranya tadi.

"Tentang keadaan pasar saham. Kau mau dengar?" kali ini Gaara yang menjawab.

Naruto segera menggoyangkan tangannya. "Ti-tidak, terima kasih. Aku dan angka-angka serta teori-teori rumit lainnya tidak punya hubungan baik."

"Jadi, bagaimana keadaan sekolahmu sekarang, Na-chan?"

Dan dengan mulus mereka berhasil mengalihkan pembicaraan.

##

Setelah dari kafe itu, barulah mereka mengunjungi apartemen Kurama.

"Kau mau langsung mengunjungi Konan-nee?" Tanya Kurama saat mereka berada di lift.

"Ya."

"Memangnya ada urusan apa dengan Konan-nee?"

"Hmm.. urusan pakaian dan beberapa masalah lainnya."

"Masalah?"

"Masalah wanita."

"Oh."

Saat lift membuka, Naruto langsung berlari keluar. "Aku sudah tak sabar bertemu dengan Konan-nee! Gaara, kau bisa ke apartemen lebih dahulu bersama Ku-chan. Dan Ku-chan, baik-baiklah pada Gaara."

"Hai..hai.."

##

Kurama mempersilakan Gaara masuk. Mereka berdua duduk dalam diam, tak tahu apa yang akan dibicarakan. Kurama tadinya ingin memberi Gaara berbagai macam peringatan, tapi Naruto sudah memperingatkannya agar berlaku baik pada Gaara.

Saat ini pikiran Kurama sibuk menyusun kata-kata bagaimana ia bisa memperingatkan Gaara tanpa terdengar kasar atau terlalu protektif pada Naruto.

"Siapa itu Sasuke?" Gaara tiba-tiba memecah keheningan.

Kurama tersentak dari lamunannya. "Hah? Naruto tidak bercerita padamu?"

"Dia selalu berusaha mengalihkan pembicaraan saat aku bertanya tentang nama itu."

Kurama menghela napas. "Jadi Naruto masih belum mau membicarakannya ya? Dia selalu seperti itu. Dia hanya akan menyebutkan nama Sasuke secara tak sengaja dan langsung terdiam sesudahnya. Kau tidak berusaha mencari tahu tentangnya sendiri? Kau bisa menemukan Naruto, tentu menemukan informasi tentang seseorang yang bernama Sasuke bukanlah hal yang sulit bagimu."

"Aku tak ingin membuang-buang tenagaku untuk hal seperti itu." Gaara menjawab pendek.

Kurama menyeringai. "Kau cemburu? Atau khawatir?"

Kali ini giliran Gaara mengabaikan pertanyaan Kurama.

"Maa.. kau tidak usah khawatir. Dia adalah mantan partner Naruto sebelum ini. Mereka mengalami…yah bisa dibilang perbedaan pendapat dan mereka berpisah. Hanya itu yang bisa kukatakan, sisanya kau tanyakan sendiri pada Naruto langsung."

"Hmm."

Tok…tok..

Kurama membuka pintu dan mendapati wajah tersenyum Naruto di depan pintu.

"Jadi, apa yang kau bicarakan dengan Konan-nee?"

Naruto mengeluarkan sehelai kertas kecil yang sudah dilipatnya dari saku. "Ini!"

Kurama mengambil kertas itu. "Daftar mainan anak-anak? Untuk apa?"

"Aku belum bercerita padamu? Ada sebuah panti asuhan kecil tak jauh dari rumah kami disana. Aku ingin memberikan hadiah pada anak-anak disana."

Kurama mengembalikan kertas yang dipegangnya pada Naruto. "Kenapa harus bertanya pada Konan-nee?"

"Karena aku tak tahu apa yang disukai oleh anak perempuan." Naruto berkata langsung.

"Kau harusnya bilang padaku. Aku bisa meminta Temari membelikan hadiah-hadiah itu." Gaara berkata sambil mengambil daftar yang ada di tangan Naruto.

"Mana bisa begitu!" Naruto menatap Gaara dengan ekspresi tidak setuju. "Aku ingin membelikan mereka sesuatu dengan uangku sendiri. Jika kau juga ingin membelikan mereka hadiah, kau harus memberikannya sendiri, Gaara."

"Kapan kau akan membelinya?" Kurama melirik jam tangannya. "Aku bisa menemanimu hari ini."

"Benarkah?" Naruto terlihat senang. "Akan menyenangkan jika bisa pergi denganmu dan Gaara!"

Bzzt..bzzt..

Kurama mengambil ponselnya.

'Kurama, kami butuh bantuanmu untuk memecahkan sebuah kode sekarang juga.'

Kurama bisa melihat ekspresi senang Naruto yang memudar begitu melihatnya membaca pesannya.

"Apa itu pekerjaan?"

Kurama mengangguk dengan menyesal. Ia bisa melihat Naruto kecewa, tapi kemudian Naruto berusaha tersenyum.

"Masih ada waktu lain, Ku-chan. Lagipula hari ini aku tak akan sendirian."

Dan Kurama memastikan ia memberikan peringatan (atau mungkin permohonan?) saat Naruto dan Gaara akan berangkat.

"Jaga dia." Gumamnya sehingga hanya Gaara yang mendengarnya.

Gaara tak mengatakan apa-apa tapi dia mengangguk dengan ekspresi serius.

Paling tidak, untuk sekarang Kurama akan berusaha percaya padanya.

##

'Ku-chan, kau tak akan percaya! Ada kembar tiga disana dan mereka semua sangat manis! Aku tak akan merasa bosan di tempat kecil nan terpencil ini.'

Kurama tertawa kecil. Semuanya baik-baik saja.

Ya, semuanya akan baik-baik saja.

##

'Ku-chan, aku punya firasat buruk. Anak-anak ini tidak terlihat ceria akhir-akhir ini, terutama Yuka-chan. Aku sudah berusaha bertanya, tapi ia mengatakan tak ada masalah yang terjadi.'

Kurama tak terlalu memikirkannya. Anak-anak memang biasa seperti itu bukan? Terkadang begitu antusias dan terkadang pendiam.

'Jangan khawatir, Na-chan. Mungkin itu hanya perasaanmu saja.'

##

Keesokan harinya, Naruto mengirim pesan lagi. Bukan pesan seperti biasanya, karena pesan itu dikirim tengah malam.

'Ku-chan, aku tak bisa tidur. Hari ini Yuka-chan mengatakan sesuatu yang aneh. Dia berbisik padaku kalau ia mengubur sesuatu di pohon oak di belakang bangunan panti asuhan dan aku harus mencarinya jika sesuatu terjadi padanya. Aku memaksanya untuk bercerita, tapi ia tetap tidak mengatakan apa-apa padaku. Aku juga bertanya pada Kaji-kun dan Jinnai-kun, tapi mereka memberiku jawaban yang sama dengan Yuka-chan. Aku sangat khawatir, Ku-chan."

##

Dan saat Naruto tidak mengiriminya pesan apapun esok harinya, Kurama ikut khawatir. Ia berusaha menghubungi ponsel Naruto, tapi ia hanya terhubung dengan pesan suara.

Pukul lima sore dan akhirnya Kurama menghubungi Nagato-niisan. Akan tetapi ia bertambah khawatir saat ia lagi-lagi terhubung dengan pesan suara.

Pukul delapan malam, barulah panggilannya tersambung. Namun Kurama heran, karena yang menjawab panggilannya adalah Gaara.

"Mana Naruto?"

"Dia sedang tidur." Gaara menjawab dengan nada datarnya.

"Apa sesuatu terjadi padanya? Dan apa yang kau lakukan bersama Naruto malam-malam seperti ini?" Kurama bertanya dengan tak sabar.

"Hanya untuk informasi, aku saat ini bersama Nagato-san dan kami berada di rumah Nagato-san. Naruto tertidur setelah menangis seharian, karena itu ia tak bisa menjawab panggilanmu dan Nagato-san sibuk menenangkannya. Aku baru datang sore ini dan kami bergantian menemani Naruto."

"Kenapa dia menangis seharian?" Kurama mulai panik. "Apa dia terluka? Atau sesuatu yang buruk terjadi padanya?"

Terdengar helaan napas dari seberang sana. "Seluruh anak-anak panti asuhan menghilang. Tempat ini sekarang gempar. Aku heran kenapa kau belum mendengar kabar tentang kasus ini."

Kurama baru akan menjawab, tapi Gaara sepertinya mendengar sesuatu.

"Kelihatannya Naruto terbangun. Kau bisa berbicara dengannya langsung nanti."

Tuut…..

Tanpa menunggu jawaban dari Kurama, Gaara memutuskan panggilan lebih dahulu.

"Na-chan.." Kurama berkata dengan campuran sedih dan khawatir.

##

'Jangan khawatir Ku-chan, aku baik-baik saja. Mungkin anak-anak itu memang pindah diam-diam di malam hari, jadi mereka tak sempat bilang padaku.'

Kurama berani bertaruh Naruto sama sekali tak percaya dengan alasan itu, tapi Kurama juga tahu, Naruto berusaha mencari alasan.

'Yah, kau benar Na-chan. Jadi kau tak perlu khawatir.'

##

2 tahun kemudian.

"Aku akan memulai semuanya dari awal kembali, Ku-chan."

"Kau tahu kau tak harus melakukan ini."

"Ada banyak hal yang ingin kuselidiki, Ku-chan. Dan aku masih punya urusan dengan Orochimaru. Satu-satunya cara agar bisa mengetahui pergerakannya adalah dengan menjadi agen kembali, tapi 'Kyuuna' adalah anak baru, tak mungkin ia langsung menjadi agen bukan?"

Kurama hanya diam dan menatap Naruto dengan Khawatir.

Naruto tersenyum dan memeluk Kurama. "Wish me luck."

Saat melihat pesawat itu terbang menuju Jepang, Kurama masih tak yakin apakah membiarkan Naruto kembali ke Jepang adalah pilihan yang tepat.

##

Yap! Chapter berikutnya kita akan melanjutkan cerita kembali~

Hontouni arigatou untuk review, follow, dan favorite fanfic ini.. *smiles*