-69-

The Truth Behinds the Mask

.

.

Presents by

Hiname Titania

Pairings

SasuHina, SasoHina

Disclaimer

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Warnings

Mature contents, , AU, typo(s), etc.

Don't Like Don't Read.

.

Chapter Eleven

Burn

.

.

-69-


Warna biru yang bersih memberikan kesan luas pada langit di pagi hari ini. Awan-awan bergerak lambat mengikuti arus angin. Mata mutiara Hinata mengikuti gerakan tersebut sambil menikmati kopi yang beberapa menit lalu diseduhnya. Tiba-tiba dua buah lengan melingkar di sekitar perutnya. Aroma mint langsung menguar ke indra penciumannya, aroma yang sudah sangat dikenalnya.

"Sasuke," bisiknya.

Lelaki itu tidak menghiraukan panggilannya, mulutnya sudah sibuk menciumi lehernya, kemudian daun telinganya. Deru napas Sasuke membuat kulit lehernya semakin sensitif. Tanpa sadar Hinata memiringkan kepalanya, memberikan akses lebih padanya.

"Sasuke," panggil Hinata sekali lagi di sela-sela deru napasnya yang kian tak beraturan. "Kau mau kopi?"

Kali ini salah satu tangan Sasuke menarik dagunya sehingga membuatnya berhadapan dengan wajah aristokrat milik Sasuke. Belum sempat Hinata mengagumi keindahan wajah tersebut, Sasuke sudah mencium bibirnya. Membuat kedua kakinya lemas dan tangannya yang sedang memegang cangkir bergetar.

Sasuke kemudian melepaskan ciuman tersebut. Mata gelapnya memberikan tatapan menggoda sebelum menjilat bibir bawahnya sendiri. Gerakan yang tidak lepas dari penglihatan Hinata.

"Thanks untuk kopinya, Hinata." Kemudian dia berbisik nakal. "Ini sangat enak."

Setelah itu dia melepaskan pelukannya. Membuat Hinata menggeram kecewa dan decakan kecil dari Sasuke.

"Aku harus pergi ke kampus, ada kelas pagi."

Hinata mengangguk. Sasuke berjalan pergi dengan ranselnya. Kemudian menengok seperti lupa mengatakan sesuatu.

"Hinata, nanti malam temani aku ke acara party salah satu kerabatku," ucapnya tak lupa memberikan senyuman maskulinnya.

Hinata tersenyum kecil kemudian mengangguk. Pandangannya tak pernah lepas dari punggung Sasuke yang semakin menjauh. Pikirannya kembali melayang ke kejadian beberapa hari yang lalu, malam dimana dia merubah perspektif tentang seorang Uchiha Sasuke.

Bagi Hinata semuanya masih tampak tak nyata. Saat Sasuke menunjukkan jati dirinya padanya, perasaannya penuh dengan berbagai macam emosi yang sampai sekarang tidak bisa didefinisikan olehnya sendiri.

Apalagi di malam itu Sasuke memberikan ucapan 'terima kasih' dan mereka hampir saja melakukan itu. Kedua pipi Hinata memerah tiap kali dia mengingatnya.

Hinata harusnya membenci cara Sasuke mengungkapkan rasa terima kasihnya itu, tapi tidak, dia sama sekali tidak membenci perlakuan Sasuke padanya. Dia masih mengingat dengan jelas bagaimana cara Sasuke menyentuhnya meninggalkan getaran-getaran aneh di sekujur tubuhnya. Bagaiamana cara Sasuke menatapnya layaknya dia adalah seorang dewi. Sasuke membuatnya merasa spesial, merasa sangat diinginkan.

Sasuke juga tidak memaksanya untuk melakukan itu. Sasuke dengat sangat mengejutkan mengikuti keinginannya ketika dia mengatakan bahwa dia belum siap untuk melakukan kontak fisik lebih jauh lagi. Dia malah menciumnya dengan sangat lembut kemudian memberikannya privasi lagi.

Apalagi setelah malam itu, Hinata kira semuanya akan kembali normal dengan Sasuke yang bertindak brengsek seperti biasanya. Tapi tidak, dia memperlakukannya seperti seorang tuan putri. Hinata saja harus bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada Sasuke. Seperti tadi, tiap kali dia akan pergi ke kampus dia pasti mengecupnya, menciumnya, atau melakukan tindakan-tindakan yang membuat jantungnya harus berdetak tak karuan.

Sasuke juga menjadi sangat manja padanya. Misalnya saja ketika dia sedang menonton TV, tiba-tiba Sasuke akan meletakkan kepalanya di pangkuannya kemudian tertidur. Atau tiba-tiba dia memintanya untuk mengelus rambutnya ketika dia hendak tidur dipangkuannya. Atau ketika malam-malam dia akan datang ke kamarnya kemudian memintanya untuk memeluknya karena katanya dia tidak bisa tidur kalau tidak ada aroma lavender yang khas sepertinya.

Sasuke sangat aneh, tapi yang lebih aneh adalah dirinya sendiri. Dia sama sekali tidak pernah menolak jika Sasuke bersikap seperti itu padanya. Dia dengan sangat sadar, membiarkan Sasuke melakukan itu semua!

Ini semua salah.

Seharusnya dia tidak membiarkan Sasuke melakukan itu semua, seharusnya dia tidak senang ketika Sasuke bersikap manja dan menyentuhnya. Bukankah dia sendiri mencintai Sasori?

Ya, Sasori adalah lelaki yang selama ini dicintainya, bukan Sasuke.

Benarkah?

Lantas mengapa hatinya mulai meragu.

-69-


Tujuh tahun sebelumnya…

Malam sangat gelap. Bintang dan bulan tidak menunjukkan batang hidungnya. Kegelapan yang menyiksa penglihatan mata Sasori.

Di malam-malam seperti ini, seniman sepertinya pun kehilangan ide-ide cemerlang. Dengan perasaan frustasi Sasori melemparkan kuas di tangannya ke tembok disusul dengan kanvasnya. Dia melepaskan celemaknya lalu membantingnya. Beginilah Sasori jika sudah tidak memiliki inspirasi untuk menyelesaikan lukisannya.

Melukis adalah hidup Sasori. Dengan melukis dia melampiaskan semuanya tak terkecuali rasa kekosongan yang selalu menggerogoti hatinya. Namun, kini mendadak dia tidak bisa melanjutkan lukisannya tersebut dikarenakan langit sedang tidak berpihak padanya.

Rambut merah maroon-nya menjadi satu-satunya benda bercahaya di ruangan serba gelapnya. Dia biasa melukis di kegelapan dengan bantuan cahaya bulan dan bintang sehingga ketika dia melihat langit yang kosong tanpa dua hal tersebut, dia tidak bisa untuk tidak menghancurkan semuanya. Tiba-tiba bunyi ponselnya berdering mencairkan ketegangan di ruangan yang sepi itu. Jika saja dia sedang melukis mungkin ponselnya tersebut sudah menjadi korban tembok, tapi karena malam ini adalah malam keberuntungan sang ponsel Sasori mengangkat panggilan tersebut.

"Oi bung!"

"Apa?"

Mendengar nada ketus Sasori malah membuat orang di sebrang sana tertawa. "Sepertinya kau sedang dalam masalah besar."

"Memang."

"Aku tahu, malam ini terlalu gelap untukmu. Daripada kau menghancurkan semua kanvas dan kuasmu yang nantinya akan kau beli lagi, lebih baik kau datang ke arena sekarang."

"Apa kau akan menjualku lagi kepada calon-calon modelmu, Deidara?"

"Haha… kau memang sangat mengenalku, tapi tenang saja aku hanya ingin mengajakmu balapan mobil. Sungguh!"

Sasori tampak berpikir sejenak. "Baiklah."

Beberapa menit kemudian Sasori sudah bertemu dengan Deidara di arena balapan liar yang sudah ramai dengan para pembalap lainnya.

"Kau datang juga Sas!" Deidara memperhatikan mobil balap Sasori. "Hei kau tidak mengajak-ngajakku memodifikasi mobilmu jadi sekeren ini."

"Kapan balapannya di mulai? Kau tau aku tidak suka menunggu."

"Tenang sebentar lagi, sebelum itu ayo kuperkenalkan kau pada teman-temanku."

Belum sempat Sasori menolak, segerombolan wanita-wanita seksi sudah mengelilingi mereka.

"Jadi ini temanmu itu, Deidara?"

Deidara mengangguk dengan semangat, dia benar-benar mengabaikan tatapan membunuh Sasori padanya.

"Manis, tapi apa kau tidak takut bos mendepakmu membawanya kemari?"

"Yah, bukankah dia masih di bawah umur?" tutur seorang wanita sambil memperhatikan Sasori.

Deidara terbahak-bahak mendengar komentar sang wanita.

"Hmp tenang saja, meskipun dia memang seperti berumur 13 tahun, tapi sebenarnya dia seumuran denganku."

Sasori sudah sangat siap menikam Deidara jika saja dia sedang memegang pisau. Mengapa dia sampai lupa kalau Deidara ini adalah seorang pembual. Lihatlah, sekarang Deidara sedang mencoba menjualnya lagi. Deidara memang pemberi janji palsu.

Para wanita itu terperanjat, sebelum kemudian memberikan tatapan-tatapan genit pada Sasori.

"Hmm menarik, Sasori-kun kalau kau benar-benar berumur 13 tahun pun aku rela melayanimu," goda salah satu wanita.

Percakapan terus berlanjut dengan goda-godaan. Jika saja malam itu mood Sasori sedang tidak buruk, mungkin dia akan meladeni rayuan para wanita yang harus dia akui seksi-seksi.

"Ayo sepertinya balapan sudah akan dimulai!" Setelah mereka mengakhiri percakapan dengan para wanita tersebut, Deidara dan Sasori segera memasuki mobil masing-masing.

Deidara membuka kaca mobilnya setelah mereka berbaris di arena balapan. Sambil menunggu penjelasan balapan dari instruktor di barisan, Deidara yang kebetulan berada di sebelahnya membuka kaca mobilnya. "Sasori jika aku menang kau harus mau menjadi model bugilku bersama wanita-wanita tadi!"

Sasori tak menjawab melainkan memberikan jari tengahnya pada Deidara bertepatan dengan mulainya balapan. Sasori langsung melaju cepat. Lewat kaca spion Sasori tersenyum penuh kemenangan saat melihat Deidara yang tertinggal jauh di belakangnya.

"Take that asshole!"

Mata hazel Sasori menatap fokus jalanan, kadang-kadang dia melirik ke samping ketika melihat beberapa mobil yang mencoba untuk menyusulnya. Senyuman penuh kepuasan otomatis terpatri di wajah awet mudanya setiap kali dia menggagalkan pergerakan mobil lawan atau saat dia berhasil menyusul mobil lawan satu demi satu. Malam ini dia memang tidak bisa menyelesaikan lukisannya, maka malam ini tidak boleh ada kegagalan lagi. Apapun itu, dia harus menjadi pemenang termasuk balapan ini dia harus menang. Dengan gesit dia berhasil melewati lawan terakhir, sekarang dia berada di posisi pertama.

Arena balapan ini sudah sering Sasori lalui, dia tahu mana saja tempat-tempat yang tepat untuk menyusul dan melakukan trik-trik lainnya. Sebentar lagi setelah jalanan lurus ini akan ada tikungan tajam yang merupakan rintangan terakhir dan paling berbahaya. Sasori yang sudah hapal betul dengan jalanan dengan percaya diri melaju cepat kemudian segera mengoper untuk melewati tikungan curam tersebut.

Kedua bola matanya melebar tak percaya, ketika tak disangka-sangka dari sisi kanan ada mobil lain yang menikung lebih tajam darinya sehingga mobil itu lebih cepat darinya dan segera merebut posisi pertamanya. Sasori segera mengoper dan kembali menggas mobilnya secepat yang dia bisa, garis finish hanya beberapa meter lagi di depan mata. Dengan jantung berdebar kencang Sasori menginjakkan kakinya ke gas sekencang mungkin. Suara debuman mobilnya seolah-olah semakin menegangkan suasana yang sebenarnya hanya beberapa detik tapi seakan-akan berjam-jam itu. Sasori mencengkram keras setir mobilnya, matanya menatap lurus ke garis finish, mobil merah hanya beberapa meter di depannya. Hitungan detik berikutnya dia sudah melewati garis finish dengan posisi kedua! Momen kemenangan yang hampir saja didapatkannya.

So close yet so far.

Mobil merah yang berhasil memenangkan balapan segera menepi ke pinggiran. Sasori menatap mobil tersebut dengan kemarahan. Dia memukul keras stir mobil. Kegagalan kedua di malam penuh kegelapannya.

Mobil terakhir sudah melewati finish. Sasori segera turun dari mobilnya, lalu membanting pintunya. Lewat ekor matanya, Sasori bisa melihat Deidara yang sedang berlari ke arahnya. Tapi, Sasori tidak peduli sekarang matanya terfokus pada supir mobil merah yang sudah keluar dari mobilnya. Dengan langkah cepat dan lebar Sasori mendekatinya. Segala macam sumpah-serapah sudah disiapkannya.

Namun sayangnya, semuanya tercekat di ujung lidahnya ketika mata hazel-nya bertemu pandang untuk pertama kalinya dengan dua bola mata paling jernih yang pernah dilihatnya. Suara keramian yang sebelumnya menjadi background music mendadak menghilang tak terdengar. Kedipan mata jernih itu, seakan-akan lebih lambat dari biasanya, dan bulu-bulu mata lentik itu seolah-olah sedang merayunya. Rambut gelap panjangnya malah tampak sangat bersinar di malam tergelap yang pernah dialaminya ini. Sasori tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya selain kenyataan bahwa jantungnya berdebar dengan sangat cepat dan tubuhnya yang seoalah-olah terbakar.

"Siapa kau?" Sasori sendiri tidak tahu darimana dia memiliki kemampuan bersuara ketika pemandangan di hadapannya seolah-olah sudah mengambil seluruh udara di sekitarnya.

Salah satu alis rapihnya terangkat dengan elegan, sebelum bibir ranum itu tersenyum tipis memabukkan.

"Hinata."

Hinata, sang supir mobil merah. Hari itu, seperti warna mobil merahnya yang menyala, sosoknya telah menyalakan api merah di malam tergelapnya.

-69-


Semenjak pertama kali Hinata memasuki kehidupan Sasori, gadis itu selalu menyalakan api pada dirinya. Dia mengibaratkan dirinya sendiri layaknya lilin yang akan meleleh tiap kali api itu ada. Seperti sekarang, sosok Hinata yang menawan sedang berdiri manis tak jauh darinya dengan mini dress merah menyalanya, membuat Sasori seperti meleleh dan hanya bisa pasrah membiarkan api itu membakar dirinya sampai habis.

Tangannya ingin sekali menyentuh gadis itu, tapi apa daya dia hanyalah lilin yang hanya akan meleleh jika menyentuh sang api. Apalagi jika pemetik api itu berada di samping sang api yang siap menyalakannya kapan pun api itu mati. Yah, pemetik api yang dia ibaratkan pada laki-laki terkutuk bernama Uchiha Sasuke.

Pemandangan di depannya sekarang adalah pemandangan yang sangat mengolok-ngolok dirinya, menertawakan statusnya yang hanya merupakan seorang selingkuhan. Ketidakberdayaannya untuk segera menarik Hinata pada pelukannya ketika Uchiha Sasuke dengan leluasa memeluk pinggang ramping gadisnya. Betapa detik itu juga Sasori sangat ingin memotong lengan yang berani menyentuh Hinata-nya. Sasori sangat menyesal datang ke pesta rekannya ini jika pada akhirnya dia harus melihat adegan mesra antara api dan sang pemetik api.

"Tuan, anda tidak apa-apa?"

Sasori tidak sadar bahwa gelas kaca yang sedang dipegangnya kini sudah remuk berkeping-keping sampai mengirisi kulit-kulitnya hingga berdarah.

"Tak apa," jawab Sasori dengan tanpa sengaja memberikan tatapan mematikan pada sang pelayan.

Sasori segera mengambil ponselnya dari saku celanannya dengan salah satu tangannya yang tidak berdarah. Lalu segera mengetikkan sesuatu di sana.

Beberapa detik kemudian Hinata mengambil ponsel dari clutch bag-nya setelah membaca sesuatu di sana dia segera memandangnya dengan terkejut, Sasori kemudian berjalan pergi ke luar ballroom.

.

.

"Hai Hinata," sapa Sasori yang sudah menunggunya dekat dengan kolam renang yang sepi dari para tamu undangan.

"Sasori," balas Hinata pelan ketika dia sudah berada di sampingnya sendiri.

Sasori memperhatikan raut muka Hinata cukup lama, sementara Hinata menunduk seolah-olah menghindari bertatapan dengannya.

"Ada apa Hinata, kau nampak tidak senang bertemu denganku?"

Hinata langsung mengangkat wajahnya dan menggeleng cepat.

Kedua hazelnya menatap Hinata lekat, mencari kejujuran dari wajahnya itu. Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara lagi. Mereka seperti terjebak dengan pikirannya masing-masing.

"Kenapa tanganmu bisa berdarah Sasori?" tanya Hinata dengan nada khawatir, memecah keheningan di antara mereka.

Kedua tangan Hinata segera menyentuh pergelangan tangannya. "Ini harus segera diobati."

Sasori tersenyum tipis.

"Aku melihatmu bersamanya." Matanya tak pernah lepas menatap Hinata. "Lalu tanpa sadar aku telah meremukan gelas yang sedang kupegang."

Mulut Hinata terbuka seoalah-olah dia ingin mengatakan sesuatu, tapi kemudian kembali tertutup. Akhirnya mata bulat bermanikan mutiara itu yang berbicara, menatapnya dengan sendu dan emosi lain yang tidak bisa dijelaskan olehnya sendiri.

"Malam ini kau sangat cantik," ujarnya penuh dengan kekaguman, tapi kemudian kedua hazel Sasori meredup. "Tapi sayangnya aku tidak bisa memelukmu."

"Sasori…" Hinata masih menatapnya dengan sendu, "Maapkan aku."

Sasori menggeleng. Tubuhnya yang lebih tinggi mendekati Hinata kemudian menyatukan kedua dahi mereka.

Hazel Sasori menatap rindu dua bola mata yang selama ini selalu dimimpikannya itu kemudian dia mencium leher Hinata dengan hisapan.

"Hinata kau harus tahu," bisiknya, kemudian mencium bibir Hinata dengan sangat dalam meresapi setiap incinya sebelum melepaskannya. "Aku sangat menyayangimu sampai aku rela hatiku tercabik-cabik seperti ini."

Setelah itu Sasori pergi meninggalkan Hinata, sementara air mata telah berjatuhan dari kedua mutiaranya.

Aku harus bagaimana?

.

.

To be continued…

-69-


A/N: Wah Hinata galau, hahahaha. Kira-kira siapa yang akan dipilih Hinata ya? Akhirnya memang sasuhina tapi bisa saja untuk awal-awal Hinata memilih Sasori atau mungkin langsung Sasuke. Kita lihat saja ya di chapter-chapter berikutnya. Sasori ternyata memang jatuh cinta pada pandangan pertama pada Hinata ya ahhaha.

Anyway terima kasih untuk semua dukungan-dukungannya readers, kalian semua luar biasa! Sampai jumpa lagi!