Disclaimer Masashi Kishimoto

Story by Minazuki Miharu

Warning :

AU, OOC, Typo's, Gaje, Alur gak jelas, Bahasa Kaku.

Don't Like, Don't Read

No Flame!

.

.

.

.

.

.

.

Cavalier

.

.

.

Happy Reading.

.

.

.

Sunagakure

.

.

.

Sakura, Temari, Gaara, Kankuro, dan Sasori saat ini sedang berada diruangan pribadi milik Sabaku Gaara yang terbilang cukup luas tersebut. Kamarnya tertata rapi dan terlihat sederhana, tanpa hiasan dan didominasi warna coklat muda dengan aksen merah menyala yang menambah kesan maskulin.

Kelima Mage tersebut sedang duduk di masing-masing kursi yang mengitari meja kecil ditengahnya. Sakura duduk berhadapan dengan Gaara, Temari dan Kankuro. Sedangkan Sasori berdiri bersandar tak jauh dari tempat duduk Sakura. Mereka berkumpul disini atas permintaan Sakura sendiri.

Kamar pribadi yang biasanya sunyi dan tenang tersebut kini dipenuhi oleh suara tawa membahana yang Gaara yakini, suara tawa tersebut bahkan dapat terdengar hingga kepelosok terjauh dari desa Sunagakure.

Saat ini Sakura sedang tertawa terbahak-bahak sambil sesekali memegangi perutnya yang terasa sakit karena tertawa. Gaara, Temari dan Kankuro yang menyaksikan 'pemandangan langkah' tersebut hanya bisa memandang Sakura dengan tatapan aneh. Bagaimana tidak aneh? Beberapa saat yang lalu gadis itu begitu dingin bak gunung es, dan sekarang dia tertawa terbahak-bahak dengan lepasnya didepan mereka semua. Apakah Sakura baru saja tercebur ke lahar gunung berapi atau sejenisnya?

Sakura baru saja mengetahui alasan mengapa mereka berada di Sunagakure dan bukannya di Amegakure, dan karena alasan itulah Sakura sampai tertawa terbahak-bahak seperti sekarang ini. Tentu saja alasan utamanya adalah karena dirinya sendiri.

Gaara sangat marah dan khawatir saat melihat keadaan Sakura yang pingsan dalam gendongan Sasori. Sasori yang pada saat itu membawa Sakura dalam keadaan pingsan pun menjadi sasaran amukan Gaara. Bungsu Sabaku itu memukul wajah Sasori dengan telak dan jika saja tidak dipisahkan oleh Temari dan Kankuro, mungkin sudah terjadi perkelahian diantara mereka.

Akhirnya setelah perdebatan panjang, Gaara memutuskan –secara sepihak- bahwa mereka harus kembali ke Sunagakure saat itu juga. Alasannya? Tentu saja untuk membawa Sakura menemui MedicMage terhebat yang dimiliki oleh Sunagakure.

"Hahaha... baiklah, baiklah," ujar Sakura sambil berusaha mengatur nafasnya, "Sebenarnya apa yang Sasori-kun katakan adalah yang sebenarnya. Kami hanya mengobrol dan tiba-tiba bahuku terasa sakit, lalu aku pun pingsan." sambung Sakura sambil terkikik.

"Benarkah itu, Sakura?" tanya Gaara penuh selidik.

"Iya, Sasori-kun tidak berbohong. Lagipula Sasori-kun tidak akan melakukan hal yang macam-macam padaku." jawab Sakura yakin sambil tersenyum. Sakura pun menarik tangan Sasori yang berdiri tak jauh darinya dan memaksa Sasori untuk duduk disampingnya.

"Ayo, sekarang kalian harus berbaikan." sambung Sakura, Ia pun mengulurkan tangan Sasori pada Gaara seolah-olah meminta mereka berdua untuk berjabat tangan.

Gaara dan Sasori langsung menatap kearah tangan Sasori sebelum akhirnya keduanya saling berpandangan, dan pada detik berikutnya mereka pun sama-sama mendengus pelan kemudian tertawa bersama.

"Kau tidak perlu melakukan itu lagi, Sakura. Kami bukan lagi anak kecil yang selalu bertengkar seperti dulu." sahut Gaara sambil tersenyum tipis.

"Heeeh? Souka?" tanya Sakura sambil memasang tampang bingung. Seingatnya kedua sepupu ini hanya akan berbaikan jika Sakura yang mendamaikan mereka.

"Dasar," Sasori pun menarik tangannya yang digenggam Sakura lalu mengacak-acak rambut Sakura gemas. "Sekarang sebaiknya kau yang meminta maaf pada mereka dan menjelaskan semuanya pada mereka."

"Aa, benar juga!" teriak Sakura sambil menjentikkan jarinya. Ia pun berdehem pelan sebelum akhirnya memulai pembicaraan serius.

"Gaara, Temari, Kankuro, aku ingin meminta maaf pada kalian. Aku sudah membuat kalian khawatir dengan tingkah bodohku." sambung Sakura dengan tatapan menyesal.

"Yare-yare~" Temari menghela nafas lalu tersenyum. "Kami tidak menyalahkanmu untuk hal apapun. Benar 'kan Kankuro? Gaara?" sambung Temari masih dengan senyumannya.

"Sou, sou, daijoubu ne, Sakura." timpal Kankuro sambil tersenyum hangat, diikuti oleh Gaara yang tersenyum tipis.

Sakura pun mengedarkan pandangannya. Menatap satu-persatu sahabat lama yang memandangnya dengan tatapan hangat. Rasanya sudah sangat lama sekali mereka berkumpul seperti ini, walaupun minus sang kakak tercintanya.

"Kau tidak mau bilang sesuatu padaku, Gaara?" tanya Sakura sambil mengerucutkan bibirnya, berpura-pura kesal.

Gaara mendengus mendengar pertanyaan Sakura barusan. Ia pun beranjak dari tempatnya dan duduk disamping Sakura. Lalu Gaara pun menarik Sakura ke dalam pelukannya sambil mengacak-acak rambut Sakura gemas.

"Hei! Aku bukan anak kecil lagi, Gaara~" gerutu Sakura sambil memukul pelan lengan Gaara yang mengacak rambutnya. "Kau merusak rambutku." sungut Sakura.

"Kau benar-benar membuatku khawatir, Sakura. Kau tahu 'kan Nawaki menitipkanmu padaku? " ucap Gaara pelan. "Sampai kapanpun, kau akan menjadi adik kecil kesayanganku dan Nawaki." sambung Gaara sambil mengeratkan pelukannya.

Mendengar kalimat Gaara barusan membuat hati Sakura menghangat. Ia benar-benar merindukan saat-saat penuh kasih sayang seperti ini. Kasih sayang yang hanya bisa diperolehnya dari kakaknya dan juga Gaara.

Tanpa Sakura sadari setetes airmata pun jatuh dipipinya. Sakura pun membalas pelukan Gaara tak kalah erat, meluapkan semua rasa rindunya pada sang kakak. Bagaimana pun juga Gaara sudah Ia anggap seperti kakaknya sendiri.

"Arigatou, Nii-san." gumam Sakura sambil tersenyum bahagia. Senyuman bahagia pun tak luput dari wajah Gaara, Temari, Kankuro dan Sasori.

Gaara mengangguk pelan, sebelum akhirnya melepaskan pelukannya begitu juga dengan Sakura.

"Jadi? Apa yang terjadi padamu, Sakura? Aku harap kali ini tidak ada lagi kebohongan." tanya Gaara sambil menatap emerald Sakura.

Sakura terkikik sejenak.

"Baiklah, akan kuceritakan." jawab Sakura. Tatapannya mulai serius saat gadis musim semi itu memulai ceritanya.

"Aku harap ceritaku ini tidak mengejutkan kalian," Sakura berkali-kali menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya kembali. "Aku bersikap dingin selama ini, karena aku telah menyegel emosiku." sambung Sakura hati-hati sambil melihat beragam ekspresi yang ditunjukkan oleh Gaara, Temari dan Kankuro.

Mereka tampak kaget, namun ketiganya sama sekali tidak berkata apapun, mengisyaratkan Sakura untuk melanjutkan ceritanya.

"Seperti yang kalian ketahui, aku kabur dari rumah karena Kaa-san menjodohkanku. Aku sangat marah saat itu, bahkan setelah dua tahun kematian Nawaki-nii, emosiku masih belum stabil. Kami pun bertengkar hebat, lalu pada malam harinya aku memutuskan untuk meninggalkan rumah. Aku bepergian ke berbagai tempat, menghindari kejaran para Mage yang diperintahkan Kaa-san untuk membawaku pulang. Lalu aku pun berakhir di desa Uzushiogakure, dan disanalah aku memutuskan untuk menyegel emosiku." ujar Sakura panjang lebar dengan senyuman lemah, sorot matanya begitu penuh dengan kesedihan.

Temari yang ikut merasakan penderitaan Sakura segera mendekat dan menggeser posisi Gaara, mendekap gadis malang tersebut sambil mencoba menyalurkan kekuatan agar Sakura tetap tegar.

"Sakura, boleh aku tahu alasan Nawaki sampai bisa sakit separah itu? Seingatku Nawaki tidak pernah sakit seperti itu sebelumnya. Dia juga selalu menjaga kesehatannya." ucap Kankuro penasaran.

Kankuro dan saudaranya memang sudah lama mengetahui kondisi Nawaki yang terus menurun, tapi mereka tidak pernah tahu alasannya. Bahkan ketika mereka menanyai Tsunade dan Sakura sewaktu mereka berkunjung, keduanya tetap saja bungkam.

"Aa, itu..." gumam Sakura sendu, "Semuanya juga gara-gara aku."

"Apa maksudnya?" kali ini Sasori yang bertanya.

Sakura menoleh kearah Sasori, tatapannya matanya masih terlihat dipenuhi kesedihan. "Kalian ingat kunjungan terakhirku dengan Nawaki-nii?"

Sasori, Gaara, Temari dan Kankuro mengangguk bersamaan.

"Setelah kunjungan itu Nii-san mulai sibuk mengurus acara ulangtahunku. Dia bahkan sampai lupa waktu."

"Aa, aku ingat. Maaf waktu itu aku tidak bisa datang ke perayaan ulangtahunmu." sela Sasori dengan tatapan bersalah.

"Iie, aku tahu saat itu Sasori-kun harus menjaga nenek Chiyo yang sedang sakit. Oh iya bagaimana kabar nenek Chiyo sekarang?"

Sasori tersenyum sedih. "Baa-chan meninggal dua tahun setelahnya."

"Souka... gomen-ne Sasori-kun." ucap Sakura sedih.

"Tidak perlu merasa bersalah. Lanjutkan ceritamu."

"Baiklah, beberapa hari sebelum perayaan, Nii-san meminta izin pada Kaa-san untuk pergi ke suatu tempat. Kaa-san tentu saja mengizinkan, apalagi setelah tahu alasannya adalah untuk diriku. Ya awalnya aku tak tahu alasannya, tapi setelah Nii-san memberiku sebuah telur naga elemental Ice, disanalah aku sadar bahwa Nii-san pergi ke lembah es abadi untuk mencarikanku telur naga. Dia bilang telur itu sudah siap menetas dan aku hanya perlu menyalurkan sihirku padanya, memanggilanya keluar dari cangkangnya lalu membangun ikatan. Aku sangat bahagia saat itu, terlebih lagi karena Nii-san selalu membimbingku, melindungiku dan menyayangiku sepenuh hatinya. Tapi aku begitu bodoh sehingga tidak menyadari ada sesuatu yang salah pada Nii-san."

"Lalu pada suatu hari Nii-san jatuh sakit. Sakit yang tak kunjung sembuh. Kaa-san pun mengerahkan MedicMage terbaik di Konohagakure, bahkan Kaa-san juga sudah melakukan semua yang dia bisa. Aku pun tanpa sengaja menguping pembicaraan Kaa-san dengan beberapa MedicMage senior, mereka bilang Nii-san keracunan. Nii-san terinfeksi racun es abadi yang hanya terdapat di lembah es abadi."

"Bagaimana dia bisa terkena racun itu, Sakura?" tanya Temari.

"Saat berada di lembah es abadi tersebut, Nii-san sempat bertarung dengan beberapa naga yang ada disana. Dia bahkan bertarung dengan induk dari telur yang dibawanya untukku. Kalian pasti sangat tahu bagaimana ganasnya induk seekor naga."

"Setelah mengetahui itu aku merasa sangat bersalah. Aku terus menjaga Nii-san sebaik mungkin. Aku juga terus merawat telur naga yang diberikan padaku karena aku tak ingin mengecewakan Nii-san. Karena itulah selama Nii-san sakit aku tidak bisa kemana-mana dan aku tidak mungkin meninggalkannya, lagipula aku belum pernah menunggangi naga sendirian."

"Nii-san pun akhirnya menyadari apa yang telah terjadi padanya dirinya tapi Nii-san sama sekali tidak menyesal. Ia tak peduli, yang ia pedulikan hanyalah adiknya yang bodoh ini." Sakura menundukkan kepalanya sejenak, menyembunyikan bulir-bulir air mata yang mulai terkumpul di sudut matanya.

"Nii-san begitu bahagia ketika Hansu menetas. Aku pun sangat menyayangi Hansu." Sakura mengangkat kepalanya, tepatnya menegadah. Sasori melihat dengan jelas emerald itu sejak tadi telah digenangi liquid cair yang siap tumpah kapan saja.

"Hari pun berganti, bulan demi bulan pun terus berlalu, tapi Nii-san tak kunjung sembuh, begitu pun tahun-tahun berikutnya. Lalu entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja suatu hari Nii-san mengetahui kabar bahwa kakek dan nenek kami telah meninggal. Kabar itu memang disembunyikan dari Nii-san karena alasan kesehatannya. Tapi entah bagaimana Nii-san bisa tahu. Nii-san pun memaksaku untuk ikut dengannya karena dia tahu kalau aku tidak ikut upacara pemakaman karena harus menjaganya. Lalu malam itu kami pun kabur dari rumah."

"Kaa-san marah besar, aku tahu semua ini salahku. Seharusnya aku melarang Nii-san untuk pergi. Tapi Nii-san terlalu keras kepala dan aku belum cukup dewasa untuk membantah keinginannya. Sepulang dari Suna, kondisi Nii-san semakin bertambah parah karena udara dingin yang menyerangnya malam itu."

Sakura terdiam beberapa saat, tatapannya kembali lurus kedepan setelah berhasil mengusir tumpukan air mata disudut matanya. Berkali-kali Ia manahan air matanya untuk kembali menyeruak dengan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan.

"Akhirnya Nii-san pun meninggal. Aku sangat sedih begitu juga dengan Kaa-san. Kaa-san mulai murung. Dia bahkan tak sehangat dulu. Kami bahkan sangat jarang bicara ataupun berinteraksi satu sama lain. Aku merasa sepertinya Kaa-san menyalahkanku atas kematian Nii-san. Ya, semua memang salahku. "

"Lalu setelah dua tahun berlalu, Kaa-san tiba-tiba menjodohkanku dengan anak bungsu dari keluarga Uchiha, dan kalian semua sudah tahu bagaimana kelanjutan ceritanya."

Setelah menyelesaikan ceritanya, Sakura pun menunduk dan menyembunyikan wajahnya dibalik kedua telapak tangannya. Entah mengapa hal yang sudah ditahannya sejak tadi malah semakin memaksa keluar. Bulir-bulir airmata pun mulai berjatuhan. Temari yang berada disampingnya hanya bisa mengelus punggung Sakura yang terlihat begitu kokoh untuk ukuran seorang wanita, namun begitu rapuh didalamnya.

"Hei, sudahlah, tidak perlu memikirkan semua yang telah berlalu." ucap Gaara lembut namun tidak menghilangkan aura tegas miliknya.

Sakura mendongak, menampilkan wajah cantiknya yang sedari tadi tersembunyi dibalik telapak tangannya lalu tersenyum samar.

"Akan kuusahakan." sahut Sakura pelan sambil menghapus jejak-jejak air mata yang terus meleleh dari sudut matanya. Senyum lemah pun Ia sunggingkan.

Seandainya aku bisa...

.

.

.

Saat ini Naruto dan Sasuke sedang berlatih bersama yang lainnya di halaman belakang. Naruto, yang menjadi lawan Sasuke dalam sesi latihan kali ini tampak agak kewalahan menghadapi serangan Sasuke. Entah mengapa Naruto merasa serangan Sasuke benar-benar brutal dan tidak terkontrol.

"Hoi, Teme! Kau ini kenapa sih?" tanya Naruto disela-sela pertarungan mereka.

"Cih! Jangan banyak bertanya, Dobe!" balas Sasuke tajam. Lalu tanpa aba-aba Sasuke pun mengaktifkan Sharingan-nya dan semakin menyerang Naruto dengan membabi buta. Ia memukul, menendang, dan juga tidak segan-segan mengarahkan sihir-sihirnya kepada Naruto dengan ganasnya.

Melihat perubahan Sasuke tersebut membuat Naruto semakin kaget. Jika Sasuke mengaktifkan Sharingan-nya saat latihan, hanya ada dua kemungkinan. Yang pertama Sasuke benar-benar sedang serius dengan latihannya, dan yang kedua ada sesuatu yang mengganggu Sasuke dan membuatnya marah. Tapi dilihat dari keadaannya sekarang, tampaknya alasan kedua lebih masuk akal.

"Hentikan Sasuke!" teriak Naruto sambil bergerak mendekati Sasuke secepat kilat.

Naruto menangkap tangan Sasuke dengan cepat sesaat sebelum Sasuke mengeluarkan pedang Kusanagi-nya. Naruto berdecak didalam hatinya melihat tingkah aneh Sasuke.

Astaga, dia bahkan ingin mengeluarkan Kusanagi-nya...

"Latihan selesai. Tidak ada latihan sampai kau mendinginkan kepalamu, Sasuke." ujar Naruto sambil menatap Sasuke tajam. Bahkan pada saat-saat tertentu Naruto bisa menjadi sangat tegas, entah itu terhadap Sasuke ataupun orang-orang terdekatnya.

"Cih."

Tanpa mengatakan satu patah kata pun, Sasuke segera membuang muka dan melompat keluar lapangan. Naruto hanya menghela nafas berat ketika matanya tidak lagi menangkap sosok Sasuke yang telah menghilang. Sedangkan Naruto terpaksa memasang cengiran andalannya saat teman-temannya mulai bertanya alasan kepergian sosok Uchiha bungsu tersebut.

.

.

.

TOK TOK TOK

Suara ketuka dipintu kamar Gaara menginterupsi kegiatan kelima Mage didalamnya. Sesaat kemudian suara pelayan terdengar dari balik pintu.

"Temari-sama, Matsuri-sama datang untuk menemui anda."

"Baiklah aku akan menemuinya nanti." sahut Temari.

"Matsuri?" Sakura membeo sambil menatap Temari dengan antusias.

"Yap, Matsuri." Temari mengangguk mantap.

"Matsuri yang itu?" tanya Sakura sambil berbinar.

"Ya, Matsuri yang itu." jawab Temari dengan seringai nakalnya, mengerti betul 'tanda' yang diberikan oleh Sakura.

Keduanya pun serempak menoleh pada Gaara, sedangkan Gaara sendiri terlihat acuh dengan tatapan kedua gadis didepannya itu.

"Apa?" tanya Gaara setelah cukup lama terganggu dengan tatapan aneh keduanya.

"Kau masih saja tidak peka, ya." ujar Sakura sambil berkacak pinggang.

"Dan masih saja bodoh." sambung Temari ikut-ikutan berkacak pinggang.

Gaara yang melihat tingkah keduanya hanya bisa menatap bingung sambil menaikkan satu alisnya sampai kakak perempuannya itu berinisiatif untuk menariknya keluar. Sedangkan Sakura hanya tertawa geli melihat Gaara yang terlihat kebingungan.

Ketiganya pun akhirnya menyusul Gaara dan Temari untuk menemui Matsuri. Mereka berjalan beriringan menuju ruang utama kediaman Sabaku. Namun, tepat ketika mereka akan berbelok diujung lorong kediaman Sabaku, sebuah suara maskulin memasuki indra pendengaran Sakura.

"Sakura." panggil sebuah suara dari arah samping membuat Sakura segera refleks menolehkan kepalanya. Mata hijau cerahnya pun bertemu pandang dengan iris onyx kelam pemuda itu.

"Sasori-kun duluan saja, aku akan segera menyusul." ujar Sakura pada pemuda berambut merah yang berjalan disampingnya. Setelah menerima anggukan dari Sasori, Sakura pun berjalan menghampiri sosok pemuda tersebut.

"Ada apa, Sasuke?" tanya Sakura tenang.

"Aku ingin bicara, kau punya waktu?" tanya Sasuke balik.

"Tentu." sahut Sakura.

Sejenak Sasuke merasa aneh dengan tingkah Sakura. Entah mengapa tapi Sasuke merasa sikap Sakura terasa lebih... bersahabat?

Sasuke pun berjalan kearah taman belakang diikuti Sakura dibelakangnya. Mereka pun duduk dibangku panjang yang memang disediakan disana untuk menghabiskan waktu senggang.

"Kau ingin bicara apa, Sasuke?" tanya Sakura memecah keheningan setelah agak lama keduanya hanya berdiam diri saja.

Sasuke sendiri tampak bingung harus mengatakan apa pada Sakura. Walaupun raut wajahnya datar, namun tak dapat dipungkiri bahwa Uchiha yang satu ini mengalami kesulitan untuk berbicara dengan gadis yang berada disampingnya saat ini. Tidak dengan debaran jantung yang menggila ini.

Oh Kami-sama, semoga Sakura tidak mendengar debaran aneh ini...

"Kau baik-baik saja? Maksudku kau tampak sangat mengkhawatirkan saat kita berada di Amegakure." tanya Sasuke. Baiklah, yang tadi itu adalah kalimat terpanjang yang pernah diucapkan seorang Uchiha Sasuke pada seorang perempuan kecuali pada mendiang ibunya tentu saja.

"Kau mengajakku kemari hanya untuk menanyakan itu?" tanya Sakura dengan tatapan tak percaya.

"Apa kau mengabaikan pertanyaanku barusan?" Sasuke balik bertanya pada Sakura.

"Hei, aku kan hanya ingin memastikan. Lagipula kau lihat sendiri 'kan? Aku baik-baik saja sekarang." jawab Sakura sambil tersenyum kecil. Senyum pertama yang dilihat Sasuke pada wajah cantik Sakura. Senyum kecil yang mampu membuat jantungnya bekerja lebih keras.

Sasuke segera memalingkan wajahnya, menyembunyikan semburat merah yang menghiasi wajahnya sekaligus menghindari tatapan Sakura. Sakura pun agak kaget dengan tingkah Sasuke barusan.

"Kau marah?" tanya Sakura.

"Tidak."

"Lalu kenapa kau memalingkan wajahmu?" tanya Sakura lagi dengan polosnya.

"Hn."

"Hah?"

"Berisik."

"Ternyata benar-benar marah."

"Tidak."

"Mengaku saja, Sasuke."

"Aku tidak marah, Sakura."

"Ya, ya, ya, baiklah. Dasar aneh." cibir Sakura.

"Tidak seaneh dirimu." balas Sasuke tanpa menoleh.

"Aku? Apa aku aneh?"

"Sangat."

"Hei-"

"Kau benar-benar berubah sekarang." potong Sasuke sebelum Sakura mengomelinya.

"Berubah seperti apa tepatnya?"

"Lebih berisik dari sebelumnya."

"Benarkah?" tanya Sakura dengan mata berbinar, "Ya, cepat atau lambat kalian pasti akan menyadarinya. Lagipula inilah diriku yang sebenarnya." sambung Sakura sambil tertawa kecil.

"Apa telah terjadi sesuatu?" tanya Sasuke, kali sambil menoleh dan mengangkat sebelah alisnya.

"Sesuatu memang sudah seharusnya terjadi, Sasuke."

"Apa ini berhubungan dengan bocah Akasuna itu?" pertanyaan tersebut meluncur begitu saja dari mulut Sasuke tanpa bisa dicegahnya. Astaga, apa yang terjadi padanya sekarang?

"Mung- Apa kau bilang?" sontak saja Sakura memandang Sasuke dengan gelagapan. Hampir saja Ia keceplosan bicara.

"Kau mendengarnya dengan jelas, Sakura." desis Sasuke.

"Kau marah lagi?" tanya Sakura terkesiap, kaget dengan reaksi Sasuke.

"Tidak."

"Kau jelas-jelas marah padaku."

"Aku. Tidak. Marah. Padamu." jelas Sasuke dengan penuh penekanan. "Aku marah pada bocah Akasuna itu." sambung Sasuke.

"Pada Sasori-kun? Tapi apa yang dia lakukan padamu, Sasuke? Sasori-kun orang yang baik, dia tidak mungkin menyakiti orang lain, dan jangan sebut Sasori-kun dengan sebutan 'bocah Akasuna' itu lagi."

Sasuke memandang Sakura dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada secuil bagian dari hatinya yang tidak suka dengan cara Sakura memanggil Sasori.

"Aku pernah mengatakan ini sebelumnya padamu, Sakura, dan kali ini aku akan mengatakannya lagi." Sasuke menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. "Aku akan menjadikanmu milikku."

Sakura terbelalak kaget dan seketika itu juga rona merah menjalari pipinya. Sakura pun menjadi gugup dan sedikit salah tingkah. Astaga apa dia sudah gila? Sasuke benar-benar tidak baik untuk kesehatan jantungnya.

"Sa-Sasuke, aku rasa kita lanjutkan lain kali saja. A-aku harus menemui Matsuri."

Dengan tergesa-gesa dan gugup Sakura segera pergi meninggalkan Sasuke dengan pipi yang terasa sangat panas, tapi sebelum melangkah lebih jauh tiba-tiba Sakura menghentikan langkahnya.

"Oh iya, aku minta maaf atas kejadian di hutan itu. Tidak seharusnya aku menghunuskan pedangku padamu. Jaa~"

Tanpa menoleh Sakura mengatakan kalimatnya dengan cepat dan mulai melangkah dengan terburu-buru. Jangan sampai Sasuke melihat wajahnya yang memerah bak kepiting rebus. Sedangkan Sasuke yang melihat itu hanya menyeringai senang dengan perubahan Sakura yang sekarang dan dengan respon berarti yang diberikan Sakura tadi.

Sakura berulang kali mengatur nafasnya sambil menstabilkan detak jantungnya. Oh dan jangan lupakan rona merah tipis yang masih menghiasi wajahnya.

Ketika sudah hampir sampai diruang tamu, lagi-lagi Sakura menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya sebelum memasuki ruangan tersebut. Berharap kejadian tadi segera hilang dari pikirannya.

Sakura pun melenggang masuk dengan senyuman manis menghiasi wajahnya. Matsuri yang awalnya terlihat berbicara dengan Temari pun mengalihkan perhatiannya begitu juga dengan Trio Sabaku dan Sasori yang juga sedang berada disana.

"Astaga! Sakura-chaaan!" Matsuri memekik kaget dan langsung menghambur memeluk Sakura. Sakura sendiri menyambut Matsuri dengan senyuman hangat dan pelukan yang tak kalah eratnya.

"Ya ampun, kau benar-benar cantik sekali, Sakura-chan!" seru Matsuri dengan mata berbinar.

"Kau juga tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik, Matsuri-chan." ujar Sakura sambil tersenyum senang. "Jadi bagaimana kabarmu, hm?" tanya Sakura sambil menyeret Matsuri kembali ketengah-tengah ruangan, ketempat yang lainnya berada.

"Aku baik, bagaimana denganmu, Sakura-chan?" tanya Matsuri balik setelah mereka duduk.

"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja." jawab Sakura sumringah, lalu tiba-tiba seringai nakal terpatri diwajahnya. "Lalu bagaimana kabar kisah cintamu, hm, Matsuri-chaan~" bisik Sakura dengan suara menggoda, tak lupa dengan ekspresi jahil dan gerakan alisnya yang naik-turun.

"A-apa ma-maksudmu, Sa-Sakura-chan?" tanya Matsuri tergagap dengan wajah yang sudah semerah rambut Gaara dan Sasori.

"Waw, kau harus lihat wajahmu sekarang, Matsuri-chan," Sakura merangkul pundak Matsuri lalu melirik kearah Gaara. "Kau sama merahnya dengan rambut Gaara~" sambung Sakura sambil terkikik.

"Huaahh, Temari-nee..." pekik Matsuri dengan wajah yang semakin memerah sambil melepaskan diri dari Sakura dan bersembunyi dibalik tubuh Temari. Sementara Sakura tertawa terbahak-bahak karena berhasil menggoda Matsuri.

"Hei, ada apa ini? Ada apa, Matsuri?" tanya Temari dengan seringai jahilnya. Tentu saja Temari tahu apa yang sedari tadi dibicarakan kedua gadis ini, yang tidak lain adalah adik bungsunya sendiri. Sedangkan ketiga laki-laki yang berada disana hanya terdiam sambil mengamati tingkah laku gadis-gadis didepan mereka ini.

"Sakura-chan menggodaku, Temari-nee," rengek Matsuri.

Temari tertawa, tak mampu menahan lagi perasaan geli akibat melihat interaksi antara Sakura dan Matsuri.

"Baiklah, baiklah," Temari menghela nafas, mencoba menghentikan tawanya. "Cukup nostalgianya, sebaiknya kita kembali pada bahasan kita sebelumnya." sambung Temari menengahi.

"Heee? Memangnya kalian sedang membahas apa?" tanya Sakura yang kemudian mengambil tempat duduk didekat Temari dan Matsuri.

"Kami membahas ini." sahut Matsuri sambil meletakkan sepasang pakaian diatas pangkuan Sakura yang diambilnya dari atas meja di depan mereka.

"Apa ini?" tanya Sakura sambil membuka lipatan pakaian tersebut.

Ternyata pakaian tersebut berupa sebuah hakama berwarna hitam dan haori berwarna abu-abu lengkap dengan aksesoris dan perlengkapan lainnya.

"Hanya itu yang bisa kuberikan untuk kalian." ujar Matsuri sambil tersenyum lemah.

"Untuk apa ini semua, Matsuri-chan?" tanya Sakura sambil menatap haori yang ada ditangannya dan tumpukan pakaian lainnya yang masih tergeletak diatas meja.

"Temari-nee bilang kalian akan bertarung dengan Holy Mage dan Temari-nee pikir kalian tidak mungkin akan bertarung dengan menggunakan yukata. Jadi Temari-nee minta dibuatkan pakaian-pakaian ini, dengan ukuran-ukuran yang disesuaikan tentu saja." jelas Matsuri sambil menepuk-nepuk tumpukan baju tersebut. "Khusus untuk para wanita saja."

"Jadi begitu," sahut Sakura sambil mengangguk-anggukan kepalanya. "Baiklah kalau begitu aku ambil yang ini saja." lanjut Sakura sambil mengangkat kembali haori abu-abu yang tadi ada dipangkuannya.

"Tidak, tidak, tidak... aku sudah membuatkan khusus untukmu, Sakura-chan." sanggah Matsuri. Dengan cekatan Ia pun menarik salah satu lipatan pakaian berwarna pink tua dan menyodorkannya pada Sakura.

"Ini akan terlihat lebih cocok untukmu." ujar Matsuri sumringah. Setelah Sakura mengambil pakaian yang disodorkannya, Matsuri segera mengambil pakaian yang ada di pangkuan Sakura dan melipatnya kembali.

"Oh astaga, seperti kami akan pergi ke festival kecantikan saja." komentar Sakura sambil memutar bola matanya, walaupun sebenarnya Sakura mengakui bahwa Ia lebih menyukai warna pakaian yang satu ini dibandingkan pilihan pertamanya. Hakama berwarna cream muda dan haori berwarna pink tua.

"Baiklah karena tugasku sudah selesai, sebaiknya aku pulang dulu. Kaa-san pasti kerepotan kalau kutinggal lebih lama lagi." ujar Matsuri sambil bangkit dari duduknya.

"Kau yakin tidak akan tinggal sampai makan malam?" kali ini Temari yang bertanya.

"Tidak terima kasih, Temari-nee. Kau tahu 'kan bagaimana repotnya Kaa-san jika ditinggal sebentar saja?" tolak Matsuri halus.

Matsuri memang sangatlah sibuk seperti Ibunya. Keluarga Matsuri mempunyai usaha pembuatan pakaian dengan kualitas nomor satu di Sunagakure. Tentu saja hal itu membuat toko Matsuri dibanjiri pesanan dan pelanggan setiap harinya.

"Baiklah kalau begitu, sampaikan salam dan terimakasih kami pada Ba-san." sahut Temari.

"Tentu, Temari-nee." ujar Matsuri sambil tersenyum, lalu Ia pun beralih pada ketiga pemuda yang sedari tadi hanya menyimak percakapan mereka saja.

"Uhm, Gaara-kun, Kankuro-nii, dan Sasori-kun, kalau begitu aku permisi dulu." ucap Matsuri sambil mati-matian menahan semburah merah pada wajahnya ketika berhadapan dengan Gaara.

"Sampaikan salamku pada Ba-san, lain kali aku akan mampir dengan Sasori untuk membuat baju baru." sahut Kankuro dengan cengirannya, sedangkan Sasori hanya tersenyum tipis sambil menggangguk pada Matsuri.

"Hati-hati dijalan, Matsuri." kali ini Gaara yang berbicara pada Matsuri, membuat semburat merah yang sedari tadi ditahannya mati-matian malah muncul begitu saja.

"Ha-hai, Gaara-kun." sahut Matsuri gugup, membuat Sakura dan Temari tanpa sadar menyeringai jahil.

Matsuri yang menangkap seringaian jahil tersebut segera meninggalkan kediaman Sabaku tersebut dengan terburu-buru sebelum Sakura dan Temari menggodanya kembali.

Tak lama setelah Matsuri pergi, kelima Mage tersebut terlibat diskusi kecil. Tadi siang mereka sudah sepakat akan menjalankan rencana mereka besok, karena itulah sekarang Temari memerintahkan kepada para pelayan untuk memanggil Tenten, Ino, Hinata, Konan dan Shion untuk memberikan pakaian-pakaian tersebut pada mereka. Temari pun meminta mereka untuk mencoba pakaian-pakaian tersebut. Jadilah saat ini mereka berpakaian layaknya seorang Miko.

Setelahnya mereka pun kembali kekamar masing-masing untuk berganti pakaian dan menyiapkan perlengkapan untuk besok. Oh dan jangan lupa untuk menyiapkan fisik dan mental kalian juga girls. Besok akan jadi hari yang sangat panjang.

.

.

.

Somewhere Else.

.

.

"Kita sampai."

Seorang laki-laki berambut putih keperakan terlihat memimpin sekelompok orang berpakaian serba putih. Ya, mereka adalah Holy Mage dan yang berbicara barusan adalah Kimimaru, pimimpin sekelompok orang berpakaian serba putih tersebut.

"Aku tidak pernah merasa bersemangat sekali seperti kali ini." sahut seorang perempuan merambut merah pias, Tayuya.

"Bagaimana keadaannya, Karin?" tanya Kimimaru mengabaikan gadis berambut merah pias tersebut.

"Semua aman, Kimimaru. Mereka belum menyadari kehadiran kita." jawab Karin yang memang mahir dalam sihir pengintaian.

"Bagus, kita akan menyerang saat mereka sudah terlelap." putus Kimimaru.

"Aku benar-benar sudah tidak sabar lagi." ujar Sakon tiba-tiba.

"Kau yakin dia ada disini 'kan?" tanya Ukon pada saudaranya tersebut.

"Sangat yakin. Dia datang bersama rombongan Sunagakure, jadi gadis itu pasti ada disini." jawab Sakon sambil menyeringai iblis.

"Kalau begitu kita harus mencabik-cabiknya bersama-sama." sambung Ukon yang juga disertai seringai iblisnya.

Kedua kakak-beradik itu sudah merencanakan ide-ide gila mereka terhadap gadis merah muda yang telah membahayakan nyawa sahabat dekat mereka, Kidomaru, yang tentunya sangat sadis dan diluar nalar manusia ataupun Mage sekalipun.

"Jangan terlalu berlebihan, kalian harus ingat bahwa hanya gadis itulah yang dapat mematahkan sihir es abadi." ujar Juugo menasihati kedua kakak beradik tersebut.

"Kau cukup diam dan perhatikan saja, Juugo." sahut Sakon licik disertai seringai kejam Ukon.

Melihat respon keduanya membuat Juugo menghela nafas pendek. Pandangannya pun beralih ke hamparan pasir yang membentang didepannya. Gerbang desa berdiri kokoh tak jauh dari tempat mereka bersembunyi saat ini. Lalu pandangannya pun beralih pada pria berkulit pucat dengan rambut coklat disampingnya, Zetsu.

Salah satu Mage berdarah dingin dengan kemampuan yang mengerikan. Akhirnya setelah banyak pertempuran, Zetsu pun ikut turun tangan sesuai perintah Master. Tidak banyak yang tahu mengenai kemampuannya, namun yang pasti dia cukup istimewa, hingga membuat Master hanya menyuruhnya turun tangan jka akan menyucikan desa-desa besar saja.

.

.

Hari sudah semakin larut. Sebagian besar orang pastinya sudah terlelap dialam mimpi masing-masing dengan nyamannya, kecuali gadis cantik dengan berambut merah muda yang tergelung rapi tersebut.

Entah kemana perginya rasa kantuk yang selalu menyerangnya saat hari mulai beranjak gelap. Saat ini dirinya tengah berbaring santai diatas futon empuk ditemani Temari dan Shion. Kedua temannya tersebut sudah terlelap sejak tadi, sedangkan dirinya masih saja terus berbaring dengan kelopak mata yang terbuka lebar.

Berulang kali Sakura menyamankan posisi tidurnya hingga beberapa kali terdengar bunyi yang agak berisik. Tapi tetap saja mata hijaunya itu terbuka lebar, sangat lebar malah.

Setelah agak lama bergulat dengan futon miliknya, akhirnya Sakura memutuskan untuk pergi keluar. Mungkin dengan berjalan-jalan sebentar bisa membuatnya mengantuk.

"Sakura?"

Tiba-tiba suara baritone menyapa indera pendengarannya ketika melewati sebuah taman kecil yang terletak dibelakang rumah.

Sakura menoleh, mendapati sepasang mata onyx menatapnya dari dalam kegelapan.

"Sasuke?"

Sakura cukup terkejut ketika melihat sesosok laki-laki berambut raven muncul dari balik pohon besar yang menghiasi taman tersebut. Taman tersebut adalah taman tempat mereka berdua berbincang tadi siang.

"Sedang apa kau disini?" tanya Sasuke.

"Aku tidak bisa tidur. Kau sendiri?" ujar Sakura sambil mendekat kearah Sasuke, lalu duduk dibangku yang terletak tak jauh dari pohon tersebut.

Sasuke menggedikkan bahunya acuh. "Kalau begitu kita sama." sahut Sasuke sambil ikut terduduk disamping Sakura.

"Apa kau sering seperti ini, Sasuke?" tanya Sakura memecah keheningan.

"Seperti apa?"

"Tidak bisa tidur." jawab Sakura gemas.

"Tidak juga." jawab Sasuke.

"Lalu? Kenapa sekarang kau tidak bisa tidur?"

"Kenapa kau sangat ingin tahu?"

"Kau tidak perlu menjawabnya kalau tidak mau." sahut Sakura kesal sambil menggembungkan pipinya.

Tanpa Sakura sadari Sasuke tersenyum tipis melihat tingkah lakunya tersebut. Jika saja Ia bukan seorang Uchiha, pastinya Sasuke sudah melahap pipi Sakura yang menggemaskan itu tanpa ampun.

"Aku memikirkan Kakakku." jawab Sasuke kemudian, masih dengan tatapan yang tertuju pada gadis disampingnya.

"Uchiha Itachi?" tanya Sakura sambil ikut-ikutan menatap Sasuke.

"Kau kenal kakakku?" tanya Sasuke agak terkejut.

Sakura menggeleng, "Aku hanya tahu namanya saja, sama seperti aku tahu namamu sebelumnya."

"Souka..."

"Jadi dimana kakakmu sekarang?" tanya Sakura penasaran.

"Dia ditangkap Holy Mage."

Sakura membulatkan matanya, menatap Sasuke dengan tatapan kaget. "Benarkah? Bagaimana bisa?"

"Dia ditangkap, hanya agar aku dan Naruto selamat."

"Souka, kakakmu pasti sangat menyanyangi kalian berdua."

"Hn. Kau sendiri kenapa tidak bisa tidur?"

"Aa, aku-"

"Sakura? Sasuke?"

Tiba-tiba sebuah suara menginterupsi kata-kata Sakura. Keduanya sontak menoleh ke belakang, kearah sumber suara tersebut.

"Akasuna-san."

"Sasori-kun?" ucap Sakura kaget, "Sasori-kun juga tidak bisa tidur?"

Sasori mengangguk, "Aku punya firasat buruk malam ini, Sakura."

"Firasat buruk seperti apa, Sasori-kun?" tanya Sakura dengan raut wajah tegang. Sakura sudah sangat mengenal Sasori, biasanya firasat laki-laki berambut merah itu selalu benar.

"Aku merasa sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Aku bahkan melarang Gaara, Temari dan Kankuro terlelap." terang Sasori. "Aku juga berniat untuk membangunkan yang lainnya."

"Kalau begitu aku-"

DHUUUAAARR

Belum sempat Sakura menyelesaikan kata-katanya, sebuah ledakan besar tak jauh dari kediaman mereka terdengar dan menggema diseluruh desa. Cahaya terang dan menyilaukan tampak membelah kegelapan malam. Detik berikutnya suara jeritan penduduk dan ledakan susulan lah yang memenuhi langit malam Sunagakure.

Sakura, Sasori dan Sasuke membelalakan mata mereka ketika melihat ledakan cahaya tersebut. Sumbernya dari gerbang desa, tak salah lagi. Dengan segera ketiganya berlari kearah yang berbeda. Tugas mereka saat ini adalah membangunkan teman-teman mereka yang lain dan segera melindungi seluruh penduduk desa.

Tidak salah lagi, itu pasti adalah Holy Mage. Hanya Holy Mage-lah yang mungkin akan melakukan penyerangan terhadap desa mereka. Sepertinya pertarungan mereka dengan Holy Mage datang lebih cepat daripada yang telah diperkirakan.

.

.

.

Bagaikan deja vu, Naruto dan Sasuke kembali menyaksikan keadaan mengerikan seperti yang mereka saksikan di desa mereka sendiri. Bukan hanya Naruto dan Sasuke, tapi semua yang ada disana juga merasakan hal yang sama. Rumah-rumah hancur, api berkobar dimana-mana, bau anyir serta genangan darah terlihat dimana-mana, serta jeritan minta tolong dan kesakitan melengking memenuhi indera pendengaran mereka.

Naruto dan teman-temannya segera berpencar, mencari orang-orang yang bertanggungjawab atas kejadian ini dan memberikan pelajaran kepada mereka.

"Shikamaru, kau tau siapa mereka?" tanya Pein pada Shikamaru sambil memandang segerombolan Mage berpakaian serba putih yang memiliki wajah sama bak pinang dibelah dua.

"Tidak, aku baru melihatnya." jawab Shikamaru. "Ini sihir kloning." lanjut Shikamaru sambil mengamati segerombolan Mage yang berwajah identik itu. Jumlahnya ada ratusan, atau bahkan mungkin ribuan, dan kini sedang bertarung dengan pasukan Mage Sunagakure.

"Aku duluan." ucap Pein kemudian Ia ikut terjun ke medan pertempuran.

Shikamaru tampak mengamati keadaan sejenak, sebelum akhirnya mengajak Chouji untuk turun ke medan perang.

.

.

Dua kakak-beradik Watanabe tersebut tampak terlibat pertarungan sengit dengan beberapa Mage yang berwajah identik tersebut. Deidara dan Shion, duo kakak-beradik tangguh yang mampu mengkombinasikan serangan dan membuat teknik sihir elemen baru.

Keduanya bergerak harmonis seolah saling melengkapi seperti sudah sangat terlatih dengan baik. Menendang, memukul, menangkis, bahkan mengeluarkan sihir-sihir elemental mereka lakukan dengan sangat baik.

Shion merunduk ketika Mage tersebut mengarahkan tendangannya. Tak berselang lama Deidara melancarkan serangan balasan. Tendangan telak bersarang di perut Mage tersebut, membuatnya terpental agak jauh. Namun setelah Mage tersebut terpental, Mage yang lain sudah kembali menyerang mereka.

"Nii-san, mereka bertambah banyak." ujar Shion sambil menangkis pukulan yang diarahkan padanya.

"Ini sihir kloning, Shion-chan. Wajar saja mereka bertambah banyak." sahut Deidara sambil meninju musuhnya.

"Sebaiknya kita cari yang asli, Nii-san. Klon ini pasti akan menghilang jika kita mengatasi yang asli." sambung Shion yang langsung disambut anggukan setuju dari Deidara.

"Mencari yang asli? Jangan bercanda." ejek Mage tersebut sambil menyeringai.

"Kau diam saja, dasar kulit pucat. Aku akan menghancurkanmu." desis Shion menatap nyalang pada Mage tersebut. Detik berikutnya Ia pun melancarkan sihir api yang membakar hangus semua musuh disepannnya. Shion tersenyum miring, menatap remeh pada mayat Mage yang hangus dan bergelimpangan didepannya.

Deidara pun menatap puas pada adiknya, sebelum akhirnya melancarkan serangan lain pada musuh yang masih terus menggerombolinya layaknya semut.

"Jangan puas dulu, manis." bisik sebuah suara tepat didepan telinga Shion. Shion pun membelalakkan matanya kaget saat rasa sakit merayapi punggungnya dan tubuhnya terpental kedepan. Sial! Ia lupa bahwa kloning Mage ini sangatlah banyak.

"Shion!" teriakan Deidara menggema saat tubuh adiknya berguling-guling ditanah sampai akhirnya menghantam reruntuhan bangunan dengan keras.

Shion terbatuk-batuk, seluruh tubuhnya terasa nyeri. Lalu tiba-tiba sebuah tangan menarik dagunya, memaksanya untuk menegadah menatap sang empunya tangan tersebut.

"Kulitku memang pucat, tapi aku lebih suka dipanggil Zetsu." ujar Mage tersebut dengan seringai iblis terkembang diwajahnya.

"Menjauh dari adikku!"

DHUUAAG

Deidara segera melancarkan tendangan menyamping yang membuat Zetsu terpental jauh.

"Kau baik-baik saja?" tanya Deidara khawatir sambil membantu adiknya berdiri. Shion mengangguk singkat dan mereka pun kembali menerjang musuh yang mulai mendekat.

"Sial! Apa mereka tidak ada habisnya?" umpat Deidara ketika melihat pasukan klon Zetsu semakin membludak.

"Nii-san, gunakan sihir kombinasi." ucap Shion.

Deidara mengangguk sambil menatap adiknya. "Bersiaplah."

Deidara pun melompat ke udara sambil merapalkan mantra sihirnya dan mengarahkan kedua tangannya kearah gerombolan klon Zetsu dibawahnya.

"Collapse!"

Seketika tanah tempat para Zetsu berdiri ambruk begitu saja, membentuk lubang besar dengan diameter sekitar 10 meter. Lalu secara bertahap terbentuklah kubah yang mengurung semua klon Zetsu tersebut.

Disaat itulah Shion ikut melompat ke udara sambil merapal mantranya. Tangan kanannya terangkat keatas lalu dengan segera menghempas ke bawah ke arah kubah yang dibuat kakaknya tadi.

"Scorched!"

Bersamaan dengan gerakan tangannya kebawah, sebuah lidah api yang panasnya seperti api inti bumi menyambar dan menghanguskan kubah tersebut, meninggalkan kobaran api yang menyala-nyala disertai asap tebal yang mengepul. Kubah tersebut tak ubahnya seperti bola api yang tertanam di bumi.

Tak lama kemudian kedua kakak-beradik itu menapakkan kaki mereka ditanah. Pemandangan pertama yang menyambut mereka adalah sebuah lubang besar dengan diameter kurang lebih 10 meter yang hangus menghitam. Tidak ada lagi gerombolan Zatsu, yang ada hanyalah abu, bau gosong dan asap yang mengepul.

Keduanya tersenyum puas. Tapi senyum itu luntur seketika saat gerombolan Zetsu yang baru muncul dihadapan mereka.

.

.

Tak jauh dari tempat Deidara dan Shion, terlihat Sai, Lee, Shino dan Kiba bertarung bersama-sama melawan si kembar Sakon dan Ukon. Mereka tampak seimbang walaupun dalam posisi empat lawan dua. Serangan demi serangan dilancarkan kepada si kembar Sakon dan Ukon, namun dengan gesitnya mereka menghindar dan melancarkan serangan balasan.

Sihir-sihir berkelebatan saling serang, meninggalkan berkas-berkas cahaya yang tiada hentinya saling bersahutan. Kiba terkena serangan Ukon tepat dibahunya, membuat pemuda itu terpelanting jauh. Untungnya Sai dengan sigap menangkap tubuh Kiba dan mereka pun bersama-sama kembali menerjang Ukon.

Lee dan Shino bekerjasama menghadapi Sakon. Sakon cukup tangguh dan membuat keduanya kesulitan. Beberapa kali mereka dipukul mundur karena serangan Sakon yang brutal. Berulang kali kedua saudara kembar itu menggeram kesal. Tampaknya mereka sedang mengincar sesuatu, dan kedatangan Kiba, Shino, Lee dan Sai yang menghalangi jalan mereka membuat mereka kesal dan mengeluarkan serangan yang membabi-buta.

Disisi lain Konan dan Temari sepakat untuk bekerja sama mengalahkan perempuan berambut merah pias didepan mereka. Tayuya menampilkan seringaian iblisnya sebelum menyerang kedua gadis itu dengan ganasnya. Beruntung Temari dan Konan cukup handal sehingga mereka bisa mengimbangi serangan Tayuya.

Tak jauh berbeda dengan sang kakak, Gaara dan Kankuro juga mengeluarkan kemampuan terbaik mereka dalam menghadapi Holy Mage bertubuh besar dihadapan mereka. Holy Mage yang diketahui bernama Juugo tersebut cukup ganas dalam hal pertarungan. Ia bahkan tak segan-segan mengeluarkan berbagai sihir mengerikan untuk menumbangkan Gaara dan Kankuro.

Gaara membuat pertahanan absolut saat salah satu serangan berbahaya Juugo mengincar keduanya. Kankuro pun memanfaatkan situasi ini untuk mendekati Juugo. Sebuah tendangan dilepaskan tapi dapat dihindari oleh Juugo, bahkan laki-laki tersebut menangkap kaki Kankuro lalu membantingnya dengan keras.

Gaara menyerang balik. Sebuah pedang tajam berhiaskan permata semerah rambutnya teracung kedepan. Tubuh Kankuro menghantam tanah dengan keras, namun suaranya teredam akibat suara pedang yang bergesekan. Suara pedang Gaara dan pedang Juugo yang beradu menggema diudara.

Keduanya bergerak dengan kecepatan cahaya yang tak mampu ditangkap oleh mata telanjang, hanya suara dentingan pedang yang menjadi pertanda bahwa keduanya terlibat pertarungan yang sengit.

Gaara menyeringai saat pedangnya berhasil membuat luka yang cukup dalam di punggung Juugo. Menyadari bahwa dirinya terluka, membuat Juugo berteriak marah dan semakin menyerang Gaara dengan brutal. Kankuro yang berhasil pulih pun akhirnya kembali ambil bagian dalam pertarungan, membantu adiknya melawan Holy Mage yang mulai menggila tersebut.

Keadaan menjadi sangat kacau dan tidak terkendali. Pertarungan terjadi dimana-mana. Pasukan-pasukan Mage yang diperintahkan oleh Kazekage pun terlibat pertarungan dengan kloning-kloning milik Zetsu. Entah bagaimana caranya, tetapi pasukan kloning Zetsu terus bertambah dan tidak ada tanda-tanda bahwa jumlah mereka akan berkurang. Anehnya, walaupun mereka adalah kloning, namun mereka memiliki kekuatan yang sama besar dan sama kuatnya.

Selain Zetsu, tentu saja anggota Holy Mage yang lain tidak bisa dianggap remeh. Apalagi ketua mereka, Kimimaru.

Sasori dan Pein kembali menghadapi Kimimaru. Mengingat pertarungan mereka yang lalu, membuat Kimimaru semakin waspada terhadap keduanya. Ia jadi lebih berhati-hati dalam bertindak. Serangan-serangan yang dikeluarkannya pun tidak main-main.

Sasori dan Pein juga demikian. Setelah mengetahui bagaimana cara bertarung Kimimaru, mereka jadi lebih mudah untuk menyusun strategi. Dan satu lagi, mereka berdua harus bisa mencegah Kimimaru meminum cairah aneh seperti waktu itu lagi.

Lain lagi dengan Naruto dan Sasuke, keduanya terlihat menikmati pertarungan mereka dengan Zabuza, Holy Mage dengan perban yang menutupi setengah wajahnya.

Sasuke berlari kencang kearah Zabuza sambil meliuk-liuk menghindari serangan Zabuza. Pedang Kusanagi digenggam erat di tangan kanannya. Setelah agak dekat Sasuke segera menyabetkan pedangnya kearah leher Zabuza. Zabuza melompat mundur menghindari serangan Sasuke.

Tiba-tiba Naruto muncul dari belakang Sasuke dan melancarkan tinjunya tepat diwajah Zabuza. Zabuza menangkisnya dan Naruto kembali melayangkan tendangannya ke perut Zabuza. Zabuza terbatuk karena nyeri hebat yang menyerang perutnya, tapi didetik berikutnya ia merapalkan mantra dan menyerang balik Naruto.

Sebuah naga air menghantam tubuh Naruto dan menyeretnya. Sasuke menebaskan pedangnya kearah naga tersebut dan keluarlah lidah api yang menyala-nyala. Naga air tersebut menghilang dan berubah menjadi uap panas.

Naruto menggeram kesal dan kembali menyerang Zabuza, kali ini bersama Sasuke. Sasuke dengan cepat berlari dan mengambil posisi kebelakang Zabuza, sebuah pedang elemental berada ditangan kirinya dan jadilah kini Sasuke menggenggam dua buah pedang dan menyilangkannya. Tebasan silang dilancarkan Sasuke secepat kilat bersamaan dengan Naruto yang datang dari depan dengan sihir andalannya.

"Rasengan!"

Segera setelah Zabuza terdorong kedepan karena serangan Sasuke, serangan lainnya sudah mengenainya dari depan. Zabuza terpental beberapa meter kebelakang.

"Apa kita mengenainya?" gumam Naruto yang dijawab kedikan bahu oleh Sasuke.

Lalu detik berikutnya sosok Zabuza sudah berdiri tepat dibelakang mereka. Perban yang menutupi wajahnya sudah dilepaskannya dan terlihat jejak-jejak cairan berwarna orange disekitar mulutnya. Tampaknya Zabuza telah meminum cairan aneh tersebut.

Zabuza melayangkan tendangan yang mengenai Naruto dan Sasuke secara telak, keduanya tak sempat menghindar karena kecepatan Zabuza yang bertambah. Naruto dan Sasuke terpelanting, untungnya tak sampai menabrak puing-puing bangunan.

Naruto kembali menggeram marah, "Sasuke, serangan dua arah." bisik Naruto.

Sasuke mengangguk dan segera berlari kearah Zabuza begitu juga dengan Naruto. Keduanya mengepung sisi kanan dan kiri Zabuza.

.

.

Sakura menatap nyalang kearah Haku yang telah melukai Tenten. Kilatan amarah terpancar jelas dikedua emerald indahnya. Sakura tidak keberatan jika Haku melukainya sebanyak apapun, tapi jika Haku melukai temannya bahkan membuat Tenten tidak sadarkan diri sambil bersimbah darah seperti itu, maka Sakura tidak terima. Setelah membaringkan Tenten dan membuat kekkai yang cukup aman, Sakura segera menerjang Haku dengan penuh amarah mengabaikan rasa sakit yang menjalari seluruh tubuhnya.

"Matilah kau!"

Teriakan keras Sakura yang penuh dengan amarah menggelegar diudara. Dengan pedang aquamarine-nya yang berpendar indah, Sakura melayangkan tebasan demi tebasan kearah Haku dan mengabaikan darah yang terus mengalir melewati pedang indahnya. Haku menghindari serangan-serangan Sakura tersebut dengan cukup mudah walaupun diakuinya bahwa Sakura berubah menjadi sangat berbahaya saat ini.

Kedua gadis yang sama-sama memiliki elemental Ice tersebut pun akhirnya saling melempar sihir terhebat mereka.

Haku mengeluarkan jarum-jarum es yang siap menghujani tubuh Sakura, tapi Sakura dengan lincah meliuk-liuk menghindari jarum. Setelahnya Sakura menyerang balik dengan Ice Flakes-nya.

Haku melompat mundur menghindari sesuatu berbentuk kunai namun terbuat dari es tersebut. Namun Sakura tidak akan membiarkan Haku begitu saja, Ia pun maju menerjang Haku dengan pukulan bertubi-tubi. Haku menunduk, mengelak dan menangkis pukulan Sakura. Sakura mengakui bahwa kemampuan Haku cukup hebat.

Tepat saat Haku menangkis pukulan Sakura dengan tangannya, dengan cepat Sakura segera menangkap tangan itu. Sakura pun menyeringai sambil berucap pelan.

"Capture."

Haku membelalakkan matanya saat tenaganya hampir dihisap habis oleh Sakura. Haku menghentakkan tangannya dan melayangkan tendangan keperut Sakura. Sakura terpental dan menghantam tanah. Belum sempat Sakura bangkit, dilihatnya Haku sudah melompat keudara dan kembali melayangkan ribuan jarum es kearahnya.

DHUAARR

Asap putih mengepul sesaat setelah jarum-jarum es tersebut menghantam tanah. Dengan terengah-engah, Haku menapakkan kakinya ditanah. Tenaganya terkuras cukup banyak, apalagi setelah dihisap oleh Sakura barusan. Untuk memastikan bahwa Sakura telah tumbang, Haku kembali melayangkan jarum-jarum es miliknya walaupun Ia tahu hal tersebut akan semakin menguras tenaganya.

Tak ada respon sama sekali, membuat Haku menyeringai menang. Namun seringaiannya pun luntur ketika asap putih yang sedari tadi menghalangi pandangan Haku perlahan menipis, menampilkan sesosak gadis berambut merah muda yang berdiri angkuh dibalik pelindung esnya.

Haku berdecih pelan. Dengan cepat Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan botol kecil berwarna hijau berisi cairan berwarna orange. Tepat sebelum Haku membuka tutup botol dan meminum cairan tersebut, sebuah tangan telah merebut botol tersebut dan sebuah tendangan mengenai wajahnya.

Lagi-lagi Haku terpental menabrak tanah, sedangkan Sakura memasukkan botol aneh tersebut kedalam sakunya dan bersiap-siap mengakhiri pertempurannya dengan Haku.

Tanpa menunda-nunda lagi, kali ini Haku yang terlebih dahulu menerjang Sakura. Dengan tenaga yang tersisa Haku melancarkan tendangan dan pukulannya. Sakura menahan serangan Haku dengan pedangnya, lalu tanpa aba-aba menebas lengan kiri Haku. Darah segar mengalir deras.

Haku terlihat meringis kesakitan, namun hal tersebut tak berlangsung lama, detik berikutnya pedang aquamarine Sakura sudah menembus dada Haku tepat diatas jantungnya.

.

.

.

.

.

Ino mengeluarkan sihir badai daunnya, kali ini bukan hanya menyabet tapi juga meledak ketika daun-daun tersebut mengenai tubuh lawan.

Gadis berambut merah menyala yang terkurung didalamnya segera membuat kekkai untuk melindungi dirinya. Melihat hal itu membuat Ino berdecih pelan. Dengan gerakan tangannya daun-daun tersebut berhenti berputar dan menerjang kearah kekkai milik gadis tersebut.

Suara ledakan mendominasi indera pendengaran Ino dan Hinata. Keduanya pun menutupi wajah mereka saat udara disekitar mereka terhempas karena ledakan barusan.

"Bagaimana, Hinata?" tanya Ino masih menutupi hidung dan mulutnya.

Hinata menggunakan Byakugan miliknya untuk melihat kedalam kepulan asap. Detik berikutnya matanya membulat kaget dan Ia segera menyambar Ino yang berdiri disampingnya. Keduanya melompat menghindari serangan Karin, gadis berambut merah menyala tadi.

Hinata segera melepaskan Ino ketika Karin ikut melompat dan menerjang kearah mereka. Ino mendarat dengan mulus ditanah sedangkan Hinata menyambut pukulan dan tendangan dari Karin. Keduanya terlibat pertarungan fisik yang cukup sengit diudara.

Ketika Hinata hampir terpojok, dengan segera Ino melilitkan cambuk berdurinya pada Karin lalu menghempaskan tubuh gadis itu ke tanah dengan keras.

Suara debuman yang cukup keras itu menarik perhatian Shikamaru dan Chouji yang berada tak jauh dari sana, mereka berdua sedang menghadapi Jirobu.

Chouji dan Jirobu tidak hanya memiliki badan yang sama besar, namun kekuatan mereka juga cukup seimbang. Sesekali Shikamaru mengeluarkan serangnnya demi membantu Choouji dan tak jarang keduanya melakukan sihir kombinasi.

"Ino lumayan juga." ujar Chouji ditengah-tengah pertarungan.

"Sudah seharusnya." balas Shikamaru cuek.

Pertarungan terus berlangsung dengan sengit. Tidak peduli bagaimana pun caranya, mereka harus menghentikan Holy Mage yang berusaha menghancurkan desa mereka.

Namun, disaat mereka berpikir bahwa mereka sudah hampir berhasil memukul mundur pasukan lawan, dua sosok laki-laki berpakaian Holy Mage datang sambil membawa sepasukan besar klon Zetsu. Keduanya berdiri angkuh diatas reruntuhan desa sambil memandang remeh pada Naruto dan teman-temannya. Kedatangan mereka pun mau tak mau membuat gelombang keterkejutan yang amat sangat bagi Naruto dan teman-temannya bahkan bagi pasukan Mage Sunagakure.

Sambil menyeringai iblis, keduanya memerintahkan pasukan Zetsu untuk menyerang dengan santainya. Namun yang paling membuat Naruto, Sasuke, Gaara, Sasori dan yang lainnya lebih terkejut adalah keberadaan seorang gadis yang terkulai lemah bersama kedua Mage tersebut. Gadis berambut merah muda yang dibopong oleh salah satu Holy Mage layaknya karung beras.

Gadis itu,

Haruno Sakura

.

.

.

.

.

.

.

Sunagakure diserang! Sakura dibawa oleh Holy Mage! Apa yang akan terjadi selanjutnya? Akankah Sakura benar-benar dibunuh? Seseorang, cepat selamatkan Sakura!

TBC

.

.

.

.

Balesan Review :3

Cherrysand : haduuh maapin lama yak ..

Guest : hihihi aduh makasih loh udah setia nunggu... jadi terharu nih #plakk

No Name : HelloHelloooo masuk sih hehehe, masuk ke hati gue nih #plakkkkkk

Saschan : Yosh! Maapin yakk nunggu lama hehehe. Rencananya mau tamatin fic ini dalam waktu dekat.

Permen Lemon : oalaaa okeey dehh momoon-chan #digebukin

Gak punya akun : Sasori-kun emang superdepeeer OOC :''

Kim sara : ini udah lanjuutt, makasih banget udah nunggu hehe

AAM : Makasih lohh udah bilang keren hihi ^^

Queen : aaaa maunya gituuu.. Ta-tapi kamu kan Queen? Gimana doongg aku nyarinya King wkwkw *peace #digebukin

Chikagami : salam kenal jugaaa ^^ gapapa kokk, keep reading yaa

Crystal Sheen : Michaan juga cinta banget nihh sama kalian para readerss XD sebenarnya bang Saskeh ngga salah apa-apa sih, Cuma yaaa buat pelampiasan Sakura doang wkwkwk tapi Cuma gegara pengaruh segelnya doang.