Title : MATEMACINTA
Cast :
Do Kyung Soo (17th)
Kim Kai (23th)
Byun Baek Hyun (17th)
Xi Lu Han (17th)
Park Chan Yeol (18th)
And other cast
Rate : T
Genre : Gender Switch, School–life, Romance.
.
.
.
.
Original story by;
Razy Bintang Argian
Remake by;
KazekageLaxy
.
.
.
.
I don't own this story, just remake!
Happy Reading guys ^^
.
.
.
.
.
~MATEMACINTA~
Karya: Razy Bintang Argian
.
.
.
.
Sorak menggoda dan siulan jahil terdengar di luar kelas. Bisa dipastikan, Mina saem sedang lewat di depan kelasku. Itulah ritual baru murid lelaki, menggoda wanita cantik itu jika dia lewat di lorong sekolah. Aku yang kebetulan duduk di dekat jendela, lantas ikut melongok. Para murid lelaki sedang memandang Mina saem dengan takjub. Dasar!
"Indah nian makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini. Andai malaikat sudi turun ke bumi membawa keajaiban yang membuat daku bisa memiliki bidadari surgawi itu," Ujar Mino, pria kelas sebelah, sok puitis sekali.
"Stop Dreaming!" Balas Chanyeol yang duduk disebelah pria berwajah sangar-sangar menggemaskan tersebut. "Kau tidak akan menang bersaing dengan Kai saem.
What?
Kai saem? Apa hubungannya dengan Kai saem? Seketika nama itu membuatku menjadi tertarik menguping pembicaraan mereka. Kebetulan mereka mengobrol di seberang luar jendela, dekat dengan bangkuku.
"Jadi, gosip tentang Kai dan Mina saem itu benar?" Suara Mino lalu terdengar sangat kecewa. "Wali kelasmu hebat juga ya? Padahal belum lama Mina saem bekerja di sini, tapi dia sudah berhasil mendekatinya. Kau tahu hal itu dari mana?"
"Aku mendengarnya dari murid perempuan dikelasku, mereka bilang Kai dan Mina saem sempat pacaran saat kuliah dulu. Mereka teman satu kampus," Jelas Chanyeol. Aku terkejut karna ternyata ada yang tahu soal itu.
"Mungkin hanya gosip." Ucap fans Mina saem itu tidak percaya.
"Tapi sumber beritanya dari keponakan Mina saem sendiri, jadi sepertinya itu benar," Ucap Chanyeol yang membuatku terkejut bukan main.
"Keponakan Mina saem ada dikelasmu? Siapa?" Pertanyaan Mino mewakili pertanyaanku pada Chanyeol. "Apa dia secantik Bibinya?" Tambahnya.
"Kwon Jimin, putra Kwon saem kepala sekolah kita.." Seketika, mataku melebar mendengarnya. What? Jadi Jimin dan Mina saem memiliki hubungan darah?
"Jadi Mina saem adik Kwon saem?" Mino menyuarakan pikiranku.
"Iya, tapi sepertinya dia bekerja di sini hanya untuk mengisi kursi pegawai adminitrasi yang sedang kosong sampai ada orang tetap yang mendudukinya. Itu juga atas permintaan Kwon saem. Seperti itulah yang kudengar. " Pikiranku langsung bekerja. Aku teringat saat Kai pernah berkata bahwa dia dekat dengan Kwon saem, jadi inilah sebabnya. Dia pernah pacaran dengan adik kepala sekolah itu. Dan mungkin sekarang hubungan mereka sudah seperti dulu lagi. Tiba-tiba perasaan aneh yang kurasakan saat melihat foto Kai dan Mina saem kemarin muncul lagi. Aku terkejut dengan perubahan perasaan ini. Hatiku sakit. Aku tidak mengerti apa yang terjadi padaku. Rasanya seperti aku tengah kekurangan oksegen, dadaku sesak sekali.
"Kyung, bisa bicara sebentar tidak?" Suara Luhan tiba-tiba mengusikku. Aku menoleh kepadanya. Dia berdiri di dekat bangkuku dan dengan kikuk menatapku. Aku menghela nafas.
"Tidak sekarang, maaf." Sahutku lantas beranjak keluar kelas dan tanpa sengaja menyenggol bahunya saat berpapasan. Pikiranku sedang kacau saat ini. Aku berjalan tergesa melewati anak-anak yang berkeliaran di lorong sekolah. Aku bingung akan pergi ke mana. Yang jelas, aku ingin ke tempat yang tenang. Di ujung lorong, aku memutuskan akan ke perpustakaan. Akhirnya, ada juga hal gawat yang membuatku ingin sembunyi di antara tumpukan buku. Saat melewati kantin, langkahku melambat. Tanpa sengaja, aku melihat Kai dan Mina saem sedang duduk mengobrol di pojok kantin. Kai saem mengenakan kemeja biru bergaris yang dia pamerkan padaku kemarin. Dan benar, dia terlihat sangat keren. Mina saem terlihat sedang tertawa kecil menanggapi kata-kata Kai saem yang tidak bisa kudengar dari sini. Dia manis sekali. Menghela nafas, aku melanjutkan langkah dengan tergesa. Entah apa yang terjadi padaku, aku merasa terganggu dengan pemandangan mesra itu. Aku merasa lega saat memasuki perpustakaan dan melihat hanya ada segelintir murid di sana. Langsung saja aku mengambil sembarang buku lalu duduk di kursi pojok. Aku membuka buku itu, mendirikannya di hadapanku, kemudian merebahkan kepala di atas tanganku yang terlipat di atas meja. Aku mengatur napas untuk menenangkan debar jantungku karena berjalan tergesa tadi. Sekarang waktunya memikirkan apa yang sebenarnya kualami. Kenapa aku tidak nyaman melihat Kai dan Mina saem bersama? Memang kenapa jika mereka berhubungan lagi? Apa urusanku? Lalu, perasaan tidak enak di hatiku ini sebenarnya apa? Kenapa aku merasakannya? Apa karena Kai dan Mina saem? Argh! Sialan. Kenapa aku menjadi bingung seperti ini pada perasaanku sendiri? Aku memejamkan mata, mencoba menyelami perasaanku, tapi yang muncul di benakku hanya bayangan Kai dan Mina saem yang sedang berpose mesra dan tiba-tiba rasa itu muncul lagi. Hatiku sakit. Ya ampun, aku kenapa sih? Apa aku tidak ingin Kai bersama orang lain? Aku tidak suka melihat Kai bersama wanita lain? Tapi kenapa? Eh tunggu dulu, itu kan artinya aku...aku cemburu. Lho, kenapa aku cemburu? Itu kan artinya –aku..suka pada...Kai? Hah?! Aku menyukai Kai?
"Tidak!" Seruku tiba-tiba, seraya bangkit dari kursi dan membuat semua mata menatap ke arahku.
"Kau mengigau ya? Ini perpustakaan, bukan penginapan, jadi jangan tidur di sini,'' Omel si pustakawati sekolah. Murid-murid yang sedang di sanapun menahan tawa melihatku. Sialan! Dengan malu, kuletakkan buku yang tadi kuambil lalu cepat-cepat kabur keluar.
.
.
.
Keesokan harinya, saat jam istirahat, aku membaca puisi dinding di madding depan ruang OSIS. Puisi itu berisi sepuluh puisi terbaik yang lolos seleksi dalam loma karya puisi yang diadakan saat ini. Tim jurinya adalah sastrawan top dan mahasiswa-mahasiswa sastra dari universitas elite di kota ini. Dekorasi puding itu dibuat colorfull dan sangat keren, agar para siswa tertarik untuk membacanya. Bagi siswa yang berminat ikut lomba selanjutnya, yaitu lomba membaca puisi, bisa memilih puisi mana yang ingin dibawakan di antara kesepuluh puisi ini. Tidak masalah jika penulisnya sendiri yang membacakan puisinya atau siswa lain. Lomba seperti ini baru pertama kali diadakan OSIS sekolahku. Dan yang membuat ide ini adalah Chanyeol, wakil ketua OSIS, yang sekarang ditunjuk menjadi panitia kegiatan ini.
Saat aku masih fokus, Chanyeol tiba-tiba keluar dari ruang OSIS lalu berdiri di dekatku, ikut melihat-lihat puisi dinding. Aku menatapnya sejenak.
"Dekorasi puisinya sangat bagus." Pujiku.
"Ah, itu pekerjaan anak-anak dekorasi dan perlengkapan."
"Lomba karya puisinya sukses, ya," Seruku.
"Tapi tujuan acara itu tidak kesampaian," Sahut Chanyeol dengan nada kecewa. Aku menatapnya tak mengerti.
"Maksud mu?" Tanyaku. Dia balas menatap padaku dengan malas.
"Aku pergi duluan ya." Pamitnya lalu beranjak meniggalkanku. Hei, kenapa ini? Kenapa Chanyeol menjadi cuek begitu padaku? Padahal akhir-akhir ini hubunganku dengan dia sudah dekat sekali. Apa aku terancam akan kehilangan peluang mendekati gebetan kerenku lagi? Apa kehilangan dua sahabat belum cukup parah? Ditambah lagi firasat buruk bahwa aku menyukai Kai saem, wali kelasku sendiri. Rasanya masa remaja yang indah tidak ada di garis nasibku. Namun, sepertinya satu masalah sudah berhasil kutangani. Kemarin aku meyakinkan diri bahwa aku tidak punya perasaan dan tidak boleh punya perasaan apa-apa pada Kai, pria tetanggaku yang juga guru matematikaku itu. Yang aku suka itu hanya Chanyeol, pria pujaanku sejak kelas satu yang sekarang menjadi teman akrabku. Buktinya saat aku menyangka Chanyeol pacaran dengan Jimin, aku cemburu berat. Jadi bisa dipastikan, sebenarnya aku suka Chanyeol, kan?
"Kyung, bisa bicara sebentar tidak?" Aku terkejut oleh kehadiran Jimin yang tiba-tiba berdiri di sampingku. Dia tersenyum manis padaku, mengingatkanku pada sosok nenek sihir jahat yang menawarkan apel beracun pada Putri Salju.
"Tolong, jangan berfikir macam-macam dulu," Lanjutnya, membuatku tersentak. Hah? Dia bisa membaca pikiranku?
"Aku hanya ingin membicarakan sesuatu denganmu. Kau ada waktu? Sebentar saja."
"Ingin bicara soal apa?" Tanyaku datar. Pikiranku masih dipenuhi kecurigaan dengan sikap manis Jimin yang tiba-tiba.
"Bagaimana jika kita ke kantin?" Ajaknya. Eits, ini bahaya! Jangan mau Kyung! Hati kecilku berbisik. Lagipula, dia itu keponakan Mina saem, saingan mu untuk mendapatkan Kai saem –WHAT? Aku ini bicara apa sih.
"Oke." Sahutku. Aku tidak merasa sedang bersaing dengan Mina saem dalam hal apa pun kan? Kenapa suara hatiku tiba-tiba menjadi konyol begini, ya? Aku dan Jimin memasuki kantin bersama. Membuat Bibi kantin menatap kami dengan pandangan waswas.
"Tenang Bi, tidak akan ada perang hari ini." Ujarku. "Mungkin," Lanjutku dengan gumanan. Kami lalu duduk di meja dengan dua tempat duduk yang saling berhadapan di pojok kantin. Ini kan tempat Kai dan Mina saem duduk berduaan kemarin, yang membuatku patah hati dan sadar bahwa aku memiliki perasaan pada Kai saem. Eh, kenapa aku menjadi kepikiran seperti itu? Ah, lupakan. Jimin lalu menatapku serius sebelum bicara.
"Pertama, aku mau kau melupakan sebentar masalah kita. Kedua, kau percayalah dengan apa yang aku katakan, dan ketiga jangan memesan ramyun. " Ucap Jimin mengajukan syarat dan aku mengangguk. Jimin menarik nafasnya panjang-panjang.
"Dengar, hal yang sebenarnya sekarang ingin aku lakukan adalah memukul wajahmu karna kau adalah teman yang paling jahat dimuka bumi ini." Jimin memulai kata-katanya. Awal pembicaraan yang membuatku ingin menumpahkan saus di meja ke atas kepalanya, tapi aku menahan diri, ingin tahu ke mana arah percakapan ini.
"Teman macam apa yang tega merebut pria yang disukai sahabatnya sendiri? Dengan acara sok mendukung. Bokis sekali! Tapi sudahlah, bukan itu yang ingin aku bahas sekarang." Jimin mengibas-ngibaskan tangannya seolah semua omongan jeleknya tadi tidak berarti apapun. "Aku hanya ingin berkata bahwa Luhan sudah memaafkanmu dan ingin berteman denganmu lagi. Jujur saja, aku juga tdak mengerti. Apa sih kehebatanmu sampai-sampai Luhan masih mau berteman denganmu meski kau sudah menyakitinya?" Aku menatap Jimin dengan pandangan datar.
"Kenapa dia tidak mengatakannya sendiri?"
"Memang kau masih mau bicara dengannya? Kemarin Luhan ingin bicara padamu, tapi kau malah pergi. Aku melihatnya sendiri." Oh, jadi kemarin Luhan menghampiriku karna ingin bicara denganku setelah aku mendengar tentang Kai dan Mina saem?
"Aku tidak bermaksud menghindar, saat itu aku punya urusan mendesak."
"Lalu, kenapa selama ini kau tidak mencoba memperbaiki hubungan kalian? Kau memang tak peduli padanya kan? Kau itu egois, keras kepala, dan tidak punya perasaan." Jimin bicara dengan berapi-api, membuat Bibi kantin kelihatan cemas. Untung di kantin sedang tidak banyak siswa, dan tidak ada anak 2-F di antara mereka.
"Kau tahu tidak, Luhan masih peduli meski kau sudah menyakitinya. Luhan bahkan sangat cemas saat kau datang kesekolah dengan muka diplester. Dia tidak percaya bahwa kau sedang menutupi luka seperti yang kau katakan, karna dia yakin kau pasti mendapatkan masalah. Dia khawatir dan sedih. Kau pernah memikirkan dia tidak sih, seperti dia peduli padamu?" Aku tersentak seketika. Kata-kata Jimin membuatku memikirkan Luhan setelah sekian lama aku tidak peduli pada keadaannya. Aku tidak menyangka Luhan ternyata masih memperhatikanku. Kenapa selama ini aku tidak pernah memikirkan perasaannya? Aku terlalu kesal dengan hal-hal jelek yang dia katakan padaku sampai aku melupakan begitu saja persahabatan kami. Kenapa aku jadi pendendam begini? Seharusnya aku mengerti bahwa ketika dia marah itu, dia sedang emosi karena masalah Sehun. Duh bodohnya, kenapa aku menjadi tidak peduli dan egois begini? Luhan saja masih memikirkanku. Kenapa aku melupakan dia?
"Oh ya, Luhan juga bercerita padaku soal kejadian di mall itu. Dan asal kau tahu, dia menjadi temanmu bukan untuk mebalas budi karena pertolonganmu. Dia tulus menjadi temanmu, walau sejujurnya aku tidak mengerti kenapa."
"Aku akan menyelesaikan semuanya. Aku juga tidak ingin kita seperti ini terus."
"Kita?" Jimin mengerutkan dahi.
"Aku dan Luhan," Jelasku mengklarifikasi.
"Kau tidak berpikir sedang membicarakan aku dan kau kan?" Tampang sok Jimin kembali terpasang di mukanya. Seketika aku memasang pose muntah.
"Ew amit-amit, tidak! Aku bicara padamu hanya karna Luhan, sahabatku. Jika tidak, untuk apa aku membuang waktuku untuk bersamamu?" Aku mengangkat sebelas alis.
"Hanya begitu? Ya sudah!" Aku lantas berdiri ingin pergi.
"Tunggu dulu," Tahan Jimin. Dia mengambil sesuatu dari tasnya lalu meletakkannya di atas meja. "Ini kartu undangan dari Luhan. Kau ingat kan, besok ulang tahunnya?"
"Tentu saja," Jawabku sambil kembali duduk. Sebenarnya aku sempat lupa, tapi kemarin Baekhyun mengingatkanku. Sempat terfikir olehku memanfaatkan momen ini untuk memperbaiki keadaan, tapi aku tidak tahu harus berbuat apa, jadi aku cuek saja.
"Aku hanya menyarankan, lebih baik nanti sore kau datang kerumahnya. Kami akan mendekor ruangan untuk pesta besok. Luhan pasti seneng melihatmu. Kuharap kau mau bicara dan menyelesaikan masalahmu dengannya. " Setelah bicara begitu, Jimin berdiri.
"Eh, sebentar!" Tahanku. "Kenapa kau mau melakukan semua ini? Membuat aku dan Luhan berteman lagi? Bukannya kau suka jika aku jauh-jauh darinya?"
"Luhan itu sahabatku dan aku tidak mau melihatnya setiap hari bersedih hanya karna memikirkan orang tak berguna sepertimu." Ucapnya sambil melangkah pergi. Ini baru wujud asli Jimin yang menyebalkan. Aku tersenyum juga karenanya.
"Sialan! Untung aku tidak memesan ramyun!" Seruku. Tanpa menoleh ke belakang, Jimin mengibas-ngibaskan tangannya seolah berkata ''tidak penting deh''.
.
.
.
Aku berdiri di depan pintu rumah Luhan dengan sedikit gugup. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan jika Luhan membuka pintu dan sudah berdiri di hadapanku. Aku hanya bisa berharap kata-kata Jimin benar, Luhan masih mau berbaikan denganku. Tidak lucu kan, jika aku langsung diusir begitu saja?
Klek!
Pintu terbuka dan Luhan muncul.
"Kyungsoo?" Ujar Luhan nampak kaget, aku menggaruk pipiku dengan kikuk.
"Hai Lu, mmh.." Aku belum sempat melanjutkan ucapanku saat Luhan tiba-tiba memelukku, membuatku melebarkan mata.
"Aku sangat merindukanmu. Maafkan aku ya, sudah bicara yang tidak-tidak tentangmu waktu itu. Kau masih mau berteman denganku kan?" Ucapnya.
"Aku mau, tapi lepaskan pelukanmu. Aku sesak nafas tahu, kau mau berteman denganku atau membunuhku?" Hah. Syukurlah, sepertinya aku tidak akan diusir.
"Eh, maaf!" Luhan cepat-cepat melepaskan pelukannya. "Habisnya, aku senang sekali melihatmu datang kerumahku. Kukira kau tidak akan kesini lagi bahkan jika aku mengundangmu ke acaraulang tahunku." Aku menggelang, lantas menyerahkan kotak yang sejak tadi kusembunyikan di belakang punggung.
"Ini untukmu."
"Tapikan ulang tahunku masih besok! Kau lupa ya? Aish, jika begitu kita tidak jadi baikan deh." Ucapnya dengan nada bercanda, membuatku tersenyum.
"Yee, jangan merajuk begitu dong. Ini bukan kado ulang tahun. Ya anggap saja kado baikan. Um, aku ingin minta maaf Lu, aku juga salah. Aku sudah bicara macam-macam padamu."
"Maaf diterima." Ucap Luhan riang. "Eh, tunggu dulu!" Tiba-tiba dia menatapku serius. "Ini tidak berarti besok kau tidak akan memberiku kado kan?"
"Liat besok saja deh. Jika terdesak, mungkin aku hanya akan memberikan kartu saja." Ujarku cuek sambil seenak hati memasuki rumah.
"Aku tidak terima. Kau kan sudah berjanji akan memberiku hadiah special saat sweet seventeenku." Protes Luhan sambil mengikutiku masuk.
"Aku berjanji agar kau mau mentraktirku nonton waktu itu. Sudah lama sekali, kau masih saja ingat." Aku berjalan menuju ruang tengah.
"Tidak bisa! Janji tetap janji. Asyik, chochoball!" Perhatian Luhan langsung teralih saat melihat isi kotak yang kuberikan. Ah, itu memang makanan kesukaannya.
"Tapi aku bisa langsung gendut sehabis makan ini."
"Kau kira seperti membuat mie instan, bisa melar secepat itu? Tidak mungkin! Lagipula–" Ucapan dan langkahku berhenti begitu melihat Jimin, Chanyeol dan Baekhyun berada di ruang tengah. Luhan ikut berhenti.
"Oh. Aku lupa mengatakan jika Jimin, Baekhyun dan Chanyeol sudah ada disini, membantuku. Kau mau bergabung?"
"Kenapa tidak?" Aku melirik Jimin, tapi dia memalingkan muka dan berlagak tidak tahu apa-apa. Sialan! Dasar gadis itu, masih saja menyebalkan. Padahal dia yang membuat aku ada di sini.
"Bagus deh. Girls, ada tambahan orang nih!" Seru Luhan semangat sambil menarikku ke tengah ruangan. Di situ Jimin, Chanyeol dan Baekhyun sedang membuat hiasan pita-pita.
"Kenapa 'girls' sih? Aku kan ada di sini?" Protes Chanyeol.
"Eh, maaf, lupa. Lagipula kau mengurus pita, kan jadi kelihatan feminin," Canda Luhan, membuat yang lain tertawa. Aku bergabung dengan mereka. Awalnya memang agak canggung, apalagi dengan Jimin, tapi lama-kelamaan aku bisa juga akrab dengannya. Tidak akrab-akrab sekali sih!
"Aduh, berantakan sekali sih potongan pitamu? Chanyeol saja bisa membuat yang lebih bagus. Kau wanita bukan sih?" Protes Jimin, mengomentari hasil kerjaku.
"Biarkan saja, kan dia baru belajar.," Bela Baekhyun.
"Tapi aku ingin pesta Luhan itu terlihat perfect. Aku tak mau pekerjaannya jelek. " Omelnya dan aku mendengus.
"Kemari Kyung, akan aku ajarkan." Chanyeol yang sedang memasang lampu hias di tangga turun menghampiriku lalu mencontohkan cara menggunting pita agar menjadi bagus.
"Kau sangat pintar Yeol! Kau memang punya sisi feminim ya." Komentarku membuat Chanyeol tersenyum, dan hatiku terasa dialiri listrik. Gila, dahsyat sekali! Itu senyum apa setrum sih?
Menjelang malam, kami berhenti bekerja. Sisa pekerjaan berat seperti mengatur kursi, menyiapkan panggung untuk band, juga mengurus lighting dan sound system akan dikerjakan teknisi besok.
"Thanks ya, semua! Kalian sudah membantu menyiapkan pesta ulang tahunku. Terutama kau Yeol. Kau kan sedang sibuk mengurus lomba acara membaca puisi besok, tapi masih sempat membantuku." Ucap Luhan sebelum kami makan bersama setelah lelah bekerja.
"Santai saja Lu, urusan OSIS tidak ada masalah. Aku kan sudah menyiapkannya matang-matang. Jika ada yang kurang, masih ada anggota yang lainnya. "
"Kau yang terbaik! Ya sudah, jika begitu kita mulai saja makannya. Kalian boleh makan apa saja sepuasnya, tidak usah sungkan-sungkan," Ujar Luhan, lalu kami mulai berisik mengambil makanan di meja.
"Lomba besok siapa yang akan menang ya?" Tanya Luhan membuat bahan pembicaraan saat kami sedang menikmati makanan.
"Mungkin Mino, diakan orangnya puitis." Tebak Chanyeol.
"Pria berwajah sangar menggemaskan itu?" Tanya Luhan.
"Iya, tapi dia puitis jika hanya sedang menggombali perempuan saja." Ucapku sambil mengunyah makanan. Mino itu sekelas denganku saat kami kelas satu, jadi aku sedikit tahu tentang dia.
"Kau bisa tidak sih, bicara dengan mulut yang tidak penuh makanan begitu?" Protes Jimin namun aku mengabaikannya, bodoh!
"Eh, omong-omong, apa tidak ada yang mengikuti lomba itu dari kelas kita?" Chanyeol mengalihkan pembicaraan sebelum aku membalas kata-kata sialan Jimin.
"Iya ya, padahal ketua lomba itu dari 2-F," Ujar Luhan.
"Biarkan saja. Daripada memilih sembarang orang untuk ikut lalu membuat kelas kita malu." Jimin melirikku dan aku balas melotot padanya.
"Bagus sekali kau sadar diri." Balasku dan Jimin memasang wajah kesal.
"Baek, kau tidak ikut lomba?" Tanya Chanyeol pada Baekhyun yang sedari tadi hanya diam.
"Eh, tidak. Aku tidak bisa membaca puisi," Jawab Baekhyun malu-malu.
"Coba saja Baek, masih bisa mendaftar sampai besok sebelum acara," Bujuk Chanyeol.
"Tidak usah. Aku tidak bisa," Tolak Baekhyun agak kikuk. Setelah makan, kami lantas pamit pulang. Chanyeol dan Jimin sudah menuju mobil masing-masing, sementara aku, Baekhyun dan Luhan masih berkumpul di depan rumah.
"Aku senang sekali kita bisa berkumpul dan berteman lagi," Ucap Luhan. Aku dan Baekhyun tersenyum.
"Aku akan sangat menyesal sekali jika sampai kehilangan sahabat seperti kalian berdua," Balasku tulus. "Tapi aku akan lebih menyesel jika kehilangan Zero Wing Gundam ku." Tambahku, membuat Baekhyun dan Luhan berebut menjitakku. Kami tertawa bersama. Aku dan Luhan tidak membahas apa pun soal Sehun, tapi kami sengaja membiarkannya dulu. Mudah-mudahan Sehun, si kunyuk keras kepala itu, akan berbuat sesuatu untuk menyelesaikan masalah ini. Semoga Sehun tahu bagaimana cara menjelaskan semuanya ke Luhan. Tadinya aku ingin menyarankan agar Luhan mengundang Alkali tampil di pesta ulang tahunnya, tapi dengan keadaan seperti ini, sepertinya Luhan lebih memilih menampilkan atraksi band sekolah daripada band Sehun itu.
Baekhyun dan Jimin pulang bersama karna rumah mereka searah. Sementara aku ikut dengan Chanyeol. Sebelum masuk mobil Chanyeol, aku berjalan ke mobil Jimin.
"Terimakasih, tadi siang kau mau bicara denganku dan membuatku kesini." K ataku tulus dari luar jendela kemudi.
"Tidak masalah, Kyung. Besok aku akan mentraktirmu makan ramyun." Balas Jimin sambil mengeluarkan kepalanya lewat jendela mobil. Aku tersenyum kemudian berjalan ke mobil Chanyeol. Setelah melambai pada Luhan, kami keluar dari halaman rumah Luhan yang luas.
.
.
.
"Bagaimana persiapan lomba membaca puisi besok, Yeol?" Tanyaku setelah kami cukup lama terdiam. Rasanya canggung sekali saat berduaan seperti ini, padahal tadi kami bercanda dengan akrab bersama yang lain.
"Beres," Jawabnya tanpa memalingkan pandangan dari jalanan.
"Oh ya, kau pernah bilang bahwa tujuan kegiatan ini tidak tercapai. Apa maksudnya sih?" Tanyaku penasaran.
"Bukan apa-apa," Jawab Chanyeol tidak antusias. Aku lantas kembali menatap ke luar jendela. Tidak berminat melanjutkan obrolan lagi. Sesaat kemudian aku merasa mobil melaju semakin pelan. Kenapa Chanyeol menepi didekat pertokoan?
"Kyung. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Kau mau mendengarnya kan?" Kata Chanyeol dengan tiba-tiba sesudah mematikan mesin mobil. Aku jadi sedikit kaget lalu mengangguk pelan. Hatiku mulai berdebar tidak jelas.
"Jujur saja, aku merasa sangat nyaman bicara denganmu. Baru sekarang aku merasa seperti ini pada seseorang. Aku ingin menceritakan sesuatu yang belum pernah aku ceritakan pada orang lain. Aku pernah ingin mengatakannya saat dikantin waktu itu, tapi Jimin menyelanya." Aku lantas mengingat-ingat pembicaraan waktu itu.
"Soal perasaan itu?" Tanyaku pelan walau dalam hati aku makin kelimpungan saja. Aku sedang tidak memakai plester bergambar penguin di mukaku, jangan-jangan Chanyeol ingin mengatakan suka padaku?
"Kyung, sebenarnya selama ini aku suka pada…" Chanyeol menjeda dan jantungku hampir meledak mendengar kata-kata pelan Chanyeol. Akhirnya!
"...pada seseorang." Ucapnya menyelesaikan kalimat yang langsung menurunkan tekanan jantungku dan membanting harapanku ke jurang setelah sempat melambung tinggi. Seseorang? Siapa? Berapa besar peluangku?
"Siapa?" Tanyaku penasaran.
"Itulah masalahnya. Aku tidak tahu siapa dia." Chanyeol menatapku. "Mungkin kau pikir ini konyol, tapi aku sungguh menyukai gadis ini walaupun aku tidak tahu siapa dia dan bagaimana wajahnya."
"Bagaimana kau bisa menyukainya jika kau tidak mengetahuinya? Maksudku, kau tidak tau orangnya, tapi kenapa kau bisa mengenalnya? Kenapa kau bisa suka? Aduh aku tidak mengerti bagaimana mengatakannya, coba kau jelaskan!" Aku sedikit bingung dan sibuk mengatur napas karena fase berdebar salah sasaran tadi.
"Dia menyampaikan perasaan sukanya padaku lewat puisi-puisinya. Kadang-kadang beberapa hari sekali, aku selalu menemukan satu lembar puisi di tas atau di laci mejaku. Kata-katanya benar-benar menyentuh perasaanku. Aku benar-benar merasa dia membuatnya dengan hati, bukan menggombal dengan kata-kata indah. Kau mengerti maksudku kan Kyung?"
"Ya." Aku langsung teringat puisi-puisi Baekhyun. Puisi dari hati, bukan dari pemikiran untuk merangkai kata-kata.
"Puisi-puisi itu sudah banyak sekali." Chanyeol kelihatan putus asa.
"Lewat puisinya dia menggambarkan perasaannya. Biasanya dia sering melukiskan kekagumannya padaku, juga kesedihannya karena tidak bisa bersamaku. Aku jadi frustasi sendiri. Aku ingin berkata pada wanita itu untuk menunjukkan diri karena jika aku bertemu dia, aku akan langsung menyukainya. Entah bagaimana wajahnya, yang jelas aku luluh dengan ketulusan perasaannya padaku." Chanyeol menarik nafas untuk menjeda.
"Banyak gadis yang menedekatiku atau mencoba menarik perhatianku, tapi aku berpikir mereka melakukan itu karena aku dianggap idola di sekolah, karena aku kapten basket, karena gadis yang dekat denganku akan dianggap terkenal. Tapi aku tahu gadis ini tidak seperti itu, aku merasa dia tulus padaku." Chanyeol menatapku.
"Aku konyol, ya? Sudah lama sekali aku ingin berbagi rahasia ini dengan seseorang, tapi aku merasa tidak akan ada yang bisa mengerti sampai aku berteman denganmu."
"Aku memang tidak merasakan apa yang kau rasakan, tapi sungguh, aku tidak menganggapmu konyol." Ucapku. "Aku tidak menyangka saja, pria sepertimu bisa memiliki perasaan pada gadis yang bahkan belum kau temui." Aku menoleh ke deretan pertokoan di depan dengan pandangan sulit.
"Jadi, kegiatan lomba puisi di sekolah, kau adakan untuk mencari tahu siapa dia?"
"Ya, tapi tidak ada puisi dia yang ikut lomba, itu membuatku semakin frustasi. Rasanya aku jadi ingin melupakannya. Aku ingin mencoba menyukai gadis lain yang nyata, yang aku tahu siapa orangnya. Bukan gadis khayalan yang kukenal hanya lewat tulisan puisi." Curhat Chanyeol. Kemudian kami saling terdiam. Mataku memandang ke luar jendela mobil. Tiba-tiba aku terbelalak saat melihat seseorang melewati pintu kaca salah satu butik. Itu Kai saem. Mataku semakin membesar saat melihat Mina saem menghampirinya sambil membawa entahlah, aku tidak bisa melihat dengan jelas dari sini, mungkin baju atau apa. Sepertinya mereka sedang berbelanja bersama. Perlahan terjadi sesuatu dalam hatiku. Rasanya ada kehampaan di sana. Aku menatap mereka. Mereka terlihat mesra sekali. Aku jadi terkejut saat menyadari perlahan air mataku mengaburkan pandanganku, tapi sekaligus membuatku melihat jelas apa yang sedang terjadi pada hatiku. Aku cemburu. Ya ampun, bagaimana ini bisa terjadi? Aku merasa aku suka, aku jatuh cinta pada Kai, Kai saem, pokoknya tetanggaku itu. Dadaku terasa sesak, benar-benar seperti kekurangan oksigen. Aku tidak mengerti kenapa aku baru menyadari perasaan ini setelah dia bersama orang lain. Wanita sempurna dari masa lalunya. Air mataku jatuh di pipi. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku harus menghentikan perasaan ini. Aku tidak mau sakit hati. Cinta ini tidak akan terwujud. Aku takut patah hati. Aku menghapus air mataku lalu menatap ke arah Chanyeol yang sedang merenung sambil melihat ke luar jendela. Entah kenapa tiba-tiba aku ingin bicara padanya.
"Yeol, aku.. aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakan ini. Aku mengerti kau sungguh menyukai gadis yang mengirim puisi-puisinya itu. Tapi aku juga sedang bingung dengan perasaanku sendiri. Aku..aku.." Chanyeol memandangku dan terlihat bingung.
"Kau mau bicara apa Kyung?"
"Sebenernya sejak kelas satu, aku menyukaimu. Walaupun sepertinya kau menganggapku tidak ada dan tidak mungkin bagi kita bersama, tapi aku tetap menyimpan perasaan ini. Lalu setelah kita sekelas di kelas dua, perasaanku semakin nyata karena kita sering bersama walau tidak bertegur sapa. Dan sekarang setelah kita menjadi teman dekat, aku semakin yakin dengan perasaanku. Aku menyukaimu Yeol." Aku terdiam, lalu menggigit bibir bawahku kuat-kuat. Astaga. Aku sedang mabuk ya? Kenapa tiba-tiba aku mengatakan suka pada Chanyeol? Oh, my God!
Chanyeol terlihat sangat terkejut. Dan aku sudah menyiapkan diri seandainya pun setelah ini dia menjauhiku dan tidak mau menjadi temanku lagi, aku terima. Entah kenapa aku mengatakan semuanya sekarang. Tapi aku tidak menyesal. Yang jelas aku lega karna sudah mengutarakan perasaan terpendamku padanya.
Ada suara tawa dan aku menatap Chanyeol dengan kaget.
"Kau suka padaku? Sejak kelas satu?" Aku lantas mengangguk malu.
"Jujur saja, aku sangat kaget dan tidak menyangkanya. Tapi yang lebih jujur lagi, aku sangat senang sekali Kyung."
"Maksudmu?"
"Aku senang karena ternyata kau menyukaiku." Chanyeol tersenyum.
"Aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Aku meerasa nyaman didekatmu dan mungkin sebenarnya aku juga punya perasaan padamu, tapi aku tidak mau aneh-aneh. Dan saat kau seperti cemburu karna mengira aku dan Jimin pacaran, entah kenapa aku jadi berharap kau punya perasaan lebih dari sekadar teman padaku. Tapi perasaanku sendiri padamu masih dibayangi gadis puisi itu. Sekarang aku tahu ternyata kau menyukaiku dan sepertinya sekarang aku juga yakin bahwa aku menyukaimu juga Kyung."
"Sepertinya?"
"Oke. Tidak 'sepertinya' kok. Aku yakin aku suka padamu." Tegas Chanyeol. "Kau mau bicara jujur tentang perasaanmu padaku dan aku benar-benar menghargainya. Aku akan tetap percaya gadis puisi itu juga punya perasaan tulus untukku. Tapi jika hanya untuk menunjukan dirinya saja dia tidak bisa, sepertinya perasaan itu akan sia-sia." Chanyeol meraih tanganku dan menatapku serius.
"Kyung, kau mau kan menjadi pacarku?" Tanya Chanyeol. Seketika aku melayang! Ya Tuhan, drama cinta sinetron remaja itu ternyata bisa terjadi di dunia nyata. Dan itu terjadi padaku. Oh, my God! Tanpa fikir panjang aku mengangguk. Jika ini sinetron, lagu siapa ya, yang jadi soundtrack adegan ini? Aku tidak percaya. Aku, Do Kyungsoo, gadis badung tukang membuat ulah ini, bisa memiliki kisah cinta yang indah dengan Chanyeol, pria pujaanku selama ini. Seharusnya aku bahagia dengan kenyataan ini, tapi tetap saja ada yang salah dengan perasaanku. Entah kenapa bayangan pertemuanku dengan keponakan Paman Cha yang mengambil mangga-mangga hasil petikanku, Kai saem yang mengambil komik Inu-Yasha edisi terbaruku, dan Kai yang menyelamatkanku saat aku disakiti para berandalan itu, terulang di benakku. Rasanya sekarang jarak yang begitu jauh memisahkan kami. Dia tidak sendiri lagi dan aku punya Chanyeol. Semua akan berbeda mulai sekarang.
"Kenapa kau menangis, Kyung?" Chanyeol mengusap air mata di pipiku. Aku meraih tangannya. Aku tidak bisa mengatakan yang ingin kukatakan, aku merasa rapuh.
"Yeol. Aku.. " Aku menyandarkan kepala di pelukan Chanyeol lalu mulai terisak. Perasaanku kacau, tapi aku masih bisa merasakan bahwa aku menangis untuk Kai. Aku sedih sekali. Aku merasa kehilangan dia, orang yang kucintai.
"Yeol, aku membutuhkanmu."
"Aku janji, aku akan selalu ada untukmu." Dia merapatkan pelukannya, membuatku merasa bahwa aku memiliki tempat bersandar untuk melabuhkan kesedihanku. Aku mau berdamai dengan kenyataan. Aku harus belajar menerima bahwa aku tidak bisa bersama Kai dan sekarang Chanyeol-lah satu-satunya pria yang seharusnya ada di dihatiku. Aku melepaskan pelukan dan menatap mata Chanyeol, dia tersenyum.
"Aku bahagia menjadi pacarmu."
"Tentu saja, karna kau punya kesempatan untuk merebut robot Gundam ku, kan?" Tebakkku dengan nada bercanda. Aku menghapus sisa air mataku.
"Bukan itu. Tapi karena mungkin besok-besok, tidak ada lagi gadis genit yang berani menggodaku karena pacarku seorang preman sekolah," Sahutnya.
"Dan siapa bilang saat kelas satu aku tidak tahu kau ada? Gara-gara ketiduran di kelas di hari pertama sekolah, kau disuruh lari berkeliling halaman sekolah. Sepertinya semua penghuni sekolah tahu bahwa kau ada." Kata-kata Chanyeol membuatku malu, tapi kami akhirnya tertawa juga.
.
.
.
Kehidupan remajaku sepertinya akan kembali normal mulai sekarang, tanpa ada bagian ketika aku memiliki perasaan khusus pada wali kelasku sendiri. Bahkan mungkin akan menjadi indah karena aku berpacaran dengan idola sekolah yang selama ini kusuka. Sesampainya di rumah, hari sudah gelap. Aku langsung menuju kamar lalu menjatuhkan diri di tempat tidur. Aku masih merasakan kecupan Chanyeol di pipi kananku, sebelum aku keluar dari mobilnya tadi. Hatiku masih berputar-putar dibenakku.
"Lupakan Kai, cintai Chanyeol." Gumamku meyakinkan diri, Aku pasti bisa melakukannya.
Suara dering ponsel mengusik lamunanku. Aku menjawabnya tanpa menoleh siapa si pemanggil.
"Halo?"
"Kyung! " Suara Baekhyun terdengar dari sebrang. Oh.
"Ada apa Baek?"
"Kyung, aku ingin mengatakan sesuatu." Aku mendengar nada suaranya yang agak aneh, sepertinya dia ingin bicara serius denganku. Aku lantas terduduk diatas ranjangku.
"Aku lelah menyimpan ini sendriri. Aku ingin bicara padamu."
"Soal apa?"
"Kyung, selama ini aku menyukai seseorang. " Baekhyun terdiam sesaat sebelum melanjutkan.
"Aku jatuh cinta pada Chanyeol!"
Jedeerrr!
Seperti sebuah petir menusuk kehatiku, tepat dan membuatnya remuk. Mulut dan mataku terbuka lebar karena kaget. Baekhyun jatuh cinta pada Chanyeol? Chanyeol yang baru saja menjadi pacarku? Oh God!
"Kau tahu tidak, puisi-puisi yang ada dikamarku, itu salinan puisi-puisi yang diam-diam aku berikan pada Chanyeol. Aku benar-benar mencintainya Kyung, bukan sekedar nge-fans seperti gadis lainnya. Aku jatuh cinta karna Chanyeol yang baik, ramah dan sopan. " Baekhyun terdengar menghela napas.
"Beberapa hari ini, karena sering berkumpul untuk membicarakan pesta Luhan, aku jadi sering bersama dia dan perasaanku menjadi semakin kuat. Dia baik sekali padaku, padahal kami baru akrab karena persiapan pesta itu. Sebelumnya kami bahkan jarang sekali bertegur sapa di kelas. Ternyata dia memang sebaik yang selama ini aku bayangkan. Aku cinta dia, Kyung." Suara Baekhyun terdengar menjadi serak, sepertinya dia mulai nangis.
"Aku tidak punya keberanian untuk menyatakan perasaanku. Aku takut merusak semuanya. Aku takut perasaan indah yang aku rasakan selama ini berubah menjadi kekecewaan seandainya aku mendekati dia dan menyampaikan perasaanku padanya. Aku takut kehilangan dia, walaupun sebenarnya aku tidak pernah memilikinya. Tapi perasaan ini menyiksaku Kyung. Aku tidak tahu harus bagaimana.."
Air mataku seketika mengalir. Jadi, gadis yang selama ini memberi puisi-puisi ke Chanyeol dan membuatnya jatuh cinta itu Baekhyun? Sahabatku? Ya ampun, aku fikir mulai besok kehidupan remajaku akan menyenangkan. Tapi kenapa baru sekarang aku tahu bahwa Baekhyun mencintai Chanyeol, pria yang baru beberapa menit lalu menjadi pacarku? Kenapa tidak sejak dulu? Kenapa tidak sejam lalu? Kenapa tidak sebelum Chanyeol menjadi pacarku? Lama kami saling terdiam. Aku tahu bagaimana perasaan suka yang tidak tersampaikan itu membuat hati terasa sakit, tapi aku tidak tahu apa yang harus kukatakan pada Baekhyun.
"Baek, aku tidak tau bagaimana caranya membantumu. Maafkan aku ya. Sepertinya kau sendiri yang paling tahu apa yang harus kau lakukan." Aku menutup telepon kemudian menangis sejadi-jadinya. Ini menyakitkan sekali. Entah kenapa air mataku jadi gampang keluar akhir-akhir ini. Aku menjadi cengeng. Kemarin-kemarin aku selalu punya cara untuk menghadapi semua persoalan. Tapi sejak aku sadar aku jatuh cinta pada Kai, perasaanku mendominasi cara kerja otakku. Seandainya tadi aku mengatakan bahwa aku dan Chanyeol pacaran, semuanya akan beres. Besok akan menjadi awal kehidupan bahagia masa remajaku, tapi semua itu harus dibayar dengan luka hati Baekhyun dan aku tidak mau itu terjadi. Aku sayang Baekhyun. Hatiku bimbang. Apa yang harus kulakukan?
Pintu kamarku terbuka lalu sosok Sanha masuk. Aku hanya menatapnya, terlalu lelah meski hanya memarahinya karna dia tidak mengetuk pintunya.
"Burung hantu disuruh makan oleh Eoma." Ucapnya berjalan ke arahku, lalu naik ke tempat tidur dan duduk di sebelahku.
"Burung hantu kenapa? Kenapa menangis?" Cepat-cepat aku mengusap air mataku dan menggelang.
"Burung hantu bertengkar dengan Kai Uncle lagi ya? Kai uncle memang sering nakal sama Burung hantu, tapi dia sayang Burung hantu seperti dia sayang pada Sanha." Aku tersenyum melihat wajah polos Sanha. Dia kelihatan manis jika tidak nakal dan berulah.
"Burung hantu tidak bertengkar dengan Kai uncle kok." Jelasku. Nampaknya aku sudah terbiasa dengan panggilan 'Burung Hantu' dari Sanha. Malah sekarang aku ikut memanggil diriku sendiri nama itu.
"Bohong. Lalu kenapa Burung hantu tidak mau diajak bermain kerumah Kai uncle kemarin?" Tanyanya.
"Burung hantu sedang banyak PR," Bohongku. Beberapa hari ini aku memang ingin menghindar dari Kai, jadi aku sering beralasan macam-macam jika diajak Sanha bermain kesana. Aku menatap bocah yang sedang memainkan boneka singa yang sejak tadi dibawanya.
"Sanha, Burung hantu mau bertanya. Seandainya kamu punya satu mainan yang sangat disukai, tapi sahabat Sanha mau mengambilnya, apa Sanha mau memberikannya?"
"Sahabat itu apa sih?" Sanha balas bertanya dengan mata mengerjap yang polos.
"Sahabat itu teman yang kita sayangi,seperti Sanha dengan Kai uncle." Jelasku. Sanha mengerutkan alisnya.
"Jika Kai uncle mau mainan Sanha, pasti akan Sanha berikan karna Sanha sayang Kai uncle. Dia kan sering memberi Sanha buah-buahan, mengajak Sanha dan membantu Sanha belajar. Kai uncle kan orang baik. Sanha masih punya Burung Hantu yang mau memberi Sanha mainan kan?"
"Tentu saja. Tapi Burung hantu tidak mau memberikannya jika hanya dirusak." Candaku. Aku memikirkan jawaban Sanha. Yang sebenarnya kuandaikan dengan mainan itu adalah Chanyeol, dan sahabat yang kumaksud adalah Baekhyun. Jadi menurut pemikiran Polos Sanha, aku harus menyerahkan Chanyeol kepada Baekhyun karna aku menyayangi Baekhyun. Tapi bagaimana dengan perasaanku dan perasaan Chanyeol yang sudah menjadi pacarku? Jika Sanha memiliki diriku yang akan memberikannya mainan, lalu siapa yang akan memberikan mainannya padaku? Aku punya siapa untuk menjaga hatiku? Lama aku terdiam sambil sesekali mengamati Sanha yang sedang memilin-milin kumis boneka singanya.
"Sanha, Burung hantu pergi dulu ya. Soalnya Burung hantu ingin memberi 'mainan' kesayangan Burung hantu untuk sahabat yang Burung hantu sayang." Aku mengambil jaket lalu keluar kamar diikuti Sanha.
"Appa, Eoma, aku kerumah Baekhyun sebentar ya. Ada keadaan darurat." Pamitku, kemudian beranjak ke garasi mengambil sepedaku. Aku harus menuju rumah Baekhyun.
.
.
.
.
TBC.
.
.
.
PS. Sanha disini itu laki-laki, memang dari awal tidak laxy jelaskan hehe. Sekedar info, Sanha disini itu maknaenya ASTRO. Karna dia imut maka aku jadikan cast adik sepupunya Kyungsoo deh, hehe.
Ah ya, untuk update-an diss hater di fanfict ToD buat yang melihatnya, seperti kata kalian, mari lupakan saja orang itu^^ Jangan membuang energy untuk mengurus orang macam itu, hm. Saya sudah tidak apa-apa dan terimakasih support dan semangatnya. Aku cinta kalian semua, Kita akan bersenang-senang lagi dengan banyak fanfict kaisoo, so please waitt^^
.
.
Terimakasih ^^
See u next chapter ^^
